You are on page 1of 28

MATERI INTI - Ml 2

MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
DI PUSKESMAS DAN FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN LAINNYA

I. DESKRIPSI SINGKAT

Puskesmas merupakan tempat kerja serta tempat berkumpulnya orang-
orang sehat (petugas dan pengunjung) dan orang-orang sakit (pasien), sehingga
Puskesmas merupakan tempat yang mempunyai risiko kesehatan maupun
kecelakaan kerja resiko tinggi.
Berdasarkan Kepmenkes Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 tentang
Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) menyatakan bahwa
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota
yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di
wilayah kerjanya.
Jumlah Puskesmas pada Februari 2007 sebanyak 8.114, Puskesmas
Pembantu 22.347 dan yang dilengkapi dengan sarana kendaraan roda 4
sebanyak 6.544, ambulance sebanyak 1.335 dan perahu sebanyak 616 buah
serta jumlah petugas di Puskesmas mencapai 166.154 orang (Ditjen Binkesmas
2007).

Mengingat tingginya risiko kesehatan dan keselamatan kerja bagi petugas di
puskesmas serta adanya amanat dalam Undang-undang untuk menerapkan
Kesehatan Kerja di tempat kerja, maka perlu penerapan Kesehatan Kerja di
Puskesmas.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN

TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM :
Setelah mengikuti sesi ini peserta latih mampu melaksanaan manajemen
kesehatan kerja di Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS :
Setelah mengikuti sesi ini peserta latih mampu:
1. Menjelaskan ruang lingkup manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di
puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

2. Menjelaskan konsep dasar sistem manajemen Keselamatan dan kesehatan
kerja di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
3. Menjelaskan Sistem Manajemen keselamatan dan Kesehatan Kerja di
Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
4. Melaksanakan langkah-langkah pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja di Piuskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
5. Mengembangkan dan meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja di
Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
6. Melaksanakan pembinaan kesehatan dan keselamatan kerja di wilayah kerja
puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

III. POKOK BAHASAN

1. Pengertian Ruang lingkup dan manfaat manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
2. Konsep dasar Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya.
4. Langkah-langkah pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di
puskesmas fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
5. Pengembangan dan peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Puskesmas fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
6. Pembinaan dan Pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di
Puskesmas fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

IV. BAHAN BELAJAR.

1. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
2. OHSAS 18001
3. Pedoman Manajemen Kesehatan Kerja Puskesmas tahun 2008

V. LANGKAH/PROSES
• Fasilitator memperkenalkan diri. (2 menit)

• Fasilitator menjelaskan secara singkat tujuan, pokok bahasan, dan metode yang
dipakai. (5 menit)
• Fasilitator melakukan penggalian pemahahaman peserta tentang sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. (5 menit)

(10 menit) a.(10 menit) • Fasilitator menyimpulkan/refleksi hasil dari diskusi kelompok.dampak bahaya dan cara pengendalian kesehatan kerja di dalam puskesmas. (13 menit) • Fasilitator menjelaskan petunjuk diskusi kelompok. Apa hambatannya? d. setiap kelompok diberi penugasan untuk mengidentifikasi masalah manajemen keselamatan. Mengapa sulit ? c.(5 menit) • Fasilitator membagi peserta dalam 4-5 kelompok. Apa harapan yang diinginkan? .• Fasilitator menyampaikan materi tentang manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di puskesmas. Apakah dijumpai kesulitan dalam membuat laporan kelompok b. (setiap kelompok 10 menit:40 menit) • Diskusi pleno untuk mendapatkan masukan dari peserta kelompok lain.(20 menit) • Peserta dan atau fasilitator mengklarifikasi atau meminta penjelasan kepada fasilitator.(5 menit) • Peserta melakukan diskusi kelompok.(20 menit) • Peserta menyajikan hasil diskusi kelompok.

TUJUAN Tujuan Umum Melaksanakan manajemen kesehatan kerja di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Berdasarkan Kepmenkes Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) menyatakan bahwa Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. status vaksinasi Hepatitis B petugas kesehatan Puskesmas masih rendah sekitar 12. .3 %. cairan tubuh. riwayat pernah tertusuk jarum bekas sekitar 84. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pada bab XII mengenai kesehatan kerja pasal 164 lebih jauh menyebutkan bahwa upaya Kesehatan Kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. tertusuk jarum suntik bekas dan sebagainya. sehingga Puskesmas merupakan tempat yang mempunyai risiko kesehatan maupun kecelakaan kerja.5%.2% (Kuwat Sri Hudoyo.URAIAN MATERI MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PUSKESMAS DAN FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN LAINNYA A. menunjukkan bahwa rendahnya perilaku petugas kesehatan di Puskesmas terhadap kepatuhan melaksanakan setiap prosedur tahapan kewaspadaan universal dengan benar hanya 18. Puskesmas merupakan tempat kerja serta berkumpulnya orang-orang sehat (petugas dan pengunjung) dan orang-orang sakit (pasien). 2004). Risiko petugas Puskesmas terhadap kesehatan dan kecelakaan kerja dapat digambarkan seperti hasil penelitian di Jakarta Timur tahun 2004. Latar Belakang Dalam Undang-undang No. B. VII. Petugas Puskesmas mempunyai risiko tinggi dalam penularan penyakit melalui darah.

