You are on page 1of 91

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2012 Angka

Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam

tujuan pembangunan Millennium Development Goals (MDGs) kelima yaitu

meningkatkan kesehatan ibu. Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian

wanita disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan kehamilan dan

persalinan serta nifas. WHO memperkirakan diseluruh dunia setiap tahunnya

lebih dari 585.000 Ibu meninggal saat hamil atau bersalin. AKI pada tahun

2015 menjadi 102/100.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2011).

SDKI (2012) mengatakan bahwa AKI di Indonesia tahun 2012 sebesar

214 per kelahiran hidup, Akan tetapi pemerintah masih dituntut bekerja keras

untuk menurunkannya hingga tercapainya target MDGs. AKI pada tahun

2015 menjadi 102/100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2012)

Profil Dinas Kesehatan Provinsi NTB menyebutkan jumlah kematian

ibu pada tahun 2013 sebanyak 117 kasus, sehingga dapat disimpulkan AKI di

Provinsi NTB mengalami penurunan dari tahun 2014 sebanyak 114 kasus.

Tingginya AKI di NTB dipengaruhi oleh faktor kesehatan maupun diluar

kesehatan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas dimana

penyebab kematian ibu adalah pendarahan (39%), infeksi (5,4%), eklampsia

(17,4%), partus lama (4,3%) (Dinas Kesehatan Provinsi NTB, 2015).

1
Angka kematian ibu di Kota Mataram ditemukan 20 kasus kematian

ibu pada tahun 2013, dari 20 kasus ditemukan 10 kasus pada ibu hamil, 4

kasus pada ibu bersalin dan 5 kasus pada ibu nifas, sedangkan menurun

menjadi 5 kasus pada tahun 2014 (Dinas Kesehatan Provinsi NTB,2015).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Mataram pada tahun

2012 terdapat 2.825 ibu hamil dan terdapat 112 (3,7%) kasus diantaranya

merupakan hiperemesis gravidarum. Sedangkan pada tahun 2013, dari 3.169

ibu hamil di Kota Mataram 125 (3,94%) mengalami hiperemesis gravidarum.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa angka kejadian hiperemesis gravidarum

di Kota Mataram terjadi peningkatan kasus hiperemesis gravidarum (Dinas

Kesehatan Kota Mataram, 2013).

Berdasarkan Jumlah data PONED Puskesmas Ampenan pada tahun

2015 terdapat 2 kasus hiperemesis gravidarum, sedangkan untuk tahun 2016

pada bulan Januari-Mei ada 4 kasus hiperemesis gravidarum, Dimana dari

semua kasus hiperemesis gravidarum tersebut telah mampu ditangani

langsung oleh puskesmas Ampenan (PWS KIA Puskesmas Ampenan, 2015 )

Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan pada

ibu hamil, seorang ibu menderita hiperemesis gravidarum jika seorang ibu

memuntahkan segala yang dimakan dan diminumnya hingga berat badan ibu

sangat turun, turgor kulit kurang dan timbul aseton dalam air kencing. Insiden

dari hiperemesis gravidarum adalah 0,5-10/1.000 kehamilan. Kemungkinan

terjadinya penyakit ini adalah tinggi pada orang kulit putih (16/1.000

kelahiran) dan rendah pada orang kulit hitam (17/1.000 kelahiran). Penyakit

ini rata-rata muncul pada usia kehamilan 8-12 minggu (Wiknjosastro, 2010).
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak

ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh factor toksik, juga ditemukan

kelainan biokimia. Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati

dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain

akibat inanisia. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah

ditemukan oleh beberapa penulis antara lain; 1) Faktor predisposisi yang

sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa, dan kehamilan

ganda, 2) Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan

metabolic hamil serta resistensi yang menurun, 3) Alergi, sebagai salah satu

respons dari jaringan ibu terhadap anak, 4) Faktor psikologik memegang

peranan yang penting pada penyakit ini (Jannah 2012).

Bagi ibu yang mengalami hiperemesis gravidarium beberapa langkah

dibawah ini akan membantu ibu dalam mengatasinya seperti: 1)

Mengkonsumsi susu dan vitamin, 2) Menu makan yang sedikit akan tetapi

sering, 3) Dalam mengurangi rasa pusing ketika bangun tidur ibu dapat

memiringkan badan kesebelah kanan ataupun kiri kemudian duduk secara

perlahan, setelah merasa kuat ibu dapat berdiri (Rukiyah, 2010).

Dari data tersebut merupakan salah satu masalah yang cukup penting

mengingat resikonya sangat tinggi dan dapat mengakibatkan kematian ibu.

Sehubungan hal tersebut maka penulis tertarik untuk membahas mengenai

kasus yang berjudul “Asuhan Kebidanan Kehamilan dengan Hiperemesis

Gravidarum Tingkat 1 Pada Ny. ”A” dan Ny. “L” dengan di Puskesmas

Ampenan Kota Mataram Tahun 2016.
1.2 Batasan Masalah

Pada studi kasus ini berfokus pada penatalaksanaan masalah Asuhan

Kebidanan Kehamilan dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat 1 Pada

Ny.“A” dan Ny.“L” dengan di Puskesmas Ampenan Kota Mataram Tahun

2016.

1.3 Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam studi kasus ini adalah, Bagaimana Asuhan

Kebidanan Kehamilan dengan Hiperemesis Gravidarum Tingkat 1 Pada

Ny”A” dan Ny “L” dengan di Puskesmas Ampenan Kota Mataram Tahun

2016.

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan Umum

Melaksanakan asuhan kebidanan pada hiperemesis gravidarum

tingkat 1 menggunakan 2 (dua) kasus dengan metode pendekatan asuhan

kebidanan 7 langkah Varney di Puskesmas Ampenan.

1.4.2 Tujun Khusus

1. Agar mahasiswi mampu mengumpulkan data subyektif dan data

obyektif pada Ny.”A” dan Ny”L” dengan hiperemesis gravidarum

tingkat 1.

2. Agar mahasiswi mampu menginterpretasikan data dasar,diagnose, atau

masalah pada Ny”A” dan Ny.”L” dengan hiperemesis gravidarum

tingkat 1.
3. Agar mahasiswi mampu mengidentifikasi diagnose potensial pada

Ny”A” dan Ny”L” dengan hiperemesis gravidarum tingkat 1.

4. Agar mahasiswi mampu menetapkan kebutuhan terhadap tindakan

segera pada Ny”A” & Ny”L” dengan hiperemesis gravidarum tingkat 1.

5. Agar mahasiswi mampu menyusun rencana asuhan menyeluruh pada

Ny “A” dan Ny”L” dengan hiperemesis gravidarum tingkat 1.

6. Agar mahasiswi mampu memberikan penatalaksanaan secara

menyeluruh pada Ny.”A” dan Ny.”L” dengan hiperemesis gravidarum

tingkat 1.

7. Agar mahasiswi mampu mengevaluasi hasil asuhan menyeluruh pada

Ny.”A” dan Ny.”L” dengan hiperemesis gravidarum tingkat 1.

1.5 Manfaat

1.5.1 Teoritis

Hasil laporan ini diharapkan dapat menambah ilmu kebidanan

dalam penatalaksanaan pada kasus ibu hamil dengan hiperemesis

gravidarum tingkat 1.

1.5.2 Praktis

1. Bagi Puskesmas

Diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu sumber

informasi di puskesmas dalam penyusunan program kesehatan

khususnya kesehatan ibu dan anak.
2. Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan studi kasus ini dapat bermanfaat sebagai bahan

dokumentasi dan bahan perbandingan untuk studi kasus selanjutnya

di STIKES YARSI Mataram Jenjang D3 Kebidanan dalam

meningkatkan wawasan mahasiswa mengenai asuhan kebidanan

pada ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum tingkat 1.

3. Bagi Mahasiswi

Dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran dan peningkatan

pengetahuan serta keterampilan dalam penerapan manajemen

asuhan kebidanan khususnya pada kasus hiperemesis gravidarum

tingkat 1.
BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Kehamilan

2.1.1 Pengertian Kehamilan

Kehamilan adalah masa mulai dari ovulasi sampai partus kira-

kira 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu).

Kehamilan 40 minggu disebut sebagai kehamilan matur (cukup

bulan), dan bila lebih dari 43 minggu disebut sebagai kehamilan post

matur. Kehamilan antara 28 sampai 36 minggu disebut kehamilan

premature (Prawirohardjo, 2010).

Kehamilan adalah masa di mulai dari timbulnya ovulasi dimana

lamanya hamil normal adalah kira-kira 280 hari (40 minggu) dan

tidak lebih dari 300 hari (43 minggu) (Wiknjosastro, 2009).

2.1.2 Perubahan fisiologis pada ibu hamil

Menurut Wiknjosastro (2009), perubahan fisologi dalam

kehamilan yaitu :

1. Perubahan pada organ reproduksi

a. Vagina dan Vulva

Vagina dan vulva akibat hormon estrogen mengalami

perubahan. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina

dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (lividae).

Tanda ini disebut tanda chadwick, sebagai persiapan persalinan.

7
b. Ovarium

Pada permulaan kehamilan, masih terdapat korpus luteum

sampai terbentuknya plasenta kira-kira kehamilan 16 minggu.

Korpus luteum ini mengeluarkan hormon estrogen dan

progesteron yang lambat laun fungsi ini akan diambil alih oleh

plasenta.

c. Uterus

Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama dibawah

pengaruh hormon estrogen dan progesteron yang kadarnya

meningkat. Pada minggu-minggu pertama istmus uteri

mengadakan hipertropi seperti korpus uteri, inilah yang

membuat istmus menjadi panjang dan lebih lunak (tanda Hegar).

d. Serviks

Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena

hormon estrogen. Serviks uteri mengandung lebih banyak

jaringan ikat yang banyak mengandung kolagen. Akibat kadar

estrogen yang meningkat dan dengan adanya hipervaskularisasi

maka konsistensi serviks menjadi lunak.

e. Mammae

Mammae akan membesar dan tegang akibat hormon

somatomammotropin, estrogen dan progesteron. Dibawah

pengaruh hormon tersebut terbentuk lemak disekitar alveolus,

sehingga mammae menjadi lebih besar. Papilla mammae akan

membesar dan lebih tegak dan tampak lebih hitam, seperti
seluruh areola mammae karena hiperpigmentasi. Glandula

montgomery tampak lebih jelas menonjol di permukaan areola

mammae.

2. Perubahan pada sistem lain

a. Sirkulasi darah

Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya

sirkulasi ke plasenta. Volume darah ibu dalam kehamilan

bertambah secara fisiologik dengan adanya pencairan darah

yang disebut hidremia (hemodilusi). Volume darah akan

bertambah banyak.

b. Sistem respirasi

Seorang wanita hamil tidak jarang mengeluh tentang rasa sesak

dan pendek nafas. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu

keatas oleh karena usus-usus tertekan oleh uterus yang

membesar kearah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa

bergerak.

c. Traktus digestivus

Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek

(nausea) akibat kadar hormone estrogen yang meningkat.

Tonus-tonus otot traktus digestivus menurun, sehingga motilitas

seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan berada lebih

lama dilambung dan apa yang telah dicernakan lebih lama

berada didalam usus. Hal ini mungkin baik untuk resorpsi, akan

tetapi menimbulkan pula obstipasi, yang memang merupakan
salah satu keluhan utama wanita hamil. Tidak jarang dijumpai

pada bulan-bulan pertama kehamilan gejala muntah (emesis).

Biasanya terjadi pada pagi hari, dikenal sebagai Morning

Sickness.

d. Traktus urinarius

Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan

oleh uterus yang mulai membesar, sehingga timbul sering

kencing. Keadaan ini hilang dengan makin tuanya kehamilan

bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Pada akhir

kehamilan, bila kepala janin mulai turun kebawah pintu atas

panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena

kandung kencing mulai tertekan lagi.

e. Kulit

Hiperpigmentasi pada kulit dipengarihi oleh Melanophore

stimulating hormone (MSH) yang meningkat. Hormone ini

dikeluarkan oleh lobus anterior hipofifis, deposit pigmen pada

dahi, pipi dan hidung dikenal sebagai kloasma gravidarum,

areola mammae pun menjadi lebih hitam. Tidak jarang dijumpai

kulit perut seolah-olah retak warnanya berubah agak hiperemik

dan kebiru-biruan (striae livide).

2.1.3 Perubahan Psikologi Pada Kehamilan

Menurut Varney (2007), Perubahan psikologis dalam kehamilan yaitu:

1. Merasa senang menanti kelahiran bayinya

2. Merasa kurang percaya diri dengan bentuk tubuh
3. Gelisah menunggu proses persalinannya normal/tidak bayinya

cacat/mati

4. Khawatir bisa menyusui/tidak

5. Takut kehilangan perhatian

6. Gelisah dan takut menjelanh kelahiran

7. Gangguan Bounding Attachmant

2.1.4 Tanda dan Gejala Kehamilan

Menurut Wiknjosastro (2009), Tanda dan gejala kehamilan

(diagnosa kehamilan) dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

1. Tanda tidak pasti kehamilan

a. Amenorea, gejala ini sangat penting karena umumnya wanita

hamil tidak dapat haid lagi. Penting diketahui tanggal hari

pertama haid terakhir untuk menentukan tuanya kehamilan serta

perkiraan persalinan.

b. Nausea (mual) dan Emesis (muntah). Biasanya terjadi pada

bulan-bulan pertama kehamilan dan menghilang pada akhir

triwulan pertama. Oleh karena sering terjadi pada pagi hari

disebut dengan “morning sickness”.

c. Ngidam, Ibu hamil sering menginginkan makan makanan dan

atau minuman tertentu, terutama pada bulan-bulan pertama

kehamilannya.

d. Mammae menjadi tegang dan membesar

e. Tanda hegar

f. Tanda chadwick
g. Tanda piscaseck, uterus membesar kesalah satu jurusan hingga

menonjol jelas kejurusan pembasaran tersebut.

h. Tanda braxton hicks, bila uterus dirangsang maka akan mudah

berkontraksi.

i. Adanya Human Chorionik Gonadotropin pada kehamilan muda

di tes melalui air kencing pertama pagi hari.

2. Tanda pasti kehamilan

a. Dapat diraba dan kemudian dikenal bagian-bagian janin

b. Dapat didengar denyut jantung janin

c. Dapat dirasakan gerakan janin

d. Dengan sinar rontgent tampak kerangka janin

e. Dengan USG dapat diketahui adanya kantong janin.

2.2 Konsep Dasar Hiperemesis Gravidarum

2.2.1 Definisi Hiperemesis Gravidarum

Hiperemesis Gravidarum adalah Muntah yang menetap sepanjang

hari selama jangka waktu yang lama dan menyebabkan kehilangan

berat badan, pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan keadaan

umum menjadi buruk (Cunningham, 2008).

Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang

berlebihan pada ibu hamil, seorang ibu menderita Hiperemesis

Gravidarum jika seorang ibu memuntahkan segala yang dimakan dan

ddiminumnya hingga berat badan ibu sangat turun (Wiknjosastro,

2009).
Hiperemesis Gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal

kehamilan sampai umur kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah

kadang- kadang begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan

diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum

dan mengganggu pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi,

dan terdapat aseton dalam urin seperti gejala penyakit apendisitis,

pielititis, dan sebagainya (Sidik, 2010).

Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang

berlebihan pada wanita hamil sehingga mengganggu pekerjaan sehari-

hari dan kedaan umumnya menjadi buruk, karena terjadi dehidrasi,

biasanya terjadi pada usia kehamilan trimester I. Gejala tersebut kurang

lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan

berlangsung selama kurang lebih 10 minggu (Marmi 2011).

2.2.2 Etiologi Hiperemesis Gravidarum

Kejadian Hiperemesis Gravidarum belum diketahui dengan pasti.

