You are on page 1of 24

BAB 1

PENDAHULUAN

Polip nasi adalah kelainan mukosa hidung berupa massa lunak yang bertangkai,
berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan, dengan permukaan licin
dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Polip nasi bukan merupakan
penyakit tersendiri tetapi merupakan manifestasi klinik dari berbagai macam penyakit
dan sering dihubungkan dengan sinusitis, rinitis alergi, asma dll. 1
Fenomena Bernoulli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui tempat
yang sempit akan mengakibatkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya. Jaringan
yang lemah akan terisap oleh tekanan negatif ini sehigga mengakibatkan edema
mukosa dan pembentukan polip. Fenomena ini menjelaskan mengapa polip
kebanyakan berasal dari area yang sempit di kompleks ostiomeatal (KOM) di meatus
medius, walaupun demikian polip dapat timbul dari tiap bagian mukosa hidung atau
sinus paranasal dan seringkali bilateral dan multipel. Polip yang berasal dari sinus
maksila (antrum) dapat keluar melalui ostium sinus maksila atau ostium asesoriusnya,
masuk ke rongga hidung dan berlanjut ke koana lalu membesar di nasofaring. Polip ini
disebut polip koana (polip antrokoanal).1
Polip antrokoanal pertama kali ditemukan oleh Killian pada tahun 1906. Karena
itu, polip ini disebut juga sebagai Killian’s polyp.2

1

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Hidung
Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang
dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya sehingga menjadi kavum nasi kanan
dan kiri. Setiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding yaitu dinding medial, lateral,
inferior dan superior. Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai ala nasi, tepat
dibelakang nares anterior, disebut sebagai vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh
kulit yang memiliki banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut yang disebut dengan
vibrise.3
Dinding medial rongga hidung adalah septum nasi. Septum dibentuk oleh
tulang rawan, dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium
pada bagian tulang sedangkan diluarnya dilapisi juga oleh mukosa hidung.

2.1.1. Tulang dan kartilago
Bagian tulang terdiri dari:
1. Lamina perpendikularis os etmoid
Lamina perpendikularis os etmoid terletak pada bagian supero-posterior dari
septum nasi dan berlanjut ke atas membentuk lamina kribriformis dan Krista
gali.
2. Os Vomer
Os vormer terletak pada bagian postero-inferior. Tepi belakang os vomer
merupakan ujung bebas dari septum nasi.
3. Krista nasiis os maksila.
Tepi bawah os vomer melekat pada krista nasi os maksila dan os palatina
4. Krista nasiis os palatina

2

2. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat 3 . Corbridge 1998). Kolumela Kedua lubang berbentuk elips disebut nares. Anatomi Hidung Luar4 Bagian tulang rawan terdiri dari 1. dipisahkan satu sama lain oleh sekat tulang rawan dan kulit yang disebut kolumela (Lund 1997. Kartilago septum (kartilago kuadrangularis) Kartilago septum melekat dengan erat pada os nasi. konka inferior dan konka media yang merupakan bagian dari os etmoid. Dinding lateral rongga hidung dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila. os lakrimalis. sedangkan yang terkecil ialah konka suprema dan konka suprema biasanya rudimenter. Gambar 1. os vomer dan krista nasiis os maksila oleh serat kolagen. dan lamina pterigoides medial. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior. lamina perpendikularis os etmoid. kemudian yang lebih kecil adalah konka media. lamina perpendikularius os palatum. yang lebih kecil lagi konka superior. konka inferior. Pada dinding lateral terdapat empat buah konka.

2 Gambar 2. Dinding superior atau atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior. dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. medius dan superior. ada tiga meatus yaitu meatus inferior. Dinding inferior merupakan dasar hidung yang dibentuk oleh prosesus palatina os maksila dan prosesus horizontal os palatum. os nasi.pada os maksila dan labirin etmoid. sedangkan konka media.olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial konka superior. potongan sagittal4 4 . korpus os etmoid dan korpus os sphenoid. Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui filament-filamen n. Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang dinamakan dengan meatus. superior. prosesus frontalis os maksila. Kavitas nasal. Tergantung dari letak meatus.

Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum. terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon. berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala. Resesus frontal adalah bagian dari sinus etmoid anteroir. disebut resesus frontal. Sel etmoid yang terbesar disebut bula etmoid. Sinus maksila berbentuk segitiga. sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Semua sinus mempunyai muara ke rongga hidung. Sel-sel sinus etmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak. yang terletak di antara konka media dan dinding medial orbita.2. sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri.3 Sinus etmoid berongga-rongga. Sinus Paranasalis Ada empat pasang sinus paranasal yaitu sinus maksila. 3 Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke empat fetus. sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Di bagian terdepan sinus etmoid enterior ada bagian yang sempit. dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung dinding superiornya adalah dasar orbita dan dinding inferior ialah prosesus alveolaris dan palatum. yang berhubungan dengan sinus frontal. Berdasarkan letaknya. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infindibulum etmoid. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina. yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid. letaknya di bawah perlekatan konka media. tempat bermuaranya 5 . sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. sinus frontal.2. sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya dan terletak di postero-superior dari perlekatan konka media.1. Sinus frontal dipisakan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior. dinding posteriornya adalah permukaan infra-temporal maksila. Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal.

ostium sinus maksila. Batas-batasnya ialah. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatsan dengan sinus sfenoid. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. 3 Di meatus medius. sebelah inferiornya atap nasofaring. resesus frontalis. bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila. sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa.karotis interna (sering tampak sebagai indentasi) dan di sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior di daerah pons. Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribosa. sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan a. 3 Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus Paranasalis3 6 . terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus.5 Gambar 3. ada muara-muara saluran dari sinus maksila. Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Daerah ini rumit dan sempit dan dinamakan kompleks ostio-meatal (KOM). sinus frontal dan sinus etmoid anterior.

Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari cabang-cabang arteri fasialis. Daerah ini disebut juga Little’s area yang merupakan sumber perdarahan pada epistaksis.3. Arteri karotis interna memperdarahi septum nasi bagian superior melalui arteri etmoidalis anterior dan superior. Septum bagian antero-inferior diperdarahi oleh arteri palatina mayor (juga cabang dari arteri maksilaris) yang masuk melalui kanalis insisivus. Bagian bawah rongga hidung mendapat perdarahan dari cabang arteri maksilaris interna. Gambar 4. Arteri labialis superior (cabang dari arteri fasialis) memperdarahi septum bagian anterior mengadakan anastomose membentuk pleksus Kiesselbach yang terletak lebih superfisial pada bagian anterior septum. diantaranya ialah ujung arteri palatina mayor dan arteri sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama nervus sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media.Vaskularisasi Bagian postero-inferior septum nasi diperdarahi oleh arteri sfenopalatina yang merupakan cabang dari arteri maksilaris (dari arteri karotis eksterna). Sinus Paranasalis4 2.1. Vena sfenopalatina mengalirkan darah balik dari bagian posterior 7 .

Pada bagian superior vena etmoidalis mengalirkan darah melalui vena oftalmika yang berhubungan dengan sinus sagitalis superior. 3 8 . Vaskularisasi hidung4 2. Sebagian kecil septum nasi pada antero-inferior mendapatkan persarafan sensori dari nervus alveolaris cabang antero-superior.V2).V1).septum ke pleksus pterigoideus dan dari bagian anterior septum ke vena fasialis. Nervus nasopalatina mempersarafi septum bagian tulang. memasuki rongga hidung melalui foramen sfenopalatina berjalan berjalan ke septum bagian superior.4. Sebagian besar septum nasi lainnya mendapatkan persarafan sensori dari cabang maksilaris nervus trigeminus (n.1. selanjutnya kebagian antero-inferior dan mencapai palatum durum melalui kanalis insisivus. Innervasi Bagian antero-superior septum nasi mendapat persarafan sensori dari nervus etmoidalis anterior yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris yang berasal dari nervus oftalmikus (n. Gambar 3.

