You are on page 1of 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak ditemukan AIDS pada tahun 1981, IMS yang belum dapat
disembuhkan terutama IMS yang disebabkan oleh virus mendapat perhatian
besar, misalnya herpes genitalis, kondilomata akuminata, dan AIDS. Dengan
kemajuan iptek, sarana diagnostik menjadi lebih baik sehingga kemampuan
untuk deteksi dini termasuk infeksi subklinis serta sumber penyakit dapat
diketahui. Hal ini mengakibatkan peningkatan relatif insidens penyakit infeksi
terutama infeksi virus.
WHO memperkirakan pada tahun 1999 terdapat 340 juta kasus baru IMS
(gonoroe, infeksi chlamydia, sifilis, dan trikomoniasis) baru setiap tahunnya,
sedangkan jumlah infeksi human immunodeficienci virus (HIV) saat ini lebih
dari 33,6 juta kasus. Data-data insidens setiap daerah sangat bervariasi,
sebagian kemungkinan dipengaruhi oleh keterbatasan data. Keterbatasan data
tentang insidens dan distribusi IMS tersebut disebabkan oleh beberapa hal,
misalnya tidak semua IMS dilaporkan atau meskipun dilaporkan seringkali
data tersebut tidak lengkap. Data-data IMS di negara berkembang umumnya
diambil dari data klinik sehingga kurang tepat bila dipakai sebagai indikator
permasalahan kesehatan dalam masyarakat. Keterbatasan dana dan sarana
untuk melakukan survai pada masyarakat merupakan kendala utama.
Pada penyakit Gonore, diperkirakan terdapat lebih dari 150 juta kasus
gonore di dunia setiap tahunnya, meskipun dibeberapa negara cenderung
menurun, namun negara lainnya cenderung meningkat. Perbedaan ini
menunjukan bervariasinya tingkat keberhasilan sistem dan program
pengndalian IMS yang meliputi peningkatan informasi data, detektif awal
dengan menggunakan fasilitas diagnosis yang baik, pengobatan dini dan
penelusuran kontak. (Daili, 2014).

B. Rumusan Masalah

1
1. Apa yang dimaksud dengan penyakit menular seksual ?
2. Apa saja penyebab dari penyakit menular seksual ?
3. Apa saja jenis-jenis penyakit menular seksual ?
4. Bagaimana patofisiologi penyakit menular seksual ?
5. Apa saja tanda dan gejala dari penyakit menular seksual ?
6. Bagaimana penatalaksanaan penyakit menular seksual ?
7. Bagaimana cara penularan penyakit menular seksual ?
8. Bagaimana cara pencegahan penyakit menular seksual ?
9. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit menular seksual ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian penyakit menular seksual.
2. Untuk mengetahui penyebab dari penyakit menular seksual.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis penyakit menular seksual.
4. Untuk mengetahui patofisiologi penyakit menular seksual.
5. Untuk mengetahui tanda dan gejala penyakit menular seksual.
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan penyakit menular seksual.
7. Untuk mengetahui cara penularan penyakit menular seksual.
8. Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit menular seksual.
9. Untuk mengetahui komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit menular
seksual.

BAB II

2
PEMBAHASAN

A. Definisi Penyakit Menular Seksual


Infeksi Menular Seksual (IMS) didefinisikan sebagai penyakit yang
disebabkan karena adanya invasi organisme virus, bakteri, parasit dan kutu
kelamin yang sebagian besar menular melalui hubungan seksual, baik yang
berlainan jenis ataupun sesama jenis. (Aprilianingrum, 2002).
Terdapat lebih kurang 30 jenis mikroba (bakteri, virus, dan parasit) yang
dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi yang paling sering
ditemukan adalah infeksi gonorrhea, chlamydia, syphilis,trichomoniasis,
chancroid, herpes genital, infeksi human immunodeficiensy virus (HIV) dan
hepatitis B. HIV dan syphilis juga dapat ditularkan dari ibu ke anaknya selama
kehamilan dan kelahiran, dan juga melalui darah serta jaringan tubuh (WHO,
2009).