Menurut Marmi (2011), beberapa faktor predisposisi dapat dijabarkan

sebagai berikut:

1. Faktor adaptasi dan hormonal

Pada wanita hamil yang kekurangan darah lebih sering terjadi

hiperemesis gravidarum. Dapat dimasukkan dalam ruang lingkup

faktor adaptasi adalah wanita hamil dengan hiperemesis gravidarum,

wanita primigravida, dan overdistensi rahim pada hamil ganda dan

hamil molahidatidosa.
Sebagian kecil primigravida belum mampu beradaptasi

terhadap hormon estrogen dan HCG, sedangkan pada hamil ganda

dan mola hidatidosa, jumlah hormon yang dikeluarkan terlalu tinggi

dan menyebabkan terjadi hiperemesis itu.

2. Faktor Psikologis

Hubungan faktor psikologis dengan kejadian Hiperemesis

Gravidarum belum jelas. Besar kemungkinan bahwa wanita yang

menolak hamil, takut kehilangan pekerjaan, keretakan hubungan

suami dan sebagainya, diduga dapat menjadi faktor kejadian

hiperemesis gravidarum.

3. Faktor alergi

Pada kehamilan, dimana diduga terjadi invasi jaringan villi

chorealis yang masuk kedalam peredaran darah ibu, maka faktor

alergi dianggap dapat menyebabkan kejadian hiperemesis

gravidarum.

Etiologi Hiperemesis Gravidarum belum diketahui secara pasti,

tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik, juga

tidak ditemukan kelainan biokimia, namun menurut Karwati (2011)

dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain sebagai berikut :

1. Faktor predisposisi

a. Primigravida

b. Overdistensi rahim : hidramnion, kehamilan ganda, estrogen,

HCG tinggi dan mola hidatidosa.
2. Faktor organik

a. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal.

b. Perubahan metabolik akibat hamil.

c. Resistensi yang menurun dari pihak ibu.

d. Alergi.

3. Faktor psikologis

a. Rumah tangga yang retak.

b. Hamil yang tidak di inginkan.

c. Takut terhadap kehamilan dan persalinan.

d. Takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu.

e. Kehilangan pekerjaan.

Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60%

multigravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi

lebih berat. Perasaan ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar

hormon esterogen dan HCG dalam serum. Pengaruh fisiologik kenaikan

hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau

pengosongan lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat

menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan

muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Keadaan inilah

yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan

fisiologi menentukan berat ringannya penyakit ( Prawirohardjo, 2010).

Penyebab Hiperemesis Gravidarum belum di ketahui secara pasti.

Tidak ada bukti bahwa penyakit ini belum di ketahui secara pasti. Tidak

ada bukti bahwa penyakit ini di sebabkan oleh faktor toksis juga tidak
ditemukan kelainan biokimia, perubahan-perubahan anatomik yang

terjadi pada otak, jantung, hati dan susunan syaraf, disebabkan oleh

kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat kelemahan tubuh karena

tidak makan dan minum. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain

yang telah ditemukan adalah sering terjadi pada primigravida,

masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan

metabolisme akibat hamil serta resistensi yang menurun dan pihak ibu

terhadap perubahan ini merupakan faktor organik alergi, faktor

psikologik, molahidatidosa, faktor adaptasi dan hormonal

(Prawirohardjo, 2010).

2.2.3 Patofisiologi Hiperemesis Gravidarum

Patofisiologi hiperemesis gravidarum diawali dengan mual dan

muntah yang berlebihan sehingga dapat menimbulkan dehidrasi,

tekanan darah turun dan diuresis menurun. Hal ini menimbulkan perfusi

kejaringan, menutup untuk memberikan nutrisi dan mengonsumsi O2.

Oleh karena itu dapat terjadi perubahan metabolisme menuju arah

anaerobik dengan menimbulkan benda keton dan asam laktat. Muntah

yang berlebih dapat menimbulkan perubahan elektrolit sehingga pH

darah menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu semua masalah tersebut

dapat menimbulkan gangguan fungsi alat vital (Manuaba 2010).

Hiperemesis gravidarum merupakan kejadian mual dan muntah

yang berlebihan sehingga mengganggu aktivitas ibu hamil. Hiperemesis

gravidarum sering terjadi pada awal kehamilan antara umur kehamilan

8-12 minggu. Hiperemesis gravidarum apabila tidak tertangani dengan
baik akan menyebabkan komplikasi bahkan kematian ibu dan janin.

Prevalensi hiperemesis gravidarum antara 1-3 % atau 5-20 kasus per

1000 kehamilan (Winkjosastro, 2009).

2.2.4 Gejala Klinik Hiperemesis Gravidarum

Berdasarkan batas antara muntah yang fisiologis dan patologis

tidak jelas, tetapi muntah yang menimbulkan gangguan kehidupan

sehari-hari dan dehidrasi memberikan petunjuk bahwa wanita hamil

telah memerlukan perawatan yang intensif (Sulistyawati, 2012).

Gambaran gejala Hiperemesis Gravidarum secara klinis dapat

dibagi menjadi tiga tingkat menurut Sulistyawati (2012):

1. Hiperemesis Gravidarum tingkat pertama

a. Muntah berlangsung terus

b. Makan berkurang

c. Berat badan menurun

d. Kulit dehidrasi-tonusnya lemah

e. Nyeri di daerah epigastrium

f. Tekanan darah turun dan nadi meningkat

g. Lidah kering

h. Mata tampak cekung.

Hiperemesis Gravidarum ringan ditandai dengan muntah terus

menerus yang mempengaruhi keadaaan umum penderita, terjadi

dehidrasi, teakanan darah menurun, denyut nadi jantung, dan dapat

disertai dengan naiknya suhu tubuh, nyeri epigastrium, merasa lemah

dan nafsu makan menurun.
Gejala Hiperemesis Gravidarum tingkat satu adalah muntah

t,erus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu

merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun, dan

nyeri epigastrium, nadi meningkat sekitar 100 permenit, tekanan

darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah mengering dan

mata cekung.

2. Hiperemesis Gravidarum tingkat kedua

a. Penderita tampak lebih lemah

b. Gejala dehidrasi makin tampak, mata cekung, turgor kulit makin

kurang, lidah kering dan kotor

c. Tekanan darah turun dan nadi meningkat

d. Berat badan makin turun

e. Mata ikterik

f. Gejala hemokonsentrasi makin tampak, urine berkurang, bau

aseton dalam urin meningkat

g. Terjadinya gangguan buang air basar

h. Mulai tampak gejala gangguan kesadaran, menjadi apatis

i. Nafas berbau aseton

Dehidrasi bertambah ditandai dengan turgor kulit yang makin

berkurang, lidah kering dan kotor, berat badan menurun, mata

cekung. Jika mengalami gangguan sirkulasi darah yang ditandai

dengan nadi cepat dantekanan darah turun, terjadi hemokonsentrasi,

oligoria, obstipasi.
3. Hiperemesis Gravidarum tingkat ketiga

a. Muntah berkurang

b. Keadaan umum wanita hamil makin menurun, tekanan darah

turun, nadi meningkat, dan suhu naik, keadaan dehidrasi makin

jelas

c. Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi ikterus

d. Gangguan kesadaran dalam bentuk: samnolen sampai koma,

komplikasi susunan saraf pusat (ensefalopati Wernicke),

nistagmus-perubahan arah bola mata, diplopia-gambar tampak

ganda, perubahan mental.

Dehidrasi makin berat, mual muntah berhenti, terjadi perdarahan

esofagus dan retina. Gangguan fungsi lever yang terus meningkat,

penurunan kesadaran samnolen sampai koma.

2.2.2 Diagnosis Hiperemesis Gravidarum

Menetapkan Hiperemesis Gravidarum tidak sukar, dengan

menentukan kehamilan, muntah berlebihan sambil menimbulkan

gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi. Muntah yang terus-

menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan gangguan tumbuh

kembang janin dalam kandungan dengan manifestasi kliniknya. Oleh

karena itu, hiperemesis gravidarum berkelanjutan harus dicegah dan

harus mendapat pengobatan yang adekuat (Soetjiningsih, 2010).

Kemungkinan penyakit lain yang menyertai hamil harus

dipikirkan dan berkonsultasi dengan dokter tentang penyakit hati,

penyakit ginjal, dan penyakit tukak lambung. Pemeriksaan laboratorium

dapat membedakan ketiga kemungkinan hamil yang disertai penyakit.

(Rukiah, 2010).
2.2.3 Komplikasi Hiperemesis Gravidarum

Menurut Manuaba (2010) Komplikasi pada ibu Hipermisis

Gravidarum di bagi menjadi:

1. Komplikasi Ringan: Kehilangan berat badan, dehidrasi, asidosis dari

kekurangan gizi, alkalosis hipokalemia, kelemahan otot, kelainan

elektrokardiografik, tetani dan gangguan psikologi.

2. Komplikasi yang mengancam kehidupan, Ruptur oesophageal

berkaitan dengan muntah yang berat,encephalophaty wernicke’s,

mielinolisis pusat pontine, retinal haemorage, kerusakan ginjal,

keterlambatan pertumbuhan didalam kandungan, dan kematian janin.

Menurut Djafar Siddik (2009), resiko hiperemesis gravidarum

diantaranya :

1. Maternal, akibat defisiensi tiamin (B1) akan menyebabkan terjadinya

diplopia, palsi nervus ke-6, nistagmus, ataksia, dan kejang. Jika hal

ini tidak segera ditangani, akan terjadi psikosis korsakoff

(hiperemesis gravidarum, menurunnya kemampuan untuk

beraktivitas), ataupun kematian. Oleh karena itu, untuk hiperemesis

tingkat II perlu dipertimbangkan terminasi kehamilan.

2. Fetal, penurunan berat badan yang kronis akan meningkatkan

kejadian gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (IUGR).
2.2.4 Pencegahan Hiperemesis gravidarum

Menurut Manuaba (2010), pencegahan Hiperemesis

Gravidarum dapat dilakukan dengan:

1. Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum diperlukan dengan

jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan

sebagai suatu proses yang fisiologis. Dengan memberikan informasi

dan edukasi tentang kehamilan pada ibu-ibu dengan maksud

menghilangkan faktor psikis rasa takut. Juga tentang diet ibu hamil,

makan dalam porsi kecil /sedikit namun sering. Jangan tiba-tiba

berdiri waktu bangun pagi, akan terasa doyong,mual dan muntah

sehingga dianjurkan untuk makan roti kering dengan teh hangat.

Selain itu hindari makanan yang berminyak dan berbau lemak serta

menyajikan makanan jangan terlalu panas/dingin. Defekasi juga

hendaknya diusahakan teratur.

2. Terapi obat-obatanTerapi obat diberikan apabila cara di atas tidak

mengurangi keluhan dan gejala. Tetapi perlu diingat untuk tidak

memberikan obat yang teratogen. Dapat menggunakan sedativa

(luminal, stesolid), vitamin (BI dan B6), anti muntah (mediamer B6,

drammamin, acopreg, avomin, torecan) antasida dan anti mulas.

Pada keadaan lebih berat diberikan anti emetic seperti disiklomin

hidrokloride atau khlorpromasin.
2.2.5 Penatalaksanaan Hiperemesis Gravidarum

Adapun penatalaksanaan yang dapat diberikan pada pasien

dengan Hiperemesis gravidarum menurut Runiari (2010) yaitu :

1. Penatalaksanaan Umum

a. Memberikan penjelasan tentang kehamilan dan persalinan sebagai

suatu proses yang fisiologi.

b. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah

merupakan gejala fisiologi pada kehamilan muda dan akan hilang

setelah kehamilan 4 bulan.

c. Menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan

dalam jumlah kecil tetapi sering.

d. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari

tempat tidur, terlebih dahulu makan roti kering atau biscuit

dengan teh hangat.

e. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaikya dihindari.

f. Makanan sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat

dingin.

g. Defekasi yang teratur.

Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang

penting, dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.

h. Obat-obatan

Sedative yang sering digunakan adalah phenobarbital. Vitamin

yang dianjurkan vitamin B1 dan B6. Anti histaminika juga

dianjurkan juga seperti dramamin, avomin. Pada keadaan lebih
berat diberikan antiemetic seperti disiklomin hidrokhonae atau

khlorpromasin. Penanganan hiperemesis gravidarum yang berat

perlu dikelola dirumah sakit.

i. Isolasi

Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan

peredaran udara yang baik. Catat cairan yang keluar dan masuk

hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar

penderita sampai muntah berhenti dan penderita mau makan.

Tidak diberikan makanan / minuman selama 24 jam.

j. Terapi psikologi

Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat

disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan,

kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang

kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

k. Cairan parenteral

Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolik, karbohidrat dan

protein dengan glukosa 5% dalam cairan garam fisiologis

sebanyak 2-3 liter/hari. Bila perlu dapat ditambah kalium dan

vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C. bila ada

kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara

intravena.

l. Penghentian kehamilan

Pada beberapa kasus pengobatan hiperemesis gravidarum tidak

berhasil malah terjadi kemunduran dan keadaan semakin menurun
sehingga diperlukan pertimbangan untuk melakukan gugur

kandung. Keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur

kandung diantaranya:

1) Gangguan kejiwaan (delirium, apatis, somnolen sampai koma,

terjadi gangguan jiwa ensefalopati wernicke).

2) Gangguan penglihatan (perdarahan retina, kemunduran

penglihatan).

3) Gangguan faal (hati dalam bentuk ikterus, ginjal dalam bentuk

anuria, jantung dan pembuluh darah terjadi nadi meningkat,

tekanan darah menurun).

2. Diet

Diet hiperemesis gravidarum berfungsi untuk mengganti

persediaan glikogen tubuh, mengontrol asidosis dan secara berangsur

akan diberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup.Diet

hiperemesis gravidarum memiliki beberapa syarat. Menurut Runiari

(2010) diantaranya:

a. Karbohidrat tinggi, sebesar 75-80% dari kebutuhan energi total.

b. Lemak rendah, yaitu <10% dari kebutuhan energi total.

c. Protein sedang, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total.

d. Makanan diberikan dalam bentuk kering.

e. Pemberian cairan disesuaikan dengan keadaan klien yaitu 7 - 10

gelas/hari.

f. Makanan mudah cerna, tidak merangsang saluran pencernaan dan

diberikan dalam porsi kecil tapi sering.
g. Bila makan pagi dan siang sulit diterima, pemberian dioptimalkan

pada makan malam dan selingan pada malam hari.

h. Pemberian makanan ditingkatkan secara bertahap dalam porsi dan

nilai gizi sesuai dengan keadaan dan kebutuhan gizi klien.

Terdapat tiga macam diet bagi pasien hiperemesis, yaitu :

a. Diet hiperemesis I

Diet ini diberikan pada hiperemesis tingkat III. makanan

hanya terdiri dari roti kering, singkong bakar atau rebus, ubi bakar

atau rebus, dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama

dengan makanan tetapi 1-2 jam setelahnya. Karena pada diet ini

zat gizi yang terkandung didalamnya kurang, maka tidak

diberikan dalam waktu lama.

b. Diet hiperemesis II

Diet ini diberikan bila rasa mual dan muntah sudah

berkurang. Diet diberikan secara bertahap dan dimulai dengan

memberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman

tetap tidak diberikan bersamaan dengan makanan. Pemelihan

bahan Makanan yang tepat pada tahap ini dapat memenuhi

kebutuhan gizi kecuali kebutuhan energi. Jenis makanan ini

rendah kandungan gizinya, kecuali vitamin A dan D.

c. Diet hiperemesis III

Diet ini diberikan kepada klien hiperemesis gravidarum

ringan. Diet diberikan sesuai kemampuan klien, dan minuman

boleh diberikan bersamaan dengan makanan. Makanan pada diet

ini mengcukupi kebutuhan energi dan semua zat gizi.
2.2.6 Pengobatan Hiperemesis Gravidarum

Pengobatan yang baik pada emesis gravidarum sehingga dapat

mencegah hiperemesis gravidarum. Dalam keadaan muntah berlebihan

dan dehidrasi ringan, penderita emesis gravidarum sebaiknya dirawat

sehingga dapat mencegah hiperemesis gravidarum. Konsep pengobatan

yang dapat diberikan menurut Rukiyah (2010), sebagai berikut:

1. Isolasi dan pengobatan psikologis

Dengan melakukan isolasi di ruangan sudah dapat

meringankan wanita hamil karena perubahan suasana dari

lingkungan rumah tangga. Petugas dapat memberikan komunikasi,

informasi, dan edukasi tentang berbagai masalah berkaitan dengan

kehamilan

2. Pemberian cairan pengganti

Dalam keadaan darurat diberikan cairan pengganti sehingga

keadaan dehidrasi dapat diatasi. Cairan pengganti yang diberikan

ialah glukosa 5% smapai 10% dengan keuntungan dapat mengganti

cairan yang hilang dan berfungsi sebagai sumber metabolisme,

sehingga terjadi perubahan metabolisme dari lemak dan protein

menuju kearah pemecahan glukosa. Dalam cairan dapat ditambahkan

vitamin C, B komplek atau kalium yang diperlukan untuk kelancaran

metabolisme.

