You are on page 1of 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun
historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu
memperkuat keberadaan filsafat. Pada perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam
beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan dan ukuran yang
berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya (Semiawan, 2005).
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal
yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan
manusia (The Liang Gie, 2004). Sedangkan menurut Lewis White Beck, filsafat ilmu
bertujuan membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba
menemukan nilai dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
Pembahasan filsafat ilmu sangat penting karena akan mendorong manusia untuk lebih
kreatif dan inovatif. Filsafat ilmu memberikan spirit bagi perkembangan dan kemajuan ilmu
dan sekaligus nilai-nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologis,
epistemologis maupun aksiologi.

B. TUJUAN
Tujuan makalah ini adalah membahas tentang dimensi kajian filsafat yang terbagi
menjadi tiga poin utama yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Namun pada makalah ini
terfokus pada konsep ontologi. Sehingga diharapkan dapat memahami mengenai konsep
ontologi bagi kehidupan manusia.

Dengan demikian. Definisi Entologi Istilah ontologi muncul sekitar abad ke-17 yang dikenal dengan ungkapan mengenai “filsafat mengenai yang – ada” (philosophia entis). meliputi fenomena yang dapat diobservasi. dan Logos berarti ilmu. Dalam bahasa inggris disebut ontologi memiliki pengertian : a. metode dan teknik memperoleh data empiris. KONSEP ENTOLOGI 1. dapat diukur. di samping aspek prosedural. On atau Ontos yang berarti ada. Martin Heidegger (1889-1976) memahami ontologi sebagai analisis eksistensi dan yang memungkinkan adanya eksistensi. Suatu asumsi tentang eksistensi (kehadiran. diinterpretasi. Kesemuanya itu lazim disebut metode ilmiah. yaitu meliputi aspek normatif mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah. dari segi ontologis. Telaah ketiga ialah dari segi aksiologi yaitu terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu yang diperoleh. Adapun dalam Kamus Filsafat Ontologi merupakan suatu studi tentang sisi esensial dari yang ada. yaitu tentang apa dan sampai di mana yang hendak dicapai ilmu. . Menurut bahasa. Para eksistensialis menunjukkan bahwa pengetahuan apa pun yang dikembangkan haruslah dikembalikan pada eksistensi dan ke-eksistansi-an manusia sebagai “ Ada” yang mengadakan atau “pengada actual” (causa efficiens). ontologi adalah ilmu tentang yang ada. A. BAB II PEMBAHASAN Ketika kita membicarakan tahap-tahap perkembangan pengetahuan tercakup pula telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai hakikat ilmu. keberadaan) yang mendasari setiap pola konseptual atau setiap teori atau sistem idea b. Jadi. Dalam hal ini menyangkut yang mempunyai eksistensi dalam dimensi ruang dan waktu. dan ditarik kesimpulan. diverifikasi. ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu. meliputi langkah-langkah pokok dan urutannya. Pertama. sehingga datanya dapat diolah. Telaah yang kedua adalah dari segi epistimologi. Ini berarti sejak awal kita sudah ada pegangan dan gejala sosial. termasuk proses logika berpikir yang berlangsung di dalamnya dan sarana berpikir ilmiah yang digunakannya. dan terjangkau oleh pengalaman inderawi. Suatu cabang penelitian metefisika yang berhubungan dengan kajian eksistensi itu sendiri .

