You are on page 1of 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Baja Karbon

Baja karbon adalah baja yang hanya terdiri dari besi (Fe) dan karbon (C)
saja tanpa adanya bahan pemadu dan unsur lain yang kadang terdapat pada baja
karbon seperti Silikon (Si), Mangan (Mn), Fosfor (P) dan Sulfur (S) hanyalah
dengan presentase yang sangat kecil yang biasa dinamakan impurities. Pengaruh
dari unsur Si, Mn, P dan S adalah sebagai berikutt :

a. Si dan Mn
Biasanya kandungan paling banyak untuk Si adalah 0,4 % dan untuk Mn
adalah 0,5-0,8 %. Kedua unsur ini tidak banyak berarti pengaruhnya
terhadap sifat mekanik dari baja. Mn dipakai untuk mengurangi sifat rapuh
panas dan mampu menghilangkan lubang-lubang pada saat proses
penuangan/pembuatan baja.

b. Phosphor
Phosphor dalam baja karbon akan mengakibatkan kerapuhan dalam
keadaan dingin. Semakin besar prosentase phosphor semakin tinggi batas
tegangan tariknya, tetapi impact strength dan ductility nya turun.
Prosentase phosphor pada baja paling tinggi 0,08 % tetapi pada baja
karbon rendah prosentasenya 0,15-0,20 %untuk memperbaiki sifat mach
inability nya yaitu supaya chips/tatal yang terjadi tidak sambung-
menyambung melainkan dapat putus-putus.
c. Sulfur
Prosentase sulfur pada baja karbon 0,04 %. Sulfur dapat mempengaruhi
sifat rapuh panas.

Baja karbon berdasarkan kandungan karbonnya dikelompokkan menjadi 3


macam.

4
Baja karbon

Baja karbon Baja karbon Baja karbon


rendah menengah tinggi

Gambar 2.1 Skema Baja Karbon (Wikipedia, 2013)

1. Baja karbon rendah


Kandungan karbon pada baja ini antara 0,10 sampai 0,25 %. Karena kadar
karbon yang sangat rendah maka baja ini lunak dan tentu saja tidak dapat
dikeraskan, dapat ditempa, dituang, mudah dilas dan dapat dikeraskan
permukaannya (case hardening). Baja dengan prosentase karbon di bawah
0,15 % memiliki sifat mach ability yang rendah dan biasanya digunakan
untuk konstruksi jembatan, bangunan, dan lainnya. Baja karbon rendah
adalah material yang dalam penggunaannya kebanyakan sebagai bahan
dari konstruksi umum, karena baja karbon rendah mempunyai keuletan
yang tinggi dan mudah dimachining, tetapi kekerasannya rendah dan tidak
tahan aus. Hal ini dapat diatasi dengan merubah sifat-sifat material yang
tersedia yaitu dengan proses perlakuan panas.
2. Baja karbon sedang
Kandungan karbon pada baja ini antara 0,25 sampai 0,55 %. Baja jenis ini
dapat dikeraskan dan di tempering, dapat dilas dan mudah dikerjakan pada
mesin dengan baik. Penggunaan baja karbon sedang ini biasanya
digunakan untuk poros/as, engkol dan sparepart lainnya.
3. Baja karbon tinggi
Kandungan kadar karbon pada baja ini antara 0,55 sampai 0,70 % . karena
kadar karbon yang tinggi maka baja ini lebih mudah dan cepat dikeraskan
daripada yang lainnya dan memiliki kekerasan yang baik, tetapi susah
dibentuk pada mesin dan sangat susah untuk dilas. Penggunaan baja ini
untuk pegas/per, dan alat-alat pertanian.

5
Struktur yang dimiliki oleh baja sangat ditentukan oleh kandungan
karbonnya. Pada baja karbon rendah, struktur didominasi oleh ferit dan
diikiuti oleh sedikit perlit. Pada baja karbon tinggi struktur didominasi
oleh perlit dengan sedikit sementit. Sedangkan pada baja karbon sedang,
struktur baja terdiri dari ferit dan pearlit dengan perbandingannya
tergantung pada kandungan karbonnya. Semakin tinggi karbon semakin
banyak pearlit.