Selama pemberian cairan harus mendapat perhatian tentang

keseimbangan cairan yang masuk dan keluar melalui kateter, nadi,

tekanan darah, suhu dan pernafasan. Lancarnya pengeluaran urin
memberikan petunjuk bahwa keadaan wanita hamil berangsur-

angsur membaik.

Pemeriksaan yang perlu dilakukan darah, urin, dan bila

mungkin fungsi hati dan ginjal. Bila keadaan muntah berkurang,

kesadaran membaik, wanita hamil dapat diberikan makan minum

dan mobilisasi

3. Obat yang dapat diberikan

Memberikan obat pada hiperemesis gravidarum sebaiknya

berkonsultasi dengan dokter, sehingga dapat dipilih obat yang tidak

bersifat teratogenik.

Komponen atau susunan obat yang dapat diberikan adalah:

a. Sedative ringan

1) Phenobarbital (luminal) 30 mgr

2) Valium

b. Anti alergi

1) Antihistamin

2) Dramamin

3) Avomin

c. Obat anti mual-muntah

1) Mediamer B6

2) Emetrole

3) Stimetil

4) Avopreg
d. Vitamin

1) Terutama vitamin B complek

2) Vitamin C

4. Menghentikan kehamilan

Pada beberapa kasus, pengobatan hiperemesis gravidarum

tidak berhasil malah terjadi kemunduran dan keadaan semakin

menurun sehingga diperlukan pertimbangan untuk melakukan gugur

kandung. Keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur kandung

diantaranya:

a. Gangguan kejiwaan

1) Delirium

2) Apatis, samnolen sampai koma

3) Terjadi gangguan jiwa ensefalopati Wernicke

b. Gangguan penglihatan

1) Perdarahan retina

2) Kemunduran penglihatan

c. Gangguan faal

1) Hati dalam bentuk ikterus

2) Ginjal dalam bentuk anuria

3) Jantung dan pembuluh darah terjadi nadi meningkat

4) Tekanan darah menurun

Dengan memperhatikan keadaan tersebut gugur kandung dapat

dipertimbangkan pada hiperemesis gravidarum.
2.3 Konsep Manajemen Kebidanan

Konsep Manajemen Kebidanan Menurut Varney (2007):

2.3.1 Pengumpulan Data Dasar

Pada langkah pertama dikumpulkan semua informasi yang

akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi

klien.

Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara:

1. Auto anamnesa

Adalah anamnesa yang dilakukan kepada pasien langsung. Jadi data

yang diperoleh adalah data primer, karena langsung dari sumbernya.

2. Allo anamnesa

Adalah anamnesa yang dilakukan kepada keluarga pasien untuk

memperoleh data tentang pasien. Ini dilakukan pada keadaan

darurat ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk memberikan

data yang akurat.

Anamnesa dilakukan untuk mendapatkan data anamnesa terdiri

dari beberapa kelompok penting sebagai berikut:

1. Data subjektif

a. Biodata

1) Nama pasien dikaji untuk membedakan pasien satu dengan

yang lain.

2) Umur pasien dikaji untuk mengetahui adanya resiko seperti

kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang,

mental dan psikisnya belum siap.
3) Agama pasien dikaji untuk mengetahui keyakinan pasien

untuk membimbing atau mengarahkan pasien untuk berdoa.

4) Suku pasien dikaji untuk mengetahui adat dan kebiasaan

sehari-hari yang berhubungan dengan masalah yang

dialami.

5) Pendidikan pasien dikaji untuk mengetahui tingkat

pengetahuan dan metode komunikasi yang akan

disampaikan.

6) Pekerjaan pasien dikaji untuk mengetahui tingkat sosial

ekonomi pasien, karena ini juga berpengaruh pada gizi

pasien.

7) Alamat pasien dikaji untuk mengetahui keadaan lingkungan

sekitar pasien, dan kunjungan rumah bila diperlukan.

b. Riwayat pasien

Keluhan utama

Keluhan ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke

fasilitas pelayanan kesehatan.

c. Riwayat kebidanan

Data ini penting diketahui oleh tenaga kesehatan sebagai data

acuan jika pasien mengalami penyulit.

1) Menstruasi

Data ini memang secara tidak langsung berhubungan, namun

dari data yang kita peroleh kita akan mempunyai gambaran

tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya. Beberapa
data yang harus diperoleh dari riwayat menstruasi antar lain

sebagai berikut :

a) Menarche

Menarche adalah usia pertama kali mengalami

menstruasi. Wanita Indonesia pada umumnya mengalami

menarche sekitar 12 sampai 16 tahun

b) Siklus

Siklus menstruasi adalah jarak anatar menstruasi yang

dialami dengan menstruasi berikutnya, dalam hitungan

hari. Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari.

c) Volume

Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi

yang dikeluarkan. Kadang kita akan kesulitan untuk

mendapatkan data yang valid. Sebagai acuan biasanya

kita gunakan kriteria banyak, sedang, dan sedikit.

Jawaban yang diberikan oleh pasien biasanya bersifat

subjektif, namun kita dapat kaji lebih dalam lagi dalam

beberapa pertanyaan pendukung, misalnya sampai

berapa kali mengganti pembalut dalam sehari.

d) Keluhan

Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang dirasakan

ketika mengalami menstruasi, misalnya nyeri hebat,

sakit kepala sampai pingsan, jumlah darah yang banyak.

Ada beberapa keluhan yang disampaikan oleh pasien

dapat menunjuk pada diagnosis tetentu.
2) Gangguan kesehatan alat reproduksi

Beberapa data yang perlu kita kaji dari pasien adalah apakah

pasien pernah mengalami gangguan seperti berikut ini:

a) Keputihan

b) Infeksi

c) Gatal karena jamur

d) Tumor

d. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas dan KB yang lalu.

1) Riwayat kesehatan

Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai

“penanda” (warning) akan adanya penyulit masa hamil.

Adanya perubahan fisik dan fisiologis pada masa hamil yang

melibatkan seluruh sistem dalam tubuh akan mempengaruhi

organ yang mengalami gangguan. Beberapa data penting

tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu kita ketahui

adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita

penyakit, seperti jantung, diabetes mellitus (DM),

hipertensi/hipotensi, ginjal, dan hepatitis.

2) Status perkawinan

Ini penting untuk dikaji karena dari data ini kita akan

mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah tangga

pasangan.
3) Pola makan

Ini penting untuk diketahui supaya kita mendapatkan

gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya

selama hamil. Kita bisa menggali dari pasien tentang

makanan yang disukai dan yang tidak disukai, seberapa

banyak dan sering ia mengonsumsinya, sehingga jika kita

peroleh data yang tidak sesuai dengan standar pemenuhan,

maka kita dapat memberikan klarifikasi dalam pemberian

pendidikan kesehatan mengenai gizi ibu hamil.

Beberapa hal yang perlu kita tanyakan adalah :

a) Menu

Kita dapat menanyakan pada pasien tentang apa saja

yang ia makan dalam sehari (nasi, sayur, lauk, buah,

makanan selingan dan lain-lain)

b) Frekuensi

Data ini member petunjuk bagi kita tentang seberapa

banyak asupan makanan yang dikonsumsi ibu.

c) Jumlah per hari

Data ini memberikan volume atau seberapa banyak

makanan yang ibu makan dalam waktu satu kali makan.

d) Pantangan

Ini juga penting untuk kita kaji karena ada kemungkinan

pasien berpantangan justru pada makanan yang sangat

mendukung pemulihan fisiknya, misalnya daging, ikan

atau telur.
4) Pola minum

Kita juga harus dapat memperoleh data dari kebiasaan

pasien dalam memenuhi kebutuhan cairannya. Apalagi

dalam masa kehamilan asupan cairan yang cukup sangat

dibutuhkan. Hal-hal yang perlu ditanyakan :

a) Frekuensi

Kita dapat tanyakan pada pasien berapa kali ia minum

dalam sehari dan dalam sekali minum menghabiskan

berapa gelas.

b) Jumlah per hari

Frekuensi minum dikalikan seberapa banyak ibu minum

dalam sekali waktu minum akan didapatkan jumlah

asupan cairan dalam sehari.

c) Jenis minuman

Kadang pasien mengonsumsi minuman yang sebenarnya

kurang baik untuk kesehatannya.

5) Pola istirahat

Istirahat sangat diperlukan oleh ibu hamil. Oleh karena itu,

bidan perlu menggali kebiasaan istirahat ibu supaya

diketahui hambatan yang mungkin muncul jika didapatkan

data yang senjang tentang pemenuhan kebutuhan istirahat.

Bidan dapat menanyakan tentang berapa lama ia tidur di

malam dan siang hari.
a) Istirahat malam hari

Rata-rata lama tidur malam yang normal adalah 6-8 jam

b) Istirahat siang hari

Tidak semua wanita mempunyai kebiasaan tidur siang.

Oleh karena itu, hal ini dapat kita sampaikan kepada ibu

bahwa tidur siang sangat penting unuk menjaga

kesehatan selama hamil.

6) Aktifitas sehari-hari

Kita perlu mengkaji aktifitas sehari-hari pasien karena data

ini memberikan gambaran tentang seberapa berat aktifitas

yang biasa dilakukan pasien dirumah. Jika kegiatan pasien

terlalu berat sampai dikhawatirkan dapat menimbulakn

penyulit masa hamil, maka kita dapat memberikan

peringatan sedini mungkin kepada pasien untuk membatasi

dulu aktifitasnya sampai ia sehat dan pulih kembali.

Aktifitas yang terlalu berat dapat menyebabkan abortus dan

persalinan premature.

7) Personal hygiene

Data ini perlu kita kaji karena bagaimanapun juga hal ini

akan memengaruhi kesehatan pasien dan bayinya. Jika

pasien mempunyai kebiasaan yang kurang baik dalam

perawatan kebersihan dirinya, maka bidan harus dapat

memberikan bimbingan mengenai cara perawatan

kebersihan diri dan bayinya sedini mungkin. Beberapa
kebiasaan yang dilakukan dalam perawatan kebersihan diri

diantaranya adalah sebagai berikut :

a) Mandi

Kita dapat menanyakan pada pasien berapa kali ia mandi

dalam sehari dan kapan waktunya (jam berapa pagi dan

sore)

b) Keramas

Pada beberapa wanita ada yang kurang peduli dengan

kebersihan rambutnya karena mereka beranggapan

keramas tidak begitu berpengaruh terhadap kesehatan.

Jika kita menemukan pasien yang seperti ini maka kita

harus memberikan pengertian kepadanya bahwa keramas

harus selalu dilakukan ketika rambut kotor karena bagian

kepala yang kotor merupakan sumber infeksi.

c) Ganti baju dan celana dalam

Ganti baju minimal sekali dalam sehari, sedangkan

celana dalam minimal dua kali. Namun jika sewaktu-

waktu baju dan celana dalam sudah kotor, sebaiknya

diganti tanpa harus menunggu waktu untuk ganti

berikutnya.

d) Kebersihan kuku

Kuku ibu hamil harus selalu dalam keadaan pendek dan

bersih. Kuku ini selain sebagai tempat yang mudah untuk

bersarangnya kuman sumber infeksi, juga dapat
menyebabkan trauma pada kulit bayi jika terlalu panjang.

Kita dapat menanyakan pada pasien setiap berapa hari ia

memotong kukunya, atau apakah ia selalu

memanjangkan kukunya supaya terlihat menarik.

8) Aktifitas seksual

Walaupun ini dalah hal yang cukup privasi bagi pasien,

namun bidan harus menggali data dari kebiasaan ini, karena

terjadi beberapa kasus keluhan dalam aktifitas seksual yang

cukup mengganggu pasien namun ia tidak tahu kemana

harus berkonsultasi. Dengan teknik yang senyaman mungkin

bagi pasien. Hal-hal yang ditanyakan:

a) Frekuensi

Kita tanyakan berapa kali melakuakn hubungan seksual

dalam seminggu.

b) Gangguan

Kita tanyakan apakah pasien mengalami gangguan

ketika melakukan hubungan seksual.

e. Respon keluarga terhadap kehamilan ini

Bagaimanapun juga hal ini sangat penting untuk kenyamanan

psikologis ibu. Adanya respon yang positif dari keluarga

terhadap kehamilan akan mempercepat proses adaptasi ibu

dalam msenerima perannya.
f. Respon ibu terhadap kelahiran bayinya

Dalam mengkaji data ini kita dapat menanyakan langsung

kepada pasien mengenai bagaimana perasaannya terhadap

kehamilan ini.

g. Respon ayah terhadap kehamilan ini

Untuk mengetahui bagaimana respon ayah terhadap kehamilan

ini kita dapat menanyakan langsung pada suami pasien atau

pasien itu sendiri. Data mengenai respon ayah ini sanagat

penting karena dapat kita jadikan sebagai salah satu acuan

mengenai bagaimana pola kita dalam memberikan asuhan

kepada pasien.

h. Adat istiadat setempat yang berkaitan dengan masa hamil

Untuk mendapatkan data ini bidan sangat perlu melakukan

pendekatan terhadap keluarga pasien, terutama orang tua. Hal

ini penting yang biasanya mereka anut berkaitan dengan masa

hamil adalah menu makan untuk ibu hamil, misalnya ibu hamil

pantang makanan yang berasal dari daging, ikan telur, dan

gorengan karena dipercaya akan menyebabkan kelainan pada

janin. Adat ini akan sangat merugikan pasien dan janin karena

hal tesebut justru akan membuat pertumbuhan janin tidak

optimal dan pemulihan kesehatannya akan terhambat.

2. Data objektif

Setelah data subjektif kita dapatkan, untuk melengkapi data

kita dalam menegakan diagnosis, maka kita harus melakukan
pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi,

auskultasi dan perkusi.

Langkah-langkah pemeriksaanya sebagai berikut :

a. Keadaan umum

Untuk mengetahui data ini kita cukup dengan mengamati

keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan kita

laporkan dengan criteria sebagai berikut :

1) Baik

Jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap

lingkungan dan orang lain, serta secara fisik paien tidak

mengalami ketergantungan dalam berjalan.

2) Lemah

Pasien dimasukan dalam criteria ini jika ia kurang atau tidak

memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan

orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk

berjalan sendiri.

b. Kesadaran

Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita

dapat melakukan pengkajian tingkat kesadaran mulai dari

keadaan compos mentis (kesadaran maksimal) sampai dengan

koma (pasien tidak dalam sadar).

c. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan

tanda-tanda vital, meliputi:
1) Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan

perkusi)

2) Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan catatan terbaru

serta catatan sebelumnya).

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada formulir pengumpulan

data kehamilan, persalinan, dan masa nifas.

Dalam manajemen kolaborasi, bila klien mengalami

komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter, bidan akan

melakukan upaya konsultasi. Tahap ini merupakan langkah awal

yang akan menentukan langkah berikutnya sehingga kelengkapan

data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menentukan benar

tidaknya proses interpretasi pada tahap selanjutnya. Oleh karena itu,

pendekatan ini harus komprehensif, mencakup data subjektif, data

objektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan

kondisi klien yang sebenarnya serta valid. kaji ulang data yang

sudah dikumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat

(Soepardan, 2008).

