You are on page 1of 92

KARS

 Sasaran I : Ketepatan identifikasi pasien
 Sasaran II : Peningkatan komunikasi yang
efektif
 Sasaran III : Peningkatan keamanan obat yang
perlu diwaspadai (high-alert)
 Sasaran lV : Kepastian tepat-lokasi, tepat-
prosedur, tepat-pasien operasi
 Sasaran V : Pengurangan risiko infeksi terkait
pelayanan kesehatan
 Sasaran VI : Pengurangan risiko pasien jatuh

Sutoto.KARS 2
Rumah sakit
mengembangkan suatu
pendekatan untuk
memperbaiki /
meningkatkan ketelitian
identifikasi pasien.

3
1. Identifikasi pasien harus mengikuti pasien kemanapun
(gelang identitas) dan yang tak mudah/bisa berubah.
2. Identifikasi Pasien : menggunakan dua identitas dari
minimal tiga identitas
1. nama pasien (  e KTP)
2. tanggal lahir atau
3. nomor rekam medis

 !!!! dilarang identifikasi dg nomor kamar
pasien atau lokasi
 Bila ada kekecualian, RS harus membuat SPO khusus

Sutoto.KARS 5
GELANG IDENTITAS
• Biru: Laki Laki
• Pink: Perempuan
GELANG PENANDA:
• Merah: Alergi
• Kuning: Risiko Jatuh
• Ungu : Do Not
Resucitate

6
Petemuan Pertama seorang petugas dengan
pasien:
1. Secara verbal: Tanyakan nama pasien
2. Secara visual: Lihat ke gelang pasien dua
dari tiga identitas, cocokkan dengan perintah
dokter

Pertemuan berikutnya dapat lihat secara visual
saja ke gelang pasien, dua identitas dari tiga
identitas

Sutoto.KARS 8
1. Jelaskan manfaat gelang pasien
2. Jelaskan bahaya untuk pasien yang menolak,
melepas, menutupi gelang .dll
3. Minta pasien utuk mengingatkan petugas
bila akan melakukan tindakan atau memberi
obat memberikan pengobatan tidak
menkonfirmasi nama dan mengecek ke
gelang
Sutoto.KARS 9
1. Identifikasi menggunakan gelang pasien, identifikasi terdiri dari
tiga identitas: nama pasien (e KTP), nomor rekam medik, dan
tanggal lahir.
2. Pasien laki-laki memakai gelang warna biru, pasien perempuan
memakai gelang warna pink, sedangkan gelang merah sebagai
penanda alergi, dan gelang kuning penanda risiko jatuh, gelang
ungu penanda Do not Resucitate
3. Pada gelang identifikasi pasien: Nama pasien harus ditulis
lengkap sesuai e-KTP bila tak ada gunakan KTP/kartu identitas
lainnya, bila tak ada semuanya minta pasien/keluarganya untuk
menulis pada formulir identitas yang disediakan RS dengan huruf
kapital pada kotak kota huruf yang disediakan, nama tidak boleh
disingkat, tak boleh salah ketik walau satu huruf
4. Identifikasi pasien pada gelang identitas pasien harus di cetak,
tulisan tangan hanya boleh bila printer sedang rusak/tak ada
fasilitas untuk itu dan harus segera diganti bila printer berfungsi
kembali.
1. Petugas melakukan identifikasi pasien minimal dua dari tiga
identitas diatas
2. Identifikasi dengan cara verbal
(menanyakan/mengkonfirmasi nama pasien) dan visual
(melihat gelang pasien)
6. Semua pasien harus di identifikasi secara benar sebelum
dilakukan pemberian obat, tranfusi/produk darah,
pengobatan, prosedur /tindakan, diambil sample darah, urin
atau cairan tubuh lainnya
7. Pasien rawat jalan tak harus memakai gelang identitas
pasien kecuali telah ditetapkan lain oleh RS,misalnya ruang
haemodialisa, endoskopi
8. Pasien dengan nama sama harus diberi tanda “HATI HATI
PASIEN DENGAN NAMA SAMA” pada rekam medik dan
semua formulir permintaan penunjang
Sutoto.KARS 11
1. pemberian obat
2. pemberian darah / produk
darah
3. pengambilan darah dan
spesimen lain untuk
pemeriksaan klinis
4. Sebelum memberikan
pengobatan
5. Sebelum memberikan
tindakan
Sutoto.KARS 12
1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas
pasien, tidak boleh menggunakan nomor kamar
atau lokasi pasien
2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat,
darah, atau produk darah.
3. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah
dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis (lihat
juga AP.5.6, EP 2)
4. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian
pengobatan dan tindakan / prosedur
5. Kebijakan dan prosedur mengarahkan
pelaksanaan identifikasi yang konsisten pada
semua situasi dan lokasi

Sutoto.KARS 13
 Rumah sakit mengembangkan
pendekatan untuk meningkatkan
efektivitas komunikasi antar para
pemberi layanan.

