You are on page 1of 20

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Diare
2.1.1. Definisi
Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih lunak atau lebih
cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Sementara untuk
bayi dan anak-anak, diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja >10 g/kg/24 jam,
sedangkan rata-rata pengeluaran tinja normal bayi sebesar 5-10 g/kg/ 24 jam (Juffrie,
2010).
Menurut Simadibrata (2006) diare adalah buang air besar (defekasi) dengan
tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih
banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam.
Sedangkan menurut Boyle (2000), diare adalah keluarnya tinja air dan
elektrolit yang hebat. Pada bayi, volume tinja lebih dari 15 g/kg/24 jam disebut diare.
Pada umur 3 tahun, yang volume tinjanya sudah sama dengan orang dewasa, volume
>200 g/kg/24 jam disebut diare. Frekuensi dan konsistensi bukan merupakan
indikator untuk volume tinja.

2.1.2. Etiologi
Menurut World Gastroenterology Organization global guidelines 2005, etiologi diare
akut dibagi atas empat penyebab:
1. Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio, Bacillus cereus, Clostridium
perfringens, Stafilokokus aureus, Campylobacter aeromonas
2. Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus
3. Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli,
Trichuris trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides stercoralis
4. Non infeksi : malabsorpsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilitas,
imunodefisiensi, kesulitan makan, dll.

Universitas Sumatera Utara

(Simadibrata, 2006).

2.1.3. Cara Penularan dan Faktor Risiko
Cara penularan diare melalui cara faecal-oral yaitu melalui makanan atau minuman
yang tercemar kuman atau kontak langsung tangan penderita atau tidak langsung
melalui lalat ( melalui 5F = faeces, flies, food, fluid, finger).
Faktor risiko terjadinya diare adalah:
1. Faktor perilaku
2. Faktor lingkungan
Faktor perilaku antara lain:
a. Tidak memberikan Air Susu Ibu/ASI (ASI eksklusif), memberikan Makanan
Pendamping/MP ASI terlalu dini akan mempercepat bayi kontak terhadap kuman
b. Menggunakan botol susu terbukti meningkatkan risiko terkena penyakit diare
karena sangat sulit untuk membersihkan botol susu
c. Tidak menerapkan Kebiasaaan Cuci Tangan pakai sabun sebelum memberi
ASI/makan, setelah Buang Air Besar (BAB), dan setelah membersihkan BAB
anak
d. Penyimpanan makanan yang tidak higienis
Faktor lingkungan antara lain:
a. Ketersediaan air bersih yang tidak memadai, kurangnya ketersediaan Mandi Cuci
Kakus (MCK)
b. Kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk
Disamping faktor risiko tersebut diatas ada beberapa faktor dari penderita yang dapat
meningkatkan kecenderungan untuk diare antara lain: kurang gizi/malnutrisi terutama
anak gizi buruk, penyakit imunodefisiensi/imunosupresi dan penderita campak
(Kemenkes RI, 2011).

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan mekanisme patofisiologik: a. yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari. Universitas Sumatera Utara . Diare osmotic (osmotic diarrhea) (Suraatmaja. Klasifikasi Terdapat beberapa pembagian diare: 1. 2006).2. (Suraatmaja. 2. 2006). malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus missal pada defisiensi disakaridase. menurunnya absorpsi. Diare osmotik Diare tipe ini disebabkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus halus yang disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik (antara lain MgSO4. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan/minum (Simadibrata. 2007) 2. malabsorpsi glukosa/galaktosa (Simadibrata.1. 2007). Diare akut. yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to thrive) selama masa diare tersebut. Diare kronik. Berdasarkan lamanya diare: a.4. Diare sekresi (secretory diarrhea) b. Mg(OH)2). 2. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. Patofisiologi Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih patofisiologi/patomekanisme dibawah ini: 1.1. Diare sekretorik Diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus. b.5.

Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction. 2010). 2006). Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit Diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif NA+K+ATPase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal (Simadibrata. Gangguan permeabilitas usus Diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disebabkan adanya kelainan morfologi membran epitel spesifik pada usus halus (Simadibrata. 2006). Diare inflamasi Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada beberapa keadaan. elektrolit.3. 7. protein dan seringkali sel darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. Malabsorpsi asam empedu dan lemak Diare tipe ini didapatkan pada gangguan pembentukan/produksi micelle empedu dan penyakit-penyakit saluran bilier dan hati (Simadibrata. Diare infeksi Universitas Sumatera Utara . 2006). Penyebabnya antara lain: diabetes mellitus. 8. 5. Biasanya diare akibat inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare osmotik dan diare sekretorik (Juffrie. tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air. 4. 2006). pasca vagotomi. Motilitas dan waktu transit usus yang abnormal Diare tipe ini disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus. hipertiroid (Simadibrata. 6. mukus.

dan sering berhubungan dengan malabsorpsi dan dehidrasi sering didapatkan. Bakteri non-invasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresikan oleh bakteri tersebut (Simadibrata. Sedangkan manifestasi sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya. diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif dan invasif (merusak mukosa). asidosis metabolik. dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik. kram perut. Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion natrium. bercampur darah dan ada sensasi ingin ke belakang. Diare karena kelainan kolon seringkali berhubungan dengan tinja berjumlah kecil tetapi sering. 2. dan muntah.7. dehidrasi sedang atau dehidrasi berat (Juffrie. Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas. 2006). klorida. Keluhan diarenya berlangsung kurang dari 15 hari.1. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas. Dari sudut kelainan usus. kolaps kardiovaskuler dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Diare karena penyakit usus halus biasanya berjumlah banyak. muntah. Universitas Sumatera Utara . dan tinja yang sering. dehidrasi ringan. dan bikarbonat. 2010). Diagnosis 1. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia.Infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare.6 Manifestasi klinis Infeksi usus menimbulkan gejala gastrointestinal serta gejala lainnya bila terjadi komplikasi ekstra intestinal termasuk manifestasi neurologik. 2. Menurut derajat dehidrasinya bisa tanpa dehidrasi. yaitu mual. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas plasma dapat berupa dehidrasi isotonik. Gejala gastrointestinal bisa berupa diare. dan hipovolemia. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi. demam. diare air. Anamnesis Pasien dengan diare akut datang dengan berbagai gejala klinik tergantung penyebab penyakit dasarnya.1. nyeri abdomen.

ada atau tidaknya air mata. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan. lunglai. Tabel 2. dan turgor kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya: ubun-ubun besar cekung atau tidak. pathogen usus halus tidak invasif. frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah.1 Penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995 Penilaian A B C Lihat: Keadaan umum Baik. 2006). Pernapasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asidosis metabolik. Subyektif dengan menggunakan criteria WHO. atau berdarah tergantung bakteri patogen yang spesifik. dan lain-lain (Juffrie. Secara umum. rasa haus. mukosa mulut dan lidah kering atau basah (Juffrie. Bising usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemia. 2010). mata: cowong atau tidak. Pemeriksaan ekstremitas perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan derajat dehidrasi yang terjadi (Juffrie. 2010). suhu tubuh. Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan cara: obyektif yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum dan selama diare. atau Universitas Sumatera Utara . rewel *Lesu. 2.malabsorptif. bibir. sadar *Gelisah. Muntah yang mulai beberapa jam dari masuknya makanan mengarahkan kita pada keracunan makanan karena toksin yang dihasilkan (Simadibrata. 2010). Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama dehidrasi: kesadaran. dan patogen ileokolon lebih mengarah ke invasif. Skor Maurice King.

