Tutut Rachmawati

15710358

Definisi Thalasemia

Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah
merah yang mudah rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari).
Akibatnya, penderita thalassemia akan mengalami gejala anemia diantaranya pusing, muka
pucat, badan sering lemas, sukar tidur, nafsu makan hilang, dan infeksi berulang. Thalassemia
terjadi akibat ketidakmampuan sumsum tulang membentuk protein yang di butuhkan untuk
memproduksi hemoglobin sebagaimana mestinya.

Hemoglobin merupakan protein kaya zat besi yang berada di dalam sel darah merah dan
berfungsi sangat penting untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh yang
membutuhkannya sebagai energi. Apabila produksi hemoglobin berkurang atau tidak ada, maka
pasokan energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi tubuh tidak dapat terpenuhi, sehingga
fungsi tubuh pun terganggu dan tidak mampu lagi menjalankan aktivitasnya secara normal.

Secara umum, terdapat dua jenis Thalassemia yaitu :

1. Thalasemia mayor

Thalasemia mayor merupakan penyakit yang ditandai dengan kurangnya kadar
hemoglobin dalam darah Akibatnya, penderita kekurangan darah merah yang bisa menyebabkan
anemia. Dampak lebih lanjut, sel-sel darah merah jadi cepat rusak dan umurnya pun sangat
pendek, hingga yang bersangkutan memerlukan transfusi darah. Penderita thalasemia mayor
akan tampak normal saat lahir, namun di usia 3-18 bulan akan mulai terlihat adanya gejala
anemia.
Penderita thalasemia mayor akan tampak memerlukan perhatian lebih khusus. Pada
umumnya, penderita thalasemia mayor harus menjalani transfusi darah dan pengobatan seumur
hidup. Tanpa perawatan yang baik, hidup penderita thalasemia mayor hanya dapat bertahan
sekitar 1-8 bulan.

1. . Merupakan tipe thalassemia subklinik yang paling umum. diagnosis tidak dapat dipastikan dengan pemeriksaan elektroforesis Hb. tapi tidak memerlukan transfusi darah di sepanjang hidupnya. Delesi gen globin-α menyebabkan sebagian besar kelainan ini.Thalasemia minor sudah ada sejak lahir dan akan tetap ada di sepanjang hidup penderitanya. Penderita sehat secara hematologis. Bisa juga dicari akan adanya kelainan hematologi pada anggota keluarga ( misalnya orangtua) untuk mendukung diagnosis. namun membawa sifat thalassemia yang dapat diturunkan kepada anak-anaknya. dan sebagian besar Asia. salah satu gen α pada kromosom 16 menghilang. c. menyisakan hanya 3 dari 4 gen tersebut. sehingga harus dilakukan tes lain yang lebih canggih. Pada tipe ini. 2. seringnya pada etnik Afro-Amerika. Pemeriksaan darah lengkap pada salah satu orangtua yang menunjukkan adanya hipokromia dan mikrositosis tanpa penyebab yang jelas merupakan bukti yang cukup kuat menuju diagnosis thalasemia. Pada tipe silent carrier. terdapat 2 gen α yang terletak pada kromosom 16. Seperti telah dijelaskan sebelumnya. Silent carrier thalassemia-α a. Klasifikasi Thalassemia dan Presentasi Klinisnya Thalassemia-α Anemia mikrositik yang disebabkan oleh defisiensi sintesis globin-α banyak ditemukan di Afrika. penderita thalassemia minor sering disebut sebagai pembawa thalassemia. biasanya ditemukan secara kebetulan diantara populasi. b. Thalasemia minor Penderita Thalassemia minor tampak seperti orang yang sehat dan normal. hanya ditemukan adanya jumlah eritrosit (sel darah merah) yang rendah dalam beberapa pemeriksaan. Oleh karena itu.

