You are on page 1of 13

PSIKOFARMAKA

1. Definisi
Psikofarmaka atau obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif pada Sistem
Saraf Pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan perilaku,
digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik yang berpengaruh terhadap taraf kualitas hidup
pasien. Obat psikotropik dibagi menjadi beberapa golongan, diantaranya: antipsikosis, anti-
depresi, anti-mania, anti-ansietas, anti-insomnia, anti-panik, dan anti obsesif-kompulsif,.
Pembagian lainnya dari obat psikotropik antara lain: transquilizer, neuroleptic,
antidepressants dan psikomimetika.

2. Obat-Obat Psikotropika
a. Obat Anti-Psikosis
Anti-psikosis disebut juga neuroleptic, dahulu dinamakan major transquilizer. Salah satunya
adalah chlorpromazine (CPZ), yang diperkenalkan pertama kali tahun 1951 sebagai
premedikasi dalam anastesi akibat efeknya yang membuat relaksasi tingkat kewaspadaan
seseorang. CPZ segera dicobakan pada penderita skizofrenia dan ternyata berefek
mengurangi delusi dan halusinasi tanpa efek sedatif yang berlebihan.

No Golongan Obat Sediaan Dosis Anjuran

1 Fenotiazin Chlorpromazin Tablet 25 dan 100 mg, 150-600


mg/hari
Injeksi 25 mg/ml

Thioridazin Tablet 50 dan 100 mg 150-600


mg/hari

Trifluoperazin Tablet 1 mg dan 5 mg 10-15 mg/hari

Perfenazin Tablet 2, 4, 8 mg 12-24 mg/hari

Flufenazin Tablet 2,5 mg, 5 mg 10-15 mg/hari

2 Butirofenon Halloperidol Tablet 0,5 mg, 1,5 mg, 5 5-15 mg/hari


Mg

Injeksi 5 mg/ml
Droperidol Amp 2.5 mg/ ml 7,5 – 15 mg/hari

3 Difenilbutil Pimozide Tablet 1 dan 4 mg 1-4 mg/hari


piperidin

4 Atypical Risperidon Tablet 1, 2, 3 mg 2-6 mg/hari


Mekanisme Kerja
Semua obat anti-psikosis merupakan obat-obat potensial dalam memblokade reseptor dopamin
dan juga dapat memblokade reseptor kolinergik, adrenergik dan histamin. Pada obat generasi
pertama (fenotiazin dan butirofenon), umumnya tidak terlalu selektif, sedangkan benzamid
sangat selektif dalam memblokade reseptor dopamine D2. Anti-psikosis “atypical” memblokade
reseptor dopamine dan juga serotonin 5HT2 dan beberapa diantaranya juga dapat memblokade
dopamin system limbic, terutama pada striatum.

