You are on page 1of 145

STILISTETIKA

JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
Penanggung Jawab
Dekan FPBS IKIP PGRI Bali

Redaksi :

Ketua : Dr. Nengah Arnawa, M.Hum. (IKIP PGRI Bali)
Sekretaris : Drs. Nyoman Astawan, M.Hum. (IKIP PGRI Bali)
Bendahara : Dr. I Wayan Gunartha, M.Pd. (IKIP PGRI Bali)
Anggota : 1. Prof. Dr. Nyoman Suarka, M.Hum. (Unud)
2. Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. (Unand)
3. Prof. Dr. I Nengah Suandi, M.Hum. (Undiksha)
4. I Made Sujana, S.Sn., M.Si. (IKIP PGRI Bali)
5. Gusti Ayu Puspawati, S.Pd., M.Si.(IKIP PGRI Bali)
6. Dr. Anak Agung Gde Alit Geria, M.Si.(IKIP PGRI Bali)

Penyunting Bahasa Indonesia:

Drs. I Nyoman Suarsa, M.Pd.
Ida Ayu Agung Ekasriadi, S.Pd., M.Hum.

Penyunting Bahasa Inggris:

Ni Luh Gede Liswahyuningsih, S.S., M.Hum.
Komang Gede Purnawan, S.S.

Sirkulasi:

I Nyoman Sadwika, S.Pd., M.Hum.
Putu Agus Permanamiarta, S.S., M.Hum.

Administrasi :

Luh De Liska, S.Pd., M.Pd.
Ni Luh Purnama Dewi, S.Pd.
I Gusti Ngurah Okta Diana Putra, S.Pd.

Alamat : Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali
Jalan Akasia, Sumerta, Denpasar Timur
Email : stilistetika@yahoo.com
Stilistetika Tahun VI Volume 10,Mei 2017
ISSN 2089-8460

Pengantar Redaksi

Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni merupakan salah satu institusi
akademik yang berkonsentrasi pada ilmu pendidikan bahasa dan seni. Dinamika
ilmu pendidikan bahasa dan seni amatlah pesat. Oleh karena itu diperlukan wadah
untuk menghimpun dan menyosialisasikan perkembangan ilmu pendidikan,
Bahasa, dan seni tersebut. Berdasarkan kesadaran dan komitmen civitas
akademika, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni berhasil mewujudkan idealisme
ilmiahnya melalui jurnal Stilistetika yang terbit dua kali setahun, yakni pada bulan
Mei dan November. Apa yang ada di tangan pembaca budiman saat ini
merupakan jurnal Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017.
Jurnal Stilistetika ini memiliki makna tersendiri. Penerbitan edisi ini selain
disebarkan secara internal dalam kampus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni,
juga didistribusikan pada komunitas akademik yang lebih luas. Jurnal Stilistetika
kali ini memuat tujuh artikel ilmiah yang dihasilkan oleh dosen Fakultas
Pendidikan Bahasa dan Seni, satu artikel ilmiah dari SMA Negeri 5 Denpasar, dan
dua artikel ilmiah yang dihasilkan oleh mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa
dan Seni.
Semoga penerbitan jurnal Stilistetika ini menjadi wahana yang baik untuk
membangun atmosfer akademik. Akhirnya, sumbangan pemikiran, kritik, dan
saran dari pembaca diharapkan dapat memperbaiki terbitan edisi selanjutya.

Redaksi

i
Stilistetika Tahun VI Volume 10,Mei 2017
ISSN 2089-8460

Halaman
Pengantar Redaksi ......................................................................................... i
Daftar Isi ....................................................................................................... ii

Sastra Kakawin: Apresiasi Estetik Didaktik dan Sosio-Religius
Anak Agung Gde Alit Geria .......................................................................... 1

Pengembangan Pembelajaran Tari Margapati Menggunakan Media
Interaktif di SMP
Gusti Ayu Made Puspawati. .......................................................................... 18

Resistensi Perempuan Terhadap Hegemoni Patriarki dalam Kultur
Masyarakat Bali pada Novel-Novel Oka Rusmini
I Kadek Adhi Dwipayana .............................................................................. 37

Upacara Tanpa Sulinggih di Pura Geria Sakti Manuaba Kajian Nilai-Nilai
Pendidikan Agama Hindu
Ida Bagus Gede Bawa Adnyana.................................................................... 53

Kontribusi Kompetensi Profesional Guru, Pengelolaan Diri dan Motivasi
Kerja terhadap Kinerja Guru SMK Negeri 2 Kabupaten Tabanan
Ni Putu Sri Windari........................................................................................... 66

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share dengan
Pendekatan Konstruktivisme untuk Meningkatan Kemampuan Membaca
Discussion Text Siswa Kelas XII.MIPA 3 Semester I di SMA Negeri 5
Denpasar Tahun Pelajaran 2015/2016
Putu Sudarmika. ............................................................................................ 80

Eksistensi Tari Sanghyang Jaran di Bali Sebagai Kesenian Sakral yang
Religius
Komang Indra Wirawan ............................................................................... 92

Extensi Tari Rejang Renteng dalam Upacara Ngusaba Dalem Br. Pujung
sari Desa Pekraman Telepud Sebatu Tegallalang Kabupaten Gianyar
Luh Putu Pancawati .................................................................................... 110

Kemampuan Melukis Realis Manusia Menggunakan Cat Minyak oleh
Siswa Kelas XI Lukis Modern SMKN 1 Sukawati Kabupaten Gianyar
Tahun Pelajaran 2015/2016
I Wayan Oka Supriadi ................................................................................... 119

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk
Meningkatkan Kemampuan Menerapkan Pasang Aksara Bali dalam
Menyalin Wacana Berhuruf Latin Ke Aksara Bali pada Siswa Kelas X
MM1 SMK Negeri 1 Sukawati Gianyar Tahun Pelajaran 2015/2016
Kadek Pande Yulia Sanjaya .......................................................................... 131

ii
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

SASTRA KAKAWIN:
APRESIASI ESTETIK DIDAKTIK DAN SOSIO-RELIGIUS

oleh:
Anak Agung Gde Alit Geria
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali

Abstrak
Tradisi apresiasi sastra kakawin berupa kegiatan mabebasan, pada
hakikatnya merupakan ajang kritik sastra, karena melalui tradisi ini sebuah karya
kakawin dibacakan, diterjemahkan, diulas, dan dikomunikasikan antara anggota
pasantian sesuai dengan kemampuan masing-masing. Di dalamnya telah terjadi
komunikasi dua arah dengan sangat demokratis di antara anggota pasantian, demi
sebuah tafsir yang sama tentang nilai luhur yang tersirat dalam sastra kakawin.
Apresiasi estetik penuh didaktik dalam usaha menyelamatkan kehidupan sastra
kakawin, telah berkontribusi terhadap kegiatan agama Hindu di Bali. Dengan
maraknya tradisi mabebasan sebagai wujud kelisanan dan keberaksaraan, terbukti
mampu membangkitkan sifat sosio-religius masyarakat Bali.
Dalam perspektif budaya dan masyarakat Bali tradisi mabebasan
senantiasa dilakukan sebagai sebuah kelompok belajar informal, yang pada
hahikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni untuk meraih rasa damai di hati
(santa rasa) yang memungkinkan dapat meraih tujuan hidup yang jagadhita
(sejahtera). Dengan wadah pasantian, telah tumbuh dan berkembang tradisi
nyastra yang hidup secara turun-temurun, berkedudukan strategis dalam
pembentukan moral spritual masyarakat Bali yang dijiwai agama Hindu. Wadah
ini telah melahirkan tradisi mlajah sambilang magending, magending sambilang
mlajah 'belajar sambil bernyanyi, bernyanyi sambil belajar'.

kata Kunci: kakawin, pasantian, estetik, didaktik, dan sosio-religius.

Abstract
The tradition of literature appreciation of kakawin in the form of
“mabebasan” activity is essentially a literary criticism because through this
tradition a work of kakawin is read out, translated, reviewed and communicated
among the members of the pasantian according to their respective abilities.
Indeed, there has been a very democratic two-way communication between
members of the service, for the sake of a similar interpretation of the noble value
implied in the literature of kakawin. A full didactic aesthetic appreciation in the
effort to save the life of literature kakawin has contributed to the activities of

1
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Hinduism in Bali. With the rise of the tradition of liberation as a form of prestige
and literacy, proved able to evoke the socio-religious nature of Balinese society.
In the perspective of Balinese culture and society, the tradition of freedom
is always carried out as an informal learning group which, on the other hand, has
the same goal, namely to achieve a sense of peace in the heart (santa rasa) that
enables to achieve a jagadhita (prosperous) life goal. With pasantian containers,
has grown and evolved literary tradition that lived hereditary, strategically
positioned in the formation of a spiritual morality of Balinese society who are
imbued with Hinduism. This container has given birth to the magical mlajah
tradition of magending, magending masturbation 'learning while singing, singing
while learning'.

Keywords: kakawin, pasantian, aesthetic, didactic, and socio-religious.

1 PENDAHULUAN
Di Bali, tradisi mengapresiasi sastra kakawin dilakukan secara bersama-
sama dalam sebuah sekaa mabebasan. Bentuk apresiasi sastra kakawin dapat
dijumpai dalam tradisi mabebasan di kalangan akademisi, lewat udara dengan
kemajuan teknologi, serta ribuan kelompok mabebasan di pelosok Bali adalah
tradisi mabebasan yang mengembangbiakkan dirinya ketika bertemu dengan
keterbukaan yang diperkenalkan oleh modernisasi (Palguna, 1999:324--326).
Karya-karya sastra kakawin, terus dipelihara, dikembangkan, dihayati, diulas,
serta dilestarikan. Melalui tradisi mabebasan masyarakat Bali mengakrabi dan
mengapresiasi karya-karya Jawa Kuna dan Bali. Tradisi ini dapat dianggap
sebagai ajang “kritik sastra”, karena melalui tradisi ini sebuah karya dibacakan,
diterjemahkan, diulas, serta dikomunikasikan antara anggota pasantian sesuai
dengan kemampuan masing-masing. Di sini pula terjadi komunikasi dua arah
dengan sangat “demokratis” di antara anggota yang hadir, sehingga pada akhirnya
akan disepakati adanya nilai luhur yang tersirat di dalamnya.
Tradisi mabebasan sebagai suatu bentuk apresiasi sastra Jawa Kuna dan
Bali, telah dirasakan sebagai tradisi yang sangat baik oleh peminat sastra untuk
mendalami karya-karya utama sastra Kawi (Jawa Kuna) dan Bali. Tradisi ini
tampak besar andilnya dalam usaha menyelamatkan kehidupan sastra Jawa Kuna
dan Bali yang berkontribusi terhadap kegiatan agama (Hindu) di Bali. Dengan
maraknya tradisi mabebasan sebagai wujud kelisanan dan keberaksaraan, terbukti
mampu membangkitkan masyarakat Bali yang sosio-religius untuk menjadikan

2
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

sastra kakawin sebagai bahan bacaan utama, yang hingga kini tetap populer di
kalangan masyarakat Bali.
Melalui tradisi mabebasan dilakukan kegiatan belajar dengan cara
mengapresiasi teks secara mendalam, mendiskusikannya, hingga merumuskan
ajaran atau nilai sebagai pedoman berpikir, berkata, dan berperilaku dalam
kehidupan keseharian. Dalam perspektif budaya dan masyarakat Bali tradisi
mabebasan senantiasa dilakukan oleh kelompok pasantian. Sebagai sebuah
kelompok belajar informal, pasantian terdiri dari sejumlah orang pencinta sastra
klasik yang pada hahikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni untuk meraih rasa
damai di hati (santa rasa). Ketika perasaan telah damai, maka seseorang akan
bebas melangkah tanpa rasa takut. Ini berarti seseorang telah sampai pada kondisi
aman, sehingga sangat memungkinkan untuk sampai kepada tujuan hidup yang
jagadhita (sejahtera).
Dalam melantunkan wirama kakawin sebagai bentuk aplikasi dari kegiatan
mabebasan, sesungguhnya telah melakukan kegiatan yoga yang senantiasa
menghajap kebesaran Hyang Widhi yang dicandikan di dalam pustaka kakawin.
Kegiatan ini juga merupakan salah satu sarana untuk memusatkan pikiran ke
hadapan Hyang Pencipta sebagai bentuk srada bakti kepada-Nya. Selain itu,
berfungsi sebagai olah nafas (pranayama), sehingga ketenangan akan muncul
pada diri seseorang yang melakukan mabebasan secara sungguh-sungguh. Dengan
mabebasan, akan dapat membantu seseorang dalam mengendalikan diri dari rasa
marah, sombong, dan sejenisnya, karena di dalam mabebasan tersirat berbagai
ajaran budi pekerti (mental spritual) berdasarkan dharma serta sejumlah konsep
wiweka (memilih dan memilah perbuatan baik dan buruk).
Dengan wadah pasantian, telah tumbuh dan berkembang tradisi nyastra
yang hidup secara turun-temurun dalam masyarakat Bali. Sebagai perangkat sub-
sistem desa pakraman, kelompok pasantian mempunyai kedudukan yang sangat
strategis dalam pembentukan moral spritual masyarakat Bali yang dijiwai agama
Hindu. Wadah ini telah melahirkan tradisi mlajah sambilang magending,
magending sambilang mlajah 'belajar sambil bernyanyi, bernyanyi sambil belajar',

3
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

dan banyak pula melahirkan seniman-seniman mataksu dalam berbagai cabang
seni tradisional yang menjadikan nama Bali harum hingga ke mancanegara.
Konsep nyastra sesungguhnya tidak hanya menyangkut belajar sastra,
namun bagaimana menggali nilai-nilai sastra agama Hindu yang pada gilirannya
dapat diamalkan sebagai pedoman dalam berperilaku sehari-hari. Nyastra juga
bermakna mendalami berbagai ilmu pengetahuan 'kebalian' yang tertuang di
dalam pustaka-pustaka suci Hindu. Hal ini tertera dalam Nitisastra: nora ana
mitra mangelwihana wara guna maruhur 'tidak ada sahabat yang melebihi hakikat
ilmu pengetahuan/sastra agama'. Sanghyang sastra maka dipanikanang tri
bhuwana 'pengetahuan sastra agama sebagai penerang ketiga dunia.

2 PEMBAHASAN
2.1 Kakawin
Istilah kakawin sudah cukup dikenal di kalangan masyarakat penggemar
sastra Jawa Kuna. Terlebih di kalangan masyarakat Bali, istilah ini tentu tidak
asing lagi. Hal ini disebabkan hampir setiap desa di Bali ada perkumpulan
pembahasan karya-karya kakawin yang dikenal dengan Sekaa Pasantian. Istilah
kakawin berasal dari kata Sanskerta, yakni kata kawi. Pada mulanya, dalam
bahasa Sanskerta, kata kawi berarti ‘seseorang yang mempunyai pengertian luar
biasa, seseorang yang dapat melihat hari depan, orang bijak’. Akan tetapi, dalam
sastra Sanskerta klasik, istilah kawi mempunyai arti khas, yakni ‘penyair’. Kata
kawi yang berarti ‘penyair’ ini kemudian diserap ke dalam bahasa Jawa Kuna.
Kata kawi itu mengalami afiksasi, yaitu mendapat tambahan prefik ka- dan sufiks
-ěn. Selanjutnya, vokal ě pada sufiks -ěn luluh karena mengalami persandian
dengan vokal i pada kata kawi, sehingga terbentuk kata kakawin, yang berarti
‘karya seorang penyair, syairnya’ (Zoetmulder, 1985:119). Luluhnya vokal ě
ketika mengalami persandian dengan vokal lain dalam bahasa Jawa Kuna dapat
dilihat pula dalam afiksasi kata-kata giri-girin ‘takut’; prihatin ‘prihatin’; rěngön
‘didengar, terdengar’; wawan ‘dibawa’; wělin ‘dibeli’; tujun ‘dituju’.
Kawi adalah kata Sanskerta yang sesungguhnya berarti ‘ia yang diberkahi
dengan kearifan, yang suci’; namun kemudian berarti ‘penyair’ (kata benda

4
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

konkret). Kawi dalam bahasa Jawa Kuna mengambil arti ini, sehingga kakawin
berarti hasil karya penyair atau syair. Kakawin adalah sebuah bentuk puisi Jawa
Kuna, yang memiliki suatu cara pembentukan yang sangat khas dan berpola.
Bentukan nyanyian kakawin tidak berdasarkan gending gong, tidak juga memakai
padalingsa, tetapi memakai Wrětta Matra. Wrětta artinya banyak bilangan suku
kata dalam tiap-tiap carik (koma) yang biasanya terjadi dari 4 carik (baris)
menjadi satu pada (bait). Tetapi, ada juga yang satu pada (bait) yang terdiri atas 3
carik (baris) dinamai “Rahitiga” atau “Udgata-Wisama”. Matra artinya syarat
letak guru-laghu dalam tiap-tiap wrtta itu. Walaupun wrttanya atau banyak
bilangan suku kata tiap-tiap baris itu sama, tetapi kalau letak guru-laghu-nya lain,
maka lain pula nama dan irama kakawin tersebut. Laghu artinya suara pendek
(hrěswa), ringan, rendah, lemah, kencang bagaikan siswa mengikuti gurunya,
kalau dihitung dengan ketukan ia hanya mendapat satu ketukan. Guru artinya
suara panjang (dirgha), berat, besar, keras, indah, berliku-liku, dan bagaikan
seorang bapak. Jika dihitung panjang suaranya mencapai hingga 3 ketukan atau
lebih (Sugriwa, 1978:6--7).
Zoetmulder (1983:210) menyatakan bahwa bagi seorang penyair
kemanunggalan dengan dewa keindahan merupakan jalan atau tujuannya. Jalan
menuju terciptanya sebuah karya yang indah, yakni kakawin. Yoga yang
diungkapkan dalam bait-bait pembukaan menjadikan penyair mampu
“mengeluarkan tunas-tunas keindahan” (alung langö), karena ia disatukan dengan
dewa yang merupakan keindahan itu sendiri. Di lain pihak, yoga juga merupakan
tujuan, asal ia tekun melakukannya, ia akan mencapai pembebasan terakhir
(moksa) dalam kemanunggalannya itu.
Selanjutnya, Agastia (2002:7) mengatakan bahwa proses kreatif seorang
kawi atau penyair dalam mencipta karya sastra adalah sebuah pelaksanaan yoga
dengan menjadikan kakawin atau karya sastranya sebagai yantra-nya. Bagi
seorang yogi menggunakan sarana-sarana yang dapat disentuh oleh panca indera,
seperti puji-pujian (stuti), persembahan bunga (puspañjali), gerak tangan
bermakna mistik (mudra), dan mantra merupakan yantra atau alat untuk
mengadakan kontak dengan dewa pujaannya (istadewata), bahkan juga sebagai

5
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

tempat dewa pujaan bersemayam. Yantra yang khas dilakukan seorang kawi atau
penyair dan bersifat sastra adalah kakawin itu sendiri. Kata-kata serta lantunan
suara indah dapat menerima kehadiran dewa pujaan (istadewata) dan sekaligus
merupakan objek konsentrasi, baik bagi sang kawi (penyair), pembaca, yang
menembangkan maupun pendengar karya sastra itu. Karya sastra kakawin disebut
juga sebagai candi-sastra, candi-aksara atau candi-bahasa. Oleh para kawi
dinyatakan bahwa menulis kakawin bagaikan mendirikan sebuah candi-bahasa
bagi stana dewa yang dipujanya.
Zoetmulder (1985:133), menyebutkan bahwa Kakawin Wrěttayana,
Bhomantaka, dan Narakawijaya, di samping Kakawin Ramayana, diperkirakan
menjadi pedoman dalam penggubahan puisi jawa Kuna (kakawin). Sementara
Suarka (2009:3) menyebutkan bahwa di Bali, di samping kakawin-kakawin
tersebut, masih ada lagi naskah lain yang boleh jadi merupakan pedoman dalam
penggubahan kakawin, yakni Canda prosa dan Kakawin Guru-Laghu.
Selanjutnya, Suarka (2009:5--6) menyatakan bahwa sebagai sebuah genre sastra,
puisi Jawa Kuna (kakawin) mempunyai lima ciri, yaitu (1) kakawin terdiri atas
beberapa bait yang berturut-turut memakai metrum yang sama dalam satu pupuh.
Tidak ada ketentuan mengenai jumlah bait yang terkumpul dalam satu pupuh; (2)
satu bait kakawin umumnya terdiri atas empat baris. Akan tetapi, ada pula bait
kakawin terdiri atas tiga baris yang lazim dinamakan Rahitiga. Tiap-tiap baris
memiliki nama dan fungsi yang berbeda, yaitu baris pertama dinamakan pangawit
berfungsi sebagai awal bait dan menjadi patokan dasar nada dalam
menembangkan bait tersebut. Baris kedua dinamakan pangentěr atau mingsalah
berfungsi sebagai penghubung baris pertama dengan baris ketiga dan sebagai
penyelaras nada bagi baris-baris berikutnya. Ditegaskan bahwa baris pangenter
atau mingsalah inilah tidak ada dalam bait-bait kakawin yang terdiri atas tiga baris
(Rahitiga). Baris ketiga dinamakan pangumbang, berfungsi sebagai baris
penyeimbang pertautan nada dengan tinggi rendah nada dalam keadaan seimbang
serta berfungsi menandai bait akan berakhir. Baris keempat dinamakan pamada,
berfungsi mengakhiri bait; (3) masing-masing baris disusun menurut perhitungan
jumlah suku kata, yang terkadang sama dan bisa juga berbeda-beda; (4) masing-

6
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

masing baris disusun menurut pola metris, yakni kuantitas setiap suku kata
panjang atau pendek ditentukan oleh tempatnya dalam baris beserta syarat-
syaratnya. Pola metris masing-masing baris umumnya sama, tetapi ada kalanya
juga berbeda-beda. Suku kata terakhir dalam setiap baris dapat bersifat panjang
ataupun pendek; dan (5) umumnya kakawin merupakan buah hasil puisi kraton,
sebuah syair yang pada pokoknya bersifat epis.
Dalam Tutur Arda Smara (h. 6b--7a) disebutkan bahwa kakawin, Sundari
Těrus, Mrěta Atěgěn, sakit, dan mati merupakan senjata/bekal yang mesti dibawa
(gawanana) manusia hidup di dunia. Di Bali hal ini sering disebut běkěl idup
(bekal hidup). Sebagai salah satu bekal hidup, kakawin sepertinya wajib dipelajari
oleh setiap manusia, karena kakawin sebagai salah satu persyaratan ketika atma
mulai bersemayan di setiap jiwa manusia di dunia. Hal ini tercermin dalam sebuah
dialog Sang Atma dengan Dewa Yama setelah dapat restu dari Siwa sebagai jiwa
alam semesta ini (jiwaning praja), sebagaimana tampak dalam kutipan berikut:
mangkana ling ira Sang Hyang Yama: “Pukulun asung maring kita, iki pustaka
gawanana ring madyapada, iti sundari těrus, kakawin, iti amrěta atěgěn, iki
gěring mwang pati”. Ini membuktikan, hingga kini kegiatan pasantian (membaca
kakawin) masih lestari, populer, hingga penciptaan kakawin baru. Di samping
dipakai sarana pemusatkan pikiran kepada Hyang Pencipta lewat pelaksanaan
upacara yajña, ternyata kakawin memang disebutkan dalam sastra Hindu, yakni
Arda Smara. Apakah istilah ini dapat dimaknai sebagai simbol setengah Siwa
(ardha 'setengah', Smara 'Siwa')? Sementara di satu sisi ada istilah Ardha Candra
yang dapat dimaknai bulan dalam posisi setengah (setengah Candra 'Hyang
Buddha'). Rupanya kedua istilah ini sarat akan filosofi kemanunggalan Siwa-
Buddha yang auranya senantiasa memenuhi semesta alam ini. Di Bali, hal ini
diyakini sebagai simbol kekuatan purusa-pradana. Ketika kedua kekuatan ini
beraktivitas akan muncul penciptaan baru. Bertolak pada keluhuran filosofi ini,
umat Hindu mesti melakukan tradisi pembacaan sastra kakawin untuk para wanita
hamil, agar melahirkan anak yang suputra.

7
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

2.2 Estetik Didaktik
Karya sastra kakawin merupakan salah satu bentuk karya seni yang sarat
akan rasa indah (mangö), sehingga dalam pembelajarannya dibekali sejumlah
pengetahuan yang menunjang proses belajar dalam seni kakawin. Didaktik atau
seni mendidik sebagai salah satu fungsi seni dapat menjangkau beberapa hal
seperti ketrampilan, kreativitas, emosionalitas, dan sensibelitas (The Liang Gie,
1996:48). Dalam seni makakawin terlebih dahulu masyarakat pembaca dituntut
berbekal pengetahuan tentang aksara, karena aksara merupakan lambang bahasa.
Hanya lewat aksaralah suatu bahasa dapat dibaca dan didokumentasikan. Sebagai
sebuah lambang bahasa, aksara Bali telah berfungsi sebagai lambang identitas
masyarakat Bali, sekaligus sebagai wahana atau sarana untuk mengungkap
bahasa, sastra, dan budaya Bali termasuk karya sastra kakawin sebagai salah satu
bentuk sastra Bali klasik. Hal ini membuktikan betapa penting pemahaman aksara
dan bahasa yang menjadi sarana pengungkap karya sastra kakawin.
Mengenali aksara dalam sebuah kakawin yang masih berbentuk lontar
(manuskrip/tulisan tangan) adalah pekerjaan yang cukup sulit yang butuh
ketekunan, keuletan, dan kesabaran mendalam, karena bentuk aksara Bali dalam
lontar beranekaragam. Terkadang masih dipengaruhi ciri khas atau kebiasaan para
penulis lontar. Sementara untuk dapat mengenal secara mendalam tentang bahasa
lontar dapat dibantu dengan Kamus Bali-Indonesia, Kamus Sanskerta-Indonesia,
Kamus Jawa Kuna-Indonesia, atau setidaknya telah membaca lontar Kerta Bhasa,
Bhasa Ekalawya yang besar kemungkinan berfungsi sebagai kamusnya lontar.
Sebagaimana dijumpai dalam tiga Kakawin Nilacandra dari tiga orang
pangawi berbeda (Degung, Mandra, Pamit), tampak mengandung nilai pendidikan
religius tinggi, karena setelah ditelusuri secara seksama ternyata ketiga kakawin
ini memiliki jumlah pergantian wirama (pasalinan) yang habis dibagi sembilan
atau merupakan kelipatan sembilan. Karya Degung menghadirkan 45 pasalinan
wirama yang habis dibagi sembilan, karya Mandra justeru tepat memakai
sembilan pasalinan wirama sebagai angka tertinggi dalam ajaran Siwa/Hindu.
Sementara karya mandra menampilkan hingga 18 pasalinan wirama, yang
mengandung kelipatan sembilan atau menghadirkan dua kali angka sembilan.

8
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Peneliti memprediksi bahwa munculnya dua kali angka sembilan hingga
berjumlah delapan belas ini, merupakan simbol ajaran Siwa-Buddha yang sama-
sama menyebut angka sembilan sebagai angka tertinggi atau sakti, sekaligus
merupakan simbol purusa dan pradana. Jika unsur purusa dan pradana ini
menyatu atau bergerak jelas akan menimbukan sesuatu ciptaan baru dan bermakna
di jagat raya ini. Hadirnya tokoh Yudhistira adalah perwakilan tokoh Siwa dan
Nilacandra merupakan simbol tokoh Buddha, sekaligus sebagai simbol Siwa-
Buddha (Nila 'hal-hal ke-Siwa-an, Candra 'hal-hal ke-Buddha-an).
Bali yang dipenuhi dengan aura Siwa-Buddha, memandang angka
sembilan sebagai angka puncak yang diyakini memiliki sifat keramat atau sakti.
Disadari bahwa setelah angka sembilan adalah nol atau kosong yang berarti sunia
(jeda, perantara, nemu gelang). Jika dalam pangider-ider bhuwana, arah mata
angin (diik-widik) termasuk yang berada di tengah berjumlah sembilan. Dewata
yang dihajap atau yang diyakini berstana di semua arah itu pun berjumlah
sembilan (Dewata Nawasanga), dengan Siwa di tengah sebagai pusatnya.
Termasuk urip atau nilai arah mata angin itu pun berjumlah sembilan sebagai
angka tertinggi, yakni arah selatan. Sementara di tengah walaupun berjumlah
delapan, namun sesungguhnya menjadi sebelas karena ditambah tiga sebagai
angka yang kramat simbol Siwa dalam wujud-Nya sebagai Sang Hyang Tri
Purusa (Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa/ Sang Hyang Sangkan Paraning Dumadhi).
Dalam perspektif masyarakat dan budaya Bali memandang sastra sebagai
pelita (sesuluh) untuk menerangi kehidupan yang maya ini. Sebagaimana
dinyatakan dalam Tutur Suksma, bahwa bagi orang yang tidak mengenal sastra
atau aksara (lacur tan patastra), ibaratnya orang tersebut yatim piatu, miskin,
sakit-sakitan (ubuh miskin imbannyane gering apit), oleh karenanya sangatlah
menderita (sangkan baya), tingkah lakunya sering melanggar aturan
(lampahnyane sering mamurug), walaupun matanya melek tetapi tidak melihat
apa-apa (kedatnyane tan pawasan), karena orang seperti itu tidak pernah
mendapat penerangan sastra agama (kirang suluh ring tutur aji). Demikian
keberadaan orang yang tidak mengenal sastra/aksara (Medera, 2000:257).

9
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Keutamaan ajaran Tutur Suksma di atas, mengingatkan pada tokoh sentral
Kakawin Nilacandra, yakni Nilacandra yang semula sebagai penguasa kerajaan
bernama Purnawijaya pernah berperilaku hingga di luar batas kemanusiaan. Dan
suatu saat tertimpa sakit keras (prana) yang sangat sulit disembuhkan. Dengan
bantuan Kunjarakarna, Ia pun mulai meninggalkan kebiasaan jelek itu dan
mengikuti jalan dharma. Ketika lama menyaksikan keindahan sorga dan alam
neraka yang menakutkan, dan telah dianugrahi Hyang Werocana berkat ketekunan
menjalankan tapa, brata, yoga, dan semadi, Ia pun akhirnya mendirikan sorga dan
neraka tiruan di kerajaannya. Kresna sebagai awatara Wisnu memandang hal ini
tidak wajar, karena yang namanya masih berada di alam manusia telah berani
menyamai alam dewata (sorga).
Dalam kisah tersebut sesungguhnya memberi cerminan kepada masyarakat
bahwa betapa luhur nilai didaktis yang tersirat dalam sastra kakawin itu, yakni
betapa pun pandainya seseorang janganlah takabur atau sombong. Terlebih ingin
menyamai alam dewata sebagai tempat Maha Pencipta jagat raya ini. Dalam hal
ini masyarakat pembaca kakawin ini, rupanya diharapkan untuk selalu yakin
bahwa Tuhan itu adalah segalanya, tidak mencemohkan isi sastra suci, dan
senantiasa intropeksi diri. Ajaran tapa merupakan salah satu bentuk pengendalian
diri, yang meliputi segala bentuk pengawasan, pengekangan, serta pengendalian
indria dan pikiran yang dilaksanakan atas dasar pertimbangan-pertimbangan yang
mantap. Wiweka/kemampuan seseorang untuk membeda-bedakan, menimbang-
nimbang, dan akhirnya sampai pada pilihan yang terbaik atau paling benar,
merupakan sikap pengendalian diri termasuk pengendalian pikiran, perkataan, dan
perbuatan. Seorang yogi sesungguhnya telah mampu melaksanakan ajaran yoga
secara sungguh-sungguh dan desiplin. Hal ini merupakan pengendalian diri yang
mengarah kepada pikiran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan atau kebenaran
tertinggi (Sura, 1985:33).
Dalam agama Hindu latihan pikiran (manacika) mendapat tempat yang
paling utama, lalu penguasaan akan kata-kata (wacika), dan yang terakhir adalah
melaksanakan perbuatan yang baik dan suci (kayika). Pengendalian ketiga ini
menjadikan keseimbangan, ketenangan, dan kebahagiaan (amrih swastha

10
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

jagaddhita). Dharma atau kebenaran akan dapat mendorong pikiran seseorang
untuk berbuat sesuatu yang seadil-adilnya di masyarakat, seperti disebutkan dalam
Kakawin Ramayana (XXIV:81):
Prihen temen dharma dhumaranang sarat,
saraga sang sadhu sireka tutana,
tan artha tan kama pidonya tan yasa,
ya sakti sang sajjana dharma raksaka.

Terjemahannya:
Utamakan benar-benar dharma pelindung dunia ini,
turutilah kehendak orang budiman,
yang tak suka akan harta, nafsu, dan kemasyuran,
kesaktian (orang budiman) ialah sebagai pelindung dunia.

Begitu luasnya arti dharma, dan untuk mencapai jagaddhita (kebahagiaan
abadi) harus dikendalikan dan diatur dengan ajaran-ajaran kerohanian/kesusilaan
agama yang disebut dharma. Tanpa dikendalikan oleh dharma, maka kama
(naluri, nafsu), dan artha (sarana kehidupan duniawi dan harta benda) akan
mendatangkan bencana pada umat manusia dan mahluk lainnya. Hanya dengan
dharmalah seseorang akan mampu mencapai tujuan hidup yang tertinggi.
Konsep estetika dalam sastra Bali klasik, pernah dibicarakan Zoutmulder
dalam bukunya yang berjudul Kalangwan (1984), sebuah istilah dalam bahasa
Jawa Kuna yang berarti “keindahan”, seperti digunakan dalam karya sastra
kakawin maupun parwa. Zoutmulder menyampaikan pokok-pokok estetika dalam
kakawin Jawa Kuna, antara lain: (a) Sang Kawi memulai karyanya dengan
menyembah Dewa pilihannya (istadewata), yang dipujanya sebagai Dewa
Keindahan, yang menjadi asal dan tujuan segala “keindahan”, dan yang menjelma
di dalam segala sesuatu yang indah (lango); (b) Persatuan dengan Dewa
Keindahan merupakan sarana dan tujuan yang membuat diri sang kawi alung
lango (bertunas keindahan), yang kemudian diharapkan berhasil menciptakan
karya yang indah (kalangwan), yakni kakawin. Menunggalnya dengan Dewa dan
mencipta keindahan itu sang kawi berharap akan mencapai kalepasan (moksa).
Kakawin dijadikan candi aksara, tempat bersemayam bagi Dewa Keindahan dan
silunglung, bekal kematian bagi sang kawi. (c) Persatuan dengan Dewa

11
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Keindahan dan penciptaan kakawin merupakan yoga yang khas bagi sang kawi,
yaitu yoga keindahan dan yoga sastra. Dewa Keindahan, sebagai yang mutlak
dalam niskala (alam gaib), berkat samadi sang kawi, berkenan turun dan
bersemayam di alam sakala-niskala, di atas padma, di dalam hati atau jiwa sang
kawi. Keadaan itu membuat sang kawi dapat berhubungan dengan Dewa yang
nampak dalam alam sakala dalam segala sesuatu yang indah. Dalam rangka yoga
itu kakawin adalah yantranya; (d) Untuk menemukan Dewa Keindahan yang
menjelma di alam sakala itu, sang kawi mengembara, menjelajah gunung dan
pantai, hutan dan patirtan sambil melakukan tapa brata; (e) Keindahan yang
ditemukan sang kawi dalam alam terbayang dalam berbagai peristiwa yang
dilukiskan dalam karyanya, seperti dalam peristiwa peperangan, percintaan,
kecantikan wanita, dan sebagainya; (f) Alam dan manusia menjadi satu alam
keindahan. Berhadapan dengan alam yang begitu indah (alango), sang kawi
sebagai pencinta keindahan (mangö), terpesona, terserap seluruhnya dan
tenggelam dalam objek yang dipandangnya; (g) Sang kawi dapat menahan nafsu,
godaan, dan telah mencapai tahap dhyana dan darana bahkan samadi (h) Dewa
yang dipuja sang kawi menjelma pula pada sang raja yang menjadi patron sang
kawi. Dengan memuja kemasyuran (yasa) sang raja, sang kawi pun berbuat jasa
(yasa), dan kakawin yang dibuatnya merupakan menumen (yasa) yang
mengabadikan nama raja dan nama sang kawi.
Dalam majalah Cintamani, Ida Wayan Oka Granoka (2002:50--52)
menyatakan “seni sebagai ritus”. Beliau memandang bahwa seni dan agama
identik, yang dalam pandangan Barat dipisahkan. Tetapi dalam tradisi di Bali
memandang seni adalah agama dan agama adalah seni. Aktivitas beragama adalah
aktivitas berkesenian. Sebaliknya, aktivitas berkesenian dalam arti sebenarnya
adalah aktivitas keagamaan. Tuhan dikatakan berwujud kecerdasan (Cit) yang ada
pada setiap manusia. Seni apa pun jenisnya adalah ritus, yakni sebuah yajña. Oleh
karena bersifat ritus, seni adalah suatu yang sakral dan berfungsi sebagai
pangruwatan.

