You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah gangguan fungsi otak
yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinis fokal maupun global
yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian akibat
gangguan peredaran darah (lesi vaskular) (Ralph LS et all, 2013).
Stroke masih merupakan suatu perhatian mayoritas dalam kesehatan masyarakat.
Stroke memiliki tingkat mortalitas yang tinggi sebagai penyakit terbanyak ketiga yang
menyebabkan kematian di dunia setelah penyakit jantung dan kanker (Mardjono &
Sidharta, 2004) Menurut WHO tahun 2014 stroke termasuk salah satu dari sepuluh
penyakit penyebab kematian teratas di dunia. Berdasarkan laporan terbaru dari WHO
terdapat 6,7 juta kematian terjadi akibat stroke dari total kematian yang disebabkan
penyakit tidak menular (WHO, 2014).
Persentase yang meninggal akibat kejadian stroke pertama kali adalah 18%
hingga 37% dan 62% untuk kejadian stroke berulang. International Classification
of Disease yang diambil dari National Vital Statistics Reports Amerika Serikat untuk
tahun 2011 menunjukkan rata-rata kematian akibat stroke adalah 41,4% dari 100.000
penderita (Hoyert & Xu, 2012).
Angka kejadian stroke meningkat seiring dengan bertambahnya usia, semakin
tinggi usia seseorang semakin tinggi kemungkinan stroke (Yayasan Stroke Indonesia,
2012). Namun jumlah penderita stroke dibawah usia 45 tahun juga terus meningkat.
WHO memprediksi bahwa kematian akibat stroke akan meningkat seiring dengan
kematian akibat penyakit jantung dan kanker kurang lebih 6 juta pada tahun 2010
menjadi 8 juta di tahun 2030 (American Heart Association, 2010). Menurut Yayasan
Stroke Indonesia (YASTROKI) (2012), jumlah penderita stroke di Indonesia
terbanyak dan menduduki urutan pertama di Asia. Stroke juga merupakan penyebab
kecacatan serius menetap nomor 1 di seluruh dunia.
Profil statistik WHO yang diperbaharui pada Januari 2015, stroke merupakan
salah satu penyebab kematian dan kecacatan yang utama di Indonesia. Pada tahun
2012 terdapat 328.500 kematian akibat stroke di Indonesia. Laporan ini sejalan
dengan Hasil Riset Kesehatan Dasar yang menunjukkan terjadi peningkatan
prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan wawancara jawaban responden yang
1

pernah didiagnosis tenaga kesehatan dan gejalanya meningkat dari 8,3 per1000 di
tahun 2007 menjadi 12,1 per1000 di tahun 2013. Wilayah Sumatera Utara termasuk
dalam 20 besar wilayah di Indonesia dengan prevalensi stroke yang tinggi yaitu 10,3
per1000 di tahun 2013 (Riskesdas, 2013).
Sumatera Barat dalam prevalensi penyakit stroke menempati urutan keenam dari 33
provinsi setelah Provinsi NAD, Kepri, Gorontalo, DKI Jakarta, NTB dengan persentase
10,6% . Menurut data BPS Kota Padang tahun 2011, stroke adalah penyebab kematian
kelima di Kota Padang dengan persentase 8% setelah penyakit ketuaan/lansia, DM,
Hipertensi, Jantung (Badan Pusat Statistik [BPS], 2011).
Data dari rekam medis tentang 15 penyakit terbanyak di Instalasi Rawat Jalan
RSUP DR.M. Djamil Padang pada tahun 2010 persentase penyakit stroke (hemoragik dan
iskemik) adalah 1,27% (2016 orang ) dan 2011 dengan persentase 1,38% (2016 orang),
sedangkan pada tahun 2017 dari bulan januari sampai april terdapat 172 pasien yang
menderita stroke hemoragi (Rekam Medis RSUP DR.M.Djamil Padang). Berdasarkan
data di poliklinik saraf RSUP DR. M.Djamil jumlah pasien yang datang dengan stroke
(hemoragik dan iskemik) tahun 2012 (Januari – Agustus) adalah yang terbanyak dari
penyakit saraf lainnya yaitu sebanyak 64%.
Perubahan gaya hidup; pola makan terlalu banyak gula, garam, dan lemak; serta
kurang beraktivitas adalah faktor risiko stroke. Banyak faktor yang menyebabkan
penyakit stroke. Faktor-faktor tersebut meliputi faktor risiko yang tidak dapat diubah
dan faktor risiko yang dapat diubah. Faktor risiko yang dapat diubah meliputi usia,
jenis kelamin, ras dan genetik. Sedangkan faktor risiko yang dapat diubah
diantarannya adalah hipertensi, merokok, obesitas, diabetes mellitus, tidak
menjalankan perilaku hidup sehat, tidak melakukan medical check up secara rutin dan
mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak garam (Siswanto, 2005).
Stroke menyebabkan berbagai defisit neurologis, sesuai dengan lokasi dan ukuran
lesi. Manifestasi klinis dari stroke antara lain: gangguan motorik, gangguan
komunikasi verbal, gangguan persepsi, kerusakan fungsi kognitif dan gangguan
psikologis serta disfungsi kandung kemih. Stroke dapat menyisakan kelumpuhan,
terutama pada sisi yang terkena, timbul nyeri, sublukasi pada bahu, pola jalan yang
salah dan masih banyak kondisi yang perlu dievaluasi oleh perawat. Perawat
mengajarkan cara mengoptimalkan anggota tubuh sisi yang terkena stroke melalui
suatu aktivitas yang sederhana dan mudah dipahami pasien dan keluarga (Smeltzer
and Bare, 2008).
2

