You are on page 1of 15

MAKALAH

DIAGNOSA LABORATORIUM PENYAKIT ANTRAKS
PADA HEWAN

Fitria Novita Andesip, SKH B94154314
Reinilda Alwina, SKH B94154335

BAGIAN LABORATORIUM DIAGNOSTIK
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

.

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL vi DAFTAR GAMBAR vi DAFTAR LAMPIRAN vi PENDAHULUAN 1 ETIOLOGI 2 DIAGNOSA LABORATORIUM 3 Koleksi sampel 3 Isolasi sampel 4 Media 4 Identifikasi sampel 6 Pewarnaan 6 Identifikasi bakteri 8 Uji deteksi antigen 10 Uji Ascoli Precipitin 10 Uji Serologis 10 ELISA 10 Uji molekular 10 PCR (Polymerase chain reaction) 10 PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN 10 DAFTAR PUSTAKA 11 .

health.health.jpg) 5 4 Hasil pewarnaan Gram pada B.gov/PHIL_Images/09122002/ 00009/PHIL_1165_lores. 3 2 Karakteristik utama fisiologis dan biokimiawi B.p df) 5 3 Koloni B. DAFTAR TABEL 1 Panduan pengambilan sampel dari hewan yang diduga mati akibat antraks (WHO 2008). anthracis yang tumbuh di media bicarbonate agar dan blood agar (sumber: http://phil.ny. anthracis yang tumbuh di media BA (sumber: https://www.p df) 6 .gov/guidance/oph/wadsworth/bacillus_anthracis.ny.gov/guidance/oph/wadsworth/bacillus_anthracis. anthracis (sumber: https://www.cdc. anthracis (inkubasi 35 °C) (WHO 2008) 8 DAFTAR GAMBAR 1 Ilustrasi lapisan pengemasan sampel untuk pemindahan dengan double- bagging (WHO 2008) 4 2 Koloni B.

Ruminansia khususnya sapi. penurunan reproduksi dan kerugian lain (Sudardjat 2004). daging dan susu). Hewan herbivora sangat rentan terhadap antraks. Asia. dan kucing juga dapat terinfeksi. Kabupaten Bima ( Dharmojono 2002). Penyakit antraks di indonesia dilaporkan pertama kali oleh Javasche Courant pada tahun 1884 yang menyebutkan bahwa adanya antraks pada hewan di daerah Teluk Betung Provinsi lampung (Ditjennak 2001). Penyakit Antraks merupakan zoonosis yang penting di Indonesia. anjing. . Eropa Selatan dan Eropa Timur. termasuk manusia. Pada jaman Hipocrates tahun 1663 di Eropa selatan pernah terjangkit wabah seperti antraks yang menyebabkan 6000 orang meninggal dunia (Todar 2001). Kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat berbagai penyakit cukup tinggi walaupun angka yang pasti belum diketahui. PENDAHULUAN Peternakan di Indonesia memberi peran besar dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Infeksi biasanya akut pada ternak yang mengakibatkan kematian dalam waktu satu sampai tiga hari ( Parker et al. Burung hanya terinfeksi secara eksperimental dan burung karnivora dapat menularkan spora melalui feses. penurunan produktivitas (tenaga kerja. biaya pengobatan apabila terjadi kasus penyakit. dikarenakan rendahnya populasi ternak yang merupakan salah satu dampak dari munculnya berbagai macam penyakit sehingga mengancam pertumbuhan ternak dan secara langsung juga akan memberikan dampak kerugian ekonomi yang besar bagi peternak. 2001 antraks dapat menginfeksi semua hewan berdarah panas. Seperti yang pernah dilaporkan di daerah bima 9 orang meninggal akibat memkan daging kambing yang terjangkit antraks di Dusun Lareu Kecamatan Donggo. rusa. kerbau dan domba adalah sangat rentan. Antraks dapat menyerang hewan berdarah panas dan manusia. Kerugian meliputi biaya vaksinasi. burung dan reptil lebih tahan terhadap penyakit ini. Ruminansia yang hidup secara liar seperti rusa. sedangkan karnivora. dimana heawan-hewan sering dipekerjakan. dan manusia kurang rentan dibandingkan dengan sapi atau domba. Di indonesia pernah terdapat beberapa kali wabah antraks yang muncul dan menyebabkan kematian baik pada hewan tersebut maupun pada manusia. 2002). menurut Suverly et al. Antraks banyak terjadi diedaerah pertanian. Kuda. seringkali dilaporkan orang yang meninggal karena memakan daging hewan yang terinfeksi antraks. Kesehatan ternak merupakan kunci penentu keberhasilan suatu usaha peternakan. seperti di Amerika Tengah dan Utara. Karabia dan Timur Tengah. Salah satu penyakit menular dan penyakit yang merugikan peternak adalah antraks. Hewan dari negara lain yang menderita antraks dapat menularkan ke negara yang dikirim hewan tersebut (CDC 2003). Penularan kepada manusia dapat terjadi saat penangan hewan atau memakan daging. babi. Namun ketersediaan daging di dalam negeri cukup terbatas dan belum mampu untuk memenuhi jumlah konsumsi yang dibutuhkan. Afrika. kematian ternak.

