You are on page 1of 14

MAKALAH

DISTOKIA PADA HEWAN BESAR

Cerelia, SKH B94154307
Reinilda Alwina, SKH B94154335
Tri Setyo Purwanto, SKH B94154345

BAGIAN REPRODUKSI
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

.

DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR vi PENDAHULUAN 1 ETIOLOGI 2 KAUSA 2 Distokia maternalis 2 Abnormal pelvis 2 Stenosis vulva dan vagina 2 Vaginal cystocoele 3 Incomplete dilatasi serviks 3 Torsio uteri 3 Rupture uteri 3 Distokia fetalis 4 Oversize fetus 4 Abnormal fetus 4 FAKTOR PREDISPOSISI 6 Body condition score (BCS) 6 Usia induk 6 Fetus kembar 6 Waktu kelahiran 6 Jenis kelamin fetus 6 PENANGANAN DISTOKIA 6 Mutasi dan repulsi 6 Rotasi 7 Fetotomi 8 Sectio caesaria 10 SIMPULAN 10 DAFTAR PUSTAKA 10 .

DAFTAR GAMBAR 1 Berbagai macam kedudukan fetus sapi yang abnormal 5 2 Tindakan repulsi pada fetus 7 3 Tindakan rotasi pada fetus 7 4 Teknik Slow Rolling pada torsio uteri (Naggar 2016) 8 5 Alat fetotomi 9 6 Fetotomi dengan situs fetus cranial 9 .

Ini setelah ini fetus keluar. Kontraksi ini meningkat setiap 15 menit. Bila lebih dari waktu yang telah diperkirakan. keberlangsungan populasi ternak hewan besar. salah satu kemampuan yang dimiliki makhluk hidup. maka perlu adanya pemeriksaan untuk mengetahui keadaan hidup fetus dapat dilihat dengan cara mengetahui refleks pada anak sapi. . Oleh karena itu. Untuk mengetahui viabilitas dari seekor anak sapi dapat dilakukan dengan palapasi vagina. Ketika anak sapi dilahirkan kemudian mati terjadi karena tahap satu berkepanjangan yang gagal menuju tahap dua. Sebagai salah satu komoditi yang berkaitan dalam pemenuhan kebutuhan pangan terutama daging dan susu. Bila situs dari anak sapi situs longitudinal anterior maka dapat menentukan viabilitas dari refleks ujung ekstremitas depan. Panjang tahap ini harus berlangsung sekitar 2-6 jam. Dalam tahap ini. seperti sapi. Selama tahap pertama persalinan pada kebuntingan normal (eutokia). tahap tiga. 2011). Kemampuan reproduksi juga merupakan aspek yang sangat penting dan menjadi perhatian utama dalam suatu peternakan. Pada titik ini sapi akan sering mengambil jeda singkat yang penting. dilakukan dalam rangka menghasilkan keturunan untuk melestarikan suatu jenis. Pada situs longitudinal posterior dapat memeriksa viabilitas dari refleks extremitas bagian belakang dan refleks menjepit dari anus (Hopper 2015). termasuk tumbuhan dan hewan. Bibit yang unggul serta manajemen yang baik sangat memengaruhi kualitas dari keturunan yang dihasilkan. penurunan aliran darah dan oksigen dari kontraksi uterus berulang mungkin mulai mempengaruhi kelangsungan hidup janin. Tahap kedua persalinan terjadi ketika serviks sepenuhnya melebar dan bagian janin memasuki jalan lahir dan akhirnya terlihat. Tanda-tanda ini sangat jelas pada sapi pertama bunting daripada sapi dewasa yang pernah bunting. proses tersebut juga sering mengalami gangguan sehingga dapt meningkatkan resiko terjadinya kegagalan dalam reproduksi hingga kematian baik induk maupun fetus. Upaya yang signifikan pertama mendorong kepala melalui vulva sapi. refleks menghisap mulut dan refleks mengedip dari mata. Namun. dimana sel ovum betina akan dibuahi oleh sel sperma jantan sehingga menghasilkan sebuah sel baru yaitu zygot yang akan berkembang hingga menjadi fetus. salah satunya melalui perkawinan. Sebagian besar hewan mengalami reproduksi melalui proses perkawinan. karena tali pusar anak sapi dikompresi dalam jalan lahir. PENDAHULUAN Reproduksi. Tahap dua biasanya dapat bertahan dari 30 menit sampai 2 jam. sapi akan menjauhkan diri dari kawanan. Kemampuan ini dapat terjadi melalui proses tertentu dengan variasi yang bermacam-macam pada setiap jenis. Jika tahap ini lama. kontraksi rahim terkoordinasi dimulai. reproduksi yang baik juga mampu mempertahankan keberlangsungan generasi suatu jenis makhluk hidup. Tahap akhir. Fetus akan lahir dan tumbuh hingga dewasa lalu reproduksi akan kembali terjadi dan seterusnya sehingga keturunan akan terus dihasilkan. sangat diperhatikan. sehingga sapi mengambil napas dari udara. Hal ini berkaitan dengan jumlah dan produk yang dihasilkan dalam suatu populasi ternak tersebut. yang biasanya terjadi dalam waktu 8-12 jam (Purohit et al. menunjukkan tanda-tanda kegelisahan dan cenderung untuk berbaring dan bangun. adalah keluarnya plasenta. Sapi tersebut tampak berkontraksi otot- otot perutnya dalam upaya untuk mendorong fetus melalui jalan lahir.

