You are on page 1of 152

STILISTETIKA

JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
Penanggung Jawab
Dekan FPBS IKIP PGRI Bali

Redaksi :

Ketua : Dr. Nengah Arnawa, M.Hum. (IKIP PGRI Bali)
Sekretaris : Drs. Nyoman Astawan, M.Hum. (IKIP PGRI Bali)
Bendahara : Dr. I Wayan Gunartha, M.Pd. (IKIP PGRI Bali)
Anggota : 1. Prof. Dr. Nyoman Suarka, M.Hum. (Unud)
2. Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. (Unand)
3. Prof. Dr. I Nengah Suandi, M.Hum. (Undiksha)
4. I Made Sujana, S.Sn., M.Si. (IKIP PGRI Bali)
5. Gusti Ayu Puspawati, S.Pd., M.Si.(IKIP PGRI Bali)
6. Dr. Anak Agung Gde Alit Geria, M.Si.(IKIP PGRI Bali)

Penyunting Bahasa Indonesia:

Drs. I Nyoman Suarsa, M.Pd.
Ida Ayu Agung Ekasriadi, S.Pd., M.Hum.

Penyunting Bahasa Inggris:

Ni Luh Gede Liswahyuningsih, S.S., M.Hum.
Komang Gede Purnawan, S.S.

Sirkulasi:

I Nyoman Sadwika, S.Pd., M.Hum.
Putu Agus Permanamiarta, S.S., M.Hum.

Administrasi :

Luh De Liska, S.Pd., M.Pd.
Ni Luh Purnama Dewi, S.Pd.
I Gusti Ngurah Okta Diana Putra

Alamat : Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali
Jalan Akasia, Sumerta, Denpasar Timur
Email : stilistetika@yahoo.com
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Pengantar Redaksi

Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni merupakan salah satu institusi
akademik yang berkonsentrasi pada ilmu pendidikan bahasa dan seni. Dinamika
ilmu pendidikan bahasa dan seni amatlah pesat. Oleh karena itu diperlukan wadah
untuk menghimpun dan menyosialisasikan perkembangan ilmu pendidikan bahasa
dan seni tersebut. Berdasarkan kesadaran dan komitmen civitas akademika,
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni berhasil mewujudkan idealisme ilmiahnya
melalui jurnal Stilistetika yang terbit dua kali setahun, yakni pada bulan Mei dan
November. Apa yang ada di tangan pembaca budiman saat ini merupakan jurnal
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016.
Jurnal Stilistetika ini memiliki makna tersendiri. Penerbitan edisi ini selain
disebarkan secara internal dalam kampus Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni,
juga didistribusikan pada komunitas akademik yang lebih luas. Jurnal Stilistetika
kali ini memuat delapan artikel ilmiah yang dihasilkan oleh dosen Fakultas
Pendidikan Bahasa dan Seni dan dua artikel ilmiah yang dihasilkan oleh
mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni.
Semoga penerbitan jurnal Stilistetika ini menjadi wahana yang baik untuk
membangun atmosfer akademik. Akhirnya, sumbangan pemikiran, kritik, dan
saran dari pembaca diharapkan dapat memperbaiki terbitan edisi selanjutya.

Redaksi

i
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Halaman
Pengantar Redaksi ......................................................................................... i
Daftar Isi ....................................................................................................... ii

Pembelajaran Sastra Yang Berorientasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
Ketut Yarsama ............................................................................................... 1

Dampak Pertunjukan Turistik Terhadap Perembangan Kesenian Bali
I Wayan Mastra. ............................................................................................ 12

Penciptaan Desain Motif Batik Kintamani
Ni Putu Laras Purnamasari .......................................................................... 33

Integrasi Pendekatan Artistik dalam Supervisi Pembelajaran
Luh De Liska, S.Pd., M.Pd. ........................................................................... 50

Seni Tari Sakral Barong Kedingkling Pada Saat Ngelawang Serangkaian
Hari Raya Galungan di Kabupaten Bangli (Kajian Estetika Seni Hindu)
Anak Agung Gede Agung Rahma Putra, S.Sn.,M.Sn .................................... 64

Keterampilan Berargumentasi Lisan dalam Presentasi Tugas Kelompok
pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia oleh Kelas IB Mahasiswa Program
Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik
Ni Wayan Sudarti, S.Pd., M.Hum.. ............................................................... 80

Estetika Seni Dalam Pementasan Gamelan Balaganjur pada Ritual Bhuta
Yajña di Kota Denpasar
I Ketut Lanus S.Sn., M.Si. ............................................................................. 97

Pendidikan Estetika Seni dalam Pementasan Wayang Sapuh Leger pada
Upacara Bayuh Oton
I Ketut Muada, S.Sn.,M.Sn. ........................................................................... 108

Analisis Keterampilan Bercerita Bahasa Bali Guru Taman Kanak-Kanak
Se Kota Denpasar Tahun Pelajaran 2015/2016
I Gede Suwartama......................................................................................... 128

Representasi Nilai-Nilai Pendidikan Antikorupsi pada Cerpen Karya
Siswa Kelas XI SMA Negeri 3 Denpasar Tahun Pembelajaran 2015/2016
Natalino Muni Nepa Rassi ............................................................................ 141

ii
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

PEMBELAJARAN SASTRA YANG BERORIENTASI
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

Oleh
Ketut Yarsama
IKIP PGRI Bali

Abstrak
Mengajar sastra di sekolah tidak dapat diimplementasikan dalam
proporsional dan bahsa Indonesia guru profesional. Hari ini, lebih banyak guru
bahasa Indonesia mengajarkan teori sastra bukan praktik penulisan. Dalam
kurikulum berbasis kompetensi (KBK), pembelajaran sastra harus dilaksanakan
secara seimbang antara teori dan praktek, bahkan tahap apresiasi yang produktif
atau implikasi dari prioritas yang lebih tinggi. guru bahasa Indonesia menuntut
tidak hanya menguasai materi dalam sastra yang baik, tapi dia seharusnya mampu
menghasilkan atau menciptakan sebuah karya sastra.
Di KBK, pembelajaran sastra di sekolah harus lebih fokus pada tahap
dari tahap produksi pengetahuan dan pemahaman. Kompetensi siswa menulis
pelajaran yang sangat mendesak harus digali, dibina, dididik, dikembangkan, dan
dilatih. Dengan strategi seperti itu, sebuah studi menghargai sastra dapat
dibudidayakan.

Kata kunci: KBK, pembelajaran Sastra yang apresiatif, proporsional dan
proffesional.

Abstract
Teaching literature in schools cannot be implemented in proportionate
and Indonesian language professional teachers. Today, more Indonesian
language teachers teache literary theory rather than practice compose. In a
competency-based curriculum (CBC), the learning of literature should be
implemented in a balanced between theory and practice, even the stage of
appreciation that is productive or implications of higher priority. Indonesian
language teachers demanded not only master the material in good literature, but
he was supposedly able to produce or create a work of literature.
In CBC, the literature learning in schools should focus more on stage
than the stage production of knowledge and understanding. Competencies
students compose a very urgent subjects had to be dug, nurtured, educated,
developed, and trained. With such a strategy, an appreciative study of literature
can be cultivated.

Keywords: CBC, Literature learning which is appreciative, proportional dan
proffesional.

1
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

1 Pendahuluan
Perubahan terhadap kurikulum sebagai sesuatu yang wajar dan harus
terjadi. Perubahan kurikulum sudah tentu disesuaikan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni. Atas dasar itu, di Indonesia sudah mengalami
berbagai perubahan kurikulum, yaitu: Kurikulum 1968  kurikulum 1976
kurikulum 1984  kurikulum 1994  kurikulum 2004  kurikulum
2006.Kurikulum terbaru yang saat ini diterapkan oleh guru bahasa Indonesia di
sekolah adalah Kurikulum 2013 yang dikenal dengan K13. Kurikulum 2004
sering disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), sedangkan
kurikulum 2006 sering disebut dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP). Dasar filosofis KBK , KTSP,dan K13 adalah sama, yakni siswa tidak lagi
diperlakukan sebagai objek belajar, tetapi sebagai subjek belajar. Kompetensi
yang dimiliki subjek didik harus benar-benar dibina dan dikembangkan oleh guru.
Siswa harus lebih aktif, kreatif, kritis, inovatif, dan produktif dalam proses
pembelajaran (Yarsama, 2005: 1).
Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah harus berorientasi
kepada perubahan kurikulum. Materi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia
seharusnya disesuaikan dengan perkembangan dan perubahan kurikulum. Siswa
akan lebih termotivasi belajar, apabila pembelajaran sastra dikemas dan dirancang
dengan baik oleh guru.
Di dalam proses belajar mengajar, guru harus berpedoman, kepada
kurikulum yang berlaku saat ini, yakni Kurikulum 2013(K13). Didal proses
pembelajaran sastra yang berbasis K13, guru BI harus mengemas dan merancang
materi pembelajaran sastra dengan sebaik-baiknya. Guru BI harus menghilangkan
paradigma lama yakni semata-mata mentransfer materi sastra kepada anak didik.
Budaya teaching seharusnya diubah menjadi budaya learning dan problem
solving. Budaya teaching akan melahirkan anak yang pasif dan apatis, sedangkan
budaya learning dan problem solving melahirkan anak yang aktif, kreatif,
inovatif, dan produktif. Dalam K13, seorang guru BI harus mengubah paradigm
lama dari budaya teaching diubah ke paradigm baru, yakni budaya learning dan
problem solving (Yarsama, 2005: 2). Pembelajaran sastra yang bagaimanakah
yang harus dirancang oleh guru BI berdasarkan K13?Tujuan penelitian ini adalah

2
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

untuk memberikan pengetahuan,keterampilan,dan sikap kepada guru bahasa
Indonesia sehingga mampu melaksanakan proses pembelajaran sastra yang
apresiatif.

2 Landasan Teori
Santosa (tt: 150) menyatakan bahwa pendidikan adalah semua usaha
untuk menempatkan bangsa dan Negara terhormat di antara bangsa dan Negara
lain-lainnya. Pendidikan sebagai alat untuk mengembangkan kebudayaan.
Kebudayaan Indonesia sedang berhadapan dan bertukar unsur dengan kebudayaan
lain yang datang dari luar Indonesia, terutama yang sekarang sedang merajalela
adalah kebudayaan Barat yang sudah berkembang lebih dari 600 tahun dan antara
lain membawa hak-hak berikut ini.
a. Dasar filsafat kehidupan, dengan cara bahwa individu adalah keramat
(sacredness of the individual), karena itu lebih dominan dalam kehidupan
daripada dalam kehidupan di Indonesia. Hak-hak individu lebih diutamakan
daripada kewajiban (human rights above duty), kebebasan lebih dari
pengaturan diri (freedom above personal discipline). Bagaimanakah Indonesia
akan menghadapi persoalan tersebut, bila kita bermaksud membangun
kepribadian Indonesia yang bersandar pada peninggalan nenek moyang.
b. Organisasi sosial, sangat didasarkan pada sistem organisasi (organization as a
system) dan kurang memperhitungkan manusia sebagai manusia. Sebaliknya
di Indonesia maka kebanyakan sifat manusialah yang berperan, sedangkan
sistemnya “dibijaksanakan”. Bagaimanakah pendidikan menghadapi soal ini.
c. Sistem politik dengan beraneka corak, demokrasi yang berlebihan (USA),
demokrasi dan tradisi (Inggris), demokrasi marxisme (Perancis-Italia) dan
sebagainya. Bagaimanakah pendidikan akan mengembangkan demokrasi
Pancasila menghadapi pengaruh import politik ini.
d. Sistem ekonomi yang perlu diteliti oleh ahli-ahli ekonomi dan dibandingkan
dengan sikap ekonomi bangsa Indonesia yang tradisional.
e. Pengetahuan dan ilmu pengetahuan, keterampilan, yakni bakat yang langsung
mempunyai hubungan dengan kehidupan manusia (survival value)
f. Sopan santun, tata tertib Barat dalam pergaulan, dibandingkan dengan sopan
santun dan tata tertib bangsa Indonesia. Apakah yang akan kita terima, apakah
yang akan kita tolak?
g. Penghayatan hukum, disiplin Barat dibandingkan dengan penghayatan hokum
dan disiplin bangsa Indonesia, dan seterusnya.
(Santoso, tt: 151-152)

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

3
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Salah satu cara untuk menangani permasalahan pendidikan adalah
dengan melakukan perubahan mendasr yang dimulai dari proses pembelajaran di
kelas dengan cara mengubah budaya teaching menjadi budaya learning dan
problem solving (Depdiknas, 2004: 1). Hal ini berarti permasalahan pendidikan
yang bermutu sangat dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang dilakukan guru
di kelas.
Jadi, guru mempunyai pengaruh yang amat urgen dalam peningkatan
kualitas pendidikan di tanah air kita.

3 Hakikat Kurikulum Berbasis Kompetensi
Saylor dan William M. Alexander (1956) menyatakan bahwa “The
Curriculum is the sumtotal of school’s efforts to influence learning whether in the
classroom, on the playground, or out of school” (Kurikulum adalah segala usaha
yang dilakukan di sekolah untuk mempengaruhi anak itu belajar, baik yang
dilaksanakan di dalam kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah). Kurikulum
meliputi segala pengalaman yang disajikan oleh sekolah agar anak mencapai
tujuan yang ditentukan oleh guru. Suatu tujuan tidak tercapai dengan suatu
pengalaman saja, akan tetapi melalui berbagai pengalaman dalam bermacam-
macam situasi di dalam maupun di luar sekolah. Pengalaman di sekolah dapat
memengaruhi pengalaman di luar sekolah dan sebaliknya. What results from
planning (on the lack there of), whether or not it comes out as intended, is the
curriculum”. Yang dianggap kurikulum adalah hasil yang nyata (actual learning
experiences) pada anak. Pengalaman di dalam dan di luar sekolah hendaknya
saling melengkapi dan norma-norma yang berlaku di sekolah hendaknya saling
melengkapi juga diterapkan dalam rumah tangga maupun masyarakat (Nasution,
1998: 10).
Alberty, Cs. (1965) menyatakan, bahwa kurikulum sebagai “all of the
activities that are provided for the students by the school (Kurikulum adalah
segala kegiatan yang disajikan oleh sekolah bagi para subjek didik. Tidak
diadakan pembatasan antara kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas. Definisi

4
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

pakar ini banyak kesamaan dengan pendapat Saylor dan Alexander. Dengan
kegiatan-kegiatan itu sekolah mengharapkan terjadi perubahan-perubahan dalam
kelakuan siswa yang sesuai dengan filsafat dan tujuan pendidikan.
Smith, Stanley dan J. Harlan Shores mendefinisikan kurikulum sebagai
“a sequence of potential experiences set up in the school for the purpose of
disciplining children and youth in group way of thinking and acting” (Kurikulum
sebagai sejumlah pengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak
yang diperlukan agar mereka dapat berpikir dan berkelakuan sesuai dengan
masyarakatnya. Ada yang memandang kurikulum sebagai actual learning
experiences “(Pengalaman belajar yang nyata, ada pula yang menganggap
kurikulum sebagai “potential learning experiences” yakni pengalaman belajar
yang secara potensial mungkin dapat diperoleh anak.
Neil (1988: 5) menyatakan bahwa ada empat konsepsi kurikulum yang
lazim, yaitu: humanistik, rekonstruksi sosial, teknologi, dan akademis. Kurikulum
seharusnya memberikan pengalaman memuaskan secara pribadi bagi setiap orang
(humanistik). Ahli rekonstruksi social menekankan kebutuhan masyarakat di atas
kebutuhan individu. Ahli teknologi memandang penyusunan kurikulum sebagai
proses teknologi untuk menghasilkan tujuan yang dikehendaki pembuat
kebijakan. Orang yang berorientasi akademik melihat kurikulum sebagai
penghantar yang mana siswa diperkenalkan terhadap disiplin mata pelajaran dan
bidang studi yang terorganisasi. Kurikulum yang ideal sudah didasari atas
keempat konsepsi kurikulum tersebut.
Pengganti kurikulum 1994 dengan kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi
di antaranya dilatarbelakangi oleh adanya tuntutan Garis-Garis Besar Haluan
Negara Tahun 1999, yang berbunyi bahwa dalam bidang pendidikan perlu
dilakukan pembaharuan system pendidikan termasuk pembaharuan kurikulum,
berupa diverikasi kurikulum untuk melayani keberagaman peserta didik,
penyusunan kurikulum yang berlaku secara nasional dan lokal sesuai dengan
kepentingan setempat, serta diverifikasi jenis secara profesional. Selain itu,
negara negara lain saat ini juga telah lebih dahulu memberlakukan kurikulum
berbasis kompetensi.

5
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Menurut Purwo (2003:1), ada perbedaan yang perlu disadari antara
GBPP dan KBK. Kedua GBPP itu, ketika muncul untuk pertama kalinya, serta
merta menampakkan diri sebagai sosok yang “dewasa”. Adapun KBK tampil
dalam sosok “bayi” yang sedang dalam pertumbuhan. Maksudnya, KBK
disampaikan ke khalayak ini dengan harap agar disikapi bukan sebagai bahan
yang sudah jadi, sudah final, melainkan sebagai bahan yang masih terbuka,
terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut, terbuka untuk dibenahi dan diperbaiki.
Kurikulum berbasis kompetensi lebih menitikberatkan kepada
kompetensi yang dimiliki subjek didik. Kompetensi subjek didik sangat urgen
digali, dibina, dilatih, dan ditumbuhkembangkan oleh guru. Dalam KBK peran
serta siswa dalam proses pembelajaran sangatlah dominan. Siswa harus aktif,
kreatif, kritis, inovatif, dan produktif ketika menerima materi dari guru. Guru
dituntut mampu membina, mendidik, mengajar, dan memotivasi subjek didik.
Guru berperan sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar.
Hamalik (1990: 8) menyatakan bahwa kurikulum sebagai pedoman bagi
guru dalam pembelajaran sastra di kelas Dalam pembelajan sastra yang ideal di
kelas maka seorang guru harus mengharmoniskan secara serasi antara aspek
kognitif, psikomotor, dan afektif.Dengan mengimplementasikan ketiga aspek
tersebut maka pembelajaran sastra bukan lagi sebagai pembelajaran yang
membosankan,tetapi tercipta proses pembelajaran yang menyenangkan.

4 Pembelajaran Sastra yang Berorientasi KBK
Pembelajaran sastra yang berdasarkan kurikulum lama (kurikulum 1968,
1976, 1984, 1994) dianggap belum berhasil untuk tercapainya pembelajaran sastra
yang apresiatif, khususnya pada tahapan implikasi atau produksi. Dengan
fenomena seperti itu, pemerintah mengganti kurikulum 1994 menjadi kurikulum
2004, yang terkenal dengan kurikulum berbasis kompetensi. Di jenjang
pendidikan dasar dan menengah, kurikulum 2004 diubah menjadi kurikulum 2006
yang terkenal dengan nama kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).
Pembelajaran sastra di PT sudah tentu berorientasi kepada KBK.
Endraswara (2003: 190) menyatakan bahwa ada beberapa asumsi perlunya KBK
dalam sastra, yaitu (1) peserta didik sebenarnya bukanlah tabung kosong yang

6
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

bersih, melainkan memiliki bakat dan kemampuan tertentu. Kemampuan tersebut
tidak akan berubah apabila tidak dikembangkan, (2) Kemampuan dasar yang
dimiliki peserta didik antara lain berupa daya imajinasi, keinginan tampil, dan
jiwa seni atau estetis, (3) pelaksanaan pembelajaran sastra sebelum ada KBK
boleh dikatakan gagal, karena tidak menyentuh esensi apresiasi sastra. Karena,
melalui KBK peserta didik akan diajak menggauli langsung karya sastra,
mengoptimalkan pengalaman hidup, mendayagunakan sumber belajar dari
lingkungan peserta didik, dan sebagainya; (4) di samping kemampuan individu
pesera didik juga mempunyai keinginan untuk saling kerja sama dengan orang
lain; (5) kegiatan yang berupa memproduksi sastra di rumah, misalkan ada tugas
pekerjaan rumah, sering kali tidak asli bahkan kadang-kadang dibuatkan orang
lain. Di samping itu peserta didik sering hanya mengandalkan pada hasil akhir
jika mencipta karya sastra, maka dengan KBK yang dipentingkan adalah proses
berolah sastra; setiap peserta didik memiliki daya juang kreativitas yang sulit
diabaikan. Setiap peserta didik akan berkreasi dalam sastra sesuai tingkat
kecerdasan dan imajinasinya; dan (7) perbedaan daya estetika, yakni suatu
kelembutan rasa dalam mengolah kata yang bermakna perlu dihargai.
Atas dasar asumsi tersebut, sudah waktunya pembelajaran sastra menata
diri. Pembelajaran sastra yangasal-asalan, tanpa berbasis kompetensi yang jelas
hanya akan mencetak sampah pendidikan. Akibatnya, sastra tidak ada artinya apa-
apa bagi kehidupan subjek didik. Karena itu, pembelajaran sastra yang berbasis
KBK mengajukan prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) kompetensi diarahkan pada
penanaman dan pengembangan budi pekerti luhur, (2) kea rah integritas nasional,
namun tetap menjaga identitas masing-masing, (3) pengembangan keterampilan
hidup. Hidup di masa depan penuh dengan kompetensi, karena itu kompetensi
sastra harus bisa disiapkan ke arah itu, (4) penilaian dilakukan secara
berkelanjutan, (5) perlu ada kemitraan dengan pihak-ihak terkait.
Dengan prinsip-prinsip tersebut, pembelajaran sastra semakin cerdas dan
jelas arahnya. Pembelajaran sastra bukan sekadar formalitas dan menekankan
teori-teori (hafalan). Pembelajaran dirancang bersama, sejalan otonomi kelas dan
guru. Penilaian tidak sekadar memilih (multiple choice) yang penuh tebakan,
melainkan ke arah hal-hal sinergis. Penilaian dilakukan secara kontinyu. Berarti,

7
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

kemampuan khusus ke arah life skill (kecakapan hidup) akan menjadi
pertimbangan penuh pada penilaian. Subjek didik yang berhasil meraih juara
menulis ataupun membaca cerpen, tentu berbeda dengan yang tidak pernah
memperoleh juara.
Pelaksanaan pembelajaran sastra yang didasari KBK memang unik.
Seharusnya tidak ada keseragaman antara sekolah satu dengan yang lain.
Pembelajaran sastra diajarkan sesuai dengan kekhasan yang dimiliki oleh sekolah
tersebut. Guru harus peka dan tanggap dengan kondisi yang ada di sekolah.Guru
harus mengemas materi pembelajaran sastra dengan baik sehingga siswa
termotivasi untuk belajar.Materi pembelajaran sastra harus dikemas secara
bervariasi.
Pembelajaran sastra berorientasi pada KBK tidak lagi menjejali siswa
dengan teori mati yang kering, melainkan pembelajaran sastra justru diarahkan
pada aspek-aspek kegunaan (pragmatik sastra). Aspek pragmatik sastra selalu
berorientasi pada fungsi sastra bagi subjek didik (Endraswara, 2003: 192).
Melalui KBK, subjek didik akan belajar lebih humanis dalam rangka
mencapai kompetensi dasar (KD). Kompetensi merupakan perpaduan dari
pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), dan sikap (afektif) yang
direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi adalah
kemampuan untuk menjadi dirinya. Subjek didik akan mampu melaksanakan
keterampilan, tugas, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang
keberhasilan. Kompetensi sastra merupakan kemampuan subjek didik untuk
melakukan tugas dan apresiasi secara total, yakni apresiasi yang berprospek masa
depan, apresiasi yang hidup, basah, dan penuh makna.
Depdiknas (2004) mengemukakan bahwa KBK memiliki karakteristik,
yaitu (1) menekankan pada kompetensi subjek didik, baik individual maupun
klasikal, (2) berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman, (3) penyampaian
pembelajaran menggunakan metode bervariasi, (4) sumber belajar bukan hanya
guru, (5) penilaian pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan
kompetensi. Dari karakteristik ini pembelajaran sastra diharapkan akomodatif
terhadap situasi, tuntutan peserta didik dan zaman.

