You are on page 1of 22

ANATOMI SINUS PARANASAL

Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung. Anatominya dapat
dijelaskan sebagai berikut:
Sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus
maksila kanan dan kiri (antrium highmore) dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus ini
dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung, berisi udara dan semua
bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing.
Pada meatus medius yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka inferior
rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus semilunaris yakni muara dari sinus
maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior.
Sinus paranasal terbentuk pada fetus usia bulan III atau menjelang bulan IV dan tetap
berkembang selama masa kanak-kanak, jadi tidak heran jika pada foto rontgen anak-anak
belum ada sinus frontalis karena belum terbentuk.
Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media
terdapat muara sinus ethmoid posterior dan sinus sfenoid.

1

American Medical Association (2009)
Sinus Maksilaris
- Terbentuk pada usia fetus bulan IV yang terbentuk dari prosesus maksilaris arcus I.
- Bentuknya piramid, dasar piramid pada dinding lateral hidung, sedang apexnya pada pars
zygomaticus maxillae.
- Merupakan sinus terbesar dengan volume kurang lebih 15 cc pada orang dewasa.
- Berhubungan dengan :
a. Cavum orbita, dibatasi oleh dinding tipis (berisi n. infra orbitalis) sehingga jika
dindingnya rusak maka dapat menjalar ke mata.
b. Gigi, dibatasi dinding tipis atau mukosa pada daerah P2 Mo1ar.
c. Ductus nasolakrimalis, terdapat di dinding cavum nasi.
Sinus Ethmoidalis
- Terbentuk pada usia fetus bulan IV.
- Saat lahir, berupa 2-3 cellulae (ruang-ruang kecil), saat dewasa terdiri dari 7-15 cellulae,
dindingnya tipis.
- Bentuknya berupa rongga tulang seperti sarang tawon, terletak antara hidung dan mata
- Berhubungan dengan :

2

b. Mukus yang dihasilkan didalam rongga-rongga ini terdorong ke dalam hidung sebagai akibat dari aktivitas sel-sel bersilia (Junqueira. b. c. Terletak pada corpus. dilapisi dinding tipis yakni lamina papiracea. Orbita. Sinus Sfenoidalis . dibatasi oleh tulang compacta. Nervus. b. c. Jika melakukan operasi pada sinus ini kemudian dindingnya pecah maka darah masuk ke daerah orbita sehingga terjadi Brill Hematoma. etmoid. a. . Jika terjadi infeksi pada daerah sinus mudah menjalar ke daerah cranial (meningitis. 3 . Tidak simetri kanan dan kiri. Orbita. Dibatasi oleh Periosteum. Fossa cranii anterior yang dibatasi oleh dinding tipis yaitu lamina cribrosa. dibatasi oleh tulang compacta. alas dan Processus os sfenoidalis. kulit. Arteri basillaris brain stem (batang otak) HISTOLOGI Sinus paranasal adalah rongga tertutup dalam tulang frontal. Terbentuk pada fetus usia bulan III . Glandula pituitari. . Volume pada orang dewasa ± 7cc. arteri dan vena ethmoidalis anterior dan pasterior. d. . Nervus Optikus. encefalitis dsb). Berhubungan dengan : a. . Sinus cavernosus pada dasar cavum cranii. Berhubungan dengan : a. terletak di os frontalis. 2007). . chiasma n. maksila. Fossa cranii anterior. Sinus Frontalis . Sinus-sinus ini dilapisi oleh epitel respirasi yang lebih tipis dan sedikit kelenjar kecil dan menyatu dengan periosteumdi bawahnya. c.opticum. Bermuara ke infundibulum (meatus nasi media). Tranctus olfactorius. tulang diploic. d. Sinus ini dapat terbentuk atau tidak. . Volume pada orang dewasa ± 7 cc. dan sfenoid. Sinus paranasal berhubungan langsung dengan rongga hidung melalui lubang-lubang kecil.