Sutoto.KARS 14
Communicationis
Key
• 70 to 80 % of medical errors
are relate to interpersonal
interaction issues
• Ineffective communication is
a root cause for nearly 66 % of
all sentinel events reported.
Terjadi pada saat:
 Perintah diberikan secara
lisan
 Perintah diberikan melalui
telpon
 Saat pelaporan kembali
hasil pemeriksaan kritis.

16
 ISI PERINTAH
 NAMA LENGKAP DAN TANDA
1. Tulis Lengkap TANGAN PEMBERI PERINTAH

2. Baca Ulang- Eja  NAMA LENGKAP DAN TANDA
TANGAN PENERIMA
untuk NORUM/ PERINTAH
LASA  TANGGAL DAN JAM

3. Konfirmasi lisan
dan tanda tangan

Sutoto.KARS 17
NO TGL ISI PERINTAH NAMA NAMA PELAKSANA KETERA
/ PENERIMA PEMBERI PERINTAH
NGAN
PERINTAH PERINTAH (NAMA DAN
JAM
(TANDA (TANDA TANDA
TANGAN) TANGAN) TANGAN)

Sutoto.KARS 18
 hidralazine  hidroxyzine
 cerebyx  celebrex
 vinblastine  vincristine
 chlorpropamide  chlorpromazine
 glipizide
 glyburide
 daunorubicine
 doxorubicine

Sutoto.KARS 19
Sutoto.KARS 20
 Visit dan periksa pasien
 Diskusikan keadaan pasien dengan PN
 Review hasil pemeriksaan untuk menetapkan
dokter yg tepat yang akan dilapori
 Ketahui kapan pasien masuk dan diagnosis
waktu masuk
 Baca catatan perkembangan terakhir dari dokter
dan perawat
 Gunakan standar SBAR untuk melaporkan
 Proses pelaporan hasil pemeriksaan/tes dikembangkan
rumah sakit untuk pengelolaan hasil kritis dari tes
diagnostik untuk menyediakan pedoman bagi para
praktisi untuk meminta dan menerima hasil tes pada
keadaan gawat darurat.
 RS mempunyai Prosedur yang meliputi
 penetapan tes kritis dan ambang nilai kritis bagi
setiap tipe tes,
 oleh siapa dan kepada siapa hasil tes kritis harus
dilaporkan
 menetapkan metode monitoring yang memenuhi
ketentuan
Sutoto.KARS 22
 Penerima perintah menulis lengkap perintahnya,
membaca ulang dan melakukan konfirmasi
 Tulisan disebut lengkap bila terdiri dari jam/tanggal, isi
perintah, nama penerima perintah dan tanda tangan,
nama pemberi perintah dan tanda tangan (pada
kesempatan berikutnya)
 Baca ulang dengan jelas, bila perintah mengandung
nama obat LASA, maka nama obat lasa harus dieja satu
persatu hurufnya
 Di unit pelayanan harus tersedia daftar obat Look alike
sound alike, look alike, dan sound alike

Sutoto.KARS 26
 Konfirmasi lisan dan tertulis, konfirmasi
lisan sesaat setelah pemberi perintah
mendengar pembacaan dan memberikan
pernyataan kebenaran pembacaan secara
lisan misal “ya sudah benar” . Konfirmasi
tertulis dengan tanda tangan pemberi
perintah yang harus diminta pada
kesempatan kunjungan berikutnya .
 Ada kolom keterangan yang dapat dipakai
mencatat hal-hal yang perlu dicatat, misal
pemberi perintah tak mau tanda tangan

KARS
 Rumah sakit Obat high alert
mengembangkan (yang harus
suatu pendekatan diwaspadai):
untuk obat yang dapat
menimbulkan
memperbaiki
KTD atau
keamanan obat- kejadian
obat yang perlu sentinel bisa
diwaspadai (high- salah
alert) digunakan
Sutoto.KARS 28
 Paralytic agent vs antacid