6. 3. Menjelaskan konsep dasar sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Pengertian Ruang lingkup dan manfaat manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Tujuan Khusus 1. 4. Menjelaskan Sistem Manajemen keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. 3. 4. 6. Langkah-langkah pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di puskesmas fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Pembinaan dan Pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Melaksanakan langkah-langkah pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Pengembangan dan peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Puskesmas fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. 2. RUANG LINGKUP Ruang lingkup sasaran manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya ini meliputi: 1. 2. 5. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. . Melaksanakan pembinaan kesehatan dan keselamatan kerja di wilayah kerja puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. 5. Konsep dasar Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Mengembangkan dan meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja di Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Menjelaskan ruang lingkup manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. C.

sehingga dalam upaya memenuhi kebutuhan. seperti: • Aspek teknik • Aspek medik • Aspek Sosial • Aspek legal Sejak tahun 1970 diberlakukan ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Safety and Health Act) yang bertugas untuk: • Meneliti • Mendidik • Mengevaluasi hazard 2. pengusaha dan pemerintah. minat perorangan. Konsep kesehatan kerja makro. selamat. penanganan keselamatan dan kesehatan kerja berkembang labih serius. Undang-Undang No. 1. Kesehatan Kerja Tingkat Nasional Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pada Pasal 24 disebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. . menyebutkan bahwa Upaya Kesehatan Kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. bebas memilih jenis pekerjaan yang adil dan membuatnya sejahtera. KONSEP DASAR KESEHATAN KERJA A. aman dan nyaman. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Tahun 1976 United Nations International Covenant on Economic. Social and Cultural Right juga menyatakan bahwa kesehatan dan keselamatan kerja merupakan masalah dunia.II. Namun sampai saat ini pekerja belum mendapatkan pekerjaan yang layak. sejalan dengan peningkatan aspek moral. Kesehatan Kerja Tingkat Nasional Pada United Nations Declaration on Humans Right tahun 1948 dirumuskan bahwa setiap orang mempunyai hak azazi untuk bekerja. Disamping itu badan dunia WHO dan badan-badan lainnya seperti International on Occupational Health (ICOH) dan International Social Security Association (ISSA) menyatakan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja menyangkut berbagai aspek. dalam arti masyarakat pekerja belum dapat bekerja dengan sehat.

Peluang timbulnya diukur dengan peluang kejadian konsekuensi. Dari sudut pandang kesehatan kerja. pekerjaan. kapasitas kerja dan status kesehatan pekerja. • Hazards pengorganisasian pekerjaan (work organization hazards) • Hazards budaya kerja (work culture hazards) berupa factor psikososial. pengorganisasian pekerjaan dan budaya kerja. Lingkungan kerja. Perilaku hidup. Konsep Kesehatan Kerja Mikro Konsep Kesehatan Kerja mikro meliputi : Hazard. sistem kerja mikro mencakup empat komponen kerja yaitu pekerja. agar setlap komponen menjadi sehat dengan mengenali / rekognisi hazard yang bersumber dari: (1). dengan melakukan serangkaian upaya keselamatan dan kesehatan kerja. Pekerjaan. menilai besar risiko masing-masing hazard (faktor risiko): dan dilanjutkan dengan intervensi. Sistem kesehatan kerja dibangun di atas empat komponen yang sama. perilaku bekerja. . Risiko dan Sistem Kesehatan Kerja. Pada kondisi tertentu Hazards kesehatan dapat menjadi nyata dan menimbulkan kecelakaan kerja atau gangguan kesehatan. Selanjutnya. Pengorganisasian pekerjaan dan budaya kerja. Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan kegiatan pengendalian risiko kesehatan yang mencakup rekognisi hazard. Sumber atau situasi yang potensial tersebut dikenal sebagai hazard atau faktor risiko berupa : • Hazard tubuh pekerja (somatic hazards) • Hazards perilaku kesehatan (behavioral hazards) • Hazards lingkungan kerja (environmental hazards) berupa factor fisik.B. Setiap komponen kerja mempunyai sumber atau situasi yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi kesehatan pekerja. kimia dan biologic. (3). Risiko semakin besar jika konsekuensi gangguan kesehatan yang ditimbulkan berat dan frekuensi kejadiannya sering. penilaian risiko dan intervensi risiko. (2). (4). berupa upaya untuk meniadakan atau meminimalkan risiko yang ditimbulkannya. • Hazards pekerjaan (work hazards) berupa factor ergonomic. lingkungan kerja.

SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN KERJA Kesehatan kerja merupakan bagian dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja. mental dan sosial) yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jabatan. Pengunjung dan Pasien dengan cara pengendalian bahaya meliputi upaya mencegah dan menanggulangi segala penyakit dan kecelakaan akibat kerja di Puskesmas D. pencegahan penyimpangan kesehatan yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan. penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang adaptasi antara pekerjaaan dengan manusia dan manusia dengan jabatannya (ILO/WHO 1995). 4. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas dapat diartikan sebagai upaya untuk memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan petugas Puskesmas. Pengertian 1. penerapan. sehingga elemen-elemen Sistem Manajemen Kesehatan kerja mengacu pada elemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja seperti yang digambarkan oleh Occupatonal Health and Safety Management System (OHSAS) 18001 sebagai berikut: . pengkajian. Kesehatan Kerja adalah suatu layanan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan (fisik. pencapaian. perlindungan pekerja dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan. perencanaan. yang merupakan ujung tombak penyelenggara pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat di wilayah kerjanya. prosedur proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan. tanggung jawab. pemeliharaan kebijakan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman efesien dan produktif. 2.C. pelaksanaan. 3. Sistem Manajemen Kesehatan Kerja adalah bagian dari sistem manajemen yang meliputi organisasi. Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

c. Identifikasi bahaya. a. IndikatorKinerja e. Jaminan Kemampuan :  Sumber Daya (Manusia.Berdasarkan bagan tersebut. b. Komitmen dan Kebijakan Kesehatan Kerja Pimpinan menetapkan komitmen dan Kebijakan Kesehatan Kerja yang secara jelas memberikan kerangka konsep Kesehatan Kerja. penilaian risiko dan pengendalian risiko. Perencanaan Awal dan Perencanaan Kegiatan yang sedang berjalan 3. Kegiatan Pendukung  Komunikasi  Pelaporan  Pendokumentasian  Pengendalian Dokumen . Perencanaan Kesehatan Kerja. dan Kesadaran  Pelatihan dan Kompetensi Kerja b. Tujuan dan sasaran d. Penerapan Kesekatan Kerja a. elemen-elemen dalam Sistem Manajemen Kesehatan Kerja adalah sebagai berikut: 1. 2. Sarana dan Dana)  Integrasi  Tanggung jawab  Konsultasi. Motivasi. Peraturan perundangan dan persyaratan lain.

