You are on page 1of 13

Ciprofloxacin Topical vs Kombinasi Dalam Penanganan Sekret Otitis

Media Supuratif Kronis

G S RenuKananda1, SantoSh u.P.2, nitha MaRy GeoRGe3.

ABSTRAK

Tujuan: untuk mempelajari flora mikroba dan menilai kemanjuran obat tetes telinga
ciprofloxacin yang dibandingkan dengan kombinasi ciprofloxacin topikal dan oral
sebagai lini pertama penanganan pasien yang terdiagnosa otitis media supuratif kronis.

Metode: Uji klinis prospektif acak pada 100 pasien dengan OMSK episode akut di
bagian rawat jalan peneliti.

Hasil: berdasarkan penelitian kami, terapi ciprofloxacin topikal efektif dalam
penanganan otitis media kronis episode akut begitu juga terapi kombinasi meskipun
secara keseluruhan tingkat kekambuhan ditemukan lebih banyak pada kelompok
sebelumnya.

Kesimpulan: antibiotik topikal merupakan lini pertama pengobatan untuk sebagian
besar pasien dengan otitis media supuratif apabila tidak disertai dengan infeksi sistemik
atau penyakit serius yang mendasari. Tidak ada bukti bahwa antibiotik sistemik atau
antibiotik sistemik yang dikombinasi dengan preparat topikal dapat meningkatkan hasil
dari pengobatan dibandingkan jika hanya diberikan antibiotik topikal

Pendahuluan

Insidensi Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) tergantung pada faktor ras dan sosio
ekonomi. Faktor sosio-ekonomi seperti kondisi lingkungan yang buruk, padat,
kebersihan dan nutrisi yang buruk banyak ditemukan pada prevalensi OMSK [1] .
Perubahan flora mikroba mengikuti munculnya antibiotik sintetis yang meningkatkan
hubungan Penilaian flora di OMSK dan pola sensitivitas antibiotik in vitro. Hal ini

sangat penting bagi dokter dalam memberikan pengobatan kepada pasien dengan discharge telinga yang kronis [2]. Adanya kekhawatiran dalam penggunaan antibiotik sistemik dan perkembangan resistensi bakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk menemukan organisme yang berkaitan dengan OMSK dengan cara ear swab untuk dikultur dan menilai tingkat sensitivitasnya terhadap pengobatan pasien dengan topikal / kombinasi ciprofloxacin. Material dan metodologi Penelitian ini menggunakan studi cross sectional yang dilakukan pada 100 pasien yang datang ke bagian poliklinik telinga hidung tenggorok (THT) pada pelayanan tersier dari bulan oktober 2012 sampai september 2013. Hasil dari pengobatan akan dipelajari dan kemudian dianalisis. Selama penelitian ini. peneliti melakukan seleksi pemilihan subjek dengan mengikuti kriteria inklusi dan eksklusi (tabel 1). Subjek yang telah memenuhi syarat untuk mengikuti penelitian dijelaskan oleh peneliti mengenai kondisi mereka dan kemudian melakukan informed consent. dengan OMSK episode akut. . Pasien dengan sekret yang aktif (Tabel 2). Penelitan ini diminta untuk dilakukan karena peningkatan resitensi antibiotik di negara peneliti. • Pasien yang memiliki antibiogram sensitivitas ciprofloxacin. Pertanyaannya adalah apakah obat ototopikal juga dapat menyebabkan resistensi organisme pada telinga. Kriteria Inklusi Pasien yang hadir ke poli THT usia diatas 18 tahun dengan: • Otore mukopurulent atau purlent dengan durasi lebih dari 3 minggu disertai perforasi membran timpani.

Usia dalam tahun Jumlah Pasien Persentase 20-29 51 51 30-39 23 23 40-49 9 9 50-59 11 11 60-69 6 6 Total 100 100 [Tabel-1]: Distibusi Usia Sekret telinga Jumlah Pasien Pesentase Durasi (tahun) 1-5 66 66 6-10 19 19 >10 15 15 Jumlah Sedikit 13 13 Sedang 23 23 Banyak 64 64 Sifat Mukoid 96 96 Purulent 4 4 [Table-2]: Sekret telinga .

NS [Tabel-4]: Otorrhea Kultur Group A Group B Klebsiella 9 (18%) 5 (10%) Staphylococcus aureus 3 (6%) 4 (8%) Pseudomonas 2 (4%) 1 (2%) Proteus 2 (4%) 0 E-coli 1 (2%) 0 Tidak Tumbuh 15 (30%) 20 (40%) .17. p-value 0.[Table-3]: hasil isolasi bakteri di telinga 3 Group a Group B Ada 18 (36%) 20 (40%) Tidak Ada 32 (64%) 30 (60%) Chi-square 0.91.