KARS
• Paralytic agent vs antacid
KARS
 hidraALAzine  hidrOXYzine
 ceREBYx  ceLEBRex
 vinBLASTine  vinCRIStine
 chlorproPAMID  chlorproMAZIN
E E
 glipiZIde  glYBURIde
 DAUNOrubicine  dOXOrubicine

Sutoto.KARS 31
LAS LAS
A A

Sutoto.KARS 32
Sutoto.KARS 33
 Obat yang persentasinya tinggi dalam
menyebabkan terjadi kesalahan/error
dan/atau kejadian sentinel (sentinel event)
 Obat yang berisiko tinggi menyebabkan
dampak yang tidak diinginkan (adverse
outcome)
 Obat-obat yang (Nama Obat, Rupa dan Ucapan
Mirip/NORUM, atau Look-Alike Sound-Alike /
LASA)

Sutoto.KARS 34
HIGH
1 ADRENERGIC AGONIS IV (Contoh: adrenalin) ALERT
2 ADRENERGIC ANTAGONIS IV (Contoh: Propanolol)
3 ANESTETIC AGENT GENERAL, INHALED dan IV (Misal: Propofol)
4 CARDIOPLEGIC SOLUTION
5 CHEMOTERAPIC AGENTS PARENTERAL DAN ORAL
6 DEXTROSE HIPERTONIC 20% ATAU LEBIH
7 DIALISIS SOLUTION (PERITONEAL, HEMODIALISIS)
8 OBAT EPIDURAL DAN INTRATHECAL
9 GLICOPROTEIN INHIBITOR II B/III A (Misal: Ephbatide)
10 HIPOGLIKEMIK ORAL
11 OBAT OBAT INOTROPIK IV (Misal: Digoxin, milrinone)
12 LIPOSOMAL FORM OF DRUGS (Liposomal Ampheterisine B)
13 MODERATE SEDATION AGENTS IV (Contoh : Midazolame)
14 MODERATE SEDATION AGENTS ORAL FOR CHILDREN (Contoh
Chloralhydrate)
15 ANESTETIC/OPIATE IV DAN ORAL ( Termasuk cairan konsentrat,
immediate and sustained released Formulation)
16 NEUROMUSCULAR BLOCKING AGENT (Contoh: Succynil Choline)
17 RADIO CONTRAS AGENT IV
Sutoto.KARS 36
18 THROMBOLITIC/ FIBRINOLITIC IV (Contoh: Tenecteplace)
HIGH
ALERT

1 Amiodarone IV
2 Colcichine Injection
3 Heparin, Low moluculer weigt injection
4 Heparin Unfractionated IV
5 Insulin SC dan IV
6 Lidocaine IV
7 Magnesium SUlfat Injecion
8 Methotrxate oral non oncologic use
9 Netiride
10 Nitroprusside sodium for injection
11 Potasium Cloride for injection concentrate
12 Potasium Phospate injection
13 Sodium Chloride injection hypertonic >0.9%
14 Warfarin
Sutoto.KARS 37
HIGH ALERT
ELEKTROLIT KONSENTRAT
1. kalium/potasium klorida = > 2 mEq/ml
2. kalium/potasium fosfat => 3 mmol/ml
3. natrium/sodium klorida > 0.9%
4. magnesium sulfat => 50% atau lebih pekat
!
HIGH
ALERT

