LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA II

FRAKSINASI DAN IDENTIFIKASI KROMATOGRAFI KOLOM
KONVENSIONAL FRAKSI N-HEKSAN EKSTRAK DAUN
GANDARUSA (Justicia gendarussa) ASAL DESA
KAMIRI KECAMATAN BALUSU
KABUPATEN BARRU

OLEH :

NAMA : SHARNILA

STAMBUK : 15020140107

KELAS : C.4

KELOMPOK : I (SATU)

ASISTEN : MIFTA KHAERATI IKHSAN

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017

KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dizaman modern saat ini, pengobat tradisional yang menggunakan

bahan-bahan alam telah pesat berkembang dan sangat menarik minat

masyarakat pada umumnya untuk kembali menggunakan bahan-bahan

alam sebagai obat karena mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan

dengan obat-obat sintesis. Oleh sebab itu bahan alam merupakan salah

satu sumber bahan baku obat yang perlu digali, diteliti dan dikembangkan.

Teknik kromatografi telah berkembang dan telah digunakan untuk

memisahkan dan mengkuantifikasi berbagai macam komponen kompleks,

baik komponen organik maupun komponen anorganik. Berdasarkan pada

alat yang digunakan, kromatografi dibagi atas kromatografi kertas,

kromatografi lapis tipis, yang keduanya sering disebut kromatografi planar.

Berdasarkan macam fase bergerak, dikenal kromatografi cair kinerja tinggi

(KCKT), dan kromatografi gas (KG). Bentuk kromatografi yang paling awal

adalah kromatografi kolom yang digunakan untuk pemisahan sampel dan

jumlah besar.

Salah satu metode yang digunakan untuk memisahkan suatu

senyawa yaitu metode kromatografi kolom konvensional dimana

kromatografi kolom konvensional adalah metode kromatografi klasik yang

sampai saat ini masih banyak digunakan. Metode ini banyak digunakan

SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN
15020140107

SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . Adapun pada percobaan kali ini dilakukan identifikasi golongan komponen kimia terhadap sampel fraksi daun Gandarusa (Justicia gendarussa) dengan menggunakan metode kolom konvensional. Maksud Praktikum Adapun maksud dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami cara penggunaan serta prinsip kerja dari kromatografi kolom konvensional dengan menggunakan fraksi aktif n-heksan daun Gandarusa (Justicia gendarussa) C. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL oleh peneliti-peneliti bahan alam pada umumnya dan juga digunakan oleh percobaan-percobaan praktikan mahasiswa. B. Tujuan digunakannya metode ini yaitu untuk memisahkan senyawa–senyawa dalam jumlah banyak sedangkan prinsip kerja dari kromatografi kolom jenis ini adalah kecendrungan komponen kimia untuk terdistribusi kedalam fase diam atau fase gerak dengan proses elusi berdasarkan gaya gravitasi. Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk memisahkan senyawa kimia fraksi aktif n-heksan daun gandarusa (Justicia gendarussa) dengan metode kromatografi kolom konvensional berdasarkan pada perbedaan warna dan tingkat kepolarannya.

panjang sekitar 20-50 cm dengan lebar 3-10 cm. gandarusa. Nama Lain Besi-besi (Aceh). biasanya dengan rimpang berdaging. Bunga majemuk berwarna putih dan berbau harum. Daun tunggal dan berselang. Ujung daun runcing. Perbungaan tandan terletak di ujung. handarusa (sunda). Morfologi Tanaman Herba tegak. 2005). gandarisa (Bima). Uraian Tanaman 1. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. ghandharusa (Madura). tetean. gandarusa (Melayu). 2016) : Kingdom : Plantae Phylum : Tracheophyta Class : Magnoliopsida Order : Lamiales Family : Acanthaceae Genus : Justicia Spesies : Justicia gendarussa 2. puli (ternate) (Dalimartha. Daun SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . batang berdaun. 3. Klasifikasi Tanaman Tanaman gandarusa diklasifikasikan sebagai berikut (Integrated Taxonomic Information System. trus (Jawa).

