You are on page 1of 31

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan kesehatan di laksanakan pada segala bidang. Tujuan pembangunan kesehatan
adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas merupakan masalah kesehatan yang penting, bila
tidak ditanggulangi akan menyebabkan angka kematian ibu yang tinggi. Kematian seorang
ibu dalam proses reproduksi merupakan tragedi yang mencemaskan. Keberadaan seorang ibu
merupakan tonggak untuk tercapainya keluarga yang sejahtera dan kematian seorang ibu
merupakan suatu bencana bagi keluarganya. Dampak sosial dan ekonomi kejadian ini dapat
dipastikan sangat besar, baik bagi keluarga, masyarakat maupun angkatan kerja.

World Health organization (2008) melaporkan pada tahun 2005 terdapat 536.000 wanita
meninggal akibat dari komplikasi kehamilan dan persalinan, dan 400 ibu meninggal per
100.000 kelahiran hidup (Maternal Mortality Ratio). Angka Kematian Ibu (AKI) di negara
maju diperkirakan 9 per 100.000 kelahiran hidup dan 450 per 100.000 kelahiran hidup di
negara yang berkembang, hal ini berarti 99% dari kematian ibu oleh karena kehamilan dan
persalinan berasal dari negara berkembang.

Indonesia sebagai Negara berkembang mempunyai AKI yang relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN. Pada tahun 2005 terdapat AKI sebesar
13/100.000 kelahiran hidup di Brunei Darussalam, 62/100.000 kelahiran hidup di
Malaysia, 110/100.000 kelahiran hidup di Thailand, 380/100.000 kelahiran hidup di
Myanmar dan 420/100.000 kelahiran hidup di Indonesia.3

Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) AKI menurun dari
450/100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425/100.000 kelahiran hidup
pada tahun 1992. kemudian menurun lagi menjadi 373/100.000 kelahiran hidup pada
tahun 1995. Berdasarkan hasi Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, pada tahun
2001-2003 terdapat AKI sebesar 307/100.000 kelahiran hidup. Hal ini menunjukkan
AKI cenderung terus menurun, tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin
dicapai secara nasional pada tahun 2010, yaitu sebesar 125/100.000 kelahiran hidup,

2

maka apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya, diperkirakan target
tersebut di masa mendatang sulit tercapai.4

Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2006, AKI di Rumah Sakit periode 2001-2005
cenderung menurun dari 7,5/1000 kelahiran hidup pada tahun 2001 menjadi 0,9/1000
kelahiran hidup pada tahun 2005. Namun pada tahun 2004, AKI mengalami kenaikan
tajam dari sebelumnya 1,1/1000 kelahiran hidup pada tahun 2003 menjadi 8,6/1000
kelahiran hidup.5

Jika dilihat dari golongan sebab sakit, kasus obstetrik terbanyak pada tahun 2006
adalah disebabkan penyulit kehamilan, persalinan dan masa nifas lainnya dengan
proporsi 47,3 %, diikuti dengan kehamilan yang berakhir abortus dengan proporsi
31,5%.5 Kehamilan ektopik merupakan salah satu kehamilan yang berakhir abortus,
dan sekitar 16 % kematian oleh sebab perdarahan dalam kehamilan dilaporkan
disebabkan oleh kehamilan ektopik yang pecah.6

Kehamilan ektopik terjadi apabila hasil konsepsi berimplantasi, tumbuh dan berkembang di
luar endometrium normal. Kehamilan ektopik ini merupakan kehamilan yang berbahaya bagi
wanita yang bersangkutan berhubung dengan besarnya kemungkinan terjadi keadaan gawat.
Keadaan gawat ini dapat terjadi apabila Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) dimana terjadi
abortus maupun ruptur tuba. Abortus dan ruptur tuba menimbulkan perdarahan ke dalam
kavum abdominalis yang bila cukup banyak dapat menyebabkan hipotensi berat atau syok.
Bila tidak atau terlambat mendapat penanganan yang tepat penderita akan meninggal akibat
kehilangan darah yang sangat banyak. Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat bahwa masih
banyaknya jumlah penderita kehamilan ektopik yang memerlukan penanganan yang adekuat.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian kehamilan ektopik terganggu?
2. Apa saja klasifikasi dari kehamilan ektopik terganggu?
3. Apa saja etiologi dari kehamilan ektopik terganggu?
4. Bagaimana keluhan dan gejala dari kehamilan ektopik terganggu?
5. Apa patofisiologi dari kehamilan ektopik terganggu?
6. Bagaimana pencegahan dari kehamilan ektopik terganggu?
7. Bagaimana pengkajian diagnose dan tindakan sesuai kewenangan?
8. Bagaimana rujukan pada kehamilan ektopik terganggu?

3

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian kehamilan ektopik terganggu
2. Untuk mengetahui klasifikasi kehamilan ektopik terganggu
3. Untuk mengetahui etiologi dari kehamilan ektopik terganggu
4. Untuk mengetahui keluhan dan gejala dari kehamilan ektopik terganggu
5. Untuk mengetahui patofisiologi dari kehamilan ektopik terganggu
6. Untuk mengetahui pencegahan dari kehamilan ektopik terganggu
7. Untuk mengetahui pengkajian diagnose dan tindakan sesuai kewenangan
8. Untuk mengetahui rujukan pada kehamilan ektopik terganggu

Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba (95%). kehamilan ovarium umumnya mengalami ruptur pada tahap awal. Kehamilan ektopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba. Konseptus dapat berimplantasi pada ampulla (55%). 2.2 Klasifikasi Klasifikasi kehamilan ektopik berdasarkan tempat terjadinya implantasi dari kehamilan ektopik. . ovarium atau rongga perut. Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang berbahaya karena tempat implantasinya tidak memberikan kesempatan untuk tumbuh kembang mencapai aterm dan melebihi kapasitas ruang implantasi. kehamilan tuba tidak sinonim untuk kehamilan ektopik melainkan lebih merupakan tipe kehamilan ektopik yang paling prevalen. blastokis akan tertanam dalam endometrium yang melapisi kavum uteri. atau pun pada interstisial (2%) dari tuba. dapat dibedakan menurut :  Kehamilan tuba adalah kehamilan ektopik pada setiap bagian dari tuba fallopi.5%) dari seluruh kehamilan ektopik dimana sel telur yang dibuahi bernidasi di ovarium. Meskipun >95% dari kehamilan ektopik meliputi bagian oviduk. sehingga sebagian besar akan pecah (ruptura) pada umur kehamilan 35- 40 hari  Kehamilan ovarial merupakan bentuk yang jarang (0. tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dalam cervik.13 Tuba fallopi mempunyai kemampuan untuk berkembang yang terbatas.1 Pengertian Pada kehamilan intrauteri normal.20 Meskipun daya akomodasi ovarium terhadap kehamilan lebih besar daripada daya akomodasi tuba. isthmus (25%). Kehamilan ektopik adalah kehamilan di mana sel telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uterus. pars intertistialis atau dalam tanduk rudimeter rahim. Kehamilan ektopik terganggu (KET) adalah keadaan di mana timbul gangguan pada kehamilan tersebut sehingga terjadi abortus maupun ruptur yang menyebabkan penurunan keadaan umum pasien. 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. fimbrial (17%).