untuk memastikan Sistem Manajemen Kesehatan Kerja secara terus menerus sesuai. Tinjauan ulang Sistem Manajemen Kesehatan Kerja meliputi:  Evaluasi terhadap penerapan Kesehatan Kerja  Tujuan.  Pengendalian administratis  Tinjauan ulang kontrak  Pembelian.  Prosedur menghadapi keadaan darurat atau bencana. cukup dan efektif. 4. Tinjauan ulang dan peningkatan oleh pihak manajemen Top manajemen harus meninjau ulang kembali pelaksanaan Sistem Manajemen Kesehatan Kerja pada selang waktu terencana. Identifikasi Sumber Bahaya.  Identifikasi sumber bahaya  Penilaian risiko  Tindakan pengendalian  Perancangan (design dan rekayasa. Inspeksi dan pengujian b.  Pencatatan dan Manajemen Informasi. Penilaian dan Pengendalian risiko. Audit sistem manajemen kesehatan kerja c. sasaran dan Kinerja kerja  Hasil temuan Audit Sistem Manajemen kesehatan kerja  Evaluasi efektif penerapan Sistem Manajemen kesehatan kerja. 5.  Prosedur menghadapi insiden  Prosedur rencana pemulihan keadaan darurat. Tindakan perbaikan dan pencegahan. Pengukuran dan evaluasi a. c. .

6. perlu dilakukan beberapa hal antara lain: 1. MANAJEMEN KESEHATAN KERJA Dl PUSKESMAS A. Komitmen dan Kebijakan Kesehatan Kerja di Puskesmas Salah satu pengambilkeputusan dalam kesehatan kerja dipuskesmas adalah pimpinan Puskesmas sebagai penanggung jawab dalam melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Sebagai tindak lanjut komitmen dan kebijakan pimpinan Puskesmas dalam penyelenggaraan kesehatan kerja.Ill. Pimpinan Puskesmas melakukan advokasi ke Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota untuk mendapatkan dukungan. 5. Mengidentifikasi sumber daya yang ada di Puskesmas 2. Puskesmas perlu membuat pedoman kerja dan prosedur pelaksanaan kesehatan kerja. Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang kesehatan kerja di Puskesmas. 4. oleh karena itu perlu adanya komitmen dan kebijakan untuk memberikan perlindungan kesehatan kerja. 7. juga mempunyai kewajiban untuk memberikan perlindungan keselamatan dan kesehatan kepada seluruh staf bawahannya. 7. Menetapkan tujuan yang jelas sebagai acuan pelaksanaan kesehatan kerja 3. . Sosialisasi program kesehatan kerja kepada seluruh staf/petugas Puskesmas. Memberi wewenang dan tanggung jawab kepada tim kesehatan kerja. 8. dengan mengutamakan upaya peningkatan (promotif) dan pencegahan preventif). Membentuk Organisasi kesehatan kerja atau menunjuk tim penanggung jawab kesehatan kerja. Melakukan monitoring dan evaluasi secara internal dan eksternal. Salah satu upaya perlindungan tersebut dengan penerapan Manajemen kesehatan kerja Puskesmas.

Disamping itu identifikasi potensi bahaya juga dilakukan terhadap proses kerja dan alat kerja yang digunakan dalam mendukung pekerjaan di Puskesmas. Identifikasi Potensi Bahaya di Puskesmas. b. laboratorium. serta hasil tinjauan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja sebelumnya. penilaian dan pengendalian risiko di puskesmas: a. Perencanaan identifikasi potensi bahaya. sasaran dan indikator kinerja yang ditetapkan berdasarkan identifikasi sumber bahaya. proses kerja. memungkinkan terjadinya penyakit akibat hubungan kerja. Perencanaan Kesehatan Kerja di Puskesmas. sering dan lamanya kontak petugas Puskesmas dengan sumber bahaya tersebut. Dalam melakukan penilaian potensi bahaya yang dapat menimbulkan risiko keselamatan dan kesehatan kerja. ruang tunggu. Dalam perencanaan kesehatan kerja di Puskesmas terlebih dahulu mengidentifikasi potensi bahaya yaitu mengenali. dan beban kerja Puskesmas. Penyakit Akibat Hubungan Kerja tersebut juga dapat terjadi karena pajanan penyakit dari pasien atau pengunjung. ruang obat. Puskesmas harus membuat perencanaan penerapan Sistem Manajemen kesehatan kerja dengan sasaran yang jelas dan hasilnya dapat diukur. Menentukan besaran risiko yang ada di Puskesmas berdasarkan pada sumber bahaya yang ada. ruang poli. alat kerja tersebut. kamar mandi/WC dan lain sebagainya. maka perlu diketahui . penilaian dan pengendalian risiko sesuai dengan persyaratan/standar yang berlaku. Perencanaan harus memuat tujuan. gudang. seperti loket pendaftaran.B. Penilaian Risiko di Puskesmas Penilaian risiko di Puskesmas dilakukan dengan cara setelah identifikasi potensi bahaya. juga lingkungan kerja. Potensi bahaya atau risiko di tempat kerja. menemukan dan menentukan ada atau tidak adanya bahaya yang dapat menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan petugas puskesmas di setiap unit tempat kerja Puskesmas. tetapi juga oleh prilaku dan cara kerja petugas. kemudian ditentukan besaran risiko dari potensi bahaya tersebut. ruang rawat inap.