Tidak Dilakukan 18 (36%) 20 (40%) [Tabel-5a]: Culture on repeat swab Sensitivitas Group a Group B Positive 10 (20%) 5 (10%) Negative 7 (14%) 5 (10%) [Tabel-5b]: Sensitivitas Group a Group B Terobati 18 (36%) 20 (40%) Meningkat 25 (50%) 25 (50%) Gagal 7 (14%) 5 (10%) Chi-square : 0.44. p-value 0. NS [Tabel-6]: Hasil setelah 2-minggu pengobatan Group a Group B Pemberian antibiotik > 1minggu 10 (20%) 4 (8%) Pengobatan suportif 15 (30%) 21 (42%) Mengganti antibiotik yg lebih 7 (14%) 5 (10%) tinggi [Tabel-7]: Rencana setelah 2 minggu pengobatan .80.

• Otitis Media supuratif kronis tipe aticoantral • Otomycosis • Komplikasi • Polip aural yang besar di telinga tengah • Telah menggunakan banyak terapi antibiotik bulan lalu • Operasi otological tahun lalu . HS [Tabel-9]: Follow-up Kriteria Eksklusi • Akut (< 21 hari) perforasi membran timpani (Otitis media akut) • Adanya alergi quinolon atau benzalkonium klorida (pengawet) • Terdapat penyakit kronis yang mendasari seperti diabetes melitus. p-value 0. NS [Tabel-8]: Otorrhoea Group a Group B Tidak kambuh 31 (62%) 46 (92%) Kambuh 19 (38%) 4 (8%) Chi-square : 12.71.00. P-value 0.14. Group a Group B Ada 6 (12%) 2 (4%) Tidak ada 25 25 Chi-square : 2.17. tuberkulosis • Terdapat immunodefisiensi.

dilakukan tes secara perfoma untuk merekam informasi yang sesuai di setiap individu termasuk didalam studi ini. Sampel pertama diletakkan ke kaldu glukosa dan kemudian ditanamkan kedalam agar darah (enriched medium) dan Mac Conkey agar (differential medium) yang dikultur selama 24 jam. dua minggu setelah terapi. Sekret telinga dikumpulkan dengan swab steril konvensional dan untuk mencegah terjadinya kontak dengan meatus akustikus eksternal maka menggunakan spekulum telinga yang steril. Koloni bakteri primer yang dikultur diidentifkasi pewarnaan dan tes biokemikal. faringitis kronis yang membutuhkan terapi antibiotik sistemik sehingga dapat menyebabkan bias dalam penelitian. Kunjungan pasien selanjutnya . Pada grup A obat tetes ciprofloxacin (3 tetes) digunakan tiga kali sehari selama 14 hari pada telinga yang terkena. kemudian spesimen segera dikirim untuk dilakukan tes di laboratorium mikrobiologi. Pasien diminta untuk menghindari masuknya air kedalam telinga yang terinfeksi dan mengeringkan telinga sebelum memasukkan obat tetes telinga. sinusitis kronis. (tabel 3). Teknik yang benar adalah dengan menekan tragus. Pada grup B. kombinasi ciprofloxacin topikal (3 tetes) tiga kali sehari dan tablet ciprofloxacin (500 mg) dua kali sehari diberikan selama 14 hari. kepatuhan . • Terdapat hepatitis atau gagal ginjal akut atau kronis Pasien kemudian dialokasikan kedalam kelompok random sampling (menggunakan koin) sebagai : • GROUP A (Merah): obat tetes teinga ciprofloxacin topical untuk dua minggu • GROUP B (Green): Kombinasi ciprofloxacin oral dan topikal selama dua minggu Pada kunjungan pertama setiap pasien. • Adanya tuba timpanostomi • Perforasi akut akibat trauma • Ibu hamil atau menyusui • Kondisi gejala otitis media. Kultur dan uji sensitivitas ditentukan dengan menggunakan metode Kirby Bauer disk difussion.