yaitu pembentukan zigot terjadi ditempat yang lain misalnya di dalam saluran telur atau ovarium yang selanjutnya berpindah ke dalam rongga abdomen oleh karena terlepas dari tempat asalnya. Kehamilan ektopik rangkap (Compound Ectopic Pregnancy) yaitu terjadinya kehamilan intrauterin setelah lebih dahulu terjadi kehmilan ektopik yang telah mati atau pun ruptur dan kehamilan intrauterin yang terjadi kemudian berkembang seperti biasa.22 Kehamilan ini juga disebut sebagai kehamilan kornual (kahamilan . atau kurang dari 0. Sekunder. hal ini jarang terjadi.000-30. Kehamilan serviks jarang melewati usia gestasi 20 minggu sehingga umumnya hasil konsepsi masih kecil dan dievakuasi dengan kuretase.23 Kehamilan heterotipik ini sangat langka.20 Kehamilan heterotopik dapat di bedakan atas : a. Kehamilan kombinasi (Combined Ectopik Pregnancy) yaitu kehamilan yang dapat berlangsung dalam waktu yang sama dengan kehamilan intrautrin normal. dimana telur dari awal mengadakan implantasi dalam rongga perut. b.20 Kehamilan Abdominal ada 2 macam :22 a.000 kehamilan ektopik.  Kehamilan interstisial yaitu implantasi telur terjadi dalam pars interstitialis tuba. Hampir semua kasus kehamilan abdominal merupakan kehamilan ektopik sekunder akibat ruptur atau aborsi kehamilan tuba atau ovarium ke dalam rongga abdomen Walaupun ada kalanya kehamilan abdominal mencapai umur cukup bulan. 5  Kehamilan servikal adalah bentuk dari kehamilan ektopik yang jarang sekali terjadi. Primer .1% dari seluruh kehamilan ektopik.000 kehamilan. serviks mengembang. 20 Nidasi terjadi dalam selaput lendir serviks. b.22  Kehamilan abdominal Kehamilan ini terjadi satu dalam 15. terjadi satu dalam 17.  Kehamilan Heterotopik adalah kehamilan ektopik yang dapat terjadi bersama dengan kehamilan intrauterin. yang lazim ialah bahwa janin mati sebelum tercapai maturitas (bulan ke 5 atau ke 6) karena pengambilan makanan kurang sempurna. Dengan tumbuhnya telur.

. Dengan demikian proses kehamilan ini serupa dengan kehmilan abdominal sekunder karena keduanya berasal dari kehamilan ektopik dalam tuba yang pecah. khususnya endosalpingitis yang menyebabkan aglutinasi lipatan arboreset mukosa tuba dengan penyempitan lumen atau pembentukan kantung-kantung buntu. Faktor. yang kaya akan pembuluh darah).18  Kehamilan tuboovarial digunakan bila kantung janin sebagian melekat pada tuba dan sebagian pada jaringan ovarium.18 Kehamilan interstisial merupakan penyebab kematian utama dari kehamilan ektopik yang pecah. 6 intrauteri. Berkurangnya siliasi mukosa tuba akibat infeksi dapat turut menyebabkan implantasi zigot dalam tuba fallopii. Karena lapisan myometrium di sini lebih tebal maka ruptur terjadi lebih lambat kira-kira pada bulan ke 3 atau ke 4.19  Kehamilan intraligamenter Kehamilan intraligamenter berasal dari kehamilan ektopik dalam tuba yang pecah. Konseptus yang terjatuh ke dalam ruangan ekstra peritoneal ini apabila lapisan korionnya melekat dengan baik dan memperoleh vaskularisasi di situ fetusnya dapat hidup dan berkembang dan tumbuh membesar.faktor mekanis yang mencegah atau menghambat perjalanan ovum yang telah dibuahi didalam kavum uteri:  Salpingitis. tetapi implantasi plasentanya di daerah kornu. kemudian mengadakan ekstensi secara perlahan-lahan ke dalam kavum uteri. dimana zigot yang semula megadakan implantasi di sekitar bagian fimbriae tuba.  Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus atau infeksi masa nifas. 2. apendiksitis ataupun endometriosis yang menyebabkan tertekuknya tuba dan penyempitan lumennya.18  Kehamilan tuboabdominal berasal dari tuba.7  Kehamilan tubouteina merupakan kehamilan yang semula mengadakan implantasi pada tuba pars interstitialis. secara beangsur mengadakan ekstensi ke kavum peritoneal.3 Etiologi Berikut ini berbagai faktor yang menyebabkan kehamilan ektopik: a.

Brenner dkk. Faktor fator fungsional yag memperlambat perjalan ovum yang telah dibahi kedalam kavum uteri :  Migrasi eksternal ovum mungkin bukan faktor yang penting pada kasus kasus perkembangan duktus mulleri yang abnormal. (Corson dan Batzer. 1987) B.. 7  Kelainan pertumbuhan tuba.  Berubahnya motilitas tuba dapat terjadi mengikuti perubaan kadar estrogen dan progesteron dalam serum. 1982)  Tumor yang mengubah bentuk tuba seperti mioma uteri dan adanya benjolan pada adneksa. insiden kehamilan ektopik berikutnya akan menjadi 7-15%. Perubahan jumlah dan afinitas reseptor adrenegik dalam otot polos uterus serta tba fallopi kemungkinan besar menjadi penyebabnya. Resiko terjadinya kehamilan ektopik meningkat pada wanita dengan satu oviduk. ostium asesorius dan hipoklasia. sehingga terjadi hemiuetus dengan kornuuterina rudimenter dan tidak berhubungan.1980)  Pembedahan sebelumnya pada tuba.  Kehamilan tuba tidak mengalami peningkatan akibat embrio abnormal (sSopela dan Batus.  Refluks menstrual. .1977)  Abortus induksi yang dilkukan lebih dari satu kali akan memperbesar resiko terjadinya kehamilan ektopik.  Kehamilan ektopik sebelumnya. Kelainan semacam ini sangat jarang tejadi. khususnya divertikulum.(Breen dkk. Meningkatnya resiko ini kemungkinan besar disebabkan oleh salpingitis yang terjadi sebelumnya. entah dilakukan untuk memperbaiki potensi tuba atau kadang-kadang dilakukan pada kegagalan sterilisasi . Kelambatan fertilisasi ovum dengan pendarah menstruasi secara teoritis dapat mencegah masuknya ovum kedalam uterus atau menyebabkan ovum berbalik kembali kedalam tuba. Resiko ini tidak berubah setelah satu kali menjalin abortus induksi.1970. sesudah sekali mengalami kehamilan ektopik.. namaun akan menjadi dua kali lipat setelah menjalani abortus induksi sebanyak dua kali atau lebih. kenaikan resiko ini kmungkinan terjadi akibat peningkatan yang kecil tetapi bermakna pada angka insiden salpingitis (Levin dkk. Tatum dan Schmidt. 1986).

1984). Sifat haid terakhir hars ditanyakan secara rinci berkenakan waktu mulainya. dan apakah pasien merasa bahwan haidnya normal. Tekanan darah dan denyut nadi Gejala penurunan tekanan darah dan peningkatan denyut nadi terjadi setelah pendarahan berlangsung dan keadaan hipofolemi semakin berat. f. b.4 Keluhan dan Gejala a. Secara umum nyeri yang hebat pada rupture kehamilan ektopik disebabkan oleh darah yang mengalir kedalam kavum peritonei. Amenore Tidak adanya riwayat haid yang terlambat bukan berarti kemungkinan kehamilan tuba dapat disingkirkan. Peningkatan daya pernerimaan mukosa tubah terhadap ovum yang telah dibuahi. namun bila endokrin dari endometrium sudah tidak memadahi mukosa uterus akan mengalami pendarahan. Spotting atau perdarahan pervagina Selama fungsi endokrin plasenta masih bertahan perdarahan uterus biasanya tidak ditemukan. 8 c. lama serta banyaknya haid. Nyeri abdomen dan pelvic Nyeri timbul saat dilakukannya palpasi abdomen dan pemeriksaan pervagina dengan menggerakkan servic. d. e. Unsur-unsur ektopik endometrium dapat menigkatkan implantasi dalm tuba. Rasa nyeri mungkin mungkin unilateral atau bilateral pada abdomen bagian bawah atau pada seluruh abdomen bahkan pada abdomen bagian atas. 2. . Rasa nyeri Keluhan yang paling sering dikemukakan oleh pasien adalah nyeri pelvis serta abdomen (100%) dan amenore dengan spoting (Dorfman dkk. Perubahan uterus Uterus pada kehamilan ektopik dapat terdorong kesalah satu sisi oleh masa ektopik tersebut. c. Pendarahan tersebut biasanya sedikit berwarna coklat gelap dan dapat terputus-putus.