vulva atau vagina stenosis. osteomalacia dan hypoplasia vagina dan vulva. terutama ternak sapi.2 Distokia merupakan salah satu gangguan reproduksi yang sering ditemukan pada peternakan. Berdasarkan kepentingan aspek reproduksi terutama terkait gangguan reproduksi berupa distokia. dan abses pada vagina. induk juga mengalami resiko cedera akibat proses penanganan distokia tersebut. ETIOLOGI Distokia adalah suatu kondisi stadium pertama kelahiran (dilatasi cervik) dan kedua (pengeluaran fetus) lebih lama dan menjadi sulit sehingga tidak mungkin lagi bagi induk untuk mengeluarkan fetus (Ratnawati 2007). perkawinan antara sapi jenis besar dengan jenis betina yang kecil. penonjolan pada pelvis (exotoses). faktor yang berpengaruh dan penanganan distokia yang dapat dilakukan pada hewan ternak besar. Distokia maternalis Distokia maternalis merupakan distokia yang terjadi akibat adanya gangguan pada induk sapi seperti obstruksi atau konstriksi saluran kelahiran. inertia uteri dan rupture uteri (Purohit et al. incomplete dilatasi serviks. karena hampir sebagian besar kejadian distokia berlanjut dengan kejadian stilbirth dimana anak sapi mati sesaat setelah berhasil keluar dari induknya (Waldner 2014). yaitu distokia maternalis dan distokia fetalis. Adanya gangguan berupa distokia ini dapat menimbulkan kerugian pada peternak. adanya fraktur rongga pelvis. maka perlu adanya pemahaman yanhg baik terhadap penyebab. Hal ini dapat terjadi karena ukuran pelvis yang kecil sehingga menyulitkan fetus untuk keluar. vaginal cystocoele. dan pertumbuhan sapi betina yang buruk. torsio uteri. Abnormal pelvis Abnormal pada pelvis dapat menyebabkan terjadinya distokia. misalnya abnormal pada pelvis. terutama ternak sapi. KAUSA Penyebab distokia pada sapi berdasarkan asal gangguan dapat dikelompokkan menjadi dua. Hal ini merugikan peternak dari segi ekonomi karena selain kehilangan bakal ternak. Adanya abses pada perivagina tidak akan mempengaruhi keadaan fetus namun saat fetus mencoba untuk lahir . 2011). Stenosis vulva dan vagina Stenosis pada vulva dan vagina dapat terjadi bila aadanya luka parut. neoplasia pada vagina dan vulva. penyakit congenital stenosis vagina. Kecilnya rongga pelvis dapat terjadi pada sapi bunting tua.