Sedangkan hasil penelitian Ghani (2016) menyebutkan bahwa insiden stroke lebih tinggi terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. total kadar kolesterol darah dan total trigliserida. riwayat keluarga dan tekanan darah sistolik. terutama pola makan tinggi kolesterol. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. Variabel jenis kelamin bukan merupakan faktor risiko kejadian stroke pada dewasa awal. justru stroke di usia produktif sering terjadi akibat kesibukan kerja yang menyebabkan seseorang jarang olahraga. 3 . Melihat banyaknya pasien yang menderita penyakit stroke. kadar gula darah PP. stroke hanya terjadi pada usia tua mulai 60 tahun. Misbach & Kalim tahun 2006 dalam penelitiannya di Kota Makassar menyebutkan bahwa faktor risiko kejadian stroke pada usia muda adalah perilaku merokok. Tujuan Umum Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada Ny. kelainan jantung. dan stres berat yang juga jadi faktor penyebab (Adnan. Hasil penelitian Sitorus et all tahun 2010 menyebutkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stroke pada usia muda adalah riwayat hipertensi. riwayat diabetes mellitus.H Dengan Stroke Hemoragik Di Ruang Syaraf Rsup M Djamil Padang ” dengan tinjauan teoritis dan tinjauan kasus tentang syok hemoragik. penyalahgunaan obat. B.H Dengan Stroke Hemoragik Di Ruang Syaraf Rsup M Djamil Padang serta tinjauan teoritis dan tinjauan kasus tentang syok hemoragi. maka kami mengangkat judul seminar kasus kami pada pasien dengan stroke hemoragik di bangsal paru rawat inap di M. Tujuan Penelitian 1. Dulu. C. kadar gula darah sewaktu. Sedangkan faktor yang tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stroke usia muda adalah jenis kelamin. makalah ini bertujuan menampilkan “ Asuhan Keperawatan Pada Ny. Berdasarkan pengamatan di berbagai rumah sakit. kadar gula darah puasa. riwayat hipertensi. kurang tidur. meningkatnya penderita stroke usia muda lebih disebabkan pola hidup. Penyakit stroke sering dianggap sebagai penyakit monopoli orang tua. namun sekarang mulai usia 40 tahun seseorang sudah memiliki risiko stroke.djamil Padang tahun 2017. riwayat hiperkolesterolemia. 2011).

2. Tujuan khusus Untuk memperdalam ilmu penyakit dalam terutama pada bagian neurologis. 4 .

terletak di susunan saraf pusat. 2009). (Arif Mutaqqin. 2. Menurut mutaqin (2008) jaringan saraf manusia terdiri atas sel saraf (neuron). Anatomi dan Fisiologi Persyarafan Sistem saraf dan sistem hormonal merupakan sistem yang saling berhubungan. dan mengontrol interaksi antara sesama individu atau pun dengan lingkungannya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Adib. dan neurotransmitter. 1. menafsirkan. Sistem ini memiliki kemampuan untuk mengkoordinasi. transmisi sinaps. interneuron. yaitu: neuron aferen. Neuron Neuron terbagi atas 3 jenis. Definisi Stroke adalah terjadinya kerusakan pada jaringan yang disebabkan berkurangnya aliran darah keotak atau retaknya pembuluh darah yang menyuplai darah ke otak dengan berbagai sebab yang ditandai dengan kelumpuhan sensoris dan motoris tubuh sampai dengan terjadinya penurunan kesadaran. 2008) Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak yang pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan kemudian merusaknya (M. 2. dan neuron eferen. Transmisi sinaps 5 .

c. e. foramen). Saraf fasialis ( N7 ) 6 . Impuls saraf bersifat listrik di sepanjang neuron namun bersifat kimia di antara neuron. g. maksilaris. yaitu : a. epinefrin. serotonin. histamin. f. norepinefrin. Neurontrnsmitter berfungsi untuk mengubah permiabilitas neuron agar impuls saraf mudah untuk ditransmisikan. Neuron menyalurkan sinyal-sinyal saraf ke seluruh tubuh. Saraf okulomotorius ( N3 ) Saraf ini merupakan saraf motorik penggerak otot bola mata. Saraf abdusens ( N6 ) Saraf ini berfungsi sebagai motorik penggerak bola mata. Beberapa diantaranya yaitu: asetilkolin. Saraf opticus ( N2 ) Saraf ini merupakan saraf penglihatan. d. Diduga terdapat sekitar tiga puluh macam neurontransmitter. Saraf olfaktorius ( N1 ) Saraf ini berfungsi untuk penghidu penciuman b. Secara anatomis neuron tidak terhubung satu sama lain. Neurotransmitter Merupakan zat kimia yang disintesis dalam neuron dan disimpan dalam gelembung sinaptik pada ujung akson. lokasi ini dikenal dengan sinaps 3. (2008) saraf cranial ini terdiri dari 12 pasang. Saraf trigeminus ( N5 ) Saraf ini merupakan saraf sensorik dan motorik dengan 3 cabang yaitu bagian optical. glisin dan lain sebagainya. dopamin. Saraf troklearis ( N4 ) Saraf ini berfungsi sebagai motorik penggerak bola mata. mandibularis. Menurut Mutaqin. namun terdapat satu lokasi dimana satu neuron mengadakan kontak dengan neuron lain. 4. GABA. Kejadian listrik ini kemudian dikenal dengan impuls saraf. Saraf cranial Saraf cranial langsung berasal dari otak dan keluar meninggalkan tengkorak melalui lubang-lubang pada tulang yang disebut formina (tunggal.

