You are on page 1of 13

BAB VI

SPESIFIKASI TEKNIS

PASAL 1
LINGKUP PEKERJAAN

1. Lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan meliputi :
I. Pekerjaan Drainase
II. Pekerjaan Dinding Saluran

2. Sarana bekerja dan tata cara pelaksanaan.
a. Untuk kelancaran pekerjaan pihak kedua harus menyediakan Pengawas Lapangan
yang dianggap memadai dilapangan sebagai penanggung jawab penuh dan dengan
wewenang penuh dilapangan.
b. Pihak kedua harus menyediakan semua peralatan yang nyata-nyata diperlukan dalam
pelaksanaan pekerjaan Direksi berhak meminta Pihak Kedua mengadakan peralatan
pembantu pekerjaan yang dianggap perlu untuk menjamin kecepatan, mutu dan
kecepatan pekerjaan.
c. Semua biaya mobilisasi dan sewa pakai peralatan dianggap telah diperhitungkan
Pihak Kedua.
d. Pihak kedua wajib meneliti situasi tapak – job Site dan hal lain yang dapat
mempengaruhi penawaran. Untuk itu sebelum pelaksanaan pekerjaan, Pihak Kedua
wajib melakukan survey ulang guna memperoleh akurasi data yang up to date.
e. Kelalaian atau kekurangan-telitian kontraktor dalam hal ini tidak dapat diajukan
sebagai alasan untuk mengajukan klaim.
f. Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh keahlian sesuai dengan ketentuan-
ketentuan dalam RKS, Gambar Rencana, Berita Acara Penjelasan, Berita Acara Rapat
Lapangan, serta petunjuk Konsultan Pengawas.

3. Sarana kerja.
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan harus tersedia :
a. Tenaga kerja terampil dan tenaga ahli yang sudah cukup memadai dengan jenis dan
volume pekerjaan yang akan dilaksanakan.
b. Alat-alat bantu seperti beton molen (mixer beton) vibrator, pompa air, alat-alat
penarik, pengangkat dan pengangkut, mesin pemadat, alat-alat gali, alat penyipat datar
atau peralatan lain yang benar-benar diperlukan dan dipakai dalam pelaksanaan.
c. Bahan bahan bangunan dalam jumlah yang cukup, untuk setiap macam pekerjaan
yang akan dilaksanakan paling lambat 4 hari sebelum pelaksanaan pekerjaan yang
dimaksud.

dasar galian harus sesuai dengan kedalaman dan bentuk yang direncanakan. baik air hujan maupun air tanah. Baru kemudian di bouwplank untuk menentukan daerah galian pondasi. batu yang lebih besar dari 5 cm. a. semua bahan yang tidak berguna dan sampah-sampah harus dikeluarkan dari lubang galian. Cara pelaksanaan. Kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat gangguan tanah dengan alasan apapun tetap menjadi tanggungan Pihak Kedua. Persyaratan dan bahan. k. Semua galian. 2. Dan setiap lapis harus dipadatkan dengan “Portable Power Compactors” atau alat sejenis dengan syarat harus memenuhi standart proctor 05 %. Pada bagian-bagian yang mudah longsor harus diadakan tindakan pencegahan dengan memasang papan-papan penahan atau cara lain yang disetujui Pengawas Lapangan. untuk memungkinkan membentuk permukaan bidang pasangan batu gunung. akar-akaran dan bahan organik lainnya. Galian tanah dilaksanakan untuk semua pekerjaan pasangan pondasi termasuk penggalian saluran dan semua pasangan lainnya di bawah tanah. Urugan kembali lubang galian dan peninggian muka tanah untuk lantai sesuai dengan persyaratan harus dilakukan lapis demi lapis dengan ketebalan setiap lapis melebihi 15 cm. f. m. Sebelum pengurugan. j. harus secepatnya diangkat dari lubang galian. g. l. h. Tanah urug yang berasal dari luar site/lokasi harus lebih berbutir. Apabila galian dibuat lebih dalam dari semestinya tanpa sepengetahuan dan persetujuan. tidak exspansive. Bidang vertikal galian struktur harus mempunyai jarak cukup dari lebar saluran untuk memungkinkan pemasangannya. c. bebas dari : sampah. Urugan yang dipakai harus bersih dari humus dan dapat diambil dari tanah bekas galian dari jenis yang baik atau tanah perbukitan dilokasi pekerjaan atas izin Pemilik/Pengawas Lapangan. i. yang nyata-yata harus dilakukan sesuai gambar rencana. tetapi harus diisi dengan beton tumbuk atau bahan yang sama dengan bahan pondasi tanpa biaya tambahan dari Pihak Pertama. a. b. e. Urugan kembali baru boleh dilaksanakan setelah . Lubang galian harus selalu bebas dari genangan air. d. PASAL 2 PEKERJAAN TANAH UNTUK STRUKTUR 1. Penyiraman dengan air secara berlebihan tidak diperbolehkan. penopangan dan lain-lain pekerjaan demi kelancaran pelaksanaan. Pasir sebagai urugan dapat dapat diterima. Sebelum memulai pekerjaan ini kontraktor harus melaksanakan pembongkaran saluran lama terlebih dahulu sampai dengan finish tanah asli. Galian struktur untuk bukan pekerjaan cukup harus cukup lebar dari masing-masing sisinya. Untuk itu pihak kedua harus menyediakan pompa-pompa penyedot air atau alat pengering lainnya yang siap pakai dalam jumlah dan kapasitas yang cukup memadai untuk menjamin kelancaran pelaksanaan pekerjaan. Ahli / Pengawasan Lapangan. Bahan-bahan yang terlepas atau runtuh dari tebing galian. urugan dan pemadatan dalam pekerjaan ini harus kwalifikasi sebagai berikut : b. maka kelebihan galian itu tidak boleh diurug.