Penyebaran wabah juga dapat dilakuakan oleh vektor berupa lalat selain itu wabah anthrax juga dapat menyebar melalui rute perdagangan antara daerah yang terinfeksi dengan daerah yang tidak terinfeksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran spora diantaranya adalah pH. Penularan penyakit yang umum adalah melalui saluran pencernaan. dapat juga terjadi pada hewan karnivora yang memangsa hewan yang terinfeksi anthrax. nukleosid dan glukosa seperti yang ditemukan dalam darah atau tubuh hewan maupun manusia. Penularan anthrax antar hewan dapat melalui berbagai cara diantaranya pakan. Anthrax merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. sedangkan karnivora. rumput. peralatan dan sebagainya yang kemudian akan menjadi sumber penularan kepada hewan lainnya. membentuk spora yang letaknya sentral bila cukup oksigen. 2001). tulang. penanganan bangkai. bila masuk kedalam lingkungan yang kaya akan asam amino. Spora akan tumbuh menjadi bentuk vegetatif. Bentuk vegetatif memiliki ketahanan hidup yang rendah diluar tubuh hewan sedangkan spora dapat bertahan ditanh sampai puluhan tahun (Naim. yaitu termakan rumput yang terkontaminasi spora. musim. cahaya serta berbagai disenfektan. Bentuk vegetatif akan dengan cepat bermultiplikasi dan membentuk spora bila terpapar oksigen. Penularan anthrax dengan manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau terkontaminasi produk hewan yang terinfeksi. pakan. . dimana hewan tertular antraks karena menelan spora antraks (WHO 2008). burung dan reptil lebih tahan terhadap penyakit ini. Penyakit antraks sangat jarang ditularkan secara kontak langsung antara hewan penderita dan hewan lainnya yang masih sehat. Spora anthraks tahan terhadap kekeringan. suhu.2 ETIOLOGI Antraks dapat menyerang hewan berdarah panas dan manusia. Infeksi biasanya akut pada ternak yang mengakibatkan kematian dalam waktu satu sampai tiga hari ( Parker et al. 2002). Penularan melalui pernafasan biasanya pada pekerja di industri woll. Penularan melalui kulit terjadi pada orang yang berhubungan erat dengan hewan. Biasanya pada pekerja bagian pemotongan hewan maupun penanganan atau pengolahan kulit. Hewan herbivora sangat rentan terhadap antraks. Spora-spora tersebut dapat diterbangkan angin. Spora bakteri Bacillus anthracis yang mencemari tanah merupakan sumber infeksi dan bersifat bahaya laten karena dapat terserap oleh akar tumbuhan sehingga berpotensi untuk menginfeksi ternak yang mengkonsumsinya. gram positif berbentuk batang dan bersifat aerob. panas. wol serta produk hewan lainnya. Bakteri Bacillus anthracis merupakan bakteri genus Bacillus. populasi serangga serta aktivitas manusia (WHO 2008). Spora yang keluar dari hewan yang mati akibat antraks umumnya sebagai penyebab terjadinya kasus antraks (Turnbull 2008). atau dihanyutkan aliran air kemudian dapat mencemari air.

