You are on page 1of 8

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No.

03 Tahun 2014, 72-79
ISSN: 2302-4496

Penerapan Pembelajaran Berorientasi Levels of Inquiry Terhadap Hasil Belajar pada Sub
Pokok Materi Fluida Statis

Maria Chandra Sutarja, Retno Hasanah
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya
E-mail: Maria.C.Sutarja@gmail.com

Abstrak
Peraturan menteri pendidikan nasional (permendiknas) no 22 tahun 2006 menyatakan bahwa ilmu
pengetahuan alam (IPA) merupakan ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu fenomena alam secara
sistematis, bukan hanya berisi pengetahuan yang berkaitan dengan fakta, konsep, dan prinsip, namun
menyangkut proses penemuan. Berdasarkan observasi yang dilaksanakan di SMAN 1 Krian, pembelajaran
biasa dilaksanakan dengan metode ceramah dan dengan kegiatan laboratorium yang diberikan setelah
konsep telah disampaikan. Oleh sebab itu, dilaksanakan penelitian yang bermanfaat untuk memberikan
variasi pembelajaran yang memposisikan siswa dapat memperoleh konsep atas kegiatan laboratorium yang
dilaksanakan, sehingga dapat mengaitkan fisika sebagai ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu
fenomena alam secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan penerapan
pembelajaran yang berorientasi pada levels of inquiry, hasil belajar dan respons siswa terhadap
pembelajaran yang berorientasi pada levels of inquiry. Jenis penelitian yang digunakan berupa true
experimental design dengan rancangan group pre-test and post-test design. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pengelolaan pembelajaran yang berorientasi pada levels of inquiry dapat berjalan dengan baik
berdasarkan pengkategorian nilai yang diperoleh. Berdasarkan analisis uji-t satu pihak, diperoleh nilai thitung
sebesar 4,49 dan ttabel sebesar 1,67. karena nilai ttabel tidak lebih besar dari nilai thitung, maka dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Respons siswa
terhadap pembelajaran berorientasi levels of inquiry termasuk dalam kategori baik, berarti pembelajaran
berorientasi levels of inquiry dapat diterima dengan baik oleh para siswa.

Kata Kunci: Levels of inquiry, fluida statis, hasil belajar

PENDAHULUAN
inquiry processes yang disusun oleh Carl J. Wenning
Peraturan menteri pendidikan nasional
disebut dengan istilah cookbook laboratory. Wenning
(permendiknas) no 22 tahun 2006 menyatakan bahwa
(2005) menyebutkan bahwa “ Cookbook labs commonly
ilmu pengetahuan alam (IPA) merupakan ilmu yang
focus students’ activities on verifying information
berkaitan dengan cara mencari tahu fenomena alam
previously communicated in class thereby moving from
secara sistematis, bukan hanya berisi pengetahuan yang
abstract toward concrete” . Berdasarkan kutipan tersebut,
berkaitan dengan fakta, konsep, dan prinsip, namun
cookbook labs biasa difokuskan pada aktivitas siswa
menyangkut proses penemuan. Berkaitan hal tersebut,
untuk memverifikasi pembelajaran yang telah diperoleh
maka pembelajaran seharusnya dilaksanakan sebagai
di kelas, bergerak dari kegiatan abstrak menuju kegiatan
pembelajaran yang melaksanakan proses penemuan.
konkret. Cookbook labs dilakukan dengan instruksi step-
Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMAN 1
by-step yang memerlukan proses berpikir yang lebih
Krian, proses pembelajaran biasa dilakukan dengan
sedikit, dengan cara demikian, siswa dikondisikan pada
menggunakan metode ceramah, sedangkan kegiatan
desain yang membuat siswa terkesan seperti “robot”,
laboratorium direncanakan akan diberikan setelah semua
menyeragamkan tingkah laku siswa. Sebagaimana
materi telah tersampaikan.
dikutip dalam Wenning (2005) “Cookbook labs are
Kegiatan laboratorium yang dilaksanakan setelah
driven with step-by-step instructions requiring minimum
memperoleh materi dan dipandu dengan panduan
intellectual engagement of students thereby promoting
kegiatan laboratorium secara detail dalam jurnal Levels
robotic, rule-conforming behaviors” Kegiatan
of inquiry: Hierarchies of pedagogical practices and
laboratorium demikian (cookbook labs) kurang dapat