8
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Orientasi pembelajaran sastra boleh saja setiap saat berubah, apabila
zaman memang menghendaki lain. Jadi, pembelajaran sastra tidak pernah tenang
dan permanen, melainkan bersifat dinamis. Dinamika pembelajaran selalu
mempertimbangkan ekologi sastra. Dengan cara ini, setiap jenjang pendidikan
yang membelajarkan sastra tidak lagi terjebak pada ruang diskursif. Di antara
segmen sastra saling ada keterkaitan, tidak berdiri sendiri, dan terjadi hubungan
simbiosis yang menguntungkan. Jika masing-masing ruang terpotong-potong,
kurang tertata maka sangat sulit pencapaian KBK. Karena itu, diperlukan sinergi
dari berbagai pihak untuk suksesnya pencapaian KBK.
Orientasi pembelajaran sastra tidak harus bertele-tele dan panjang lebar
dengan cekokan teori. Untuk itu, peneliti sastra dapat melakukan action research,
misalnya berupa kerja sama dengan dosen/guru untuk merancang pembelajaran
sastra yang bernuansa KBK. Pembelajaran semacam ini dapat melirik
kemasanbuku Apresiasi Puisi Remaja: Catatan Mengolah Cinta (2002) tulisan
Riris K Toha Sarumpaet. Buku ini secara tidak langsung menguraikan strategi
pembelajaran, sastra yang bernafaskan KBK, yakni di dalamnya tidak lagi
menteror peserta didik untuk menghafalkan, melainkan ke arah skill yang
menyenangkan.
Endraswara (2003: 193) mendeskripsikan pengenalan mengapresiasi
puisi yang sesuai dengan dunia remaja. Pertama, subjek didik diajak mencermati
hakikat puisi, tetapi bukan belajar teoretis. Subjek didik dipancing menggunakan
data empiris, untuk menyimpulkan sendiri apa itu puisi. Kedua, subjek didik
diajak mengenali imaji, tanggap terhadap lingkungan dan alam secara estetis.
Ketiga, subjek didik selalu dimotivasi terus mencoba dan berlatih. Keempat, seni
merangkai kata, bercerita lewat puisi. Kelima, subjek didik diajak menyelami
Sembilan pantangan yang mengganggu berpuisi, dan seterusnya.
Dengan langkah demikian subjek didik akan diajak bertamasya ke dunia
sastra. Mereka akan menyelam dengan sendiri ke dunia estetis. Hal ini berarti
pembelajaran sastra memiliki kegunaan spiritual, khususnya untuk keseimbangan
emosi. Pembelajaran sastra akan menjadi wahana menghaluskan rasa humanis. Di
samping itu, apabila seseorang berhasil menembus media massa maka kepuasan
batin dan prestise pun akan tercapai.

9
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

5 Penutup
Pembelajaran sastra yang berlandaskan KBK bukan hanya membekali
subjek didik dengan teori-teori sastra, melainkan dibekali life skill bersastra.
Kompetensi sastra pada subjek didik sangat perlu untuk digali, dibina, dididik,
dan ditumbuhkembangkan. Subjek didik perlu mengembangkan dan mengasah
keterampilan bersastra yang telah dimilikinya. Untuk itu, guru bahasa Indonesia
dituntut profesional dalam mengemas atau merancang pembelajaran sastra yang
apresiatif. Pembelajaran sastra yang bernafaskan KBK menuntut adanya
keseimbangan antara aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Guru bahasa
Indonesia dituntut mengubah paradigm pembelajaran sastra, yakni dari budaya
teaching diubah menjadi budaya learning dan problem solving. Perubahan
paradigm pembelajaran sastra itulah yang menjadi tolak ukur keberhasilan
pembelajaran sastra yang berlandaskan KBK.

Daftar Rujukan

Alberty, Harold B. dan Elise J. Alberty. 1965. Reorganizing the High School
Curriculum. New York: The Macmillan Company.

Depdiknas. 2004. Kebijakan Teknis dan Program Pengembangan, Pendidikan
Menengah Umum di Masa Depan. Jakarta.

Depdiknas. 2004. Pengembangan Kurikulum dan Sistem Pengujian Berbasis
Kompetensi: Jakarta.

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model,
Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: FBS UNY.

Hamalik, Oemar. 1990. Pengembangan Kurikulum: Dasar-dasar dan
Pengembangannya. Bandung: Mandar Maju.

Nasution, S. 1988: Asas-asas Kurikulum Bandung: Jemmars.

Neil, D. Mc. 1988: Kurikulum: Sebuah Pengantar Komprehensif. Jakarta: Wira
Santosa, Slamet Iman. 1987. Pendidikan di Indonesia: Dar Masa ke
Masa. Jakarta: Haji Masagung.

10
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Saylor, J.G. and W.M. Alexander. 1956. Curriculum Planning. New York:
Rinchart Company.

Smith, B. Othanel, et. al. 1956. Fundamentals of Curriculum Development. New
York: American Book Company.

Yarsama, Ketut. 2005. “Pengembangan Bahan Ajar”. Denpasar: IKIP PGRI Bali.

Yarsama, Ketut. 2011. “Pembelajaran Sastra dalam Pembentukan Karakter”.
Dalam Jurnal Pendidikan Widyadari No. 12 tahun VI Oktober 2011-
ISSN 1907-3232.

11
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

DAMPAK PERTUNJUKAN TURISTIK
TERHADAP PEREMBANGAN KESENIAN BALI

I Wayan Mastra
Program Studi Seni Drama, Tari dan Musik
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali
E-mail: iwayan mastra@yahoo.co.id

Abstrak
Pada era ini, popularitas pertunjukan turistik Bali yang diperjual-belikan di
obyek-obyek wisata, seperti di kabupaten Badung, Gianyar, Kota Denpasar dan
tempat-tempat lainnya masih berjalan sesuai dengan Visi, Misi, Tujuan, dan
Sasaran Tata Kerja Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, yakni terwujudnya
kelestarian dan keberdayaan Budaya Bali, (walaupun mengalami pasang-surut)
sampai saat ini. Pariwisata menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat Bali,
membuka peluang terjadinya kontak dan interaksi antara unsur-unsur budaya luar
dengan budaya lokal. Sebuah fenomena baru yang dialami oleh masyarakat Bali,
yaitu menjual kesenian dengan mendatangkan dan didatangi tamu untuk mendapat
imbalan dolar. Pertunjukan turistik yang dimulai dari tahun 1930-an hingga kini,
telah merambat ke semua jenis kesenian. Banyak yang berpendapat bahwa
pertunjukan turistik Bali mengalami pergeseran fungsi serta penurunan intensitas
dan kualitas penyajiannya. Dengan demikian masalahnya adalah bagaimana cara
menerapkan pertunjukkan turistik tanpa banyak mengorbankan identitas seni Bali,
dan kemudian bisa tetap laku dijual pada wisatawan. Hal ini sejalan dengan Visi
Misi tata kerja Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tetap mengacu pada terwujudnya
kelestarian dan keberdayaan budaya Bali.
Setelah dikaji secara mendalam, ternyata seni pertunjukan turistik Bali
berorientasi pada penegakan komitmen “Dwi Tunggal”, yakni mempertahankan
nilai keaslian kesenian Bali dan masalah kesejahteraan. Maka dari itu dampak
Pertunjukan Turistik Bali memiliki sifat positif dan negatif, menarik untuk dikaji.

Kata Kunci: Dampak Pertunjukan Turistik, kesenian Bali, positif, negatif.

Abstract
In this era, the popularity of Balinese touristic performance which is sold
in Bali tourism objects such as in Badung, Gianyar, Denpasar and another
tourism objects are still running well based on the vision, mission, purpose and
target working procedures of the department of culture in Bali. Namely, the
realization of the Bali culture preservation (although in the ups and downs
situation) until now. Hospitality becomes one of the livelihood sources of Balinese
people. Open up the opportunities of contact occurrence between foreign cultures
and local culture. A kind of new phenomenon which is experienced by Balinese
people. That is selling the art by bringing the guest in and then they will come in

12
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

to give their dollars. Touristic performance which is started from 1930 till now
has spreaded into all kind of arts. There are many arguments about Bali
performances shifting function and the decrease in the intensity also quality of the
implementation of it. Thus, the problem is how to apply the touristic performances
without compromising the identity of art itself and then still could sell to the guest.
This is in line with the vision and mission of the working procedures related to the
department of culture which is still reffering to the realization of the conservation
and Bali cultural empowerment. Once studied in depth, it turns performing arts in
Bali touristic is oriented on establishing a dwi tunggal commitments, namely to
maintain the value and authenticity of art in bali also welfare issues. Therefore,
the impact of touristic performances in Bali has positive and negative attributes.
It is interesting to study.

Key words: The impact of touristic performance, Balinese art, Positive, Negative

1 Pendahuluan
Fokus tulisan ini adalah pertunjukan turistik, yang bertampak terhadap
keberadaan dan perkembangan kesenian Bali, diantaranya telah terjadi pergeseran
atau peubahan nilai-nilai seni yang sangat berarti bagi masyarakat Bali, serta
tantangan-tantangan yang akan dihadapinya di masa mendatang. Dimana seni
pertunjukan turistik dianggap “barang dagangan” yaitu sebagai salah satu sistem
yang memiliki fungsi penting dalam membentuk kebudayaan itu sendiri, sehingga
mampu berbicara mengenai kebudayaan yang menghasilkan (Geertz 1983).
Dengan demikian perubahan akan dilihat sebagai gejala terjadinya pergeseran
kesenian.
Hasil pengalaman penulis terhadap kesenian toristik di Bali tahun 1990-an
mengalami perkembangan yang cukup pesat untuk industri pariwisata budaya,
kemudian telah terjadi proses komersialisasi dan skulerisasi dalam kebudayaan
Bali yang disebabkan oleh perubahan/pergeseran fungsi serta tujuan pertunjukan.
Fenomena pertujukan toristik seperti saat ini adalah merupakan tuntutan baru oleh
masyarakat Bali, oleh karena itu mau dan tidak mau seni budaya akan
menimbulkan berbagai perubahan, yakni pergeseran nilai bersifat
“menguntungkan” (positif) dan “merugikan” (negatif) kesenian itu sendiri.
Muara dari balik perkembangan yang pesat tersebut, mutu pertunjukan
turistik kini mengalami “penurunan”. Sumandyo Hadi (2014:1) dalam Seminar
Seni Pertunjukan ISI Denpasar menekankan, seni tradisi kerakyatan maupun
kesenian Kraton (Kerajaan) dapat menjadi sumber infirasi kajian maupun ciptaan

13
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

karya seni Nasional-Internasional. Untuk itu, di masa-masa mendatang
keberadaan kesenian turistik ini perlu dipertahankan mutunya, sehingga tetap ajeg,
berapresiasi serta penanganan yang lebih serius oleh pemerintah terkait dan dari
pihak pemakai. Dengan adanya itu, sehingga mampu dalam menjawab tantangan
global yang kompleks dan bersaing pada pasar bebas ekonomi ASIAN kini
sedang dimulai.
Tentang adanya turistik ke Bali, secara otomatis ada kontak kebudayaan.
Oleh Ida Bagus Mantra seorang budayawan (2014) dalam makalah Porum
Sanggar Seni Pertunjukan Untuk Pariwisata Budaya, oleh Dinas Kesenian
Provinsi Bali telah memprediksi; dan mengantisipasi langkah kontak kebudayaan
(culture) hendaknya jangan sampai ‘memusnahkan identitas bangsa,’ sehingga
aspek sosial budaya merupakan faktor dasar pembentukan corak dan warna
keperibadian bangsa. Lebih lanjut Beliau mengunkapkan, bahwa penting
penyiapan sebuah wadah dan ajang tampil terhadap potensi seni budaya yang
dimiliki. Hal ini ditegaskan dengan Kebijakan Pemerintah Bali dalam
pembangunan seni budaya Bali tercermin pada Visi, Misi Perda Provinsi Bali no.
12 tahun 1988, dalam Porum Sanggar Seni Untuk Kepariwisataan Bali (1994:1-2),
yaitu “terwujudnya kelestarian dan keberdayaan Budaya Bali”. Dengan adanya
keberlanjutan seni pertunjukan turistik kini menjadi kontak kebudayaan yang
tidak bisa dipungkiri lagi, secara automatis wisata yang datang tersebut membawa
pengaruh terhadap kebudayaan Bali atau terjadi akultrasi kebudayaan. Hal inilah
yang perlu diwaspadai, seperti pendapat (Miguel Cavarr Rubias dalam I Wayan
Dibia,1977:30) menegaskan: “the contact of such a culture (Bali) with our
civilization in the form of trade, unsuitable education, turis, and Balinese”.
Artinya, dampak seperti ini harus diantisifasi, karena dapat mengancam
pelestaraian seni budaya Bali sebagi salah satu bagian dari warisan budaya
bangsa.

2 Pembahasan
2.1 Fenomena Pertunjukan Turistik Bali
Di Bali bahkan Indonesia dan Asia juga Dunia, kesenian menjadi salah
satu ataraksi yang penting karena diminati oleh wisatawan. Bali khususnya

14
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

pembenahan dan pelestarian seni pertunjukan sudah sejak jaman dulu mencintai
seni, terutama dalam pertumbuhannya dijadikan makna berarti untuk menunjang
upacara agama Hindu yang berbarengan dengan githa Mantara, Badjra, Kidung,
Kulkul, dan suara Gamelan (Panca Githa). Keberadaan ini sekaligus dapat
mempertahankan juga pelestarian kesenian Bali. Selanjutnya atas maraknya
permintaan pertunjukan tersebut, atarksi seni sebagai tontonan turistik/ wisatawan,
tidak ada satupun seni pertunjukan Bali yang ketinggalan untuk diperjual-belikan.
Baik berupa kesenian klasik tradisional, kresai baru serta seni kolaborasi,
semuanya untuk tontonan wisatawan yang datang belibur ke Bali. Seniman yang
cerdik/menghargai kesenian unsur-unsur seni pertujukan yang diperuntukan
kepada turistik itu, sudah dikemas dengan cara mempilter bentuk kesenian
tersebut dengan penataan baru (imitasi), walaupun masih berpijak pada tarian
yang sudah ada maupun terpaksa mengambil unsur kesenian klasik. Unsur-unsur
kesenian yang dikemas itu diantaranya pemadatan penyajian, yang terdiri dari;
struktur penyajian, meliputi elemen-elemen penyajian garapan; gerak, waktu, dan
ruang maupun alat musiknya tidak lagi utuh seperti sediakala. Gerak, yaitu
pengurangan intentitas, kualitasnya; waktu, berkurangnya dorasi dipertunjukan;
ruang, menyangkut bidang/tempat pentas tidak memadai lagi; musik, dari jumlah
instrumen yang komplit, menjadi kurang komplit. Pernyataan ini menandakan
penurunan bobot seni pertunjukan dan sekaligus menjadi sebuah pengorbanan
identitas pertunjukan kesenian Bali.
Seni pertunjukan turistik pada hakekatnya adalah produk budaya Bali
modern yang lahir dari kandungan kepariwisataan. Kesenian ini muncul sejak Bali
kedatangan turis-turis asing dari Eropa, Amerika dan lain-lainnya. Pertunjukan
Bali sudah sejajak lama untuk menghibur orang asing, namun bagi seniman
“profesi noris” bagi seniman panggung Bali merupakan yang baru. yang muncul
mulai sekitar tahun 1930-an (Dibia,1997:31).
Sebelum melangkah pada fungsi kesenian Bali, terlebihdulu penulis
uraikan fungsi kesenian Indonesia, oleh Edi Sedyawati (1981 dalam Rai S,
2007:4) dapat dibedakan menjadi Tujuh: (1) untuk memanggil kekuatan gaib, (2)
mengundang roh agar hadir di tempat pemujaan, (3) menjemput roh-roh baik, (4)
peringatan terhadap nenek moyang, (5) mengiringi upacara perputaran waktu, (6)

15
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

mengiringi upacara siklus hidup dan (7) untuk mengungkapkan alam semesta.
Dalam seni pertunjukan tidak bisa lepas dengan musik, maka secara mengkusus
fungsi seni musik oleh Alan Mariam bukunya The Anthropology Of Music (1964),
menyatakan bahwa ada Sepuluh fungsi seni, yaitu: (1) sebagai ekspresi emosional,
(2) kenikmatan estetis. (3) sebagi hiburan, (4) sebagi alat komunikasi, (5) sebgai
persembahan simbolik, (6) sebagi respon fisik, (7) sebagai menjaga norma kepada
masyarakat, (8) sebagai untuk pengukuhan intitusi, (9) sebagai stabilitas
kebudayaan, (10) sebagai sarana intergritas masyarakat.
Selanjtnya Nyoman Sadwika (2013:52) dalam Jurnal Pendidikan Bahasa
dan Seni, menyebutkan fungsi seni “Sekar Alit sebagai Sarana Pembelajaran Budi
Pekerti” yang intinya untuk menjaga stabilitas bangsa, sekaligus untuk mencapai
tujuan pembangunan nasional”. Kusus untuk fungsi kesenian Bali, yang masih
lestari sampai saat ini adalah mencakup fungsi kesenian menyeluruh, tapi lebih
cendrung menggunakan pendapat Edi Sedyawati. Selanjutnya karena ada
penerapan penyajian seni pertunjukan di masyarakat Bali yang sering baur (rancu)
di pulau Dewata ini, yakni (“sulit membedakan”), yang mana kesenian sakral,
untuk wali dan tontonan dan yang mana sebagi hiburan (Blih-Balihan)?. Dengan
itu kesenian Bali dapat dipilah atas tiga fungsi, yaitu: sebagai kesenian Wali,
sebagai Bebali dan sebagai Balih-Balihan (Keputusan Seminar Seni Sakral Dan
Ppofan Bidang Tari Bali, 1971). Kesenian toristik ini adalah tergolong kesenian
Balih-Balihan (secular arts form), yaitu kesenian umumnya tidak terikat dari
unsur kesenian Wali dan Bebali, bahkan kadang-kadang jauh melampaui batas
tradisi. Keterikatan yang dominan pada pertunjukan turistik Bali adalah aktor
harus mengikuti kemauan/ kebutuhan dan selera wisatawan.
Fungsi kesenian yang lebih mengkhusus lagi dalam kehidupan manusia
adalah dapat “memperhalus jiwa” (Suarta, 2015) Rektor IKIP PGRI Bali, dalam
sambutan acara Dies Natalis Ke-32 dan Wisuda Sarjana Ke-35 IKIP PGRI Bali di
Grend Bali Beach Sanur- Bali. Oleh Didik Nini Towok (seniman) dan Bambang
Seiawan (ahli bedah syaraf) (2005:49), yaitu dapat “menyeimbangkan otak
sebelah kanan dan kiri”. Setelah ditelaah secara mendalam beberapa pendapat di
atas, dapat diartikan tujuan mempelajari seni di samping mempunyai fungsi ganda
tapi dapat juga mempunyai makna yang berati dalam pendidkan seni, sekaligus

16
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

pelestariannya. Yang artinya dalam pelestarian seni, yang beruraiantasi pada unsur
keindahan yang merupakan cerminan jiwa yang dapat terpancar melaui sikap yang
luwes (lentur).
Tempat-tempat pertunjukan yang umum digunakan untuk pementasan
turistik adalah kawasan daerah wisata yang dominan, seperti daerah Badung dan
Gianyar dan di kota Madya Denpasar. Sedangkan daerah lainnya merupakan
pertunjukan turis non regular atau merupakan pertunjukan skunder, karena di
samping faktor fasilitas yang terbatas, tapi juga ditentukan oleh jauh dari
jangkauan tempat turis itu menginap. Asal mula kesenian yang ikut andil pada
pertunjukan di daerah Badung, Gianyar dan Kodya Denpasar tersebut didatangkan
dari daerah Tabanan, seperti pertunjukan dramatari Tektekan, Okokan dan
Wayang Kulit; dari daerah Negara adalah kesenian Jegogan. Begitu juga
sebaliknya, apabila di daerah Tabanan, Negara maupun daerah Kelungkung dan
Karangasem memerlukan kesenian yang ada di Kabupaten Badung, Gianyar dan
Kodya Denpasar, bisa pentas di kabupaten ini.
Jadi, sebagian besar pertunjukan turistik masih merupakan bentuk-bentuk
kesenian klasik tradisional Bali yang diangkat dari bentuk yang biasa disajikan
sebagaii tontonan masyarakat Bali, dan ada pula diangkat dari bentuk-bentuk
upacara ritual (Picard,1996 dalam Dibia 1976:31). Bentuk-benuk kesenian yang
umum dipertujukan itu, seperti musik, tari, teater tradisional Bali. Semuanya
sudah mengalami proses penggodogan yang rumit, dengan tujuan untuk
mempertahankan keaslian kesakralan kesenian Bali. Dan yang jelas dengan
pengemasan baru seni untuk tontonan turistik sudah bebeda dengan pertunjukan
yang biasa ditontonkan oleh masyarakat Bali pada umumnya.

2.2 Jenis-Jenis Kesenian Turistik Bali
Setelah lebih kurang tiga puluh tahun, seni pertunjukan Bali berkembang
dengan pesat, hingga permulaan tahun 1960-an, seni pertunjukan turistik yang
didominir oleh tiga jenis kesenian, yakni tari Legong, Barong dan Kecak. Yang
lainya tari Janger, Joged Bumbung, Jegog, Tektekan, Wayang Kulit, Wayang
Wong, tari Kodok, tari Api, Gambuh dan lain-lain.

17
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Bentuk pertunjukan seperti paket Tari Legong (Legong Dance), “berisikan
tarian-tarian Kekebyaran”. Pada dasarnya dapat dipilah menjadi dua, yaitu tarian
klasik dan kreasi baru, (tanpa cerita serta bercerita) yaitu: (1) bentuk klasik
sebagai tari penyambutan (tanpa cerita), seperti Pendet Penyambutan dan Gabor.
(2) Bentuk tari kreasi baru; Puspa Wresti, Sekar Jagat, Puspanjali dan lain-lainya.
Taian klasik yang punya kisah (mengambarkan sesuatu) adalah seperti; tari
Kebyar Duduk, Magapati, Truna Jaya, Wiranata, Panji Semirang, Tenun, Oleg
Tamulilingan, Terompong, Nelayan, Tani, tari Legong Kraton, Baris, Jauk.
Bentuk Kreasi baru adalah: tari Cendrawasih, Belibis, Manuk Rawa, Jaran Teji,
Sekar Ibing, Wirayuda, Yuda Pati, Garuda Wisnu, Kembang Girang, Kembang
Silat, Makepung dan lain-lainnya. Dengan musik iringan umumnya menggunakan
seprangkat/bentuk Gong Kebyar atau Angklung Kekelentangan maupun dengan
gamelan Jegog. Pertunjukan tari Legong sudah mulai tahun 1930-an (Piscard
1996). Secara harmonis pertunjukan legong adalah dengan iringan “Gong
Kebyar”. Pencipta tari kreasi baru yang paling menjolok belum beberapa lama ini
di Bali (banyak karya seni) setelah fakum puluhan tahun, yaitu: I Wayan Dibia,
A.A Ngurah Supartha (almarhum), Swasti Wijaya Bandem, Ketut Kusuma
Warini, Nyoman Suarsa, Ketut Rena, Nyoman Cerita, Dayu Wimba dan lain-
lainnya.
Tari Barong (Barong Dance) adalah sebuah dramatari Barong Ket atau
Keket yang melakonkan salah satunya “Kunti Seraya”, dari (wiracerita
Mahabharata). Dramatari yang diciptakan tahun 1930-an oleh seniman dari daerah
Singapadu (Cokorda Oka Dublen, I Made Kredek dan I Wayan Griya) (I Wayan
Dibia,1997:33). Dalam menonton pertunjukan Barong para turis lebih berkesan
melihat tarian Barong dengan permainan monyetnya yang memukau. Wujud
Rangda yang menakutkan, dan adegan nguying seperti kesurupan (pemain barong
menikam dada mereka dengan keris masing-masing.
Tari Kecak, disebut juga “Monkey Dance” adalah dramatari kalosal yang
pernah melibatkan ratusan orang pemain laki-laki, membawakan ceritra kisah
“kepandung Dewi Sita” dari wiacerita Ramayana. Karya ini konon merupakan
hasil karya masyarakat Bono, walaupun sebelumnya masyarakat desa Bedulu
sudah memulai pertunjukan kecak dengan lakon “Kerebut Kumbakarna

18
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

(Dibia,1996). Kesederhanaan bentuk, suasana magis yang dipancarkannya, dan
jalinan vocal merupakan daya tarik tersendiri dari kesenian ini. Selajutnya tarian
kecak ini juga menyuguhkan tarian api (fire dance), yang menampilkan seperti
tari Sanghyang Jaran, dan sepasang Bidadari menari di atas api. Perkembangan
berikutnya, tari Kecak tersebut dikemas dengan pemain perempuan, yaitu
walaupun musik vokalnya berlapis-lapis dilakukan tetapi kurang dinamis ada
(penurunan intensitas suara). Dengan itu dapat dikatakan ada sisi kebaikan dan
sisi kekurangan, yakni disegi kebaikan; jarang ada pertunjukan kecak permpuan
dan mempunyai keunikan bisa bekerja rangkap (kedudukan gender).
Kekurangannya mereka harus mengorbankan pekerjaan utamanya di rumah dan
sekaligus mutu vokalnya kurang dinamis. Untuk itu, terkecuali ada even-even
tertentu baru tari kecak perempuan ini baru muncul.
Tari Janger, tari Janger yang dipertunjukan adalah tari Janger klasik dan
janger kreasi baru, yang penarinya secara berpasang-pasangan (putra-puri).
Menggambarkan pergaulan muda-mudi yang sedang merayakan hasil panennya,
maka dari segi vocal dan pantun dinyanyikan mencerminkan suasana rasa gembira
dan diwarnai dengan lagu romantis/rayuan terhadap pasangannya. Untuk penari
putrinya menggunakan gelungan kulit menyerupai gelungan oleg temulilingan,
berbentuk serpihan daun tumbuh-tumbuhan lancip berwrna putih atau kuning
keemas-emasan. Sedangkan pasangan yang laki-laki menggunakan gelungan laki-
laki oleg temulilingan. Perkembangan sekarang, ada yang mengganti dengan
bentuk udeng penabuh atupun menyerupai udeng patih. Iringan tarinya bermula
dari seprangkat gamelan gender wayang berlaras selendro, tapi dalam
perkembangan dewasa ini musik iringannya bisa menggunakan gamelan
pengarjan dan gamelan gong kebyar. Maka tari ini tidak hanya untuk hiburan
saja, tetapi sekaligus untuk sebagai media komunikasi atau alat penerangan
kepada masyarakat Yang perlu mendapat perhatian, apabila tari tersebut
menggunakan tema dramatari/sendratari seperti tema Sunda-Upasunda atau
Arjuna Tapa (Wiwaha) menurut imbauan Sustjarja Mus (1982) mantan Rektor ISI
Yogyakarta tidak dibenarkan atau “kurang tepat”. Maka perlu mendapat perhatian
dari yang membidangi.

