You are on page 1of 25

Tugas Referat THT-KL

OTITIS MEDIA AKUT

Oleh:
Ladysa Ashadita G99161116
Rianita Palupi G99161081
Gregorius Toga Panji A G99161046
Alexander Adi Andra U G99161011
Syayma Karimah G99161096
Monica Fradisha Z G99161061

Pembimbing:
dr. Novi Primadewi, Sp.THT-KL, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2017

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peradangan pada telinga tengah dapat dilihat dari membran timpani.
Membran timpani merupakan sebuah kerucut yang tidak teratur, puncaknya
dibentuk oleh umbo. Dari umbo bermula suatu reflek cahaya ke arah bawah
yaitu pada pukul 7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk membran
timpani kanan. Membran timpani dibagi menjadi 4 kuadran, dengan menarik
garis searah dengan prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada
garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian atas-depan, atas-belakang,
bawah-depan serta bawah-belakang, untuk menyatakan letak perforasi
membran timpani. Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang
pendengaran yaitu maleus, inkus dan stapes.
Sumbatan pada tuba Eustachius merupakan faktor utama penyebab
terjadinya OMA (Otitis Media Akut). Tuba eustachius meluas sekitar 35 mm
dari sisi anterior rongga timpani ke sisi posterior nasofaring dan berfungsi
untuk ventilasi, membersihkan dan melindungi telinga tengah. Lapisan
mukosa tuba dipenuhi oleh sel mukosiliar, penting untuk fungsi
pembersihannya. Bagian dua pertiga antromedial dari tuba Eustachius berisi
fibrokartilaginosa, sedangkan sisanya adalah tulang. Dalam keadaan istirahat,
tuba tertutup. Pembukaan tuba dilakukan oleh otot tensor veli palatini,
dipersarafi oleh saraf trigeminal. Pada anak, tuba lebih pendek, lebih lebar
dan lebih horizontal dari tuba orang dewasa.

B. Rumusan Masalah
1. Apa etiologi otitis media akut?
2. Bagaimana patofisiologi otitis media akut?
3. Apa manifestasi klinis otitis media akut?
4. Bagaimana cara mendiagnosis otitis media akut?
5. Apa saja komplikasi dari otitis media akut?

tuba eustachius. Di Indonesia sendiri. Dalam bidang penelitian dapat digunakan sebagai titik tolak penelitian selanjutnya. terapi. antrum mastoid. 2014). B. terapi. diagnosis. Definisi Otitis media akut (OMA) adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. dan sel-sel mastoid yang terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu (PB IDI. diagnosis. Dalam bidang pelayanan dapat digunakan sebagai asupan dalam upaya pencegahan terjadinya pada penderita otitis media akut. patofisiologi. patofisiologi. insidensi. Tujuan Mengetahui definisi. 3. 2. Manfaat 1. Prevalensi Di Amerika Serikat 70% anak–anak mengalami ≥ 1 kali serangan OMA sebelum usia 2 tahun. Dalam bidang pendidikan dapat menambah pengetahuan tentang definisi. Bagaimana penatalaksanaan otitis media akut? 7. Bagaimana prognosis otitis media akut? C. etiologi. belum ada data akurat yang menunjukkan angka kejadian. komplikasi. D. . manifestasi klinik. BAB II PENDAHULUAN A. etiologi. dan prognosi sotitis media akut. manifestasi klinik. maupun prevalensi OMA. komplikasi. OMA merupakan penyakit yang sering dijumpai dalam praktik sehari-hari yang umumnya diawali dengan infeksi virus pada saluran pernapasan atas yang kemudian diikuti oleh invasi bakteri piogenik di telinga tengah. dan prognosis otitis media akut. 6.

Menurut penelitian. Jenis mikroorganisme yang dijumpai pada orang dewasa juga sama dengan yang dijumpai pada anak-anak. yang merupakan salah satu gangguan pendengaran. lebar. yaitu Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK). diikuti oleh Haemophilus influenzae (25- 30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%). Tiga jenis bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae (40%). Kasus lain tergolong sebagai non-patogenik karena tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. riwayat OMA pada keluarga. C. . Kondisi ini disebabkan oleh posisi tuba Eustachius anak pada fase perkembangan telinga tengah cenderung lebih pendek. dan aliran balik dari lambung dan esophagus (Mamonto et al.. pajanan pada asap lingkungan. Staphylococcus aureus. dan organisme gram negatif. sebab OMA yang tidak ditangani secara adekuat dan tetap bertahan dapat berkembang menjadi bentuk yang lebih serius. polusi iritan dan bahan -bahan alergen. Tingginya kasus OMA di Indonesia ini perlu menjadi perhatian khusus. Staphylococcus aureus dan organisme gram negatif banyak ditemukan pada anak dan neonatus yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Kira-kira 5% kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus pyogenes (group A beta- hemolytic). penurunan sistem imun. Usia merupakan salah satu faktor risiko yang cukup berkaitan dengan OMA. 2015). dan terletak horizontal. 65-75% kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi bakteri terhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah. kurangnya waktu pemberian ASI esklusif dan pemberian makan dalam posisi terlentang pada anak. Haemophilus influenzae sering dijumpai pada anak balita. Pada anak-anak berusia 6 tahun ditemukan prevalensi OMA sebesar 4%. Kasus OMA sangat banyak terjadi pada anak –anak dibandingkan dengan kalangan usia lainnya. Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko OMA yaitu infeksi saluran napas atas. Etiologi Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. kelainan kepala dan wajah.