terkecuali bila dinyatakan di instruksikan oleh Pengawas. Urugan pasir harus dipadatkan lapis demi lapis sampai mencapai ketebalan sesuai gambar. maka ketentuan-ketentuan berikut ini dapat dipakai dengan terlebih dahulu memberitahukan dan memintakan ijin dari Pengawas. Urugan pasir harus dikerjakan sebelum pasangan diatasnya dikerjakan.bila terdapat hal-hal yang tidak tercakup dalam Peraturan tadi. b. Mutu Beton yang disyaratkan adalah K 225 untuk beton struktur dan K 175 untuk non struktur. bersih dari lumpur.ASTM C 150 Portland Cement .ASTM C 494 Chemical Administrasi for Concrete . kecuali bila dilaksanakan dengan standar yang lebih tinggi mengenai kekuatan & mutu bahan. PASAL 3 PEKERJAAN URUGAN PASIR 1. Contoh pasir yang akan digunakan harus diajukan Kepada Ahli / Pengawas Lapangan untuk mendapatkan persetujuannya sebelum bahan tersebut didatangkan ke lokasi. pondasi mencapai kekutan penuh.NI 3/1970 dan NI 8/1964 PUBB Persyaratan di atas adalah standar minimum dan harus disesuaikan dengan gambar- gambar dan persyaratannya. telah diperiksa dan disetujui oleh ahli/Pengawas Lapangan. 2. kotor-kotoran dan bahan organik lainnya. Semen . a. Persyaratan. texture finishing dan kualitas secara keseluruhan. b.ASTM A 615 Defermed and Plain Reinforcing Bars for Concrete Reinforcement . PASAL 4 PEKERJAAN BETON 1. cara pengecoran. Dan semua pekerjaan beton akan ditolak. Tebal setiap lapis maksimum 10 cm dengan diairi secukupnya. Standart. biji-bijian. Bahan-bahan a.ASTM C 33 Concrete Agregats . 2. Cara Pengerjaannya a. Semua ketentuan baik mengenai material maupun metode pemasangan dan juga pelaksanaan pekerjaan beton harus mengikuti semua ketentuan dalam SK-SNI T-15- 1991-03. cara pengerjaan cetakan. Adapun ketentuan-ketentuan tadi adalah sebagai berikut : . kepadatan. Pasir urug yang dipakai harus berbutir. Persyaratan dan Bahan. akar-akaran.

. Pengeluaran semen harus diatur secara kronologis sesuai dengan penerimaan. yang menunjukkan bahwa produk tadi telah memenuhi sesuatu test standart yang lazim digunakan untuk material.Kontraktor tidak diperkenankan menggunakan air dari rawa. Tiap-tiap penerimaan semen harus disimpan sedikian rupa sehingga dapat dibedakan dengan penerimaan-penerimaan sebelumnya. . . Kecuali ditentukan lain oleh Pengawas semen yang digunakan semen Type I sesuai ASTM C 150.5 meter dari permukaan atas air kesisi tempat pengambilan tadi. Kontraktor harus mengadakan . sulfat. Jika pasir alam didapat dari sumber-sumber yang tidak dimiliki atau tidak dikuasai Kontraktor. c.Didalam spesifikasi ini dipakai bermacam-macam jenis untuk pekerjaan bangunan yang ditetapkan sebagai berikut : • Pasir buatan : Pasir yang dihasilkan dari mesin pemecah batu • Pasir alam : Pasir yang disediakan oleh kontraktor dari sungai atau pasir alam yang didapat dari persetujuan Engineet. sumber air yang berlumpur. Semen dalam kantung-kantung semen tidak boleh ditumpuk lebih tinggi dari dua meter. • Pasir paduan : Paduan dari pasir buatan dan pasir alam dengan perbandingan campuran sehingga dicapai gradasi (susunan butiran) yang dikehendaki. . Kontraktor harus menyediakan tempat/gudang penyimpanan semen pada tempat- tempat yang baik sehingga tersebut senantiasa terlindung dari kelembapan atau keadaan cuaca lain yang merusak. bahan organis. b. . kadar silt (lanau) yang terkandung dalam air tidak boleh lebih dari 2% dalam perbandingan beratnya. harus air tawar yang bersih dari bahan- bahan yang berbahaya bagi penggunaannya seperti minyak. Tempat pengambilan harus dapat menjaga kemungkinan terbawanya material-material yang tidak di inginkan tadi. dan segala sesuatunya harus mengikuti ketentuan dalam SK- SNI T-15 1991-03.Air yang digunakan untuk bahan beton. Sedikitnya harus ada jarak vertikal 0. garam. alkali. Kadar Sulfat maximum yang diperkenankan adalah 0. Kantung-kantung semen yang kosong harus segera dikeluarkan seluruhnya.Semua pasir alam yang dibutuhkan untuk pekerjaan pembangunan harus disediakan oleh kontraktor dan dapat diperoleh dari sungai atau tempat lain sumber alam yang disetujui. sedangkan kadar chloor maximum 1. silt (lanau). Kontraktor harus menunjukkan sertifikat dari Produsen untuk setiap pengiriman semen. terutama sekali lantai tempat penyimpanan tadi harus kuat dan berjarak minimal 30 cm dari permukaan tanah. .5% atau 5 gr/lt. Pengawas berhak untuk memeriksa semen yang disimpan dalam gudang pada setiap waktu sebelum dipergunakan dan dapat menyatakan untuk menerima atau tidak semen-semen tersebut.5% atau 15 gr/lt. dan untuk curing beton. Agregat Halus (pasir) . . bahan pencuci agregat. Semen yang digunakan harus merupakan produk dari satu pabrik yang telah mendapat persetujuan Pengawas terlebih dahulu. adukan pemasangan dan Grouting. Air untuk Adukan .

