You are on page 1of 7

Tugas Ujian Akhir Semester Politik Keuangan dan Anggaran

Politik Anggaran Dana Hibah dan Bantuan Sosial pada Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah Kabupaten Lamongan Tahun 2015

Disusun Oleh:
Firman Bagus Budiono 071311333084

Departemen Ilmu Politik


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Airlangga Surabaya
2016
1. Latar Belakang Masalah
Perubahan wujud demokrasi di Indonesia ditandai dengan reformasi yang terjadi
pada tahun 98, dimana perubahan menjalar pada segi kehidupan bangsa dan negara.
Negara tidak lagi menjadi negara yang berbentuk sentralistik, namun berubah menjadi
negara yang membuka kran demokrasi sebesar-besarnya agar desentralisasi dapat
terlaksana. Desentralisasi yang mengharuskan pemerintahan daerah yang mandiri,
membuat banyak daerah mengatur anggaran daerahnya sendiri yang sesuai dengan
potensi dan arah gerak pembangunan daerah. Pembangunan yang terencana dengan
APBD yang baik akan membuat sebuah pembangunan yang baik pula, hal ini harus diawasi
bersama agar tercipta pemerintahan yang transparan dan akuntabel.
Kabupaten Lamongan sebagai kabupaten penyangga ibukota provinsi menjadi
salah satu denyut pendapatan di Provinsi Jawa Timur. Sebagai kota penyangga,
Kabupaten Lamongan memiliki banyak potensi PAD terkait dengan pajak daerah dan
retribusi. APBD yang pro rakyat menjadi sebuah kebutuhan yang saat ini menjadi
persoalan juga karena banyak program yang salah sasaran. Tulisan ini mencoba untuk
menganalisis bagaimana APBD Kabupaten Lamongan apakah sesuai dengan kebutuhan
dan juga yang pro rakyat.
2. Tujuan
Untuk mengetahui dan mempelajari APBD Kabupaten Lamongan 2015 beserta
sumber-sumber pendapatan daerah dan belanja daerah.
Untuk mengetahui efektititas anggaran Kabupaten Lamongan.
Untuk implementasi materi kuliah Politik Keuangan dan Anggaran.
BAB 2

Pembahasan

2.1. Pengertian dan fungsi APBD

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Menurut UUD No.32


Tahun 2003 tentang pengertian APBD adalah sebagai rencana keuangan tahunan
pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah
dan DPRD serta ditetapkan dalam peraturan Daerah (perda).1 Melihat dari rujukan
yang disampaikan, urgensi APBD dalam pemerintahan daerah menjadi saangat
penting dalam pelaksanaannya karena untuk dapat mengatur segala bentuk
keuangan yang dilakukan program kerjanya dalam menjalankan program kerja
salam satu tahun. Meski didalam beberapa kasus mengalami perubahan, APBD
menjadi suatu unsur yang menjadi begitu sentral dalam menjalankan sistem
birokrasi yang ada. Berkaitan dengan ini, check and balances dalam proses
pembuatannya menjadi focus utama karena agar terciptanya pemrintahan yang
transparan.

APBD juga memiliki fungsi yang mana APBD harus memenuhi fungsi-fungsi
yang ada. Berikut fungsi-fungsi APBD yakni sebagai berikut :

1. Fungsi Otorisasi
Fungsi otorisasi berarti APBD menjadi dasar bagi Pemerintah Daerah untuk
melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.
2. Fungsi Perencanaan
Fungsi perencanaan berarti APBD menjadi pedoman bagi pemerintah daerah
untuk merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
3. Fungsi Pengawasan

1
http://www.artikelsiana.com/2014/12/pengertian-apbd-tujuan-apbd-fungsi-apbd.html diakses tanggal 21 Juni
2016
Fungsi pengawasan berarti APBD menjadi pedoman untuk menilai (mengawasi)
apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah sudah sesuai dengan
ketentuan yang telah ditetapkan.
4. Fungsi Alokasi
Fungsi alokasi berarti APBD dalam pembagiannya harus diarahkan dengan tujuan
untuk mengurangi pengangguran, pemborosan sumber daya, serta meningkatkan
efisiensi dan efektivitas perekonomian.
5. Fungsi Distribusi
Fungsi distribusi berarti APBD dalam pendistribusiannya harus memerhatikan rasa
keadilan dan kepatutan.2

Fungsi-fungsi yang ada tentu harus saling mendukung untuk menjalankan


sebuah pemerintahan yang baik, agar tercapai sebuah bentuk pemerintahan yang
demokratis. Wujud demokrasi yang tidak ada saling mendominasi antar institusi
menjadi tujuan utama akan adanya APBD, sehingga penganggaran dalam kinerja
pemerintah juga dapat dikontrol agar tidak ada tindakan yang menyelewengkan
kewenangan yang diberikan.