Kesimpulan derajat dehidrasi penderita ditentukan dari adanya 1 gejala kunci (yang diberi tanda bintang) ditambah minimal 1 gejala yang lain (minimal 1 gejala) pada kolom yang sama. eritrosit. 2002). dan lain-lain. Universitas Sumatera Utara . ada tidaknya darah. Laboratorium Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut umumnya tidak diperlukan. Pemeriksaan mikroskopik melihat ada tidaknya leukosit. 2010. ingin *malas minum atau haus minum banyak tidak bisa minum Periksa: turgor Kembali cepat *kembali lambat *kembali sangat kulit lambat Hasil pemeriksaan: Tanpa Dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi berat ringan/sedang Bila ada 1 tanda * Bila ada 1 tanda * ditambah 1 atau ditambah 1 atau lebih tanda lain lebih tanda lain Terapi Rencana Terapi A Rencana Terapi B Rencana Terapi C Sumber: Juffrie. Baca tabel penilaian derajat dehidrasi dari kolom kanan ke kiri (C ke A) b. 2010). Hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan. warna tinja. dan lain-lain (Hadi. pus. misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat (Juffrie. lemak. tidak sadar Mata Normal Cekung Sangat cekung dan kering Air mata Ada Tidak ada Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering Rasa haus Minum biasa tidak *haus. telur cacing. lender. parasit. 3. Pemeriksaan tinja baik makroskopik maupun mikroskopik dapat dilakukan untuk menentukan diagnosa yang pasti. bakteri. Secara makroskopik harus diperhatikan bentuk. Cara membaca tabel untuk menentukan kesimpulan derajat dehidrasi : a.

Rehidrasi bukan satu-satunya cara untuk mengatasi diare tetapi memperbaiki kondisi usus serta mempercepat penyembuhan/menghentikan diare dan mencegah anak kekurangan gizi akibat diare juga menjadi cara untuk mengobati diare. Antibiotik Selektif 5. 2011). air matang. Oralit Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga dengan memberikan oralit osmolaritas rendah.½ gelas setiap kali anak mencret Umur 1 – 4 tahun : ½ . Diare tanpa dehidrasi Umur < 1 tahun : ¼ . Penatalaksanaan Menurut Kemenkes RI (2011). Teruskan pemberian ASI dan Makanan 4. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut 3.1 gelas setiap kali anak mencret Umur diatas 5 Tahun : 1 – 1½ gelas setiap kali anak mencret b.1. a. yang didukung oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan rekomendasi WHO. Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang. dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah tangga seperti air tajin. Rehidrasi menggunakan Oralit osmolalitas rendah 2.8. Adapun program LINTAS DIARE yaitu: 1.2. yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Nasihat kepada orang tua/pengasuh 1. Oralit saat ini yang beredar di pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang rendah. prinsip tatalaksana diare pada balita adalah LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare). kuah sayur. Diare dengan dehidrasi ringan sedang Universitas Sumatera Utara . Pemberian oralit didasarkan pada derajat dehidrasi (Kemenkes RI. Bila penderita tidak bisa minum harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan melalui infus.

Zinc juga Universitas Sumatera Utara . 2011) Tabel 2. Pemberian dengan botol tidak boleh dilakukan. Diare dengan dehidrasi berat Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk di infus. dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. 2. Pemberian cairan ini dilanjutkan sampai dengan diare berhenti (Juffrie. 2006 Untuk anak dibawah umur 2 tahun cairan harus diberikan dengan sendok dengan cara 1 sendok setiap 1 sampai 2 menit. (Kemenkes RI. Kebutuhan Oralit per Kelompok Umur Jumlah oralit yang Jumlah oralit yang disediakan di Umur diberikan tiap BAB rumah < 12 bulan 50-100 ml 400 ml/hari ( 2 bungkus) 1-4 tahun 100-200 ml 600-800 ml/hari ( 3-4 bungkus) > 5 tahun 200-300 ml 800-1000 ml/hari (4-5 bungkus) Dewasa 300-400 ml 1200-2800 ml/hari Sumber: Depkes RI. Bila terjadi muntah hentikan dulu selama 10 menit kemudian mulai lagi perlahan-lahan misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit. c. Zinc dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase).2. Anak yang lebih besar dapat minum langsung dari gelas. Zinc Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. 2010).Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.