persetujuan yang perlu dengan pemiliknya dan harus membayar semua sewa atau biaya lain-lain yang bersangkutan hal tersebut. sedangkan untuk diameter yang lebih kecil digunakan mutu U- 24 (tegangan leleh karakteristik = 2400 kg/cm2). padat. . .Baja tulangan harus memenuhi ketentuan dalam SK-SN T-15-1991-03 dengan mutu U-32 (tegangan leleh karekteristik = 3200 kg/cm2) untuk diameter lebih besar dari 12 mm. . Dalam membuat adukan baik untuk beton. . dan tidak terselaput material lain. bahan- bahan organik dan kotoran-kotoran lainnya yang merusak. baik dengan menimbang ataupun volume. e.Koral yang tersedia tidak dapat langsung digunakan sebelum mendapatkan persetujuan dari Pengawas baik mengenai mutu ataupun jumlah. agar dapat dicapai mutu beton yang direncanakan. Berat subtansi yang merusak tidak boleh lebih dari 5 %. mempunyai modulus kehalusan butir antara 6 sampai 7. . Pasir yang ditolak oleh Pengawas. Pasir yang dipakai harus mempunyai kadar air yang merata dan stabil. tidak terselaput oleh material lain. dan memberikan kondisi water cement ratio yang minimum. . . pasir tidak dapat digunakan sebelum mendapat persetujuan dari Pengawas mengenai mutu dan jumlahnya. Koral yang dipakai harus mempunyai kadar air yang merata dan stabil. Dalam penggunaan koral harus dicuci terlebih dahulu dan diayak agar didapat gradasi sesuai yang dikehendaki. adukan dan grouting harus merupakan pasir alam. batu pecah. tidak porous. karat. baik workabilitynya. dan dibelah paling tidak ada satu sisi serta dibuat menurut ukuran dan bentuk sebagaimana dikehendakai Pengawas. alkali. plesteran ataupun grouting. padat. Sebagaimana juga pada pasir.Agregat kasar untuk beton dapat berupa koral dari alam.Batu untuk pasangan batu kosong (pitching) harus mempunyai berat antara 10kg sampai 25kg sebuah. dan tidak bercacat seperti retak dan lain-lain. pasir hasil pemecahan batu dapat pula digunakan untuk mencapur agar didapat gradasi pasir yang baik. Agregat Kasar (Koral) . harus segera disingkirkan dari lapangan kerja. atau campuran dari keduanya. . • Untuk mutu U-32 harus digunakan profil baja tulangan deformed (deformed- bar). Baja Tulangan . Pasir beton harus mempunyai modulus kehalusan butir sesuai dengan persyaratan pada SK-SNI T-15-1991-03. . lapisan lemak/minyak. koral keras.Kontraktor diwajibkan memperhatikan pengaturan komposisi material untuk adukkan. Pasir harus bersih dan bebas dari gumpalan-gumpalan tanah liat. memberikan kepadatan maximum.5 atau bila diselidiki dengan saringan standart harus sesuai dengan SK-SN T-15-1991-03 dan material yang halus yaitu yang lebih kecil dari 5 mm harus disingkirkan. dan harus terdiri dari butiran yang keras. d. Pasir untuk beton.Semua baja tulangan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : • Bebas dari kotoran-kotoran.