Maria Chandra Sutarja, Retno Hasanah 72

interactive siswa untuk dapat melaksanakan inquiry labs dengan demonstration dan inquiry lesson. tidak ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan pengelolaan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba penerapan pembelajaran yang berorientasi pada levels of melakukan kegiatan yang berbeda. dapat mengajarkan siswa untuk mempelajari fenomena. real-world hukum yang berkaitan dengan fluida statis. inquiry lesson. pengalaman melakukan kegiatan laboratorium verification. yakni siklus yang yang baru pertama melakukan kegiatan eksperimen. selanjutnya memasukkan plastisin yang diberi rongga dan yang tidak menyelidiki variabel mana yang mempengaruhi gaya diberi rongga. demonstration. dengan gradasi intelektual dan kemandirian pembelajaran kegiatan laboratorium pada tahapan inquiry yang lebih tinggi pada tahapan yang lebih tinggi. berbeda. tahapan pembelajaran levels of inquiry secara berurutan Pembelajaran yang berorientasi levels of inquiry antara lain: discovery learning. yang dapat melatihkan siswa pada proses Adapun manfaat penelitian ini yakni memberikan variasi berpikir yang lebih baik. dan alternatif proses pembelajaran yang mengajarkan Berdasarkan penelitian pendahuluan yang telah fisika sebagai ilmu yang berkaitan dengan cara mencari dilaksanakan oleh A.. 2011). Guru mengarahkan siswa ke dalam konsep massa Berdasarkan latar belakang di atas. dkk. selain itu. Sebagai contoh penerapannya dalam membuat hipotesis. g-generalization. karena Siswa pada Sub Pokok Materi Fluida Statis” Penelitian siswa hanya melaksanakan apa yang diperintahkan. hasil belajar dan respons siswa terhadap diperlukan kegiatan laboratorium dengan format yang pembelajaran yang berorientasi pada levels of inquiry. siswa melakukan pengalaman sederhana yang berkaitan dengan konsep penyelidikan dengan terlebih dahulu dipandu oleh guru yang diajarkan. air. mengidentifikasi variabel-variabel pembelajaran adalah dengan meminta siswa untuk yang berhubungan dengan gaya apung. 03 No. Pembelajaran pada tahap discovery learning fenomena dalam fluida statis secara sistematis dengan didasarkan atas pengalaman siswa dalam kehidupan proses penemuan. Sehingga kegiatan eksperimen (laboratorium inquiry dilakukan dengan pendekatan inquiry pada tiap inquiry) dilaksanakan setelah siswa memiliki pengalaman tahapannya. dan hypothetical inquiry. mengajarkan siswa untuk melakukan berhirarki. 72-79 ISSN: 2302-4496 melatihkan siswa untuk melakukan proses berpikir dalam Berorientasi Levels of Inquiry Terhadap Hasil Belajar ranah yang lebih tinggi pada taksonomi Bloom. pada akhirnya guru bersama siswa dapat adanya plastisin yang tenggelam dan terapung di dalam menyimpulkan faktor yang mempengaruhi gaya apung. W. 03 Tahun 2014. Adapun lesson. inquiry labs. Bagus M. Oleh sebab itu. mengadopsi pada metode ilmiah (Wenning. Sebagai contoh.Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. bukan sekedar penyampaian sehari-hari. kesimpulan bahwa kegiatan eksperimen (laboratorium Setiap tahapan levels of inquiry menerapkan siklus inquiry) kurang optimal jika dilaksanakan pada siswa pembelajaran (learning cycle). untuk melakukan aplikasi untuk membangun konsep namun memperoleh konsep mengenai faktor yang membangun konsep dan pengetahuan berdasarkan mempengaruhi besar gaya apung. mengajarkan siswa untuk melakukan kegiatan kegiatan laboratorium berupa inquiry labs dengan laboratorium berupa inquiry labs dengan melewati melewati tahapan pembelajaran yang dapat melatihkan tahapan pembelajaran discovery learning. selanjutnya. dilakukan jenis. karena tujuan utama pembelajaran ini tidak pengetahuan yang ada. dan application. selanjutnya siswa akan mengidentifikasi apung. Kenyataan tersebut terjadi karena siswa belum memiliki berupa observation. Model pembelajaran levels Levels of inquiry merupakan model pembelajaran of inquiry merupakan model pembelajaran yang yang berhirarki. manipulation. diperoleh tahu fenomena alam secara sistematis. application. Pembelajaran Levels of baik. interactive membantu siswa untuk dapat menganalisis hukum. Retno Hasanah 73 . siswa pun menemukan konsep bahwa penelitian yang berjudul “Penerapan Pembelajaran Maria Chandra Sutarja. inquiry.