19
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Tari Joged Bumbung, tari jogged bumbung adalah salah satu tari
pergaulan (secular dance) yang paling populer di kalangan masyarakat Bali.
Kustumnya menyerupai tari Legong Kraton (tanpa baju), dalam perkembangannya
sekarang mengunakan baju kebaya yang ketat. Sedangkan pemain lawan jenisnya
(pengibing) berpakaian bebas dan sekaligus menyangkut gerakan yang
ditampilkan mempunyai unsur-unsur kebebas pula, asalkan sesuai dengan irama
lagu iringan tari joged itu. Penampilannya dewasa ini juga mengalami
perkembangan, terutama dari segi musiknya menggunakan kendang Sunda (Jabar)
yang berjumlah tiga buah (besar-kecil) yang dipadukan dengan kendang Bali.
tentang lagu digunakan mengikuti lagu nasional yang sedang ngepop. Menurut I
Wayan Kaler, bahwa tari ini mulai muncul di daerah Singaraja tahun 30-an,
berkembang pesat 1945-an. Tetapi saying dalam popularitasnya sekarng, banyak
sekaa Joged Bumbung salah persepsi tentang keindahan identitas Joged itu
sendiri, yaitu gerak yang eroik difariasi dengan teknis berkelebihan. Fenomena ini
disebut “Joged porno” yang sangat merugikan untuk pelestariannya.
Sendratari Ramayana, sendratari Rayana muncul sekitar tahun 60-an
dikenal dengan sendratari ballet, yaitu berbentk kemasan baru meringkas dari
segala bagian yang dorasinya mencukupi untuk keperluan tamu. Penggarap
sendratari ini adalah seniman I Wayan Beratha guru Konser Patori Karawitan
Indonesia (KOKAR). Teknis penggarapannya menggabungkan unsur-unsur seni
pewayangan Jawa dan Bali, seperti dramatari Gambuh, Wayang Wong, tari legong
diciptakan tahun 1969. Dengan ekseisnya sendratari ini di Bali, maka sampai
sekarangpun masih disegani oleh tamu dan masyarakat pendukungnya, oleh
karena antara jalinan gerak dan tarinya serasi. Begitu pula pemadatan unsur dari
elemen-elemen lainnya seperti penataan kustum yang simpel, dan struktur
penyajiannya sangat padat penuh denga daya hidup.
Tari Godogan, tari godogan yang lazim disebut “Frog Dance” adalah
perkembangan tiga puluh tahun berikutnya yang setara dengan perkembangan tari
Tektekan (Tektekan Dance) dengan, seni Jegog, Topeng, wayang Kulit dan
Gambuh. Tari Kodok dengan iringan Genggong (jaw harp), yang terbuat dari
cabang pohon enau yang kering ditata sedemikian rupa. Umumnya menggunakan
lakon “Godogan dari Galuh Daha”(cerita Panji). Tata pakaiannya untuk Dewi

20
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

menyerupai pakaian Sinta yang terdapat pada sendratari Ramayana, Pakaian
godogan adalah meniru motif warna kodok aslinya. Yang memikat pada penyajian
tersebut adalah sewaktu kodok besar (pemeran) bercanda dengan beberapa kodok
kecil (anak buahnya/temannya), beserta pada waktu godogan roman dengan
pemeran dewi/galuh Daha.
Tari Tektekan Calonarang, adalah ciri khas Kabupaten Tabanan, dengan
iringan tektekan, yaitu dibuat dari potongan bambu yang dibentuk dan ditata
sedemikian rupa (pendek-pendek), dan disertai dengan instrument kendang dan
cengceng sebagi mendaptkan suasana yang meriah. Kesenian ini diciptakan oleh
IGusti Oka Silagunada dari Puri Anyar Kerambitan tahun 1967. Ide garapannya
tektekan memadukan dengan nilai magis dengan seni Bebarongan melakonkan
Calonarang yang juga memiliki kekuatan magis. Tempat pertunjukan kesenian ini
terdapat pada Puri Gede Dan Puri Anyar Kerambitan. Yang menarik pada
pertunjukan tersebut, adalah sewaktu adegan ngunying Rangda yaitu menusuk
Rangda dan diri dari masing-masing pesertanya dengan keris tajam, adegan ini
adalah sebagai pengganti kekuatan Barong yang berwujud alat keris tunggal
berbentuk lancip dan panjang, simbul Sangh-yang Tunggal.
Tari Jegog, adalah ciri khas Kabupaten Jembarana. Alat musiknya dari
potogan-potongan bambu besar/raksasa, dengan kendang, cengceng untuk iingan
tari kekebyran, seperti tari Makepung dan tari kekebyaran lainnya. Penyajian ini
tidak kalah menariknya juga dari kemusik kesenian lainnya.
Wayang Kulit, wayang kulit Bali lebih berbentuk realis dari pada bentuk
wayang kulit Jawa (abstrak), kesenian ini juga digemari turis untuk dipentaskan di
hotel dengan bahasa inggris. Iringannya mengunakan prangkat gamelan wayang
laras selendro (untuk wayang Parwa), sedangkan apabila menggunakan ceritra
Ramayana, pertunjukan ini lebih cendrung memakai parngkat lengkap, seperti
sepasang kendang, kempul, tawa-tawa, kemong, kelenang dan cengceng kecil dan
seruling.
Dramatari Gambuh, adalah salah satu kesenian yang paling tua diantara
kesenian lainnya diduga berasal dari abad ke XV, yang juga ikut dipentaskan utuk
para tamu. Tempatnya yang dominan ada di desa Batuan-Gianyar. Lakon
ditampilkan dengan Prabu Terate Bang (cerita Panji). Para wisatawan biasanya

21
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

yang dianggap menarik adalah musik pengiringnya, yaitu memakai seruling besar
dan gerak tarinya mencerminkan ketinggian budaya dari jaman Bali klasik di
masa lampau. Yang jelas kesenian ini tidak lagi banyak memegang pakem yang
adiluhung, tetapi sudah berubah mengikuti kemauan turis itu sendiri, baik struktur
penyajiannya dan waktu yang singkat.

2.3 Stage, Aktor, dan Durasi Jadwal Pertunjukan Turitik
Di samping pertunjukan turistik dominan dilakukan di hotel-hotel seluruh
wisata Bali, Pertunjukan ini bisa didapatkan di desa-desa, seperti daerah Ubud,
Singapadu- Gianyar, Denpasar dan Pura Taman Ayun dan Nusa Dua-Badung serta
Tanah Lot-Tabanan. Apabila pertunjukan ini dilakukan di tempatnya sendiri,
secara otomatis tamu turistik datang sendiri dibawa komando Trevel Lejen yang
terkait.
Para pelaku dari pertunjukan tersebut adalah orang-orang desa yang masih
bisa meluangkan waktunya untuk berkesenian, atau masyarakat Bali yang khusus
mencari kerja sampingan di bidang pertunjukan pariwisata, sesuai dengan
bidangnya masing-masing. Seperti tamatan SMKI/SMK N. 3 Sukawati-Gianyar,
SMK 5 Denpasar, IKIP PGRI Bali khususnya Program Studi Pendidikan Seni
Drama, Tari, dan Musik, UNHI dan ISI Denpasar. Dan untuk memperlancar
kegiatan ini, biasanya dari pihak hotell menunjuk Sanggar-Sanggar Tari yang
sudah mengantongi izin kelayakan Pentas pertunjukan pariwisata. Tapi
belakangan ini banyak yang melanggarnya, dengan istilah lain, banyak penari dan
sanggar tari yang tidak memiliki izin pertunjukan pariwisata diperkenankan oleh
pihak hotel ikut pentas.
Jadwal pertunjukan turistik ada dua, yaitu jadwal regular dan jadwal non
regular (tambahan). Jadwal regular dilakukan adalah bervariasi; yaitu pagi, sore
dan malam hari. Sedangkan jadwal tambahan merupakan jadwal (di luar regular)
seperti acara menyambut tamu penting (Kenegaraan) waktunya tidak menentu.
Dari uraian di atas dapat diperoleh suatu gambaran yang cukup jelas,
bahwa tumbuhnya kesenian turistik di Bali berkaitan dengan terbentuknya pasar
“baru”, yaitu pasar pariwisata. Sepanjang abad ini kesenian turistik mengalami
perkembangan yang cukup mengembirakan, jumlah jenis kesenian terus

22
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

bertambah dan jumlah seni pertunjukannyapun semakin banyak. Akan tetapi
dibalik pertumbuhan kesenian tersebut kita melihat adanya perubahan/pergeseran
bekesenian, yaitu dari kesenian berunsurkan kesenian sejenis tari Legong Kraton,
menjadi campuran Legong Kebyar (tari lepas). Kesenian yang semula berbentuk
verbal, dengan dorasi pentas yang panjang, menjadi tontonan yang lebih bersifat
yang tidak terlalu banyak menggunakan dialog, melainkan diganti dengan gerak,
musik dan tata rias- busana yang berwarna-awarni, dengan durasi pentas yang
relatip singkat. Pergeseran yang juga mendasar, sebagaimana yang diungkapkan
oleh Ransyer, adalah munculnya benuk-bentuk kesenian Bali kurang fungsional
bagi jagat Bali, tetapi untuk hiburan orang asing.

2.4 Analisis
Di balik ramainya pertunjukan kesenian turistik, banyak orang
berkementar, tidak rela kesenian Bali dikorbankan. Seperti pendapat Kayam
(1981); seni pertunjukan Bali “dijajankan”. Bandem, (1997:152) “Tari Bali,
Bukan Sekuntum Kamboja di Lobi Hotel-hotel”, dan banyak pendapat lainnya
lagi kurang sependapat. Yang intinya kesenian Bali kini sudah
dikomersialisasikan, karena ada kebutuhan mendasar yang lebih kompleks, yaitu
sebagai penunjang kebutuhan ekonomi daerah.
Komersialisasi dan sekularisasi adalah sebuah risiko yang mau dan tidak
mau harus ditanggung dan dihadapi oleh masyarakat Bali, kesenian tradisinya
dijadikan pertunjukan turistik dan telah menjadikan komoditas pariwisata.
Kesenian pada dasarnya diciptakan penuh rasa pengabdian kepada masyarakat
(adat) (bersifat ngayah), dengan tata penyajian yang sesuai dengan alam Bali,
harus dikemas sedemikian rupa untuk memenuhuhi pasar-wisata. Bagi orang
membidangi bisnis, mereka tetap berprinsif menegakan sistem prinsif ekonomis”
yaitu “dengan bekerja sedikit mendapat imblan yang banyak”. Kebanyakan
mereka tanpa berpikir panjang tidak (bercermin ke belakang); bagaimana nenek
moyang kita dalam preodeisasinya untuk pencapaian kesuksesan sampai saat ini,
meniti tentang tonggak-tonggak sejarah Bali (konteks) kesenian Bali sampai bisa
mapan saat ini? Proses panjang lainnya adalah, bagaimana Bali sebelum Abad
Masehi samapai pemehaman Dinasti Agung Bali di Bali?. lihat

23
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

(Darmaya,2010:236), dalam buku “Puataka Bali”. Walaupun demikian halnya,
kesemua itu tidak dianggap tanggung jawabnya mereka.
Komersialisasi pada dasrnya adalah suatu cara untuk memperlakukan
suatu sebagai bagian dari sebuah bisnis (Neufeldt, 1988:280). Komersialisasi seni
budaya terjadi karena kesenian tradisional tidak lagi diperlakukan sesuai dengan
jagatnya sendiri, melainkan disesuaikan dengan selera dan kebutuhan wisatawan.
Apabila hal ini tetap berlanjut, akan sesuai dengan mendekatan (Konteks) Teori
Sistem lihat Tesis (I Wayan Mastra,2014), bahwa segala suatu hal, “harus
mempunyai fungsi”, apabila tidak, akan hal itu hangus dengan sendirinya.
Pertunjukan sejenis ini sudah terjadi pada jaman dulu atau bukan hal yang baru.
Kesenian yang dapat imbalan upah (uang). Berdasarkan data-data yang ada sejak
jaman dahulu pertunjukan bayaran sudah muncul di Bali, seperti adanya seni
Ambaran, kesenian Ihaji yang masing-masing kesenian jalanan dan kesenian
Istana. Kesenian-kesenian ini dibayar dengan pitulak (bayar) yang terdiri dari su-
swarna (emas). Ku-kupang (kepeng), dan ma-macaka (perak) (Pemda Tingkat I
Bali,1980:49).
Selanjutnya ada pertunjukan secara ngelawang (pertunjukan keliling) dari
satu tempat ke tempat lain, juga untuk memperoleh imbalan uang. Pertunjukan ini
bisa didapatkan pada beberapa daerah di Bali, seperti diantaranya Kabupaten
Gianyar dan Tabanan. Kabupaten Giayar misalkan ada pertunjukan Barong
Kedengkling, barong Macan, barong Bangkal, barong landung dan lain-lainnya.
Pertunjukan ini dilakukan pada hari besar umat Hindu Bali seperti hari raya
Galungan dan Kuningan sampai umanis. Khusus untuk Kabupaten Tabanan, di
samping ada pertunjukan keliling seperti Barong Bangkal dan Barong Ket. Ada
lebih menarik lagi dan langka terjadi di Bali, yaitu terdapat di Kabupaten
Tabanan, adalah pertunjukan sacral ‘Bhatara Nawa Sanga” yang berada di desa
Apuan Banjar Apuan, desa Bangli Banjar Bangli dan di desa Pacung desa Pacung,
ke tiganya terdapat pada satu Kecamatan Baturiti-Tabanan. Bentuk wujud
kesenian ini, bukan disebut “Barong Kedengkling” dan istilah “ngelawang”
seperti yang telah disebutkan oleh (I Made Bandem dan I Wayan Dibia,1997:37).
Untuk meluruskan pengertian itu, yang sebenarnya oleh masyarakat setempat
(daerah Baturiti), untuk menyebut kesenian itu adalah “Bhatara Nawa Sanga atau

24
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Bhatara Sakti” (Siwa Pasupati). Karena bentuk wujud kesenian serta fungsinya
berbeda dengan barong kedengkling dari daerah Gianyar. Kaitannya istilah
ngelawang untuk daerah Tabanan menyebutnya “ngunya” atau memberi
“penugrahan” (keselamatan) terhadap pendukungnya pada setiap Kabupaten se-
Bali Tengah (terkecuali Kabupaten Buleleng dan Karangasem) sampai pelosok
desa didatangi. Lalu tentang upah bukan bukan sebagai faktor utama oleh grup
tersebut, tetapi berbentuk sosial, yaitu disebut “sesari”, sesuai dengan
kemampuan dan sukarela mereka menyertai sesari di atas sesajen (dana punia).
Dimana fenomena ini oleh masyarakat Bali adalah bagaian dari ajaran etika yang
wajib ada pada setiap manusia. Jadi perlu ditegaskan di sini kesenian “Bhatara
Nawa Sanga” bukan barong kedengkling yang ada di Gianyar. Kesenian ini
adalah tergolong kesenian sakral, (bukan seperti kesenian Barong
Bangkung/Bangkal ngelawang yang ada di beberapa daerah Bali).
Pertunjukan bayaran pada perkembangan selanjutnya yang pernah ngetren
dan bertahan lama di kalangan masyarakat Bali adalah; pertunjukan Arja,
Sendratari Ramayana, Drama Gong, Topeng (prembon), dan yang masih terkenal
dan bertahan sekarang adalah pertunjukan Wayang Kulit “Ceng Blonk” dari desa
Belayu-Tabanan. Dimana pertunjukan ini sudah mempunyai standarisasi mutu
dibarengi target harga, karena kepawaiannya memainkan wayang serta elemen
lainnya seperti tata lampu dan musiknya sangat mendukung.
Kemudian sekularisasi yang dimaksud di atas adalah hilangnya nilai-nilai,
makna identitas sakral/religius sudah ditiadakan, terbukti hanya sebagain kecil
saja masih menggunakan sarana upacara Hindu pada pertunjukan tersebut.
Dengan itu membuktikan bahawa kepercayaan bisa disebutkan sudah
“menipis”/luntur. Dengan lunturnya kepercayaan itu akan berarti juga “taksu”
(kekuatan di luar nalar akal sehat manusia) yang datang dari Tuhan juga jarang
menghampirinya. Menegaskan pendapat I Wayan Dibia (1997:38), bahwa
kesenian turistik yang tidak mengandung nilai-nilai religius tidak bisa disebut
“seni profan”. Menurut ajaran Hindu oleh Gusti Nengah Ariana, (2014) dalam
seminar Nasional ISI Denpasar; dengan sarana banten/sesajen, walaupun tidak
diucapkan, sudah mengandung arti atau makna tertentu dari sesajen tersebut.
Yang jelas kesenian pertunjukan turistik di Bali masih mengandung nilai-nilai

25
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

riligi, karena masih berakar kesenian tradisional, dan ini merupakan ilham dari
yang maha kuasa, “Tri Sakti (Tri Wisesa) yaitu manifestasi Tuhan yang
menciptakan musik sebagai patrne seni pertunjukan utamanya. Dengan demikian,
maka orang Bali bergelut dengan seni, umumnya mereka mempunyai tempat
sembahyang khusus, yang disebut “Pelinggih Taksu”.
Penonton turistik lebih mengutamakan daya tarik visual dari pada bentuk
isi kesenian itu, maka kesenian untuk turistik cendrung sebagai seni intertainment
(hiburan seni profan). Dan kemauan tamu yang lainnya yang paling utama di seni
adalah ketepatan waktu yang dapat memuaskan mereka. Lalu tentang hal-hal
yang terkait dengan bagaimana dengan proses panjang keberadaan sejarah seni
pertunjukan Indonesia dari masa Pra-Sejarah sampai jaman Orda baru/saat ini
dalam pencapaian tujuan mulia, lihat (Suedarsono, 2010) dalam buku Pertunjukan
Indonesia, hal itu tidak mau digubris oleh wisatawan. Dan yang menjadi
kenangan yang sulit dilupakan adalah menyangkut rasa (pisikologis) pemain
cendrung diabaikan,baik menyangkut dan terkait tempat pertunjukan yang kurang
memadai, maupun pengorbanan waktu aktor yang bukan sedikit cendrung
diabaikan begitu saja. Maka dalam realita itu penulis dapat garis bawahi sebagai
berikut.

2.5 Positif, Negatif Pertunjukan Turistik Bali
2.5.1 Sifat Positif
Pengertian positif di sini adalah keberuntungan, (1) untuk negara, (2)
untuk pendidikan. Untuk Negara, yaitu meningkatnya kunjungan wisata berlibur
ke Indonesia, menurut Rai S.(2006:1-2) kunjungan wisatawan mancanegara tahun
1994, yaitu lebih dari 4.000.000 orang. (walaupun terjadi perang Teluk tahun
1991, tahun 1997 bisnis pariwisata bangkit lagi). Yang sebelumnya pada tahun
1986 jumlah wisatawan berkunjung ke Indonesia mencapai 825.035 orang, tahun
1987 meningkat tajam menjadi 1.060.000 Tujuan dari bisnis tersebut untuk dapat
“menunjang keungan negara”. Untuk pendidikan, adalah telah terjadi banyak
pengetahuan yang bisa dipetik oleh seniman pada pentas pariwisata. Terutamanya
dapat memberi motifasi untuk lebih maju lagi, seperti menyangkut pengalaman
teknis, dapat mengasah keterampilan gerak, mike-up dan busana, penyesuaian

26
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

music, lighting dan penguasan stage menyeluruh. Sifat positif lainnya adalah
dapat membantu kesejahtraan seniman untuk lebih kretif lagi. Jadi, dengan masih
utuhnya pertunjukan yang berkualitas, dapat dijadikan bahan acuan dalam
mengkaji dan titik pijak dalam garapan baru; kemudian dapat mendukung
kehidupan kesenian secara efektif; dapat merangsang bagi pelaku seni untuk
melanjutkan bakat seninya ke jenjang yang lebih tinggi, serta bagi yang kurang
pengetahuan seninya dapat tertular oleh lingkungannya itu sendiri. Ini ditegaskan
oleh I Made Darmada (2015:5), dalam Orasi Ilmiahnya; “Ekonomi Kreatif Dalam
Bali Vogenic Culture Menuju Kkreativitas Kehidupan”. Pada Dies Natalis ke-32
dan Sarjana ke-35 Wisuda IKIP PGRI Bali, menyatakan; lingkungan masyarakat
Bali sangat lekat dengan aktivitas, adat, budaya, dan keagamaan yang merupakan
tatanan kehidupan yang bersinergi untuk memenuhi kesejahteraan baik secara
sosial, ekonomi dan religius. Halt ersebut memberikan tantangan bagi orang Bali
yang harus menyapkan diri untuk selalu “belajar, berkarya dan persembahan serta
semua itu menuntut kreativitas”. Lebih lanjut Sumandyo Hadi, Dibia, Tri Guna,
Arya Sugiarta (2014) dalam Seminar Seni Nasional ISI Denapasar, berpendapat,
dengan adanya kreativitas kesenian tradisional berbentuk kerakyatan, maupun
kerajaan/Kraton adalah dapat bermanfaat untuk dijadikan penyajian penelitian dan
mempertahankan serta mengembangkan kesenian tersebut. Walaupun demikian
adanya kita mesti ingat dengan kata filsafat oleh Nengah Arnawa (2016), bahwa
yang tinggi itu akan turun, yaitu “ditentukan oleh seiring dengan jalannya waktu”.
Maka sesuai dengan ungkapan Ida Bagus Gunadha (2012:195-196) Guru Besar
Pasca Sarjana UNHI Denpasar, dalam bukunya “Aneka Politik Hindu” dalam hal
yang berketidak ketentuan dalam kehidupan ini di jaman ini, maka dari itu yang
penting “berbuat berkarya dengan baik”. Tanpa berkarya tidak ada hasil, hasil itu
yang paling pintar menghitung adalah “Tuhan itu sendiri”. Jadi Tuhan itulah
penentu, atas hasil perbuatan manusia.

2.5.2 Sifat Negatif
Sifat negatif di sini adalah pertunjukan turistik secara umum mutunya
“menurun”. Indikator dari merosotnya mutu kesenian pertunjukan turistik antara
lain: pendukung seni pertunjukan yang tidak berkepeten di bidangnya; tidak

27
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

memiliki sarana dan perlengkapan yang memadai; kondisi pertunjukan yang tidak
utuh. Jika ini terus berlanjut, secara automatis tidak layak dijual kepada tamu dan
menjadi efek besar terhadap citra kesenian Bali, dan sekaligus mutu yang kurang
menguntungkan tidak menutup kemungkinan akan menjadi panutan oleh generasi
muda berikutnya.
Akibat dari kodisi pertunjukan turistik yang mentradisi yang berkesan
tidak baik, maka terjadi anggapan oleh masyarakat pendukung berbagai pihak
cendrung menampikan apa adanya. Semua ini juga terkait dengan pemandu
wisaata, para pelaku dan pengelola termasuk penjual dari kesenian ini sangat tidak
memperhatikan efeknya kedepan. Perlu diketahui menurut pengalaan penulis,
tidak semua turistik kini yang menyaksikan kesenian Bali hawam adanya, karena
di Negara mereka sendiri sudah ada kesenian Bali. Sepeti di Kalipornia-Amerika
yang disebut grup seni “Sekar Jaya”; di Jepang, terlebih lagi di daerah Indonesia
sendiri yang telah banyak mendirikan Lembaga pormal seni. Untuk itu mereka
tahu kesenian yang punya mutu dan kesenian kurang bermutu. Jadi, pemandu
wisata tidak kehilangan tamu, grup kesenian tidak kehilangan pelanggan, kiranya
langkah yang baik dilakukan antara kedua belah pihak; antara pemandu pariwisata
dengan grup kesenian bersinergi untuk bekerja sama dapat mempertankan mutu
kesenian Bali. Dimana intinya para grup kesenian Bali harus tetap menunjukan
kebolehannya secara “the best quqlity” kepada para wisatawan. Menurut I Wayan
Dana dan Rikrik Setiawan (2015) dalam Seminar Seni Nasional ISI Denpasar
menambahkan, berusaha yang lebih bersifat luas dan mendalam jauh lebih berarti
dari pada aktivitas terbatas, imbauan ini karena mengingat persaingan yang
semakin kompleks dan global. Sebagai peghujung penegaasan ini pendapat I
Nyoman Suarta (2015) Rektor IKIP PGRI Bali, pada acara Rapat Dosen dapat
penulis rekam; “dimana akan ada sifat meyerah, disitu akan berhenti segalanya”.
Yang dapat diartikan kita hidup harus bekerja untuk kehidupan, bukan hanya
untuk hidup.
Yang menjadi permasalahan bidang pendidikan kini, khususnya bagi
mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik sebagai
generasi penerus bangsa. Mendapat “sorotan tajam”. Menurut pendapat Pande
Wayan Bawa (2012), Nengah Arnawa, (2013), Nyoman Astawan (2014)

28
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

menyatakan; bahwa dari sekian hasil membimbing, menguji mahasiswa Program
Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, punya kelemahan tersendiri, yaitu
“kurang bisa memahami “membahasakan seninya itu sendiri”. Maka dari itu,
perlu mendapat perhatian yang lebih serius bagi semua pihak.