dan harus merencanakan perbandingan adukan agar didapatkan hasil sesuai yang diminta dalam spesifikasi. Pada alat pengaduk yang ditempatkan secara sentral atau pada mixing plants.Kontraktor harus menyerahkan kepada Pengawas semua perhitungan dan gambar rencana bekistingnya untuk mendapat persetujuan bilamana diminta Pengawas. segala sesuatunya yang diakibatkan oleh bekisting tadi tetap sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor. . Syarat-syarat Pelaksanaan a. . Dalam hal bekisting ini. kwantitas dan kekuatan.Bekisting yang digunakan untuk beton exposed apabila ada. . sebelum pekerjaan dilapangan dimulai. Kontraktor harus bertanggung jawab atas mutu adukan beton yang dibuatnya. besi atau material lain yang disetujui oleh Pengawas. Pengadukan . memelihara dan menggunakan alat pengaduk mekanis (beton mollen) yang harus selalu berada dalam kondisi baik.Air untuk pencampur adukan beton dapat diberikan sebelum dan sewaktu pengadukan dengan kemungkinan penambahan sedikit air pada waktu proses pengeluaran dari adukan yang dapat dilakukan berangsur-angsur. sehingga didapat hasil beton yang halus. Pengawas berhak untuk memerintahkan memperpanjang proses pengadukan bila teryata hasil adukan yang ada gagal menunjukkan beton yang homogen seluruhnya. 4. tidak dapat dibenarkan. dan diukur dapat berdasarkan berat atau volume. sehingga dapat dihasilkan mutu adukan yang homogen. kecuali air yang dapat dimasukkan sebagian lebih dahulu. ukuran. rata dan sesuai dimensi yang direncanakan.Pengadukan beton harus dilakukan dengan alat pengaduk yang mempunyai kapasitas minimum 0. f. sambungan antara tepi-tepi bekisting harus dibuat dengan diprofil hingga didapat permukaan dalam bekisting yang benar-benar rata sesuai yang direncanakan. . b. dan kekentalanya tidak merata. Adukan beton yang dihasilkan dari proses pengadukan tadi harus mempunyai komposisi dan kekentalan yang merata untuk keseluruhannya. Perbandingan Campuran ( Adukan Beton ) a. harus segera diperbaiki atau diganti dengan yang baik lainnya.2 m3 dengan waktu tidak kurang dari 11/2 menit setelah semua bahan adukan beton dimasukkan dengan segera. Komposisi adukan dapat diubah dalam periode pelaksanaan pekerjaan oleh pengawas dengan berdasar pada hasil test pada agregat dan test beton yang sudah selesai dikerjakan. harus benar-benar mempunyai permukaan yang halus. Jumlah tiap bagian dari komposisi adukan beton harus diukur dengan teliti sebelum dimasukkan kedalam alat pengaduk. Penambahan air yang berlebihan yang dimaksudkan untuk menjaga kekentalan yang disyaratkan. Kesemua type material tadi bila digunakan tetap harus memenuhi kebutuhan untuk bentuk.Material untuk bekisting dapat dibuat dari kayu. Dalam hal digunakan bekisting multipleks. 3. walaupun Pengawas telah menyetujui untuk digunakan suatu rencana bekisting dari kontraktor. Mesin pengaduk yang menunjukkan hasil yang tidak memuaskan. . Bekisting (Acuan) .Kontraktor harus menyediakan.

dan setelah itu dilakukan pengadukan kembali dengan sedikitnya 3 (tiga) kali pengadukan sampai didapat suatu adukan yang benar-benar merata. permukaannya halus dan kedap air. Pengadukan adukan dengan cara manual tidak diperkenankan. Alat pengaduk (beton molen) harus benar-benar kosong dan bersih sebelum diisi bahan-bahan untuk mengaduk beton. b. Metode yang dipakai harus menjaga jangan sampai terjadi pemisahan bahan-bahan campuran beton (segregation). Pengadukan dengan manual (hand mixing) ini harus dilakukan pada suatu plat form yang mempunyai tepi-tepi penghalang. Pada proses pengadukan ini. Slump test yang dilakukan untuk sample yang diambil pada saat adukan dituangkan kebekisting. c.Adukan beton dari tempat pengaduk harus secepatnya diangkut ketempat pengecoran dengan cara yang sepraktis mungkin yang metodenya harus mendapat persetujuan Pengawas terlebih dahulu. Adukan yang diangkut harus segera dituangkan pada formwork (bekisting) yang sedekat mungkin dengan tujuan akhirnya untuk menjaga pengangkutan lebih lanjut serta pula penuangan adukan tidak boleh dengan menjatuh bebaskan adukan dengan tinggi jatuh lebih satu meter. . dan harus dapat menjaga tidak timbulnya hal-hal negatif yang diakibatkan naiknya temperatur ataupun perubahan kadar air pada adukan. kondisi permukaan dalam dari bekisting atau tempat beton dicorkan harus benar-benar bersih dari segala macam .Alat-alat yang digunakan untuk menggangkut adukan beton harus terbuat dari metal. kehilangan unsur-unsur betonnya. .Sebelum adukan beton dituangkan pada acuannya. Juga lama pengadukan dengan kondisi pertama ini harus dilakukan dengan sedikitnya satu menit lebih lama dari waktu pengadukan normal.Adukan beton harus sampai ditempat dituangkan dengan kondisi benar-benar merata (homogen). Kontraktor harus menyediakan sarana agar proses pengadukan dapat diawasi dengan baik dari tempat yang tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan pengadukan. .10. Pengecoran . kecuali diinstruksikan Pengawas. Transportasi Adukkan . dan harus segera dicuci bersih setelah selesai mengaduk pada suatu pengecoran. Dalam pengadukan kembali ini kekentalanya dapat dinaikkan dengan 10 persen serta tidak diperkenankan melakukan pengadukkan dengan cara ini untuk suatu jumlah yang lebih dari ½ m3 diaduk sekaligus. untuk kemudian air pencampurnya disemprotkan dengan selang air. pengadukan yang pertama harus mengandung koral dengan jumlah perbandingan separuh dengan jumlah perbandingan normalnya untuk menjaga adanya material halus dan semen yang tertinggal melekat pada bagian dalam beton molen. Pada saat memulai adukan yang pertama pada suatu pengecoran dengan beton molen yang sudah bersih. harus tidak melewati batas-batas toleransi yang ditentukan pada pasal 4. . Alat mengaduk tidak boleh digunakan untuk mengaduk adukan dengan volume yang melebihi kapasitasnya. terkecuali untuk suatu jumlah yang kecil sekali dan hal ini pun diperkenakan setelah mendapat persetujuan dari Pengawas. bahan-bahan yang akan diaduk dulu secara kering dengan sedikitnya 3 (tiga) kali pengadukan.

