You are on page 1of 15

PROPOSAL PENGABDIAN MASYARAKAT

Nama kelompok:

1. Azika Sasmika (2012 0320 017) 8. Ratri Fahmi A. (2012 0320 157)
2. Dimas Wardiyono (2012 0320 9. Sita Tiari (2012 0320 174)
019)
3. Zainab Indriyan T. (2012 0320 10. Upik Mei A. (2012 0320 177)
038)
4. Adin Vivaldi (20120320066) 11. Nurul Maulidah (2012 0320 079)
5. Yudan Harry S. (2012 0320 068) 12. Ratri Imas P (2012 0320 178)
6. Nur Aulia R (2012 0320 147) 13. Evi Kurniawati (2012 0320 182)
7. Hafidha F. S. (2012 0320 136)
BAB I PENDAHULUAN

A. Analisis Situasi

Indonesia yang terdiri dari gugusan kepulauan mempunyai potensi


bencana yang sangat tinggi terhadap beragam bencana seperti gempa bumi,
tsunami, banjir, tanah longsor, badai, angin topan, wabah penyakit,
kekeringan , dan gunung berapi. Bencana muncul ketika ancaman alam
bertemu dengan masyarakat rentan yang belum mempunyai kempampuan
untuk menanggapi ancaman itu. (IDEP,2007).

Yogyakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki resiko


bencana tinggi, karena posisinya yang berada di antara gunung merapi dan
pantai selatan. Tercatat lebih dari 3000 korban meninggal dikarenakan gempa
tektonik 5,9 SR pada Mei 2006 dan dilanjutkan meletusnya gunung merapi
pada tanggal 3 Juli 2011 dengan korban sebanyak 54 orang.

B. Permasalahan Mitra
C. Solusi yang ditawarkan
D. Tujuan kegiatan
E. Manfaat
F. Target Luaran
G. Kegiatan Penunjang
H. Jadwal Kegiatan
BAB II KAJIAN PUSTAKA

1. Bencana

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam


dan menggangu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan
baik oleh faktor alam dan/ atau faktor non alam maupun faktor manusia
sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psiklogis (BNPB,2008).
Menurut International Strategy for Disaster Reduction (ISDR) bencana
adalah suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat,
sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari
segi materi, ekonomi atau lingkungan dan melampaui kemampuan masyarakat
yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan sumber daya
mereka sendiri.

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau


serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa
bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah
longsor. Sedangakan bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan
oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa
gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit.(IDEP,2007)

2. Bencana Gempa Bumi


Bencana gempa bumi merupakan gejala alamiah yang berupa gerakan
goncangan atau getaran tanah yang ditimbulkan oleh adanya sumber-sumber
getaran tanah akibat terjadinya patahan atau sesar akibat aktivitas tektonik,
letusan gunungapi akibat aktivitas vulkanik, hantaman benda langit (misalnya
meteor dan asteroid), dan/atau ledakan bom akibat ulah manusia.
(BNPB,2012)

Berdasarkan sumber penyebabnya, ada 3 jenis gempa bumi :

a. Gempa bumi tektonik adalah gempa bumi yang disebabkan oleh


pelepasan energi akibat pergerakan lempeng bumi atau patahn. Gempa
jenis ini paling banyak menimbulkan kerusakan dan korban.
b. Gempa bumi vulkanik adalah gempa bumi yang disebabkan ole
pelepasan energi akibat aktivitas gunung berapi yaitu pergerakan
magma yang menekan/mendorong lapisan batuan sehingga pergeseran
bebatuan di dalamnya menimbulkan terjadinya gempa bumi.
c. Gempa bumi induksi adalah gempa bumi yang disebabkan oleh
pelepasan energi akibat sumber lain seperti runtuhan tanah.