2.3.2 Langkah II (Interpretasi Data Dasar)

Dalam langkah kedua ini bidan membagi interpretasi data dalam

tiga bagian, yaitu sebagai berikut:

1. Diagnosis kebidanan/ nomenklatur

Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain:
a. Paritas

Paritas adalah riwayat repsoduksi seorang wanita yang

berkaitan dengan primigravida (hamil yang pertama kali),

dibedakan dengan multigravida (hamil yang kedua atau lebih).

Contoh cara penulisan paritas dalam interpretasi data aalah

sebagai berikut:

1) G1(gravid 1) atau yang pertama kali

2) P0 (Partus nol) berarti belum pernah partus atau melahirkan

3) A0( Abortus) berarti belum pernah mengalami abortus

4) Multigravida

5) G3 (gravid 3) atau ini adalah kehamilan yang ketiga

6) P1 (Partus 1) atau sudah pernah mengalami persalinan satu

kali

7) A1 (abortus 1) atau sudah pernah mengalimi abortus satu

kali

8) Usia kehamilan dalam minggu

9) Keadaan janin

10) Normal atau tidak normal

2. Masalah

Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah “masalah” dan

”diagnosis”. Kedua istilah tersebut dipakai karena beberapa

masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi tetap

perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh.

Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu

menngalami kenyataan terhadap diagnosisnya.
3. Kebutuhan pasien

Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan

keadaan dan masalahnya.

2.3.3 Langkah III (Identifikasi Diagnosis/ Masalah Potensial dan

Antisipasi Penangannya)

Pada langkah ketiga kita mengidentifikasi masalah potensial

atau diagnosis potensial berdasarkan diagnosis/masalah yang sudah

dididentikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila

memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat

waspada dan bersiap-siap mencegah diagnosis/masalah potensial ini

menjadi kenyataan. Langkah ini penting sekali dalam melakukan

asuhan yang aman.

Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu

mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan masalah

potensial yang akan terjadi, tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi

agar masalah atau diagnosis tersebut tidak terjadi. Langkah ini bersifat

antisipasi yang rasional atau logis (Soepardan, 2008).

2.3.4 Langkah IV (Menetapkan Perlunya Konsultasi dan Kolaborasi

Segera dengan Tenaga Kesehatan Lain)

Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan

konsultasi atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan lain

dengan kondisi klien. Dalam kondisi tertentu, seorang bidan mungkin

juga perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim

kesehatan lain seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang ahli
perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini, bidan harus mampu

mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa

sebaiknya konsultasi dan kolaborasi dilakukan (Soepardan, 2008).

2.3.5 Langkah V (Menyusun Rencana Asuhan Menyeluruh)

Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang

ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini

merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah diagnosis yang telah

diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini data yang belum

lengkap dapat dilengkapi.

Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi segala

hal yang sudah teridenfikiasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah

yang terkait, tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi untuk klien

tersebut. Pedoman antisipasi ini mencakup perkiraan tentang hal yang

akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan

apakah bidan perlu merujuk klien bila ada sejumlah masalah terkait

social, ekonomi, kultural, atau psikologis. Dengan kata lain, asuhan

terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan

dengan semua aspek asuhan kesehatan dan sudah disetujui oleh kedua

belah pihak, yaitu bidan dan klien, agar dapat dilaksanakan secara

efektif. Semua keputusan yang telah disepakati dikembangkan dalam

asuhan menyeluruh. Asuhan in harus bersifat rasional dan valid yang

didasarkan pada pengetahuan, teori terkini (up to date), dan sesuai

dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien (Soepardan,

2008).
2.3.6 Langkah VI (Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan

Aman)

Pada langkah keenam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan

dengan efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya

oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim

kesehatan yang lainnya. Walau bidan tidak melakukannya sendiri,

namun ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan

pelaksanaannya.

Dalam situasi ketika bidan berkonsultasi dengan dokter untuk

menangani klien yang mengalami komplikasi, bidan tetap bertanggung

jawab terhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh

tersebut (Soepardan, 2008).

2.3.7 Langkah VII (Evaluasi)

Evaluasi dilakukan secara siklus dan dengan mengkaji ulang

aspek asuhan yang tidak efektif untuk mengetahui factor mana yang

menguntungkan atau menghambat keberhasilan yang diberikan. Pada

langkah terakhir, dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang sudah

diberikan. Ini meliputi evaluasi pemenuhan kebutuhan akan bantuan:

apakah benar-benar telah terpenuhi sebagaimana diidentifikasi didalam

masalah dan diagnosis. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika

memang benar efektif dalam pelaksanaannya (Soepardan, 2008).
2.4 Landasan Kewenangan Bidan

2.4.1 Hukum Kesehatan

Hukum kesehatan adalah keseluruhan aturan hukum yang

mengatur tentang hubungan lamgsung dengan pemeliharaan kesehatan,

yang berupa penerapan hukum perdata, hukum pidana, dan hukum

administrasi Negara dalam kaitan dengan pemeliharaan kesehatan dan

yang bersumber dari hukum otonom yang berlaku untuk kalangan

tertentu saja, hukum kebiasaan, hukum yurisprudensi, aturan-aturan

internasional, ilmu pengetahuan dan literature yang ada kaitannya

dengan pemeliharaan kesehatan (Karwati, 2011).

Ketentuan hukum yang mengatur tentang tenaga kesehatan,

termasuk bidan, (Karwati, 2011) :

1. UU No. 23 th 1992 tentang kesehatan.

2. PP No. 32 th 1996 tentang tenaga kesehatan

3. Permenkes RI No. 161/Menkes/PER/I/2010 tentang register tenaga

kesehatan.

4. Kepmenkes RI nomor 938/Menkes/SK/VIII/2007 tentang standar

asuhan kebidanan.

5. Kode etik profesi.

6. Standar pelayanan kebidanan

2.4.2 Kewenangan Bidan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor

1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik

Bidan, kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:
1. Kewenangan normal:

a. Pelayanan kesehatan ibu

b. Pelayanan kesehatan anak

c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga

berencana.

2. Kewenangan dalam menjalankan program Pemerintah

3. Kewenangan bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak

memiliki dokter.

Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh

seluruh bidan. Kewenangan ini meliputi:

1. Pelayanan kesehatan ibu

a. Ruang lingkup:

1) Pelayanan konseling pada masa pra hamil

2) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal

3) Pelayanan persalinan normal

4) Pelayanan ibu nifas normal

5) Pelayanan ibu menyusui

6) Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan

b. Kewenangan:

1) Episiotomi

2) Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II

3) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan

perujukan

4) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil
5) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas

6) Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan

promosi air susu ibu (ASI) eksklusif

7) Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan

postpartum

8) Penyuluhan dan konseling

9) Bimbingan pada kelompok ibu hamil

10) Pemberian surat keterangan kematian

11) Pemberian surat keterangan cuti bersalin

2. Pelayanan kesehatan anak

a. Ruang lingkup:

1) Pelayanan bayi baru lahir

2) Pelayanan bayi

3) Pelayanan anak balita

4) Pelayanan anak pra sekolah

b. Kewenangan:

1) Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk

resusitasi, pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini

(IMD), injeksi vitamin K 1, perawatan bayi baru lahir pada

masa neonatal (0-28 hari), dan perawatan tali pusat

2) Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera

merujuk

3) Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan

perujukan
4) Pemberian imunisasi rutin sesuai program Pemerintah

5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak

pra sekolah

6) Pemberian konseling dan penyuluhan

7) Pemberian surat keterangan kelahiran

8) Pemberian surat keterangan kematian

3. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga

berencana, dengan kewenangan:

a. Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi

perempuan dan keluarga berencana

b. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom

Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus

bagi bidan yang menjalankan program Pemerintah mendapat

kewenangan tambahan untuk melakukan pelayanan kesehatan

yang meliputi:

1) Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam

rahim, dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah

kulit

2) Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus

penyakit kronis tertentu (dilakukan di bawah supervisi

dokter)

3) Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman

yang ditetapkan
4) Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang

kesehatan ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan

penyehatan lingkungan

5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra

sekolah dan anak sekolah

6) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas

7) Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan

penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS)

termasuk pemberian kondom, dan penyakit lainnya

8) Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan

Zat Adiktif lainnya (NAPZA) melalui informasi dan

edukasi

9) Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program

Pemeriksaan.

2.4.3 UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 Tentang Tugas dan Tanggung

Jawab Tenaga Kesehatan

Pasal 50

1. Tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melaksanakan

kegiatan kesehatan yang sesuai dengan bidang keahlian dan sesuai

dengan kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan

2. Ketentuan mengenai kategori, jenis dan klasifikasi tenaga kesehatan

ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 53

1. Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam

melaksanakan tugas sesuai profesinya.

2. Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas berkewajiban

mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien.

3. Tenaga kesehatan untuk kepentingan pembuktian dapat melakukan

tindakan medik terhadap seseorang dengan memperhatikan

kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan.

4. Ketentuan mengenai standar profesi dan hak-hak pasien

sebagaimana dimaksud ayat 2 ditentukan dengan peraturan

pemerintah.

Pasal 54

1. Terhadap tenaga kesehatan yang melaksanakan kesalahan atau

kelalaian dalam melaksanakan profesi dapat dikenakan tindakan

disiplin.

2. Penentuan ada dan tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana

dalam ayat (1) ditentukan oleh majlis disiplin tenaga kesehatan.

3. Ketentuan mengenai pembentukan fungsi, tugas tata kerja majelis

disiplin tenaga kesehatan ditetapkan oleh keputusan presiden.

Pasal 55

1. Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian

yang dilakukan tenaga kesehatan.

2. Ganti rugi yang sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan sesuai

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2.4.4 Standar Asuhan Kebidanan (Pelayanan Antenatal)

1. Standar 3 (identifikasi ibu hamil)

Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan

masyarakat secara berkala untuk memberi penyuluhan dan motivasi

ibu, suami dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk

memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur

2. Standar 4 (pemeriksaan dan pemantauan antenatal)

Bidan memberi setidaknya 4 kali pelayanan antenatal dan

pemantauan ibu dan janin secara seksama untuk menilai apakah

perkembangan janin berlangsung normal. Bidan juga harus

mengenal kehamilan resiko tinggi atau kelainan, khususnya anemia,

kurang gizi, hipertensi, penyakit menular seksual (PMS) atau infeksi

HIV. Bidan memberi pelayanan imunisasi, nasihat dan penyuhan

kesehatan, serta tugas terkait lainnya yang diberikan olah

puskesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat saat kunjungan.

Jika ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan

yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya.

3. Standar 5 (palpasi abdomen)

Bidan melakukan pemeriksaan abdomen secara seksama dan

melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan. Jika usia

kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah janin, dan

masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul untuk mencari

kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu.
4. Standar 8 (persiapan persalinan)

Bidan memberi saran yang tepat kepada ibu hamil, suami, serta

keluarganya pada trimester ke-3, untuk memastikan bahwa

persiapan persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang

menyenangkan akan direncanakan dengan baik. Persiapan

transportasi dan biaya untuk merujuk jika terjadi keadaan gawat

darurat. Bidan hendaknya melakukan kunjungan rumah untuk

persiapan persalinan
BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan

Jenis Studi kasus ini menggunakan metodestudi kasus yaitu studi yang

mengeksplorasi suatu masalah kebidanan dengan batasan terperinci, memiliki

pengambilan data yang mendalam dan menyertakan berbagai sumber

informasi.

Penelitian studi kasus ini adalah studi untuk mengeksplorasi masalah

Asuhan kebidanan pada ibu hamil Trimester I dengan Hiperemesis

Gravidarum diruang Nifas Puskesmas Ampenan.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi penelitian

Lokasi dilakukan di Puskesmas Ampenan Kota Mataram

3.2.2 Waktu penelitian

Waktu dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Mei 2016.

3.3 Subyek Penelitian

Subyek penelitian yang akan digunakan adalah 2 pasien dengan

masalah kebidanan yang sama yaitu: Hiperemesis gravidarum

Subyek penelitian : Ny. ”A” dan Ny. ”M” dengan Hiperemesis

gravidarum pada kehamilan Trimester I di Puskesmas Ampenan.

50
3.4 Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah, sebagai berikut :

1. Anamnesa untuk mendapatkan identitas pasien, riwayat sakit pasien

(keluhan utama, alasan kunjungan, riwayat penyakit sekarang, dahulu,

keluarga )

2. Observasi dan pemeriksaan fisik untuk melengkapi data subyektif yang

didapatkan dari wawancara, pemeriksaan yang dilakukan meliputi

pemeriksaan umum, pemeriksaan head to toe, dan pemeriksaan penunjang.

3. Studi dokumentasi, didapatkan dari hasil pemeriksaan diagnostik dan

rekam medik pasien.

3.5 Analisis Data

Analisa data dilakukan dengan cara mengemukakan fakta, selanjutnya

membandingkan dengan teori yang ada dan selanjutnya dituangkan dalam

opini pembahasan. Teknik analisis yang digunakan dengan cara menarasikan

jawaban – jawaban dari penelitian yang diperoleh dari hasil interpretasi

wawancara mendalam yang dilakukan untuk menjawab rumusan masalah

penelitian. Teknik analisa digunakan dengan cara observasi oleh penelitidan

studi dokumentasi yang menghasilkan data untuk selanjutnya di

interpretasikan oleh peneliti dibandingkan teori yang ada sebagai bahan untuk

memberikan rekomendasi dalam intervensi tersebut. Urutan dalam analisis

adalah :

1. Pengumpulan data.

Data dikumpulkan dari hasil wawancara mendalam, hasil ditulis

dalam bentuk catatan lapangan, kemudian disalin dalam bentuk transkrip.
2. Mereduksi data dengan membuat koding dan kategori.

Data hasil wawancara yang terkumpul dalam bentuk catatan lapangan

dijadikan satu dalam bentuk transkrip. Data yang terkumpul kemudian

dibuat koding yang dibuat oleh peneliti dan mempunyai arti tertentu sesuai

dengan topic penelitian yang diterpakan. Data obyektif dianalisis

berdasarkan hasil pemeriksaan diagnostik kemudian dibandingkan nilai

normal.

3. Penyajian data.

Penyajian data dapat dilakukan dengan table, gambar, bagan maupun

teks naratif. Kerahasiaan dari responden dijamin dengan jalan

mengaburkan identitas dari responden.

4. Kesimpulan.

Dari data yang disajikan, kemudian data dibahas dan dibandingkan

dengan hasil – hasil penelitian terdahulu dan secara teoritis dengan

perilaku kesehatan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan metode

induksi.

3.6 Etika Penelitian

Penelitian yang menggunakan manusia sebagai subyek tidak boleh

bertentangan dengan etik. Tujuan penulisan harus etis dalam arti hak subyek

penelitian harus dilindungi. Pada penelitian ini peneliti mendapat pengantar

dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan YARSI Mataram yang akan diberikan

kapada Kepala Puskesmas Ampenan untuk mendapat persetujuan penelitian

dan pengambilan data kejadian Hiperemesis Gravidarum pada tahun 2013 dan

tahun 2014. Di puskesmas, peneliti akan mendapatkan rekomandasi untuk
melakukan penelitian langsung ke masyarakat dan sebelum penelitian

mendapat persetujuan, peneliti melakukan penelitian dengan menekankan

masalah etika. Menurut Hidayat (2014) etika penelitian kebidanan meliputi:

3.6.1 Informed Consent

Informed concent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti

dengan responden. Informed concent tersebut diberikan sebelum

penelitian. Dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk

menjadi responden. Tujuan informed concent adalah agar subjek

mengerti maksud dan tujuan penelitian, dan mengetahui

dampaknya.Jika subyek bersedia maka mereka harus menandatangani

lembar persetujuan.Jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus

menghormati hak pasien. Beberapa informasi yang harus ada dalam

informed consent adalah partisipasi klien, tujuan dilakukannya

tindakan, jenis data yang dibutuhkan, prosedur pelaksanaan, potensial

masalah yang akan terjadi, manfaat, kerahasiaan, informasi yang mudah

dihubungi.

