You are on page 1of 16

1.

Al-Kindi
a. Biografi dan Pendidikannya

Nama lengkap beliau adalah Abu Yusuf Ya'kub bin Ishaq As-Shabbah bin 'Imran bin
Ismail bin Muhammad Al-Asy'ats bin Qays Al-Kindi. Ia dilahirkan di Kufah sekitar
tahun 185 H (801 M). Ia termasuk keluarga yang kaya dan terhormat. Kakek buyutnya
bernama Al-Asy’ats ibnu Qays yakni seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang
gugur sebagai Syuhada bersama sa’ad ibnu Abi Waqqas dalam peperangan antara
kaum muslimin dengan Persia di Irak. Sedangkan ayahnya bernama Ishaq ibnu As-
Shabbah yakni seorang Gubernur di Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi (tahun
775-785 M) dan Al-Rasyid (tahun 786-809 M). namun ayahnya meninggal ketika ia
masih usia anak-anak.[1]

Al-kindi berasal dari Klan Kindah yakni salah satu Kabilah Arab. Selain dari itu, karena
ia merupakan keturunan Arab, ia dimasukkan dalam kelompok filosof Arab.[2] Nama
Al-Kindi dinisbatkan pada sukunya yakni Banu Kindah. Banu Kindah adalah suku
yang dikenal memiliki apresiasi kebudayaan yang cukup tinggi dan banyak dikagumi
orang dikala itu. “Suku ini pulalah yang melahirkan seorang tokoh sastrawan yang
terbesar dan tersebar para kesustraan Arab, sang penyair pangeran Imr Al-Qays yang
gagal untuk memulihkan tahta kerajaan Kindah setelah pembunuhan ayahnya”.[3]

Kalau diperhatikan dari tahun kelahiran al-Kindi, kita dapat membuat sebuah
kesimpulan bahwa ia hidup pada masa kekuasaan Bani ‘Abbas. Pada masa kecil ia telah
merasakan masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid. Al Kindi sudah menjadi
Yatim sejak ia masih berusia kanak-kanak, namun ia tetap memperoleh kesempatan
untuk menuntut ilmu dengan baik. Al Kindi sendiri mengalami masa pemerintahan
lima Khalifah Bani Abbas, yakni Al-Amin (809-813 M), Al-Ma’mun (813-833 M), Al-
Mu’tasim (833-842 M), Al-Wasiq (842-847 M), dan Al-Mutawakkil (847-861 M).[4]

ia diusir dari istana. ilmu hitung.Al-Kindi adalah seorang yang aktif dalam segala aktivitas dilakukannya. maka al-Kindi membuat sebuah karya tulis ilmiah. sedangkan anak yang dididik oleh al-Kindi bernama Ahmad bin Mu’tashim. seni musik.[5] Akhirnya ia meninggal di Baghdad pada Tahun 252 H/866 M. seperti ilmu ketabiban (kedokteran). Mu’tashim adalah Khalifah yang menggantikan Al- Makmun. mantigh (logika). geometri. maka iapun diangkat menjadi guru pribadi pendidik anak Khalifah di kala itu yang bernama Mu’tashim. Salah satu bentuk dalam kesibukannya ia menyibukkan dirinya untuk menerjemahkan karya- karya tulisan Yunani ke dalam Bahasa Arab. menghitung yang diperolehnya sewaktu ia masih Sekolah Dasar di Bashrah. Penguasaanya terhadap filsafat telah menempatkan ia menjadi orang Islam pertama yang berkebangsaan Arab dalam jajarannya para filosof terkemuka. karena ia dipercaya oleh pihak Istana dengan kemampuannya untuk mengajar. Dari buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Suryani inilah Al-Kindi menerjemahkannya kedalam bahasa Arab. menulis. filsafat. dan ia mempelajari ilmu-ilmu sesuai dengan kurikulum pada masanya. dan membuat terjemahan buku-buku Yunani dan sekaligus melakukan koreksi serta perbaikan atas terjemahan orang lain. 2. sehingga ia mahir dalam berbagai cabang ilmu yang ada pada waktu itu. Tidak hanya itu. astronomi. juga mengkoreksi hasil terjemahan orang lain atas karya-karya tersebut dan ia pun bekerja di Istana Khalifah Abbasiyah. Al-Kindi mulai belajar sejak ia kecil. ilmu ukur dan lain sebagainya. Ia mempelajari al-Qur’an serta belajar membaca. Kemudian ia melanjutkan ke Baghdad hingga tamat. Karya-Karyanya Sebagai seorang ilmuwan yang kaya dengan pengetahuan. hingga sekurang-kurangnya memahami salah satu bahasa yang menjadi bahasa ilmu pengetahuan di kala itu yakni bahasa Suryani. Namun di masa terakhir kehidupannya.[6] Ia juga mempelajari ilmu-ilmu yang berasal dari Yunani. Karena itulah ia dinilai pantas menyandang gelar Failasuf al-‘Arab (filosof berkebangsaan Arab). Sebagai seorang pakar .