Virus akan membawa dampak buruk terhadap fungsi tuba Eustachius. seperti alergi. disfungsi siliar. virus-virus dapat diisolasi dari cairan telinga tengah pada anak yang menderita OMA pada 75% kasus (Burrows et al. adenoid pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa dan sering terinfeksi sehingga infeksi dapat menyebar ke telinga tengah. penyakit hidung dan/atau sinus.. Virus dapat dijumpai tersendiri atau bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. menurunkan efisiensi obat antimikroba dengan menganggu mekanisme farmakokinetiknya. Pencetus terjadinya OMA adalah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). yang menyebabkan transudasi cairan hingga supurasi. Beberapa faktor lain mungkin juga berhubungan dengan terjadinya penyakit telinga tengah. 3. Pada bayi dan anak terjadinya OMA dipermudah karena: 1. Kira-kira 10-15% dijumpai parainfluenza virus. influenza virus. atau adenovirus (sebanyak 30-40%). yaitu respiratory syncytial virus (RSV). Makin sering anak-anak terserang ISPA. dan letaknya agak horizontal. lebar. meningkatkan adhesi bakteri. Sumbatan pada tuba Eustachius merupakan faktor utama penyebab terjadinya penyakit ini. Virus yang paling sering dijumpai pada anak-anak. menganggu fungsi imun lokal.. sistem kekebalan tubuh masih dalam perkembangan. Virus juga merupakan penyebab OMA. 2010). 2013). dan kelainan sistem imun (Munilson et al. rhinovirus atau enterovirus. makin besar kemungkinan terjadinya OMA. . terganggu pula pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah sehingga kuman masuk dan terjadi peradangan. D. Gangguan fungsi tuba Eustachius ini menyebabkan terjadinya tekanan negatif di telingah tengah. Dengan menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR) dan virus specific enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA). morfologi tuba eustachius yang pendek. Patofisiologi Otitis media akut terjadi karena terganggunya faktor pertahanan tubuh. Dengan terganggunya fungsi tuba Eustachius. 2.

Efusi mungkin telah terjadi tetapi tidak dapat dideteksi. Edema yang terjadi pada tuba Eustachius juga menyebabkantersumbat. Stadium ini sulit dibedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan oleh virus dan alergi. refleks cahaya juga berkurang. Selain retraksi. Stadium Oklusi Tuba Eustachius Pada stadium ini. Tidak terjadi demam pada stadium ini. Adapun stadium OMA sebagai berikut: 1. Manifestasi Klinis Gejala klinis OMA bergantung pada stadium. terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan intratimpani negatif di dalam telinga tengah. dengan adanya absorpsi udara. Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-supurasi . membran timpani kadang- kadang tetap normal dan tidak ada kelainan. Retraksi membran timpani menyebabkan posisi malleus menjadi lebih horizontal. atau hanya berwarna keruh pucat. 2.E.

Terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani menyebabkan membran timpani menonjol atau bulging ke arah liang telinga luar. Hal ini terjadi karena terdapat tekanan udara yang meningkat di kavum timpani. terjadi pelebaran pembuluh darah di membran timpani. Pada . Pada stadium ini. Selain itu edema pada mukosa telinga tengah menjadi makin hebat dan sel epitel superfisial terhancur. edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat. Hiperemis disebabkan oleh oklusi tuba yang berpanjangan sehingga terjadinya invasi oleh mikroorganisme piogenik. telinga rasa penuh dan demam. tergantung dari cepatnya proses hiperemis. Gejala-gejala berkisar antara dua belas jam sampai dengan satu hari. Stadium ini merupakan tanda infeksi bakteri yang menyebabkan pasien mengeluhkan otalgia. Stadium Supurasi Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen atau bernanah di telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid. Pendengaran mungkin masih normal atau terjadi gangguan ringan. Proses inflamasi berlaku di telinga tengah dan membran timpani menjadi kongesti. 3. yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis.

akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. Pasien selalu gelisah dan tidak dapat tidur nyenyak. 4. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan atau yellow spot. Terjadi penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena- vena kecil. Pada bayi demam tinggi dapat disertai muntah dan kejang. Stadium Perforasi . pasien akan tampak sangat sakit. lalu menimbulkan nekrosis. Dapat disertai dengan gangguan pendengaran konduktif. nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Bedah kecil ini kita lakukan dengan menjalankan insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. sedangkan apabila terjadi ruptur. Luka insisi pada membran timpani akan menutup kembali. sehingga tekanan kapiler membran timpani meningkat. lubang tempat perforasi lebih sulit menutup kembali. keadaan ini. Keadaan stadium supurasi dapat ditangani dengan melakukan miringotomi. Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan iskemia membran timpani.

Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga secret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Apabila stadium resolusi gagal terjadi. daya tahan tubuh baik. Kegagalan stadium . Stadium Resolusi Keadaan ini merupakan stadium akhir OMA yang diawali dengan berkurangnya dan berhentinya otore. maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik 5. dan virulensi kuman rendah. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih satu setengah sampai dengan dua bulan. anak berubah menjadi lebih tenang. Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman Setelah nanah keluar. Jika membran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret atau nanah tetap berlangsung melebihi tiga minggu. suhu tubuh menurun dan dapat tertidur nyenyak. Stadium ini berlangsung walaupun tanpa pengobatan. Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen akan berkurang dan akhirnya kering. jika membran timpani masih utuh. maka akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik. Pendengaran kembali normal.

kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit. seperti otoskop. Pada anak – anak umumnya keluhan berupa rasa nyeri di telinga dan demam. Ditemukannya tanda efusi di telinga tengah. Diagnosis Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut: 1. perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan atau agak kuning dan suram. F. yang dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut: kemerahan pada gendang telinga. anak gelisah dan sukar tidur. 2. Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya. Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani.Penyakitnya muncul mendadak (akut). Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan telinga terasa penuh. Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien. diare. Adanya tanda / gejala peradangan telinga tengah. Otitis media akut. Jika konfirmasi diperlukan. terbatas / tidak adanya gerakan gendang telinga. Diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut: menggembungnya gendang telinga. 3. Otitis media supuratif akut dapat menimbulkan gejala sisa berupa otitis media serosa. otoskop pneumatik. adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga. Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang menggembung. tampak membran timpani eritem dan bulging. Beberapa teknik pemeriksaan dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis OMA. . ini berupa perforasi membran timpani menetap. Pada bayi gejala khas adalah panas yang tinggi. serta cairan di liang telinga. dengan sekret yang keluar secara terus-menerus atau hilang timbul. nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal. cairan yang keluar dari telinga. dan timpanosintesis. timpanometri.

Gerakan gendang telinga yang berkurang atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini. Gerakan gendang telinga yang berkurang atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini. Timpanosintesis merupakan standar emas untuk menunjukkan adanya cairan di telinga tengah dan untuk mengidentifikasi patogen yang spesifik. Untuk mengkonfirmasi penemuan otoskopi pneumatik dilakukan timpanometri. diikuti aspirasi dan kultur cairan dari telinga tengah. umumnya dilakukan dengan otoskopi pneumatik. Namun umumnya diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan otoskop biasa. Timpanometri punya sensitivitas dan spesifisitas 70-90% untuk deteksi cairan telinga tengah. diikuti aspirasi dan kultur cairan dari telinga tengah. Timpanometri dapat memeriksa secara objektif mobilitas membran timpani dan rantai tulang pendengaran. tetapi tergantung kerjasama pasien.umumnya dilakukan dengan otoskopi pneumatik. bermanfaat pada anak yang jika konfirmasi diperlukan. bermanfaat pada anak yang gagal diterapi dengan berbagai antibiotika. Pemeriksaan ini meningkatkan sensitivitas diagnosis OMA. tetapi tergantung kerjasama pasien. Timpanometri merupakan konfirmasi penting terdapatnya cairan di telinga tengah. Timpanosintesis. OMA dapat diklasifikasi menjadi OMA berat dan tidak berat. Pemeriksaan ini meningkatkan sensitivitas diagnosis OMA. OMA berat apabila terdapat otalgia . Menurut beratnya gejala. Timpanometri juga dapat mengukur tekanan telinga tengah dan dengan mudah menilai patensi tabung miringotomi dengan mengukur peningkatan volume liang telinga luar. Timpanometri dapat memeriksa secara objektif mobilitas membran timpani dan rantai tulang pendengaran. Timpanometri juga dapat mengukur tekanan telinga tengah dan dengan mudah menilai patensi tabung miringotomi dengan mengukur peningkatan volume liang telinga luar. Namun umumnya diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan otoskop biasa. Untuk mengkonfirmasi penemuan otoskopi pneumatik dilakukan timpanometri. atau pada imunodefisiensi. Timpanosintesis. Timpanometri merupakan konfirmasi penting terdapatnya cairan di telinga tengah. Timpanometri punya sensitivitas dan spesifisitas 70-90% untuk deteksi cairan telinga tengah.

sedang sampai berat. dan intracranial (abses otak. Komplikasi Sebelum adanya antibiotik. sehingga memungkinkan terjadinya penjalaran infeksi ke struktur di sekitarnya. mampu melokalisasi infeksi yang terjadi. paresis nervus fasialis. tromboflebitis) (Titisari. tromboflebitis sinus lateralis. Bila ke arah kranial. OMA dapat menimbulkan komplikasi. ekstratemporal (abses subperiosteal). G. Bila sawar tulang terlampaui. sedangkan pada kasus yang kronis penyebarannya melalui erosi tulang. mulai dari abses subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. mastoiditis akut. Komplikasi OMA terbagi kepada komplikasi intratemporal (perforasi membran timpani. Sekarang semua jenis komplikasi tersebut biasanya didapat pada otitis media supuratif kronik. 2005). Pertahanan pertama tersebut adalah mukosa kavum timpani yang juga seperti mukosa saluran pernapasan. petrositis). misalnya melalui fenestra rotundum. dan duktus endolimfatik (Revai. Sedangkan OMA tidak berat apabila terdapat otalgia ringan dan demam dengan suhu kurang dari 39oC oral atau 39. duktus perilimfatik. atau tidak demam. . Komplikasi otitis media terjadi apabila sawar (barrier) pertahanan telinga tengah yang normal dilewati. maka struktur lunak di sekitarnya akan terkena. meatus akustikus internus. suatu dinding pertahanan ketiga akan terbentuk yaitu jaringan granulasi. Runtuhnya periosteum akan menyebabkan terjadinya abses subperiosteal. 2010). Cara penyebaran yang lain adalah melalui jalan yang telah ada sebelumnya.2007). akan menyebabkan abses ekstradural.5oC rektal. labirinitis. Bila sawar tersebut runtuh. meningitis dan abses otak (Munilson et al. atau keduanya.5oC rektal. yaitu suatu komplikasi yang relatif tidak berbahaya. Penyebaran otitis media supuratif akut atau suatu eksaserbasi akut biasanya melalui tromboflebitis (hematogen).. atau demam dengan suhu lebih atau sama dengan 39 oC oral atau 39.