Cara Penggunaan
Umumnya dikonsumsi secara oral, yang melewati “first-pass metabolism” di hepar. Beberapa
diantaranya dapat diberikan lewat injeksi short-acting Intra muscular (IM) atau Intra Venous
(IV), Untuk beberapa obat anti-psikosis (seperti haloperidol dan flupenthixol), bisa diberikan
larutan ester bersama vegetable oil dalam bentuk “depot” IM yang diinjeksikan setiap 1-4
minggu. Obat-obatan depot lebih mudah untuk dimonitor.
Pemilihan jenis obat anti-psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek
samping obat. Penggantian obat disesuaikan dengan dosis ekivalennya. Apabila obat psikosis
tertentu tidak memberikan respon klinis dalam dosis optimal setelah jangka waktu memadai,
dapat diganti dengan obat anti-psikosis lainnya. Jika obat anti-psikosis tersebut sebelumnya
sudah terbukti efektif dan efek sampingnya dapat ditolerir dengan baik, dapat dipilih kembali
untuk pemakaian sekarang.
Dalam pemberian dosis, perlu dipertimbangkan:
• Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2-4 minggu
• Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2-6 jam
• Waktu paruh 12-24 jam (pemberian 1-2 kali perhari)
• Dosis pagi dan malam berbeda untuk mengurangi dampak efek samping, sehingga tidak
menganggu kualitas hidup pasien.
Mulailah dosis awal dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 2-3 hari hingga dosis efektif
(sindroma psikosis reda) dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu dinaikkan dosis optimal
dipertahankan sekitar 8-12 minggu (stabilisasi) diturunkan setiap 2 minggu dosis maintenance
dipertahankan selama 6 bulan- 2 tahun (diselingi drug holiday 1-2 hari/minggu tapering off
(dosis diturunkan tiap 2-4 minggu) stop Obat anti-psikosis tidak menimbulkan gejala lepas obat
yang hebat walaupun diberikan dalam jangka waktu lama, sehingga potensi ketergantungan
sangat kecil. Jika dihentikan mendadak timbul gejala cholinergic rebound, yaitu: gangguan
lambung, mual, muntah, diare, pusisng, gemetar dan lain-lain dan akan mereda jika diberikan
anticholinergic agents (injeksi sulfas atropine 0,25 mg IM dan tablet trihexylfenidil 3x2
mg/hari).
Obat anti-psikosis parenteral berguna untuk pasien yang tidak mau atau sulit teratur makan obat
atau tidak efektif dengan medikasi oral. Dosis dimulai dengan 0,5 cc setiap bulan. Pemberiannya
hanya untuk terapi stabilisasi dan pemeliharaan terhadap skizofrenia.
Penggunaan CPZ sering menimbulkan hipotensi orthostatik pada waktu merubah posisi tubuh.
Hal ini dapat diatasi dengan injeksi nor-adrenalin (effortil IM). Haloperidol juga dapat
menimbulkan sindroma Parkinson, dan diatasi dengan tablet trihexylfenidil 3-4x2 mg/hari.

Indikasi
Obat anti-psikosis merupakan pilihan pertama dalam menangani skizofreni, untuk memgurangi
delusi, halusinasi, gangguan proses dan isi pikiran dan juga efektif dalam mencegah
kekambuhan. Major transquilizer juga efektif dalam menangani mania, Tourette’s syndrome,
perilaku kekerasan dan agitasi akibat bingung dan demensia. Juga dapat dikombinasikan dengan
anti-depresan dalam penanganan depresi delusional.

Efek Samping
1. Extrapiramidal: distonia akut, parkinsonism, akatisia, dikinesia tardiv
2. Endokrin: galactorrhea, amenorrhea
3. Antikolinergik: hiperprolaktinemia
Bila terjadi gejal tersebut, obat anti-psikosis perlahan-lahan dihentikan. Bisa diberikan obat
reserpin 2,5 mg/hari. Obat pengganti yang yang paling baik adalah klozapin 50-100 mg/hari.
Reaksi idiosinkrasi yang timbul dapat berupa diskrasia darah, fotosensitivitas, jaundice, dan
Neuroleptic Malignant Syndrome(NSM). NSM berupa hiperpireksia, rigiditas, inkontinensia
urin, dan perubahan status mental dan kesadaran. Bila terjadi NSM, hentikan pemakaian obat,
perawatan suportif dan berikan agonis dopamine (bromokriptin 3x 7,5 sampai 60 mg/hari, L-
Dopa 2x100 mg atau amantidin 200 mg/hari).

Kontraindikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris yang tinggi, ketergantungan
alkohol, penyakit SSP dan gangguan kesadaran.

b. Obat Antidepresan
Sinonim antidepresan adalah thimoleptika atau psikik energizer. Umumnya yang digunakan
sekarang adalah dalam golongan trisiklik (misalnya imipramin, amitriptilin, dothiepin dan
lofepramin)

No. Golongan Obat Sediaan Dosis Anjuran


1. Trisiklik Amitriptilin Tablet 25 mg 75-150 mg/hari
(TCA)
Imipramin Tablet 25 mg 75-150 mg/hari
2. SSRI Sentralin Tablet 50 mg 50-150 mg/hari