3. Penanggulangan Bencana
Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab dalam
penyelenggaraan penanggulangan bencana. Sebagaimana didefinisikan dalam
UU 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana Penanggulangan
bencana adalah serangkaian kegiatan baik sebelum, saat dan sesudah terjadi
bencana yang dilakukan untuk mencegah, mengurangi, menghindari dan
memulihkan diri dari dampak bencana (IDEP,2007). Dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana, agar dapat berjalan dengan terarah, maka disusun
suatu rencana yang spesifik pada setiap tahapan penyelenggaraan
penanggulangan bencana. (BNPB,2008)
a. Pada tahap Prabencana dalam situasi tidak terjadi bencana,
dilakukan penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana
(Disaster Management Plan), yang merupakan rencana umum dan
menyeluruh yang meliputi pencegahan dan mitigasi. Pencegahan
adalah upaya yang dilakukan untuk menghilangkan sama sekali
atau mengurangi ancaman. Sedangkan mitigasi adalah upaya untuk
mengurangi atau meredam risiko. (IDEP,2007)
Contoh tindakan :
1) Pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah
2) Penelitian / pengkajian karakteristik bencana
3) Pengkajian/ analisis risiko bencana
4) Pembentukan organisasi atau satuan gugus tugas bencana
5) Perkuat unit-unit sosial dalam masyarakat
6) Pembuatan dan penempatan tanda-tanda peringatan, bahaya,
larangan memasuki daerah rawan bencana dsb
7) Pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai peraturan
tentang penataan ruang, ijin mendirikan bangunan, dan
peraturan lain yang berkaitan dengan pencegahan bencana.
8) Pelatihan dasar kebencanaan bagi aparat dan masyarakat
9) Pemindahan penduduk dari daerah yang rawan bencana ke
daerah yang lebih aman
10) Penyuluhan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat
11) Perencanaan daerah penampungan sementara dan jalur-jalur
evakuasi jika terjadi bencana
12) Pembuatan bangunan struktur yang berfungsi untuk
mencegah, mengamankan dan mengurangi dampak yang
ditimbulkan oleh bencana, seperti bangunan tahan gempa.
(BNPB, 2008)

Pada tahap ini hal yang dapat anda lakukan adalah :


1) Anda dapat membuat denah rumah anda, termasuk lokasi
perabot, lukisan, lampu, jendela, dan lain-lain. Tandailah
tempat-tempat yang mempunyai potensi jatuh saat terjadi
gempa, juga tandai tempat-tempat aman sebagai lokasi
berlindung seperti meja yang kuat, atau dibawah kusen
pintu.
2) Berlatihlah untuk melakukan Merunduk aman setidaknya
dua kali setahun. Merunduk dibawah meja yang kokoh,
tetaplah disana dan lindungi mata dengan mendekatkan
lengan ke wajah. Jika tidak ada meja dekat anda,
merunduklah di sudut ruagan, jauh dari jendela, rak buku
atau perabotan yang bisa menimpa anda. Ajari anak-anak
untuk melakukan Merunduk, Lindungi kepala, dan
Bertahan ditempat aman.
3) Tanyakan kepada pemerintah setempat mengenai rute
evakuasi di daerah tempat tinggal, sekolah, dan tempat kerja
anda.
4) Catat nomor- nomor telepon darurat seperti : pemadam
kebakaran ( 113) , polisi (110) , ambulance (118) , SAR
(115) , PLN (123). (BNPB,2012)

b. Pada tahap Prabencana dalam situasi terdapat potensi bencana


dilakukan penyusunan Rencana Kesiapsiagaan untuk menghadapi
keadaan darurat yang didasarkan atas skenario menghadapi
bencana tertentu (single hazard) maka disusun satu rencana yang
disebut Rencana Kontinjensi (Contingency Plan). Kesiapsiagaan
adalah upaya menghadapi situasi darurat serta mengenali berbagai
sumber daya untuk memenuhi kebutuhan pada saat itu.
(IDEP,2007)
Contoh tindakan kesiapsiagaan:
1) Pembuatan sistem peringatan dini
2) Membuat sistem pemantauan ancaman
3) Memuat sistem penyebaran peringatan ancaman
4) Pembuatan rencana evakuasi
5) Penyusunan rencana darurat, rencana siaga
6) Pelatihan, gladi dan simulasi atau uji coba
7) Memasang rambu evakuasi (IDEP,2007)

c. Pada Saat Tangap Darurat dilakukan Rencana Operasi


(Operational Plan) yang merupakan operasionalisasi/aktivasi dari
Rencana Kedaruratan atau Rencana Kontinjensi yang telah disusun
sebelumnya. Tanggap darurat merupakan tahap penindakan atau
pengerahan pertolongan untuk membantu masyarakat yang
tertimpa bencana, guna menghindari bertambahnya korban.
(BNPB,2008)
Contoh tindakan tanggap darurat :
1) Evakuasi
2) Pencaria dan penyelamatan
3) Penanganan penderita Gawat Darurat (PPGD)
4) Pengkajian cepat kerusakan dan kebutuhan
5) Penyediaan kebutuhan dasar seperti air dan sanitasi, pangan,
sandang, papan, kesehatan, konseling
6) Pemulihan segera fasilitas dasar seperti telekomunikasi,
transportasi, listrik, pasokan air untuk mendukung
kelancaran kegiatan tanggap darurat (IDEP,2007)

