You are on page 1of 31

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR COLLUM FEMUR

A. Anatomi
Kaput femur mendapat aliran darah dari tiga sumber utama, yaitu arteri
sirkumfleksia femoralis medialis, arteri sirkumfleksa femoralis lateralis, dan
arteri abturator. Pada usia dewasa, arteri abturator menyuplai sedikit aliran
darah ke kaput femur melalui ligamentum teres. Arteri sirkumfleksa femoralis
lateralis menghidupi arteri metafisis inferior melalui cabang ascendens dan
menyuplai sebagian besar aspek inferoanterior kaput femur (FKUI-RSCM,
2008).

Gambar 1. Tulang femur

Konstributor terbesar aliran darah ke kaput femur, khususnya di aspek


superolateral adalah arteri sirkumfleksa femoralis medialis. Kompleks arteri
epifiseal lateralis berasal dari arteri sirkumfleksa femoralis medialis dan
berjalan sepanjang aspek posteorosuperior kolum femur sebelum menyuplai
kaput femur. Cabang cabang terminal ini terletak intrakapsuler sehingga
disrupsi atau distorsinya akibat pergeseran fraktur kolum femur berperan
terhadap terjadinya osteonekrosis (FKUI-RSCM, 2008 ).
Gambar 2. Tulang kolum femur
B. Pengertian
Fraktur kolum femur adalah fraktur intrakapsuler yang terjadi di femur
proksimal pada daerah yang berawal dari distal permukaan artikuler caput
femur hingga berakhir di proksimal daerah intertrokanter (FKUI-RSCM,
2008).

Gambar 3. Fraktur kolum femur

C. Epidimiologi
Berdasarkan survei pada tahun 1994 insiden fraktur kolum femur
berdasarkan usia di Amerika Serikat adalah 63, 3 per 100.000 orang per
tahun pada wanita dan 27, 7 pada laki laki. Namun fraktur ini pada dewasa
muda relatif jarang terjadi. Sedangkan insidennya tahun 2007 di RSCM pada
wanita di atas 50 tahun adalah 0,13 % atau 127 per 100.000 orang dan laki
laki 0,21 % atau per 100.000 orang. Frekuensi terjadinya fraktur kolum femur
setara dengan fraktur intertrokanter (FKUI-RSCM, 2008).

D. Mekanisme cedera
Fraktur kolum femur dapat disebabkan baik karena energi rendah
maupun energi tinggi. Fraktur ini pada umumnya terjadi pada pasien usia
lanut akibat trauma energi rendah, seperti jatuh pada saat berdiri. Menurut
frankel, fraktur kolum femur terjadi akibat gaya asial melebihi gaya bending.
Gangguan dinamika otot dapat meningkatkan risiko fraktur kolum femur
pada usia lanut. Energi akibat jatuh akan terserap oleh otot pada pasien usia
muda, namun tidak adapat diserap dengan baik oleh otot yang lemah pada
psien usia lanjut. Mekanisme lainnya adalah akibat gaya yang berlebihan
kontraksi otot pada tulang saat upaya mendapatkan kestabilan setelah jatuh.
Mekanisme lain yang juga bisa menyebabkan fraktur adalah akibat jatuh
mengenai panggul sehingga gaya langsung mengenai trokanter mayor
menimbulkan gaya aksial sepanjang kolum femur dan menyebabkan fraktur
impaksi (FKUI-RSCM, 2008 )
Beberapa peneliti menduga bahwa ekstremitas bawah dalam posisi
rotasi eksterna saat jatuh. Saat rotasi eksterna yang ekstrim kolum femur
menekan bibir acetabulum posterior, dan berlaku seperti fulcrum sehingga
konsentrasi tekanan terjadi pada daerah ini. Kombinasi gaya aksial dan
rotasi menimbulkan fraktur. Mekanisme ini dapat menerangkan bahwa
kominusi kolum femur posterior pada fraktur ini (Swiontkowski, 2008 ).

E. Klasifikasi
Klasifikasi kolum femur menurut anatomis dapat dibagi tiga. Fraktur
kolum femur terbagi menjadi tiga tipe yaitu subkapital, trans atau mid-
servikal, dan basicervikal. Tipe yang paling sering adalah subkapital pada
pasien lanjut usia dan basicervikal pada pasien dewasa muda (Greenspan,
2000).
Klasifikasi fraktur femur menurut Garden berdasarkan pengerasan
fraktur dapat dibagi menjadi empat derajat yaitu (Greenspan, 2000) :
- Derajat 1 : Fraktur inkomplit impaksi kolum femur.
- Derajat 2 : Fraktur komplit tidak bergeser.
- Derajat 3 : Fraktur komplit dengan pergeseran moderat.
- Derajat 4 : Fraktur bergeser total.
Staging Garden fraktur kolum femur subkapital adalah :
1. Stage I : imkomplit (abduksi atau impaksi). Sudut trabekula medial
antara kaput femur dan kolum femur > 180 derajat.
2. Stage II : komplit tampa pergeseran. Sudut trabekula medial antara
kaput femur dan kolum femur 180 derajat.
3. Stage III: komplit dengan pergeseran parsial. Trabekula medial
kaput femur tidak segaris dengan trabekula pelvis.
4. Stage IV : komplit, pergeseran total. Trabekula medial kaput segaris
dengan trabekula pelvis.
Meskipun klasifikasi ini memiliki keterbatasan, namun sering dipakai
untuk fraktur kolum femur pada pasien lanut usia.