Guru 4. Adanya instruksi secara Adanya instruksi yang hanya more formal experimental setting where efforts are now detail. contoh: singkat. 3.”Jadi pada inquiry lesson memberikan kesempatan siswa untuk melakukan kepada siswa untuk improvisasi/kesalahan saat siswa memperoleh konsep melalui penyelidikan ilmiah melakukan improvisasi melakukan eksperimen. inquiry labs didiskusikan untuk mengajarkan siswa untuk memperoleh konsep melalui memperbaiki kesalahan. selanjutnya didukung manipulating (demonstrating) an apparatus and then 1. berupa demonstrasi kegiatan berpancuran hingga benda yang dimasukkan ke penimbangan benda di udara dan di air menggunakan titik pancurannya. kegiatan penyelidikan. air tumpah dan berat gaya apung? dst. 2005 “An interactive Kelas kontrol Kelas eksperimen demonstration generally consists of a teacher Langkah kerja dituntun Langkah kerja dituntun secara secara detail. berarti kurang singkat. memperbolehkan taken to define a system…. dalam zat cair. beri wadah penadah Identifikasi dan Tuliskan neraca pegas. kelas kontrol dan di kelas eksperimen Sebagaimana dikutip dari Wenning. guru mengajak siswa tertumpah + gelas Bagaimanakah hubungan untuk melakukan penyelidikan yang lebih formal. Masukkan air ke gaya apung dihitung dengan happened (explanation)”. siswa dalam memverifikasi. 03 No. Pelaksanaan kegiatan inquiry labs di kelas Pada tahap interactive demonstration. 03 Tahun 2014. akan tetapi dilaksanakan secara mandiri oleh siswa dengan dipandu lembar kegiatan Maria Chandra Sutarja. 72-79 ISSN: 2302-4496 benda akan terapung jika memiliki massa jenis yang lebih siswa yang berisi panduan singkat dan pertanyaan- kecil daripada air dan tenggelam jika memiliki massa pertanyaan yang mengarahkan siswa pada konsep yang jenis yang lebih besar dari air. mengidentifikasi variabel yang berhubungan dengan gelas kimia. yang dipandu oleh guru.Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. maupun kesalahan dalam namun hal ini diperbolehkan. Retno Hasanah 74 . Masukkan beban ke zat cair tersebut? (gunakan mengarahkan pada konsep gaya apung. contoh: hasilnya Dalam percobaan ini. Ukur berat air yang ditampilkan) laboratorium. kemudian meminta siswa untuk memprediksi apa pancuran terkait pada percobaan yang akan terjadi jika benda ditimbang di dalam air. karena dilaksanakan melakukan penyelidikan Sebagaimana dikutip dari Wenning. Guru melakukan penimbangan benda di segaris dengan variabel-variabel yang udara. diselidiki. Pelaksanaan kegiatan laboratorium di penjelasan mengenai apa yang dilakukan oleh guru. Hitung selisih berat dipindahkan dengan besar dengan membantu siswa mengidentifikasi masalah. penyelidikan. eksperimen karena selanjutnya akan Sebagaimana pada inquiry lesson. 2011 “The inquiry setelah memperoleh bagaimana pengaruh faktor konsep mengenai terhadap besar gaya apung. dst. pada cookbook labs disajikan dalam tabel 1 berikut: untuk mengarahkan siswa agar melakukan prediksi dan Tabel 1. kemudian melaksanakan penyelidikan Kegiatan lab termasuk Pada kegiatan lab. Ukur berat gelas melalui panduan pertanyaan- asking probing questions about what will happen kimia kosong. dalam gelas formulasi perumusan Inquiry lesson merupakan peralihan antara berpancuran hingga sebagaimana yang ada air yang tumpah sebelumnya telah pembelajaran berupa demonstrasi dengan kegiatan 5. lesson employs a think-aloud protocol in which the pengaruh faktor terhadap teacher encourages students to act like scientists in a besar gaya apung. yakni kimia antara berat zat cair yang 6. catat pertanyaan. guru eksperimen dan kegiatan laboratorium yang berorientasi memanipulasi keadaan pada pendemonstrasian fenomena. Pada inquiry lesson. besar (prediction) or how or why something might have 2. memperoleh konsep setelah seperti yang biasa dilakukan oleh seorang ilmuwan. Rangkaikan tersebut! Siswa pun menemukan konsep bahwa berat benda di sebagaimana gambar Berapakah besar gaya di atas apung pada masing-masing udara lebih besar daripada berat benda di air. Sebagai contoh penerapan mengukur berat zat cair dalam gelas yang dipindahkan oleh dalam pembelajaran.