12
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

2.3 Sosio-Religius
Di Bali, tradisi penulisan sastra kakawin hingga awal abad XXI ini masih
berlangsung. Sejumlah rakawi Bali adalah pembaca kreatif, mentransformasi,
meresepsi karya-karya terdahulu dan sebagai hasil tanggapannya adalah lahirnya
karya-karya baru dalam berbagai bentuk. Sepanjang karya itu memiliki fungsi
dalam kehidupan masyarakat, maka penyalinan naskah akan terus berlanjut. Nilai-
nilai karya sastra kakawin akan berguna sebagai pedoman dalam kehidupan
masyarakat, karena karya-karya itu sering dibaca, dinyanyikan, didiskusikan, dan
ditafsirkan melalui kelompok-kelompok pasantian atau kegiatan mabebasan.
Kegiatan ini sesungguhnya merupakan “jembatan informasi” antara masyarakat
selaku mahluk sosial dengan pesan yang yang ingin disampaikan oleh pengarang
sebagaimana tersirat dalam karyanya.
Kegiatan mabebasan telah memberi peluang kepada para peserta dan
pendengar untuk dapat mengkaji, merumuskan, mengklasifikasi, dan meramu
nilai-nilai yang bersumber dari sejumlah kitab suci atau lontar. Sastra kakawin
mayor yang bersumber dari epik Mahabharata dan Ramayana senantiasa
digemari, dibaca, dan dibahas dalam kegiatan mabebasan. Kedua cerita itu
mempunyai fungsi penting dalam kehidupan budaya Bali karena berisi ajaran
Hindu yang sangat utama (rikottaman tutur ika), dengan konsep-konsep dharma
(kebenaran) sejati sebagai pegangannya. Dengan cerminan tema yang terdapat
dalam sastra kakawin, para peserta pasantian dan masyarakat pendengar dapat
mengangkat sejumlah model pengetahuan terutama menyangkut etika dan moral
sehingga dapat direalisasikan dalam berperilaku sesuai dengan tuntunan dharma.
Dengan demikian, sastra kakawin berfungsi sebagai afirmasi yaitu menetapkan
norma-norma sosio-budaya yang ada (Teeuw, 1982:20).
Sastra kakawin ini berfungsi memberi kesantaian dan hiburan bagi peserta
dan pendengar, dalam artian dapat memberi manfaat dan kesenangan (utile dulce).
Dengan menikmati sastra kakawin secara totalitas, seperti yang dilakukan dalam
mabebasan seseorang akan memperoleh kepuasan bathin, seakan mendapatkan
kenikmatan estetis yang bersifat sosio-religius. Sebagai sebuah nyanyian
keagamaan, karya sastra seni seperti kakawin di samping sloka, palawakya,

13
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

kidung, dan geguritan biasa digunakan mengiringi kegiatan ritual atau yajña. Hal
ini dilakukan karena irama lagunya memiliki berbagai variasi yang membantu
dalam menciptakan suasana hening dan kihmad. Juga isinya mengandung ajaran
agama, susila, tuntunan hidup yang baik serta lukisan kebesaran Hyang Widhi
dalam berbagai prabawa atau manifestasi-Nya. Jika para pembaca teks kakawin
benar-benar melakukan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan pola guru-laghu
dan mampu menciptakan irama yang anggun penuh nuansa magis, berarti mereka
pun sesungguhnya telah melakukan olah nafas secara teratur. Dengan demikian,
mabebasan pun berfungsi sebagai olah raga paru-paru untuk kesehatan jasmani.
Dengan olah nafas (pranayama) dengan baik dan teratur membuat rasa tentram
dalam bathin, sehingga nilai-nilai kebenaran yang tercermin dalam teks kakawin
dapat terserap secara maksimal.
Sastra kakawin juga berfungsi dalam seni pertunjukkan wayang kulit, yang
hingga kini masih fungsional dalam kehidupan masyarakat Bali. Sebagai seni
pertunjukan, wayang kulit diyakini memiliki fungsi: (1) sebagai penggugah rasa
estetis, (2) sebagai pemberi hiburan sehat, (3) sebagai media komunikasi, (4)
sebagai persembahan simbolis, (5) sebagai penyelenggaraan keserasian norma-
norma masyarakat, (6) sebagai pengukuhan institusi sosial dan masyarakat, (7)
sebagai kontribusi terhadap kelangsungan dan stabilitas kebudayaan, dan (8)
sebagai pencipta integritas masyarakat (Bandem, 1994:33).
Seorang dalang di samping dituntut menguasai bahasa Jawa Kuna (Kawi)
dan bahasa Bali untuk dialog-dialog dalam pementasannya, dalang juga
merupakan seniman yang komplit karena harus bisa menari, menabuh (gender
wayang), dan pandai melagukan teks-teks kakawin sebagai iringannya. Biasanya
seorang dalang sangat kaya dan hafal dengan teks-teks bait kakawin dan telah
menguasai “dharma pawayangan” yang mengandung makna simbolis buana
agung (makrokosmos) dan buana alit (mikrokosmos). Dalang juga mesti berbekal
dan menguasai ilmu kebathinan untuk dapat menangkal hal-hal yang mungkin
ditimbulkan akibat magic.
Sejumlah tokoh pemimpin utama yang bersifat sosio-religius yang ada
pada sastra kakawin, seperti Rama, Yudhistira, Kresna, dan Nilacandra,

14
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

merupakan empat sosok pemimpin yang secara sosiologis sangat dikagumi oleh
rakyatnya (Ayodya, Astina, Dwarawati, dan Naraja). Keempat raja ini sama-sama
bergelar maharaja yang memiliki karisma dan wibawa sebagai pemimpin
kerajaan/negeri, senantiasa mengayomi rakyat kecil, sangat disegani rakyat, dan
menjadi tauladan dalam setiap langkah perilaku manusia di dunia.

3 PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan uraian tentang sastra kakawin sebagai bentuk apresiasi estetik
yang bersifat didaktik dan sosio-religius, dapat disimpulkan sebagai berikut.
1) Pada hakikatnya para pencinta sastra klasik (sastra kakawin) memiliki
tujuan yang sama, yakni untuk meraih rasa damai di hati (santa rasa),
demi tercapainya tujuan hidup manusia yang jagadhita (sejahtera). Para
penekun sastra kakawin, sesungguhnya telah melakukan kegiatan yoga,
menghajap kebesaran Hyang Widhi berdasarkan srada bakti, dan kakawin
dijadikan sebagai candi pustaka.m Juga sebagai bentuk olah nafas
(pranayama), sehingga rasa damai dapat dinikmati oleh seseorang
pencinta sastra kakawin, karena di dalamnya sarat akan ajaran adiluhung
penuh wiweka berdasarkan dharma.
2) Estetik didaktik sebagai salah satu fungsi seni meliputi ketrampilan,
kreativitas, emosionalitas, dan sensibelitas. Penekun sastra kakawin
seyogyanya berbekal pengetahuan tentang aksara dan bahasa lontar,
karena pemahaman kedua hal ini menjadi sarana pengungkap karya sastra
kakawin. Pengenalan aksara dalam sastra kakawin, terlebih berbentuk
lontar butuh ketekunan, keuletan, dan kesabaran. Sementara pengenalan
bahasa lontar dapat dibantu dengan sejumlah referensi berupa kamus,
seperti Bali-Indonesia, Sanskerta-Indonesia, Jawa Kuna-Indonesia, dan
kamus lontar (Kerta Bhasa, Bhasa Ekalawya).
3) Sosio-religius yang dimiliki oleh para rakawi sastra kakawin adalah
pembaca kreatif, mampu mentransformasi, dan meresepsi karya-karya
hipogram dan diaplikasikan dalam kehidupan keseharian. Melalui kegiatan

15
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

mabebasan (pasantian) sesungguhnya merupakan “jembatan informasi”
antara masyarakat selaku mahluk sosial dengan pesan yang yang ingin
disampaikan pengarang dalam karyanya. Di sini pula telah terjadi proses
kelisanan dan keberaksaraan.

DAFTAR PUSTAKA

Agastia, IBG. 2003.Siwa Smreti. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.
Medera, I Nengah. 1997. Kakawin dan Mabebasan di Bali. Denpasar: Upada
Sastra.

Molen, W. Van Der. 1983. Javaanse Tekstkritiek een overzicht en een nieuwe
benadering geillustreerd aan de Kunjarakarna. Leiden:
Koninklijk Instituut voor Taal.

Palguna, IBM Dharma. 1999. Dharma Sunya Memuja dan Meneliti Siwa.
Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suarka, I Nyoman. 2009. Telaah Sastra Kakawin Sebuah Pengantar. Denpasar:
Pustaka Larasan.

Suastika, I Made. 2002. Estetika, Kreativitas Penulisan Sastra, dan Nilai Budaya
Bali. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Sugriwa, I Gusti Bagus. 1978. Penuntun Pelajaran Kakawin. Denpasar: Serana
Bhakti.

Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

Tuuk, H.N van der. 1887-1912. Kawi Balineesch Nederlandsch Woordenboek. 4
volumes. Batavia: Landsdrukkerij.

Vickers, Andrian. 1982. The Writing of Kakawin and Kidung on Bali. BKI 138,
PP. 492-493.

Wiryamartana, I Kuntara. 1993. “Puisi Jawa Kuna: Penciptaan dan Kaidah
Estetisnya”. Manusia dan Seni. Cetakan ke-7. Editor Dick Hartoko.
Yogyakarta: Kanisius.

16
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Zoetmulder, P.J. 1982. Old Javanese-English Dictionary. S-Gravehage: Martinus
Nijhoff.

Zoetmulder, P.J. 1983 dan 1985. Kalangwan Sastra Jawa Kuna Selayang
Pandang. Cetakan ke-1 dan ke-2. Jakarta: Djambatan.

17
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN TARI MARGAPATI
MENGGUNAKAN MEDIA INTERAKTIF DI SMP

Oleh:
Gusti Ayu Made Puspawati
Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali

Abstrak
Pendidikan adalah salah satu cara yang harus ditempuh para peserta didik
agar mampu mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya. Dalam pendidikan
jasmani, terdapat pembelajaran yang efektif dimana guru diharapkan
mengembangkan media pembelajaran sehingga dapat mencapai tujuan
pembelajarannya. Semakin variatif media pembelajaran yang digunakan guru maka
semakin banyak peran siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu media
pembelajaran yang dapat diterapkan adalah media pembelajaran yang berbasis
komputer.
Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan pembelajaran tari margapati
menggunakan media interaktif. Sebagai Media Pembelajaran di SMP, sehingga para
siswa dapat belajar materi tari margapati tanpa merasa bosan dan lebih tertarik
dengan materi tari margapati.
Spesifikasi yang digunakan untuk produk yang peneliti buat berupa Produk
pengembangan software yang menggunakan komputer sebagai media interaktif
pembelajaran tari margapati yang berisi tentang sejarah margapati, pepeson,
pengadeng, pengecet, pekaad, dan rangkaian gerakan tari margapati. Dalam media
interaktif dilengkapi dengan video, foto, suara, musik, dan terdapat juga variasi warna
dan gambar, tulisan. Produk akhir media interaktif dikemas dalam bentuk VCD.
Metode penelitian ini menggunakan metode pengembangan kemudian untuk
Rancangan penelitian peneliti mengacu pada model pengembangan (research and
development) Borg and Gall. Dari sepuluh langkah yang ada beberapa dimodifikasi
oleh peneliti sesuai kebutuhan. Langkah-langkah yang diambil (1) Analisis kebutuhan
dan observasi lapangan, (2) Pembuatan produk awal, (3) Evaluasi ahli, (4) Uji coba
kelompok kecil dengan menggunakan 12 subjek, (5) Revisi produk awal, (6) Uji coba
kelompok besar dengan menggunakan 35 subjek, (7) Revisi produk akhir dan hasil
akhir pengembangan dengan total keseluruhan sampel yang digunakan oleh peneliti
dari uji kelompok kecil dan uji kelompok besar yaitu 35 siswa mulai dari kelas tujuh
satu, tujuh dua, tujuh tiga.
Dari penelitian dan pengembangan serta prosedur yang dilakukan di atas,
dihasilkan produk yaitu pengembangan pembelajaran tari margapati menggunakan

18
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

media interaktif di SMP PGRI 8 Denpasar (Denpasar: (1) sejarah margapati, (2)
pepeson, (3) pengadeng, (4) pengecet, (5) pekaad, dan (6) rangkaian gerakan tari
margapati). Berdasarkan hasil uji ahli, uji coba kelompok kecil, dan uji coba
kelompok besar disimpulkan pengembangan pembelajaran tari margapati
menggunakan media interaktif di SMP ini bermanfaat, menarik dan menyenangkan.
Sebagai upaya penyebarluasan produk yang telah dikembangkan ke sasaran yang
lebih luas sebaiknya produk yang telah dikembangkan ini dievaluasi kembali
kemudian disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.

Kata Kunci: Pengembangan Pembelajaran, Tari Margapati, Media Interaktif

Abstract
Education is one way that must be taken by the students to be able to develop
the ability that is in him. In physical education, there is an effective learning where
teachers are expected to develop learning media so as to achieve learning objectives.
The more varied learning media teachers use, the more students' roles in the learning
process. One of the learning media that can be applied is computer-based learning
media.
The purpose of this research is to develop the learning of margapati dance
using interactive media. As a Learning Media in Junior High School, so students can
learn the material of margapati dance without getting bored and more interested in
the material of margapati dance.
The specifications used for the products that researchers make in the form of
software development products that use the computer as an interactive media
learning of margarita dance that contains the history of margapati, pepeson,
pengadeng, pengeteng, pekaad, and the sequence of movement dance margapati. In
the interactive media is equipped with video, photos, sound, music, and there are also
variations of colors and images, writing. The interactive media end product is
packaged in VCD form.
This research method used the later development method for research design
of the researcher refers to Borg and Gall's research and development model. Of the
ten steps, there are some modified by the researchers as needed. Measures taken (1)
Needs analysis and field observation, (2) Preliminary product preparation, (3) Expert
evaluation, (4) Small group trial using 12 subjects, (5) Initial product revision, (6)
Test Try large groups using 35 subjects, (7) final product revision and final outcome
of development with total sample used by researchers from small group test and large
group test ie 35 students ranging from seventh grade one, seven two, seven three.
From the research and development as well as the procedure done above, the
product produced is the development of margarine dance learning using interactive
media at SMP PGRI 8 Denpasar (Denpasar: (1) history of margapati, (2) pepeson,
(3) pengadeng, (4) (5) pekaad, and (6) sequence of movement of margapati dance).
Based on expert test results, small group trials, and large group trials concluded the

19
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

development of Margapati dance learning using interactive media in junior high
school is useful, interesting and fun. As an effort to disseminate products that have
been developed to a wider target should the products have been developed are re-
evaluated and then adjusted to the existing situation and conditions.

Keywords: Learning Development, Margapati Dance, Interactive Media

PENDAHULUAN
Tari adalah salah satu pernyataan budaya. Oleh karena itu maka sifat, gaya
dan fungsi tari selalu tak dapat dilepaskan dari kebudayaan yang menghasilkannya.
Dan kebudayaan di dunia ini begitu banyak coraknya. Bahkan di Indonesia sendiri
saja sudah begitu beraneka macam ragamnya. Perbedaan sifat dan ragam tari dalam
berbagai kebudayaan ini bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti: lingkungan alam,
perkembangan sejarah, sarana komunikasi dan temparamen manusianya, yang
kesemuanya itu akan membentuk suatu citra kebudayaan yang khas. Hidup dan
tumbuhnya tari sangat erat kaitannya dengan citra masing-masing kebudayaan itu
(Sedyawati:1986,3).
Tari adalah suatu cabang kebudayaan yang unsur utamanya adalah gerak.
Gerak yang dimaksud adalah gerakan badan atau tubuh manusia yang telah distilisasi
dan disesuaikan dengan watak tarian, gambelan atau musik pengiring. Tari ada
sangkut pautnya dengan magis, agama, musik, kesusastraan, drama dan lain-lain.
Untuk mengetahui tari secara detail dan luas maka akan dikemukakan beberapa tokoh
dan ahli memberikan pengertian mengenai tari antara lain:
Tari adalah “ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak ritmis yang indah”
(Soedarsono, 1972:4) pada hakikatnya seni tari juga merupakan nilai-nilai, keindahan
dari keluhuran manusia yang diwujudkan melalui gerak dan sikap.
Dalam buku Pengembangan Tari Bali dijelaskan bahwa tari adalah : "ekspresi
jiwa manusia yang diwujudkan melalui gerak-gerak ritmis yang indah serta diikat
oleh nilai-nilai kultur dari kelompok individu yang mendukung". (Bandem, 1983 :3).

20
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

K. Langer (dalam Artika, 1974: 2) mengemukakan bahwa “Gerak-gerak di
dalam tari itu bukanlah gerak yang realitis, melainkan gerak yang telah diberikan
bentuk ekspresif”. Ekspresif itu adalah bentuk yang diungkapkan manusia untuk
dinikmati dengan rasa. Gerak-gerak ekspresif gerak-gerak yang indah dan dapat
menggetarkan perasaaan manusia. Adapun gerak yang indah adalah gerakan yang
distilir, yang di dalamnya mengandung ritme tertentu. Kata indah di dalam dunia seni
identik dengan bagus atau sesuatu yang memberi batin manusia.
Dengan adanya bermacam-macam definisi tentang tari yang rupanya masing-
masing ada kelemahannya itu, maka Soedarsono berusaha mengemukakan yang lebih
mencakup. Definisi Soedarsono (1972) dalam bukunya Djawa dan Bali: dua pusat
perkembangan drama tari tradisional di Indonesia mengemukakan, bahwa tari adalah
ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak ritmis yang indah, dalam definisi ini jelas
bahwa perasaan jiwa manusia yang diekspresikan ada yang bersifat gembira, ria atau
rasa syukur dalam mempertahankan kehidupan yang diungkapkan dengan gerak tari
yang telah distilisasi dan ritmis serta mengandung keindahan. Dengan demikian
definisi Saedarsono itu bisa mencakup untuk segala jenis tari, baik untuk tari-tarian
primitif, klasik, romantik maupun modern.
Gerak dapat diungkapkan bermacam-macam, di antara berbagai macam gerak
itu salah satu diantaranya ada yang mengandung unsur keindahan (sedap dipandang
mata), gerak tari Bali berhubungan erat dengan lingkungannya, itu tampak jelas pada
ekspresi gerak-geriknya, alam lingkunganlah yang memberikan inspirasi sehingga
para pencipta tari sanggup mencipta tari yang kaya akan perbendaharaan gerak.
Pencipta tari Bali menirukan gerak flora (tumbuh-tumbuhan) dan fauna (hewan).
Yang di maksud gerak dasar tari adalah sejumlah perbendaharaan gerak tari yang
meliputi elemen gerak tari, rangkaian gerak tari atau sering disebut ragam tari, sampai
ragam tersebut tersusun sedemikian rupa berdasarkan aturan aturan tertentu yang
berisikan pokok-pokok patokan-patokan esensial dari masing-masing khasanah tari
daerahnya. Apabila seni tari bisa berfungsi sebagai pengalaman vital dan dinamis di
dalam kehidupan manusia, maka sektor pendidikan umum perlu mendukung sector

21
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

pendidikan kejuruan. Cara yang terpenting ialah dengan memasukkan seni tari ke
dalam pendidikan umum untuk memberi kesempatan pada anak mengembangkan
pribadi dan rasa berseni-tari di dalam kontek berbudaya (Sedyawati,Parani
dkk:1986,69).
Kegiatan ekstrakurikuler kesenian yang diselenggarakan diluar jam pelajaran
di pandang dapat membantu mengembangkan bakat dan minat serta semangat siswa
untuk lebih giat belajar. Selain itu, kegiatan ektrakurikuler juga dipandang dapat
menanamkan rasa tanggung jawab siswa sebagai warga Negara yang mandiri. SMP
PGRI 8 Denpasar menyelenggarakan kegiatan ektrakurikuler seni khususnya seni tari,
yang mana tari yang diajarkan salah satunya adalah tari margapati, karena Tari
Margapati hampir setiap tahun dilombakan dalam porsenijar (pekan olah raga seni
pelajar PGRI Kota Denpasar, antar SMP PGRI Sekota Denpasar, menjelang hari
ulang tahun guru dan PGRI yaitu setiap tanggal 25 Nopember. Tari Margapati
merupakan tari bebancihan yang merupakan gabungan dari gerakan laki-laki dan
perempuan dengan menggunakan kain atau kancut yang dipilpilkan disamping kiri,
yang difungsikan sebagai property yang ditarikan. Gerakan yang dipakai dalam tari
margapati yaitu: gandang arep, gandang uri, ngelier, sledet numpuk, ngengget,
ngumbang, nepuk dada yang nanti akan dijelaskan pada rangkaian gerak tari
margapati.
Dalam pendidikan tari diperlukan pengembangan media pembelajaran untuk
meningkatkan ketertarikan siswa terhadap pelajaran tari khususnya tari margapati.
Banyak yang mengemukakan hal yang sama terhadap diperlukannya pengembangan
media pembelajaran.
Media interaktif merupakan media pembelajaran yang paling disenangi
peserta didik terutama media computer, karena media computer lebih menarik dan
mengikuti perkembangan zaman. Dengan adanya perkembangan teknologi elektronik,
media sebagai media pembelajaran tampil dalam berbagai variasi. Penggunaan variasi
media pembelajaran ini sangat penting dalam setiap individu memiliki karakter
tersendiri untuk melaksanakan aksi belajar, tingkat kecerdasan seseorang dalam

22
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

memahami apa yang diperoleh berbeda satu sama lain., dan perkembangan teknologi
khususnya information and communication technology (ICT) atau teknologi
informasi (IT) telah memicu terjadi reformasi dalam dunia pendidikan.
Perkembangan media pembelajaran ini sangat berpengaruh untuk guru dalam
menyampaikan pembelajaran. Berdasarkan penelitian berupa analisis kebutuhan yang
telah dilakukan di SMP PGRI 8 Denpasar oleh peneliti dengan melakukan penelitian
dengan memberi angket analisis kebutuhan diperoleh dari jumlah 35 siswa di SMP
PGRI 8 Denpasar, siswa yang senang terhadap ektrakurikuler kesenian sebanyak 34
siswa (97,14%), siswa suka dengan tari margapati sebanyak 34 siswa (97.14%), dan
siswa yang membutuhkan media pembelajaran multimedia interaktif sebanyak 33
siswa (94,28%). Dari hasil analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa sekolah
membutuhkan multimedia interaktif tari margapati yang berbasis computer untuk
menarik minat siswa dalam pelajaran ektrakurikuler tari margapati.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, alternative pemecahan masalah adalah
dibuatnya media pembelajaran yang berbasis computer tentang materi tari margapati.
Diharapkan dengan adanya media pembelajaran yang berbasis computer tersebut
mampu meningkatkan minat dan hasisl belajar siswa, serta membantu guru
pendidikan seni budaya dalam menyampaikan materi khususnya materi tari
margapati.

METODE
Rancangan penelitian pengembangan dilakukan untuk menyusun produk
Multi Media Interaktif Tari Margapati yang sebelumnya didahului melalui kegiatan
analisis kebutuhan. Setelah produk tersusun kemudian dilakukan uji coba produk,
melalui uji ahli dan uji coba perorangan, uji coba kelompok, dan uji lapangan.
Langkah-langkah yang diambil pada penelitian pengembangan ini terdiri dari
tujuh langkah:
1. Melakukan penelitian, pengumpulan data atau informasi termasuk kajian pustaka
dan observasi lapangan.

23
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

2. Pembuatan rancangan produk (berupa pengembangan pembelajaran tari
menggunakan media interaktif) rancangan produk yang telah disusun dievaluasi
oleh ahli media.
3. Produk awal (berupa pengembangan pembelajaran tari menggunakan media
interaktif)
4. Evaluasi produk awal oleh 1 ahli media, 1 ahli pembelajaran, 1 ahli tari. Setelah
dievaluasi maka dilakukan revisi produk.
5. Uji coba kelompok kecil dengan menggunakan 12 subjek penelitian siswa yang
mengikuti ekstrakurikuler tari di SMP PGRI 8 Denpasar.
6. Revisi produk (sesuai hasil analisis pada uji coba kelompok kecil).
7. Uji coba lapangan (kelompok besar) menggunakan subjek 35 penelitian semua
siswa yang ikut ekstrakurikuler tari di SMP PGRI 8 Denpasar.
8. Produk akhir pengembangan pembelajaran tari menggunakan media interaktif.

Tahap-tahap Prosedur Penelitian dan Pengembangan

Analisis Kebutuhan Kuesioner

Observasi Penyebaran Angket

Pembuatan Rancangan
Produk

Evaluasi Para Ahli

Uji Coba Kelompok
Kecil

Revisi Produk Awal

Uji Coba Lapangan

Revisi Produk Akhir Produk Akhir
24
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Data yang akan dikembangkan dan dioalah yaitu media interaktif
pembelajaran tari di SMP PGRI 8 Denpasar adalah data kualitatif dan kuantitatif.
Data kualitatif yang berupa saran dari para ahlimedia, ahli pembelajaran, ahli tari,
sedangkan kuantitatif yang merapakan data berupa angka diperoleh dari penyebaran
angket di SMP PGRI 8 Denpasar.

PEMBAHASAN DAN HASIL
Produk yang dihasilkan pada penelitian pengembangan ini berupa Multimedia
Interaktif yang menggunakan komputer sebagai pembelajaran. Di dalam Multimedia
Interaktif berisikan materi tentang sejarah tari, teknik dasar tarian. Multimedia
Interaktif ini dilengkapi dengan video, gambar, tulisan, dan animasi dalam slidenya,
sehingga Multimedia Interaktif diharapkan dapat memberi daya tarik bagi pengguna
yang ingin mempelajarinya.
Rincian produk Multimedia Interaktif yang yang dihasilkan adalah sebagai
berikut:
1. Bagaian awal terdapat pembukaan Multimedia Interaktif dan langsung
dilanjutkan ke menu utama.
2. Pada bagian inti menu utama terdapat menu sejarah, teknik dasar, yang dapat
dipilih sesuai yang mau dipelajari.
3. Pada bagian penutup Multimedia Interaktif terdapat bagian akhir dari slide yang
ditayangkan.
Analisis data hasil uji coba kelompok kecil tersaji sebagai berikut.

Data Hasil Uji Coba Kelompok Kecil
Skor
No Aspek % Keterangan
∑X ∑Xi
1 Apakah gambar latar (background)
dan animasi pada bagian intro media 40 48 83,33 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini menarik

25
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Skor
No Aspek % Keterangan
∑X ∑Xi
2 Apakah animasi pada bagian intro
40 48 83,33 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini menarik
3 Apakah musik secara keseluruhan
pada bagian intro media interaktif 41 48 85,41 Baik
pembelajaran tari margapati ini
menarik
4 Apakah design menu pada media
39 48 81,25 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini menarik
5 Apakah animasi menu pada media
40 48 83,33 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini menarik
6 Apakah animasi simbol (button)
menu pada media interaktif 40 48 83,33 Baik
pembelajaran tari margapati ini
menarik
7 Apakah animasi transisi antar menu
utama pada media interaktif 37 48 77,08 Baik
pembelajaran tari margapati ini
menarik
8 Apakah efek suara transisi pada
42 48 87,5 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini menarik
9 Apakah judul media interaktif
pembelajaran tari margapati yang 38 48 79,16 Baik
ditampilkan pada menu home sudah
jelas
10 Apakah jenis huruf (font) yang
dipilih pada menu home media 41 48 85,41 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
menarik
11 Apakah design menu home pada
42 48 87,5 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini menarik
12 Apakah background musik pada
40 48 83,33 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini menarik
13 Apakah keterangan tentang materi 40 48 83,33 Baik
sejarah tari margapati dalam media

26
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Skor
No Aspek % Keterangan
∑X ∑Xi
interaktif pembelajaran tari margapati
ini sudah jelas
14 Apakah jenis huruf (font) yang
dipilih pada menu sejarah dalam 39 48 81,25 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini menarik
15 Apakah animasi button sub menu
40 48 83,33 Baik
dalam menu sejarah tari margapati
sudah menarik
16 Apakah animasi button sub menu
40 48 83,33 Baik
dalam menu teknik dasar sudah
menarik
17 Apakah materi tentang gerakan
pepesan pada media interaktif 40 48 83,33 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
18 Apakah materi tentang cara gerakan
pengadeng pada media interaktif 39 48 81,25 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
19 Apakah materi tentang cara gerakan
pengecet pada media interaktif
39 48 81,25 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas

20 Apakah materi tentang gerakan
pekaad pada media interaktif 39 48 81,25 Baik
pembelajaran tari margapati ini
mudah dimengerti
21 Apakah materi tentang rangkaian
gerakan media interaktif 41 48 85,41 Baik
pembelajaran tari margapati ini
mudah dimengerti
22 Apakah materi tentang cara gerakan
ngubit nyelek sipah pada media 41 48 85,41 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini sudah jelas
23 Apakah materi tentang gerakan
41 48 85,41 Baik
ngangget pada media interaktif
pembelajaran tari margapati ini sudah

27
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Skor
No Aspek % Keterangan
∑X ∑Xi
jelas
24 Apakah materi tentang cara gerakan
ngelier pada media interaktif
39 48 81,25 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas

25 Apakah animasi pada sub menu
dalam menu gerakan kipekan tari
39 48 81.25 Baik
margapati pada media interaktif
pembelajaran tari margapati sudah
menarik
26 Apakah materi teknik dasar tari
margapati pada media interaktif 40 48 83,33 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
27 Apakah materi gerakan nyereseg tari
margapati pada media interaktif 39 48 81,25 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
28 Apakah animasi dalam menu gerakan
metanjek ngandang tari margapati 38 48 79,16 Baik
pada media interaktif pembelajaran
tari margapati ini sudah menarik
29 Apakah materi nyakup bawa pada
40 48 83,33 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini sudah jelas
30 Apakah materi pemanasan dalam
latihan dasar pada media interaktif 41 48 85,41 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
31 Apakah materi latihan dasar sebelum
dimulai tarian pada media interaktif 41 48 85,41 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
32 Apakah materi latihan dasar pada
40 48 83,33 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini sudah jelas
33 Apakah jenis huruf (font) yang
40 48 83.33 Baik
dipllih pada menu latihan dasar
dalam media interaktif pembelajaran

28
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Skor
No Aspek % Keterangan
∑X ∑Xi
tari margapati ini sudah menarik
34 Apakah animasi dalam menu gerakan
40 48 83.33 Baik
tarian dalam tari margapati ini sudah
menarik
35 Apakah peraturan dalam sarana dan
prasarana tari margapati pada media 41 48 85.41 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini sudah jelas
36 Apakah durasi tarian dalam tari
margapati pada media interaktif 43 48 89,58 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
37 Apakah kesalahan suatu tarian pada
41 48 85,41 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini sudah jelas
38 Apakah kesalahan gerakan tarian
dalam tari margapati pada media 40 48 83,33 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini sudah jelas
39 Apakah jenis huruf (font) yang
dipilih pada menu aturan latihan
40 48 83,33 Baik
dasar dalam media interaktif
pembelajaran tari margapati ini sudah
menarik
40 Apakah design menu tarian pada
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini sudah menarik 42 48 87,5 Baik

41 Apakah materi tentang perlengkapan
tarian pada media interaktif 41 48 85,41 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
menarik
Jumlah 1644 1968 83,53 Baik

29
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Keterangan:

P
 X x 100%
 Xi
P = Persentase hasil evaluasi ahli
∑X = Jumlah keseluruhan jawaban subjek uji coba dalam keseluruhan aspek
penilaian.
∑Xi = Jumlah keseluruhan skor maksimal subjek uji coba dalam keseluruhan aspek
penilaian.

Persentase 
 X x 100%  1644 x 100%  83,53%
 Xi 1968

Berdasarkan hasil tabel 4.4, diketahui jumlah skor ( ∑X) adalah 1644 dan jumlah
keseluruhan skor maksimal (∑Xi) adalah 1968, maka persentase hasil evaluasi uji
coba kelompok kecil adalah 83,53% (valid), sehingga produk ini dapat digunakan
dalam Pengembangan Pembelajaran Tari margapati Menggunakan Media Interaktif di
SMP PGRI 8 Denpasar.

Analisis data hasil uji coba kelompok besar tersaji sebagai berikut.

Data Hasil Uji Coba Lapangan (kelompok besar)
Skor
No Aspek % Keterangan
∑X ∑Xi
1 Apakah gambar latar (background)
dan animasi pada bagian intro media 119 140 85 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini menarik
2 Apakah animasi pada bagian intro
118 140 84,28 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini menarik
3 Apakah musik secara keseluruhan
113 140 80,71 Baik
pada bagian intro media interaktif
pembelajaran tari margapati ini

30
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Skor
No Aspek % Keterangan
∑X ∑Xi
menarik
4 Apakah design menu pada media
118 140 84,28 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini menarik
5 Apakah animasi menu pada media
112 140 80 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini menarik
6 Apakah animasi simbol (button)
menu pada media interaktif 118 140 84,28 Baik
pembelajaran tari margapati ini
menarik
7 Apakah animasi transisi antar menu
utama pada media interaktif 114 140 81,42 Baik
pembelajaran tari margapati ini
menarik
8 Apakah efek suara transisi pada
123 140 87,85 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini menarik
9 Apakah judul media interaktif
pembelajaran tari margapati yang 119 140 85 Baik
ditampilkan pada menu home sudah
jelas
10 Apakah jenis huruf (font) yang
dipilih pada menu home media 116 140 82,85 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
menarik
11 Apakah design menu home pada
115 140 82,14 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini menarik
12 Apakah background musik pada
120 140 85,71 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini menarik
13 Apakah keterangan tentang materi
sejarah tari margapati dalam media 114 140 81,42 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini sudah jelas
14 Apakah jenis huruf (font) yang
dipilih pada menu sejarah dalam 113 140 80,71 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini menarik

31
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Skor
No Aspek % Keterangan
∑X ∑Xi
15 Apakah animasi button sub menu
117 140 83,57 Baik
dalam menu sejarah tari margapati
sudah menarik
16 Apakah animasi button sub menu
122 140 87,14 Baik
dalam menu teknik dasar sudah
menarik
17 Apakah materi tentang gerakan
pepesan pada media interaktif 115 140 82,14 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
18 Apakah materi tentang cara gerakan
pengadeng pada media interaktif 115 140 82,14 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
19 Apakah materi tentang cara gerakan
pengecet pada media interaktif 112 140 80 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
20 Apakah materi tentang gerakan
pekaad pada media interaktif 114 140 81,42 Baik
pembelajaran tari margapati ini
mudah dimengerti
21 Apakah materi tentang rangkaian
gerakan media interaktif 115 140 82,14 Baik
pembelajaran tari margapati ini
mudah dimengerti
22 Apakah materi tentang cara gerakan
ngubit nyelek sipah pada media 112 140 80 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini sudah jelas
23 Apakah materi tentang gerakan
ngangget pada media interaktif 117 140 83,57 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
24 Apakah materi tentang cara gerakan
ngelier pada media interaktif 115 140 82,14 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
25 Apakah animasi pada sub menu 114 140 81,42 Baik
dalam menu gerakan kipekan tari

32
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Skor
No Aspek % Keterangan
∑X ∑Xi
margapati pada media interaktif
pembelajaran tari margapati sudah
menarik
26 Apakah materi teknik dasar tari
margapati pada media interaktif 119 140 85 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
27 Apakah materi gerakan nyereseg tari
margapati pada media interaktif 118 140 84,28 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
28 Apakah animasi dalam menu gerakan
metanjek ngandang tari margapati 119 140 85 Baik
pada media interaktif pembelajaran
tari margapati ini sudah menarik
29 Apakah materi nyakup bawa pada
119 140 85 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini sudah jelas
30 Apakah materi pemanasan dalam
latihan dasar pada media interaktif 117 140 83,57 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
31 Apakah materi latihan dasar sebelum
dimulai tarian pada media interaktif 118 140 84,28 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas
32 Apakah materi latihan dasar pada
117 140 83,57 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini sudah jelas
33 Apakah jenis huruf (font) yang
dipllih pada menu latihan dasar 119 140 85 Baik
dalam media interaktif pembelajaran
tari margapati ini sudah menarik
34 Apakah animasi dalam menu gerakan
115 140 82,14 Baik
tarian dalam tari margapati ini sudah
menarik
35 Apakah peraturan dalam sarana dan
prasarana tari margapati pada media 120 140 85,71 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini sudah jelas

33
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Skor
No Aspek % Keterangan
∑X ∑Xi
36 Apakah durasi tarian dalam tari
margapati pada media interaktif
118 140 84,28 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
jelas

37 Apakah kesalahan suatu tarian pada
113 140 80,71 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini sudah jelas
38 Apakah kesalahan gerakan tarian
dalam tari margapati pada media 117 140 83,57 Baik
interaktif pembelajaran tari margapati
ini sudah jelas
39 Apakah jenis huruf (font) yang
dipilih pada menu aturan latihan
124 140 88,57 Baik
dasar dalam media interaktif
pembelajaran tari margapati ini sudah
menarik
40 Apakah design menu tarian pada
121 140 86,42 Baik
media interaktif pembelajaran tari
margapati ini sudah menarik
41 Apakah materi tentang perlengkapan
tarian pada media interaktif 117 140 83,57 Baik
pembelajaran tari margapati ini sudah
menarik
Jumlah 4791 5740 83,46 Baik

Keterangan:

P
 X x 100%
 Xi
P = Persentase hasil evaluasi ahli
∑X = Jumlah keseluruhan jawaban subjek uji coba dalam keseluruhan aspek
penilaian.
∑Xi = Jumlah keseluruhan skor maksimal subjek uji coba dalam keseluruhan aspek
penilaian.

34
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Persentase 
 X x 100%  4791 x 100%  83,46%
 Xi 5740

Berdasarkan hasil tabel 4.5, diketahui jumlah skor ( ∑X) adalah 4791 dan jumlah
keseluruhan skor maksimal (∑Xi) adalah 5740, maka persentase hasil evaluasi uji
coba kelompok besar adalah 83,463% (valid), sehingga produk ini dapat digunakan
dalam Pengembangan Pembelajaran Tari margapati Menggunakan Media Interaktif di
SMP PGRI 8 Denpasar.

SARAN
Bagi Siswa
Dengan adanya pengembangan pembelajaran tari margapati menggunakan
media interaktif sebagai media pembelajaran, siswa dapat belajar tanpa merasa bosan
karena siswa mendapatkan hal yang lain dari yang biasa siswa pelajari. Dengan
begitu siswa lebih semangat dan tertarik dalam belajar menari khususnya materi
tentang tari margapati.

Bagi Guru
Dengan adanya pengembangan pembelajaran tari margapati menggunakan
media interaktif sebagai media pembelajaran di SMP PGRI 8 Denpasar diharapkan
dapat membantu dalam proses penyampaian materi tari margapati dan menambah
variasi dalam mengajar.