mengurangi frekuensi buang air besar. Umur < 6 bulan : ½ tablet (10 mg) per hari selama 10 hari b. 4. Anak yang minum susu formula juga diberikan lebih sering dari biasanya. 2011). Berdasarkan bukti ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak mengalami diare. Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti. serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan (Kemenkes RI. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering di beri ASI.berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian diare (Kemenkes RI. 2011). Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan diare. sesudah larut berikan pada anak diare (Kemenkes RI. mengurangi volume tinja. Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih sedikit dan lebih sering. Pemberian ASI/makanan Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan. Pemberian antibiotika hanya atas indikasi Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare pada balita yang disebabkan oleh bakteri. Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari selama 10 hari. suspek kolera (Kemenkes RI. Universitas Sumatera Utara . Setelah diare berhenti. Cara pemberian tablet zinc : Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang atau ASI. 3. 2011). Dosis pemberian Zinc pada balita: a. Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita diare dengan darah (sebagian besar karena shigellosis). 2011).

Makan/minum sedikit e. Pemberian ASI ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibodi dan zat- zat lain yang dikandungnya. ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi nasehat tentang: 1. ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare pada bayi yang baru lahir. 2. Diare lebih sering b. 5. Timbul demam f. Cara memberikan cairan dan obat di rumah 2.1.9. Pemberian ASI eksklusif mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap diare daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu botol. Tidak membaik dalam 3 hari. Pencegahan Pencegahan diare menurut Pedoman Tatalaksana Diare Depkes RI (2006) adalah sebagai berikut: 1. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila : a. Flora Universitas Sumatera Utara . 2011). Pemberian Nasihat Menurut Kemenkes RI (2011). bahkan sebagian besar menimbulkan efek samping yang berbahaya dan bisa berakibat fatal. Obat anti muntah tidak dianjurkan kecuali muntah berat. Muntah berulang c. giardia) (Kemenkes RI. Obat-obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun meningkatkan status gizi anak.Obat-obatan anti diare juga tidak boleh diberikan pada anak yang menderita diare karena terbukti tidak bermanfaat. Sangat haus d. Obat anti protozoa digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh parasit (amuba. Tinja berdarah g.

Universitas Sumatera Utara . 2. Menambahkan macam makanan sewaktu anak berumur 6 bulan atau lebih. 2006). telur. 2006). lemak dan gula ke dalam nasi/bubur dan biji-bijian untuk energi. Pemberian Makanan Pendamping ASI Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap mulai dibiasakan dengan makanan orang dewasa. buah-buahan dan sayuran berwarna hijau ke dalam makanannya. Mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak. Penggunaan botol untuk susu formula biasanya menyebabkan risiko tinggi terkena diare sehingga bisa mengakibatkan terjadinya gizi buruk (Depkes RI. ketika anak berumur 4-6 bulan tetapi masih meneruskan pemberian ASI. Pada masa tersebut merupakan masa yang berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian makanan pendamping ASI dapat menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diare ataupun penyakit lain yang menyebabkan kematian (Depkes RI. kacang–kacangan. Memberikan makanan lebih sering (4 kali sehari) setelah anak berumur 1 tahun. pada 6 bulan pertama kehidupan resiko terkena diare adalah 30 kali lebih besar. Pemberian susu formula merupakan cara lain dari menyusui. ikan. memberikan semua makanan yang dimasak dengan baik 4-6 kali sehari dan meneruskan pemberian ASI bila mungkin. Ada beberapa saran yang dapat meningkatkan cara pemberian makanan pendamping ASI yang lebih baik yaitu : a) Memperkenalkan makanan lunak. Menambahkan hasil olahan susu. 2006). daging. serta menyuapi anak dengan sendok yang bersih. b) Menambahkan minyak.usus pada bayi-bayi yang disusui mencegah tumbuhnya bakteri penyebab diare (Depkes RI. Pada bayi yang tidak diberi ASI secara penuh.