3 Kesimpulan dan Saran
Dari uraian paparan di atas dapat disimpulkan, bahwa berkat kemajuan
pariwisata Bali telah membawa dampak yang cukup besar, baik bersifat positif
maupun negatif. Untuk dapat mempertahankan dan bersaing di jaman Pasar Bebas
ASIAN ini. Bagi seniman, pelaku seni, pencinta seni, pemandu wisatawan bisa
bersinergi dalam kesatuannya untuk pencapaian tujuan tunggal, yaitu seni
pertunjukan yang bermutu sebagai unsur utamanya harus dipelihara dengan baik.
Karena hanya kesenian berkualitas tinggi bisa diakui dan laku dijual.
Yang pasti, industri pariwisata budaya yang dilaksanakan di Pulau Dewata
ini telah terjadi pergeseran bentuk, isi (teks), struktur penyajian serta fungsi dan
tujuan (konteks) kesenian daerah Bali yang telah banyak mengarah ke dunia
intertainment, yang komersial dan sekuler. M Jiwa dan nafas kebudayaan Bali
yang semula sangat komunal dan informal secara berlahan-lahan berubah menjadi
semakin individual dan formal. Perubahan ini tiada lain dari adanya pengaruh
budaya luar yang datang dengan fenomena-fenomena modernisasi yang masih
asing oleh masyarakat Bali.
Untuk menghindari dampak negatif yang lebih berkepanjangan,
masyarakat Bali tidak harus, dan hampir tidak mungkin, untuk keluar dari dunia
industri ini. Yang perlu diwaspadai oleh seniman terkait, bagaimana menghadapi
jagat dan dunia baru yang masih asing yang diciptakan oleh pariwisata.
Masyarakat Bali, terutama berkaitan dengan kepariwisataan bagaimana
bisa memilah-milah, memilih anatara ke dua kegiatan budaya tradisional
(sekulerisasi) dan kegiatan kepariwisataan, supaya berjalan imbang dan eksis
sepanjang masa. Jadi dengan mencermati ke dua tujuan ini, antara kegiatan
kepariwisataan dan sekulerisasi pada dewasa ini sama-sama saling memerlukan
dan membutuhkan. Dengan demikian untuk dinas kesenian, terutamanya yang
membidangi kepariwisataan, agar tidak henti-hentinya memperjuangkan nasib

29
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

kesenian yang terkait kesejahtraan seniman; Bagi pemandu wisata, sebaiknya juga
memikirkan nasib kesenian Bali untuk bisa bertahan kualitas penyajiannya; begiu
juga bagi pengelola seni ataupun penjual seni dan aktor seni, hendaknya tidak
hanya bisa menjual seni saja, tetapi mau meningkatkan mutu pertunjukannya.
Semua ini tidak hanya juga untuk kehidupan kesenian saja, tetapi lebih mengakar
pada kehidupan dan penghidupan manusia (konteks) kebudayaan secara umum.
Inti dari pengertian ini boleh disebutkan, dalam pertunjukan turistik Bali ada dua
konsep kehidupan Ruwe Binedha yang tidak boleh dipisahkan, untuk dapat
menemukan “keseimbangan” itu.
Berkenaan dengan tersebut di atas, ada dua cara pembaruan penggarapan yang
dapat menarik kiranya untuk pertunjukan turistik; pertama, mengacu pada realitas
Sendratari Ramayana sebagai pijakan kongkrit yang idial sampai kini bisa sebagai
bahan banding. Ke dua memasukan ide-ide baru yang belum sama sekali pernah
dipertunjukan (orisinil).
Pertunjukan Sendratari Ramayana Ballet yang pada unsur bagian-baginnya
ada pemadatan struktur penyajian, terkait dorasi, Banyak penokohan, terkait
beraneka kustum, isi cerita singkat, dinamika penyajian padat, musik iringannya
serasi dan kustumnya klasik.
Pertunjukan Kreasi Baru, yaitu dalam pemilihan tema; penata/actor punya
didikasi tinggi, punya keyakinan, orisinalias, royalitas, mengacu pada fungsi,
tempat pertunjukan dan perlengkapan-perlengkapan. Pendapat I Wayan Beratha
(almarhum), seorang tokoh seni pertunjukan Bali serba bisa mengatakan; dalam
mengarap seni untuk bisa bersaing dengan tari klasik, hendaknya harus bisa paling
tidak memedai “mutu kesenian itu”, dan yang lainnya berani melawan hambatan-
hambatan yang ada pada konsep garapan “gerak, ruang dan waktu”.
Hal yang terkait adalah sebuah pertanyaan mendasar, yaitu bagaimana bisa
pendukung seni kepariwisataan tidak menjadi bosan, atas kesejahteraan hidupnya
kurang terpenuhi oleh pihak pemakai?

DAFTAR PUSTAKA

Arya Sugiarta, I Gede dkk. 2014. Gamelan Tradisional Sebagai Mempersatu
Bangasa. Denpasar: Seminar Nasional ISI Bali.

30
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Bandem, I Made. 1986. “Prakempa”Sebuah Lontar Gamelan Bali. Denpasar:
Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI).

Didik Nini Towok Dan Bambang Setiawan. 2005. Otak Para Pemimpin Kita dan
Carut-Marutnya Keadaan Bangsa.Yogyakarta: PT Marih Media.

Dibia, I Wayan. 1997. “Mudra” No. 5 TH V. Denpasar: Sekolah Seni Indonesia
(STSI).

___________. 1997. “Mudra” No.5 TH V. Denpasar: Sekolah Tinggi Indonesia
(STSI).

Darmada, I Made.2015. Orasi Ilmiah “Ekonomi Kreatif Dalam Balivogenic
culture Menuju Kreativitas Kehidupan”. Denpasar: Dies Natalis Ke-32
Dan Wisuda Sarjana ke-35 IKIP PGRIBali.

Darmaya, Ketut. 2010. Pustaka Bali Tonggak-Tonggak Sejarah Bali. Singa Raja.
Gema Aliansi Pemerhati Bali Utara.

Dana, I Wayan dan Rikrik Setiawan. 2015. Makalah Seni Sebagai Ekonomi
ASIAN. Denpasar: Seminar Seni Nasional ISI.Bali.

Dantes dan A Ain Marheni.2013. Inplementasi Osemen Otentik dalam Rangka
Meningkatkan Kompontensi Lululusan. Denpasar: Wok Sop IKIP PGRI
Bali.

Edi Sedyawati dan Rai S. I Wayan.1971. Seminar Seni Profan Bidang Tari.
Denpasar: Dinas Kesenian Provinsi Bali.

Geettz dan Dibia. 1997. “Mudra” No.5 TH V. Denpasar: Sekolah Seni Indonesia
(STSI).

Gunadha, I Da Bagus. Aneka Politik Hindu. Denpasar: Widya Dharma Bekerja
Sama dengan Program Pasca Sarjana Universitas Hindu Indonesia.

Suedarsono, 2010. Pertunjukan Indonesia Di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gajah
Mada Unipersity Press.

Sudarsono dan Rai S. 2006. Peranan Seni Dalam Pembangunan Pariwisata Bali.
Denpasar: Pembinaan Seni Pertunjukan Tontonan Wisata, Oleh Dinas
Kebudayaan Provinsi Bali.

Suarta, I Wayan. 2009. Buku Ajar Seni Pertunjukan Indonesia. Denpasar: ISI
Bali.

31
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Sumandyo Hadi, Y. 2014. Tari Tradisi Kerakyatan dan Kraton Dapat Sebagai
Sumber Inpirasi Pengkajian Dan Pencitaan. Denpasar: Seminar Nasional
ISI Bali.

Sadwiaka, I Nyoman. 2013. Esensi Sekar Alit Sebagai Sarana Pembelajaran Budi
Pekerti. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni “Stilistetika”. Denpasar:
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP PGRI Bali.

Mantra, Ida Bagus. Rai S. 1994. Kebudayaan Bali Dalam Pariwisat Budaya.
Denpasar: Porum Sanggar Seni Untuk Tontonan Wisata, Dinas Kesenian
Provinsi Bali.

Merriam, Alan P. 1964 The Antropology of Music. IL. North Western University
Press.

Mastra, I Wayan. 2014. Gamelan Kekelentingan Dalam Upacara Piodalan di
Pura Khayangan Jagat Luhur Natar Sari ApuanBaturiti-Tabanan.
Denpasar: Universitas Hindu Indonesia.

Picard dan Dibia, I Wayan.1996. Mudra. No. 5 TH V. Denpasar: Sekolah Tinggi
Seni Indonesia.

32
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

PENCIPTAAN DESAIN MOTIF BATIK KINTAMANI

Oleh
Ni Putu Laras Purnamasari
Program Studi Pendidikan Seni Rupa
Fakultas Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali

ABSTRAK
Penciptaan karya seni ini terispirasi oleh keindahan alam Kintamani, yang
berada di Kabupaten Bangli, Bali. Sebagai salah satu destinasi favorit wisata di
Bali, Kintamani memiliki potensi wisata alam yang sangat menarik untuk
dikunjungi, antara lain wisata Gunung Batur yang menawarkan suasana sejuk
berpadu dengan hijaunya air Danau Batur. Sawah dan ladang yang ditanami aneka
bunga, sayur, dan buah-buahan, mencerminkan suburnya tanah Kintamani.
Berkaitan denga hal tersebut penulis ingin berpartisipasi dalam menciptakan
desain motif batik baru, yang berorientasi pada pencarian karakter khas Kintamani
atau yang dapat mencerminkan budaya lokal dan potensi alam daerah tersebut.
Penciptaan desain motif batik khas Kintamani dilakukan dengan cara
melakukan penelitian terhadap potensi yang ada di daerah Kintamani, seperti
kondisi geografis, tanaman unggulan, dan binatang khas yang dibudidayakan di
Kintamani. Dari penelitian tersebut kemudian dilakukan pendataan, dilanjutkan
dengan evaluasi, dan melakukan penciptaan motif batik baru khas Kintamani.
Desain batik ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dalam
menciptakan seni kerajinan baru khususnya di daerah Kintamani berupa batik,
agar nantinya menjadi pemicu semangat kreatifitas, yang mampu menciptakan
industri kreatif yang mampu bersaing di Indonesia.
Kata kunci: penciptaan, motif batik, Kintamani

Abstract
Nowadays, batik has become Indonesia’s cultural heritage which is
recognized by the whole world. Evidenced by the issuance of UNESCO certificate
stating unequivocally that batik is an intangible cultural heritage of humanity.
This has attracted the author attention to explore and creatively creating a new
batik design oriented by the natural beauty of Indonesia especially the nature of
Kintamani, Bangli Regency, Bali.
As one of favorite tourism destination in Bali, Kintamani has some
potential natural attractions that are worth visiting, including Mount Batur which
offers a cool atmosphere blends with the green water of Lake Batur. Ricefields
and the land are planted with some flowers, vegetables, and fruits reflect
Kintamani soil fertility. Related to this, the author wanted to participate in
creating new batik design which is oriented to the distinctive character of
Kintamani or to reflect the local culture and natural potential of this area.
The creation of distinctive batik design of Kintamani done by doing
research on potential things in Kintamani area, such as geographical conditions,

33
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

superior plants, and unique cultivated animals in Kintamani. From this study then
carried out the data collection, followed by evaluation, and performed the
creation of new batik design typical of Kintamani. This batik design is expected to
be a contribution in art, in creating new craft such as batik especially in
Kintamani area, so that later will trigger the creativity and capable to create
creative industries able to compete in Indonesia.

Keywords: creation, batik design, Kintamani

1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia batik sudah merupakan bagian
dari budaya dan seni tradisi yang telah ada sejak beberapa abad silam. Dalam
perjalanannya, seni batik telah mengalami pasang surut seirama dengan
perkembangan dan keinginan masyarakat. Beberapa tahun terakhir batik kembali
mengalami kebangkitan, mendapat perhatian masyarakat, bahkan batik juga
kembali menjadi trend busana diberbagai kalangan masyarakat. UNESCO selaku
organisasi tertinggi dunia di bidang kebudayaan, di bawah naungan PBB telah
mengeluarkan sertifikat pengakuan batik sebagai warisan budaya Indonesia pada
tanggal 2 Oktober 2009. Sertifikat tersebut menyebutkan bahwa batik adaah
warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi (Masterpieces of the
Oral and Intangible Cultural Heritage of Humanity) dari Indonesia (Asti Musman
& Ambar B. Arini, 2011: 1). Hal ini telah membuktikan bahwa saat ini batik
tidak hanya menjadi perhatian masyarakat Indonesia saja, namun juga menjadi
perhatian masyarakat di seluruh dunia.
Beberapa pemerintah daerah di Indonesia mulai menggalakkan berbagai
kompetisi mengenai batik. Dengan tujuan terciptanya desain-desain baru yang
dinamis, dan sesuai dengan keinginan konsumen yang selalu menginginkan
adanya inovasi dan kreasi. Lingkungan pendidikan terutama pendidikan seni juga
sangat ditunggu peran ilmiahnya, untuk berperan serta dalam upaya melestarikan
kesenian batik di Indonesia. Melalui penciptaan karya seni ini penulis mencoba
untuk memberikan sumbangsih pemikiran ilmiah, melalui pengembangan desain
motif batik baru khas Kintamani yang kreatif dan inovatif.
Kintamani adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bangli, Bali. Daerah
ini sebagian besar merupakan dataran tinggi pegunungan yang hijau dan sejuk.

34
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Seperti dataran tinggi pada umumnya, Kintamani juga merupakan daerah subur
yang mudah ditanami berbagai jenis tanaman, baik sayuran, buah, dan bunga. Hal
ini merupakan dampak dari letusan Gunung Batur beberapa puluh tahun silam.
Banyak material-material yang keluar ketika gunung bererupsi, yang
menyebabkan lahan tersebut menjadi subur. Danau Batur yang berada tepat di
kaki Gunung Batur juga menjadi ekosistem bagi biota air maupun darat. Banyak
ikan yang hidup di dalamnya, bahkan dibudidayakan. Potensi alam Kintamani
yang menyajikan keindahan sangat menarik perhatian penulis dan menjadi
inspirasi, untuk diwujudkan dalam bentuk motif batik khas Kintamani.

1.2 Landasan Teori
Seni batik merupakan keahlian turun temurun, yang telah memberikan
banyak lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia. Batik juga merupakan
penyaluran kreasi yang memiliki arti tersendiri, yang terkadang dihubungkan
dengan tradisi, kepercayaan, dan sumber-sumber kehidupan yang berkembang
dalam masyarakat. Ditinjau dari etimologi kata batik beraal dari bahasa Jawa,
walaupun dalam perbendaharaan bahasa Jawa kuno tidak dijumpai istilah batik
(Elliot, 1984:22). Diduga istilah batik mulai digunakan setelah ada canting dan
lilin (malam) sebagai alat dan bahan pembuatan batik (Kawindrasusanta, 1982:4)
Pada penciptaan sebuah desain batik, motif merupakan hal utama yang
sangat berpengaruh pada pencapaian tujuan penciptaan. Perwujudan motif
umumnya merupakan gubahan atas bentuk-bentuk di alam atau sebagai
representasi alam yang kasatmata, akan tetapi adapula yang merupakan hasil
khayalan semata karena itu bersifat imajinatif, bahkan karena tidak dapat dikenali
kembali kemudian disebut dengan bentuk abstrak. Motif yang merupakan
gubahan bentuk alam misalnya motif gunung, awan, dan pohon. Motif imajinatif
misalnya motif singa bersayap karena merupakan makhluk khayal yang bentuknya
merupakan hasil rekaan. Sementara garis-garis zigzag, berpilin atau berkait.
Bidang persegi atau belah ketupat dapat merupakan motif abstrak (Sunaryo, 2009:
14).
Motif dibuat dengan cara menggambar kembali objek atau ide dasar
menjadi suatu gambar atau bentuk baru. Bentuk dari objek tersebut diolah menjadi

35
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

bentuk yang indah, terkesan dekoratif namun tidak meninggalkan ciri khas asli
objek. Bentuk dekoratif dapat diciptakan melalui penggubahan bentuk dengan
cara teknik deformasi. Deformasi yaitu perubahan susunan bentuk yang dilakukan
dengan sengaja, untuk kepentingan seni yang sering terkesan sangat kuat/besar,
sehingga terkadang tidak lagi berwujud figure semula atau sebenarnya. Hal ini
dapat memunculkan figure/karakter baru yang lain dari sebelumnya. Deformasi
diciptakan dengan cara stilisasi (penggayaan), destruksi (perusakan), simplifikasi
(penyederhanaan), distorsi (pembiasan) (Susanto, 2011: 98).
Dalam penciptaan motif batik, disamping mengusahakan terciptanya
keindahan visual juga harus memikirkan mengenai jiwa dari motif yang
diciptakan. Jiwa motif adalah arti atau makna dari motif tersebut secara
keseluruhan atau dengan kata lain arti symbol yang terkandung didalamnya. Jiwa
atau symbol yang terkandung dalam motif, sesuai dengan sifat visualnya juga
harus menggambarkan suatu keindahan, yaitu hal yang baik dan bersifat luhur
(Susanto, 1980:283)

1.3 Tujuan Penciptaan
Penciptaan karya desain batik khas Kintamani ini sebagai sumbangsih dan
kepedulian penulis dalam pengembangan batik di Indonesia, agar selalu inovatif
dan kreatif. Dengan harapan hasil penciptaan yang dilakukan dapat menjadi
pemicu semangat jiwa kreatifitas, yang mampu menciptakan industri kreatif di
masyarakat Indonesia pada umumnya, dan masyarakat Kintamani khususnya.

2 Metode Penciptaan
Dalam penciptaan karya batik ini mengacu pada metode yang
dikemukakan oleh SP Gustami yaitu terdiri dari tiga tahap, enam langkah
penciptaan seni.
a) Tahap pertama adalah eksplorasi yang meliputi langkah pertama, yaitu
pengembaraan jiwa, pengamatan lapangan, penggalian sumber referensi
dan informasi untuk menentukan tema dan rumusan masalah. Langkah
kedua yaitu penggalian teori, data, dan referensi visual, berikut pengolahan

36
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

dan analisis data untuk mendapatkan konsep pemecahan masalah, yang
kemudian hasilnya dipakai sebagai landasan penciptaan.
b) Tahap kedua adalah perancangan yang meliputi langkah ketiga yaitu
penuangan ide dari hasil analisis yang telah dilakukan ke dalam bentuk
visual dua dimensional atau desain, dengan mempertimbangkan aspek-
aspek nilai seni, antara lain material, teknik, proses, metode, konstruksi,
ergonomi, keamanan, kenyamanan, dan lain-lain. Langkah keempat yaitu
pembuatan model prototype atau gambar tekniknya.
c) Tahap ketiga adalah perwujudan meliputi langkah kelima yaitu
perwujudan karya berdasarkan model atau gambar teknik, termasuk
penyelesaian akhir dan sistem kemasannya. Langkah keenam yaitu
evaluasi terhadap hasil karya yang telah dibuat dengan tujuan untuk
mengetahui secara menyeluruh kesesuaian gagasan dengan hasil
perwujudan (Gustami, 2004: 31-32).

Eksplorasi
Metode ini diawali dengan melakukan pengamatan lingkungan disekitar
wilayah Kintamani, guna memperoleh pengetahuan dan informasi tentang hal-hal
yang berhubungan dengan sumber ide penciptaan dan proses perwujudan yang
akan dijalani. Adapun kegiatan yang akan dilakukan meliputi:
1) Pengumpulan informasi dan pengamatan mengenai potensi unggulan
daerah Kintamani sebagai sumber ide.
2) Melakukan analisis terhadap data yang diperoleh.
3) Mengembangkan berfikir non linier, membuka ruang-ruang imajiner.

Perancangan
Setelah data diperoleh langkah selanjutnya adalah membuka ruang
imajinasi, untuk mencari bentuk-bentuk motif baru yang berbeda dari motif batik
lainnya dan menunjukkan kekhasan daerah Kintamani.

Pembentukan
a) Pembuatan sketsa alternative pada kertas HVS

37
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

b) Pemindahan sketsa terpilih pada kertas Concord ukuran 25x30 cm
c) Pewarnaan dengan menggunakan cat poster Sakura

3 Hasil dan Pembahasan
3.1 Kondisi Alam Kintamani
Kintamani merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bangli.
Kabupaten Bangli terletak di tengah-tengah pulau Bali, yang memiliki empat
kecamatan yaitu kecamatan Bangli, Tembuku, Susut, dan Kintamani. Dari
keempat kecamatan sebagian besar dari luas daerah Kabupaten Bangli terletak di
kecamatan Kintamani. Wilayahnya merupakan dataran tinggi dan pegunungan,
yakni terdapat Gunung Batur yang masih aktif, dan merupakan gunung kedua
tertinggi di Bali setelah gunung Agung. Menuju daerah ini dapat ditempuh dengan
kendaraan bermotor, karena daerah ini menghubungkan Kota Bangli dan
Singaraja, sedangkan rute objek wisata menghubungkan obyek wisata Batur
dengan obyek wisata Tampaksiring dan Besakih. Struktur wilayah yang berada di
daerah ketinggian atau pegunungan menyebabkan udara di daerah ini sangat
sejuk, selain itu kondisi tanah yang subur menyebabkan tanah Kintamani sangat
berpotensi sebagai lahan pertanian dan holtikultura. Kondisi tanah di wilayah
Kintamani sangat dipengaruhi oleh letusan Gunung Batur pada tahun 1917.
Banyak material-material yang keluar ketika gunung bererupsi, yang
menyebabkan lahan tersebut menjadi subur.
Sebagian besar penduduk Kintamani berprofesi sebagai pentani, selain juga
berprofesi sebagai pedagang, nelayan, pegawai negeri dan swasta, serta pekerja
pariwisata. Hasil pertanian yang diunggulkan adalah bunga, buah, dan sayur-
sayuran. Sistem pertanian mereka adalah tumpang sari yaitu dengan menanami
beberapa jenis tanaman pada satu lahan, seperti menanami sela pohon jeruk
dengan tanaman cabai, tomat, dan sayuran, atau tanaman kopi dengan tanaman
bunga. Hal tersebut dilakukan agar hasil bumi yang didapatkan lebih beragam.
Tanaman unggulan daerah Kintamani antara lain bunga gemitir, bunga
hias, jeruk, tomat, cabai, sawi, kol, dan bawang merah, selain sayur dan buah,
daerah ini juga memiliki produk unggulan lain yaitu tanaman kopi. Kopi dari
daerah Kintamani telah mengantongi sertifikat IG (Indikasi Geografis), kopi

38
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

tersebut merupakan jenis Arabika, yang terkenal dengan kopi yang memiliki
kualitas tinggi. Dilihat dari segi budidayanya, kopi dari Kintamani tahan hama dan
penyakit, berbuah banyak dengan produktivitas tinggi, dan memiliki cita rasa kopi
yang khas.
Kopi berasal dari bahasa latin caffea, anggota keluarga rubeaceae, tetapi
sampai saat ini masih banyak pertentangan para ahli mengenai pengklasifikasian
kopi, karena banyak ragam dari tanaman ini. Terdapat 25 jenis kopi, namun hanya
dua yang terkenal yaitu kopi Arabika dan kopi Robusta. Secara umum tanaman
kopi tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan tumbuh pada ketinggian 200-600
meter di atas permukaan laut.
Potensi unggulan daerah Kintamani yang lain selain bidang pertanian yang
subur, adalah potensi pariwisata khususnya wisata alam. Wilayah Kintamani
berada pada jalan provinsi, yang dapat ditempuh dari kota Denpasar menuju arah
utara, ke kota Singaraja, sejauh 23 km dengan lama perjalanan kurang lebih dua
jam menggunakan kendaraan bermotor. Setelah memasuki wilayah Kitamani,
akan tersaji pemandangan alam penggunungan, dengan hamparan tanah pertanian
yang subur dan menyejukkan mata. Umumnya wisatawan akan singgah disebuah
tempat yang bernama Penelokan. Sesuai dengan namanya yang dalam bahasa Bali
berarti tempat untuk melihat-lihat, dari tempat ini wisatawan akan menyaksikan
pemandangan Gunung Batur yang tinggi dan megah dengan hamparan bebatuan
hitam, serta pemandangan Danau Batur.
Gunung Batur merupakan gunung berapi aktif yang berada di kecamatan
Kintamani, kabupaten Bangli, Bali, dan terletak di sebelah barat laut Gunung
Agung. Gunung Batur telah meletus beberapa kali, tercatat dalam sejarah mulai
tahun 1804, dan paling dasyat terjadi pada tahun 1926 yang membuat aliran lahar
panas dan menimbun Desa Batur beserta Pura Ulun Danu Batur. Gunung ini
memiliki kaldera besar yang berukuran 13,8x10 km, yang tertutup dari segala arah
dan merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Di dalam kaldera tersebut
terdapat danau yang berbentuk bulan sabit, yang dinamakan Danau Batur.
Danau Batur merupakan danau terbesar di pulau Bali. Air danau berasal
dari air hujan dan rembesan-rembesan air dari pegunungan di sekitarnya. Danau
ini menjadi sumber mata air bagi penduduk di sekitarnya, serta sebagai habitat

39
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

bagi ekosistem yang ada di dalamnya. Danau Batur memiliki fungsi sebagai
sumber keanekaragaman hayati baik biota darat maupun biota air. Potensi
kekayaan alam inilah yang mengundang sejumlah penduduk untuk berprofesi
sebagai nelayan. Masyarakat sekitar danau selama ini memang menggantungkan
hidup pada Danau Batur. Selain dimanfaatkan sebagai objek wisata, Danau Batur
juga dimanfaatkan oleh warga sebagai tempat budidaya ikan Nila dan Mujair
dengan cara membuat keramba-keramba apung. Air danau juga dimanfaatkan
untuk menyiram tanaman bawang yang di budidayakan oleh warga setempat,
dengan cara menyedotnya menggunakan mesin penyedot air.
Tercatat beberapa jenis tumbuhan air hidup di sekitar Danau Batur antara
lain Eceng Gondok, Gangang, dan Kangkung air, sedangkan ikan air tawar yang
hidup di danau terdiri dari berbagai jenis. Ikan-ikan tersebut antara lain, ikan Mas,
ikan Nila, ikan Mujair, ikan Nyalyan, ikan gabus, dan ikan lele.

