You are on page 1of 22

REFERAT

RADIKULOPATI SERVIKAL

Oleh:
Sevfianti
Zaraz Obella N.A

Pembimbing
dr. Roezwir Azhary, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN NEUROLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
2017

0
BAB I

PENDAHULUAN

Radikulopati servikal adalah proses patologi yang disebabkan oleh


kompresi dan inflamasi akar saraf pada atau di dekat foramen neural servikal
(Abbed & Couman, 2007). Pasien umumnya biasanya mengeluhkan nyeri leher
dan lengan yang menjalar atau mati rasa (kesemutan), defisit sensorik, atau
disfungsi motorik pada leher dan ekstremitas superior (Eubanks, 2010).

Gejala radikulopati servikal yang timbul dapat bervariasi antar individu.


Dokter harus mampu membedakannya dengan gejala dari penyakit lain yang
mirip agar dapat menentukan penyebab dan memberikan tatalaksana yang tepat.
Dalam referat ini, kami akan membahas radikulopati servikal dari etipatogenesis
hingga tatalaksana.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Radikulopati servikal adalah penyakit yang ditandai dengan kompresi saraf


oleh herniasi disk intervertebralis atau arthritic bone spurs (Eubanks, 2007). Dua
penyebab utamanya adalah herniasi diskus servikal dan spondilosis servikal,
diikuti oleh tumor intraspinal atau ekstraspinal, trauma dengan avulsi akar saraf,
kista synovial, kista meningeal, atau fistula arteriovena dura (Abbed & Coumans,
2007).

2.2 Epidemiologi

Survei epidemiologi menunjukkan insidensi tahunan radikulopati


mencapai 83 per 100.000 orang. Usia yang paling banyak dilaporkan antara 13
dan 91 tahun, dan laki-laki lebih sedikit terpengaruh dibandingkan wanita.
Sebanyak 14,8 persen penderita radikulopati melaporkan penyebabnya adalah
aktivitas fisik atau trauma, dan hanya 21,9 persen yang disertai protrusi diskus
intervertebralis pada pemeriksaan radiologis. Spondilosis, protrusi diskus, atau
keduanya menyebabkan hampir 70 persen kasus (Eubanks, 2010). Dalam jurnal
lain dikatakan bahwa radikulopati servikal paling sering terkena pada orang-orang
usia dekade 5 sampai 6. Hubungan sebab akibat servikal radikulapati dengan
kecelakaan diperkirakan 3-23% (Rodine, 2012).

2.3 Patofisiologi

Saraf spinal servikal keluar dari medula spinalis dan berorientasi secara obliq
ke foramen saraf masing-masing. Saraf spinalis servikal diberi nama sesuai
dengan vertebra dibawahnya. Saraf C8 keluar antara C7 dan T1. Foramen saraf
terbentuk diatas faced joint posterior dan diskus intervertebralis anterior. Batas
antara anterior dan posterior terdiri dari pedikel badan vertebrae diatas dan

2
dibawahnya. Foramen spinalis servikal terbesar dari bagian atas dan secara
bertahap akan menyempit ke arah distal yaitu C7 atau T1. Kompresi pada akar
saraf ini dapat berupa spondilosis faced joint dan herniasi diskus intervertebralis.
Hipermobilitas faced joint menyebabkan hipertofi ligamen juga hipertrofi tulang
( Caridi, 2011).

Gambar : Axial representation of C5 vertebra looking cephalad to caudal (Caridi,


2011).

Berbagai kondisi bisa menyebabkan kompresi akar saraf di vertebrae servikal.


Setiap segmen gerak di vertebrae subaksial (C3 hingga C7) terdiri atas lima
artikulasi, termasuk diskus intervertebralis, dua facet joint, dan dua sendi
neurocentral. Karena tertahan oleh struktur-struktur ini, akar saraf (radiks) secara
lateral (Eubanks, 2010).