6. 3. Kammiyat Kutub Aristoteles. 6. kita dapat melihat beberapa hasil tulisan yang dibuat oleh Al Kindi. Risalat ila al-Ma’mun fi al-illat wa Ma’lul. Risalah fi anna Ru’yat al Hilal la Tudhbathu bi al-Haqiqoh wa innama al- Qowl fiha bi at-Taqrib (bahwa pengamatan astronomi bulan baru tidak dapat ditentukan dengan ketetapan. 2. Fi al-falsafat al-‘Ula. 7. Fi asy-Syu’at (tentang sinar bintang). Risalah fi Masa’il Su’ila anha min Ahwal al-Kawatib (jawaban dari pertanyaan tentang planet). 7. Risalah fi Idhah ‘illat Ruju’ al-Kawakib (tentang penjelasan sebab gerak kebelakang planet-planet). Bidang Astronomi 1. . Risalat fi Ta’lif al-A’dad. yakni sebagai berikut: a. 5. 3. Risalah fi Jawab Masa’il Thabi’iyah fi Kayfiyyat Nujumiah (pemecahan soal- soal fisik tentang sifat-sifat perbintangan). 5. Risalah fi Fashlayn (tentang dua musim yakni. musim panas dan musim dingin). Fi al-Nafs [7] b. Bidang Filsafat 1. 2.ilmuan di kala itu. Kitab al-Hassi’ala Ta’allum al-Falsafat. Kitab al-Falsafat al-Dakhilat wa al-Masa’il al-Manthiqiyyat wa al-Mu’tashah wa ma Fauqa al-Thabi’iyyat. Risalah fi Mathrah asy-Syu’a (tentang projeksi sinar). 4. 4.

Risalah fi al-Kammiyat al-Mudhafah (tentang jumlah relatif). g. Karya-karya yang disebutkan di atas merupakan sebagian terkecil dari sekian banyak karya Al-Kindi. Ilmu Hitung 1. 2. 2. Meteorologi 1. Risalah fi Taqdimat al-Ma’rifat fi al-Ahdats (tentang ramalan dengan mengamati gejala meteorolgi). batuk darah dari saluran pernapasan). . f. Risalah fi at-Tajhid min Jihat al-’Adad (tentang keesaan dari segi angka-angka). e. 4. Ramalan 1. Risalah fi al-Bard al-Musamma ”Bard al-Ajuz” (tentang dingin). Risalah fi Taqdimat al-Khabar (tentang Prediksi). sedangkan sumber lain menyebutkan 265 buah. Risalah fi’illat Naftcad-Damm (tentang hemoptesis yakni. Risalah fi Atshar alladzi Yazhharu fi al-laww Yusamma Kawkaban (tentang tanda yang tampak di langit dan disebut sebuah planet). Karya Al-Kindi di susun oleh Ibnu An-Nadim yang menyebutkan tidak kurang dari 242 buah karya Al-Kindi.c. 2. Ilmu Pengobatan 1. Risalatun fi Madhkal al-Mantiq bi Istifa al-Qawl fihi (tentang sebuah pengantar lengkap logika). Logika 1. Risalah fi ’illat Kawnu adh-Dhabasb (tentang sebab asal mula kabut). 2. 2. Risalah fi ’illat Ikhtilaf Anwa’us Sanah (tentang sebab perbedaan dalam tahun- tahun). d. 3. Ikhtisar Kitab Isaghuji li Farfuris (sebuah ikhtisar Eisagoge Porphyry). Risalah fi Adhat al-Kalb al-Kalib (tentang rabies).