Labirin juga dapat dianggap sebagai jalan penyebaran yang sudah ada begitu telah terinfeksi. seperti garis fraktur tulang temporal. bagian tulang yang lemah atau defek karena pembedahan. Melalui akibat dari pembedahan lain. dapat memudahkan masuknya infeksi. Melalui jalur anatomi normal. b. e. Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial harus melewati 3 macam lintasan (Revai et al. foramen ovale atau melingkar ke dalam meatus akustikus internus. koklea. yaitu defek tulang yang disebabkan oleh trauma. Kedalam jaringan otak sepanjang celah periarteolar. Perluasan melalui tulang yang mengalami demineralisasi pada infeksi akut. dan aquaductus vestibularis. Menembus selaput otak. atau tulang yang diresorpsi oleh kolesteatom atau osteitis pada penyakit kronis. menyebabkan mudahnya infeksi ke fosa kranii media. Dari rongga telinga tengah ke selaput otak 2. Penyebaran ke selaput otak dapat terjadi akibat dari beberapa faktor. Tromboflebitis pada susunan kanal haversian merupakan osteitis atau osteomielitis dan merupakan faktor utama penyebaran menembus sawar tulang daerah mastoid dan telinga tengah. Dura sangat resisten terhadap penyebaran . ada beberapa kemungkinan jalur yang dilalui untuk sampai di organ target. yaitu (soepardi et al. 2007): 1. Baik akut maupun kronik. atau oleh erosi neoplasma. d. 2010): a. f. melalui jalan yang sudah ada. Jalan lain penyebaran ialah melalui tromboflebitis vena emisaria menembus dinding mastoid ke dura dan sinus durameter. Penyebaran infeksi dengan vena-vena kecil yang melalui tulang dan dura ke sinus venosus – lateral dan petrosal superior – dan ke dalam struktur intrakranial. pembedahan. misalnya pada operasi stapedectomy. Melalui anatomi yang tidak normal. menyebabkan pakimeningitis. 3. Masuk kejaringan otak. Penyebaran menembus selaput otak dimulai begitu penyakit mencapai dura. c.

Perjalanan penyakit dapat terhenti pada stadium ini atau berkembang terus ke stadium seluler dengan efusi leukosit ke dalam cairan spinal. Tanda-tanda tersebut adalah kaku kuduk. Terjadinya meningitis biasanya dibagi menjadi tiga stadium: serosa. J.E. dan bakterial. koliform. Pada waktu kuman menyerang biasanya streptokokkus. hiperemi. Pada waktu organisme menyerang. dan lebih melekat ketulang. menginvasi ruang sub arachnoid. Cara penyebaran infeksi ke jaringan otak ini dapat terjadi baik akibat tromboflebitis atau perluasan infeksi ke ruang Virchow Robin yang berakhir didaerah vaskular subkortek. pia-arachnoid bereaksi dengan mengadakan eksudasi cairan serosa yang menyebabkan peningkatan ringan tekanan cairan spinal. demam ringan . akan menebal.infeksi. atau piokokus. jarang melalui tromboflebitis. atau stafilokokkus atau kuman yang lebih jarang H. gelisah. pia arachnoid akan bereaksi dengan mengadakan eksudasi cairan serosa yang menyebabkan peningkatan ringan tekanan cairan spinal. yang derajatnya bisa ringan sampai hiperekstensi leher yang kaku: tanda kernig yaitu ketidak mampuan mengekstensikan tungkai dalam posisi sendi paha yang fleksi akibat rasa nyeri di punggung dan tanda brudzinski yaitu fleksi sendi lutut waktu kepala pasien dicoba difleksikan. dan menginvasi ruang subaraknoid. Meningitis(Kerschner.. 2007) Meningitis dapat terjadi disetiap saat dalam perjalanan komplikasi infeksi telinga. terjadi peninggian kadar protein. seluler. Jaringan granulasi terbentuk pada dura yang terbuka. dan penurunan kadar klorida dan glukosa. Komplikasi intrakranial: a. Nyeri . Jalan penyebaran yang biasa terjadi yaitu melalui penyebaran langsung. dan tanda positif ringan suatu rangsangan meningeal. dan ruang subdura yang berdekatan terobliterasi. Influenza. Secara klinik hal ini ditandai dengan gejala antara lain nyeri kepala ringan. pneumokokkus. Pembentukan abses biasanya terjadi pada daerah diantara ventrikel dan permukaan korteks atau tengah lobus serebelum.