3 DIAGNOSA LABORATORIUM Koleksi sampel Pengambilan sampel antraks pada hewan dilakukan oleh dokter hewan atau ahli mikrobiologi yang sudah terampil dalam pengambilan sampel. Sampel harus dikoleksi dalam kontainer steril dan dilakukan secara aseptis. • Sarung tangan dua lapis (lapis luar dapat diganti tanpa mengekspos tangan) • Sebagai alternatif. dibakar atau didisinfeksi  Cuci tangan keseluruhan dengan air dan sabun. Tabel 1 Panduan pengambilan sampel dari hewan yang diduga mati akibat antraks (WHO 2008). Keadaan Sampel Kontainer Perlakuan lain Darah dari vena (0. atau boots yang dapat didisinfektan. kantung bersegel. dapat digunakan kantong plastik yang kuat untuk lapis luar boots dan kantong plastik yang dibalik untuk lapis luar sarung tangan. Pengambilan sampel harus dilakukan secara profesional dan memperhatikan keselamatan diri serta lingkungan. Pengambilan sampel dari hewan yang diduga mati akibat antraks dapat dilakukan dengan beberapa cara tergantung dengan keadaan karkas hewan. Cairan dapat dan cairan dari rongga dipersiapkan di Karkas baru tubuh. atau potongan tempat. Tangan dimasukkan dalam kantong plastik yang dibalik untuk memegang karkas atau sampel jaringan Tangan yang lain melakukan swab atau memotong sampel Balikkan kembali kantong plastik sehingga melapisi sampel atau swab Segel dan beri label  Kantong pembawa kemudian disterilisasi. . Panduan pengambilan sampel dapat dilihat pada tabel 1. Uji dengan jaringan yang banyak alat deteksi antigen vaskularisasi (biasanya bila tersedia. terbuka maka darah dalam syringe. selective agar. Kultur spesimen yang banyak Untuk sampel hewan pada BA Karkas yang vaskularisasi dan swab berupa tanah. telinga) Potongan jaringan Tabung swab.1 Vial kecil atau Digunakan untuk ml) atau bila karkas dibiarkan cairan dan kultura. sarung tangan disposable dan overboots. (Lebih baik dengan diawetkan daerah tervaskularisasi kontainer polymixin) dan (hidung. Berikut pendekatan profesional yang dapat dilakukan (WHO 2008): • Menggunakan apron.