dan alkaloid yang sedikit beracun (Hariana. berwarna putih. Teori Umum Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik. demam. 2005). Bunga sangat harum. yang lainnya sebagai fluida yang mengalir lembut SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . Kelopak bentuk tabung. sakit kuning (jaundice). reumatik sendi. 4. 2015). salah satu fasa tersebut adalah suatu lapisan stasioner dengan permukaan yang luas. haid tidak teratur. demam yang hilang timbul. Buah bundar hingga bulat telur. Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam gandarusa diantaranya justicin. rapat. dan anak kecil yang kurus sekali (marasmus) (Dalimartha. mual sewaktu batuk. 5. diare. dimana komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan diantara dua fasa. nyeri pinggang. B. kalium. kuning. tulang patah (fraktur). Mahkota bentuk tabung. minyak atsiri. Kandungan Kimia Gandarusa memiliki rasa pedas. Akar berkhasiat untuk mengatasi reumatik. Biji dilengkapi dengan selaput biji (Syamsul. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL penumpu lebar dan tersusun seperti genting. jumlahnya 1-6 bunga per daun penumpu. atau merah. kencing terasa nyeri (disuria). 2013). 2015). tidak dating haid (amenore).dan bersifat netral. Manfaat Tanaman Daun berkhasiat untuk mengatasi bengkak akibat terpukul atau terbentur (memar). keram otot. dan sesak (Dalimartha. keseleo. sedikit asam.

dikenal kroamtografi gas dan kromatografi cairan. Fase stasioner bisa berupa padatan maupun cairan. Fase gerak dapat berupa gas atau cairan. kromatografi kertas. Dulu cara ini digunakan untuk memisah-misahkan zat warna sehingga diberi nama demikian (kromos ‘warna). fase gerak yang di gunakan selalu cair (Rohman. (chromatography) (Pudjaatmaka. kromatografi lapis tipis. Interaksi ini dapat bersifat adsorpsi. kromatografi penukaran ion. dimana zat-zat yang hendak dipisahkan harus berinteraksi dengan fase stasioner dengan kuat yang berbeda-beda. Kromatografi merupakan suatu proses pemisahan yang mana analit-analit dalam sampel terdistribusi antara dua fase. Jika gas digunakan sebagai fase gerak. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL di sepanjang landasan stasioner. Fase diam dapat berupa bahan padat atau porus dalam bentuk molekul kecil atau dalam bentuk cairan yang dilapiskan pada pendukung padat atau dilapiskan pada dinding kolom. pertukaran ion. atau lainnya. dan sebagainya. Kromatografi merupakan teknik pemisahan zat untuk analisis dan preparatif dengan melarutkan campuran dalam fase bergerak yang mengalir melalui fase diam atau stasioner. yang kedua ini dapat berupa kromatografi kolom. partisi. maka prosesnya dikenal sebagai kromatografi gas. Dalam kromatografi cair dan juga kromatografi lapis tipis. Dilihat dari macam fase bergerak. SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . sedangkan fase bergerak bisa berupa cairan maupun gas (Underwood. 2002).2009). pengayakan molekuler. yaitu fase diam dan fase gerak. 2002).

Kolom kromatografi digunakan untuk memisahkan senyawa–senyawa dalam jumlah banyak. logam atau bahkan plastik. Prinsip dari kromatografi kolom jenis ini adalah kecenderungan komponen kimia untuk terdistribusi kedalam fase diam atau fase gerak dengan proses elusi berdasarkan gaya gravitasi (Raymond. campuran yang akan dipisahkan diletakkan berupa pita pada bagian atas penjerap yang berada dalam kolomkaca. Penggunaan kolom tergantung dari masalah pemisahan yaitu kolom berfilter dengan gelas bepori. Misalnya absorbsi yang cocok dengan pelarut yang baik sehingga antara pengotor dan hasil isolasinya terpisah secara sempurna (Kasiman. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL Kromatografi kolom konvensional adalah metode kromatografi klasik yang sampai saat ini banyak digunakan.2006). Sebelumnya dilakukan percobaan tarhadap kromatografi lapis tipis sebagai pencari kondisi eluen. yang pada ujung bawah SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . Eluen (fase gerak) dibiarkan mengalir melalui fase diam dalam kolom dan hanya disebabkan oleh gaya gravitasi (Raymond. kolom tertentu diisi dengan bahan penjerap /sorpsi dan pelarut pengembang dengan tingkat kepolaran yang berbeda. Kromatografi kolom adalah suatu metode pemisahan yang di dasarkan pada pemisahan daya adsorbsi suatu adsorben terhadap suatu senyawa. Untuk kromatografi kolom. Pada kromatografi kolom. 2006). Kolom yang diisi dengan bahan penjerap /sorpsi yang disebut kolom pemisah. 2006). baik pengotornya maupun hasil isolasinya.