Untuk itu Al-Kindi yang terkenal sebagi Filosof Islam pertama kali di dunia membuat suatu usaha demi sebuah pencerahan. meteorologi. al-Kindi memberikan definisi-definisi singkat dari filsafat itu sendiri. Tarikh Al-Fikr Al-Arabi. Menurutnya kita tidak pada tempatnya malu mengakui kebenaran dari mana saja sumbernya. Al-Tarikh Al-Islami. ilmu kedokteran. maka ini terbukti bahwa mempelajari filsafat tidaklah memusnahkan keyakinan agama yang dimiliki umat Islam selama umat Islam tersebut sudah kokoh berpegang pada dasar-dasar Islam. dan Lainnya menyatakan bahwa al-Kindi adalah seorang filosof Islam yang pertama dari bangsa Arab yang berusaha memadukan antara ajaran filsafat Yunani dengan ajaran Islam. Pemikiran Al-Kindi Menurut sejarah dibeberapa buku. Al-Kindi berusaha menggegas agar filsafat bisa dipelajari dan berpadu dalam Islam. Menurutnya filsafat adalah upaya manusia meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh dapat dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Salah satu usahanya adalah al-Kindi memperkenalkan filsafat ke dalam dunia Islam dengan cara mengetok hati umat supaya menerima kebenaran walaupun dari mana sumbernya. hingga kesemuaanya dititik beratkan pada nilai tingkah laku manusia. Selama eksisnya dalam mempelajari filsafat. logika. psikologi.[8] 3. Atas perpaduan antara ajaran filsafat yunani dengan Ajaran Islam. Filosof yang sejati adalah filosof yang mampu memperoleh kebijaksanaan dan mengamalkan kebijaksanaan itu. sferika. Tarikh Falasifah Al- Islam. astrologi. Menurutnya lagi filosof adalah “orang yang berupaya memperoleh kebenaran dan hidup menjunjung tinggi nilai keadilan atau hidup adil. Bagi mereka yang mengakui kebenaran tidak ada sesuatu yang lebih tinggi nilainya selain kebenaran itu . polemik.dan membaginya menurut pokok persoalannya menjadi filsafat. namun arah tujuan dari semua itu tidak untuk kebenaran yang hakiki. dan ramalan. pengetahuan dari segala pengetahuan dan kebijaksanaan dari segala kebijaksanaan. seperti. ilmu hitung. politik.”[9] Sebagai seorang muslim.

sesungguhnya segala yang tersebut itu menjadi ayat- ayat (bukti-bukti atas kekuasaan Allah Swt) bagi kaum yang berfikir”. Apa yang telah dinyatakan dalam al-Qur’an merupakan satu ilmu yang mesti dipelajari melalui akal dan keimanan. Kedua. kapal yang berlayar dilautan (membawa) barang-barang yang berfaedah bagi manusia. Al-Baqarah ayat 164 : ‫اس َو َما أ َ ْنزَ َل‬ َ ‫ار َو ْالفُ ْل ِك الَّ ِتي تَجْ ِري ِفي ْال َبحْ ِر ِب َما َي ْن َف ُع ال َّن‬ ِ ‫الف اللَّ ْي ِل َوالنَّ َه‬ ْ ‫ض َو‬ ِ ‫اخ ِت‬ ِ ‫األر‬ْ ‫ت َو‬ ِ ‫س َم َاوا‬ َّ ‫ق ال‬ ِ ‫ِإ َّن ِفي خ َْل‬ ‫ب‬ ِ ‫س َحا‬ َّ ‫الريَاحِ َوال‬ ِّ ِ ‫يف‬ ِ ‫ص ِر‬ ْ َ ‫ث فِي َها ِم ْن ُك ِِّل دَابَّ ٍة َوت‬ َّ َ‫ض بَ ْعدَ َم ْو ِت َها َوب‬ َ ‫األر‬ ْ ‫اء ِم ْن َماءٍ فَأَحْ يَا بِ ِه‬ ِ ‫س َم‬ َّ ‫َّللاُ ِمنَ ال‬َّ َ‫ت ِلقَ ْو ٍم يَ ْع ِقلُون‬ ٍ ‫ض آليَا‬ ِ ‫األر‬ ْ ‫اء َو‬ ِ ‫س َم‬ َ ‫ْال ُم‬ َّ ‫س َّخ ِر بَيْنَ ال‬ ”Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi.. wahyu yang diturunkan . hujan yang diturunkan Allah Swt dari langit.. sebagai contoh firman Allah Swt Q. lalu dihidupkanNya dengan dia bumi yang telah mati. filsafat berlandaskan akal sedangkan agama berdasarkan wahyu.S Al-Hasyr ayat 2.sendiri dan tidak pernah meremehkan dan merendahkan martabat orang yang menerimanya. berkeliaran diatasnya tiap-tiap yang melata. Logika (mantiq) merupakan metode filsafat sedang iman merupakan kepercayaan kepada hakikat yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagaimana diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya.S. . ilmu agama merupakan bagian dari filsafat. perbedaan malam dan siang. ‫ار‬ ِ ‫ص‬َ ‫فَا ْعتَبِ ُروا يَا أُو ِلي األ ْب‬ ”… maka ambillah ’ibrah (pengajaran). Dalil kedua yang dimunculkannya adalah Q. hai orang-orang yang mempunyai pemandangan”. Ia juga menselaraskan antara filsafat dan agama yang didasarkan pada tiga alasan: pertama. Kalau di gariskan maka. angin yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi.[10] Kemudian ia Mengarahkan filsafat muslim ke arah kesesuaian antara filsafat dan agama melalui perpaduan antara akal dan agama.