Bila terjadinya penyetopan pekerjaan pengecoran yang lebih lama dari satu jam. Seluruh pekerjaan pengecoran beton harus diselesaikan segera sebelum adukan betonnya mulai mengeras. Aliaran air yang dapat mengalir ketempat beton cor. maka pekerjaan yang dapat dilakukan hanyalah pekerjaan dalam atau terhadap bekisting sampai selesainya pengecoran beton pada daerah yang telah disetujui terkecuali dengan seijin Pengawas. Adukan beton yang sudah terlanjur agak mengeras tapi belum dicorkan. kontraktor harus segera memadatkan adukan yang sudah dicorkan sampai suatu perbatasan tertentu dengan kemiringan yang merata dan stabil saat beton masih dalam keadaan plastis. Tidak diperkenankan melakukan pengecoran untuk suatu bagian dari pekerjaan beton yang bersifat permanen tanpa dihadiri Pengawas atau wakil dari Pengawas (inspector). tempat beton dicor. Juga air tergenang pada acuan beton atau pada tempat beton akan dicorkan harus segera dihilangkan. meratakan. Sedang semua pekerjaan pengecoran harus dilakukan oleh tenaga-tenaga pekerja yang terlatih. harus dicegah dengan mengadakan drainase yang baik atau dengan metode lain yang disetujui Pengawas. Bidang pengakhiran ini harus dalam keadaan bersih dan harus dijaga berada dalam keadaan lembab sebagaimana juga pada kondisi untuk construction joint. kotoran. dan bertanggung jawab atas pekerjaan pengecoran. Pengecoran tidak boleh dimulai sebelum kondisi bekisting. Semua bekas-bekas beton yang tercecer pada baja tulangan dan bagian dalam bekisting harus dengan segera dibersihkan. Beton yang baru selesai dicor. Kontraktor diwajibkan menempatkan seorang tenaga pelaksanaannya yang berpengalaman baik dalam pekerjaan beton dan pelaksana ini harus hadir. Kontraktor harus mengatur kecepatan kerja dalam menyalurkan adukan beton agar dapat didapat suatu rangkaian kecepatan baik mengangkut. harus segera dibuang. . Pada tiap pengecoran. . pekerjaan harus ditangguhkan sampai suatu keadaan dimana beton sudah dinyatakan mulai mengeras yang ditentukan oleh pihak Pengawas. . . . Tidak sekalipun diperkenankan melakukan pengecoran beton dalam kondisi cuaca yang tidak baik untuk proses pengerasan beton tanpa suatu upaya perlindungan terhadap adukan . atau dalam hal pelaksaan suatu pengecoran tidak dapat dilaksanakan dengan menerus. mengawasi. Dalam hal terjadi kerusakan alat pada saat pengecoran. . Mengencerkan adukan beton yang sudah diangkut sama tidak diperkenankan. Setelah diperiksa dan disetujui Pengawas. yang jumlahnya harus mencukupi untuk menangani pekerjaan pengecoran yang dilakukan. sebelum nantinya dituangkan adukan yang masih baru. kondisi permukaan beton yang terbatas dengan daerah yang akan dicor dan juga keadaan pembesian selesai diperiksa dan disetujui oleh Pengawas. . harus dilindungi terhadap rusak atau terganggu akibat sinar matahari ataupun hujan. dimulai saat-saat beton belum mengeras. . Juga air yang mungkin mengganggu beton yang sudah dicorkan harus ditanggulangi sampai suatu batas waktu yang disetujuai Pengawas terhitung mulai pengecorannya. untuk mencegah jangan sampai beton yang baru dicor menjadi terkikis pada saat atau setelah proses pengecoran. dan memadatkan adukan beton dengan suatu kecepatan yang sama dan menerus. Dan segala langkah perlindungan segera dilakukan terhadap beton yang baru dicor. .