B. Penyebab Penyakit Menular Seksual


Menurut Handsfield (2001) dalam Chiuman (2009), Penyakit menular
seksual dapat diklasifikasikan berdasarkan agen penyebabnya, yakni:
1. Dari golongan bakteri, yakni Neisseria gonorrhoeae, Treponema
pallidum, Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma
hominis, Gardnerella vaginalis, Salmonella sp, Shigella sp,
Campylobacter sp, Streptococcus group B, Mobiluncus sp.
2. Dari golongan protozoa, yakni Trichomonas vaginalis, Entamoeba
histolytica, Giardia lamblia,
3. Dari golongan virus, yakni Human Immunodeficiency Virus(tipe 1 dan 2),
Herpes Simplex Virus (tipe 1 dan 2), Human papiloma Virus,
Cytomegalovirus, Epstein-barr virus, Molluscum contagiosum virus,
4. Dari golongan ektoparasit, yakni Phthirus pubis dan Sarcoptes scabei

C. Jenis-Jenis Penyakit Menular Seksual


Secara garis besar Penyakit Menular Seksual dapat dibedakan menjadi empat
kelompok, antara lain:
1. PMS yang menunjukkan gejala klinis berupa keluarnya cairan yang keluar
dari alat kelamin, yaitu penyakit Gonore dan Uretritis Non Spesifik(UNS)
2. PMS yang menunjukkan adanya luka pada alat kelamin misalnya penyakit
Chanroid(Ulkus mole), Sifilis, LGV, dan Herpes simpleks.

3
3. PMS yang menunjukkan adanya benjolan atau tumor, terdapat pada
penyakit Kondiloma akuminata.
4. PMS yang memberi gejala pada tahap permulaan, misalnya penyakit
Hepatitis B (Daili, 2007).

D. Patofisiologi
1. Sifilis
a. Stadium dini
T. pallidum masuk ke dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput
lendir, biasanya melalui sanggama. Kuman tersebut membiak, jaringan
bereaksi dengan membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit
dan sel- sel plasma, terutama di perivaskular, pembuluh-pembuluh
darah kecil berproliferasi di kelilingi oleh T. Pallidum dan sel-sel
radang. Treponema tersebut terletak di antara endotelium kapiler dan
jaringan perivaskular di sekitarnya. Enarteritis pembuluh darah
kecilmenyebabkan perubahan hipertrofik endotelium yang
menimbulkan obliterasi lumen(enarteritis obliterans). Kehilangan
pendarahan akan menyebabkan erosi, pada pemeriksaan klinis tampak
sebagai S I.
Sebelum S I terlihat, kuman telah mencapai kelenjar getah bening
regional secara limfogen dan membiak. Pada saat itu terjadi pula
penjalaran hematogen danmenyebar ke semua jaringan di badan, tetapi
manifestasinya akan tampak kemudian. Multiplikasi ini diikuti oleh
reaksi jaringan sebagai S II, yang terjadi enam sampai delapan minggu
sesudah S I. S I akan sembuh perlahan-lahan karena kuman di
tempattersebut jumlahnya berkurang, kemudian terbentuklah fibroblas-
fibroblas dan akhirnya sembuh berupa sikatriks. SII juga mengalami
regresi perlahan-lahan dan lalu menghilang.
Tibalah stadium laten yang tidak disertai gejala, meskipun infeksi
yang aktif masih terdapat. Sebagai contoh pada stadium ini seorang ibu
dapat melahirkan bayi dengan sifilis kongenital.
b. Stadium lanjut
Stadium laten dapat berlangsung bertahun-tahun, dimana
treponema didapatkan dalam keadaan dorman. Meskipun demikian
4
antibodi tetap ada dalam serum penderita.Keseimbangan antara
treponema dan jaringan dapat sewaktu - waktu berubah,sebabnya
belum jelas, mungkin trauma merupakan salah satu faktor predisposisi.
Pada saat itu muncullah S III berbentuk guma. Meskipun pada guma
tersebut tidak dapat ditemukan T. pallidum, reaksinya hebat karena
bersifat destruktif dan berlangsung bertahun-tahun. Setelah mengalami
masa laten yang bervariasi guma tersebut timbul di tempat-tempat lain.
(Djuanda A, 2010)
2. Herpes simpleks
HSV disebarkan melalui kontak langsung antara virus dengan
mukosa atau setiap kerusakan di kulit. Virus herpes tidak dapat hidup di
luar lingkungan yang lembab dan penyebaran infeksi melalui cara selain
kontak langsung kecil kemungkinannya terjadi. HSV memiliki
kemampuan untuk menginvasi beragam sel melalui fusi langsung dengan
membrane sel. Pada infeksi aktif primer, virus menginvasi sel pejamu dan
cepat berkembang dengan biak, menghancurkan sel pejamu dan
melepaskan lebih banyak virion untuk menginfeksi sel-sel disekitarnya.
Pada infeksi aktif primer, virus menyebar melalui saluran limfe ke
kelenjar limfe regional dan menyebabkan limfa denopati.
Tubuh melakukan respon imun seluler dan humoral yang menahan
infeksi tetapi tidakd apat mencegah kekambuhan infeksi aktif. Setelah
infeksi awal timbul fase laten. Selama masa ini virus masuk ke dalam sel-
sel sensorik yang mempersarafi daerah yang terinfeksi dan bermigrasi
disepanjang akson untuk bersembunyi di dalam ganglion radiks dorsalis
tempat virus berdiam tanpa menimbulkan sitotoksisitas atau gejala
pada manusia.