yaitu segala sesuatu yang tanpa batas. Keberadaan ontologi dipandang dari segi jumlah 1) Monoisme. yaitu hakikat materi dan hakikat rohani. Filosof modern yang termasuk penganut monoisme adalah B. metafisika juga disebut sebagai prote-filisofia atau filsafat yang pertama. yaitu aliran yang mengatakan bahwa hanya ada satu kenyataan fundamental. yaitu air. Hubungan antara keduanya itulah yang menciptakan kehidupan alam ini. Menurut Ibnu Khaldun ontologi merupakan teori tentang yang wujud (suatu yang wujud) dan kadang-kadang juga ontologi disamakan dengan metefisika. Kedua hakikat saling berbeda dan benar-benar terpisah satu sama lain dan yang satu tidak tergantung dengan yang lainnya. Dalam hal ini tuhan diidentikkan dengan alam (naturans naturata). dan rohani pun tidak lahir dari materi. . menampilkan pemikiran semesta universal. Descrates menamakan kedua hakikat itu dengan istilah “dunia kesadaran” (rohani) dan “dunia ruang” (kebendaan) atau cagitato dan extencio. Dengan demikian monoisme adalah bagian pemahaman ontologi yang mendeskripsikan bahwa hanya ada satu hakikat sebagai sumber asal ini. Ontologi membahas tentang yang ada secara universal. yaitu aliran yang berfaham bahwa alam maujud ini terdiri dari dua macam hakikat sebagai sumbernya. yaitu tuhan. Secara istilah ontologi adalah ilmu yang memperlajari tentang hakikat yang ada (ultimate reality) baik jasmani/konkret maupun rohani/abstrak Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret. Tokohya antara lain: Thales (625-545 SM). Kedua hakikat itu masing-masingnya bebas dan berdiri sendiri sama azali dan abadi. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan 2. yang berpendapat bahwa kenyataan yang terdalam adalah satu subtansi. berpendapat bahwa hanya ada satu satu substansi. tidak dapat ditentukan dan tidak memiliki persamaan dengan salah satu benda yang ada dalam dunia. Anaximander (610-547 SM) berkeyakina bahwa yang merupak kenyataan terdalam adalah aperion. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa. Materi bukan lahir dari rohani. berkeyakinan bahwa yang merupakan unsur kenyataan yang sedalam dalamnya adalah udara. Anaximenes (585-528 SM). tidak ada yang selian selain satu tersebut. Spinoza. 2) Aliran Dualisme. materi. tuhan atau subtansi lainnya yang tidak dapat diketahui. Keberadaan Ontologi a.

Pluralisme tertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Unsur yang terbanyak dalam campuran itu menentukan rupa barang. seperti kerapian yang terlihat pada benda-benda langit. namun mereka berbeda dalam menentukan kodrat penggerak dari luar. Ia berada dalam segalanya. Tokoh aliran ini pada masa Yunani kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles. Itulah beberapa tokoh pluralis dengan teorinya masing-masing.3) Pluralisme. Sedangkan menurut Anaxagoras hanya satu. yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari empat unsur. paham ini beranggapan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Jadi kaum pluralis tersebut walaupun tentang banyaknya anasir yang merupakan asal dari setiap benda ini. matahari. air. Tetapi perubahan-perubahan ini semua menurut dia akibat “cinta dan benci”. dimana tidak satupun yang dapat bertahan dalam satu bentuk dan keadaan saja. dan udara. ia tidak terhingga berkuasa atas diri dan berada dengan sendirinya pula. Barang yang berbeda rupanya itu bergantung kepada kedudukan campuran anasir (unsure-unsur) yang asal. Akal itu awal dan akhir dari segalanya. Mereka sepakat bahwa di alam ini selalu terjadi perubahan abadi yaitu percampuran atau perpisahan anasir asal. Tubuh yang kuat menjadi rontok dan akhirnya kembalilah menjadi tanah. api. tetapi apabila datang benci unsur-unsur itupun berpisah satu demi satu. Apabila dijalin oleh cinta unsur-unsur itu berkumpul dan tersusun rapi. tapi bukan bagian daripadanya. api dan udara. Faktor inilah yang dianggapnya menjadi sebab berkumpul dan berpisahnya keempat faktor itu. yaitu tanah. air. Lain pula halnya Anaxagoras yang mengatakan bahwa bahan dasar itu bukan empat tetapi tidak terhingga jumlahnya. . dan bintang-bintang. Kalau Empedocles mengatakan gerakan bercampur dan berpisah disebabkan oleh dua kekuatan dasar yang disebut dengan “cinta” dan “benci”. Kesemuanya adalah bibit yang diatur oleh akal (nous) dan ditempatkan masing-masingnya pada tempat yang layak pada suatu susunan yang rapi. bulan. yaitu kodrat dari alam ini hanya satu yaitu akal (nous). Heracleitos juga beranggapan bahwa kehidupan alam ini sebagai perubahan abadi. terjadilah satu benda. Tiap-tiap barang mengandung zat dari segala barang.

