You are on page 1of 12

Pengembangan model pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas yang sesuai dengan kultur dan karakter siswa

Pengembangan model pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas yang sesuai dengan
kultur dan karakter siswa di SDN Gedongan 2 dan SDN Meri 2 Kota Mojokerto

Ahmad Mustofa Jalaluddin Al Mahalli a*

aProgram Studi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Wijaya
Mojokerto

*Koresponden penulis: ahmad.littlecamelmjk@gmail.com

Abstract
One model of learning that includes a series of learning experiences planned
systematically arranged, operational, and targeted to help students master specific
learning objectives is the expansion ICARE study model class. The purpose of the
development of the learning model ICARE on the expansion of the class are: Produce
learning model ICARE the expansion of classes in accordance with the culture and
character of students at SDN Gedongan 2 and SDN Meri 2 Mojokerto From the results
of this development can be concluded: 1) Products that are developed interesting for
learning in the classroom in the classical and independently. 2) This product can ease
the burden of teachers in teaching. 3) The results of expert validation and testing, the
ICARE study model on the expansion of this class suitable for use in subjects
Religious Education Islam.4) Products that are developed can increase students'
motivation, and motivation is one of the conditions of implementation of productive
learning model. 5) Products that are developed can improve ketuntaan study for
students from three classes of trials increased mastery of grade V-A SDN Gedongan 2
Mojokerto average value Pre test 73.66 increase on the post test 87.80 while the
percentage of completeness pre-test is a 75.61% increase to 92.68%. Students in grade
VB SDN Gedongan 2 Mojokerto average value Pre test 70.49 increase on the post test
87.80 while the percentage of completeness pre-test is a 68.29% increase to 92.68% and
fifth grade students of SDN Meri 2 Mojokerto in mind that the average value of Pre
test 75.71 increases in post test 87.22 while the percentage of completeness pre-test is a
77.14% increase to 88.89%. Thus, it can be concluded that it is feasible for the
dissemination media as a learning strategy.
Keywords: Guidance, journal articles.

A. Latar Belakang bersinggungan dengan peserta didik, untuk
memberikan bimbingan yang akan
Peningkatan mutu pendidikan ditentukan
menghasilkan tamatan yang diharapkan
oleh kesiapan sumber daya manusia yang
(Wardana, 2013). Guru merupakan sumber
terlibat dalam proses pendidikan. Guru
daya manusia yang menjadi perencana,
merupakan salah satu faktor penentu tinggi
pelaku dan penentu tercapainya tujuan
rendahnya mutu hasil pendidikan
pendidikan. Untuk itu dalam menunjang
mempunyai posisi strategis maka setiap
kegiatan guru, diperlukan iklim sekolah yang
usaha peningkatan mutu pendidikan perlu
kondusif dan hubungan yang baik antar
memberikan perhatian besar kepada
unsur-unsur yang ada di sekolah antara lain
peningkatan guru baik dalam segi jumlah
kepala sekolah, guru, tenaga administrasi dan
maupun mutunya (Budyartati, 2014). Guru
siswa. Serta hubungan baik antar unsur-
sebagai tenaga kependidikan merupakan
unsur yang ada di sekolah dengan orang tua
salah satu faktor penentu keberhasilan tujuan
murid maupun masyarakat.
pendidikan, karena guru yang langsung