Incomplete dilatasi serviks Dilatasi serviks sangat penting pada proses kelahiran agar fetus dapat keluar. . Inertia uteri biasanya terjadi pada sapi perah dan kerbau dan perlu dipertimbangkan hewan sedang hipokalsemia dengan gejala milk fever. posisi. dan postur yang normal. Hal ini dikarenakan kurangnya kontraksi dari uterus. namun ketika dilatasi tidak sempurna akan teraba jelas. Rupture uteri Rupture uteri dapat terjadi karena kecelakaan. penanganan yang dapat diberikan estrogen seperti estradiol 20-30 mg. bahkan pada vagina. fetus dalam keadaan. namun torsio ini dapat terjadi pada corpus. Peningkatan sitokin inflamasi selama proses partus diketahui berefek pada dilatasi serviks yang saling berpengaruh terhadapa hormone. Torsio uteri Torsio uteri biasanya terjadi pada koruna uteri. diakhir kebuntingan bahkan pada saat partus. anoreksia. Fetus yang mungkin ada di uterus atau di rongga abdomen harus segera dikeluarkan dan perlukaan pada uterus perlu diperbaiki. fetus tidak cepat lahir. Ketika serviks benar-benar terbuka maka pada saat palpasi rectal akan terasa jelas. Luka yang besar pada uterus dapat menyebabkan fetus masuk ke rongga peritoneal atau setelah partus organ visceral dapat keluar dari vagina melalui perlukaan besar uterus. Torsio uteri terjadi selama salah satu cornua uteri bunting dan inordinate fetus atau terhambatnya pergerakan fetus yang memungkinkan terjadinya torsio uteri. Keadaan seperti ini hewan biasanya dalam keadaan yang buruk sehingga harus segera diberikan terapi cairan dan dilakukan laparotomi. aktivasi dari jaringan inflamasi sangat berperan penting dalam dilatasi serviks. Vaginal cystocoele Vaginal cystocoele merupakan keadaan dimana vesica urinary berpidah tempat melalui uretra ke vagina atau melalui perlukaan pada lantai vagina sehingga menyebabkan fetus sulit keluar. Torsio dapat ke kiri atau ke kanan dengan derajat putaran dapat 90-720º. atau perlukaan akibat torsio uteri. Keadaan seperti ini penanganan yang dapat dilakukan berupa anaestesi epidural mereposisi VU dan fetus baru dapat dikeluarkan dari rongga perut. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada fetus. 3 abses ini akan bermasalah dengan menyebarkan pernyakit pada anaknya dan membuat perlukaan pada vagina. Terapi yang dapat diberikan dapat berupa pemberian kalsium boroglukonat secara IV dan 15-20 IU oksitosin. Gejala klini yang terlihat kolik. depresi dan apatis. Terjadinya torsio uteri dapat pada saat kebuntingan. Inetia uteri Pada saat keadaaan ini walaupun serviks telah dilatasi.

Abnormal fetus Abnormal fetus yang dapat menyebabkan terjadinya distokia adalah Schistosoma reflexus. 2011). Pemeriksaan terhadap dari situs.4 Distokia fetalis Distokia dengan penyebabnya adalah fetus terdiri dari fetus yang terlalu besar dan abnormal pada fetus (Purohit et al. 2012). posisi. Sikap adalah keadaan dari bagian tubuh fetus yang mudah dibengkokan seperi leher. ekstremitas depan dan ekstremitas belakang (Hopper 2015). situs vertikal. dorso ilial dekstra. Penanganan yang dapat diberikan tergantung pada kondisi fetus. Macam posisi sebagai berikut dorso sakral. Oversize fetus Oversize fetus umumnya terjadi pada sapi dibandingkan kerbau. dorso ilial sinistra. Situs merupakan perbandingan sumbu memanjang fetus terhadap sumbu memanjang hewan induk. dan dosro pubilikal. achites. . dan situs diagonal. namun bila fetus mati dapat dilakukan fetotomi (Purohit et al. Bila fetus dalam keadaan hidup dapat dilakukan operasi caesar. dan fetus maldisposisi (Purohit et al. situs tranversal. Berbagai macam situs yang dapat terlihat adalah situs longitudinal anterior. Salah satu penyebab terjadinya oversize fetus adalah perkawinan antar jenis sapi yakni perkawinan sapi jenis kecil dengan sapi jenis besar sehingga menghasilkan fetus dengan ukuran besar namun pelvis tidak cukup mendukung dalam proses kelahiran. dan sikap dari anak sapi perlu dilakukan terlebih dahulu untuk menentukan tindakan bila terjadi distokia. kematian fetus diikuti dengan cyclopia. Posisi merupakan kedudukan punggung fetus terhadap tulang-tulang yang membatasi jalan kelahiran (tulang pelvis/gerbang kelahiran). longitudinal posterior. hydrocephalus. 2012).