2.1.1 Baja ST 41

Baja St 41 merupakan bahan bangunan yang sangat kuat dan liat dengan
struktur butir yang halus dan dapat dilakukan pengerjaan dalam keadaan panas
maupun pengerjaan dingin. Arti dari St itu endiri adalah singkatan dari steel (baja)
sedangkan angka 41 berarti menunjukkan batas minimum untuk kekuatan tarik 41
lm/mm2. Baja St 41 ini memiliki kekuatan tarik yang baik, sedangkan kuat
tekannya (tegangan tekan) sangat lemah. Oleh karena sifat ini, maka baja ini
digunakan senagai salah satu unsure penyusun beton (baja dinamakan sebagai
tulangan pada beton). Komponen beton (agregat+semen+air) memiliki kekeuatan
yang baik terhadap tekan, sedangkan baja memiliki kekuatan yang baik terhadap
tarik.

2.2 Bahan Pelapisan Logam

2.2.1 Nikel
Nikel adalah unsur kimia metalik dalam table periodik yang memiliki
simbol Ni dan nomor atom 28. Nikel mempunyai sifat tahan karat. Dalam keadaan
murni nikel bersifat lembek, tetapi jika dipadukan dengan besi, krom dan logam
lainnya dapat membentuk baja tahan karat yang keras, mudah ditempa, sedikit
ferromagnetis dan merupakan konduktor yang baik terhadap panas dan listrik.
Nikel tergolong dalam kelompok logam besi-kobal, yang dapat menghasilkan
alloy yang sangat berharga.
Perpaduan nikel, krom dan besi menghasilkan baja tahan karat (stainless
steel) yang banyak diaplikasikan pada peralatan dapur, ornamen-ornamen rumah
dan gedung, serta komponen industri.

6
Nikel adalah logam perak putih yang ditemukan pada tahun 1751 dan
unsur paduan utama yang memberikan kekuatan, ketangguhan dan ketahanan
korosi. Yang biasanya digunakan secara luas pada baja stainless dan paduan
berbasis nikel (yang biasa disebut super alloy). Paduan nikel digunakan pada
plikasi temperatur tinggi (seperti komponen mesin jet, roket dan pembangkit
listrik tenaga nuklir), Karena nikel mempunyai sifat magnetik. Penggunaan utama
nikel yaitu sebagai logam untuk electroplating dari part untuk permukaannya dan
untuk peningkatan ketahanannya terhadap korosi dan keausan. Paduan nikel
memiliki kekuatan tinggi dan tahan korosi pada temperature tinggi.
Nikel adalah komponen yang ditemukan banyak dalam meteorit dan
menjadi ciri komponen yang membedakan meteorit dari mineral lainnya. Unsur
nikel berhubungan dengan batuan basa yang disebut norit. Nikel biasanya terdapat
dalam tanah yang terletak di atas batuan basa.

Tabel 2.1 Sifat-sifat nikel (Blogspot, 2011)


Nama, simbol, nomor atom Nikel, Ni, 28
Sifat fisik
Massa jenis 8,908 gr/cm3
Massa jenis cair melewati titik didih 7,81 gr/cm3
Titik lebur 1455oC, 1728 K
Titik didih 2913oC, 3186 K
Kalor lebur 14,48 kJ/mol
Kalor uap 377,5 kJ/mol
Kapasitas kalor saat suhu ruang 26,07 J/mol K
Kecepatan suara 4900 m/s
Sifat kimia
Struktur Kristal Face center cubic 0,35167 nm (20oC)
Bilangan oksidasi 4, 3, 2, 1, -1
Elektronegativitas 1,91 (skala pauling)
Jari-jari atom 124,4 pm
Jari-jari kovalen 163 pm
Sifat mekanik

7
Ekspansi kalor 13,4 m/m K
Kondusivitas termal 90,9 W/m K
Resistivitas listrik 69,3 n m
Modulus young 200 Gpa
Modulus shear 76 Gpa
Modulus bulk 180 Gpa
Rasio poisson 0,31
Skala mohs 4
Skala Vickers 638 Mpa
Skala brinell 700 Mpa