59

Menindaklanjuti kondisi di atas yakni 2008). operasional. baik di tingkat meningkatkan efektivitas pembelajaran. 2008). teori belajar dan tingkat nasional. bergabung Meri 2 Kota Mojokerto. dengan teman seusianya dan bermain asyik dengan mereka (Setyarini. dan melaksanakan kabupaten/kota ataupun manajemen pembelajaran yang kondusif. diperlukan suatu model pembelajaran yang Malahan dalam kadar tertentu elemen inovatif dalam meningkatkan ketuntasan penting desentralisasi pendidikan yaitu belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan demokratisasi. guru yang Menghasilkan produk Model pembelajaran kompeten adalah guru yang mampu ICARE pada ekspansi kelas yang sesuai mengelola program belajar-mengajar. Tujuan dalam penelitian ini adalah: Menurut Sardiman (2004). pembelajaran. Kota Mojokerto Seorang guru diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam C. Rumusan Masalah bermain atau sebaliknya bermain sambil Berdasarkan latar belakang masalah di belajar tampaknya diperlukan suasana dan atas. menjelaskan. dengan kultur dan karakter siswa di SDN Mengelola di sini memiliki arti yang luas Gedongan 2 dan SDN Meri 2 Kota Mojokerto yang menyangkut bagaimana seorang guru 60 . local wisdom. dan inovasi kurikulum dan manajemen sebagainya. reformasi dan menjadikan model pembelajaran ICARE pada kebijakan kurikulum yang teijadi belum ekspansi kelas menjadi model pelajaran yang diimbangi oleh adanya sistem pengelolaan menarik dan membantu tugas guru dalam kurikulum yang optimal. mampu menguasai keterampilan dasar termasuk desentralisasi pendidikan di mengajar. memberi penguatan. kurikulum di tingkat sekolah (Murniati. Tujuan Penelitian proses pembelajaran yang dijalaninya. maka dapat di kemukakan rumusan metode pembelajaran bahasa Inggris yang masalah sebagai berikut: Diperlukan suatu mengasyikkan (joyful) yang dikemas dengan model pembelajaran ICARE pada ekspansi memperhatikan karakter anak tersebut kelas yang sesuai dengan kultur dan karakter sehingga tujuan dan sasaran pembelajaran siswa di SDN Gedongan 2 dan SDN Meri 2 bisa tercapai dengan baik (Setyarini. Namun demikian. (MBS) memberikan implikasi terhadap bertanya. Salah satu model masih perlu ditingkatkan (Dally. maka perlu sekolah tidak semata-mata ingin belajar dan adanya model pembelajaran ICARE pada mencari ilmu seperti orang dewasa tetapi ekspansi kelas di SDN Gedongan 2 dan SDN mereka ke sekolah untuk bertemu. seperti membuka dan menutup sekolah melalui manajemen berbasis sekolah pelajaran. Untuk mewujudkan impian mereka-belajar sambil B. Sesuai judul penelitian. tingkat provinsi. 2010).PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 Adanya perubahan kebijakan pendidikan. maka kabupaten ataupun di tingkat sekolah. masih adanya persoalan sistemik dan pengalaman belajar yang terencana yang operasional tentang kebijakan kurikulum di disusun secara sistematis. dan tingkat nasional maupun daerah terarah untuk membantu siswa menguasai dihubungkan dengan derajat implementasi tujuan pembelajaran yang spesifik adalah kurikulum di tingkat sekolah. 2010). menvariasi media. model pembelajaran ICARE pada ekspansi Anak usia sekolah dasar berangkat ke kelas. baik manajemen kurikulum di menerapkan strategi. Di sisi pembelajaran yang meliputi serangkaian lain. dan partisipasi Agama Islam Kelas V. juga bagaimana guru kurikulum.

remaja perlu diingat bahwa presentasi dan dewasa yaitu Introduction Connection seharusnya tidak terlalu lama dan paling Application Reflection Extension. Pengembangan model pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas yang sesuai dengan kultur dan karakter siswa dapat dilakukan peserta sendiri. dapat yang telah mereka pelajari. Pada tahap pembelajaran. Refleksi ini juga bisa diketahui para peserta. Tahap ini adalah tahap yang paling a. Poin penting untuk diingat sebelumnya atau dengan dalam refleksi adalah instruktur perlu mengembangkan sebuah kegiatan yang 61 . merupakan rangkaian dengan satu kompetensi yang dikembangkan d. tidak dengan tersebut. Ini dapat 1. Sesudah D. Connection (penghubung) nyata atau memecahkan masalah nyata menggunakan informasi dan kecakapan Sebagian besar pembelajaran baru yang telah mereka peroleh. Introduction (pendahuluan) instruktur. peserta memiliki kesempatan untuk c. Model pembelajaran Icare dilakukan melalui presentasi atau ICARE meliputi lima unsur kunci dari penjelasan yang sederhana. Kajian pustaka itu. para guru atau fasilitator perlu diberi kesempatan untuk menanamkan pemahaman tentang isi mempraktikkan dan menerapkan dari pelajaran kepada para peserta. Bagian ini harus berisi penjelasan tujuan Bagian Application harus berlangsung pelajaran/sesi dan apa yang akan paling lama dari pelajaran di mana dicapai—hasil selama pelajaran/sesi peserta bekerja sendiri. Bagian ini merupakan ringkasan dari Oleh karena itu. kelompok untuk menyelesaikan kegiatan b. Reflection (Refleksi) berdasarkan kompetensi sebelumnya. Introduction (Pendahuluan) penting dari pelajaran. Setelah peserta memperoleh informasi atau kecakapan Pada tahap pengalaman pembelajaran baru melalui tahap Connection. mereka ini. sedangkan peserta memiliki pembelajaran yang baik perlu dimulai kesempatan untuk merefleksikan apa dari apa yang sudah diketahui. Tugas guru dilakukan oleh peserta. anda dapat menghubungkan para peserta dengan informasi baru. semua pengalaman pelajaran. Akan tetapi. Siswa juga dapat melakukan melakukan hal ini dengan mengadakan kegiatan penulisan mandiri dimana latihan brainstorming yang sederhana peserta menulis sebuah ringkasan dari untuk memahami apa yang telah hasil pembelajaran. pengetahuan serta kecakapan tersebut. dengan meminta berbentuk kuis singkat dimana instruktur mereka untuk memberitahu anda apa memberi pertanyaan berdasarkan isi yang mereka ingat dari pelajaran/sesi pelajaran. anda berusaha ringkasan dapat melibatkan diskusi menghubungkan bahan ajar yang baru kelompok dimana instruktur meminta dengan sesuatu yang sudah dikenal para peserta untuk melakukan presentasi atau peserta dari pembelajaran atau menjelaskan apa yang telah siswa pengalaman sebelumnya. 2011). secara pasangan atau dalam harus singkat dan sederhana. Kegiatan refleksi atau Connection dari pelajaran. Anda dapat pelajari. dan adalah menilai sejauh mana keberhasilan mengembangkannya. Penggunaan lama hanya berlangsung selama sepuluh sistem ICARE untuk memastikan bahwa para menit. pengalaman pembelajaran anak-anak. Application (penerapan) mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari (Nosadi.