Peringan cranium. .FISIOLOGI Fungsi sinus paranasal adalah : . Membantu produksi mukus. Resonansi suara. . . Jika tidak terdapat sinus maka pertumbuhan tulang akan terdesak. Membentuk pertumbuhan wajah karena di dalam sinus terdapat rongga udara sehingga bisa untuk perluasan. Sebagai pengatur udara (air conditioning). . 4 .

dan sinusitis sfenoid. dan yang lebih jarang lagi fraktur dan tumor. hipertrofi konka. Mikroorganisme sering dianggap sebagai penyebab sekunder. II. Sinusitis juga dapat terjadi akibat trauma langsung. SINUSITIS I. Rinosinusitis ini sering bermula dari infeksi virus pada selesma. Sinusitis adalah peradangan mukosa sinus paranasal yang dapat berupa sinusitis maksilaris. dan penyakit gigi. yang kemudian karena keadaan tertentu berkembang menjadi infeksi bakterial dengan penyebab bakteri patogen yang terdapat di saluran napas bagian atas. 2014). Penyebab Bakteri :  Staphylococcus aureus  Haemophillus influenza  M catarrhalis  Streptococcus pneumoniae  Streptococcus intermedius 5 . berenang atau menyelam. Sinusitis dapat disebabkan oleh infeksi atau masalah lainnya. sinusitis etmoid. 2015). ETIOLOGI Terjadinya sinusitis dapat merupakan perluasan infeksi dari hidung (rinogen). Penyebab sinusitis bisa terjadi akibat obstruksi ostioneatal. alergi. polip. dan bila semua sinus terkena disebut pansinusitis (Mangunkusumo. tonsil serta penyebaran hematogen walaupun jarang. Faktor predisposisi yang mempermudah terjadinya sinusitis adalah kelainan anatomi hidung. Penyebab lain adalah infeksi jamur. gigi dan gusi (dentogen). barotrauma. 2010). sinusitis frontal. yang mengalir ke hidung (National Institute of Allergy and Infectious Diseases. dan rinitis alergi. Bakteri- bakteri berikut telah dilaporkan dalam sampel yang diperoleh melalui endoskopi atau tusukan sinus pada penderita sinusitis (Brook. Sinus merupakan ruang udara kosong dalam tulang di sekitar hidung yang menghasilkan lendir. Bila yang terkena lebih dari satu sinus disebut multisinusitis. faring. polip hidung. DEFINISI Sinusitis berarti adalah sinus yang mengalami inflamasi (peradangan). infeksi gigi.

rinitis medikamentosa. kontrasepsi oral)  Obtruksi oleh tumor  Gangguan imunologi (misalnya imunodefisiensi variabel umum. Prevotella. Porphyromonas. kehamilan. penyalahgunaan kokain)  Komplikasi dari pembersihan mukosiliar  Intubasi nasotrakeal  Intubasi nasogatrik  Hormonal (misalnya pubertas. konka bulosa. defisiensi IgG. Pseudomonas aeruginosa  Spesies Nocardia  Bakteri anaerob (Peptostreptococcus. Kartagener syndrome  Wegener granulomatosis  Infeksi saluran pernapasan atas berulang yang disebabkan oleh virus  Merokok 6 . sel Haller)  Rinistis alergi  Sensitifitas aspirin  Asma  Polip nasal  Rinitis non-alergi (misalnya rinitis vasomotor. Bacteroides. AIDS)  Cystic fibrosis  Diskinesia siliari primer. spesies Fusobacterium) Penyebab Jamur :  Spesies Aspergillus  Cryptococcus neoformans  Spesies Candida  Sporothrix schenckii  Spesies Alternaria Faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian sinusitis (Brook. 2015):  Anatomi : abnormalitas daerah ostiomeatal (misalnya septum deviasi. defisiensi immunoglobulin A/IgA.

 Iritasi lingkungan dan polutan  Gastroesophageal reflux disease (GERD)  Periodontis  Penyakit sistemik (misalnya granulomatosis dengan polyangitis / Wegener granulomatosis. Hal ini menyebabkan lendir dan nanah untuk mengisi hidung dan sinus rongga. dan biasanya terjadi ketika virus atau bakteri menginfeksi sinus (sering selama dingin) dan mulai berkembang biak. Prevalensi keseluruhan sinusitis kronik di Amerika adalah 146 per 1000 penduduk. Sinusitis kronik adalah salah satu penyakit umum di Amerika. mempengaruhi sekitar 1 dari 8 orang dewasa setiap tahunnya. yang mempengaruhi populasi dari seluruh kelompok umur. KLASIFIKASI Secara klinis sinusitis dibagia atas:  Akut : berlangsung hingga 4 minggu  Subakut : berlangsung hingga 12 minggu  Kronik : berlangsung hingga lebih dari 12 minggu dan dapat berlanjut dalam hitungan bulan atau tahun  Berulang : terdapat beberapa serangan dalam satu tahun Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis :  Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung). EPIDEMIOLOGI Sinusitis atau disebut juga rinosinusitis. Segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis  Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi). Insiden penyakit ini meningkat setiap tahunnya. Hingga 64% pasien AIDS mengalami sinusitis kronis. IV. yang sering menyebabkan sinusitis infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan molar) 7 . menghalangi saluran yang mengalirkan sinus. Bagian dari reaksi tubuh terhadap infeksi menyebabkan lapisan sinus membengkak. Churg-Strauss vaskulitis. sarkoidosis) III.