9 .

induksi abortus berulang.  Pengaruh faktor fungsional Faktor fungsional yaitu perubahan motilitas tuba yang berhubungan dengan faktor hormonal. sehingga implantasi zigot terjadi sebelum zigot mencapai kavum uteri. Dalam hal ini gerakan peristalsis tuba menjadi lamban. salpingitis.  Kegagalan kontrasepsi Sebenarnya insiden sesungguhnya kehamilan ektopik berkurang karena kontrasepsi sendiri mengurangi insidensi kehamilan.5 Patofisiologi Beberapa hal dibawah ini ada hubungannya dengan terjadinya kehamilan ektopik:7  Pengaruh faktor mekanik Faktor-faktor mekanis yang menyebabkan kehamilan ektopik antara lain: riwayat operasi tuba. Dalam hal ini terjadi perubahan jumlah dan afinitas reseptor adrenergik yang terdapat dalam utrus dan otot polos dari saluran telur. Merokok pada waktu terjadi konsepsi dilaporkan meningkatkan insiden kehamilan ektopik yang diperkirakan sebagai akibat perubahan jumlah dan afinitas reseptor adrenergik dalam tuba. Hal-hal tersebut secara umum menyebabkan perlengketan intra. setelah memakai estrogen dosis tinggi pascaovulasi untuk mencegah kehamilan. Ini berlaku untuk kehamilan ektopik yang terjadi pada akseptor kontrasepsi oral yang mengandung hanya progestagen saja. dan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). perlekatan tuba akibat operasi non- ginekologis seperti apendektomi. 10 2. Akan tetapi dikalangan para akseptor bisa terjadi kenaikan insiden kehamilan ektopik apabila terjadi kegagalan pada teknik . Gangguan motilitas tuba dapat disebabkan oleh perobahan keseimbangan kadar estrogen dan progesteron serum.maupun ekstraluminal pada tuba. salpingitis isthmica nodosum (penonjolan-penonjolan kecil ke dalam lumen tuba yang menyerupai divertikula). pajanan terhadap diethylstilbestrol. sehingga menghambat perjalanan zigot menuju kavum uteri. Faktor mekanik lain adalah pernah menderita kehamilan ektopik. tumor yang mengganggu keutuhan saluran telur. pernah mengalami operasi pada saluran telur seperti rekanalisasi atau tubektomi parsial.

radang panggul.6 Pencegahan A. Pencegahan Primer Pencegahan primer adalah usaha-usaha yang dilakukan sebelum sakit (prepatogenesis). AKDR tanpa progesteron tidak meningkatkan risiko kehamilan ektopik. Kehamilan tuba dilaporkan terjadi pada GIFT (gamete intrafallopian transfer). menghindari hubungan seksual multipartner (seks bebas) ataiu tidak berhubungan selain dengan pasangannya. Induksi ovulasi dengan human pituitary hormone dan hCG dapat menyebabkan kehamilan ektopik bila pada waktu ovulasi terjadi peningkatan pengeluaran estrogen urin melebihi 200 mg sehari. Alat kontrasepsi dalam rahim selama ini dianggap sebagai penyebab kehamilan ektopik. . 11 sterilisasi. tetapi bila terjadi kehamilan pada wanita yang menggunakan AKDR. Namun ternyata hanya AKDR yang mengandung progesteron yang meningkatkan frekuensi kehamilan ektopik. IVF (in vitro fertilization). 2. antara lain :  Perbaikan dan peningkatan status gizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi seperti infeksi akibat gonorea.  Pengaruh proses bayi tabung Beberapa kejadian kehamilan ektopik dilaporkan terjadi pada proses kehamilan yang terjadi dengan bantuan teknik-teknik reproduksi (assisted reproduction). dan induksi ovulasi. ovum transfer.  Menghindari setiap perilaku yang memperbesar risiko kehamilan ektopik seperti tidak merokok terutama pada waktu terjadi konsepsi. besar kemungkinan kehamilan tersebut adalah kehamilan ektopik.  Peningkatan afinitas mukosa tuba Dalam hal ini terdapat elemen endometrium ektopik yang berdaya meningkatkan implantasi pada tuba. Keadan gizi buruk dan keadaan kesehatan yang rendah menyebabkan kerentanan terhadap penyakit infeksi pada alat genitalia sehingga berisiko tinggi untuk menderita kehamilan ektopik.

pernah menderita peradangan dalam rongga panggul.7 B. Mereka yang dianggap beresiko tinggi terhadap kehamilan ektopik antara lain adalah wanita yang pernah menjalani bedah mikro saluran telur. Dalam hal ini pemeriksaan prenatal dini dalam trimester pertama sangat penting bagi pasien-pasien yang beresiko tinggi terhadap kejadian kehamilan ektopik. pendidikan tentang seks yang bertanggung jawab dan nasehat perkawinan melalui berbagai media. meliputi : 29  Program penyaringan Usaha pencegahan sekunder dapat dilakukan melalui program penyaringan (screening) bagi wanita yang beresiko terhadap kejadian PMS sehingga diagnosis dapat ditegakkan sedini mungkin dan dapat segera memperoleh pengobatan secara radikal pada penderita untuk mencegah terjadinya radang panggul yang beresiko menimbulkan kehamilan ektopik. mencegah terjadinya komplikasi dengan sasaran bagi mereka yang menderita atau terancam menderita kehamilan ektopik. Dewasa ini masih terus dilakukan kegiatan untuk menemukan suatu cara kontrasepsi hormonal yang mempunyai efektivitas tinggi dan efek sampingan yang sekecil mungkin. sekolah-sekolah.  Diagnosa dini Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang obstetrik memberikan kemungkinan kehamilan ektopik dapat ditegakkan diagnosisnya secara dini yaitu sebelum gejala-gejala klinik muncul. 12  Memberikan dan menggalakkan pendidikan kesehatan kepada masyarakat seperti penyuluhan mengenai kehamilan ektopik. akseptor AKDR atau .  Penggunaan kontrasepsi yang efektif. menderita penyakit pada tuba. kelompok pengajian dan kerohanian. artinya sebelum kehamilan ektopik pecah. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder merupakan upaya menghentikan proses penyakit lebih lanjut. Pil kombinasi merupakan pil kontrasepsi yang sampai saat ini dianggap paling efektif. pernah menderita kehamilan ektopik sebelumnya.