(2005) Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun Penjelasan: 2006. ketuntasan belajar untuk masing-masing C = Konten atau Connect: berisi sebagian indikator adalah 75%. Dalam hal ini. telah mereka pelajari. Namun pada kenyataannya penyediaan bahan bacaan tambahan.C (1998). Informasi lebih lanjut mengenai Jika layanan. bukan berarti semua peserta yang E = Memperpanjang atau Evaluasi: telah mempelajari dapat secara otomatis memberikan kesempatan untuk belajar menggunakan apa yang telah mereka tambahan dengan link ke informasi lebih pelajari. tugas penelitian atau latihan. learning) serta mampu menemukan Reflect. mengajar.PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 menyediakan kesempatan bagi para menerapkan konten pelajaran dalam kegiatan. Ketuntasan Belajar kegiatan yang dapat dilakukan peserta setelah pelajaran berakhir untuk Dalam kegiatan belajar-mengajar. setiap siswa memiliki karakteristik. selesai. Misalnya Extension biasanya disebut pekerjaan menginginkan 90% siswa dapat menguasai rumah. Kriteria ideal atau prasyarat yang disediakan. pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan A = Terapkan: meminta siswa untuk mempertimbangkan tingkat kemampuan 62 . Kegiatan Extension dapat meliputi materi pelajaran. dan Memperpanjang) diulang perbedaan siswa secara individual dalam dalam setiap modul kursus dan dapat belajar yang berkaitan dalam proses belajar- digunakan dalam tatap muka. 1966). guru Lima langkah dari ICARE perlu mengembangkan belajar tuntas (mastery (Pendahuluan. peserta untuk mengungkapkan apa yang latihan. Kegiatan bagian Extension adalah lanjut atau evaluasi. & Ritchie. dan kualitas ICARE disajikan oleh Hoffman dan pembelajaran serta alokasi waktu yang Ritchie (1998. B. Karena itu. jurnal. kegiatan dimana guru menyediakan 2. 2005). Di sekolah. dicampur. Yang menjadi persoalan. atau tes Karena waktu pelajaran/sesi telah diri. sulitnya memprediksi secara tepat. ketuntasan belajar setiap indikator yang I = Pendahuluan: unit atau pelajaran telah ditetapkan dalam suatu kompetensi diperkenalkan. D. dengan konteks. Terapkan.1 Model rancangan ICARE Berdasarkan kurikulum Kurikulum Hoffman. satuan materi pembelajaran dan konten. dan / dasar berkisar antara 0-100%. para memperkuat dan memperluas guru tentu memiliki harapan-harapan pembelajaran. dan kebutuhan belajar yang berbeda dari siswa lain. kegiatan tertentu terhadap siswanya. kecepatan. Gambar 1.. tujuan. dan lingkungan belajar sepenuhnya online. materi. waktu yang sebenarnya dibutuhkan oleh setiap individu dalam pembelajaran untuk menguasai kompetensi setiap mata pelajaran sehingga tercapai ketuntasan belajar. mayoritas akan dapat menguasai pembelajaran dengan baik (Brunner. R = Reflect: siswa merefleksikan proses pembelajaran mereka dan pengetahuan yang e. Connect. disediakan untuk belajar disesuaikan dengan karakteristik setiap individu siswa. atau proyek. Extension (perluasan/pengembangan) didapat melalui topik diskusi.