Sutoto.KARS 39
LASA

Sutoto.KARS 43
LASA

LASA

Sutoto.KARS 44
HIGH
 DEFINISI: ALER
T
 Obat berisiko tinggi yang menyebabkan bahaya yang
bermakna bila digunakan secara salah
 KETENTUAN :
1. Setiap unit yan obat harus tersedia daftar obat high alert,
Obat LASA, Elektrolit Konsentrat, serta panduan penata
laksanaan obat high alert
2. Setiap staf klinis terkait harus tahu penata laksanaan obat
high alert
3. Obat high alert harus disimpan terpisah, akses terbatas,
diberi label yang jelas
4. Instruksi lisan obat high alert hanya boleh dalam keadaan
emergensi, atau nama obat harus di eja perhuruf
5. Sebelum menyuntkikan obat high alert setelah cek 5 tepat,
lanjutkan dengan double check.
Sutoto.KARS 45
1. Tempelkan stiker obat high alert pada setiap dos obat
2. Beri stiker high alert pada setiap ampul obat high alert yang akan
diserahkan kepada perawat
3. Pisahkan obat high alert dengan obat lain  kontainer/ rak
tersendiri/khusus
4. Simpan obat sitostatika secara terpisah dari obat lainnya
5. Simpan Obat Narkotika secara terpisah dalam lemari terkunci
double, doubel pintu.setiap pengeluaran harus diketahui oleh
penanggung jawabnya dan dicatat, setiap ganti sif harus tercatat
dalam buku serah terima lengkap dengan jumlahnya dan di
tanda tangani
6. Sebelum perawat memberikan obat high alert cek kepada
perawat lain untuk memastikan tak ada salah (double check)
7. Obat high alert dalam infus: cek selalu kecepatan dan ketepatan
HIGH
pompa infus, tempel stiker label, nama obat pada botol infus.
ALER
Dan di isi dengan catatan sesuai ketentuan
Sutoto.KARS T46
Sutoto.KARS 47
Rumah sakit
mengembangkan
suatu pendekatan
untuk
memastikan
tepat-lokasi,
tepat-prosedur,
dan tepat- pasien.
Sutoto.KARS 48
Sutoto.KARS 50
OPERASI SALAH SISI
1. Penandaan dilakukan pada semua kasus termasuk sisi
(laterality), multipel struktur (jari tangan, jari kaki,
lesi), atau multipel level (tulang belakang)
2. Perlu melibatkan pasien
3. Tak mudah luntur terkena air/alkohol / betadine
4. Mudah dikenali
5. Digunakan secara konsisten di RS
6. dibuat oleh operator /orang yang akan melakukan
tindakan,
7. Dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika
memungkinkan, dan harus terlihat sampai saat akan
disayat

Sutoto.KARS 53
Sutoto.KARS

54
 Kasus organ tunggal (misalnya operasi
jantung, operasi caesar)
 Kasus intervensi seperti kateter jantung
 Kasus yang melibatkan gigi
 Prosedur yang melibatkan bayi prematur di
mana penandaan akan menyebabkan tato
permanen

Sutoto.KARS 55
1. Verifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar
2. Pastikan bahwa semua dokumen, foto, hasil
pemeriksaan yang relevan tersedia, diberi label dan
dipampang dg baik
3. Verifikasi ketersediaan peralatan khusus dan/atau
implant 2 implant yg dibutuhkan
4. Tahap Time out :
1. memungkinkan semua pertanyaan/kekeliruan diselesaikan
2. dilakukan di tempat tindakan, tepat sebelum dimulai,
3. melibatkan seluruh tim operasi
5. Pakai surgical safety check-list (WHO . 2009)

Sutoto.KARS 56
TIME OUT

Sutoto.KARS 57
1. Identifikasi pasien, prosedur, informed concent
sudah dicek ?
2. Sisi operasi sudah ditandai ?
3. Mesin anestesi dan obat-obatan lengkap ?
4. pulse oxymeter terpasang dan berfungsi ?
5. Allergi ?
6. Kemungkinan kesulitan jalan nafas atau
aspirasi
7. Risiko kehilangandarah >= 500ml

Sutoto.KARS 58
1. Konfirmasi anggota tim (nama dan peran)
2. Konfirmasi nama pasien , prosedur dan lokasi
incisi
3. Antibiotik propillaksi sdh diberikan dalam 60
menit sebelumnya
4. Antisipasi kejadian kritis:
1. Dr Bedah: apa langkah, berapa lama, kmk blood lost ?
2. Dr anestesi: apa ada patients spesific corcern ?
3. Perawat : Sterilitas , instrumen ?
5. Imaging yg diperlukan sdh dipasang ?
Sutoto.KARS 59
1. Perawat melakukan konfirmasi secara
verbal, bersama dr dan anestesi
1. Nama prosedur,
2. Instrumen, gas verband, jarum dihitung harus
lengkap
3. Speciment telah di beri label dengan PID tepat
4. Apa ada masalah peralatan yang harus
ditangani
2. Dokter kpd perawat dan anesesi, apa yang
harus diperhatikan dalam recovery dan
Sutoto.KARS 60
1. Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang jelas dan
dapat dimengerti untuk identifikasi lokasi operasi dan
melibatkan pasien di dalam proses penandaan.
2. Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain
untuk memverifikasi saat preoperasi tepat lokasi, tepat
prosedur, dan tepat pasien dan semua dokumen serta
peralatan yang diperlukan tersedia, tepat, dan fungsional.
3. Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat
prosedur time-out , tepat sebelum dimulainya suatu
prosedur / tindakan pembedahan.
4. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung
keseragaman proses untuk memastikan tepat lokasi, tepat
prosedur, dan tepat pasien, termasuk prosedur medis dan
tindakan pengobatan gigi / dental yang dilaksanakan di
luar kamar operasi. Sutoto.KARS 61
 Rumah sakit mengembangkan suatu
pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi
yang terkait pelayanan kesehatan.