Anamnesa Terjadi amenorea. Bila uterus dapat diraba maka akan terasa sedikit membesar dan kadang-kadang teraba tumor di samping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Secara medis dengan melakukan injeksi lokal methotrexate (MTX). Nyeri perut bagian bawah. Setelah insisi hasil . prostaglandin. di perbatasan antimesenterik. pada perdarahan dalam rongga perut dapat ditemukan tanda-tanda syok. dan pada kehamilan yang terjadi dengan teknik-teknik reproduksi. Pembedahan konservatif mencakup 2 teknik yang kita kenal sebagai salpingostomi dan salpingotomi. Cavum douglasi yang menonjol dan nyeri raba menunjukkan adanya hematocele retrouterina.11 Pemeriksaan umum Penderita tampak kesakitan dan pucat. Salpingostomi adalah suatu prosedur untuk mengangkat hasil konsepsi yang berdiameter kurang dari 2 cm dan berlokasi di sepertiga distal tuba fallopii. Kadang-kadang dijumpai keluhan hamil muda dan gejala hamil lainnya.11 Pemeriksaan ginekologi Tanda-tanda kehmilan muda mungkin ditemukan. Pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Terapi medikamentosa dan penatalaksanaan bedah 23 Dewasa ini penanganan kehamilan ektopik yang belum terganggu dapat dilakukan secara medis ataupun bedah. Pembedahan konservatif Dimana integritas tuba dipertahankan. Suhu kadang-kadang bisa naik sehingga menyukarkan perbedaan dengan infeksi pelvik. aktimiosin D dan secara bedah dilaksanakan melalui : a. 13 pil bila terjadi kehamilan tidak sengaja. nyeri bahu. Pada prosedur ini dibuat insisi linear sepanjang 10-15 mm pada tuba tepat di atas hasil konsepsi. yaitu haid terlambat mulai beberapa hari sampai beberapa bulan atau hanya haid yang tidak teratur. kalium klorida. tenesmus dan perdarahan pervaginam terjadi setelah nyeri perut bagian bawah. glukosa hiperosmosis.

Prosedur ini dapat dilakukan dengan laparotomi maupun laparoskopi. patensi dan perlekatan tuba pascaoperatif antara salpingostomi dan salpingotomi. sebab salpingostomi dapat menyebabkan jaringan parut dan penyempitan lumen pars ismika yang sebenarnya sudah sempit. 14 konsepsi segera terekspos dan kemudian dikeluarkan dengan hati-hati. kecuali bahwa pada salpingotomi insisi dijahit kembali. Perdarahan yang terjadi umumnya sedikit dan dapat dikendalikan dengan elektrokauter. 5) pasien meminta dilakukan sterilisasi. 2. 4) telah dilakukan rekonstruksi atau manipulasi tuba sebelumnya. 8) kehamilan heterotopik. Metode ini lebih dipilih daripada salpingostomi. Salpingektomi diindikasikan pada keadaan- keadaan berikut ini: 1) kehamilan ektopik mengalami ruptur (terganggu). mempunyai semangat untuk terus bertahan hidup dan tidak putus asa sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang berdaya guna. Beberapa literatur menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna dalam hal prognosis. 6) perdarahan berlanjut pascasalpingotomi. C. 2) pasien tidak menginginkan fertilitas pascaoperatif. 3) terjadi kegagalan sterilisasi. b.7 Pengkajian Diagnose dan Tindakan sesuai Kewenangan Gejala Subjektif Sebagian besar pasien merasakan nyeri abdomen. 7) kehamilan tuba berulang. Pembedahan radikal Dimana salpingektomi dilakukan. Pencegahan Tersier Pencegahan tersier meliputi program rehabilitasi (pemulihan kesehatan) yang ditujukan terhadap penderita yang baru pulih dari Kehamilan Ektopik meliputi rehabilitasi mental dan social yakni dengan memberikan dukungan moral bagi penderita terutama penderita yang infertile akibat Kehamilan Ektopik agar tidak berkecil hati. Insisi kemudian dibiarkan terbuka (tidak dijahit kembali) untuk sembuh per sekundam. dan 9) massa gestasi berdiameter lebih dari 5 cm. Pada dasarnya prosedur salpingotomi sama dengan salpingostomi. Nyeri yang diakibatkan ruptur tuba berintensitas tinggi dan . keterlambatan menstruasi dan perdarahan per vaginam.

atau menyangka dirinya hamil normal. sehingga pada pasien ditemukan tanda-tanda rangsangan peritoneal (nyeri tekan. nyeri menjadi menyeluruh. infeksi alat kandungan. Umumnya perdarahan tidak banyak dan berwarna coklat tua. Penderita dapat jatuh pingsan dan syok. dapat dijumpai tanda anemia pada pasien. Bila perdarahan berlangsung lamban dan gradual. defense musculaire). Hematosalping akan teraba sebagai tumor di sebelah uterus. nyeri lepas. kavum Douglas teraba menonjol dan nyeri pada pergerakan (nyeri goyang porsio). Nyeri akibat abortus tuba tidak sehebat nyeri akibat ruptur tuba. atau mengalami keguguran (abortus tuba). KET harus dipikirkan bila seorang pasien dalam usia reproduktif mengeluhkan nyeri perut bawah yang hebat dan tiba-tiba. Tekanan darah turun dan frekuensi nadi meningkat. Diagnosis Diagnosis kehamilan ektopik terganggu tentunya ditegakkan dengan anamnesis. Dengan adanya hematokel retrouterina. dan pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda akut abdomen. tetapi setelah darah masuk ke rongga abdomen dan merangsang peritoneum. Perdarahan per vaginam berasal dari pelepasan desidua dari kavum uteri dan dari abortus tuba. sering kali pasien datang dalam keadaan umum yang buruk karena syok. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Sebagian penderita tidak mengeluhkan keterlambatan haid karena kematian janin terjadi sebelum haid berikutnya. 15 terjadi secara tiba-tiba. Di samping itu dapat ditemukan tanda-tanda kehamilan. Temuan objektif Pada kasus-kasus yang dramatis. atau massa di samping uterus. Kadang- kadang pasien merasakan nyeri yang menjalar ke bahu. penggunaan pil kontrasepsi progesteron dan riwayat operasi tuba serta riwayat faktor-faktor risiko lainnya . Penderita mungkin tidak menyangka bahwa dirinya hamil. Darah yang masuk ke dalam rongga abdomen akan merangsang peritoneum. nyeri goyang porsio. nyeri ketok. Keterlambatan menstruasi tergantung pada usia gestasi. Adanya riwayat penggunaan AKDR. kavum Douglas menonjol. Pada awalnya nyeri terdapat pada satu sisi. Hal ini disebabkan iritasi diafragma oleh hemoperitoneum. dan tidak terus-menerus. ataupun nyeri perut bawah yang gradual. seperti pembesaran uterus. disertai keluhan perdarahan per vaginam setelah keterlambatan haid.