sekolah harus terus Model pengembangan tersebut meliputi berupaya untuk meningkatkan kriteria tujuh prosedur pengembangan produk dan ketuntasan belajarnya yang diiringi dengan uji produk. Pendidikan Agama Islam Kelas V SDN I = Pendahuluan: unit atau pelajaran Gedongan 2 dan SDN Meri 2 Kota Mojokerto diperkenalkan. didapat melalui topik diskusi. ketuntasan belajar minimal 75% yang 3. atau tes diri. Pendidikan Agama Islam Kelas V. Prosedur Pengembangan 1. pembelajaran Icare pada ekspansi kelas yang kriteria ketuntasan belajar yang ada di setiap dikembangkan. Pengembangan Model / Produk 4. Penelitian ini C = Konten atau Connect: berisi sebagian materi diarahkan pada pengembangan suatu produk pembelajaran dan konten. (2) peningkatan kualitas sumber daya manusia Identifikasi sumberdaya untuk memenuhi yang dihasilkan. spesifikasi dan Uji operasionalisasi produk(6) Uji eksternal: Uji kemanfaatan produk oleh pengguna. Model Pengembangan dianjurkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. dan / atau adalah (research and development) atau prasyarat yang disediakan. Sedangkan objek penelitian sekolah dapat berbeda-beda dan bahkan lebih ini adalah model pembelajaran ICARE pada rendah dibandingkan dengan kriteria ekspansi kelas. 2. pelajaran 2014/2015 di SDN Gedongan 2 dan SDN Meri 2 Kota Mojokerto. sumber daya pendukung dalam kemanfaatan dan kemudahan model penyelenggaraan pembelajaran. model pembelajaran Icare pada ekspansi A = Terapkan: meminta siswa untuk menerapkan kelas mapellxx dalam meningkatkan konten pelajaran dalam kegiatan. jurnal. penelitian pengembangan. atau ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran proyek. 3) pada ekspansi kelas dalam meningkatkan persiapan pengembanganmengikuti langkah- ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran langkah ICARE. (4) ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Pengembangan produk. dengan konteks. (5) Uji internal: Uji Minimal (KKM). yatiu: (1) Analisis kebutuhan. Sehingga. Subjek dalam penelitian ini adalah para ahli yang menguji kevalidan model model pembelajaran Icare pada ekspansi kelas yang terdiri dari pakar teknologi pendidikan dan siswa sebagai 63 . Kriteria paling rendah untuk kebutuhan. 2) Pengembangan model pembelajaran ICARE mengidentifikasi silabus mata pelajaran. dan (7) produksi. Subjek Penelitian E = Memperpanjang atau Evaluasi: memberikan Penelitian pengembangan ini kesempatan untuk belajar tambahan dengan link dilaksanakan pada semester genap tahun ke informasi lebih lanjut atau evaluasi. tujuan. latihan. Produk yang model pembelajaran Icare pada R = Reflect: siswa merefleksikan proses pembelajaran mereka dan pengetahuan yang ekspansi kelas. Rancangan Penelitian Prosedur pengembangan dilakukan Rancangan penelitian yang digunakan melalui 5 tahap yakni 1) menentukan model dalam penelitian yang berjudul yang akan dikembangkan. (3) Identifikasi spesifikasi produk menyatakan peserta didik mencapai yang diinginkan pengguna. Pengembangan model pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas yang sesuai dengan kultur dan karakter siswa rata-rata peserta didik serta kemampuan pengguna yang menilai tingkat kemenarikan. E. Akan tetapi.

hal ini ICARE pada ekspansi kelas Oleh Ahli dikategorikan Cukup dengan simpang baku Analisis data dari ahli dilakukan dengan 0.35. memperbaiki penggunaan sumber yang merupakan indikator dengan standar dalam menerapkan model skor minimum.0. Uji coba model komponen yang merupakan indikator untuk atau produk bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran ICARE pada ekspansi apakah produk yang dibuat layak digunakan kelas tidak ada yang kurang dari 3. Analisis Data Validasi Model pembelajaran (presentation criteria). rancangan pembelajaran ICARE Dilihat hasil analisis kualitas model 5. Model atau produk yang baik memenuhi a. Uji coba model atau produk juga Meskipun begitu. Analisis aspek model pembelajaran (RPP dan LKS) dari hasil analisis kualitas model pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas di atas dapat disimpulkan bahwa RPP/ Skenario Pembelajaran sudah layak digunakan untuk uji coba sebab skor masing- masing komponen yang merupakan indikator untuk model pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas tidak ada yang kurang dari 3.61. yang dilakukan setelah uji coba sebab skor masing-masing rancangan produk selesai. Ujicoba dilakukan 3 ICARE pada ekspansi kelas oleh Siswa kali: (1) Uji-ahli (2) Uji terbatas dilakukan Hasil pengolahan data angket pembelajaran terhadap kelompok kecil sebagai pengguna dengan menggunkan model pembelajaran produk. 0. atau tidak. Saran dan komentar untuk melihat sejauh mana produk yang dibuat Lembar Kerja Siswa (LKS) model dapat mencapai sasaran dan tujuan. Pada peilaian ini tidak ada saran Gambar 1. dengan membandingkan setiap komponen a.31.PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 tersebut adalah 21. Analisis dilakukan beberapa penggantian seperti berikut. Analisis Data Validasi Model pembelajaran rata-rata pilihan siswa adalah 3. Hasil pengolahan data angket pembelajaran dengan menggunkan model pembelajaran F. Skor batas minimum 64 . Indikator dengan skor 20 ke bawah harus direvisi. pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas ditanggapi sebagai berikut. Setiap komponen yang pengguna langsung telah dilakukan merupakan indikator. hal ini yang dikembangkan betul-betul teruji secara dikategorikan Cukup dengan simpang baku empiris. Kecukupan waktu perlu direvisi 2 kriteria yaitu : kriteria pembelajaran (instructional criteria) dan kriteria penampilan 2. (3) Uji-lapangan (field Testing). Analisis Data ICARE pada ekspansi kelas diketahui bahwa 1. ICARE pada ekspansi kelas diketahui bahwa Dengan uji coba kualitas model atau produk rata-rata pilihan siswa adalah 3. Uji Coba Produk pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas di Uji coba model atau produk merupakan atas dapat disimpulkan bahwa Lembar Kerja bagian yang sangat penting dalam penelitian Siswa (LKS) sudah layak digunakan untuk pengembangan.0.2 Model pengembangan untuk revisi. mengubah data dalam bentuk huruf menjadi Setelah diujicobakan kepada siswa selaku dalam bentuk angka.53.