Gambar 4. 2. Polip antrochoanal berbentuk dumb bell shaped dengan tiga komponen yaitu antral.3. Definisi Polip antrokoanal merupakan pertumbuhan jinak unilateral yang berasal dari mukosa sinus maksilaris dengan pertumbuhannya kedalam ostium sinus maksilaris hingga mencapai koana posterior dan polip terlihat di nasofaring. mengembang di posterior untuk keluar melalui choana ke dalam ruang hidung.2. Aliran limfatik yang berjalan di sepanjang vena fasialis anterior berakhir pada limfe submaksilaris. Innervasi hidung3 2. Polip antrokoanal adalah lesi polipoidal soliter jinak yang timbul dari antrum sinus maksilaris yang menyebabkan opasitas dan pembesaran antrum secara radiologis tanpa bukti kerusakan tulang. Polip tersebut keluar dari antrum melalui ostium aksesori mencapai rongga hidung.2.1. nasal dan nasofaring. Sistem Limfatik Aliran limfatik hidung berjalan secara paralel dengan aliran vena.4.4.5 9 .

5%). Selain itu.7 Berbagai pendekatan pembedahan telah digunakan yaitu pembedahan yang paling sering dilakukan adalah polipektomi endoskopi dan antrostomi meatus tengah pada 28 penderita (70%). Tahir J.6 Pada penelitian yang dilakukan oleh Mohd. Gejala klinis yang sering menjadi masalah utama adalah hidung tersumbat (92. 8 10 . 3 penderita menjalani pembedahan di tempat lain dan 1 penderita mengalami penyakit berulang setelah pembedahan pertama. dkk di Kuala Lumpur Malaysia melaporkan 40 penderita (17 pria dan 23 wanita) polip antrokoanal yang dirawat di Pusat Perubatan UKM selama 10 tahun (Mei 1998 hingga April 2008) yaitu median umur penderita adalah 37 tahun. diikuti oleh hidung berair (45%).3. Tidak ditemukan komplikasi yang besar. 2 penderita menjalani septoplasti dan 1 penderita menjalani sinustomi frontal. 7 Penelitian oleh Berg (1988) dilaporkan 15 kasus polip antrokoanal dalam 3 tahun. lelehan belakang hidung (35%) dan mendengkur (22. Epidemiologi Polip antrokoanal (Killian’s polyp) biasanya jarang terjadi dan kemungkinan muncul pada kelompok ras tertentu. Peneliti merumuskan bahwa penggunaan endoskopi dalam penatalaksanaan antrokoanal polip adalah efektif dengan morbiditas yang minimal.2. Onsetnya biasanya di bawah usia 40 tahun.5%). penelitiannya termasuk polip antrokoanal dari kista intramural yang berkembang melalui ostium sinus maksilaris kedalam rongga hidung. 4 penderita mengalami penyakit berulang. Terdapat 6 penderita (15%) menjalani pembedahan kombinasi antrostomi sublabial. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita. walaupun mungkin juga ditemukan pada semua umur. Seperti polip jinak hidung lainnya biasanya lebih sering muncul pada pria dibanding wanita.

cystic fibrosis. seperti :10  Encephalocele  Glioma 11 . polip jinak yang besar. Sinusitis jamur alergi.4. Paparan terhadap ASA ataupun OAINS lainnya dapat mengarah kepada eksaserbasi asma hingga bahkan syok anafilaktik. situs inversus dan diskinesia siliaris. suatu lesi kongenital. 10. Neoplasma: Polip nasal sederhana dapat dikaitkan dengan keganasan. Triad Samter: Ini adalah tiga serangkai polip hidung. Sindroma Kartagener: Bronkiektasis. asma dan intoleransi aspirin. yang umum terjadi pada orang di atas 40 tahun dan harus dikeluarkan melalui pemeriksaan histologis. 5. Cystic fibrosis: Gangguan motilitas siliaris dan komposisi abnormal dari lendir hidung. 8. Sindrom Young: penyakit Sinopulmonary dan azoospermia. serta tumor jinak ataupun ganas. Hidung mastositosis: Mukosa hidung disusupi sel mast dengan sedikit eosinofil. rinitis alergi.9 Inflamasi kronis kiranya memiliki peranan awal dalam patogenesis polip nasi. 2. Tes kulit untuk tingkat alergi dan IgE normal. yaitu :4. 3. dan allergic fungal sinusitis. sinusitis.2. Etiologi Etiologi polip nasi masih belum diketahui secara pasti. Banyak pasien yang sensitif terhadap ASA ataupun OAINS (obat anti inflamasi non steroid) namun tidak mengetahuinya.9 1. Sensitifitas terhadap ASA (asam asetilsalisilat) Pasien biasanya mengalami onset asma pada saat dewasa dengan polip nasi dan sinusitis kronis. 4. kista duktus nasolakrimalis. eosinofilia. Rhinosinusitis : Alergi maupun non-alergi dan rhinitis non-alergi dengan sindrom eosinofilia. Sindrom Churg-Strauss: Asma. demam. 7. 9. Polip multipel muncul pada anak dengan sinusisit kronis. Suatu polip tersendiri dapat menjadi polip antrokoanal. 6. vaskulitis dan granuloma. Namun terdapat beberapa keadaan yang berhubungan dengan polip nasi.