Sel vegetatif hancur pada darah yang disimpan lebih dari sehari. karkas yang diperkirakan berupa tanah. anthracis yaitu tumbuh tidak selektif. sebagainya. 1 Nutrient agar Inkubasi 35-37 °C selama 24 jam. raised. antracis pada swab. Jika diperkirakan akan tertunda dalam mencapai laboratorium.4 mata). Kultur pada selective sangat lama. Hewan yang telah mati secara mendadak dan tidak terduga tidak boleh dinekropsi kecuali bila antraks telah disingkirkan sebagai penyebab kematian hewan. tulang. cair harus dibuat dalam bentuk preparat slide sesegera mungkin setelah koleksi dan darah harus dikoleksi dalam bentuk swab kering untuk memicu terjadinya sporulasi dari B. Media isolasi disesuaikan dengan karakteristik dari bakteri B. Konsistensi koloni ini . anaerob fakultatif. Kontainer sampel berupa double-bagging dimana kontainer sampel dilapisi dengan kontainer lagi. Kontainer pertama (tabung swab/vial/syringe) Kontainer kedua (kantong plastik dengan kualitas yang bagus & dapat disegel) Lapis luar kontainer (cool box 2-8 °C/plastik kuat/kontainer logam dengan penutup) Gambar 1 Ilustrasi lapisan pengemasan sampel untuk pemindahan dengan double- bagging (WHO 2008) Isolasi sampel Media Beberapa media dapat digunakan untuk isolasi sampel dari hewan yang diduga terkena antraks. opaque dan berwarna putih keabuan dengan penampakan dasar seperti “frosted glass”. Karkas yang sudah Swab dari hidung dan Tabung swab. bagian bawah kepala dan ekor. koloni yang terbentuk lebar dengan diameter 2-3 mm. Lapisan kontainer sampel dengan double-bagging dapat dilihat seperti gambar 1. dan dapat tumbuh dengan temperatur optimum 35-37 °C. Tanah Untuk sampel agar. dan bersegel. yang lebih tahan untuk kultur dalam jangka waktu yang lama Koleksi sampel hewan pada sebagian besar negara melarang dilakukannya pemeriksaan postmortem pada hewan yang telah mati akibat antraks. kontainer bawah tanah. Kontainer harus dibasuh dengan hipoklorit (10000 ppm) dan dipindahkan dengan mengganti sarung tangan luar terlebih dahulu. a Cairandan kultur sebaiknya dilakukan dalam beberapa jam dari koleksi darah. tidak beraturan. tersembunyi. Terkadang koloni memiliki tepi yang tajam atau berupa tonjolan yang keriting biasa disebut Medusa head appearance karena tampak seperti kepala ular medusa. dikelilingi atau di terkena cairan tubuh. kantung mata. Tanah yang Kultur tanah pada terkena darah pada selective agar. dull.

ny. 5 Bicarbonate agar Pada media ini. terkait kecenderungan B. EDTA.jpg) . Sifat non-motil dari bakteri menyebabkan untaian rantai bakteri tersebut menumpuk sebagai deposit sehingga terbentuk seperti untain halus bila broth digoyangkan perlahan. Koloni yang baru diisolasi dan dinkubasi pada 35-37 °C berwarna putih atau putih keabuan. berdiameter 2-4 mm dan non-hemolitik.gov/PHIL_Images/09122002/ 00009/PHIL_1165_lores. berbentuk sirkular kasar. lysozyme. Gambar 3 Koloni B. Secara penampakan. terutama kultur statik. Kekurangan dari media ini adalah salah satu bahan yaitu thalous asetat sangat toksik dan menjadi limbah bagi lingkungan.pdf) 3 Broth Pertumbuhan koloni terkadang floccular atau tampak seperti benang wool. koloni terlihat sedikit lembab dan kesat. 5 lengket dan penampakan berupa kepala medusa tersebut tidak sering ditemui. anthracis yang tumbuh di media BA (sumber: https://www. koloni dari isolat yang sangat virulen akan tampak mucoid bila diinkubasi semalam dalam kondisi CO2 (anaerob) terkait pembentukan kapsul. 2 Blood agar BA yang digunakan berasalah dari darah domba atau kuda. anthracis yang tumbuh di media bicarbonate agar dan blood agar (sumber: http://phil. bervariasi pada media yang digunakan. berwarna krem-putih dengan tekstur ground-glass setelah inkubasi 37 °C selama 36-48 jam. thalous asetat) Koloni 2-3 mm. 4 Selective agars PLET (polymixin. a b Gambar 2 Koloni B.cdc.gov/guidance/oph/wadsworth/bacillus_ant hracis.health. anthracis membentuk rantai panjang in vitro.