Diskus intervertebralis lebih tinggi di ventral dibandingkan di dorsal, dan


diskus servikal yang bertanggung jawab pada terjadinya lordosis servikal. Bagian
terluar dari diskus terbentuk dari anulus fibrosus. Sebelum usia 20 tahun,
beberapa perubahan morfologi terjadi pada vertebrae servikal. Sejak memasuki
dekade ketiga, penurunan kandungan air dalam diskus intervertebrae terjadi secara
progresif. Unit struktural dasar dari nukleus pulposus adalah proetin
glikosaminoglikan, yang mengaktivasi ikatan polisakarida dari kondroitin sulfat

3
dan keratin sulfat. Karena berat molekul yang tinggi, protein gikosaminoglikan
memiliki ikatan yang kuat dengan molekul air. Seiring dengan usia, protein ini
berkurang dan kemampuannya untuk mengikat air pun berkurang. Oleh karena itu,
terjadi perubahan kimia dalam nukleus pulposus dan anulus fibrosus sehingga
diskus menjadi lebih mudah terkompresi dan kurang elastis. Pada akhirnya, diskus
mengalami penonjolan ke arah dorsal memasuki kanalis spinalis (Abbed &
Couman, 2007).

Berbeda dengan vertebrae lumbalis, yaitu vertebrae servikal memiliki akar


saraf serviks yang keluar diatas pedikel (vertebrae) yang sesuai. Misalnya, akar
saraf C5 keluar pada rongga diskus C4-C5, dan herniasi disk C4-C5 biasanya
menyebabkan radikulopati C5. Ada tujuh vertebrae servikal dan delapan serviks
radiks. Di vertebrae lumbal, saraf keluar di bawah pedikel yang sesuai. Karena itu,
herniasi diskus lumbal yang analog (L4-L5) akan menekan radiks yang berjalan
(L5), bukan radiks yang keluar (L4). Baik Di vertebrae servikal atau vertebrae
lumbal, kompresi saraf biasanya terjadi pada saraf yang secara numerik lebih
rendah dari dua tingkat vertebra yang cedera (Eubanks, 2010).

Akar saraf yang keluar bisa terkompresi oleh herniasi diskus (soft disk
herniation) atau melalui perubahan degeneratif atau hipertrofi elemen tulang di
sekitarnya (hard disk pathology). Di kasus lain, kombinasi faktor, seperti mediator
inflamasi (misalnya, Substansi P), perubahan respons vaskular, dan edema
intraneural, berkontribusi pada perkembangan nyeri radikular (Eubanks, 2010).

Proses artikulasi dari vertebra distal menyebabkan kompresi pada saraf


.Herniasi disk intervertebralis bisa menyebabkan kompresi akar saraf pada aspek
anterior foramen. Herniasi diskus ini bisa jadi akut atau kronis. Herniasi kronis
terjadi saat diskus intervertebralis menjadi degenerasi dan kering, sehingga
menyebabkan kolaps ruang antar diskus dan bulging anulus ke foramen saraf.
Herniasi kronis dan faced spondylosis umumnya menimbulkan gejala dengan
onset berat. Herniasi akut terjadi bila fragmen nukleus pulposus diekstrusi
melalui defek pada anulus fibrosis. Hal ini biasanya muncul secara tiba-tiba,
berbeda dengan herniasi kronis (Caridi, 2011).

4
2.4 Manifestasi klinis

Secara umum pasien dengan radikulopati servikal mengeluhkan nyeri pada


leher, parestesia, dan nyari radikular (Rodine,2012). Radikulopati dapat dibagi
menjadi akut, subakut dan kronik. Radikulopati servikal akut umumnya terjadi
pada pasien yang relatif muda, dalam kondisi adanya robekan pada anulus
fibrosus dan selanjutnya terjadi prolaps nukleus pulposus. Radikulopati subakut
terjadi pada pasien dengan spondilosis servikal sebeleumnya, tanpa gejala
persisten keuali nyeri kepala yang hilang timbul. Pasien dengan radikulopati
kronik adalah pasien dengan radikulopati akut atau subakut yang gagal terapi
(Abbed & Couman, 2007).