permukaannya diratakan dan dimanpatkan. SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . Alat pemanpat ini dapat berupa sumbat karet/bahan lunak yang dipasang pada ujung batang kaca atau gagang stik.1991). Agar pemisahan rata. Eluen dibiarkan mengalir ke bawah melalui dan membasahi penjerap sampai eluen tersebut tepat sampai dikran kolom. penjerap dituangkan kedalam kolom sedikit demi sedikit. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL menyempit (tabung allihn) atau tabung gelas yang pada bagian bawah menyempit dan dilengkapi dengan kran sedangkan tabung bola jarang digunakan. perbandingan panjang tabung trhadap diameter pada umumnya ialah 40:1. Pengemasan Fase Diam /penjerap 1. tabung diisi sambil diketuk-ketuk menggunakan tangan atau benda lunak lainnya pada dinding kolom (Stahl. Aluminium oksida atau silika gel dapat dikemas dengan metode kering kedalam kolom . Eluen kemudian dimasukkan menggunakan pipet tetes secara memutar sambil membuka kran kolom pada bagian bawah. pada bagian atas dilapisi kertas saring sehingga jika ditambahkan eluen. Cara kering (Raymond. Pengisian kolom dengan adsorben yang juga disebut pengemasan kolom. Setiap pernambahan silika gel. harus dilakukan dengan hari-hari dengan permukaan yang rata. permukaan penjerap tetap rata. 2006) Selapisan kapas/pasir bersih diletakkan didasar kolom. Setelah semua penjerap dimasukkan.

tabung dapat diketuk-ketuk pada semua sisi secara perlahan-lahan dengan sumbat karet atau bahan yang lunak agar diperoleh lapisan yang seragam. namun tetap memperhatikan permukaan pelarut agar tetap merendam seluruh permukaan penjerap. dan tabung diisi sepertiga dari volume kolom. pelarut lumpuran harus didesak keluar dengan pelarut pengelusi terlebih dahulu sebelum cuplikan ditambahkan. penjerap dibiarkan SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL 2. Cara basah (Raymond. Selama proses pengemasan. 3. Cara kemas basah Cara ini dapat dibuat dengan mengisi tabung setengahnya dengan pelarut. Penjerap dibuat lumpuran menggunakan eluen tersebut lalu dituangkan kedalam kolom. Jika pelarut yang dipakai untuk membuat lumpuran berbeda dengan pelarut yang dipakai pada kromotografi. Hal ini untuk mencegah masuknya udara dalam ruang antar partikel silika gel yang dapat menyebabkan gangguan pada proses isonasi. lalu penjerap dalam keadaan kering dimasukkan kedalam kolom berupa aliran halus melalui corang . Lumpurkan dapat dimasukkan sekaligus atau sedikit demi sedikit. 2006) Selapisan kapas/pasir bersih dimasukkan kedalam kolom. Pelarut yang dipakai dalam proses pengemasan sama dengan pelarut yang akan digunakan pada kromotografi atau pelarut yang kepolarannya lebih rendah. Kran dapat dibuka atau ditutup selama penambahan.

biasanya diperoleh kemasan fasediam dalam kolom yang sangat baik. Pelarut berlebih dikeluarkan dari tabung agar diperoleh kolom penjerap dan dapat pula ditambahkan selapisan pasir yang telah dicuci untuk menutupi kertas saring. Jika penjerap dimasukkan seluruhnya sekaligus. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL mengendap sementara tabung diketuk-ketuk ( seperti cara basah dan kering) agar terbentuk kemasan yang seragam dan mampat. SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 .

Silika disuspensikan dengan dengan pelarut n-heksan dihomogenkan sampai tercampur merata sampai pelarutnya menguap semua dan setelah itu dimasukkan ke dalam kolom. fraksi aktif daun gandarusa (Justicia gendarussa) kapas. Alat dan Bahan 1. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL BAB III METODE PRAKTIKUM A. B. seperangkat alat kromatografi. kertas saring. pipet tetes. timbangan analitik dan vial. eluen. statif. silika gel dan tissu. gelas arloji. dirangkai alat kolom dan ditegakkan dengan bantuan statif dan klem. SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . Penyiapan Kolom Kromatografi Kolom Konvensional Alat-alat perangkat kromatografi kolom dicuci dengan metanol dan kemudian dikeringkan. sendok tanduk besi. botol. Prosedur Kerja 1. 2. 2. Bahan Adapun bahan yang digunakan yaitu alumunium foil. Alat Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu batang pengaduk. corong kaca. gelas kimia. Pengemasan suspensi Silika Ditimbang silika kasar sebanyak 40 gram.