Kuretase dapat dikerjakan untuk membedakan kehamilan ektopik dari abortus insipiens atau abortus . maka diagnosis pasti dapat ditegakkan. Namun sebagian besar pasien menyangkal adanya faktor-faktor risiko tersebut di atas. meskipun tidak ada konsensus mengenai kadar hCG yang sugestif untuk kehamilan ektopik. Pada usia gestasi 6-7 minggu. namun penurunan kadar progesteron tersebut tidak dapat membedakan kehamilan ektopik dari abortus insipiens. kuldosentesis sudah tidak terlalu sering dilakukan. peningkatan kadar hCG serum dua kali lipat setiap 48 jam tidak lagi terjadi setelah minggu ke-7 kehamilan. gambaran tersebut cukup spesifik untuk kehamilan ektopik. Meskipun demikian. karena dapat mengakibatkan keterlambatan diagnosis. Fenomena ini. kadar hCG serum meningkat dua kali lipat setiap 48 jam pada kehamilan intrauterin normal. Kehamilan ektopik dapat dibedakan dari kehamilan normal dengan pemeriksaan kadar hCG secara serial. Diagnosis juga dapat ditegakkan secara bedah (surgical diagnosis). Bila pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan kantong gestasi dengan denyut jantung janin dengan kavum uteri yang kosong. Peningkatan yang subnormal (< 66%) dijumpai pada 85% kehamilan yang nonviable. penegakan diagnosis KET dengan pemantauan kadar hCG serial tidak praktis. USG transvaginal juga memungkinkan evaluasi kavum pelvis dengan lebih baik. Dengan adanya USG dan pemeriksaan kadar hCG yang lebih akurat. Secara klinis. Oleh sebab itu. Kadar progesteron pada kehamilan nonviable memang menurun. 16 memperkuat dugaan KET. bila disertai dengan terdeteksinya kavum uteri yang kosong. tindakan tersebut masih dilakukan bila tidak ada fasilitas USG atau bila pada pemeriksaan USG kantong gestasi tidak berhasil terdeteksi. termasuk visualisasi cairan di kavum Douglas dan massa pelvis. mengindikasikan adanya kehamilan ektopik. Kadar hCG membantu penegakan diagnosis. umumnya yang diperiksakan adalah hCG kualitatif untuk diagnosis cepat kehamilan. dan peningkatan sebanyak 20% sangat prediktif untuk kehamilan nonviable. Selain itu. USG transvaginal dapat mendeteksi tubal ring (massa berdiameter 1-3 cm dengan pinggir ekhogenik yang mengelilingi pusat yang hipoekhoik).

Diagnosis Banding Keadaan-keadaan patologis baik di dalam maupun di luar bidang obstetri-ginekologi perlu dipikirkan sebagai diagnosis banding KET. 1. ruptur kista luteal dan penyakit trofoblastik gestasional. Seorang pasien yang terdiagnosis dengan kehamilan tuba dan masih dalam kondisi baik dan tenang. Diagnosis secara bedah juga dapat dilakukan dengan laparoskopi dan laparotomi. penatalaksanaan kehamilan tuba berbeda dari penatalaksanaan kehamilan abdominal. yaitu penatalaksanaan ekspektasi (expectant management). salpingitis. Penyakit di luar bidang obstetri-ginekologi yang manifestasinya menyerupai KET adalah apendisitis. Penatalaksanaan Kehamilan Tuba Penatalaksanaan kehamilan ektopik tergantung pada beberapa hal. endometriosis. penatalaksanaan medis dan penatalaksanaan bedah. Kelainan bidang obstetri-ginekologi yang didiagnosis banding dengan KET antara lain abortus. Selain itu. Penatalaksanaan Ekspektasi . kista ovarii terpuntir. Sebagai contoh. 17 inkomplet. perlu dibedakan pula penatalaksanaan kehamilan ektopik yang belum terganggu dari kehamilan ektopik terganggu. memiliki 3 pilihan. antara lain lokasi kehamilan dan tampilan klinis. perdarahan uterin disfungsional. Laparotomi umumnya dikerjakan bila keadaan hemodinamik pasien tidak stabil. Tentunya penatalaksanaan pasien dengan kehamilan ektopik yang belum terganggu berbeda dengan penatalaksanaan pasien dengan kehamilan ektopik terganggu yang menyebabkan syok. Kuretase tersebut dianjurkan pada kasus-kasus di mana timbul kesulitan membedakan abortus dari kehamilan ektopik dengan kadar progesteron serum di bawah 5 ng/ml. β-hCG meningkat abnormal (< 2000 mU/mL) dan kehamilan uterin tidak terdeteksi dengan USG transvaginal.

bebas nyeri perut bawah. Oleh sebab itu. memiliki fungsi ginjal. methotrexate diharapkan dapat merusak sel-sel trofoblas sehingga menyebabkan terminasi kehamilan tersebut. termasuk penyakit trofoblastik ganas. dan 4) diameter massa ektopik tidak -hCG awal harus kurangbmelebihi 3. 2. harus menggunakan kontrasepsi yang efektif selama 3-4 bulan pascaterapi. tidak semua pasien dengan kehamilan ektopik dapat menjalani penatalaksanaan seperti ini. Kandidat-kandidat penerima tatalaksana medis harus memiliki syarat-syarat berikut ini: keadaan hemodinamik yang stabil. tidak ada cairan bebas dalam rongga abdomen dan kavum Douglas. 18 Penatalaksanaan ekspektasi didasarkan pada fakta bahwa sekitar 75% pasien -hCG. hepar dan profil darah yang normal. methotrexate akan merusak sel-sel trofoblas. 2) kehamilan tuba. dan bila diberikan pada pasien dengan kehamilan ektopik. tidak ada aktivitas jantung janin. Penatalaksanaan Medis Pada penatalaksanaan medis digunakan zat-zat yang dapat merusak integritas jaringan dan sel hasil konsepsi. 3) tidak adabektopik dengan kadar perdarahan intraabdominal atau ruptur. tidak memiliki penyakit-penyakit penyerta. dan diameter massa ektopik tidak melebihi 3. harus teratur menjalani terapi. kehamilan ektopik dini dengan kadar stabil atau cenderung turun diobservasi ketat. Seperti halnya dengan penatalaksanaan medis untuk .0 cm. sedang tidak menyusui. Methotrexate Methotrexate adalah obat sitotoksik yang sering digunakan untuk terapi keganasan. Padabdengan kehamilan ektopik akan mengalami penurunan kadar -hCG yangbpenatalaksanaan ekspektasi. tidak ada kehamilan intrauterin yang koeksis.5 cm. serta tidak memiliki kontraindikasi terhadap pemberian methotrexate. Penatalaksanaan ekspektasi dibatasi pada keadaan-keadaan berikut: 1) kehamilan -hCG yang menurun. Berikut ini akan dibahas beberapa metode terminasi kehamilan ektopik secara medis. Dikatakan bahwa penatalaksanaan ekspektasi ini efektif pada 47-82% kehamilan tuba. Pada penyakit trofoblastik. Sumber lain menyebutkan bahwa kadar dari 1000 mIU/mL.

Namun disebutkan dalam sumber lain bahwa hanya kadar -hCG-lah yang bermakna secara statistik. 5. dan pasien harus dipersiapkan untuk kemungkinan menjalani pembedahan. Nyeri ini dapat diatasi -hCG umumnya tidak terdeteksi lagi dalam 14-21bdengan analgetik nonsteroidal. ukuran massa hasil konsepsi dan ada/tidaknya cairan bebas dalam rongga peritoneum. Pada hari-hari pertama pula massa hasil konsepsi akan tampak membesar pada pencitraan ultrasonografi akibat edema dan hematoma. Setelah terapi -hCG masih perlu diawasi setiap minggunya hingga kadarnya dibberhasil. aktivitasbdisebutkan dalam literatur antara lain kadar jantung janin. ke-3. stomatitis. Pasien harus diinformasikan bahwa bila terjadi kegagalan terapi medis. Bila hal tersebut terjadi. sedangkan dosis multipel yang diberikan adalah sebesar 1 mg/kg (intramuskular) pada hari pertama. hepar dan profil darah yang normal. antara lain gangguan fungsi hepar. kadar bawah 5 mIU/mL. Beberapa prediktor keberhasilan terapi dengan methotrexate yang -hCG. Selain itu. 19 kehamilan ektopik pada umumnya. Senggama dan konsumsi asam folat juga dilarang. dan angka kegagalan meningkat pada usia gestasi di atas 6 minggu atau bila massa hasil konsepsi berdiameter lebih dari 4 cm. hari setelah pemberian methotrexate. tanda-tanda kehamilan ektopik terganggu harus selalu diwaspadai. 65-75% pasien akan mengalami nyeri abdomen yang diakibatkan pemisahan hasil konsepsi dari tempat implantasinya (separation pain). pasien harus sesegera mungkin menjalani pembedahan.b -hCG serial dibutuhkan. Pada hari-hari pertama setelah dimulainyabpemeriksaan pemberian methotrexate. pengulangan terapi diperlukan. kandidat-kandidat untuk terapi methotrexate harus stabil secara hemodinamis dengan fungsi ginjal. Untuk memantau keberhasilan terapi. sehingga jangan dianggap sebagai kegagalan terapi. Dosis tunggal yang diberikan adalah 50 mg/m2 (intramuskular). dan hematoma yang meregangkan dinding tuba. Methotrexate dapat diberikan dalam dosis tunggal maupun dosis multipel. progesteron. dan . Harus diketahui pula bahwa terapi methotrexate maupun medis secara umum mempunyai angka kegagalan sebesar 5-10%. gastroenteritis dan depresi sumsum tulang. Tentunya methotrexate menyebabkan beberapa efek samping yang harus diantisipasi.