Sutoto.KARS 62
1. Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi
pedoman hand hygiene terbaru yang
diterbitkan dan sudah diterima secara umum
al dari WHO Patient Safety
2. Rumah sakit menerapkan program hand
hygiene yang efektif.
3. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan
untuk mengarahkan pengurangan secara
berkelanjutan risiko infeksi yang terkait
pelayanan kesehatan
Sutoto.KARS 63
Sutoto.KARS 65
 TELAPAK TANGAN TEPUNG SELACI
 PUNGGUNG TANGAN PUPUT
 SELA- SELA JARI
LAMA CUCI TANGAN:
 PUNGGUNG JARI-JARI (GERAKAN
KUNCI) HAND RUB : 20-30 DETIK
 SEKELILING IBU JARI (PUTAR- HAND WASH 40-60
PUTAR) DETIK
 KUKU DAN UJUNG JARI (PUTAR-
PUTAR)
Acknowledgement : WHO World Alliance for Patient Safety
Sutoto.KARS 67
CUCI TANGAN DAN PENGGUNAAN
SARUNG TANGAN
• Penggunaan sarung tangan tidak menggantikan cuci
tangan.
• Cuci tangan harus dilakukan pada saat yang tepat
tanpa harus ada indikasi untuk pemakaian sarung
tangan.
• Lepaskan sarung tangan untuk cuci tangan, ketika
indikasi terjadi saat mengenakan sarung tangan.
• Buang sarung tangan setelah setiap selesai tugas dan
cuci tangan karena sarung tangan dapat membawa
kuman.
•Pemakaian sarung tangan hanya bila diindikasikan
menurut Standard dan Precaution contact jika tidak
anda menjadi berisiko tertular kuman.
KARS
(Sumber : WHO. Hand hygine WHY,HOW , WHEN?)
PEMAKAIAN
SARUNG TANGAN STERIL

• Prosedur bedah
• Pemeriksaan vagina
• prosedur radiologi invasif
• melakukan akses vaskular dan
prosedur (central line)
• Menyiapkan/mencampur total
parenteral nutrition
• Menyiapkan/mecampur kemoterapi.

(Sumber : WHO.
KARS
Hand hygine WHY,HOW , WHEN?)
PEMAKAIAN
SARUNG TANGAN PEMERIKSAAN

DALAM SITUASI KLINIK
Potensi menyentuh darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi dan item yang
terlihat kotor oleh cairan tubuh.

DIRECT PATIENTS EXPOSURE:
Kontak dengan darah; kontak dengan selaput lendir dan kulit yang
tidak utuh; potensi adanya organisme sangat menular dan berbahaya;
situasi darurat atau epidemi, memasang dan melepas infus,
menggambar darah; menghentian venous line; Pemeriksaan panggul
dan vagina; suctioning non-closed systems of endotracheal tubes.

INDIRECT PATIENT EXPOSURE:
Mengosongkan pot tumpahan; Menangani dan mencuci instrumen;
penanganan limbah; membersihkan tumpahan cairan tubuh.

(Sumber : WHO.
KARS
Hand hygine WHY,HOW , WHEN?)
PEMAKAIAN SARUNG TANGAN TIDAK DI
INDIKASIKAN
(kecuali KONTAK untuk tindakan pencegahan)
• Tidak ada potensi terpapar darah atau cairan tubuh, atau
lingkungan yang terkontaminasi, mengukur tekanan
darah, suhu dan denyut nadi; melakukan suntikan IM
maupun SC ; memandikan dan memakaikan pakaian
pasien; mengangkut pasien; merawat mata dan telinga
(tanpa sekresi); manipulasi vasculas line tanpa ada
kebocoran darah.
• TIDAK KONTAK LANGSUNG DENGAN PASIEN;
Menggunakan telepon; menulis rekam medis; memberikan
obat oral; mendistribusikan atau mengumpulkan nampan
makanan pasien ; menghapus dan mengganti linen untuk
tempat tidur pasien; menempatkan peralatan ventilasi non-
invasif dan kanula oksigen; memindahkan perabotan
pasien (Sumber : WHO. Hand hygine WHY,HOW , WHEN?)
KARS
Sarun
g
tanga
n
steril

Sarung
Tangan
pemeriksaa
n

KARS Hand Hygine Guideline, IH
 Rumah sakit mengembangkan
suatu pendekatan untuk
mengurangi risiko pasien dari
cedera karena jatuh.

