You are on page 1of 6

A.

Diagnosis
Diagnosis hernia dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik, gejala klinis maupun
pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesis

Pada anamnesis dapat ditanyakan riwayat pekerjaan, mengangkat benda berat,
atau mengejan. Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha yang hilang timbul,
muncul terutama pada waktu melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan tekanan
intra-abdomen seperti mengangkat barang atau batuk, benjolan ini hilang pada waktu
berbaring atau dimasukkan dengan tangan (manual). Terdapat faktor-faktor yang
berperan untuk terjadinya hernia. Dapat terjadi gangguan passase usus (obstruksi)
terutama pada hernia inkarserata. Penderita umumnya sering datang ke dokter atau
rumah sakit dengan nyeri pada keadaan strangulasi.

2. Pemeriksaan Fisik

Pada inspeksi akan tampak adanya benjolan di regio inguinal. Bila benjolan tidak
tampak, pasien dapat disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan
berdiri. Bila hernia maka akan tampak benjolan, atau pasien diminta berbaring,
bernafas dengan mulut untuk mengurangi tekanan intraabdominal.

Hernia dapat melalui annulus inguinalis abdominalis (lateralis/internus) dan
mengikuti jalannya spermatid cord di canalis inguinalis serta dapat melalui annulus
inguinalis subcutan (externus) sampai scrotum. Secara klinis HIL dan HIM dapat
dibedakan dengan tiga teknik pemeriksaan sederhana yaitu finger test, Ziemen test
dan Tumb test. Cara pemeriksaannya sebagai berikut :

Pemeriksaan Finger Test
1. Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.
2. Dimasukkan lewat skrortum melalui anulus eksternus ke kanal inguinal.
3. Penderita disuruh batuk:
 Bila impuls diujung jari berarti Hernia Inguinalis Lateralis.
 Bila impuls disamping jari Hernia Inguinnalis Medialis.

3. 2. . Posisi berbaring. Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan penderita disuruh mengejan 2. Gambar 1.  jari ke 4 : Hernia Femoralis. Gambar 2 Zieman Test Pemeriksaan Thumb Test : 1. bila ada benjolan masukkan dulu (biasanya oleh penderita).  jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis. Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Lateralis. Finger Test Pemeriksaan Zieman Test : 1. Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada :  jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis. Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan. Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis medialis. 3.

Hidrokel dapat dikosongkan dengan pungsi. Pada hidrokel. Pada pungsi didapatkan cairan jernih . Hidrokel Pada hidrokel benjolan tidak dapat dimasukkan kembali dan testis pada pasien hidrokel tidak dapat diraba. Thumb Test Sedangkan untuk membedakan obstruksi usus pada hernia inkarserata dan nekrosis/gangrene pada hernia strangulate dapat dilihat pada tabel : Gejala/tanda Obstruksi usus pada hernia Nekrosis/gangren pada hernia inkarserata strangulata Nyeri Kolik Menetap Suhu badan Normal Normal/meninggi Denyut nadi Normal/meninggi Meninggi/tinggi sekali Leukosit Normal Leukositosis Rangsang peritoneum Tidak ada Jelas Sakit Sedang/berat Berat sekali/toksik Tabel 1. pemeriksaan transiluminasi akan memberi hasil positif. tetapi sering kambuh kembali. Gambar 3. Diagnosis Banding 1. Hernia inkarserata dengan obstruksi usus dan hernia strangulata yang menyebabkan nekrosis atau ganggren B.

anus. Operatif Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplasti. Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. kemudian bila berhasil.  Reposisi spontan pada anak : menidurkan anak dengan posisi Trendelenburg. 2. 4. Penatalaksanaan 1. kompres es di atas hernia. Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. C. perineum. . Permukaan testis normal licin tanpa tonjolan dengan konsistensi elastis. Lipoma Lipoma kadang tidak dapat dibedakan dari benjolan jaringan lemak preperitoneal pada hernia femoralis. kemudian direposisi. anak boleh menjalani operasi pada hari berikutnya. Limfadenitis inguinal Limfadenitis yang disertai tanda radang lokal umum dengan sumber infeksi di tungkai bawah. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan herniotomi. 2. atau kulit tubuh kaudal dari tingkat umbilikus. kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlengketan. pemberian sedatif parenteral. Varikokel Peninggian tekanan di dalam pleksus pampiniformis dapat diraba sebagai struktur yang terdiri atas varises pleksus pampiniformis yang memberikan kesan raba seperti kumpulan cacing. Konservatif  Reposisi bimanual : tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya ke arah cincin hernia dengan tekanan lambat dan menetap sampai terjadi reposisi. Kantong hernia dijahit ikat setinggi mungkin kemudian dipotong. 3.