lebih dari 7 hari. (2) letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar. sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari. Wajah terasa bengkak. ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke nasofaring (post nasal drip). merupakan sinus yang sering terinfeksi oleh karena (1) merupakan sinus paranasal yang terbesar. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk. berupa pilek dan batuk yang lama. nyeri di daerah sinus yang terkena.V. serta kadang nyeri alih ke tempat lain. Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu. seringkali bermanifestasi sebagai selulitis orbita. nyeri biasanya sesuai dengan daerah yang terkena. serta gejala lokal yaitu hidung tersumbat. Pada sinusitis maksila nyeri terasa di bawah kelopak mata dan kadang menyebar ke alveolus hingga terasa di gigi. SINUSITIS AKUT Gejala Subyektif Dari anamnesis biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas (terutama pada anak kecil). MANIFESTASI KLINIS 1. halitosis. Nyeri alih dirasakan di dahi dan depan telinga. (4) ostium sinus maksila terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat . Pada peradangan aktif sinus maksila atau frontal. Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk. misalnya sewaktu naik atau turun tangga.  Sinusitis Maksilaris Sinus maksila disebut juga Antrum Highmore. Batuk iritatif non produktif seringkali ada  Sinusitis Ethmoidalis Sinusitus ethmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak. (3) dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris). Karena dinding leteral labirin ethmoidalis (lamina papirasea) seringkali merekah dan karena itu cenderung lebih sering menimbulkan selulitis orbita. sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila. sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia. Pada dewasa seringkali bersama-sama dengan sinusitis maksilaris serta dianggap sebagai penyerta sinusitis frontalis yang tidak dapat dielakkan. penuh dan gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak. 8 .

kemudian perlahan-lahan mereda hingga menjelang malam. Pada rinoskopi anterior tampak sekret di meatus medius atau superior. Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin terdapat pembengkakan supra orbita. 2. nyeri tekan) sudah reda. oksipital. Namun penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis. sakit kepala hebat. di belakang bola mata dan di daerah mastoid. Palpasi dengan jari mendapati sensasi seperti ada penebalan ringan atau seperti meraba beludru. pada sinusitis ethmoid jarang timbul pembengkakan. kecuali bila ada komplikasi. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus yang sakit. 9 . Pembengkakan pada sinus maksila terlihat di pipi dan kelopak mata bawah. Nyeri alih di pelipis7. maksila dan ethmoid anterior) terkena secara akut dapat terjadi pembengkakan dan edema kulit yang ringan akibat periostitis. SINUSITIS SUBAKUT Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda-tanda radang akutnya (demam. Gejala Obyektif Jika sinus yang berbatasan dengan kulit (frontal. sehingga gejalanya sering menjadi satu dengan gejala infeksi sinus lainnya. pada sinusitis frontal terlihat di dahi dan kelopak mata atas. Gejala berupa nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius. nyeri berlokasi di atas alis mata. suram atau gelap. biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari. terutama bila mata digerakkan. Gejala subyektif terdapat nyeri kepala yang khas.  Sinusitis Sfenoidalis Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex.post nasal drip dan sumbatan hidung  Sinusitis Frontalis Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-sama dengan infeksi sinus etmoidalis anterior. kadang-kadang nyeri dibola mata atau belakangnya.