73
 Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai
penyebab cedera pasien rawat inap.
 Rumah sakit perlu mengevaluasi risiko pasien
jatuh dan mengambil tindakan untuk
mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh.

 Evaluasi :
 riwayat jatuh,
 obat dan telaah terhadap konsumsi alkohol
 gaya jalan dan keseimbangan
 serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien.

 Program tersebut harus diterapkan di rumah
sakit.

Sutoto.KARS 74
1. Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal
risiko pasien jatuh dan melakukan asesmen ulang
bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau
pengobatan dll.
2. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi
risiko jatuh bagi mereka yang pada hasil asesmen
dianggap berisiko jatuh
3. Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik
keberhasilan pengurangan cedera akibat jatuh dan
dampak dari kejadian tidak diharapkan
4. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan
untuk mengarahkan pengurangan berkelanjutan
risiko pasien cedera akibat jatuh di rumah sakit

Sutoto.KARS 75
Sutoto.KARS 76
General Risk Humpty- CHAMPS Pediatric Fall
Assessment of Dumpty Scale- Pediatric Fall Risk
Pediatric Inpatient Risk Assessment
Inpatient Falls Assessment Scale
(GRAF-PIF) Tool (PFRA)
Used at NCH
Physical & All types of falls All types of falls All types of falls
physiological falls except when child
(not developmental) is “dropped”

5 items 7 items 4 items 10 items

Scale 0 to 5+ Scale 7 to 23 Scale 0 to 4 Scale 0 to 30

Cut-off score = 2 Cut-off score = 12 Cut-off score = 1 Cut-off score = 5
Sutoto.KARS 77
There are three types of patient falls
1. an accidental fall: is prevented by ensuring a safe
environment.
2. a physiological anticipated fall: Anticipated
physiological falls are prevented by first identifying
who is likely to fall using the MFS.
3. an unanticipated physiological fall: The first
unanticipated physiological fall cannot be predicted
and, therefore, cannot be prevented, because the
staff and the patient may not realize that the patient
has the condition that precipitates the unexpected

Morse, Janice M..Preventing Patient Falls. Establishing a Fall Intervention Program, 2 nd Ed. Springer Publishing
Company, New York. 2009.
Sutoto.KARS 78
Morse, Janice M..Preventing Patient Falls. Establishing a Fall Intervention Program, 2nd Ed. Springer Publishing
Company, New York. 2009.
No/low risk: < 45
 Pencegahan jatuh akibat kecelakaan
 Pastikan lingkungan aman
 Edukasi pasien dan keluarga
High risk: > 45
 Strategi proteksi dari jatuh:
 Monitoring
 Proteksi jatuh dari tempat tidur/kursi
 Proteksi dari lingkungan berbahaya
 Proteksi dari cedera
 Strategi pencegahan jatuh
 Tranfer pasien dengan aman
 Cegah kencing yang urgen
 Evaluasi kemampuan komunikasi
 Latihan /exercise keseimbangan
 Optimalisasi kondisi fisik

Morse, Janice M..Preventing Patient Falls. Establishing a Fall Intervention Program, 2 nd Ed. Springer Publishing
Sutoto.KARS Company, New York.812009.
FAKTOR RISIKO SKALA SKO SKOR PASIEN
R
Riwayat jatuh Tidak 0 MFS
Ya 25 Morse Fall
Diagnosa Sekunder Tidak 0 Scale
Ya 15
Menggunakan alat-alat Tidak ada/ 0
bantu Bedrest/ Dibantu
perawat
Kruk/ Tongkat 15
Kursi/ Perabot 30
Menggunakan Infus/ Tidak 0
Heparin lock/ Pengencer
darah
Ya 20
Gaya Berjalan Normal/ Bedrest/ 0
kursi roda
Lemah 10
Terganggu 20
Status Mental Menyadari 0
Kemampuan
Lupa akan 15
keterbatasan/
Pelupa KARS
Sutoto.KARS 83
SKALA RISIKO JATUH HUMPTY DUMPTY
PARAMETER KRITERIA NILAI SKOR