Nyeri merupakan keluhan terbanyak pada radikulopati servikal akut dan dapat
berlanjut menjadi kronik. Nyeri dapat dideskripsikan seperti tertusuk-tusuk,
terbakar dan berlokasi di leher, lengan, bahu atau dada, tergantung pada akar saraf
yang terlibat. Secara klasik, radikulopati akut muncul sebagai nyeri yang menjalar
pada distribusi miotom (otot). Contohnya, pasien dengan radikulopati C7 sering
mnegalami nyeri pada regio triseps dibandingkan dengan regio dermatom distal.
Gejala sensorik, terutama parestesia dan kesemutan (mati rasa), lebih sering
ditemukan daripada kelemahan motorik dan gangguan refleks (Abbed & Couman,
2007). Nyeri pada radikulopati servikal dapat terjadi di sepanjang dermatom,
namun lebih sering secara miotomal. Nyeri dermatomal lebih sering setinggi C4
(60%), setinggi C7 (34,2%) dan C6 (35%). Nyeri skapular dapat ditemukan pada
sekitar 51,6% kasus (Rodine,2012).

5
Nyeri radikular sering diperburuk dengan manuver yang meregangkan akar
saraf, seperti batuk, bersin, Valsava serta gerakan dan posisi gerakan tertentu.
Beberapa tanda klinis sugestif radikulopati telah dijelaskan. Davidson et al.
menjelaskan shoulder abduction sign pada pasien yang menjelaskan
berkurangnya nyeri dengan abduksi bahu. Pasien menahan lengan di atas kepala
dan meletakkan lengan bawah atau pergelangan tangan pada puncak kepala
(Abbed & Couman, 2007).

Nyeri leher kronis yang berhubungan dengan spondilosis umumnya bilateral,


sedangkan nyeri leher yang terkait dengan radikulopati lebih sering unilateral.
Radiasi nyeri bervariasi tergantung pada akar saraf yang terlibat, meski beberapa
distribusi beberapa tingkat saraf yang terkena (overlap) mungkin bisa terjadi.
Tidak adanya nyeri yang mnejalar ke ekstremitas tidak menyingkirkan kompresi
akar saraf. Kadang-kadang, rasa sakit mungkin terisolasi pada area bahu.
Disfungsi sensorik atau motorik mungkin ditemukan tanpa rasa nyeri yang berarti.

Gejala sering diperburuk dengan ekstensi dan rotasi leher (Spurling sign;
Gambar 1) (Eubanks, 2010). Spurling test adalah manuver yang memicu nyeri

6
lengan pasien dengan ekstensi leher dan merotasikan kepal ke sisi yang nyeri dan
memberikan tekanan ke bawah pada kepala. Pemeriksaan ini diduga
menyebabkan penyempitan foramen intervertebrae dan dianggap positif jika nyeri
ekstremitas atau parestesia diperberat denga manuver. Pemeriksaan ini spesifik,
namun tidak sensitif untuk radikulopati servikal (Abbed & Couman, 2007). Pada
pemeriksaan fisik dapat ditemukan penyempitan ROM dan penurunan refleks
tendon pada ekstremitas yang terlibat. Penurunan sensasi juga dapat ditemukan
pada sepertiga kasus. Namun atrofi otot jarang terjadi (kurang dari 2%)
(Rodine,2012).

Tabel 2. Pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi pasien dengan radikulopati


servikal (Clelenad et al., 2005).

7
2.5 Diagnosis

Orang dewasa dengan nyeri leher persisten dan gejala radikular harus
menjalani pemeriksaan radiografi lateral netral, anteroposterior mulut terbuka dan
servikal bawah anteroposterior. Jika manajemen nonoperatif gagal pada pasien
dengan dugaan radikulopati servikal dan temuan radiografi normal, pemeriksaan
diagnostik lebih lanjut mungkin diperlukan. Jika tidak jelas apakah pasien
memiliki radikulopati servikal atau entrapment syndrome pada ekstremitas
superior, elektromiografi mungkin bisa membantu. Dalam kondisi temuan
radiografi normal namun gejala tetap berlanjut, pemeriksaan MRI harus dilakukan
untuk mengevaluasi adanya herniasi diskus dengan atau tanpa osteophytes
spondylotic yang dapat menyebabkan kompresi (Gambar 2). CT mielografi dapat

8
digunakan dibandingkan MRI pada pasien dengan alat pacu jantung atau alat
berbahan stainless steel pada serviks (Eubanks, 2010).