F. Pemeriksaan klinis
Status umum pada pasien fraktur kolum femur bisanya tidak dapat
berdiri atau berjalan pada saat bari cidera. Pada pasien usia lanjut yang
hidup sendiri, mungkin sudah menderita frakturnya beberapa jam atau
beberapa hari sebelum mereka mendapat evaluasi medis, sehingga dapat
jatuh pada kondisi dehidrasi, kekurangan nutrisi, dan kesadaran yang
menurun (Koval et. All, 2004 ).
Status lokalis pada spek inspeksi (look) tergantung pada derajat
pergeseran dan kominusi fraktur. Fraktur yang tidak bergeser secara klinis
tidak menunjukkan deformitas. Sebaliknya, fraktur yang kominutif dan
bergeser menunjukkan ekstremitas bawah memendek dan rotasi eksterna.
Bila pasienny alnjut usia, penilaian adanya dekubitus pada sakrum atau
tumit. Aspek raba (feel) biasanya jarang terjadi cidera neorovaskular. Namun
evalusi menyeluruh harus dilakukan. Sebagai contoh, bila pasien menderita
penyakit vaskuler perifer atau neoropati perifer, maka memerlukan
pemntauan kulit dan menghindari tekanan yang berlebihan pada saat
melakukan reduksi. Aspek pemeriksaan gerak (move) menunjukan limitasi
gerakan pada sendi panggul (Koval et. All, 2004).
G. Pemeriksaan Penunjang.
Pemeriksaan sinar X yang diminta adalah pelvis dan panggul AP dan
femur proksimal cross-table lateral. Jika fraktur tidak terlihat jelas, proyeksi
panggul AP dilakukan dengan traksi aksial dan internal rotasi panggul. Jika
penilaian dengan sinar X tidak menunjukkan abnormalitas, namun terdapat
kecurigaan fraktur kolum femur (nyeri panggul pada saat pergerakan atau
diberi gaya aksial), maka dapat dimintakan pemeriksaan MRI. Pemeriksaan
ini untuk mengetahui adanya fraktur kolum femur yang occult. Pemeriksaan
sinar X lain juga perlu dilakukan pada derah yang ekimosis, nyeri atau
bengkak untuk menyingkirkan cidera penyerta. Radigrafi dada diminta bila
terapi pembedahan direncanakan (Koval et. all, 2004).
Evalusi diagnostik lainnya meliputi elektrokardiogram, urinalisis dan
pemeriksaan darah, seperti darah lengkap, kadar elektrolit, dan profil
koagulasi (masa protrombin dan tromboplastin parsial). Pemeriksaan
skrining juga sebagai antisipasi tindakan operasi. Adanya dehidrasi dan
anemia akibat perdarahan fraktur intrakapsuler atau asupan nutrisi tidak
adekuat dapat dikomfirmasi dengan pemeriksaan darah tersebut. Pada
pasien dengan penyakit kardiopulmoner, debilitasi fungsional atau demensia,
analisi gas darah perlu dilakukan,. Pada pasien usia lanjut, penyakit
kardiopulmoner merupakan determinan utama apakah pasien mampu tirah
baring lama, menjalani operasi dan mengikuti program rehabilitasi (Koval et.
all, 2004).

H. Hemiarthroplasti
Berdasarkan kesepakatan umum, terapi terbaik fraktur kolum femur
adalah pembedahan diikuti dengan mobilisasi dini. Pada kondisi tertentu,
pendekatan konservatif dipilih karena pembedahan tidak dapat dilakukan
karena beresiko meninggal akibat pembiusan dan pembedahan (pasien baru
dapat infark miokard) dan pasien sedang mendapat terapi antikoagulan yang
belum aman dalam waktu 72 jam priode perioperatif. Tatalaksana
nonoperatif juga lebih teapat untuk pasien usia lanut yang sudah dimensia
dan non-ambulator sebelum fraktur dan pasien yang hanya mengalami
sedikit ketidaknyamanan akibat cedera tersebut (Miyamoto et. all, 2008).
Gambar 4. Hemiarthroplasti
Pilhan terapi operatif beragam antara lain fiksasi perkutaneus, reduksi
tertutup dan internal fiksasi, reduksi terbuka dan internal fiksasi (ORIF), dan
arthroplasti. Fraktur yang nondisplaced seharusnya diterapi dengan pin atau
skrup multipel. Fraktur displaced terapi berdasarkan umur dan tingkatan
aktivitas pasien. Pasien dewasa muda diterapi dengan reduksi tertutup dan
internal fiksasi (ORIF). Pad apsien lanjut usia diterapi dengan
hemiarthroplasti, baik uncemented atau cemented ataupun total hip
arthroplasty (Miyamoto, 2008).

I. Proses Penyembuhan Fraktur


Untuk penyembuhan fraktur diperlukan immobilisasi. Imobilisasi
dilaksanakan dengan cara:
1. Pembidaian Physiologik
Pembidaian semacam ini terjadi secara alami karena menjaga
pemakaian dan spasmus otot karena rasa sakit pada waktu digerakkan.
2. Pembidaian secara orthopedi eksternal
Ini digunakan dengan gips dan traksi.
3. Fiksasi internal
Pada metode ini, kedua ujung tulang yang patah dikembalikan
kepada posisi asalnya dan difiksasi dengan pelat dan skrup atau diikat
dengan kawat.