Penyiapan Ekstrak Disiapkan alat dan bahan. Dimasukkan kertas saring. perbandingannya yaitu n-heksan : etil asetat 10:0. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL 3. 8:2. 6:4. Ditampung dalam vial hingga mencapai volume 5 mL dan dipisahkan berdasarkan warna dan kepolaran pelarut. Dimasukkan perbandingan eluen satu-persatu muladari non-polar hingga polar. Masing-masing eluen dibuat 50 mL. 9:1. 7:3. 4:6. 3:7. Ditunggu beberapa saat sehingga mampat. 4. ditimbang ekstrak sebanyak 1 gram dan dimasukkan ke dalam kolom. 2:8. Kolom yang telah dipasang dimasukkan kapas dan kertas saring pada ujung kolom (dasar kolom). Dimasukkan suspensi silika yang telahdisiapkan secara perlahan- lahan.Lalu dimasukkan sampel perlahan-lahan. SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . 5:5. 1:9 dan 0:10. Prosedur Kerja Kromatografi Kolom Konvensional Disiapkan alat dan bahan.

Hasil Pengamatan 1. Tabel pengamatan Eluen (n-heksan:etil asetat) Fraksi 10:0 1-10 9:1 11-20 8:2 21-31 7:3 32-44 6:4 45-54 5:5 55-64 4:6 65-75 3:7 76-84 2:8 85-94 1:9 95-103 0:10 104-113 Fraksi Jumlah Warna 1 8 Bening 2 17 Keruh 3 5 Kuning muda 4 3 Kuning 5 3 Kuning tua SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.

Proses pengemasan silica dilakukan dengan cara kering dimana 4 gram silica gel langsung dimasukkan ke dalam kolom yang sebelumnya telah dilapisi dengan kapas. Pembahasan Kromatografi kolom konvensional merupakan metode kromatografi klasik dimana kolom kromatografi digunakan untuk memisahkan senyawa–senyawa dalam jumlah yang banyak dengan prinsip yaitu kecenderungan komponen kimia untuk terdistribusi kedalam fase diam atau fase gerak dengan proses elusi berdasarkan gaya gravitasi. Setelah dimasukkan silika kemudian ditambahkan N-Heksan : Etil Asetat dengan perbandingan 10 : 0. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL 6 12 Hijau tua 7 8 Hijau 8 7 Hijau muda 9 6 Hijau muda keruh 10 34 Hijau muda pucat B. dan setelah mampat. Silika kemudian dimampatkan dengan menggunakan batang pengaduk. SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . eluen di keluarkan. Adapun tujuan praktikum ini untuk memisahkan senyawa kimia fraksinasi kasar daun gandarusa (Justicia gendarussa) menggunakan kromatografi kolom konvensional berdasarkan warna dan tingkat kepolaran.

pada perbandingan 7 : 3 diperoleh vial 45-54. silika terlebih dahulu dimasukkan dalam kolom dan kemudian di masukkan eluen. setegah eluen dimasukkan ke kolom setengahnya lagi untuk silika gel. 4:6. Dari proses penampungan hasil isolasi pada vial diperoleh hasil bahwa pelarut n-heksan : etil asetat dengan perbandingan 10:0 pada vial 1-10. 1:9. 9:1. kemudian setelah itu silika gel dimasukkan ke dalam kolom. Lalu pelarut n-heksan : etil asetat dimasukkan ke dalam kolom mulai dari kepolaran rendah hingga kepolaran tinggi (10 : 0. pada perbandingan 7 : 3 diperoleh vial 32-44. untuk metode kering. 8:2 diperoleh vial 11-20. Langkah selanjutnya ekstrak daun gandarusa (Justicia gendarussa) dimasukkan ke dalam kolom. 8:2. kering dan kemas basah yaitu cara basah silika gel di basahkan terlebih dahulu dengan N-Heksan diluar kolom. Kemudian hasil isolasi ditampung pada masing-masing vial yang telah dikalibrasi sebanyak 5 mL. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL Adapun perbedan cara basah. pada SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . 6:4. 7:3. dan 0:10). 8:2. 7:3. Diamati warna yang dihasilkan dan dipisahkan sesuai perbandingan eluen yang digunakan. sedangkan cara kemas basah. 5:5. Alasan penggunaan eluen dengan tingkat kepolaran yang rendah terlebih dahulu dimasukkan ke dalam kolom yaitu sebab jika yang dimasukkan terlebih dahulu adalah pelarut polar maka ditakutkan senyawa non polar pada sampel akan ikut tertarik sementara kita akan melakukan proses pemisahan antara senyawa polar dan polar.