ketika ia meringkas dari sumber-sumber lain yang secara keliru. penciptaan (ibda’). secara logika diperintahkan dalam agama. alam. ilmu tauhid. Subjek dan susunanya sesuai benar dengan sumber Neopolitik. Mengenai hakikat ke-Tuhanan ia mengatakan bahwa Tuhan adalah wujud yang Esa.kepada Nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian. dimulai dengan definisi badan (jism). tidak ada sesuatu benda apapun yang menyerupai akan Tuhan. Ketiga. Filsafat Ketuhanan Filsafat Ketuhanan al-Kindi merupakan awal lahirnya perbincangan Ketuhanan. Plato dan Plotinius. diikuti dengan definisi-definisi yang menandai alam bawah. Kebanyakan definisi filsafat al-Kindi dikumpulkan dari karya-karya Aristoteles dan kesukaannya kepada Aristoteles tidak bisa di abaikan. Yang pertama ditandai dengan definisi-definisi akal. Definisi-definisi berikutnya dalam Risalah al- Kindi dikemukakan susunanya yang membedakan antara alam atas dan alam bawah. Dalam al-Qur’an Surat al-Ikhlas ayat 1 s/d 4 sebagai bukti keberadaan Tuhan. suatu ungkapan yang juga digunakan al-Kindi atau dengan istilahnya ”Yang Esa adalah sebab dari segala sebab”. Pada definisi pertama. ia menisbahkan pula kepada Aristoteles.[11] Filsafat merupakan pengetahuan tentang hakikat segala suatu. etika dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat. menuntut ilmu. Bahkan. bentuk (shurah). dan ini mengandung teologi (al-rububiyah). materi (hayula).[12] Dari dasar pemikiran al-kindi akhirnya timbullah pemikiran Filsafatnya antara lain: a. namun penafsiran al-Kindi mengenai Tuhan sangat berbeda dengan pendapat Aristoteles. akan tetapi Tuhan akan selalu hidup dan tidak akan pernah mati. dan Tuhan tidaklah melahirkan ataupun dilahirkan. Tuhan disebut ”Sebab pertama” mirip dengan ”Agen Pertamanya” Plotinus. dan jiwa. ٌ‫ص َمد ُ * لَ ْم َي ِلدْ َولَ ْم يُولَدْ * َولَ ْم َي ُك ْن لَهُ ُكفُ ًوا أ َ َحد‬ َّ * ٌ ‫َّللاُ أ َ َحد‬ َّ ‫َّللاُ ال‬ َّ ‫قُ ْل ه َُو‬ .

Bagaimana kita bisa percaya akan adanya Allah Swt. yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. maka sebagai seorang filosof. Mempelajari filsafat dan berfalsafat tidak dilarang. karena teologi adalah bahagian dari filsafat. pengetahuan Ilahi ‫( علم الهي‬divine science). tentang keberadaan alam. Pengetahun ini diambil langsung dari yang tercantum dalam al-Qur-an yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh Nabi dari Tuhan. Sedangkan dasar dari pengetahuan ini adalah keyakinan. yakni: pertama. sedangkan manusia adalah Hamba Allah yang diberikan kehidupan hingga akhirnya mati. Apa yang terlintas di akal hingga terjadi dengan sendirinya di luar akal merupakan sebuah hikmah dalam kehidupan yang mesti kita sadari bahwa terkadang suatu pelajaran sudah kita anggap . Dalam Islam Sang Khalik atau pencipta dan penguasa segalanya di buat sebuah penamaan yakni ”Allah Swt” sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas maka. hati dan nurani untuk dapat menyakini adanya Allah swt melalui bukti-bukti kekuasaan Allah Swt. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.[13] Kebenaran yang sesungguhnya hanya pada Allah Swt. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". Tetapi falsafat dan Qur’an tidak bertentangan dengan kebenaran yang di bawa falsafat. ataupun keberadaan manusia itu sendiri. Dasarnya ialah pemikiran (ratio- reason). Agar manusia khususnya umat Islam tidak berselisih paham akan keberadaan Allah Swt.”Katakanlah: "Dia-lah Allah. dan umat Islam diwajibkan belajar teologi. itulah bukti yang paling kongkrit bahwa Allah swt itu ada dan hidup kekal selamanya. al-Kindi membagi pengetahuan menjadi dua bahagian. Argumen-argumen yang dibawa Qur’an lebih meyakinkan daripada argumen-argumen yang ditimbulkan falsafat. Kedua. maka dari itu sebagai manusia biasa diberikan akal. pengetahuan manusiawi ‫( علم إنسانى‬human science) atau falsafat.