maka bayi-bayi itu mengalami hipoksia berat.2. c. dengan gagal jantung kongestif dan edema anasarka berat. Hb Barts (γ4) mendominasi pada bayi yang menderita. Bentuk thalassemia yang paling berat. Trait thalassemia-α a. b. dan karena γ4 memiliki afinitas oksigen yang tinggi. Kondisi ini disebabkan oleh hilangnya 2 gen α pada satu kromosom 16 atau satu gen α pada masing-masing kromosom. dan jumlah sel darah merah yang abnormal. 4. maka tidak satupun dari Hb ini terbentuk. Pada bayi baru lahir yang terkena. dan Timur Tengah. sejumlah kecil Hb Barts (γ4) dapat ditemukan pada elektroforesis Hb. yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen. dengan anemia sedang sampai berat. Eritrositnya juga mengandung sejumlah kecil Hb embrional normal (Hb Portland = ζ2γ2). splenomegali. 3. subbenua India. Lewat umur satu bulan. . ikterus. dan kadar Hb A2 dan HbF secara khas normal. dan kebanyakan dari bayi yang lahir hidup meninggal dalam waktu beberapa jam. Pada sediaan apus darah tepi yang diwarnai dengan pewarnaan supravital akan tampak sel-sel darah merah yang diinklusi oleh rantai tetramer β (Hb H) yang tidak stabil dan terpresipitasi di dalam eritrosit. Hb A. Yang dapat hidup dengan manajemen neonatus agresif juga nantinya akan sangat bergantung dengan transfusi. Kelainan ini sering ditemukan di Asia Tenggara. Trait ini dikarakterisasi dengan anemia ringan dan jumlah sel darah merah yang rendah. Bayi ini sangat hidropik. disertai dengan tidak ada sintesis rantai α sama sekali. Karena Hb F. Hb Barts tidak terlihat lagi. Kebanyakan dari bayi-bayi ini lahir mati. sehingga menampilkan gambaran golf ball. merepresentasikan thalassemia-α intermedia. Badan inklusi ini dinamakan sebagai Heinz bodies. Thalassemia-α mayor a. b. Kelainan disebabkan oleh hilangnya 3 gen globin α. disebabkan oleh delesi semua gen globin-α. Penyakit Hb H a. dan Hb A2 semuanya mengandung rantai α.

dan merepresentasikan suatu thalassemia-β+.  Thalassemia-β yang terkait dengan variasi struktural rantai β o Presentasi klinisnya bervariasi dari seringan thalassemia media hingga seberat thalassemia-β mayor o Ekspresi gen homozigot thalassemia (β+) menghasilkan sindrom mirip anemia Cooley yang tidak terlalu berat (thalassemia intermedia). atau keduanya o Individu dengan ciri (trait) thalassemia sering didiagnosis salah sebagai anemia defisiensi besi dan mungkin diberi terapi yang tidak tepat dengan preparat besi selama waktu yang panjang. dikenal beberapa bentuk klinis dari thalassemia-β. Kadar Hb khas sekitar 2-3 gr/dL lebih rendah dari nilai normal menurut umur. tetapi gen untuk keadaan ini. yang mewakili thalassemia tipe δβ. sekitar 2-6%. tetapi kadar Hb mereka biasanya bertahan pada 6-8 gr/dL tanpa transfusi. yang benar-benar khas. Mutasi yang terjadi sangat ringan. hanya ditemukan nilai eritrosit yang rendah. Deformitas skelet dan hepatosplenomegali timbul pada penderita ini. antara lain :  Silent carrier thalassemia-β o Penderita tipe ini biasanya asimtomatik.  Trait thalassemia-β o Penderita mengalami anemia ringan. Pada sekelompok kecil kasus. nilai eritrosit abnormal.4%-7%). menghasilkan sindrom thalassemia intermedia.Thalassemia-β Sama dengan thalassemia-α. jika diwariskan bersama-sama dengan gen untuk thalassemia-β°. Hb F. o Kebanyakan bentuk thalassemia-β heterozigot terkait dengan anemia ringan. o Bentuk silent carrier thalassemia-β tidak menimbulkan kelainan yang dapat diidentifikasi pada individu heterozigot. dijumpai Hb A2 normal dengan kadar HbF berkisar dari 5% sampai 15%. . Lebih dari 90% individu dengan trait thalassemia-β mempunyai peningkatan Hb-A2 yang berarti (3. dan elektroforesis Hb abnormal dimana didapatkan peningkatan jumlah Hb A2. Kira-kira 50% individu ini juga mempunyai sedikit kenaikan HbF.