Idealisme berasal dari kata ”Ideal” yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. materil. kerusakan pada zat akan menimbulkan kerusakan pada jiwa. Tokoh aliran ini adalah demokritos (460-370 SM). akal (mind) atau jiwa (self) dan bukan benda material dan kekuatan. perbedaannya hanya tentang besar. dapat disentuh. berpendapat bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia merupakan gerak dari materi. dan bahwa alam. keyakinan. berkeyakinan bahwa alam semesta tersusun atas atom-atom kecil yang memiliki bentuk dan badan. Kesadaran berhubungan dengan saraf. ). tidaklah suatu kenyataan yang berdiri sendiri. Jiwa pun menurut demokritos dikatakan terjadi dari atom-atom. sedangkan yang lain dari materi seperti roh (jiwa). perasaan adalah gerak materi belaka karena segala sesuatu yang terjadi dari bernda-benda kecil. termasuk di dalamnya segaa materi dan energi (gerak atau tenaga) selalu ada dan akan tetap ada. Hal-hal yang bersifta kerohanian seperti jiwa. alam. bentuk. sedangkan pemikiran tentang dunia ini adalah nomor dua. dan bergerak. tetapi merupakan hakikat daripada proses gerakan kebendaan dengan salah satu cara tertentu. rasa sedih. Atom ini mempunyai sifat yang sama. dan dunia materil adalah yang pertama. adalah realitas yang keras. Pendapat tersebut dikuatkan dengan dasar antropologi bahwa kebenaran itu berupa materi (zat). Materialisme modern mengatakan bahwa materi itu ada sebelum jiwa. Peristiwa jiwa dan perasaan amat ditentukan oleh keadaan jasmani menentukan pula keadaan rohani.Thomas Hobbes (1588- 1679). Materialisme modern mengatakan bahwa alam (universe) itu merupakan kesatuan materil yang tak terbatas: alam termasuk material yang tak terbatas. objektif. 2) Spiritualisme atau Idealisme Aliran spiritualisme juga disebut idealisme (serba cita). Aliran ini sering disebut naturalisme. Muslim Munaf menyatakan bahwa aliran ini beranggapan . Keberadaan ontologi dipandang dari segi sifatnya 1) Materialisme Aliran materialisme yang berfaham bahwa hakikat itu ialah materi. bulat. yang dapat diketahui oleh manusia. hanya saja atom-atom jiwa itu berbentuk kecil. Termasuk juga pikiran. dan letaknya. pikiran-pikiran.b. dan rasa senang tidak lain hanyalah ungkapan proses kebendaan. Berdasarkan pada pengalaman dan penelitian keadaan jiwa amat bergantung kepada zat (badan). Itulah beberapa alasan yang dijadikan dasar bagi paham materialisme. Idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide.

yaitu: a) Ajaran yang menyatakan bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh ( pneuma. yaitu pada pandangan Grogias (483-360 SM) yang memberikan tiga proporsi tentang realitas. c. d) Kepercayaan bahwa roh orang mati berkomunikasi dengan yang Masih hidup melalui perantara atau orang tertentu dan lewat bentuk wujud yang lain. Idea atau cita tidak dapat ditangkap dengan indra (diserap). b) Kadang-kadang dikenakan pada pandangan idealistis yang menyatakan adanya roh mutlak. sedangkan yang ditangkap oleh indra manusia hanyalah bayang-bayang. Spiritualisme mengandung beberapa arti. Tokoh aliran ini diantaranya adalah Fredrich Nietzsche (1844-1900 M). Aliran Lain yang berkaitan antara ontologi dan Metafisika 1) Nihilisme. Tokoh aliran ini antaranya Plato dengan ajrannya tentang Idea (cita) dan jiwa. yaitu: . Sedangkan materi atau zat itu hanya satu jenis dari penjelmaan rohani. Dan pada kenyataannya moral di Eropa sebagian besar masih bersandar pada nilai-nilai kristiani. Dunia indra dalam pengertian ini dipandang sebagai dunia ide. tetapi dapat dipikirkan. Dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Spiritualisme dalam arti ini dilawankan dengan materialisme. yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan tidak menempati ruang. nous. Semua yang ada dalam dunia hanyalah penjelmaan atau bayangan saja. Tetapi tidak dapat dihindarkan bahwa nilai-nilai itu akan lenyap. yakni roh yang mengisi dan mendasari seluruh alam. Istilah spiritualisme lebih tepat dikenakan kepercayaan semacam ini. Idea atau cita adalah gambaran asli segala benda. reason. c) Dipakai dalam istilah keagamaan untuk menekankan pengaruh langsung dari roh suci dalam bidang agama. Allah Kristiani dengan segala perintah dan larangannya sudah tidak merupakan rintangan lagi. Dengan demikian ia sendiri harus mengatasi bahaya itu dengan menciptakan nilai-nilai baru. Doktrin tentang Nihilisme sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani kuno. logos). bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam ini semuanya berasal dari roh (sukma). Dalam pandangannya bahwa “Allah sudah mati”. dengan transvaluasi semua nilai. dari keluarga pendeta. Dilahirkan di Rocken di Pursia. berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif positif.