2.2.1.2 Kelebihan Dan Kekurangan Nikel


Nikel merupakan logam yang memiliki kekuatan tinggi dan tahan korosi.
Nikel memiliki kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada tabel berikut.
Tabel 2.2 Kelebihan dan kekurangan nikel
Logam Kelebihan Kekurangan
Nikel Memiliki ketahanan aus yang Setelah dideposisikan pada
relatif baik, yang dapat besi, sifat mekanik dari
ditingkatkan dengan paduan atau substrat lebih memburuk,
dengan pendeposisian logam yang khususnya pada saat
lebih keras atau paduannya pada pendeposisian kecerahan,
permukaan lapisan tipis. salah satu alasannya adalah
hodrogenasi.
Kekerasan yang relatif tinggi, Nikel tidak stabil dalam
Pendeposisian Ni secara media sulfur berisi, pada
elektrokimia, lebih keras dari ammonia, dalam atmosfer
kebanyakan bahan logam. kalor lembab.
Properti anti difusi yang sangat Nikel tidak memberikan
baik. Nikel secara luas digunakan lapisan pelindung kepada
sebagai lapisan penghalang baja. Pelapisan yang tidak
pendifusian bahan substrat untuk kontinuitas dapat
emas atau sebaliknya. menyebabkan dan

8
mempercepat korosi dari baja.
Nikel menunjukkan ketahanan Nikel adalah logam magnetic,
korosi yang baik, dan media oleh sebab itu nikel tidak
konvensional, pada lingkungan dapat digunakan pada bahan
kelembapan yang tinggi atau yang tidak memiliki sifat
lingkungan alkali atau asam magnet.
organik.
Konduktivitas listrik yang relatif Deposit nikel mungkin sering
baik. mengelupas dari logam dasar.
Deposisi nikel sangat
Daktilitas yang baik, terutama
sensitive terhadap pengotor
ketika di endapkan dari larutan
dalam elektrolit.
sulfamate.

2.2.2 Cobalt
Cobalt adalah suatu unsur kimia dalam table periodik yang meiliki
lambang Co dan nomor atom 27 dengan berat atom sebesar 58,933200. Cobalt
merupakan unsure transisi yang terletak pada golongan 9 pada periode ke empat.
Cobalt adalah logam metalik yang berwarna sedikit berkilauan dan ke abu-abuan.
Cobalt dapat bergabung dengan nikel dan biasa juga dengan arsen.
Sumber utama cobalt adalah speisses, yang merupakan sisa dalam peleburan bijih
arsen dari Ni, Cu, Pb. Cobalt relatif tidak reaktif, meskipun larut lambat sekali
dalam asam mineral encer.

Logam Sifat Fisika Sifat Kimia


Cobalt Logam keras, berwarna abu-abu dan Bereaksi lambat dengan
sedikit berkilauan (metalik) asam encer menghasilkan
ion dengan biloks +2
Sedikit magnetis Kurang reaktif
Bersifat rapuh Tahan korosi
Menyerupai penampakan besi dan nikel Senyawanya berwarna
memiliki permebilitas logam sekitar dua Bereaksi dengan dengan
pertiga daripada besi hydrogen sulfida

9
membentuk endapan
hitam.
Melebur pada suhu 1490oC dan mendidih Dapat membentuk
pada suhu 3520oC senyawa kompleks

2.3 Elektroplating
Pelapisan secara listrik electroplating adalah elektrodeposisi
pelapisan/coating logam melekat ke elektroda untuk menjaga substrat dengan
memberikan permukaan dengan sifat dan dimensi berbeda daripada logam
basisnya tersebut (Anton J.H dan Tomijiro K.1995 : 25) sedangkan pengertian
electroplating yang lain adalah suatu proses pengerjaan permukaan material baik
logam maupun bukan logam dan upaya meningkatka sifat-sifat material tersebut
(Saleh, A. Arsianto, 1995 : 3). Sifat-sifat yang akan ditingkatkan adalah
penggabungan sifat-sifat pada tabel berikut.
Tabel 2.5 sifat-sifat yang ditingkatkan setelah proses elektroplating

Proses Sifat-Sifat Yang Ditingkatkan

Elektroplating Daya tahan korosi (corrosion resistence)


Tampak rupa (appearance)
Daya tahan gores/aus (abrasion resistence)
Harga/nilai (value)
Mampu solder (solderability)
Karet pengikat (bonding of rubber)
Daya kontak listrik (electrical contact resistence)
Mampu pantul / bias cahaya (reflectifity)
Penyebaran rintangan (diffusion barrier)
Mampu sikat kawat (wive bondability)
Daya tahan temperature tinggi (high temperature
resistence).