3.2 Penciptaan Desain Batik Khas Kintamani
Indahnya alam Kintamani selalu memberikan inspirasi yang tidak habis-
habisnya untuk diwujudkan menjadi karya seni. Hamparan pegunungan yang
sepanjang tahun menghijau, sawah dengan tanaman sayur, buah-buahan dan
bunga yang berwarna-warni, ladang tanaman kopi, coklat dan jeruk yang tidak
henti-hentinya berbuah, dan udara yang sejuk membuat alam Kintamani semakin
tampak menakjubkan. Kintamani juga memiliki binatang khas yaitu Anjing
Kintamani yang sangat popular, selain itu juga terdapat beberapa ikan air tawar
yang dibudidayakan sebagai komoditas perdagangan daerah ini, seperti ikan
Mujair dan ikan Nila. Setelah melihat beberapa potensi alam Kintamani, penulis
merasa tertarik untuk mencermati lebih dalam mengenai beberapa tanaman dan
binatang yang menjadi potensi unggulan daerah ini. Langkah ini termasuk dalam
proses pengumpulan dan analisis data. Pendataan dan analisis objek penciptaan
harus dilakukan agar nantinya motif yang diciptakan dapat benar-benar mewakili
ciri khas daerah Kintamani, selain itu juga dengan memperhatikan konsep, ide
kreatif, yang bersumber pada kekayaan alam Kintamani.
Setelah dicermati ternyata daun kopi memiliki bentuk yang sangat artistik,
yaitu pada gelombang pinggiran daun dan seratnya yang tersusun teratur, sejajar

40
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

kearah ujung, serta mengikuti bentuk daun. Demikian juga bentuk buah kopi yang
berukuran kecil dan bergerombol, sehingga secara keseluruhan bentuk daun dan
buah menjadi tampak indah. Terutama bentuk buah yang bergerombol seolah
diusun mengikuti bentuk ranting. Warna buah juga berwarna warni, tidak
seluruhnya didominasi dengan satu warna. Ada warna hijau yang menandakan
bahwa buah kopi masih mentah, ada yang berwarna merah yang mengartikan
bahwa buah tersebut mulai matang, dan warna hitam yang menandakan buah kopi
siap untuk dipanen. Dalam menstilisasi tanaman kopi menjadi motif batik, secara
bentuk harus diolah sedemikian rupa agar tidak terlihat kaku seperti bentuk
aslinya.
Selain tanaman kopi sejauh mata memandang, ladang menguning oleh
buah jeruk yang bergelantungan. Kulit jeruk yang kuning menandakan bahwa
buah jeruk telah siap untuk dipanen. Jeruk memang sangat cocok ditanam
didaerah dataran tinggi dan berhawa sejuk. Selain dapat tumbuh subur, buah yang
dihasilkan juga akan lebat. Hal ini tentu juga sangat dipengaruhi oleh faktor tanah
atau media tanamnya. Jeruk Siam adalah jenis jeruk yang banyak dibudidyakan di
daerah kintamani. Ciri khas buahnya berbentuk bulat, berkulit tipis, dengan
permukaan halus, licin, dan mengkilap, jika dibuka kulit buah menempel lebih
dekat dengan daging. Dasar buah berleher pendek dengan puncak berlekuk. Bulir
jeruk berbentuk agak panjang dan sangat berair. Biji jeruk berukuran kecil, namun
Jeruk Siam sangat jarang memiliki biji buah. Daun berbentuk oval dengan ujung
daun dan pangkal yang runcing, serta urat daun yang menyebar. Warna bunga
putih menyerupai bunga melati, dengan bentuk yang kecil dan mungil. Seperti
halnya tanaman kopi, dalam menstilisasinya harus diolah sedemikian rupa agar
motif terlihat luwes dan menarik.
Mengunjungi Kintamani tidak akan lengkap rasanya jika tidak menikmati
hidangan khas daerah ini, yaitu MuJair Menyatnyat. Hidangan ini belakangan
hadir menjadi primadona kuliner di Bali. Diolah dengan racikan bumbu khas Bali,
kemudian dimatangkan dengan cara di nyat-nyat, yang dalam bahasa Bali berarti
dimasak dengan air sampai bumbu meresap dan menyisakan sedikit air. Seperti
ikan air tawar lainnya, ikan Mujair dapat diolah menjadi beraneka jenis masakan
yang nikmat dan menggugah selera. Banyak yang berpendapat bahwa rasa ikan

41
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Mujair Danau Batur berbeda dengan ikan Mujair atau Nila yang dikembangkan di
daerah lain. Ikan mujair di Danau Batur dibudidayakan di keramba-keramba yang
dikelola oleh masyarakat sekitar danau, seperti desa Songan, Kedisan, dan
Trunyan.
Ikan Mujair hidup secara berkelompok di perairan tawar yang tenang,
maka tidak heran jika ikan Mujair banyak hidup di kawasan Danau Batur. Air
danau memang cenderung tenang karena sumber air merupakan rembesan dari air
tanah yang ada disekitar danau, atau dari air hujan. Ikan jenis ini juga dapat
tumbuh dengan cepat, sehingga tidak butuh waktu lama bagi para patani ikan
untuk memanennya.
Mujair memiliki ukuran sedang, dengan panjang maksimum sekitar 40 cm.
Bentuk badannya pipih dengan kombinasi warna hitam, keabu-abuan, kecoklatan
dan sedikit warna kuning. Badannya bersisik tipis, dan memiliki duri tajam pada
bagian sirip punggungnya. Bagian kepala berbentuk kerucut dan oval pada bagian
depan, menyerupai Ikan Nila. Matanya berwarna hitam kemerahan dan sedikit
kecoklatan. Pada bagian ekor sedikit memanjang, berbentuk seperti kipas dengan
warna yang menyerupai warna sirip. Dalam transformasi bentuk dan warna ikan
Mujair ke dalam motif batik, harus dikombinasikan dengan warna yang sesuai
agar terlihat harmonis. Hal ini harus dilakukan karena secara keseluruhan ikan
tersebut berwarna kehitaman, sedangkan warna hitam adalah warna yang
mendominasi seluruh warna, sehingga dibutuhkan kehati-hatian dalam
mengkomposisikan warna.
Imam Buchori Zaenudin menegaskan bahwa, desain bukan sekedar
keterampilan dalam membuat barang, tetapi merupakan suatu proses berpikir
secara sistematis untuk mencapai mutu yang lebih baik, meliputi mutu material,
teknik, bentuk performasi, baik sebagian maupun keseluruhan. (Zaenudin, 1986:
80-81). Untuk itu dibutuhkan kematangan dalam pembuatan desain motif batik
Kintamani, agar nantinya dapat berkembang dan menjadi industri kreatif bagi
masyarakat di sekitarnya. Langkah ini juga ditempuh untuk memberikan stimulan
atau semangat kreatifitas kepada masyarakat Kintamani, dalam upaya
pengembangan produk kerajinan baru berupa batik.

42
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Dalam pembuatan desain batik terdapat empat aspek yang harus di
perhatikan, yakni motif, warna, teknik pembuatan, dan fungsinya. desain batik
khas Kintamani dibuat di kertas Congcord yang memiliki tekstur halus, dengan
ukuran 25x30 cm. Bentuk motif yang diciptakan mengarah pada gaya dekoratif,
dengan menstilisasi bentuk objek. Pewarnaan desain menggunakan warna dari cat
poster Sakura, karena cat ini memiliki tekstur warna yang halus dan kesat
sehingga sanggat mudah dalam pengaplikasiannya. Proses pembuatan desain juga
menjadi lebih cepat karena tekstur warna yang cepat kering. Warna-warna yang
tersedia juga beragam dan banyak dijual di tok-toko alat melukis. Teknik
pembuatannya seperti teknik melukis pada umumnya, hanya pada hasil akhirnya
seluruh motif harus diberi kontur dan isen-isen (titik-titik).

3.3 Proses Penciptaan Desain Batik

43
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Gb.1. Proses pembuatan sket (atas) pewarnaan desain/prototype (bawah)

Berikut beberapa desain-desain yang terpilih hasil pengembangan objek
yang merupakan potensi unggulan daerah Kintamani. Desain dibuat pada kertas
berukuran 25x30 cm sebagai master desain/prototype.

Gb.2. Gambar tanaman kopi

44
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Gb.3. Desain batik khas Kintamani 1 hasil pengembangan bentuk tanaman kopi

Gb.4. Gambar ikan air tawar dan ganggang hijau

45
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Gb.5. Desain batik khas Kintamani 4 hasil pengembangan bentuk ikan air tawar
dan ganggang hijau

Gb.6. Gambar ganggang dan ikan Mujair

46
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Gb.7. Desain batik Kintamani hasil pengembangan bentuk ikan mujair dan
ganggang

Gb.8. Gambar alam Kintamani, Gunung dan Danau Batur (kiri atas), ladang jeruk
(kanan atas), ladang bunga Gemitir (bawah)

47
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Gb.9. Desain batik Kintamani hasil pengembangan kekayaan alam Kintamani
berupa tanaman jeruk, bunga gemitir, danau, dan ikan.

4 Penutup
Kintamani menyimpan banyak sekali potensi alam yang dapat diwujudkan
kedalam sebuah motif batik. Setelah melalui tahapan dalam proses penciptaan
serta pertimbangan yang matang, akhirnya beberapa desain batik khas Kintamani
dapat diselesaikan. Dengan memanfaatkan teknik menggambar cat air, karya
desain ini terselesaikan dengan baik dan hasilnya menyerupai batik sesungguhnya.
Warna-warna yang digunakan dalam karya ini cenderung mengarah pada warna-
warna kontras, dengan harapan dapat menjadi kombinasi yang segar, bergairah,
dan dinamis, seperti dinamika masyarakat Kintamani. Alam perbukitan yang hijau
menyimpan banyak cadangan air, sehingga alam Kintamani menjadi sangat subur,
tanaman kopi dan jeruk, tidak henti-hentinya memberikan buah yang melimpah.
Sayur-sayuran yang ditanam menampakkan kesegaran, serta bunga yang
berwarna-warni. Ikan juga menjadi salah satu potensi alam yang diunggulkan,
sehingga layak untuk diciptakan menjadi bagian dari desain motif batik khas
Kintamani. Tidak menutup kemungkinan jika nantinya desain batik yang
diciptakan, direalisasikan menjadi sebuah produk batik yang memiliki nilai seni
sekaligus nilai jual, sehingga dapat menciptakan sebuah peluang usaha baru yang
dapat bersaing dalam industri kreatif di Indonesia.

48
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Daftar Pustaka

Djomena, Nian S. 1990. Batik dan Mitra, Penerbit Djambatan, Jakarta.

Elliot, Inger Mc Cabe. 1984. Batik Fabled Cloth of Java, Clarkson N. Potter, Inc,
New York.

Gustami, SP. 2004. Proses Penciptaan Karya Seni Kriya Untaian Metodologi,
Program Pascasajana ISI, Yogyakarta.

Kawindrasusanta, Kuswaji. 1982. Mengenal Seni Batik di Yogyakarta dalam
Sasana Budaya II, Maret, 1982.

Kusrianto, Adi. 2013. Batik: Filosofi, Motif, dan Kegunaan, Penerbit ANDI,
Yogyakarta.

Musman, Asti dan Ambar B. Arini. 2011. Batik Warisan Adi Luhung Nusantara,
G- Media, Yogyakarta.

Papanek, Victor. 1973. Design for The Real World, Bantam Books, Toronto, New
York, London.

Sunaryo, Aryo. 2009. Ornamen Nusantara, Dahara Prize, Semarang.

Susanto, Mikke. 2011. Diksi Rupa: Kumpulan Istilah dan Gerakan Seni Rupa,
Dicti Art Lab, Yogyakarta.

Susanto, Sewan. 1980. Seni Kerajinan Batik Indonesia, Balai Penelitian Batik dan
Kerajinan, Lembaga Penelitian dan Pendidikan Industri, Departemen
Pendidikan RI, Yogyakarta.

Zaenudin, Imam Buchori. 1986. Peranan Desain Dalam Peningkatan Mutu
Produk, dalam Paradigma Desain Indonesia, Rajawali, Bandung.

49
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

INTEGRASI PENDEKATAN ARTISTIK
DALAM SUPERVISI PEMBELAJARAN

oleh
Luh De Liska, S.Pd., M.Pd.

Abstrak
Pendekatan artistik dalam supervisi pembelajaran merupakan pendekatan
yang menyadarkan pada kepekaan, persepsi dan pengetahuan supervisor sebagai
sarana untuk mengapresiasi kejadian-kejadian pembelajaran yang bersifat Subtle
(halus) dan sangat bermakna di dalam kelas. Supervisi pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan artistik, dalam menangkap pembelajaran berusaha
menerobos keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh pendekatan ilmiah.
Menyingkap pembelajaran dengan sekaligus menjangkau latar psikologi dan
sosiologik pelakunya. Pendekatan supervisi seperti ini, manusia merupakan
instrumen untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tujuan
utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Pendekatan
artistik dalam supervisi pembelajaran merupakan pendekatan yang menyadarkan
pada kepekaan, persepsi dan pengetahuan supervisor sebagai sarana untuk
mengapresiasi kejadian-kejadian pembelajaran yang bersifat Subtle (halus) dan
sangat bermakna di dalam kelas.

Kata kunci : pendekatan artistik

Abstract
Artistic approach in the supervision of learning is an approach that
brought on the sensitivity, perception and knowledge of supervisors as a means to
appreciate the events that are learning Subtle (fine) and very meaningful in the
classroom. Supervision of learning by using an artistic approach, in capturing the
learning attempted to break through the limitations that are owned by a scientific
approach. Revisiting learning the background while reaching psychological and
sociologically culprit. Supervision approach, man is an instrument to find out
what is really going on. Its main objective is to improve the quality of education in
schools. Artistic approach in the supervision of learning is an approach that
brought on the sensitivity, perception and knowledge of supervisors as a means to
appreciate the events that are learning Subtle (fine) and very meaningful in the
classroom.

50
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

1 Pendahuluan
Artistik disini adalah sebuah pendekatan supervisi yang terletak pada
sensitivitas, persepsi, dan pengetahuan supervisor sebagai sebuah cara
mengapresiasikan kejadian-kejadian yang terjadi di ruang kelas dan yang
mengeksploitasi potensi bahasa yang puitis, ekpresif dan metaforis untuk
menyampaikan pada guru juga pada orang lain yang keputusannya mempengaruhi
apa yang terjadi di sekolah mengenai apa yang telah diobservasi. Pendekatan
supervisi seperti ini, manusia merupakan instrumen untuk mengetahui apa yang
sebenarnya tengah terjadi. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di sekolah. Demikian juga dengan kerja seorang supervisor, ketika
melihat seorang guru mengajar, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama
adalah yang berkaitan dengan karakter dan kualitas pengajaran sebagai suatu
keseluruhan dan juga berbagai macam bagian yang ada didalamnya. Hal kedua
adalah bahwa setiap guru mempunyai gaya dan kekuatan mereka sendiri. Seorang
supervisor yang berorientasi artistik mampu mengenali gaya tersebut dan akan
membantu guru tersebut mengembangkan gaya tersebut ke arah yang positif.
Di sisi apresiatif, pendekatan artisitik pada supervisi mempunyai dua tujuan dalam
menilai kinerja, yaitu pendekatan ini mengapresiasi kualitas kinerja secara
keseluruhan dan pendekatan ini juga akan mengapresiasi karakter pengajaran yang
berbeda.

2 Pembahasan
2.1 Definisi Pendekatan Artistik dalam Supervisi Pembelajaran
Pendekatan artistik dalam supervisi pembelajaran adalah pendekatan yang
menyadarkan pada kepekaan, persepsi dan pengetahuan supervisor sebagai sarana
untuk mengapresiasi kejadian-kejadian pembelajaran yang bersifat subtle (halus)
dan sangat bermakna di dalam kelas. Pembelajaran di dalam kelas, dengan
demikian dilihat secara espresif, puitis dan bahkan dengan menggunakan bahasa
sirnbol dan kiasan. Faktr-faktor yang mempengaruhi kegiatan pembelajaran di
dalam kelas diamati secara teliti. Pendekatan artistik ini mencoba menempatkan
supervisor sebagai instrurnen observasi untuk mendapatkan data dalam rangka
mengambil langkah-langkah supervisi. Oleh karena supervisor sendiri yang

51
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

ditempatkan sebagai instrumennya, maka dialah yang membuat pemaknaan atas
pembelajaran yang sedang berlangsung.

2.2 Argumen Penyangga Pendekatan Artistik
Mengingat supervisi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
artistik ini merupakan wujud ketidakpuasan atas pendekatan ilmiah, maka
argumen penyangga di sini berangkat dari kelemahan-kelemahan pendekatan
ilmiah. Menurut istilah Elliot W. Eisner, kesalahan-kesalahan tersebut dengan
fallacies. Berikut dikemukakan secara berturut-turut kesalahan-kesalahan
(fallacies) pendekatan ilmiah dan argumen penyangga pendekatan artistik dalam
Supervisi pembelajaran.

1) Kesalahan Perhitungan
Kesalahan perhitungan (fallacy of additivity) ini timbul karena kejadian-
kejadian khusus dalam perilaku pembelajaran (inidence of particular teaching
behavior), dihitung sebagai kesuksesan pembelajaran. Misalnya saja pemberian
contoh dan pemberian penguat, baik positif maupun negatif. Dapat dikatakan,
guru yang frekuensi pemberian penguatan positifnya banyak dipandang lebih
berhasil dibandingkan dengan guru yang sedikit saja memberikan penguat.
Demikian juga yang dalam memberikan banyak contoh lebih baik dengan guru
yang ketika mengajar hanya sedikit memberikan contoh. Kesalahan perhitungan
ini juga terjadi pada kasus inisiatif bertanya. Manakala inisiatif bertanya itu
berasal dari siswa, maka umumnya diperhitungkan sebagai berhasil dibandingkan
dengan kalau inisiatif bertanya siswa itu berasal dari guru. Kesalahan-kesalahan
demikian itu dapat dideret pada kejadian-kejadian pembelajaran yang lainnya.
Dalam sudut pandang pendekatan artistik, kesuksesan pembelajaran tidak dapat
dipandang dari berapa kali seorang guru memberikan penguat kepada siswanya,
berapa banyak guru memberikan contoh dalam rnengajarnya, dari mana inisiatif
bertanya para siswa itu berasal. Banyaknya penguatan yang diberikan kepada
siswa, tidak selalu lebih baik dengan sedikit penguatan. Inisiatif bertanya siswa
yang berasal dari guru, tidak selalu lebih jelek dibandingkan dengan siswa.

52
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Pendekatan artistik justru rnernpersoalkan, apakah penguat yang diberikan
tersebut benar-benar tepat, sehingga secara nyata benar-benar memperkuat. Jika
yang menjadi soal di sini adalah kemampuan memperkuatnya, maka persoalannya
bukan menjadi sedikit atau banyaknya. Demikian juga soal bertanya, menjadi
tidak perlu dipersoalkan, hanya karena yang harus selalu dilihat sebagai indikator
keberhasilan pembelajaran sesungguhnya bukan berasal dan mana asalnya, siapa
yang lebih dahulu berinisiatif. Adanya toleransi untuk memberikan kesempatan
orang lain untuk melakukan sesuatu (terrnasuk bertanya, menyuruh atau
memberikan kesempatan orang lain untuk mernpertanyakan) adalah sifat terpuji,
yang juga tidak kalah penting untuk dikembangkan dalam pembelajaran.

2) Kesalahan Komposisi
Kesalahan komposisi (fallacies of compotition) dapat dilihat dari
kenyataan, bahwa kualitas pembelajaran lebih dilihat dari penjumlahan skor dan
yang dihasilkan oleh variabel-variabelnya. Variabel-variabel tersebut dijabarkan
ke dalam sub variabel-variabel dan indikator-indikator. Dalam indikator-indikator
di sini, lainnya diberi skala 1 sampai dengan skala 10 atau sesuai dengan
kebutuhan (sebab bisa jadi 7,5 atau 4). Jika jumlah skor yang didapatkan tidak
kurang dari standar, maka pembelajaran tersebut dipandang sebagai berhasil,
demikian sebaliknya.
Pernyataan yang muncul kemudian adalah jika guru ternyata supervisor
atau mendapatkan skor tinggi dalam suatu variabel, subvariabel atau indikator
tertentu, sementara mendapatkan skor yang sangat rendah pada variabel,
subvariabel dan indikator yang lain. Dapatkah misa1nya, jika guru tersebut
timpang dalam perolehan skor-nya (dalam suatu variabel tertentu sangat tinggi
sementara dalam variabel yang lain sargat rendah), dikatakan sebagai berhasil,
hanya karena dalam jumlahnya skor tersebut berada di atas standar. Kelemahan
demikian akan lebih tampak, jika guru A dalam suatu variabel, subvariabel atau
indikator pernbelajarannya mendapatkan skor yang ekstrem, misalnya saja 10 dan
2. Padahal jika kedua skor tersebut dijumlahkan dan kemudian dibagi dua maka
skor akhir yang didapatkan adalah 6. Hal ini berbeda dengan misalnya saja, guru
B tersebut pada suatu variabel, subvariabel atau indikator pembelajaran yang satu

53
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

mendapatkan skor 6, sementara pada yang lainnya mendapatkan skor 4. Jika
dijumlahkan dan kemudian dibagi makaskor akhir yang didapatkan adalah 5. Jika
kerangka pendekatan ilmiah yang digunakan, maka guru A dengan ketimpangan
skor demikian dipandang lebih berhasil dibandingkan dengan guru B, hanya
karena jumlah skor yang didapatkan oleh guru A lebih tinggi dibandingkan
dengan skor yang didapatkan oleh guru B. Dalam sudut pandang.pendekatan
artistik, penjumlahan masing-masing variabel pembelajaran, subvariabel dan
indikator-indikator tersebut dipandang tidak tepat, jika dijadikan sebagai bahan
untuk menyimpulkan keberhasilan atau kesuksesan pembelajaran. Komposisi
masing-masing variabel, subvariabel dan indikator yang skornya rata-rata tinggi,
tidak selalu menunjukkan baiknya atau berhasilnya pembelajaran.
Dalam memandang pembelajaran, pendekatan artistik tidak menaruh
perhatian pada tingginya skor masing-masing variabel, subvariabel dan indikator
pembelajaran, melainkan pada kecocokan dan ketepatan komposisinya.
Mengetahui kecakapan konposisi ini, sangat sulit dilakukan jika supervisor tidak
rnelibatkan diri secara penuh dalam pembelajaran yang sedang berlangsung.
Ketepatan komposisi ini tidak berurusan dengan soal banyak dan sedikitnya skor
masing-masing variabel, subvariabel atau indikator pembelajaran, melainkan pada
soal cita rasa pelaku pembelajaran (dalam hal ini adalah guru), yang lebih banyak
tahu tentang pembelajaran yang ia lakukan. Oleh karena itu, jika supervisor ingin
mengetahui apakah kornposisi tersebut sudah tepat, tidak dengan cara
menjumlahkan skor masing-masing variabel, subvariabel atau indikatornya,
melainkan dengan cara menghayati, berusaha terlibat sepenuhnya dalam kegiatan
mengajar yang dilakukan oleh guru.