. Gejala laring dan faring yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan. SINUSITIS KRONIS Sinusitis kronis berbeda dengan sinusitis akut dalam berbagai aspek. umumnya sukar disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Gejala Objektif Temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat pembengkakan pada wajah. Gejala di saluran cerna mukopus tertelan sehingga terjadi gastroenteritis. Gejala hidung dan nasofaring. Dari pemeriksaan endoskopi fungsional dan CT Scan dapat ditemukan etmoiditis kronis yang hampir selalu menyertai sinusitis frontalis atau maksilaris. . dapat juga ditemukan polip. . Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak. Harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya. 10 . karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis. sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. . tumor atau komplikasi sinusitis. Gejala Subjektif Bervariasi dari ringan sampai berat. . terdiri dari : . Perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental. Ada nyeri atau sakit kepala. sehingga mempermudah terjadinya infeksi. berupa sekret pada hidung dan sekret pasca nasal (post nasal drip) yang seringkali mukopurulen dan hidung biasanya sedikit tersumbat. .3. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok. purulen dari meatus medius atau meatus superior. Gejala telinga berupa pendengaran terganggu oleh karena terjadi sumbatan tuba eustachius. Etmoiditis kronis ini dapat menyertai poliposis hidung kronis. dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan sinusitis akut tidak sempurna. Gejala saluran nafas berupa batuk dan komplikasi di paru berupa bronkhitis atau bronkhiektasis atau asma bronkhial. Gejala mata.

2014). VI. Keadaan ini menyebabkan perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi. Secara umum gejala sinusitis dapat berupa demam. Disamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. Jika terapi inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut. batuk dan hidung tersumbat. dan sekret akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang membutuhkan terapi antibiotik. kelemahan.bisa terjadi adanya drainase lendir di belakang tenggorokan/post nasal drip (National Institute of Allergy and Infectious Diseases. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri. PATOFISIOLOGI Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). polipoid atau pembentukan polip dan kista. akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium. sehingga mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. kelelahan. Hal ini menimbulkan tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila terinfeksi organ yang membentuk komplek osteo meatal KOM mengalami oedem. 11 .

Kriteria Mayor : .VII. Foto rontgen (Water’sradiograph atau air fluid level) : Penebalan lebih 50% dari antrum . Coronal CT Scan : Penebalan atau opaksifikasi dari mukosa sinus b. Penegakan diagnosis sinusitis secara umum: a. Sekret nasal yang purulen . 2010). pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (Mangunkusumo. Kriteria Minor : . DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis. Drenase faring yang purulen . Purulent Post Nasaldrip . Batuk . Sakit kepala 12 . 2008). Anamnesis yaitu dengan cara menanyakan riwayat dan perjalanan penyakit apakah sudah berlangsung selama lebih dari 12 minggu serta didapatkan 2 gejala mayor atau 1 gejala mayor dengan 2 gejala minor (Benninger. 1.

. . mukosa edema dan hiperemis (Mangunkusumo. . Transiluminasi menggunakan angka sebagai 13 . Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior. sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior. Jika ditemukan maka kita harus melakukan penatalaksanaan yang sesuai. 1 minor dan ≥ 2 kriteria minor (Pletcher SD. 2003) 2. Nafas berbau . 2010). Nyeri di wajah . Posisional test yakni pasien mengambil posisi sujud selama kurang lebih 5 menit dan provokasi test yakni suction dimasukkan pada hidung. Pemeriksaan transiluminasi untuk sinus maksila dan sinus frontal. Tes sitologi nasal (smear) : neutrofil dan bakteri . Edem periorbital . Nyeri telinga Sakit tenggorok . sehingga tampak lebih suram dibanding sisi yang normal. pemeriksa memencet hidung pasien kemudian pasien disuruh menelan ludah dan menutup mulut dengan rapat. Sakit gigi . Meatus medius sering dapat diinspeksi dengan baik setelah pemberian dekongestan (Shah. Bersin-bersin bertambah sering . sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Golderg AN . 2008). Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip). tumor maupun komplikasi sinusitis. Pada sinusitis akut tidak ditemukan polip. sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius. Tanda khas ialah adanya pus di meatus medius (pada sinusitis maksila dan etmoid anterior dan frontal) atau di meatus superior (pada sinusitis etmoid posterior dan sfenoid) (Mangunkusumo. . Pemeriksaan transiluminasi bermakna bila salah satu sisi sinus yang sakit. Ultrasound Kemungkinan terjadinya sinusitis jika : Gejala dan tanda : 2 mayor. 2010). 3. Pemeriksaan transiluminasi. Pada sinusitis maksila. Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. Pada rinosinusitis akut. jika positif sinusitis maksilaris maka akan keluar pus dari hidung. Demam .