Setelah immobilisasi dilaksanakan, tulang akan beradaptasi pada


kondisi tersebut, yaitu mengalami proses penyembuhan dan perbaikan
tulang. Faktor tersebut dapat diperbaiki tetapi prosesnya agak lambat, karena
melibatkan pembentukan tulang baru. Proses tersebut terjadi empat tahap
yaitu:
1. Pembentukan prokallus/Hematoma
Hematoma akan terbentuk pada 42 jam sampai 72 jam pertama
pada daerah fraktur yang disebabkan karena adanya perdarahan yang
terkumpul di sekitar fraktur yaitu darah dan eksudat, kemudian akan
diserbu oleh kapiler dan sel darah putih terutama netrofil, kemudian diikat
oleh makrofag, sehingga akan terbentuk jaringan granulasi. Pada saat ini
masuk juga fibroblast dan osteoblast yang berasal dari lapisan dalam
periosteum dan endosteum.
2. Pembentukkan Kallus
Selama 4 5 hari osteoblas menyusun trabekula di sekitar ruang-
ruangan yang kelak menjadi saluran harvest. Jaringan itulah yang
dinamakan kallus yang berfungsi sebagai bidai yang terbentuk pada akhir
minggu kedua.
3. Osifikasi
Dimulai pada dua sampai tiga meinggu setelah fraktur jaringan
kallus akhirnya akan diendapi oleh garam-garam mineral dan akan
terbentuk tulang yang akan menghubungkan kedua sisi yang patah.
4. Kallus Formation
a. Osteoblast terus membuat jala untuk membangun tulang.
b. Osteoblast merusakkan tulang mati dan membantu mensintesa tulang
baru.
c. Collagen menjadi kuat dan terus menyatu dengan deposit kalsium.
5. Remodeling
Callus yang berlebihan diabsorbsi dan tulang trabecular terbentuk
pada garis cedera.
Faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan callus:
1. Penyambungan yang lambat
Bila patah tulang tidak sembuh dalam periode penyembuhan.
Penyebab:
1) Callus putus atau remuk karena aktifitas berlebihan.
2) Edema pada lokasi fraktur, menahan penyaluran nutrisi ke lokasi.
3) Immobilisasi yang tidak efisien.
4) Infeksi terjadi pada lokasi.
5) Kondisi gizi pasien buruk.
2. Non union
Penyembuhan tulang tidak terjadi walaupun telah memakan waktu
lama. Penyebab antara lain :
1) Terlalu banyak tulang yang rusak pada cedera sehingga tidak ada
yang menjembatani fragmen.
2) Terjadi nekrosa tulang karena tidak ada aliran darah.
3) Anemi endoceime imbalance (ketidakseimbangan endokrim atau
penyebab sitemik yang lain).
Faktor yang mempengaruhi penyembuhan tulang yaitu:
1. Faktor lokal
a. Sifat luka atau berat utama
Derajat pembentukan formasi selama penyembuhan.
b. Jumlah tulang yang hilang
c. Tipe tulang yang cedera
d. Derajat imobilisasi yang terkena
e. Infeksi lokal yang dapat memperlambat penyembuhan.
f. Nekrosis tulang yang menghalangi aliran darah ke daerah fraktur.
2. Faktor klien
a. Usia klien
b. Pengobatan yang sedang dijalani.
c. Sistem sirkulasi.
d. Gizi
e. Riwayat penyakit.

J. Spinal anestesi
1. Anatomi
Tulang punggung (kolumna vertebralis) terdiri dari 7 Vertebra
servikal, 12 vertebra torakal, 5 vertebra lumbal, 5 vertebra sakral menyatu
pada deawasa dan 4 5 vertebra koksigeal menyatu pada dewasa.
Prosesus spinosus C2 teraba langsung di bawah oksipital. Prosesus
spinosus C7 menonjol dan disebut sebagai vertebra prominens. Garis
lurus yang menghubungkan kedua krista iliaka tertinggi akan memotong
prosesus spinosus vertebra L4-L5. Perdarahan pada medula spinalais
diperdarahi oleh arteri spinalis anterior dan arteri spinalis posterior. Untuk
mencapai cairan serebro spinalis, maka jarum suntik akan menembus
kulit, subkutis, ligamen supraspinosum, ligamen interspinosusm, ligamen
flavum, ruang epdural, durameter dan ruang subarakhnoid (Latief, 2002).

Gambar 5. Spinal cord

Medula spinalis berada dalam kanalis spinalis yang dikelilingi oleh


cairan serebrospinalis dan dibungkus meningen (durameter, lemak dan
pleksus venosus). Pada dewasa berakhir setinggi L1, pada anak L2 dan
pada bayi L3 dan sakus duralis berakhir setinggi S2. Cairan
serebrospinalis merupakan ultrafiltrasi dari plasma yang berasal dari
pleksus arteria koroidalis yang terletak di ventrikel 3-4 dan lateral. Cairan
ini jernih dan tak bewarna mengisi ruang subarakhnoid dengan jumlah
total 100 150 ml, sedangkan nyeri punggung sekitar 25-24 ml (Latief,
2002).
Gambar 6. Anatomi tulang belakang

2. Ketinggian segmental anatomik


- C3-C4 Klavikula
- T2 ruang interkostal kedua
- T4-5 garis puting susu
- T7-9 arkus subkostalis
- T10 umbilikus