pengacakan. dan baik sekali (Riduwan.25 11. Uji Normalitas dilaksanakan untuk memastikan Sebelum pelaksanaan penelitian. dapat dilakukan tiga prinsip dasar rancangan dan sangat baik (Riduwan. laboratory dengan metode ceramah. Oleh sebab itu. Adapun lembar kegiatan siswa dinilai 2 XI IPA 3 3. Kelas X2 hitung X2 tabel Kriteria kemampuan psikomotor. Lembar pengamatan test design. 72-79 ISSN: 2302-4496 METODE levels of inquiry lebih baik daripada pembelajaran Jenis penelitian yang digunakan adalah true experimental konvensional. baik. baik.38 7.05 4. kurang.11 11. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 homogen. yakni yang berorientasi cookbook design dengan rancangan control group pre-test and post. 03 No. cukup. dan duji disajikan dalam tabel 4: aya beda soal pre test.11 Normal respons siswa terhadap pembelajaran berorientasi levels Berdasarkan tabel 3. serta apakah sampel yang pembelajaran konvensional yang berorientasi pada digunakan dalam penelitian berasal dari populasi yang cookbook labs. Hasil uji Normalitas lembar observasi pengelolaan pembelajaran.Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. Lembar pre test- sampel berdistribusi normal. Rancangan tersebut digunakan karena dalam penelitian. dapat disimpulkan bahwa kelas of inquiry dan mengerjakan post test. sedangkan kelas dilaksanakan untuk mengetahui apakah kelas penelitian kontrol merupakan kelas yang melaksanakan terdistribusi normal atau tidak. sebagai kelas sampel. dengan populasi kelas XI IPA dan empat kelas normalitas dan uji homogenitas dalam penelitian. dan pengamatan kemampuan 1 XI IPA 2 9. uji taraf kesukaran. dan lembar response siswa yang Tabel 2. eksperimental.lembar penilaian dilaksanakan: kognitif proses.11 Normal 3 XI IPA 4 1. kegiatan pembelajaran diamati melalui sampel: Tabel 3. Retno Hasanah 75 . Rancangan Penelitian diberikan menggunakan skala Likert yang selanjutnya Pre. Berikut ini siswa kelas XII IPA di SMAN 1 Krian untuk melakukan merupakan hasil perhitungan uji homogenitas yang uji validitas. Selanjutnya siswa diminta untuk mengisi angket 4 XI IPA 5 8.11 Normal melalui lembar penilaian kemampuan kognitif proses 11. pengamatan No. cukup.post test. uji reliabilitas. yang selanjutnya dirata-rata dan dikategorikan dengan kriteria kurang. 2011).11 Normal afektif siswa. Berikut ini merupakan rekapitulasi menggunakan uji homogenitas dan normalitas. dan kontrol HASIL DAN PEMBAHASAN (Prabowo.81 Homogen siswa yang melaksanakan pembelajaran berorientasi Maria Chandra Sutarja. Replikasi 1 U1 L U2 2012). 2012). Lembar observasi pengelolaan pembelajaran pun Replikasi 2 U1 L U2 Kontrol U1 . Hasil uji homogenitas Hasil post test selanjutnya dianalisis menggunakan dk=3 X2hitung X2tabel Kesimpulan uji-t satu pihak untuk mengetahui apakah hasil belajar =0. yang melaksanakan pembelajaran berorientasi levels of terlebih dahulu dilaksanakan kegiatan pretest. dilakukan pre test bahwa sampel yang dipakai merupakan sampel yang kepada siswa untuk selanjutnya hasil pre test dianalisis terdistribusi normal. Tabel 4. Post- Kelas Perlakuan dirata-rata dan dikategorikan dengan kriteria kurang test test Eksperimen U1 L U2 sekali. Pretest inquiry terbatas hingga inquiry labs. U2 menggunakan skala Likert. post test yang diberikan kepada siswa sebelumnya telah Uji homogenitas dilakukan untuk memastikan divalidasi oleh dua dosen ahli dan diujicobakan pada 60 bahwa sampel berasal dari populasi homogen. dilakukan analisis uji Krian.44 11. Berikut merupakan rancangan penelitian yang kemampuan afektif dan psikomotor. yaitu replikasi. 03 Tahun 2014.05 siswa. Kelas eksperimen merupakan kelas Sebelum dilaksanakan kegiatan pembelajara. Selama uji normalitas pada kelas yang digunakan sebagai kelas proses penelitian.