Fluvoxamin Tablet 50 mg 50-100 mg/hari

Fluoxetin Kapsul 20 mg, 20-40 mg/hari

Kaplet 20 mg

Paroxetin Tablet 20 mg 20-40 mg/hari

3. MAOI Moclobemide Tab 150 mg 300-600 mg/hari

4. Atypical Mianserin Tablet 10, 30 mg 30-60 mg/hari

Trazodon Tab 50 mg, 100 mg 75-150 mg/hari


dosis terbagi

Maprotilin Tab 10, 25, 50, 75 mg 75-150 mg/hari


dosis terbagi

Mekanisme Kerja
Trisiklik (TCA) memblokade reuptake dari noradrenalin dan serotonin yang menuju neuron
presinaps. SSRI hanya memblokade reuptake dari serotonin. MAOI menghambat pengrusakan
serotonin pada sinaps. Mianserin dan mirtazapine memblokade reseptor alfa 2 presinaps. Setiap
mekanisme kerja dari antidepresan melibatkan modulasi pre atau post sinaps atau disebut respon
elektrofisiologis.

Cara Penggunaan
Umumnya bersifat oral, sebagian besar bisa diberikan sekali sehari dan mengalami proses first-
pass metabolism di hepar. Respon anti-depresan jarang timbul dalam waktu kurang dari 2-6
minggu Untuk sindroma depresi ringan dan sedang, pemilihan obat sebaiknya mengikuti urutan:
Langkah 1 : golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)
Langkah 2 : golongan tetrasiklik (TCA)
Langkah 3 :golongan tetrasiklik, atypical, MAOI (Mono Amin Oxydase Inhibitor) reversibel.

Indikasi
Obat antidepresan ditujukan kepada penderita depresi dan kadang berguna juga pada penderita
ansietas fobia, obsesif-kompulsif, dan mencegah kekambuhan depresi.

Efek Samping
Trisklik dan MAOI : antikolinergik(mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur, konstipasi,
sinus takikardi) dan antiadrenergik (perubahan EKG, hipotensi SSRI : nausea, sakit kepala
MAOI : interaksi tiramin.
Jika pemberian telah mencapai dosis toksik timbul atropine toxic syndrome dengan gejala
eksitasi SSP, hiperpireksia, hipertensi, konvulsi, delirium, confusion dan disorientasi. Tindakan
yang dapat dilakukan untuk mengatasinya:
• Gastric lavage
• Diazepam 10 mg IM untuk mengatasi konvulsi

• Postigmin 0,5-1 mg IM untuk mengatasi efek antikolinergik, dapat diulangi setiap 30-40
menit hingga gejala mereda.
• Monitoring EKG

Kontraindikasi
• Penyakit jantung koroner
• Glaucoma, retensi urin, hipertensi prostat, gangguan fungsi hati, epilepsy

c. Obat Antimania
Obat anti mania mempunyai beberapa sinonim antara lain mood modulators, mood stabilizers
dan antimanik. Dalam membicarakan obat antimania yang menjadi acuan adalah litium karbonat.

No Nama Generik Sediaan Dosis anjuran


1 Litium karbonat 250-500 mg
2 Haloperido l Tab 0,5 mg,2 mg, 5 mg 4,5-15 mg

Liq 2 mg/hr

Injk 5 mg/ml
3 Karbamazepin Tab 200 mg 400-600 mg/hr
2-3 x/hr

Cara Penggunaan Obat


Pada mania akut diberikan haloperidol IM atau tablet litium karbonat. Pada gangguan afektif
bipolar dengan serangan episodik mania depresi diberi litium karbonat sebagai obat profilaks.
Dapat mengurangi frekwensi, berat dan lamanya suatu kekambuahan Bila penggunaan obat
litium karbonat tidak memungkinkaan dapat digunakan karbamezin. Obat ini terbukti ampuh
meredakan sindroma mania akut dan profilaks srerangan sindroma mania pada gangguan afektif
bipolar.
Pada ganguan afektif unipolar, pencegahan kekambuhan dapat juga dengan obat antidepresi
SSRI yang lebih ampuh daripada litium karonat. Dosis awal harus lebih rendah pada pasien usia
lanjut atau pasien gangguan fisik yang mempengaruhi fungsi ginjal. Pengukuran serum
dilakukan dengan mengambil sampeel darah pagi hari, yaitu sebelum makan obat dan sekitar 12
jam setelah dosis petang.