3. Gonorhoe
Bakteri secara langsung menginfeksi uretra, endoserviks, saluran anus,
konjungtiva dan farings. Infeksi dapat meluas dan melibatkan prostate, vas
deferens, vesikula seminalis, epididimis dan testis pada pria dan kelenjar
skene, bartholini, endometrium, tuba fallopi dan ovarium pada wanita.

5
Setelah melekat, gonokokus berpenetrasi ke dalam sel epitel dan
melalui jaringan sub epitel di mana gonokokus ini terpajan ke system imun
(serum, komplemen, immunoglobulin A (IgA), dan lain-lain), dan
difagositosis oleh neutrofil. Virulensi bergantung pada apakah gonokokus
mudah melekat dan berpenetrasi ke dalam sel penjamu, begitu pula
resistensi terhadap serum, fagositosis, dan pemusnahan intraseluler oleh
polimorfonukleosit. Faktor yang mendukung virulensi ini adalah pili,
protein, membrane bagian luar, lipopolisakarida, dan protease IgA.
Meskipun telah banyak peningkatan dalam pengetahuan tentang
patogenesis dari mikroorganisme, mekanisme molekular yang tepat
tentang invasi gonokokkus ke dalam sel host tetap belum diketahui. Ada
beberapa faktor virulen yang terlibat dalam mekanisme perlekatan,
inflamasi dan invasi mukosa. Pili memainkan peranan penting dalam
patogenesis gonore. Pili meningkatkan adhesi ke sel host, yang mungkin
merupakan alasan mengapa gonokokkus yang tidak memiliki pili kurang
mampu menginfeksi manusia. Antibodi antipili memblok adhesi epithelial
dan meningkatkan kemampuan dari sel fagosit. Juga diketahui bahwa
ekspresi reseptor transferin mempunyai peranan penting dan ekspresi full-
length lipo-oligosaccharide (LOS) tampaknya perlu untuk infeksi
maksimal.
Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah epitel kolumnar dari
uretra dan endoserviks, kelenjar dan duktus parauretra pada pria dan
wanita, kelenjar Bartolini, konjungtiva mata dan rectum. Infeksi primer
yang terjadi pada wanita yang belum pubertas terjadi di daerah epitel
skuamosa dari vagina.

E. Tanda dan Gejala Umum Penyakit Menular Seksual


Pada anak perempuan gejalanya berupa:
1. Cairan yang tidak biasa keluar dari alat kelamin perempuan warnanya
kekuningan-kuningan, berbau tidak sedap.
2. Menstruasi atau haid tidak teratur.
3. Rasa sakit di perut bagian bawah.
4. Rasa gatal yang berkepanjangan di sekitar kelamin.
Pada anak laki-laki gejalanya berupa:
1. Rasa sakit atau panas saat kencing.