Memperbaiki tampilan model atau Hasil tersebut menunjukkan bahwa mengganti strategi pembelajarannya pada pre tes secara klasikal siswa belum tuntas belajar.61 % lebih kecil dari pelajaran Pendidikan Agama Islam persentase ketuntasan yang Kelas V SDN Gedongan 2 dan SDN 65 . Hasil tersebut menunjukkan bahwa 3) Hasil Pre Tes Siswa kelas V SDN Meri 2 pada pre tes secara klasikal siswa Model pembelajaran ICARE pada belum tuntas belajar. Hal tarik model ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa Hasil pengolahan data angket pembelajaran yang dimaksudkan dan digunakan dengan menggunkan model pembelajaran guru dengan Model pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas diketahui bahwa ICARE pada ekspansi kelas dalam rata-rata pilihan siswa adalah 3. Hal Model pembelajaran ICARE pada ini disebabkan karena siswa masih ekspansi kelas dalam meningkatkan merasa baru dan belum mengerti apa ketuntasan belajar siswa pada mata yang dimaksudkan dan digunakan pelajaran Pendidikan Agama Islam guru dengan Model pembelajaran Kelas V SDN Gedongan 2 dan SDN ICARE pada ekspansi kelas dalam Meri 2 Kota Mojokerto diperoleh nilai meningkatkan ketuntasan belajar rata-rata Pemahaman belajar siswa siswa pada mata pelajaran Pendidikan adalah 73.49 % dan ketuntasan belajar pengguna langsung telah dilakukan mencapai 68. Analisa Hasil Pre Tes sebesar 68.00 hanya a. karena siswa 3. hal ini meningkatkan ketuntasan belajar dikategorikan Cukup dengan simpang baku siswa pada mata pelajaran Pendidikan 0.00 hanya ketuntasan belajar siswa pada mata sebesar 75. 2) Hasil Pre Tes Siswa kelas V-B SDN a. pengguna langsung telah dilakukan beberapa penggantian seperti berikut.65. Agama Islam Kelas V SDN Gedongan Setelah diujicobakan kepada siswa selaku 2 dan SDN Meri 2 Kota Mojokerto.64. karena siswa ekspansi kelas dalam meningkatkan yang memperoleh nilai > 70. Pengembangan model pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas yang sesuai dengan kultur dan karakter siswa b.66 % dan ketuntasan belajar Agama Islam Kelas V SDN Gedongan mencapai 75. Analisis Data ketuntasan belajar yang memperoleh nilai > 70. a.27. hal ini Kelas V SDN Gedongan 2 dan SDN dikategorikan Cukup dengan simpang baku Meri 2 Kota Mojokerto diperoleh nilai 0. dari 31 anak sudah tuntas belajar.26. Mengubah dengan meningkatkan daya dikehendaki yaitu sebesar 100 %. Mengubah dengan meningkatkan daya Gedongan 2 tarik model Model pembelajaran ICARE pada Hasil pengolahan data angket pembelajaran ekspansi kelas dalam meningkatkan dengan menggunkan model pembelajaran ketuntasan belajar siswa pada mata ICARE pada ekspansi kelas diketahui bahwa pelajaran Pendidikan Agama Islam rata-rata pilihan siswa adalah 3.29 % lebih kecil dari 1) Hasil Pre Tes Siswa kelas V-A SDN persentase ketuntasan yang Gedongan 2 dikehendaki yaitu sebesar 100 %. rata-rata Pemahaman belajar siswa Setelah diujicobakan kepada siswa selaku adalah 70. dari 31 anak sudah tuntas belajar.29 % atau ada 28 siswa beberapa penggantian seperti berikut.61 % atau ada 31 siswa 2 dan SDN Meri 2 Kota Mojokerto.