situs posterior dengan punggung mengarah ke bawah (J). situs anterior dengan kaki depan bersilangan diatas leher (C). situs anterior dengan tertekuknya kaki depan pada bagian lutut (B). situs anterior dengan kepala terlipat kebelakang (E). situs anterior dengan posisi punggung berada di ventral (F). . situs dorsolumbar (L). situs anterior dengan kepala menunduk (D). semua kaki menghadap ke arah pelvis (K). 5 Gambar 1 Berbagai macam kedudukan fetus sapi yang abnormal (Hopper 2015): situs anterior dengan salah satu kaki depan terlipat (A). situs anterior dengan kaki belakang menghadap ke arah pelvis (G). bagian pantat menghadap jalan kelahiran (H dan I).

Cara melakukan metode mutasi dan traksi adalah mendorong kembali fetus ke dalam rongga rahim untuk memperbaiki posisi fetus maka fetus dapat ditarik keluar (Abdullah 2015).6 FAKTOR PREDISPOSISI Beberapa faktor predisposisi perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan resiko terjadinya distokia. Waktu kelahiran Pada daerah yang memiliki empat musim. Resiko distokia menurun pada kelahiran di bulan Maret dan April. Hal utama yang menyebabkan distokia adalah adanya maldisposisi dari kedua fetus. Fetus kembar Fetus kembar meningkatkan terjadinya distokia pada induk. Tindakan pada versi merupakan tindakan pemutaran situs fetus dalam sumbu tranversalnya menjadi situs anterior atau posterior. Lalu dapat digunakan rotasi atau pemutaran posisi fetus terhadap sumbu longitudinalnya. memiliki resiko yang lebih besar mengalami distokia. Tindakan perentangan . PENANGANAN DISTOKIA Mutasi dan repulsi Mutasi merupakan pengembalian kedudukan fetus yang menyimpang dan dikembalkan pada kedudukan mendekati kedudukan normal. Usia induk Induk yang mengalami kebuntingan pertama (primipara) pada usia kurang lebih 2 tahun. Hal yang dapat dilakukan dengan teknik mutasi adalah repulsi atau fetus dikembalikan ke dalam rongga perut. jenis kelamin fetus. dan waktu kelahiran (Waldner 2014). antara lain perubahan body condition score (BCS). Body condition score (BCS) Induk betina dengan nutrisi yang buruk (BCS rendah) atau nutrisi yang berlebih dapat meningkatkan resiko terjadinya distokia. distokia sering terjadi pada kelahiran di bulan Desember hingga Februari. Fetus jantan mengalami pertumbuhan berat badan lebih konstan dari pada fetus betina sehingga sering membutuhkan bantuan dalam proses kelahiran fetus. fetus kembar. Manajemen nutrisi perlu diperhatikan sebelum masa kelahiran untuk mengontrol BCS dari induk. Resiko tersebut akan menurun setelah kebuntingan kedua dan ketiga pada sapi yang berusia 5 tahun. usia induk. Pada kedudukan anak sapi dari situs longitudinal anterior atau longitudinal posterior dikembalikan pada posisi dorso sakral. Jenis kelamin fetus Distokia pada kelahiran fetus jantan lebih sering ditemukan dibandingkan dengan kelahiran fetus betina.

dan fetus tidak dapat keluar saat waktunya. Tindakan tarik paksa harus dilakukan seirama dengan kontraksi uterus dan mengikuti bentuk tulang yang membatasi jalan kelahiran (Hopper 2015). . Metode yang akan diberikan berupa koreksi keadaan situs fetus dan slow rolling (Naggar 2016). Terjadinya torsio uteri lebih sering pada betina bunting usia trisemester akhir. pada fetussapi yang jalan pada permukaan yang tidak rata. pernah terjadi Gambar jatuh selama masarotasi 3 Tindakan kebuntingan. Rotasi Distokia dapat dialami bila terjadi rotasi pada sekitar bagian uterin pada bagian longitudinal axis akibat dari penggantung uterine yang tidak memiliki panjang yang sama atau karena pergerakan fetus. 7 dan pembetulan letak ekstremitas dengan cara menarik kaki depan pada situs longitudinal anterior menuju jalan kelahiran. Tindakan dari mutasi terhadap letak kepala dengan cara mengikat tali pada mandibula anak sapi pada situs longitudinal anterior dan ditarik ke arah jalan keluar kelahiran (Hopper 2015 dan Moges 2016). tidak adanya keseimbangan nutrisi. Syarat dari tindakan ini adalah diameter fetus harus sama atau lebih besar dengan diameter jalan kelahiran. Gambar 2 Tindakan repulsi pada fetus Bila tindakan mutasi sudah terlaksana namun dorongan dari induk kurang dan pemberian hormonal tidak ada reaksi maka dapat dilakukan tindakan tarik paksa. Bila saat akan melakukan tindakan tarik paksa ternyata cairan amion sudah kering dapat diberikan air kanji atau minyak kelapa. stenosis. Torsio uteri dapat menyebabkan jalan keluar bayi yang penek.