Bagi Sekolah
Dengan adanya pengembangan pembelajaran tari margapati menggunakan
media interaktif sebagai media pembelajaran di SMP PGRI 8 Denpasar diharapkan
dari hasil pengembangan dapat digunakan oleh pihak sekolah untuk meningkatkan
mutu pendidikan.

35
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Bagi Peneliti
Dengan adanya pengembangan pembelajaran tari margapati menggunakan
media interaktif sebagai pembelajaran di SMP PGRI 8 Denpasar diharapkan sebagai
salah satu usaha untuk memperoleh pengalaman nyata dan mengaplikasikan
pengetahuan yang didapat.

Saran Pengembangan Lebih Lanjut
Pada penelitian pengembangan pembelajaran tari margapati menggunakan
media interaktif sebagai media pembelajaran di SMP PGRI 8 Denpasar, peneliti
mengemukakan beberapa saran pemanfaatan lebih lanjut sehubungan dengan produk
yang dikembangkan, adapun saran yang dikembangkan sebagai berikut:
a. Sebaiknya hasil pengembangan dilanjutkan pada penelitian mengenai efektivitas
produk, karena hasil pengembangan ini hanya terbatas sampai penyusunan
sebuah produk.
b. Guru pendidikan tari harus mencoba mengembangkan materi lain yang terkait
yang sesuai dengan kemampuan dan jenjang pendidikan siswa.

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.

Arsyad, Azhar. 2006. Media Permbelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Bandem, I Made, 1983. “Ensiklopedi Tari Bali”. Pt Bali Post.

Borg, W.R. & Galll, M.D. 1983. Educational research: An introduction, Fourth
edition. New York: Longman.

Dibya, I Wayan, 1999. “ Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali, Masyarakat Seni
Pertunjukan Indonesia.

Soedarsono. 1972. Djawa dan Bali: Dua Pusat Perkembangan Drama Tari
Tradisional di Indonesia. Jogyakarta: Gajah Mada University Press.

36
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

RESISTENSI PEREMPUAN TERHADAP HEGEMONI PATRIARKI
DALAM KULTUR MASYARAKAT BALI PADA NOVEL-NOVEL
OKA RUSMINI

oleh
I Kadek Adhi Dwipayana
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk memahami problematika yang dialami tokoh terhadap
hegemoni patriarki dalam kultur masyarakat Bali pada novel-novel Oka Rusmini dan
melihat bentuk resistensi perempuan terhadap hegemoni patriarki dalam kultur masyarakat
Bali pada novel-novel Oka Rusmini. Selain itu, penelitian ini memiliki tujuan yang secara
tidak langsung mampu melihat konstruksi naratif novel Oka Rusmini dan sejauhmana
implikasinya terhadap sikap pengarang dalam menyikapi fenomena kultural. Pada ranah
ini secara literer akan dapat ditelusuri sikap kultural yang dilakukan Oka Rusmini dalam
kerangka menciptakan pemahaman kepada masyarakat dalam menyikapi permasalahan
hegemoni patriarki dalam berkehidupan secara sosial budaya masyarakat Bali.
Kontribusi/ manfaat yang dapat disumbangkan dalam penelitian ini digolongkan
menjadi dua, yaitu secara teoretis dan praktis. Jika secara teoretis penelitian ini memiliki
kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang
wacana sosiologis dalam kesusastraan, sedangkan secara praktis juga mampu memberikan
pencerahan kepada pendidik/ guru, dan golongan pemuda agar secara aktif dan masif
menggalakan pengajaran sastra.
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif yang beranjak
dari pendekatan fungsional terhadap novel-novel karya Oka Rusmini. Dalam hal ini,
sumber data primer dalam penelitian berasal dari novel Tarian Bumi, Kenanga, dan
Tempurung. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan. Metode
studi kepustakaan digunakan untuk mengumpulkan data primer yang berasal dari novel
karya Oka Rusmini. Langkah analisis data ini dilakukan dengan menggunakan metode
deskriptif kualitatif. Metode ini dilakukan dengan menggunakan beberapa langkah
operasional, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Ketiga tahapan
tersebut saling berinteraksi dan memiliki koneksi, berawal dari pengumpulan data dan
berakhir pada penarikan simpulan.
Tokoh-tokoh perempuan dalam ketiga novel karya Oka Rusmini tersebut tidak
pernah dihargai sama sekali oleh tokoh laki-laki. Sementara tokoh perempuan diharuskan
untuk menghormati laki-laki dan menuruti segala keinginan tokoh laki-laki. Perempuan
selalu diposisikan sebagai subordinat, hal itu terjadi ketika kehidupan tokoh perempuan
didominasi oleh tokoh laki-laki. Dominasi yang dilakukan oleh laki-laki terhadap
perempuan Bali, memunculkan gerakan-gerakan perlawanan. Perlawanan-perlawanan
yang dilakukan oleh perempuan Bali terdapat dalam bentuk pemilihan pasangan hidupnya.
Dalam “Kenanga” wujud resistensi atau perlawanan yang dilakukan perempuan Bali, yakni
dengan menjalin hubungan pra-nikah. Dalam “Tempurung” bentuk resistensi perempuan
terhadap hegemoni patriarki adalah mencoba menjalani peran sebagai superordinat.

Kata-kata kunci: Resistensi, Perempuan, Hegemoni, Patriarki.

37
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

ABSTRACT
This study aims to understand the problems that character experienced by the
hegemony of patriarchy in Balinese culture on novels of Oka Rusmini and see the from of
women’s resistance to patriarchal hegemony in Balinese culture on novels Oka Rusmini.
In addition, this research has a purpose that indirectly able to see the narrative
construction of novel Oka Rusmini and how far implication on the author’s attitude in
addressing the cultural phenomenon. In this area literally will be able to trace the cultural
attitude done Oka Rusmini in the framework of creating understanding to the community
in addressing the problem of patriarchy hegemony in socio-cultural life the people of Bali.
The contribution which can be donated to this research is classified into two that is
theoretically and practically. If theoretically, this research has a contribution in the
development of science, especially knowledge about the discourse of feminism in literature,
while practically also able to provide enlightenment to educators and youth to actively and
massively study the literature.
This research uses descriptive qualitative research design that moved from the
functional approach the novels by Oka Rusmini. In this case, the primary data source in
the study comes Tarian Bumi, Kenanga, and Tempurung. The method of collecting data
used is literature study. The method of study is used to collect primary data derived from
Oka Rusmini’s novel. Step analysis of this data is done by using descriptive qualitative.
This method is done by using operational steps, namely data reduction, data presentation
and conclusion drawing. The three stages interact and have connections, beginning with
data collection and ending in drawing conclusions.
The female characters in the three novels Oka Rusmini were never respected by
male characters. While female figures are required to respect men and obey the wishes of
male characters. Women are always positioned as subordinate, it happens when the life of
female characters is dominated by male characters. The dominance perpetrated by men
against Balinese women gave rise to resistance movements.

Key words: Resistance, Women, Hegemony, Patriarchy

1 PENDAHULUAN
Karya sastra adalah cerminan kehidupan sosial masyarakat (Suarta dan
Dwipayana, 2014). Ia merupakan kristalisasi nilai dan pengalaman hidup pengarang
sebagai makhluk sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan mencakup
hubungan antarmanusia, antarmasyarakat, peristiwa yang terjadi dalam batin
manusia. Titik tolak inilah yang kemudian mendasari, bahwa sastra tidak lahir dari
kekosongan budaya. Sebagai sebuah dunia miniatur, karya sastra berfungsi untuk
menginfestasikan sejumlah besar kejadian-kejadian yang telah dikerangkakan
dalam pola-pola kreativitas dan imajinasi. Sebagai karya yang imajiner, fiksi
menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup, dan
kehidupan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh

38
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

kesungguhan yang kemudian diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai
dengan pandangannya. Fiksi merupakan hasil dialog, kontemplasi dan reaksi orang
terhadap lingkungan dan kehidupan sehingga seorang pengarang akan mengajak
pembaca memasuki pengalaman atau imajinasi melalui karya sastra (Nurgiyantoro
1995: 3).
Berbicara mengenai dunia sastra yang merupakan gambaran kompleksitas
kehidupan sosial masyarakat, kehidupan seorang perempuan Bali memang sangat
menarik untuk diperbincangkan, terutama mengenai kedudukan dan peran
perempuan dalam masyarakat. Fenomena-fenomena kehidupan perempuan Bali
terungkap secara khas dalam novel-novel karya Oka Rusmini. Perempuan sering
kali dinomorduakan oleh masyarakat terutama oleh kaum laki-laki. Kesewenang-
wenangan laki-laki tidak jarang terjadi karena mereka merasa memiliki kedudukan
yang lebih tinggi. Dalam masyarakat yang patriarkis relasi gender dilandasi hukum
kebapakan. Patriarki adalah sebuah sistem dari struktur sosial, praktik yang
menempatkan lakilaki dalam posisi dominan, menindas, dan mengeksploitasi
perempuan (Wiyatmi, 2012:90; Walby, 1989:213-220). Menurut Walby patriarkat
bisa dibedakan menjadi dua, yaitu patriarkat privat dan patriarkat publik. Inti dari
teorinya itu adalah telah terjadi ekspansi wujud patriarkat, dari ruang-ruang pribadi
dan privat seperti keluarga dan agama ke wilayah yang lebih luas yaitu negara.
Ekspansi ini menyebabkan patriarkat terus menerus berhasil mencengkeram dan
mendominasi kehidupan laki-laki dan perempuan (Wiyatmi, 2012:90-91).
Masyarakat Bali merupakan masyarakat yang masih feodal. Masyarakat
feodal membatasi kebebasan kaum perempuan. Paternalistik adalah salah satu ciri
masyarakat feodal, di mana laki-laki dianggap menduduki posisi lebih tinggi dalam
hirarki sosial, atau dianggap lebih superior dibandingkan perempuan (Putra, 2007:
84). Dalam sistem feodalisme, harkat perempuan diinjak-injak oleh kaum berkuasa;
undang-undang atau peraturan adat dibentuk untuk menjadikan perempuan budak
belian. Hal seperti ini berlanjut dalam zaman modern lewat sistem kapitalisme
(Putra, 2007: 99). Putra (2007: 125) mengungkapkan bahwa wacana kesetaraan
gender dewasa ini memang banyak membahas beratnya tanggung jawab kaum
perempuan di bidang pelaksanaan adat. Di satu pihak, perempuan Bali tertuntut

39
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

untuk mengejar karier, bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi
rumah tangga, di lain pihak mereka harus mengurus berbagai urusan adat yang
jumlah dan frekuensinya tinggi sekali. Kaum perempuan dituntut untuk bisA
memainkan peran plural ini.
Nasib kaum perempuan Indonesia di tengah dominasi budaya patriarki
sesungguhnya dapat ditelusur sejak roman Siti Nurbaya (1920) karya Marah Rusli
yang terbit pada masa pra-Pujangga Baru. Menjadi representasi dari keadaan
zamannya, dalam novel itu perempuan digambarkan dalam posisi yang lemah dan
menjadi 'korban' kepentingan orang tua, adat, dan nafsu lelaki. Untuk melunasi
hutang ayahnya, Siti Nurbaya harus menikah dengan Datuk Maringgih, lelaki tua
yang sudah bau tanah. Meskipun ditulis oleh pengarang lelaki, dan tidak secara jelas
membela kaum perempuan, novel tersebut sebenarnya dapat dimaknai sebagai
suatu 'kesaksian zaman' tentang nasib kaum perempuan. Karena itu, dalam jangka
panjang kesaksian itu dapat mengundang empati terhadap nasib kaum perempuan,
dan pada akhirnya akan mengundang pembelaan. Kenyataannya, pada
pascakolonialisme, Siti Nurbaya cukup memberi inspirasi untuk mendorong
kebangkitan kaum perempuan agar tidak bernasib seperti Siti Nurbaya. Namun,
pada kenyataannya pula, dalam rentang sejarah sastra Indonesia yang cukup
panjang, lebih banyak karya sastra Indonesia, karya para penulis, lebih banyak
menempatkan perempuan dalam posisi tertindas. Kondisi tersebut, jelas
memberikan pencitraan negatif pada perempuan sebagai 'mahluk kelas dua' yang
lemah dan gampang dikuasai oleh kaum lelaki. Hingga kini, tokoh-tokoh
perempuan kerap ditulis menjadi korban kekerasan, penindasan, perkosaan, dan
bahkan pengucilan.
Upaya untuk menggambarkan sosok perempuan secara lebih ideal,
sebenarnya telah kerap juga dilakukan oleh pengarang Indonesia. Dalam novel
Layar Terkembang (1936) karya Sutan Takdir Alisyahbana, misalnya, tokoh
perempuan (Tuti) digambarkan sebagai sosok yang terpelajar, modern, berpikiran
maju, dan menjadi tokoh pergerakan yang tegar. Kaum perempuan 'memimpin
proses perubahan sosial' ke arah kemajuan bangsanya, khususnya kemajuan kaum
perempuan. Namun, idealisasi sosok perempuan yang “bersemangat pembebasan”

40
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

seperti itu tidak memiliki mata rantai yang kuat hingga sekarang. Semangat
pembebasan kaum perempuan dalam novel-novel mutakhir yang populer, seperti
“Saman” karya Ayu Utami, justru terjerembab pada semangat “feminisme
kebablasan” yang cenderung berorientasi pada kebebesan perempuan untuk
menikmati seks di luar nikah dan dari aturan moral. Pembebasan seperti ini justru
mengembalikan posisi perempuan sebagai objek kaum lelaki secara lebih ekstrem.
Adanya tindakan deskriminasi terhadap perempuan sesungguhnya
menimbulkan kegerahan sehingga dapat memunculkan resistensi yang dilakukan
oleh perempuan Bali itu sendiri. Resistensi merupakan sebuah tindakan perlawanan
yang dilakukan oleh kaum perempuan yang mengalami marginalisasi. Resistensi
dapat berwujud beragam, mulai dari perlawanan yang bersifat aktif dan agresif
maupun perlawanan dalam bentuk pasif. Mimikri merupakan salah satu manifestasi
dari resistensi yang kemungkinan dapat dilakukan oleh perempuan yang mengalami
ketidakadilan dalam berbagai ranah kehidupan masyarakat. Tindakan ketidakadilan
yang pernah dialami oleh perempuan dari laki-laki dapat digunakan sebagai
tindakan perlawanan dalam bentuk mimikri/ peniruan.
Beberapa tulisan baik dalam bentuk penelitian maupun artikel yang
berkaitan dengan wacana feminisme dalam novel karya Oka Rusmini telah banyak
dilakukan oleh beberapa penulis di antaranya, Kusumawati (2011) dalam penelitian
Pertentangan Kasta dalam Kebudayaan Bali: Kajian Hegemoni dalam Tarian
Bumi Karya Oka Rusmini menyatakan bahwa praktik hegemoni dari kasta
Brahmana didasarkan atas kekuasaan dan dukungan dari kelas bawah. Faktor
penyebab terjadinya hegemoni yang dilakukan kasta Brahmana terhadap kasta
Sudra dalam novel Tarian Bumi adalah faktor ideologi dan strata masyarakat.
Ideologi yang dianut oleh pihak tertinggi akan dijalankan oleh pihak bawahan atas
dasar kesetujuan. Demikian juga halnya, Darmayanti (2014) dalam penelitian
Seksualitas Perempuan Bali dalan Hegemoni Kasta: Kajian Kritik Feminis pada
Dua Novel Karangan Oka Rusmini, secara detail menerangkam bahwa perempuan
Bali secara seksualitas sangat didominasi oleh lelaki Bali. Hal yang paling tampak
adalah terbelenggunya perempuan Bali dalam menentukan pilihan dan
menyampaikan suara-suaranya. Akibatnya, perempuan Bali melakukan pergerakan

41
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

melawan atau memberontak dari tradisi dominasi laki-laki. Pawestri (2015) dalam
penelitiannya Hegemoni Kekuasaan dalam Novel Bibir Merah Karya Achmad
Munif menyatakan bahwa bentuk hegemoni bersifat otoritarianisme. Keseluruhan
penelitian tersebut secara sendiri-sendiri telah memperkaya pengetahuan dan
wawasan kita terhadap wacana feminisme. Namun, pembahasan secara mendalam
tentang resistensi perempuan terhadap hegemoni patriarki dalam kultur masyarakat
Bali pada novel-novel Oka Rusmini yang meliputi Tarian Bumi, Kenanga, dan
Tempurung belum pernah dilakukan. Jadi letak kemutakhiran penelitian ini adalah
upaya penyingkapan problematika perempuan terhadap hegemoni patriarki dalam
kultur masyarakat Bali, dan resistensi perempuan terhadap hegemoni patriarki
dalam kultur masyarakat Bali. Dari hasil analisis tersebut, secara implisit akan
diperoleh gambaran yang jelas tentang upaya Oka Rusmini dalam mengintrospeksi,
merekonstruksi, dan menyikapi resistensi hegemoni patriarki melalui konstruksi
naratif.
Berdasarkan pemikiran-pemikiran di atas, untuk menciptakan pemahaman
wacana feminisme tentang resistensi perempuan terhadap hegemoni patriarki dalam
kultur masyarakat Bali maka dianggap perlu diadakan penelitian tentang
“Resistensi Perempuan terhadap Hegemoni Patriarki dalam Kultur Masyarakat Bali
pada Novel-novel Oka Rusmini”, agar problematika yang dialami masyarakat Bali
dapat disikapi dengan arif dan bijaksana. Selain itu, agar karya sastra berlatar sosio-
kultural Bali ini dapat terus diposisikan sebagai karya bernilai tinggi dan bahan
refleksi berkehidupan. Fokus permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah
probelmetika perempuan terhadap hegemoni patriarki dalam kultur masyarakat Bali
dan resistensi perempuan terhadap hegemoni patriarki dalam kultur masyarakat
Bali pada novel-novel Oka Rusmini.

2 METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan suatu penelitian yang beranjak dari pendekatan
fungsional terhadap sastra berlatar sosio-kultural Bali. Dalam hal ini, karya sastra
berlatar etnik Bali dapat dikatakan sebagai representasi dari realita yang dibalut
dengan problematika sosial-budaya dalam masyarakat Bali (etika, tradisi, agama,

42
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

dan sebagainya). Beranjak dari pandangan tersebut, penelitian ini tergolong ke
dalam penelitian deskriptif kualitatif. Karena tergolong ke dalam penelitian jenis
kualitatif, penelitian ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) kontekstual,
penelitian dilakukan dalam konteks karya sastra berlatar sosio-kultural Bali karya
Oka Rusmini dan tindakan normal subjek, (2) kolaboratif, melibatkan partisipan
subjek dan triangulasi pakar di dalam penyimpulan data, (3) interpretatif,
menggunakan analisis berdasarkan pandangan dan referensi yang relevan, bukan
analisis statistik, (4) interaktif, memiliki keterkaitan antara masalah penelitian,
pengumpulan data, dan interpretasi data, dan (5) peneliti sebagai human instrument
/ instrumen kunci. Objek dalam penelitian ini adalah problematika perempuan
terhadap hegemoni patriarki dalam kultur masyarakat Bali, bentuk resistensi
perempuan terhadap hegemoni patriarki dalam kultur masyarakat Bali. Sedangkan
subjek/ sumber data dalam penelitian ini melekat pada karya sastra/ novel-novel
karya Oka Rusmini yang akan dianalisis. Sumber data tersebut dapat dikatakan
sebagai sumber data primer, yang meliputi novel-novel karya Oka Rusmini “Tarian
Bumi,” “Kenanga,” dan “Tempurung.” Pengumpulan data pada sumber data
penelitian dihentikan apabila data yang dicari sudah jenuh. Artinya kemunculan
data yang diperoleh sama dari waktu ke waktu atau kemunculan data tidak
bervariatif lagi. Hal ini dilakukan untuk memangkus dan menyangkilkan waktu
agar tidak membuang-buang pikiran, tenaga, dan, biaya dalam penelitian ini.
Metode studi kepustakaan ini merupakan metode pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara mencari atau mengambil data dari buku-buku, kitab-kitab,
literature, atau teks-teks kesusastraan. Dalam penelitian ini, data diambil dari
novel-novel karya Oka Rusmini, seperti novel “Tarian Bumi, Kenanga,
Tempurung.” Teknik yang digunakan dalam metode studi kepustakaan ini adalah
teknik baca dan catat. Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam teknik ini,
yaitu : (1) melakukan pembacaan novel-novel Oka Rusmini secara keseluruhan,
baik novel “Tarian Bumi”, “Kenanga” “Tempurung” untuk mengidentifikasi
masalah yang dikaji dalam penelitian ini, (2) melakukan pembacaan secara cermat
dan menginterpretasikan problematika perempuan terhadap hegemoni patriarki
dalam kultur masyarakat Bali, bentuk/wujud resistensi perempuan terhadap

43
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

hegemoni patriarki dalam kultur masyarakat Bali, (3) melakukan pencatatan data
karya sastra berlatar sosio-kultural Bali dengan mencatat kutipan secara langsung
maupun verbatim. Metode studi kepusatakaan ini digunakan dalam pengumpulan
data penelitian dengan harapan dapat memecahkan masalah dalam penelitian.
Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Dalam hal ini,
peneliti yang mengumpulkan, mengidentifikasi, menyeleksi, dan menganalisis data.
Peneliti dapat dikatakan sebagai human instrument. Artinya, penelitilah yang
memikul banyak peran dalam mengumpulkan, menyeleksi, dan menafsirkan data.
Sebagai instrumen kunci, peneliti dapat dikatakan sebagai bagian dari masyarakat
Bali dan mempunyai pengetahuan tentang kultur adat Bali. Dengan berbekal
pengetahuan tentang tradisi atau budaya Bali, relatif akan memudahkan peneliti
menginterpretasikan data tentang resistensi hegemoni patriarki dalam kultur
masyarakat Bali. Kemampuan manusia itu sangat terbatas. Hal itulah yang peneliti
alami selama melakukan pengumpulan data. Oleh karena itu, untuk menutupi
kekurangan tersebut, digunakan juga bantuan media/instrumen untuk mendukung
penggunaan metode dalam pengumpulan data. Itu artinya, di samping peneliti
sebagai istrumen kunci, digunakan juga instrumen-istrumen penunjang untuk
menutupi kekurangan yang dialami dalam pengumpulan data. Dengan demikian,
digunakanlah media-media seperti novel-novel (Tarian Bumi, Kenanga, dan
Tempurung) karya Oka Rusmini.
Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke
dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Analisis data perlu dilakukan
untuk memperoleh gambaran secara cermat tentang feodalisme dalam karya sastra
berlatar sosio-kultural Bali. Tujuan analisis data adalah menyempitkan dan
membatasi penemuan-penemuan menjadi suatu data yang teratur dan lebih berarti.
Langkah analisis data ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif
kualitatif. Metode ini dilakukan dengan menggunakan beberapa langkah
operasional, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Ketiga
tahapan tersebut saling berinteraksi dan memiliki koneksi, berawal dari
pengumpulan data dan berakhir pada penarikan simpulan. Dalam penelitian ini,
identifikasi dan dipilihlah data yang sesuai dengan fokus penelitian. Data yang

44
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

kurang penting dipertimbangkan lagi bila diperlukan. Reduksi data dilakukan mulai
dari pengumpulan data hingga analisis setelah data terkumpul. Secara simultan
dengan kegiatan tersebut, reduksi data dilakukan melalui proses pengidentifikasian
dan pengkodean. Hal itu kemudian diikuti dengan pengklasifikasian, dan
penafsiran. Data yang telah terkumpul diidentifikasi dan ditentukan data mana yang
mengandung wujud hegemoni ideologi feodalistis, problematika tokoh terhadap
ideologi feodalistis, dan resistensi pengarang terhadap ideologi feodalistis dalam
karya sastra berlatar etnik Bali. Pengidentifikasian data dilakukan dengan
memerhatikan acuan/ teori yang relevan. Selanjutnya, data yang terkumpul diberi
kode dan dikelompokkan berdasarkan masing-masing masalah yang akan
dianalisis. Pemeberian kode pada setiap data dilakukan untuk mengidentifikasi dan
memudahkan peneliti dalam memilah data sesuai dengan permasalahan yang akan
dinalisis. Setelah melalui tahap pengidentifikasian, selanjutnya data
diklasifikasikan, kemudian data dianalisis atau ditafsirkan. Penafsiran data
dilakukan dengan menggunakan acuan/ sumber-sumber relevan yang mencakup
tentang teori-teori sosiologi sastra, teori hegemoni, dan tentunya teori tentang
system patriarki.
Kegiatan selanjutnya setelah reduksi adalah penyajian data. Penyajian data
merupakan upaya menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun secara
sistematis dengan memberikan kemungkinan adanya penarikan simpulan dan
pengambilan tindakan yang jelas dan terarah. Setelah data melewati reduksi,
masalah yang dikaji dalam penelitian disajikan secara deskriptif kualitatif. Data
hasil reduksi tersebut disajikan dengan menggunakan uraian naratif ataupun
penggambaran dengan menggunakan kata-kata. Perlu ditekankan bahwa, data yang
disajikan menggunakan uraian naratif tersebut adalah hasil identifikasi dan
pengklasifikasian yang dilakukan pada tahap reduksi. Langkah terakhir dalam
analisis data adalah penarikan simpulan dari hasil temuan pada proses penyajian
data. Penarikan simpulan dilakukan setelah data yang diperoleh disajikan
menggunakan uraian naratif. Perlu diketahui bahwa, hasil kegiatan tersebut berupa
kesimpulan sementara. Sebelum menyusun laporan penelitian, dilakukan
pengecekan kembali keseluruhan proses untuk melaporkan hasil analisis dan

45
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

penarikan simpulan yang meyakinkan. Dengan demikian, diharapkan dapat
memberikan jawaban atas permasalahan-permasalahan yang diajukan dalam
penelitian ini secara cermat, akurat, dan meyakinkan.

3 PEMBAHASAN
3.1 Problematika Perempuan Terhadap Hegemoni Patriarki dalam
Kultur Masyarakat Bali pada Novel-novel Oka Rusmini
Perempuan Bali sangat didominasi oleh laki-laki. Perempuan Bali selalu
terkekang, secara seksual mereka dilarang memilih pasangan hidupnya. Jika
perempuan memiliki kasta brahmana, ia harus menikah dengan kaum laki-laki yang
sederajat. Begitu pula sebaliknya, perempuan yang tidak berkasta harus menikah
dengan laki-laki tidak berkasta. Dalam konteks ini, perempuan Bali secara seksual
sangat didiskriminasikan oleh kaum laki-laki. Problematika perempuan Bali dalam
novel Tarian Bumi, Kenanga, dan Tempurung sangat dieksploitasi. Eksploitasi ini
dapat dicermati dalam bentuk diskriminasi dan dominasi laki-laki terhadap
perempuan. Perempuan harus memilih pasangan sesuai dengan pilihan laki-laki.
Perempuan tidak boleh berekspresi di ruang publik juga diatur oleh laki-laki.
Dengan demikian, perempuan Bali dalam novel Tarian Bumi, Kenanga, dan
Tempurung sangat didiskriminasi.
Tokoh-tokoh perempuan dalam ketiga novel tersebut tidak pernah dihargai
sama sekali oleh tokoh laki-laki sementara tokoh perempuan diharuskan untuk
menghormati laki-laki dan menuruti segala keinginan tokoh laki-laki. Perempuan
selalu diposisikan sebagai subordinat, hal itu terjadi ketika kehidupan tokoh
perempuan didominasi oleh tokoh laki-laki. Sebagian besar hal itu terjadi ketika
tokoh perempuan mulai memasuki kehidupan perkawinan. Tokoh perempuan
dijadikan objek kekuasaan tokoh laki-laki dan tokoh perempuan dijadikan sebagai
seorang budak dalam melayani setiap kebutuhan tokoh laki-laki. Hubungan antara
laki-laki dan perempuan bersifat hierarkis, yakni laki-laki berada pada posisi yang
dominan dan perempuan berada pada posisi yang subordinat. Haruslah diakui
bahwa posisi perempuan dalam kebudayaan tidaklah sebaik posisi laki-laki. Hampir
semua kebudayaan di dunia, perempuan menempati posisi belakang

46
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

(Soemandoyo:1999). Perjalanan budaya patriarki makin kuat dan mantap, ketika
terjadi perubahan sosial ke masyarakat feodal. Kemudian masyarakat feodal
berkembang menjadi masyarakat kapitalis dan kemudian dikunci dengan sistem
militerisme (Murniati, 2004:88).
Problematika tokoh perempuan Bali terhadap hegemoni patriarki novel-
novel karya Oka Rusmini semakin menjadi-jadi ketika tidak berimbangnya peranan
secara sosial yang diperoleh perempuan. Perempuan selalu menjadi korban
kekuasaan laki-laki. Marginalisasi merupakan suatu tindakan yang menempatkan
perempuan ke pinggiran dan kemudian membatasi segala bentuk aktivitas dan
kreativitas seorang perempuan. Perempuan diciptakan sebagai individu yang
lemah, kurang dan tidak rasional, kurang dan tidak berani, sehingga tidak pantas
untuk memimpin (Murniati, 2004). Marginalisasi terhadap perempuan sudah terjadi
sejak di rumah tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga yang laki-
laki dan perempuan. Marginalisasi juga diperkuat oleh adat istiadat maupun tafsir
keagamaan (Fakih, 2008: 15).
Problematika perempuan Bali juga termanifestasikan dalam berbagai
bentuk ketidakadilan, yakni marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi,
subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan
stereotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja lebih
panjang dan lebih banyak (burden), serta sosialisasi ideologi nilai peran gender
(Fakih, 2008: 12-13). Murniati (2004: 221) mengungkapkan bahwa sistem
kekuasaan di dunia dibangun di atas pandangan oposisi biner laki-laki dan
perempuan. Dalam pandangan itu tercipta oposisi biner patriarkis yang
memposisikan perempuan sebagai subordinat. Dalam posisi inilah muncul
ketidakadilan gender yang antara lain diekspresikan dalam bentuk tindak
kekerasan, baik kekerasan yang dijalankan sebagaimana sifatnya maupun
kekerasan dalam selimut kasih sayang yang menipu. Hal ini sesuai dengan
pandangan Budiman (1982:1) yang menyatakan bahwa dalam lingkungan tradisi
yang hidup dalam budaya patriarki, laki-laki ditempatkan sebagai yang paling
tinggi dalam menjalankan perannya sebagai seorang yang mempunyai hak dan
kewajiban sebagai kepala rumah tangga, sedangkan perempuan sudah sewajarnya

47
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

ditempatkan untuk berkecimpung dalam ranah domestik. Tugas yang wajib
dilakukan oleh seorang perempuan yaitu melahirkan, membesarkan anak, memasak
dan melayani suaminya merupakan tugas alamiah yang harus dilakukan oleh
seorang istri. Laki-laki akan ke luar rumah mencari nafkah untuk keluarganya.

3.2 Wujud Resistensi Perempuan Terhadap Hegemoni Patriarki dalam
Kultur Masyarakat Bali pada Novel-novel Oka Rusmini
Dominasi yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan Bali,
memunculkan gerakan-gerakan perlawanan. Perlawanan-perlawanan yang
dilakukan oleh perempuan Bali dalam novel-novel Oka Rusmini nampak beragam.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan Bali tidak hanya pasrah dalam
mengahadapi hidupnya, Putra (2007: 3-4) menyatakan bahwa kalau ada yang
mengatakan bahwa perempuan Bali masih terbelakang dibanding laki-laki
diberbagai bidang kehidupan memang benar adanya. Namun, kalau ada yang
mengatakan bahwa perempuan Bali bersifat pasif, atau berpangku tangan saja tanpa
memperjuangkan nasibnya atau nasib kaumnya dalam kehidupan sosial tentulah
keliru. Perempuan Bali juga mengkritik atau memprotes ketidakadilan gender yang
menimpa kaumnya. Selain itu mereka juga mendorong perempuan Bali agar mau
belajar meningkatkan kecerdasan diri sehingga tidak diremehkan dalam kehidupan
sosial. Oka Rusmini dalam Tarian Bumi, Kenanga, dan Tempurung membuktikan
bahwa adanya perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan yang menimpanya.
Bentuk-bentuk perlawanan yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh perempuan Bali
yaitu menjadi perempuan mandiri yang juga ditunjukkan dengan memilih untuk
tidak menikah, menolak perjodohan, balas dendam, memilih untuk diam, dan
melawan adat. Perlawanan-perlawanan tersebut membuktikan bahwa perempuan
bukanlah makhluk yang lemah.
Bentuk-bentuk resistensi yang dilakukan perempuan Bali dalam novel-
novel Oka Rusmini, yaitu dalam Tarian Bumi, perempuan yang berkasta memilih
pasangannya yang tidak berkasta. Pada novel Tarian Bumi perlawanan yang
dilakukan oleh perempuan tampak pada perilaku Ida Ayu Telaga yang menikah
dengan I Wayan Sasmitha. Dekonstruksi adat dalam konteks itu terjadi. Perempuan

48
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

berkasta yang harus menikah dengan laki-laki berkasta didekonstruksi melalui
tokoh Ida Ayu Telalaga. Perempuan berkasta boleh menikah dengan laki-laki tidak
berkasta. Hampir sama dengan novel Tarian Bumi, wujud resistensi atau
perlawanan yang dilakukan perempuan Bali, yakni dengan menjalin hubungan pra-
nikah. Hal ini tampak pada perilaku Ida Ayu Kenanga kepada Ida Bagus Bhuana.
Penyimpangan perilaku tersebut dilakukan karena ibu kandung Kenanga sangat
diskriminatif terhadap Kenanga. Tindakan diskriminatif itu tampak ketika Ibu
kandungnya menjodohkan kekasihnya untuk anak kesayangannya, Ida Ayu
Kencana. Berbeda dengan Tarian Bumi dan Kenanga, bentuk resistensi perempuan
terhadap hegemoni patriarki adalah tokoh perempuan mencoba menjalani peran
sebagai superordinat terjadi ketika kehidupan tokoh perempuan mendominasi
kehidupan tokoh perempuan dan terjadi ketika tokoh perempuan mulai memasuki
kehidupan perkawinan. Tokoh perempuan berkuasa terhadap laki-laki dikarenakan
tokoh perempuan menyadari bahwa kehidupannya tidak ingin didominasi oleh
tokoh laki-laki sehingga tokoh perempuan melakukan resistensi dengan cara
berkuasa terhadap tokoh laki-laki. Tokoh perempuan yang mendominasi kehidupan
tokoh laki-laki ditunjukkan oleh Tokoh Sipleg dan Zuraida. Dua tokoh perempuan
tersebut memegang posisi yang dominan terhadap tokoh laki-laki. Luh Sipleg
menolak apa yang telah lama ditabukan oleh masyarakat bahwa perempuan harus
duduk diam di dapur, menunggu kedatangan suaminya dan melayani suaminya.
Luh Sipleg sangat mendominasi dalam kehidupan suaminya, I Wayan Payuk.
Meskipun dalam keadaan hamil dan dilarang oleh suaminya, Sipleg tetap bekerja
di sawah dan jenuh mendengarkan setiap ocehan mertuanya yang selalu
menganggap Sipleg sebagai pembawa kesialan terhadap anaknya.

4 PENUTUP
4.1 Simpulan

1. Problematika tokoh perempuan Bali terhadap hegemoni patriarki novel-novel
karya Oka Rusmini adalah perempuan selalu menjadi korban kekuasaan laki-
laki. Marginalisasi merupakan suatu tindakan yang menempatkan perempuan

49
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

ke pinggiran dan kemudian membatasi segala bentuk aktivitas dan kreativitas
seorang perempuan. Perempuan diciptakan sebagai individu yang lemah,
kurang dan tidak rasional, kurang dan tidak berani, sehingga tidak pantas untuk
memimpin. Marginalisasi terhadap perempuan sudah terjadi sejak di rumah
tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga yang laki-laki dan
perempuan. Marginalisasi juga diperkuat oleh adat istiadat maupun tafsir
keagamaan. Problematika perempuan Bali juga termanifestasikan dalam
berbagai bentuk ketidakadilan, yakni marginalisasi atau proses pemiskinan
ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik,
pembentukan stereotipe atau melalui pelabelan negatif, kekerasan (violence),
beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden), serta sosialisasi ideologi
nilai peran gender.
2. Perempuan Bali secara sosial sangat didominasi oleh lelaki Bali. Hal yang
paling tampak adalah terbelenggunya perempuan Bali dalam menentukan
pilihan dan menyampaikan suara-suaranya. Akibatnya, perempuan Bali
melakukan pergerakan melawan atau memberontak dari tradisi dominasi laki-
laki. Bentuk-bentuk perlawanan yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh perempuan
Bali dalam novel-novel karya Oka Rusmini adalah dengan menjadi perempuan
mandiri, menolak perjodohan, balas dendam, melawan adat, dan memilih untuk
diam.

4.2 Saran

1. Hasil penelitian tentang novel-novel Oka Rusmini dengan pendekatan
feminisme dapat dijadikan sebagai alternatif untuk menambah apresiasi
sastra dan dapat dijadikan sebagai salah satu aluran interaksi sosial antara
kaum laki-laki dengan perempuan di dalam masyarakat.
2. Hendaknya pembelajaran apresiasi sastra dapat digalakan lagi, karena di
dalam karya sastra terdapat nilai-nilai luhur tentang problematika kehidupan
manusia dengan segala macam kompleksitasnya yang dapat digunakan
sebagai bahan refleksi untuk menyikapi dengan baik.

50
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

3. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu kontribusi dalam
mengkaji masalah kultural yang dialami oleh masyarakat Bali, khususnya
tentang masalah kedudukan perempuan di dalam masyarakat. Dengan
demikian, diharapkan tidak akan terjadi lagi ketimpangan gender antara
laki-laki dan perempuan dalam masyarakat sehingga masyarakat tidak lagi
menomorduakan perempuan.

DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2010. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
Budiman, Kris. 2003. Dari Saman ke larung, Menemukan Kembali Sisa-sia
Feminitas. Jurnal Perempuan untuk Pencerahan dan Kesetaraan. Edisi
30, hal 7.
Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.
Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Darmayanti, Ida Ayu Made. 2014. Seksualitas Perempuan Bali dalam Hegemoni
Kasta: Kajian Kritik Sastra Feminis pada Dua Novel Karya Oka Rusmini.
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 3, No. 2, Oktober 2014. ISSN:
2303-2898.
Endaswara, Suwardi. 2017. Etnoideologis: Antara Bulan, Gunting, dan Jarum.
Makalah (Disampaikan dalam Seminar Nasional “Sastra Multikultural:
Merayakan Keberagaman, Merawat Ke-Indonesiaan FPBS IKIP PGRI
Bali).
Fakih, Mansour. 2008. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Kusumawati, Ade Meliana. 2011. Pertentangan Kasta dalam Kebudayaan Bali:
Kajian Hegemoni dalam Tarian Bumi Karya Oka Rusmini. Skripsi.
Universitas Negeri Malang.
Murniati, A. Nunuk P. 2004. Getar Gender: Buku Pertama. Magelang: Yayasan
Indonesia Tera.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajahmada
University Press.
Oka, Rusmini.2007.Tarian Bumi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

51
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Pawestri, Shalikhatin. 2015. Hegemoni Kekuasaan dalam Novel Bibir Merah
Karya Achmad Munif. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.
Putra, I Nyoman Darma. 2007. Wanita Bali Tempo Doeloe: Perspektif Masa Kini.
Denpasar: Pustaka Larasan.
Rusmini, Oka. 2010. Tempurung. Jakarta: Grasindo.
Soemandoyo, Priyo. 1999. Wacana Gender dan Layar Televisi: Studi Perempuan
dalam Pemberitaan Televisi Swasta. Yogyakarta: LP3y dan Ford
Foundation.
Suarta, I Made dan I Kadek Adhi Dwipayana. 2014. Teori Sastra. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Swingewood, Alan dan Diana Lawrenson. 1972. The Sociology of Literature.
London: Paladin.
Wellek, Rene & Austin Warren. 1977. Theory of Literature. Terjemahan Melani
Budianta. 2014. Teori Kesusastraan. Jakarta: Pustaka Utama.
Wiyatmi. 2012. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya dalam Sastra
Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

52
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

UPACARA TANPA SULINGGIH DI PURA GERIA SAKTI MANUABA
KAJIAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU

oleh:
Ida Bagus Gede Bawa Adnyana
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah
Fakultas Pendidikan Bahasa Dan Seni, IKIP PGRI Bali

Abstrak
Upacara dewa yadnya merupakan salah satu bagian dari ajaran panca
yadnya. Seperti yang dilaksanakan di Pura Geria Sakti Manuaba pada umumnya
upacara yadnya terlebih lagi dalam tingkatan utama akan di pimpin oleh seorang
sulinggih, namun berbeda halnya di Pura Geria Sakti Manuaba di mana
pelaksanaan upacara yadnya tidak boleh dipimpin oleh sulinggih. Mengapa
demikian? Hal tersebut akan dikaji untuk menemukan suatu nilai-nilai pendidikan
Agama Hindu. Maka dari itu penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab
permasalahan tersebut dengan menggunakan metode observasi, wawancara
Dokumntasi. Dengan teknik analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif.
Berdasarkan analisis tersebut, maka diperoleh kesimpulan sebagai hasil
penelitian sebagai berikut : 1) alasan pelaksanaan upacara yadnya tanpa sulinggih
di Pura Geria Sakti Manuaba dikarenakan adanya bisama dari Ida Pedanda Sakti
Manuaba yang diyakini Masyarakat secara turun temurun. 2) Pelaksanaan upacara
Yadnya tanpa sulinggih di Pura Geria Sakti Manuaba tidak dapat terlepas dari
keberadaan perjalanan sejarah Ida Pedanda Sakti Manuaba.yang berasrama di Desa
Pakeraman Manuaba 3) Nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang terkandung
didalamnya adalah nilai Pendidikan Tattwa, Nilai pendidikan Upakara, dan Nilai
Pendidikan karakter.

Kata Kunci : Upacara Yadnya Tanpa Sulinggih di Pura Geria Sakti Manuaba
(Kajian Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu)

Abstract
Dewa Yadnya ceremony is a part of Panca Yadnya teachings. As it was
implemented in the temple of Geria Sakti Manuaba. In general, Yadnya ceremony
in the main levels will be led by a Sulinggih, but unlike the case in the temple of
Geria Sakti Manuaba, where the Yadnya ceremony may not be led by Sulinggih.
Why is it so? It will then be studied to find educational values of Hinduism.
Therefore, the study was implemented to address those problems by using the
method of observation, interviews, and documentation. The techniques of data
analysis were conducted by qualitative descriptive.

53
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Based on the analysis, it could be concluded as the following results: 1) the
reason of Yadnya ceremony implementation without Sulinggih in the temple of
Geria Sakti Manuaba due to the Bisama of Ida Pedanda Sakti Manuaba who
believed by the society for generations. 2) The implementation of Yadnya ceremony
without Sulinggih in Pura Geria Sakti Manuaba cannot be separated from the
history of Ida Pedanda Sakti Manuaba.who lived in the Manuaba village 3) The
educational values of Hinduism contained therein are the value of Tattwa
education, the value of Upakara education, and the value of character education.

Keywords: Yadnya ceremony Without Sulinggih in the temple of Geria Sakti
Manuaba (The Study of Hinduism Educational Values)

1 PENDAHULUAN
Di Indonesia terdapat enam agama dan masing-masing memiliki ciri khas
mengenai pelaksanaan upacara keagamaan. Ciri-ciri itu meliputi berdoa secara khu
suk dan diikuti dengan lagu-lagu pujian, melakukan persembahyangan menurut
arah tertentu sesuai dengan ajaran agamanya, sebagian lagi melaksanakan dengan
menggunakan sajian-sajian. Semua cara yang dilakukan tersebut sebagai jalan yang
dikaruniai oleh Tuhan.
Ajaran Agama Hindu memberikan kebebasan kepada umat Hindu terutama
tentang cara dan jalan yang ditempuh dalam melaksanakan hubungan kehadapan
Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sudah tentu cara dan jalan yang ditempuh selalu
mendapat pertimbangan dari segi-segi kebenaran Agama Hindu. Salah satu jalan
yang ditempuh dengan melaksanakan Upacara Yadnya, yang terdiri dari :

Dewa Yadnya, Manusia Yadnya, Buta Yadnya, Pitra Yadnya dan Rsi
Yadnya. Sehubungan dengan pelaksanaan Yadnya di dalam (Bhagawadgita Bab III
sloka 10 dan 11) disebutkan sebagai berikut :
“Sana Yadjanah Prajah Srstvā Purovaca Prajapatih Anena
Prasavisyadhvam Esa Vo'Stv Ista Kāma-Dhuk”.
Artinya :

Pada awal ciptaan, Penguasa semua mahluk mengirim generasi-generasi
manusia dan Dewa, beserta korban-korban suci untuk Wisnu, dan
memberkati mereka dengan bersabda Berbahagialah engkau dengan yadnya
(Korban suci) ini sebab pelaksanaannya akan menganugrahkan kepadamu
segala sesuatu yang dapat diinginkan untuk hidup secara bahagia dan
mencapai pembebasan.

54
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Di samping itu Agama Hindu memiliki kerangka dasar agama yang
disebut Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yang meliputi Tattwa (Filsafat Agama),
Etika (Kesusilaan Agama) dan Ritual (Upacara Agama). Ketiga kerangka dasar
tersebut dalam pelaksanaannya tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lainnya,
untuk tercapainya kehidupan yang sempurna, selaras, serasi dan seimbang antara
jasmani dan rohani. Dalam pelaksanaan kerangka dasar Agama Hindu yang paling
tampak dalam kehidupan sehari-hari adalah pelaksanaan upacara ritualnya, karena
merupakan kulit terluar ajaran Agama Hindu yang nyata tampak dan dominan
dllaksanakan oleh sebagian besar umat Hindu.
Dalam melaksanakan Panca Yadnya umat hindu khususnya di Bali juga
memiliki tradisi atau pedoman di dalam melaksanakan Upacara Panca Yadnya
tersebut yang lumrah di sebut dengan dresta. Adapan dresta tersebut di antaranya
adalah : Sastra dresta merupakan kebiasaan melaksanakan upacra panca yadnya
dengan mengikuti sastra-sastra agama, Kuno dresta yang merupakan kebiasaan-
kebiasaan dalam melaksanakan upacara panca yadnya dengan mengikuti trsdisi
secara turun temurun, Desa dresta merupakan kebiasaan-keiasaan dalam
melaksanakan upacara panca yadnya dengan mengikuti kebiasaan di setiap desa,
Kula dresta merupakan kebiasaan-kebiasaan dalam melaksanakan upacara panca
yadnya berdasarkan kebiasaan yang di warisi dalam setiap keluarga. (Sudarsana,
2003)
Dalam melaksanakan upacara yadnya umat hindu akan di pimpin oleh
seorang pemagku atau pinandita dan juga di pimpin oleh seorang pendeta atau
seseorang yang telah melaksanakan upacara dwijati. Sebagai pemimpin sebuah
upacara yadnya baik pandita ataupun pinandita memiliki etika tertentu di dalam
memimpin sebuah upacara yadnya khususnya bagi para pinandita atau pemangku
karena masih ternasuk ekajati sehingga ada batasan-batasan yang dimiliki di dalam
memimpin upacara yadnya seperti salah satunya tidak boleh memimpin atau
menyelesaikan upacara panca yadnya yang menggunakan sarana upakara dengan
tingkatan besar atau sering di sebut ayaban bebangkit di Bali. Ketika upakara yang
di persembahkan besar maka umat hindu di sarankan menggunakan sulinggih atau
pendeta sebagai pemimpin upacara yang di persembahkan. (Natha, 2003). Namun

55
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

hal tersebut tidak berlaku di pura geria sakti manuaba yang terletak di kawasan
kecamatan Tegalalang kabupaten Gianyar Bali. Pura geria sakti Manuaba ini
memiliki sebuah tradisi unik di dalam setiap pelaksanaan upacara Agama Hindu di
mana upacara yadnya di pura ini tidak menggunakan sulinggih atau Pendeta dalam
melaksanakan upacara yadnya atau puja wali namun hanya menggunakan
pemangku atau pinandita saja. Kebiasaan-kebiasaan ini sangat berkembang di
lingkungan masyarakat karena hal ini menjadi suatu ciri khas dari daerah tersebut.
Pada umumnya suatu upacara Panca Yadnya yang dilaksanakan oleh
Umat Hindu menggunakan seorang sulinggih untuk memimpin sekaligus memuput
suatu pujawali. Karena seorang pemangku mempunyai suatu peraturan (wewenang)
yang telah disepakati berdasarkan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap
Aspek-Aspek Agama Hindu IX tahun 1986 bahwa seorang pemangku hanya boleh
memimpin upacara bhuta yadnya sampai tingkat pancasata, dalam upacara dewa
yadnya hanya sampai piodalan alit dengan upakara ayaban sampai tingkat
pulagembal, dalam upacara manusa yadnya dari bayi lahir sampai dengan otonan
biasa, pitra yadnya wewenang diberikan sampai pada mendem sawa dan
disesuaikan dengan desa mawacara.
Dari sumber di atas pada umumnya suatu upacara Panca Yadnya yang
dilaksanakan umat Hindu terlebih lagi memiliki tingkatan tingkatan upacara yang
uttama seharusnya menggunakan seorang sulinggih sebagai pamuput yadnya. Hal
ini berbeda pada pura geria sakti Manuaba, yang terletak di Kecamatan Tegalalang,
Kabupaten Gianyar. Pada upacara Yadnya yang dilaksanakan di pura geria sakti
manuaba ini tidak menggunakan sulinggih sebagai pamuput karya atau upacara,
upacara ini diselesaikan oleh pemangku. Mengapa demikian? Hal ini yang akan
penulis kaji untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Alasan penulis untuk mengkaji
hal ini adalah karena fenomena tersebut sangat unik. Maka dari hal tersebut penulis
tertarik untuk melaksanakan suatu penelitian dengan sebuah judul “Upacara Tanpa
Sulinggih di Pura Geria Sakti Manuaba “Kajian Nilai-nilai Pendidikan Agama
Hindu”

56
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

2 METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik
pengumpulan data meliputi: Observasi, Wawancara, Dokumntasi. Teknik analisis
dilakukan secara deskriptif kualitatif.
Penelitian ini dilakukan di Pura Geria Sakti Manuaba yang terletak di Desa
pakraman Manuaba adalah sebuah desa yang terletak di desa Kenderan Kecamatan
Tegalalang Kabupaten Gianyar. Daratan Desa Pakraman Manuaba membentang
dari utara ke selatan dan dengan ketinggian antara 450-600 meter dari permukaan
laut dan luas wilayahnya 7,18 km2 dengan rincian sebagai berikut: Tanah
pekarangan 34,465 Ha, fasilitas jalan 33,98 Ha tanah sawah 364,330 Ha, tegalan
270,835 Ha, tempat suci (pura) 11,66 Ha, balai banjar 0,34 Ha, sekolah 0,99 Ha dan
kuburan 1,38 Ha. Adapun batas wilayah Desa Pakraman Manuaba antara lain
sebagai berikut:
1) Sebelah Utara : Desa Pakraman Delodblumbang
2) Sebelah Timur : Kecamatan Tampaksiring
3) Sebelah Selatan : Desa Pakraman Kenderan
4) Sebelah Barat : Desa Tegalalang
Bentuk dataran wilayah desa Pakraman Manuaba merupakan pegunungan
yang memanjang dari utara ke selatan. Daratan ini dimanfaatkan sebagai lahan
pertanian, persawahan, perkebunan, tempat suci, kuburan, jalan umum, sekolahdan
lain-lain. Desa Pakraman Manuaba memiliki iklim tropis dengan temperature
minimum 220 Celcius dan maksimum 280 Celcius, dengan kelembapan udara rata-
rata di atas 80%. Curah hujan paling rendah 2,800Mm dan paling tinggi 3,293 Mm.
dengan ketinggian dari permukaan laut 450-600 meter. Data ini diperoleh
berdasarkan rasio dengan desa-desa lain yang ada di lingkungan Desa Pakraman
Manuaba.

Sumber: Profil pembangunan desa tahun 2016

57
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Latar belakang tidak diperkenankan menggunakan sulinggih
Dari informasi di lapangan tentang larangan sulinggih tidak diperkenankan
untuk memimpin pelaksanaan upacara yadnya di Pura Geria Sakti Manuaba tidak
ada literature secara tertulis mengenai hal yang dimaksud. Namun, masyarakat
memiliki cerita secara turun temurun yang diyakini sebagai asal mula setiap
pelaksanaan upacara yadnya tidak menggunakan sulinggih. Dari informasi yang
peneliti dapatkan dilapangan yang di ceritakan oleh I Nyoman Sibang selaku
pemangku di Desa Pakraman Manuaba yang juga merupakan tokoh masyarakat di
Desa Pakraman Manuaba. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan pada
tanggal 12 Juli 2016 I Nyoman Sibang menyebutkan sebagai berikut :
Latar belakang tidak diperkenankan sulinggih untuk memimpin upacara
yadnya yaitu terkait pada cerita kerajaan Gelgel di Klungkung yang akan berperang
melawan kerajaan Blambangan. Mengutus patihnya I Gusti Ngurah Watulepang
untuk pergi berperang mengalahkan kerajaan Blambangan. Patih I Gusti Ngurah
Watulepang berjanji akan mengalahkan raja Blambangan dalam waktu kurang dari
tiga bulan. Akan tetapi dalam kenyataannya I Gusti Ngurah Watulepang tidak
kunjung dating dalam waktu yang telah disepakati kehadapan sang raja. Karena
merasa khawatir terhadap patihnya tersebut, sang raja mendengar bahwa Ida
Pedanda Sakti Manuaba dapat meneropong kejadian dari kejauhan maka sang raja
meminta untuk melihat kejadian peperangan yang dilaksanakan oleh patih I Gusti
Ngurah Watulepang. Terlihatlah I Gusti Ngurah Watulepang kalah perang dan
bersembunyi di hutan sambil menyusun strategi perang dan pada akhirnya barulah
patih I Gusti Ngurah Watulepang memenangkan peperangan. Dengan menangnya
dari perang barulah I Gusti Ngurah Watulepang berani menghadap ke kerajaan
setelah delapan bulan. Hal ini yang dipertanyakan oleh sang raja mengapa setelah
delapan bulan baru menghadap. Patih I Gusti Ngurah Watulepang mengatakan
bahwa dia hanya beristirahat setelah berperang, alasan inilah yang membuat sang
raja marah karena sang raja mengetahui kejadian yang sebenarnya melalui
peneropongan Ida Pedanda Sakti Manuaba, sehingga dipecatlah I Gusti Ngurah

58
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Watulepang dari jabatan patihnya. Dari pecatnya menjadi patih, I Gusti Ngurah
Watulepang menaruh dendam kepada Ida Pedanda Sakti Manuaba karena
menganggap beliaulah yang menjadi sebab dipecatnya patih di Kerajaan Gelgel.
Karena dendamnya tersebut I Gusti Ngurah Watulepang mengetahui bahwa
beliau memiliki saudara Ida Pedanda Teges. Dimana kedua bersaudara ini memiliki
hubungan yang tidak harmonis. Patih I Gusti Ngurah Watulepang menghasut Ida
Pedanda Teges untuk merencanakan pembunuhan Ida Pedanda Sakti Manuaba.
Suatu ketika Ida Pedanda Sakti Manuaba sedang membajak sawahnya, datanglah
pasukan I Gusti Ngurah Watulepang dan Ida Pedanda Teges untuk membunuh Ida
Pedanda Sakti Manuaba, ditusuklah Ida Pedanda Sakti Manuaba oleh Watulepang,
karena sudah dianggap meninggal. Patih Watulepang pun pergi bersama
pasukkannya sambil mengobrak-abrik dengan cara membakar rumah para
penduduk dan geria Ida Pedanda Sakti Manuaba.
Kemudian ketika Ida Pedanda Sakti Manuaba bersimbah darah dilihat oleh
petani yang sedang mengembala sapinya. Diperintahlah petani tersebut untuk
mengambil bungkak kelapa gading untuk membasuh luka beliau dan beliaupun
melakukan pembersihan diri. Merasa beliau tidak kuat lagi, petani tersebut
diberikan bisama oleh Ida Pedanda Sakti Manuaba untuk bertanggung jawab atas
merajan dan jenazah beliau. Petani itupun menannyakan apakah tulang beliau dapat
dijadikan pertiwimba, Ida Pedanda Sakti Manuaba menyarankan agar gelang dan
slakanya sebagai symbol tulang (galih) dan diserahkan merajan beliau kepada
petani tersebut, dan di hari berikutnya tidak boleh lagi wiku-wiku lain yang boleh
menyelesaikan segala upacara di merajan karena Ida Pedanda Sakti Manuaba yang
akan menyelesaikan sendiri, maka petani tersebut langsung menjadi pamangku,
tempat beliau meninggal dibuatlah sebuah pura yang bernama pura Hyang Sakti.
Merajan beliau tersebut diberi nama Pura Geria Sakti Manuaba. Dari munculnya
bisama itu dikarenakan terlibatnya saudara beliau Ida Pedanda Teges sehingga
bisama itu menggambarkan wujud sakit hati beliau terhadap saudaranya itu
sehingga dari bisama tersebut seluruh sulinggih yang ada kena bisama tersebut
untuk tidak memimpin segala macam yadnya di Pura Geria Sakti Manuaba.

59
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Dari apa yang di paparkan oleh jero mangku Pura Geria Sakti Manuaba
bahwa alasan tidak diperkenankan sulinggih untuk memimpin pujawali
dikarenakan bisama Ida Pedanda Sakti Manuaba terhadap pamangku terdahulu
sehingga hal ini diyakini oleh masyarakat sekitar secara turun temurun. Namun latar
belakang adanya bisama tersebut tidak diketahui secara pasti oleh masyarakat
sekitar.
Dari paparan sejarah tersebut di atas terdapat suatu kebohongan I Gusti
Ngurah Watulepang terhadap sang raja. Dari kebohongan yang dilaksanakan oleh
patih I Gusti Ngurah Watulepang diberhentikan sebagai patih kerajaan Gelgel.
Dengan diberhentikan sebagai patih I Gusti Ngurah Watulepang pada akhirnya
menaruh dendam terhadap Ida Pedanda Sakti Manuaba karena menganggap bahwa
beliaulah yang menjadi sebab diberhentikannya sebagai patih di kerajaan Gelgel.
Dari paparan di atas terlihatlah dendamnya I Gusti Ngurah Watulepang
terhadap Ida Pedanda Sakti Manuaba, sehingga memanfaatkan persaudaraan yang
kurang baik antara Ida Pedanda Teges dan Ida Pedanda Sakti Manuaba. I Gusti
Ngurah Watulepang menghasut saudara beliau Ida Pedanda Teges sehingga
menghasilkan persekutuan antara I Gusti Ngurah Watulepang dan Ida Pedanda
Teges dan selanjutnya menyerbu ke Desa Manuaba tempat Ida Pedanda Sakti
Manuaba menetap. Dalam penyerbuan tersebut mengakibatkan terbunuhnya Ida
Pedanda Sakti Manuaba di tengah sawah pada saat beliau sedang membajak
sawahnya. Dari sinilah muncul bisama Ida Pedanda Sakti Manuaba bahwa tidak
diperkenankan sulinggih untuk melakukan upacara di merajan beliau (sekarang
Pura Geria Sakti Manuaba).

3.2 Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Dalam pelaksanaan upacara yadnya tanpa sulinggih dilaksanakan di pura
geria sakti manuaba yang terdapat dalam teritorial Desa pakraman Manuaba.
Karena pelaksanaan upacara yadnya tanpa sulunggih di pura geria sakti manuaba
desa pakeraman manuaba maka, peneliti mendalami permasalahan tersebut dengan
melakukan penelitian saat dilaksanakan Piodalan di Pura Geria Sakti Manuaba
yang upacara atau piodalan di Pura Geria Sakti Manuaba dilaksanakan setiap enam

60
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

bulan sekali berdasarkan perhitungan pawukon dalam Agama Hindu di Bali yakni
dilaksanakan pada anggara kliwon medangsia yang pada saat peneliti melakukan
penelitian piodalan dilaksanakan pada tanggal 27 oktober tahun 2016.

3.3 Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Upacara Tanpa sulinggih
di Pura Geria Sakti Manuaba

Dalam pelaksanaan upacara tanpa sulinggih di Pura Geria Sakti Manuaba
tentunya ada nilai-nilai positif yang perlu dikaji, khususnya yang berkaitan dengan
nilai pendidikan Agama Hindu. nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang
terkandung dalam upacara tanpa sulinggih di Pura Geria Sakti Manuaba adalah 1)
Nilai pendidikan tattwa; 2) Nilai Pendidikan Upacara ; 3) Nilai pendidikan
Karakter.
a. Nilai Pendidikan Tattwa
Tattwa adalah hakekat dari suatu obyek yang nyata yang terdapat sari-sari
ajaran ke-Tuhanan. Menurut I Nyoman Sibang selaku pamangku di Pura Geria
Sakti Manuaba mengatakan bahwa:
“di pura ini tidak memperkenankan sulinggih untuk memimpin upacara nista
maupun yang uttama. Hal ini merupakan tradisi turun temurun yang bermula
dengan adanya bisama oleh Ida Pedanda Sakti Manuaba bahwa segala macam
upacara yang dilaksanakan di pura maupun di seluruh desa Manuaba beliau yang
memuput dari niskala dengan perantara saya sebagai pamangku Pura Geria Sakti
Manuaba sebagai pamuput sekala, tetapi saya sebagai pamangku Geria Sakti harus
terlebih dahulu meminta maklum kepada Ida Betara dalam hal ini Ida Pedanda Sakti
Manuaba untuk menyelesaikan upacara yang akan di selesaikan setelah itu saya
memohon tirta pamuput” (wawancara pada tanggal 19 April 2016).
Dari apa yang diutarakan oleh jero mangku I Nyoman Sibang dapat ditarik
kesimpulan bahwa yang muput (menyelesaikan) pujawali di Pura Geria Sakti
Manuaba ialah Ida Pedanda Sakti Manuaba sendiri yang berstana di pura ini. Jero
mangku hanya sebatas perantara untuk bertindak sebagai pemimpin pujawali yang
dilaksanakan di Pura Geria Sakti Manuaba.

61
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Di sisi lain yang di ungkapkan oleh Ida Bagus Putu Sudarsana selaku tokoh
praktisi agama Hindu (wawanara pada tanggal 19 April 2016) mengatakan bahwa:
“di Pura Geria Sakti Manuaba yang tidak memperkenankan sulinggih untuk
memimpin suatu upacara tertuang dalam sebuah Purana Ida Pedanda Sakti
Manuaba menjelaskan asal mula bisama tersebut. Dimana pada saat I Gusti Ngurah
Watulepang dan Ida Pedanda Teges membunuh Ida Pedanda Sakti Manuaba di
sawah dan di lihat oleh pengembala sapi. Pengembala sapi itu menolong Ida
Pedanda Sakti sehingga pada saat itulah Ida Pedanda Sakti Manuaba memberikan
bisama kepada pengembala sapi bahwa dia diberi wewenang untuk bertanggung
jwab keberlangsungan tempat suci beliau, dan pada selanjutnya tidak boleh lagi
wiku-wiku untuk menyelesaikan upacara di Pura Geria Sakti Manuaba beliaulah
yang akan menyelesaikan secara niskala dan pengembala sapi itu langsung dipakai
sebagai pamangku Pura Geria Sakti Manuaba. Hal ini dikarenakan saudara
beliaulah yang ikut terlibat dalam perencan aan pembunuhan beliau sehingga
bisama tersebut merupakan ungkapan sakit hati beliau kepada saudaranya tersebut”.
Dari paparan cerita tersebut terdapat nilai-nilai keyakinan (sradha) yang
dipercaya oleh masyarakat berupa sebuah sejarah tentang keberadaan bisama Ida
Pedanda Sakti Manuaba secara turun temurun sebagai sulinggih niskala sehingga
pujawali yang dilaksanakan di Pura Geria Sakti Manuaba tidak diperkenankan
sulinggih pada umumnya untuk memimpin pujawali karena sudah diselesaikan oleh
Ida Pedanda Sakti Manuaba sebagai sulinggih niskala. Dari kepercayaan berupa
bisama tersebut pujawali tanpa sulinggih di Pura Geria Sakti Manuaba dapat
berlangsung dengan ikmat yang dipimpin oleh pamangku pura yang merupakan
keturunan dari pemangku terdahulu yang mendapatkan bisama secara langsung
oleh Ida Pedanda Sakti Manuaba.

b. Nilai Pendidikan Upacara
Upacara tanpa sulinggih di Pura Geria Sakti Manuaba Desa Pakraman
Manuaba, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar dilaksanakan setiap enam
bulan sekali yang jatuh pada setiap rahina anggara kliwon medangsia. Pujawali
tanpa sulinggih ini mengacu pada ajaran raja yoga yang telah dijabarkan dalam

62
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

pelaksanaan upacara tersebut berupa ketulusan hati umat untuk beryadnya, yang
penuh dilandasi oleh rasa pengendalian diri ataupun tujuan upacara pujawali ini
adalah sebagai berikut:
1) Untuk memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar beliau
menganugrahkan kekuatan tapa (satyam) terhadap alam semesta beserta
segala isinya dan menganugrahkan kesejahteraan (sundaram) terhadap
makhluk ciptaannya.
2) Memberikan kesempatan kepada umatnya untuk berkarma yang subha
karma sebagai sarana peleburan dosa.
3) Untuk dapat mengamalkan wahyu Sang Hyang Widhi, melalui tuntunan
para Maha Rsi dengan cara mengundang, penghormatan dan memberikan
suguhan kepada para leluhur.
4) Memberikan kesempatan kepada umatnya agar dapat melaksanakan
penyupatan terhadap makhluk di luar kehidupannya.
5) Dapat dipakai sebagai media pendidikan baik bersifat moral maupun
spiritual dalam proses pembuatan sarana upakara sampai menghaturkan
upakara tersebut.

c. Nilai Pendidikan Karakter

Menurut kemendiknas 2010 dalam wibowo, mengatakan karakter adalah
watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari internalisasi
berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara
pandang berpikir, bersikap dan bertindak. Tidaklah sulit menemukan nilai-nilai
pendidikan karakter dalam budaya kita karena bangsa kita dikenal masih
menjungjung adat dan budaya leluhut timuran. Singkatnya nilai-nilai karakter mulia
itu dapat kita temukan dalam adat dan budaya hampir diseluruh suku bangsa di
negri ini.

Menurut kemendiknas nilai-nilai luhur yang terdapat di dalam adat budaya
suku bangsa kita telah dikaji dan dirangkum menjadi satu. Berdasarkan kajian

63
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

tersebut telah teridentifikasi butir-butir nilai luhur yang diinternalisasikan terhadap
generasi bangsa melalui pendidikan karakter. Ada 18 nilai-nilai yang
diinternalisasikan dalam pendidikan karakter diantaranya adalah : religius, jujur,
toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tau, semangat
kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta
damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Simpulan
1) Alasan di Desa Pakraman Manuaba tidak diperkenankan sulinggih untuk
memimpin piodalan yang dilaksanakan di Pura Geria Sakti Manuaba Desa
Pakraman Manuaba dikarenakan adanya bisama. Bisama ini merupakan
bentuk kekecewaan Ida Pedanda Sakti Manuaba kepada saudara beliau Ida
Pedanda Teges yang ikut merencanakan pembunuhan Ida Pedanda Sakti
Manuaba. Jadi dari cerita tersebutlah Piodalan atau upacara yadnya yang
dilaksanakan di Pura Geria Sakti Manuaba pada khususnya dan di Desa
Pakraman Manuaba pada umumnya tidak menggunakan sulinggih karena
dalam bisama tersebut Ida Pedanda Sakti Manuaba yang akan
menyelesaikan secara niskala,
2) Tempat dan pelaksanaan upacara tanpa sulinggih di Pura Geria Sakti
Manuaba dilaksanakan setiap enam bulan sekali yakni pada anggara kliwon
medangsia yang pada saat peneliti melakukan penelitian piodalan
dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober tahun 2016.
3) Nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam upacara
yadnya tanpa sulinggih di Pura Geria Sakti Manuaba pada khususnya dan
di Desa Pakraman Manuaba pada umumnya terdiri beberapa hal sebagai
berikut: 1) nilai pendidikan Tattwa; 2) Nilai pendidikan Upacara; 3)
Pendidikan karakter.

64
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

DAFTAR PUSTAKA

Arniati, Ida Ayu Komang. Dkk, 2007. Pendidikan Agama Hindu di Perguruan
Tinggi. Berdasarkan SK DIKTI No.38/ DIKTI/ KEP/ 2002. Surabaya:
Penerbit Paramita.

Agastia, I.B.G. 2001. Eksistensi Sadhaka Dalam Agama Hindu. Denpasar: Pustaka
Manik Geni.

Kajeng, I Nyoman, dkk. 1997.Sarasamuccaya dengan teks Bahasa Sanskerta dan
Jawa Kuna. Surabaya: Penerbit Paramita.

Moleung, Lexy. 2005.Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja rosada
Karya.

Ngurah, I Gusti Made, dkk.1999. Pendidikan Agama Hindu Untuk Perguruan
Tinggi. Surabaya: penerbit Paramita

Parisada Hindu Dharma Indonesia.1983.Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan
Tapsir Aspek-Aspek Agama Hindu I-XV.

Pudja, Gede. 1982/1983. Siwa Sesana. Jakarta: Mayasari Cv Gunung Jati.
Punyatmaja, Ida Bagus.1993. Dharma Sastra, Jakarta : Yayasan Dharma
Santi.

Rangga Natha. 2003. Agem-agem Kepemangkuan. Surabaya: Penerbit paramita.

Sudarsana, Ida Bagus Putu.2003. Ajaran Agama Hindu (sila kramaning pemangku
Denpasar.Yayasan Dharma Acarya Percetakan Mandara Sastra.
Sugiono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif R&G. Bandung:
Alfabeta.

Surayin, Ida Ayu Putu.2002. Dewa Yadnya. Surabaya: Paramita
Swami Prabupada, 1986. Bhagawadgita Menurut Aslinya. Jakarta: Timpenerjemah
bhagawadgita menurut aslinya

Wibowo, Agus. 2013.Pendidikan Karakter Di Perguruan Tinggi.Yogyakarta.
Pustaka Belajar.

65
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

KONTRIBUSI KOMPETENSI PROFESIONAL GURU, PENGELOLAAN
DIRI DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU
SMK NEGERI 2 KABUPATEN TABANAN

Ni Putu Sri Windari
Program Studi Pendidikan Seni Rupa
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali
e-mail: putusriwindari1@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara empirik hubungan
Kompetensi profesional guru, Pengelolaan Diri, dan Motivasi Kerja terhadap
Kinerja guru secara tersendiri dan simultan. Penelitian ini dirancang dalam desain
deskriptif korelasional expose-facto dengan memanfaatkan metode penelitian
yakni kuantitatif, berupa studi tentang persepsi guru guru di SMK Negeri 2
Kabupaten Tabanan. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kinerja guru
(Y), dengan menggunakan instrumen berupa angket yang dipergunakan untuk
menjaring data variabel bebas yaitu Kompetensi profesional guru (X1),
Pengelolaan Diri (X2), dan Motivasi Kerja (X3), dengan unit analisis adalah 32
orang guru sebagai populasi.
Analisis secara kuantitatif dengan menggunakan regresi linear berganda
menunjukkan bahwa (1) terdapat kontribusi yang positif dan signifikan
Kompetensi profesional guru terhadap Kinerja guru melalui persamaan garis
regresi Ŷ = 0,009 + 0,993X1 dengan Fhitung = 1,703 (p < 0,05) korelasi 1,000
dengan p < 0,05; kontribusi 10,0%; SE 11,23%; (2) terdapat kontribusi yang
positif dan signifikan Pengelolaan Diri terhadap Kinerja guru melalui persamaan
garis regresi Ŷ = 0,046 + 1,111X2 dengan Fhitung = 1,608 (p < 0,05), korelasi
1,000 (p < 0,05); kontribusi 9,9%; SE 2,93%; (3) terdapat kontribusi yang
positif dan signifikan Motivasi Kerja terhadap Kinerja guru melalui persamaan
garis regresi Ŷ = 0,046 + 1,104X3 dengan Fhitung = 2,417 (p < 0,05), korelasi
1,000 (p < 0,05) kontribusi 10,0% SE 3,61%; dan (4) terdapat kontribusi yang
positif dan signifikan Kompetensi profesional guru, Pengelolaan Diri, Motivasi
Kerja secara bersama-sama terhadap Kinerja guru melalui persamaan garis regresi
Ŷ = 0,001 + 0,673X1 + 0,151X2 + 0,206X3 dengan Fhitung = 8,152 (p < 0,05);
korelasi 1,000 (p < 0,05) kontribusi 10,0%.

Kata Kunci: Kompetensi Profesional Guru, Pengelolaan Diri, Motivasi Kerja,
Kinerja Guru

66
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Abstract
This study aims at reviewing the relation among teacher professionalism
competence, self-management, and working motivation upon teacher performance
empirically, individually, and simultaneously. This study is designed into the
expose-facto correlational descriptive design, involving the use of some research
method such as quantitative in a form of study about the perception of teachers in
SMK Negeri 2 Kabupaten Tabanan. The bound variable in this study is teacher
performance (Y) by using questionnaire instrument to drag some free variables
called as teacher professionalism competence (X1), self-management (X2), and
working motivation (X3), with the analyzing unit, is 32 teachers as the population.
The quantitative analysis by using double linear regression shows that (1)
there are positive and significant contribution on teacher professionalism
competence upon teacher performance through regression line equation Ŷ =
0,009 + 0,993X1 with Farithmetic = 1,703 (p < 0,05) correlation 1,000 with p <
0,05; contribution 10,0%; SE 11,23%; (2) there are positive and significant
contribution on self-management upon teacher performance through regression
line equation Ŷ = 0,046 + 1,111X2 with Farithmetic= 1,608 (p < 0,05),
correlation 1,000 (p < 0,05); contribution 9,9%; SE 2,93%; (3) there are
positive and significant contribution on working motivation upon teacher
performance through regression line equation Ŷ = 0,046 + 1,104X3 with F
arithmetic = 2,417 (p < 0,05), correlation 1,000 (p < 0,05) contribution 10,0%
SE 3,61%; and (4) there are positive and significant contribution on teacher
professionalism competence, self-management, working motivation along with
teacher performance through regression line equation Ŷ = 0,001 + 0,673X1 +
0,151X2 + 0,206X3 with F arithmetic = 8,152 (p < 0,05); correlation 1,000 (p
< 0,05) contribution 10,0%.

Keywords: Teacher Professionalism Competence, Self-Management, Working
Motivation Teacher Performance.

1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada hakikatnya merupakan upaya untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia sangat menentukan
perkembangan suatu bangsa. Keberhasilan dalam menghadapi persaingan global
juga ditentukan oleh mutu kemampuan sumber daya manusia. Untuk memperoleh
sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing perlu didukung
oleh sistem pendidikan yang baik dan bermutu.

67
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Pendidikan merupakan faktor penting dan strategis dalam meningkatkan
kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu pendidikan selalu mendapatakan
prioritas utama dalam pembangunan dan mendapatkan perhatian besar dari
pemerintah dan masyarakat, salah satunya tempat dimana proses pendidikan itu
akan berjalan yaitu sekolah. Dimana didalamnya terdapat orang-orang yang
beraktivitas langsung dengan dunia pendidikan yaitu siswa, guru, kepala sekolah,
wakil-wakil kepala sekolah, dan orang-orang lainya yang terlibat didalamnya.
Tentunya proses pendidikan akan berjalan dengan baik apabila didalam sekolah
tersebut terdapat sistem manajemen yang baik, hal ini sesuai dengan pengertian
manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya
organisasi lainya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Dari
Stoner dalam Imron (2012:14). Definisi lain dari manajemen dikemukakan oleh
Nurhadi Mulyani dalam Imron (2012:15) manajemen adalah suatu kegiatan atau
rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok
manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan sebelumya, agar efektif dan efesien.