Penerapan kesehatan kerja di dalam Puskesmas. c. Untuk menjamin pelaksanaan kesehatan kerja di Puskesmas. b. Informasi kepada seluruh karyawan/petugas Puskesmas. bahwa setiap risiko kecelakaan dan kesehatan yang ditemukan mempunyai karakteristik tertentu. Menunjuk penanggung jawab kesehatan kerja yaitu sanitarian atau petugas lainnya yang ditunjuk oleh Kepala Puskesmas. Tanggung jawab dan wewenang untuk mengambil tindakan dan menginformasikan kepada semua petugas yang terlibat di Puskesmas. Cara pengendalian risiko dapat dilakukan sesuai dengan hirarki pengendalian dengan cara seperti: • Mengurangi sumber yang dapat menimbulkan bahaya • Mengganti alat/prasarana yang mempunyai potensi bahaya yang tinggi dengan yang kurang berbahaya. antara lain: a. setelah adanya komitmen bersama. Pimpinan Puskesmas dan pimpinan Poliklinik atau tempat kerja lainnya bertanggung jawab atas upaya kesehatan kerja pada tempat . dalam penerapannya perlu informasikan kepada seluruh staf. Penerapan kesehatan kerja di Puskesmas dilakukan dengan cara : 1). Penerapan/Pelaksanaan kesehatan kerja di Puskesmas Penerapan / pelaksanaan kesehatan kerja di Puskesmas meliputi Penerapan kesehatan kerja di dalam Puskesmas dan Penerapan kesehatan kerja di luar gedung Puskesmas a. c. agar diketahui peran. • Mengurangi kontak dengan sumber bahaya • Pengelolaan lingkungan kerja yang sehat dan aman • Adanya aturan atau SOP tentang cara kerja yang baik dan sehat • Adanya pengaturan waktu kerja/shift kerja • Adanya pelatihan bagi petugas Puskesmas tentang cara kerja yang sehat dan selamat • Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) C. proses kerja. jenis pekerjaan. Pengendalian risiko. wewenang dan tanggung jawab dari seluruh petugas puskesmas. menurut tempat kerja.

Petugas yang menangani kegawatdaruratan harus mendapat pelatihan kesehatan kerja. f. . Pemeriksaan kesehatan awal. Penerapan ergonomi di Puskesmas adalah sebagai berikut: (1). Penerapan Ergonomi Permasalahan yang berkaitan dengan faktor ergonomi umumnya disebabkan oleh adanya ketidak sesuaian antara pekerja dan lingkungan kerja secara menyeluruh termasuk per-alatan kerja. Pimpinan Puskesmas memberikan informasi terbaru mengenai kebijakan kesehatan kerja di Puskesmas kepada seluruh staf baik dalam rapat staf atau mini lokakarya serta kepada pengunjung danpasien di Puskesmas. kerja nya. ada beberapa persyaratan: . Kinerja upaya kesehatan kerja dapat memasukkan dalam laporan tahunan Puskesmas. .Pemeriksaan berkaia dilakukan kepada seluruh pegawai puskesmas.Pemeriksaan awal atau sebelum kerja diberikan kepada pegawai baru yang akan mulai kerja atau kepada pegawai pindahan atau mutasi dari tempat lain atau antar tempat kerja. dalam pemeriksaan berkaia ini paling lama 1 (satu) tahun sekali. Pelaksanaan kesehatan kerja bagi petugas Puskesmas meliputi: a). g. e. Posisi duduk/bekerja dengan duduk. Puskesmas menerima saran-saran dari ahli kesehatan kerja yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Lintas Sektor terkait. 2). sedangkan pada unit yang mempunyai risikotinggi sebaiknya dilakukan pemeriksaan berkaia 6 (enam) bulan sekali. 3). berkaia dan khusus pada petugas puskesmas .Pemeriksaan khusus dilaksanakan kepada pegawai yang mengalami gangguan atau sakit tertentu yang sering kambuh walaupun sudah dilakukan pengobatan. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kesehatan kerja petugas di Puskesmas perlu diberikan pelatihan kesehatan kerja bagi seluruh petugas baik secara bersamaan atau bergantian. d. Pelatihan Petugas / Karyawan kesehatan kerja Puskesmas. b).

. Tidak menimbulkan gangguan psikologis. (3). mudah dilihatsetiapsaat. antara lain : kerusakan tulang punggung. tetapi akibat postur tubuh yang berbeda. perlu pemecahan masalah terutama peralatan impor dari negara-negara barat. prolapsus ani ataupun hernia. prolapsus uteri. Terasa nyaman selama melaksanakan pekerjaannya. misalnya tempat kerja yang harus dilakukan dengan berdiri sebaiknya ditambahi bangku panjang setinggi 10-25 cm agar orang dapat bekerja sesuai dengan tinggi meja dan tidak melelahkan. sehingga perlu disesuaikan kembali. (2). Dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan memuaskan. dll. Proses bekerja Ukuran yang benar akan memudahkan seseorang dalam melakukan pekerjaannya. (4). Penampilan tempat kerja Mungkin akan menjadi baik dan lengkap bila disertai petunjuk- petunjuk berupa gambar-gambar yang mudah diingat. dengan tulang punggung yang lurus dan bobot badan terbagi rata pada kedua tungkai. Mengangkat beban Terutama di negara berkembang mengangkat beban adalah pekerjaan yang lazim dan sering dilakukan tanpa dipikirkan efek negatifnya. Penanggulangan permasalahan ergonomi di setiap jenis pe- kerjaan dapat dilakukan setelah mengetahui terlebih dahulu bagaimana proses kerja dan posisi kerjanya. ke- lainan bentukotot karena pekerjaan tertentu. (5). Posisi bekerja dengan berdiri: Berdiri dengan posisi yang benar.