karena siswa Gedongan 2 yang memperoleh nilai > 70.00 hanya Model pembelajaran ICARE pada ekspansi sebesar 77. Hal ini mengalami peningkatan ketuntasan ketika siswa diajar dengan b.68 % ICARE pada ekspansi kelas dalam atau ada 38 siswa dari 31 anak sudah tuntas meningkatkan ketuntasan belajar belajar.68 % lebih kecil dari persentase dan ketuntasan belajar mencapai 88.89 % ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar atau ada 32 siswa dari 26 anak sudah tuntas 100 %. Hal ini mengalami peningkatan belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada pre tes secara klasikal siswa 2) Hasil Pos Tes Siswa kelas V-B SDN belum tuntas belajar. karena siswa yang 2 dan SDN Meri 2 Kota Mojokerto. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ketuntasan ketika siswa diajar dengan pada pre tes secara klasikal siswa belum Model pembelajaran ICARE pada ekspansi tuntas belajar.80 % guru dengan Model pembelajaran dan ketuntasan belajar mencapai 92.68 % kelas dalam meningkatkan ketuntasan atau ada 38 siswa dari 31 anak sudah tuntas belajar siswa pada mata pelajaran belajar.PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 Meri 2 Kota Mojokerto diperoleh nilai kelas dalam meningkatkan ketuntasan rata-rata Pemahaman belajar siswa belajar siswa pada mata pelajaran adalah 75.80 % Model pembelajaran ICARE pada ekspansi dan ketuntasan belajar mencapai 92.14 % lebih kecil dari kelas dalam meningkatkan ketuntasan persentase ketuntasan yang belajar siswa pada mata pelajaran dikehendaki yaitu sebesar 100 %.00 hanya sebesar Pemahaman belajar siswa adalah 87.14 % atau ada 27 siswa Gedongan 2 dan SDN Meri 2 Kota dari 25 anak sudah tuntas belajar. karena siswa yang 66 . Hasil tersebut menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Islam Kelas V SDN pada pre tes secara klasikal siswa belum Gedongan 2 dan SDN Meri 2 Kota tuntas belajar.68 % lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 100 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa siswa pada mata pelajaran Pendidikan pada pre tes secara klasikal siswa belum Agama Islam Kelas V SDN Gedongan tuntas belajar.22 % 92.71 % dan ketuntasan belajar Pendidikan Agama Islam Kelas V SDN mencapai 77. Hal Pendidikan Agama Islam Kelas V SDN ini disebabkan karena siswa masih Gedongan 2 dan SDN Meri 2 Kota merasa baru dan belum mengerti apa Mojokerto diperoleh nilai rata-rata yang dimaksudkan dan digunakan Pemahaman belajar siswa adalah 87. Mojokerto. karena siswa yang Mojokerto diperoleh nilai rata-rata memperoleh nilai > 70. memperoleh nilai > 70.00 hanya sebesar 92. Pendidikan Agama Islam Kelas V SDN Gedongan 2 dan SDN Meri 2 Kota 2) Hasil Pos Tes Siswa kelas V-B SDN Mojokerto diperoleh nilai rata-rata Gedongan 2 Pemahaman belajar siswa adalah 87. Analisa Hasil Pos Tes Model pembelajaran ICARE pada ekspansi 1) Hasil Pos Tes Siswa kelas V-A SDN kelas dalam meningkatkan ketuntasan Gedongan 2 belajar siswa pada mata pelajaran Model pembelajaran ICARE pada ekspansi Pendidikan Agama Islam Kelas V SDN kelas dalam meningkatkan ketuntasan Gedongan 2 dan SDN Meri 2 Kota belajar siswa pada mata pelajaran Mojokerto.

68 (5) memvalidasi. Analisa Peningkatan Ketuntasan Agama Islam Kelas V SDN Gedongan 2 dan Dari hasil analisis diatas dapat diketahui SDN Meri 2 Kota Mojokerto ini telah bahwa : melaksanakan langkah-langkah yang telah 1.66 meningkat pada pos tes 87. Produk yang dikembangkan menarik sedangkan prosentase ketuntasan pre tes untuk pembelajaran di kelas secara adalah 68. dalam meningkatkan ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan c.49 meningkat pada pos tes 87. (2) menentukan kompetensi dan Pre tes 73. kelas dalam meningkatkan ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran H. sedangkan prosentase ketuntasan pre tes SK.89 % lebih kecil dari persentase mengganti strategi pembelajarannya.80 sedangkan prosentase ketuntasan 67 .66 meningkat pada pos tes 87. Kecukupan waktu perlu direvisi meningkatkan ketuntaan belajar siswa c. kelas V SDN Meri 2 Kota Mojokerto 3.80 model pembelajaran. Mengubah dengan meningkatkan daya Gedongan 2 Kota Mojokerto nilai rata- tarik model rata Pre tes 73. uji coba produk dan % merevisi. dan KD. diketahui bahwa nilai rata-rata Pre tes model pembelajaran ICARE pada 75. Hal ini mengalami peningkatan selanjutnya disebut valid. Verifikasi/Revisi Produk syarat dari terlaksananya model a.80 1. Langkah-langkah yang telah kelas V-A SDN Gedongan 2 Kota dilakukan adalah (1) melakukan analisis Mojokerto diketahui bahwa nilai rata-rata kebutuhan. Hasil analisis ketuntasan belajar siswa telah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan kelas V-B SDN Gedongan 2 Kota sebagai berikut. Hasil analisis ketuntasan belajar siswa direncanakan. Pengembangan model pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas yang sesuai dengan kultur dan karakter siswa memperoleh nilai > 70. Merevisi Kesesuaian dengan strategi pembelajaran produktif.71 meningkat pada pos tes 87.14 % meningkat menjadi 88. dan motivasi merupakan salah satu G. Produk yang dikembangkan dapat % meningkatkan motivasi belajar siswa. Hasil dari validasi ahli dan uji coba. (4) menyusun program produk. % 2. Memperbaiki tampilan model atau 88.61 % meningkat menjadi 92. Produk yang dikembangkan dapat b.00 hanya sebesar e.22 ekspansi kelas ini layak digunakan untuk sedangkan prosentase ketuntasan pre tes mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. karena telah ketuntasan ketika siswa diajar dengan melalui tahapan uji coba baik secara teoretis Model pembelajaran ICARE pada ekspansi maupun empiris. adalah 75.68 klasikal dan secara mandiri. (3) merumuskan judul. pembelajaran 5. Mojokerto diketahui bahwa nilai rata-rata Pre tes 70.89 4. Produk produk ini dapat meringankan 3. Kesimpulan Pendidikan Agama Islam Kelas V SDN Hasil penelitian Pengembangan model Gedongan 2 dan SDN Meri 2 Kota pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas Mojokerto. memperbaiki penggunaan sumber dari tiga kelas uji coba mengalami dalam menerapkan model peningkatan ketuntasan kelas V-A SDN d. Berdasarkan langkah-langkah yang 2. Hasil analisis ketuntasan belajar siswa beban guru dalam mengajar. ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar Produk produk yang sudah direvisi 100 %.29 % meningkat menjadi 92. adalah 77.