usus halus dan sebagian usus besar. 6. kecuali saraf servikal pertama yang keluar di antara tulang oksipital dan vertebra servikal pertama. 5. k. h. Medula spinalis terdiri atas 31 segmen jaringan saraf dan masing.masing memiliki sepasang saraf spinal yang keluar dari kanalis vertebralis melalui foramina intervertebrales (tulang pada tulang vertebra). j. Saraf ini berfungsi sebagai sensorik daerah wajah. Saraf asesorius ( N11 ) Saraf ini berfungsi sebagai motorik pengerak otot sekitar leher. Saraf glosofaringeus ( N9 ) Saraf ini berfungsi sebagai sensorik dan motorik sekitar lidah dan faring. i. l. Saraf otonom Merupakan sistem persarafan campuran. jantung. Saraf spinal Saraf spinal pada manusia dewasa berukuran panjang sekitar 45cm dan lebar 14mm. Saraf hipoglosus ( N12 ) Saraf ini berfungsi sebagai motorik otot lidah. Sistem saraf otonom terdiri atas dua bagian yaitu sistem saraf simpatis dan saraf simpatis 7 . lambung. Saraf audiotorius ( N8 ) Saraf ini merupakan sensorik pendengaran dan keseimbangan. Saraf-saraf spinal diberi nama sesuai dnegan foramen intervertebrales tempat keluarnya saraf-saraf tersebut. Saraf vagus ( N10 ) Saraf ini merupakan saraf otonom terutama pada paru.

sering terjadi pada umur di atas 50 tahun. Hemoragi intraserebral Hemoragi di dalam substansi otak Stroke hemorrhagik juga mungkin disebabkan dan berlangsung saat pasien beraktifitas. umur (insiden menigkat sejalan dengan meningkatnya umur dan stres emosional. di ruang sub arachnoid (hemorrhagik intracerebral). Jika aliran darah ke setiap bagian otak terhambat karena trombus dan embolus. peningkatan kolesterol. merokok. karena periode pembentukan hematom lebih lama dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam otak. bisa juga dalam keadaan istirahat. Hemorrhagik dapat terjadi di luar durameter (hemorrhagik ekstradural atau epidural). Beberapa factor resiko yang dapat menyebabkan stroke hemoragik diantaranya. Hemoragi sub arachnoid Hemoragi yang terjadi di ruang sub arachnoid. c. yaitu : hipertensi. Hemoragi ekstradural (epidural) Hemoragi yang terjadi di luar durameter.3. Kekurangan selama 1 menit dapat 8 . (Mutaqin 2008) 4. a. paling sering karena kebocoran aneurisma pada area sirkulus willis dan malformasi arteri dan vena pada otak akibat trauma dan hipertensi. kontrasepsi. Biasanya yang robek jembatan vena. Kesadaran pasien umumnya menurun. Meningea media atau arteri meningea lain. Etiologi Penyebab stroke hemorrhagic (pendarahan dalam otak oleh ruptur pembuluh darah otak. alcohol. b. arterosklerosis. arterosklerosis dan vaskuler hipertensi. obesitas. Hemoragi subdural Hemoragi yang terjadi di bawah durameter. dibawah durameter (hemorrhagik subdural). d. Biasanya mengikuti fraktur cranii dengan robekan. riwayat kesehatan keluarga danya stroke. maka mulai terjadi kekurangan oksigen ke jaringan otak. penyakit kardiovaskuler. diabetes mellitus. Patofisiologi Otak sangat tergantung pada oksigen dan tidak mempunyai cadangan oksigen.