72-79 ISSN: 2302-4496 Berdasarkan tabel 4. Hasil belajar siswa ranah afektif disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 3 Maria Chandra Sutarja. dan replikasi 2. Berdasarkan tabel 5. berarti siswa SMA Negeri 1 Krian dapat melaksanakan kegiatan inquiry labs dengan Gambar 1. setiap aspek di kelas eksperimen dan replikasi memperoleh kategori baik sekali dalam mengerjakan lembar kegiatan siswa. Aspek Replikasi 1 3. dilakukan kegiatan pembelajaran yang dibagi menjadi tiga bagian. kejujuran.Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. II. pengelolaan waktu. sedangkan inquiry lesson dan inquiry labs eksperimen dan replikasi dibandingkan pada kelas dilaksanakan pada kegiatan inti. Siswa melakukan tanggung jawab. diperoleh nilai X2hitung < X2tabel Grafik nilai rata-rata siswa dalam mengerjakan LKS sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian dapat disajikan dalam gambar 2 disimpulkan merupakan sampel yang berasal dari populasi yang homogen. yakni kegiatan pendahuluan. dan Tabel 5. Hasil uji hipotesis (uji-t satu pihak) suasana kelas.67 H0 Ditolak baik pada kelas eksperimen. Kegiatan penutup berupa kontrol. sehingga H0 ditolak. Retno Hasanah 76 . dan V secara berurutan merupakan tahapan Hasil perhitungan uji-t satu pihak disajikan pada tabel pendahuluan. Grafik pengelolaan pembelajaran levels of inquiry baik Gambar 1 merupakan grafik pengelolaan Data posttest.78 1. Berdasarkan data tersebut. 03 Tahun 2014. kemampuan kognitif siswa. Aspek I. H0 yang ditolak Levels of inquiry yang dilaksanakan pada kegiatan memberikan kesimpulan bahwa pembelajaran pendahuluan berupa discovery learning dan interactive memberikan hasil belajar lebih baik pada kelas demonstration. III. diuji melalui uji-t satu pihak. 03 No. pemberian contoh soal dan penekanan kesimpulan Kemampuan afektif meliputi keterampilan sosial pembelajaran dengan rincian bekerjasama dan berpendapat. III. dan penutup. dan mengerjaan lembar kegiatan siswa. Penilaian dilakukan pada saat mengikuti penyelidikan atas masalah-masalah yang dimaksudkan. yang merupakan representasi dari pembelajaran levels of inquiry dengan tahapan I. lebih baik dari pada kelas kontrol.67 H0 Ditolak kemampuan guru mengelola kelas memperoleh kategori Replikasi 2 1.49 1. kegiatan inti. Berikut merupakan grafik pengelolaan pembelajaran levels of inquiry: Gambar 2. penutup. dan IV merupakan bagian Penggabungan dengan Kelas thitung ttabel Kriteria dari pengamatan aspek kemampuan guru mengelola Kontrol kelas. Pada pelaksanaan penelitian. replikasi 1.67 H0 Ditolak antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran. pembelajaran di kelas. sedangkan aspek V merupakan penilaian Eksperimen 4. II. sekali pada kelas eksperimen dan replikasi 1 serta baik H0 berisi pernyataan hasil belajar kelas eksperimen tidak pada kelas replikasi 2. serta Tahapan inquiry labs dilaksanakan dengan karakter dengan rincian kedisiplinan. Grafik nilai rata-rata kemampuan siswa mengerjakan LKS Berdasarkan grafik pada gambar 2.67 1. inti. tidak diperoleh hasil thitung< ttabel sedangkan antusiasme siswa memperoleh kategori baik pada kelas eksperimen dan replikasi. IV.

