You are on page 1of 3

ANAFILAKSIS

BATASAN :
Respon klinis terhadap reaksi imunologi bentuk segera ( tipe I ) antara antigen
spesifik dengan suatu antibodi pada jaringan ( tissue fixing antibody = Hemositotoksik
= IgE ), dan terdiri dari 3 tahap :
Aktivasi sel sasaran ( target cell ) : antigen akan terikat dengan IgE pada
permukaan sel-sel mast dan sel basofil.
Pelepasan zat-zat mediator oleh sel-sel yang telah diaktivasi.
Pengaruh zat-zat mediator pada organ sasaran.

PATOFISIOLOGI :
Jenis zat-zat mediator yang dihasilkan :
1. Histamin :
Menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan relaksasi otot
polos pembuluh darah.
Kontraksi otot polos bronkus dan edema larynx.
Merangsang otot polos saluran cerna, sehingga menyebabkan kemerahan
urtika dan angioedema.
Shock.
2. Eosinophil Chemotactic Factor of Anaphylaxis ( ECF-A ) : menarik eosinofil ke
tempat reaksi dan melepaskan zat mediator sekunder.
3. Zat-zat mediator lain yang kerjanya menyerupai atau meningkatkan efek histamin,
seperti Slow-Reacting Substance of Anaphylaxis ( SRS-A ), Kallikrein basofil
( kinin ) dan Platelet Activating Factor of Anaphylaxis ( PAF ).

ETIOLOGI :
Paling sering disebabkan oleh obat-obatan, gigitan serangga, dan beberapa jenis
makanan.

GEJALA KLINIS :
A. Bentuk reaksi :
Reaksi lokal : urtika dan angioedema
Reaksi sistemik : terjadi pada organ sasaran

B. Tanda-tanda dan gejala-gejala utama :


1. Reaksi sistemik ringan : rasa panas, perasaan penuh dalam mulut dan dada,
kongesti cavum nasi, pembengkakan periorbital, rasa gatal pada kulit dan
mata berair.
2. Reaksi sistemik sedang : reaksi sistemik ringan disertai dengan spasme
bronkus dan edema larynx.
3. Reaksi sistemik berat :
Segera timbul tanpa gejala-gejala prodromal
Bronkospasme dan edema larynx
Edema dan hipermotilitas saluran cerna
Kolaps kardiovaskuler.

Pemeriksaan Laboratorium :
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang khas.

DIAGNOSA BANDING :
Reaksi ringan :
Dermatitis kontak yang luas.
Reaksi berat :
Reaksi anafilaktoid: reaksi ini menyerupai anafilaksis, tapi bukan disebabkan
oleh reaksi antigen antibodi, melainkan pelepasan secara langsung zat-zat
mediator oleh sel mast pada jaringan karena pengaruh suatu zat seperti zat
media kontras radiologi ( Lipiodol ), Bromsulfoptalen, dan makanan.
Vasovagal, sinkop, infark miokard, dan reaksi histeri.

PENATALAKSANAAN :
1. Resusitasi kardiopulmoner
2. Epinefrin :
0,30 0,50 ml larutan 1 : 1000 subkutan dan 0,10 0,30 ml pada tempat suntikan
atau tempat sengatan serangga, dapat diulangi setiap 15 20 menit.
3. Pasang torniquet, dilepaskan setiap 10 menit selama 1 2 menit.
4. Oksigen 5 10 l/menit.
5. Difenhidramin :
50 mg intravena perlahan-lahan ( 5 10 menit ) diulangi tiap 6 jam selama 48
jam.
6. Infus cairan :
Bila tekanan darah kurang dari 100 mmHg pada orang dewasa dan kurang dari 50
mmHg pada anak.
Campuran glukosa 5% dengan larutan garam faali dalam jumlah yang sama
sebanyak 2000 3000 ml/m2 luas permukaan tubuh/ 24 jam.
7. Aminofilin :
Diberikan bila ada bronkospasme yang menetap dengan dosis 4 7 mg/kg BB
intravena selama 10 20 menit.
8. Vasopressor :
Diberikan bila dengan pemberian cairan tidak dapat menaikkan tekanan darah.
Aramin : anak 0,01 mg/kg BB, dewasa 2 5 mg bolus intravena perlahan-lahan.
Levarterenol bitartrat : 4 8 mg/ lt Dekstrose 5%, dengan kecepatan 2 ml/menit.
Dopamin : 0,3 1,2 mg/kg BB/ jam secara infus dengan Dekstrose 5%.
9. Intubasi dan tracheostomi :
Bila ada obstruksi saluran napas bagian atas oleh karena edema.
10. Kortikosteroid :
Tidak banyak membantu untuk mengatasi anafilaksis akut yang hebat, hanya
untuk mencegah terjadinya reaksi berulang. Dosis 7 10 mg/kg BB. Hidrokortison
intravena dilanjutkan dengan 5 mg/kg BB/ 6 jam.
11. Terapi suportif dipertahankan bila keadaan penderita sudah stabil.

Pencegahan :
Anamnesa yang teliti tentang riwayat alergi terhadap obat-obatan atau antigen
lain sebelumnya.
Pemberian obat-obatan sebaiknya per oral bila tidak sangat dibutuhkan.
Bila obat-obat tersebut sangat dibutuhkan tetapi bersifat antigenik, maka harus
dilakukan tes kulit.
Misalnya obat golongan Penicillin, toksoid, antisera, ACTH, dan insulin.