terjadi hipertrofi jaringan eritropoetik disumsum tulang maupun di luar sumsum tulang. o Eritrosit adalah mikrositik hipokromik dengan poikilositosis. Ekspansi masif sumsum tulang di wajah dan tengkorak menghasilkan bentuk wajah yang khas. o Pucat. Tanpa transfusi. o Kelainan morfologi eritrosit pada penderita thalassemia-β° homozigot yang tidak ditransfusi adalah ekstrem. dan MCH juga rendah (<26 pg).  Thalassemia-β° homozigot (Anemia Cooley. termasuk aritmia dan gagal jantung kongestif kronis yang disebabkan oleh siderosis miokardium sering merupakan kejadian terminal. o Pada kasus yang tidak diterapi atau pada penderita yang jarang menerima transfusi pada waktu anemia berat. o Pertumbuhan terganggu pada anak yang lebih tua. Transfusi darah yang reguler diperlukan pada penderita ini untuk mencegah kelemahan yang amat sangat dan gagal jantung yang disebabkan oleh anemia. Inklusi intraeritrositik. Sel target mungkin juga ditemukan tapi biasanya tidak mencolok dan tidak spesifik untuk thalassemia. ovalositosis. yang merupakan presipitasi kelebihan rantai . 80% penderita meninggal pada 5 tahun pertama kehidupan. pubertas terlambat atau tidak terjadi karena kelainan endokrin sekunder. aneh (sel bizarre) dan sel target. dan ikterus sama-sama memberi kesan coklat kekuningan. Diabetes mellitus yang disebabkan oleh siderosis pankreas mungkin terjadi. Kadar besi serum normal atau meningkat. Thalassemia Mayor) o bergejala sebagai anemia hemolitik kronis yang progresif selama 6 bulan kedua kehidupan. dan seringkali bintik-bintik basofil. Limpa dan hati membesar karena hematopoesis ekstrameduler dan hemosiderosis. o MCV rendah. kira-kira 65 fL. Pada penderita yang lebih tua. Tulang-tulang menjadi tipis dan fraktur patologis mungkin terjadi. banyak ditemukan poikilosit yang terfragmentasi. tetapi tanda hemolisis biasanya tidak ada. Sejumlah besar eritrosit yang berinti ada di darah tepi. limpa mungkin sedemikian besarnya sehingga menimbulkan ketidaknyamanan mekanis dan hipersplenisme sekunder. Komplikasi jantung. hemosiderosis. terutama setelah splenektomi. Disamping hipokromia dan mikrositosis berat. Penurunan ringan pada ketahanan hidup eritrosit juga dapat diperlihatkan.

Kadar Hb turun secara cepat menjadi < 5 gr/dL kecuali mendapat transfusi.δ) akan menghentikan sintesis Hb dan menghasilkan ketidakseimbangan dengan terjadinya produksi rantai globin lain yang normal. dengan akibat menurunnya atau tidak diproduksinya rantai globin tersebut. Pathogenesis thalasemia Thalasemia merupakan sindroma kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis hemoglobin akibat mutasi di dalam atau dekat gen globin. berupa perubahan kecepatan sintesis (rate of synthesis) atau kemampuan produksi rantai globin tertentu. Ketidakseimbangan ini .β. tidak jarang pada analisis DNA thalasemia belum dapat ditentukan jenis mutasi gennya. Penurunan produksi dari satu atau lebih rantai globin tertentu (α. Hal inilah yang merupakan kendala terapi gen pada thalasemia Patofisiologi Thalassemia adalah kelainan herediter dari sintesis Hb akibat dari gangguan produksi rantai globin. Gambaran biokimiawi yang nyata adalah adanya kadar HbF yang sangat tinggi dalam eritrosit. Penyebab Thalassemia Mutasi pada DNA yang memproduksi hemoglobin pembawa oksigen ke seluruh tubuh merupakan penyebab seseorang menderita thalassemia. Pada thalasemia mutasi gen globin ini dapat menimbulkan perubahan rantai globin α atau β. Karena dua tipe rantai globin (α dan non-α) berpasangan antara satu sama lain dengan rasio hampir 1:1 untuk membentuk Hb normal.γ. Tetapi belum diketahui secara pasti kenapa mutasi tersebut bisa terjadi. Kadar serum besi tinggi dengan saturasi kapasitas pengikat besi (iron binding capacity). juga terlihat pasca splenektomi. Walaupun telah lebih dari dua ratus mutasi gen thalasemia yang telah diidentifikasi. maka akan terjadi produksi berlebihan dari rantai globin yang normal dan terjadi akumulasi rantai tersebut di dalam sel menyebabkan sel menjadi tidak stabil dan memudahkan terjadinya destruksi sel. α. Perubahan ini diakibatkan oleh adanya mutasi gen globin pada clusters gen α atau β berupa bentuk delesi atau non delesi.