hijau tua. hijau. pada perbandingan 5 : 35diperoleh vial 65-75. pada perbandingan 2 : 8 diperoleh vial 95-103. kuning. kuning tua. pada perbandingan 1 : 9 diperoleh vial 104-113. pada perbandingan 3 : 7 diperoleh vial 85-94. hijau muda pucat. hijau muda. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL perbandingan 6 : 4 diperoleh vial 55-64. keruh. pada perbandingan 4 : 6 diperoleh vial 76-84. hijau muda keruh. Adapun warna yang diperoleh yaitu bening. kuning muda. SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 .

hijau. kuning. n-heksan:etil asetat (9:1) menunjukkan fraksi 95-103. SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . n-heksan:etil asetat (4:6) menunjukkan fraksi 65-75. Adapun warna yang diperoleh yaitu bening. n-heksan:etil asetat (6:4) menunjukkan fraksi 45-54. n-heksan:etil asetat (2:8) menunjukkan fraksi 85-94. hijau muda. n-heksan:etil asetat (9:1) menunjukkan fraksi 11-20. hijau muda keruh. n-heksan:etil asetat (8:2) menunjukkan fraksi 21-31. hijau muda pucat. Saran Diharapkan semua praktikan mengetahui cara kerja dan dapat bekerja sama supaya praktikum dapat berjalan lancar. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. keruh. n-heksan:etil asetat (3:7) menunjukkan fraksi 76-84. kuning muda. n- heksan:etil asetat (5:5) menunjukkan fraksi 55-64. Kesimpulan Berdasarkan dari semua hasil praktikum menggunakan metode kromatografi kolom konvensional diperoleh berdasarkan eluen n- heksan:etil asetat (10:0) menunjukkan fraksi 1-10. kuning tua. dan n-heksan:etil asetat (0:10) menunjukkan fraksi 104-113. n-heksan:etil asetat (7:3) menunjukkan fraksi 32-44. hijau tua. B.

Analisis Kimia Kualitatif. Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi. Peranginangin. ITB. Hariana. Yogyakarta: Penerbit. Kitab Tumbuhan Obat. 2005.Arief.Z and Gray . G. 2013. Kromatografi untuk Analisis Obat. Inc. Rohman. 2002.Setiawan. Kamus Kimia. Universitas Muslim Indonesia Dalimatha. swadaya : Jakarta. A. 2002. 2006. 2017. Kasiman... Drs. Tumbuhan obat dan Khasiatnya. Raymond. Underwood.. Bandung. Integrated Taxonomic information system. 2006. SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . A. Stahl. Justicia gendarussa. Penuntun Pratikum Fitokimia II. 2009. Balai Pustaka : Jakarta. Metode ekstraksi tumbuhan. Totowa New jersey. Jakarta. Al (ED). swadaya : Jakarta. KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL DAFTAR PUSTAKA Anonim. Jakarta: Niaga Swadaya.. 2016. 2015. Garana. Dr. Syamsul. Tanaman Obat dilingkungan sekitar..Latif. Egon. Graha Ilmu. Pudjaatmaka. Natural Product Isolation Humana Press.. Erlangga : Jakarta. 1985. Isolation of natural Product by Low-Pressure Collum Chromatografi in Sharker SD. Diakses tanggal 17 0ktober 2016.H.

KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL LAMPIRAN Skema Kerja a.dibebaslemakkan dengan metanol . Pengemasan Fase Diam Silika gel .dimasukkan kedalam kolom Silika di dalam kolom .silika dimampatkan sampai tidak terbentuk gelembung udara Silika selesai dikemas SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 . Pengemasan Alat Isolasi Kolom .dipasang tegak lurus pada statif .ditimbang 40 gram .bagian dasar dilapisi kapas Kolom siap digunakan b.

fraksi digabung berdasarkan warna Satu fraksi SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 .dimasukkan kedalam kolom Eluen .ditambahkan mulai dari perbandingan 10:0 selapis diatas permukaan kertas saring .eluen yang telah habis diganti dengan eluen perbandingan 9:1 sampai 0:10 . KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL c.ditimbang 1 gram . Proses Pemisahan/Isolasi Fraksil .dielusi Fraksi-fraksi .ditampung ke dalam vial .

KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL LAMPIRAN GAMBAR Fraksi 1-10 fraksi 11-20 Fraksi 21-31 fraksi 32-44 Fraksi 45-54 fraksi 55-64 Fraksi 65-75 fraksi 76-84 Fraksi 85-97 fraksi 95-103 SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 .

KROMATOGRAFI KOLOM KONVENSIONAL Fraksi 104-113 SHARNILA MIFTA KHAERATI IKHSAN 15020140107 .