Adukan beton harus dipadatkan hingga mencapai kepadatan yang maksimum sehingga didapat beton yang terhindar dari rongga-rongga yang timbul antara celah-celah koral. Hal-hal yang perlu diperbaiki antara lain yang menyangkut hal-hal yang kurang baik pada permukaan beton terutama untuk kebutuhan finishing. . Selama proses pengecoran. beton. Bila terjadi penghentian dalam pengecoran pada suatu lokasi dimana pada pengecoran nantinya. Bila dianggap oleh Pengawas perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan atau pembongkaran. . Tonjolan-tonjolan pada permukaan beton harus dihilangkan. atau dalam keadaan hujan. pemisahan unsur- unsur pembentuk beton. Perlindungan yang dilakukan untuk mencegah hal-hal ini harus mendapat persetujuan Pengawas.Segera setelah bekisting dibuka. dan adukan tadi harus benar-benar memenuhi ruangan yang dicor dan menyelimuti seluruh benda yang seharusnya tertanam dalam beton. beton baru tidak akan dapat tercampur dengan beton lama.Kondisi beton yang ternyata rusak akibat adanya rongga yang membahayakan dan permukaan cekung yang berlebihan. maka pelaksanaan pekerjaan perbaikan ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam semenjak pembukaan bekisting. Air yang digunakan untuk keperluan ini harus sama mutunya denga air untuk bahan adukan beton. maka tadi harus sepenuhnya dikerjakan atas beban biaya Kontraktor. dengan menggunakan vibrator yang mencukupi keperluan pekerjaan pengecoran yang dilakukan. Penambahan construction joint yang dikehendaki kontraktor demi pertimbangan pelaksanaan. Penentuan letak joint tadi harus memperhatikan pola gaya-gaya yang bekerja ataupun untuk menghindari terjadinya retak. e. begitu juga langkah pengecoran dan material yang akan digunakan. f. maka batas . Perbaikan Beton . Kecuali dinyatakan lain. Batas- batas daerah yang harus dibongkar tadi akan ditentukan oleh pihak Pengawas. adukkan beton harus dipadatkan.Pengecoran beton harus dilakukan secara menerus tanpa berhenti.Lokasi dan type dari consctruction joint harus sesuai dengan pada gambar rencana atau sebagaimana ditentukan Pengawas. dapat mengakibatkan perintah dibongkarnya beton tadi untuk kemudian lakukan pembersihan dan pengecoran ulang. kondisi beton harus diperiksa Pengawas. Joint (Sambungan) . Pemadatan dan Adukan Beton . Pembasahan harus dilakukan dengan menutup permukaan beton dengan kain atau material lain yang basah agar tetap lembab. Kekentalan adukan beton dan lama proses pemadatan harus diaduk sedemikian rupa agar tercapai beton yang bebas dari rongga. gelembung udara. d. . harus dapat mendapat persetujuan pengawas terlebih dahulu.Beton yang sedang mengeras harus selalu dibasahi mulai dari selesai pengecoran dengan sedikitnya selama 2 (dua) hari. .Langkah-langkah perbaikan beton harus dilakukan oleh tenaga yang benar-benar ahli. hal ini bisa dalam terjadi baik dalam keadaan cuaca yang panas sekali.

Bekisting untuk bagian atas dari bidang beton yang miring. Bekisting (Acuan beton) . harus dibasahi hingga benar-benar basah sebelum pengecoran beton. bilamana tidak dinyatakan lain gambar harus ditakik 25 mm.Semua pekerjaan sudut-sudut beton. Bilamana diperlukan perbaikan pada bidang atas beton yang miring. harus segera disingkirkan untuk tidak dapat dipergunakan lagi atau bilamana mungkin diperbaiki agar kembali sempurna kondisinya. harus segera dibongkar setelah beton mempunyai kekakuan untuk mencegah berubahan bentuk permukaan beton.Semua material yang selesai digunakan sebagai bekisting harus diselesaikan dengan teliti sebelum digunakan kembali.Secara umum. kecuali dinyatakan lain oleh Pengawas. Semua bekisting harus direncanakan agar dalam proses pembukaan tanpa memukul atau merusak beton. . g. dengan pengaku-pengaku (bracing) dan pengikat (ties) untuk pencegahan terjadinya pergeseran ataupun perubahan bentuk yang diakibatkan gaya-gaya yang mungkin bekerja pada bekisting tadi. bila perlu bekisting harus secepatnya dibongkar segera setelah beton mempunyai kekerasan dan kekuatan seperlunya.Pembukaan bekisting tidak diperkenankan dilakukan sebelum beton mencapai umur sesuai daftar dibawah ini setelah pengecorannya dan sebelum beton mengeras untuk menahan gaya-gaya yang akan ditahannya. .Bagian dalam dari bekisting besi dan kayu boleh dipoles dengan non-staning mineral oil dengan sepengatahuan Pengawas. i. Pembongkaran Bekisting . Pembongkaran bekisting harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah timbulnya kerusakan pada beton.Bekisting kayu bilamana tidak dipoles minyak seperti tersebut diatas. maka langkah perbaikannya harus sesegera mungkin dilakukan. Untuk memungkinkan tidak terganggunya kemajuan pekerjaan dan dapat dengan segera dilakukan langkah perbaikan. Bilamana timbul kerusakan pada beton pada saat pembongkaran bekisting. . Pengikat bagian bekisting harus dilakukan horizontal dan vertikal. h. semua bekisting harus disingkirkan dari permukaan beton. tadi harus diperlakukan seperti conctruction joints. dibersihkan dengan air hingga bersih. Pelumasan tadi harus dilakukan dengan hati-hati agar cairan tadi tidak mengenai bidang dasar pondasi dan juga pembesian. . Konstruksi bekisting harus cukup kaku. dimana permukaan consctruction joints harus dikasarkan. Pengikatan bagian bekisting harus dilakukan yang baik. dan dilanjutkan dengan langkah-langkah penjagaan pada proses pengerasan beton (curing). dan bekisting yang telah digunakan berulang kali dan kondisinya sudah tidak dapat diterima Pengawas. . Hubungan-hubungan antara bagian bekisting harus menggunakan alat-alat yang memadai agar didapat bentuk dan kekuatan yang baik.Bekisting harus benar-benar menjamin agar air yang tergantung dalam adukan beton tidak hilang atau berkurang. Pembasahan dan Meminyaki Bidang Bekisting . Untuk pengikat dalam beton harus menggunakan batang besi dan murnya.