anthracis seperti bentuk. basil lurus dengan ujung persegi atau seperti terpotong dengan sisi paralel yang biasanya ditemukan single. botol berisi cairan mendidih) hipoklorida Observasi mikroskop: Warna merah  spora Warna biru  vegetatif .6 Identifikasi sampel Pewarnaan Beberapa teknik pewarnaan dapat digunakan untuk memberikan gambaran morfologi yang dimiliki B. panjang. Cuci pewarna Cairan dikeringkan Beri pewarna dengan air yang atau difiksasi dengan kembali dengan dimasukkan dalam pemanasan atau methylene blue botol berisi cairan alkohol selama 1-2 menit hipoklorida Cuci pewarna Hilangkan pewarna dengan air yang Lapisi cairan dengan dengan alkohol dimasukkan dalam carbol fuchsin hingga sisa warna botol berisi cairan merah menghilang hipoklorida Cuci pewarna Fiksasi selama 3-5 dengan air yang menit (jangan Observasi dimasukkan dalam sampai pewarna mikroskop.ny. berpasangan atau berantai 3-4 basil (terlihat seperti bamboo stick).health. anthracis pada sampel menurut WHO (2008).gov/guidance/oph/wadsworth/bacil lus_anthracis. kapsul atau spora. Gambar 4 Hasil pewarnaan Gram pada B. yaitu: 1 Pewarnaan Gram Pewarnaan ini tidak sesuai untuk visualisasi kapsul. Metode standard Cuci dalam larutan Amati morfologi dalam pewarnaan hipoklorida (10000 bacillus dengan Gram ppm) di tiap tahap mikroskop Observasi morfologi: Gram positif tebal. Terdapat beberapa teknik pewarnaan yang dapat dilakukan untuk membantu identifikasi B. anthracis (sumber: https://www.pdf) 2 Pewarnaan modifikasi Ziehl-Neelsen Pewarnaan ini untuk mewarnai spora.

Perbesaran 100×  kapsul B. maka hasil akan memuaskan. anthracis yang ada sedikit atau basil mati dan rusak akibat karkas yang sudah lama atau hewan yang pernah mendapat perlakuan sebelum pengambilan sampel. Observasi mikroskop: Perbesaran 10×  B. Bila sampel berupa darah dari hewan yang baru saja mati atau cairan bacili dari koloni pada bicarbonate agar yang ditumbuhkan dalam kondisi anaerob. menit cairan hipoklorida Observasi mikroskop: Warna merah  vegetatif Warna hijau  spora 4 Polychrome methylene blue (reaksi M’Fadyean) Pewarnaan ini untuk mewarnai kapsul. Namun. Letakkan slide di Beri pewarna kembali Cuci kembali dengan cawan petri dengan dengan safranin 0. anthracis terlihat seperti benang kecil yang pendek. 7 3 Malachite green Pewarnaan ini untuk mewarnai spora. . Polycrome methylene blue diteteskan hingga Biarkan mengering Observasi mikroskop melapisi seluruh cairan Cuci pewarna dengan Biarkan selama 30-60 air yang dimasukkan detik dalam botol berisi cairan hipoklorida Kontrol positif dan negatif harus dilakukan pada setiap uji. hasil akan kurang sensitif bila jumlah B.05 % selama 30 detik Lapisi dengan 5% Cuci pewarna dengan cairan malachite green air yang dimasukkan dan biarkan selama 60 dalam botol berisi Observasi mikroskop.5 % larutan hipoklorida dan kertas saring basah atau carbol fuchsin biarkan kering lembab 0. anthracis terlihat sebagai material berwarna pink yang tak berbentuk mengelilingi bacilli yang biru kehitaman. 5 Tinta india Pewarnaan ini untuk memvisualisasikan kapsul seperti lingkaran bercahaya mengelilingi bacillus.