2) Disfasia atau afasia atau kehilangan bicara yang terutama ekspresif / represif. Area nekrotik kemudian disebut infark. Ada peluang dominan stroke akan meluas setelah serangan pertama sehingga dapat terjadi edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) dan kematian pada area yang luas. palque. Apraksia yaitu ketidakmampuan uintuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya. yaitu kesulitan berbicara yang ditunjukkan dengan bicara yang sulit dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang bertanggung jawab untuk menghasilkan bicara. Pada stroke trombosis atau metabolik maka otak mengalami iskemia dna infark sulit ditentuak. Abnormalitas vaskuler. misalnya : 1) Disartria. 5.. Jika etiologi stroke adalah hemorrhagi maka faktor pencetus adalah hipertensi. Selanjutnya kekurangan oksigen dalam waktu yang lebih lama dapat menyebabkan nekrosisi mikroskopik neiron-neuron. aneurisma serabut dapat terjadi ruptur dan dapat menyebabkan hemorrhagi. Prognosisnya tergantung pada daerah otak yang terkena dan luasnya saat terkena. mengarah pada gejalan yang dapat pulih seperti kehilangan kesadaran. WOC (Terlampir) 6. Kekurangan oksigen pada awalnya mungkin akibat iskemia mum (karena henti jantung atau hipotensi) atau hipoksia karena akibat proses anemia dan kesukaran untuk bernafas. 9 . Stroke karena embolus dapat merupakan akibat dari bekuan darah. Kehilangan motorik Stroke adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik. misalnya : 1) Hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi tubuh) 2) Hemiparesis (kelemahan pada salah satu sisi tubuh) 3) Menurunnya tonus otot abnormal b . Kehilangan komunikasi Fungsi otak yang dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan komunikasi. uidara. ateroma fragmen lemak. Manifestasi Klinik a.

yaitu gangguan dalam mendapatkan hubungan dua atau lebih objek dalam area spasial. 10 . Pemeriksaan Diagnostik Menurut pemeriksaan diagnostic pada pasien dengan masalah stroke meliputi sebagai berikut (Batticaca. auditorius. iskemia dan adanya infark. oklusi / ruptur b. c. Gangguan persepsi 1) Homonimus hemianopsia. emboli dan TIA. 2) Amorfosintesis. c. Elektro encefalography Mengidentifikasi masalah didasarkan pasa gelombang otak atau mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik. f. obstruksi arteri. yatu keadaan dimana cenderung berpaling dari sisi tubuh yang sakit dan mengabaikan sisi / ruang yang sakit tersebut. kalsifikasi karotis interna terdapat pada trobus serebral. 4) Kehilangan sensori. 2008) : a. MRI Menunjukkan adanya tekanan anormal dan biasanya ada trombosisi. anatra lain tidak mampu merasakan posisi dan gerakan bagian tubuh (kehilangan proprioseptik) sulit menginterpretasikan stimulasi visual. e. 7. Kalsifikasi parsial dinding. aneurisma pada pendarahan sub arachnoid. taktil. Sinar x tengkorak Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari masa yang luas. tekanan meningkat dan cairan mengandung darah menunjukkan hemoragi sub arachnois / perdarahan intrakranial. yaitu kehilangan setengah lapang pandang dimana sisi visual yang terkena berkaitan dengan sisi tubuh yang paralisis. Angiografi serebral Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan. CT-Scan Memperlihatkan adanya edema. 3) Gangguan hubungan visual spasia. hematoma. d. Ultrasonography Doppler Mengidentifikasi penyakit arteriovena (masalah sistem arteri karotis /aliran darah / muncul plaque / arterosklerosis.

Penatalaksanaan Umum 1. Suhu tubuh harus dipertahankan 6. dianjurkan pipi NGT 7. Trombolitik (streptokinase) 2. ticlopidin. Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat bila perlu berikan oksigen 1-2 liter/menit bila ada hasil gas darah 3. epilepsi. Anti platelet / ati trombolitik (asetosol.8. dislokasi sendi. (2009) penatalaksaan dari stroke hemoragik. nyeri yang berhubungan dengan dareha yang tertekan. Mobilisasi dan rehabilitasi dini jika tidak ada kontraindikasi b. posisi lateral dekubitus bila disertai muntah. sakit kepala. Boleh dimulai mobilisasi bertahap bila hemodinamik stabil 2. Penatalaksanaan Menurut Artiani. Antikoagulan (heparin) 4. Komplikasi Menurut Brunner & suddarth (2006) komplikasi stroke. dipertahankan normal 5. kraniotomi. Hemorrhagea (pentoxyfilin) 5. tromboflebitis b. Berhubungan dengan mobilisasi Nyeri pada daerah punggung. Nutrisi per oral hanya boleh diberikan setelah tes fungsi menelan baik. bila terdapat gangguan menelan atau pasien yang kesadaran menurn. dipiridamol) 3. Berhubungan dengan immobilisasi Infeksi pernafasan. hidrosefalus. yaitu: a. 9. cilostazol. 4. sebagai berikut : a. Penatalaksanaan Medis 1. Kandung kemih yang penuh dikosongkan dengan kateter. Antagonis serotonin (Noftidrofuryl) 11 . Kontrol tekanan darah. konstipasi. berhubungan dengan kerusakan otak. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat.