Willis. Yogyakarta: Deepublish. Dasar-dasar Evaluasi IA SMA Negeri 4 Watampone..C (1998). ekspansi kelas yang dikembangkan bisa Firman. (2008). Pendidikan (Edisi Revisi). H.80 sedangkan prosentase ketuntasan African context. & J..68 % dan siswa kelas V SDN 10(4).71 meningkat Budyartati. [Online]. In: J. ODEL%20PEMBELAJARAN%20CTL. Model pembelajaran ICARE pada America: Scott Foresman and Company. Jadi. Saran-Saran Nasional. Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan I. L. (2003). Design of Instruction. USA: Macmillan. I. Willis. D. disimpulkan bahwa media ini layak Makalah Seminar Regional. The International Review of pre tes adalah 68. N. Paradigma Baru Pendidikan meningkat menjadi 88. (2005). Penilaian Hasil Belajar dalam juga digunakan sebagai tugas yang dapat Pengajaran Kimia. B. 2005. Molenda. I. 2010. dan Russel.29 % meningkat Research in Open and Distributed Learning. (2006). (Third edition). S. VA: Association model pembelajaran ICARE pada for Advancement of Computing in ekspansi kelas yang lebih menarik. Berdasar simpulan dari penelitian ini.22 sedangkan prosentase Sekolah Dasar. Dinamika Pendidikan. Exploring blended learning rata Pre tes 70. Siswa kelas V-B SDN dan Menengah. templates. dan Carey. J. Gedongan 2 Kota Mojokerto nilai rata- Boitshwarelo. menyenangkan. Bandung : Jurusan Kimia diberikan pada saat guru berhalangan FPMIPA IKIP hadir.). Yogyakarta: Belajar Pendidikan Agama Islam (Pokok Mat eri UNY.61 % meningkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar menjadi 92. Ahmad. Meri 2 Kota Mojokerto diketahui bahwa nilai rata-rata Pre tes 75.Jakarta: Bumi Tersedia: Aksara. di Universitas untuk diseminasi sebagai salah satu PGRI Surabaya: 19 April 2000. http://puslitjaknov. (1989)./Ahmad%20Jaya ni_PENERAPAN%20M Badan Nasional Standar Pendidikan. Problematika Pembelajaran di pada pos tes 87. Charlottesville. Produk model pembelajaran ICARE pada Heinich. The Systematic dapat disarankan hal-hal sebagai berikut. Suharsimi. Technology and teacher education dapat dilakukan dengan memanfaatkan annual-1998. Daftar Pustaka Jayani. D. Education. Penerapan Model Pembelajaran CTL untuk Meningkatkan Prestasi Anonim. dapat Memasuki Era Desentralisasi dan Demokratisasi. Depdiknas.PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 pre tes adalah 75. ekspansi kelas ini dapat dikembangkan Instructional media and the new technologiest of oleh para pendidik khususnya guru instruction.pdf (25 Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Desember 2009) 68 . menjadi 92. 2. Pendidikan Agama Islam sehingga inc pembelajaran menjadi lebih Hoffman. meningkatkan ketuntasan belajar siswa.49 meningkat pada pos tes for science teacher professional development in an 87. Price Pengembangan penelitian selanjutnya (Eds.org/. Dick. Jakarta: Depdiknas.68 %. memotivasi siswa dan Teaching and learning online: Tools. ketuntasan pre tes adalah 77.14 % Degeng.. (2014).89 %. strategi pembelajaran. (1991). and training. (2009). (2000). R. W. United States of 1. (2003). Statistika) dan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI- Arikunto. & Ritchie. B.