Ketika terjadi gempa bumi yang dapat anda lakukan adalah :

1) Di dalam rumah
Getaran akan terasa beberapa saat. Masuklah kebawah
meja untuk melindungi tubuh dari jatuhan benda benda.
Jika tidak memiliki meja, lindungi kepala dengan bantal.
Jika sedang menyalakan kompor, maka matikan segera
untuk mencegah terjadinya kebakaran.
2) Di sekolah
Berlindunglah dibawah kolong meja, jika gempa
mereda keluarlah berurutan carilah tempat lapang, jangan
berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.
3) Di luar rumah
Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya
bisa muncul dari jatuhnya kaca- kaca dan papan-papan
reklame.
4) Di gedung mall, bioskop, dan lantai dasar mall
Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari
kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas dan satpam.
5) Di gunung/ pantai
Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung.
Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai,
bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran
dan tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke
dataran yang tinggi.
6) Di keteta api
Berpeganglah dengan erat pada tiang sehingga tidak
akan terjatuh seandainya kereta berhenti secara mendadak
7) Di dalam mobil
Saat terjadi gempabumi besar jauhi persimpangan,
pinggirkan mobil dikiri jalan dan berhentilah. Hentikan
mobil ditempat terbuka. Ikuti intruksi dari radio mobil. Jika
harus mengungsi keluarlah dengan segera dari mobil.
8) Di dalam lift
Jangan menggunakan lift saat terjadi gempabumi atau
kebakaran. Jika terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung
dengan menggunakan interphone jika tersedia. (BNPB,2012)

Setelah terjadi gempa yang dapat anda lakukan adalah :

1) Periksa kondisi keluarga dan sekitar


2) Jauji bangunan yang sudah retak retak dan tidak aman
3) Laporkan kejadian kerugian, korban orang hilang
4) Gotong royong dengan masyarakat dan aparat sekitar untuk
kembali memperbaiki rumah atau kerusakan sarana dan
prasarana yang ada di sekitar wilayah bencana
5) Beri pertolongan pertama kepada orang-orang disekitar anda
6) Selalu waspada akan terjadinya gempa susulan
7) Dengarkan informasi, peroleh informasi yang benar dari
pihak yang berwenang atau polisi (BNPB,2012)

d. Pada Tahap Pemulihan dilakukan Penyusunan Rencana Pemulihan


(Recovery Plan) yang meliputi rencana rehabilitasi dan
rekonstruksi yang dilakukan pada pasca bencana. Sedangkan jika
bencana belum terjadi, maka untuk mengantisipasi kejadian
bencana dimasa mendatang dilakukan penyusunan petunjuk
/pedoman mekanisme penanggulangan pasca bencana. Upaya yang
dilakukan pada tahap rehabilitasi adala untuk mengembalikan
kondisi daerah yang terkena bencana yang serba tidak menentu ke
kondisi normal yang lebih baik, agar kehidupan dan penghidupan
masyarakat dapat berjalan kembali. Sedangkan tahap rekontruksi
merupakan tahap untuk membangun kembali sarana dan prasarana
yang rusak akibat bencana secara lebih baik dan sempurna.
(BNPB,2008)
Kegiatan dalam rehabilitasi adalah :
1) Perbaikan lingkungan daerah bencana
2) Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat
3) Pemulihan sosial psikologis
4) Pelayanan kesehatan
5) Rekonsiliasi dan resolusi konflik
6) Pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya
7) Pemulihan keamanan dan ketertiban
8) Pemulihan fungsi pemerintahan
9) Pemulihan fungsi pelayanan publik

Kegiatan dalam rekontruksi :

1) Pembangunan kembali prasarana dan sarana


2) Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat
3) Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat
4) Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan
peralatan yang lebih baik dan tahan bencana
5) Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi
kemasyarakatan, dunia usaha dan masyarakat
6) Peningkatan fungsi pelayanan publik

4. Pertolongan Pertama
a. Pertolongan pertama pada perdarahan

1) Perlindungan terhadap infeksi pada penanganan perdarahan :


a) Pakai APD agar tidak terkena darah atau cairan tubuh korban.
b) Jangan menyentuh mulut, hidung, mata, makanan sewaktu
memberi perawatan
c) Cucilah tangan segera setelah selesai merawat
d) Dekontaminasi atau buang bahan yang sudah ternoda dengan
darah atau cairan tubuh korban.