Yang harus diperhatikan oleh keluarga adalah: a) Air harus diambil dari sumber terbersih yang tersedia. 2006) 3. d) Air untuk masak dan minum bagi anak harus dididihkan.c) Memasak atau merebus makanan dengan benar. 2006) 4. c) Air harus dikumpulkan dan disimpan dalam wadah bersih. Mencuci Tangan Universitas Sumatera Utara . dan menggali parit aliran di atas sumber untuk menjauhkan air hujan dari sumber. Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang benar-benar bersih mempunyai resiko menderita diare lebih kecil dibandingkan dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih (Depkes RI. 2006). makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar (Depkes RI. jari-jari tangan. membuat lokasi kakus agar jaraknya lebih dari 10 meter dari sumber yang digunakan serta lebih rendah. menyimpan sisa makanan pada tempat yang dingin dan memanaskan dengan benar sebelum diberikan kepada anak (Depkes RI. 2006). (Depkes RI. 2006). b) Sumber air harus dilindungi dengan menjauhkannya dari hewan. Masyarakat dapat mengurangi resiko terhadap serangan diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanan di rumah (Depkes RI. Dan gunakan gayung bersih bergagang panjang untuk mengambil air. Menggunakan air bersih yang cukup Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fecal-oral mereka dapat ditularkan dengan memasukkan kedalam mulut. cairan atau benda yang tercemar dengan tinja misalnya air minum.

Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban. b) Bersihkan jamban secara teratur. jangan biarkan anak-anak pergi ke tempat buang air besar sendiri. sesudah membuang tinja anak. dan keluarga harus buang air besar di jamban (Depkes RI. sebelum menyiapkan makanan.Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Hal ini tidak benar karena tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak-anak dan orangtuanya. Mencuci tangan dengan sabun. mempunyai dampak dalam kejadian diare (Depkes RI. Membuang Tinja Bayi yang Benar Banyak orang beranggapan bahwa tinja anak bayi itu tidak berbahaya. buang air besar hendaknya jauh dari rumah. 2006) 6. Tinja bayi harus dibuang secara bersih dan benar. Menggunakan Jamban Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko terhadap penyakit diare. Yang harus diperhatikan oleh keluarga : a) Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat dipakai oleh seluruh anggota keluarga. terutama sesudah buang air besar. Universitas Sumatera Utara . 2006). jalan setapak dan tempat anak-anak bermain serta lebih kurang 10 meter dari sumber air. 2006). bungkus dengan daun atau kertas koran dan kuburkan atau buang di kakus. sebelum menyuapi makanan anak dan sebelum makan. hindari buang air besar tanpa alas kaki. c) Bila tidak ada jamban. berikut hal-hal yang harus diperhatikan: a) Kumpulkan tinja anak kecil atau bayi secepatnya. 5. (Depkes RI.

2006). serta lingkungan. 2006) 7. c) Bersihkan anak segera setelah anak buang air besar dan cuci tangannya (Depkes RI. Pemberian Imunisasi Campak Diare sering timbul menyertai campak sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare oleh karena itu beri anak imunisasi campak segera setelah berumur 9 bulan (Depkes RI. Adapun perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2007) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit. Diare dan disentri sering terjadi dan berakibat berat pada anak-anak yang sedang menderita campak dalam 4 mingggu terakhir. Hal ini sebagai akibat dari penurunan kekebalan tubuh penderita. Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan (health seeking behavior) Universitas Sumatera Utara . Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Dari batasan ini. Kemudian buang ke dalam kakus dan bilas wadahnya atau anak dapat buang air besar di atas suatu permukaan seperti kertas koran atau daun besar dan buang ke dalam kakus.b) Bantu anak untuk membuang air besarnya ke dalam wadah yang bersih dan mudah dibersihkan. 2. sistem pelayanan kesehatan. Anak harus diimunisasi terhadap campak secepat mungkin setelah usia 9 bulan. serta imunisasi polio yang berguna dalam pencegahan penyakit polio (Depkes RI. imunisasi DPT untuk mencegah penyakit diptheri. pertusis dan tetanus. makanan. Pencegahan terhadap diare atau pencarian terhadap pengobatan diare pada balita termasuk dalam perilaku kesehatan. anak juga harus mendapat imunisasi dasar lainnya seperti imunisasi BCG untuk mencegah penyakit TBC. Selain imunisasi campak. 2006). Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance). dan minuman. perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok : 1.