Gambaran diagnostik harus dilakukan saat pasien untuk menemukan benang


merah, seperti mungkin adanya myelopathy, atau bila evolusi penyakit tidak
seperti yang diharapkan. Radiografi sederhana tulang belakang servikal adalah
studi pertama yang harus dilakukan. Hal ini memungkinkan evaluasi penyelarasan
tulang belakang, atau kemungkinan tumor. Computed tomography dari tulang
belakang cervikal dalam aksial, sagital, dan koronal. Hal ini digunakan dalam
penilaian tulang, jika memang demikian, digunakan mielografi yang bermanfaat
dalam evaluasi akar saraf dan dural sack. Resonansi magnetik memberikan
gambar resolusi yang baik dari jaringan lunak seperti diskus intervertebralis, dural
scak dan ligament (Vesga, 2017).

Mielografi dapat membantu diagnosis kompresi neural dengan melihat


perubahan kontur kanalis spinalis yang diisi kontras. Saat ini, digunakan agen
kontras larut air yang kurang toksik dan mampu menamlilkan visualisasi struktur
neural yang lebih baik. Kerugian pemeriksaan ini adalah pemeriksaan yang
invasif (Abbed & Couman, 2007).

Sebelum mendiagnosa radikulopati servikal, dokter harus


mempertimbangkan penyebab lain dari nyeri dan disfungsi (Tabel 2). Gejala atau
tanda mielopatik (misalnya, kesulitan dengan ketangkasan manual; gait
disturbance; secara obyektif, upper motor neuron sign. seperti Hoffman sign,

9
Babinski sign, hiper-refleks, dan klonus) mungkin menunjukkan adanya kompresi
medula spinalis, bukan akar saraf. Kompresi medula spinalis biasanya
membutuhkan dekompresi bedah karena mielopati yang progresif dan tidak
membaik dengan tindakan nonoperatif. Faktor-faktor berikut mungkin juga
menunjukkan diagnosis alternatif: usia di bawah 20 tahun atau lebih dari 50 tahun,
terutama jika pasien memiliki tanda atau gejala penyakit sistemik; nyeri tidak
membaik saat istirahat; tanda atau gejala yang konstan atau progresif; rigiditas
leher tanpa trauma; disfasia; penurunan kesadaran; tanda dan gejala sistem saraf
pusat; peningkatan risiko kelemahan ligamen atau ketidakstabilan atlantoaxial,
seperti pada pasien dengan sindrom Down atau gangguan jaringan ikat herediter;
onset mendadak dari nyeri leher atau nyeri kepala yang akut dan tidak biasa
dengan atau tanpa defisit neurologis; curiga diseksi arteri servikal; transient
ischemic attack, yang mungkin menunjukkan insufisiensi vertebrobasilar atau
iskemia arteri karotis atau stroke; suspect keganasan; infeksi seperti diskitis,
osteomielitis, atau tuberkulosis; surgical fusion yang gagal; deformitas struktural
yang progresif atau disertai nyeri hebat; hasil pemeriksaan laboratorium abnormal
(Eubanks, 2010).

Tabel 3. Diagnosis Banding dari Radikulopati Servikal (Eubanks, 2010).

2.6 Penatalaksanaan

10
Terapi radikulopati servikal terdiri dari terapi konservatif dan pembedahan.
Terapi konservatif terdiri dari imobilisasi dari vertebrae servikal dan berbagai
terapi fisik (seperti traksi). Terapi pembedahan meliputi pembedahan anterior
(discectomy dengan atau tanpa fusion, foraminotomy) dan pembedahan
posterior(facetectomy, foraminotomy) (Yonenobu, 2000).

Pada kebanyakan pasien dengan radikulopati servikal, terapi nonoperatif


(Gambar 32.5) merupakan metode yang efektif. Pada studi kohort satu tahun
terhadap 26 pasien dengan HNP dan radikalulopati simtomatik, penggunaan
program terapi terfokus, non-operatif berhasil pada 92 persen pasien. Pendekatan
multimodal juga bisa meringankan gejala (Eubanks, 2010).

Terapi pada radikulopati servikal bertujuan untuk mengurangi nyeri dan


gejala, meningkatkan fungsi nervus dan mencegah rekurensi radikulopati servikal.
Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa intervensi bedah saja efektif untuk
radikulopati servikal. Pembedahan sering dikombinasikan dengan terapi non
operatif seperti, obat-obatan, penggunaan cervical collar, traksi servikal dan terapi
manual (Cheng et al., 2015).