10
Hasil yang diperoleh dalam proses elektroplating dipengaruhi oleh banyak
variabel, diantaranya larutan, durasi plating, tegangan antara kedua elektroda yang
digunakan (bandriyana, dkk, 2014).
a. Elektrolit, adalah suatu zat yang larut atau terurai kedalam bentuk ion-ion
dan selanjutnya larutan, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari
dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut
zat terlarut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat
lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan
pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan
proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut
pelarutan atau solvasi, menjadi konduktor elektrik,. Konduktor elektrik
adalah material material yang dapat menghantarkan arus listrik dengan
mudah. Ion-ion merupakan atom-atom yang bermuatan elektrik. Elektrolit
bisa berupa air, asam, basa atau berupa senyawa kimia lainnya. Elektrolit
umumnya berbentuk asam, basa atau garam. Beberapa gas tertentu dapat
berfungsi sebagai elektrolit pada kondisi tertentu misalnya pada suhu tinggi
atau tekanan rendah. Elektrolit kuat identik dengan asam, basa, dan garam
kuat. Elektrolit merupakan senyawa yang berikatan ion dan kovalen polar.
Sebagian besar senyawa yang berikatan ion merupakan elektrolit.
b. Anoda adalah elektroda. Elektroda adalah konduktor yang digunakan untuk
bersentuhan dengan bagian atau media non logam dari sebuah sirkuit (misal
semikonduktor, elektrolit atau vakum). Bisa berupa logam maupun
penghantar listrik lain, pada sel elektrokimia yang terpolarisasi jika arus
listrik mengalir ke dalamnya. Arus listrik mengalir berlawanan dengan arah
pergerakan elektron. Pada proses elektrokimia, baik sel galvanik (baterai)
maupun sel elektrolisis, anoda mengalami oksidasi.
c. Katoda adalah elektroda dalam sel elektrokimia yang terpolarisasi jika arus
listrik mengalir keluar darinya. Pada baterai biasa (baterai karbon-seng),
yang menjadi pembungkus baterai. Sedangkan baterai alkalin, yang menjadi
katoda adalah mangan dioksida (MnO2).

11
Elektroplating adalah proses pelapisan yang menggunakan prinsip
elektrokimia. Dalam metode ini komponen bersama dengan batangan atau
lempengan logam yang akan dilapisi, direndam dalam suatu larutan elektrolit yang
mengandung garam-garam logam pelapis (Chamberlain.1991:270). Apabila suatu
potensial diberikan ke dalam sel itu sehingga komponen menjadi katoda dan
batangan atau lempengan logam menjadi anoda. Ion-ion logam dari larutan akan
mengendap ke permukaan komponen sementara dari anoda ion-ion juga terus
terlarut. Dalam metode ini kita mengenal istilah throwing power yang diartikan
dengan kemampuan logam untuk menghasilkan ketebalan merata sejalan dengan
terus berubahnya panjang lintasan antara anoda dan permukaan komponen selama
pelapisan.

Gambar 2.1 Proses Elektroplating

Pada elektroplating terdapat 2 buah elektroda, di mana elektroda yang


dihubungkan dengan kutub positif disebut anoda, dan elektroda yang dihubungkan
dengan kutub negatif disebut katoda.
Ciri-ciri dari elektroda tersebut sebagai berikut:
a. Anoda
1. kutub positif
2. Terjadi reaksi oksidasi
3. Terjadi pelepasan electron
b. Katoda
1. kutub negatif
2. Terjadi reaksi reduksi
3. Menerima elektron

12
Arus yang digunakan pada proses pelapisan listrik adalah arus searah
(direct current/DC). Arus ini didapat dari sumber arus yang bermacam-macam,
yaitu baterai kering, accumulator, DC power supply. Ditinjau dari kestabilan arus
yang dibutuhkan maka sumber arus yang paling baik adalah DC power supply
(catu daya arus searah).