threader or insertion coil dan wire brush. Alat utama kebidanan pada hewan besar terdiri dari rantai kebidanan dengan panjang 152 cm dan 76 cm.bar obstetric chain handle. Setelah daerah tersebut diaseptik dengan menggunakan iodine dan dilanjutkan sayatan melengkung di bagian posterior dari vulva dengan menggunakan dengan menggunakan blade nomer 24. T-bar obstetric handle. wire saw handles. Lalu dapat dilakukan traksi secara perlahan untuk mengevakuasi janin mati dan plasenta. wooden dowel for applying torque to detorsion bar. de-torsion bar or rod. moore's obstetric handle. Fetotomi Fetotomi dapat diberikan bila fetus yang sudah mati. komponen dari fetal extractor. Alat tambahan dari kebidanan adalah fetal head snare. krey hook dengan rantai. Fetotomi diberikan juga bila tindakan reposisi fetus sudah dilakukan namun adanya hambatan terhadap pengeluran fetus. pisau geunther's fetotomy finger. double blunt eye hooks atau vienna scissor eye hooks. Alat fetotomi terdiri atas utrecht fetotome. Penjahitan tipe simple interupted menggunakan benang jenis silk dengan nomer 3- 0. hauptner wire saw introducer of passer. wire saw.2 mg / kg berat badan) via intramuskuler dua kali sehari selama 3 hari sebagai anti-inflamasi. Perawatan selama paska-operasi diberiakn obat berupa flunixin meglumine (dosis 2. Karena hal tersebut diperlukan dilakukan episiotomi pada daerah vulva. Setelah selasai penjahitan ditaburkan campuran bubuk negasunt dan pasta iodium pada lokasi jahitan sebagai antiseptik. pisau Linde's fetotomy palm.8 Gambar 4 Teknik Slow Rolling pada torsio uteri (Naggar 2016) Namun ada batasan dalam melakukan manipulasi misalkan saat bagian carpal fetus tertekuk keduanya dan tolakan fetus untuk dilakukan manipulasi. Petimbangan dilakukan fetotomi adalah fetus terlalu besar atau jalan kelahiran terlalu kecil. Sebelum penjahitan maka diberikan vitamin K3 telah ditanamkan ke dalam situs sayatan untuk mempercepat terjadinya koagulasi.dan dilanjutkan dengan pemberian oxytetracycline dengan dosis 20 mg / kg berat badan. Hal pertama yang dilakukan adalah memblok daerah vulva dengan teknik ring blok dengan menggunakan 5 ml Lignocaine hidroklorida (Abdullah 2015).9% . lyss wire saw handles. shriever wire saw introducer of passer. krey hook with obstetric chain attached. . Alat yang digunakan untuk melakukan fetotomi adalah fetotom jenis thygiesen. Setelah semua janin dan plasenta keluar maka dilakukan irigasi intrauterin dengan menggunakan 200 mL larutan NaCl 0. dan norodine dengan dosis 1 mL / 16-kg berat badan diberikan secara intramuskular sekali sehari selama 5 hari sebagai antibiotik spektrum luas (Abdullah 2015). moore's obstetric handle (Hopper 2015). t. side cutters to sever wires saw.