2) Pada perdarahan besar:


a) Jangan buang waktu mencari penutup luka
b) Tekan langsung dengan tangan (sebaiknya menggunakan
sarung tangan) atau dengan bahan lain.
c) Bila tidak berhenti maka tinggikan bagian tersebut lebih
tinggi dari jantung (hanya pada alat gerak), bila masih belum
berhenti maka lakukan penekanan pada titik-titik tekan.
d) Pertahankan dan tekan cukup kuat.
e) Pasang pembalutan penekan
3) Pada perdarahan ringan atau terkendali :
a) Gunakan tekanan langsung dengan penutup luka
b) Tekan sampai perdarahan terkendali
c) Pertahankan penutup luka dan balut
d) Sebaiknya jangan melepas penutup luka atau balutan pertama
4) Perdarahan dalam atau curiga ada perdarahan dalam
a) Baringkan dan istirahatkan penderita
b) Buka jalan napas dan pertahankan
c) Periksa berkala pernapasan dan denyut nadi
d) Perawatan syok bila terjadi syok atau diduga akan menjadi
syok
e) Jangan beri makan dan minum
f) Rawatlah cedera berat lainnya bila ada
g) Rujuk ke fasilitas kesehatan
b. Pertolongan pertama pada luka
1) Perawatan luka Terbuka
a) Pastikan daerah luka terlihat
b) Bersihkan daerah sekitar luka
c) Kontrol perdarahan bila ada
d) Cegah kontaminasi lanjut
e) Beri penutup luka dan balut
f) Baringkan penderita bila kehilangan banyak darah dan
lukanya cukup parah
g) Tenangkan penderita
h) Atasi syok bila ada, bila perlu rawat pada posisi syok walau
syok belum terjadi
i) Rujuk ke fasilitas kesehatan
2) Perawatan Luka Tertutup
Khusus untuk luka memar dapat dilakukan pertolongan sebagai
berikut :

a) Berikan kompres dingin (misalnya kantung es)


b) Balut tekan
c) Istirahatkan anggota gerak tersebut
d) Tinggikan anggota gerak tersebut
3) Perawatan luka dengan benda asing menancap
Langkah-langkah perawatan luka yang disertai dengan menancapnya
benda asing adalah sebagai berikut :

a) Stabilkan benda yang menancap secara manual.


b) Jangan dicabut. Benda asing yang menancap tidak pernah
boleh dicabut
c) Bagian yang luka dibuka sehingga terlihat dengan jelas.
d) Kendalikan perdarahan, hati-hati jangan sampai menekan
benda yang menancap
e) Stabilkan benda asing tersebut dengan menggunakan penutup
luka tebal, atau berbagai variasi misalnya pembalut donat,
pembalut gulung dan lain-lainnya.
f) Rawat syok bila ada
g) Jaga pasien tetap istirahat dan tenang.
h) Rujuk ke fasilitas kesehatan.
BAB III METODE DAN MATERI

A. Metode penerapan IPTEKS


Pada kegiatan ini, metode penerapan ipteks yang kami lakukan adalah
dengan pemberian materi bencana, praktik penanganan korban dan
dilanjutkan dengan simulasi bencana.
B. Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan adalah :
1. Proyektor
2. Papan tulis
3. Alat tulis
4. Pengeras suara
5. Pewarna (cat / make up)
6. Bidai
7. Mitela / perban
8. Kertas triase
9. tandu
C. Prosedur pelaksanaan kegiatan
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan pada hari
xxxxxxxxxxxxx, xx januari 2016 pukul xx.xx xx.xx bertempat di xxxxxxx.
Tahap pelaksanaan kegiatan meliputi :
1. Pendaftaran dengan mengisi presensi
2. Pemberian materi kebencanaan
3. Warga dibagi menjadi beberapa kelompok
4. kelompok melakukan praktik penanganan korban
5. simulasi bencana
Referensi