2.3.1 Prinsip kerja elektroplating


Bila arus listrik searah (DC) dialirkan antara kedua elektroda anoda dan
katoda dalam alira elektrolit dengan waktu proses pelapisan yang telah ditentukan
maka pada anoda terjadi oksidasi sehingga akan terbentuk ion-ion positif, pada
larutan elektrolit terjadi elektrolisis garam-garam logam. Anoda yang telah
mengalami oksidasi meluruh dan larut dalam larutan elektrolit. Anoda yang
meluru menggantikan ion logam dalam larutan elektrolit yang ditarik oleh
elektroda negatif (katoda). Dengan adanya hal tersebut akan terbentuk endapan
pada katoda yang berupa berat lapisan (Fatma, 2011).
Prinsip proses electroplating adalah:
a. Katoda (kutub +) menggunakan logam yang akan dilapisi
b. Anoda (kutub -) menggunakan logam untuk dilapisi
c. Anoda dan katoda direndamkan dalam larutan elektrolit

2.5 Uji Kekerasan


Kekerasan (hardness) adalah salah satu sifat mekanik dari suatu material.
Kekerasan suatu material harus diketahui khusunya untuk material yang dalam
penggunaannya akan mengalami pergesekan dan deformasi plastis. Deformasi
plastis sendiri suatu keadaan dari suatu material ketika material tersebut diberikan
gaya maka struktur mikro dari material tersebut sudah tidak bias kembali ke
bentuk asal artinya material tersebut tidak dapat kembali ke bentuknya semula.
Lebih ringkasnya kekerasan didefinisikan sebagai kemampuan suatu material
untuk menahan beban identasi atau penetrasi (penekanan).
Kekerasan adalah ketahanan bahan atau logam terhadap deformasi yaitu
deformasi tekan atau indentasi. Pada umumnya pengujian kekerasan bertujuan
untuk mengukur tahanan dari bahan atau logam terhadap deformasi plastis.
Prinsip pengukurannya adalah dengan member gaya tekan melalui sebuah

13
indentor pada permukaan bahan atau logam. Kemudian luas atau dimensi atau
diameter dari jejak penekanan/indentasi diukur.
Biasanya indentor atau alat tekan yang digunakan apada uji kekerasan
adalah berbentuk bola, piramida atau konis, kerucut. Nilai kekerasannya dihitung
dari jejak indentasinya dengan menggunakan formula tertentu sesuai metode
ujinya (Mediastika, 2010).
Metode pengukuran kekerasan yang digunakan untuk mengetahui
ketahanan dari logam adalah metode brinell, Rockwell, dan Vickers.

Uji kekerasan

Uji Kekerasan Uji Kekerasan Uji Kekerasan


Brinell Rockwell Vickers

Gambar 2.7 Metode Uji Kekerasan

2.5.1 Metode pengujian kekerasan brinell

Pada metode brinell, identor yang digunakan berbentuk bola yang terbuat
dari baja yang telah dikeraskan. Beban atau gaya penekanan yang diberikan
adalah antara 500 3000 kilogram. Nilai kekerasannya merupakan perbandingan
antara beban penekanan terhadap luas identasi.

14
Gambar 2.8 Pengujian Kekerasan Brinell

Skematika dan formulasi untuk menghitung nilai kekerasan metode brinell


adalah sebagai berikut:

BHN = 2F/(3,14D x (D-(D2 Di2)1/2))


Dimana:
BHN = bilangan kekerasan brinell, the brinell hardness number
F = beban, gaya tekan dalam kg, the imposed load in kg
D = diameter identor bola dalam mm, the diameter of the spherical indenter
in mm
Di = diameter jejak indentasi dalam mm, diameter of the resulting indenter
impression in mm

2.5.2 Metode pengujian kekerasan Rockwell


Pengujian kekerasan metode Rockwell menggunakan indentor berupa bola
baja yang dikeraskan atau dapat juga menggunakan indentor berupa kerucut intan.
Beban atau gaya yang digunakan untuk penekanan adalah bervariasi tergantung
pada logam yang diuji. Nilai kekerasannya didasarkan pada kedalaman indentasi
yang terjadi.
Nilai kekerasan metode Rockwell dibagi dalam skala kekerasan yaitu
kekerasan Rockwell skala C, biasa ditulis dengan HRC. Kekerasan Rockwell
skala B ditulis dengan HRB. Kekerasan Rockwell skala B digunakan untuk bahan
atau logam yang relative lunak, sedangkan Rockwell skala C digunakan untuk
logam yang relative keras.