T-15-1991-03. tekanan yang konstan. bebas dari karat. Besi tulangan yang terpasang harus sesuai ukuran.Umum.T-15-1991-03. bentuk. . . Dalam segala hal tebal selimut beton tidak boleh diambil kurang dari 20mm. Bila besi tulangan didudukkan pada blok beton kecil. Besi tulangan dengan kondisi yang tidak lurus atau dibengkok dengan tidak sesuai gambar tidak diperkenankan dipakai. .Besi tulangan tidak boleh dibengkokan dengan cara yang dapat menyebabkan kerusakan pada besi beton. Besi beton harus dipasang sebagimana pada gambar rencana atau seperti yang di instruksikan Pengawas.Pelurusan. Semua proses pembengkokan harus dilakukan dengan cara lambat.j. Pekerjaan Pembesian atau Penulangan .Besi beton harus dipasang dengan minimum selimut beton (concrete cover) sebagaimana pada gambar rencana atau sebagaimana ditentukan Pengawas.Pembengkokan . Pengikat dan tumpuan dari besi tadi tidak boleh menyentuh bidang bekisting dalam hal beton yang dicor adalah beton exposed. • Bilamana dirasa perlu untuk melakukan sambungan lewatan pada posisi lain dari posisi pada gambar rencana.Selimut Beton. . . .Pembersihan. Pembengkokan dengan cara dipanasi hanya dapat dibenarkan apabila telah mendapat ijin dari Pengawas. dan penyambungan pada besi beton yang letaknya . . . . pengukuran pada pemasangan besi tulangan harus dilakukan terhadap as dari besi tulangan. atau minimal mengikuti ketentuan dalam SK-SNI. posisi dan banyaknya dan akan diperiksa setelah kondisi terpasang. panjang. .Pemasangan. kotoran lemak atau material lain yang seharusnya tidak melekat pada besi beton tadi dan dapat mengurangi atau menghilangkan lekatan antara beton dan besi beton.Pemasangan besi tulangan beton harus mengikuti ketentuan-ketentuan dalam SK- SNI. Terkecuali sebagaimana yang dinyatakan pada gambar atau diinstruksikan Pengawas. Dan kebersihan ini harus tetap dijaga sampai proses pengecoran beton. Kesemua ujung-ujung pembesian harus mempunyai kait sebagaimana ditentukan dalam SK-SNI. .T-15-1991-03.Besi beton harus dibentuk dengan teliti hingga mencapai bentuk dan dimensi sesuai gambar rencana atau Bending Schedules yang disiapkan oleh kontraktor dan disetujui Pengawas. Sambungan ini tidak diperkenankan diletakan pada lokasi tegangan yang minimum. balok tadi harus dibuat dari beton yang mutunya sama dengan beton rencana dan bentuknya harus menjamin didapatnya permukaan beton yang baik. dan harus diikat dengan kuat dengan menggunakan kawat pengikat dan didudukan pada support dari beton atau besi ataupun dengan hanger agar posisinya tidak berubah selama proses pemasangan dan pengecoran.Besi beton harus dipasang dengan teliti agar sesuai dengan gambar rencana.Sambungan Lewatan (Splicing) • Sambungan lewatan harus dibuat sesuai gambar rencana instruksi Pengawas.Sebelum besi dipasang. posisi tersebut harus ditentukan oleh Pengawas. besi beton harus dalam keadaan bersih.