tidak dapat berkomunikasi dan penurunan kesadaran 3. kegemukan. Pengkajian 1. afasia. Mata Konjungtiva anemis. Keluhan Utama Pada pemeriksaan fisik pasien ditemukan kelemahan anggota gerak sebelah badan. Identitas Pasien 2. anemia. polip e. obat-obat adiktif. Mulut dan gigi Keadaan mukosa bibir. Riwayat Kesehatan Dahulu Adanya riwayat hipertensi. kotrasepsi oral yang lama. Keadaan umum Mengalami penurunan kesadaran. Riwayat Kesehatan Keluarga Riwayat anggota keluarga menderita hipertensi. penyakit jantung. LANDASAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN A. 6. bicara sukar dimengerti. Riwayat Kesehatan Sekarang Serangan stroke hemoragik sering kali berlangsung sangat mendadak saat klien sedang melakukan aktivitas. edema atau lesi c. Telinga Ada tidaknya cerumen. atau penyakin keturunan lainnya. Hidung Kepatenan jalan nafas. riwayat trauma kepala. 5. penggunan obat-obat anti koagulasi. kelumpuhan separuh badan atau gangguan fungsi otak yang lain. Kepala Kesimetrisan bentuk. vasodilator. kebersihan mulut. diabetes mellitus. mual. DM. caries gigi 12 . kebersihan kulit kepala. penyakit jantung. Biasanya terjadi nyeri kepala. muntah bahkan kejang sampai tidak sadar. 4. tanda vital meningkat b. sklera ikterik d. gangguan pendengaran f. aspirin. Pemeriksaan Fisik a.

g. lesi.. nafsu makan menurun. hepar lien tidak teraba P: timpani A: bising usus dalam 5-8 kali/menit k. BAB atau pada organ reproduksi 7. Pola Fungsional Gordon a. Genitalia Keluhan saat berkemih. kesulitan istirahat (nyeri atau kejang otot). kehilangan sensasi atau paralysis. Jantung I : ictus cordi terlihat P: ictus cordi teraba atau tidak P: pekak A: irama jantung. Abdomen I : perut tampak membuncit atau tidak P: ada tidaknya nyeri tekan dan nyeri lepas. bunyi tambahan. b. Kulit Turgor kulit m. Thorax I : bentuk thorax. Pola Nutrisi Metabolik Adanya keluhan kesulitan menelan. edema l. Serta mudah lelah. mual muntah pada fase akut menyebabkan nutrisi terganggu karena adanya mual dan muntah serta penurunan nafsu makan. 13 . Pola Persepsi dan Penanganan Kesehatan Klien merasakan kesulitan dalam beraktivitas . Ekstremitas Kekuatan otot. Leher Ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening dan kelenjar tiroid h. kesimetrisan pengembangan dinding dada P: traktil fremitus P: sonor A: broncho vesikuler/ronchi/wheezing i. kelemahan. kardiomegali j.

M. Pada pasien dengan penyakit stroke peran hubungannya akan terganggu karena pasien mengalami masalah bicara dan ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara efektif.c. Terjadi perubahan pola dan frekuensi pernapasan menjadi lebih cepat akibat nyeri. (Adib. h. Pola Peran dan Hubungan Mencakup peran pasien di dalam keluarga serta hubungan dengan keluarga. i. k. d. kualitas dan kuantitas istirahat. 2009) g. klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah Karena gangguan proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir. Pola Nilai dan Kepercayaan 14 . Pola Seksualitas dan Reproduksi Pada pasien dengan penyakit stroke akan terjadi masalah pada pola reproduksi dan seksualitasnya karena kelemahan fisik dan gangguan fungsi kognitif. Pola Persepsi Konsep Diri Pada pasien dengan penyakit stroke akan terjadi pada peningkatan rasa kekhawatiran klien tentang penyakit yang dideritanya serta pada pasien juga akan mengalami harga diri rendah. Pola Kognitif . Pola Eliminasi Klien mengalami konstipasi dan tidakbisa flatus karena peristaltic usus menurun/ berhenti. Biasanya ditemukan kelemahan dan keterbatasan gerak akibat nyeri e. j. distensi abdomensertaketidakmampuan defekasi. Pengeluaran BAB klien dengan konsistensi encer. penurunan ekspansi paru sehingga mengganggu aktivitas klien.Perseptual Pada sistem sensori klien mengalami gangguan penglihatan/kekaburan pandangan. Pola Aktivitas dan Latihan Biasanya aktivitas klien terganggu karena kelemahan dan keterbatasan gerak akibat terganggunya sistem syaraf. f. perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Pola Tidur dan Istirahat Mengkaji pola tidur pasien dengan menanyakan berapa lama frekuensi tidur dalam sehari. Pola Koping dan Toleransi Stress Dalam pola penanganan stress.