Usia  < 3 tahun 4
 3 – 7 tahun 3
 7 – 13 tahun 2
 ≥ 13 tahun 1
Jenis kelamin  Laki-laki 2
 Perempuan 1
Diagnosis  Diagnosis neurologi 4
 Perubahan oksigenasi (diagnosis respiratorik, dehidrasi, anemia, anoreksia, 3
sinkop, pusing, dsb.)
 Gangguan perilaku / psikiatri 2
 Diagnosis lainnya 1
Gangguan kognitif  Tidak menyadari keterbatasan dirinya 3
 Lupa akan adanya keterbatasan 2
 Orientasi baik terhadap diri sendiri 1
Faktor lingkungan  Riwayat jatuh / bayi diletakkan di tempat tidur dewasa 4
 Pasien menggunakan alat bantu / bayi diletakkan dalam tempat tidur bayi 3
/ perabot rumah
 Pasien diletakkan di tempat tidur 2
 Area di luar rumah sakit 1
Respons terhadap:  Dalam 24 jam 3
1. Pembedahan/ sedasi /  Dalam 48 jam 2
anestesi  > 48 jam atau tidak menjalani pembedahan / sedasi/ anestesi 1
2. Penggunaan  Penggunaan multipel: sedatif, obat hipnosis, barbiturat, fenotiazin, 3
medikamentosa antidepresan, pencahar, diuretik, narkose
 Penggunaan salah satu obat di atas 2 84
SKALA RISIKO JATUH ONTARIO MODIFIED STRATIFY - SYDNEY SCORING
Parameter Skrining Jawaban Keterangan Nilai Skor
apakah pasien datang ke rumah sakit karena jatuh? Ya / tidak Salah satu
Riwayat jatuh
jika tidak, apakah pasien mengalami jatuh dalam 2 Ya/ tidak jawaban ya = 6
bulan terakhir ini?
apakah pasien delirium? (tidak dapat membuat Ya/ tidak
keputusan, pola pikir tidak terorganisir, gangguan daya
Salah satu
Status mental ingat)
jawaban ya = 14
apakah pasien disorientasi? (salah menyebutkan Ya/ tidak
waktu, tempat, atau orang)
apakah pasien mengalami agitasi? (ketakutan, gelisah, Ya/ tidak
dan cemas)
apakah pasien memakai kacamata? Ya/ tidak Salah satu
Penglihatan apakah pasien mengeluh adanya penglihatan buram? Ya/ tidak jawaban ya = 1
apakah pasien mempunyai glaukoma, katarak, atau Ya/ tidak
degenerasi makula?
apakah terdapat perubahan perilaku berkemih? Ya/ tidak
Kebiasaan berkemih (frekuensi, urgensi, inkontinensia, nokturia) ya = 2
mandiri (boleh menggunakan alat bantu jalan) 0 jumlahkan nilai
Transfer (dari tempat memerlukan sedikit bantuan (1 orang) / dalam 1 transfer dan
tidur ke kursi dan pengawasan mobilitas. Jika
kembali ke tempat memerlukan bantuan yang nyata (2 orang) 2 nilai total 0-3,
tidur) tidak dapat duduk dengan seimbang, perlu bantuan 3 maka skor = 0. jika
total nilai total 4-6,
mandiri (boleh menggunakan alat bantu jalan) 0 maka skor = 7

berjalan dengan bantuan 1 orang (verbal / fisik) 1
Mobilitas
menggunakan kursi roda 2
imobilisasi 3
 Edmonson Psychiatric Fall Risk Assessment
Sutoto.KARS 86
Sutoto.KARS 87
88
Sutoto.KARS 89
USIA Skor RIWAYAT JATUH Skor AKTIFITAS Skor
Kurang dari 60 tahun 0 Tidak pernah 0 Mandiri 0
Antara 60-69 tahun 1 Pernah jatuh < 1 tahun 1 ADL dibantu sebagian 2
Lebih dari 70 tahun 2 Pernah jatuh < 1 bulan 2 ADL dibantu penuh 3
Jatuh pada saat dirawat sekarang 3