3.6.2 Anonimity (Tanpa Nama)

Masalah etik kebidanan merupakan masalah yang memberikan

jaminan dalam penggunaaan subyek penelitian denga cara tidak

memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat

ukur, dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau

hasil penelitian yang akan disajikan.
3.6.3 Kerahasiaan (confidentiality)

Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan

jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-

masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulakan dijamin

kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan

dilaporkan pada hasil riset (Hidayat, 2014).
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Pengkajian Data
Tanggal Pengkajian : 11 April 2016 Tanggal pengkajian : 21 april 2016
Jam : 12.00 wita Jam : 19. 00 wita
Tempat : Puskesmas Ampenan Tempat : Puskesmas Ampenan
Oleh : Baiq Ria Eviana Oleh : Baiq Ria Eviana
1. Identitas Pasien dan Hasil Anamnesa
Identitas Pasien Kasus 1 Kasus 2
Istri Suami Istri Suami
Nama Ny “A” Tn. “M” Ny “L” Tn. “S”
Umur 45 tahun 48 tahun 23 tahun 22 tahun
Suku Sasak Sasak Sasak Sasak
Agama Islam Islam Islam Islam
Pendidikan SD SMP SMU SMU
Pekerjaan IRT Swasta IRT Swasta
Alamat Bintaro Bintaro Batu Raja Baturaja

Keluhan Utama Ibu datang ke Puskesmas tanggal 11-04-2016 jam 12.00 wita untuk Ibu datang ke Puskesmas tanggal 21-04-2016 jam 19.00 wita untuk
memeriksakan kehamilannya dan mengeluh muntah-muntah sebanyak memeriksakan kehamilannya dan mengeluh muntah berlebih, lebih dari
> 6 kali sehari setiap masuk makanan dan minuman sejak 5 hari yang 10 kali sehari sejak 1 minggu yang lalu disertai pusing, mual dan nyeri
lalu, disertai mual, lemas serta tidak ada nafsu makan dan nyeri ulu ulu hati dan tidak ada nafsu makan. Ibu mengatakan ini kehamilan
hati. Ibu mengatakan ini kehamilan yang keempat dan tidak pernah yang pertama dan tidak pernah mengalami keguguran. Ibu mengatakan
mengalami keguguran. Ibu mengatakan mestruasi terakhir pada menstruasi terakhir pada tanggal 09-02-2016.
tanggal 26-02-2016.
Identitas Pasien Kasus 1 Kasus 2

Riwayat Ibu mengatakan tidak menderita penyakit berat seperti jantung, Ibu mengatakan sering sakit lambung bila terlambat makan dan tidak
Penyakit hipertensi, ginjal, diabetes, IMS,TBC, dan malaria. menderita penyakit berat seperti jantung, ginjal dan hipertensi,ginjal,
Sekarang IMS, TBC, dan malaria.

Riwayat Ibu mengatakan tidak ada menderita penyakit berat seperti jantung, Ibu mengatakan pernah sakit lambung dan tidak menderita penyakit
Penyakit Dahulu hipertensi, ginjal, diabetes, IMS,TBC, dan malaria. berat seperti jantung, ginjal dan hipertensi,ginjal, IMS, TBC, dan
malaria.

Riwayat Ibu mengatakan di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit Ibu mengatakan di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
Keluarga jantung, hipertensi, ginjal, diabetes, IMS,TBC, dan malaria. jantung, hipertensi, ginjal, diabetes, IMS,TBC, dan malaria.

Riwayat Menarche : 15 tahun Menarche : 14 tahun
Menstruasi Siklus : 28 hari Siklus : 30 hari
Lama : 7 hari Lama : 7 hari
Jumlah : 2-3 kali ganti pembalut Jumlah : 3 kali ganti pembalut
Disminorhea : Tidak ada Disminorhea : Tidak ada
Flour albus : Tidak ada Flour albus : Tidak ada

Riwayat Status perkawinan : 1 kali syah Status perkawinan : 1 kali syah
Perkawinan Lama : ±23 tahun Lama : 8 bulan
Umur pertama menikah Umur pertama menikah
Suami : 25 tahun Suami : 21 tahun
Istri : 22 tahun Istri : 22tahun

Riwayat Hamil UK Jenis Penolong Komplikasi BBL Ket. Abortus Hamil Ini
kehamilan, ke Pers. Tempat
Pers. H B N BB (gram) JK
persalinan, nifas,
anak dan kb 1. Aterm Normal Dukun - - - - ♀ IUFD
yang lalu 2. Aterm Spt Bidan - - - 2800 gr ♀ Hidup
3. Aterm Spt Bidan - - - 2900 gr ♂ Hidup
Ini - - - - - - - - -
Identitas Pasien Kasus 1 Kasus 2
Pola Nutrisi
Nutrisi sebelum hamil Komposisi : Nasi, sayur, lauk Komposisi : Nasi, sayur, lauk
Frekuensi : 3 kali sehari Frekuensi : 2-3 kali sehari
Porsi : 1 piring Porsi : 1 piring

Nutrisi selama hamil Komposisi : Nasi, tempe Frekuensi 1 kali sehari
Frekuensi : 1 kali sehari Komposisi : Nasi, ikan
Porsi : 2 sendok kurang Porsi : ± 2 sendok makan

Pola Eliminasi
BAK BAK sebelum hamil 4-5 x sehari BAB sebelum hamil 2 x sehari
BAK selama hamil 3 kali sehari BAK sebelum hamil 5 x sehari

BAB BAB sebelum hamil 1-2x sehari BAB selama hamil 1x sehari
BAB selama hamil 1x sehari BAK selama hamil 2-3 x sehari
BAK/BAB terakhir : tanggal 11-04.2016 pukul 05.00 Wita BAK/BAB terakhir : tanggal 21-04.2016 pukul 07.00 Wita
Pola Istirahat
Sebelum hamil Malam : 8 jam Malam : 8 jam
Siang : ±1 jam Siang : 1 jam

Selama Hamil Malam : ± 7 jam Malam : ± 6 jam
Siang : ± 40 menit Siang : ± 30 mnt

Pola Kegiatan sehari-hari Ibu mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari sebagai ibu rumah Ibu mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari sebagai ibu rumah
tangga tangga

Komunikasi Nonverbal : lancar Nonverbal : lancar
Verbal : Bahasa Indonesia / Sasak Verbal : Bahasa Indonesia / Sasak

Hubungan dengan Keluarga Baik Baik

Hubungan dengan orang lain Baik Baik

Proses berfikir Baik Baik
Identitas Pasien Kasus 1 Kasus 2
Ibadah / Spiritual Taat Taat

Respon Ibu dan keluarga Ibu dan keluarga merasa senang dengan kehamilan ini Ibu masih merasa cemas dengan kehamilannya karena merasa
terhadap kehamilan kehamilannya terlalu cepat dan ini kehamilannya yang
pertama,tetapi keluarga merasa senang dengan kehamilannya.

Dukungan keluarga Semua keluarga memberi dukungan terhadap kehamilannya dan Semua keluarga memberi dukungan terhadap kehamilannya serta
suami mengantarkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya suami dan keluarga mengantarkan ibu untuk memeriksakan
kehamilannya
Pengambilan keputusan
dalam keluarga Suami dan Istri Suami dan Istri

Tempat persalinan Puskesmas Puskesmas

Penolong persalinan Bidan Bidan

2. Hasil Observasi dan Pemeriksaan Fisik

Observasi Kasus 1 Kasus 2

KU Lemah Lemah
TD 100/70 mmHg 90/60 mmHg
S 36,9C 36,8C
N 96 x/menit 98 x/menit
R 21x/menit 24 x/menit
LILA 24cm 24 cm
BB sebelum hamil 51 Kg 47,5 kg
BB selama hamil 50 Kg 46 Kg
Tinggi Badan 154 cm 153 cm
HTP 03 -12- 2016 16 - 11- 2016
Umur kehamilan 6 minggu 8 minggu
Observasi Kasus 1 Kasus 2

Pemeriksaan Fisik Kulit kepala bersih, rambut tidak rontok, distribusi rambut Kulit kepala bersih, rambut tidak rontok, distribusi rambut
Kepala merata, tidak ada nyeri tekan merata, tidak ada nyeri tekan

Wajah Tidak pucat, tidak ada cloasma gravidarum, tidak oedem, tidak Tidak Pucat, tidak ada cloasma gravidarum, tidak oedem, tidak
ada nyeri tekan ada nyeri tekan

Mata Simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterus, mata Simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterus, mata
cekung cekung

Hidung Simetris, tidak ada polip, tidak ada kelainan Simetris, tidak ada polip, tidak ada kelainan

Telinga Simetris, tidak ada sekret, tidak ada kelainan, letak sejajar Simetris, tidak ada sekret, tidak ada kelainan, letak sejajar dengan
dengan mata mata

Mulut Bibir kering, tidak ada karies gigi, gigi tidak berlubang, lidah Bibir kering, tidak ada karies gigi, gigi tidak berlubang, lidah
bersih, tidak ada kelainan, lidah pasien kering dan kotor bersih, tidak ada kelainan, lidah pasien kering dan kotor

Leher Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid maupun limfe dan tidak Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid maupun limfe dan tidak ada
ada bendungan vena jugularis bendungan vena jugularis

Payudara Simetris, terdapat pembesaran mamae, puting menonjol, susu Simetris, terdapat pembesaran mamae, puting menonjol, susu
bersih, tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan. bersih, tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan.

Abdomen Simetris, pembesaran abdomen sesuai dengan usia kehamilan, Simetris, pembesaran abdomen sesuai dengan usia kehamilan,
terdapat linea nigra, striae gravidarum (-), nyeri epigastrium (+), terdapat linea nigra, striae gravidarum (-), nyeri epigastrium
turgor kulit (-) (+),turgor kulit (-)
Leopold I : TFU belum teraba Leopold I : TFU belum teraba
Leopold II : Tidak dilakukan Leopold II : Tidak dilakukan
Leopold III : Tidak dilakukan Leopold III : Tidak dilakukan
Leopold IV : Tidak dilakukan Leopold IV : Tidak dilakukan
DJJ : - DJJ : -
Genetalia Bersih, tidak ada kelainan, tidak ada pengeluaran cairan Bersih, tidak ada kelainan, tidak ada pengeluaran cairan
pervaginam, tidak varises, tidak ada condiloma, tidak ada luka pervaginam, tidak varises, tidak ada condiloma, tidak ada luka
parut pada perineum, tidak ada hemoroid pada anus parut pada perineum, tidak ada hemoroid pada anus
Observasi Kasus 1 Kasus 2

Ekstremitas atas Simetris, tidak ada kelainan, jari-jari lengkap, kuku tidak pucat, Simetris, tidak ada kelainan, jari-jari lengkap, kuku tidak pucat,
tidak ada nyeri tekan. tidak ada nyeri tekan, turgor kulit berkurang

Ekstremitas bawah Simetris, tidak ada kelainan, tidak ada varises pada tungkai, jari- Simetris, tidak ada kelainan, tidak ada varises pada tungkai, jari-
jari lengkap, tidak ada nyeri tekan, refleks patella (+/+) jari lengkap, tidak ada nyeri tekan, refleks patella (+/+)

3. Hasil Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Kasus 1 Kasus 2
Lab Hb : 13 gr% tanggal 11 -4-2016 Hb : 12,1 gr% tanggal 26- 3-2016
Gol. Darah : B Gol. Darah : O

4.1.2 Interpretasi Data Dasar Diagnosa/ Masalah

Analisis Data Penyebab Masalah
Kasus 1
Data Subyektif:
- Ibu mengatakan ini kehamilan yang keempat.  Hormon estrogen & HCG - Hiperemesis gravidarum
- Ibu mengatakan tidak pernah mengalami keguguran.
- Ibu mengatakan hamil 1,5 bulan.
↓ -
tingkat 1
G4P3A0H2 UK 6 minggu
- Ibu mengatakan muntah setiap masuk makanan dan minuman disertai Asam Lambung Meningkat dengan hiperemesis gravidarum
mual , lemas, nyeri ulu hati dan nafsu makannya berkurang ↓ tingkat 1
- Ibu mengatakan menstruasi terakhir pada tanggal 26-02-2016 Perut kosong - Penurunan berat badan

Data Obyektif : ↓
Keadaan umum ibu lemah Hiperemesis Gravidarum
TD : 100/70 mmHg
S : 36,9C
N : 96x/menit
R : 21 x/menit
Lila : 24 cm
Analisis Data Penyebab Masalah
BB sebelum hamil : 51 kg
BB : 50 Kg
TB : 154 cm
Palpasi :
Leopold I : TFU belum teraba
Leopold II : Tidak dilakukan
Leopold III : Tidak dilakukan
Leopold IV : Tidak dilakukan
DJJ : -

Kasus 2
Data Subyektif:
- Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama dan tidak pernah mengalami Faktor psikologis - Hiperemesis gravidarum
keguguran
- Ibu mengatakan mual muntah berlebih, pusing dan nyeri ulu hati serta
↓ -
tingkat 1
G1P0A0H0 UK 8 minggu
nafsu makannya berkurang.  Hormon estrogen & HCG dengan hiperemesis gravidarum
- Ibu mengatakan usia kehamilannya 8 -9 minggu. ↓ - Penurunan berat badan
- Ibu mengatakan menstruasi terakhir pada tanggal 09-02-2016 Gastritis - Kecemasan ibu karena
kehamilannya
Data Obyektif : ↓
Keadaan umum ibu lemah Asam Lambung Meningkat
TD : 90/60 mmHg ↓
S : 36,8C Hiperemesis Gravidarum
N : 98x/menit
R : 24 x/menit
Lila : 24 cm
BB sebelum hamil : 47,5 kg
BB : 46 Kg
TB : 153 cm
Palpasi :
Leopold I : TFU belum teraba
Leopold II : tidak dilakukan
Leopold III : Tidak dilakukan
Leopold IV : Tidak dilakukan
4.1.3 Diagnosa/ Masalah Potensial
Data Fokus Penyebab Masalah Potensial
Kasus 1
Data Subyektif:
- Ibu mengatakan ini kehamilan yang keempat.  Hormon estrogen & HCG 1. Penurunan berat badan
- Ibu mengatakan tidak pernah mengalami keguguran.
- Ibu mengatakan hamil 6 minggu.
↓ 2.
3.
KEK
Persalinan prematurus
- Ibu mengatakan lemas, mual muntah, nyeri ulu hati serta nafsu makannya berkurang Asam Lambung Meningkat 4. Anemia
- Ibu mengatakan menstruasi terakhir pada tangga 26-02-2016 ↓ 5. BBLR
- Ibu mengatakan porsi makan selama hamil + 2 sendok dengan komposisi nasi, tempe Perut kosong
Data Obyektif :
K/u ibu lemah ↓
TD : 100/70 mmHg Hiperemesis Gravidarum
S : 36,9C
N : 80 x/menit
R : 21 x/menit
Lila : 24 cm
BB : 50 Kg
TB : 154 cm
Palpasi :
Leopold I : TFU belum teraba
Leopold II : Tidak dilakukan
Leopold III : Tidak dilakukan
Leopold IV : Tidak dilakukan
DJJ : -
Kasus 2
Data Subyektif: Faktor psikologis
- Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama dan tidak pernah mengalami keguguran.
- Ibu mengatakan mual muntah berlebih, pusing dan nyeri ulu hati serta nafsu
↓ 1.
2.
Penurunan berat badan
KEK
makannya berkurang.  Hormon estrogen & HCG 3. Persalinan prematurus
- Ibu mengatakan usia kehamilannya 2 bulan. ↓ 4. Anemia
- Ibu mengatakan menstruasi terakhir pada tanggal 09-02-2016. Gastritis 5. BBLR
- Ibu mengatakan masih merasa cemas dengan kehamilannya karena merasa
kehamilannya terlalu cepat dan ini kehamilannya yang pertama,tetapi keluarga merasa ↓
senang dengan kehamilannya Ibu mengatakan porsi makan selama hamil + 2 sendok Asam Lambung Meningkat
dengan komposisi nasi, Ikan
Data Obyektif :
TD : 90/60 mmHg