dan tidak ada yang serupa dengan Tuhan. Tuhan bagi al-Kindi adalah Pencipta dan bukan penggerak Pertama sebagai pendapat Aristoteles. Kaum Mu’tazilah yang semasa dengan al-Kindi. Kaum tradisionalis (Ibn Hanbal adalah salah seorang tokohnya) menafsirkan sifat-sifat Allah dengan nama-nama Allah. Tidak ’aniah karena Tuhan tidak termasuk dalam benda-benda yang ada dalam alam. Ia tidak tersusun dari materi dan bentuk. sedangkan .benar namun akhirnya menjadi sebaliknya. Walaupun al-Kindi sepaham dengan Muktazilah dalam menafikan sifat dari Zat Allah. Tuhan hanya satu. karena Tuhan tidak merupakan genus atau species. Apa yang dinyatakan dalam al-Qur’an semuanya mengandung hikmah dan pelajaran bagi seorang insan yang mau berpikir. Akhirnya semua akan kembali kepada al- Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk bagi kehidupan manusia. Akan tetapi. [15] Sesuai dengan paham yang ada dalam Islam. ketika Muktazilah menyatakan bahwa Tuhan itu mengetahui dengan Ilmu- Nya dan Ilmu-Nya adalah Zat-Nya (’Alim bi’ilm wa ’ilmuh zatuh) berkuasa dengan kekuasaan-Nya dan kekuasaa-Nya adalah Zat-Nya (qadir bi qudratih wa qudratuh zaituh) al-Kindi tidak sepaham dengan pandangan ini. Tuhan dalam falsafat al-Kindi tidak mempunyai hakekat dalam arti ’aniah atau mahiah. Tuhan adalah tunggal. bahkan Ia adalah pencipta alam. Filsafat Alam Mengenai alam. selain dari Tuhan semuanya mempunyai arti banyak. dan lainnya yang sebelum dia dengan mengatakan ”alam ini kekal”. secara akal menafsirkan sifat-sifat Allah demi memantapkan sifat Maha Esa-Nya. kemudian tuhan tidak mempunyai hakekat dalam bentuk mahiah. al-Kindi berbeda pendapat juga dengan para filosof seperti Aristoteles Plato.[14] Agar dapat memahami penafsiran al-Kindi tentang Tuhan.[16] b. mereka menerima makna harfiyah al-Qur’an tanpa memberikan penafsiran lebih jauh. kita mesti merujuk pada kaum Tradisionalis dan Mu’tazilah.

adalah terbatas. Al-Farabiyah yang dengan jelas menulis tentang hal itu. maka besar sisanya lebih kecil daripada benda semula. maka jumlahnya juga akan terbatas. Kedua. jika satu bagian diambil dari sebuah benda. semua benda yang homogen. Dalam hal ini ia memberikan pemecahan yang radikal. setiap benda yang terdiri atas materi dan bentuk yang tak terbatas ruang dan bergerak di dalam waktu. Ketujuh. juga sama besarnya dalam aktualitas dan potensialitas. Alam ini adalah emanasi dari Yang Maha Satu. tiada dari dua benda homogen yang besarnya tidak mempunyai batas. Keenam. jika salah satu dari dua benda yang sama besarnya dan homogen ditambah dengan homogen lainnya. sebagai bukti dari baharunya alam ia mengemukakan beberapa argumen. Hanya Allah-lah yang kekal. Karena terbatas. meskipun benda tersebut adalah wujud dunia. antara lain: pertama. jika sebuah benda dikurangi. oleh sebab itu ia menolak pandangan Aristoteles yang mengatakan . lalu dipulihkan kembali kepadanya. benda-benda yang mempunyai batas tidak bisa tidak mempunyai batas.[19] Kesimpulan dari ungkapan al-Kindi atas ungkapannya di atas adalah alam semesta ini pastilah terbatas. adalah sama besar. Karena itu ia lebih dekat dalam hal ini pada falsafat Plotinus yang mengatakan bahwa Yang Maha Satu adalah sumber dari alam ini dan sumber dari segala yang ada. jika benda-benda yang homogen yang semuanya mempunyai batas ditambahkan ber sama. Kelima. ia tak kekal. Tetapi paham emanasi ini kelihatannya tidak jelas dalam falsafat al-Kindi. Ketiga.[18] Menurut al-kindi alam ini termasuk makhluk yang sifatnya baharu. Keempat. maka hasilnya adalah benda yang sama seperti semula. maka keduanya menjadi tidak sama besar. dengan membahas gagasan tentang ketakterhinggaan secara matematik. Dengan ketentuan ini. Kedelapan.[17] Al-Kindi juga mengatakan alam bukan kekal di zaman lampau (qadim) tetapi mempunyai permulaan. jarak antara ujung-ujung dari benda-benda yang sama besar. yang tiada padanya lebih besar ketimbang yang lain.al-Kindi mengatakan ”alam ini tak kekal”.