15
Kekerasan Rockwell B menggunakan indentor bola baja berdiameter 1,6
mm dengan beban 100 kg. sedangkan kekerasan Rockwell skala C menggunakan
indentor kerucut intan dengan beban penekanan sebesar 150 kg.

2.5.3 Metode pengujian kekerasan vikers


Prinsip dari pengujian kekerasan metode Vickers mirip dengan metode
brinell. Sudut indentor piramida berlian Vickers adalah 136 derajat, jejak
indentasi yang dihasilkan oleh indentor Vickers lebih jelas, daripada jejak
indentor dari pengujian metode brinell. Sehingga metode ini memiliki akurasi
yang lebih baik.
Karena kelebihannya ini, maka metode Vickers lebih banyak digunakan
dalam dunia penelitian dan pendidikan. Aplikasi dari metode ini sangat luas,
mulai untuk logam yang memiliki nilai Vickers rendah 5 HV pada logam yang
lunak, sampai logam dengan nilai Vickers tinggi sekitar 1500 HV pada logam
yang sangat keras.

Gambar 2.10 Pengujian Kekerasan Vickers

Beban yang digunakan sangat bervariasi mulai dari 1 kgf, untuk uji
kekerasan makro, dan 15 1000 gram untuk uji kekerasan makro. Waktu yang
digunakan untuk pembebanan indentasi biasanya adalah selama 30 detik.
Bilangan kekerasan vikers (HV) dihitung dengan formula:

HV = 1,854 x F / D2
Di mana:
F = beban yang diterapkan, kg

16
D = panjang diagonal jejak indentasi, mm

Panjang diagonal dari jejak indentasi diukur dengan menggunakan


mikroskop optic, yang biasanya merupakan bagian integral atau satu kesatuan dari
peralatan uji vikers.

2.6 Uji korosi


Uji korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat
alamiah dan berlangsung spontan, korosi disebabkan oleh kerusakan atau
degradasi logam akibat reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di
lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki.
Dalam bahasa sehari-hari korosi disebut perkaratan. Korosi pada logam
menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Oleh karena itu korosi dikendalikan
atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat proses kerusakannya.
Diperlukan suatu metode untuk mengetahui kadar korosi dari suatu logam.
Korosi adalah kerusakan sifat logam oleh karena proses elektrokimia, yang
biasanya berjalan lambat. Contoh yang paling umum adalah korosi logam besi
dengan terbentuknya karat oksidanya. Dengan demikian korosi menimbulkan
banyak kerugian. Korosi logam melibatkan proses anodic yaitu oksidasi logam
menjadi ionnya dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam dan
proses katodik yang mengkonsumsi elektron tersebut dengan laju yang sama
(Mediastika, 2010). Proses katodik biasanya merupakan reduksi ion hidrogen atau
oksigen dari lingkungan sekitarnya. Untuk contoh korosi logam besi dalam udara
lembab, proses reaksi redoks yang terjadi dapat dinyatakan sebagai berikut:
Anoda : {Fe (s) Fe2+ (aq) + 2 e} 2 x
Katoda : O2 (g) + 4 H+ (aq) + 4 e 2H2O (l)
Redoks : 2Fe (s) + O2 (g) + 4 H+ (aq) Fe2+ (aq) + 2H2O (l)

Dari data potensial electrode dapat dihitung bahwa emf standar untuk
proses korosi ini adalah Eosel = +1,67 V. reaksi ini terjadi pada lingkungan asam
dengan ion H+ sebagian dapat diperoleh dari reaksi karbon dioksida atmosfer
dengan air membentuk H2CO3 ion Fe2+ yang terbentuk di anode kemudian
teroksidasi laebih lanjut oleh oksigen membentuk besi (III) oksida :

4Fe2+ (aq) + O2 (g) + (4+2x) H2O (l) 2Fe2O3.x H2O + 8H+ (aq)