Hiperemesis Gravidarum
S : 36,8C
N : 82 x/menit
R : 24 x/menit
Lila : 24 cm
BB : 46 Kg
TB : 153 cm
Palpasi :
Leopold I : TFU belum teraba
Leopold II : Tidak dilakukan
Leopold III : Tidak dilakukan
Leopold IV : Tidak dilakukan

4.1.4 Tindakan Segera

Kasus 1 Kasus 2
Tanggal : 11 April 2016 Tanggal : 21 April 2016
Jam : 12.15 Wita Jam : 19.15 Wita
Tempat : Ruang nifas Puskesmas Ampenan Tempat : Ruang nifas Puskesmas Ampenan
Tindakan Kasus 1 Kasus 1

Mandiri - Melakukan pemasangan infus RL 28 tpm - Melakukan pemasangan infus RL 28 tpm

Kolaborasi - Memberikan ibu obat oral B6, antacid 3x1 - Memberikan injeksi Ranitidine/iv
- Memberikan ibu obat oral B6, antacid 3x1

Rujukan - Tidak ada - Tidak ada
4.1.5 Perencanaan

Diagnosis Kriteria Hasil Perencanaan Rasional
Kasus 1
G4P3A0H2 UK 6 minggu dengan Mual muntah berkurang - Informed consent - Karena semua tindakan harus ada
hiperemesis gravidarum tingkat 1 persetujuan
- Jelaskan pada ibu dan keluarga hasil - Supaya ibu dan keluarga mengetahui
pemeriksaan keadaan ibu
- Konseling tentang nutrisi ibu hamil. - Agar nutrisi ibu hamil terpenuhi
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian - Untuk pemberian terapi yang tepat dengan
terapi (pemasangan infus RL 28 tpm dan kondisi pasien agar tidak banyak cairan
pemberian obat oral) tubuh dan tenaga ibu yang hilang
- Anjurkan ibu untuk makan sedikit tapi - Untuk membantu meningkatkan
sering dan banyak minum air putih metabolisme dan akhirnya membakar lebih
banyak kalori serta menjaga ketahanan
tubuh

Kasus 2
G1P0A0H0 UK 8 minggu dengan Mual muntah berkurang - Informed consent - Karena semua tindakan harus ada
hiperemesis gravidarum persetujuan
- Jelaskan pada ibu dan keluarga hasil - Supaya ibu dan keluarga mengetahui
pemeriksaan keadaan ibu
- Konseling tentang nutrisi ibu hamil. - Agar nutrisi ibu hamil terpenuhi
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian - Untuk mengurangi sakit maag yang
terapi (pemasangan infus RL 28 tpm dan diderita
injeksi ranitidin serta pemberian obat oral)
- Anjurkan ibu untuk makan sedikit tapi - Agar tidak banyak cairan tubuh dan tenaga
sering dan minum air putih minimal 8 gelas ibu yang hilang
per hari.
- Menjelaskan pada ibu bahwa mual muntah - Supaya ibu tidak cemas sehingga tidak
pada kehamilan pertama merupakan hal memperberat kondisi penyakit yang
yang normal dan biasa terjadi pada semua dialami ibu saat ini.
ibu hamil.
4.1.6 Pelaksanaan

Kasus Hari 1 Hari 2 Hari 3
Kasus 1 Tanggal 11 April 2016 pukul 12.30 wita Tanggal 12 April 2016 pukul 16.00 wita Tanggal 1 3 April 2016 pukul 10.00 wita
Ny. “A” - Memberitahu ibu hasil pemeriksaan k/u ibu - Melakukan pemeriksaan TTV - Menganjurkan ibu untuk tetap istirahat
lemah. - Menganjurkan ibu untuk tetap istirahat yang cukup dan teratur, tidur siang 1 –
- Memasang infus RL 28 tpm, yang cukup dan teratur, tidur siang 1 – 2 2 jam/hari, tidur malam 8 jam/hari.
- Memberikan obat antacid 3x1dan B6. Ibu jam/hari, tidur malam 8 jam/hari - Menganjurkan kepada ibu untuk
sudah minum obat - Memberikan konseling tentang nutrisi makan sedikit tapi sering dan ibu
- Menjelaskan pada ibu bahwa yang dialami ibu ibu hamil yaitu makan makanan yang melakukannya
biasa terjadi pada ibu hamil dan bisa cukup energi seperti roti panggang, - Menganjurkan ibu untuk membaca
diperbaiki. biskuit, dan buah, makan sedikit tapi buku KIA tentang tanda bahaya
- Memberikan konseling tentang nutrisi ibu sering menghindari makanan yang kehamilan.
hamil yaitu makan makanan yang cukup merangsang mual seperti berlemak dan - Menganjurkan ibu untuk meminum
energi seperti roti panggang, biskuit, dan berbau khas. obat yang di berikan bidan.
buah, makan sedikit tapi sering menghindari - Menganjurkan ibu untuk meminum obat - Menganjurkan ibu untuk melakukan
makanan yang merangsang mual seperti yang diberikan bidan. pemeriksaan USG
berlemak dan berbau khas, biasakan makan - Kolaborasi dengan dokter : Aff infus
dan minum yang hangat- hangat. - Pasien pulang pukul 11.00 wita
- Menjelaskan dampak pada ibu dan
kehamilannya apabila nutrisi tidak terpenuhi
yaitu; ibu bisa mengalami KEK, penurunan
berat badan dan anemia. Sedangkan pada bayi
bisa terjadi BBLR dan terhambatnya
pertumbuhan janin.
Kasus Hari 1 Hari 2 Hari 3
Kasus 2 Tanggal 21 April 2016 pukul 08.00 wita Tanggal 22 April 2016 pukul 10.00 wita Tanggal 23 April 2016 pukul 16.00 wita
Ny. “L” - Memberitahu ibu hasil pemeriksaan k/u ibu - Melakukan pemeriksaan TTV - Menganjurkan ibu untuk istirahat yang
lemah. - Kolaborasi dengan dokter untuk cukup dan teratur, tidur siang 1 – 2
- Memasang infus RL 28 tpm. diberikan injeksi ranitidine jam/hari, tidur malam 8 jam/hari
- Memberikan obat antacid 3x1dan B6. Ibu - Menganjurkan ibu untuk istirahat yang - Menganjurkan kepada ibu untuk
sudah minum obat cukup dan teratur, tidur siang 1 – 2 makan sedikit tapi sering
- Menjelaskan pada ibu bahwa yang dialami ibu jam/hari, tidur malam 8 jam/hari - Menganjurkan ibu untuk membaca
biasa terjadi pada ibu hamil dan bisa - Menganjurkan kepada ibu untuk makan buku KIA tentang tanda bahaya
diperbaiki. sedikit tapi sering kehamilan
- Memberikan konseling tentang nutrisi ibu - Menganjurkan ibu untuk meminum obat - Menganjurkan ibu untuk meminum
hamil yaitu makan makanan yang cukup yang di berikan bidan. obat yang diberikan bidan
energi seperti roti panggang, biskuit, dan - Menganjurkan ibu untuk melakukan
buah, makan sedikit tapi sering menghindari pemeriksaan USG
makanan yang merangsang mual seperti -
berlemak dan berbau khas, biasakan makan - Kolaborasi dengan dokter : Aff infus
dan minum yang hangat- hangat Ibu mengerti - Pasien pulang pukul 17.00 wita
- Menjelaskan pada ibu bahwa mual muntah
pada kehamilan pertama merupakan hal yang
normal dan biasa terjadi pada semua ibu
hamil.
4.1.7 Evaluasi

Kasus Hari 1 Hari 2 Hari 3
Kasus 1 Tanggal 11 April 2016 Tanggal 12April 2016 Tanggal 13 April 2016
Ny. “A” S: S: S:
- Ibu mengatakan pusing, mual muntahnya sudah - Ibu mengatakan pusing dan mual - Ibu mengatakan sudah tidak ada
berkurang, nafsu makan masih kurang. muntahnya sudah berkurang, nafsu keluhan lagi.
makan sudah ada.

O: O: O:
- K/u lemah, TD: 100/70 mmHg, N: 83 x/menit, S: - k/u ibu sedikit lemah. TD 100/70 - k/u ibu baik. TD: 120/80 mmhg,
36,6˚C, R: 19 x/menit, LILA 24 cm, BB 50Kg. mmHg, Nadi 82 x/ menit, Respirasi 20 Nadi 82 x/mnt, Respirasi 20 x/mnt,
- Pemeriksaan fisik: x/mnt, Suhu 36,7 0C, LILA 24 cm. Suhu 37,0 0C, LILA 24 cm
Mata: Konjungtiva merah muda (tidak anemis),
sklera putih (tidak ikterus). A: A:
Abdomen : - G4P3A0H2, UK 6 minggu dengan - G4P3A0H2, UK 6 minggu
Leopold I : TFU belum teraba hiperemesis gravidarum
Leopold II : tidak dilakukan P:.
Leopold III : tidak dilakukan P: - Menginformasikan hasil
Leopold IV : tidak dilakukan - Menginformasikan ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan umum
pemeriksaan, TD 100/70 mmHg, Nadi ibu baik, kesadaran composmentis,
A: 82 x/mnt, Respirasi 20 x/mnt, suhu 36,7 emosi stabil, TD 120/80 mmhg,
0
- G4P3A0H2, UK 6 minggu dengan hiperemesis C, Nadi 82 x/ mnt , Suhu 37,0 0C
gravidarum Ibu memahami hasil pemeriksaannya Respirasi 20 x/mnt
- Menganjurkan kepada ibu untuk makan - Menganjurkan kepada ibu untuk
P: sedikit tapi sering. makan makanan yang bergizi.
- Menginformasikan pada ibu tentang hasil Ibu bersedia melakukan anjuran yang - Memberikan ibu obat dan
pemeriksaan yang didapatkan dan asuhan yang akan diberikan. menganjurkan minum sesuai aturan
diberikan. Ibu mampu memahami tentang informasi - Menganjurkan ibu untuk teratur minum yaitu B6 dan Fe 1x 1
yang telah diberikan. obat yang diberikan oleh bidan (B6, - Ibu menyepakati untuk kunjungan
- Menganjurkan kepada ibu untuk tetap minum obat antasid dan paracetamol). Ibu bersedia ulang 3 hari lagi yaitu tanggal 16-
melakukan anjuran yang diberikan. 04-2016
Kasus Hari 1 Hari 2 Hari 3
Kasus 2 Tanggal 21 april 2016 Tanggal 22 april 2016 Tanggal 23 Mei 2016
Ny. “L” S: S: S:
- Ibu mengatakan pusing dan mual muntah sudah - Ibu mengatakan pusing dan mual - Ibu Mengatakan Sudah Tidak Ada
berkurang, tetapi belum ada nafsu makan. muntah berkurang, nafsu makan sudah Keluhan
O: ada.
- K/u lemah, TD: 100/60 mmHg, N: 86 x/menit, S: O:
36,7˚C, R: 21 x/menit, LILA 24cm, BB 46 Kg. - O: - k/u Baik. TD 110/70 Mmhg, Nadi
- Pemeriksaan fisik: - k/u lemah. TD 110/70 mmHg, Nadi 84 84 X/Mnt, RR 20 X/Mnt, Suhu 36,5
Mata: Konjungtiva merah muda (tidak anemis), sklera x/mnt, RR 20 x/mnt, suhu 36,5 0C, 0
C , LILA 24 Cm
putih (tidak ikterus). LILA 24 cm
Abdomen :
Leopold I : TFU belum teraba A: A:
Leopold II : Tidak dilakukan pemeriksaan - G1P0A0H0, UK 8 minggu dengan - G1P0A0H0, UK 8 Minggu
Leopold III : Tidak dilakukan pemeriksaan hiperemesis gravidarum
Leopold IV : Tidak dilakukan pemeriksaan P:
A: P: - Menginformasikan Hasil
- G1P0A0H0, UK 8 minggu dengan hiperemesis - Menginformasikan ibu hasil Pemeriksaan. TD 110/70 Mmhg,
gravidarum pemeriksaannya, TD 110/70 mmhg, Nadi 84 X/Mnt, RR 20 X/Mnt, Suhu
P: Nadi 84 x/mnt, RR 19 x/mnt, suhu 36,5 36,5 0C, Ibu Memahami Hasil
0
- Menginformasikan pada ibu tentang hasil C, LILA 24 cm, ibu memahami hasil Pemeriksaan
pemeriksaan yang didapatkan keadaan umum ibu pemeriksaan. - Menganjurkan Kepada Ibu Untuk
baik TD: 100/60 mmHg, N: 86 x/menit, S: 36,7oC, - Menganjurkan ibu untuk makan sedikit Makan Makanan Yang Bergizi
R: 21 x/menit. Ibu mampu memahami tentang tapi sering - Menganjurkan Kepada Ibu Untuk
informasi yang telah diberikan. - Menganjurkan ibu untuk teratur minum Menjaga Kehamilannya.
- Menganjurkan ibu untuk tetap mempertahankan obat yang diberikan oleh bidan (B6, - Menganjurkan Kepada Ibu Untuk
nutrisi yang baik pada saat hamil yaitu dengan antasid) dan ibu bersedia Tetap Minum Obat Secara Teratur
mengkonsumsi makanan yang mengandung - Menjelaskan pada ibu bahwa mual Yang Diberikan Oleh Bidan
karbohidrat (nasi, jagung, tepung, umbi-umbian), muntah pada kehamilan pertama (Solvitral 1x1) Vit B6.
protein hewani dan nabati (telur, ikan, daging, hati, merupakan hal yang normal dan biasa - Ibu Menyepakati Untuk Kunjungan
tempe, tahu, kacang-kacangan), vitamin dan mineral terjadi pada semua ibu hamil dan ibu Ulang 3 hari lagi yaitu tanggal 24-
(sayur dan buah-buahan), dan susu, untuk menambah bisa memhami apa yang di jelaskan dan 04-2016
asupan nutrisi ibu dan janin. sudah tidak cemas lagi.
- Menganjurkan ibu untuk tetap minum obat yang
diberikan oleh bidan yaitu B6, antasid. Ibu akan
teratur minum obat.
CATATAN PERKEMBANGAN