dll) dan ■ Kegiatan meningkatkan lingkungan kerja yang bersih dan sehat (larangan merokok. maka kegiatan promosi kesehatan kerja di Puskesmas perlu menjadi prioritas dalam pelaksanaan kesehatan kerja di Puskesmas. maka tinggi meja kerja bagi laki-laki adalah antara 90-95 cm dan bagi wanita adalah antara 85-90 cm. Promosi/ Pencegahan kesehatan kerja di Puskesmas Pelaksanaan kesehatan kerja di Puskesmas lebih diutamakan pada 2 hal yaitu upaya promotif dan preventif. tinggi optimum area kerja adalah 5-10 cm di bawah siku. Sikap tubuh dalam bekerja Sikap tubuh dalam bekerja berhubungan dengan tempat duduk. Kegiatan Promosi kesehatan kerja akan sangat efektif dan efisien bila dapat mengkombinasikan 3 komponen yaitu : ■ Kegiatan meningkatkan kesadaran (pemasangan leaflet. (6). Untuk merencanakan tempat kerja dan periengkapannya diperiukan ukuran-ukuran tubuh yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan me-mungkinkan dilakukannya gerakan-gerakan yang dibutuhkan. Poster tentang kesehatan kerja dII). Berdasarkan hal tersebut. c). penyediaan Alat Pelindung Diri. Agar tinggi optimum ini dapat diterapkan. Pada posisi berdiri dengan pekerjaan ringan. meja kerja dan luas pandangan. dll). maka perlu diukur tinggi siku yaitu jarak vertikal dari lantai ke siku dengan keadaan lengan bawah men-datar dan lengan atas vertikal. Tinggi siku pada laki- laki misalnya 100 cm dan pada wanita misalnya 95 cm. Kegiatan promotif dan preventif ini sangat berperan dalam mencegah berbagai macam penyakit maupun risiko bahaya yang ada di Puskesmas. Kegiatan ini pada prinsipnya sangat mudah untuk dilakukan dan tidak memerlukan biaya yang besardan sangat efektif untuk mencegah Penyakit Akibat Kerja dan Kecelakaan Akibat Kerja. ■ Kegiatan meningkatkan kemampuan (pelatihan. . larangan membuang sampah sembarangan.

Pembuatan dan sosialisasi Standar Operasional. dll (c).Buka puasa bersama . Beberapa contoh program promosi kesehatan kerja yang perlu dilakukan di Puskesmas: (a). Pembuatan dan pemasangan leaflet. (f). Penambahan asupan gizi petugas Puskesmas (contoh pemberian snack) (g). poster. Imunisasi petugas puskesmas (hepatitis B) (e). Surveilan medik dapat dilakukan dengan memanfaatkan form seperti contoh pada lampiran . Aktivitas sosial bersama. Surveilan medik Untuk mengevaluasi kesehatan kerja petugas puskesmas dapat dilakukan pengamatan dan penilaian secara terus- menerus atau surveilan medik. Penyediaan APD sesuai dengan jumlah yang diperlukan. Kalau ditemukan adanya gangguan kesehatan.Siraman rohani . Kemudian dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan pada petugas. Kegiatan kebersihan lingkungan Puskesmas (contoh gerakan Jum'at bersih) (h). kemudian dilakukan pengobatan dan penanggulangan pada penyebabnya. Sistim Pengolahan Air Limbah dll) (i). (d).Konseling d). Surveilans kesehatan kerja pada tenaga kesehatan dan lingkungan kerja di Puskesmas. . Surveilans dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap penyakit yang terbanyak di tempat-tempat kerja tertentu. Perbaikan dan pemeliharaan sarana dan prasarana puskesmas (air bersih. penyediaan tempat sampah. seperti: . kebersihan dan keamanan ruangan kamar mandi jamban.Piknik bersama. serta ditelusuri penyebabnya. pengelolaan sampah medis dan non medis. Senam kebugaran dan olah raga bersama (b). Surveilans kesehatan kerja meliputi: (1).

. dan sarana lainnya. Kegiatan di luar gedung Puskesmas ini juga mempunyai banyak risiko baik penyakit maupun kecelakaan kerja. (2). Agar sarana kesehatan kerja di Puskesmas tersebut dapat terawat dengan baik perlu diperhatikan pemeliharaan peralatan dan perilaku kerja yang sehat seperti contoh pada lampiran 2. dari memulai pekerjaan sampai dengan mengakhiri pekerjaan. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugas juga memperhatikan atau menggunakan prinsip kesehatan kerja Puskesmas. Evaluasi Program Evaluasi bertujuan mengembangkan program kesehatan kerja yang telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditentukan. penyemprotan fogging. maupun untuk pengembangan secara berkelanjutan. juga perlu dilengkapiAlat Pelindung Diri (APD). d). D. Kegiatan pelayanan kesehatan dilaksanakan di luargedung Puskesmas seperti: kegiatan usaha kesehatan sekolah (UKS). surveilans penyakit menular dan tidak menular dan lain sebagainya. Penerapan kesehatan kerja bagi Petugas yang bekerja di luar Puskesmas. Pembuatan Prosedur Tetap (Protap/SOP) Perlu dibuat Protap di masing-masing tempat kerja (ruangan kerja). pengobatan massal. pembinaan usaha kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM). immunisasi. Untuk melengkapi perlindungan kepada petugas puskesmas disamping pencegahan seperti imunisasi. e). Penyediaan Sarana kesehatan kerja Puskesmas. Surveilan lingkungan Untuk mengevaluasi lingkungan tempat kerja Puskesmas dapat dilakukan pengamatan dan penilaian secara terus menerus terhadap faktor risiko lingkungan. Surveilan lingkungan menggunakan cecklist format surveilan lingkungan. Untuk memberikan semangat dan kerja keran petugas Puskesmas dalam penyelenggaraan program kesehatan kerja dapat diberikan penghargaan atau reward sesuai ketentuan yang berlaku.