2 Landasan Teori
2.1 Kompetensi Profesional Guru
Menurut Sugeng (2004:10) bahwa kompetensi profesional guru dapat
diartikan sebagai kemampuan seorang guru dalam melaksanakan tugas profesi
keguruan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi dengan sarana
penunjang berupa bekal pengetahuan yang dimilikinya. Karena dalam hal ini
adalah Kompetensi profesional guru pelaksanaan pembelajaran dapat diartikan
sebagai kemampuan seorang guru dalam melaksanakan tugas dalam pembelajaran
dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi dengan sarana penunjang
berupa bekal pengetahuan yang dimilikinya. Kompetensi merupakan perilaku
yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi
yang dipersyaratkan pula. Kompetensi sangat diperlukan untuk mengembangkan
kualitas dan aktivitas tenaga kependidikan.

68
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Menurut Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Jihad Hisyam
(2000) mengemukakan jenis kompetensi termasuk kompetensi profesional guru
meliputi: 1) Kompetensi profesional yaitu memiliki pengetahuan yang luas dari
bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode
pembelajaran dan penilaian yang diselenggarakan; 2) Kompetensi kemasyarakatan
yaitu mampu berkomunikasi, baik dengan siwa, sesama guru maupun masyarakat
luas; 3) Kompetensi personal yaitu memiliki kepribadian yang mantap dan patut
diteladani. Sementara itu, dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional,
pemerintah merumuskan permendiknas nomor.16 tahun 2007 bahwa kompetensi
profesional guru masuk dalam empat kompetensi yang harus dimiliki guru
profesional atau guru efektif meliputi: 1) Kompetensi pedagogik; 2) Kompetensi
kepribadian; 3) Kompetensi sosial; dan 4) kompetensi profesional. Secara
essensial pendapat tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang prinsipil letak
perbedaan hanya pada pengelompokan, dimana isi rincian kompetensi pedagogik
yang disampaikan oleh Depdiknas, menurut Raka Joni sudah teramu dalam
kompetensi profesional. Dalam penelitian ini karena berhubungan dengan
manajemen waktu mengikuti pendapat Raka Joni berkaitan dengan manajemen
waktu, sehingga menghasilkan guru efektif dan profesional. Guru efektif dan
profesional adalah guru yang mampu membawa siswanya dengan berhasil
mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hubungan ini Hasibuan (1986:41-42)
menyatakan bahwa: guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa
siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Pelaksanaan
pembelajaran di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses
komunikasi. Guru sebagai pemegang kunci (key person) sangat menentukan
proses keberhasilan siswa. Sebagai key person guru harus melaksanakan perilaku-
perilaku mengenai: (1) kejelasan dalam menyampaikan informasi secara verbal
maupun non verbal; (2) kemampuan guru dalam membuat variasi tugas dan
tingkah lakunya; (3) sifat hangat dan antusias guru dalam berkomunikasi; (4)
perilaku guru yang berorientasi pada tugasnya saja tanpa merancukan dengan hal-
hal yang bukan merupakan tugas keguruannya; (5) pemahaman guru dalam
menggunakan gagasan yang dikemukakan siswa dan pengarahan umum secara

69
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

tidak langsung; (6) perilaku guru yang berkaitan dengan pemberian kesempatan
kepada siswanya dalam mempelajari tugas yang ditentukan; (7) perilaku guru
dalam memberikan komentar-komentar yang terstruktur; (8) perilaku guru dalam
menghindari kritik yang bersifat negatif terhadap siswa; (9) perilaku guru dalam
membuat variasi keterampilan bertanya; (10) kemampuan guru dalam menentukan
tingkat kesulitan pengajarannya; dan (11) kemampuan guru mengelola waktu
pembelajarannya sesuai dengan alokasi waktu-waktu dalam perencanaan
pelaksanaan pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, konsep kompetensi profesional guru dapat
diartikan sebagai kemampuan dasar melaksanakan tugas keguruan yang dapat
dilihat dari kemampuan merencanakan program pelaksanaan pembelajaran beserta
pengelolaan waktunya, kemampuan melaksanakan atau mengelola pembelajaran,
dan kemampuan menilai proses pembelajaran.

2.2 Pengelolaan Diri
Banyak ahli telah memberikan definisi mengenai pengelolaan diri (self-
management) dengan pengertian yang cukup beragam. Namun secara prinsip
dalam pengelolaan anggapan bahwa individu merupakan orang yang dapat belajar
atau mengarahkan diri sendiri sangat ditonjolkan. Penekanan pada kemampuan
dan tanggungjawab itu tampak dari definisi-definisi yang dikemukakan oleh para
pakarnya. Shelton (1976) mengartikan pengelolaan diri mengacu pada perilaku
yang memberi kesempatan kepada individu mengambil tanggung jawab atas
tindakannya sendiri melalui memanipulasi terhadap kejadian-kejadian eksternal
maupun internal. Demikian pula Mahoney (dalam Krumboltz and Saphiro, 1979)
mengartikan bahwa pengelolaan diri mengacu pada hal yang mempengaruhi
perilaku individu. Senada dengan pengertian pengelolaan diri tersebut, Gie (1996)
mendefinisikan manajemen diri adalah segenap kegiatan dan langkah mengatur
dan mengelola dirinya dengan sebaik-baiknya untuk membawanya ke arah
tercapainya tujuan hidup ini. Demikian juga pandangan yang hampir sama
diungkapkan oleh Connier and Cormier (1985) yang mendefinisikan pengelolaan
diri sebagai suatu strategi yang mendorong supaya dapat mengarahkan perubahan

70
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

perilakunya sendiri dengan suatu metode terpentik atau kombinasi beberapa
metode. Manajemen diri juga didefinisikan oleh Prijosaksono (2003), sebagai
kemampuan individu untuk mengenali dan mengelola dirinya sehingga ia mampu
menciptakan realitas kehidupan sesuai dengan misi dan tujuan hidupnya. Begitu
pula pengelolaan diri yang didefinisikan oleh Yates (1985), secara prinsip tidak
jauh berbeda dengan beberapa pengertian pengelolaan diri yang telah disajikan
pada paragraf di depan. Pengelolaan diri menurut Yates (1985) adalah suatu
strategi yang mendorong individu supaya mampu mengarahkan perilaku-
perilakunya sendiri dengan tanggung jawab atas tindakannya untuk mencapai
kemampuan diri.
Berdasarkan beberapa pengertian pengelolaan diri yang telah diuraikan di
atas, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan diri merupakan suatu strategi untuk
mengubah perilaku individu, dengan cara meletakkan tanggung jawab pada
individu untuk mengarahkan perubahan perilakunya sendiri untuk mencapai
kemajuan diri.

2.3 Motivasi Kerja
Motivasi berasal dari kata motif yang berarti tenaga dari dalam diri
manusia yang menyebabkan individu mau bergerak atau bekerja (Soerjabrata,
dalam meter 2003:41). Senada dengan ini Sardiman (1990) berpendapat, motif
adalah daya pendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian,
motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak seseorang untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Sejalan dengan itu,
Mataheru (1985/1986) menyatakan motivasi berasal dari kata Latin movere yang
berarti to move atau menggerakkan. Selanjutnya Terry (1991) menyatakan bahwa
motivasi adalah upaya agar seseorang dapat menyelesaikan pekerjaan dengan
semangat.
Dalam pengertian yang lebih umum Hoy dan Miskel (1987)
mengemukakan, motivasi mengacu pada proses menentukan pilihan oleh seorang
individu di antara berbagai bentuk aktivitasnya yang bersifat sukarela. Dalam

71
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

hubungan ini, Luthans (1981) mengutarakan bahwa motivasi dapat berarti
kebutuhan, keinginan, maupun dorongan.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa motivasi
ialah keseluruhan kondisi intrinsik maupun ekstrinsik yang menjadi tenaga
penggerak bagi seseorang untuk mau dan ingin melakukan sesuatu. Dengan
demikian, motivasi kerja ialah keseluruhan kondisi intrinsik maupun ekstrinsik
yang menjadi tenaga penggerak sehingga seseorang mau bekerja sesuai dengan
harapan. Kondisi itu misalnya pemenuhan kebutuhan (Buford & Bedeian, 1988),
baik kebutuhan materi maupun non materi (Siagian, 1983). Dengan pemenuhan
kebutuhan tersebut, akan menimbulkan dorongan yang kuat menggerakkan
individu untuk mencapai tujuan (Zukdi, 1996). Ini mengandung makna, bahwa
semakin besar motivasi kerja guru akan semakin besar peluangnya untuk
mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

2.4 Kinerja Guru
Kinerja guru mempunyai spesifikasi tertentu. Kinerja guru dapat dilihat
dan diukur berdasarkan spesifikasi atau kriteria kompetensi yang harus dimiliki
oleh setiap guru. Berkaitan dengan kinerja guru, wujud perilaku yang dimaksud
adalah kegiatan guru dalam proses pembelajaran. Berkenaan dengan standar
kinerja guru Sahertian sebagaimana dikutip Kusmianto (1997: 49) dalam buku
panduan penilaian kinerja guru oleh pengawas menjelaskan bahwa:
“Standar kinerja guru itu berhubungan dengan kualitas guru dalam
menjalankan tugasnya seperti: (1) bekerja dengan siswa secara individual, (2)
persiapan dan perencanaan pembelajaran, (3) pendayagunaan media
pembelajaran, (4) melibatkan siswa dalam berbagai pengalaman belajar, dan (5)
kepemimpinan yang aktif dari guru”.
UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 39
ayat (2), menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang
bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada

72
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

perguruan tinggi. Keterangan lain menjelaskan dalam UU No. 14 Tahun 2005
BabIV Pasal 20 (a) tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa standar prestasi
kerja guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya, guru berkewajiban
merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu
serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Tugas pokok guru tersebut
yang diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar merupakan bentuk kinerja
guru.
Kinerja guru dapat dilihat saat dia melaksanakan interaksi belajar
mengajar di kelas termasuk persiapannya baik dalam bentuk program semester
maupun persiapan mengajar. Berkenaan dengan kepentingan penilaian terhadap
kinerja guru. Georgia Departemen of Education telah mengembangkan teacher
performance assessment instrument yang kemudian dimodifikasi oleh Depdiknas
menjadi Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Alat penilaian kemampuan
guru, meliputi: (1) rencana pembelajaran (teaching plans and materials) atau
disebut dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran); (2) prosedur
pembelajaran (classroom procedure); dan (3) hubungan antar pribadi
(interpersonal skill). Proses belajar mengajar tidak sesederhana seperti yang
terlihat pada saat guru menyampaikan materi pelajaran di kelas, tetapi dalam
melaksanakan pembelajaran yang baik seorang guru harus mengadakan persiapan
yang baik agar pada saat melaksanakan pembelajaran dapat terarah sesuai tujuan
pembelajaran yang terdapat pada indikator keberhasilan pembelajaran. Proses
pembelajaran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru mulai
dari persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran sampai pada tahap akhir
pembelajaran yaitu pelaksanaan evaluasi dan perbaikan untuk siswa yang belum
berhasil pada saat dilakukan evaluasi. Dari berbagai pengertian di atas maka dapat
disimpulkan definisi konsep kinerja guru merupakan hasil pekerjaan atau prestasi
kerja yang dilakukan oleh seorang guru berdasarkan kemampuan mengelola
kegiatan belajar mengajar, yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan membina hubungan antar pribadi
(interpersonal) dengan siswanya.

73
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

3 Metode Penelitian
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian ex post facto yang berbentuk
korelasional. Termasuk penelitian ex post facto karena variabel bebas dalam
penelitian ini tidak dikontrol secara langsung dan telah terjadi atau telah ada
sebelumnya atau karena tidak dapat dimanipulasi. Adapun tergolong penelitian
korelasional adalah karena penelitian yang dilakukan bermaksud mengetahui
korelasi antara Kompetensi profesional guru dengan Kinerja guru, korelasi
Pengelolaan Diri dengan Kinerja guru, korelasi Motivasi Kerja dengan Kinerja
guru dan secara bersama-sama korelasi antara Kompetensi profesional guru,
Pengelolaan Diri, dan Motivasi Kerja dengan Kinerja guru di SMK Negeri 2
Kabupaten Tabanan.

4 Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.1 Deskripsi Hasil Penelitian
Untuk mendapatkan gambaran mengenai karakteristik distribusi skor dari
masing-masing variabel, berikut disajikan skor tertinggi, skor terendah, harga
rerata, simpangan baku varian median, modus, histogram dan kategori masing-
masing variable yng diteliti. Untuk memudahkan mendiskripsikan masing-
masing variable, dibawah ini disajikan rangkuman statistik deskriptif seperti pada
tabel di bawah ini.

Tabel Rangkuman Statistik dari Variabel hubungan Kompetensi profesional guru,
Pengelolaan Diri, Motivasi Kerja terhadap Kinerja guru.
Variabel
X1 X2 X3 Y
Statistik
Mean 121,58 108,61 109,33 120,73
Median 63,00 58,00 58,00 64,00
Modus 68 52 64 59
Standar Deviasi 338,328 302,257 304,303 335,968
Varians 1,145 9,136 9,260 1,129
Rentangan 1954 1755 1761 1944

74
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Skor Minimum 52 37 43 48
Skor Maksimum 2006 1792 1804 1992
Jumlah 4012 3584 3608 3984

Rekapitulasi Hasil Pengujian Normalitas Sebaran Data dengan Uji Kolmogorov
Smirnov Taraf Signifikansi =0,05
Kolmogorov-Smirnov
Variabel (Lilliefors significsnce correction)
Statistic df Sig Keterangan
a. (X1)
0,526 32 0,000 Distribusi Normal

b. (X2) 0,524 32 0,000 Distribusi Normal

c. (X3) 0,528 32 0,000 Distribusi Normal

d. (Y) 0,526 32 0,000 Distribusi Normal

Berdasarkan Tabel di atas, terlihat bahwa untuk semua variabel
berdistribusi normal karena harga sig. pada Kolmogorov-Smirnov (a) > 0,05. Ini
berarti skor Kompetensi profesional guru, Pengelolaan Diri, Motivasi Kerja dan
Kinerja guru berdistribusi normal.

Matriks Interkorelasi antara Sesama Variabel Bebas
R X1 X2 X3
X1 1,00 0,582 0,692
X2 0,582 1,00 0,184
X3 0,692 0,184 1,00

Uji Signifikansi Koefisien Korelasi Parsial Variabel Hubungan
Kompetensi profesional guru (X1), Pengelolaan Diri (X2), dan Motivasi Kerja (X3)
secara bersama-sama terhadap Kinerja guru (Y).

75
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

dk
Korelasi Koefisien thitung Signifikansi. (N-m- Keterangan
Parsial Korelasi
1)
r1 y 23 0,677 6,458 0,000 32 Signifikan
r2 y 13 0,136 1,766 0,088 32 Signifikan
r3 y 12 0,187 2,151 0,040 32 Signifikan

rly-23 : Kontribusi variabel hubungan Kompetensi profesional guru
terhadap Kinerja guru dengan mengendalikan variabel
Pengelolaan Diri dan Motivasi Kerja.
r2y-13 : Kontribusi variabel Pengelolaan Diri terhadap Kinerja guru
dengan mengendalikan variabel Kompetensi profesional guru
dan Motivasi Kerja.
r3y-12 : Kontribusi variabel Motivasi Kerja terhadap Kinerja guru
dengan mengendalikan variabel Kompetensi profesional guru
dan Pengelolaan Diri.

5 Simpulan dan Saran
5.1 Simpulan
Beberapa temuan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Terdapat kontribusi yang positif dan signifikan Kompetensi profesional
guru terhadap Kinerja guru di SMK Negeri 2 Kabupaten Tabanan melalui
persamaan garis regresi Ŷ = 0,009 + 0,993X1 dengan Fhitung = 1,703(p <
0,05). Variabel Kompetensi profesional guru memberikan kontribusi
sebesar 10,0% terhadap terhadap Kinerja guru di SMK Negeri 2
Kabupaten Tabanan.
2) Terdapat kontribusi yang positif dan signifikan Pengelolaan Diri terhadap
Kinerja guru di SMK Negeri 2 Kabupaten Tabanan melalui persamaan
garis regresi Ŷ = 0,046 + 1,111 X2 dengan Fhitung = 1,608 (p < 0,05).
Variabel Pengelolaan Diri memberikan kontibusi sebesar 9,9% terhadap
Kinerja guru di SMK Negeri 2 Kabupaten Tabanan.

76
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

3) Terdapat kontribusi yang positif dan signifikan Motivasi Kerja terhadap
Kinerja guru di SMK Negeri 2 Kabupaten Tabanan melalui persamaan
garis regresi Ŷ = 0,046+ 1,104 X3 dengan Fhitung = 2,417 (p < 0,05).
Variabel Motivasi Kerja memberikan kontribusi sebesar 10,0% terhadap
Kinerja guru di SD Negeri 2 Kapal Kabupaten Badung.
4) Terdapat kontribusi yang positif dan signifikan antara Kompetensi
profesional guru, Pengelolaan Diri, dan Motivasi Kerja secara bersama-
sama terhadap Kinerja guru di SMK Negeri 2 Kabupaten Tabanan melalui
persamaan garis regresi Ŷ = 0,001 + 0,673 X1 + 0,151 X2 + 0,206 X3
dengan Fhitung = 8,152 dengan Fhitung = 8,152 > Ftabel (α = 0,05) = 4,15 dan
(α = 0,01) =7,50 dan (p<0,05). dengan kontribusi sebesar 10,0%.

5.2 Saran
Penelitian ini menemukan bahwa variabel Kompetensi profesional guru,
Pengelolaan Diri, dan Motivasi Kerja berkontribusi positif dan signifikan terhadap
Kinerja guru. Artinya, ketiga variabel bebas tersebut dapat memprediksi
keberhasilan Kinerja guru di SMK Negeri 2 Kabupaten Tabanan. Untuk itu, dapat
disarankan beberapa hal anrata lain :
Bagi Guru
a) Guru diharapkan untuk terus meningkatkan kemampuan dalam
mengembangkan komponen-komponen yang berkaitan dengan
perencanaan pembelajaran terutama dalam menyusun bahan ajar secara
logis, kontekstual dan mutakhir, serta dalam kegiatan perencanaan
kegiatan pembelajaran yang efektif.
b) Guru hendaknya dapat memanfaatkan sumber belajar/media dalam
pembelajaran dengan efektif sehingga tujuan dalam pembelajaran dapat
terlaksana dengan optimal.
c) Guru diharapkan dapat terus meningkatkan kemampuan dalam
melaksanakan penilaian pembelajaran karena selain untuk mengukur
kemampuan siswa, penilaian pembelajaran juga dapat digunakan sebagai

77
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

bahan pertimbangan dalam menyusun rancangan pembelajaran
selanjutnya.

Bagi Kepala sekolah
Kepala sekolah hendaknya mendorong dan memfasilitasi guru untuk
meningkatkan kompetensi profesional guru serta motivasi kerja dalam
meningkatkan kinerja guru di SMK Negeri 2 Kabupaten Tabanan.

DAFTAR PUSTAKA

Ary H. Gunawan. (2002). Administrasi Sekolah: Administrasi Pendidikan Mikro.
Jakarta: Rineka Cipta.

Buchari Alma. (2010). Guru Profesional: Menguasai Metode dan Terampil
Mengajar. Bandung: Alfabet.

Dwi Siswoyo, dkk. (2011). Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Eka Prihatin. (2011). Teori Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Engkoswara, Aan Komariah. (2011). Administrasi Pendidikan. Bandung:
Alfabeta. Hamzah B. Uno

E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005),

Suharto. “Peran Kepala Sekolah Dalam Pemberdayaan Guru”,
http://drssuharto.wordpress.com/2008/03/04/peran-kepala-sekolah-
dalampemberdayaan-guru/

Akdon. Strategic Management for Educational Management (Manajemen
Strategik untuk Manajemen Pendidikan), (Bandung: Alfabeta, 2007).

Depdiknas. (2001). Standar Kompetensi Dasar Guru. Jakarta : Ditjen Dikti.

Drs. E. Mulyasa, M.Pd, Menjadi Guru Professional, Menciptakan Pembelajaran
Kreatif Dan Menyenangkan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya: 2005)

Sudjana. 1996. Metoda Statistika Edisi ke.6. Bandung: Tarsito.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Alfabeta.

78
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Suarni, N.K.2004. Meningkatkan Motivasi Berprestasi Siswa Sekolah Menengah
Umum Bali dengan Strategi Pengelolaan Diri Model Yates. Disertasi.
Yogyakarta: Program Pasca Sarjana UGM.

Sugiyono, 1994. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.

Martoyo, Susilo. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: BPFE.
Fattah, Nanang. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

Gibson, James L 1983. Organisasi dan Manajemen. Terjemahan Djorban wachid.
Jakarta: Eriangga.

Gregory, Robert J. 2000. Psychological Testing History, Principle, and
Applications. Third Editions Boston, London, Toronton, Sydney, Tokyo,
Singapore: Allyn and Bacon.

Gordon, R. A. 1992. School Administration and Supervision. Iowa: Wm. C.
Brown Company Publishers.

Hasibuan, H. Melayu S.P. 2005. Manajemen. Bandung: Bumi Aksara.

Hoetomo. 2005, Kamus Bahasa Indonesia. Surabaya: Mitra Pelajar.

Husaini Usman. 2006. Manajemen Teori, Praktik, Yogyakarta: Bumi Aksara.

John M. Bryson. 1995. Strategic Planning for Public and Nonprofit
Organitation. San Francisco: Jossey-Bass Publishers

Munadi, S. 1994. "Kontribusi Unit Produksi Terhadap Program Pendidikan dan
Pengajaran di FPTK IKIP Yogykarta.” Laporan Penelitian Tidak
Diterbitkan. Yogyakarta: FPTK.

Nana Sudjana. 1999. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung: Sinar Baru
Algensinda.

Soepratman, Adhy. 1998. "Pengelolaan Administrasi Sekolah Menengah
Kejuruan". Makalah Disajikan dalam Pelatihan Calon Kepala SMK
Seluruh Indonesia Angkatan IV. Bandung: PPPG. Teknolog.

Sudarmanto, Gunawan. 2005. Analisis Regresi Linier Ganda dengan SPSS.
Yogyakarta: Graha Ilmu.

79
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-
PAIR-SHARE DENGAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME UNTUK
MENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA DISCUSSION TEXT
SISWA KELAS XII.MIPA 3 SEMESTER I DI SMA NEGERI 5
DENPASAR TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh
Putu Sudarmika
SMA Negeri 5 Denpasar

ABSTRAK
Penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SMA Negeri 5 Denpasar di
kelas XII MIPA 3 pada semester I tahun pelajaran 2015/12016 bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan membaca Discussion text siswa kelas XII.MIPA 3
SMA Negeri 5 Denpasar pada mata pelajaran bahasa Inggris dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Data hasil
penelitian ini dikumpulkan dengan cara pemberian tes membaca. Dalam
menganalisis data yang diperoleh menggunakan metode analisis deskriptif. Data
yang dihasilkan dari penelitian ini terdiri dari data siklus I dan data Siklus II.
Dimana jumlah siswa adalah 41 orang. Pada siklus I nilai rerata kelas adalah
80,17. Siswa yang mencapai nilai tuntas membaca baru mencapai 21 orang =
51,20%. Sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 20 orang = 48,80%.
KKM mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas XII MIPA 3 adalah 82,00. Pada
siklus II perolehan nilai rata-rata kelas mencapai 87,26 dan persentase ketuntasan
sudah mencapai 92,68%. Simpulan yang diperoleh adalah model pembelajaran
kooperatif tipe think-pair-share dapat meningkatkan kemampuan ajaran
2015/2016.

Kata Kunci : Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-pair-share,
Pendekatan Konstruktivis, Kemampuan Membaca Discussion
Text

Abstract
The classroom action research that had done to the students of class XII
MIPA 3 SMAN 5 Denpasar academic year 2015/2016 aims at improving the
studendts’ capability of reading Discussion Text on the English subject by
applying Think-Pair-Share Cooperative Learning model. The data of the research
was collected by giving reading test. The data analysis taken by using descriptive
analysis. It consists of first cycle data and second cycle data. The number of the
subject research consinst of 41 students. From the data analysis of the first cycle,

80
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

the capability of the students everage value was 80,17. The students who had got
minimal passing grade criteria consist of 21 sudents=51,20%. On the otherhand
the students who had not got minimal passing grade criteria consist of 20
students=48,20%. The minimal passing grade criteria of English subject at class
XII MIPA 3 was 82,00. On the second cycle the capability of the students everage
value was 87,26 which minimal passing grade criteria 92,68%. It can be
concluded that the application of Think-Pair-Share Cooperative Leraning Model
can improve the capability of reading Discussion text on English subject of the
students class XII MIPA 3 SMAN 5 Denpasar academic year 2015/2016.

Key words: Think-Pair-Share Coopertative Learning Model, Konstructive
Approach, the Capability of ReadingDiscussion Text.

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembelajaran merupakan salah satu bentuk proses interaksi yang terjadi
dalam setiap mata pelajaran. Proses pebelajaran merupakan interaksi langsung
antara guru dan siswa yang berkaitan utuk mencapai tujuan dari proses
pembelajaran yaitu prestasi yang maksimal. Pencapaian hasil belajar bahasa
inggris yang rendah tersebut dapat dijadikan sebagai satu indikasi kemampuan
membaca bahasa Inggris siswa masih kurang. Tetapi sering terjadi kesenjangan
antara kondisi harapan dengan kenyataan. Begitu juga yang terjadi dalam
pencapaian prestasi atau kemampuan siswa dalam membaca Discussion text masih
jauh dari harapan atau dari batasan minimal KKM bahasa Inggris. Penelitian
terhadap salah satu keterampilan berbahasa yaitu membaca merupakan hal yang
sangat kompleks (Sutriani, 2015).
Diperlukan berbagai upaya aktif dari pendidik dalam proses pembelajaran
yang efektif dan berdaya guna. Pembelajaran kooperatif dianggap lebih tepat
untuk kegiatan belajar manusia karena pembelajaran ini memberikan perhatian
pada perkembangan kognitif dan social afektif peserta didik, sebagaimana
konsep tujuan pendidikan nasional, dan empat pilar pembelajaran ; learning to
know, learning to do, learning to be dan learning to live together( Delors, 1996:
86). Proses pembelajaran di kelas akan berhasil jika dalam pelaksanaannya guru
memahami dengan baik metode, strategi, pendekatan dan model-model
pembelajaran yang konstruktivis. Hal-hal yang menyangkut persyaratan

81
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

kompetensi professional. Guru sebagai tenaga professional bertugas
merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbingan dan pelatihan (UNY, 2011: 1). Undang-undang No.14
Tahun 2005 tentang guru dan dosen pada Bab IV pasal 10 dan dalam peraturan
pemerintah nomor 19 Tahun 2005, menegaskan kompetensi pendidik dan tenaga
kependidikan. Kompetensi tersebut meliputi: (1) kompetensi pedagogik, (2)
kompetensi kepribadian, (3) kompetensi professional, dan (4) kompetensi social
(Depdiknas, 2005).
Dari uraian diatas implikasi yang dapat dilihat, Guru harus mampu
memahami tentang seorang murid yang membutuhkan bantuan dalam menapaki
tahapan perkembangannya. Guru yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan
pembelajaran di sekolah di kelas dan diluar kelas (Trianto, 2009). guru harus
memberikan pengetahuan bagaimana untuk mampu meningkatkan prestasi siswa.
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran terkadang kurang memberikan
kesempatan kepada peserta didik secara individual untuk memperoleh perlakuan
yang sama dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan
berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis mereka, belum
memperhatikan perbedaan kemampuan secara individu yang mengakibatkan
masih banyak siswa yang belum bisa mencapai ketuntasan belajar secara
individual dikarenakan perbedaan perlakuan. Jika kecenderungan ini disandarkan
pada tugas dan tanggungjawab serta standar kompetensi yang harus ditaati oleh
seorang guru tentu hal tersebut merupakan suatu tindakan yang keliru.
Semua hal yang sudah disampaikan di atas menunjukkan kondisi di pihak
guru yang harus betul-betul dipahami yang banyak berpengaruh terhadap
kemauan guru untuk memberikan pengetahuan yang terbaik bagi setiap siswa,
termasuk kemauan guru itu sendiri untuk menyiapkan bahan yang lebih baik,
menerapkan metode-metode ajar yang efektif banyak berdampak pada belum
tercapainya tingkat ketuntasan belajar siswa secara individual. Bertolak dari
kesadaran tersebut, guru harus berupaya dengan giat untuk memperbaiki kondisi
yang ada agar tingkat perkembangan kemampuan peserta didik tidak mengalami
gangguan pada tahapan berikutnya. Langkah pertama yang ditempuh adalah

82
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

melakukan observasi awal. Dari observasi ini diperoleh kenyataan hasil prestasi
belajar siswa kelas XII MIPA3 kemampuam membaca Discussion text bahasa
Inggris di semester I tahun pelajaran 2015/2016 baru mencapai nilairata-rata
kelas 80,17. Hasil yang didapat masih jauh dari standar minimal KKM yaitu
82,00.
Maka perlu adanya langkah perbaikan pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share menjadi pilihan utama
dengan pemberian tugas-tugas secara individual yang mampu menuntun anak-
anak mencapai penguasaan terhadap topik-topik bahasan sebelum semua bahan
dapat dipahami. Peneliti berkeinginan untuk menerapkannya dalam pembelajaran
sebagai solusi dalam mengatasi masalah kemampuan membaca Discussion text
Bahasa Inggris siswa kelas XII.MIPA.3 semester I di SMA Negeri 5 Denpasar.

1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Tujuan umum:
Untuk dapat mengetahui apakah model ini dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran setelah dibandingkan dengan model pembelajaran yang
telah digunakan serta untuk dapat memberi kontribusi terhadap dunia
pendidikan, khususnya dalam peningkatan kualitas pembelajaran.
2) Tujuan khusus:
Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
think-pair-share dengan pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan
kemampuan membaca Discussion text siswa kelas XII MIPA 3 SMA
Negeri 5 Denpasar tahun pelajaran 2015/2016?

1.3 Manfaat Penelitian
Penelitian bermanfaat sebagai acuan dalam memperkaya teori dalam
rangka peningkatan kompetensi guru. Sedangkan secara praktis penelitian ini
diharapkan bermanfaat:

83
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

1. Bagi siswa, dapat meningkatkan kemampuan membaca Discussion text
Bahasa Inggris dengan memanfaatkan model pembelajaran kooperatif think-
pair-share.
2. Bagi guru, menambah wawasan untuk meningkatkan profesionalisme guru
dengan mengadakan berbagai kegiatan ilmiah berupa penelitian dan
penulisan karya ilmiah.
3. Bagi sekolah, khususnya SMA Negeri 5 Denpasar sebagai informasi yang
berharga bagi teman-teman guru, kepala sekolah dalam rangka bersama-
sama memperbaiki kualitas pembelajaran dan mutu Pendidikan.

2 METODE PENELITIAN
2.1 Desain Penelitian
Pada intinya PTK bertujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata
dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas, yang dialami langsung
dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar (Suhardjono, dkk.,
2009: 39). Rancangan penelitian adalah rencana dan struktur penyelidikan yang
disusun sedemikian rupa sehingga peneliti akan memperoleh jawaban untuk
pertanyaan penelitiannya (Kerlinger, 1990 dalam Muslich, 2011: 144).
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan dari Elliot seperti
terlihat pada gambar berikut:

84
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Ide Umum Memperbaiki/
Mengubah

Reconnaissance Pengintaian/
Peninjauan
Rencana
Menyeluruh
Rencana
Rencana Menyeluruh
Tindakan 2 dst Menyeluruh

Tindakan 3 dst
Tindakan 1

Monitor dan
atau reconnaissance atau

atau

Tindakan 2 dst

Gambar 1. Alur Penelitian Tindakan Model Elliot (2000)
2.2 Seting, Subjek dan Obyek Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di SMA Negeri 5 Denpasar
yang berlokasi di Jalan Sanitasi Nomor 2 Sidekarya Denpasar Selatan. Subjek
penelitian ini adalah siswa kelas XII MIPA 3. Dengan jumlah siswa 41 orang,
terdiri dari siswa putra 25 orang dan siswa putri 16 Orang. Sedangkan objek
penelitian ini adalah kemampuan membaca Discussion text pada siswa kelas XII
MIPA 3 SMA Negeri 5 Denpasar Tahun Ajaran 2015/2016

2.3 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan metode tes dan metode observasi. Tes
dapat juga diartikan sebagai alat pengukuran yang mempunyai standar sehingga
dapat digunakan secara luas, serta dapat digunakan untuk mengukur dan
membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu ( Ismawati, 2011:

85
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

90). Dengan langkah- langkah sebagai berikut: (1) penentuan jenis tes, (2)
penyusunan tes, (3) pensekoran hasil tes, dan (4) pelaksanaan tes.
Metode observasi adalah instrument lain yang sering dijumpai dalam
penelitian pendidikan( Darmadi. H., 2013: 305). Observasi merupakan suatu
proses yang kompleks, yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis
(Sugiyono, 2012: 203). Observasi digunakan untuk mengamati segala aktivitas di
kelas. Metode ini digunakan untuk pengumpulan data mengenai respon siswa
terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share
dengan pendekatan konstruktivisme Untuk meningkatan kemampuan
membaca Discussion text siswa kelas XII MIPA 3 semester I Di SMA
Negeri 5 Denpasar tahun Pelajaran 2015/2016

2.4 Analisis Data
Dari hasil penilaian yang telah dilakukan pada tahap satu didapatkan hasil
yang dapat di deskripsi sebagai berikut: dari 41 siswa ada 21 (51,20%) siswa yang
memperoleh penilaian sesuai serta diatas KKM dimana mereka sudah mampu
melakukan apa yang disuruh. Ada 20 orang (48%) siswa yang belum mencapai
KKM. Data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan siswa belum sesuai
indikator keberhasilan penelitian. Analisis kuantitatifnya menggunakan data
adalah dalam bentuk angka sebagai berikut: nilai rata-rata siswa 80,17. Pada
siklus I dan perbandingan dengan nilaia KKM dapat dilihat

86
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Pada Gambar grafik 2 sebagai berikut

90 80,17 82
80
70
60
50
40
30
20
10 0
0
Nilaia Rerata Kelas
Dengan Nilai KKM

Gambar 2.Histogram Nilai rerata dan nilai KKM Bahasa Inggris Siswa Kelas
XII.MIPA.3 Pada Siklus I

Dari Gambar 2. Histogram kemampuan membaca Discussion Text
Bahasa Inggris Siswa Kelas XII.MIPA.3 semester I tahun pelajaran 2015/2016
SMA Negeri 5 Denpasar pada Siklus I. dari garafik histogram diatas dapat di
jelaskan dari 41 siswa yang diteliti ternyata hasilnya belum sesuai hanya 21
(51,20%) siswa yang sudah mampu melakukan tanpa dibantu. Dari analisis data
tersebut dapat diberikan sintesis bahwa masih kurang dari 80% siswa yang
prestasinya sesuai harapan KKM mata pelajaran Bahasa Inggris hal tersebut
berarti belum semua indikator yang diharpakan dicapai oleh siswa-siswa
Secara kualitatif hasil yang diperoleh dapat dijelaskan : dari 41 siswa yang
diteliti ada 3g (95%) siswa yang mendapat nilai diatas KKM artinya mereka sudah
mampu menguasai materi-materi yang diberikan dan mereka sudah berkembang
sangat baik melebihi indikator yang dituntut. walaupun sudah kebanyakan siswa
yang berhasil namun masih ada 3 (5%) siswa yang mendapat nilai dibawah KKM
namun tidak begitu banyak. Untuk siswa tersebut harus diberi bimbingan yang
lebih giat lagi. Data ini menunjukkan bahwa keberhasilan sesuai yang dituntut
indikator sudah dapat diupayakan. Setelah diberikan gambaran terhadap perolehan

87
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

data secara kualitatif kemudian dilanjutkan dengan analisis kuantitatif seperti
berikut yang disajikan dalam gambara 3 garafik siklus II sebagai berikut:
100

90

80

70

60

50
87,26
40 82

30

20

10

0
Nilai Rerata Nilai KKM

Gambar 3. Histogram Peningkatan Kemampuan Membaca Discussion text
Bahasa Inggris Siswa Kelas XII.MIPA.3 Siklus II
Peningkatan kemampuan membaca Discussion text pada siklus II ini adalah 38
siswa yang diteliti ternyata hasilnya sudah sesuai dengan harapan, dimana siswa
memperoleh nilai rata-rata 87,26 sedangkan prosentase ketuntasan belajarnya
sudah mencapai 92,68% dan sudah melebihi prosentase yang dipersyaratkan yaitu
80%. Dari perkembangan tersebut diketahui hampir semua siswa sudah sangat
mampu meningkatkan membacan. Dari semua data yang sudah diperoleh tersebut
dapat diberikan sintesis bahwa keberhasilan sudah dapat dicapai, hal tersebut
berarti indikator yang diharapkan dicapai oleh siswa SMA Negeri 5 Denpasar
kelas XII.MIPA.3 sudah tercapai. Pada Siklus II ini proses pembelajaran sudah
bisa dikatakan berhasil, inovasi sudah diupayakan secara maksimal, kreativitas
dalam mengajar sudah maksimal. Dari pelaksanaan tersebut diperoleh hasil pada
siklus II dimana sudah hampir semua siswa mampu meningkatkan kemampuan
membaca Discussion text bahasa Inggris. Semua kekurangan-kekurangan yang
ada sudah diperbaiki pada siklus ini. Data yang diperoleh pada siklus II ini

88
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

menunjukkan bahwa penelitian ini tidak perlu dilanjutkan lagi ke siklus
berikutnya karena tuntutan indikator keberhasilan penelitian yang merancangkan
80% siswa atau lebih dapat mencapai prestasi sesuai harapan hasilnya sudah
92,68% siswa berhasil.