rendahnya angka kejadian 12 .6.8 2. deviasi septum nasal. obstruksi hidung persisten. Beberapa kasus yang jarang. Polip antrokoanal berbeda dari inflamasi kronik. Infeksi pada mukosa dapat memudahkan terjadinya penutupan kelenjar asinus.5. polip sinus maksilaris hanya mempunyai sedikit gejala minor yaitu proses terjadinya sedikit lama. Gejala Klinis Gejala klinis utama adalah hidung tersumbat unilateral dan disertai nasal discharge. patogenesisnya dan penatalaksanaannya.  Papilloma  Juvenile nasopharyngeal angiofibroma  Rabdomiosarkoma  Limfoma  Neuroblastoma  Sarkoma  Karsinoma nasofaring  Inverting papilloma 2. Bagian antral telah dilaporkan sebagai polipoid atau kista.8 Ada beberapa kelenjar mukosa asinus didalam antrum maksilaris. Yang masih menjadi kontroversi adalah asal. tingginya angka kejadian sakit kepala. Karena hal tersebut maka formasi sebuah kista yang mana dapat berkembang kedalam sinus sampai ke ostium membentuk polip antrokoanal pada hidung dan nasofaring. adanya kista pada stroma polip. Patofisiologi Polip antrokoanal termasuk penyakit inflamasi sinus maksilaris. sedikitnya terjadi obstruksi ostium maksilaris. Terjadinya infeksi bakteri pada sinus diikuti dengan rhinosinusitis. infeksi sinus etmoidalis anterior akan mengakibatkan sinusitis maksilaris kronik. Hal ini masih menjadi kontroversi bagi beberapa peneliti. gejala polip antrokoanal tidak khas. penipisan membran basal. Selain faktor anatomi seperti bulosa konka.

Pada 2 kasus penelitian.metaplasia sel skuamosa dan tingginya proporsi perpindahan sel dalam cairan hidung.5) Hiposmia 4 (10) Gumpalan dalam tenggorokan 4 (10) Rasa tidak nyaman pada hidung 4 (10 Tabel 2. 7 Gejala klinis n (%) Sumbatan hidung 37 (92.7 Tabel 1. 7 Gejala klinis n (%) Sinusitis kronis 20 (50) Deviasi septum 5 (12. postnasal drip (35%) dan mendengkur (22.5) Polip etmoid 4 (10) Konka bulosa 4 (10) Bilateral inferior turbinate hypertrophy 1 (2.5%).5) Nyeri kepala 5 (12. yang mana tidak ditemukannya gambaran tipe morfologi dari alergi berhubungan polip (eosinofilik). Observasi rinologis yang berhubungan dengan polip antrokoanal.11 Mohd Tahir J dkk meneliti bahwa gejala klinis yang paling sering adalah sumbatan hidung (92.5%) diikuti dengan rinorea (45%). Gejala klinis dari 40 penderita dengan polip antrokoanal. dapat didiagnosis alergi tapi hal ini tidak sama dengan polip.5) Rinorrea 18 (45) Postnasal drip 14 (35) Mendengkur 9 (22.5) 13 .