Mekanisme kerja
Efek antimania lithium disebabkan oleh kemampuannya mengurangi ”dopaminereseptor
supersensitivity” meningkatkan ”cholinergic muscarinic activity” dan menghambat ” cyclic
AMP” (adenosine monophospat)

Efek samping
1. Efek samping Lithium berhubungan erat dengan dosis dan kondisi fisik pasien
2. Gejala efek samping pada pengobatan jangka lama: mulut kering, haus, gastrointestinal
distress (mual, muntah, diare feses lunak), kelemahan otot, poliuria, tremor halus (fine
tremor, lebih nyata pada pasien usia lanjut dan penggunaan bersamaan dengan neuroleptika
dan antidepresan) Tidak ada efek sedasi dan gangguan akstrapiramidal.
3. Efek samping lain : hipotiroidisme, peningkatan berat badan, perubahan fungsi tiroid,
edema pada tungkai metalic taste, leukositosis, gangguan daya ingat dan kosentrasi pikiran
4. Gejala intoksikasi
• Gejala dini : muntah, diare, tremor kasar, mengantuk, kosentrasi pikiran menurun,
bicara sulit, pengucapan kata tidak jelas, berjalan tidak stabil
• Dengan semangkin beratnya intoksikasi terdapat gejala : kesadaran menurun,
oliguria, kejang-kejang
• Penting sekali pengawasan kadar lithium dalam darah
5. Faktor predisposisi terjadinya intoksikasi lithium :
• Demam (berkeringat berlebihan)
• Diet rendah garam
• Diare dan muntah-muntah
• Diet untuk menurunkan berat badan
• Pemakaian bersama diuretik, antireumatik, obat anti inflamasi non steroid
6. Tindakan mengatasi intoksikasi lithium
• Mengurangi faktor predisposisi
• Diuresis paksa dengan garam fisiologis NaCl diberikan secara IV sebanyak 10 ml
7. Tindakan pencegahan intoksikasi lithium dengan edukasi tentang factor predisposisi,
minum secukupnya, bila berkeringat dan diuresis banyak harus diimbangi dengan minum
lebih banyak, mengenali gejala dan intoksikasi dan kontrol rutin.

Kontra Indikasi
Wanita hamil
d. Anti-Ansietas
Obat anti-ansietas mempunyai beberapa sinonim, antara lain psikoleptik, transquilizer minor dan
anksioliktik. Dalam membicarakan obat antiansietas yang menjadi obat racun adalah diazepam
atau klordiazepoksid
No. Golongan Obat Sediaan Dosis Anjuran
1 Diazepam Benzodiazepin Tab 2- 5 mg Peroral 10-30mg/hr,2-
3x/hari

Paenteral IV/IM 2-10


mg/kali, setiap 3-4 jam

2 Klordiazepoksoid Benzodiazepin Tab 5 mg 15-30 mg/hari

Kap 5 mg 2-3 x/sehari

3 Lorazepam Benzodiazepin Tab 0,5-2 mg 2-3 x 1 mg/hr

4 Clobazam Benzodiazepin Tab 10 mg 2-3 x 10


mg/hr

5 Brumazepin Benzodiazepin Tab 1,5-3-6 3 x 1,5 mg/hr


mg

6 Oksazolom Benzodiazepin Tab 10 mg 2-3 x 10 mg/hr

7 Klorazepat Benzodiazepin Cap 5-10mg 2-3 x 5 mg /hr

8 Alprazolam Benzodiazepin Tab 0,25-0,5- 3 x 0,25-0,5 mg/hr


1 mg

9 Prazepam Benzodiazepin Tab 5 mg 2-3 x 5 mg/hr

10 Sulpirid NonBenzodiazepin Cap 50 mg 100-200 mg/hari

11 Buspiron NonBenzodiazepin Tab 10 mg 15-30 mg/hari

Mekanisme kerja
Sindrom ansietas disebabkan hiperaktivitasndari system limbic yang terdiri dari dopaminergic,
nonadrenergic, seretonnergic yang dikendalikan oleh GABA ergic yang merupakan suatu
inhibitory neurotransmitter. Obat antiansietas benzodiazepine yang bereaksi dengan reseptornya
yang akan meng-inforce the inhibitory action of GABA neuron, sehingga hiperaktivitas tersebut
mereda.

