You are on page 1of 2

Indikator Keberhasilan Pendidikan

2011-02-06 02:59:19 Indikator keberhasilan pendidikan

Kesejahteraan mahasiswa mestinya
diangkat menjadi indikator keberhasilan
pendidikan/pembelajaran di suatu perguruan tinggi. Kalau dengan sistem pendidikan yang ada
sekarang ini mahasiswa menjadi tidak betah belajar, tidak nikmat berada di lingkungan kampus,
mestinya ada sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan/pembelajaran kita. Asumsi-asumsi
yang melandasinya? Konsep-konsepnya? Atau, mungkin hanya pelaksanaannya?

Kita mungkin perlu kembali melihat asumsi-asumsi tentang mahasiswa yang melandasi sistem
pendidikan kita. Asumsi-asumsi yang perlu dipatok sebagai landasan pengembangan konsep
pemberdayaan belajar mahasiswa, yang pada gilirannya juga menjadi landasan praktek
pendidikan di perguruan tinggi.

 Mahasiswa adalah makhluk yang bebas membentuk dirinya sendiri
 Mahasiswa adalah makhluk yang bermartabat
 Mahasiswa mampu mengontrol dirinya sendiri
 Mahasiswa adalah "si belajar" dengan karakteristiknya yang khas

Konsep pendidikan juga perlu ditinjau lagi. Secara sederhana kita sering mengungkapkan bahwa
pendidikan dimaksudkan untuk menanamkan nilai yang kita anggap "baik" dalam diri
mahasiswa. Kalau kita mengembangkan suatu konsep bahwa mahasiswa harus diberdayakan
untuk belajar, maka konsep pendidikan seperti itu tidak cocok. Mahasiswa bukanlah ladang yang
subur tempat orang dosen menanamkan pikirannya. Hubungan dosen dengan mahasiswa tidak
dapat dilakukan seperti halnya hubungan seorang petani dengan ladangnya.

Konsepsi pemberdayaan belajar mahasiswa sangat penting untuk diimplementasi. Masa depan
bangsa dan negara kita ada di tangan mereka, yang sekarang ini kita sebut sebagai Mahasiswa.
Masa kini adalah masa kita, masa depan adalah masa mereka. Mereka akan mampu melanjutkan
membangun bangsa ini, sebagaimana yang dapat kita lakukan sekarang, kalau mereka
menyiapkan diri untuk mengambil peran itu --bukan disiapkan.

Masih banyak fenomena pendidikan/pembelajaran lainnya yang sekarang ini terjadi tanpa
disadari mengapa itu dilakukan. Upaya-upaya untuk memperbaikinya juga tidak mudah
dilaksanaakan -- ibarat sebagai penyakit keturunan amat sukar disembuhkan. Bagaimanapun
juga, untuk memperbaiki penyelenggaraan pendidikan/pembelajaran di perguruan tinggi
membutuhkan informasi yang memadai tentang karakteristik belajar mahasiswa dan bagaimana
menata lingkungan agar mahasiswa dapat belajar dengan caranya yang terbaik.

Salah satu karakteristik mahasiswa, terutama mahasiswa-mahasiswa yang termasuk berbakat,
adalah kebutuhan akan kebebasan dalam melakukan kontrol diri. Fenomena-fenomena
pendidikan di atas nyata sekali membatasi kebebasan mahasiswa untuk bertindak kreatif-
produktif. Hampir semua perilaku dikontrol oleh kondisi atau sistem yang berada di luar diri

Di berbagai perguruan tinggi. Perguruan tinggi dewasa ini kurang mampu menampilkan diri dalam upaya menjawab tantangan ini. Oleh karena itu. sangat mudah ditemukan fenomena-fenomena yang secara sistematik dapat menghancurkan gairah belajar mahasiswa. cara belajar. dan hal-hal lain yang terkait dengan pemberdayaan belajar mahasiswa banyak tergantung pada pembawaan. meskipun keinginan belajar. siapapun dia. Perguruan tinggi tidak dirancang dengan baik untuk menumbuhkan pribadi-pribadi unggul yang nantinya benar-benar mampu hidup di era baru. apabila berniat memberdayakan belajar mahasiswa tatalah lingkungan belajar agar mahasiswa bebas dalam menikmati dunia belajar yang sesungguhnya.mahasiswa sehingga yang terbentuk nantinya adalah mahasiswa-mahasiswa yang "manis" dan "patuh" pada kehendak lingkungan. Banyak mahasiswa yang memiliki potensi belajar tinggi (terutama pada mahasiswa berbakat) tidak dapat menunjukkan keunggulannya karena lingkungannya secara sistematik dan sistemik menghambat pertumbuhan belajarnya. . namun sejauh mana belajar itu benar-benar terjadi dalam diri mahasiswa tergantung pula pada kondisi lingkungannya. Secara khusus.