tampak di rongga hidung tapi belum menyebabkan obstruksi total d.7. Grade 3 : Polip sudah menyebabkan obstruksi total Gambar 5.2. Grade 0 : Tidak ada polip b. Grade 1 : Polip terbatas pada meatus media c.8 Polip nasi yang masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung tampak mekar karena pelebaran batang hidung. Grading polip menurut Mackay dan Lund 14 . kadang-kadang disertai dengan nyeri kepala.8 Pembagian polip nasi menurut Mackay dan Lund:12 a. serta ditemukannya massa polipoid pada hidung melalui rinoskopi anterior dan/atau posterior. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior dapat terlihat adanya massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan. Grade 2 : Polip sudah keluar dari meatus media. Diagnosis Dari anamnesis ditemukan adanya sumbatan hidung unilateral disertai nasal discharge. dari pemeriksaan fisik biasanya mengarah kepada polip antrokoanal yaitu ditemukannya polip yang berasal dari mukosa sinus maksilaris dengan pertumbuhannya kedalam ostium sinus maksilaris hingga mencapai koana posterior dan polip terlihat di nasofaring.

Pemeriksaan radiologis mengunakan CT-Scan dan MRI (jarang) dapat membantu menegakkan diagnosis polip antrokoanal. 5 15 .13 Gambar 7. Pemeriksaan CT-Scan juga diperlukan untuk mengevaluasi perluasan penyakit serta hubungannya dengan kelainan etmoidal. Polip antrokoanal yang menggantung dari nasofaring sampai ke orofaring.8 Gambar 6. Pada CT-Scan biasanya ditemukan gambaran massa jaringan lunak pada antrum yang sampai ke bagian hidung dan nasofaring. yang nantinya akan membantu untuk merencanakan terapi. Polip antrokoanal kiri yang menggantung ke dalam orofaring.

Gambar 8.13 Gambar 9. CT-Scan koronal yang memperlihatkan gambaran polip antrokoanal yang tumbuh dari antrum maksila kanan yang meluas ke dalam rongga hidung kanan melalui pelebaran ostium sinus.5 16 . Gambaran CT-Scan sinus paranasal yang memperlihatkan suatu jaringan lunak yang menempati seluruh antrum kiri yang meluas sampai ke etmoid.

Karena konka memiliki banyak suplai pembuluh darah dan diatur oleh sistem saraf parasimpatis. Semua individu dapat mengalami disfungsi konka dalam suatu waktu dalam hidupnya. Penyebabnya termasuk infeksi saluran nafas bagian atas. Beberapa diagnosis yang mungkin adalah sebagai berikut : 1. Disfungsi konka (Turbinate Dysfunction). Diagonosis Banding Diagnosis sangat mengarah kepada polip antrokoanal apabila antrum maksilaris meluas dan terdapat massa nasofaringeal. Obat-obatan dan hormon juga dapat memicu hal ini. dan rinitis vasomotor. semua hal yang mempengaruhi dua hal ini akan mempengaruhi konka. rinitis alergi. Sumbatan hidung merupakan suatu gejala umum yang berhubungan dengan disfungsi konka.8. Gejalanya dapat berupa obstruksi total ataupun sumbatan ringan dan/atau rinorea. Gejalanya dapat ringan. Infeksi dan peradangan merupakan penyebab paling sering. Hipertrofi mukosa dari konka inferior kanan dengan obstruksi airway total 17 . atau dapat berat hingga membutuhkan dekongestan topikal seperti oxymetazoline atau phenylephrine.2.14 Gambar 10. Etiologi disfungsi konka merupakan multifaktorial.