Pada dasarnya ada 2 macam pembedahan untuk menterminasi kehamilan tuba. yaitu pembedahan konservatif. Namun pada umumnya injeksi methotrexate tetap lebih unggul. 4. sehingga alternatif ini jarang digunakan. 6 dan 8. Terapi methotrexate dosis multipel tampaknya memberikan efek negatif pada patensi tuba dibandingkan dengan terapi methotrexate dosis tunggal 9. Tentu saja pada kehamilan ektopik terganggu. di mana integritas tuba dipertahankan. Larutan Glukosa Hiperosmolar Injeksi larutan glukosa hiperosmolar per laparoskopi juga merupakan alternatif terapi medis kehamilan tuba yang belum terganggu.1 mg/kg (intramuskular). Selain itu. angka kegagalan dengan terapi injeksi larutan glukosa tersebut cukup tinggi. dan pembedahan radikal. macam-macam pembedahan . Pada terapi dengan dosis multipel leukovorin ditambahkan ke dalam regimen pengobatan dengan dosis 0. 20 hari ke-7. Yeko dan kawan-kawan melaporkan keberhasilan injeksi larutan glukosa hiperosmolar dalam menterminasi kehamilan tuba. pembedahan harus dilakukan secepat mungkin. Pembedahan konservatif mencakup 2 teknik yang kita kenal sebagai salpingostomi dan salpingotomi. Methotrexate dapat pula diberikan melalui injeksi per laparoskopi tepat ke dalam massa hasil konsepsi. Selain itu. di mana salpingektomi dilakukan. Penatalaksanaan Bedah Penatalaksanaan bedah dapat dikerjakan pada pasien-pasien dengan kehamilan tuba yang belum terganggu maupun yang sudah terganggu. 3. Actinomycin Neary dan Rose melaporkan bahwa pemberian actinomycin intravena selama 5 hari berhasil menterminasi kehamilan ektopik pada pasien-pasien dengan kegagalan terapi methotrexate sebelumnya. Terapi methotrexate dosis tunggal adalah modalitas terapeutik paling ekonomis untuk kehamilan ektopik yang belum terganggu. dan diberikan pada hari ke-2.

Prosedur ini dapat dilakukan dengan laparotomi maupun laparoskopi. 21 tersebut di atas dapat dilakukan melalui laparotomi maupun laparoskopi. Insisi kemudian dibiarkan terbuka (tidak dijahit kembali) untuk sembuh per sekundam. Setelah insisi hasil konsepsi segera terekspos dan kemudian dikeluarkan dengan hati-hati. Metode per laparoskopi saat ini menjadi gold standard untuk kehamilan tuba yang belum terganggu. Salpingotomi Pada dasarnya prosedur ini sama dengan salpingostomi. namun grup salpingostomi menjalani masa rawat inap yang lebih singkat dan insidens aktivitas trofoblastik persisten pada grup ini lebih rendah. patensi dan perlekatan tuba pascaoperatif antara salpingostomi dan salpingotomi. maka tidak ada tempat bagi pembedahan per laparoskopi. Salpingostomi Salpingostomi adalah suatu prosedur untuk mengangkat hasil konsepsi yang berdiameter kurang dari 2 cm dan berlokasi di sepertiga distal tuba fallopii. Pada prosedur ini dibuat insisi linear sepanjang 10-15 mm pada tuba tepat di atas hasil konsepsi. Durasi pembedahan pada grup salpingostomi lebih lama daripada durasi pembedahan pada grup methotrexate. Salpingektomi . kecuali bahwa pada salpingotomi insisi dijahit kembali. Meskipun demikian angka keberhasilan terminasi kehamilan tuba dan angka kehamilan intrauterine setelah kehamilan tuba pada kedua grup tidak berbeda secara bermakna. Namun bila pasien jatuh ke dalam syok atau tidak stabil. Sebuah penelitian di Israel membandingkan salpingostomi per laparoskopi dengan injeksi methotrexate per laparoskopi. di perbatasan antimesenterik. Perdarahan yang terjadi umumnya sedikit dan dapat dikendalikan dengan elektrokauter. Beberapa literatur menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna dalam hal prognosis.

2) pasien tidak menginginkan fertilitas pascaoperatif. massa hasil konsepsi dapat terdorong dan lepas dari implantasinya. dan kemudian sisanya (stump) diikat dengan jahitan ligasi. 6) perdarahan berlanjut pascasalpingotomi. 8) kehamilan heterotopik. 5) pasien meminta dilakukan sterilisasi. Tuba yang direseksi dipisahkan dari mesosalping. Pada salpingektomi. Evakuasi Fimbrae dan Fimbraektomi Bila terjadi kehamilan di fimbrae. sebab salpingostomi dapat menyebabkan jaringan parut dan penyempitan lumen pars ismika yang sebenarnya sudah sempit. dan 9) massa gestasi berdiameter lebih dari 5 cm. 4) telah dilakukan rekonstruksi atau manipulasi tuba sebelumnya. Reseksi massa hasil konsepsi dan anastomosis tuba kadang-kadang dilakukan pada kehamilan pars ismika yang belum terganggu. dan dapat dilakukan melalui laparotomi maupun laparoskopi. 3) terjadi kegagalan sterilisasi. Metode ini lebih dipilih daripada salpingostomi. sedangkan arteria uteroovarika dipertahankan. massa hasil konsepsi dapat dievakuasi dari fimbrae tanpa melakukan fimbraektomi. Proses ini merupakan sebuah metode dengan pengorganisasian pemikiran dan tindakan-tindakan dengan dengan urutan yang logis dan menguntungkan baik bagi klien maupun bagi tenaga kesehatan. 22 Reseksi tuba dapat dikerjakan baik pada kehamilan tuba yang belum maupun yang sudah terganggu. 2. 7) kehamilan tuba berulang. bagian tuba antara uterus dan massa hasil konsepsi diklem. digunting. Proses ini menguraikan bagaimana prilaku yang diharapkan dari pemberi asuhan. Arteria tuboovarika diligasi.8 Rujukan Proses manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah. Proses manajemen ini bukan hanya terdiri dari pemikiran dan tindakan saja . Pada kehamilan pars interstitialis. Fimbraektomi dikerjakan bila massa hasil konsepsi berdiameter cukup besar sehingga tidak dapat diekspulsi dengan cairan bertekanan. Dengan menyemburkan cairan di bawah tekanan dengan alat aquadisektor atau spuit. Salpingektomi diindikasikan pada keadaan-keadaan berikut ini: 1) kehamilan ektopik mengalami ruptur (terganggu). sering kali dilakukan pula histerektomi untuk menghentikan perdarahan masif yang terjadi.