diketahui memiliki keterbatasan fisiologis dalam kemampuannya untuk memproduksi rantai δ yang stabil. apabila rantai β hanya sedikit diproduksi. tidak seperti gen β dan α. dengan berpasangan dengan rantai α. karena pada penderita ini jumlah Hb dan indeks sel darah merah berada dalam batas normal.merupakan suatu tanda khas pada semua bentuk thalassemia. Tingkat toksisitas yang disebabkan oleh rantai yang berlebihan bervariasi berdasarkan tipe dari rantai itu sendiri (misalnya toksisitas dari rantai α pada thalassemia-β lebih nyata dibandingkan toksisitas rantai β pada thalassemia-α). pada sebagian besar thalassemia kurang sesuai disebut sebagai hemoglobinopati karena pada tipe-tipe thalassemia tersebut didapatkan rantai globin normal secara struktural dan juga karena defeknya terbatas pada menurunnya produksi dari rantai globin tertentu.5-3% dari total Hb). Konsekuensi dari gangguan produksi rantai globin mengakibatkan berkurangnya deposisi Hb pada sel darah merah (hipokromatik). Hal ini berlaku hampir pada semua bentuk anemia yang disebabkan oleh adanya gangguan produksi dari salah satu atau kedua komponen Hb : heme atau globin. level Hb A2 (δ2/α2) biasanya meningkat. rantai δ memproduksi Hb A2 (kira-kira 2. sedangkan tipe thalassemia-β° menandakan bahwa pada tipe tersebut rantai β tidak diproduksi sama sekali. Sebagai contoh. Gen δ. yang mengakibatkan terjadinya kekurangan rantai β adekuat untuk dijadikan pasangan. Namun hal ini tidak terjadi pada silent carrier. yang mengarah ke gambaran klasik thalassemia yaitu anemia hipokromik mikrositik. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya penggunaan rantai δ oleh rantai α bebas yang eksesif. dan bertindak sebagai benda asing sehingga terjadinya destruksi dari sel darah merah. bereaksi dengan membran sel. Pada tipe trait thalassemia-β yang paling umum. tipe thalassemia-nya dinamakan sebagai thalassemia-β+. Terapi Penderita trait thalassemia tidak memerlukan terapi ataupun perawatan lanjut setelah diagnosis awal dibuat. mengintervensi divisi sel normal. Sebagian dari rantai α yang berlebihan digunakan untuk membentuk Hb A2. Terapi preparat besi sebaiknya tidak diberikan kecuali memang dipastikan . Karena alasan ini. Defisiensi Hb menyebabkan sel darah merah menjadi lebih kecil. Tipe thalassemia biasanya membawa nama dari rantai yang tereduksi. dimana sisanya (rantai α) akan terpresipitasi di dalam sel. Reduksi bervariasi dari mulai sedikit penurunan hingga tidak diproduksi sama sekali (complete absence).

terdapat defisiensi besi dan harus segera dihentikan apabila nilai Hb yang potensial pada penderita tersebut telah tercapai. Infeksi oleh organisme opurtunistik dapat menyebabkan demam dan enteriris pada penderita dengan iron overload. khususnya mereka yang mendapat terapi khelasi dengan Deferoksamin (DFO). Transfusi darah harus dimulai pada usia dini ketika anak mulai mengalami gejala dan setelah periode pengamatan awal untuk menilai apakah anak dapat mempertahankan nilai Hb dalam batas normal tanpa transfusi. sebaiknya diterapi dengan Gentamisin dan Trimetoprim- Sulfametoksazol. Penderita thalassemia berat membutuhkan terapi medis. .5 gr/dL sepanjang waktu. dan regimen transfusi darah merupakan terapi awal untuk memperpanjang masa hidup.  Pada pasien yang membutuhkan transfusi darah reguler. Komplikasi Transfusi Darah Komplikasi utama dari transfusi adalah yang berkaitan dengan transmisi bahan infeksius ataupun terjadinya iron overload. dan pemeriksaan hepatitis. 25% pasien yang menerima transfusi terekspose virus hepatitis B. Penderita thalassemia mayor biasanya lebih mudah untuk terkena infeksi dibanding anak normal. khususnya mereka yang memiliki anggota keluarga yang berisiko untuk terkena penyakit thalassemia berat. dengan adanya imunisasi. Transfusi Darah  Transfusi darah bertujuan untuk mempertahankan nilai Hb tetap pada level 9-9.  Pertimbangkan pemberikan asetaminofen dan difenhidramin sebelum transfusi untuk mencegah demam dan reaksi alergi. vaksinasi hepatitis B (bila perlu). insidens tersebut sudah jauh berkurang. Diperlukan konseling pada semua penderita dengan kelainan genetik. Virus Hepatitis C (HCV) merupakan penyebab utama hepatitis pada remaja usia di atas 15 tahun dengan thalassemia. Pemeriksaan tersebut meliputi fenotip sel darah merah. bahkan tanpa diberikan transfusi.  Darah yang akan ditransfusikan harus rendah leukosit. Saat ini. 10-15 mL/kg PRC dengan kecepatan 5 mL/kg/jam setiap 3-5 minggu biasanya merupakan regimen yang adekuat untuk mempertahankan nilai Hb yang diinginkan. Beberapa tahun lalu. maka dibutuhkan suatu studi lengkap untuk keperluan pretransfusi. Demam yang tidak jelas penyebabnya.

Beberapa kemungkinan komplikasi thalassemia yang dapat terjadi adalah hepatitis. osteoporosis. pubertas terlambat. dan gangguan ritme jantung.Komplikasi Thalassemia Risiko terkena komplikasi thalassemia dapat dikurangi dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. .