17
Hidrat besi (III) oksida inilah yang dikenal dengan karat besi. Sirkuit
listrik dipacu oleh migrasi elektron dan ion. Itulah sebabnya korosi cepat terjadi
dalam air garam. Jika proses korosi terjadi dalam lingkungan basa, maka reaksi
katodik yang terjadi adalah:
O2 (g) + 2H2O (l) + 2 e 4OH- (aq)
Korosi besi relatif lebih cepat terjadi dan berlangsung terus, sebab lapisan
senyawa besi (III) oksida yang terjadi bersifat porous sehingga mudah ditembus
oleh udara maupun air. Tetapi, alumunium mempunyai potensial reduksi jauh
lebih negatif dibandingkan besi, proses korosi lanjut menjadi terhambat karena
hasil oksida, Al2O3 yang melapisinya tidak bersifat porous sehingga melindungi
logam yang dilapisi dari kontak dengan udara luar.
Korosi merupakan reaksi kimia yang terjadi secara alami dan spontan.
Tanpa campur tangan manusia, logam dapat bereaksi dengan faktor luar dan
menyebabkan peristiwa korosi. Beberapa faktor penyebab korosi antara lain:
Adanya udara bebas, uap air, dan gas tertentu seperti CO2 dan SO2.
Laju korosi juga dikenal dengan rasio korosi. Laju korosi dihitung dengan
mengambil korosi pada seluruh permukaan. Laju korosi diukur dengan kondisi
mpy (mils per years)
Mpy = (berat hilang akibat korosi dalam gram) x (22300) / (A) (dt)
Dimana:
A = luas permukaan korosi (in2)
D = massa jenis logam (g/cm3)
t = waktu korosi (hari)

Prinsip dari perlindungan katodik adalah mengubah potensial elektroda


drai struktur logam sehingga dapat menambah kekebalan logam yang ingin
dilindungi. Bagian yang dilindungi tentu saja adalah permukaan, karena korosi
dimulai dari bagian permukaan, sehingga menutup kemungkinan terjadinya reaksi
korosi. Perlindungan katodik penting digunakan untuk logam alat-alat selam dan
bawah tanah.
Adanya molekul asing dapat mempengaruhi reaksi pada permukaan.
Proses korosi adalah salah satu jenis reaksi permukaan. Korosi dapat dikendalikan
dengan senyawa asing yang dikenal dengan senyawa inhibitor (penghambat).

18
Senyawa penghambat dapat terabsorpsi pada permukaan logam yang bereaksi.
Senyawa tersebut langsung menyerap ke arah lapisan permukaan logam. Senyawa
penghambat dapat bekerja pada cara yang berbeda, yaitu memblokir bagian yang
rawan korosi dan mencegah laju anodik maupun katodik. Cara lainnya adalah
dengan meningkatkan potensial elektroda.

2.7 Scanning Electron Microscope (SEM)

Scanning electron microscop (SEM) adalah sebuah mikroskop elektron


yang didesain untuk mengamati permukaan dari objek solid secara langsung.
SEM memiliki perbesaran 10 3000000 kali, dan resolusi sebesar 1 10 nm.
SEM digunakan untuk mengetahui informasi kristalografi, topografi objek, dan
morfologi dari objek yang akan diamati.

Pada sebuah mikroskop elektron (SEM) terdapat beberapa peralatan


utama, antara lain:
1. Piston elektron, biasanya berupa filament yang terbuat dari unsur yang
mudah melepas elektron, misal tungsten.
2. Lensa untuk elektron, berupa lensa magnetis karena elektron yang
bermuatan negatif dapat dibelokkan oleh medan magnet.
3. Sistem vakum, karena elektron sangat kecil dan ringan maka jika ada
molekul udara yang lain elektron yang berjalan menuju sasaran akan
terpencar oleh tumbukan sebelum mengenai sasaran sehingga
menghilangkan molekul udara menjadi sangat penting.

Prinsip kerja dari SEM adalah sebagai berikut:


a. Sebuah piston elektron memproduksi sinar elektron dan dipercepat dengan
anoda.
b. Lensa magnetic memfokuskan elektron menuju ke sampel.
c. Sinar elektron yang terfokus memindai (scan) keseluruhan sampel dengan
diarahkan oleh koil pemindai.
d. Ketika elektron mengenai sampel maka sampel akan mengeluarkan
elektron baru yang akan diterima oleh detektor dan dikirim ke monitor
(CRT).