Terapi non operatif pada radikulopati servikal dapat berupa terapi aktif dan
pasif. Terapi pasif terdiri dari imobilisasi dan istirahat dari hal-hal yang dapat
menimbulkan serangan. Dalam beberapa literatur, terapi aktif lebih banyak
disukai (Caridi, 2011).

Terapi fisik dan manipulasi

Program terapi fisik dapat bermanfaat dalam memulihkan berbagai gerak dan
keseluruhan pengkondisian otot leher. Dalam enam minggu pertama setelah onset
nyeri, range of motioin dan latihan peregangan dilengkapi dengan massage dan
modalitas seperti stimulasi panas, es, dan listrik bisa digunakan, meski pendekatan
ini tidak memiliki manfaat jangka panjang yang telah terbukti. Meskipun belum
terbukti, terapi manipulatif dapat memberikan manfaat jangka pendek dalam
terapi nyeri leher, nyeri kepala servikogenik dan gejala radikular. Komplikasi
yang jarang seperti radikulopati yang memberat, mielopati, dam cedera medula

11
spinalis dapat terjadi. Karena risiko tersebut dan kurangnya bukti, maka terapi
manipulatif tidak direkomendasikan untuk terapi radikulopati servikal (Eubanks,
2010).

Terapi latihan untuk radikulopati servikal meliputi latihan otot fleksor


servikal profunda, koreksi postur dan peregangan otot mampu memperbaiki
struktur dan fungsi tubuh serta aktivitas sehari-hari. Peregangan leher dapat
mempertahankan range of motion aktif dan fungsi normal leher, menghindari
scarring, adhesi dan mikro-trauma repetitif pada leher (Cheng et al., 2015).

Pada penelitian Cleland et al. didapatkan bahwa 91% pasien dengan


radikulopati servikal yang diobati dengan multimodal terapi seperti terapi fisik
manual, strengthening exercises dan traksi servikal intermiten dapat mengurangi
nyeri dan memperbaiki fungsi setelah 6 bulan follow up (Clelan et al., 2005).

12
13
Imobilisasi

Untuk pasien dengan nyeri leher akut sekunder terhadap radikulopati,


imobilisasi leher singkat (satu minggu) bisa mengurangi gejala pada fase
inflamasi. Meskipun efektivitas imobilisasi dengan cervical collar belum terbukti

14
bisa mengubah perjalanan penyakit atau intensitas proses penyakitnya, alat ini
bermanfaat pada beberapa pasien (Eubanks, 2010).

Traksi

Traksi servikal bisa mengurangi gejala radikular. Secara teori, traksi


memperlebar foramen saraf dan terjadi dekompresi akar saraf yang terkena.
Umumnya, traksi 4-6 kg diaplikasikan pada sudut fleksi sekitar 24 derajat pada
interval 15 sampai 20 menit. Traksi paling bermanfaat bila nyeri otot akut telah
berkurang dan tidak boleh digunakan pada pasien yang memiliki tanda-tanda
mielopati (Eubanks, 2010).

Servikal traksi dalam pengelolaan radikulopati servikal bersama dengan


TENS dan latihan leher berperan baik dalam mengurangi nyeri leher dan lengan
dan mencegah kecacatan leher dan dalam meningkatkan aktivitas hidup sehari-
hari (Arora, 2015).

Farmakoterapi

Farmakoterapi mungkin bermanfaat dalam mengurangi nyeri akut


berhubungan dengan radikulopati servikal. Obat anti-inflamasi nonsteroid efektif
dalam terapi low back pain dan dianggap sebagai agen lini pertama dalam terapi
nyeri leher dan nyeri yang menjalar ke lengan. Beberapa pasien mungkin
mendapatkan manfaat dari penambahan analgesik narkotika, muscle relaxant,
antidepresan, atau antikonvulsan. Meski tidak spesifik untuk radikulopati servikal,
sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis menunjukkan bahwa opioid mungkin
efektif dalam terapi nyeri neuropati hingga durasi delapan minggu. Tidak ada
bukti yang cukup untuk merekomendasikan terapi tersebut lebih dari dua bulan.
Muscle relaxant (seperti Cyclobenzaprine [Flexeril]) dapat meringankan nyeri
leher akut akibat ketegangan yang meningkat pada lokasi insersi otot. Terapi
mungkin efektif untuk pasien dengan nyeri radikular kronis yang menolak
pembedahan atau terus sakit setelah operasi (Eubanks, 2010).