15 .Dalam pola tata nilai dan kepercayaan. klien biasanya jarang melakukan ibadah spiritual karena tingkah laku yang tidak stabil dan kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.

demam dan anggota gerak sebelah kiri lemah. IVFD Asering 12jam/kolf. Klien mengalami penurunan kesadaran dengan GCS:8 (E2M4V2). RIWAYAT KESEHATAN Riwayat Kesehatan Sekarang Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 4 Mei 2017. Saat dilakukan pengkajian didapatkan tanda tanda vital TD :170/100mmHg.Elevasi kepala 30 .Djamil Padang.0 C. Klien muntah 3x isi makanan sehingga klien dibawa ke RSUP M. H TB :150 cm BB: 80Kg Usia : 62 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pendidikan : SMA Pekerjaan :IRT Agama :Islam Alamat : Jorong Air Runding Koto Balingka Pasaman o Suhu : 39 C P: 29x/i Nadi : 94x/i kuat (√ ) lemah ()Teratur (√ ) Tidak teratur ( ) Tekanan darah : 170/90 mmHg Tanggal Masuk RS : 4 Mei 2017 Tanggal Pengkajian : 4 Mei 2017 Catatan kedatangan : Kursi roda() Ambulans (√ ) Brankar () Diagnosa Medis : Stroke Hemoragik KELUHAN UTAMA : Klien penurunan kesadaran sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit terjadi secara tiba-tiba saat melakukan aktivitas. Saat ini klien terpasang O2 3ltr/i o . Anggota gerak kiri tidak bisa digerakkan. Klien terpasang kateter dan NGT dengan diet MC RG II 1800 kalori. Suhu:39. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN DATA KLINIS Nama : Ny. 16 . Klien muntah.didapatkan bahwa klien didiagnosa stroke hemoragik. Pernafasan:29x/i. O Nadi:94x/I. Klien tidak menyahut dan membuka mata ketika dipanggil.

Klien tidak rutin kontrol hipertensi dan diabetes mellitus ke pelayanan kesehatan. setelah minum obat klien merasa sehat dan tidak lagi melakukan pemeriksaan kesehatan selanjutnya. Pengetahuan klien mengenai penyakitnya saat ini sulit dikaji dikarenakan kondisi klien dengan penurunan kesadaran. penyakit jantung (-). ataupun penyakit keturunan lainnya seperti DM(-). Riwayat Kesehatan Keluarga Tidak ada anggota keluarga klien yang menderita penyakit yang sama. makanan. asma (-). Klien sebelumnya tidak pernah merokok ataupun mengkonsumsi alkohol. plester. zat warna: Tidak ada 17 . karna hingga ini klien masih belum sadar penuh. Sekarang keluarga klien merasa takut dengan penyakit yang diderita klien. Keluarga mengatakan klien tidak mematuhi diet hipertensi.hipertensi (-). Terapi dan Obat-Obatan Terapi/obat-obatan Dosis Frekuensi Pemberian IVFDAsering 500cc 12 jam/Kolf Intravena Ceftriaxone 1 gr 2 Intravena Ranitidine 50gr 2 Intravena Citicholin 100 gr 2 Drip Intravena Paracetamol 50 gr 3 Peroral Oksigen 3-5 liter Nasal Pengkajian Fungsional Gordon 1. Klien dikenal menderita hipertensi sejak 2 tahun yang lalu. Penggunaan: Tembakau:((√)Tidak Ya ( ) pipa( ) cerutu ( ) <1 bungkus perhari ( ) 1-2 bungkus/hari ( ) Alkohol :(√) Tidak ( )Ya Jenis/jumlah :-/ hari :-/ minggu:- Obat lain :(√) Tidak ( )ya jenis : Alergi( Obat-obat). Keluarga mengatakan bahwa selama ini jika klien merasa sakit kepala dan pusing klien akan pergi berobat ke puskesmas.Riwayat Kesehatan Dahulu Klien sebelumnya tidak pernah dirawat dirumah sakit. Pola Persepsi Dan Penanganan Kesehatan Persepsi terhadap penyakit : Keluarga mengatakan tidak menduga bahwa klien akan mengalami penurunan kesadaran seperti ini. Klien memiliki riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu dan riwayat diabetes mellitus. Keluarga klien tidak mengerti apa penyebab dari penyakit yang ia alami saat ini.

Pola Aktifitas/Olah Raga Kemampuan perawatan diri : 0 =mandiri 1=dengan alat bantu 2 =bantuan orang lain 3 = bantuan peralatan dan orang lain 4 = tergantung/tidak mampu Kategori 0 1 2 3 4 Makan/minum √ Mandi √ Berpakaian / berdandan √ Toileting √ 18 . lalu menggunakan penyedap rasa untuk masakannya. 2. Diet/suplemen khusus : MC RG (makanan cair rendah garam) 1800 kkal Nafsu makan : ( )Normal ( )Meningkat ( ) Menurun (√) Tidak Terkaji ( ) Penurunan sensasi kecap () mual () Muntah ( ) Stomatitis Perubahan BB 6 bulan terakhir : (√)Tidak ada ( )Ada (√) Kesulitan menelan Disfagia: ( )Tidak (√) ada Gigi :Atas ( lengkap/tidak) Bawah(Lengkap/tidak) Riwayat masalah kulit/penyembuhan (√) Tidak ada ( ) penyembuhan abnormal ( )Ruam ( )kering ( )keringat berlebihan Gambaran diet klien dalam sehari Sebelum sakit keluarga mengatakan klien sering makan makanan berlemak tinggi seperti jika sarapan dengan lontong gulai. Semenjak sakit klien belum ada mengalami penurunan berat badan. pemberian makan dilakukan melalui selang NGT. Pola Nutrisi / Metabolisme Klien saat ini mendapatkan diet MC(makanan cair) RG II 1800 kalori dari RS. dll Sakit/RS : MC RG II 1800 kalori (porsi habis) Makan siang: Sehat :Makan habis1-2porsi Sakit/ RS : MC RG II1800 kalori (porsi habis) Makan malam : Sehat : Makan habis 1 porsi Sakit/RS : MC RG II 1800 kalori (porsi habis) Pantangan/ alergi :Tidak ada 3. Klien terpasang NGT. Pola Eliminasi Kebiaasaan defekasi: Sakit: Keluarga klien mengatakan jika selama di rumah sakit klien belum ada BAB. Kebiasaan berkemih: Sakit: Klien terpasang kateter dengan jumlah urin ± 1200-1500 cc/24 jam 4. Setelah sakit klien masih sering mengkonsumsi makanan berlemak dan tidak melakukan diet rendah garam. Makan pagi : Sehat :1 porsi lontong gulai/mie goreng/nasigoreng/gorengan.