Foto lateral berguna untuk sinus sphenoid Sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa a. Transiluminasi akan menunjukkan angka 0 atau 1 apabila terjadi sinusitis (sinus penuh dengan cairan). Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus yang sakit. a. Pemeriksaan radiologik Foto Polos Dibuat dengan posisi waters. b. PA dan lateral. Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus inferior dan dengan alat endoskopi bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya. Berguna untuk sinus frontal dan ethmoid c. Sangat berguna pada pemeriksaan sinus maksilaris b. CT-Scan CT Scan adalah pilihan untuk sinusitis kronik. Kelebihan : mampu memberi gambaran sinus pada rinosinusitis kronis yang gejalanya tidak sesuai dengan pemeriksaan klinis. Penebalan mukosa. Gambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat dilihat pada foto waters. 4. parameternya. tapi tidak untuk sinusitis akut. Opasifikasi sinus ( berkurangnya pneumatisasi) c. Posisi caldwell (anteroposterior) dengan hidung dan dahi yang menempel pada film. MRI hanya dilakukan jika ada kecurigaan komplikasi pada orbita dan intrakranial (Shah. Dapat melihat sinus secara bilateral. 2008). Pemeriksaan Penunjang . Biasanya foto tersebut hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan frontal (Mangunkusumo. Tindakan selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi. 2010). 14 . Posisi waters dengan dagu dan hidung menempel pada film.

Indikasi : pasien yang disertai komplikasi sinusitis (Neurologic symptoms. Opacification = sekresi. 2008). Mukosa yang menebal (cek dinding lateral maksila): chronic inflammation d. dll. Abnormalitas gambaran CT scan : a. polyps. Frontal sinus mucocele · Obstruksi duktus nasofrontal (head injury?) · Cenderung menjadi masalah yang serius. Air-fluid levels = proses akut b. nyeri mid-head) dan untuk menyingkirkan sinusitis sphenoidalis. kecuali jika sudah timbul komplikasi. Visualisasi optimal didapatkan dengan coronal scans (Shah. diplopia.Kelemahan : sulit membedakan rinosinusitis dengan infeksi virus saluran pernafasan bagian atas. · Air fluid level Penebalan mukosa 15 . (Ethmoids seharusnya sedikit lebih gelap dari orbita) c. Maxillary sinus retention cysts · Sangat sering ditemukan · Tidak berbahaya kecuali jika simptomatik e. pembengkakan periorbital atau facial dengan atau erythema disertai penyakit yang berat.

Posisi Water’s Posisi Lateral 16 .

Mungkin ditemukan bermacam-macam bakteri yang merupakan flora normal di hidung atau kuman patogen. . Selain itu mungkin juga ditemukan virus atau jamur. polip. dengan sinoskopi dapat dilihat keadaan dalam sinus. Pada acute bacterial rhinosinusitis (ABRS). massatumor atau kista dan bagaimana keadaan mukosa dan apakah osteumnya terbuka. Anteroposterior (caldwell) Gambaran sinusitis maksilaris akut . Naso-endoskopi (kaku maupun fleksibel) sangat penting dalam evaluasi rinosinusitis. seperti pneumococcus. . Pada sinusitis kronis akibat 17 . 2008). Sinoskopi sinus maksilaris. Pemeriksaan mikrobiologik sebaiknya diambil sekret dari meatus medius atau meatus superior. staphylococcus dan haemophylus influensa. streptococcus. 2008). jaringan granulasi. naso-endoskopi bermanfaat untuk konfirmasi diagnosis sekaligus mendapatkan sekret dari meatus media untuk dikultur (Shah. Untuk mengurangi kontaminasi dari hidung. apakah ada sekret. kultur dari meatus media dapat dilakukan melalui aspirasi sinus maksila yang merupakan gold standard untuk diagnosis ABRS (Benninger.

