You are on page 1of 3

HAKIKAT TAKWA

Jamaah jumat yang dimuliakan oleh Allah

Untuk mencapai derajat orang yang bertakwa atau muttaqin, terlebih dulu marilah kita
simak firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 3 sampai 5 :

Artinya : yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib , yang mendirikan solat, dan
menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugrahkan kepada mereka, dan mereka yang
beriman kepada kitab (Al-Quran)yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang
diturunkan sebelum kamu serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. Al-
Baqarah : 3-5)

Dari ayat tersebut bisa ditarik penjelasan, bahwa seseorang bisa dikatakan muttaqin
bila memenuhi syarat-syarat sebagi berikut :

Pertama, orang yang bertakwa dalah orang-orang yang beriman kepada hal-hal gaib, yaitu
mengitikadkan adanya sesuatu yang maujud namun tidak dapat di tangkap oleh panca indera, karena
adanya dalil yang menunjukkan kepada adanya sesuatu yang maujud itu, seperti adanya Allah,
malaikat dan sebaginya.

Kedua, orang yang bertakwa adalah orang yang mendirikan solat secara istiqomah, teratur,
lengkap dengan syart-rukun dan adabnya.

Ketiga, adalah orang yang menafkahkan sebagian hartanya yang telah direzekikan oleh
Allah kepadanya, untuk mereka yang berhak menerimanya menurut agama.

Keempat, adalah orang yang beriman kepada Al-Quran dan kepada kitab-kitab yang
diturunkan sebelumnyam seperti taurat, injil, dan zabur.

Kita juga harus sering mendengar bahwa takwa bisa menghindarkan dari api nerak,
diartikan dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Untuyk mencapai hal itu, maka marilah kita berusaha untuk menghentikan segala kealpaan
dan segera sadar dengan godaan setan yang sangat menyesatkan. Bila hal ini dapat klita
laksanakan, berarti kita telah maju satu langkah takwa kepada Allah. Demikian ini memang
sulit untuk di jalankan kecuali dengan niat yang bulat dan dnegan kesungguhan hati
menjalankan semua perinta Allah, serta menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah kumat rahimakumullah

Meskipun demikian berat, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk


menjalankannya. Kita tidak boleh merasa pesimis dan menyerah kepada hawa nafsu dan
syahwat. Sebaliknya, kita harus selalu merasa optimis untuk dapat mengatasi dan
menguasainya. Sedikit demi sedikit hawa nafsu harus dapat kita kuasai, ALLah SWT.
Berfirman dalam surat At-Taghaabun ayat 16

Artinya : bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah


serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. ( QS. AT-taghaabun : 16)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah

Kita wajib bertakwa kepada Allah menurut kemampuan kita. Sebagai langlkah awal
untuk menuju derajat muttaqin, hendaknya perilaku kita sehari-hari sedapat mungkin harus
diwarnai dengan ketakwaan. Misalnya seorang pimpinan dalam satu pemerintahan, di dalam
melaksanakan tugas sebagai pimpinan dia harus memenuhi peraturan-peraturan yang berlaku.
Bagi mereka harus benar-benar bekerja mengabdi kepada rakyat, tidak semena-mena pada
bawahan, jujur, dan harus bisa mengerti kemauan rakyat, tidak mengkomersilkan jabatannya,
tidak mengkhianati tugasnya, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Selain itu
merekapun harus selalu menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba Allah,
kewajiaban melaksanakan perintah-Nya.

Demikian itu juga berlaku bagi setiap muslim sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
Seorang petani misalnya, maka arena ketakwaanya sebagian besar ada dalam pertanian.
Seorang pedagang, arena ketakwaannya sebagai besar berada dalam perdagangan. Demikian
seterusnya, sehingga setiap muslim harus bisa mewarnai perilaku keseharian dengan takwa.
Juga harus tetap memperhatikan kewajiban yang berhubungan dengan manusia atau makhluk
lain.

Jadi, seorang muslim jika tidak melaksanakan aturan-aturan yang berlaku baik aturan agama
maupun aturan masyarakat, maka tidaklah orang itu dikatakan sebagai orang yang bertakwa.

Hadirin, jamaah jumat rahimakumullah

Begitulah realisasi takwa dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan sabda rasullah
saw :
Artinya : bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada. Ikutilah kejahatan dengan
kebaikan, niscaya kebaikan iotu akan menhapus kejahatan. Dan pergaulilah manusia dengan
pekerti yang baik.

Hadis diatas jelas memberikan peringatan kepada kita, bahwa takwa itu harus dilaksanakan
setiap saat dan dimana saja kita berada serta dalam keadaan bagaimanapun baik ketika
sendirian maupun bersama orang lain, seperti disaat bekerja, istrahat, makan, minum, dan
disaat-saat yang lain. Bila ternyata kita lupa tidak bertakwa sehingga melakukan perbuatan
dosa, maka hendaklah perbuatan dosa itu kita iringi dengan perbuatan yang baik atau amal
saleh sebagai usaha kembali kedalam keadaan bertakwa. Sedang perintah supaya berkelakuan
baik kepada manusia siapapun orangnya, adalah senagai manifestasi ketakwaan kita kepada
Allah SWT.

Dengan demikian, jelas bahwa takwa itu meliputi semua aspek kehidupan dunia baik yang
berhubungan dengan Allah maupun yang berhubungan dnegan sesama makhluk.

Jemaah jumat yang berbahagia

Orang yang bertakwa itu kehidupan dunianya di jamin oleh Allah diberi jalan keluar dari
kesempitan, diberi kemudahan dalam berbagai urusan. Artinya, Allah SWT pasti menjamin
orang-orang yang bertakwa dengan kelancaran jalan rezekinya. Allah telah berfirman dalam
surah Ath-Thalaq ayat 2 dan 3 :

Artinya : barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya
jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. (QS.Ath-
Thalaq : 2-3)

Dengan jaminan Allah terhadap orang yang bertakwa sebagaimana tersebut pada ayat diatas
yang amat jelas dan gamblang itu, maka marilah kita selalu berusaha untuk selalu
meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya. Kita tidak perlu takut dan ragu-ragu jika takwa
yang kita laksanakan itu akan menyebabkan kesukaran didalm semua urusan. Sebab dengan
bertakwa itu justru Allah akan memberi kemudahan dalam semua urusan kita dan
melapangkan jalannya rezeki sewaktu hidup di dunia, Juga memberi tempat yang mulia kelak
diakhirat. Inilah janji Allah, sesungguhnya Allah Maha Besar Lagi Maha Adil.