3) Kesalahan Konkretisasi
Kesalahan konkretisasi ini disebabkan tertipunya pendekatan ilmiah pada
tampilan-tampilan pembelajaran yang tampak, atau yang bersifat lahiriah.
Pembelajaran yang merupakan perpaduan dan unsur-unsurnya yang tampak dan
unsur-unsurnya yang tak tampak, digeneralisasi sebagai sesuatu yang tampak saja.
Padahal jiwa atau roh pembelajaran yang sesungguhnya justru tidak tampak, lebih
penting dibandingkan dengan yang tampak. Tampilan-tampilan pembelajaran

54
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

yang tampak sesungguhnya hanyalah gejala-gejala saja dari adanya jiwa
pembelajaran. Tampilan-tampilan pembelajaran hanyalah suatu gejala saja dari
apa yang ada di baliknya. Oleh karena itulah, pendekatan artistik dalam supervisi
pembelajaran, tidak menaruh perhatian terhadap tampilan-tampilan pembelajaran
yang tampak. Tampilan pembelajaran yang tampak, bisa berbeda-beda wujudnya,
karena ia hanya sekadar konkretisasi pembelajaran yang sebenarnya tidak tampak
tadi. Bahkan jika kondisi dan situasinya berbeda, tampilan pembelajaran yang
tampak tersebut boleh dan harus berbeda juga. Demikian juga, jika pelaku
pembelajaran tersebut (gurunya) berbeda, tampilan pembelajarannya boleh
berbeda. Meskipun mungkin, jiwa atau roh pembelajaran tersebut sama.
Konkretisasi terhadap jiwa atau roh pembelajaran bukanlah harga mati, yang
hanya bisa dimunculkan dalam satu macam tampilan. Ia bisa dimunculkan dalam
berwama-warni tampilan. Ia secara dinamis, dapat dikembangkan dan ditampilkan
sesuai dengan visi, kreativitas dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki o1eh
pelakunya (guru). Supervisor haruslah dapat memberikan penghargaan atas
kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh guru dalam pernbelajaran. Supervisor juga
harus sadar bahwa tidak terdapat satu cara pun yang bersifat universal dalam
menilai baik tidaknya pembelajaran. Apalagi pembelajaran tersebut dapat dilihat
dan ditempatkan dalam berbagai. macam konteks.
Dari sini, sebenarnya sekaligus dapat dipertanyakan soal-soal, seperti
mengapa diperlukan keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya,
keterampilan memberikan penguat, dan keterampilan-keterampilan lain
sebagaimana dalam pembelajaran mikro. Sebab, tidak semua persoalan dalam
pembelajaran itu mesti dijelaskan, terutama yang sudah jelas. Bahkan sesuatu
yang tidak jelas pun, tidak harus dijelaskan. Jelaslah bahwa suatu pembelajaran
tidak boleh dinilai dengan menggunakan kerangka pembelajaran yang lain, yang
berbeda konteksnya, dan yang berbeda pelakunya. Karena itu juga, antara
pembelajaran satu dengan yang lain tidak dapat dibanding-bandingkan. Masing-
masing guru mempunyai kelebihan-kelebihan sendiri, dan kekurangan-
kekurangannya sendiri dalam melaksanakan pembelajaran. Masing-masing guru
punya cara terbaik dalam menampilkan pembelajarannya.

55
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

4) Kesalahan Urus
Kesalahan urus pendekatan ilmiah dalam supervisi pembelajaran dapat
dilihat dari terbatasnya urusan-urusan pembelajaran pada hal-hal yang berada di
luar kelas, yang sedikit ataupun banyak, mempunyai kadar intervensi terhadap
pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal ini oleh pendekatan ilmiah hanya
dipandang dengan sebelah mata. Kelas sebagai bagian dari sekolah secara
keseluruhan, dalam sudut pandang pendekatan ilmiah, seolah-olah dianggap
terisolasi, tidak terpengaruh sarna sekali oleh kehidupan sekolah. Pengaruh
sekolah terhadap kehidupan kelas, meskipun mungkin diakui, seolah-olah tidak
dilihat. Dalam realitasnya, kelas yang di dalamnya terjadi interaksi antara guru
dengan siswa yang mempunyai latar kehidupan yang berbeda-beda dan
kemungkinan senantiasa berubah, dalam pendekatan ilmiah dipandang sebagai
sesuatu yang biasa saja, dan tidak terpengaruh oleh jalannya. Pembelajaran.
Keberhasilan pembelajaran dipandang terlepas sama sekali dari variabel-variabel
luar. Bagaimana keadaan sekolah, keadaan peralatan yang tersedia, bagaimana
kelengkapan perpustakaan sekolah, suasana keseharian di sekolah, dipandang
tidak punya hubungan dengan pembelajaran. Tidak mengherankan jika dalam
pelaksanaan supervisi pembelajaran yang menggunakan pendekatan ilmiah
khususnya dalam memberikan penilaian atas keberhasilan pembelajaran, tidak
pernah melihat kaitan faktor-faktor yang berada di luar kelas seperti yang
disebutkan tadi. Dalam pandangan pendekatan artistik, apa yang berada di luar
kelas dan bahkan juga diluar sekolah, dipandang mempunyai pengaruh terhadap
pembelajaran yang mungkin sedang diberlangsungkan di kelas. Kehidupan kelas,
selain dipengaruhi oleh variabel-variabel yang berada di dalam kelas, juga
ditentukan oleh variabel-variabel luar kelas bahkan variabel luar sekolah. Oleh
karena itu, bagaimana kehidupan guru di rumah, keadaan sosial ekonominya, dan
bahkan keharmonisan rumah tangganya, dipandang berpengaruh terhadap
pembelajaran-pembelajaran yang diberlangsungkan.
Demikian juga kehidupan siswa, yang dalam pembelajaran senantiasa
berinteraksi dengan guru, juga mempunyai pengaruh terhadap pembelajaran.
Dalam keadaan siswa lapar karena tidak punya uang saku, dalam keadaan rumah
tangga orang tua siswa tidak rnempunyai literatur yang mesti dipelajari, sedang

56
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

broken home, dalam keadaan rumahtangga orang tuaswa sedang broken home,
mustahil hal tersebut tidak mempengaruhi belajarnya. Oleh karena itu, pendekatan
artistik melihat bahwa kehidupan para pelaku pembelajaran (guru dan siswa) di
luar sekolah, kehidupan masyarakat sekitar sekolah, kondisi dan situasi sekolah,
patut dikaji jika seorang supervisor akan memberikan layanan supervisi
pembelajaran di sekolah tersebut.

2.3 Hakikat Pendekatan Artistik
Ada dua cara pemahaman mengenai konsep supervisi pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan artistik. Pertama, melalui definisi supervisi
pembelajaran dengan pendekatan artistik. Kedua melalui observasi siapa saja yang
terlibat dalam kegiatan supervisi. Dalam pemahaman jenis kedua ini, supervisor
betul-betul mengobservasi situasi dan kondisi pembelajaran secara menyeluruh.
Observasi yang dilakukan, tidak dengan menggunakan jaring-jaring instrumen
baku yang dipersiapkan sebelumnya sebagaimana pendekatan ilmiah. Observasi
yang dilakukan berangkat dari keingintahuan supervisor terhadap pembelajaran
yang sedang berlangsung sebagaimana adanya tanpa ada pretensi apapun.
Menurut Elliot W. Eisner, dalam mengobservasi pembelajaran yang sedang
berlangsung, supervisor bagaikan menyaksikan tampilan pelatih musik dan seni.
Tatkala para pelatih musik dan seni mendengarkan bunyi-bunyi musik dan
atau sedang menyaksikan tampilan-tampilan seni ia tidak sekadar mendengar dan
menyaksikan saja, melainkan mendengar dengan perasaan halus dan menyaksikan
tampilan-tampilannya dengan penuh perhatian dan pengahayatan. Ketajaman
antara pelatih satu dengan yang lain bisa saja berbeda meskipun sesuatu yang
dilatihkan dan mereka yang dilatih tersebut sama. Hal demikian, dalam
pendekatan artistik, tidak menjadi persoalan. Berdasaran serangkaian aktivitas
mendengarkan dan memperhatikan ini, seorang pelatih musik dan seni akan dapat
memberikan komentar-komentar, kritik-kritik dan refleksi-refleksi terhadap
bunyi-bunyi dan tampilan-tampilan yang baru saja didengarkan dan disaksikan
Berdasarkan atas kritik-kritik, komentar-komentar dan refleksi-refleksi pelatih
tersebut, mereka yang sedang belajar musik dan seni,dan bahkan rnereka yang
menciptakan karya seni, bisa mengambil masukan-masukan yang dirasakan

57
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

berrnanfaat bagi karya-karya yang ia hasi1kan. Yang patut dicatat di sini adalah
justru bukan soal apakah komentar, saran, kritik, dan refleksi yang diberikan oleh
pelatih tersebut masukan yang selain untuk dipahami, dijadikan bahan banding,
juga dijadikan sebagai sesuatu yang memberikan masukan
Tatkala seorang supervisor mengobservasi pelajaran di kelas, tidak
bermaksud mendapatkan data pembelajaran yang kompleks itu dari segi apa
adanya, dari variabel mananya, melainkan pada saat observasi itu, ia baru
mendapatkan aksentuasi perhatiannya. Hasil pengamatannya dari waktu ke waktu
terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung, bisa saja dihasilkan hal-hal yang
berbeda, sebab karakteristik pembelajaran senantiasa berkembang, tidak berada
dalam keadaan menetap. Kadar partisipasi guru dalam proses belajar mengajar
kadang kala tinggi, dan kadang kala rendah. Demikian juga para siswanya.
Meskipun demikian, supervisor harus tetap mencapai maksud supervisi, yaitu
mengapresiasi karakteristik dan kualitas penampilan pembelajaran secara utuh.

2.4 Ciri-Ciri Pendekatan Artistik dalam Supervisi Pembelajaran
Ada sejumlah ciri pendekatan artistik dalam supervisi pembelajaran. Ciri-
ciri tersebut adalah sebagai berikut:
1. menaruh perhatian terhadap karakter ekspresif tentang peristiwa pembelajaran
yang terjadi. Pendekatan artistik tidak menyederhanakan kejadian yang luas
dan kompleks. Ia mengartikan kenyataan secara benar;
2. memerlukan ahli seni dalam pendidikan, yang dapat melihat sesuatu yang
subtle (halus, lembut, dan untuk menjangkaunya perlu dengan rasa) dalam
pembelajarari. Karena sesuatu yang subtle tersebut mempengaruhi individu
dalam bertindak;
3. mengapresiasi setiap konstribusi unik para guru yang disupervisi terhadap
pengembangan siswa. Kritik yang diberikan oleh supervisor adalah bagaikan
kritik seni, kritik musik dan kritik film dan bukan kritik negatif. Kritik yang
dikemukakan sebagaimana kritik seni ini sangat bermanfaat bagi guru dalam
melaksanakan pembelajaran;
4. menaruh perhatian pada kehidupan kelas secara keseluruhan. Karena
perhatiannya yang besar terhadap kehidupan kelas secara keseluruhan (sebagai

58
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

akibat dari intervensi hal-hal yang mungkin berasal dari luar kelas bahkan luar
sekolah), observasi dilakukan dalam proses yang cukup lama. Lamanya proses
observasi inilah yang memberikan kemungkinan bagi ditempatkannya
peristiwa-peristiwa pembelajaran dalam konteks yang sebenarnya;
5. memerlukan hubungan yang baik dan menyenangkan antara supervisor dan
guru. Melalui hubungan yang semacam ini suasana dialogis dan akrab akan
tercipta;
6. memerlukan kemampuan penggunaan bahasa yang dapat menggali potensi-
potensi guru. Penguasaan ini diperlukan karena guru-guru yang berpotensi,
adakalanya mengalami kesulitan dalam mengekspresikan potensinya.
Kesulitan-kesulitan tersebut bisa disebabkan oleh hal-hal intern yang berasal
dari dirinya sendiri, atau sifat dan potensi tersebut yang sukar diekspresikan.
Dan bahkan bisa jadi disebabkan oleh terbatasnya kemampuan bahasa yang
dimiliki untuk mengekspresikan, serta terbatasnya medium-medium ekspresi;
7. memerlukan kemampuan untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan
setiap peristiwa pembelajaran yang terjadi. Sebab, apa-apa yang signifikan
dalam pendidikan tidak dapat ditentukan sekadar melalui tes-tes statistik. Tes
statistik tidak dapat menangkap nilai dan makna, melainkan hanya dapat
berhubungan dengan hal-hal yang bersifat mungkin atau probabilitas saja;
8. menerima kenyataan bahwa supervisor, dengan segala kelebihan dan keku
rangannya, kepekaan dan pengalamannya, merupakan instrumen pokok.
Berarti, dialah yang menberikan makna atas segala kejadian pembelajaran
yang diamati.

2.5 Aplikasi Pendekatan Artistik dalam Supervisi Pembelajaran
Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa pendekatan artistik jelas berbeda
dengan pendekatan ilmiah. Seorang supervisor yang menerapkan pendekatan
artistik dalam melaksanakan supervisi pembelajaran, diibaratkan sebagai seorang
pelatih musik, dan atau seni yang berhadapan dengan mereka yang sedang belajar
atau mempersiapkan tampilan-tampilan seni atau sebuah pertunjukkan. Dengan
demikian dapatlah diibaratkan bahwa hanya mereka yang tahu soal-soal seni
sajalah yang dapat melatih.

59
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Menurut pendekatan artistik, .supervisor haruslah tahu soal pembelajaran
dan berpengalaman menjadi seorang pengajar, sehingga tatkala yang bersangkutan
memberikan makna atas pembelajaran yang sedang berlangsung, tidak
menyimpang. Dalam mengaplikasikan pendekatan artistik ini, ada beberapa
langkah panduan yang dapat diikuti oleh supervisor. Pertama, tatkala mau
berangkat ke lapangan (sekolah), ia belum punya dan tidak boleh punya pretensi
apapun tentang pembelajaran yang akan diamati. Ia harus merasa bahwa dirinya
yang akan menyaksikan tampilan-tampilan pembelajaran, masih berada dalam
keadaan kosong. Dalam keadaan tidak berpretensi sama sekali mengenai mengajar
inilah, maka tatkala ia terJun ke lapangan dapat menghimpun informasi selengkap
mungkin. Dengan demikian, gambaran tetang mengajar baru ia dapatkan setelah
betul-betul menyaksikan.
Kedua, mengadakan pengamatan terhadap guru yang sedang mengajar.
Pengamatan hendaknya dilakukan dengan cermat, teliti, utuh menyeluruh serta
berulang-ulang. Dalam pengamatan ini juga, seorang supervisor tidak boleh
terpaku terhadap hal-hal yang terjadi di dalam kelas. Ia harus berani melihat
interelasi kehidupan kelas dan sekolah serta yang berada di luar kelas dan sekolah.
Bahkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan guru, siswa, dan segala
hal yang berkaitan dengannya. Dalam pengamatan ini seorang supervisor tidak
harus membawa jaring-jaring instrumen sebagaimana pendekatan ilmiah. Sebab,
jaring-jaring instrumen baku tersebut justru bisa membatasi cakrawala
pengamatannya terhadap pernbelajaran yang sedang berlangsung. Jika instrumen
tersebut terpaksa ia buat atau siapkan, hendaknya tidak membatasi dirinya pada
hal-hal yang ia siapkan. Kedudukan instrumen tersebut sekadar pelengkap belaka.
Instrumen untuk mengamati pernbelajaran adalah supervisor sendiri. Supervisor
harus dapat menjadi instrumen yang dapat menangkap pernbelajaran dalam
pengertian yang seutuhnya.
Dalam pengamatan, seorang supervisor haruslah dapat memahami
pembelajaran sesuai dengan konteksnya. Apa yang terjadi dalam pembelajaran,
coba ditangkap makna yang dikandungnya. Dengan dernikian, supervisor tidak
sekadar menangkap segi lahiriah pembelajaran, melainkan sekaligus menangkap

60
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

jiwa pembelajaran tersebut. Tangkapan atas pembelajaran yang tampak, justru
dijadikan sebagai bahan untuk melacak jiwa pembelajaran.
Ketiga, supervisor memberikan interpretasi atas hasil pengamatan secara
formal. Dikatakan secara formal, oleh karena interpretasi demikian sebenarnya
telah dilakukan saat pengamatan sedang berlangsung. Kejadian-kejadian dalam
pembelajaran, setiap kali dilihat setiap itu pula diinterpretasikan agar makna yang
dikandungnya dapat ditangkap. Berarti, interpretasi formal hanyalah sekadar
mengulang saja.
Perlunya mengadakan interpretasi ulang di sini, berkaitan dengan
kenyataan terbelahnya perhatian supervisor pada saat interpretasi yang dilakukan
bersama-sama dengan observasi. Interpretasi formal dapat dilakukan lebih
terfokus karena dilakukan setelah pembelajaran selesai. Dalam interpretasi ulang
atau formal ini, supervisor justru dapat menyempurnakan terhadap interpretasinya
pada saat pengamatan. Yang patut diingat oleh supervisor tatkala berada di
langkah interpretasi formal ini adalah sebagai berikut:
1. kelas dengan interaksi belajar mengajarnya,
2. sekolah dengan variabel-variabel yang memengaruhinya,
3. guru sebagai pelaku pembelajaran,
4. para siswa,
5. latar kehidupan guru dan siswa,
6. konteks di mana pembelajaran sedang berlangsung yaitu waktu, tempat,
suasana, dan sebagainya.
Sebab berbedanya enam hal tersebut di atas, boleh jadi akan menampilkan
pembelajaran yang berbeda.
Keempat, supervisor menyusun hasil interpretasinya dalam bentuk narasi.
Narasi disini tidak senantiasa harus berbentuk tulis. Hanya saja untuk kemudahan
guru dan supervisor, penyusunan narasi di sini akan lebih bagus jika diwujudkan
dalam benuk tulis. Sebab, narasi yang berbentuk tulis, akan dapat dipahami oleh
guru secara berulang-ulang, yang pada gilirannya akan dapat menyempurnakan
pemahamannya atas pembelajaran yang baru saja ia berlangsungkan.
Narasi ini dibuat, dengan maksud dapat melukiskan pembelajaran guru
sesuai dengan kenyataannya. Lukisan yang semacam ini lebih dapat ditangkap

61
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

secara menyeluruh, jika orang yang melukiskan di sini adalah orang yang turut
mengapresiasi terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung. Lukisan
demikian juga akan dapat dibuat lebih lengkap, jika yang membuat adalah orang
yang bukan pelaku pembelajaran. Narasi yang dibuat oleh mereka yang
mengapresiasi pembelajaran demikian, juga tidak dilebih-lebihkan dan dikurang-
kurangi. Meskipun demikian, jika dilakukan oleh supervisor yang berbeda, bisa
menghasilkan narasi yang berbeda juga.
Kelima, penyampaian hasil interpretasi mengajar yang sudah dinarasikan
oleh supervisor kepada guru ini dapat dilakukan secara tertulis atau lisan. Yang
terpenting, dalam penyarnpaian ini, supervisor harus memberikan informasi
kepada guru, bahwa hasil interpretasi ini bukannya untuk diterima atau ditolak,
melainkan itu adalah yang terjadi senyatanya dalam pembelajaran. Bersamaan
dengan penyampaian hasil interpretasi ini, supervisor memberikan kritik-kritik ala
kritik seni (bukan kritik negatif) kepada guru. Berarti, krtik yang diberikan oleh
supervisor tidak menvonis mergajar guru, melainkan sebagai refleksi atas hasil
pengamatan pembelajaran yang telah dilakukannya secara intensif.
Keenam, balikan dari guru terhadap supervisi yang dilakukan oleh
supervisor. Dalam balikan ini, bisa terjadi semacam diskusi dan dapat juga tidak.
Supervisor dan guru, secara berganti dapat mengemukakan visi mereka masing-
masing atas pembelajaran yang diberlangsungkan. Dari penyampaian visi masing-
masing tersebut, akan dapat meningkatkan kegiatan pembelajaran.

3 Simpulan
Pendekatan artistik (artistic approach) dalam supervisi pembelajaran ini
muncul, sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap supervisi pembelajaran yang
menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach). Supervisi pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan artistik, dalam menangkap pembelajaran
berusaha menerobos keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh pendekatan
ilmiah. Berusaha menyingkap pembelajaran dengan sekaligus menjangkau latar
psikologi dan sosiologik pelakunya. Adanya anggapan bahwa manusia itu secara
psikologik berbeda, mengharuskan penyelaman yang berbeda-beda sesuai dengan
kepelbagainya. Jaring-jaring instrumen baku yang dipersiapkan terlebih dahulu,

62
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

tidak mungkin dapat dipergunakan menggambarkan keseluruhan tampilan
pembelajaran secara utuh.
Dalam sudut pandangan pendekatan artistik, keberhasilan pembelajaran
tidak dapat diukur dengan keberhasilan pembelajaran yang lain, yang berbeda
pelakunya. Tidak dapat diukur dengan rnenggunakan peristiwa pembelajaran yang
berada di konteks yang lainnya lagi. Karena itu, pendekatan artistik
merekomendasikan, agar supervisor turut mengamati, merasakan, dan
mengapresiasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Supervisor harus
mengikuti mengajar guru dengan cermat, telaten, dan utuh.

Daftar Pustaka

Imron, Ali. 2011. Supervisi Pembelajaran Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta :
PT. Bumi Aksara.
Mantja. 2003. Supervisi Pengajaran. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Muslim, Sri Banun. 2010. Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas
Profesionalisme Guru. Bandung : Alfabeta.
Jasmani & Syaiful Mustofa. 2013. Supervisi Pendidikan. Jogjakarta: AR-RUZZ
Media.
Engkoswara & Aan Komariha. Administrasi Pendidikan. 2010. Bandung:
Alfabeta.

63
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

SENI TARI SAKRAL BARONG KEDINGKLING
PADA SAAT NGELAWANG SERANGKAIAN HARI RAYA GALUNGAN
DI KABUPATEN BANGLI (KAJIAN ESTETIKA SENI HINDU)

oleh:
Anak Agung Gede Agung Rahma Putra, S.Sn.,M.Sn
IKIP PGRI Bali

Abstract
Barong Kedingkling is sacred dance performances at the time ngelawang in
Bangli regency is one manifestation of the Hindu practice of aesthetic value of
art. Manners of a society that has lasted harmoniously listed in the form of social
life such as tolerance, compassion, spirit of mutual cooperation in the lives that
have been nurtured continuously, maintained and preserved and adapted to the
nature of mind that today requires an increase in the progress of the people of
Bali in general and in particular Bangli Regency.
Key words: Barong Kedingkling, estetic art

1 PENDAHULUAN
Pementasan tarian sakral Barong Kedingkling pada saat ngelawang di
Kabupaten Bangli merupakan salah satu perwujudan pengamalan nilai estetika
seni Hindu. Tata krama kehidupan masyarakat yang telah berlangsung secara
harmonis yang tercantum dalam wujud kehidupan sosial masyarakat seperti
toleransi, tenggang rasa, semangat gotong royong dalam kehidupan yang telah
dibina secara terus menerus, dipertahankan dan dilestarikan serta disesuaikan
dengan alam pikiran yang dewasa ini menghendaki peningkatan kemajuan
masyarakat Bali pada umumnya dan Kabupaten Bangli pada khususnya. Dengan
demikian, dalam mewujudkan rasa aman, tentram, damai dan sejahtera lahir
batin dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang dalam hal ini menyangkut
eksistensi desa pakraman adalah berlandasakan tiga hubungan yang serasi dan
selaras, yaitu hubungan yang serasi antara krama desa dengan Sang Hyang Widhi
(Parahyangan), hubungan serasi antar krama desa dengan karma desa sendiri
(Pawongan), dan hubungan serasi krama desa dengan lingkungan (Palemahan).
Ketiga hubungan inilah yang tidak bisa dipisahkan dalam setiap kehidupan
manusia (Wiana,2007: 59).