Kasus Kunjungan 1 Kunjungan 2 Kunjungan 3
Kasus 1 Tanggal 16 April 2016 Tanggal 19 April 2016 Tanggal 22 April 2016
Ny.“A” S: S: S:
- Ibu mengatakan sudah tidak ada keluhan. - Ibu mengatakan sudah tidak mempunyai - Ibu mengatakan sudah tidak mempunyai
keluhan apapun keluhan dan dapat beraktivitas seperti
O: biasanya
- K/u baik, kesadaran composmentis, TD: O :
120/80 mmHg, N: 80 x/menit, S: 36,7˚C, R: - K/u baik, kesadaran composmentis, TD: O:
23 x/menit, LILA 24 cm, BB 50 Kg. 120/80 mmHg, N: 80 x/menit, S: - K/u baik, kesadaran composmentis, TD:
Leopold I : TFU belum teraba 36,7˚C, R: 23 x/menit, LILA 24 cm, BB 110/80 mmHg, N: 82 x/menit, S: 36,7˚C,
Leopold II : tidak dilakukan pemeriksaan 50 Kg. R: 23 x/menit, LILA 24 cm, BB 50 Kg.
Leopold III : tidak dilakukan pemeriksaan Leopold I : TFU belum teraba Leopold I : TFU belum teraba
Leopold IV : tidak dilakukan pemeriksaan Leopold II : Tidak dilakukan Leopold II : Tidak dilakukan
pemeriksaan pemeriksaan
A: Leopold III : tidak dilakukan Leopold III : tidak dilakukan
- G4P3A0H2, UK 6 minggu pemeriksaan pemeriksaan
Leopold IV : tidak dilakukan Leopold IV : tidak dilakukan
P: pemeriksaan pemeriksaan
- Anjurkan ibu untuk makan lebih sering
- Minum air putih 8 gelas perhari A: A:
- Memberikan konseling tentang pola - G4P3A0H2, UK 6 minggu - G4P3A0H2UK 6 minggu
hubungan seksual
- Anjurkan ibu untuk minum obat yang P : P:
diberikan bidan seperti solvitral 1x1 - Beritahu ibu untuk menambah porsi - Beritahu ibu untuk membaca buku KIA
- Anjurkan ibu untuk menjaga personal makan dari biasanya dengan lebih sering untuk mengenali tanda
hygiene mengkonsumsi jagung, buah, sayur, tahu bahaya kehamilan
- Menyepakati untuk kunjungan ulang 3 hari dan tempe - Anjurkan ibu untuk tetap rutin minum
lagi yaitu tanggal 19-04-2016 - Anjurkan ibu untuk tetap rutin minum obat yang diberikan bidan yaitu solvitral
obat yang diberikan bidan yaitu solvitral 1x1
1x1 - Menganjurkan ibu untuk rutin datang ke
- Menyepakati untuk kunjungan ulang 3 Posyandu atau Puskesmas untuk
hari lagi yaitu tanggal 22-04-2016 memantau perkembangan janin dan
kondisi ibu
Kasus Kunjungan 1 Kunjungan 2 Kunjungan 3
Kasus 2 Tanggal 24 april 2016 Tanggal 27 april 2016 Tanggal 30 April 2016
Ny. “L” S: S: S:
- Ibu mengatakan sudah tidak mual muntah, - Ibu mengatakan sudah tidak mempunyai - Ibu mengatakan sudah tidak ada keluhan
pusing berkurang, ada nafsu makan dan tidak keluhan apapun
nyeri ulu hati.
O: - O: O:
- K/u baik, kesadaran composmentis, TD: - K/u baik, kesadaran composmentis, TD - K/u baik, kesadaran composmentis, TD
110/70 mmHg, N: 82 x/menit, S: 36,7˚C, R: 110/70 mmHg, Nadi 81 x/mnt, RR 20 120/80 mmhg, Nadi 80 x/mnt, RR 20
21 x/menit, LILA 24 cm, BB 46 Kg. x/mnt, suhu 36,5 0C, LILA 24 cm x/mnt, Suhu 36,5 0C, LILA 24 cm
Leopold I : TFU belum teraba Leopold I : TFU belum teraba Leopold I : TFU belum teraba
Leopold II : Tidak dilakukan pemeriksaan Leopold II : Tidak dilakukan Leopold II : Tidak dilakukan
Leopold III : Tidak dilakukan pemeriksaan pemeriksaan pemeriksaan
Leopold IV : Tidak dilakukan pemeriksaan Leopold III : Tidak dilakukan Leopold III : Tidak dilakukan
A: pemeriksaan pemeriksaan
G1P0A0H0, UK 8 minggu Leopold IV : Tidak dilakukan Leopold IV : Tidak dilakukan
P: pemeriksaan pemeriksaan
- Anjurkan ibu untuk makan lebih sering A: A:
- Minum air putih 8 gelas perhari - G1P0A0H0, UK 8 minggu - G1P0A0H0, UK 8 minggu
- Memberikan konseling tentang pola P: P:
hubungan seksual - Beritahu ibu untuk menambah porsi - Beritahu ibu untuk membaca buku KIA
- Anjurkan ibu untuk minum obat yang makan dari biasanya dengan lebih sering untuk mengenali tanda
diberikan bidan seperti solvitral 1x1 mengkonsumsi jagung, buah, sayur, tahu bahaya kehamilan
- Anjurkan ibu untuk menjaga personal dan tempe - Anjurkan ibu untuk tetap rutin minum
hygiene - Anjurkan ibu untuk tetap rutin minum obat yang diberikan bidan yaitu solvitral
- Menyepakati untuk kunjungan ulang 3 hari obat yang diberikan bidan yaitu solvitral 1x1
lagi yaitu tanggal 27-04-2016 1x1 - Menganjurkan ibu untuk rutin datang ke
- Menjelaskan pada ibu tanda bahaya TM 1 - Menyepakati untuk kunjungan ulang 3 Posyandu atau puskesmas untuk
yaitu: Perdarahan pervaginam, mual muntah hari lagi yaitu tanggal 30-04-2016 memantau perkembangan janin dan
berlebihan, sakit kepala yang hebat, kondisi ibu
penglihatan kabur, nyeri perut yang hebat,
gerakan janin berkurang, bengkak pada
wajah, kaki dan tangan, selaput kelopak
mata pucat, demam tinggi.
4.2 Pembahasan

4.2.1 Pengumpulan Data

Asuhan kebidanan telah dilakukan terhadap Ny “A” umur 45 tahun

usia kehamilan 6 minggu G4P3A0H2 dan Ny “L” umur 23 tahun usia

kehamilan 8 minggu G1P0A0H0 dengan Hiperemesis gravidarum tingkat I.

Pengkajian dilakukan untuk mengumpulkan data dasar tentang pasien.

A. Data Subjektif

Setelah dilakukan anamnesa tanggal 11 April 2016 pada Ny.“A”

diketahui usia ibu hamil 45 tahun dan mengeluh mual muntah lebih dari

6 kali dalam sehari disertai mual, lemas, nyeri ulu hati dan tidak ada

nafsu makan. Serta pengkajian data tanggal 21 April 2016 pada Ny.“L”

diketahui usia ibu hamil 23 tahun dan mengeluh mual muntah lebih dari

10 kali dalam sehari disertai mual, pusing, nyeri ulu hati dan tidak ada

nafsu makan. Dari anamnesa tersebut dapat dikatakan bahwa Ny.”A”

dan Ny.”L” mengalami hiperemesis gravidarum tingkat I (ringan).

Hiperemesis gravidarum diawali dengan mual dan muntah yang

berlebihan sehingga dapat menimbulkan dehidrasi, tekanan darah turun

dan diuresis menurun. Hal ini menimbulkan perfusi kejaringan,

menutup untuk memberikan nutrisi dan mengonsumsi O2. Oleh karena

itu dapat terjadi perubahan metabolisme menuju arah anaerobik dengan

menimbulkan benda keton dan asam laktat. Muntah yang berlebih dapat

menimbulkan perubahan elektrolit sehingga pH darah menjadi lebih

tinggi. Oleh karena itu semua masalah tersebut dapat menimbulkan

gangguan fungsi alat vital (Manuaba 2010).
Muntah yang terus-menerus disertai dengan kurang minum yang

berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi. Jika terus berlanjut,

pasien dapat mengalami syok. Dehidrasi yang berkepanjangan juga

menghambat tumbuh kembang janin. Oleh karena itu, pada pemeriksaan

fisik harus dicari apakah terdapat abnormalitas tanda-tanda vital, seperti

peningkatan frekuensi nadi (>100 kali per menit), penurunan tekanan

darah, kondisi subfebris, dan penurunan kesadaran. Selanjutnya dalam

pemeriksaan fisis lengkap dapat dicari tanda-tanda dehidrasi, kulit

tampak pucat dan sianosis, serta penurunan berat badan (Gunawan,

2011).

B. Data Objektif

Setelah dilakukan pengkajian data objektif pada Ny.“A”

didapatkan hasil keadaan umum ibu lemah, Tekanan Darah: 100/80

mmHg, Suhu: 36,7°C, Nadi: 96 x/menit, Respirasi: 20 x/menit, Berat

Badan: 50 kg, Tinggi Badan: 154 cm, LILA: 24 cm, umur kehamilan: 6

minggu, pada pemeriksaan fisik didapatkan bibir kering dan mata

cekung. Sedangkan pada Ny.“L” didapatkan hasil keadaan umum ibu

lemah, Tekanan Darah: 90/60 mmHg, Suhu: 36,8°C, Nadi: 98 x/menit,

Respirasi: 24 x/menit, Berat Badan: 46 kg, Tinggi Badan: 153 cm,

LILA: 24 cm, umur kehamilan: 8 minggu, pada pemeriksaan fisik

didapatkan bibir kering, mata cekung turgor kulit berkurang.

Hiperemesis gravidarum merupakan kejadian mual dan muntah

yang berlebihan sehingga mengganggu aktivitas ibu hamil. Hiperemesis

gravidarum sering terjadi pada awal kehamilan antara umur kehamilan

8-12 minggu. Hiperemesis gravidarum apabila tidak tertangani dengan
baik akan menyebabkan komplikasi bahkan kematian ibu dan janin.

Prevalensi hiperemesis gravidarum antara 1-3 % atau 5-20 kasus per

1000 kehamilan (Winkjosastro, 2009).

Mual dan muntah yang berkaitan dengan kehamilan biasanya

dimulai pada usia kehamilan 9- 10 minggu, puncaknya pada usia

kehamilan 11-13 minggu, dan sembuh pada kebanyakan kasus pada

umur kehamilan 12-14 minggu. Dalam 1-10% dari kehamilan, gejala-

gejala dapat berlanjut melampaui 20-22 minggu. Kejadian hiperemesis

dapat berulang pada wanita hamil. J. Fitzgerald (1938-1953) melakukan

studi terhadap 159 wanita hamil di Aberdeen, Skotlandia, menemukan

bahwa hiperemesis pada kehamilan pertama merupakan faktor risiko

untuk terjadinya hiperemesis pada kehamilan berikutnya. Berdasarkan

penelitian, dari 56 wanita yang kembali hamil, 27 diantaranya

mengalami hiperemesis pada kehamilan kedua dan 7 dari 19 wanita

mengalami hiperemesis pada kehamilan ketiga (Gunawan, 2011).

Sehingga dari hasil pengkajian data Subyektif dan Obyektif pada

Ny “A” dan Ny “L” dengan Hiperemessi gravidarum tidak ditemukan

kesenjangan pengumpulan data pada praktek dengan teori.

4.2.2 Interpretasi Data Dasar/ Diagnosa Masalah

Identifikasi masalah yang didapatkan dari pengkajian dasar pada

Ny.”A” mengatakan ini kehamilan yang keempat, tidak pernah mengalami

keguguran, hamil 6 minggu, mengeluh mual muntah dan pusing serta nafsu

makannya berkurang, menstruasi terakhir pada tanggal 26-02-2016.

Keadaan umum ibu lemas, tekanan darah 100/70 mmHg, Suhu: 36,9°C,
Nadi: 96x/menit, Respirasi: 21 x/menit. Sedangkan Ny.”L” mengatakan ini

kehamilan yang pertama tidak pernah mengalami keguguran, hamil 8

minggu, mengeluh mual muntah dan pusing serta nafsu makannya

berkurang, menstruasi terakhir pada tanggal 09-02-2016. Keadaan umum

ibu lemas, tekanan darah 90/60 mmHg, Suhu: 36,8°C, Nadi: 98 x/menit,

Respirasi: 24 x/menit.

Dari hasil pengkajian data ditemukan data fokus : Ny.“A” dan

Ny.“L”, ibu mengatakan saat ini mengeluh mual muntah lebih dari 10 x

dalam 24 jam, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari ibu, tubuh terasa

lemas, kepala terasa pusing mata terlihat cekung dan lidah kering, nyeri

epigastrium dan nafsu makannya berkurang.

Gejala muntah lebih dari 10 kali dan apabila keadaan umum ibu

berpengaruh maka disebut hiperemesis, menurut gejala dan tingkat pada

kasus ini membahas hiperemesis gravidarum tingkat I. Dimana ciri-ciri

hiperemesis tingkat I (ringan) adalah mual muntah terus menerus

menyebabkan penderita lemah, tidak mau makan, berat badan turun, rasa

nyeri epigastrium, nadi sekitar 100 kali/menit, turgor kulit kurang, lidah

kering, dan mata cekung (Runiari, 2010).

Hiperemesis gravidarum dapat diklasifikasikan secara klinis menjadi

hiperemesis gravidarum tingkat I, II dan III. Hiperemesis gravidarum

tingkat I ditandai oleh muntah yang terus-menerus disertai dengan

penurunan nafsu makan dan minum. Terdapat penurunan berat badan dan

nyeri epigastrium. Pertama-tama isi muntahan adalah makanan, kemudian

lendir beserta sedikit cairan empedu, dan dapat keluar darah jika keluhan
muntah terus berlanjut. Frekuensi nadi meningkat sampai 100 kali per menit

dan tekanan darah sistolik menurun. Pada pemeriksaan fisis ditemukan mata

cekung, lidah kering, penurunan turgor kulit dan penurunan jumlah urin

(Gunawan, 2011).

Berdasarkan data di atas maka penulis menegakkan diagnosa Ny “A”

dan Ny “L” adalah hiperemesis Gravidarum tingkat I. Diagnosis tersebut

secara prinsip tidak bertentangan dengan teori, dan tidak ada kesenjangan.

4.2.3 Diagnosa/ Masalah potensial

Masalah potensial yang mungkin terjadi pada Ny.”A” dan Ny.”L”

adalah dehidrasi, ibu kehilangan berat badan, KEK, Anemia dan BBLR.

Pada tinjauan teori apabila Hyperemesis gravidarum tingkat 1 dengan salah

satu tanda adalah dehidrasi saat ini mata cekung, lidah ibu kering dan

disertai nafsu makan berkurang karena dehidrasi ringan apabila tidak segera

ditangani akan mengakibatkan keadaaan ibu lebih parah dan diagnosa

potensial yang mungkin terjadi adalah akan menjadi Hyperemesis

gravidarum tingkat 2.

Pada kasus Ny.“A” dan Ny.“L’ terdapat tanda-tanda hiperemesis

gravidarum tingkat I yaitu dehidrasi ringan seperti mata ibu cekung dan

lidah kering, serta nafsu makannya berkurang dan masalah akan segera

ditangani agar tidak terjadi hiperemesis gravidarum tingkat lanjut .

Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus hiperemesis gravidarum

adalah dehidrasi, kehilangan berat badan, hiperemesis ke tingkat

selanjutnya, keterlambatan pertumbuhan janin didalam kandungan, dan

kematian janin (Manuaba, 2010).
Hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan cadangan karbohidrat

dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak

yang tidak sempurna, maka terjadilah ketosis dengan tertimbunya asam

aseton asetik, asam hidroksi butirik, dan aseton dalam darah. Kekurangan

cairan yang diminum dan kehilangan cairan akibat muntah akan

menyababkan dehidrasi, sehingga cairan ekstra vaskuler dan plasma akan

berkurang (Gunawan, 2011).

Dalam kasus di atas tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori

dengan tinjauan kasus karena Ny “A” dan Ny “L” terdapat tanda-tanda

Hiperemesis gravidarum tingkat I dan telihat tanda-tanda dehidrasi ringan

yaitu mata cekung, lidah kering. Dehidrasi ringan yang disebabkan oleh

mual muntah yang dialaminya lebih dari 10 kali dalam sehari dan kurangnya

intake cairan pada Ny “A” dan Ny ”L” yang apabila tidak cepat ditangani

memperburuk keadaannya.

4.2.4 Tindakan segera

Karena keadaan ibu lemah dan dehidrasi maka dilakukan tindakan

mandiri dengan memasang infus RL 28 tpm yang bertujuan untuk

mengganti banyaknya cairan tubuh dan tenaga ibu yang hilang. Kolaborasi

dengan dokter untuk pemberian obat oral seperti antacid, B6, andansentron

dan injeksi ranitidine / iv untuk pemberian terapi yang tepat dengan kondisi

pasien. Sedangkan rujukan tidak dilakukan karena pasien masih bisa di

tangani langsung.

Pada kasus hiperemesis gravidarum, jenis dehidrasi yang terjadi

termasuk dalam dehidrasi karena kehilangan cairan (pure dehidration).
Maka tindakan yang dilakukan adalah rehidrasi yaitu mengganti cairan

tubuh yang hilang ke volume normal, osmolaritas yang efektif dan

komposisi cairan yang tepat untuk keseimbangan asam basa. Pemberian

cairan untuk dehidrasi harus memperhitungkan secara cermat berdasarkan:

berapa jumlah cairan yang diperlukan, defisit natrium, defisit kalium dan

ada tidaknya asidosis (Gunawan, 2011).