- L1 daerah inguinal
- S1-4 perineum

3. Ketinggian segmental refleks spinal


- T7-8 epigastrik
- T9-12 abdominal
- L1-2 kremaster
- L2-4 lutut (knee jerk)
- S1-2 plantar, pergelangan kaki (ankle jerk)
- S4-5 sfingter anus, refleks kejut (wink refleks)

4. Ketinggian kulit pada pembedahan


- Tungkai bawah T12
- Panggul T10
- Uterus-vagina T10
- Buli-buli prostat T10
- Tungkai bawah dengan manset T8
- Testis ovarium T8
- Intra abdomen bawah T6
- Intra abomen lain T4

5. Pengertian spinal anestesi


Analgesia spinal (intratekal, intradural, subdural, subarakhnoid)
ialah pemberian obat anastetik lokal ke dalam ruang subarakhnoid.
Anasthesia spina diperoleh dengan cara menyuntikan anestetik lokal ke
dalam ruang subarakhnoid. Tekhnik ini sederhana, cukup efektif dan
mudah dikerjakan (Latief, 2002).

Gambar 7. Spinal anestesi

Blok subarakhnoid adalah blok regional yang dilakukan dengan


jalan menyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang sub arakhnoid
melalui tindakan fungsi lumbal (Mangku, 2010).

6. Indikasi
Indikasi untuk dilakukan spinal anestesi pada pasien yang akan
dianestesi adalah (Latief, 2002) :
a. Bedah ekstremitas bawah
b. Bedah panggul.
c. Tindakan sekitar rektum-perineum.
d. Bedah obstetri-ginekologi.
e. Bedah urologi.
f. Bedah abdomen bawah.
g. Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatri biasanya
dikombinasikan dengan anestesia umum ringan.

7. Kontra indikasi
Kontra indikasi pada pasien dengan spinal anestesi dapat diabagi
menjadi 2 bagian yaitu kontra indikasi yang absolut dan kontra indikasi
relatif (Latief, 2002) :
a. Kontra indikasi absolut
- Pasien menolak.
- Infeksi pada tempat penusukan.
- Hipovolemia berat, syok.
- Koagulapati atau mendapat terapi antikoagulan.
- Tekanan intrakranial meninggi.
- Fasilitas resusitasi minimal.
- Kurang pengalaman/ tanpa didampingi konsultan anestesia.
b. Kontra indikasi relatif
- Infeksi sistemik (sepsis, bakteremi).
- Infeksi sekitar tempat penyuntikan.
- Kelainan neurologis.
- Kelainan psikis.
- Bedah lama.
- Penyakit jantung.
- Hipovelimia ringan.
- Nyeri punggung kronis
.
8. Persiapan spinal anetesia.
Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan
pada anestesia umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah
akan menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan antomis tulang
punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan
prosesus spinosus. Selain itu perlu diperhatikan hal hal di bawah ini
(Latief, 2002) :
a. Informed consent (izin dari pasien), dimana kita tidak boleh memaksa
pasien untuk menyetujui anestesia spinal.
b. Pemeriksaan fisik, dimana tidak dijumpai kelainan spesifik seperti
kelainan tulang punggung dan lain lainnya.
c. Pemeriksaan laboratorium anjuran seperti hemoglobin, hematokrit,
PT(prothrombine time) dan PTT (partial thromboplastine time ).

9. Peralatan spinal anestesia.


Menurut Mangku (2010), persiapan yang dilakukan pada pasien
yang akan dilakukan tindakan spinal anestesi adalalah :
a. Persiapan rutin.
b. Alat pantau yang diperlukan.
c. Kit emergency.
d. Obat anestetik lokal hiperbarik lidokain 5 % atau bupivakain 0,5%.
e. Berikan infus tetesan cepat (hidrasi akut) sebanyak 500 100 ml
dengan kristaloid atau koloid.
f. Jarum khusus fungsi lumbal.
g. Larutan efedrin yang mengandung 5mg/ ml.

Gambar 8. Spinal needle


Menurut Latief (2002), peralatan spinal anestesi yang perlu
disiapkan pada pasien yang akan dilakukan tindakan spinalanestesia
adalah :
a. Peralatan monitor seperti tekanan darah, nadi, pulse oxymetri dan
EKG.
b. Peralatan resusitasi dan anestesi umum.
c. Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bambu runcing, Quincke-
Babcock) atau jarum spinal dengan ujung pinsil (pencil point,
whitecare) dengan ukuran jarum yang biasa dipakai 25 atau 27.
10. Tekhnik spinal anastesi
Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tususkan
pada garis tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya
dikerjakan di atas meja operasi tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan
sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi berlebihan dalam 30
menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat (Latief, 2002).
a. Setelah dimonitor , tidurkan pasien misalnya dalam posisi dekubitus
lateral. Beri bantal kepala, selain enak untuk pasien juga supaya
tulang belakang stabil. Buat pasien membungkuk maksimal agar
prosesus spinosus mudah teraba. Posisi lain ialah duduk.