Cara Pengguanan
• Klobazam untuk pasien dewasa dan pada usia lanjut yang ingin tetap aktif
• Lorazepam untuk pasien-pasien dengan kelainan fungsi hati atau ginjal
• Alprazolam efektif untuk ansietas antosipatorik, mula kerja lebih cepat dan mempunyai
komponen efek antidepresan.
• Sulpirid 50 efektif meredakan gejala somatic dari sindroma ansietas dan paling kecil
resiko ketergantungan obat.
Mulai dengan dosis awal (dosis anjuran) kemudian dinaikkan dosis setiap 3-5 hari sampai
mencapai dosis optimal. Dosis ini dipertahankan 2-3 minggu. Kemudian diturunkan 1/8 x dosis
awal setiap 2-4 minggu sehingga tercapai dosis pemeliharan. Bila kambuh dinaikkan lagi dan
tetap efektif pertahankan 4-8 mingu. Terakhir lakukan tapering off. Pemberian obat tidak lebih
dari 1-3 bulan pada sindroma ansietas yang disebabkan factor eksternal.

Efek samping
• Sedasi ( rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerka psikomotor menurun,
kemampuan kognitif melemah)
• Relaksasi otot ( rasa lemas, cepat lelah dan lain-lain)
• Potensi menimbulkan ketergntungan lebih rendah dari narkotika
• Potensi ketergantungan obat disebabkan oleh efek obat yang masih dapat dipertahankan
setelah dosis trerakhir berlangsung sangat singkat.
• Penghentian obat secara mendadak, akan menimbulkan gejala putus obat, pasien menjadi
iritabel, bingung, gelisah, insomania, tremor, palpitasi, keringhat dingin, konvulsi.

Kontra Indikasi
Pasien dengan hipersensitif terhadap benzodiazepin, glaukoma, miastenia gravis, insufisiensi
paru kronik, penyakit ginjal dan penyakit hati kronik Pada pasien usia lanjut dan anak dapat
terjadi reaksi yang berlawanan (paradoxal reaction) berupa kegelisahan, iritabilitas, disinhibisi,
spasitas oto meningkat dan gangguan tidur. Ketergantungan relatif sering terjadi pada individu
dengan riwayat peminum alkohol, penyalagunaan obat atau unstable personalities.
Untuk mengurangi resiko ketergantungan obat, maksimum lama pemberian 3 bulan dalam
rentang dosis terapeutik.

e. Anti-Insomnia
Sinonimnya adalah hipnotik, somnifacient, atau hipnotika. Obat acuannya adalah fenobarbital.

No. Golongan Obat Sediaan Dosis Anjuran


1 Nitrazepam Benzodiazepin Tab 5 mg Dewasa 2 tab
Lansia 1 tab

2 Triazolam Benzodiazepin Tab 0,125 mg Dewasa 2 tab


Lansia 1 tab

Tab 0,250 mg Dewasa 2 tab


Lansia 1 tab

3 Estazolam Benzodiazepin Tab 1 mg 1-2 mg/malam


Tab 2 mg
4 Chloral hydrate Non- Soft cap 500 mg 1-2 cap, 15-30
Benzodiazepin menit sebelum
tidur

Mekanisme kerja
Obat anti-insomnia bekerja pada reseptor BZ1 di susunan saraf pusat yang berperan dalam
memperantarai proses tidur.

Cara Penggunaan
• Dosis anjuran untuk pemberian tunggal 15-30 menit sebelum tidur.
• Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis efektif dan dipertahankan sampai 1-2
minggu, kemudian secepatnya tapering off untuk mencegah timbulnya rebound dan toleransi
obat.
• Pada usia lanjut, dosis harus lebih kecil dan peningkatan dosis lebih perlahan-lahan untuk
menghidari oversedation dan intoksikasi.
• Lama pemberian tidak lebih dari 2 minggu agar risiko ketergantungan kecil.