4.2.5 Perencanaan

Ny.”A” didiagnosis G4P3A0H2 UK 6 minggu dengan hiperemesis

gravidarum sedangkan Ny.”L” G1P0A0H0 UK 8 minggu dengan

hiperemesis gravidarum. Kriteria hasil yang diinginkan adalah mual muntah

berkurang, maka dilakukan perencanaan yaitu: Informed consent agar

semua tindakan mendapat persetujuan dari pasien dan keluarga,

menjelaskan pada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan supaya ibu dan

keluarga mengetahui keadaan ibu, memberikan konseling tentang nutrisi ibu

hamil seperti menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi

seimbang agar nutrisi ibu hamil terpenuhi, kolaborasi dengan dokter untuk

pemberian terapi (pemasangan infus RL 28 tpm dan injeksi ranitidin serta

pemberian obat oral) agar pemberian terapi yang tepat dan sesuai dengan

kondisi pasien. Menganjurkan ibu untuk makan sedikit tapi sering dan

banyak minum air putih agar membantu meningkatkan metabolisme dan

akhirnya membakar lebih banyak kalori serta menjaga ketahanan tubuh.

Kasus hiperemesis gravidarum tingkat I dapat direncanakan

pemberian informasi dan edukasi tentang kehamilan, berikan terapi obat
menggunakan anti emesis , anjurkan ibu untuk makan sedikit tapi sering,

terapi psikologis dan penambahan cairan (Manuaba, 2010).

Pada emesis gravidarum, obat-obatan diberikan apabila perubahan

pola makan tidak mengurangi gejala, sedangkan pada hiperemesis

gravidarum, obat-obatan diberikan setelah rehidrasi dan kondisi

hemodinamik stabil.3 Pemberian obat secara intravena dipertimbangkan jika

toleransi oral pasien buruk.7Obat-obatan yang digunakan antara lain adalah

vitamin B6 (piridoksin), antihistamin dan agen-agen prokinetik. American

College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan 10

mg piridoksin ditambah 12,5 mg doxylamine per oral setiap 8 jam sebagai

farmakoterapi lini pertama yang aman dan efektif.3,10 Dalam sebuah

randomized trial, kombinasi piridoksin dan doxylamine terbukti

menurunkan 70% mual dan muntah dalam kehamilan. Suplementasi dengan

tiamin dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi berat

hiperemesis, yaitu Wernicke’s encephalopathy. Komplikasi ini jarang

terjadi, tetapi perlu diwaspadai jika terdapat muntah berat yang disertai

dengan gejala okular, seperti perdarahan retina atau hambatan gerakan

ekstraokular.Antiemetik seperti proklorperazin, prometazin, klorpromazin

menyembuhkan mual dan muntah dengan cara menghambat postsynaptic

mesolimbic dopamine receptors melalui efek antikolinergik dan penekanan

reticular activating system (Gunawan, 2011).

Berdasarkan hasil pembahasan tinjauan kasus dan tinjauan teori, tidak

ditemukan kesenjangan rencana asuhan menyeluruh antara praktek dengan

teori.
4.2.6 Pelaksanaan

Pada tanggal 11 dan 21 april 2016 dilakukan pelaksanaan pada

Ny.”A” dan Ny.”L” yaitu menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan

teratur, tidur siang 1 – 2 jam/hari, tidur malam 8 jam/hari, memberikan

konseling tentang pola hubungan seksual; memberikan konseling tentang

nutrisi ibu hamil yaitu makan makanan yang cukup energi seperti roti

panggang, biskuit, dan buah, makan sedikit tapi sering menghindari

makanan yang merangsang mual seperti berlemak dan berbau khas; dan

menganjurkan ibu untuk membaca buku KIA tentang tanda bahaya

kehamilan.

Pada tanggal 11 dan 21 April 2016 pelaksanaan pada Ny.”A” dan

Ny.”L” ditambahkan yaitu Menganjurkan ibu untuk meminum obat yang

diberikan bidan yaitu obat dan vitamin untuk mengurangi rasa mual dan

muntah. Vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B6, Antasida,

andansentron berfungsi mengurangi pusing, menambah tenaga dan

mengurangi rasa mual yang dirasakan ibu, ranitidine untuk maag.

Pada tanggal 11 dan 21 april 2016 pelaksanaan pada Ny.”A” dan

Ny.”L” ditambahkan dengan menganjurkan kepada ibu untuk makan sedikit

tapi sering untuk meningkatkan nafsu makan ibu sehingga nutrisi ibu dan

janin tetap terpenuhi.

Kasus hiperemesis gravidarum memiliki penatalaksanaan dengan

memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan, memberikan

penjelasan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang

fisiologis. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah
merupakan gejala yang fisiologis pada kehamilan muda. Menganjurkan ibu

untuk mengubah pola makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah

sedikit tetapi sering. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera

turun dari tempat tidur, makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.

Menghindari kekurangan karbohidrat merupakan faktor yang penting

dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula. Obat – obatan sedative

adalah phenobarbitol. Vitamin yang dianjurkan vitamin B1 dan B6. Anti

histaminika juga dianjurkan seperti dramamin, avomin (Manuaba 2010).

Pada kasus hiperemesis gravidarum jalur pemberian nutrisi tergantung

pada derajat muntah, berat ringannya deplesi nutrisi dan peneriamaan

penderita terhadap rencana pemberian makanan. Pada prinsipnya bila

memungkinkan saluran cerna harus digunakan. Obat-obatan yang dapat

diberikan diantaranya suplemen multivitamin, antihistamin, dopamin

antagonis, serotonin antagonis, dan kortikosteroid. Vitamin yang dianjurkan

adalah vitamin B1 dan B6 seperti pyridoxine (vitamin B6) (Widayana,2013)

Berdasarkan hasil penatalaksanaan yang dilakukan, tidak terdapat

kesenjangan antara penatalaksanaan denga rencana asuhan menyeluruh yang

disusun.

4.2.7 Evaluasi

Ny “A” telah diberikan asuhan kebidanan sesuai kebutuhan Ny “A”

selama 3 kali kunjungan. Asuhan kebidanan yang diberikan pada Ny ”A”

dengan kasus hiperemesis gravidarum tingkat 1 dapat dikatakan berhasil

karena dari hari pertama sampai hari ketiga dengan keadaan umum baik,

kesadaran composmentis, mual-muntah berkurang, TTV: TD 120/80
mmHg, Nadi 80 x/mnt, respirasi 20 x/mnt dan suhu 37,0 0C. Dengan

diberikannya asuhan secara menyeluruh, permasalahan pada Ny “A’’ dapat

teratasi, keadaan Ny “A’’ baik, dan Ny “A” pun dapat menjalani

kehamilannya. Ny “A” dianjurkan untuk selalu menjaga kehamilannya

dengan memperhatikan pola makan, istirahat, aktivitas yang tidak terlalu

berat, dan melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur atau apabila ada

keluhan maka segera datang ke tenaga kesehatan.

Pada kasus Ny “L” juga telah diberikan asuhan kebidanan sesuai

kebutuhan. Ny “L” selama 3 kali kunjungan. Asuhan kebidanan yang

diberikan pada Ny ”L” dengan kasus hiperemesis gravidarum tingkat 1

dapat dikatakan berhasil karena dari hari pertama sampai hari ketiga dalam

keadaan umum baik, kesadaran composmentis, mual-muntah berkurang,

TTV: TD 120/80 mmHg, Nadi 82 x/mnt, respirasi 20 x/mnt dan suhu

36,50C. Dengan diberikannya asuhan secara menyeluruh, permasalahan

pada Ny “L’’ dapat teratasi, keadaan Ny “L’’ baik, dan Ny “L” pun dapat

menjalani kehamilannya. Ny “L” dianjurkan untuk selalu menjaga

kehamilannya dengan memperhatikan pola makan, istirahat, aktivitas yang

tidak terlalu berat, dan melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur

atau apabila ada keluhan maka segera datang ke tenaga kesehatan.

Evaluasi dilakukan dilakukan secara siklus dan dengan mengkaji

ulang aspek asuhan yang tidak efekif untuk mengetahui faktor mana yang

menguntungkan atau menghambat keberhasilan yang diberikan. Pada

langkah terakhir dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang telah diberikan

(Soepardan, 2008).
Tujuan terapi emesis atau hiperemesis gravidarum adalah untuk

mencegah komplikasi seperti ketonuria, dehidrasi, hipokalemia dan

penurunan berat badan lebih dari 3 kg atau 5% berat badan.1 Jika sudah

terjadi komplikasi, perlu dilakukan tata laksana terhadap komplikasi

tersebut. Penilaian keberhasilan terapi dilakukan secara klinis dan

laboratoris. Secara klinis, keberhasilan terapi dapat dinilai dari penurunan

frekuensi mual dan muntah, frekuensi dan intensitas mual, serta perbaikan

tanda-tanda vital dandehidrasi. Parameter laboratorium yang perlu dinilai

adalah perbaikan keseimbangan asam-basa dan elektrolit (Widayana, 2013).

Berdasarkan tinjauan kasus dan tinjauan teori tidak terdapat

kesenjangan karena setelah dilakukan pengkajian terhadap Ny “A” dan Ny

“L” dengan hiperemesis gravidarum tingkat I, ibu sudah mulai merasakan

keluhan sedikit berkurang seperti muntah ibu berkurang, ibu sudah tidak

pusing, keadaan ibu sudah membaik dan ibu sudah dapat beraktivitas seperti

biasanya.
BAB V

PENUTUP

Dari hasil yang penulis uraikan dalam laporan tugas akhir kebidanan

terhadap Ny ”A” dan Ny “L’’ dengan hiperemesis gravidarum tingkat I di

Puskesmas Ampenan, maka penulis menentukan kesimpulan dan saran yang

bermanfaat.

5.1 Kesimpulan

1. Pengumpulan data dasar terhadap Ny “A” dan Ny “L” dengan

hiperemesis gravidarum tingkat I.

Data subyektif Ny. A : Mengeluh muntah-muntah sebanyak > 6

kali sehari setiap masuk makanan dan minuman sejak 5 hari yang lalu,

disertai mual, lemas serta tidak ada nafsu makan dan nyeri ulu hati.

Data subyektif Ny. L : Mengeluh muntah berlebih, lebih dari 10

kali sehari sejak 1 minggu yang lalu disertai pusing, mual dan nyeri ulu

hati dan tidak ada nafsu makan.

Data obyektif pada Ny. A : K/u Ibu lemah, TTV : TD : 90/60

mmHg, Nadi 96 x/ menit, suhu 36,8C, RR : 24 x/ menit, BB sebelum

hamil 47,5 kg, BB selama hamil 46 kg.

Data obyektif pada Ny. L : K/u Ibu lemah, TTV : TD : 100/70

mmHg, Nadi 96 x/ menit, suhu 36,9 C, RR : 21 x/ menit, BB sebelum

hamil 51 kg, BB selama hamil 50 kg.

81
2. Interpretasi data dasar berdasarkan hasil pengumpulan data terhadap Ny

“A” yaitu umur 45 tahun G4P3A0H2 usia kehamilan 6 minggu dengan

hiperemesis gravidarum tingkat I. Ny “L” umur 23 tahun G1P0A0H0 usia

kehamilan 8 minggu dengan hiperemesis gravidarum tingkat I.

3. Identifikasi diagnosa atau masalah potensial yang akan mungkin terjadi

terhadap Ny “A” dan Ny “L” yaitu persalinan prematurus, anemia dan

BBLR.

4. Identifikasi kebutuhan segera pada Ny “A” dan Ny “L” adalah

pemasangan infus RL 28 tpm, pemberian tablet B6, antasida dan

andansentron untuk mengurangi mual dan muntah yang dirasakan.

5. Rencana asuhan yang sesuai dengan kebutuhan Ny “A” dan Ny ‘L”

meliputi melakukan Informed consent, menjelaskan pada ibu dan

keluarga hasil pemeriksaan, melakukan kolaborasi dengan dokter,

melakukan konseling tentang nutrisi ibu hamil serta menganjurkan ibu

untuk makan sedikit tapi sering.

6. Penatalaksanaan menyeluruh terhadap Ny “A” dan Ny “L”. Pelaksanaan

dilakukan berdasarkan hasil perencanaan yang telah dituliskan

sebelumnya dimana perencanaan dilaksanakan secara efisien dan aman

berdasarkan kebutuhan klien.

7. Evaluasi berdasarkan hasil asuhan terhadap Ny “A” dengan G4P3A0H2,

UK 6 minggu dan Ny “L” dengan G1P0A0H0, UK 8 minggu telah

dilakukan dengan baik dan dinyatakan berhasil.
5.2 Saran

Saran yang penulis berikan ditujukan kepada :

5.2.1 Teoritis

Diharapkan meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan

penulis serta pembaca mengenai penatalaksanaan asuhan kebidanan

dengan kasus hiperemesis gravidarum tingkat 1 sehingga dapat

dijadikan bahan perbandingan untuk laporan studi kasus selanjutnya.

5.2.2 Praktis

1. Bagi Mahasisiwi/Penulis

Mahasiswi diharapkan mampu mengaplikasikan materi yang

sudah didapat di bangku kuliah dan meningkatkan pengetahuan,

wawasan, mutu pelayanan dalam penanganan hiperemesis

gravidarum.

2. Bagi Pasien/ Masyarakat

Khususnya pada pasien dan keluarga yang diberikan asuhan,

dapat lebih pro aktif terhadap segala tindakan atau asuhan yang

diberikan dan dapat membina hubungan yang baik dengan tenaga

kesehatan serta fasilitas kesehatan.

Bagi pasien hiperemesis gravidarum : dapat memahami

penjelasan atau asuhan yang diberikan oleh bidan di Puskesmas

serta dapat melaksanakan anjuran-anjuran yang diberikan oleh

bidan.
3. Untuk Pelayanan Tenaga Kesehatan

Diharapkan hasil studi kasus dapat dijadikan sebagai

masukan dan sumber informasi dalam peningkatan pelayanan pada

ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum, sehingga didapatkan

program-program baru dalam mengatasi kasus hiperemesis

gravidarum.

4. Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan hasil studi kasus dapat dijadikan bahan tambahan

dalam pengajaran serta menambah literature untuk studi kasus

selanjutnya yang berkaitan dengan masalah hiperemesis

gravidarum dalam kehamilan.
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F.G. 2008. Obstrerti Williams. Alih Bahasa: Huriawati Hartono.
Jakarta. EGC.

Dinas Kesehatan NTB. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat
Tahun 2012. Mataram : Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Dinas Kesehatan Kota Mataram. 2015. Rekapitulasi PWS Ibu-KIA Kota Mataram.

Jannah, Nurul. 2012. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Kehamilan. Yogyakarta: Andi
Offset.

Karwati, 2011. Asuhan Kebidanan V (Edisi Revisi). Jakarta: Trans Info Media.

Kementerian Kesehatan RI. 2011. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Gunawan, K. Manengkei, P.S.K & Ocviyanti, D. 2011. Diagnosis dan Tata
Laksana Hiperemesis Gravidarum. Jakarta: FKUI.

Manuaba, I.G.B, dkk. 2010. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta:
EGC.

Marmi, 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.

Puskesmas Ampenan. 2015. PWS-KIA Puskesmas Ampenan Tahun 2015.

Rukiyah, A.Y, Yulianti, L. 2010. Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan).
Jakarta: Trans Info Media.

Runiari, Nengah. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Hiperemesis
Gravidarum. Jakarta : Salemba Medika.

Sidik, Japar. 2010. Kelainan Gatrointesnisal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.

Soetjiningsih. 2010. Masalah Yang Dialami Ibu Hamil Trimester Satu . Jakarta:
EGC.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). 2012. Analisis AKI dan AKB
Tahun 2010. Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS).
Soepardan, Soeryani. 2008. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC.

Sulistyawati, Ari. 2012. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika.

Varney, Helen. 2007. Buku Ajara Asuhan Kebidanan Volume 1. Jakarta: EGC

Widayana, A. Megadhana, W & Kemara, KP. 2015. Diagnosis Dan
Penatalaksanaan Hiperemesis Gravidarum. Fakultas Kedokteran,
Universitas Udayana: RSUP Sanglah.

Wiknjosastro, Hanipa. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.