3 PEMBAHASAN
Pembahasan hasil penelitian ini akan difokuskan pada temuan –temuan
yang berkaitan dengan meningkatnya kemampuan membaca Discussion text
siswa kelas XII MIPA 3 semester I Di SMA Negeri 5 Denpasar Tahun
Pelajaran 2015/2016. Dari kegiatan awal Aspek kompetensi yang dibahas dari
pelaksanaan awal adalah semua kekurangan-kekurangan yang telah dilakukan
pada saat pelaksanaan pembelajaran tersebut. hasil yang diperoleh dari siklus I
dan II
Dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share sebagai
pengganti model yang konvensional dan sudah berjalan bertahun-tahun tanpa
perubahan untuk itu peneliti mempelajari teori-teori model yang modern sebagai
uoaya inovasi dengan membuat perencanaan yang lebih baik untuk diterapkan
dalam proses belajar mengajar. Berpedoman pada hasil tes membaca Discussion
text, siswa dapat memahami apa yang sudah dipelajari. Nilai rata-rata siswa di
siklus I sebesar 80,17 dengan ketuntasan belajar 51,20%. Masih berada dibawah
KKM 82. mata pelajaran Bahasa Inggris. Dengan penerapan model pembelajaran
kooperatif Tipe Think-Pair-Share untuk meningkatan kememampuan membaca
Discussion text Siswa Kelas XII.MIPA 3 Semester I di SMA Negeri 5 Denpasar
Tahun Pelajaran 2015/2016.
Pembahasan yang diperoleh dari tes prestasi belajar siklus II. Setelah
menyempurnakan hal-hal yang lemah dan dengan implementasi model
pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share maka hasil yang diperoleh dari tes
membaca Discussion text di siklus II menunjukkan bahwa kemampuan siswa
dalam mengikuti pelajaran sudah cukup baik. Ini terbukti dari rata-rata nilai siswa
mencapai 87,26. Dengan persentase ketuntasan mencapai 92,68%. Hasil ini

89
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share telah
berhasil meningkatkan kemampuan siswa Discussion text bahasa Inggris.
Setelah dikomparasi hasil yang diperoleh nilai awal, nilai siklus I dan nilai siklus
II, terjadi kenaikan yang signifikan, yaitu dari rata-rata nilai awal adalah 80,17
pada siklus I menjadi 87,26 pada siklus II. Kenaikan nilai ini adalah akibat
penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share Dengan
Pendekatan Konstruktivisme Untuk Meningkatan Kemampun Membaca
Discussion Text Siswa Kelas XII.MIPA 3 Semester I Di SMA Negeri 5
DenpasarTahun Pelajaran 2015/2016 dengan upaya yang maksimal yang
dilaksanakan demi peningkatan mutu pendidikan dan peningkatan prestasi belajar
siswa kelas XII.MIPA.3 SMA Negeri 5 Denpasar yang lebih berkualitas.

3 SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian. Maka
dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share dengan pendekatan konstruktivisme untuk meningkatan
kemampuan membaca Discussion text siswa kelas XII MIPA 3 semester I
di SMA Negeri 5 Denpasar tahun pelajaran 2015/2016. Dari data pada siklus
I dimana nilai rata-rata siswa pada siklus I 80,17 meningkat menjadi 87,26 rata-
rata nilai siswa pada siklus II. Dan begitu juga presentase ketuntasan siswa pada
siklus I 51,20% pada siklus II nilai rata-rata siswa 87,26 dan persentase
ketuntasan menjadi 92,68%. Hasil ini memberi gambar terhadap diterimanya
hipotesis penelitian yang telah diajukan. penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Think-Pair-Share Dengan pendekatan konstruktivisme
meningkatan kemampuan membaca Discussion text Siswa Kelas XII.MIPA 3
Semester I Di SMA Negeri 5 Denpasar Tahun Pelajaran 2015/2016. Bahwa
model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share telah dapat dibuktikan
keberhasilan sesuai tuntutan rumusan masalah dan tujuan penelitian.

90
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

3.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disampaiakan beberapa
saran sebagai berikut:
1. Kepada teman guru pengajar mata pelajaran Bahasa Inggris disarankan
untuk mencoba model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share
dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca Discussion text siswa.
2. Kepada kepala sekolah disarankan untuk memberi pemahaman agar guru
mau melaksanakan pembelajaran dengan langkah-langkah model
pembelajaran yang sudah diteliti.
3. Kepada pengawas agar membina guru-guru di wilayah binaannya agar
mencoba model pembelajaran ini.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi; Suhardjono; Supardi- 2006. Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: PT Bumi Aksara.

BSNP. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP.

Darmadi. H., 2013. Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial. Bandung: Alfabeta

Delors, 1996. Learning The Treasure Within. Oaris. UNESCO

Elliott, 2000. Education Psychology: Effective Teacing , Effective Learning.
Boston: Mc. Graw Hill

Ismawati, 2011. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra. Surakarta:
Yuma Pustaka.

Sugiyono,2012. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Sutriani, 2015. Metode Pembelajaran Kooperatif dan Teknik Penilaian
Rubrik:Pengaruhnya terhadap hasil belajar Menulis Bahasa Inggris
Setelah mengontrol pengetahuan Awal Siswa. Jurnal Penelitian dan
Pendidikan. Vol 1. Nomor 1. Hal 2.

Trianto, 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif- Progressif. Jakarta:
kencana Predana Media Group.

UNY, 2011. Panduan Pengajaran Mikro. Yogyakarta: UNY

91
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

EKSISTENSI TARI SANGHYANG JARAN DI BALI
SEBAGAI KESENIAN SAKRAL YANG RELIGIUS

oleh
Komang Indra Wirawan
Program Studi Seni Drama Tari dan Musik
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
IKIP PGRI Bali

Abstrak
Bagi masyarakat Bali, seni tari yang merupakan bagian dari sistem kesenian
sudah sangat menyatu dalam nafas kehidupan masyarakat. Pementasan seni tari
sakral di Bali juga erat sekali dengan unsur kebudayaan lainnya terutama unsur
religi dan kepercayaan, yakni dalam pelaksaan upacara keagamaan. Upacara
Panca Yajña yang dilaksanakan masyarakat Bali yang beragama Hindu pada
umumnya disertai dengan pementasan tari sakral. Tari Sanghyang Jaran adalah
salah satu tari sakral merupakan peninggalan dari kebudayaan Pra Hindu, tari ini
merupakan tari kerauhan atau trance dance. Tari Sanghyang Jaran dengan gerak
dan lagu pengiring yang sederhana namun memiliki makna yang mendalam.
Simbol-simbol dalam kesederhanaan itu mampu membuat penarinya kerauhan
atau trance dan bergerak seperti tokoh yang dilakonkan. Sebagai penolak bahaya
dengan cara membuka komunikasi spiritual antara manusia dengan mahluk-
mahluk gaib untuk menjaga keseimbangan semesta. Di samping tarian tersebut
mengandung nilai pendidikan estetika seni sakral yang tinggi.

Kata Kunci: Tari Sakral Sanghyang Jaran, Tari Sakral-Magis.

Abstract
For the Balinese, the art of dance that is part of the art system has been
very united in the breath of people's lives. Staging sacred dance in Bali also
intimately with other cultural elements, especially the element of religion and
belief, that is, in the exercise of religious ceremonies. Ceremony held Panca
Yajña in Hindu Bali society generally accompanied by a sacred dance
performance. Jaran Trance Dance is one of the sacred dance is a relic of Pre
Hindu culture, this dance is a dance trance or trance dance. Sanghyang Jaran
dance with movement and song accompaniment that is simple but has profound
significance. The symbols in the simplicity of being able to make or trance and
trance dancers move like figures. As repellent danger by opening the spiritual
communication between humans and supernatural beings to maintain the balance

92
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

of the universe. In addition to the dance contains sacred art aesthetic value of
education is high.

Keywords: Sacred Dance Sanghyang Jaran, Sacred-magic Dance.\

1 PENDAHULUAN
Bagi masyarakat Bali, seni tari merupakan bagian dari sistem kesenian
yang sudah menyatu dalam nafas kehidupan masyarakat. Pementasan seni tari di
Bali juga erat sekali dengan unsur kebudayaan lainnya terutama unsur religi dan
kepercayaan. Umunya setiap pementasan seni sakral selalu berhubungan dengan
upacara keagamaan Panca Yajña. Oleh karena itu, masyarakat Bali mempunyai
berbagai jenis tari-tarian yang dipentaskan sesuai dengan makna-makna
pelaksanaan upacara Agama. Ada tari atau tarian yang bersifat khusus atau sakral
(tari wali). Selanjutnya ada jenis tari yang hanya untuk hiburan semata (balih-
balihan). Demikian pula ada jenis tarian yang dapat dipentaskan, baik sebagai
pelengkap upacara dan hiburan (bebali).
Kemudian tari Sanghyang Jaran sendiri merupakan salah satu jenis tari
sakral. Berdasarkan genealogis historikalnya, tari Sanghyang Jaran merupakan
peninggalan dari kebudayaan Pra Hindu (Bandem,2010:19). Tari Sanghyang
Jaran juga diidentikan dengan tari kerauhan atau trance dance. Hal tersebut
dikarenakan penari pada waktu menari kemasukan Hyang (spirit) yang
menyebabkan mereka tidak sadar. Spirit yang memasuki berbeda-beda, seperti
spirit bidadari, spirit kuda, spirit babi dan lain-lain. Pakaiannya, perhiasannya,
penarinya memiliki perbedaan antara Sanghyang yang satu dengan yang lainnya.
Demikian juga sejarah, sarana, makna filosofisnya serta fungsinya ada
perbedaannya.
Masyarakat Bali memiliki kepercayaan yang kuat, bahwa wabah atau
merana hanya akan dapat diredam dengan mementaskan tarian sakral yang
mengandung kekuatan magis. Salah satunya adalah mementaskan tari Sanghyang
Jaran. Dengan kata lain, tari Sanghyang Jaran ini ditarikan dengan tujuan utama
untuk menolak segala macam bencana dan wabah penyakit. Sebagaimana tari
Sanghyang lainnya, tari Sanghyang Jaran juga diidentikan dengan kerauhan, dan

93
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

kerauhan menjadi pertanda bahwa kekuatan atau spirit (Hyang) akan dapat
menetralisir kekuatan negatif yang menyebabkan penyakit.
Namun, tarian ini belakangan sedang dicemaskan akan punah akibat
derasnya gempuran budaya global yang menyerang hampir seluruh segi
kehidupan orang Bali saat ini. Selain adanya pengaruh budaya baru, masyarakat
Bali dewasa ini terkesan “nyampahang” terhadap keberadaan tari Sanghyang
Jaran. Namun demikian, jenis tari ini masih tetap bertahan dibalik pengaruh
budaya global yang lebih menonjolkan sikap rasionalitas. Berkenaan dengan hal
itu, untuk meningkatkan kembali kepercayaan dan keyakinan umat Hindu
terhadap kereligiusan tarian Sanghyang Jaran, maka dalam penelitian ini akan
ditelaah Sanghyang Jaran sehingga menemukan sebuah pemhaman, bahwa tarian
sakral memeliki peranan penting dalam sistem keberagamaan di Bali.

2 PEMBAHASAN
2.1 Bentuk Tari Sakral Sanghyang Jaran
Uraian sebelumnnya telah menjelaskan bahwa, tari Sanghyang merupakan
salah satu bentuk tarian sakral, dan tari Sanghyang merupakan tarian kerawuhan
atau kesurupan atau trance yang umumnya para penari kemasukan roh-roh halus
dari kahyangan (Sanghyang), widyadara-widyadari, kuda, anjing, naga (ular),
kera, babi, dan lain-lain dengan menggunakan sarana berbentuk patung sesuai
Sanghyang yang diharapkan hadir. Disebutkan pula ada beragam tarian
Sanghyang yang terdapat di Bali, dan kesemuanya itu merupakan jenis tari sakral
yang hanya dipentaskan pada hari tertentu.
Sama halnya pula tari Sanghyang Jaran hanya dipentaskan pada hari
tertentu, yakni pada hari Purnama dan Tilem. Khusus saat Tilem keenem
dilakukan prosesi upacara Nangluk Merana atau upacara penolak segala macam
penyakit, dan tari Sanghyang ditarikan sebagai media untuk mengusir segala
macam merana atau wabah penyakit. Selain itu, secara keseluruhan bentuk tari
sakral Sanghyang Jaran menggunakan media berupa patung yang berbentuk
Jaran atau kuda yang diyakini oleh masyarakat Bali sebagai roh kuda suci, yakni
wahana atau tunggangan dari para dewata. Di samping itu, masyarakat Bali

94
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

meyakini bahwa roh yang memasuki penari adalah rencang atau bawahan Ida
Bhetara. Senada dengan itu, Suarningrat (dalam Parmajaya, 2007:66),
menguraikan bahwa tarian Sanghyang Jaran pada umumnya adalah penari
dimasuki roh kuda suci tunggangan para dewata yang dari sorga.
Penari Sanghyang Jaran berbeda dengan tarian Sanghyang Dedari yang
notabene ditarikan oleh para wanita. Akan tetapai tari Sanghyang Jaran ditarikan
oleh pria yang pada saat menari telah dirangsuki oleh roh kuda, sehingga penari
mengalami trance dan bergerak berjingkrak serta meringkik selayaknya kuda.
Penari memegang boneka kuda yang digerakkan sedemikian rupa sesuai dengan
ritme kosmik dan iringan musik serta nyanyian lagu mistik. Boneka atau patung
menyerupai kuda ini diyakini memiliki kesakralan yang tidak sembarangan
ditarikan, oleh karena itu penari adalah penari khusus dari roh kuda yang suci
tersebut. Sebagiaman Bandem (dalam Watra, 2007:87) menyebutkan bahwa tarian
Sanghyang merupakan peninggalan budaya para Hindu yang tidak dapat
dipentaskan oleh sembarang orang.
Ciri fundamental dari tari Sanghyang Jaran yang penarinya dalam menari
menggunakan media berupa patung kuda-kudaan dengan beragam varian. Patung
kuda yang berwarna putih simbol atau pralambang dari Bhatara Siwa, kuda-
kudaan selem atau hitam adalah simbol dari Bhatara Dalem, kuda-kudaan gading
atau kekuning-kuningan simbol Bhatara Ngrurah Agung dan patung naga simbol
Bhatara Dalem. Secara keseluruhan media berupa patung kuda atau Jaran yang
digunakan oleh penari Sanghyang terbuat dari kayu Kepuh dengan harapan agar
kekuatan Ida Sanghyang Widhi dapat dihadirkan, dan dipentaskan pada tiap
Pujawali di Pura, Sasih keenem sampai Kesanga serta Purnama Tilem. Sebelum
dijadikan sebagai media manari, Sanghyang Jaran yang berupa kuda tersebut
terlebih dahulu disakralisasikan melalui prosesi ritual pemasupatian, sehinggga
patung kuda-kudaan tersebut memiliki roh atau spirit. Melalui prosesi ritual
pemasupatian tersebut diyakini bahwa patung yang menyerupai kuda tersebut
adalah sakral dan dapat menghadirkan roh suci kuda sebagai wahana dari para
dewata untuk memberikan anugrah dan menghilangkan segala macam wabah
penyakit.

95
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

2.2 Fungsi Tari Sakral Sanghyang Jaran
Masyarakat Hindu Bali memiliki beragam bentuk ritual Yajña yang
kesmuanya dijiwai oleh relegiusitas Hindu. Adanya keragaman bentuk ritual,
masyarakat Hindu di Bali mendapatkan penguatan yang tidak terbantahkan,
sehingga aktifitas keberagamaan khususnya agama Hindu sampai kapanpun dapat
ditemukan. Sebagaimana diungkapakan Lekkerkeker (dalam Goris, 2012 : 1),
menjelaskan bahwa masyarakat Bali mendapatkan penguatan yang tidak dapat
dipatahkan akibat dari adanya aktifitas keberagmaan yang sudah tentu mendapat
pengaruh yang kuat dari agama Hindu.
Keragaman bentuk ritual diimbangi dengan banyaknya tradisi seni sakral
yang semakin memberikan impunitas akan kebertahanan masyarakat Hindu Bali
dari berbagai serangan ideologi lain. Tradisi seni sakral yang mengejawantah
dalam berbagai bentuk tersebut salah satunya adalah tari sakral. Tari sakral selalu
memberikan sentuhan yang kuat sehingga dapat dinyatakan bahwa masyarakat
Bali adalah masyarakat yang relegius. Seni tari sakral adalah sebuah media yang
berfungsi sebagai ungkapan totalitas bathiniah, ungkapan ekspresi seni, dan
berfungsi sebagai ungkapan perwujudan imajinasi (Aryasa, 1999 : 82). Adapun
tarian sakral biasanya dilakukan melalui proses upacara keagamaan (pasupati),
dari materi atau bahan yang kotor (dianggap tidak berjiwa) setelah benda-benda
itu berwujud seni, melalui insiasi dan sebagai benda yang telah memiliki kekuatan
gaib, suci, angker, sakti, dan melindungi. Tari yang sifatnya sakral ini tidak
direkayasa seperti diperlukan kereografi, tema cerita dan tidak untuk hiburan.
Atribut-atribut yang dipergunakan penari ini juga melalui suatu proses inisiasi
upacara keagamaan (dipasupati), dan tarian ini hanya ditarikan pada hari-hari
tertentu yang dianggap keramat.
Selain itu, tari sakral pada umumnya memiliki fungsi tersendiri yang
diidentikkan dengan sesuatu yang bersifat magis, sehingga tari sakral
keberadaanya sangat dikeramatkan. Demikian juga tari Sanghyang Jaran
memiliki fungsi tersediri. Fungsi tersebut akan ditemukan jika dikaji lebih dalam
dan secara eksplisit bertendensi pada keyakinan masyarakat setempat bahwa

96
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

ditarikannya Ratu Sanghyang ini adalah untuk memohon waranugraha agar
keseimbangan alam dapat terwujud dan tersucikan. Berikut akan diuraikan
beberapa fungsi yang fundamental dari tari Sanghyang Jaran.

1) Fungsi Religius
Koentjaraningrat (1987: 57), menyebutkan bahwa religi dan upacara religi
merupakan suatu unsur yang penting bagi kehidupan sosial kemasyarakatan.
Aspek religi merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia berawal dari
keyakinan manusia akan kekuatan yang ada di luar diri manusia, demikian juga
kekuatan yang bersifat gaib. Disamping itu religi bermula, ketika manusia
terkagum dan terpesona akan kekuatan gaib dan ada ketertarikan untuk bersatu
dengan yang gaib (Koentjaraningrat, 1987 : 66).
Selain dari pada itu, religi merupakan aspek penting dan bermakna yang
secara genealogis bermula dari keyakinan manusia yang berimplikasi pada ritus
upacara. Kebaradaan upacara religi atau agama ini secara eksplisit merupakan
media untuk membangun solidaritas masyarakat. Meminjam uraian Smith (dalam
Koentjaraningrat, 1987: 67), bahwasannya upacara religi dan agama, yang pada
umumnya dilaksanakan oleh banyak masyarakat pemeluk religi atau agama yang
bersangkutan bersama-sama memiliki fungsi sosial untuk mengintensifkan
solidaritas masyarakat. Oleh karena itu, aspek religi adalah tidak dapat dipisahkan
dari keyakinan manusia akan kekuatan alam dan guna menjalani keyakinan
tersebut, upcara religi tidak dapat dipisahkan untuk membangun kekhusukkan
solidaritas bermasyarakat. Berlatar pada keyakinan tersebut, manusia dapat
dikatakan sebagai makhluk yang religius. Sebagai manusia yang religius, manusia
akan selamanya meyakini kekuatan alam sebagai sesuatu yang gaib.
Sesugguhnya keberadaan tari Sanghyang Jaran adalah menumbuhkan
kembali sisi religius manusia seperti yang diungkapkan di atas. Selamanya tidak
akan bisa manusia melakukan penafikkan akan keberadaan kekuatan gaib yang
ada di luar diri manusia. Kekuatan gaib yang dimunculkan oleh alam yang
terkadang sangat tidak rasional dapat dimunculkan kembali melalui tari
Sanghyang Jaran sehingga manusia menyadari akan hakikat dirinya sebagai

97
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

manusia yang religius sekaligus menyadari realitas yang nyata dan tidak nyata (sat
dan asat). Kekuatan yang tidak terlihat itulah sebenarnya realitas yang nyata,
sebagaimana Sankaracharya (dalam Maswinara, 1999 : 182), menyebutkan
bahwasanya segala yang ada dan dapat disentuh dengan indera adalah relatif,
sementara dan tidak nyata, akan tetapi yang tidak ada, tidak nampak oleh mata,
yang gaib merupakan kekuatan yang nyata atau kekal. Ungkapan Sankaracharya
tersebut adalah esensi dari pengetahuan Advaita Darsana, yang secara implisit
menyatakan bahwa yang tidak nyata atau non eksis adalah eksis sesugguhnya.
Realitas yang nyata-tidak nyata atau yang sementara-kekal di Bali
dituangkan dalam konsep Sekala dan Niskala. Segala yang berkenaan dengan
kekuatan gaib disimbolkan sebagai yang Niskala dan diidentikkan dengan sesuatu
yang bersifat abstrak, yang manusia sendiri tidak dapat mendeskripsikan atau
mendefinisikan. Oleh sebab itu, Hindu Bali meyakini bahwa kegaiban adalah
salah satu dari aspek Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam Tattwajñana sebagai
berikut.
…..,Atmikatattwa adalah Sadasiwatattwa yang “utaprota” dalam
Mayatattwa (Acetana). Uta artinya Tuhan berada secara gaib dalam
Mayatattwa bagaikan api dalam kayu. Prota artinya Tuhan berkeadaan
bagaikan permata cemerlang dalam Mayatattwa,.(Tim Penyusun, 2005
: 18).

Penggalan teks dalam Tattwajñana tersebut di atas dengan jelas
menyebutkan bahwa Tuhan secara gaib berada dalam realitas yang bersifat maya
ini. Dengan kekuatan yang maha gaib, Tuhan menyusupi segalanya, memberikan
kehidupan pada seluruh entitas kehidupan. Kekuatan gaib yang merupakan aspek
Tuhan inilah yang diejawantahkan dalam tari Sanghyang Jaran, sehingga dapat
memunculkan sisi religiusitas manusia, khususnya masyarakat di Desa Pakraman
Bungbungan. Terlebih tari Sanghyang sangat kental dengan segala sesuatu yang
bersifat gaib.
Melalui tarian Sanghyang Jaran kekuatan gaib yang bersifat Niskala atau
abstrak dihadirkan melalui dimensi Sekala. Oleh sebab itu hampir dalam setiap
tarian Sanghyang, penarinya dengan seketika memiliki kekuatan gaib yang tidak
dapat terbakar oleh api dan sejenisnya. Pada saat Ratu Sanghyang didusdus penari

98
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

akan merasakan ada kekuatan yang besar merangsuki ke dalam diri Tapakan, dan
seketika orang-orang disekeliling nampak kecil. Demikian juga dengan seketika
Tapakkan dikendalikan oleh kekutan gaib untuk menari mengikuti gerakan
kosmik dan ritme musik serta nyanyian Sanghyang Jaran yang mengiringi. Pada
saat tertentu dengan kekuatan gaib yang sudah merangsuki tubuh Tapakan,
Tapakan secara leluasa menceburkan diri pada bara api yang besar dan
memandikan tubuhnya dengan bara api. Namun sedkit pun tidak ada luka atau
panas. Kekuatan gaib yang dimunculkan oleh tapakan yang manarikan Sanghyang
Jaran bukan berarti pamer akan kesaktian atau kekebalan. Namun sesugguhnya
itu adalah sebuah even dari kekuatan Tuhan agar manusia menyadari bahwa
Tuhan adalah Maha Segalanya.
Even Penyekalaan kekuatan yang Niskala tentunya akan berimplikasi pada
meningkatnya keyakinan manusia akan kekuatan Tuhan. Demikian juga dapat
menumbuh kembangkan kesadaran, bahwa manusia adalah sebagai makhluk yang
religius sekaligus meyakini akan adanya Tuhan sebagai Yang Maha Segalanya.
Keyakinan akan Tuhan adalah salah satu bagian dari Panca Sradha atau lima
keyakinan elementer umat Hindu. Sebagai manusia yang religius, menjadi theistic
adalah syarat yang sangat mutlak. Sebagaimana Rsi Patanjali dalam Yoga Sutra
menyebutkan bahwa manusia hendaknya menjadi theistic sebelum melakukan
hubungan degan Tuhan (Saraswati, 2005: 45). Jadi, tari Sanghyang Jaran dapat
dikatakan memiliki fungsi di dalam menumbuhkan kesadaran manusia sebagai
makhluk religius yang meyakini Tuhan sebagai sumber segalanya, sebagaimana
disebutkan dalam Brahma Sutra berikut:
Janmādyasya Yatah
(Brahma Sutra.2)
Terjemahan:
Brahman (Tuhan) adalah yang mahatau dan penyebab yang mahakuasa
dari mana munculnya asal mula dan lain-lain. (Yaitu pemelihara dan
peleburan) dari dunia ini (Viresvarananda, 2004: 71).

Merujuk pada Sutra dalam Brahma Sutra tersebut di atas, maka
seyogyanya sudah menjadi sebuah keyakinan yang kuat bahwa Tuhan adalah
sumber segalanya dan sumber dari segalanya ini. Oleh karena itu, tari Sanghyang

99
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Jaran di Bali akan mampu memunculkan dan menguatkan sisi religius manusia
sebagai makhluk yang meyakini Tuhan adalah sumber segalanya. Pertunjukkan
adanya kekuatan gaib melalui tari Sanghyang Jaran akan dapat menggambarkan
secara Sekala kekuatan Tuhan yang abstrak atau Niskala. Dengan demikian
masyarakat Bali memiliki keyakinan yang kuat tentang keberadaan Tuhan Ida
Sang Hyang Widhi Wasa.

2) Fungsi Penetralisir dan Penyucian
Selama manusia masih berada dalam bingkai dualitas, maka dua sisi tidak
dapat dihindari, yakni antara positif dan negatif. Dua kekuatan ini selalu
berdampingan seperti mata uang yang tidak dapat dipisahkan, dan masyarakat
Bali sering menyebut dengan hukum Rwa Bhineda atau dari sudut sains disebut
bineri oposisi. Demikian pula, hukum Rwa Bhineda ini pula tidak dapat
dipisahkan dari perikehidupan masyarakat, terlebih masyarakat Hindu di Bali.
Oleh karena itu, tidak akan bisa melakukan sebuah penafikan bahwa alam semesta
atau Bhuwana Agung ini dihuni oleh dua kekuatan yang bertentangan, yakni
kekuatan yang positif dan negatif. Keberadaan dua kekuatan ini pula yang
menyebabkan gerak kehidupan, seperti analogikal sebuah lampu tidak akan dapat
menyala, kalau tidak dialiri listrik melalui medan negatif dan positif.
Demikian juga di dalam diri manusia atau Bhuwana Alit, dua kekuatan ini
selau ada dan berdampingan. Oleh karena itu, sangat penting kiranya untuk
menyeimbangkan dua dimensi kekuatan tersebut menuju pada keseimbangan atau
harmonisasi. Kekuatan negatif yang mendominasi Bhuwana Agung maupun
Bhuwana Alit tidak akan menyebabkan keseimbangan. Ketidak seimbangan ini
akan berimplikasi pada munculnya beragam penyakit (merana). Mendeskripsikan
tentang penyakit Samkya Darsana menyebutkan bahwa, ada tiga sumber penyakit
yang mendatangkan penderitaan, yaitu: (1) Adhyatmika, yaitu penderitaan yang
disebabkan oleh virus, kuman dan sejenisnya. (2) Adhidaivika, yaitu penyakit
yang datang dari alam, cuaca dan yang lainnya. (3) Adhibauthika, yaitu penyakit
yang datang ulah binatang dan yang muncul dari kelahiran (Sivananda, 2003:
193).

100
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Ketiga penyakit yang berimplikasi pada penderitaan tersebutlah akibat dari
ketidak seimbangan antara dua kekuatan negatif dan positif tersebut. Berdasarkan
pada hal tersebut, sangat penting menetrailisir (nyomya) kekuatan tersebut melalui
tari Sanghyang, sehingga Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit menjadi seimbang.
Ratu Sanghyang pada saat menari sangat identik dengan menghadrikan kekuatan
gaib dan magis, demikian juga sangat kental dengan mistisismenya yang khas.
Kekutan yang bersifat gaib dihadirkan, sehingga dapat memberikan
peneyeimbang medan kekuatan menuju pada harmonisasi. Menurut penuturan
beberapa informan, pada saat Ratu Sanghyang Jaran menari gerak tarinya
mengikuti ritme alam, sembari bermandikan api. Jero Tapakan yang menarikan
Prelingga Sanghyang mengibaaskan ekor Sanghyang yang sangat diyakini oleh
masyarakat setempat sebagai penetralisir kekuatan negatif tersebut menuju
keseimbangan. Di samping itu, Prelingga Sanghyang Jaran kadang-kadang
dengan gerak alam, Tapakkan yang menarikan mencelupkan Prelingga Sanghyang
Jaran ke Sangku tempat tirtha, dan tirtha di percikan ke segala arah dan
masyarakat setempat yang meyakini sebagai simbologi dari penyucian sekaligus
penyomyan.
Masyarakat Bali juga meyakini bahwa ditarikannya tarian Sanghyang
Jaran adalah sebagai penyomya para Bhutakala yang diyakini dapat mengganggu
manusia sekaligus sumber wabah penyakit. Oleh karena itu, para Bhuta Kala
disuguhkan hiburan berupa tari Sanghyang bersamaan dengan sesaji, sehingga
Bhuta Kala terpuaskan dan dapat tenang atau somya. Sesugguhnya keyakinan
masyarakat Bali memiliki dasar yang kuat, jika melihat mitologi Hindu tentang
Bhuta Kala dengan cerita sebagai berikut:
…..,diceritakan dahulu kala konon pada hari tertentu para Bhuta Kala
menyebarkan wabah penyakit. Dan untuk menetralisir maka ditariakanlah
tarian Sanghyang dengan caru dengan Tanggul Gana Kumara. Konon pada
saat ditarikan tarian Sanghyang, para Bhuta Kala beramai-ramai menonton
tari tersebut. Dengan perasaan senang para Bhuta Kala menikmati tarian
tersebut, akan tetapi para Bhuta Kala pada akhirnya terkejut dan melarikan
diri stelah melihat Bhatara Gana Kumara ada di sana…..., (Parmajaya,
2007 : 63).

101
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Merujuk pada cerita dalam mitologi tersebut di atas, maka jelaslah bahwa
keberadaan tari Sanghyang adalah untuk menarik para Bhuta Kala yang diyakini
menyebarkan penyakit atau dengan kata lain, tari Sanghyang adalah untuk
menyomyakan para Bhuta Kala sebagai sumber penyakit. Demikian juga, pada
saat meanari, penari dirangsuki kekuatan gaib, sehingga para Bhuta Kala
mengalami ketakutan kepada kekuatan gaib tersebut dan pada akhirnya tidak
berani menyebarkan penyakit.
Kesakralan dan kemagisan tari Sanghyang ini sesugguhnya terletak pada
saat Tapakkan mengalami trance atau kerangsukan oleh kekuatan gaib. Pada saat
trance inilah Tapakkan menarikan Sanghyang mengikuti gerak ritme alam yang
diiringi oleh musik dan nyanyian. Selanjutnya Tapakkan akan menari di atas bara
api dan sedikitpun kaki atau anggota tubuh Tapakkan yang terbakar. Ketika Jero
Tapakkan menari sambil trance ini pula sering terjadi petunjuk kerohanian atau
spiritual yang tentunya ditujukan pada masyarakat agar masyarakat setempat
mendapatkan keselamatan. Petunjuk tersebut dapat berupa gerakan-gerakan yang
jika ditelusuri lebih dalam adalah Mudra.
Mudra secara harfiah adalah ilmu kesatuan tentang Tuhan melalui postur
tangan. Mudra Vignam adalah ilmu pengetahuan Mudra sebagai sebuah seni ritual
kuno untuk menyatukan Jivatma sebagai roh individu dengan Paramatma sebagai
jiwa yang tertinggi. Kata Sanskerta sendiri menyebutkan bahwa Mudra dapat
diterjemahkan sebagai “sikap” atau “tingkah laku”. Sikap ini penuh dengan makna
dan diakini sebagai simbol suci. Demikian pula Mudras dapat digambarkan secara
fisik, emosional, bhakti dan sikap estetika atau tingkah laku (Choudhuri, 2009:
xv). Demikian juga dalam Kularnava Tantra, jejak Mudra berasal dari kata mud
yang berarti cahaya atau kesenangan, sehingga dengan demikian Mudra
menggambarkan kecemerlangan secara terus menerus yang berakhir pada
terjadinya hubungan yang harmonis anatara jiwa individu dengan jiwa semesta.
Merujuk pada terminologi Mudra tersebut di atas, maka jelaslah bahwa
Tapakan yang sudah mengalami trance menarikan prelingga Sanghyang sambil
menggerakan postur tubuh yang berwujud pada sikap adalah Mudra
sesungguhnya. Mudra atau sikap yang di dalamnya terkandung makna yang

102
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

dalam. Mudra yang diperlihatkan dalam tari Sanghyang Jaran tentunya memiliki
makna sebagai penetralisir segala kekuatan yang jahat untuk kembali menjadi
seimbang, selain juga untuk penyucian. Terlihat jelas bahwa tari Sanghyang Jaran
yang ditarikan oleh Tapakkan sering memperlihatkan gerakan yang menyerupai
sikap yang penuh makna. Terkadang bergerak yang seolah-olah memberikan
penyembuhan dan menetralisir dengan energi disekitarnya. Penjelasan Budiasa,
sejalan dengan uraian Choudhuri (2009: xvi), bahwasanya melalui gerakan atau
sikap yang telah dialiri oleh kekuatan Tuhan, maka akan dapat mengirim
kehadiran penyembuhan suci jiwa ke jiwa lainnya.

3) Fungsi Sosial
Manusia sesungguhnya adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup
sendiri. Interaksi sosial dibutuhkan oleh manusia agar manusia dapat hidup, sebab
manusia hidup saling membutuhkan dan saling bergantung antara satu dengan
yang lainnya. Tidak saja sesama manusia, kepada alam juga manusia saling
ketergantungan, sebab manusia tidak akan dapat hidup tanpa alam demikian juga
sebaliknya. Banyak bidang kegiatan yang dapat menunjukkan dan menjalin
hubungan sosial yang baik, terlebih di Bali banyak terdapat aktifitas yang dapat
memunculkan rasa solidaritas sosial. Bali sendiri dikenal dengan sistem adat yang
disebut Desa Pakraman sudah barang tentu sebagai wadah interaksi sosial antara
krama Bali dan sebagai pembertahanan Hindu (Atmaja, 2010 : 196).
Segala aktifitas terutama aktifitas keberagamaan selalu dilakukan dalam
ruang lingkup Desa Pakraman yang menyebabkan kerukunan antar masyarakat
Hindu Bali. Sebagaimana dikatakan Wiana (2004: 78), bahwasanya kerukunan
sosial Hindu di Bali tidak dapat dipisahkan dari aktifitas keberagamaan yang
dilakukan di setiap desa dengan landasan ajaran agama Hindu tentunya.
Berdasarkan pada hal tersebut, banyak aktifitas keagamaan di Bali yang memiliki
fungsi sebagai media dalam menumbuhkan kerukunan sosial.
Salah satu aktifitas keagamaan tersebut adalah dapat berupa ritual Yajña
yang selalu diiringi tari sakral di dalamnya. Demikian juga tari Sanghyang Jaran
yang ditarikan pada saat tertentu memiliki fungsi sosial dalam rangka

103
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

menumbuhkan semangat solidaritas sosial dan kerukunan. Hal tersebut dapat
tercermin dari aktifitas masyarakat, ketika mempersiapkan prosesi tari Sanghyang
Jaran. Masyarakat berkumpul dengan prinsif ngayah atau sevanam, sehingga mau
tidak mau akan etrjadi interaksi sosial dalam masyarakat. Sevanam sendiri secara
esensial adalah salah satu bentuk bhakti umat Hindu kepada Tuhan, seperti yang
dijelaskan dalam Bhagavatham Purana, bahwa ada Sembilan bentuk bhakti,
seperti dalam sloka berikut :
Sravanam Kirtanam Visnuh, Smaranam Padasevanam,
Archanam Vandanam Dasyam, Sakyam Atmanivedanam.
(Bhagavata Purana, VII. 5.23)
Terjemahan:
Sravanam adalah bhakti kepada Tuhan dengan mendengarkan cerita suci,
Kirtanam kegiatan bhakti dengan menyanyikan kidung suci Tuhan,
Smaranam kegiatan bhakti dengan selalu mengingat nama suci Tuhan,
Padasevanam (Sevanam) bhakti kepada Tuhan dengan mengabdi atau
melayani Tuhan, Arcanam bhakti kepada Tuhan dengan arca atau pratima,
Vandanam bhakti dengan cara membaca kitab suci, Dasyam bhakti dengan
cara menjadi pelayan Tuhan, Sakhyam bhakti dengan cara menjadi sahabt
Tuhan, dan Atmanivedanam bhakti kepada Tuhan dengan jalan
penyerahan diri kepada Tuhan (Debroy, 2001 : 68).