MOBILITAS/MOTORIK Skor KOGNITIF Skor POLA BAB/BAK Skor
Mandiri 0 Orientasi baik 0 Teratur 0
Menggunakan alat bantu 1 Kesulitan mengerti perintah 2 Inkontinensia urine/faeses 1
Koordinasi/keseimbangan 2 Gangguan memori 2 Nokturia 2
buruk Bingung/Disorientasi 3 Urgensi/Frequensi 3

Pilihan di bawah ini dapat di jumpai lebih dari satu
DEFISIT SENSORIS Skor PENGOBATAN Skor KOMORBIDITAS Skor
Kacamata bukan biofokal 0 Kurang dari 4 jenis & tidak 1 Diabetes/Cardiac/ISK 1
Kacamata biofokal 1 termasuk yang tsb dibawah 2 Gangguan SSP/Stroke/ 2
Gangguan pendengaran 1 Antihipertensi/Hipoglikemik/ 3 Parkinson 3
Kacamata multifocal 2 Antidepressan/Neurotropik Pascabedah 0-24 jam
Katarak/Glaukoma 2 Sedatif/Psikotropika/Narkotika/
Hampir tidak melihat/buta 3 Infus epidural/Spinal/Diuretik/
Laxativ
90
Resiko Rendah Resiko Sedang Resiko Tinggi
Skor 0 - 5 Skor 6-13 Skor ≥14

1. Pastikan ‘bel’ mudah 1. Lakukan langkah 1. Lakukan SEMUA langkah
dijangkau pencegahan untuk resiko pencegahan untuk resiko
rendah rendah dan sedang

2. Roda tempat tidur pada 2. Pasangkan gelang khusus 2. Kunjungi dan monitor
posisi terkunci (warna kuning) sebagai tanda pasien setiap 1 jam
resiko pasien jatuh
3. Posisikan tempat tidur 3. Tempatkan tanda resiko 3. Tempatkan pasien di
pada posisi terendah pasien jatuh pada daftar kamar yang paling dekat
nama pasien (warna kuning) dengan nurse station (jika
memungkinkan)
4. Pagar pengaman tempat 4. Beri tanda resiko pasien jatuh
tidur dinaikkan pada pintu kamar pasien
Patient safety/Group/2011 91
Tgl/
LANGKAH jam

1. Anjurkan pasien meminta bantuan yang
diperlukan
2. Anjurkan pasien untuk memakai alas kaki anti
slip
3. Sediakan kursi roda yang terkunci di samping
tempat tidur pasien
4. Pastikan bahwa jalur ke kamar kecil bebas dari
hambatan dan terang
5. Pastikan lorong bebas hambatan
6. Tempatkan alat bantu seperti walkers/tongkat
dalam jangkauan pasien
7. Pasang Bedside rel
8. Evaluasi kursi dan tinggi tempat
Sutoto.KARS
tidur 92
9. Pertimbangkan efek puncak obat yang diresepkan
yang mempengaruhi tingkat kesadaran, dan gait
10. Mengamati lingkungan untuk kondisi berpotensi
tidak aman, dan segera laporkan untuk perbaikan
11. Jangan biarkan pasien berisiko jatuh tanpa
pengawasan saat di daerah diagnostik atau terapi
12. Pastikan pasien yang diangkut dengan brandcard /
tempat tidur, posisi bedside rel dalam keadaan
terpasang
13. Informasikan dan mendidik pasien dan / atau
anggota keluarga mengenai rencana perawatan
untuk mencegah jatuh
14. Berkolaborasi dengan pasien atau keluarga untuk
memberikan bantuan yang dibutuhkan dengan

Sutoto.KARS
 Proses terintegrasi : mengembangkan
kebijakan/ menyusun SOP
 Melaksanakan proses assessment dan
reassessment risiko jatuh
 Monev pelaksanaan program pencegahan
pasien jatuh
 Mengembangkan sistem pelaporan pasien
jatuh
 Dengan cara Audit
 Monitoring laporan insiden
pasien jatuh
 Observasi pelaksanaan
pencegahan pasien jatuh
Cara Audit Indikator Pengukuran Kriteria Sukses

Numerator Denominator

Monitoring Total laporan Total hari rawat Tidak ada insiden pasien
laporan insiden insiden jatuh pada periode jatuh pada periode
pasien jatuh pada periode monitoring monitoring ( 0% )
monitoring
KARS
KARS