mereka diklsifikasikan sebagai GAGAL TERAPI. pasien dengan group A yang tidak sembuh dilanjutkan obat tetes ciprofloxacin (jika masih sensitif dengan ciprofloxacin) atau diganti dengan antibiotik sistemik (jika tidak lagi peka terhadap ciprofloxacine) selama satu minggu lebih dan dinilai diakhir minggu ketiga (tabel 7). pasiend grup B yang tidak sembuh diminta melanjutkan terapi kombinasi (jika sensitif terhadap ciprofloxacin) atau diganti dengan antibiotik sistemik (jika tidak sensitif terhadap ciprofloxacin) selama satu minggu dan dievaluasi diakhir minggu ketiga. kecuali mereka yang sembuh atau mendapatkan terapi operasi. mereka diklasifikasikan sebagai GAGAL TERAPI dan diganti dengan antibiotik sistemik sesuai hasil tes kultur dan uji sensitivitas. moderate (4-7). Pada kunjungan ketiga jika pasien yang melanjutkan obat tetes telinga masih mengalami otore. “SEMBUH” [3] merupakan definisi tidak adanya otore or pada pemeriksaan otoskopi inactive (sekret tidak keluar terus menerus. pasien pada dua kelompok tersebut yang sembuh tapi masih memiliki otore yang persisten dilanjutkan pengobatannya selama satu minggu dengan pegobatan suportif agent anti inflamasi dan dilihat kembali di akhir minggu ketiga (tabel 6). Penilaian sekret telinga dilakukan secara objektif dan subjektif dan mengulang uji kultur sekret telinga dan uji tes sensitivitas jika ditemukan sekret tetap mengalir. Dua minggu setelah pengobatan. Dan diganti dengan antibiotik sistemik yang lain sesuai dengan hasil tes kultur dan tes sensitivitas. (tabel 5a. Pasien yang tidak patuh (sedang dan buruk) diganti dengan kasus baru untuk memenuhi target sampel. Semua pasien difollow up pada minggu ke-8 untuk menilai apakah terjadi resolusi atau gejala yang berulang (Tabel-9). Diakhir minggu ketiga jika pasien yang melanjutkan pengobatan kombinasi ciprofloxacin masih mengalami otore. Mereka yang .pasien dalam menjalankan terapi dinilai dan ditentukan berapa kali pasien lupa menggunakan obat selama 2 minggu tersebut: Baik (0-3). 5b). buruk (>7). Dua minggu setelah pengobatan. tidak ada inflamasi di mukosa telinga tengah) atau adanya otore berupa mukus serosa dengan hasil kultur negatif setelah terapi. Dua minggu setelah terapi. Data dikategorikan dengan menggunakan analisis X2 test dan Z-test untuk proporsi dua kelompok.

1%) Gul et al.2%) (25. [4] Pseudomonas Staphylococcus Coagulase negative aeruginosa (33. [3] Staphylococcus Pseudomonas Proteus (19.5%o) aeruginosa (52.4%) aureus (14. Dari 100 pasien.3%) staphylococcus (21. [5] Pseudomonas Staphylococcus Proteus (6.5%) (35...97%) aeruginosa aureus (21. 67 pasien memiliki unilateral OMSK dan 33 pasien memiliki OMSK bilateral. HASIL Penelitian ini dilakukan pada pasien usia 18 tahun dan mereka dipenelitian ini berada diusia antara 20-69 tahun.23%) Present study Pseudomonas Staphylococcus Klebsiella (13. Terbanyak Kedua Ketiga terbanyak Terbanyak Loy et al.48%) [Table10]: Memperlihatkan organisme bakteri terbanyak yang terisolasi diberbagai penelitian . [6] Pseudomonas Klebsiella aerogincs Staphylococcus aeruginosa (35. Jadi. 60 pasien (60%) adalah pria dan 40 pasien (40%) adalah wanita. memiliki intolerens terhadap obat di penelitian ini dimasukkan kedalam kriteria withdrawl.3%) aureus (33..67%) aureus (31. total semua telinga yang diperiksa ada 133.2%) aureus (15%) Poorey et al. Semua organisme tersebut sesnitif terhadap ciprofloxacin.. Pseudomona aeruginosa adalah organisme yang paling banyak ditemukan pada 45 pasien diikuti Klebsiella pada 30 pasien (tabel 10).5%) aeruginosa (26.7%) Ettehad et al.

sehingga flora normal dalam saluran pernafasan dan pencernaan tidak terkena antibiotik [3]. Administrasi antibiotik dalam media asam membantu mengembalikan dan memperkuat mekanisme pertahanan tubuh yang normal. Karena tidak ent options ada pengiriman yang cukup besar pada pemberian topikal. Sifat lainnya dari pemberian antibiotik secara topikal adalah tidak adanya efeksamping dari pemberian secara sistemik. Penelitian drugs administered Percentage of patients with dry ears Kasemsuwan et al.4% Tobramycin tetes telinga Tobramycin-23. Larutan antibiotik dengan konsentrasi tinggi dapat diberikan langsung ke sumber infeksi dengan pemberian antibiotik secara topikal [7].. Kuinolon bersifat bakterisida yang dapat membunuh bakteri secara progresif dengan memperluas kemana konsentrasi obat dapat disampaikan melebihi konsentrasi hambat minimum. Kemungkinan untuk muncul efek samping tampak jauh lebih rendah ketika melalui pemberian secara topikal dibandingkan obat yang diberikan secara sistemik [8]. [11] Ciprofloxacin tetes telinga Ciprofloxacin-47. [10] Ciprofloxacin tetes telinga Ciprofloxacin -84% Controls-12.5% Jaya et al... antibiotik Ototopical . [13] Ciprofloxacin oral Ciprofloxacin oral-40% Ciprofloxacin topical Ciprofloxacin topical-85% Studi terkini Kombinasi ciprofloxacin tetes Ciprofloxacin ear telinga dan oral dan drops-64% Combination ciprofloxacin topikal Ciprofloxacin 60% [Table -11]: Perbandinganpilihan pemberian pengobatan (MIC).. [12] Ciprofloxacin tetes telinga Ciprofloxacin -90% Povidone iodine tetes telinga Povidone iodine -88% Eposito et al.PEMBAHASAN Antibiotik Topikal sama efektifnya dengan antibiotik oral. oleh karena itu dapat meningkatkan kemanjuran antibiotik digunakan [9].5% Macfadyen et al.