Mencermati sloka tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa sevanam
merupakan salah satu dari sembilan bhakti yang utama, selain memang sebagai
wahana dalam membangun hubungan harmonis dalam sosial masyarakat. Pada
saat prosesi tari Sanghyang Jaran, masyarakat sangat antusias sekali untuk
ngayah. Masayarakat Bali sangat meyakni bahwa ngayah adalah salah satu hal
yang utama sebagai ungkapan bhakti umat kepada Tuhan. Sebab masyarakat yang
mulia adalah setiap anggota masyarakat harus mampu menumbuhkembangkan
dalam dirinya rasa saling pengertian dan bersama-sama memuja Ida Sang Hyang
Widhi Wasa. Demikian juga memuja leluhur dan bersatu padu mengembangkan
pemikiran yang mulia (Titib, 2003: 422).
Tari Sanghyangn Jaran selama ini dapat membentuk masyarakat yang
mulia, sebab dalam pementasannya tarian ini selalu dapat menyatukan krama
desa, sehingga memiliki kesatuan padangan untuk bersama-sama mensejahterakan
desa dan terhindar dari mara bahaya. Selain itu tari Sanghyang Jaran dapat

104
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

dijadikan sebagai icon relegius untuk masyarakat bersama-sama dapat meayakini
kekuatan Tuhan dan melakukan pemujaan bersama-sama sebagai jalan bhakti.
Oleh sebab itu, tari Sanghyang Jaran memliki fungsi elementer untuk
menciptakan masyarakat yang ideal, karena masyarakat yang ideal adalah
masyarakat yang dapat bersatu dan melahirkan pemikiran yang mulia serta
bersama-sama meyakini Tuhan.

4) Fungsi Estetika
Agama Hindu adalah sumber atau roh dari kebudayaan Bali yang beragam.
Keragaman budaya, adat dan tradisi yang kesemuanya itu dijiwai oleh Hindu tidak
akan dapat dipisahkan dari kandungan estetik di dalamnya. Estetika berasal dari
kata Yunani aisthetika; hal-hal yang dapat diserap dengan panca indria, aesthesis;
pencerapan indria (sense perception). Kemudian perkembangan secara linguistik
disebutkan dengan istilah estetika yang secara harfiah dapat berarti keindahan.
Senada dengan itu Djelantik (1999: 9), menyebutkan bahwa estetika adalah suatu
ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan,
mempelajari semua aspek dari apa yang disebut keindahan.
Semua benda atau peristiwa seni atau kesenian pada hakikatnya
mengandung tiga aspek yang mendasar yakni : (1) Wujud atau rupa (appearance),
(2) Bobot atau isi (content, substance), (3) Penampilan atau penyajian
(presentation). Wujud menyangkut bentuk (form) dan susunan atau struktur.
Bobot mempunyai tiga aspek, yaitu suasana (mood), gagasan (idea) dan pesan
(message), sedangkan penampilan menyangkut tiga unsur yaitu, bakat (tallent),
keterampilan (skill) dan sarana atau media (Djelantik,1999: 17-18). Dalam
pandangan teori kontektualis aktifitas tersatu padukan sedemikian erat dengan
lingkungan kehidupan, yang dari situ timbul dan di dalam lingkungan itu
dinikmati. Seni hanya bisa dipahami dalam rangka makna sosial yang terkandung
di dalamnya (Gie,1996: 38).
Sedangkan menurut Donder (2005: 33), estetika selama ini cenderung
diartikan dengan pengertian seni yang sempit, dapat dimaknai sebagai keindahan
yang merangsang dan mendorong manusia untuk berkreasi dan bersikap dinamis

105
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

untuk mencapai kepuasan batin dan mempertajam intuisinya. Apa pun bahasa
yang diberikan oleh para pakar, hampir semua mengarah ke satu diskursus yang
menyangkut rasa keindahan yang membuat kita senang, terkesima, terpesona,
bergairah, dan bersemangat.
Istilah estetika dalam kebudayaan Bali, seperti misalnya lengut, pangus,
hidup, metaksu, adung, bangkit, dan sebagainya. Dalam lingkungan kebudayaan
Bali ada prinsip-prinsip estetika, menurut Bandem (1996: 18) ada di sebutkan,
yaitu : (1) Prinsip keseimbangan (simetris, sejajar): dua, tiga, empat, lima,
delapan, sembilan dan seterusnya; (2) Prinsip campuran: terdiri dari berbagai
unsur yang disatukan ke dalam satu wadah: mozaik, prembon, campur sari dan
sebagainya; (3) Prinsip totalitas (saling keterkaitan) sehingga memberikan
kepuasan yang lengkap, meliputi : kenikmatan bayu (energy), sabda (voice or
sound), idep (thought); (4) Prinsip rame (riuh rendah, hiruk pikuk); dan
(5) Prinsip suwung atau sunia atau kosong.
Estetika Hindu pada intinya merupakan cara pandang mengenai keindahan
(lango) yang diikat oleh nilai-nilai agama Hindu yang didasarkan atas ajaran-
ajaran kitab suci Weda. Ada beberapa konsep yang kiranya menjadi landasan
penting dari estetika Hindu. Konsep-konsep yang dimaksud antara lain konsep
kesucian, konsep kebenaran, dan konsep keseimbangan. Dalam agama Hindu
disebut dengan istilah Tiga Wisesa, yaitu: (1) Sivam (Konsep kesucian), yaitu
pada intinya menyangkut nilai-nilai ketuhanan yang juga mencakup yajna dan
taksu. (2) Satyam (kebenaran), yaitu mencakup nilai kejujuran, ketulusan, dan
kesungguhan. Sesuai dengan ajaran agama Hindu, persembahan dan yajña yang
dilakukan oleh masyarakat Hindu seyogianya dilaksanakan dengan penuh
kejujuran hati, rasa tulus, dan niat yang sungguh-sungguh. (3) Sundaram
(Keindahan), yaitu pada konteks teori khusus (local theory) seperti yang
dijelaskan di atas, maka kepuasan estetik baru akan terpenuhi jika telah terjadi
keselarasan dan harmonis. Sebagai penumbuh kekuatan semua itu di landasi oleh
konsep tiga wisesa yakni satyam, çiwam, sundaram; sebuah keindahan yang suci
(penghayatan kepada yang Maha Pencipta) dan secara etika benar atau
mengandung kebenaran (pesan).

106
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Bertumpu pada uraian tersebut di atas, tari Sanghyang Jaran yang eksi di
beberapa wilayah di Bali dapat dikatakan memiliki fungsi estetika. Dalam prosesi
maupun pada saat ditarikan oleh Tapakan, tari Sanghyang memiliki konsepsi
Satyam, Siwam, Sundaram. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai spritual atau
ketuhanan yang dimunculkan. Dalam agama Hindu, Tuhan itu adalah yang maha
indah dan sumber dari segala keindahan. Dalam pustaka suci Veda, Tuhan
digambarkan dalam wujud sebagai Siwa Nataraja dengan tarian kosmisnya
dikatakan sebagai pencipta musik dan tari sekaligus pencipta seni yang maha
Agung (Saraswati Sri Swami, 2010:299). Bertendensi pada uaraian dalam pustaka
suci Veda, umat Hindu percaya sekaligus meaykini bahwa segala sesuatu yang
bernilai artistik adalah ciptaan Tuhan.
Keyakinan yang demikian berimplikasi munculnya sebuah domain, yang
mana selamanya masyarakat Hindu percaya bahwa kesenian bukanlah ciptaan
manusia, melainkan ciptaan Tuhan. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban
umat Hindu untuk “mempersembahkan” kembali hasil ciptaan Tuhan. Demikian
pula sudah menjadi kewajiban tersendiri bagi masyarakat Bali untuk
mempersembahkan tari Sangyang Jaran kepada Tuhan sebagai rasa bhakti. Tari
Sanghyang disajikan kepada Tuhan, masyarakat sekitar desa percaya bahwa
kesenian merupakan persembahan kepada Tuhan dan alam niskala.
Berpegang kepada keyakinan bahwa kesenian adalah ciptaan Tuhan,
masyarakat Hindu di Bali menjadikan tari Sanghyang sebagai sebuah
persembahan dan Yajña untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (Sang Hyang
Widhi Wasa). Dengan Yajña dimaksudkan bahwa berkesenian itu tidak saja dapat
memuaskan serta memenuhi dorongan estetis pribadi atau masyarakat, tetapi juga
sebagai wahana bagi seniman untuk mendekatkan dirinya kepada sumber
keindahan itu sendiri, yaitu Tuhan yang memiliki aspek Satyam, Siwam,
Sundaram sebagai satu kesatuan integral dengan konsep estetik itu sendiri.

3 KESIMPULAN
Eksistensi tari Sanghyang Jaran di Bali adalah termasuk tari sakral yang
dipentaskan pada saat hari tertentu, yaitu Purnama dan Tilem atau Tilem keenem

107
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

yang bertepatan dengan upacara Nangluk Merana. Tari Sanghyang Jaran di
Bentuk prelingga Sanghyang berupa Jaran atau kuda yang diyakini sebagai
wahana para dewa. Sebelum ditarikan, Ratu Sanghyang Jaran disucikan melalui
upacara penyucian, demikian juga menggunakan sarana berupa banten penyucian,
pasepan, serabut kelapa, dan air suci atau tirtha.
Tari Sanghyang Jaran bagi masyarakat Hindu Bali memiliki fungsi
sebagai berikut: (1) Fungsi Religius, yang mana tari Sanghyang dapat
menghadirkan kekutan Tuhan yang abstrak menjadi Sekala, sehingga dapat
membangkitkan sisi relegiusitas masyarakat setempat untuk meyakini bahwa
Tuhan sumber segalanya. (2) Fungsi Penetralisir atau Penyucian, dan tari
Sanghyang dalam hal ini adalah media untuk dapat meyeimbangkan Bhuwan
Agung dan Alit dari pengaruh penyakit. Dalam hal ini tari Sanghyang juga dapat
diadikan media menenangkan Bhuta Kala yang membawa penyakit, demikian
juga dapat menyucikan. (3) Tari Sanghyang juga memiliki fungsi sosial sebagai
media untuk meningkatkan solidaritas masyarakat untuk bersama memuja Tuhan
dan menuju masyarakat yang ideal. (4) Fungsi Estetika, dan tari Sanghyang dapat
dijadikan media untuk melestarikan seni sakral sebagai seni yang identik dengan
keindahan dan magis.

DAFTAR PUSTAKA
Atmaja Nengah Bawa. 2010. Ajeg Bali Gerakan Identitas Kultural dan
Globalisasi. Yogyakarta : LKIS.

Bagus, I Gusti Ngurah.1968. Museum Bali dan Pariwisata. Denpasar : Museum.

Bagus, Loren. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta : Gramedia

Bandem, I Made dan I Nyoman Rembang. 1976. Perkembangan Topeng Bali
Sebagai Seni Pertunjukan. Denpasar : Pemerintah Daerah Provinsi
Bali.

Bandem, I Made dan Friedrick Eugene de Boer. 1981. Kaja and Kelod. Balinese
Dance in Transition. London : Oxford University Press.

Bandem, I Made. 1988. Ensiklopedi Tari Bali. Denpasar : Akademi Seni Tari
Indonesia (ASTI).

108
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Choudhuri, Aparna. 2009. Bersatu Dengan Tuhan Melalui Postur Jari. Denpasar:
Cakepan.

Debroy, Bibek. 2001. Bhagavatham Purana. Surabaya: paramita.

Dibia, I Wayan. 1999. Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali. Bandung:
Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Djelantik, A.A. Made.1999. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat
Seni Pertujukan Indonesia.

Gie, The Liang. 1996. Filsafat Seni. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna.

Goris. R. 2012. Sifat Religius Masyarakat Pedesaan di Bali. Denpasar: Udayana
University Press.

Koentjaraningrat. 1985. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian
Rakyat.

Putra. I Gusti Agung Gede. 1990. Cudamani Tari Wali. Denpasar: Hita Bhuana.

…………, 1998. Wrehaspati Tattwa. Surabaya: Paramita.

Pream, Ranchore. 2006. Tri Hita Karana Ekologi Ajaran Hindu Benih-Benih
Kebenaran. Surabaya: Paramita.

Rota. I Ketut dkk.1977. Pengantar Dasar Beberapa Tari Bali. Denpasar:
Akademi Seni Tari Indonesia.

Sedyawati, Edi. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan.

Watra, I Wayan. 2007. Filsafat Seni Sakral dalam Kebudayaan.
Surabaya: Paramita.

109
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

EXTENSI TARI REJANG RENTENG DALAM UPACARA NGUSABA
DALEM BR. PUJUNG SARI DESA PEKRAMAN TELEPUD SEBATU
TEGALLALANG KABUPATEN GIANYAR

Luh Putu Pancawati
Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni
IKIP PGRI Bali

Abstrak
Kesenian dan agama tidak biasa dipisahkan terbukti di bali apalagi
mengadakan ritual pasti diiringi dengan kesenian. Seni Tari salah satu kebudayaan
kekayaan budaya bangsa bersumber pada tradisi yang dapat menimbulkan sikap
dasar penanaman nilai dan norma-norma akan kecintaan seni budaya bangsa salah
satu kesenianya adalah Tari Rejang Renteng. Rejang renteng ditarikan dan
ditampilkan secara khusus oleh sekelompok perempuan, gerak tarinya sangat
sederhana busananya juga sangat sederhana diselenggarakan di pura yang
tergolong dalam tari wali jaman dulu yang menarikan anak-anak masih akil balik
yang disajikam sebagai pelengkap dalam upacara Pengider Buana.
Agama Hindu di Bali bukan hanya semata-mata agama yang terpaku pada
filsafat saja tapi tatanan susila dan upacara sebagai pegangan nilai-nilai filsafat
yang terkandung dalam kitab suci, penulis menggunakan landasan teori dalam
menggunakan sesuatu yang begitu luas yaitu (1) Pengertian seni Tari Rejang
Renteng (2) Bentuk fungsi Tari Rejang Renteng (3) Nilai pendidikanya (4)
Struktur gerak, tata rias dan tata busana (5) Aspek-aspek dalam tari rejang (6)
Teori Estetika, fungsional struktural dan religi.
Apapun bentuk sajian kita harus mempunyai tujuan agar mendapatkan
gambaran yang pasti begitu juga dalam Tari Rejang itu tujuanya untuk
menyambut turunnya Tuhan Yang Maha Kuasa yang berbentuk sinar suci,
sebelum kita melangkah penelitian perlu disiapkan metode untuk membedahnya
yaitu: Rancangan Penelitian, lokasi, jenis dan sumber data dan teknik observasi,
cara pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan, kemudian pendapat
wawancara. Adapun penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif,
barulah menarik kesimpulan dan saran yang berguna bagi masyarakat Br. Pujung
Sari Desa Pakraman Telepud Sebatu Tegallalang.

Kata Kunci: Tari Rejang Renteng

Abstract
Art and religion are not commonly separated proven in Bali let alone hold
a certain ritual accompanied by the arts. Dance art one of the cultural wealth of
the nation comes from a tradition that can lead to a basic attitude of planting

110
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

values and norms will love the nation's art and culture one of the arts is Rejang
Renteng Dance. Rejang Renteng danced and displayed specifically by a group of
women, his dance is very simple also very simple fashion held in the temple
belonging to the ancient guardian dance that danced the children are still behind
the disajikam as a complement in ceremony Pengider Buana.
Hinduism in Bali is not merely a religion that is glued to philosophy alone
but the moral order and ceremony as guidance of philosophical values contained
in scriptures, the author uses the theoretical basis in using something so vast that
is (1) Understanding the art of Rejang Dance (5) Aspects of rejang dance (6)
Theory of Aesthetics, structural and religious functionalities. (4) The structure of
motion, makeup and dressing.
Whatever the form of serving we must have a goal in order to get a
definite picture as well as in Rejang Dance is the goal to welcome the descend of
God Almighty in the form of sacred rays, before we take the research steps need
to be prepared methods to dissect them are: Research Design, location, type and
source Data and observation techniques, how to collect data through observation
and recording, then the opinion of the interview. The research used is qualitative
research, then draw conclusions and suggestions useful for society Br. Pujung
Sari Desa Pakraman Telepud Sebatu Tgallalang.

Keywords: Rejang Renteng Dance

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bali telah terkenal dengan kebudayaanya oleh karena keunikan dan
kekhasanya yang tumbuh dari jiwa agama Hindhu merupakan roh kebudayaan
Bali .Dimana Pulau Bali merupakan pulau yang terdiri dari berbagai kelompok
masyarakat yang memiliki beragam latar belakang yang berbeda-beda dan
memeluk agama yang berbeda pula .Dari keberagaman ini lahirlah kesenian yang
beragama pula ,sikap akan beragama ,seni dan budaya yang dimiliki oleh setiap
kelompok masyarakat yang telah membangun identitas diri yang kuat tanpa harus
memandang rendah seni dan budaya kelompok masyarakat lainya.dari
keanekaragaman ini di desa Pakraman Sebatu Br.Pujung sari Tegallalang Gianyar
sampai saat ini masih mengangkat kesenian yang disebut dengan tari Rejang
Renteng yang dilakukan pada pelaksanaan upacara Ngusaba Dalem.
Setiap pelaksanaan upacara agama akan dibarengi dengan melakukan tari-
tarian, antara upacara dengan tarian tidak dapat dipisahkan hampir setiap ada
upacara agama pasti dibarengi dengan tari-tarian dengan kata lain dalam upacara

111
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

agama tanpa ada pertunjukan kesenian khususnya tari Bali rasanya kurang
sempurna ,dan bagi masyarakat Bali terutama pemeluk agama Hindu
mengganggap tarian mempunyai nilai reliqius di dalamnya.
Tari rejang renteng merupakan sebuah tarian kesenian rakyat Bali yang
ditampilkan secara khusus oleh perempuan dan untuk perempuan. Gerak-gerak
tari ini sangat sederhana, lembut namun progresif dan mengembirakan .Biasanya
pagelaran tari Rejeng Renteng diselenggarakan di pura pada waktu
berlangsungnya suatu upacara adat atau upacara keagamaan Hindhu
Dharma.Agama Hindhu di bali bukan hanya semata-mata agama yang terpaku
pada filsafat saja tetapi juga pada tatanan susila dan upacara sebagai pegangan
nilai-nilai filsafat yang terkandung di dalam kitab sucinya .Dalam hal ini filsafat
disamakan dengan tattwa .etika sama dengan susila, ritual sama dengan upacara
yang kemudian dipandang sebagai kerangka agama Hindhu oleh karena itu,setiap
aktivitas keagamaan di Bali akan mengacu pada kerangka tersebut. Tari Rejang
Renteng sudah ada sejak jaman dahulu sampai sekarang masih tetap exsis dan
harus dipentaskan sebagai tari wali pada setiap piodalan Dewa Yadnya karena
upacaranya harus diiringi dengan Tari Rejang Renteng barulah dikatakan lengkap
atau sempurna jika tidak ada pementasan Tari Rejang Renteng dimana tarinya
mempunyai cirri khasnya dan hamper mirip dengan dari tari rejang yang lainya
tetapi tari rejang renteng di Br. Pujung Sari desa Pakraman Telepud Sebatu
Tegallalang tidak menggunakan kipas dan umurnya sudah termasuk lansia tetapi
semangat untuk menari walaupun masih jauh dari sempurna. Dari keunikan dan
cirri khasnya maka penulis tertarik dan terdorong untuk mengadakan tulisan dan
sebagai kewajiban setiap tahunnya.

1.2 Landasan Teori
Mengungkap sesuatu yang begitu luas agar menjadi suatu landasan perlu
adanya beberapa teori yang nantinya dapat memecahkan permasalahan penelitian
.Rancangan penelitian yang baik dan memenuhi stsndar ilmiah haruslah
menyertakan kajian teori atau berspektif teoritik yang dipandang relevan, adalah
sebagai berikut : (1) Pengerian seni tari rejang renteng, (2) Bentuk fungsi Tari

112
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

rejang renteng, (3) Nilai pendidikanya, (4 ) stuktur ragam gerak, tata rias dan tata
busananya (5) Aspek-aspek yang terdapat dalam tari rejang. (6) Teori Estetika,
fungsional struktural dan relegi.

1.3 Wawasan Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yang dipaparkan ada dua yaitu; tujuan umum dan
tujuan khusus. Tujuan uamum adalah untuk memperoleh gambaran yang jelas dan
akurat mengenai Tari Rejang Renteng di Br. Pujung Sari Desa Sebatu Tegallalang
Gianyar pada saat upacara ngusabe dalem, tujuan khusus penelitian ini adalah
untuk mengetahui exsetensi bentuk fungsi dan nilai pendidikanya dalam Tari
Rejang Renteng di Br. Pujung sari Desa Sebatu Tegallalang.

2 METODE
2.1 Rancangan Penelitian
Rancangan Penelitian oleh Mahajir dalam buku penelitian kualitatif
diutarakan oleh paradigma naturalistik karena lebih manusiawi dalam pengertian
bagi sebagai Experimen penelitian dan juga teknik-teknik analisisnya lebih
merupakan extensi dan perilaku diantaranya mendengar, berbicara ,melihat
,berinteraksi ,bertanya ,meminta penjelasan mengeExspresikan kesungguhan dan
menangkap yang tersirat (Mahajir,1992.148) dalam tesis surya adnyana 2012.

2.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian di Br.pujung sari desa pakraman Sebatu Tegallalang
Gianyar

2.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam dalam penelitian ini adalah kualitatif karena data berupa
kata-kata kalimat, mengandalkan wawancara, interview, perpustakaan dan
rangkaian kata-kata bukan dengan pemaparan angka-angka.
Data menurut sumbernya dapat dibedakan menjadi dua; Data primer dan
data sekunder, data primer adalah data yang diperoleh dari informasi (penari

113
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

,pemangku,pemungkah desa adat/Bendesa dan masyarakat) dengan observasi
langsung di lapangan dan data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-
dokumen, artikel, jurnal, buku-buku yang terkait dgn obyek penelitian.

2.3 Teknik Observasi
Teknik Observasi adalah cara pengumpulan data melalui pengamatan dan
pencatatan gejala-gejala atau data yang tampak pada obyek penelitian pada saat
peristiwa atau keadaan sedang berlangsung. Jenis Observasi yang dipergunakan
adalah jenis observasi non partisipasi dimana peneliti tidak ikut ambil bagian
didalam kegiatan tersebut (tari rejang renteng)artinya peneliti berada diluar
kegiatan tersebut. Tetapi pengumpulan data dalam penelitian ini dapat
dilaksanakan dengan dating untuk mengamati secara langsung kelokasi penelitian
yaitudi Br.Pujung sari desa pekraman sebatu tegallalang.

2.4 Wawancara
Dalam buku “Metode Research“ disebutkan wawancara adalah suatu
bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh
informasi. Biasanya komunikasi ini dilakukan dalam keadaan saling berhadapan,
namun komunikasi dapat juga dilakukan melalui telepon. Interview sering
dilakukan antara dua orang tetapi dapat juga sekaligus lebih dari dua orang
(Nasution,2003:113)

2.5 Metode Analisis Data
Analisis data disebut juga pengolahan data penafsiran data. Analisis data
adalah rangkaian kegiatan penelahaan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran
dan terifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademis dan
ilmiah (Suprayogo, 2001; 191). Dalam penelitian ini ada tiga langkah sistematis
dalam analisis yaitu: (1) Reduksi (2) Pengkajian data dilakukan dengan deskriptif
dan proses transformasi data. (3) Penarikan kesimpulan dilakukan dengan
penafsiran mengenai tari rejang renteng.

114
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

3 PEMBAHASAN
Seni Tari rejang renteng adalah sebuah tarian kesenian rakyat Bali yang
ditampilkan secara khusus oleh perempuan dan untuk perempuan. Gerak-gerik tari
ini sangat sederhana namun progresif dan lincah. Biasanya pagelaran tari Rejang
Renteng diselenggarakan di pura pada waktu berlangsungnya suatu upacara adat
atau upacara keagamaan Hindu Dharma, tidak diketahui secara pasti kapan tari
Rejang Renteng itu ada ,dan siapa penciptanya, Tari Rejang mempunyai arti
penting bagi masyarakat penyungsung Pura, rejang adalah satu simbolis tarian
bidadari di surga dimana tari Rejang renteng tergolong dalam tari wali (khusus di
pentaskan hanya pada saat wali /upacara). Sebagai tari wali tari rejang renteng ini
ditarikan oleh anak anak (yang belum akil balik) pemaksaan atau pengempon pura
dengan tujuan untuk mendapatkan kesucian. Tari ini disajikan sebagai pelengkap
dalam upacara pengider buana. Tari rejang renteng ini adalah salah satu jenis tari
rejang yang ditarikan berkelompok. Jumlah para penari rejang ini selalu ganjil.
Dan hiasan yang dipergunakan sangat sederhana. Penari rejang memakai kain
Bebali berupa anteng yang dikenakan di dada. Sedangkan saputnya memakai kain
rembang dan kain cepuk serta kemben lumlum tetapi rejang renteng sekarang
memakai pakaian putih kuning. Di tanganya memakai benang tukelan yang berisi
uang kepeng satakan (pis bolong). Penari bergerak beriringan secara seragam.
Para penari diikat ke dalam suatu untaian atau rangkaian yang disebut “renteng”
dengan seutas tali benang yang pada umumnya berwarna putih .Nilai-nilai
pendidikanya dalam tari rejang adalah perlu adanya karna suatu pendidikan yang
berhak bagi setiap orang untuk menuju kesuksesan merekarela berkorban demi
baktinya sama Tuhan Yang Maha Esa.Dan jika kita melihat dari ajaran agama
Hindu yg mereka lakukan itu merupakan suatu perwujudan dari ajaran agama
Hindu hal yang sangat tulus ikhlas tanpa pamerih .Pendidikan agama Hindu dapat
memberikan tuntunan dalam menempuh kehidupan dan mampu mendidik
masyarakat bagaimana hendaknya berpendirian berbuat atau bertingkah laku
supaya tidak bertentangan dengan Dharma, Etika, dan Agama. Agama dapat
menyempurnakan manusia dalam meningkatkan hidup baik secara material
maupun secara spiritual. Adapun nuansa pendidikan Agama Hindu yang diperoleh

115
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

oleh penari rejang renteng adalah pendidikan agama Hindu yang sifatnya spiritual
dengan ajaran yang diberikan tentang pengendalian diri yaitu bertingkah laku,
berkata dan berbuat yang baik.
Struktur ragam gerak dalam tari rejang renteng adalah pepeson ,pengawak
pengecen dan pakaad ,tatarias muka dalam tari rejang renteng yaitu mengunakan
alas bedak, bedak tabur, eyeshadow, pensil alis untuk membentuk alis, lipstik,
hiasan kepala memgunakan sanggul, bunga mitasi sandat dan bunga jepun merah
dan putih dan menggunakan ikat kepala. Busana adalah salah satu bagian yang
sangat penting didalam pertunjukan pertunjukan tari bali, karena busana tari dapat
mengkomunikasikan pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada penonton secara
skala dan niskala, busana tari dapat dikatakan sebagai pemberi identitas dari
tarinya sendiri busana dalam wujudnya dapat mengandung tiga aspek dasar yaitu
(1) wujud atau rupa, (2) bobot atau isi, (3) penampilan jadi tari rejang renteng
busananya menggunakan tapeh putih dan kamben kuning pakai selendang kuning
sangat sederhana sekali baik kostum maupun tatariasnya. Aspek-aspek yang dicari
dalam tari rejang renteng adalah agem tandang, tangkep, tangkis dan abah.
Gambelan salah satu bagian pendukung yang sangat penting terdapat di dalam
seni pertunjukan di Bali, karena gambelan dapat berfungsi sebagai penguat
suasana sedih, marah, gembira, suasana perang, percintaan dan termasuk suasana
hening, gambelan yang dipergunakan sebagai iringan adalah gambelan ngong
kebyar.

4 Simpulan Dan saran
4.1 Simpulan
Berdasarkan uraian diatas tentang tari rejang renteng di Br. Pujung Sari
desa pakraman sebatu Tegallalang dapat disimpulkan Tari Rejang renteng
ditarikan dalam upacara piodalan Ngusaba Dalem oleh masyarakat pengayomnya
dipercaya sebagai penyambut Tuhan Yang Maha Esa sebagai sinar sucinya
dipercaya tari sakral sebagai tari Wali dan merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dalam rangkaian upacara piodalan, disamping itu tari rejang renteng
sebuah bentuk tari kelompok yang ditarikan oleh anak-anak yang masih akil balik

116
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

tetapi dijaman sekarang ini ditarikan oleh ibu-ibu PKK atau siapa saja yang mau
menarikan asal tidak lepas dari aturan yang ditentukan seni pertunjukanya yang
dibangun yang dari beberapa elemen-elemen yang paling pokok dan esensial yaitu
Agem, Tandang , Tangkep, dan Tangkis) dan juga ada tahapan proses ritualnya.

4.3 Saran
Sehubungan dengan pelaksanaan pementasan tari rejang renteng dalam
upacara Ngusabe dalem di Br.Pujung Sari desa Sebatu Tegallalang ada beberapa
saran yang penulis sampaikan yaitu bentuk tarinya sangat sederhana yang
gerakanya mengalun dan pelan-pelan dengan perasaan yang lemah gemulai
,diharapkan dapat disosialisasikan pada seluruh masyarakat Bali khususnya
terutama bagi lembaga pemerintahan yang mempunyai kewenangan dalam bidang
kebudayaan sehingga dapat dijadikan sumber informasi dalam pengembangan
kebudayaan Masyarakat Bali dimana masyarakat tetap bisa menjaga kelestarian
keberadaanya agar tetap ajeg dan lestari,jangan sampai orang luar yang menguasai
apa yang sudah kita warisi oleh nenek moyang kita, agar nantinya anak cucu kita
tetap memiliki yang sudah diberikan tentu bias dipertahankan terutama aturan-
aturan yang sudah ada.

DAFTAR PUSTAKA
Arini, AA Ayu Kusuma. 2006. Tari Legong Kraton Peliatan. Tari Kekebyaran
ciptaan I Nyoman Kaler

Arini, Ni Ketut. 2012. Teknik Tari Bali.Denpasar.

Bandem,I Made. 1992. Sakral Dan Sekurel Tari Bali Dalam Transisinya.
Denpasar: STSI Denpasar

Bandem,I Made dan Fredrik Eugene deBoer.Kaja dan Kelod Tarian Bali dalam
Transisi.

Bandem. I Made. 1989. Ensklopedi Tari Bali.

Dibia, I Wayan dalam Seminar Tari 29 April 2015.

Dibia, I Wayan. 2009. Taksu Dalam Seni Dan Kehidupan Bali.

117
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Dibia, I Wayan. 2013. Puspasari Seni Tari Bali, Fakultas Seni Pertunjukan Institut
Indonesia Denpasar

Baryl de Zoete and Walter Spies. 2002.Dance &Drama in Bali: Singapore

Djelantik, A.A.M. 1999. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakata Seni
Pertunjukan Bandung.

Hardi Nawawi. 1993. Metode Penelitian Bidang Sosial.Yogyakarta: Universitas
Gaja Mada

Djayus, Nyoman. 1976.Teori-Teori Bali

Koentjaraningrat. 1987. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Jakarta:
Djambatan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat bahasa Edisi Keempat. 2008. Departemen
Pendidikan Nasional. Penerbit PT Gramedia Pusaka Utama: Jakarta.

Ritzer, George. 2003. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda,Jakarta :
PT Raja Grafinda Persada.

Muhadjir, Noeng. 1992. Metodologi Pendidikan Kualitatif. Yogyakarta: Rake
Surasin.

Soedarsono. 1977. Estetika Sebuah Pengantar Bagi studi Tari. Yogyakarta:
Akedemi Seni.

118
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

KEMAMPUAN MELUKIS REALIS MANUSIA MENGGUNAKAN
CAT MINYAK OLEH SISWA KELAS XI LUKIS MODERN
SMKN 1 SUKAWATI KABUPATEN GIANYAR
TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh:
I Wayan Oka Supriadi, NIM 2012.II.3.0004
Program Studi Pendidikan Seni Rupa, FPBS
IKIP PGRI Bali

Abstrak
Seni lukis realis dalam hal penciptaannya membutuhkan skill yang tinggi
karena dalam melukis realis membutuhkan ketelitian dalam melihat setiap detail dari
objek yang akan dilukis. Dalam mempelajari seni lukis realis penguasaan warna dan
bentuk sangatlah penting khususnya warna dan bentuk manusia atau anatomi manusia
karena semakin kuat warna dan bentuk manusia yang dilukiskan maka akan
menciptakan kesan realis atau mirip dengan aslinya.
Ruang lingkup dari penelitian ini hanya terbatas pada hal-hal yang berkaitan
dengan kemampuan melukis realis manusia menggunakan cat minyak, dalam mata
pelajaran lukis modern. Objek yang dilukis adalah objek manusia baik laki-laki
maupun perempuan yang dilukiskan di atas media kanvas menggunakan cat minyak.

Kata kunci : Melukis realis, manusia, cat minyak.

Abstract
The realist art painting is an art that in terms of its creation requires a high
skill. It requires the accuracy in seeing every detail of the object that will be painted.
In studying about realist art painting, the mastering of color and shape are the
important things, especially in color and the anatomy of the human. The stronger of
the color and man depicted, it will create an impression of realism or similar to the
original.
The scope of this study is limited to the matters that related to the ability of
human realist painting using oil paint on the subject of modern paint. The object that
already painted was a human either male or female that painted on canvas as media
and using oil paint for painting.

Keyword: painting realist, human, oil paint.

119
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan. Kegiatan seni selalu
berhubungan dengan manusia sebab karya seni merupakan salah satu kreativitas
manusia.
Seni adalah kebutuhan manusia yang terakhir, sesuatu yang diinginkan setelah
kebutuhan-kebutuhan lain seperti kebutuhan akan makan dan minum, kebutuhan akan
perumahan dan sejenisnya terpenuhi. Orang tidak akan mati atau menderita apabila
tidak menghasilkan atau memanfaatkan seni, tetapi kalau ada kesempatan mereka akan
membuat atau mencarinya, walaupun mungkin nama atau bentuk seni tersebut
berlainan (Soedarso Sp, 2006 : 2).
Salah satu bentuk seni dan kesenian adalah seni rupa. Seni rupa adalah ekspresi
atau pengungkapan gagasan perasaan manusia yang diwujudkan dalam perilaku yang
menghasilkan karya yang bersifat estetis dan bermakna. seni rupa juga dapat diartikan
sebagai hasil aktivitas mencipta berdasarkan norma-norma seni rupa yang bersumber
pada rasa haru atas pengamatan objek atau yang diekpresikan ke dalam suatu bentuk
rupa yang dapat mengantarkan hati sehingga timbul kesan-kesan tertentu dan
memperoleh kepuasan (Karang & Budiasa, 2006: 2).
Salah satu cabang seni rupa yang memiliki peminat yang cukup banyak yaitu
seni lukis. Seni lukis adalah hasil curahan cita rasa dari subjek pencipta dengan
menggunakan media karya berupa garis, bidang, warna, tekstur, volume dalam bidang
dua dimensi. Seni lukis merupakan bentuk karya seni rupa dua dimensi yang memiliki
ukuran panjang dan lebar saja sehingga cara melihatnya hanya satu arah dari depan
(Karang & Budiasa, 2006: 6).
Dari berbagai macam aliran dalam seni lukis, aliran seni lukis realis merupakan
salah satu contoh dari sekian banyak aliran seni lukis yang ada. Seni lukis realis adalah
seni lukis yang dalam pengungkapannya berusaha menggambarkan suatu objek seperti
apa adanya, Seni lukis realis dalam hal penciptaannya membutuhkan skill yang tinggi

120
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

karena dalam melukis realis membutuhkan ketelitian dalam melihat setiap detail dari
objek yang akan dilukis, serta ketekunan dan kesabaran (Arsana, 2013: 5).
Melukis realis merupakan suatu proses pengajaran yang pertama dalam seni
lukis yang perlu dipelajari sebelum menginjak ke aliran seni lukis lainnya. Dalam
mempelajari seni lukis realis penguasaan warna dan bentuk sangatlah penting
khususnya warna dan bentuk manusia atau anatomi manusia karena semakin kuat
warna dan bentuk manusia yang dilukiskan maka akan menciptakan kesan realis atau
mirip dengan aslinya. Inilah yang membuat penulis tertarik meneliti kemampuan
melukis realis manusia. Di samping itu melukis realis manusia merupakan dasar dalam
melatih kemampuan untuk membuat anatomi tubuh manusia. Selain itu penulis juga
ingin mengetahui kemampuan siswa dalam menguasai bentuk manusia dalam melukis
realis. Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam hal ini dapat dirumuskan
permasalahan yaitu bagaimanakah kemampuan melukis realis manusia menggunakan
cat minyak oleh siswa kelas XI Lukis Modern SMKN 1 Sukawati Kabupaten Gianyar
tahun pelajaran 2015/2016?

1.2 Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bakat dan
memperluas wawasan di dalam menciptakan suatu karya seni serta meningkatkan
pengetahuan dalam bidang seni rupa.
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan melukis
realis manusia menggunakan cat minyak oleh siswa kelas XI Lukis Modern SMKN 1
Sukawati Kabupaten Gianyar tahun pelajaran 2015/2016.

1.3 Landasan Teori
Dalam penelitian yang bersifat ilmiah selalu dilandasi oleh suatu teori yang
menunjang sehingga penelitian tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Keberadaan
teori dalam sebuah penelitian tentu harus relevan dengan penelitian yang dilakukan.
Dengan teori-teori dapat dilakukan pendekatan terhadap masalah yang dibahas dan

121
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

menjadi pedoman untuk menentukan arah penelitian. Dalam landasan teori ini
diuraikan beberapa hal yang berhubungan dengan kemampuan melukis realis manusia
menggunakan cat minyak sehingga dapat mendukung dan memperlancar proses belajar
secara teori yang dimaksud antara lain.