Sebuah tinjauan sistematis menunjukkan bahwa antidepresan trisiklik dan


venlafaksin (efexor) dapat meringkan nyeri moderate pada pasien dengan nyeri

15
neuropatik kronis. Tinjauan sistematis lainnya menyarankan pemberian tramadol
(Ultram) untuk nyeri neuropatik. Meskipun steroid oral banyak digunakan untuk
mengobati nyeri radikular akut, tidak ada bukti berkualitas tinggi yang
menunjukkan bahwa steroid oral memberikan kesembuhan. Penggunaan steroid
dalam jangka panjang harus dihindari karena berpotensi menyebabkan komplikasi
yang jarang namun serius (Eubanks, 2010).

Injeksi steroid

Injeksi steroid dapat dipertimbangkan pada terapi nyeri radikular. Injeksi


perineural servikal (seperti translaminar and transforaminal epidurals, selective
nerve root blocks) dapat dilakukan dengan bantuan radiografi dan setelah
konfirmasi patologi menggunaka MRI atau CT scan. Perbaikan nyeri tampak pada
hari ke 14 setelah injeksi. Pada penelitian lain, injeksi servikal mengurangi
kebutuhan intervensi operatif. Meskipun komplikasi jarang terjadi, pasien perlu
diberi tahu bahwa kerusakan medulla spinalis atau batang otak dapat terjadi
(Eubanks, 2010).
Injeksi steroid epidural invasif (ESI) merupakan terapi non-operatif. Lima
penelitian mengidentifikasi efikasi epidural Injeksi. Ketiganya menunjukkan
bahwa ESI memperbaiki gejala, namun, tidak satu pun penelitian tersebut yang
divalidasi untuk manfaat jangka panjang. Data tersebut diukur terutama
bergantung pada visual analogue scale (VAS) dan non-standardized pain scales
(Caridi, 2011).

Operatif
Bila pasien gagal dalam manajemen nonoperatif atau sebaliknya
memenuhi kriteria inklusi untuk operasi, ada banyak pilihan yang tersedia untuk
intervensi operasi Radikulopati servikal. Dalam operasi keselarasan spinal,
stabilitas, keseimbangan, dan teknik pilihan ahli bedah, semuanya berperan dalam
keputusan dilakukannya operasi. Intervensi bedah dapat dibagi menjadi dua
kategori besar: anterior dan posterior. Operasi anterior memberi kesempatan
kepada ahli bedah untuk mengembalikan servikal yang lordosis, menstabilkan
tulang belakang, dan bisa memprediksi adanya dekompresi akar saraf. Hal ini

16
dilakukan dengan membuka antara arteri karotis dan esofagus dan diikuri
sepanjang sisi anterior tulang belakang. Diskus intervertebralis kemudian dilepas
seluruhnya bersama dengan osteofit pada aspek posterior dari badan vertebra.
Secara historis, disk yang dievakuasi itu lalu diganti dengan bahan cangkok tulang
atau tidak sama sekali. Pilihan lain untuk dekompresi saraf servikal adalah
melakukan laminoforaminotomi servikal posterior. Hal ini dilakukan dengan
membuka persimpangan/sambungan lamina dengan facet joint pada tingkat yang
terkena. Secara cepat dilakukan pembukaan pada jendela lamina dan membuang
sepertiga medial dari sisi facet joint, sehingga akan mengekspos saraf yang
terkena. Jika perlu, saraf bisa ditarik dengan hati-hati dan gentel untuk
menghindari dari herniasi diskus, Namun, Korinth dkk. Pada tahun 2006 meneliti
pada 293 pasien dan membandingkan prosedur anterior dan posterior untuk
herniasi disc dan menemukan keunggulan dengan teknik anterior. Operasi
posterior memiliki manfaat menjaga keselarasan tulang belakang dan tidak
membutuhkan suatu fusi. Secara teoritis, mencegah kerusakan pada tingkat yang
berdekatan. Komplikasi utama dengan prosedur ini adalah nyeri leher, mungkin
sekunder akibat pembedahan otot. Faktor risiko tertentu, seperti usia lanjut,
kyphosis servikal, dan operasi sebelumnya dapat menjadi predisposisi pasien
dengan degenerasi progresif dan deformitas tulang belakang (Caridi, 2011).