5. Pola Peran Hubungan Pekerjaan : IRT Sistem pendukung : ( )Pasangan Tetangga/Teman ( ) Tidak ada (√) Keluarga serumah (√)Keluarga tinggal berjauhan Masalah keluarga bekenaan dengan hospitalisasi: klien memiliki 9orang anak. Hanya anaknya yang ke-6 yang 19 . Pola Kognitif Persepsi Status mental : sopor Bicara :()Normal (√ )tidakjelas( ) gagap ( )afasia ( )ekspresif Bahasa sehari-hari : Daerah dan Indonesia Kemampuan memahami: kemampuan memahami menurun Tingkat ansietas : tidak terkaji Keterampilan interaksi : keterampilan interaksi menurun Pendengaran : tidak terkaji Penglihatan : tidak terkaji Ketidak nyamanan / nyeri : ( )ada ( ) tidak ( ) akut ( ) kronik (√ )tidak terkaji Penatalaksanaan nyeri : tidak ada 7. Selama di RS pola istirahat/tidur klien tidak terkaji karena klien mengalami penurunan kesadaran. Alat bantu : brankar Kekuatan otot : 111 111 111 111 Keluhan saat beraktifitas: saat ini klien mengalami penurunan kesadaran. Mobilisasi ditempat tidur √ Berpindah √ Berjalan Menaiki tangga Belanja Memasak Pemeliharaanrumah Berdasarkan dari hasil pengkajian diatas didapatkan bahwa aktivitas klien tergantung atau tidak mampu dikerjakan karena penurunan kesadaran sehingga ADL dibantu oleh perawat dan keluarga.5 orang anak sudah menikah dan tinggal jauh dari klien. adik klien mengatakan bahwa klien terabaikan oleh anaknya yang sudah menikah karena anaknya tersebut tidak mengunjungi klien. 6. Pola Istirahat Tidur Sebelum sakit keluarga mengatakan jika klien tidak ada mengalami masalah dengan tidurnya. GCS 8 dengan status kesadaran sopor dan terjadi kelemahan secara umum pada fisik klien.4orang anaknya telah meninggal.

Hal yang dilakukan saat ada masalah : Menurut keluarga klien cenderung tertutup mengenai masalah hidupnya. 9. tetapi ada pemeriksaan tertentu yang menurut keluarga tidak dibantu BPJSseperti CT-scan. disaat klien mulai menghadapi penyakitnya. Keadaan emosi sehari-hari:( )santai ( )tegang (√)lain-lain: tidak terkaji 10. perawatan diri) Keluarga klien mengatakan sangat terbantu untuk biaya perawatan selama klien dirumah sakit. Klien tampak merasakan sedih dan sering memikirkan banyak hal Perhatian utama tentang perawatan rumah sakit atau penyakit(finansial. Klien juga tidak pernah melakukan pemeriksaan payudara sendiri ataupun melakukan pemeriksaan pap smear. Pengobatan yang dilakukan untuk menghilangkan stress :Tidak ada . Kehilangan/ perubahan besar di masalalu : Suami klien sudah meninggal sejak 5 tahun yang lalu. Klien tidak memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi. semua penyakit yang didapat adalah cobaan dari Tuhan. Kegiatan sosial : saat sehat klien termasuk aktif berinteraksi dengan tetangga tetapi setelah sakit klien jarang keluar rumah dan hampir tidak bertemu tetangga kecuali jika tetangganya datang menjenguk. . Untuk perawatan diri klien. klien dibantu perawat dan keluarga. Pola Koping Dan Toleransi Stress Keluarga klien mengatakan jika klien mulai sakit sejak anaknya meninggal dunia sekitar dua tahun yang lalu karena faktor stres. klien menggunakan BPJS. menjaga klien dan sekarang anaknya juga sakit karena mengalami kelelahan saat menjaga klien. . Pola Keyakinan-Nilai Agama : Islam Pantangan keagamaan : Tidak ada Pengaruh agama dalam kehidupan : keluarga klien mengatakan. Sehingga klien merasa beban hidupnya semakin berat karena dukungan dari pasangan tidak ada lagi ditambah klien masih merasa sedih akan kehilangan suaminya. 8. Permintaan kunjungan rohaniawan saat ini: ( )Ya (√) Tidak 20 . . Pola Seksualitas Reproduksi Usia menarche klien tidak dapat dikaji dan saaat ini klien sudah menopause.