Ketiga roh atau jiwa yaitu suatu zat yang tidak bisa dirangkaikan bentuknya. pertama nafsu yaitu dorongan untuk melakukan perbuatan yang diingini. Mengenai keteraturan alam dan perdaran alam ini sebagai bukti adanya Tuhan. Filsafat Jiwa dan Akal Mengenai jiwa dan akal. al-Kindi juga membantah pendapat Aristoteles. Karena al-Qur’an telah menginformasikan bahwa manusia tidak akan mengetahui akan hakikat roh. c. Kedua nafas yaitu suatu alat pencernaan udara sebagai tanda kehidupan seseorang. ‫الرو ُح ِم ْن أ َ ْم ِر َر ِبِّي َو َما أُوتِيت ُ ْم ِمنَ ْال ِع ْل ِم إِال قَ ِليال‬ ُّ ‫َويَ ْسأَلُونَكَ َع ِن‬ ُّ ‫الروحِ قُ ِل‬ ”Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. maka akan nampak sebuah perbedaan seorang yang banyak berpikir dengan akalnya untu menemukan sebuah ide-ide baru dari pada seorang yang hanya menerima hasil dari ide orang lain. roh adalah urusan Allah bukan urusan manusia. Para filosof muslim menamakan jiwa (al-nafs) seperti yang diistilahkan dalam al-Qur’an yaitu. Muncullah sebuah perbedaan antara seorang yang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan seperti dikatakan al-Qur’an pada Surat az-Zumar ayat 9: . dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". Setiap manusia yang terlahir ia akan membawa potensi masing- masing dari akal yang dimilikinya.bahwa alam semesta tidak terbatas atau qadim. al- ruh. sedangkan alam adalah buatan Tuhan. Allah menyatakan akan hakikat roh dalam Q. semakin banyak ia berpikir semakin banyak pula ia akan mendapatkan pengetahuan. Kemudian kata ruh ini di indonesiakan menjadi tiga bentuk. Sedangkan akal merupakan sebuah potensi berupa alat untuk berpikir yang hanya dimiliki oleh manusia. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku. jika keinginan ini berbentuk negatif maka nafsu ini mendekati dengan hawa. jadi kalau digabungkan menjadi hawa nafsu (keinginan yang jelek).S. Al-Isra’ 17 : 85.

Setelah berhasil membersihkan diri di sana. Al-Kindi menolak pendapat Aristoteles yang mengatakan bahwa manusia sebagaimana benda-benda. Hubungan dengan badan sama dengan hubungan bentuk dengan materi. pergi dahulu ke bulan.[20] . sempurna dan mulia. materi dan bentuk. dan demikianlah naik setingkat demi setingkat hingga akhirnya. ‫اآلخ َرة َ َويَ ْر ُجو َرحْ َمةَ َربِِّ ِه قُ ْل ه َْل يَ ْست َ ِوي الَّذِينَ يَ ْعلَ ُمونَ َوالَّذِينَ ال‬ ِ ‫اجدًا َوقَائِ ًما يَحْ ذَ ُر‬ ِ ‫س‬َ ‫أ َ َّم ْن ه َُو قَانِتٌ آنَا َء اللَّ ْي ِل‬ ْ ‫يَ ْعلَ ُمونَ إِنَّ َما يَتَذَ َّك ُر أُولُو‬ ‫األلبَاب‬ (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri. Form tidak bisa terwujud tanpa materi. Bentuk atau jiwa tidak bisa mempunyai wujud tanpa materi atau badan dan begitu pula sebaliknya materi atau badan tidak pula bisa berwujud tanpa bentuk atau jiwa. Menurut al-Kindi roh tidak tersusun (basiithah. Roh yang masih kotor dan beluim bersih. sederhana) tetapi mempunyai arti penting. simple. binasanya badan tidak membawa binasa pada jiwa. Substansinya (jawahara) berasal dari substansi Tuhan. dalam lingkungan cahaya Tuhan dan melihat Tuhan. sampai ke alam akal. dan kemusnahan badan membawa kemusnahan jiwa. Materi adalah badan dan bentuk adalah jiwa manusia. Selanjutnya. ia tidak menerima pendapat Plato yang mengatakan bahwa jiwa berasal dari alam ide. Hubungannya dengan Tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari. Pendapat ini mengandung arti bahwa jiwa adalah baharu karena jiwa adalah form bagi badan. setelah benar-benar bersih. Hanya roh yang sudah suci di dunia ini yang dapat pergi ke alam kebenaran itu. Namun. Dalam hal ini al-Kindi sependapat dengan Plato yang mengatakan bahwa kesatuan jiwa dan badan adalah kesatuan Acciden. baru pindah ke Merkuri. sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. tersusun dari dua unsur. keduanya membentuk satu kesatuan yang bersifat esensial.