Gambar 9. Posisi miring spinal anestesi

b. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka


dengan tulang punggung ialah L4-5. Tentukan tempat tusukan
misalnya L2-3, L3-4 atau L4-5. Tusukan pada L1-2 atau dia atasnya
beresiko trauma terhadap medula spinalis.
Gambar 10. Letak penyuntikan spinal anestesi

c. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alkohol.


d. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan, misalnya dengan lidokain
1-2% 2-3 ml.
e. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jrum spinal besar 22
G, 23 G atau 25 G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk
yang kecil 27 G atau 29 G, dianjurkan menggunakan penuntun jarum
(introducer), yaitu jarum suntik biasa semprit 10 cc. Tsukan
introducer sedalam kira kira 2 cm agak sedikit ke arah sefal,
kemudian masukan jarum spinal beserta mandrinnya kelubang jarum
tersebut. Jika menggunakan jarum tajam irisan jarum (bevel) harus
sejajar dengan serat durameter, yaitu pada posisi tidur miring bevel
mengarah ke atas tau ke bawah, untuk menghindari kebocoran liuor
yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal. Setelah
resistensi menghilang, madrin jarum spinal dicabut dan keluar liquor,
pasang spuit yang berisi obat.
Gambar 11. Penusukan spinal anestesi

Kemudian di aspirasi sedikit sebelum obat dimasukan. Jika liquor


positif dan ringan jika di aspirasi baru obat dimasukan secara
perlahan lahan (0,5 ml/ dtk) dan sebelum obat habis disarankan
untuk dilakukan aspirasi kembali hanya untuk meyakinkan posisi
jarum tetap baik. Kalau anda yakin ujung jarum spinal pada posisi
yang benar dan likuor tidak keluar, putar arah jarum 90 derajad
biasanya liquor keluar. Untuk analgesia spinal kontinyu dapat
dimasukan kateter.
f. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah
hamoroid dengan anestetik hiperbarik yang biasa disebut dengan
Sadle Block.

11. Jenis anestetik lokal untuk spinal anastesi


Berat enis cairan serebrospinalis (CSS) pada suhu 37o ialah 1.003-
1.008. anestetik lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut
dengan isobarik. Anestetik lokal denganberat jenis lebih besar dari CSS
disebut hiperbarik. Anestetik lokal dengan berat jenis lebih kecil dari CSS
disebut hipobarik (Latief, 2002).
Anestetik lokal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik
diperoleh dengan mancampur anestetik lokal dengan dekstrosa. Untuk
jenis hipobarik biasanya digunakan tetrakain diperoleh dengan
mencampur dengan air injeksi. Penyebaran anestetik lokal biasanya
tergantung pada faktor utama dan faktor tambahan. Faktor faktor
tersebut antara lain (Latief, 2002) :
a. Faktor utama
- Berat enis anestetika lokal (barisistas).
- Posisi pasien (kecuali isobarik).
- Dosis dan volum anestetika lokal (kecuali isobarik ).
b. Faktor tambahan
- Ketinggian suntikan./
- Kecepatan suntikan/ barbotase.
- Ukuran jarum.
- Keadaan fisik pasien.
- Tekanan intraabdominal.
Lama kerja anestetik lokal tergantung dari jenis anesteti lokal,
besarnya dosis, ada tidaknya vasokonstriktor, dan besarnya penyebaran
anestetika lokal.
12. Komplikasi spinal anastesi.
Omplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan tindakan spinal
anestesi adalah :
a. Hipotensi berat dapat terjadi akibat blok simpatis, terjadi venous
pooling. Pada dewasa dicegah dengan memberikan infus cairan
elektrolit 1000 ml atau koloid 500 ml sebelum tindakan.
b. Bradikardi, hal ini dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia,
terjadi akibat blok asampai T-2.
c. Hipoventilasi akibat terjadinya paralisi saraf frenikus atau hipoferfusi
pusat kendali nafas.
d. Trauma pembuluh darah.
e. Trauma saraf.
f. Mual-muntah.
g. Gangguan pendengaran.
h. Blok spinal tinggi, atau spinal total.
Sedangkan komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan spinal
anestesi adalah :
a. Nyeri tempat suntikan.
b. Nyeri punggung.
c. Nyeri kepala karena kebocoran likuor.
d. Retensio urin.
e. Meingitis.

K. Asuhan Keperawatan Pre Intra Post Anestesi.


Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada tindakan
pembedahan muskuloskeletal menurut Wilkimson (2007), meliputi tetapi
tidak terbatas pada amputasi , artrotomi, bunio-nektomi, gips, plat pinggul,
prostesis pinggul, reduksi teruka atau fiksasi internal untuk fraktur, perbaikan
bahu, penggantian pergelangan kaki total, penggantian pinggul total,
penggantian lutut total, dan traksi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot dan kerusakan
sekunder terhadap fraktur.
2. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan
dengan penurunan aliran darah.
3. Resiko tinggi terhadap disfungi neurovaskuler perifer berhubungan
dengan penurunan aliran darah (cedera vaskuler langsung, edema
berlebihan, pembentukan trombus)
4. Cemas berhubungan dengan akan dilakukannya tindakan operasi
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi
mengenai pengobatan.
Post Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
2. resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan (prosedur invasif).
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
neurovaskuler (nyeri)
4. resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik

B. INTERVENSI
Pre Operasi
1. DX I
Nyeri akut b.d. spasme otot dan kerusakan sekunder terhadap fraktur.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri
berkurang atau hilang.
NOC:
a. NOC 1: Level Nyeri
Kriteria Hasil:
a. Laporkan frekuensi nyeri
b. Kaji frekuensi nyeri
c. Lamanya nyeri berlangsung
d. Ekspresi wajah terhadap nyeri
e. Kegelisahan
f. Perubahan TTV
b. NOC 2: Kontrol Nyeri
Kriteri Hasil:
a. Mengenal faktor penyebab
b. Gunakan tindakan pencegahan
c. Gunakan tindakan non analgetik
d. Gunakan analgetik yang tepat
Ket Skala:
1 = Tidak pernah menunjukkan
2 = Jarang menunjukkan
3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan
5 = Selalu menunjukkan
NIC: Manajemen Nyeri
1) Kaji secara menyeluruh tentang nyeri termasuk lokasi, durasi,
frekuensi, intensitas, dan faktor penyebab.
2) Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan terutama jika tidak
dapat berkomunikasi secara efektif.
3) Berikan analgetik dengan tepat.
4) Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama
akan berakhir dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur.
5) Ajarkan teknik non farmakologi (misalnya: relaksasi, guide,
imagery,terapi musik,distraksi)
2. DX II
Resiko tinggi trauma b.d. kehilangan integritas tulang (fraktur)
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi
trauma.
NOC: Risk Control
Kriteria Hasil:
a. Memonitor faktor resiko lingkungan
b. Memonitor faktor resiko perilaku pasien
c. Menggunakan pelayanan kesehatan kongruen dengan kebutuhan
d. Memonitor perubahan status kesehatan
e. Partisipasi dalam perawatan untuk identifikasiresiko
Ket Skala:
1 = Tidak pernah menunjukkan
2 = Jarang menunjukkan
3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan
5 = Selalu menunjukkan
NIC: Enviromental Manaement: Safety
1) Identifikasi keamanan yang dibutuhkan pasien, pada tingkat fungsi
fisik dan kognitif dan perilaku yang lalu
2) Identifikasi keselamatan pasien terhadap bahaya dalam lingkungan
(fisik, biologi, kimia)
3) Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan resiko bahaya.
4) Monitor perubahan lingkungan dalam kondisi keamanan dan
keselamatan pasien.

3. DX III
Resiko disfungsi neurovaskuler b.d. penurunan aliran darah
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
neurovaskuler perifer berfungsi kembali.
NOC: Circulation Status
Kriteria Hasil:
a. Nadi normal
b. Tekanan vena sentral normal
c. Perbedaan arteriol-venous oksigen normal
d. Peripheral pulse kuat
e. Tidak terjadi cedera peripheral
f. Tidak terjadi kelemahan yang berlebihan
Ket Skala:
1 = Sangat kompromi
2 = Kompromi baik
3 = Cukup Kompromi
4 = Jarang Kompromi
5 = Tidak Kompromi
NIC:
a. NIC 1: Exercise Therapy
1) Tentukan batasan pergerakan sendi dan efek dari fungsi
2) Monitor lokasi ketidaknyamanan selama pergerakan
3) Dukung ambulasi
b. NIC 2: Circulatory Care
1) Evaluasi terhadap edema dan nadi
2) Inspeksi kulit terhadap ulser
3) Dukung pasien untuk latihan sesuai toleransi
4) Kajiderajat ketidaknyamanan/nyeri
5) Turunkan ekstremitas untuk memperbaiki sirkulasi arterial

4. DX IV
Resiko Kerusakan integritas kulit b.d. imobilisasi fisik
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dan
keluarga tidak mengalami kecemasan.
NOC: Control Cemas
Kriteria Hasil:
a. Monitor Intensitas kecemasan
b. Menurunkanstimulasi lingkungan ketika cemas
c. Menggunakan strategi koping efektif
d. Mencari informasi untuk menurunkan cemas
e. Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas
Ket Skala:
1 = Tidak pernah dilakukan
2 = Jarang dilakukan
3 = Kadang dilakukan
4 = Sering dilakukan
5 = Selalu dilakukan
NIC: Penurunan Kecemasan
1) Tenangkan Klien
2) Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang
mungkin muncul pada saat melakukan tindakan
3) Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis, dan tindakan.
4) Temani pasien untuk mendukung keamanan dan menurunkan rasa
sakit.
5) Instruksikan pasien untuk menggunakan metode/ teknik relaksasi.

5. DX V
Kurang pengetahuan b.d. keterbatasan informasi mengenai pengobatan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
pengetahuan pasien dan keluarga bertambah.
NOC: Pengetahuan: proses penyakit.
Kriteria Hasil:
a. Mengenal tentang penyakit
b. Menjelaskan proses penyakit
c. Menjelaskan penyebab/faktor yang berhubungan
d. Menjelaskan faktor resiko
e. Menjelaskan komplikasi dari penyakit
f. Menjelaskan tanda dan gejala dari penyakit
Ket Skala:
1 = Tidak pernah menunjukkan
2 = Jarang menunjukkan
3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan
5 = Selalu menunjukkan
NIC:
a. NIC 1: Health Care Information exchange
1) Identifikasi pemberi pelayanan keperawatan yang lain
2) Identifikasi kemampuan pasien dan keluarga dalam
mengimplementasikan keperawatan setelah penjelasan
3) Jelaskan peran keluarga dalam perawatan yang
berkesinambungan
4) Jelaskan program perawatan medik meliputi; diet, pengobatan,
dan latihan.
5) Jelaskan rencana tindakan keperawatan sebelum
mengimplementasikan
b. NIC 2: Health Education
1) Jelaskan faktor internal dan eksternal yang dapat menambah atau
mengurangi dalam perilaku kesehatan.
2) Jelaskan pengaruh kesehatan danperilaku gaya hidup
individu,keluarga/lingkungan.
3) Identifikasi lingkungan yang dibutuhkan dalam program
perawatan.
4) Anjurkan pemberian dukungan dari keluarga dan keluarga untuk
membuat perilaku kondusif.