umumnya lebih murah daripada obat sistemik. KESIMPULAN Pada penelitian ini. Ciprofloxacin topikal sama efektifnya dengan kombinasi ciprofloxacin oral dan topikal obat tetes meskipun kemungkinan kekambuhan ditemukan lebih banyak ketika obat tetes telinga topikal digunakan sebagai agen tunggal dalam pengelolaan lini pertama pemakaian otitis media supuratif kronis. faringitis dan infeksi saluran pernapasan atas [14]. Antibiotik oral dapat sangat bermanfaat ketika efek sistemik antibiotik yang diinginkan seperti pada pasien OMSK dengan rinosinusitis bersamaan akut atau kronis. sehingga mengurangi biaya pengobatan [Tabel -11]. . Pseudomonas aeruginosa merupakan organisme tersering diikuti Klebsiella. adenotonsillitis.

1995. 1998. Refahi S. J Med Assoc Thai.20(77): 904-5. Neemati A. Ahmed S. Microbial and antimicrobial susceptibility patterns from patients with chronic otitis media in Ardebil. 2002. 5. 6. 4.43(6):296-99. Poorey VK. Daryani A. 2000.3 % ciprofloxacin otic solution:a clinicomicrobiological study. Pirzadeh A. Indian Journal of Otolaryngology and Head and Neck Surgery. Tan AL. The treatment of chronic suppurative otits media and otits externa with 0. 8. DAFTAR PUSTAKA 1. Chochaipanichnon L. 909.13(3):411-15. Wintermeyer SM. 2. Controlled multicenter study on chronic suppurative otits media treated with topical applications of ciprofloxacin 0. Tonsakulrungruang K. Egeli E. 2006. Study of bacterial flora in CSOM and its clinical significance.116(4): 450-53. Micro N. Iyer A. Treatment of Chronic Suppurative Otits Media with topical Ciprofloxacin. Elizabeth A. American Academy of Otolaryngology – Head and Neck Surgery. International Journal of Tropical Medicine. Ettehad GH. Kiris M.54(2):91-5. 1997. Loy AHC. et al. Chronic suppurative otitis media – frequency of pseudomonas aeruginosa in patients and its sensitivity to various antibiotics.107: 865-71 . 7. Efficacy of ototopical ciprofloxacin in paediatric patients with otorrhea. 78:18-21. Alper C M. 9. 123:617-23. 3. 1998. Berktas M. Microbiology of chronic suppurative otitis media in Singapore. 2002. Singapore Medical Journal. Dohar. et al. neomycin and hydrocortisone suspension. 2007. Ann Otol Rhino Laryngol. The efficacy of topical ciprofloxacin in the treatment of chronic suupurative otitis media. Professional Medical Journal. Supiyaphun P.2% solution in single dose containers or combination of polymyxin B. Gul AA. Otolaryngol Head Neck Surg. Lu PKS. Ear Nose Throat J. Ali L. Rahim E. Doyle W J. 1(2):62-5.

Nawabusi C. Topical and oral treatment of chronic otitis media with ciprofloxacin. Noviello S. Clongsuesuek P. 12. Clin Otolaryngol Allied Sci. 2006.116(5):557. 2002. A double blind prospective trial of topical ciprofloxacin versus normal saline solution in the treatment of otorrhea.iodine in chronic suppurative otitis media. Montanaro C. Systemic antibiotic versus topical treatments for chronically discharging ears with underlying eardrum perforations. Cochrane Database Syt Rev. Jay C. 2003. Job A. Eposito S. 1990.10. Antonisamy B. Acuin JM. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. Ologe FE. Gamble et al. Mathai E. Kasemsuwan L. . [11] Macfadyen CA. Pathogenic agents of chronic suppurative otitis media in Ilorin Nigeria. 1997:22 (1): 44-6 11. 1: CD005608.129(10):1098 13. 14. D’Errico G. Evaluation of topical povidone. East African Medical Journal. 79(4):202-05. Arch Otolaryngol Head Neck Surg.