sumbatan jalan nafas. Tumor ganas nasofaring yang paling sering terjadi pada ana-anak adalah limfoma. 3. Chronic hypertropic polypoid rhinosinusitis. Chronic hypertropic polypoid rhinosinusitis. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya instabilitas vasomotor pada saluran nafas bagian atas seperti obat-obatan. Tumor ganas nasofaring. Ditandai dengan adanya instabilitas vasomotor.14 18 . ketidakseimbangan hormonal.13 Gambar 11. dan infeksi superimposed. Tumor ini cenderung menyebabkan kerusakan struktur tulang. hipertrofi mukosa polipoid.2. Polip hipertrofi dapat terjadi unilateral ataupun bilateral. Keadaan ini mempengaruhi epitel saluran nafas bagian atas. Alergi juga sering sebagai faktor penyebab terutama apabila perubahannya terjadi bilateral. dan faktor psikogenik. rabdomiosarkoma. pelebaran jaringan adenoid atau terjadi invasi ke dalam sinus paranasal. Neoplasma ini dapat menyebabkan terjadinya kesulitan dalam mendiferensial diagnosis. limfoepitelioma. Jenis-jenis ini biasanya tidak dapat dibedakan dengan menggunakan pemeriksaan radiologis. dan neuroblastoma olfaktori. Diperlukan pemeriksaan CT-Scan untuk mengevaluasi perluasan tumor. Merupakan 1% dari seluruh tumor ganas. infeksi.

sumbatan hidung. Tumor Nasofaring9 4. atau adanya massa di nasofaring. paling sering muncul di nasofaring atau posterior rongga hidung. Gejalanya dapat berupa epistaksis.14 Gambar 13. Ekstensif angiofibrma3 19 . Gambar 12. Juvenile nasopharyngeal angiofibroma Merupakan suatu tumor jinak vaskuler yang dapat merusak jaringan sekitar.

Operatif Hampir pada semua kasus polip dilakukan tindakan pembedahan.9. Posisi saat meneteskan dalam posisi telentang dengan kepala menengadah. banyak literatur mengenai pengobatan polip yang masih tidak begitu efektif.13 2. pengobatan preoperatif menggunakan kortikosteroid sangat bermanfaat. Sangat disayangkan. Posisi ini memungkinkan penetrasi obat lebih mudah ke dalam etmoid.9. 20 . dan apabila polip tidak menyebabkan sumbatan hidung secara total. 2 kali sehari pada masing-masing sisi diberikan dalam waktui 1 bulan. Untuk mengontrol alergi dan infeksi penggunaan steroid juga dapat digunakan (lokal maupun sistemik). pemberian kortikosteroid oral harus dihindari walaupun pengobatan ini lebih baik daripada pengobatan kosrtikosteroid topikal. Penatalaksanaan 2. Polip dapat hilang secara sempurna dan pengobatan ini harus diteruskan minimal 3 bulan. Hampir seluruh ahli bedah saat ini mengobati polip secara pembedahan. Tetes hidung betametason.2. Menurut Mackay jika suatu operasi tidak lebih efektif dibandingkan dengan pengobatan lainnya.12 Proporsi pasien yang sensitif terhadap kortikosteroid masih belum pasti. Pilihan lain seperti triklormetasone atau flumisolid dapat digunakan. Terutama pada pasien yang sudah tidak memberikan respon yang baik terhadap pengobatan farmakologi. tetapi banyak polip yang sensitif terhadap kortikosteroid. dapat di berikan pengobatan dengan antihistamin dan dapat memberi hasil yang baik dengan kembalinya polip menjadi normal.9.1. Medika mentosa Pada fase awal perubahan dari polip. yang paling baik adalah melakukan yang paling sederhana dengan resiko yang minimal bagi pasien.2.