Post Operasi
1. DX I
Nyeri akut b.d. agen cidera fisik
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri
berkurang atau hilang.
NOC:
a. NOC 1: Level Nyeri
Kriteria Hasil:
a. Laporkan frekuensi nyeri
b. Kaji frekuensi nyeri
c. Lamanya nyeri berlangsung
d. Ekspresi wajah terhadap nyeri
e. Kegelisahan
f. Perubahan TTV
b. NOC 2: Kontrol Nyeri
Kriteri Hasil:
a. Mengenal faktor penyebab
b. Gunakan tindakan pencegahan
c. Gunakan tindakan non analgetik
d. Gunakan analgetik yang tepat
Ket Skala:
1 = Tidak pernah menunjukkan
2 = Jarang menunjukkan
3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan
5 = Selalu menunjukkan
NIC: Manajemen Nyeri
1) Kaji secara menyeluruh tentang nyeri termasuk lokasi, durasi,
frekuensi, intensitas, dan faktor penyebab.
2) Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan terutama jika tidak
dapat berkomunikasi secara efektif.
3) Berikan analgetik dengan tepat.
4) Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama
akan berakhir dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur.
5) Ajarkan teknik non farmakologi (misalnya: relaksasi, guide,
imagery,terapi musik,distraksi)

2. DX II
Resiko tinggi infeksi b.d. trauma jaringan (prosedur invasif)
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksitidak
terjadi.
NOC:
a. NOC 1: Deteksi Infeksi
Kriteria Hasil:
a. Mengukur tanda dan gejala yang mengindikasikan infeksi
b. Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan
c. Mampu mengidentifikasi potensial resiko
b. NOC 2: Pengendalian Infeksi
Kriteria Hasil:
a. Pengetahuan tentang adanya resiko infeksi
b. Mampu memonitor faktor resiko dari lingkungan
c. Membuat strategi untuk mengendalikan resiko infeksi
d. Mengatur gaya hidup untuk mengurangi resiko
e. Penggunaan pelayanan kesehatan yang sesuai
Ket Skala:
1 = Selalu
2 = Sering
3 = Kadang
4 = Jarang
5 = Tidak pernah
NIC: Teaching diases proses
1) Deskripsikan proses penyakit dengan tepat
2) Sediakan informasi tentang kondisi pasien
3) Diskusikan perawatan yang akan dilakukan
4) Gambaran tanda dan gejala penyakit
5) Instruksikan pasien untuk melaporkan kepada perawat untuk
melaporkan tentang tanda dan gejala yang dirasakan.

3. DX III
Kerusakan mobilitas fisik b.d. kerusakan meurovaskuler (nyeri)
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien
dapat meningkatkan mobilisasi pada tingkat yang paling tinggi
NOC: Mobility level
Kriteria Hasil:
a. Keseimbangan penampilan
b. Memposisikan tubuh
c. Gerakan otot
d. Gerakan sendi
e. Ambulansi jalan
f. Ambulansi kursi roda
Ket Skala:
1 = Dibantu total
2 = Memerlukan bantuan orang lain dan alat
3 = Memerlukan orang lain
4 = Dapat melakukan sendiri dengan bantuan alat
5 = Mandiri
NIC: Exercise Therapy: Ambulation
1) Bantu pasien untuk menggunakan fasilitas alat bantu jalan dan cegah
kecelakaan atau jatuh
2) Tempatkan tempat tidur pada posisi yang mudah dijangkau/diraih
pasien.
3) Konsultasikan dengan fisioterapi tentang rencana ambulansi sesuai
kebutuhan
4) Monitor pasien dalam menggunakan alatbantujalan yang lain
5) Instruksikan pasien/pemberi pelayanan ambulansi tentang teknik
ambulansi.

4. DX IV
Resiko kerusakan integritas kulit b.d. imobilisasi fisik.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kerusakan
integritas kulit tidak terjadi.
NOC: Integritas Jaringan: kulit dan membran mukosa

Kriteria Hasil:
a. Sensasi normal
b. Elastisitas normal
c. Warna
d. Tekstur
e. Jaringan bebas lesi
f. Adanya pertumbuhan rambut dikulit
g. Kulit utuh
Ket Skala:
1 = Kompromi luar biasa
2 = Kompromi baik
3 = Kompromi kadang-kadang
4 = Jarang kompromi
5 = Tidak pernah kompromi
NIC: Scin Surveilance
1) Observation ekstremitas oedema, ulserasi, kelembaban
2) Monitor warna kulit
3) Monitor temperatur kulit
4) Inspeksi kulit dan membran mukosa
5) Inspeksi kondisi insisi bedah
6) Monitor kulit pada daerah kerusakan dan kemerahan
7) Monitor infeksi dan oedema