2.2. Politik Anggaran

Politik anggaran didefinisikan yakni pemakaian keuangan public untuk


kepentingan baik secara individu maupun kelompok. Kemauan politik pada politik
anggaran menjadi permasalahan ketika menjelang adanya pemilihan umum,
karena pada kenyataannya praktek money politics masih rawan terjadi apalagi
pada lingkup daerah. Irene S. Rubin dalam The Politics of Public Budgeting (2000)
mengatakan, dalam penentuan besaran maupun alokasi dana untuk rakyat senantiasa ada
kepentingan politik yang diakomodasi oleh pejabat. Bahwa alokasi anggaran acap juga
mencerminkan kepentingan perumus kebijakan terkait dengan konstituennya.3 Mobilisasi

2
http://www.zonasiswa.com/2014/12/apbn-apbd-pengertian-tujuan-fungsi.html diakses tanggal 21 Juni 2016
3
https://aburifal.wordpress.com/2012/02/20/politik-anggaran/ diakses tanggal 22 Juni 2016
massa dalam penggunaan keuangan acapkali menjadi problem karena dalam prosesnya
terjadi penyelewengan yang harusnya dapat dipertanggungjawabkan secara public.

2.3. Temuan Data

4.1 PENDAPATAN ASLI DAERAH 266.767.894.117,12

4.1.1 Hasil Pajak Daerah 68.572.752.670,00

4.1.2 Hasil Retribusi Daerah 24.002.242.595,00

4.1.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 20.875.871.772,12

4.1.4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 153.317.027.080,00

4.2 DANA PERIMBANGAN 1.259.978.025.000,00

4.2.1 Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 155.503.160.000,00

4.2.2 Dana Alokasi Umum 1.064.300.915.000,00

4.2.3 Dana Alokasi Khusus 40.173.950.000,00

4.3 LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH 616.192.829.761,00

4.3.3 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi 104.383.242.291,00

4.3.4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 397.913.573.070,00

Bantuan Keuangan dari Propinsi atau Pemerintah Daerah


4.3.5 113.848.323.000,00
Lainnya

Dana Bagi Hasil Retribusi dari Propinsi dan Pemerintah


4.3.6 47.691.400,00
Daerah

Jumlah Pendapatan 2.142.938.748.878,12

5 BELANJA DAERAH 2.196.879.102.430,12

5.1 BELANJA TIDAK LANGSUNG 1.447.365.147.833,12


5.1.1 BELANJA PEGAWAI 1.071.416.379.620,00

5.1.2 BELANJA BUNGA 0,00

5.1.4 BELANJA HIBAH 122.069.304.000,00

5.1.5 BELANJA BANTUAN SOSIAL 11.993.460.000,00

BELANJA BAGI HASIL KEPADA PROVINSI/KABUPATEN/KOTA


5.1.6 3.393.400.000,00
DAN PEMERINTAHAN DESA

BELANJA BANTUAN KEUANGAN KEPADA


5.1.7 234.548.831.096,50
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA DAN PEMERINTAHAN DESA

5.1.8 BELANJA TIDAK TERDUGA 3.943.773.116,62

5.2 BELANJA LANGSUNG 749.513.954.597,00

5.2.1 BELANJA PEGAWAI 34.691.949.550,00

5.2.2 BELANJA BARANG DAN JASA 393.514.331.636,00

5.2.3 BELANJA MODAL 321.307.673.411,00

Jumlah Belanja 2.196.879.102.430,12

DEFISIT (53.940.353.552,00)

6 PEMBIAYAAN DAERAH 53.940.353.552,00

6.1 Penerimaan Pembiayaan Daerah 79.340.353.552,00

6.1.1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Daerah Tahun Sebelumnya 56.940.353.552,00

6.1.6 Penerimaan piutang daerah 22.400.000.000,00

Jumlah Penerimaan Pembiayaan 79.340.353.552,00

6.2 Pengeluaran Pembiayaan Daerah 25.400.000.000,00

Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah/Dana


6.2.2 25.400.000.000,00
Bergulir
6.2.3 Pembayaran Pokok Utang 0,00

Jumlah Pengeluaran Pembiayaan 25.400.000.000,00

Pembiayaan Netto 53.940.353.552,00

Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran tahun berkenaan (SiLPA) 0,00

Sumber : http://bpkad.lamongankab.go.id
Belanja hibah pada tahun 2015 pada penetapan APBD pada tahun 2015 pada table yakni
122.069.304.000,00 yang kalua kita bandingkan dengan dana hibah pada tahun 2014
tidak mencapai nilai sebesar tahun 2014. Pada tahun 2014, belanja hibah Kabupaten
Lamongan sebesar 61.556.800.000,004 yang naik sampai separuh dari tahun 2015.
Terkait dengan politik anggaran, tentu tidak mengherankan bahwa pada tahun 2015
berubah naik lebih dari 50% yang mana dalam prakteknya menjadi rentan pada
pendistribusiannya. Kepentingan-kepentingan politik untuk mempertahankan kekuasaan
bagi eksekutif menjadi sebuah alasan yang paling logis dalam penganggaran.
Pembengkakan anggaran yang begitu banyak membuat penyaluran anggaran kepadda
pihak ketiga yakni masyarakat sebagai stimulus dalam proses pemilu agar masyarakat
dapat mendukungnya kembali dalam pencalonan sebagai kepala daerah.
Ketidakmampuan konstituen dalam pengontrolan menjadi kelemahan yang menjadi
celah dalam proses penganggran dan dalam pendistribusian, serta perwakilan atau
legislative yang seharusnya menjadi lembaga yang mengemban amanat untuk
mengontrol eksekutif terkadang bekerjasama dalam penganggaran baik dengan alasan
memiliki kesamaan secara partai politik maupun adanya deal-deal politik yang lain.

4
http://bpkad.lamongankab.go.id/?page_id=322 diakses tanggal 22 Juni 2016