Harus berhati-hati dalam membuka ostium sinus frontal secara luas untuk mencegal mukokel yang merupakan komplikasi lanjut dari pembedahan.14 Pembedahan merupakan pilihan terapi dari polip antrokoanal. harus diperhatikan ketika menggunakan forceps jangan terlalu ke medial ataupun ke lateral. polip dapat diangkat dengan suatu avulsi atau dengan pemotongan atau penggunaaan forceps seperti Tilley Henckel`s. Pada kasus seperti ini dibutuhkan pengangkatan radikal melalui sublabial. Walaupun etmoidektomi intranasal disarankan oleh beberapa ahli. polipektomi sederhana masih merupakan prosedur yang komplit dan aman. Tidak ada penelitian yang menyatakan bahwa etmoidektomi ekternal dapat mencegah kekambuhan. Etmoidektomi eksternal dilakukan melalui insisi medial ke dalam kantus interna (Howarth’s) atau melalui insisi pada kulit di bawah batas intraorbita (Patterson’s). seluruh mukosa polipoid harus diangkat dari etmoid. . External ethmoidectomy . Pengangkatan sederhana yang dilakukan pada awalnya dengan menggunakan nasal snare atau polyp-forceps dapat menghilangkan gejala dan pasien akan merasa kembali baik dalam beberapa tahun. . dan juga dilakukan teknik partial turbinectomy. walaupun ada beberapa ahli yang mengatakan demikian. Intranasal ethmoidectomy. Namun sering terjadi kekambuhan yang disebabkan bagian antral dari polip masih tertinggal. Krause’s nasal snare digunakan untuk menghilangkan polip pada hidung .. Prosedur ini disebut 21 . Seluruh sel dapat diangkat apabila orbita dan seluruh bagian-bagiannya telah digeser ke lateral dan pembuluh darah etmoidal interior dipisahkan. Transantral etmoidectomy Terdapat pandangan yang berbeda pada jenis operasi yang dibutuhkan untuk polip nasi. Polipektomi sederhana merupakan operasi pilihan.

Namun akan sangat meningkatkan kualitas hidup individu. Diperkirakan bahwa pasien yang mengalami polip pada usia yang lebih muda dan memiliki riwayat keluhan hidung yang lama biasanya lebih besar berkemungkinan mengalami kekambuhan. Apabila gejalanya lebih berat. Angka rata-rata terjadinya rekurensi sangat bervariasi. karena dapat menyebabkan deformitas fasio-maksilaris dan kerusakan gigi permanen yang terletak di antrum maksila. Sangat sulit untuk mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya kekambuhan. terapi pun dapat minimal. tujuan dari manajemennya adalah mengontrol gejala. Antrum maksila dibuka dan polip diangkat dari antrum.16 2.10.18 22 . Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Drake dkk selama 2 tahun menunjukkan bahwa 5% pasien memiliki riwayat polipektomi lima kali atau lebih. dan apabila juga terdapat hipersensitivitas terhadap aspirin akan lebih bertambah lagi kemungkinannya.15 Pada anak-anak prosedur ini tidak dapat dilakukan. Namun hal ini tidak menurunkan angka kemungkinan terjadinya kekambuhan. Terapi medis maupun bedah keduanya tidak menjamin polip tidak akan kembali lagi.17 Polip nasi mirip seperti gulma. Prognosis Rekurensi polip nasi merupakan suatu masalah yang masih dihadapi oleh para ahli. Sangat sulit untuk dieradikasi secara tuntas. dengan Caldwell-Luc operation. terapinya pun harus lebih luas. Pasien dengan penyakit nasal yang berat sering membutuhkan operasi yang lebih besar. Terapi antihistamin jangka panjang lebih dipilih untuk mengontrol alergi. Oleh sebab itu. Pasien dengan asma akan mengalami kekambuhan yang lebih sering pada umumnya. Apabila pasien hanya memiliki gejala minimal.

nasal dan nasofaring. . BAB 3 KESIMPULAN Polip nasi adalah kelainan mukosa hidung berupa massa lunak yang bertangkai. cystic fibrosis. dan allergic fungal sinusitis. Penatalaksanaan untuk polip antrokoanal pada fase awal adalah pemberian antihistamin dan kortikosteroid. berbentuk bulat atau lonjong. serta tumor jinak ataupun ganas. dengan permukaan licin dan agak bening karena mengandung banyak cairan. berwarna putih keabu-abuan. Suatu polip tersendiri dapat menjadi polip antrokoanal. Polip muncul pada anak dengan sinusisit kronis. mengembang di posterior untuk keluar melalui choana ke dalam ruang hidung. Pasien yang mengalami polip pada usia yang lebih muda dan memiliki riwayat keluhan hidung yang lama biasanya lebih besar berkemungkinan mengalami kekambuhan. kista duktus nasolakrimalis. rinitis alergi. Polip antrokoanal adalah lesi polipoidal soliter jinak yang timbul dari antrum sinus maksilaris melalui ostium aksesori mencapai rongga hidung. dari pemeriksaan fisik biasanya mengarah kepada polip antrokoanal yaitu ditemukannya polip yang berasal dari mukosa sinus maksilaris dengan pertumbuhannya kedalam ostium sinus maksilaris hingga mencapai koana posterior dan polip terlihat di nasofaring. Polip antrochoanal berbentuk dumb bell shaped dengan tiga komponen yaitu antral. 23 . serta ditemukannya massa polipoid pada hidung melalui rinoskopi anterior dan/atau posterior. Terutama pada pasien yang sudah tidak memberikan respon yang baik terhadap pengobatan farmakologi. Gejala klinis utama adalah hidung tersumbat unilateral dan disertai nasal discharge. Diagnosis polip antrokoanal berdasarkan anamnesis ditemukan adanya sumbatan hidung unilateral disertai nasal discharge. suatu lesi kongenital. polip jinak yang besar. kadang-kadang disertai dengan nyeri kepala. Hampir pada semua kasus polip dilakukan tindakan pembedahan.