C. EVALUASI
Pre Operasi
DX Kriteria Hasil Ket Skala
I NOC 1: Level Nyeri 1 = Tidak pernah
a. Laporkan frekuensi nyeri menunjukkan
b. Kaji frekuensi nyeri 2 = Jarang menunjukkan
c. Lamanya nyeri berlangsung 3 = Kadang menunjukkan
d. Ekspresi wajah terhadap nyeri 4 = Sering menunjukkan
e. Kegelisahan 5 = Selalu menunjukkan
f. Perubahan TTV
NOC 2: Kontrol Nyeri
a. Mengenal faktor penyebab
b. Gunakan tindakan pencegahan
c. Gunakan tindakan non analgetik
d. Gunakan analgetik yang tepat
II a. Memonitor faktor resiko lingkungan 1 = Tidak pernah
b. Memonitor faktor resiko perilaku menunjukkan
pasien 2 = Jarang menunjukkan
c. Menggunakan pelayanan kesehatan 3 = Kadang menunjukkan
kongruen dengan kebutuhan 4 = Sering menunjukkan
d. Memonitor perubahan status 5 = Selalu menunjukkan
kesehatan
e. Partisipasi dalam perawatan untuk
identifikasiresiko
III a. Nadi normal 1 = Sangat kompromi
b. Tekanan vena sentral normal 2 = Kompromi baik
c. Perbedaan arteriol-venous oksigen 3 = Cukup Kompromi
normal 4 = Jarang Kompromi
d. Peripheral pulse kuat 5 = Tidak Kompromi
e. Tidak terjadi cedera peripheral
f. Tidak terjadi kelemahan yang
berlebihan
IV a. Monitor Intensitas kecemasan 1 = Tidak pernah
b. Menurunkanstimulasi lingkungan dilakukan
ketika cemas 2 = Jarang dilakukan
c. Menggunakan strategi koping efektif 3 = Kadang dilakukan
d. Mencari informasi untuk menurunkan 4 = Sering dilakukan
cemas 5 = Selalu dilakukan
e. Menggunakan teknik relaksasi untuk
menurunkan cemas
V a. Mengenal tentang penyakit 1 = Tidak pernah
b. Menjelaskan proses penyakit menunjukkan
c. Menjelaskan penyebab/faktor yang 2 = Jarang menunjukkan
berhubungan 3 = Kadang menunjukkan
d. Menjelaskan faktor resiko 4 = Sering menunjukkan
e. Menjelaskan komplikasi dari penyakit 5 = Selalu menunjukkan
f. Menjelaskan tanda dan gejala dari
penyakit

Post Operasi
DX Kriteria Hasil Ket Skala
I NOC 1: Level Nyeri 1 = Tidak pernah
a. Laporkan frekuensi nyeri menunjukkan
b. Kaji frekuensi nyeri 2 = Jarang menunjukkan
c. Lamanya nyeri berlangsung 3 = Kadang menunjukkan
d. Ekspresi wajah terhadap nyeri 4 = Sering menunjukkan
e. Kegelisahan 5 = Selalu menunjukkan
f. Perubahan TTV

NOC 2: Kontrol Nyeri


a. Mengenal faktor penyebab
b. Gunakan tindakan pencegahan
c. Gunakan tindakan non analgetik
d. Gunakan analgetik yang tepat
II NOC 1: Deteksi Infeksi 1 = Selalu
a. Mengukur tanda dan gejala yang 2 = Sering
mengindikasikan infeksi 3 = Kadang
b. Berpartisipasi dalam perawatan 4 = Jarang
kesehatan 5 = Tidak pernah
c. Mampu mengidentifikasi
potensial resiko
NOC 2: Pengendalian Infeksi
a. Pengetahuan tentang adanya
resiko infeksi
b. Mampu memonitor faktor resiko
dari lingkungan
c. Membuat strategi untuk
mengendalikan resiko infeksi
d. Mengatur gaya hidup untuk
mengurangi resiko
e. Penggunaan pelayanan
kesehatan yang sesuai

III a. Keseimbangan penampilan 1 = Dibantu total


b. Memposisikan tubuh 2 = Bantuan orang lain
c. Gerakan otot dan alat
d. Gerakan sendi 3 = Memerlukan orang lain
e. Ambulansi jalan 4 = Dengan bantuan alat
f. Ambulansi kursi roda 5 = Mandiri
IV a. Sensasi normal 1 = Kompromi luar biasa
b. Elastisitas normal 2 = Kompromi baik
c. Warna 3 = Kompromi kadang-
d. Tekstur kadang
e. Jaringan bebas lesi 4 = Jarang kompromi
f. Adanya pertumbuhan rambut dikulit 5 = Tidak pernah
g. Kulit utuh kompromi
DAFTAR PUSTAKA

Apley, A.C & Solomon, L. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan fraktur Sistem Apley, ed
7. Jakarta: Widya Medika.
Capernito, Linda Juall. 1993. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek
Klinis, ed 6. Jakarta: EGC.
Doengoes, M.E, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, ed 3. Jakarta:
EGC.
Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, vol 2.
Jakarta: EGC.
Harnowo, S. 2001. Keperawatan Medikal Bedah untuk Akademi Keperawatan.
Jakarta: Widya Medika.
Hidayat, Aziz.A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba
Medika.
Long, B.C. 1988. Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan. Bandung: Yayasan IAPK Padjajaran.
Price, S A & Wilson, L M. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, jilid 2. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ed 3, jilid 2. Jakarta:
Aesculapius.
http://www.google.com.