tergantung pada sisi yang terkena. Gajala kelainan SSP dapat berupa kejang. hemiplegia dan pada pemeriksaan terdapat tanda kernig’s sign positif. Bila terjadi harus dianggap keadaan gawat darurat bedah saraf. Abses subdural (Dhingra. trombosis sinus sigmoid dan abses otak (lobus temporal atau serebelar. nyeri kepala. Reaksi tubuh dapat menyebabkan timbulnya sekat-sekat atau obliterasi akibat perlengketan dura ke pia-arakhnoid. akibat digunakan oleh bakteri. dan mengantuk kemudian timbul fotofobia. dengan periode delirium. karena harus mendapatkan pembedahan segera untuk mencegah kematian. terutama pada anak. tetapi juga dengan menurunnya kadar glukoa cairan spinal yang kadang-kadang sampai nol. dan penurunan kesadaran sampai koma pada pasien OMSK. Efusi purulen terkumpul dengan cepat di ruang sub dura pada seluruh belahan otak ipsilateral meluas ke arah atau ke dalam falks serebri. dan menarik diri dari stimulasi sentuhan. c. Abses epidural jika tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan meningitis.kepala bertambah. Abses ekstradural(Dhingra. . Hal ini ditandai dengan bukan saja ditemukannya kuman di dalam cairan atau kultur. muntah-muntah dan hiperiritabilitas serebral. b. 2007) Abses ekstradural ialah terkumpulnya nanah diantara durameter dan tulang yang menutupi rongga mastoid atau telinga tengah. Sekarang sudah jarang ditemukan. Hiperiritabilitas akan berlanjut menjadi somnolen dan koma. bingung. Opistotonus sering kali terjadi pada stadium lanjut ini. 2007) Abses subdural merupakan stadium supurasi dari pekimeningitis interna. Demam terus meninggi mencapai 39 sampai 40oC biasanya dengan nadi yang lambat. Pada otitis media supuratif kronis keadaan ini berhubungan dengan jaringan granulasi dan kolesteatom. Stadium bakterial terjadi pada waktu terlihat jelas ada nanah di cairan spinal. Gejala klinis dapat berupa demam.

dimana pada dindingnya terbentuk fibrosis dan . 2007) Sebagai komplikasi otitis media dan mastoiditis. Komplikasi ini sering ditemukan pada zaman pra-antibiotik. Pada mulanya suhu tubuh turun naik. menyebabkan timbulnya nekrosis dan liquefaksi. 2007) Invasi infeksi ke sinus sigmoid ketika melewati tulang sigmoid akan menyebabkan terjadinya trombosis sinus lateralis. Jalur utama yaitu melalui erosi tulang akibat mastoiditis dan kolesteatoma dengan pembentukan jaringan granulasi perisinus atau abses. tetapi kini sudah jarang terjadi. Serebritis lokal (ensefalitis). tetapi setelah penyakit menjadi berat didapatkan kurve suhu yang naik turun dengan sangat curam disertai dengan menggigil. Abses otak (Revai et al. Suatu abses epidural biasanya terbentuk mendahului abses otak. Demam yang tidak dapat diterangkan penyebabnya merupakan tanda pertama dari infeksi pembuluh darah. kecuali bila sudah terdapat abses perisinus. Abses otak biasanya terbentuk sebagai perluasan langsung infeksi telinga atau tromboflebitis. Gejalanya terutama berupa nyeri telinga dan kepala yang berat. dapat dilihat kerusakan di lempeng tegmen (tegmen plate) yang menandakan tertembusnya tegmen. abses otak dapat timbul di serebellum di fossa kranii posterior. e. terbentuk trombus mural yang membesar secara progresif. Tromboflebitis sinus lateral(Revai et al. trombus mengalami perlusan retrograd kedaerah vena jugular. atau pada lobus temporal di fossa kranii media. Infeksi mencapai dinding dalam sinus. d. Kondisi ini menginduksi peradangan pada dinding luar sinus dural. Pada umumnya abses ini baru diketahui pada waktu operasi mastoidektomi. Rasa nyeri biasanya tidak jelas. Sejalan dengan progresifitas infeksi. Kurve suhu demikian menandakan adanya sepsis. melintasi sinus petrosus hingga ke daerah sinus cavernosus. Dengan foto rontgen mastoid yang baik terutama posisi schuller.