c. Riwayat Obstetric yang lalu – Tanyakan kehamilan yang lalu. Data Subjektif a. d. pendidikan. Yang perlu dikaji : nama. 23 melainkan juga perilaku pada setiap langkah agar pelayanan yang komprehemsif dan aman dapat tercapai. kemungkinan klien pernah mengalami mual muntah. serta kapan terjadinya menarce (pertama kali datang haid). Biodata atau identitas klien dan suami. bau. . e. apakah klien pernah abortus. kadang-kadang disertai dengan perdarahan atau syok. dan tanyakan apakah klien pernah mengalami atau punya riwayat kehamilan ektopik. b. pekerjaan dan alamat. lama dan banyaknya perdarahan. Ketujuh langkah tersebut adalah : Langkah I : Pengumpulan Data Dasar/ Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data atau mengelompokkan data dan menganalisa data sehingga dapat diketahui masalah dan keadaan klien. agama. siklus menstruasi. Data-data yang dikumpulkan meliputi : 1. warna. suku. Riwayat Perkawinan Untuk mengetahui status perkawinannya meliputi : umur waktu kawin. berapa lama kawin baru hamil. apakah nyeri pada waktu haid. umur. Bertujuan untuk mengidentifikasi atau mengenal klien. nyeri hebat. Kemungkinan yang ditemui adalah : amenorea. Riwayat Menstruasi Yang ditanyakan adalah HPHT untuk menentukan umur kehamilan. Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua imformasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. komplikasi berupa perdarahan. Keluhan Umum Merupakan alasan utama klien untuk datang ketenaga kesehatan atau rumah sakit dan apa-apa saja yang dirasakan klien.

h. 24 – Persalinan lalu. k. Riwayat Sosial. f. kemungkinan ekonomi yang kurang mencukupi. pernah mempunyai riwayat kista ovarium atau miom subserosa. klien sedang menderita kista ovarium atau miom subserosa dan klien mengalami kelainan kongenital pada genetalia interna. Ekonomi dan Budaya Bagaimana hubungan klien dengan suaminya. locheanya. Riwayat Kontrasepsi Kemungkinan klien pernah menggunakan kontrasepsi IUD atau klien pernah sterilisasi tuba (operasi tuba untuk kontrasepsi). . g. j. bagaimana proses involusi uterusnya. i. – Riwayat Kesehatan sekarang . Riwayat Seksualitas Kemungkinan klien sering berganti-ganti pasangan. pernah mengalami endometriosis dan klien pernah melakukan operasi tuba. punya riwayat keturunan kehamilan ektopik. – Kemungkinan perdarahan pervaginam. apakah ada kebiasaan-kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan. pernah infeksi setelah pemakaian IUD. kemungkinan klien sedang menderita infeksi pada tuba. Riwayat Kehamilan Seakarang – Kemungkinan klien merasa mual muntah – Kemungkinan ibu merasa nyeri pada bagian perut yang mendadak. apakah ibu mengalami infeksi post partum atau tidak terutama infeksi yang sudah sampai ke tuba. kemungkinan klien pernah mengalami infeksi pada saluran reproduksi khususnya tuba. dengan tetangga dan dengan masyarakat. klien sedang mengalami endometriosis. seksual yang tidak sehat dan apakah aktivitasnya normal atau tidak. – Nifas yang lalu. dengan keluarganya. apakah klien bersalin spontan atau dengan tindakan. kista ovarium. dan bagaimana budaya sekitar klien. Riwayat kesehatan keluarga Kemungkinan ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit menular seksual. Riwayat Kesehatan – Riwayat kesehatan yang lalu . Bagaimana keadaan ekonomi klien. miom subserosa. cukup bulan atau prematur atau bahkan post-term.

25 l. puting susu menonjol atau tidak. yaitu pemeriksaan pandang yang dimulai dari kepala sampai kaki. atau klien merasa cemas dan takut terhadap kehamilannya tersebut. muka. Riwayat Spritual Bagaimana spritual klien. Kebutuhan Dasar Kemungkinan pemenuhan kebutuhan bio-psiko yang meliputi pemenuhan nutrisi. hidung (adanya epistasis atau tidak). Pemeriksaan Umum Secara teoritis kemungkinan ditemukan gambaran keadaan umum klien buruk. apakah ada edema. n. kemungkinan klien dan suami mengharapkan kehamilan yang ini. Pemeriksaan Khusus – Secara inspeksi. mulut apakah ada carries dentis atau stomatitis atau karang gigi. . anus apakah ada hemoroid serta ektermitas atas dan bawah apakah ada kelainan. dan kebiasaan-kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan. lihat pembesaran perut apakah sesuai usia kehamilan atau tidak. kebersihan vulva. m. hiperpigmentasi atau tidak. simetris atau tidak. nadi cepat. 2. leher apakah ada pembenkakan kelenjar tiroyd dan limfe. apakah ada pembengkakan dan apakah ada perdarahan yang abnormal atau pengeluaran cairang vagina yang abnormal. rambut. Riwayat Psikologis Kemungkinan adanya tanggapan klien dan keluarga yang baik terhadap kehamilan yang ini. kebersihan kulit. klien tampak lemah. a. payudara apakah ada pembengkakan. istirahat. personal hygiene. b. apakah klien melaksanakan ibadahnya sesuai dengan agama dan kepercayaannya dengan baik. telinga. Yang dinilai adalah kemungkinan bentuk tubuh yang normal. proses eliminasi. tekanan darah menurun atau mungkin klien syok. aktifitas sehari-hari. Data Objektif Data dikumpulkan melalui pemerikasaan umum dan pemerikasaan khusus. conjuntiva dan skelera. ada varises atau tidak. – Secara palpasi Dengan dilakukan palpasi kemungkinan ditemukan perut kembung (karna berisi cairan bebas). kesadaran menurun. apakah ada bekas luka operasi. apakah vulva bersih atau tidak.

Pemeriksaan laboratorium . Sonografi Transabdomen. Diagnosis Multimodalitas e. Pemeriksaan Sonografi . b. teraba masa adneksa dan badan panas karena dehidrasi. Hemogram. Human Chorinic Gonadotropin ( HCG ). Penanda-Penanda Serum Baru. 3. – Pemeriksaan taksiran berat badan janin Tidak dilakukan karena tidak ditemukannya tinggi fundus uteri serta nyeri saat palpasi. Pada pemeriksaan dalam terdapat nyeri goyang servik. yaitu : . Pemeriksaan Penunjang a. kavum douglas menonjol. c. Kuldosentesis d. Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik. Masalah ini sering menyertai diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan harus memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan.Transvaginal Sonografi). Kata masalah dan diagnosa keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosa tetapi membutuhkan penanganan yang dituangkan kedalam sebuah rencana asuhan terhadap klien. 26 nyeri tekan pada bagian abdomen. Laproskopi Langkah II : Interpretasi Data Dasar Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atau data-data yang telah dikumpulkan. Progesteron serum. – Secara Aukultasi Kemungkinan denyut jantung Janin belum bisa didengar karena kehamilan kurang dari 12 minggu. Sonografi Transvagina (TVS. – Secara Perkusi Kemungkinan reflek patella ibu positif kiri dan kanana. – Pemeriksaan ukuran panggul Kemungkinan ukuran panggul ibu normal menurut pengukuran panggul luar atau berdasarkan riwayat persalinan yang lalu.