Efek samping
• Supresi SSP pada saat tidur
• Rebound Phenomen
• Disinhibiting efect yang menyebabkan perilaku penyerangan dan ganas pada penggunaan
golongan benzodiazepine dalam waktu yang lama.

Kontra indikasi
• Sleep apnoe syndrome
• Congestive heart failure
• Chronic respiratory disease
• Wanita hamil dan menyusui

f. Obat anti Obsesif-Kompulsif


Dalam membicarakan obat anti obsesi kompulsi yang menjadi acuan adalah klomipramin.
Obat anti obsesi kompulsi dapat digolongkan menjadi :
1. Obat anti obsesi kompulsi trisiklik, contoh klomipramin
2. Obat anti obsesi kompulsi SSRJ, contoh sentralin, paroksin, flovokamin, fluoksetin

No. Nama Generik Sediaan Dosis Anjuran


1 Clompramine Tab 25 mg 75-200 mg/hr
2 Fluvoxamine Tab 50 mg 100-200 mg/hr

3 Sertraline Tab 50 mg 50-150 mg/hr


4 Fluxetine Cap 20 mg, 20-80 mg/hr
Caplet 20 mg

5 Paroxetine Tab 20 mg 40-60 mg/ hr

Mekanisme kerja
Menghambat re-uptake neurotransmitter serotonin sehingga gejala mereda.

Cara penggunaan
Sampai sekarang obat pilihan untuk gangguan obsesi kompulsi adalah klomipramin. Terhadap
meraka yang peka dapat dialihkan ke golongan SSRI dimana efek samping relatif aman. Obat
dimulai dengan dosis rendah klomopramin mulai dengan 25-50 mg /hari (dosis tunggal malam
hari), dinaikkan secara bertahap dengan penambahan 25 mg/hari sampai tercaapi dosis efektif
(biasanya 200-300 mg/hari).
Dosis pemeliharan umumnya agak tinggi, meskipun bersifat individual, klomipramin sekitar
100-200 mg/hari dan sertralin 100 mg/hari. Sebelum dihentikan lakukan pengurangan dosis
secara tappering off. Meskipun respon dapat terlihat dalam 1-2 minggu, untuk mendapatkan hasil
yang memadai setidaknya diperlukan waktu 2- 3 bulan dengan dosis antara 75-225 mg/hari

g. Obat Anti panik


Dalam membicarakan antipanik yang menjadi obat acuan adalah imipramine
No. Nama Generik Sediaan Dosis Anjuran
1 Imipramin Tab 25 mg 75-150 mg/hr

2 Clomipramin Tab 25 mg 75-150 mg/hr

3 Alprazol Tab 0,25 mg,0,5 mg, 1 mg 2-4 mg/hr

4 Moclobemid Tab 150 mg 300-600 mg/hr

5 Sertralin Tab 50 mg 50-100 mg/hr

6 Fluoxetin Cap dan caplet 20 mg 20-40 mg/hr

7 Parocetin Tab 20 mg 20-40 mg/hr

8 Fluvoxamine Tab 50 mg 50-100 mg/hr

Mekanisme kerja
Sindrom panik berkaitan dengan hipersensitivitas dari serotonic reseptor di SSP. Mekanisme
kerja obat antipanik adalah menghambat reuptake serotonin pada celah sinaptik antar neuron.

Cara Penggunaan Obat


• Golongan SSRI mempunyai efek samping yang lebih ringan
• Alprozolam merupakan obat yang paling kurang toksiknya dan onset kerjanya lebih cepat

Efek samping obat


• Mengantuk, sedasi, kewaspadaan berkurang
• Neurotoksik
Lama Pemberian Obat
• Lamanya pemberian obat tergantung dari individual, umunya selama 6-12 bulan,
kemudian dihentikan secara bertahap selama 3 bulan bila kondisi penderita sudah
memungkinkan.
• Dalam waktu 3 bulan bebas obat 75% penderita menunjukkan gejala kambuh.
• Dalam keadaan ini maka pemberian obat dengan dosis semula diulangi selama 2 tahun.
Setelah itu dihentikan secara bertahap selama 3 bulan.