Tanda dari abses temporal tergantung dari apakah sisi yang dominan terkena. Gejala fokal akan bervariasi tergantung daerah dan tingkat penyakit. Abses lobus temporal sisi dominan biasanya disertai afasia partial atau total. diantaranya yaitu dari spesies streptokokus dan stapilokokus. muntah serta letargi. diplopia. mual dan muntah Keadaan ini diperkirakan disebabkan oleh tertekannya sinus lateralis . bakteri gram negatif seperti pseudomonas. Gejala umum abses serebri adalah gejala proses desak ruang ditambah gejala infeksi.Pada kasus yang progresivitas penyakitnya berlangsung cepat. sebagai tanda yang nyata suatu abses otak ialah nadi yang lambat serta kejang.jaringan granulasi. sakit kepala dan muntah. Gejala berupa nyeri kepala hebat yang menetap. proteus dan Escherichia coli serta bakteri -bakteri anaerob. atau herniasi tonsil serebelum Yang ditandai dengan fiksasi dan dilatasi pupil. Selain itu. dapat terjadi herniasi tentoria. meskipun pada abses yang sangat besar. berupa nyeri kepala. Abses dapat mengalami ruptur ke daerah ventrikel dan rongga subarachnoid. Hidrosefalus otitis (Dhingra. 2007) Kelainan ini berupa peningkatan tekanan intrakranial dengan temuan cairan serebrospinal yang normal. dan akhirnya paralisis pernafasan. lambat dan kasar. Gejala lain yang menunjukan adanya toksisitas. f. Keadaan ini dapat menyertai otitis media akut atau kronis. Pada umurnnya organisme penyebab abses sangat beragam. Pada pemeriksaan terdapat edema papil. Tanda yang paling khas adalah nistagmus. akibatnya terjadi meningitis dan berakhir dengan kematian. pandangan yang kabur. Disdiodokokinesis juga ditemukan pada sisi yang terkena. Gejala dan tanda dari suatu abses serebelum dapat sedikit sekali. somnolen dan rasa bingung kadang-kadang disertai dengan delusi dan halusinasi. terjadi peningkatan tekanan intrakranial disertai gejala mual. Nistagmus serebelar adalah nistagmus yang spontan. demam. inkoordinasi dan hilangnya tonus otot.

daerah terinfeksi menjadi lunak. dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat. total atau atik. Labirintitis (Rubin et al. Pemeriksaan penunjang yang dapat diminta adalah. dapat dikeluhkan oleh pasien. tetapi gejala seperti otalgia dan nyeri pada belakang telinga.Terjadinya mastoiditis ini dapat secara akut ataupun kronik. Proses infeksi ini bisa saja murni dapat mengakibatkan Mastoiditis. namun apabila gagal dalam stadium ini maka terjadilah subakut Mastoditis . dimana gejala umunya tidak ditemukan. Setelah 10-14 hari akan terjadi resolusi dari proses infeksi ini. protrusi dari pinna. Gejalanya serupa seperti. Pemeriksaan lainnnya adalah CT-scan kepala. Apabila proses ini terjadi terus-menerus maka dapat mengakibatkan terjadinya Mastoiditis Akut disertai Osteolitis dimana terjadi destruksi tulang trabekula yang memisahkan sel-sel mastoid. 2008) Mastoiditis akut (MA) merupakan perluasan infeksi telinga tengah ke dalam pneumatic system selulae mastoid melalui antrum mastoid. 2008) Labirintitis yang mengenai seluruh bagian labirin disebut labirintitis generalisata . Tidak ada gejala khusus yang membedakan infeksi mastoid oleh karena perluasan otitis media dengan mastoiditis secara umum. Komplikasi Intratemporal Otitis Media: a.yang mengakibatkan kegagalan absorbsi liquor serebrospinal oleh lapisan araknoid. b. Mastoiditis (Rubin et al. serta rasa nyeri yang dikeluhkan oleh pasien dan ditemukan perforasi membran timpani sedang. MRI-kepala dan foto polos kepala. sedangkan labirintitis yang terbatas (labirintitis sirkumskripta) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja. Labirintitis terjadi oleh karena penyebaran . eritema pada daerah mastoid. pembengkakan telinga. pemeriksaan kultur mikrobiologi. Proses apabila tidak diobati dengan cepat maka dapat berkomplikasi secara intratemporal yang lebih luas bahkan dapat mencapai daerah intrakranial.

muntah.Tes fistula akan positif. Gejala dan tanda serangan akut labirintitis adalah vertigo spontan dan nistagmus rotatoar. sedangkan pada labirintitis supuratif terjadi tuli saraf total dan permanen. ditandai dengan tuli total pada telinga yang sakit di ikuti dengan vertigo berat. yaitu akibat produksi toksin bakteri secara lokal atau akibat tekanan langsung terhadap nervus dari kolesteatoma ataupun jaringan granulasi. Labirintitis supuratif difus. Petrositis sendiri merupakan komplikasi yang jarang terjadi.Jika Paralisis nervus fasialis terjadi sebagai komplikasi dari otitis media supuratif kronik. Apeks petrosa dapat pneumatik (berisi udara). biasanya tidak berat . maka tindakan operatif yang segera disertai dengan dekompresi nervus fasialis sangat diindikasikan. serta ditemukan perforasi membran timpani sedang. Perluasan secara langsung dari infeksi di . dan nistagmus spontan ke arah telinga yang sehat. diketahui bahwa perluasan dari mastoiditis ke arah apeks petrosa yang berisi dengan udara. Kadang-kadang disertai mual dan muntah dan tuli sensorineural. Petrositis (Revai et al. 2007) Paralisis fasialis dapat terjadi sebagai komplikasi baik dari akut maupun kronik otitis media. c.infeksi ke ruang perilimfe Terdapat dua bentuk labirintitis yaitu labirintits serosa dan labirintits supuratif. Bila pada labirintitis serosa ketulian menjadi berat atau total maka mungkin telah terjadi perubahan makan menjadi labirintitis supuratif . Pada labirintitis serosa ketulian bersifat temporer. Paralisis Fasialis (Dhingra. Pada bentuk yang akut. diploik (berisi sumsum tulang) ataupun sklerotik (berupa tulang padat). Labirintitis supuratif difus dapat merupakan kelanjutan dari labirintits serosa yang infeksinya masuk melalui tingkap lonjong atau tingkap bulat. 2007) Salah satu dari komplikasi dari otitis media supuratif ini dapat terjadi baik secara akut ataupun kronik. d. total atau atik. biasanya ke arah telinga yang sakit. mual. Ada dua mekanisme dimana otitis media dapat menyebabkan paralisis fasialis.