Ilustrasi Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. yaitu ahli-ahli agama yang beranggapan dapat memberikan keterangan yang mendalam tentang hakikat sesuatu. abstraksi bentuk. Hal ini terutama berlaku di sekitar abad ke 2-5. Heidegger. a) Tidak ada sesuatupun yang eksis. 2) Agnotisisme. yaitu : abstraksi fisik. dan Jaspers. Seorang agnosis bersikap percaya tidak kepada tuhan. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. yaitu faham yang mengingkari pengetahuan dalam tentang agama. dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi ciri semua sesuatu yang sejenis. penginderaan itu sumber ilusi c) Sekalipun realitas itu dapat kita ketahui. Faham ini dipakai oleh kaum gnostik. Ia tidak mengacuhkan tuhan dan tidak menghiraukan agama. dan abstraksi metaphisik. ia tidak dapat diketahui. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek. badan itu fana . sehingga mereka beranggapan dapat memberikan keterangan tentang alam metafisika melalui pemikiran kosmogebik dan mitos timur. Sartre. Kata agnosticismeberasal dari bahasa Grik Agnotos yang berarti unknow artinya not. yaitu : a. ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. Kedudukan faham ini adalah antara teisme dan ateisme. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Realitas itu sebenarnya tidak ada b) Bila sesuatu itu ada. 3. Pembuktian a priori Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat. Gno artinya know. Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara kongkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat dikenal. Tokoh aliran ini seperti. tidak percaya pun tidak. ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya. Soren Kierkegaar (1813-1855 M) Bapak Filsafat Eksistensialisme. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahiriah itu fana Badan itu sesuatu yang lahiriah Jadi.

kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaur Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi. Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinilai? 4. pertanyaan pokoknya adalah “apakah ada itu?”. b. term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan. Dinausaurus itu pemakan tumbuhan Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu? 2. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. EPISTEMOLOGI Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theori of knowledge). metode dan syahnya (validitas) pengetahuan. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. Memang sebenarnya. Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman). Secara etomologi. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. istilah etomologi berasal dari kata Yunani episteme = pengetahuan dan logos = teori. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan- . Pembuktian a posteriori Pembuktian a posteriori secara ontologi. term tengah ada sesudah realitas kesimpulan. struktur. B. sedangkan dalam epistemologi pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui?” Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. Dalam metafisika. sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek. Dari mana pengtahuan itu dapat diperoleh? 3. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan.

Vincent. Rasionalisme Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Rasionalisme dikenalkan pertama kali dalam studi filsafat dengan tokohnya yang terkenal adalah Rene’ Descrates. melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan 1. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan. atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman- pengalaman inderawi.yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Menurutnya. Rasionalis . maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. Karena kebenaran berasal dari ratio (akal). Menurut Locke. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu.kemungkinan dan bukannya kepastian. rasionalis awalnya diperkenalkan dari sebuah asosiasi penulis klasik seperti Gratius dan Vattel. rasionalisme baru mulai diperkenalkan pada tahun 1950 oleh Andrew Linklater. Namun dalam studi hubungan internasional. bapak empirisme Britania. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman. seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut. Sedangkan pemikir modernnya adalah Hadley Bull. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan. dalam bukunya yang berjudul ‘Rationalism’. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. John Locke. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio. mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa). 2. Empirisme Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita. dan Watson. karena manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati. atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual. yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material.

yang menggunakan pisau Rasionalisme dan Empirisme. pengetahuan murni dapat diperoleh (empirisme). Locke. Pengetahuan empiris analitis yang kemudian menjadi ilmu-ilmu alam. seperti yang dianut oleh ilmu pengetahuan modern. Kemudian pada titik inilah lahir pemikiran positivisme. dan bidang ilmu sosial lainnya. Pada jalur pertama tokoh yang berdiri ialah Plato. dan Hume berdiri sebagai tokohnya. Di jalur kedua. bahwa pengetahuan murni hanya dapat diperoleh melalui rasio manusia itu sendiri (rasionalisme). bahwa kepentingan internasional harusnya tidak berdasarkan pada jaminan. antropologi. Dalam bukunya. yakni pembebasan pengetahuan dari kepentingan. Rene Descartes. serta sebagai awal pencapaian cita-cita untuk memperoleh pengetahuan demi pengetahuan. ilmu-ilmu alam memperkembangkan konsep teori murni. dimana hal ini berlangsung dalam dua jalur. Kemudian. Rasionalisme diambil berdasarkan teori realisme dan idealisme. Linklater mengatakan bahwa “rasionalisme mengakui bahwa negara melakukan paksaan untuk keamanannya di dalam kondisi anarkhi. Dua poin penting mengenai rasionalisme yang ada dalam buku ini. Malebrache. merupakan pemikiran yang berada diantara teori realisme dan idealisme. percaya bahwa hanya dengan melalui pengamatan empiris terhadap objek pengetahuan. istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. tidak seperti individu-individu dalam masyarakat sipil. Pemisahan antara pengetahuan dan kepentingan manusiawi yang terwujud dalam pemisahan teori dan praksis. setelah pencapaian berbahaya yang dapat memusnahkan dari kekuatan politik agresif atau revolusioner. yang menjadi puncak pembersihan pengetahuan dari kepentingan. Spinoza. menyebutkan bahwa rasionalis meyakinkan bahwa tekanan realis dalam bagaimana negara mengeluarkan maneuver. dimana realis memiliki argumen bahwa negara memaksa masyarakat internasional dibawah kepentingan nasionalnya yang egois. Hobbes. control. plato sangat menekankan pada peran intuisi. tuntutan rasionalis. Comte berpendapat. Berkeley. Dalam hal ini. dan mencari kekuatan lebih dari yang lainnya. dan ditangan Francis Bacon. 3. direfleksikan secara filosofis sebagai pengetahuan yang sahih tentang kenyataan. positivisme adalah cara . bertujuan untuk membersihkan teori dari kepentingan. yaitu teori yang terpisah dan praksis. Leibniz. Dan bahwa kompetensi dan konflik sering mengikuti usahanya untuk realisme objektifnya. Positivisme Dalam bidang ilmu sosiologi. Mereka percaya. dengan Aristoteles. dan Wolff.

Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam. atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. Analisa. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi. Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah. karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan. dan bidang ilmu sosial lainnya. positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi. intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. demikian juga alam. yaitu kenyataan. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. . demikian juga alam. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam. 4. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman. barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita. intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. antropologi. Hendaknya diingat. Intusionisme Menurut Bergson. Mereka mengatakan. tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Comte berpendapat. istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan. Dalam bidang ilmu sosiologi.

dia hanya tertuju pada kerja proses ilmiah dan tujuan agar penelitiannya berhasil dengan baik. Nilai akan menjadi subjektif. intelektualitas. Golongan kedua berpendapat bahwa . Nilai dalam ilmu pengetahuan. atau manusia-manusia lain. atau eksistensinya. Tetapi perlu disadari setiap penemuan ilmu pengetahuan bisa berdampak positif dan negatif. Nilai itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangan yang muncul dari filsafat. sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benar-benar ada. dia tidak mau terikat dengan nilai-nilai subjektif. Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang objektivisme. pertama. Nilai itu objektif. etika merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya. Dengan demikian. AKSIOLOGI Pengertian aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Sedangkan estetika berkaitan denganj nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya. jika ia tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. adat istiadat. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. merupakan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-hal. Dalam hal ini ilmuwan terbagi dua golongan pendapat. dan mempelajari tingkah laku manusia baik buruk. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. bebas melakukan eksperimen-eksperimen. nilai subjektif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimilki akal budi manusia. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. dan hasil nilai subjektif selalu akan mengarah kepada suka atau tidak suka. Golongan pertama berpendapat mengenai kenetralan ilmu. Jadi aksiologi adalah “Teori tentang nilai”. Ilmuwan hanyalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk menggunakannya. Seorang ilmuwan harus bebas dalam menentukan topik penelitiannya. seperti. perbuatan- perbuatan. Arti kedua. seperti perasaan. maknanya dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis atau fisis. senang atau tidak senang. Ketika seorang ilmuwan bekerja. apabila subjek sangat berperan dalam segala hal. Objek formal etika meliputi norma-norma kesusilaan manusia. agama.C. Makna “etika” dipakai dalam dua bentuk arti. kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya. Kebebasan inilah yang nantinya akan dapat mengukur kualitas kemampuannya.

sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan nilai-nilai moral.netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. . sebagai ukuran kepatutannya.

epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu. bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik. dan aksiologi seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain. epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. setiap jenis pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi). sehingga harus senantiasa dikaitkan. justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan. KESIMPULAN Setiap jenis pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi). tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. epistemologi. bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. BAB III PENUTUP A. . tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu. Pembahasan mengenai epistemologi harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi. Keterkaitan antara ontologi. Secara jelas. Demikian juga. Ketiga landasan ini saling berkaitan. Dalam membahas dimensi kajian filsafat ilmu didasarkan model berpikir sistemik. Secara detail. Ketiga landasan ini saling berkaitan.

com/2011/01/06/rasionalisme/ http://id.org/wiki/Skeptisisme http://id.kompasiana. REFERENSI http://kecoaxus.html http://id.wikipedia.org/wiki/Materialisme http://id.tripod.com/filsafat/pengfil.wikipedia.org/wiki/Positivisme .wikipedia.org/wiki/Agnostisisme http://filsafat.wikipedia.