19
Secara lengkap skema SEM dijelaskan oleh gambar di bawah ini:

Gambar 2.11 Skema SEM (Wikipedia, 2013)


Ada beberapa sinyal yang penting yang dihasilkan oleh SEM. Dari
pantulan inelastis didapatkan sinyal elektron sekunder dan karakteristik sinar X
sedangkan dari pantulan elastis didapatkan sinyal backscattered elektron. Sinyal-
sinyal tersebut dijelaskan pada gambar dibawah ini:

Gambar 2.12 Sinyal-Sinyal Dari Pantulan Inelastis Dan Pantulan Elastis


(Wikipedia, 2013)

Perbedaan gambar dari sinyal elektron sekunder dengan backscattered


adalah sebagai berikut:
Elektron sekunder menghasilkan topografi dari benda yang dianalisa,
permukaan yang tinggi berwarna lebih cerah dari permukaan rendah. Sedangkan
backscattered elektron memberikan perbedaan berat molekul dari atom-atom yang
menyusun permukaan, atom dengan berat molekul tinggi akan berwarna lebih

20
cerah daripada atom dengan berat molekul rendah. Contoh perbandingan gambar
dari kedua sinyal ini disajikan pada gambar di bawah ini:

Gambar 2.13 Perbandingan Sinyal Electron Sekunder Dengan Backscattered


(Wikipedia, 2013)

Mekanisme kontras dari elektron sekunder dijelaskan dengan gambar di


bawah ini. Permukaan yang tinggi akan lebih banyak melepaskan elektron dan
menghasilkan gambar yang lebih cerah dibandingkan permukaan yang
rendah/datar.

Gambar 2.14 Mekanisme kontras dari elektron sekunder (Wikipedia, 2013)

Sedangkan mekanisme kontras dari backscattered elektron dijelaskan


dengan gambar di bawah ini. Yang secara prinsip atom-atom dengan
densitas/berat molekul lebih besar akan memantulkan lebih banyak electron
sehingga tampak lebih cerah dari atom berdensitas rendah. Maka teknik ini sangat
berguna untuk membedakan jenis atom.

Gambar 2.15 Mekanisme Kontras Dari Backscattered Elektron (Wikipedia, 2013)

21
Namun untuk mengenali jenis atom dipermukaan yang mengandung multi
atom para peneliti lebih banyak menggunakan teknik EDS (energy dispersive
spectroscopy). Sebagian besar alat SEM dilengkapi dengan kemampuan ini,
namun tidak semua SEM punya fitur ini. EDS dihasilkan dari sinar X
karakteristik, yaitu dengan menembakkan sinar X pada posisi yang ingin kita
ketahui komposisinya. Maka setelah ditembakkan pada posisi yang diinginkan
maka akan muncul puncak-puncak tertentu yang mewakili suatu unsur yang
terkadung. Dengan EDS kita juga bisa membuat elemental mapping (pemetaan
elemen) dengan memberikan warna berbeda-beda dari masing-masing elemen
dipermukaan bahan. EDS bisa digunakan untuk menganalisa secara kuantitatif
dari persentase masing-masing elemen. Contoh dari aplikasi EDS digambarkan
pada diagram dibawah ini:

Gambar 2.16 Aplikasi EDS (Wikipedia, 2013)

2.7.1 Aplikasi SEM-EDS


Aplikasi dari teknik SEM-EDS dirangkum sebagai berikut:
1. Topografi: menganalisa permukaan dan tekstur (kekerasan, reflektivitas)
2. Morfologi: menganalisa bentuk dan ukuran dari benda sampel.
3. Komposisi: menganalisa komposisi dari permukaan benda secara
kuantitatif dan kualitatif.

Sedangkan kelemahan dari teknik SEM antara lain:


a. Memerlukan kondisi vakum
b. Hanya menganalisa permukaan
c. Resolusi lebih rendah dari TEM

22
d. Sampel harus bahan yang konduktif, jika tidak konduktor maka perlu
dilapis logam.

23