dekongestan lokal atau sistemik. Gejala dari petrositis biasanya tersamar. maka pemeriksaan MRI dapat menambah informasi tentang cairan ataupun jaringan yang mengisi apeks petrosa. Jika CT-scan mengindikasikan petrositis. dan antipiretik.Pada pemeriksaan fisis pasien petrositis. Pasien dengan supurasi dapat bermanifestasi menjadi beberapa simptom dan tidak satupun yang menjadi tanda patognomonis dari petrositis. biasanya didapatkan riwayat otorea kronik. mengobati gejala. H. diagnosis petrositis ini dapat dipikirkan. total atau attik. Pada pasien dengan riwayat otomastoiditis yang berkepanjangan. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas.Pada penelitian terhadap 8 orang pasien dengan petrositis. tampakan klasik dari petrositis berupa otore berkaitan dengan nyeri retroorbital dan kelumpuhan otot rektus lateralis yang biasanya disebut sebagai Sindrom Gradenigo. Asimetris dari apeks petrosae belum dapat dijadikan sebagai patokan karena hal ini dapat terjadi pada beberapa orang normal. menghindari perforasi membran timpani. Tujuan pengobatan pada otitis media adalah untuk menghindari komplikasi intrakrania dan ekstrakrania yang mungkin terjadi. dan dua pasien dengan gejala meningitis. Oleh karena hubungan yang dekat dengan cabang oftalmikus dari nervus trigeminus dan nervus abdusens dari apeks petrosa. memperbaiki fungsi tuba Eustachius. dan . dua pasien dengan paralisis abdusens. dan infeksi persisten. nyeri fasial yang dalam. Tata laksana a. dengan pemberian antibiotik. empat pasien mengeluh nyeri fasial yang dalam. CT-scan dengan resolusi yang tinggi dapat menunjukkan detail dari apeks petrosae. bagian telinga tengah melalui jalur udara pneumatik tersebut ke apeks petrosa diduga sebagai etiologi dari petroisitis. Kecurigaan terhadap petrositis dapat diklarifikasi dengan CT-scan sebagai modalitas yang terpilih. Penatalaksanaan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. serta ditemukan perforasi membran timpani sedang.

gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan.5 % dalam larutan fisiologik untuk anak kurang dari 12 tahun atau HCl efedrin 1 % dalam larutan fisiologis untuk anak yang berumur atas 12 tahun pada orang dewasa. dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. Jika terjadi resistensi. b. obat tetes hidung dan analgesik. dan perforasi menutup. Pada stadium supurasi. diberikan eritromisin. sekret tidak ada lagi. Bila tidak terjadi resolusi biasanya sekret mengalir di liang telinga luar . pengobatan bertujuan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. e. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup kembali dalam 7 sampai dengan 10 hari. amoksisilin atau eritromisin masing-masing 50 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam 3 dosis. sering terlihat sekret banyak keluar. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. selain diberikan antibiotik. kadang secara berdenyut atau pulsasi. Bila pasien alergi tehadap penisilin. diberikan ampisilin 50-100 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam empat dosis. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung. membran timpani berangsur normal kembali. Pada stadium perforasi. Pada stadium resolusi. c. memperbaiki sistem imum lokal dan sistemik.Pada stadium oklusi tuba. Pada anak. Diberikan obat cuci telinga (ear toilet) H2O2 3% selama 3 sampai dengan 5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Pada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik. d. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0. Sumber infeksi harus diobati dengan pemberian antibiotik.

Pneumococcal 7-valent conjugate vaccine dapat dianjurkan untuk menurunkan prevalensi otitis media. . Ternyata pemberian antibiotik yang segera dan dosis sesuai dapat terhindar dari tejadinya komplikasi supuratif seterusnya. atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua tahun. Bila keadaan ini berterusan. h. Masalah yang muncul adalah risiko terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik meningkat. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan sampai dengan dua tahun. Diagnosis pasti OMA harus memiliki tiga kriteria. Gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam kurang dari 39°C dalam 24 jam terakhir. Observasi dapat dilakukan. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang-berat atau demam 39°C. Amoksisilin efektif terhadap Streptococcus penumoniae. Antibiotik dianjurkan jika gejala tidak membaik dalam dua sampai tiga hari. Second-line terapi seperti amoksisilin-klavulanat efektif terhadap Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis. yaitu bersifat akut. terdapat efusi telinga tengah. mungkin telah terjadi mastoiditis. dan terdapat tanda serta gejala inflamasi telinga tengah. Jika pasien alergi ringan terhadap amoksisilin. dapat diberikan sefalospo rin seperti cefdinir. Amoksisilin merupakan first-line terapi dengan pemberian 80mg/kg BB/hari sebagai terapi antibiotik awal selama lima hari. termasuk Streptococcus penumoniae. melalui perforasi di membran timpani. Sekitar 80% kasus OMA sembuh dalam 3 hari tanpa pemberian antibiotik. g. Antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. dengan gejala ringan saat pemeriksaan. f. Follow-up dilaksanakan dan pemberian analgesia seperti asetaminofen dan ibuprofen tetap diberikan pada masa observasi. atau ada perburukan gejala.