. banyak teknik hernioraphy dapat dikelompokkan dalam 4 kategori utama :  Kelompok 1 : Open Anterior Repair (teknik Bassini. dilakukan inspeksi kanalis spinalis. Fascia transversalis kemudian dibuka.  Lichtenstein: menggunakan propilene (bahan sintetik) menutup segitiga Hasselbach dan mempersempit anulus internus. maka dilakukan pembebasan kantong hernia sampai dengan lehernya. Karena herniotomi pada anak-anak sangat cepat dan mudah.  Halsted: menempatkan muskulus oblikuus eksterna diantara cord kebalikannya cara Bassini. seperti Bassini tetapi funikulus spermatikus berada diluar Apponeurosis M. Adapun teknik-teknik operasi hernia ada beberapa cara. Pada anak-anak dilakukan herniotomi tanpa hernioraphy karena masalahnya pada kantong hernia sedangkan keadaan otot-otot abdomen masih kuat (tidak lemah). dengan cara conjoint tendon didekatkan dengan ligamentum Poupart’s dan spermatic cord diposisikan seanatomis mungkin di bawah aponeurosis muskulus oblikuus eksterna. selain dapat menimbulkan nyeri juga dapat terjadi nekrosis otot yang akan menyebabkan jahitan terlepas dan mengakibatkan kekambuhan. celah direct dan indirect. meletakkan conjoint tendon lebih posterior dan inferior terhadap ligamentum Cooper.  Shouldice: seperti Bassini ditambah jahitan fascia transversa dengan lig. Kantung hernia diligasi dan dasar kanalis spinalis di rekonstruksi. Menjahit conjoint tendon dengan ligamentum inguinale. Cooper.O. yaitu:  Bassini: dahulu merupakan metode yang sering digunakan.  Mc Vay: dikenal dengan metode ligamentum Cooper. dibuka dan dibebaskan isi hernia. McVay dan Shouldice) melibatkan pembukaan aponeurosis otot obliquus abdominis eksternus dan membebaskan funikulus spermatikus. Berdasarkan pendekatan operasi. kemudian kantong hernia dijahit setinggi-tinggi mungkin lalu dipotong. jika ada perlekatan lakukan reposisi. maka kedua sisi dapat direparasi sekaligus jika hernia terjadi bilateral.E. Kelemahan dari kategori ini adalah tegangan yang terjadi akibat jahitan.

 Kelompok 2 : Open Posterior Repair (iliopubic repair dan teknik Nyhus) dilakukan dengan membelah lapisan dinding abdomen superior hingga ke cincin luar dan masuk ke properitoneal space. usus atau pembuluh darah bisa cedera selama operasi. Posterior repair sering digunakan pada hernia dengan kekambuhan karena menghindari jaringan parut dari operasi sebelumnya.  Kelompok 3: Tension-free repair with Mesh (teknik Lichtenstein dan Rutkow) menggunakan pendekatan awal yang sama dengan teknik open anterior. yaitu Mesh yang tidak diserap. Mesh ini dapat memperbaiki defek hernia tanpa menimbulkan tegangan dan ditempatkan di sekitar fascia. Saat ini kebanyakan teknik laparoscopic herniorafi dilakukan menggunakan salah satu pendekatan transabdominal preperitoneal (TAPP) atau total extraperitoneal (TEP). Ini memungkinkan mesh diletakkan dan kemudian ditutupi dengan peritoneum. Diseksi kemudian diperdalam ke semua bagian kanalis inguinalis. Sedangkan pendekatan TEP adalah prosedur laparokopik langsung yang mengharuskan masuk ke cavum peritoneal untuk diseksi. tetapi menempatkan sebuah prostesis.  Kelompok 4 : Laparoscopic. Konsekuensinya. Pendekatan TAPP dilakukan dengan meletakkan trokar laparoskopik dalam cavum abdomen dan memperbaiki regio inguinal dari dalam. . Akan tetapi tidak menjahit lapisan fascia untuk memperbaiki defek.