8 Darah atau cairan dari jaringan Observasi mikroskop diletakkan pada slide bersih Teteskan sedikit tinta india. Tabel 2 Karakteristik utama fisiologis dan biokimiawi B. dapat menjadi pembeda antar strain. sporangium tidak membesar. lalu 10 U penicillin disc diletakkan di beberapa titik. dalam 24-48 Reaksi pada kuning jam koloni berwarna keabuan tanpa adanya + telur zona opalescence (halo) yang terbentuk disekitar koloni Tidak berarti non-motil karena keberadaan gen yang berasosiasi dengan kemampuan Motilitas - motil dan melalui electron micrographs menunjukkan adanya flagella “gamma” phage merupakan isolat jenis baru yang berasal dari W bacteriophage Rentan “gamma” (dari strain W bacillus yang setipe dengan + phage B. Jika Cover diletakkan perlahan diatas terlalu gelap. Zona hambat . muncul dalam waktu 24- Spora dan sel 48 jam. Menghasilkan lechitinase. terkadang ujung sel berbentuk kotak. Identifikasi bakteri Identifikasi sampel yang diduga mengalami penyakit antraks dapat dilakukan beberapa uji untuk memastikan keberadaan penyebab penyakit antraks yaitu B. Rantai pendek dua hingga beberapa sel. domba/kuda Terkadang rantai panjang. mampu melisiskan B. cereus atau B. anthracis (inkubasi 35 °C) (WHO 2008) Karakteristik Reaksi Keterangan Spora di tengah atau tepi. maka dapat cairan sehingga akan tertekan diencerkan dengan air secukupnya perlahan Kontrol positif dan negatif harus dilakukan pada setiap uji. anthracis. Hasil identifikasi tersebut dapat dilihat pada tabel 2 yang mengacu pada World Health Organization (2008). Hemolisis pada BA . 6 Immunofluorescence Pewarnaan terhadap antibodi yang telah berhasil dikembangkan namun tidak menjadi rutinitas yang harus selalu dilakukan dalam pemeriksaan sampel (OIE 2012). NA atau BA dengan kultur isolat yang Rentan penicillin + akan diuji. anthracis setelah diinkubasi semalam pada 35-37 °C. anthracis).

selama 14 hari. 9 akan terlihat setelah inkubasi semalam pada 35-37 °C. anthracis mengalami Produksi kapsul + tekanan lingkungan Oksidase + Glukosa garam Hasil negatif diterima setelah inkubasi + ammonium selama 14 hari Arabinosa garam Hasil negatif diterima setelah inkubasi - ammonium selama 14 hari Xylose garam Hasil negatif diterima setelah inkubasi - ammonium selama 14 hari Mannitol garam Hasil negatif diterima setelah inkubasi - ammonium selama 14 hari Salicin garam Hasil negatif diterima setelah inkubasi - ammonium selama 14 hari Produksi katalase + Hasil negatif diterima setelah inkubasi Indole - selama 14 hari Hasil negatif diterima setelah inkubasi Voges-Proskauer (VP) + selama 14 hari Hasil negatif diterima setelah inkubasi Penggunaan sitrat . Terdeteksi bila B. Berfungsi sebagai variabel terhadap B. Tumbuh pada NaCl Hasil negatif diterima setelah inkubasi v 5% selama 14 hari Hidrolisis gelatin + Reduksi nitrat + Ukuran “halo” yang terbentuk setelah 48 jam pada 35 °C. zona opaque 1-2 mm Hidrolisis kasein + hingga zona translusen sekitar 4 mm yang dikelilingi zona opaque sekitar 2 mm Hidrolisis kanji + Pembacaan setelah 48-96 jam Hasil negatif diterima setelah inkubasi Urease - selama 14 hari Hasil negatif diterima setelah inkubasi Deaminase fenilalanin v selama 14 hari Hasil negatif diterima setelah inkubasi Penggunaan propionat - selama 14 hari . cereus (hasil positif).