.simetris kiri dan kanan. Mata .Serumen (+).Rambut beruban. lurus.Nadi : 94 x/ menit .Simetris kiri dan kanan .Konjungtiva anemis (+) sklera ikterik(-) . Reflek cahaya+/+ .mata tidak edema Telinga .kaku kuduk (-) Thorax .Pupil ishokor.Kebersihan mulut kurang terjaga .caries (+) Leher . Mulut .Inspeksi : frekuensi nafas 29 x/i.Auskultasi : bronkovesikuler rhonki -/-. tipis. wheezing-/- 21 .Palpasi : traktil fremitus tidak terkaji .Tekanan darah : 170/100 mmHg .Tidak adapembesaran kelenjar thyroid .PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Sopor Tanda vital .Pernapasan : 29x/ menit Kepala . danmudah rontok. Nafas Paru terlihat dalam dan cepat.Perkusi : sonor .Mukosa bibir kering. .Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening .Kepala : simetris .Suhu : 39oC .Stomatitis (-) . .

6) Nervus VI Abdusen : Tidak dapat dinilai 7) Nervus VII Fasialis : Tidak dapat dinilai 8) Nervus VIII Audiotorius : Tidak dapat dinilai 9) Nervus IX Glosofaringeus : Tidak dapat dinilai 10) Nervus X Vagus : Tidak dapat dinilai 22 . terjadi pengecilan pupil ketika ada pantulan cahaya. 5) Nervus V Trigeminus : Tidak ada gangguan pada kornea kanan dan kiri. Jantung . dan terpasang IVFD Asering 12 J/ Kolf. 4) Nervus IV Troklearis : Tidak dapat dinilai.Auskultasi : Bunyi jantung S1 dan S2 terdengar teratur Payudara Tidak ada kelainan Abdomen Inspeksi : Distensi (-) Asites(-) Palpasi: nyeritekan(-) nyeri lepas(-). hepar tidak teraba Perkusi : Thympani Auskultasi :Bising usus (+) 5x/menit Motoris (kekuatan otot) 111 111 111 111 Ekstermitas Kanan Atas : tangan kanan edema.Inspeksi:Ictus tidak terlihat . Ektremitas bawah : Tidak ada edema dan varises Hemiparise Sinistra Genitalia klien terpasang kateter Rectal Tidak ada keluhan PENGKAJIAN KRANIAL 1) Nervus I Olfaktorius : Tidak dapat dinilai 2) Nervus II Optikus : Tidak dapat dinilai 3) Nervus III Okulomotoris : Dilatasi reaksi pupil normal.

9 mmol (3. Laboratorium : Tanggal 4 Mei 2017 Darah lengkap Hemoglobin : 13.1) Normal Kloridaserum : 108 mmol (97-111) Normal Glukosa sewaktu : 157 mg/dl (<200) Normal 23 .1 mg/dl (0. 11) Nervus XI Asesorius : Tidak dapat dinilai 12) Nervus XII Hipoglosus : Tidak dapat dinilai PEMERIKSAAN PENUNJANG 1.000-400.6 g/dl (13-16.220mm Trombosit 3 (150.000) Tinggi : 17.0) Normal Leukosit 3 (5000-10.5-5.000/mm Hematokrit : 43 % (37-43 ) Normal Kimia Klinik Kreatinin darah : 1.000) Normal : 233.6-1.4) Normal Natrium : 144 mmol (136-145) Normal Kalium : 3.1 mg/dl (8.1) Normal Kalsium : 9. Diagnostik :  CT SCAN  EKG 2.1-10.

Komunikasi tidak jelas . GCS:8 (E2M4V2) . Suhu : 39o C . Perfusi jaringan serebral tidak DO: Efektif b. Kekuatan otor .d penyumbatan aliran darah . ADL klien seperti mandi. Penurunan respon motorik/sensorik . Kekuatan otot 111 111 111 111 24 . Pupil isokor 2 DS:.220/mm3 . Defisit Perawatan Diri b. GCS 8 .d pertahanan DO: sekunder tidak adekuat . TD : 170/100 mmHg . Tngkat kesadaran : sopor .d tirah baring DO: . Klien mengalami penurunan kesadaran. Klien hanya mampu tirah baring . Leukosit : 17. Peningkatan paparan lingkungan pathogen 3. tingkat kesadaran klien sopor . Keadaaan umum lemah . makan dan minum. DS:. Resiko infeksi b. toileting dibantu oleh keluarga dan perawat . ANALISA DATA NO DATA MASALAH KEPERAWATAN 1 DS:. .

d keterbatasan mobilitas .4. Resiko Gangguan Integritas Kulit DO: b. DS:. Turgor kulit jelek CRT>2 DETIK . Klien obesitas 25 . Tidak dilakukan reposisi selama tirah baring . Klien dengan penurunan kesadaran dalam keadaan tirah baring .