PASAL 6 PEKERJAAN ADUKAN DAN PLESTERAN 1. Batu harus dibersihkan dari cacat untuk mengurangi lekatan dengan adukan b. batu harus betul-betul basah dan sudah cukup waktu yang diberikan untuk penyerapan air sampai jenuh. Air. Pasir yang digunakan harus pasir yang berbutir. Persyaratan dan Bahan a. Landasan dari adukan semen setebal 1 paling sedikit 3 cm harus ditempatkan pada formasi yang telah dipersiapkan. c. . Batu harus tertanam dengan kuat dan satu dengan lainnya bersinggungan untuk mendapatkan tebal yang diperlukan dari lapisan yang diukur tegak lurus terhadap lereng. e. d. 2. dan permukaan harus diakhiri segera setelah pengerasan dengan adukan dan menyapunya dengan sapu yang kaku. panjang dari batang tadi harus dibuat sepanjang yang bisa dilakukan dengan tetap memperhatikan panjang sambungan lewatan sebagaimana ditentukan dalam SK-SNI. Pekerjaan harus dimulai dari dasar lereng kearah atas. Sebelum pekerjaan melapis. Lereng yang bersebelahan dan bahu harus diratakan dan dibentuk untuk menjamin pertemuan yang baik dengan pekerjaan pasangan batu sehingga akan memungkinkan drainase lancar. PASAL 5 PEKERJAAN PASANGAN 1. tajam dan keras.T-15-1991-03 terkecuali ditentukan lain. Permukaan akhir harus diperam seperti yang dipersyaratkan untuk pekerjaan beton. bersebelahan agar dilaksanakan dengan bergeser posisinya (staggered). Semen Portland (PC). b. c. a. e. b. Bilamana dikehendaki suatu panjang yang tanpa sambungan. Kadar lumpur yang terkandung dalam pasir tidak boleh lebih dari 5 % dan harus memenuhi persyaratan NI 3 PUBB 1970. a. Pasir. Tambahan adukan harus dipasang untuk mengisi rongga yang ada diantara batu-batu dan harus diakhiri hampir rata dengan permukaan lapisan tetapi tidak menutup batunya. menahan dan mencegah gerusan pada tepi perkerasan. Bahan. Cara pengerjaan. Semen untuk pekerjaan adukan dan plesteran sam dengan yang digunakan untuk pekerjaan beton. d. Landasan pekerjaan ini harus dikerjakan sedikit demi sedikit sedemikian sehingga batu permukaan selalu tertanam pada adukan tersebut sebelum mengeras.

3. d. tebal minimum 5 mm. a. Bahan adukan harus harus dicampur dalam keadaan kering dan diaduk dengan alat/mesin pengaduk diatas alas dari papan sehingga dengan benar-benar. Proposi adukan. NI 8-1964 atau sesuai dengan instruksi yang diberikan Pengawas. Tebal plesteran bila tidak ditunjukkan lain dalam persyaratkan dan gambar adalah : g. a. Pekerjaan plesteran harus dilaksanakan dengan penuh keahlian dan ketelitian. semua bidang dinding yang akan diplester. Adukan yang telah mulai mengeras harus dibuang. 2. f. plesteran harus mengikuti NI 3-1970. Persyaratan. tidak retak- retak dan menjadi ikatan yang benar-benar kuat. Bidang-bidang beton yang tampak dan akan diplester. b. maupun bidang lama/direhab. c. baru kemudian diaduk dengan air hingga merata dalam warna konsistensi. harus dikerjakan sedemikian rupa sehingga sambungan bidang plesteran benar-benar satu bidang yang rata. dan selama proses pengeringan plesteran harus disiram air agar tidak terjadi retak-retak rambut akibat proses pengeringan yang terlalu cepat selama 7 hari. e. Cara Pengerjaan. Untuk bidang konstruksi beton. Plesteran untuk bidang/dinding yang akan dicat dengan cat tembok arcylic emulsion atau dilabur dengan bahan lain sebelumnya harus diratakan dengan acian dan digosok hingga halus dengan amplas bekas pakai atau kertas pembungkus/zak semen. siku dan tajam pada sudut-sudutnya. Untuk semua sponningen (Lingir) harus digunakan proporsi campuran 1pc: 4ps. i. berombak atau retak – retak harus diulangi dan diperbaiki. harus dibersihkan dan disiram air dahulu. sponningen harus benar-benar rata. kemudian disiram/dibasahi air semen agar plesteran dapat melekat dengan baik. dengan ketebalan sama dengan tebal plesteran yang direncanakan. Bidang-bidang plesteran yang tidak rata. Air yang digunakan untuk adukan dan plesteran sama dengan persyaratan yang digunakan untuk pekerjaan beton. f. Sebelum pasangan plesteran dimulai. sedangkan siar-siarnya harus dikeruk sedalam 1 cm. sebelumnya harus dipahat kasar dahulu. h. Perbaikan dinding-dinding plesteran baik bidang baru yang dibongkar kembali dan diperbaiki lagi. Melunakkan adukan yang telah mengeras tidak diperbolehkan. Untuk kemudian pekerjaan plesteran dapat dibuat alur-alur duga/kepala plesteran/kelabangan terlebih dahulu. . Untuk dinding pasangan tebal 15 mm. Plesteran yang baru saja selesai tidak boleh langsung difinish. b.