pengujian dan pemantauan secara umum meliputi: o Personel yang terlibat harus mempunyai pengalaman dan keahlian yang cukup. pengujian dan memantauan yang sedang berlangsung harus dipelihara dan tersedia bagi manajemen. Frekuensi ispeksi dsn pengujian harus sesuai dengan obyeknya. Bagi daerah yang sudah menggunakan ISO untuk peningkatan mutu. o Penyidikan yang memadai hams dilaksanakan untuk menentukan inti permasalahan dari suatu insiden. pengujian dan pemantauan yang berkaitan dengan tujuan dan sasaran kesehatan kerja dan keselamatan kerja.1. Audit Internal Puskesmas Evaluasi pelaksanaan kesehatan kerja di Puskesmas dilakukan oleh Puskesmas sendiri dengan cara penilaian di tiap unit di petugas dari ruangan yang satu dengan yang lainnya. b. Inspeksi dan Pengujian Puskesmas harus menetapkan dan memelihara prosedur inspeksi. o Peralatan dan metode pengujian yang memadai hams digunakan untuk menjamin telah dipenuhinya standar kesehatan dan keselamatan kerja. o Catatan inspeksi. tertularnya/ . 2. Tindakan perbaikan dan Pencegahan a. o Hasil temuan harus dianalisis dan ditinjau ulang. Audit External Puskesmas Merupakan penilaian pelaksanaan kesehatan kerja di puskesmas yang dilakukan oleh pihak luar (badan independen) yang telah ditunjuk sesuai peraturan yang berlaku. dengan menggunakan form laporan atau evaluasi. Audit kesehatan kerja Puskesmas a. o Tindakan perbaikan hams dilakukan segera pada saat ditemukan ketidaksesuaian terhadap persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja dari hasil inspeksi. Tindakan perbaikan Tindakan perbaikan adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan akar penyebab ketidak sesuaian. pengujian dan pemantauan. dapat menggunakan form-form yang sudah ada. Prosedur inspeksi. 3.

• Tindakan awal dan penerapan pencegahan. • Identifikasi berbagai masalah yang memerlukan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan Pencegahan dan pengendalian risiko akibat kerja dan kecelakaan kerja harus dimulai sejak tahap perancangan dan perencanaan. contoh -contoh elemen yang dipertimbangkan dalam prosedur tindakan perbaikan adalh: • Identifikasi dan penerapan dari tindakan perbaikan dan pencegahan. rekaman. informasi baru pada bahan berbahaya. seperti data tingkat pencapaian no loss incident. untuk memastikan tindakan perbaikan yang dilskukan efektif. terjadinya kecelakaan/insiden yang ditentukan agartak terulang lagi. laporan audit. • Rekaman berbagai perubahan dalam prosedur yang dihasilkan dari tindakan perbaikan dan pencegahan. . timbulnya penyakit di tempat kerja. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam prosedur pencegahan antara lain: • Penggunaan sumber informasi yang sesuai. dan sebagainya. • Evaluasi berbagai pengaruh terhadap hasil identifikasi bahaya potensial dan risiko. updating analisis risiko. • Aplikasi pengendalian risiko atau modifikasi yang sudah ada. b. • Rekaman berbagai perubahan dalam prosedur yang dihasilkan dari tindakan pencegahan. • Penerapan pengendali risiko untuk memastikan pencegahan berjalan efektif.

penilaian dan 7). Data yang berhubungan dengan kecelakaan dan insiden yang terjadi. 16). penilaian dan 5). Keefektifan proses pelaporan bahaya 11). Rekaman prosedur yang tidak efektif. Tinjauan pelaksanaan kesehatan kerja puskesmas juga dapat menjadi media untuk melakukan evaluasi pencapaian kegiatan dan untuk melakukan perbaikan atau perubahan terhadap kebijakan dan sasaran kesehatan kerja. 6). Kesesuaian kebijakan kesehatan kerja 2). Pencapaiankebijakan Kesehatan Kerja 3). pengendalian risiko. pengendalian risiko. Pokok-pokok permasalahan yang dapat dibahas dalam tinjauan manajemen Kesehatan Kerja ini antara lain: 1). Kecukupan proses identifikasi. 12). Ketepatan kesiapan keadaan darurat 15). 9). . Pencapaian sasaran kesehatan kerja 4). Kecukupan sumberdaya. Kefektifan proses inspeksi 10). Keluaran dari berbagai investigasi dari kecelakaan dan insiden. Hasil internal dan eksternal audit yang dilakukan tinjauan sebelumnya. 13). 14).E. Ruang lingkup tinjauan ulang kesehatan kerja puskesmas ini hams dapat mengatasi implikasi kesehatan kerja terhadap seluruh kegiatan termasuk pelaksanaan tugas puskesmas secara keseluruhan serta kinerja puskesmas. Tinjauan Program kesehatan kerja Puskesmas Pimpinan puskesmas melakukan tinjauan ulang Sistem Manajemen kesehatan kerja puskesmas secara berkala untuk menjamin kesesuaian dan keefektifan yang berkesinambungan dalam pencapaian kebijakan dan tujuan kesehatan kerja di puskesmas. 8). Perbaikan untuksistem manajemen kesehatan kerja. Kesesuaian proses identifikasi bahaya.