64
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Terkait dengan Pelaksanaan ngalawang Barong Kedingkling di Kabupaten
Bangli, terjadi fenomena yang cukup menarik. Realitas yang dihadapi oleh
masyarakat adalah masih banyak sekali umat yang tidak memahami tentang
hakekat ngalawang. Seperti pelaksanaan ngalawang Barong Kedingkling dengan
berbagai ritual serta keunikan yang terdapat di dalamnya, sehingga masyarakat
Kabupaten Bangli, hanya melaksanakanya secara tradisional, tanpa memahami
makna, terlebih nilai estetika seni kehinduannya. Serta dewasa ini pelaksanaan
ngalawang Barong Kedingkling cenderung semakin menurun. Hal ini disebabkan
berbagai hal yang mesti perlu diteliti. Sehingga penelitian ini difokuskan pada
seni tari sakral Barong Kedingkling pada saat Ngelawang serangkaian Hari Raya
Galungan di Kabupaten Bangli (Kajian Estetika Seni Hindu).

2 PEMBAHASAN
2.1 Bentuk Barong Kedingkling di Kabupaten Bangli
Membahas tentang bentuk Barong Kedingkling yang terdapat di
Kabupaten Bangli peneliti terfokus pada bentuk fisik dari Barong tersebut, hal ini
dilakukan karena peneliti dalam hal ini meneliti keberadaan Barong Kedingkling
dalam konteks ngalawang. Mengenai bentuk Barong Kedingkling di Kabupaten
Bangli yang terletak di tiga Kecamatan yakni Kecamatan Bangli, Kecamatan
Tembuku, dan Kecamatan Susut, tidak jauh berbeda karena konsep yang diusung
dalam pementasan Barong Kedingkling semuanya sama yakni mengambil dari
penokohan cerita Ramayana. Tokoh-tokohnyapun sama yakni Tualen, Merdah,
Sugriwa, Hanuman, Anggada, Anila, dan Sampati. Barong Kedingkling tidak
mengisahkan tentang konsep Rwa Bhinneda atau konsep baik dan buruk. Barong
Kedingkling menggunakan konsep pewayangan Ramayana yang diperankan oleh
tokoh-tokoh pengikut Sang Rama yang diapresiasi sebagai tokoh yang memiliki
kekuatan positif. Karena dalam lakon cerita, tokoh-tokoh ini mengiringi
perjalanan Sang Rama yang menegakkan keadilan atau kebajikan. Dalam tokoh
pewayangan ini tak satupun tampak pengikut dari Rahwana yang dalam lakon
cerita Ramayana merupakan tokoh yang jahat atau kebatilan.
Tapel-tapel yang dikenakan oleh penarinya dibuat semirip mungkin
dengan para tokoh dalam pewayangan. Tapel ini dicat sedemikian rupa sesuai

65
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

dengan warna khas tokohnya di antaranya tapel Tualen yang dicat hitam pekat,
Tapel Merdah dengan warna merah muda, Tapel Hanuman dengan warna Putih,
Tapel Anila dengan warna biru, Tapel Anggada dengan warna oranye yang dihiasi
corak loreng seperti bulu macan, Tapel Sugriwa dan Sampati dengan warna
oranye polos. Selain menggunakan tapel, penari Barong Kedingkling juga
menggunakan seragam yang terbuat dari daun pohon brasok seperti layaknya
Barong-Barong lainnya. Seragam inilah yang turut membedakan peran dalam
pementasan Barong Kedingkiling. Dalam observasi yang dilakukan peneliti di
lapangan, menemukan seragam yang digunakan penari Barong Kedingkling terdiri
dari dua warna yakni putih dan hitam, terkecuali tokoh Tualen dan Merdah yang
menggunakan busana layaknya busana masyarakat sehari-hari, Hanuman dan
Anila menggunakan seragam berwarna putih. Sedangkan Sugriwa, Anggada dan
Sampati menggunakan seragam berwarna hitam. Keberadaan warna-warna
seragam Barong Kedingkling tersebut dapat dilihat secara jelas pada gambar di
bawah ini.
Gambar 1
Perbedaan kostum pada Barong Kedingkling

(Sumber : Dok Peneliti,2016)

Barong Kedingkling hanya ditarikan oleh satu orang dan penokohannya
pun tidak hanya dari bangsa binatang atau para monyet melainkan ada sosok
tokoh manusia di dalamnya, yakni Tualen dan Merdah.

66
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

2.2 Prosesi Seni Tari Sakral Barong Kedingkling di Kabupaten Bangli
Kesenian Bali merupakan perwujudan dari tri loka Bali, yang dimaksud
demikian yakni perpaduan antara tari, drama dan musik. Seperti halnya dengan
kesenian ngalawang Barong Kedingkling yang terdapat di Kabupaten Bangli.
Barong Kedingkling merupakan salah satu di antara sekian banyaknya kesenian
yang terdapat di Pulau Dewata yang divisualisasikan dalam bentuk tarian Barong.
Barong di Bali dipentaskan pada saat pujawali di Pura serta bertepatan dengan
hari raya Galungan. Pementasan tarian Barong pada saat hari raya Galungan ini
umumnya di Bali disebut dengan tradisi Ngalawang.
Ngalawang secara etimologi berasal dari kata lawang yang artinya pintu,
jadi Ngalawang adalah suatu pertunjukan dari rumah kerumah atau dari Desa satu
ke Desa yang lain (Sutjaja, 2003: 211). Prosesi Ngalawang sesungguhnya
merupakan salah satu bagian dari ritus atau upacara. Upacara merupakan bagian
dari religi, seperti yang dikemukakan oleh Frazer (dalam Koentjaraningrat, 2000:
197) mengartikan religi sebagai sistem perbuatan untuk mencapai suatu maksud
dengan cara menyadarkan diri pada kehendak dan kekuasaan mahluk-mahluk
halus (misalnya roh, Deva dan sebagainya) yang menghuni alam semesta ini.
Terdapat lima unsur religi yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya
yaitu : (1) emosi keagamaan, (2) sistem kepercayaan, (3) umat penganut agama,
(4) peralatan upacara, dan (5) sistem upacara.
Ngalawang Barong Kedingkling di Kabupaten Bangli juga memiliki
korelasi dengan lima unsur religi itu. Korelasi itu dapat dilihat pada prosesi
Ngalawang Barong Kedingkling di Kabupaten Bangli. Prosesi Ngalawang Barong
Kedingkling merupakan salah satu bagian dari lima unsur religi yang telah
dikemukakan di atas terutama sebagai sistem ritus dan upacara. Dalam
menghadapi dunia gaib manusia dilandasi dengan berbagai perasaan, yaitu: rasa
cinta hormat, bakti tetapi sering juga dilandasi rasa takut, ngeri dan perasaan
kagum akan kekuatan di luar nalar pemikiran manusia. Perbuatan dan kelakuan
seperti itu kemudian disebut upacara keagamaan atau religius atau ritus
(Koentjaraningrat, 2002: 252). Adapun rosesi Ngalawang Barong Kedingkling di
Kabupaten Bangli adalah sebagai berikut.

67
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

1) Matur piuning
Sebelum Pamangku nedunang Barong, hal yang pertama kali dilakukan
adalah matur piuning ke hadapan Ida Sang Hyang Widdhi Wasa bahwa akan
melakukan prosesi ngalawang. Matur piuning yang dilaksanakan Pamangku
bertujuan meminta ijin dan keselamatan dalam perjalanan ketika melakukan
prosesi ngalawang. Matur piuning juga bertujuan untuk meminta ijin untuk
nendunang Ida Bhatara.
2) Nedunang
Setelah matur piuning kemudian dilanjutkan dengan nedunang Ida
Bhatara. Proses nendunang Ida Bhatara ini sesungguhnya dilaksanakan dengan
mengeluarkan barong dari gedong panyimpenan. Umumnya di Kabupaten Bangli,
Barong distanakan atau ditempatkan di Pura. Panedunan Ida Bhatara ini dihadiri
oleh seluruh masyarakat Desa yang akan mengikuti prosesi ngalawang. Setelah
semua masyarakat hadir di Pura, barulah dilaksanakan panedunan Ida Batara
berupa Barong oleh para Pamangku atau pendeta yang memiliki wewenang dalam
Pura tersebut.
3) Persiapan
Setelah prosesi nendunang Ida Bhatara, kemudian dilanjutkan dengan
proses persiapan. Masyarakat bersiap-siap melakukan perjalanan ngalawang,
persiapan tersebut antara lain mempersiapkan para penari Barong dengan
memasangkan kostum Barong Kedingkling, mempersiapkan para pengiring yang
akan mundut atau membawa perlengkapan seperti kober atau bendera, tedung atau
payung, tombak dan berbagai atribut lainnya yang mengiringi prosesi ngalawang.
Setelah semuanya siap dan tapel atau wajah Barong Kedingkling sudah
dipasangkan, barulah diatur barisan antara penari Barong dan pembawa atribut
seperti tedung dan kober tadi. Pada umumnya Barong Kedingkling berada di
tengah-tengah antara pamundut tedung dan kober, ketika barisan sudah rapi
barulah dilengkapi dengan barisan para panabuh gambelan dan pengiring prosesi
ngalawang yang berada di barisan paling belakang.
4) Ngalawang
Setelah semua persiapan dirasa sudah cukup, barulah prosesi ngalawang
dimulai. Saat prosesi ngalawang berlangsung, Barong Kedingkling berada pada

68
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

barisan paling depan yang diapit oleh pamundut tedung dan kober beserta atribut
ngalawang lainnya. Dalam perjalanan ngalawang Barong Kedingkling, panabuh
gambelan secara terus menerus menyuarakan gambelannya seraya berjalan dari
satu pintu ke pintu lainnya sesuai dengan pengertian ngalawang tadi. Gambelan
yang digunakan dalam prosesi ngalawang Barong Kedingkling biasanya berupa
tabuh bebatelan yang merupakan jajaran dari alat musik pukul yang disebut
dengan klentong, bila dirangkai bunyi gambelannya adalah nongkling, nongkling,
nongkling begitu seterusnya. Karena suara gambelannya demikian maka Barong
ini disebut juga Barong Nongnongkling, Kedingkling, atau blas-blasan.
Di masing-masing pintu, masyarakat sudah menanti kedatangan Barong
Kedingkling, ketika mulai terdengar adanya suara gambelan pengiring prosesi
ngalawang ini. Saat Barong Kedingkling mulai tampak, dengan sigap masyarakat
mempersiapkan sarana panyapa atau ngupah yakni pada umumnya dengan
menghaturkan canang sari atau canang taksu berikut dengan sesarinya. Canang
ini dihaturkan ketika Barong Kedingkling sudah akan melewati pintu masuk
rumah masyarakat. Canang ini merupakan perwujudan rasa sujud bhakti
masyarakat terhadap sasuunan Barong Kedingkling. Setelah canang dihaturkan,
Barong Kedingkling akan menari di depan pintu atau lawangan masyarakat yang
menghaturkannya. Pada umumnya, bentuk tarian Barong Kedingkling menirukan
gerakan monyet yaitu melompat atau kedangklang-kedingkling, menggaruk-garuk,
dan bercanda satu dengan yang lainnya. Sehingga penamaan Barong Kedingkling
ini pun diambil dari tarian Barong tersebut.
Tarian Barong Kedingkling di depan pintu atau lawangan ini dipercaya
oleh masyarakat akan memberikan berkah kesucian dan keselamatan si pemilik
rumah dari kekuatan negatif yang bersifat gaib. Barong Kedingkling akan menari
beberapa menit di depan pintu masuk rumah masyarakat, di sinilah letak
kemeriahan tradisi ngalawang yakni masyarakat dengan antusiasmenya yang
tinggi menyaksikan dan berpartisipasi dalam prosesi ngalawang. Setelah Barong
Kedingkling selesai menari di depan pintu si panyapa tadi, Barong Kedingkling-
pun mulai beranjak menuju pintu-pintu bahkan menuju dari satu Desa ke Desa
lainnya untuk melakukan hal yang sama, yakni melakukan tarian di depan pintu
atau lawangan masyarakat yang memberikannya panyapa.

69
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Sebelum meninggalkan pintu tersebut atau pintu sang panyapa tadi, salah
seorang dari masyarakat yang merupakan sekaa atau pengiring Barong
Kedingkling mengambil sesari berupa uang yang diletakkan di atas canang tadi.
Sesari ini kemudian diletakkan di dalam sebuah kotak atau tas, sesari ini tidak
ditentukan secara pasti jumlahnya, sebab sesari merupakan persembahan yang
tulus ikhlas dari masyarakat. Sesari yang dipersembahkan tadi pada umumnya
digunakan oleh masyarakat atau sekaa Barong Kedingkling sebagai dana punia
atau persembahan secara tulus ikhlas yang kemudian dimanfaatkan untuk
perbaikan Pura atau perbaikan dari Pratima Barong Kedingkling bila suatu saat
ada yang mulai rusak. Bahkan bila hasilnya cukup banyak sesari ini akan di
bagikan kepada sekaa atau pengiring Barong Kedingkling.
5) Masineb
Setelah dari pagi hari melakukan perjalanan, prosesi ngalawang berakhir
ketika hari sudah mulai senja, jika matahari sudah mulai condong ke barat, prosesi
ngalawang akan mulai dihentikan dan Barong Kedingkling akan menempuh
perjalanan menuju Pura, tempat Barong ini distanakan. Ketika sampai di pamedal
Pura atau pintu masuk Pura arak-arakan Barong Kedingkling disambut dengan
canang pamendak, canang ini diapresiasi sebagai sarana menyambut datangnya
Ida sasuunan Barong Kedingkling. Setelah melalui berbagai upacara ritual di
Pura, Barong Kedingkling kembali kasineb atau disimpan dalam gedong
panyimpenan.

2.3 Makna Estetika Seni Hindu Seni Tari Sakral Barong Kedingkling di
Kabupaten Bangli
Estetika (aesthetics) berasal dari kata estetis dalam bahasa yunani dapat
diartikan sebagai rasa nikmat indah yang timbul melalui pencerapan paca indra.
Ida Bagus Mantra dalam majalah Cintamani mengatakan bahwa yang selama ini
cendrung untuk diartikan dengan pengertian seni yang sempit, harus dimaknai
dengan keindahan yang dapat merangsang dan mendorong manusia untuk
berkreasi dan bersikap dinamis untuk mencapai kepuasan batin dan mempertajam
intuisinya.

70
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Setiap manusia mempunyai rasa keindahan terhadap suatu yang
dipandanganya. Alam dengan aneka isinya mempunyai nilai keindahan dan
tergantung pada cara manusia itu sendiri dari sudut mana ia memandang, begitu
pula dengan budaya yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang
mempunyai nilai-nilai keindahaan atau estetika. Kesenian adalah membicarakan
prihal mengenai tentang seni, dalam agama Hindu dikenal dengan lima cabang
seni antara lain seni rupa, seni sastra, seni tari, seni music dan seni teater. Masing-
masing cabang seni mempunyai media pengungkapan yang berbeda (Tim
Penyusun, 1975:105)
Menurut teori estetiks yaitu lahirnya seni disebabkan oleh tiga hal yaitu
lahirnya seni semata-mata untuk kesenangan saja dan untuk mengisi waktu yang
terluang, semua kesenian artistik yang dilakukan manusia ditunjukan untuk
kepentingan dan kebutuhan sosial. Barong merupakan salah satu cabang seni yaitu
termasuk ke dalam seni rupa, khususnya Barong Kedingkling timbul selaku
gejala seni (dengan segala predikatnya: magis, ritual, relejius dan sebagainya)
hanyalah mungkin dari sebuah ”social complex ideas” gagasan premitif
kompleks, gejala-gejala kehidupan memang masih mungkin ditelusuri secara
terpisah (Tim Penyusun, 1975:17). Sesuai dengan penelitian tim proyek sasana
budaya Bali tersebut, dapat ditarik sebuah hasil bahwa sejak timbulnya Barong
Kedingkling sudah memiliki unsur seni dan magis yang dipercayai oleh
masyarakat Hindu khususnya di Kabupaten Bangli. Jadi ide pembuatan Barong
Kedingkling awalnya pada zaman dahulu adalah untuk mendapatkan suatu
perlindungan dalam hal relijius, karenanya Barong Kedingkling di Susungsung
oleh masyarakat khususnya di Kabupaten Bangli. Karena tingginya nilai seni dan
keindahan yang melekat pada Barong khususnya Barong Kedingkling secara
perlahan seniman pada zaman dahulu membuat Barong Kedingkling yang
disakralkan agar setiap saat dilihat dan dipertontonkan.
Barong Kedingkling yang terdapat di Kabupaten Bangli merupakan salah
satu bentuk kesenian yang juga merupakan ungkapan dari cipta, rasa dan karsa
masyarakat Hindu di Bangli serta memiliki daya tarik tersendiri dari bentuk seni
yang lainnya. Daya tarik yang napak yaitu lakon pementasan Barong Kedingkling
yang terdiri dari tokoh-tokoh Ramayana, di antara tokoh-tokoh tersebut yakni

71
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Tualen, Merdah, Sugriwa, Hanuman, Anggada, Anila, dan Sampati. Pelakonan
yang nampak berbeda dengan Barong-Barong pada umumnya, menambah nilai
estetika keagamaan khususnya agama Hindu di Bangli yang begitu indah yang di
visualisasikan dengan pementasan Barong Kedingkling ini.

a. Seni Sebagai Unsur Kesucian
Sebagian disebutkan oleh tokoh seni yang berwawasan spiritual, bahwa
agama adalah seni, dan seni itu sendiri adalah agama (Yudha bhakti dan watra,27:
32). Ungkapan diatas mengisyaratkan pada kita bahwa betapa dalam hubungan
antara seni dan agama Hindu di Bali. Sehingga jikalu tidak di dalami secara
sungguh-sungguh maka sangat sulit dibedakan mana seni dan nama agama.
Karena setiap penyelenggaraan yadnya di Bali pasti ada unsur kesenian dan setiap
pertunjukan kesenian pasti mengandung atau memuat ajaran-ajaran agama
khususnya agama Hindu. Oleh sebab itu agama Hindu menananmkan berbagai
konsep keagamaan yang memiliki makna sangat mendalam bagi pemeluknya
khususnya agama Hindu di Bali. Salah satu konsep keagamaan Hindu yang
berkaitan dengan kesucian dan keindahan adalah konsep Tri Wisesa yang di
dalamnya terdiri dari tiga bagian yakni Satyam, Siwam, dan Sundaram. Pada
konsep Tri Wisesa ini Satyam merupakan suatu kejujuran, Sewanam merupakan
suatu kesucian, dan Sundaram merupakan suatu keindahan. Dilihat dari konsep
tersebut seni dan agama memang tak bisa di pisahkan keberadaanya, sebab agama
tanpa seni akan terasa hampa dan seni tanpa agama akan terasa kaku. Unsur-
unsur seni yang terdapat dalam agama Hindu akan melahirkan yang namanya
Taksu. Kalau di tinjau dari segi kata, kata taksu berasal dari kata tak dan su, tak
yang diartikan sebagai suara dan su yang memiliki arti baik, sehingga membentuk
suatu arti yakni suara yang baik keluar berdasarkan dari hati nurani yang di
pengaruhi oleh unsur-unsur keagamaan. Hal ini tentu berkaitan dengan konsep Tri
Wisesa sebab dalam konsep Tri wisesa mengajarkan suatu kejujuran yang di sebut
dengan Satyam. Inilah inti keterkaitan yang harus dipahami secara mendalam di
dalam ajaran Agama Hindu kususnya di Kabupaten Bangli. Istilah nyolahang atau
ngalawang sangatlah beralasan, karena pentas seni adalah penyamapaian ajaran
agama kuhususnya agama Hindu.

72
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Rangkaian unsur estetika proses selanjutnya untuk memasyarakatkan
ajaran Weda, para Rsi memilih melalui jalan berkesenian yang disampaikan
dalam kegiatan keagamaan. Sehingga peran kesenian dalam kegiatan upacara
kegaamaan sangat penting karena kesenian merupakan salah satu simbol kesucian
yang memberikan suatu penerangan agama terhadap masyarakat Hindu di Bali.
Barong Kedingkling yang terdapat di Kabupaten Bangli merupakan suatu
karya seni yang tergolong seni rupa, karya seni Barong ini berawal merupakan
cetusan dari kreatifitas sekumpulan orang yang disebut dengan seka. Dari
kretifitas kumpulan orang inilah lahir suatu maha karya yang memiliki nilai seni
yang begitu tinggi. Sehingga, Barong Kedingkling yang terdapat di Kabupaten
Bangli merupakan suatu karaya seni yang tergolong suci. Ini dikarenakan Barong
Kedingkling di pentaskan saat-saat tertentu saja, pementasan ini hanya
dilaksanakan pada saat perayaan hari raya Galungan, serta diyakini oleh umat
pada saat pementasan tersebut memberikan aura kesucian dan perlindungan secara
niskala terhadap umat, selain itu Barong Kedingkling juga di setanakan serta
dipuja oleh umat Hindu di Kabupaten Bangli (Prapta, Wawancara 25 Mei 2014).
Tapel atau muka dari Barong Kedingkilng ini terbuat dari kayu yang di
bentuk sedemikian rupa oleh masyarakat sehingga memiliki nilai seni, ini terlihat
dari bentuk tapel atau wajah Barong Kedingkling yang berfariasi sesuai dengan
tokoh pewayangan Ramayana yang di visualisasikan dalam bentuk Barong.
Wajah atau tapel dari Barong Kedingkling ini terbuat dari kayu pilihan, dalam
pemilihan kayu ini tidak sembarangan, yaitu menggunakan Déwasa (hari yang
baik), agar kesakralan dari Barong Kedingkling memilki unsur magis yang tinggi,
setelah memperoleh kayu barulah kayu tersebut di ukir oleh masyarakat sesuai
karakter yang di inginkan, setelah proses pemahatan tapel selesai semuanya
barulah dilakukan upacara sakralisasi. Dari uraian tersebut sudah jelas sekali
dimana Barong Kedingkling merupakan suatu karya seni yang memiliki unsur
kesucian dan aura magis yang tinggi.

b. Seni Sebagai Unsur Keindahan
Djelantik (1990:14) menyebutkan untuk memahami rasa indah dan
menikmati suatu karya seni dapat dipaki konsep yaitu aspek estetika antara lain

73
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

mengenai karya seni dengan bobot dari suatu karya seni, ini dimaksudkan isi atau
makna yang disajikan dengan semangat yang tinggi. Bobot ini dapat ditangkap
langsung oleh panca indra atau secara tidak langsung setelah menghayati apa yang
ditangkap. Pada dasarnya setiap karya seni atau pristiwa kesenian mengandung
tiga aspek yang mendasar yaitu: 1) wujud atau rupa (iperance) yang meliputi
bentuk (from), dan susunan (structure), 2) bobot atau isi (conten, substance) yang
meliputi susunan (mood), gagasan (idea) dan pesan (massage), dan 3) penampilan
(presentation) yang meliputi bakat (talen), ketrampilan (skill) dan saran.
Estetika khususnya Hindu di Bali, tertadat tiga konsep yang disebut
dengan tri wisesa yaitu antara lain: satyam (kebenaran), siwam (kesucian),
sundaram (keindahan). hal ini di maksudkan untuk mencapai ruang estetika
metafisika, agar mampu meneropong roh yang terhanyut oleh keindahan (lango)
dengan objek ritual magis, yaitu penyucian sang diri (khataris). Disinilah estetika
telah masuk pada ruang kesunyian (suwung), disinilah jiwa telah lebar menyatu
dengan Déwa keindahan yang abadi (Granoka, 1998: 28).
Pelaksanaan tradisi Ngalawang terkandung nilai seni budaya baik dalam
waktu pelaksanaan yang diiringi dengan seni suara yang merupakan simbol dari
ketulus ikhlasan hati dari masyarakat Bangli. Sehubungan dengan tradisi
ngalawang yang menggunakan media Barong Kedingkling, nilai seni yang dapat
di dalamnya yaitu merupakan suatu unsur keindahaan. Keindahan seni yang dapat
di lihat dalam tradisi ngalawang yaitu sebuah persembahan yang di bentuk
sedemikian rupa, dimana persebahan ini di sebut dengan banten yang terdiri dari
hasil bumi berupa buah, daun, dan lain sebagainya. Kesemuanya ini dibentuk serta
di susun sangat rapi yang dihiasi dengan daun kelapa yang dibentuk mulai dari
reringgitan, canang sari yang juga dihiasi dengan bungga. Sehingga,
menghasilkan kreatifitas seni yang indah. Banten inilah yang dipersembahkan
ketika Sesuwunan Barong Kedingkling ngalawang di depan-depan rumah
masyarakat Bangli.
Kesenian tersebut merupakan perwujudan kreatifitas manusia
dipersembahkan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dalam Cudamani (1993: 29)
dijelaskan hubungan antara upacara keagamaan dengan seni adalah sebagai
berikut : Pada dasarnya umat melaksanakan yadnya, didorong oleh rasa bhakti