purulen. kambuh Waktu tahunan. Jenis terapi dibagi menjadi 2 pilihan. Encer. DIAGNOSIS BANDING Gejala Sinusitis Rinitis Alergi ISPA Nyeri wajah + +/. serosa. nyeri spesifik sesuai sinus Sakit kepala . biasanya timbul pagi hari) + (pada sinusitis Sakit gigi . Kental/encer. - maxillaris) Nafas berbau + . +/- yang meradang. dan mencegah perubahan akut menjadi kronik (Mangunkusumo. karena sekret Post nasal drip Jarang Jarang yang sangat kental Demam ++ + ++ Batuk ++ . perlengketan akan menyebabkan osteum tertutup sehingga drenase menjadi terganggu. 2010). biasanya bila terdapat pajanan 10-14 hari hilang timbul alergen Kental. yaitu secara medikamentosa dan pembedahan. TATALAKSANA Tujuan terapi sinusitis ialah mempercepat penyembuhan. - ≥10 hari sampai Tidak pasti. mencegah komplikasi. 18 . +/- + (bertambah ketika menunduk. - VIII. bening Sekret berwarna putih-kuning. bening atau putih-kuning- hijau hijau Ada.

pemberian steroid topikal. steroid oral/ topikal. Oleh sebab itu. Untuk pasien dengan riwayat alergi dapat ditangani dengan cara menghindarkan faktor pencetus. Antibiotik yang biasanya diberikan pada rinosinusitis kronik adalah yang sesuai untuk kuman gram negatif (S. namun hal ini harus dilakukan pada pasien tertentu dan dilakukan dengan hati-hati karena dapat menyebabkan komplikasi minor seperti nyeri dan perdarahan. dan imunoterapi. mukolitik seperti guaifenesin. konka inferior semakin membengkak dan menjadi suatu indikasi irigasi antrum segera. terapi lain dapat diberikan jika diperlukan. Tatalaksana pembedahan yang dilakukan ada beberapa cara. Kultur sinus sangat penting dalam memilih jenis obat pada rinosinusitis kronik karena organisme patogennya berbeda dengan ABRS. antara lain : bedah sinus endoskopi fungsional dan operasi sinus terbuka. Antibiotik diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang (Mangunkusumo. maka diberikan amoksisilin-klavulanat atau sefalosporin generasi ke-2. seperti operasi Caldwell-Luc. yaitu golongan penisilin seperti amoksisilin. Dibuat jalur insersi trokar pada irigasi antrum maksilaris di bawah konka inferior. pencucian rongga hidung (irigasi) dengan NaCl atau pemanasan (diatermi) (Mangunkusumo. 2010). seperti analgetik. Jika penderita tidak menunjukkan perbaikan dalam 72 jam. Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis bakterial akut. Jika kuman resisten terhadap amoksisilin. Antihistamin generasi ke-2 diberikan bila ada alergi berat (Mangunkusumo. 1989). Indikasinya berupa: sinusitis kronik yang tidak 19 . Selain dekongestan oral dan topikal. Antibiotik yang dipilih adalah yang berspektrum lebar. 1989). Pengobatan secara medikamentosa menunjukkan hasil yang lebih memuaskan jika diberikan sesuai dengan hasil kultur. menunjukkan oraganisme resisten terhadap antibiotik atau antibiotik tersebut gagal mencapai lokulasi infeksi. 2010 and Hilger. Gold standard untuk kultur sinus adalah pungsi sinus maksilaris. trepinasi sinus frontal dan irigasi sinus. Pembedahan Kegagalan penyembuhan dalam suatu terapi aktif. Bedah Sinus Endoskopi Fungsional Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/ FESS) merupakan operasi terkini untuk sinusitis kronik yang memerlukan operasi.Medikamentosa Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM (komplek osteo meatal) sehingga drainase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami. aureus) dan anaerob. etmoidektomi eksternal. maka dilakukan reevaluasi dan mengganti antibiotik yang sesuai. 2010 and Hilger. 1.