Akal mungkin menerima pikiran. Yang dimaksudkan dengan akal ”kedua” yaitu tingkat kedua aktualitas. akal yang bersifat potensial tak bisa mempunyai sifat aktuil jika tidak ada kekurangan yasng menggerakkannya dari luar. Akal agen ini dilukiskan oleh Aristoteles sebagai tersendiri. dan bermakna: akal yang selamanya dalam aktualitas (al’aqlu ladzi bil fa’il abadan). pertama: akal yang selalu bertindak. akal yang kita sebut akal kedua. adalah seorang filosof yang berusaha mempertemukan agama dengan filsafat. tak bercampur. sedangkan akal agen menghasilkan objek-objek pemikiran. di dalam roh. yaitu jika ia telah memperoleh akal yang di luar itu (idza uktisab hadzal ’aklul kharaji).Mengenai akal. Meski Al-Kindi terpengaruh pemikiran-pemikiran Plato dan Aristoteles dan memperlihatkan corak pitagorasme. kedua: akal yang secara potensial berada di dalam roh. Dan oleh karena itu bagi al-Kindi ada lagi satu macam akal yang mempunyai wujud di luar roh manusia. Bagi al-Kindi manusia disebut menjadi ’akil (’akal) jika ia telah mengetahui universal. Kesimpulann Al-Kindi.[22] C. al-Kindi juga berbeda pendapat dengan Aristoteles. kekal. Aristoteles membedakan akal menjadi dua macam.[21] Dinyatakan lagi oleh al-Kindi bahwa. Akal yang selalu bertindak (akal pertama) bagi al-Kindi. dari daya menjadi aktual. mengandung arti banyak. namun dalam beberapa hal Al-Kindi tidak sependapat dengan para filosof . Ia berupaya membuktikan bahwa berfilsafat tidak dilarang. akal inilah yang pertama-tama merupakan yang banyak (awwalu muktatsar). Berbeda halnya dengan al-Kindi yang membagi akal dalam empat macam. ialah yang membuat akal yang bersifat potensial dalam roh manusia menjadi aktuil. ketiga: akal yang telah berubah. antara yang hanya memiliki pengetahuan dan yang mempraktekkannya. yaitu akal mungkin dan akal agen. karena selamanya dalam aktualitas. selalu aktual. Akal ini. Dalam limpahan dari Yang Maha Satu. dan takkan rusak. karena dia adalah universals (al-kuliyat mutakatsarah). keempat.

Jakarta: KHALIFA. Ahmad Baiquni. Kairo: Dar al-Qalam. Ibn Sina.t. 2005 Atiyeh. Bandung: Salman ITP. Filsafat dan Mitisisme dalam Islam. DAFTAR PUSKATA Al-Ahwaniy. Mesir. Jakarta: Pustaka Jaya. Fu’ad. 2004 Nasution. 1983 Fakhri. seperti Al-Farabi.1927 Mustofa.I. Tarikh Al-Fikr Al-Arabi. Sains dan Dunia Islam. Rasa’il al-Kindi Al-Falsafiyah.Yunani mengenai hal-hal yang dirasakakn bertentangan dengan ajaran islam yang diyakininya. 1962 Luthfi Jum’ah. Abdus. Umar. Jakarta: Bulan Bintang. Muhammad. ia telah melicinkan jalan bagi filosof sesudahnya. 1986 Farukh. Kasidjo Djojo suwarno. 1950 Salam. dan Ibn Rusyd. A. Cet.tp. Sejarah Filsafat Islam. Cet. 1973 Ridah. Harun. Al Kindi Tokoh Filsafat Muslim. Ke IX. Sebagai filosof islam pertama yang menyelaraskan agama dengan filsafat. 1983 . Terj. Filsafat Islam. Ismail. 1962 Asy-Syarafa. Bandung: Salman. Beirut: Dar al-Fikr. Tarikh Falasifah Al-Islam. t. Terj. Terj. Ensiklopedi Filsafat. Bandung: Pustaka Setia. Abu. George N. Mulyadi Kartanegara. al-Falsafat al-Islamiyyat. Majid. Kairo: t.