2014. Braz J Otorhinolaringol. The antrochoanal polyp. Reproducibility of the three-dimensional endoscopic staging system for nasal polyposis. Helena M. Indian J Otolaryngol and Head and Neck Surgery. 2009. Antrochoanal polyps and allergy – a comparative study. 2016.43:178-182 24 . John T. 2013. Antrochoanal polyposis: a review of sixteen cases. Huge antrochoanal polyp mimicking double tongue. Kuwait Med Journ. Ivan S. Int J Dent Med Res.3(4):1162-66 13.57(2):78-82 14. Ender G. 2014. Elsevier : New York. Antrochoanal polyp : analysis of 200 cases. Acta Otorhinolaryngol Italica. 2004. Cveta S. Saunders: Philadeplhia 5. Giesela F. Silke Anna. Shruti D.Srinivasa. Ear Nose Throat J. Yaman. 4. Throat & Head and Neck Surgery 6 th Edition. Dhingra. Panduranga.37(3):182-184 15. Isha Preet. Megha K. Sharma. Al-Mazrou.33:107-111 2. DAFTAR PUSTAKA 1.3(2):110- 114 17. Rogerio PG. Sebastio DP. P. Kamath. 2005. V Sandeep. Marcos RB. Padmnabhan K. Characteristic of antrochoanal polyps in the pediatric age group. A. Suleyman Y. U. Evaluation and management of antrochoanal polyps. Sharkawy. Nose and Throat Second Edition. 2006. Rev Rhinology. Abdurrahman I. Abdurrahman Al. Isam A. Nicodemos J. M. Jaypee Brothers Medical Publisher: London. Ozcan O. Asuncion M. Mirkovic. Mariana M.4(3):133-136 12. Weber. Hansen. Int J Contemp Med Res. Nose. Biserka V.72(6):831-35 8. 7. Picarella E. Clinical case report of a large antrochoanal polyp. 2009. Acta Otorhinolaryngologica Italica. 2009. Viviane CS. Netter’s Clinical Anatomy : Nasal region. 2013. Suja S. BS. Annal of Throracic medicine. Tuli. Clin Exp Otorhinolaryngol 2010. Elif K. Huseyin. 6. Textbook of Ear. nose & throat: Nasal polyps. Bansal.L. Jaypee Brothers Medical Publisher: New Delhi. Mohan. Celso G. Maldonado. Padam S. 2008. Sanosi. Mohit G. Acta Medica. Endoscopic management of paediatric antrochoanal polyp. Sousa. Disease of Ear. Frossini P. Miguel. Joaquim M. 2010.74(1):16-20 9. De Campora. Manish. 2002 March 54(1):1-4 3. Incidence and evolution of nasal polyp in children and adolescents with cystic fibrosis. Endoscopic excision of the antrochoanal polyp. Clinical and radiological study of antrochoanal polyps.1(6):130-132 10. Manal B.29:21-26 16.75(6): 814-20 11. Khalid A. Mahesh C. Rao. 2013. Rev Bras Otorhinolaringol. 2015 Mar. Marcello Castro. Disease of ear. Aleksandar P.