1.2. Tingkatan pengetahuan Ada 6 tingkatan pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif.Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. yang mana persepsi ini tidak dapat diamati secara jelas. 3. Hal ini dapat secara jelas diamati oleh orang lain (Notoadmodjo. baik lingkungan fisik maupun sosial budaya. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (Notoatmodjo. Untuk menilai baik atau tidaknya perilaku kesehatan seseorang. rasa dan raba. yakni : 1. Domain-domain tersebut adalah pengetahuan.2. 2003). Dalam penelitian ini domain sikap tidak dinilai. karena merupakan perilaku tertutup (convert behavior). penciuman. dan tindakan. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia. 2. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Tahu (know) Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya. termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) Universitas Sumatera Utara . yaitu respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. sikap.2. 2. 2003). dapat dinilai dari domain-domain perilaku.2. Sementara tindakan termasuk perilaku terbuka. Perilaku tertutup merupakan persepsi seseorang terhadap suatu stimulus. yaitu indera penglihatan. Perilaku kesehatan lingkungan Adalah apabila seseorang merespon lingkungan. pendengaran. dan sebagainya. Pengertian pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan 2.

menyimpulkan. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan. 2. meramalkan dan sebagainya. menyatakan. membedakan. sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulas –formulasi yang ada. menguraikan. prinsip. mengelompokkan dan sebagainya. Universitas Sumatera Utara . memisahkan.terhadap sesuatu yang spesifik dari keseluruhan bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. dan sebagainya. rumus. 6. Dengan kata lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan. Penilaian–penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan criteria–criteria yang telah ada. Analisa (analysis) Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau obyek ke dalam komponen–komponen tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lainnya. Memahami (comprehension) Diartikan sebagai suatu kemempuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Sintesa (Synthesis) Menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagia –bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Menerapkan (application) Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah di pelajari pada kondisi yang sebenarnya. 4. dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang nyata. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemempuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu obyek atau materi. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hokum-hukum. metode. mengidentifikasi. menybutkan contoh. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan. 3. 5.

Tingkat Pendidikan Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. 4. koran. 2. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang. 6.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2003). Sosial Budaya Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan. Keyakinan ini bisa mempengaruhi pengetahuan seseorang. baik keyakinan itu sifatnya positif maupun negatif.2. Penghasilan Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan seseorang. Tindakan Universitas Sumatera Utara .3. 5. Pengalaman Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. dan buku.3. Secara umum. dan sikap seseorang terhadap sesuatu. 3. seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Namun bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas-fasilitas sumber informasi. yaitu : 1. Keyakinan Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. majalah. persepsi. Fasilitas Fasilitas-fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang. 2. televisi. pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. misalnya radio.

4. 2003). Menurut teori Lawrence Green dalam Notoadmodjo (2007) ada 3 faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku individu maupun kelompok. Adaptasi (Adaptation) Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Pengetahuan merupakan komponen penting yang menentukan perilaku seseorang. kepercayaan. Selain pengetahuan. Respon terpimpin (Guided Response) Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua. Faktor pertama adalah faktor yang mempermudah (predisposing factor) yang mencakup pengetahuan. ada faktor-faktor lain yang menentukan tindakan seseorang. pendidikan. maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga. atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. dan unsur lain dalam individu atau masyarakat. sikap. Tindakan dibedakan atas beberapa tingkatan : 1. 3. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo. status sosial ekonomi. Pengetahuan dapat terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Persepsi (Perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama. Faktor kedua adalah faktor pendukung (enabling factor) antara lain umur. dan sumber daya manusia. norma sosial. Untuk mewujudkan sikap menjadi perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. Mekanisme (Mechanism) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis.Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). yaitu faktor yang memperkuat Universitas Sumatera Utara . antara lain fasilitas. Adapun faktor ketiga adalah pendorong (reinforcing factor). 2.

tokoh masyarakat atau petugas kesehatan. Universitas Sumatera Utara . orang tua.perubahan perilaku seseorang yang dikarenakan adanya sikap suami.