i. Otitis media akut (OMA) merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai dalam praktik sehari-hari. . maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. Prognosis Prognosis quo ad fungsionam dan sanationam adalah dubia ad bonam jika pengobatan adekuat. dan sel-sel mastoid yang terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu. antrum mastoid. Otitis media akut (OMA) secara klinis dapat didefinisikan sebagai peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. tuba eustachius. 2014).Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah. BAB III PENUTUP A. Simpulan 1.OMA dapat menimbulkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi (Depkes.OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul.

dan gangguan fungsi tuba. Bagi petugas medis. alergi. 2. 4. Prinsip penatalaksanaan Otitis Media Akut (OMA) tergantung pada stadium penyakitnya. labirinitis. 3. perjalanan penyakit sangatlah penting untuk diketahui sehingga mampu memikirkan dan menghindarkan berbagai kemungkinan dalam tujuan memberikan penatalaksanan terhadap penyakit tersebut. 2. adanya infeksi. Prognosis Otitis Media Akut (OMA) adalah dubia ad bonam jika pengobatan adekuat. Pada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik. paresis nervus fasialis. faktor risiko dan pencegahan dari penyakit otitis media akut maka dapat menjadi satu langkah preventif yang penting. Pada stadium perforasi diberikan obat cuci telinga dan antibiotik. dekongestan lokal atau sistemik. semoga dapat dijadikan sebagai bahan penelitian dengan memahami referensi artikel ilmiah ataupun berbagia jurnal penilitian yang ada. antibiotik dilanjutkan. dengan mengetahui bagaimana penyebab. Pada stadium supurasi diberikan antibiotik dan dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh. Komplikasi yang dapat terjadi pada Otitis Media Akut (OMA) adalah komplikasi intratemporal (perforasi membran timpani. B. dengan pemberian antibiotik. . Bagi petugas medis seperti dokter atau perawat dalam pelaksanaan penulisan rekam medis dari pasien dapat lebih lengkap dan rinci karena hal tersebut berkaitan dengan kondisi daripada pasien. Otitis Media Akut (OMA) dapat disebabkan oleh faktor lingkungan. 4. tromboflebitis). Bagi kalangan akademis. mastoiditis akut. ekstratemporal (abses subperiosteal). Pada stadium resolusi. 3. Bagi masyarakat umum. 5. Saran 1. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas. obat tetes hidung dan analgesic. dan antipiretik. petrositis). dan intracranial (abses otak.

2014. 205-214. Porotuo J. Rubin.. Soepardi E. Inc.A. M. Klein KC. A. 2008. Jakarta : EGC. J. 2005. dkk. Penatalaksanaan Otitis Media Akut. Prevalensidansensitivitashaemophillus influenza pada otitis media akut di RSCM dan RSAB Harapan Kita. Gonzales. Bukuajarilmukesehatan THT. Pola Bakteri Aerob pada Pasien dengan Diagnosis Otitis Media Supuratif Akut di Poliklinik THT KL RSUP Prof DR RD Kandou Manado.Boies. Jakarta. Edward Y..E. Yolazenia. Guidelines for Clinical Ambulatory: Otitis Media.42/p3d/data/download/ PPK-Dokter-di- Fasyankes-Primer. Lawrence R. Burrows HL.. Blackwood RA. Diunduh dari http://180. dr. UMHS Otitis Media Guideline: University of Michigan Health System. Sinusitis. dan Peter A.A. USA: Saunders Elsevier. Harrysons’s Principles of Internal Medicine.1997PB IDI. EmbriologiAnatomidanFisiologiTelingadanPenyakitTelinga Tengah danMastoid. Cooke JM. 2010. Edisi VI.. Balaipenerbit FKUI. George L. Fakultaskedokteran UI.. 4thEd. 2007. hanekung. 3 (1): 269-273. USA: McGraw-Hill Companies. Dobbs. Munilson J. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jurnal e-Biomedik (eBm).. A. Waworuntu O.A. and Other Upper Respiratory Tract Infections. Nair. Grady. L. Titisari. Nelson Textbook of Pediatrics. Harrison RV. In: Fauci. Otitis. Patel. Disease of Ear Nose and Throat. 2013.. K.. 2010. 18th ed. 2007.. Harmes KM.131.250.New Delhi.. Passmani PP. J. R.J.A. Incidence of Acute Otitis Media and Sinusitis Complicating Upper Respiratory Tract Infection: The Effect of Age. R. ed. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas: Padang. India : Elsevier. Prof. J. Mamonto ND. Sande. Otitis Media. 2007. Pharyngitis. Pediatrics 119 (6). Dhingra PL. Jakarta.M. 17th ed. In: Kliegman. Revai. . M.S.. T.BOIESBuku Ajar Penyakit THT. S. DAFTAR PUSTAKA Adam.. Chonmaitree.pdf pada April 2017. Kerschner. 2015..Higler. ed.