Gambar 6 Fetotomi dengan situs fetus cranial . T-bar obstetric handle (j). wire saw handles (d). Lalu dilakukan pembersihan bagian perianal induk. wire saw (l). Pemotongan diret dapat dilakukan bila bagian ekstermitas yang merupakan bagian yang menghalangi. Alat fetotom sudah dilakukan perendaman dengan cairan antiseptik. moore's obstetric handle (m) (Hopper 2015). side cutters to sever wires saw (i). threader or insertion coil and wire brush (b). geunther's fetotomy finger knife (h). 9 Gambar 5 Alat fetotomi terdiri atas utrecht fetotome (a). hauptner wire saw introducer of passer (f). penarik kawat gergaji dan penahan bagian ang akan dipotong. lyss wire saw handles (c). Pemotongan bagian fetus tergantung dengan bagaian mana yang paling dekat dengan operator. Linde's fetotomy palm knife (g). shriever wire saw introducer of passer (e). Operator yang akan mengerjakan harus dalam keadaan tangan hingga lengan bersih. Metode pemotongan dapat dilakukan metoda langsung atau metode tidak langsung tergantung dari keadaan fetus. krey hook with obstetric chain attached (k). Untuk tindakan fetotomi diperlukan minimal tiga orang yang bertindak sebagai operator. Tindakan eviserasi atau pengeluaran organ fetus dapat dilakukan bila hal tersebut menghalangi dalam pengeluaran fetus (Moges 2016). Tahap-tahap dalam melakukan fetotomi adalah dilakukan epidural anastesi. Pemtongaan tidak langsung dilakukan bila bagain kepala yang menjadi penghalang kelahiran.

2007.163:126-139. J Reprod. 2016. Kumar P.10 Sectio caesaria Tindakan pembedahan dapat dilakukan tindakan sectio caesaria. Minesota (US): University of Minesota. Shekkhar C. Open Journal of Animal Sciences. Petunjuk teknis penanganan gangguan reproduksi pada sapi potong. & Infertility. 2010. Cow attributes. 2012. 2012. Hal tersebut memerlukan penanganan yang tepat dan sesuai dengan kondisi induk dan fetus. Etiology. Pratiwi WC.2(2): 225-228. Sayatan yang digunakan sebesar 30-35 cm secara vertikal (Moges 2016). Hopper RM. 2015. Perspectives of fetal dystocia in cattle and buffalo. 2016. Yadav SP. Maternal dystocia in cow and buffaloes: a review. Sehingga perlu adanya pemahaman yang baik terhadap penyebab. Daerah operasi pada bagian flank sebelah kiri. Management of fetal dystocia caused by carpal flexion in ewe. Incidence and Economic Significance of Dystocia and Recommendations for Preventive Measure and Treatment to Reduce the Incidence of Dystocia: Review. Ratnawati D. Purohit GN. 2011. Tindakan tersebut dilakukan dengan indikasi fetus yang masih hidup namun dengan cara tarik paksa tidak dapat dilkaukan. Approach to Fetomartenal Dispropotion in Cattle. Oxford (UK): Wiley Blackwell Moges N. J Adv Vet Anim Res. 1(2):41-53. Kumar P. Veterinary science development. Solanki K. Megahed GA. Course of Obstretic Contents. Barolia Y. Bovine Reproduction. Vila Real (PO): Universidade de Tras Os Montes E Alto Douro. 2(8):31- 42). Raheim AA. . Preoperasi yang dilakukan dalah anastesi epidural dan paralumbal dan pada tempat penyayatan diberikan anastesi intrakutan pada bagian profundal dan superficial. Anderson P. Waldner CL. Livestock science. selain itu manajemen yang baik juga diperlukan untuk menurunkan resiko terjadinya distokia pad ternak sapi. Shekkhar C. faktor pendukung kejadian dan jenis penanganan yang tepat. Naggar MAE. Affandhy L. Amrawi. Tindakan section caesaria dilakukan dalam keadaan induk berdiri. EVET Pires JAG. SIMPULAN Kejadian distokia merupakan salah satu kejadian gangguan reproduksi yang sering terjadi pada hewan besar seperti sapi. 2015. Pasuruan (ID): Pusat penelitian dan pengembangan peternakan. herd management and environmental factors associated with the risk of calf death at or within 1 h of birth and the risk of dystocia in cow–calf herds in Western Canada.7(1): 24-33. Cow/Calf Management: Minimizing Calving Difficulty in Beef Cattle. 2014. Purohit GN. DAFTAR PUSTAKA Abdullah et al.