dan seberapa jauh kemajuan yang telah dicapai. .kecenderungan perspektif masa depan. Penetapan tujuan rencana dan pemilihan cara-cara pencapaian tujuan rencana puskesmas tersebut. Keberhasilan program kesehatan kerja di suatu puskesmas sangat ditentukan oleh kualitas sumbar daya manusia didalamnya. pelaksanaan. Tinjauan keadaan atau review tentang pelaksanaan rencana kerja sebelumnya. Berdasarkan tinjauan dan pemikiran tentang masa yang akan datang perlu disusun rencana kerja secara makro dan dapat disinkronkan dengan program-program lainnya. dengan melakukan perbaikan-perbaikan dari masalah dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kesehatan kerja puskesmas. Dalam identifikasi kebijakan ini biasanya dilakukan secara lintas program berdasarkan pemilihan altematif yang terbaik. Perkiraan keadaan masa yang akan dilalui rencana kerja puskesmas. Pengembangan/Peningkatan Program Berkelanjutan Pengembangan penerapan kesehatan kerja secara berkesinambungan. Dengan kegiatan ini diusahakan dapat dilakukan dan diidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi. 4). Tahap akhir penyusunan rencanma ini adalah tahap persetujuan rencana. biasanya secara bertingkat yaitu persetujuan kepala puskesmas terlebih dahulu kemudian persetujuan kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.F. mulai dari tingkat pimpinan. 3). staf sampai ke pelaksana baiksebagai pemikirdan pengambil komitmen. Hal ini perlu didukung dengan data-data yang ada untuk memproyeksi kecenderungan . jangka menengah dan jangka panjang. maupun pengembang. perencanaan. Identifikasi kebijakan dan upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam perencanaan puskesmas. Dalam pengembangan penerapan kesehatan kerja Puskesmas perlu dilakukan menyususun rencana kerja berkesinambungan dengan memperhatikan unsur-unsursebagai berikut: 1). 5). 2). sesuai hasil tinjauan ulang pelaksanaan kesehatan kerja Puskesmas dilakukan penyusunan perencanaan jangka pendek.

Menyelenggarakan pelatihan /TOTdan mengupayakan pendidikan bagi petugas kesehatan termasuk petugas Puskesmas guna meningkatkan wawasan. h. indikator. Menyelenggarakan model percontohan sarana dan prasarana termasuk panduan program kesehatan kerja berskala nasional. Merumuskanstandarnasional. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN KESEHATAN KERJA Dl PUSKESMAS A. prosedurdanpengendalian secara makro. b. Merumuskan kebijakan dan panduan strategi nasional. Melaksanakan pembinaan dan bimbingan teknis program kesehatan kerja baikdi propinsi. Peran Departemen Kesehatan . f. Melakukan kajian dan uji coba metodologi dan teknologi untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas upaya kesehatan kerja di Puskesmas. Dalam pembinaan penyelengaraan kesehatan kerja ini tidak cukup dari pimpinan puskesmas tetapi dilaksanakan secara berjenjang. dengan peran sebagai berikut. . Kabupaten/kota.program kesehatan sella memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik. Program kesehatan kerja sesuai dengan tata urutan organisasi Departemen Kesehatan berada dalam pembinaan Direktorat Bina Kesehatan Kerja.IV. g. Pembinaan kesehatan kerja di puskesmas Direktorat Bina Kesehatan Kerja mempunyai peran sebagai berikut: a. d. Tujuan pembinaan kesehatan kerja ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan. Sebagai penggerak atau fasilitator dalam pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja di Puskesmas. ketrampilan dan heahlian serta meningkatkan kinerja dalam penyelenggaraan kesehatan kerja. c. e. dan Puskesmas. 1. kemampuan pengembangan kesehatan dan keselamatan kerja. karena hams menjalankan program . dimana Puskesmas mempunyai ketenagaan yang terbatas. Melakukan pengaturan dan fasilitasi penanganan kasus-kasus rujukan nasional di bidang kesehatan kerja. PEMBINAAN Pembinaan kesehatan kerja di Puskesmas diperlukan karena keterbasan sumber daya di Puskesmas seperti ketenagaan.

sarana dan prasarana. j. Mengembangkan rumusan standar kesehatan kerja dan lingkungan kerja di propinsi sesuai kewenangan daerah yang mengacu pada standar nasional. h. g.2. i. f. e. c. sebagai penggerak atau fasilitator dalam pelaksanaan program kesehatan kerja di propinsi. Mengembangkan pedoman kebijakan dan panduan rencana strategi di propinsi. kemampuan dan pengembangan kesehatan kerja. PAHK dan KAK yang berskala propinsi. b. panduan serta alat kesehatan kerja guna mendukung penyelenggaraan kesehatan dan keselamatan kerja di Puskesmas. Membangun jaringan kerja dan rujukan laboratorium sebagai dukungan terhadap kinerja kesehatan kerja di propinsi dan kabupaten/kota. Melaksanakan kegiatan pengaturan penanganan kasus rujukan PAK. Melakukan kajian teknologi tepat guna untuk mendukung Kabupaten/Kota dalam mengatasi masalah kesehatan kerja. Melaksanakan jaringan kemitraan dan forum komunikasi Program Kesehatan Kerja Lintas sektor dan lintas pprogram berskala ppropinsi. a. d. . Melaksanakan pembinaan dan pimbingan teknis program kesehatan kerja. Mengupayakan ketersediaan dukungan dana. Peran Dinas Kesehatan Propinsi. Menyelenggarakan pelatihan / TOT dan mengupayakan pendidikan bagi petugas kesehatan termasuk petugas puskesmas guna meningkatkan wawasan.

