Berdemostrasi Melalui Foto

Tak ada yang membantah. Sejarah peradaban adalah sejarah rasa ingin tahu.
Peradaban merupakan produk pemikiran manusia, tak terkecuali kamera.

Rasa ingin tahu, tonggak dari segala sesuatu. Merentang sejarah, kita akan
menemukan Sejarah kamera hanya sejarah tentang rasa ingin tahu dan coba-coba, jadi
sejarahnya adalah sejarah pemenuhan hasrat ingin tahu manusia. Saat ini, kamera
sudah sangat sempurna. Beberapa decade lalu telah beralih dari jenis kamera analog
ke kamera digital yang lebih praktis dan gampang digunakan.

Manfaat kemera telah digunakan di berbagai bidang. Mulai dari mengabadikan acara
pengantinan sampai sebagai alat membuat iklan komersial yang berharga tinggi.

Dari beragam fungsi kamera itu berkembang dua aliran tentang pemanfaatan kamera.
Mereka ini tersebar dalam bentuk kelompok-kelompok maupun perseorangan.

Kamera hanya digunakan sebagai alat untuk menghasilkan karya seni, yang tujuannya
untuk seni itu sendiri. Memotret bagi sebagian orang hanya merupakan usaha melukis
kembali dunia. Aktivitas fotografi itu adalah kegiatan tanpa tendensi. Dalam dunia
fotografi ini disebut art photographi. Golongan ini biasanya banyak mengeksplore
pemandangan dan keindahan lainnya sebagai objek fotonya.

Peminat fotografi lain beranggapan memotret tidak hanya sekadar melukis dengan
cahaya untuk menghasilkan karya seni yang indah. Memotret itu sama halnya dengan
membuat novel kritis sekelas novel “il nome de la rosa” karya Umberto Eco atau
sejenisnya.

Bagi mereka memotret itu mempunyai tujuan praktis. Memotret bukan semata untuk
seni tapi lebih dipahami sebagai alat perjuangan. Kasarnya, memotret berarti
berpolitik praktis. Artinya ada pesan yang ingin disampaikan, dan pesan itu terkait

Paling tidak. Benazir Butto meninggal akibat pemboman. Klub fotografi pun kemudian terpecah menjadi dua aliran tadi. Yang dipentingkan adalah pesan simbolik yang disampaikannya. Sebab kita tak perlu lagi berharap pada jurnalis- jurnalis penjilat dan pemeras. Foto itu kemudian menjadi foto yang diperbincangkan ditingkat dunia. Foto sanggup meyakinkan seseorang bahwa peristiwa tersebut sudah dilihat oleh seseorang yang bernama fotografer. Hal kedua ini disebut foto jurnalistik. bisa jadi sarana demontrasi yang ampuh.hal-hal janggal yang terjadi. Yang . Demontrasi macam itu lebih banyak ditunggangi kepentingan pihak yang tak bertanggung-jawab. Foto adalah salah satu alat yang sanggup menghadirkan pesan secara langsung. Tak perlu berharap banyak pada mahasiswa yang makin pragmatis dan apatis. sudah tak seksi. Contoh menarik menyangkut hal di atas yaitu foto Benazir Butto. Kita tak perlu takut dikejar preman bayaran penguasa. kecenderungan foto diarahkan pada dua hal tersebut. Di Indonesia kedua jenis fotografi tersebut memiliki pengikutnya sendiri. menurut pendapat saya. Kita tak perlu turun ke jalan melakukan demontrasi. Demontrasi di jalan juga. Meskipun banyak klub foto yang tak memiliki arah dan landasan soal itu. aktivitas memotret kalau diarahkan pada upaya merubah dunia. foto tersebut jelas tidak masuk kategori. Kalau dipandang dari aspek fotografi secara normatif. Karena fotonya buram. Pada saat bom meledak. Ada juga yang mengkategorikannya foto Human Interest. memandang sekaligus merubahnya. Benazir Butto pun tidak jelas terlihat. Hemat saya. Foto juga mengandung pesan simbolik yang menuntut pembacanya untuk menghubungkan dengan “pengetahuan” yang dimilikinya sebelumnya. salah seorang wartawan secara tak sengaja merekamnya. Memotret tak hanya aktivitas memandang dunia tapi harusnya diarahkan lebih maju sedikit.

Tabik! . Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah. dimanakah posisi anda sebagai penggemar foto? Wallahualam.diperlukan hanya sense of human. keprihatinan sosial yang lebih dari orang-orang pada umumnya.