Grafik persentase respons siswa terhadap pembelajaran semua kelas memperoleh nilai afektif rata-rata dengan Berikut ini merupakan gambaran singkat pernyataan kategori baik sekali. hal ini karena mengenai hubungan antara pembelajaran yang siswa pada kelas kontrol cenderung kurang disiplin berorientasi levels of inquiry dengan penyelesaian soal. 03 No. Konsepsi diri „lebih tertantang mengerjakan kegiatan laboratorium‟ 8. Grafik hasil belajar siswa ranah afektif Hasil belajar di atas jika dikonversikan dengan analisis yang disebutkan pada bab sebelumnya. kategori nilai psikomotor siswa pada semua kelas PENUTUP berada pada kategori yang sama. Grafik respons siswa ditampilkan pada gambar 5 berikut : Gambar 3.. Konsepsi diri „lebih memahami kegiatan Gambar 4. persentase paling Pada kegiatan merangkai alat. pada dasarnya siswa melakukan berorientasi levels of inquiry dua aktivitas yang dapat diamati pada saat penelitian. Konsepsi diri „dapat menyelesaikan soal dengan mudah‟ 5.Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. Grafik hasil belajar siswa ranah laboratorium‟ psikomotor Berdasarkan grafik pada gambar 5. tetapi. yakni mengenai persepsi dengan kelas eksperimen dan replikasi. Grafik kemampuan psikomotor 3. Konsepsi diri „motivasi belajar yang lebih tinggi‟ 6. 03 Tahun 2014. Ketertarikan siswa pada pembelajaran yakni merangkai alat dan bahan percobaan serta 2. Data respons siswa levels of inquiry di kelas eksperimen dengan kategori baik diperoleh melalui lembar angket respons siswa yang Maria Chandra Sutarja. yakni baik sekali Simpulan Respons siswa berhubungan dengan konsepsi siswa Berdasarkan analisis dan pembahasan. sehingga tidak siswa terkait hubungan antara levels of inquiry dengan melakukan kegiatan dengan proses yang maksimal. diperoleh hasil atas dirinya terhadap pembelajaran yang berorientasi penilaian pengelolaan pembelajaran yang berorientasi levels of inquiry yang diberikan. 1. dalam lembar respons siswa terhadap pembelajaran Secara garis besar. Konsepsi diri ‟lebih berani menyampaikan pendapat‟ 7. Retno Hasanah 77 . (susah diatur) dan mengerjakan lembar kegiatan siswa Adapun kategori baik sekali pada ketiga kelas terdapat dengan antusiasme yang lebih rendah dibandingkan pada pernyataan ke-7 dan ke-8. maka Gambar 5. Konsepsi diri „lebih aktif‟ saat pembelajaran melakukan pengukuran. kelas kontrol rendah pada ketiga kelas berada pada pernyataan memperoleh nilai yang cukup ekstrem. Akan kegiatan laboratorium. Konsepsi diri „memahami lebih mudah‟ siswa disajikan pada gambar 4 berikut: 4. 72-79 ISSN: 2302-4496 diberikan setelah pembelajaran.