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan kerja di Puskesmas. b. prasarana dan alat kesehatan kerja guna mendukung kesehatan dan keselamatan kerja di Puskesmas. Melaksanakan pemeriksaan patologi klinik atau pemeriksaan lingkungan kerja di Puskesmas. Menciptakan lingkungan puskesmas yang kondusif bagi terselenggaranya upaya kesehatan dan keselamatan kerja di Puskesmas. g. Melakukan penatalaksanaan dan rujukan kasus PAK. Mengupayakan dukungan sarana. 4. Menyelenggarakan pelatihan teknis untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia petugas Puskesmas. b. PAHK dan KAK di Puskesmas. Peran Puskesmas. e. g. d. Mengevaluasi terselenggaranya kesehatan dan keselamatan kerja di Puaskesmas. c. Peran Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. a. Menggerakkan seluruh petugas puskesmas untuk berprilaku hidup sehat dalam bekerja. Sebagai penanggung jawab program kesehatan dan keselamatan kerja di Puskesmas. . a. f.3. Melakukan surveilans epidemiologi kesehatan kerja termasuk pemantauan wilayah setempat (PWS) dan maping kesehatan kerja puskesmas. d. e. Mengidentifikasi risiko kesehatan dan keselamatan kerja di Puskesmas. f. Sebagai penyelenggara pelayanan medik dan pelayanan kesehatan kerja di Puskesmas c. Melakukan penerapan teknologi tepat guna untuk mengatasi masalah kesehatan dan keselamatan kerja di Puskesmas. Melaksanakan jaringan kemitraan dan forum kounikasi dengan para stake holders di kaputaen /Kota guna mendukung kegiatan kesehatan kerja di Puskesmas.

pengunjung puskesmas maupun proses kerja. Pengawasan internal dilakukan secara melekat oleh atasan lagsung. yaitu pengawan internal dan pengawan eksternal. 1). Dengan dilaksanakan kesehatan dan keselamatan kerja ini dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat. . PENUTUP Puskesmas sebagai saranadan ujungtombakterdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat. dinas Kesehatan Propinsi. Dalam penyelenggaraan Kesehatan kerja di Puskesmas ini Pimpinan Puskesmas bertanggung jwab penuh atas kelancaran dan tercapainya pelaksanaan kesehatan kerja di Puskesmas. Pengawasan eksternaldilakukan oleh pihak luarseperti Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota . berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. Oleh karena itu pimpinan Puskesmas berkewajiban untuk melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan kesehatan kerja secara terus menerus. aman dan nyaman. 2). Penerapan kesehatan kerja wajib diselenggarakan di setiap tempat kerja termasuk di Puskesmas. produktif dan sejahtera. yang berasal dari pasien. V. bila mungkin dapat dilakukan oleh pihak lain yang berkompeten dalam pengawasan pelaksanaan program-program kesehatan. B. Departemen Kesehatan. selamat. Diharapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat dilaksanakan oleh semua Puskesmas di Indonesia agar deperoleh derajat kesehatan petugas Puskesmas yang sehat. Puskesmas merupakan tempat kerja yang banyak terdapat risiko kesehatan kerja. alat kerja yang dapat membahayakan petugas puskesmas. PENGAWASAN Pengawasan pelaksanaan kesehatan kerja di puskesmas dapat dibedakan dalam dua macam. pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama diharapkan menjadi tempat kerja percontohan dalam pelaksanaan kesehatan kerja di tempat kerja khususnya di sarana kesehatan yang ada di wilayah kerjanya.

dampak bahaya dan pengendalian resiko di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya? . alat dan bahan yang di pergunakan serta lingkungan kerjanya). Pertanyaan: 1. KIA dan imunisasi dan pelayanan luar gedung. umum.Dalam melaksanakan kegiatan puskesmas tersebut telah melayani banyak kurang lebih 100-150 pasien/hari. Bagaimana mengindentifikasi potensi bahaya. KB.tediri dari pasien gigi. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh kepala puskesmas untuk melaksanakan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya? 2.Dalam melaksanakan tugasnya petugas puskesmas menghadapi berbagai bahaya yang dapat timbul dari pekerjaannya (proses kerja.Puskesmas Jelantik baru melaksanakan pelayanan kesehatan pokok saja (basic six).PENUGASAN 1 : POKOK BAHASAN MANAJEMEN KESEHATAN KERJA DI PUSKESMAS DAN FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN LAINNYA Puskesmas Jelantik di Kota Baru mempunyai karyawan sebanyak 48 orang yang kepala puskesmasnya seorang dokter umum (PTT). cara kerja.

Pertanyaan: 1. cara kerja. KB.tediri dari pasien gigi. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh kepala puskesmas untuk melaksanakan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya? 2.Dalam melaksanakan tugasnya petugas puskesmas menghadapi berbagai bahaya yang dapat timbul dari pekerjaannya (proses kerja. dampak bahaya dan pengendalian resiko di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya? .Puskesmas Jelantik baru melaksanakan pelayanan kesehatan pokok saja (basic six).PENUGASAN 1 :POKOK BAHASAN MANAJEMEN KESEHATAN KERJA DI PUSKESMAS DAN FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN LAINNYA Puskesmas Jelantik di Kota Baru mempunyai karyawan sebanyak 48 orang yang kepala puskesmasnya seorang dokter umum (PTT). alat dan bahan yang di pergunakan serta lingkungan kerjanya).Dalam melaksanakan kegiatan puskesmas tersebut telah melayani banyak kurang lebih 100-150 pasien/hari. umum. Bagaimana mengindentifikasi potensi bahaya. KIA dan imunisasi dan pelayanan luar gedung.