Rujukan
Sekitar sepertiga pasien dengan radikulopati servikal yang diobati secara
non-operatif memiliki gejala yang persisten. Pasien sebaiknya dirujuk ke spesialis
untuk mendapatkan intervensi bedah jika gejala radikular menetap dan tidak
responsive dengan terapi non-operatif selama 6 minggu, kelemahan motorik yang
bertahan lebihd ari 6 minggu, defisit neurologis progresif setelah onset gejala,
tanda atau gejala mielopati, atau ketidakstabilan atau deformitas vertebrae.Pada
pasien dengan nyeri radikular tanpa temuan abnormal pada pemeriksaan fisik atau
elektromiografi, selective nerve root blocks dapat dipilih. Jika blok saraf positif,
atau efektif parsial mengurangi gejala, maka terapi bedah dapat dipertimbangkan
(Eubanks, 2010).

17
Gambar 3. Algoritma Terapi nonoperatif dari radikulopati servikal akut (Eubanks,
2010).

18
BAB III

KESIMPULAN

Radikulopati servikal adalah penyakit yang disebabkan oleh kompresi dan


inflamasi akar saraf pada atau di dekat foramen neural servikal. Penyakit ini lebih
banyak ditemukan pada wanita. Manifestasi klinis yang ditemukan antara lain
nyeri leher, nyeri kepala, nyeri radikuler sesuai akar saraf yang terkena, hingga
defisit motorik. Tatalaksana yang dapat diberikan adalah terapi konservatif seperti
terapi fisik, imobilisasi, traksi dan obat-obatan, serta terapi pembedahan bila
terapi konservatif gagal. Kombinasi beberapa jenis terapi memiliki hasil yang
lebih baik.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Abbed KM, Coumans JV. Cervical radiculopathy: pathophysiology,


presentation, and clinical evaluation. Neurosurgery. 2007 Jan;60(1 Supp1
1):S28-34.

2. Arora L, Arora R, Tao A. 2015. Effective of cervical traction on pain and


diosability in cervical radichulopaty. International Journal of Recent
Scientific Research, Vol. 6, Issue, 4, pp.3609-3611, April, 2015

3. Caridi JM, Pumberger M, Hughes A (2011). Cervikal radikulopati : a


review. HSSJ (2011) 7:265272

4. Cheng C-H, Tsai L-C, Chung H-C, et al. Exercise training for non-
operative and post-operative patient with cervical radiculopathy: a
literature review. Journal of Physical Therapy Science. 2015;27(9):3011-
3018. doi:10.1589/jpts.27.3011.

5. Cleland JA1, Whitman JM, Fritz JM, Palmer JA. Manual physical therapy,
cervical traction, and strengthening exercises in patients with cervical
radiculopathy: a case series. J Orthop Sports Phys Ther. 2005
Dec;35(12):802-11.

6. Eubanks JD. (2010). Cervical Radiculopathy: Nonoperative Management


of Neck Pain and Radicular Symptoms. American Family Physician.
81(1):33-40.
7. Rai SC et al. 2013. Cervikal traction to reduce pain and diasbility in
pastient with unilateral cervical radiculopathy.Int J Cur Res Rev, Apr
2013/ Vol 05 (07)
8. Rodine RJ (2012). Cervical radiculopathy: a systematic review on
treatment by spinal manipulation and measurement with the Neck
Disability Index. J Can Chiropr Assoc (2012). 56(1) : 18-28
9. VESGA (2017). Cervical radiculophaty : focused on primary care. Gaan-
Vesga, Int J Phys Med Rehabil 2017, 5:1

20
10. Yonenobu K. Exercise training for non-operative and post-operative
patient with cervical radiculopathy: a literature review. Eur Spine J (2000)
9 :17.

21