6
2. Keluarnya darah saat kencing.
3. Keluarnya nanah dari penis.
4. Adanya luka pada alat kelamin.
5. Rasa gatal pada penis atau dubur (Hutagalung, 2002).

F. Penatalaksanaan Penyakit Menular Seksual


Menurut WHO (2003), penanganan pasien infeksi menular seksual terdiri
dari dua cara, bisa dengan penanganan berdasarkan kasus (case management)
ataupun penanganan berdasarkan sindrom (syndrome management).
Penanganan berdasarkan kasus yang efektif tidak hanya berupa pemberian
terapi antimikroba untuk menyembuhkan dan mengurangi infektifitas
mikroba, tetapi juga diberikan perawatan kesehatan reproduksi yang
komprehensif. Sedangkan penanganan berdasarkan sindrom didasarkan pada
identifikasi dari sekelompok tanda dan gejala yang konsisten, dan penyediaan
pengobatan untuk mikroba tertentu yang menimbulkan sindrom. Penanganan
infeksi menular seksual yang ideal adalah penanganan berdasarkan
mikrooganisme penyebnya. Namun, dalam kenyataannya penderita infeksi
menular seksual selalu diberi pengobatan secara empiris (Murtiastutik, 2008).
Antibiotika untuk pengobatan IMS adalah:
1. Pengobatan gonore: penisilin, ampisilin, amoksisilin, seftriakson,
spektinomisin, kuinolon, tiamfenikol, dan kanamisin (Daili, 2007).
2. Pengobatan sifilis: penisilin, sefalosporin, termasuk sefaloridin, tetrasiklin,
eritromisin, dan kloramfenikol (Hutapea, 2001).
3. Pengobatan herpes genital: asiklovir, famsiklovir, valasiklovir (Wells et al,
2003).
4. Pengobatan klamidia: azithromisin, doksisiklin, eritromisin (Wells et al.,
2003).
5. Pengobatan trikomoniasis: metronidazole (Wells et al., 2003).
Resisten adalah suatu fenomena kompleks yang terjadi dengan pengaruh
dari mikroba, obat antimikroba, lingkungan dan penderita.

G. Penularan Penyakit Menular Seksual


Menurut Karang Taruna (2001), sesuai dengan sebutannya cara penularan
penyakit menular seksual ini terutama melalui hubungan seksual yang tidak
terlindungi, baik pervaginal, anal, maupun oral. Cara penularan lainnya secara
perinatal, yaitu dari ibu ke bayinya, baik selama kehamilan, saat kelahiran
ataupun setelah lahir. Bisa melalui transfuse darah atau kontak langsung
7
dengan cairan darah atau produk darah. Dan juga bisa melalui penggunaan
pakaian dalam atau handuk yang telah dipakai penderita Penyakit Menular
Seksual (PMS).
Perilaku seks yang dapat mempermudah penularan PMS adalah :
1. Berhubungan seks yang tidak aman (tanpa menggunakan kondom).
2. Gonta-ganti pasangan seks.
3. Prostitusi.
4. Melakukan hubungan seks anal (dubur), perilaku ini akan menimbulkan
luka atau radang karena epitel mukosa anus relative tipis dan lebih mudah
terluka disbanding epitel dinding vagina.
5. Penggunaan pakaian dalam atau handuk yang telah dipakai penderita PMS
(Hutagalung, 2002).

H. Pencegahan Penyakit Menular Seksual


Adapun upaya pencegahan penyakit menular seksual yang dapat dilakukan
adalah:
1. Tidak melakukan hubungan seks.
2. Menjaga perilaku seksual (seperti: penggunaan kondom).
3. Bila sudah berperilaku seks yang aktif tetaplah setia pada pasangannya.
4. Hindari penggunaan pakaian dalam serta handuk dari penderita PMS.
5. Tawakal pada Tuhan Yang Maha Esa.
6. Bila Nampak gejala-gejala PMS segera ke dokter atau petugas kesehatan
setempat (Ningsih,1998).