Prosedur uji dapat dilakukan sebagai berikut: Rebus kitra-kira 2 g Bila tidak. PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN Proses dasar untuk melakukan kontrol dan pemberantasan anthraks pada ternak yaitu dengan melakukan pemutusan siklus infeksi.5% fenol selama 24- mengandung 1:100 48 jam di lemari es asam asetat Tambahkan filtrat perlahan melalui tepi Masukkan beberapa Setelah di dinginkan. anthracis pada hewan dapat dilakukan dengan teknik ELISA. lakukan pemotongan di Rumah Potong Hewan. . Hasil positif bila terlihat adanya bentukan presipitin di bawah 15 menit (OIE 2012) Uji Serologis ELISA Uji serologis terhadap kebeeradaan B. tidak boleh menyembelih hewan yang terkena anthraks. anthracis yaitu kapsul dan toksin (WHO 2008. tabung sehingga tetes antiserum di disaring dengan kertas membentuk lapisan bawah tabung uji saring hingga jernih antigen diatas kecil antiserum. anthracis pada jaringan yang telah digunakan sebagai produk hewan dan untuk mengungkap apakah hewan asal dari produk tersebut telah mati karena antraks atau tidak. maka dapat dari sampel selama 5 dilakukan Sampel dipotong menit dalam 5 ml perendaman dalam secara tipis dan kecil larutan yang 0. anthracis pada sampel yang diuji dapat dilakukan secara molekular dengan teknik PCR (polymerase chain reaction). Uji molekular PCR (Polymerase chain reaction) Konfirmasi B. Usaha pencegahan dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya dengan melakukan vaksinasi pada ternak.10 Uji deteksi antigen Uji Ascoli Precipitin Uji presipitasi ascoli untuk mendeteksi antigen B. Teknik ini dilakukan untuk memastikan gen yang menjadi faktor virulensi dari B. melakukan pengawasan lalu lintas yang ketat. Teknik ELISA mikrotiter merupakan prosedur terbaik dalam uji serologis dengan menggunakan Protective Antigen (PA) dan Lethal Factor (LF) komponen dari toksin antraks (WHO 2008). OIE 2012). jika hewan di potong dirumah atau tempat lain maka harus mendapat ijin dinas peternakan setempat.

Sudardjat. Paris (FR): OIE. Jakarta [Ditjennak] Direktorat Jenderal Peternakan. Kvasnicka B. Pengobatan lain dapat dilakukan dengan pemberian Streptomicin ataupun penggabungan streptomisin dengan penicillin secara intramuskuler (Dharmojono 2002). http://www. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian anti serum pada hewan besar dengan dosis 100-150 ml.wise. 11 melaporkan ke Dinas jika ada kejadian yang diduga anthraks. http://www. Leptospirosis-Anthrax-Mulut dan Kuku_Sapi Gila Waspadailah Akibatnya. Antraks and Livestock. Manual Penyakit Hewan. P. “Bacillus Anthracis and Anthrax. www. USA. Dharmojono. Manual Of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animals (mammals.unr.. 2002.cdc. J.int/csr/resources/publications/antraks_webs. www.Depkes. serta tidak mengkonsumsi daging yang terkena anthraks. Mathis. C. R. Nye N. 2001.pdf.Turnbull.asp. Jakarta. [WHO] World Health Organization. Epidemiologi dan Ekonomi Veteriner. 2008.pdf. [OIE] World Organisation for Animal Health. 2001.nmsu. Guide B-120. B. Parker. dan pada hewan kecil dengan dosis 50-100 ml yang dapat diaplikasikan melalui intravenous atau subkutan jika anti serum asal spesies yang sama sedangkan jika nati serum berasal dari spesies yang berbeda maka hanya boleh di aplikasikan melaui subkutan. Penerbit Pustaka Populer Obor. S. Yayasan Agribisnis Indonesia Mandiri.edu/pubs/_b/B-120. Torell R. 2012. DAFTAR PUSTAKA CDC. birds and bees).ppmlp.pdf. Switzerland: WHO press.edu/publications/files/ag/ /2001 /fs0179.go. Antraks : A Guide for Livestock Producer. 2003. C. 2002.bact. 2008. Suverly NA. Antraks in humans and animals – 4th edition. Jakarta. 2001.. Turnbull. Info Penyakit Menular. Anthrax in humans and animal fourth ed. Looper M.edu/bact/microtextbook/disease/ anthrax.unce. Depkes RI.and Sawyer. Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan Departemen Pertanian. 2004.gov/inced/dbmb/diseaseinfo/Anthrax-ghtm “Disease Information”. Hlm 439-494. Fact Sheet FS: 01:79.bt. . Todar K.Htm. http://www. Edisi 1. http://aces. 2001.id/detil.