nyeri abdomen yang mendadak. usia kehamilan …. dengan Kehamilan Ektopik Dasar : HPHT. Masalah Ketidak nyamanan ibu sehubungan nyeri yang dirasakan. Diakui dan telah di sahkan oleh profesi 2. Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan 5. maka kemungkinan interpretasi data yang timbul adalah : a. angka kematian dan kesakitan pada ibu tinggi serta jarangnya kehamilan ektopik yang mencapai aterm (dengan kata lain kehamilan umumnya akan di akhiri. 27 1. .. c.. A….. serta hasil pemeriksaan penunjang yang menyatakan bahwa ibu dengan kehamilan ektopik.. P….. Memiliki ciri khas kebidanan 4.. H…. b. 2) Kebersihan vulva Dasar : kemungkinan perdarahan terjadi sehingga kebersihan vulva perlu ditingkatkan untuk rasa nyaman ibu dan pencegahan infeksi 3) Kebutuhan Nutrisi dan Hidrasi Dasar : ibu yang mengalami perdarahan akan banyak kehilangan darah (nutrisi dan cairan tubuh) sehingga perlu penggantian cairan dan nutrisi yang hilang untuk menstabilkan kondisi ibu agar tidak jatuh pada keadaan syok.. 4) Kebutuhan rasa nyaman Dasar : ibu merasa kesakitan terutama jika bergerak.. Kebutuhan 1) Dukungan Psikologis Dasar : kehamilan ektopik. Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan 3. terutama pada pasangan yang sangat menginginkan kehamilannya). Berdasarkan kasus ini. perdarahan. Dasar : ibu merasa nyeri dan tegang abdomen yang mendadak yang bisa menyebabkan ibu tidak bisa istirahat atau bahkan ibu menjadi syok. Diagnosa kebidanan Ibu G…. Didukung oleh clinical judgement dalam lingkup praktek kebidanan. jadi dukungan psikologis perlu diberikan.

28 Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langakh IV : Identifikasi Kebutuhan Yang Memerlukan Penanganan Segera Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain yang sesuai dengan kondisi klien. Pada kasus ini perencanaan tindakan yang mungkin dilakukan adalah : 1. Kemungkinan diagnosa / masalah potensial yang timbul pada kasus ini adalah : a. bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa / masalah potensial ini benar-banar terjadi. bila memungkinkan dilakukan pencegahan sambil mengamati klien. kemudia rujuk dengan segera. Langkah V : Merencanakan Asuhan yang menyeluruh Suatu rencana harus disetujui oleh kedua belah pihak. Perencanaan tindakan yang mungkin akan dan tidak dilakukan. Semua keputusan harus bersifat rasional dan valid berdasarkan teori serta asumsi yang berlaku tentang apa yang akan dan tidak dilakukan. Ganti cairan ibu yang hilang dengan memberikan infus. Rujuk ibu kefasilitas yang memadai. Dampingi ibu ke tempat rujukan. baik bidan maupun klien agar perencanaan dapat dilakukan dengan efektif. Langkah ini membutuhkan antisipasi. . 2. Beritahu ibu tentang kondisinya saat ini. namun sebelum itu jika pasien datang dengan kondisi perdarahan maka kemungkinan terjadinya syok hipovolemi sangat tinggi sehingga kita perlu melakukan penggantian cairan yang hilang pada ibu akibat perdarahan dengan pemasangan infus. Kemungkinan tindakan segera pada kasus kehamilan ektopik ini antara lain : Kita sebagai seorang bidan hanya boleh menangani kasus yang fisiologis atau normal. sehingga kemungkinan terjadinya syok hipovolemia sangat tinggi. 4. tindakan yang kita berikan untuk klien dengan kehamilan ektopik terganggu yang disertai perdarahan tetntu saja dengan merujuk klien ke fasilitas yang lebih memadai. 3. Syok Hipovolemia Dasar : ibu dengan kehamilan ektopik terganggu sering terjadi ruptur yang menyebabkan terjadinya perdarahan hebat.

Mengganti cairan yang hilang dengan memberikan cairan lewat infus. 29 5. atau anggota tim kesehatan lainnya. kita sebagai bidan yang merujuk harus bertanggung jawab dalam melakukan rujukan dengan mendampingi ibu sampai ketempat rujukan. 8. beritahu bahwa ibu kemungkinan mengalami kehamilan ektopik. Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan. Langkah VI : Melaksanakan Perencanaan Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Anjurkan ibu untuk istirahat. 7. Perhatikan kenyamanan ibu. Mendampingi ibu ketempat rujukan Ibu yang dirujuk dalam keadaan gawat dan kondisi yang membutuhkan pengawasan ketat. d. 6. Ibu dirujuk ke fasilatas kesehatan agar mendapatkan penangan yang lebih adekuat. Ibu mengalami perdarahan hebat sehingga kehilangan banyak darah. sehingga kondisi ibu memburuk karena perdarahan yang dialami ibu. ia tetap memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. c. b. Beritahu ibu dan keluarga tentang kondisi saat ini. penatalaksanaan yang mungkin dilakukan pada ibu yang menderita kehamilan ektopik terganggu adalah dengan pembedahan. Merujuk ibu segera kefasilitas yang memadai. . Beberapa tindakan yang mungkin dapat dilakukan antara lain : a. untuk itu ibu butuh pengganti cairan tubuhnya yang hilang agar ibu tidak jatuh pada keadaan syok. Manajemen yang efesien akan menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dari asuhan klien. Beri ibu dukungan psikolosgis. Bila bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Jika bidan tidak melakukan sendiri. Perencanaan ini bisa dilaksanakan seluruhnya oleh bidan dan sebagian oleh klien. Memberitahu ibu tentang kondisinya saat ini.

untuk itu kita perlumemperhatikan kenyaman ibi dengan mengganti alas ibu jika sudah lembab atau basah. Memberi ibu dukungan psikologis Ibu dengan kehamilan ektopik akan merasakan cemas dan takut dengan kondisinya dan kondisi janinnya. Disamping memberi rasa nyaman hal ini juga dapat mencegah perkembanga bakteri yang mungkin akan menyebabkan infeksi. untuk itu anjurkan ibu untuk istirahat dan meminimalkan mobilisasi agar nyeri yang dirasakan ibu berkurang. Minta keluarga untuk memberikan dukungan positif kepada ibu. Langkah VII : Evaluasi Merupakan langkah akhir dari proses asuhan kebidanan kehamilan ektopik. h. Kemungkinan hasil evaluasi yang ditemukan : 1. . Ibu yang dengan kehamilan ektopik akan merasakan nyeri pada bagian perut. 30 e. Tercapai sebagian perencanaan tindakan sehingga dibutuhkan revisi. Tercapai seluruh perencanaan tindakan 2. Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan kepada ibu. terutama jika ibu bergerak. Menganjurkan ibu untuk istirahat. Misalnya dengan menyuruh ibu banyak berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT. Memperhatikan kenyamanan ibu Ibu yang perdarahan akan merasa risih atau tidak nyaman bila bokongnya basah atau lembab. Asuhan menajemen kebidanan dilakukan secara kontinu sehingga perlu dievaluasi setiap tindakan yang telah diberikan agar lebih efektif. memberitahu keluarga bahwa ibu sedang kesakitan dan meminta keluarga untuk menghibur ibu. g. untuk itu kita sebagai bidan harus bisa menenangkan ibu dengan memberikan ibu dukungan psikologis. f. Melibatkan keluarga ibu untuk memberikan dukungan kepada ibu.

31 BAB III PENUTUP 3.2 Saran Semoga ibu dapat mengetahui bagaimana cara mencegah kehamilan ektopik dan tenaga kesehatan dapat memberikan asuhan dan tindakan sesuai dengan kewenangannya. . pars intertistialis atau dalam tanduk rudimeter rahim. Kehamilan ektopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba. tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dalam cervik. 3. ovarium atau rongga perut.1 Kesimpulan Kehamilan ektopik adalah kehamilan di mana sel telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uterus.