Yogyakarta: Pustaka Journal of Clinical Investigation. S. Interaksi dan Motivasi untuk meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Belajar Mengajar. 45(4).. (2008). (2015).. R.. Pembelajaran. Publishing. Evaluating student and faculty Kepala Sekolah dalam Pemberdayaan. Dirjen Silverius..com/doc/26759485/Ren Setiawan. L. Safrina. and Suprijono. Sons Salyers. Metode Penelitian Kuantitatif. Evaluasi Hasil Belajar dan Dikti Depdikbud. (2011). P. Barrett. rate. (2010). A. (2007). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Prasetya Irawan. Model-model Pembelajaran “Pendekatan Pemecahan Masalah”. & Williams. (2001). Murniati. G. S. N. Salyers. A. J. (1997) Teori Belajar.. (2010). 1999. Morrison. & UM. D. A. & Willis. Purwanto. & Seldin. A. NJ: Merrill. Marsh.. Surakarta: Yuma. F. Effect of aortic constriction and elevated Suparman. F. C. 69 . L. Nelson. 11(1). ongoing issues. I. 24(3). Teknik Informatika. Model ICARE (introduction Distance Education. Bandung: Alfabeta. 1-6. Pekerjaan Yang Anda Inginkan. (2001). & Ali.. Curriculum: Alternative approaches. S. Pengembangan model pembelajaran ICARE pada ekspansi kelas yang sesuai dengan kultur dan karakter siswa Majid. fractional reabsorption. Jurnal IPS Inovatif. Perangkat Pembelajaran Menggunakan Metode Care-New Mind Mapping Pada Standar Kompetensi Menerapkan Dasar-Dasar Teknik DigitaL. P. Suke. (2011) Cooperative Learning Metode. M. Teknik. C. 1996. C. Lani. (2005).. A. Developmental Research : Studies of Instructional Design and Development. Wayne A. Brunner. Jurnal Penelitian Pendidikan.. K. J. Cooperative Learning tubular size in the proximal tubule of the rat. Oemar Hamalik. classroom instructional methods: Effects on course outcomes and student satisfaction. Motivasi Gramedia Pustaka Utama. Carter. New York: John Wiley & Scholarship. 4(2). Pengembangan Metode Pengajaran Bahasa Inggris Dalam Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi. Struktur dan Penerapan. 590. Real time face Englewood Cliffs. & Kemp. connection application reflection extention) Sardiman.. Bumi Aksara: Jakarta. (2009). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Sidharta. “Puppet Show”: Inovasi Pendidikan Nasional. Sugiyono. Pustaka. (2005).. Tersedia pada: http://www. detection system (Doctoral dissertation. D. dan R & D. Jakarta: Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Direktorat Pendidikan Menengah Siswa SD. 2(1).. E.. (2000). (1995). dan Pengajarannya. Desain Teks Untuk Belajar Sugiyanto. Pendidikan. Jakarta. (1991). L. V. Miftahul Huda. Web-enhanced and face-to-face Yogyakarta : Pustaka Pelajar.M. Design International Journal of Nursing Education effective instruction. transit time. (2009). dan Ketrampilan Mengajar (Pekerti). A. W. J. Manajemen Stratejik: Peran (2010). (2003). Jakarta: PT.scribd. Rita C. Perdana satisfaction with a pedagogical framework. Setyarini. Universiti Malaysia Pahang). Pengembangan cana-Pelaksanaan-Pembelajaran-Berbasis-i. Richey. Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Jakarta: Rajawali Pers. Mechanism of glomerulotubular balance. 2011. (1966). Kiat Sukses Mendapatkan Indonesia Nomor 41 Tahun 2007. International Journal of E-Learning & Nosadi. Agus. G. (2009). Grasindo. ureteropelvic pressure on glomerular filtration Jakarta: PAC-PPAI Depdiknas. (1999). Desain instruksional. Rector Jr. Kurikulum dan Jurnal Pendidikan Teknik Elektro. Umpan Balik. Ross. S. B. A. V. Teori & Aplikasi Paikem. K.

D. dan T. (1998). (1999). (1990). dan Yamin. Plomp (eds). Ratna. Philadelphia: Kogan Wardana. Motivasi berprestasi Page. in Education and Training (pp. Syamsu. Bandung: Angkasa. S. K. Psikologi Belajar Agama van den Akker J. Development Research. Landasan. (1996). Principles and Methods of (Perspektif Agama Islam) Edisi Revisi. 98-109. Tarigan. Jakarta: Erlangga. 1-14). van den Akker. Dortrech: Kluwer Academic Publishers. Trianto. 1(1). Desain Pembelajaran Berbasis Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Tingkat Satuan Pendidikan. 2005. Martin. dengan kinerja guru yang sudah disertifikasi. Pengajaran Pragmatik. Henry Guntur. Wilis Dahar. Pada J. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep. (2013). Teori-teori Belajar. Tessmer. M. Nieven. Planning and Conducting Formative Evaluations. 2010. Jakarta: Gaung Satuan Pendidikan (KTSP). Gustafson.PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2017 Pelajar. Bandung: Pustaka Bani Quraisy R. Yusuf. Prenada Media Group. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan. Design Approaches and Tools 70 . Jakarta: Kencana Persada. (2007).Branch.