1.3.1 Pengertian Seni Lukis
Seni lukis adalah suatu kegiatan manusia dalam proses menggambar. Melukis
hakekatnya adalah menggambar, hanya perbedaannya apabila melukis sangat
mengutamakan perasaan yang dibentuk menjadi lukisan. Seni lukis adalah hasil
curahan cita rasa dari subjek pencipta dengan menggunakan media karya yang berupa
garis, bidang, warna, tekstur, volume dalam bidang dua dimensi. Seni lukis merupakan
bentuk karya seni rupa dua dimensi yang memiliki ukuran panjang dan lebar saja.
Sehingga cara melihatnya hanya satu arah dari depan (Karang & Budiasa, 2006 : 6).

1.3.2 Pengertian Seni Lukis Realis
Seni lukis realis adalah salah satu isme didalam seni lukis yang dalam
pengungkapannya berusaha menggambarkan suatu objek seperti apa adanya, yang
dijadikan sebagai subjek yang tampil dalam suatu karya seni lukis. Subjek tersebut
divisualkan sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan apapun
yang dapat mengarah pada interpretasi tertentu (Arsana, 2013 : 5).

1.3.3 Ragam Seni Lukis Realis
a) Seni lukis realis klasik
Realisme klasik mengacu pada gerakan seni dalam lukisan sekitar abad 20an
yang menempatkan nilai tinggi pada keterampilan dan keindahan, serta
menggabungkan unsur neoclassicism abad ke-19.

b) Seni lukis realis sosialis

122
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Realisme sosialis menjadi doktrin resmi di Uni Soviet sebagai upaya
propaganda pemerintahan Komunis. Pada tahun 1932 ketika pemerintah
represif Stalin mengeluarkan dekrit. Pelukis diharapkan dapat menghasilkan
karya lukisan dengan adegan pekerja bahagia di pertanian kolektif , potret
heroik Stalin dan pemimpin lainnya , dan lanskap industri.
c) Seni lukis realis fotografis
Realis fotografis atau Photorealist Painting adalah suatu genre dalam lukisan
yang memanfaatkan teknologi fotografi sebagai media bantu, Sebagai gerakan
seni yang berevolusi dari Pop Art dan sebagai counter untuk Abstrak
Ekspresionisme serta gerakan seni Minimalis pada akhir tahun 1960 dan awal
1970-an di Amerika Serikat.
d) Seni lukis super/hiper realis
Seni lukis Hyperrealism adalah genre lukisan yang menyerupai foto beresolusi
tinggi. Hyperrealism dianggap sebagai kemajuan fotorealisme, sekaligus
dipandang sebagai cabang dari fotorealisme. Hyperrealism merupakan sebuah
gerakan seni independen dan gaya seni di Amerika Serikat dan Eropa yang
sudah berkembang sejak awal 2000-an. Seni Lukis Hyperrealism awal abad ke-
21 didirikan berdasarkan pada prinsip-prinsip estetika fotorealisme. Para
pelukis genre ini pada umumnya bekerja dengan cara meniru hasil bidikan
fotografi untuk membuat lukisan yang tampaknya seperti foto (Arsana, 2013 :
17).

1.3.4 Alat dan Bahan Untuk Melukis Realis
Dalam berkarya tentu kita akan membutuhkan alat dan bahan. Alat dan bahan
adalah instrumen pokok yang terdiri dari berbagai bentuk dan fungsi yang
memungkinkan kita nyaman untuk menggunakannya.

Adapun alat dan bahan yang diperlukan untuk melukis realis antara lain:

123
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Alat: Pensil untuk membuat sketsa awal lukisan, Penghapus, Kuas khusus
untuk cat minyak, Gelas untuk membersihkan cat minyak, Palet untuk mencampur cat
minyak, Pisau palet/pisau lukis.
Bahan: Kanvas, Cat minyak, Pelarut/pengencer cat minyak
Alat dan bahan tersebut harus dilengkapi sebelum kita berkarya agar pada saat kita
mulai berkarya kita tidak kebingungan ketika membutuhkannya.

1.3.5 Teknik Melukis Realis
a) Teknik Monokrom
Monokrom adalah teknik satu warna, belajar melukis menggunakan teknik
monokrom akan membantu kita untuk mengetahui bagaimana mencari,
mencampur, dan menggunakan tiga jenis pencahayaan, warna terang, sedang,
dan gelap (Berrill, 2008: 18).
b) Teknik Opaque
Teknik Opaque adalah teknik melukis menggunakan cat minyak, cat poster, cat
akrilik maupun cat air, dengan kondisi cat dibuat kental, tidak banyak
menambah minyak atau air. Saat menggunakan dilakukan dengan goresan yang
tebal, sehingga menghasilkan warna pekat dan padat. Warna-warna yang
digoreskan dapat saling menumpuki. Teknik ini sering disebut dengan teknik
plakat atau teknik poster (Arsana, 2013: 36).

1.3.6 Unsur-unsur Seni Lukis Realis
Karya seni terbentuk dari berbagai unsur-unsur pendukung yang membangun
nilai estetika pada kesatuannya sehingga suatu karya dapat dinikmati kehadirannya
secara utuh. Adapun unsur atau aspek pokok yang dinilai didalam karya seni lukis realis
manusia menggunakan cat minyak ini adalah: garis, bentuk, warna, proporsi, dan
komposisi.
a) Garis

124
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Garis adalah suatu goresan yang memiliki dimensi memanjang lurus, lengkung,
ataupun berkelok-kelok. Garis juga dapat berupa batas limit dari suatu bidang,
ruang, warna dan sebagainya.
b) Bentuk
Bentuk adalah merupakan suatu wujud yang memiliki demensi, panjang, lebar
dan tinggi yang dihasilkan oleh goresan-goresan garis yang memiliki karakter
yang berbeda-beda.
c) Warna
Warna adalah sensasi yang diciptakan oleh sistem visual kita karena adanya
eksitasi radiasi elegtromagnetik yang dikenal sebagai cahaya.
d) Proporsi
Proporsi merupakan hasil dari hubungan perbandingan antara jarak, jurnlah,
tingkatan, dan bagian disebut sebagai proporsi atau hubungan satu bagian
dengan bagian lain dan keseluruhan dalam suatu susunan (Suryahadi, 2008:
221).
e) Komposisi
Komposisi adalah gabungan atau susunan unsur-unsur seni rupa yang disusun
sedemikian rupa sehingga menjadi satu kesatuan yang harmonis.

2 METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan langkah dan cara dalam mencari, merumuskan,
menggali data, menganalisis, membahas dan menyimpulkan masalah dalam penelitian
(Musfiqon, 2012: 14).

2.1 Metode penentuan subjek penelitian
Metode penentuan subjek penelitian adalah suatu cara untuk menentukan
subjek penelitian, dalam menentukan subjek penelitian ada dua alternatif yang dapat
dilakukan yaitu penelitian populasi dan penelitian sampel. Diantara alternatif
penentuan subjek penelitian, penulis memilih alternatif yang pertama yaitu penelitian

125
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

populasi karena jumlah keseluruhan individu atau subjek penelitian berada di bawah
angka seratus.

2.2 Metode Pendekatan Subjek Penelitian
Metode pendekatan subjek penelitian dibagi menjadi dua bagian yaitu metode
emperis dan metode penelitian ekperimen. Di dalam penelitian ini metode yang akan
digunakan dalam mengadakan pendekatan subjek penelitian adalah metode empiris,
karena subjek yang diteliti dapat diamati oleh indra manusia dan gejala yang diteliti
sudah ada secara wajar. Gejala yang dimaksud yaitu, siswa sudah diajarkan melukis
realis manusia menggunakan cat minyak di kelas XI lukis modern SMKN 1 Sukawati.

2.3 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menerapkan teknik-teknik
tetentu, sesuai dengan data yang diinginkan dalam penelitan. Ada beberapa teknik yang
dapat digunakan untuk megumpulkan data penelitian, di antaranya: teknik wawancara,
teknik observasi, teknik quesioner, teknik dokumentasi, dan teknik tes (Musfiqon, 2012
: 116). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
tes berupa tes tindakan.

2.4 Metode Pengolahan Data
Dalam pengolahan data, peneliti perlu menentukan teknik analisis apa yang
akan digunakan, apakah statistik atau nonstatistik. Analisis statistik ada dua yaitu
statistik deskriptif dan statistik inferensial (Musfiqon, 2012 : 152). Metode yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik deskriptif. Adapun
langkah-langkah yang disajikan dalam pengolahan data dengan statistik deskriptif
adalah sebagai berikut : (1) Mencari Skor Maksimal Ideal (SMI) (2) Membuat
Pedoman Konversi (3) Membuat Kriteria Predikat Kemampuan Belajar Siswa dalam
Melukis Realis Manusia Menggunakan Cat Minyak (4) Mencari Nilai Rata-rata.

2.4.1 Mencari Skor Maksimal Ideal

126
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Skor maksimal ideal (SMI) adalah skor tertinggi yang mungkin dicapai
apabila item yang dicapai benar atau sesuai dalam aspek penilaian dari bobot yang
ditentukan. Skor maksimal ideal (SMI) ini dapat dicari dengan cara menghitung jumlah
item yang diberikan serta bobot dari masing-masing item (Gunartha, 2009 : 68).
Dalam proses pencarian skor setiap karya siswa dinilai dari lima aspek yaitu garis
dengan bobot 3, bentuk 4, warna 5, proporsi 4, komposisi 4. sehingga jika semua aspek
tersebut dicapai maka skor maksimal ideal (SMI) yang diraih siswa adalah 20.

2.4.2 Membuat Pedoman Konversi
Pedoman konversi digunakan dalam mengubah skor mentah menjadi skor
standar dengan norma absolut skala seratus. Skala seratus adalah suatu pembagian
tingkatan yang bergerak dari nol sampai seratus. Angka nol menyatakan kategori
rendah dan angka seratus menyatakan kategori tertinggi (Gunartha, 2009 : 74).
Skala seratus juga disebut skala persentil. Untuk mengkonversikan skor mentah
menjadi skor standar dengan norma absolut skala seratus dipergunakan rumus sebagai
berikut:

𝑋 𝑃
= 𝑥 100
𝑆𝑀𝐼
Keterangan:
P = Persentil
X = Skor yang dicapai
SMI = Skor Maksimal Ideal
(Nurkancana & Sunartana, 1992 : 99).

2.4.3 Membuat Kriteria Predikat Kemampuan Belajar Siswa dalam Melukis
Realis Manusia Menggunakan Cat Minyak

127
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Untuk menentukan kemampuan siswa digunakan kriteria yang menurut kategori
atau predikat kemampuan belajar melukis realis manusia menggunakan cat minyak
oleh siswa kelas XI Lukis Modern SMKN 1 Sukawati Kabupaten Gianyar tahun
pelajaran 2015/2016 seperti pada tabel di bawah ini:
TABEL 2.1 Kriteria Predikat Kemampuan Melukis Realis Manusia Menggunakan Cat
Minyak oleh Siswa Kelas XI Lukis Modern SMKN 1 Sukawati Kabupaten Gianyar
Tahun Pelajaran 2015/2016
No. Skor Standar Kategori
1. 90-100 Baik Sekali
2. 80-89 Baik
3. 65-79 Cukup
4. 55-64 Kurang
5. 0-54 Sangat Kurang
(Gunarta, 2009:68)

2.4.4 Mencari Nilai Rata-rata
Setelah skor standar diperoleh, langkah berikutnya adalah mencari nilai atau
angka rata-rata kemampuan melukis realis manusia menggunakan cat minyak. Dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
∑ 𝑓𝑥
𝑀=
𝑁
Keterangan:
M = Mean / rata-rata
∑ 𝑓𝑥 = Jumlah nilai
N = Jumlah populasi penelitian
(Nurkancana & Sunartana, 1992 : 174).

3 PENUTUP
3.1 Simpulan

128
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

Berdasarkan data hasil penelitian kemampuan melukis realis manusia
menggunakan cat minyak oleh siswa kelas XI lukis modern SMKN 1 Sukawati
Kabupaten Gianyar tahun pelajaran 2015/2016 siswa mendapat nilai rata-rata 84,33
yang dibulatkan menjadi 84, dengan hasil yang dicapai maka dapat dikatagorikan
berpredikat baik. Hal tersebut dapat dilihat dari presentase kemampuan melukis realis
siswa yaitu 6 orang mendapat predikat baik sekali dengan presentase 40,00%, 7 orang
mendapat predikat baik dengan presentase 46,66% dan 2 orang mendapat predikat
cukup dengan presentase 13,33%.
Berpedoman pada kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk mata pelajaran
seni lukis di SMKN 1 Sukawati Kabupaten Gianyar yaitu dengan nilai ketuntasan 75
maka diketahui jumlah siswa yang dikatagorikan mencapai ketuntasan adalah sebanyak
13 orang dengan presentase 86,66% sedangkan jumlah siswa yang belum mencapai
ketuntasan adalah sebanyak 2 orang dengan presentase 13,33%. Dari hasil ini dapat
dinyatakan bahwa jumlah siswa yang memenuhi syarat tuntas belajar dalam membuat
karya seni lukis realis manusia menggunakan cat minyak lebih banyak dibandingkan
dengan siswa yang belum memenuhi syarat tuntas belajar.

3.2 Saran-saran
Bedasarkan simpulan di atas dapat diajukan beberapa saran guna meningkatkan
pembelajaran melukis kedepannya, khususnya dalam melukis realis manusia
menggunakan cat minyak yaitu sebagai berikut :
1) Siswa diharapkan lebih kreatif meningkatkan kemampuan dalam proses
mewarnai menggunakan cat minyak karena dalam melukis realis proses
pewarnaan sangat penting untuk mendapat kemiripan atau ketepatan objek yang
dilukis.
2) Kepada guru yang mengajar dalam mata pelajaran lukis modern diharapkan
untuk terus memperhatikan anak didiknya yang mengalami kesulitan pada saat
berkarya dan selalu memberikan motivasi dengan tujuan membangkitkan
semangat belajar siswa guna meningkatkan potensi yang ada pada diri siswa.

129
Stilistetika Tahun VI Volume 10, Mei 2017
ISSN 2089-8460

3) Sarana dan prasarana di dalam sekolah perlu ditambah dan dirawat dengan baik
agar siswa lebih nyaman dan mudah dalam belajar.

4) Demikian saran-saran yang dianggap perlu untuk disampaikan dengan harapan
semoga bermanfaat bagi siswa dan guru bidang studi serta bermanfaat untuk
meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah.

DAFTAR RUJUKAN
Arsana, Banu. 2013. Seni Lukis Realis I. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Pembina Sekolah Menengah Kejuruan.
Berrill, Philip. 2008. Panduan Melukis Dengan Cat Minyak. PT Macanan Jaya
Cemerlang.
Gunarta, I Wayan. 2009. Materi Kuliah Evaluasi Pembelajaran. Denpasar: Fakultas
Pendidikan Bahasa dan Seni institut keguruan dan Ilmu Pendidikan
(IKIP) PGRI Bali.
Karang, I Made & I Nyoman Budiasa. 2006. Seni Budaya Seni Rupa. Badung: Prima
Media.
Musfiqon, 2012. Panduan Lengkap Metodelogi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT
Prestasi Pustaka.
Nurkancana, I Wayan & Sunartana. 1992. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha
Nasional.
Soedarso Sp, 2006. Trilogi Seni Penciptaan, Eksistensi, dan Kegunaan Seni.
Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta.
Suryahadi, A. Agung. 2008 Seni Rupa Jilid I. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan.

130
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENERAPKAN PASANG
AKSARA BALI DALAM MENYALIN WACANA BERHURUF LATIN
KE AKSARA BALI PADA SISWA KELAS X MM1
SMK NEGERI 1 SUKAWATI GIANYAR
TAHUN PELAJARAN 2015/206

oleh

Kadek Pande Yulia Sanjaya, 2012.II.2.0048
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah
Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Bali

Abstrak
Kegiatan menyalin wacana berhuruf latin ke dalam aksara Bali sangat
diperlukan siswa di masyarakat. Namun, menulis aksara Bali kurang diminati
karena dianggap sulit oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui
apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan
kemampuan menerapkan pasang aksara Bali dalam kegiatan menyalin wacana
berhuruf latin ke aksara Bali pada siswa Kelas X MM1 SMKN 1 Sukawati tahun
pelajaran 2015/2016. (2) mengetahui apakah penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan respon siswa dalam kegiatan menyalin
wacana berhuruf latin ke aksara Bali pada siswa Kelas X MM1 SMKN 1
Sukawati tahun pelajaran 2015/2016.
Dalam penelitian ini menggunakan sejumlah landasan teori, diantaranya:
(1) model pembelajaran kooperatif, (2) Tujuan pembelajaran koopeatif (3) model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, (4) langkah-langkah menggunakan Jigsaw,
(5) pengaruh positif model pembelajaran Jigsaw, (6) pengertian menulis, (7)
pengertian wacana, (8) aksara Bali, (9) sejarah aksara Bali, dan (10) pengertian
menyalin. Pengumpulan data dilakukan dengan metode tes dan observasi. Data
diolah menggunakan metode statistik deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan kemampuan menerapkan pasang
aksara Bali dalam menyalin wacana berhuruf latin ke dalam aksara Bali. Hal ini
dapat dilihat dari pemerolehan nilai rata-rata siswa pada siklus I sebesar 74,45
yang kemudian meningkat pada siklus II menjadi 85,3 dengan ketuntasan klasikal
pada siklus I hanya mencapai 60% kemudian menjadi 100% pada siklus ke II dan
(2) respon siswa yang ≥ baik atau aktif pada siklus I 45% menjadi 100% pada
siklus II dengan rincian, siklus I menunjukkan nilai rata-rata respon siswa sebesar
69,65 kemudian mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 88,85.

Kata Kunci: Model pembelajaran Jigsaw, pasang aksara Bali, menyalin, wacana

131
Abstract
Activities discourse lettered copy Latin script into aksara Bali
indispensable students in the community. However, write the aksara Bali less
attractive to students. This study aims to (1) whether the application cooperative
learning model can improve the ability apply pasang aksara Bali activities
discourse lettered copy latin alphabet to aksara Bali in class X MM1 SMK Negeri
1 Sukawati Gianyar school year 2015/2016. (2) whether the application
cooperative learning model can improve the response of student in activities
discourse lettered copy latin alphabet to aksara in class X MM1 SMK Negeri 1
Sukawati Gianyar school year 2015/2016.
In this study a number of theoretical basis, among other: (1) cooperative
learning model, (2) the purpose of cooperative learning, (3) cooperative learning
model Jigsaw, (4) steps using the Jigsaw, (5) the positive influence learning model
Jigsaw, (6) the notion of writing, (7) the nation of discourse, (8) aksara Bali, (9)
historical of aksara Bali, and (10) the notion copying. Data collection using the
test method and observation. Data were processed using descriptive statistical
methods.
The results showed that (1) the implementation of cooperative learning
model Jigsaw can improve the ability apply pasang aksara Bali activities discourse
lettered copy latin alphabet to aksara Bali. This ca be seen from the acquisition
value of the average student in cycle I amounting to 74,45 and then increase in
cycle II to 85,3 with classical completeness in cycle I only reached 60% and then
increased to 100% in cycle II and (2) student responses ≥ good or active in cycle I
45% increased to 100% in cycle II with detail, cycle I show the average value of
69,65 students then increased in cycle II to 88,85.

Keyword: Jigsaw learning model, pasang aksara Bali, copy, discourse

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bahasa Bali adalah salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia.
Bahasa Bali memiliki eksistensi yang cukup baik dibanding bahasa daerah
lainnya. Hal ini bisa dilihat dari pelestarian bahasa Bali, yang sampai saat ini
masih tetap digunakan sebagai alat komunikasi dalam berbagai bidang kehidupan,
baik dalam bidang pendidikan, agama, adat-istiadat, dan kesenian. Bahasa Bali,
dalam penyampaiannya dapat dilakukan secara lisan dan tulis. Melestarikan
aksara Bali semestinya dilakukan oleh semua pihak, agar aksara Bali tetap ajeg
atau lestari. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh pemerintah Provinsi Bali yang
memberikan perhatian sangat serius terhadap aksara Bali dalam rangka

132
pembinaan dan pengembangan bahasa daerah Bali. Dalam hal ini, pemerintah
menyasar pendidikan formal di sekolah sebagai tempat pengajaran bahasa Bali.
Terbukti dengan adanya pembelajaran bahasa Bali sebagai kurikulum muatan
lokal, yang diwajibkan dari sekolah dasar (SD) hingga menengah atas
(SMA/SMK). Salah satunya pembelajaran bahasa Bali yang dilaksanakan di SMK
Negeri 1 Sukawati, Gianyar. Dalam silabus bahasa Bali kelas X semester I,
standar kompetensi 4. Mengungkapkan pikiran, gagasan, dan perasaan dalam
bentuk tulisan berbagai komposisi non sastra. Adapun kompetensi dasarnya pada
4.1 Menyalin dengan idikator (1) Menyalin suatu teks atau wacana dengan aksara
Bali, (2) Menyalin ke huruf latin, (3) Menerapkan Pasang aksara Bali dalam
menyalin teks.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMK Negeri 1 Sukawati,
Gianyar pada kelas X MM1, kemampuan menyalin wacana berhuruf latin ke
dalam aksara Bali siswa masih sangat rendah. Terbukti dari nilai rata-rata siswa
kelas X MM1 SMK Negeri 1 Sukawati, Gianyar yaitu sebesar 1388 dengan rata-
rata keseluruhan sebesar 69,4 dalam (skala 100). Hal tersebut membuktikan masih
banyak siswa yang belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang
telah ditentukan oleh SMK N 1 Sukawati yaitu 75. Dari 20 siswa hanya 2 orang
siswa atau 10% siswa yang mencapai KKM sedangkan 18 siswa atau 90% siswa
belum mencapai KKM. Berdasarkan informasi dari guru bidang studi bahasa Bali,
rendahnya kemampuan siswa disebabkan pemahaman awal siswa terhadap
pembelajaran bahasa Bali yang susah dan rumit terutama mengenai pasang aksara
Bali, sehingga motivasi belajar siswa sangat kurang. Untuk meningkatkan
motivasi dan keaktifan siswa dalam pembelajaran, guru harus merancang sebuah
pembelajaran yang mewajibkan siswa untuk aktif dan berinteraksi dalam proses
belajar mengajar secara koperatif. Dalam model pembelajaran kooperatif ada
beberapa tipe, namun tipe yang digunakan dalam pembelajaran pasang aksara
Bali yaitu tipe Jigsaw. Dilihat dari materi pasang aksara Bali yang cukup banyak
diharapkan dengan menerapkan meodel kooperatif tipe Jigsaw, dapat
memudahkan siswa dalam mempelajari materi karena masing-masing siswa

133
dituntut untuk fokus terhadap sub bab atau unit-unit, yang nantinya akan
disampaikan kembali kepada siswa lainnya sebagai “seorang ahli”.
Berdasarkan paparan latar belakang di atas, peneliti tertarik mengangkat
permasalahan ini menjadi sebuah penelitian yang berjudul “Penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Kemampuan
Menerapkan Pasang Aksara Bali dalam Menyalin Wacana Berhuruf Latin ke
aksara Bali pada Siswa Kelas X MM1 SMKN 1 Sukawati, Kabupaten Gianyar
Tahun Pelajaran 2015/2016”.

2 Landasan Teori
Sebuah penelitian memerlukan teori-teori yang dianggap relevan dengan
masalah yang diteliti, sebab sebuah teori akan memberikan tuntunan kerja yang
akan mempermudah pemahaman terhadap suatu objek. Dalam penelitian ini
menggunakan sejumlah landasan teori, diantaranya: (1) model pembelajaran
kooperatif, (2) Tujuan pembelajaran koopeatif (3) model pembelajaran kooperatif
tipe Jigsaw, (4) langkah-langkah menggunakan Jigsaw, (5) pengaruh positif
model pembelajaran Jigsaw, (6) pengertian menulis, (7) pengertian wacana, (8)
aksara Bali, (9) sejarah aksara Bali, dan (10) pengertian menyalin.

3 Wawasan Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk
memberikan sumbangan pikiran kepada dunia pendidikan di tingkat SMA/SMK
dalam bidang pengajaran bahasa daerah Bali khususnya dalam pegajaran
keterampilan menulis aksara Bali. Secara khusus penelitian ini untuk mengetahui
apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan
kemampuan menerapkan pasang aksara Bali dalam menyalin wacana berhuruf
latin ke aksara Bali pada siswa Kelas X MM1 SMKN 1 Sukawati tahun pelajaran
2015/2016 dan Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan respon siswa Kelas X MM1 SMKN 1
Sukawati tahun pelajaran 2015/2016 pada kegiatan pembelajaran menerapkan
pasang aksara Bali dalam menyalin wacana berhuruf latin ke aksara Bali.

134
2 METODE PENELITIAN
2.1 Desain Penelitian
Penelitian ini diawali denga refleksi awal yang dilakukan tanpa
menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Berdasarkan refleksi
awal diperoleh informasi bahwa kemampuan siswa kelas X MM1 SMK Negeri 1
Sukawati tahun pelajaran 2015/2016 masih sangat rendah. Peneliti mencoba
mengadakan siklus I dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe
Jigsaw yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menerapkan pasang
aksara Bali dalam menyalin wacana berhuruf latin ke aksara Bali.
Perencanaan penelitian ini diawali dengan menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP), membuat media pembelajaran, instrumen, dan menyusun
alat evaluasi pembelajaran. Tahap berikutnya adalah pelaksanaan tindakan yang
dimana dilaksanakan berdasarkan langkah-langkah dalam RPP. Tahap observasi
dilakukan saat pembelajaran berlangsung menggunakan instrumen yang
disediakan. Tahap refleksi dilakukan saat akhir pembelajaran, yang bertujuan
untuk memperoleh umpan balik di dalam menentukan tindakan selanjutnya. Hasil
refleksi siklus I ditindak lanjuti jika 75% siswa belum mencapai nilai KKM, dan
diakhiri jika 75% siswa sudah mencapai KKM.

2.2 Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas X MM1 SMK Negeri 1
Sukawati tahun pelajaran 2015/2016. Data yang dihimpun adalah data berupa
hasil tes menyalin wacana berhuruf latin ke aksara Bali dan data hasil observasi
terhadap respon siswa dalam pembelajaran.

2.3 Bagaimana Data Dikumpulkan
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik penilaian
hasil tes siswa sebagai data kuantitatif dan data kualitatif diperoleh dari hasil tes
observasi.

135
Tes yang dijadikan instrumen adalah tes menyalin wacana berhuruf latin
ke aksara Bali. Tes ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan
menerapkan pasang aksara Bali dalam menyalin wacana berhuruf latin ke aksara
Bali dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.

Adapun isntrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data kuantitatif
atau instrumen observasi sebagai berikut.

Tabel 3.4 Data Observasi Respon Siswa
No. Nama Aspek yang dinilai Jumlah
Siswa 1 2 3 4 5 Skor
Perhatian Keaktifan Keantusisasan Ketekunan Kerjasama
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

Keterangan:
1 = Sangat Kurang (SK)
2 = Kurang (K)
3 = Cukup (C)
4 = Baik (B)
4 = Sangat Baik (SB)

2.4 Analisis Data

Adapun metode yang digunakan untuk mengolah data dalam penelitian ini
adalah metode statistik deskriptif. Sesuai dengan metode yang digunakan dalam
mengolah data penelitian ini, maka ditempuh langkah-langkah sebagai berikut.

a. Melakukan penyekoran
b. Mengubah skor mentah menjadi skor standar, dengan cara: (1)
menentukan skor maksimal ideal (SMI), dan (2) membuat pedoman
konversi.
c. Menentukan kriteria predikat kemampuan siswa.
d. Mengelompokkan kemampuan siswa.

136
e. Mencari skor rata-rata.
f. Analisis data respon siswa.
g. Menarik kesimpulan.

3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data yang diperoleh dari refleksi awal, siklus I hingga siklus
II terjadi peningkatan kemampuan siswa dan berikut dapat dilihat perbandingan
data hasil tes kemampuan menerapkan asang aksara Bali dalam menyalin wacana
berhuruf latin ke dalam aksara Bali pada siswa kelas X MM1 SMK Negeri 1 Sukawati,
Kabupaten Gianyar tahun pelajaran 2015/2106, dari refleksi awal, siklus I hingga siklus
II.

Refleksi Siklua I Siklus II
No Nama Siswa Awal Keterangan
Skor Skor Skor
standar standar standar
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Ari Santika Putra, I Putu 70 71 86 Meningkat
2. Adi Sanjaya, I Putu 68 71 82 Meningkat
3. Ajus Wardana Putra, I Putu 65 73 84 Meningkat
4. Aldi Aristana, I Nyoman 68 73 82 Meningkat
5. Artayana, I Nyoman 65 71 84 Meningkat
6. Daniarti S., Ni Putu 68 75 86 Meningkat
7. Gede Ary Krisna Putra, A.A 68 71 86 Meningkat
8. Leony Sugiantari, Ni Ketut 68 77 90 Meningkat
9. Noviantari, Ni Wayan 72 77 86 Meningkat
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
10. Ogik Parwata, I Made 68 75 86 Meningkat
11. Rima Kartari, Dewa Ayu 75 77 92 Meningkat
12. Rizky Pradiptya, I Wayan 73 75 88 Meningkat
13. Rohmah Milawati 68 75 84 Meningkat
14. Setiawan, I Kadek 65 75 88 Meningkat
15. Sulastini, Ni Wayan 72 77 90 Meningkat
16. Ulan Sabtiningsih, Putu 76 82 92 Meningkat
17. Wisnu Jaya Wardana, I Ketut 72 73 82 Meningkat
18. Pande Indra Nugaha, I Komang 70 75 84 Meningkat
19. Wahyu Permana Putra, I Made 72 75 79 Meningkat
20. Muchamad Baskara 65 71 75 Meningkat
Jumlah 1388 1489 1706
Rata-rata 69,4 74,45 85,3

137
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui hasil penelitian penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk meningkatkan kemampuan
menerapkan pasang aksara Bali dalam menyalin wacana berhuruf latin ke dalam
aksara Bali pada siswa kelas X MM1 SMK Negeri 1 Sukawati tahun pelajaran
2015/2016 sesuai dengan pelaksanaan siklus I dengan sklus II adalah sebagai
berikut.
1. Hasil penelitian tindakan siklus I ke siklus II menunjukkan peningkatan nilai
yaitu sebanyak 20 orang atau 100% siswa dinyatakan meningkat.
2. Peningkatan rata-rata kelas dari tindakan siklus I ke siklus II sebesar 10,85
dari rata-rata siklus I sejumlah 74,45 dan meningkat pada siklus II menjadi
85,3.
3. Tingkat keberhasilan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Jigsaw untuk meningkatkan kemampuan menerapkan pasang aksara Bali
dalam menyalin wacana berhuruf latin ke dalam aksara Bali pada siswa kelas
X MM1 SMK Negeri 1 Sukawati Tahun Pelajaran 2015/2016, secara klasikal
mengalami peningkatan dari siklus I sejumlah 60% menjadi 100% pada siklus
ke II.

Berdasarkan data observasi yang diperoleh dari siklus I hingga siklus II
terjadi peningkatan respon siswa dan berikut dapat dilihat perbandingan data
respon siswa pada pembelajaran menerapkan pasang aksara Bali dalam menyalin
wacana berhuruf latin ke dalam aksara Bali pada siswa kelas X MM1 SMK
Negeri 1 Sukawati, Kabupaten Gianyar tahun pelajaran 2015/2106, dari refleksi
awal, siklus I hingga siklus II.

Siklus I Siklus II
No Nama Siswa Skor Skor Keterangan
standar standar
1. Ari Santika Putra, I Putu 52 92 Meningkat
2. Adi Sanjaya, I Putu 52 84 Meningkat
3. Ajus Wardana Putra, I Putu 60 84 Meningkat
4. Aldi Aristana, I Nyoman 56 88 Meningkat
5. Artayana, I Nyoman 56 88 Meningkat
6. Daniarti S., Ni Putu 76 92 Meningkat
7. Gede Ary Krisna Putra, A.A 52 92 Meningkat

138
8. Leony Sugiantari, Ni Ketut 92 96 Meningkat
9. Noviantari, Ni Wayan 84 92 Meningkat
10. Ogik Parwata, I Made 76 88 Meningkat
11. Rima Kartari, Dewa Ayu 80 96 Meningkat
12. Rizky Pradiptya, I Wayan 72 88 Meningkat
13. Rohmah Milawati 76 84 Meningkat
14. Setiawan, I Kadek 76 84 Meningkat
15. Sulastini, Ni Wayan 88 92 Meningkat
16. Ulan Sabtiningsih, Putu 92 96 Meningkat
17. Wisnu Jaya Wardana, I Ketut 60 84 Meningkat
18. Pande Indra Nugaha, I Kmng 72 88 Meningkat
19. Wahyu Permana Putra, I Made 72 84 Meningkat
20. Muchamad Baskara 48 84 Meningkat
Jumlah 1393 1777
Rata-rata 69,65 88,85

Dari tabel 4.15, respon siswa kelas X MM1 SMK Negeri 1 Sukawati diketahui
adalah sebagai berikut.
1. Hasil penelitian siklus I ke siklus II diketahui 20 siswa mengalami
peningkatan respon pada pembelajaran menerapkan pasang aksara Bali
dalam menyalin wacana berhuruf latin ke dalam aksara Bali.
2. Hasil respon siswa yang aktif pada siklus I menunjukkan presentase 45%
menjadi 100%. Peningkatannya sebesar 55%.
3. Respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
Jigsaw untuk meningkatkan kemampuan menerapkan pasang aksara Bali
dalam menyalin wacana berhuruf latin ke dalam aksara Bali menunjukkan
peningkatan, yaitu dari skor rata-rata pada siklus I sebesar 69,65 kemudian
mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 88,85.

5 SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Sehubungan dengan hasil penelitian yang terdapat pada bab IV, maka
dapat ditarik simpulan sebagai berikut.
1) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan
kemampuan menerapkan pasang aksara Bali dalam menyalin wacana
berhuruf latin ke dalam aksara Bali pada siswa kelas X MM1 SMK Negeri

139
1 Sukawati, Kabupaten Gianyar tahun pelajaran 2015/2016. Hal ini dapat
dilihat dari pemerolehan nilai rata-rata siswa pada siklus I sebesar 74,45
yang kemudian meningkat pada siklus II menjadi 85,3 dengan ketuntasan
klasikal pada siklus I hanya mencapai 60% kemudian meningkat 100%
pada siklus ke II dan telah mencapai indikator yang telah ditentukan.
2) Penerapan model pembelajaran koperatif tipe Jigsaw dapat meningkatkan
respon siswa Kelas X MM1 SMKN 1 Sukawati tahun pelajaran 2015/2016
pada pembelajaran menerapkan pasang aksara Bali dalam menyalin
wacana berhuruf latin ke dalam aksara Bali dengan predikat baik atau
aktif. Hal ini terbukti dari hasil presentase respon siswa yang aktif pada
siklus I meningkat pada siklus II. Data siklus I menunjukkan nilai rata-rata
respon siswa sebesar 69,65 kemudian mengalami peningkatan pada siklus
II menjadi 88,85 dengan presentase 45% menjadi 100%.

4.2 Saran-saran
Sesuai dengan hasil penelitian yang diperoleh dan diuraikan pada bab IV
dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut.
1) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw telah terbukti dapat
meningkatkan kemampuan menerapkan pasang aksara Bali dalam
menyalin wacana berhuruf latin ke dalam aksara Bali pada siswa kelas X
MM1 SMK Negeri 1 Sukawati, Kabupaten Gianyar tahun pelajaran
2015/2016. Oleh karena itu, disarankan kepada guru bahasa Bali SMK
Negeri 1 Sukawati, hendaknya senantiasa menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam proses pembelajaran
menerapkan pasang aksara Bali dalam menyalin wacana berhuruf latin ke
dalam aksara Bali.
2) Dalam aplikasinya, guru diharapkan mampu mengkolaborasikan model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan model pembelajaran yang
lainnya yang lebih inovatif, yang kiranya dapat saling melengkapi agar
mempermudah siswa untuk memahami dan meningkatkan motivasi
belajar.

140
3) Siswa disarankan untuk lebih giat belajar dan melatih diri dalam menulis
aksara Bali khususnya pasang aksara Bali sehingga mampu menerapkan
pasang aksara Bali sesuai dengan uger-uger yang baik dan meningkatkan
prestasi serta ikut melestarikan budaya Bali.
4) Peneliti menyarankan kepada peneliti lainya agar melakukan penelitian
sejenis dengan menggunakan atau mengembangkan subjek atau objek
yang lebih luas sehingga memperoleh hasil yang lebih valid dan nantiya
dapat diterapkan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran selanjutnya.
Demikianlah ini keseluruhan hasil penelitian ini, semoga bermanfaat bagi
pembaca dan pihak-pihak yang terkait. Dan akhir kata penulis persembahkan
skripsi ini dengan segala keterbatasannya.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2010. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
Arikunto, Suharsimi dkk. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Denpasar. 2009. Pedoman
Pasang Aksara Bali.
Damlan. 2014. Keterampulan Menulis. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Departemen Pendidikan Nasional. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Gunartha, I Wayan.2009. “Diktat Kuliah Evaluasi Hasil Belajar”. Denpasar: FPBS
IKIP PGRI Bali.
Gautama, Wayan Budha. 2006. Tata Sukertha Bahasa Bali. Denpasar: CV
Kayumas Agung.
Nala, Ngurah. 2006. Aksara Bali dalam Usada. Denpasar: Paramita Surabaya.

Pariamantari, Ida Ayu Made. 2015. “Penerapan Metode Drill untuk Meningkatkan
Kemampuan Mentransliterasi Wacana Berhuruf Latin Ke dalam Aksara
Bali pada Siswa Kelas X MM1 SMKN1 Sukawati Tahun Pelajaran
2014/2015”. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Program Studi Pendidikan

141
Bahasa Indonesia dan Daerah, Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan
Sastra Bali, Fakultas Pendidikan Bahasa dan seni IKIP PGRI Bali,
Denpasar.
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sukardi. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Suwija, I yoman. 2012. Wacana Bahasa Bali. Malang: Wineka Media.

Suwija, I Nyoman. 2012. Ngiring Nulis Bali. Denpasar: Wineka Media

142