Peran Perawat Dalam Pemberian Obat


Perawat memiliki beberapa peran, salah satu peran perawat adalah caregiver, untuk bisa menjadi
seorang caregiver maka perawat harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang pemberian
psikofarmakologis.

Peran perawat dalam proses psikofarmakologis sebagai berikut:


1. Pengkajian pasien
2. Koordinasi modalitas terapi
3. Pemberian agens psikofarmakologis.
4. Pemantauan efek obat
5. Penyuluhan pasien
6. Program rumatan obat
7. Partisipasi dalam penelitian
8. Kewenangan untuk memberikan resep

Pengumpulan data sebelum pengobatan, meliputi:


• Diagnosa medis
• Riwayat penyakit
• Riwayat pengobatan
• Hasil pemeriksaan laboratorium (yang berkaitan)
• Jenis obat yang digunakan, dosis, cara dan waktu pemberian
• Program terapi lain
• Mengkombinasikan obat dengan terapi modalitas
• Pendidikan kesehatan untuk klien dan keluarga, tentang pentingnya minum obat dan
penanganan efek samping obat.
• Monitor efek samping penggunaan obat

Melaksanakan prinsip pengobatan psikofarmako


1. Persiapan
• Melihat order pemberian obat di lembaran obat (di status)
• Kaji setiap obat yang akan diberikan termasuk tujuan, cara kerja obat, dosis, efek
samping dan cara pemberian
• Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang obat
• Kaji kondisi klien sebelum pengobatan
2. Lakukan minimal prinsip lima benar dalam pemberian obat
3. Laksanakan program pemberian obat
• Gunakan pendekatan tertentu
• Bantu klien minum obat, jangan ditinggal
• Pastikan bahwa obat telah diminum
• Bubuhkan tanda tangan pada dokumentasi pemberian obat, sebagai aspek legal
4. Laksanakan program pengobatan berkelanjutan, melalui program rujukan.
5. Menyesuaikan dengan terapi non farmakologik
6. Turut serta dalam penelitian tentang obat-obatan psikofarmako

Evaluasi
Reaksi obat efektif jika:
1. Emosional stabil
2. Kemampuan berhubungan interpersonal meningkat
3. Halusinasi, agresi, delusi, menarik diri menurun
4. Perilaku mudah diarahkan
5. Proses berpikir ke arah logika
6. Efek samping obat
7. Tanda-tanda vital: tekanan darah, denyut nadi

Kewaspadaan Perawat;
Dalam memberikan terapi psikofarmaka sering menimbulkan efek samping yang tidak
diinginkan. Oleh sebab itu perwat harus mewaspadai setelah obat masuk kedalam tubuh
pasien ,Sebagai berikut:

Kewaspadaan pada Obat anti psikotik;


• Kebutuhan individu sangat bervariasi
• Gejala akan mereda setelah diberi obat 3hari sampai 2 minggu
• Beberapa jenis skizofrenia butuh obat sepanjang hidupnya
• EPS dan diskinesia Tardif bisa terjadi sebagai efek samping.
• Terjadinya efek agranulosis
• Obesitas

Obat anti depresan:


• Obat anti depresan bisa letal pada dosis yang berlebih
• Efek mengantuk
• Mulut kering

Obat anti mania :


• Lithium karbonat sangat toxik dan lethal oleh sebab itu perlu
• pemantauan ketat setiap waktu tertentu diperiksa laborat kandungan garam litium dalam
tubuh pasien
• Carbamecepim dapat menimbulkan steven jhonson

Obat anti cemas :


• Efek adiksi sangat kuat
• Efek mengantuk
• Masalah –masalah memori

Mengatasi Efek Samping Obat


• Untuk adanyanya gejala EPS diberikan injeksi Diphenhydramin 2 cc dan sulfas atropin
1ampul
• Untuk adanya timbul adiksi dilakukan tapering off
• Untuk efek sedasi diberi nasehat tidak boleh menjalankan mesin
• Untuk mencegah adanya diskinesia tardive dengan hati-hati pemberian dosis yang meningkat
terutama obat anti psikotik
• Untuk mendeteksi ambang letal di periksa laborat tiap 3 bulan