hlm. Tarikh Falasifah Al-Islam. I. dan filsafat menjadi kewajiban setiap ahli pikir (ulul albab) untuk memiliki filsafat. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Terj. [4] Fu’ad Al-Ahwaniy.Syahrastaniy. hlm.t Syarif. 38 .I. Atas pernyataan ini. (Mesir. Beirut: Dar al-Fikr. 63 [2] Ismail Asy-Syarafa. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Cet. Mulyadi Kartanegara. Ia dituduh meremehkan dan membodoh-bodohi ulama yang tidak mengetahui filsafat Yunani. Sirajuddin. al-Milal wa al-Nihal. 15. hlm. (Jakarta: KHALIFA. t.160 [3] Majid Fakhri. dkk (edt). t.1 [6] Sirajuddin Zar.1927). Filsafat Islam filosof dan filsafatnya. Al-Kindi mengatakan bahwa filsafat adalah semulia-mulia ilmu dan yang tertinggi martabatnya. M. Atas dasar inilah ia diusir dari Istana Abbasiyah. sebagai seorang filosof ia pelopor yang mempertemukan agama dengan filsafat Yunani.tp. Filsafat Islam filosof dan filsafatnya. Lihat. 2004). 63 [5] Al-Kindi di usir dari istana karena masyarakat menganggap ia telah syirik kepada agama. hlm. 1986). hlm. 2004 ________________________________________ [1] Fu’ad Al-Ahwaniy. History of Muslim Philosophy. al-Kindi banyak menghadapi tantangan dari ahli agama di kala itu. 1962).M. Ensiklopedi Filsafat. Sejarah Filsafat Islam. 2005). Wisbaden: Otto Horossowitz. 1963 Zar. al-Falsafat al-Islamiyyat. hlm. Muhammad Luthfi Jum’ah. vol. (Jakarta: Pustaka Jaya. Al. (Kairo: Dar al-Qalam. al-Falsafat al-Islamiyyat … .

M. walaupun ia sendiri mengaku bahwa dirinya hanya memaparkan filsafat Plato yang asli. Rasa’il al-Kindi Al-Falsafiyah. History of Muslim Philosophy. 19-20. Syarif. I. 1983). 1963). Filsafatnya adalah rujukan yang sangat berharga. 17-18. dkk. History of Muslim Philosophy …. (Jakarta: Bulan Bintang. (edt). hlm. (Beirut: Dar al-Fikr. (Kairo: t.15. Syarif. . 225 [9] A. 26-27. (Bandung: Salman ITP. hlm. tapi juga karya Aristoteles. hlm.15. hlm. Cet. hlm. History of Muslim Philosophy…. Ahmad Baiquni. hlm. Filsafat dan Mitisisme dalam Islam .M. hlm. Filsafat dan Mitisisme dalam Islam . 211 [13] Harun Nasution. hlm. karena menampilkan kajian dan kritik yang sangat teliti. Atiyeh. hlm. hlm. bukan saja dalam membaca karya Plato. Tarikh Al-Fikr Al-Arabi. hlm.... 49 [16] Harun Nasution.. 1973). 1950). hlm. 425 [12] Abu Ridah. t. Filsafat dan Mitisisme dalam Islam . [19] George N. [21] M. [22] Harun Nasution.. vol. Syarif. Terj. Sains dan Dunia Islam. Filsafat dan Mitisisme dalam Islam. History of Muslim Philosophy …. Syarif.. dkk (edt). 11 [11] M.. Filsafat Islam.. Al Kindi Tokoh Filsafat Muslim. hlm. 1962).104 [10] Abdus Salam. Mustofa. 50-51 [20] Harun Nasution. hlm.[7] M. hlm. hlm. Terj.. 423 [8] Umar Farukh. 24 [18] Harun Nasution. (Bandung: Pustaka Setia..t). 15 [14] Ibid.. 2004). (Wisbaden: Otto Horossowitz. M. Ke IX. 1983). Sebenarnya filsafat Plotinus merupakan filsafat yang murni dan orisinil dalam beberapa pemikirannya.. dkk. (Beirut: Dar al-Fikr. (Bandung: Salman.t. M. Kasidjo Djojo suwarno. al-Milal wa al-Nihal. [17] M.16 [15] Al-Syahrastaniy. Filsafat dan Mitisisme dalam Islam .