49. Berdasarkan data bahwa respons terendah siswa berada pada hasil tersebut. 03 No. dengan pemecahan soal-soal pun dapat mengatasi ttabel sebesar 1. kemudian dilanjutkan dengan A. Soal pada Sub Pokok Materi Fluida Statis di SMA Negeri 1 berorientasi levels of inquiry yang diberikan berupa soal Krian” Maria Chandra Sutarja (2014). sebagaimana yang ditunjukkan pada hasil sehingga baik pada ranah afektif maupun psikomotor. Latihan satu pihak memperoleh nilai thitung sebesar 4. Respons tersebut disebabkan oleh antusiasme yang baik sekali dari para siswa. peneliti DAFTAR PUSTAKA memberikan saran untuk memberikan latihan soal-soal Jurnal ini tidak terlepas dari penulisan skripsi yang pada setiap akhir pembelajaran. keadaan siswa yang belum terbiasa dengan proses Hasil belajar siswa yang dianalisis menggunakan uji-t pembelajaran yang berorientasi pada inquiry. siswa akan lebih disiplin dalam melaksanakan proses Kelas eksperimen menerapkan pembelajaran yang pembelajaran. sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa UCAPAN TERIMA KASIH SMA Negeri 1 Krian dapat melakukan proses Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing. Berdasarkan refleksi atas hasil penelitian. yang pembelajaran yang berorientasi pada levels of inquiry berorientasi pada cookbook laboratory. Penelitian pendahuluan. Profile of Student’s Experiment Abilities fter Laboratory by Inquiry Applied in Their pemberian latihan pemecahan soal yang berorientasi pada First Experiment Activity. dan Universitas Negeri dengan respons yang baik. 03 Tahun 2014. siswa SMAN 1 Krian. karena kompleksitas menerapkan pembelajaran konvensional. soal-soal problem solving.. pembelajaran yang berorientasi pada levels of inquiry biro skripsi. belajar siswa kelas replikasi 2. hasil belajar kelas eksperimen dan hasil belajar kelas Respons siswa terhadap pembelajaran berorientasi replikasi 1. Kedisiplinan siswa merupakan hal yang berorientasi pada levels of inquiry dan kelas kontrol penting dalam proses pembelajaran. Surabaya yang telah membantu sehingga penelitian ini Saran terselesaikan. perlu dilaksanakan tersedia di Maria Chandra Sutarja. dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pernyataan mengenai pembelajaran berorientasi levels of yang berorientasi pada levels of inquiry di SMA Negeri 1 inquiry yang dapat membuat siswa lebih mudah Krian dapat berjalan dengan baik dan memperoleh menyelesaikan soal. Ranah psikomotor dengan baik akan memperoleh hasil belajar yang kurang kedua kelas tersebut pun berada pada kategori baik sekali. Selain itu. eksperimen lebih baik daripada hasil belajar kelas kontrol. Nilai ttabel yang tidak lebih besar dari ketidakdisiplinan siswa. Hasil belajar menuntut siswa untuk mengikuti proses pembelajaran ranah afektif pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan baik. Soal yang diberikan berjudul: “Penerapan Pembelajaran yang Berorientasi berorientasi pada proses kegiatan pembelajaran levels of pada Levels of Inquiry Terhadap Hasil Belajar Siswa inquiry dan berorientasi pada problem solving. karena jika siswa diberikan thitung memberikan kesimpulan bahwa hasil belajar kelas latihan pemecahan soal pada tiap akhir pembelajaran.. maksimal. Retno Hasanah 78 . Hasil belajar yang siswa kelas eksperimen dan kontrol memiliki kemampuan diperoleh kelas replikasi 2 lebih rendah dibandingkan pada kategori yang sejajar. Siswa yang tidak melaksanakan proses memperoleh kategori baik sekali. karena sikap siswa yang kurang disiplin levels of inquiry pada kelas eksperimen memperoleh dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini disarankan berdasarkan kelas yang terkait dengan antusiasme siswa. kategori baik.Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol.W. dkk. Bagus M. 72-79 ISSN: 2302-4496 pada aspek penilaian kemampuan guru sebagai peneliti quiz sekaligus pembahasan soal-soal sebelum dalam mengelola kelas dan baik sekali pada aspek suasana melaksanakan posttest.67. uraian yang terkait dengan kegiatan laboratorium dan Adapun referensi yang digunakan dalam artikel ini penemuan konsep berdasarkan kegiatan laboratorium adalah sebagai berikut: yang dilaksanakan.

Bandung : Alfabeta Wenning. Carl J (2005). Journal Of Physics Teacher Education Online 6 (2). The Levels of Inquiry Model of Science Teaching. Carl J (2011). Retno Hasanah 79 . 2012. 03 Tahun 2014. (Online).phy. 9-15.edu/pte/publications/levels_of_i nquiry. 3-11.pdf (18 April 2013) Maria Chandra Sutarja.phy.Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Metodologi Penelitian. Surabaya : Unipress Riduwan.edu/pte/publications/LOI-model- of-science-teaching. 03 No.ilstu. Journal Of Physics Teacher Education Online 2 (3). tersedia di : http://www. Levels of inquiry : Hierarchies of pedagogical practices and inquiry processes.ilstu. Tersedia di: http://www.pdf (4 April 2013) Wenning. (Online). 72-79 ISSN: 2302-4496 Prabowo. 2011.