paling sering ialah sinusitis etmoid. Ryan Chandler (1970) membagi komplikasi orbita menjadi 20 . masih ada keuntungan dalam menggunakan metode operasi ini. membaik setelah terapi adekuat. sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang irreversibel. Irigasi Sinus Irigasi sinus bermanfaat sebagai diagnostik sekaligus terapi. atau benda asing yang tidak dapat dijangkau melalui endoskopi intranasal. polip antrokoanal. polip ekstensif. Indikasi operasi dengan metode ini yaitu jika terlihat manifestasi klinis seperti mukokel sinus maksilaris. 2. biopsi dapat dilakukan secara eksternal pada lesi sinus etmoid atau frontal. Etmoidektomi Eksternal Etmoidektomi eksternal telah banyak digantikan oleh bedah endoskopi. 4. Operasi Caldwell-Luc Operasi dengan metode Caldwell-Luc dilakukan pada kelainan sinus maksilaris. 2010). Meskipun begitu. Manfaat lain dari metode ini yaitu dapat memperbaiki komplikasi orbita dari sinusitis etmoid akut atau frontal dengan cepat dan aman. Operasi ini aman dan dekompresi pus pada sinus frontalis cepat dilakukan. kemudian sinusitis frontal dan maksila (Mangunkusumo. misetoma. Pungsi antrum biasanya dilakukan pada meatus inferior hidung. 5. Trepinasi Sinus Frontal Metode operasi ini bermanfaat untuk infeksi akut ketika endoskopi nasal sulit dilakukan akibat perdarahan mukosa hidung. Komplikasi Orbita Komplikasi orbita disebabkan infeksi sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). abses subperiostal serta kelainan paru (Mangunkusumo. adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur (Mangunkusumo. 2010). Misalnya. IX. Irigasi sinus dilakukan pada sinusitis maksilaris akut yang tidak dapat ditangani dengan pengobatan konservatif dan juga dijadikan sebagai prosedur tambahan untuk drainase eksternal pada komplikasi orbita yang akut. 3. Komplikasinya berupa komplikasi orbita atau intrakranial. 2010). Komplikasi lain yang dapat dijumpai pada sinusitis kronik yaitu osteomielitis. 1. KOMPLIKASI Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotik.

abses subdural. Kelainan Paru Kelainan paru akibat komplikasi rinosinusitis yaitu seperti bronkitis kronik dan bronkiektasis. 2010). Komplikasi intrakranial lebih umum dijumpai pada pasien sinusitis kronik dibandingkan sinusitis akut. 5. sinusitis kronik yang tidak diobati dapat mengurangi kualitas hidup dan produktivitas bagi penderita yang terkena. abses intraserebri . dan trombosis sinus kavernosus. abses subperiosteal. 21 . Sinusitis kronis jarang mengancam kehidupan. Sekitar 75% dari semua infeksi orbital secara langsung berhubungan dengan sinusitis (Brook. X. 2015). abses orbita. 3. Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/ FESS) dapat mengembalikan fungsi sinus. Pengobatan dini dan adekuat pada sinusitis biasanya menghasilkan hasil yang memuaskan. yang dapat menghasilkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan. 2010). PROGNOSIS Karena sifatnya yang menetap. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi (Mangunkusumo. Sinusitis dikaitkan dengan eksaserbasi asma dan komplikasi serius seperti abses otak dan meningitis. selulitis orbita. dan trombosis sinus kavernosus. Osteomielitis dan Abses Subperiosteal Osteomielitis dan abses subperiosteal paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. 2. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sino-bronkitis. Komplikasi Intrakranial Komplikasi intrakranial dapat berupa meningitis. 4. yaitu selulitis preseptal. Selain itu dapat juga menyebabkan kambuhnya asma bronkial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya disembuhkan (Mangunkusumo. meskipun komplikasi serius dapat terjadi karena dengan orbit dan rongga tengkorak.

2015.21 tanggal 16 Agustus 2015 Brook. Jakarta : EGC Junqueira .11 tanggal 16 Agustus 2015 Vartanian. 2014. Edisi 10 . Diakses melalui http://emedicine. Diakses melalui http://emedicine.55 tanggal 16 Agustus 2015 Higler. 2003 . Chronic Sinusitis.com pada pukul 21. 2007. DAFTAR PUSTAKA American Medical Association . Edisi 6. Itzhak. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. The diagnosis and treatment of sinusistis . Soetjipto D. 2013. Sinusitis.medscape.15 tanggal 16 Agustus 2015 22 . Diakses melalui www. Histologi dasar teks dan atlas. 1997. Page 495-505 Singh.9 .com/article/875244-overview pada pukul 09. 2009 . BOIES : Buku Ajar Penyakit THT.com/article/232791-overview#a6 pukul 7. Jakarta : FKUI Pletcher SD. Paranasal Sinus Anatomy. Jakarta : EGC Mangunkusumo E. Ameet. CT Scan of the Paranasal Sinuses.medscape. A John. 2007. Diakses melalui http://emedicine. Peter A.com/article/1899145-overview pada pukul 08.alison-burke. Vol 3 No.medscape. Golderg AN .