I. Komplikasi Penyakit Menular Seksual


Suatu studi epidemiologi menggambarkan bahwa pasien dengan infeksi
menular seksual lebih rentan terhadap HIV. Infeksi menular seksual
diimplikasikan sebagai faktor yang memfasilitasi penyebaran HIV (WHO,
2004).

8
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit menular seksual adalah penyakit yang disebabkan karena adanya
invasi mikroorganisme yang sebagian besar menular melalui hubungan
seksual.
Penyebab penyakit menular seksual diantaranya dapat disebabkan oleh
bakteri, protozoa, virus, dan ektoparasit.
Jenis-jenis penyakit menular seksual antara lain penyakit menular seksual
yang ditandai dengan keluarnya cairan yang keluar dari alat kelamin, adanya
luka pada alat kelamin, adanya benjolan atau tumor, dan adanya gejala pada
tahap permulaan.
Gejala-gejala umum penyakit menular seksual pada anak perempuan
diantaranya berupa cairan yang tidak biasa keluar dari alat kelamin sedangkan
pada anak laki-laki gejalanya berupa rasa sakit atau panas saat kencing.
Penatalaksanaan penyakit menular seksual terdiri dari dua cara yaitu bisa
dengan penanganan berdasarkan kasus ataupun penanganan berdasarkan
sindrom.
Penularan penyakit menular seksual terutama melalui hubungan seksual
yang tidak terlindungi, baik pervaginal, anal, maupun oral.
Pencegahan penyakit menular seksual diantaranya dapat dilakukan dengan
tidak melakukan hubungan seks dan menjaga perilaku seksual (seperti:
penggunaan kondom).

9
Komplikasi penyakit menular seksual yang dapat terjadi yaitu infeksi
menular seksual diimplikasikan sebagai faktor yang memfasilitasi penyebaran
HIV

B. Saran
Seperti yang kita ketahui bahwa di Indonesia banyak masyarakat yang
mengidap penyakit menular seksual, maka kami menyarankan bahwa
seharusnya masyarakat jangan melakukan hubungan seksual dengan sering
berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual dengan cara yang
aman diantaranya dengan menggunakan kondom. Dengan demikian
diharapkan angka penderita penyakit menular seksual dapat menurun.

10
DAFTAR PUSTAKA

Aprilianingrum, F., 2002. Survei Penyakit Sifilis dan Infeksi HIV pada Pekerja
Seks Komersial Resosialisasi Argorejo Kelurahan Kalibanteng Kulon
Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang Tahun 2002. Laporan Penelitian:
Semarang.
Chiuman, Linda. 2009. Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja SMA Wiyata
Dharma Medan Terhadap Infeksi Menular Seksual. [skripsi] Medan: Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Daili, S. F. 2007. Tinjauan penyakit menular seksual (PMS). Dalam: Djuanda, A.,
Hamzah, M., Aisah, S. (eds). 2007. Ilmu penyakit dan Kelamin. Jakarta :
FKUI.
Daili, S. F. 2014. Infeksi Menular Seksual. Jakarta : Badan Penerbit FKUI.
Handsfield, H. H. 2001. Color Atlas and Synopsis of Sexually Transmitted
Diseases. 2nd ed. USA: Mc Graw-Hill.
Hutagalung, Ellisma. 2002. Hubungan Karakteristik Anak Jalanan Terhadap
Perilaku Seksualnya dan Kemungkinan Terjadinya Resiko Penyakit Menular
Seksual (PMS) di Kawasan Terminal Terpadu Pinang Baris Medan Tahun
2002. [skripsi] Medan : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara.
Karang Taruna. 2001. Bahaya & Akibat Penyakit Menular Seksual. Diperoleh dari
: http://ceria.bkkbn.go.id/referensi/substansi/download/1-bahaya.pdf. [diakses
pada 7 Oktober 2016]
Murtiastutik, D. (eds). 2008. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual. Surabaya:
Airlangga University Press.
Natahusada, EC, Djuanda A. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI. p. 393-413.

11