74
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

yang tulus ikhlas. Dari rasa bhakti itu mengalir rasa seni, sebab dalam bhakti itu
ada rasa atau keinginan unuk mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan, oleh
karena itu umat Hindu tidak segan-segan meluangkan waktunya untuk berkorban
dan berbuat yadnya yang betul-bentul indah dan penuh nilai seni, hal ini dapat
dilihat bagaimana megahnya dan indahnya Pura, indahnya bentuk sesajen,
merdunya suara tabuh dan gambelan, merdunya lagu-lagu pujaan (kekidngan),
dan mempesonanya tari-tarian. Jadi singkatnya upacara yadnya tidak bisa lepas
dari unsur-unsur seni.
Kesenian memegang peran penting dan tidak dapat dipisahkan
keberadaannya dari upacara keagamaan Hindu di Kabupaten Bangli. Kesenian
terutama tetabuhan berupa gambelan yang mengiringi Barong Kedingkling saat
prosesi ngalawang meberikan suatu nuansa yang amat terkesan tradisional karena
gambelan yang mengiringi Barong Kedingkling sangat sederhana yakni dengan
tabuh Gamelan Batel dimana tabuh bebatelan bila dirangkai bunyi gambelannya
adalah nongkling, nongkling, nongkling begitu seterusnya. Keindahan yang
timbul dari perpaduan suara gambelan tersebut memberikan nuansa yang hening
dan menghantarkan suatu pikiran yang positif bagi masyarakat menuju pada
kesucian. Kesenian gambelan juga mampu menimbulkan keindahan yang
menembus ketergugahan perasaan sehingga memberikan suatu keindahan bagi
yang melihat dan mendengarkanya serta membangkitkan perasaan estetis manusia
(Bandem, 2013: 101).
Tetabuhan yang bersifat magis atau sakral merupakan perwujudan rasa
bhakti manusia untuk menarik kekuatan magis agar memberikan kesejahteraan
hidup bagi masyarakat kususnya di Kabupaten Bangli. Tabuh yang dinikmati
dengan rasa, dikatakan sebagai seni atau bernilai estetis tinggi. Tetabuhan
memiliki nuansa estetis yang dapat menghantarkan pikiran yang suci dalam
memuja Tuhan dan ungkapan seninya lebih banyak didorong oleh keyakinan
(Bandem, 2013: 98).
Buku pengantar agama Hindu di jelaskan seni tari pun bisa bertahan dan
hidup berkembang karena agama Hindu. Seni dan keidahan, Tuhan adalah yang
terindah, Siwanataraja yang menjadi symbol pesta kesenian Bali, adalah tarian
klasik , tarian siwa pada waktu menciptakan alam semesta ini dengan penuh

75
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

keindahan (Cundamani, 1993: 35). Dalam penjelasan ini dapat diketahui bahwa
tarian merupakan suatu unsur keindahan, begitu pula halnya tarian yang di
lawangkan pada saat dilaksanakan tradisi ngalawang Barong Kedingkling di
Kabupaten Bangli juga merupakan suatu unsur keindahan yang dapat menghibur
serta dinikmati oleh masyarakat, selain unsur keindahan juga memberikan unsur
kekuatan magis pada tarian tersebut.
Selain itu, unsur keindahan yang terdapat dalam tradisi ngalawang Barong
Kedingkling yaitu hiasan yang terdapat pada areal tapel atau wajah Barong
Kedingkling yang terdiri dari pernak-pernik seperti permata dan pecahan cermin
dengan berbagai motif yang indah. Selain hal tersebut keindahan juga tampak
pada perlengkapan ngalawang Barong Kedingkling yang terdiri dari umbul-umbul
(penjor yang terbuat dari kain), tombak, serta tedung yang dibawa oleh
pengiringnya sehingga lengkapnya unsur seni yang memberikan suasana
keindahan dan unsur magis (Punia, Wawancara 8 Juni 2014).
Buku pengantar agama Hindu disebutkan hiasan seni janur yang beraneka
ragam, penjor atau tedung, lamak dan perlengkapan-perlengkapan lainnya
mengandung simbol dan penuh dengan kreasi seni, seni pahat dan seni ukir dapat
di slamatkan di Bali, karena agam Hindu yang dianut adalah bhakti marga
(Cudamani, 1993:35). Dari penjeasan ini dapat di ketehui bahwa semua sarana
yang terdapat dalam prosesi ngalawang Barong Kedingkling pada dasarnya
memiliki suatu kreasi seni serta memiliki makna yang diwujudkan ke dalam
simbo-simbol. Kesemua kreasi seni ini dapat di pertahankan karena umat
menjungjung tinggi simbol-simbol yang ada dengan jalan bahkti yang
implementasinnya melalui upacara tertentu.
Seperti halnya kreasi seni yang ada serta digunakan pada saat
dilaksanakannya suatu prosesi ngalawang juga memiliki suatu makna tersendiri,
hal ini bisa bertahan serta lestari, dikarenakan masyarakat atau umat Hindu di
Kabupaten Bangli selalu menjaga serta menjunjung tinggi makna dari simbol
tersebut. Karena sarana serta perlengkapan yang digunakan pada saat
melaksanakan ngalawang Barong Kedingkling diyakini suatu benda yang suci
sebab sudah melalui proses sakralisasi. Benda-benda tersebut juga dipuja oleh
umat Hindu di Kabupaten Bangli, ini terbukti pada saat dilaksanakan ngalawang,

76
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

masyarakat melakukan pemujaan terhadap Sesuwunan Barong Kedingkling, Ini
membuktikan bahwa masyarakat selalu menjunjung tinggi simbol-simbol yang
ada.
Nilai estetika yang terkandung dalam tradisi ngalawang Barong
Kedingkling yang terdapat di Kabupaten Bangli tersirat beberapa nilai-nilai seni
yang bisa dikaji dari beberapa sudut pandang. Selain itu, dengan adanya nilai seni
pada tradisi ngalawang Barong Kedingkling ini secara tidak langsung
memberikan manfaat yang positif terhadap pendidikan secara non formal, ini
terbukti dengan adanya nilai seni yang dapat mendidik masyarakat untuk terus
mengembangkan seni yang dimiliki baik itu seni dalam bentuk apapun, karena
dengan pengembangan tersebut bisa mendidik genarsi berikutnya untuk mampu
memahami kesenian yang di maksud, sehingga mampu mempertahankan serta
melestarikan kesenian yang terdapat di masyarakat. Selain itu, hal ini juga
bertujuan untuk menjaga kelestarian kesenian Bali agar terhindar dari kepunahan.

3 PENUTUP
Berdasarkan penyajian hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas,
maka dapat disimpulkan, bahwasanya prosesi Ngalawang Barong Kedingkling di
Kabupaten Bangli di awali dengan matur piuning, dilaksanakan Pamangku
bertujuan meminta ijin dan keselamatan dalam perjalanan ketika melakukan
prosesi ngalawang. Dilanjutkan dengan nedunang Ida Batara yang dihadiri oleh
seluruh masyarakat Desa yang akan mengikuti prosesi ngalawang. Setelah Ida
Bhatara tedung, masyarakat bersiap-siap melakukan perjalanan ngalawang,
dengan mempersiapkan tape,l mengatur barisan antara penari Barong dan
pembawa atribut seperti tedung, kober, dan gambelan. Setelah siap barulah
prosesi ngalawang dimulai. Saat Barong Kedingkling mulai tampak, dengan
sigap masyarakat mempersiapkan sarana panyapa atau ngupah yang dihaturkan
ketika Barong Kedingkling sudah akan melewati pintu atau lawangan masyarakat
panyapanya. Setelah canang dihaturkanBarong Kedingkling akan menari di depan
pintu atau lawangan masyarakat yang menghaturkannya. Setelah selesai menari
sesari yang terdapat pada canang sari diambil oleh salah satu sekaa Barong
Kedingkling. Ketika hari sudah mulai senja, prosesi ngalawang Barong

77
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Kedingkling mulai di hentikan, hal ini di tandai dengan kembalinya Barong
Kedingkling ke masing-masing Pura tempat Barong ini distanakan. Makna
estetika seni Hindu terdapat pada pelaksanaan Ngalawang Barong Kedingkling di
Kabupaten Bangli, adalah makna seni atau estetik yang sangat tinggi, sebab dalam
prosesi ngalawang Barong Kedingkling terdapat suatu seni antara lain seni rupa,
seni tari, seni musik dan seni teater. Dalam konteks ngalawang Barong
Kedingkling, seni dinilai sebagai unsur kesucian dan keindahan, sebab prosesi
ngalawang Barong Kedingkling mengandung nilai religi yang dipadukan dengan
sini pementasan atau ngalawang sehingga memunculkan sudut pandang yang
indah dan sakral.

Daftar Pustaka

Abercrombie, Nicolas. Dkk. 2010. Kamus Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ariawan, Dewa Made. 2008. Pemujaan Barong Landung di Desa Pakraman
Serai-Kembang Merta Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli (kajian sosio
religius). Skripsi. Denpasar: IHDN.

Arikunto, Suharsini. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rhineka Cipta.

Bugin, Burham. 2010. Metodologi Penelitian Sosial. Surabaya: Airlangga
University Press.

Bandem, I Made. 1981. Kaja and Kelod. Balinese Dance in Transition. Kuala
Lumpur : Oxford University Press.

Cholid, Narboko dkk. 2007. Metode Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.

Cundamani. 1993.Pengantar agama Hindu untuk perguruan tinggi. Jakarta;
Yayasan Wisma Karma.

Daging, I Nyoman. 2009.”Upacara Galungan Mabunga di Desa Pakraman
Manikliyu, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Tinjauan
Pendidikan Agama Hindu”. Skripsi. Denpasar: IHDN

Darmawan, I Putu Aryasa. 2010. “Esensi Teologis Barong Bulu Goak Di Pura
Dalem Kutuh Desa Adat Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten
Badung”. Skripsi. Denpasar: IHDN.

Dibia, I Wayan. 1999. Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali. Bandung :
Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

78
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Djelantik, Anak agung Made. 1990. Pengantar Ilmu Estetika. Jilid I. Denpasar:
Sekolah Tinggi seni Indonesia.

Granoka, Ida Wayan Oka. 1998. Memori Bajra Sandi, Perburuan Kaprana Jiwa.
Denpasar: Sanggar Bajra sandi.

Hadi, Sutrisno. 2007. Metodelogi Penelitian. Yogjakarta: Ircisod.

Iqbal, Hasan. 2012. Pokok-pokok Metodologi Penelitian dan Aplikasinnya.
Bandung: Ghalia Indah.

79
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

KETERAMPILAN BERARGUMENTASI LISANDALAM PRESENTASI
TUGAS KELOMPOK PADA MATA KULIAH BAHASA INDONESIA
OLEH KELAS IB MAHASISWA PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN SENI DRAMA TARI DAN MUSIK

Ni Wayan Sudarti, S.Pd., M.Hum.
Email : wayan.sudarti.yanti@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan keterampilan
berargumentasi lisan mahasiswa dalam presentasi tugas kelompok pada mata
kuliah bahasa Indonesia di kelas IB Program Studi Pendidikan Seni Drama Tari
dan Musik, (2) mendeskripsikan kendala-kendala yang dihadapi mahasiswa saat
berargumentasi lisan dalam presentasi tugas kelompok pada mata kuliah bahasa
Indonesia di kelas IB Program Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, dan
(3) mendeskripsikan respons mahasiswa terhadap penugasan berargumentasi
lisan dalam tugas presentasi melalui tugas kelompok pada mata kuliah bahasa
Indonesia di kelas IB Program studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik.
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa kelas IB Program Studi
Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik yangberjumlah 26 orang mahasiswa.
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskripitif kualitatif-kuantitatif.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, metode tes,
metode wawancara, dan metode angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)
keterampilan berargumentasi lisan mahasiswa dalam presentasi tugas kelompok
pada mata kuliah bahasa Indonesia di kelas IB Program Studi Pendidikan Seni
Drama Tari dan Musik, tergolong baik, (2) dalam mata kuliah bahasa Indonesia
dengan model presentasi tugas kelompok, mahasiswa mengalami berbagai
kendala antara lain, materi yang dipelajari saat presentasitugas kelompok
dirasasulit,mahasiswa mengalami kesulitan dalam bekerja secaraberkelompok,
dan mahasiswa merasa malu saat menyampaikan argumentasi, dan
(3)pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia dengan model presentasi tugas
kelompok direspons positif oleh mahasiswa.

Kata kunci: berargumentasi lisan, presentasi tugas kelompok

Abstract
This study aims to (1) describe oral argument skills of students in the
presentation of the task group on Indonesian subjects in the classroom IB Study
Program of Dramatic Arts Education Dance and Music, (2) describe the obstacles
faced by students when arguing an oral presentation group assignments on
subjects Indonesian in class IB Study Program of Dramatic Arts Education Dance
and Music, and (3) describe the response assignment of students to argue in the

80
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

oral presentation tasks through the task group on Indonesian subjects in class IB
Study Program Dramatic Arts Education Dance and Music.
Subjects in this study were students of class IB Study Program of Dramatic
Arts Education Dance and Music amounting to 26 students. This study used a
qualitative research design deskripitif-quantitative. Data collection methods used
were observation, test methods, the method of interview and questionnaire. The
results showed that (1) the skills to argue orally students in the presentation of the
task group on subjects Indonesian in class IB Study Program of Dramatic Arts
Education Dance and Music, classified as good, (2) in the course of Indonesian
model presentation of the task group, student encounter many obstacles, among
others, the material studied during the presentation the group's task is it hard,
students have difficulty in working in groups, and students feel embarrassed when
presenting arguments, and (3) learning courses Indonesian model presentation of
the task group responded positively by students.

Keywords: argue oral, presentation of group assignments

1 Pendahuluan
Pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia di tingkat perguruan tinggi
khususnya pada Program Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan musik
merupakan mata kuliah umum. Walaupun demikian, pembelajaran mata kuliah
bahasa Indonesia memerlukan strategi agar mahasiswa mampu memahami materi
yang disajikan oleh dosen. Dalam mengajar, dosen mata kuliah bahasa
Indonesia,tidak cukup hanya menggunakan satu metode saja. Pemilihanmodel
pembelajaran juga sangat penting karena mahasiswa memerlukan situasi dan
kondisi yang tepat dalam belajar. Dalam pembelajaran mata kuliah bahasa
Indonesia, metode yang sering digunakan adalah metode ceramah, motede
pemodelan, metode diskusi, dan metode tanya jawab.
Berdasarkan hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan, pembelajaran
mata kuliah bahasa Indonesia di kelas IB Program Studi Pendidikan Seni Drama
Tari dan Musik berjalan sesuai dengan rencana pembelajaran yang dibuat. Dosen
menggunakanmetode diskusi tugas kelompok yang dirancang dengan presentasi
sehingga mahasiswa dapat aktif memberikan masukan ataupun sanggahan melalui
argumen yang mereka ungkapkan. Cara seperti inidilakukan sebagai upaya untuk
meningkatkan kemampuan keterampilan berbicara mahasiswa. Diharapkan
dengan model dan metode seperti ini, mahasiswa dapatberperan aktif dalam
menyampaikanpendapat dan mengasah keterampilan berbicaranya. Materi yang

81
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

diberikan kepada mahasiswa ialah mengenai paragraf atau alenia. Materi ini
menjadi fokus dalam dua kali pertemuan, dengan durasi waktu 4 x 45 Menit.
Pembelajaran keterampilan berargumentasi lisan dalam presentasi tugas
kelompok mahasiswa dalam mata kuliah bahasa Indonesia di kelas IB Program
Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik dilaksanakanmelalui beberapa
tahapan. Setiap pertemuan terdapat tiga kali tahapan pembelajaran yang
dilaksanakan, yakni tahap kegiatan awal, tahap kegiatan inti, dan tahap kegiatan
akhir. Pada pertemuanpertama, tahap awal, dosenmemasukiruang kelas dan
memberikan salam. Dosen mengecekkehadiranmahasiswa dengan mengabsen
mahasiswa satu persatu. Kemudian, dosen mengecek kesiapan mahasiswa untuk
mengikuti pembelajaran. Dosen menyiapkan media dan materi pembelajaran yang
akan disampaiakan. Bersamaan dengan itu pula, dosen membacakan sebuah
paragraf di depan kelas, yang mengarah pada materi pembelajaran tentang
paragraf. Dosen membacakan kembali sebuah paragraf, kemudian bertanya
kepada mahasiswatentang apa yang telah disampaikan dan
mahasiswadiinstruksikan untuk memberikan sebuah komentarterhadap isi
paragraf yang telah disampaikan. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk
merangsangmahasiswa dengan materi yang akan disampaikan. Selanjutnya,
diadakan suatu apersepsiuntuk mengetahui kemampuan awal mahasiswa.
Apersepsi dilakukan dengan cara bertanyakepada mahasiswa terkait materi
mengenai paragraf. Mahasiswa ditanyakan mengenai pengertian paragraf, jenis
paragraf, dan langkah-langkah dalam menulis sebuah paragraf.
Sebelum menginjak pada kegiatan inti, disampaikan pulastandar
kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pembelajaran. Pada saat akan
memasuki kegiatan inti, dilakukan eksplanasi. Dosen menyampaikan materi
mengenaiparagraf. Penyampaian materi dilakukan dengan menggunakan power
point. Materiyang disampaikan adalah pengertian paragraf, jenis-jenis paragraf,
dan langkah-langkah yang dilakukan dalam menulis sebuah paragraf. Selanjutnya,
dilakukaneklporasi untuk memancing pemahaman mahasiswa mengenai paragraf
dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan paragraf.
Kemudian mahasiswadiiinstruksikan untukmembentuk kelompok, yang
masing-masing kelompok terdiri dari 2 orang anggota kelompok. Mahasiswa

82
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

diberikankesempatan untuk memilih anggotakelompok sendiri dengan alasan
bahwa mahasiswa yang memilih anggota kelompok sendiri, mereka akan bisa
bekerja sama dengan baik dan lebih nyaman dalam berdiskusi. Jumlah mahasiswa
kelas IB Program Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik adalah 26 orang
mahasiswa. Terdapat 13 kelompok beranggotakan 2 orang mahasiswa dan proses
pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia telah dirancangdengan baik.
Pembelajarandipersiapkan dengan memberikab materi yang sesuai dengan kondisi
mahasiswa. Persiapan pembelajaran diawali dengan pembuatan rencana
pembelajaran semester yang di dalamnya terdapat materi, media yang digunakan,
langkah-langkah pembelajaran, dan instrumen penilaian untuk evaluasi.
Menurut Wendra (2005:16) keterampilan berbicara adalah tingkah laku
yang paling distingtif dan berarti. Tingkah laku ini harus dipelajari, dipahami,
setelah itu baru dapat dikuasai. Kemampuan berbicara menyatakan maksud dan
perasaan secara lisan, sudah dipelajari dan sudah dimiliki olehmahasiswa sebelum
mereka memasuki bangku kuliah. Tarigan menyatakan bahwa taraf kemampuan
berbicara yang dimiliki oleh seseorangbervariasi mulai dari taraf baik atau lancar,
sedang, gagap atau kurang (1998:39).Usaha yang dapat dilakukan untuk
memunculkan keterampilan berbicara tingkat lancar, diperlukan pelatihan
berbicara secara intensif dan berkesinambungan. Tarigan, dkk. (1998:43)
mengungkapkan bahwa keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang
mekanistis. Semakin banyak dan rutin berlatih berbicara makaketerampilan
berbicara tersebut semakin cepatdapat dikuasai. Intinya, tanpa adanya suatu
latihan yang berkesinambungan, seseorang tidak akan dapat terampil dalam
berbicara. Oleh sebab itu, keterampilan berbicara diajarkan mulai bangku sekolah
hingga perguruan tinggi.
Keterampilan berbicara di bangku kuliah dapat dimanfaatkan oleh
mahasiswa pada semua mata kuliah. Pada saat proses pembelajaran, keterampilan
berbicara dapat dilihat ketika mahasiswa bertanya,menjawab pertanyaan,
menyampaikan persetujuan, menyampaikan sanggahan, dan penolakan pendapat
dengan menyampaikan argumentasi secara lisan. Keterampilan berargumentasi
lisan merupakan salah satu bentuk keterampilan berbicara. Keterampilan ini
sangat penting untuk dikuasai oleh mahasiswa. Dengan memiliki keterampilan

83
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

berargumen, mahasiswa mampu mengungkapkan pendapat mereka, baik berupa
sanggahan, persetujuan, dan penolakan terhadappendapat orang lain melalui
bahasa lisan. Keterampilan berargumen sangat diperlukan oleh mahasiswa, baik
saat berinteraksi di lingkungan kampus maupun di lingkungan masyarakat. Di
lingkungan kampus, keterampilan berargumen diperlukan saat berdiskusi di dalam
kelas, rapat kegiatan kemahasiswaan,lomba debat, memberikan sambutan, dan
sebagainya. Keterampilan berargumen yang telah dimiliki dapat memberikan
kemudahan kepada mahasiswa untuk mengungkapkan apa yang ada
dalampikirannya.
Mengingat pentingnya keterampilan berargumentasi secara lisan yang
harus dimiliki oleh mahasiswa, baik di lingkungan kampus maupun di lingkungan
masyarakat, maka pembelajaran untuk materi mata kuliah apapun hendaknya
memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar menyampaikan suatu
argumen. Dalam proses pembelajaran di kelas mahasiswa telah diberikan
kesempatan untuk menyampaikan argumen mereka. Dengan memberikan
kesempatan kepada mahasiswa untuk menyampaikan argumen mereka,
mahasiswa secara langsung telah belajar keempat aspek keterampilan berbahasa.
Salah satu kesempatan yang terlihat dimanfaatkan oleh mahasiswa dalam
menyampaikan argumen adalah ketika mereka diberikan presentasi untuk tugas
kelompok.
Mahasiswa yang menyajikan presentasi maupun yang menjadi peserta
presentasi, akan mendapatkan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan,
menjawab pertanyaan, menanggapi, menolak, dan menyetujui pendapat temannya
sehingga argumen mahasiswa dapat terlihat dengan jelas.Dengan cara seperti ini
diharapkan pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia menjadi lebih efektif dan
mampu mencapai tujuan pembelajaran. Program Studi Pendidikan Seni Drama
Tari dan Musik merupakan salah satu program studi yang terdapat pada Fakultas
Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali. Program Studi inimerupakan
program studi yang bergerak di bidang seni dan berada di wilayah Kelurahan
Sumerta, Kecamatan DenpasarTimur. Program studi ini dapat dikatakan unggul
dalam prestasi karena berbagai juara yang pernah diraih oleh mahasiswanya. Hal
ini sesuai dengan visi dan misi serta hasil akademik yang telah dicapai, serta

84
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

fasilitas yang dimiliki sudah cukup memadai. Laboratorium yang dilengkapi
dengan LCD, dan Layar, mampu mendukung kegiatan praktik bagi mahasiswa
untuk secara langsung menggunakan fasilitas yang diperlukan. Dengan fasilitas
yang memadai, proses pembelajaran diharapkan mampu berjalan dengan baik dan
dapat meningkatkan kualitas pendidikan mahasiswa. Mahasiswa kelas IB Program
Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik merupakan kelas yang memiliki
potensi untuk mengarahkan mahasiswa mau berpikir. Dengan berpikir, segala
ide untuk berkreativitas mampu disalurkan. Mahasiswa kelas IB Program Studi
Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik adalah mahasiswa yang aktif dalam
segala bidang. Mereka terlihat memiliki potensi yang lebih dan terampil.
Berdasarkan acuan yang telah diuraikan diatas, peneliti tertarik untuk
menemukan bukti nyata kemampuan mahasiswa kelas IB Program Studi
Pendidikan Seni Drama Tari dan Musikdalam beragumentasi lisan dalam presentasi
tugas kelompok.Mahasiswa kelas IB Program Studi Pendidikan Seni Drama Tari
dan Musik sudah diajarkan mengenai materi paragraf yang nantinya akan dijadikan
bahan untuk presentasi tugas kelompok, sehubungan dengan hal tersebut maka
peneliti tertarik untuk lebih dalam meneliti tentang Keterampilan Berargumentasi
Lisan Dalam Presentasi Tugas Kelompok Pada Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Oleh Kelas IB Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama Tari Dan
Musik.

2 Landasan Teori
2.1 Pengertian Berbicara
Keterampilan berbicara adalah seni tentang berbicara berbicara yang
dimiliki seseorang. Seni berbicara ini dimiliki seseorang secara alami atau pun
dengan menggunakan latihan khusus. Keterampilan berbicara merupakan seni
tentang berbicara yang merupakan sarana komunikasi dengan bahasa lisan
meliputi proses penyampaian pikiran, ide, gagasan dengan tujuan melaporkan,
menghibur, atau meyakinkan orang lain.
Menurut Tarigan (2008:16) keterampilan berbicara adalah kemampuan
mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan,
menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pengertian

85
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan
kata-kata yang bertujuan untuk menyampaikan apa yang akan disampaikan baik
itu perasaan, idea tau gagasan.
Definisi berbicara juga dikemukakan oleh Brown dan Yule dalam Puji
Santosa, dkk (2006:34), berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi
bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagasan atau
perasaan secara lisan. Haryadi dan Zamzani (2000:72) mengemukakan bahwa
secara umum berbicara dapat diartikan sebagai suatu penyampaian maksud (ide,
pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan
sehingga maksud tersebut dapat dipahami orang lain. Pengertian ini memunyai
maksud yang sama dengan kedua pendapat yang diurakan diatas, hanya saja
diperjelas dengan tujuan yang lebih jauh lagi yaitu agar apa yang disampaikan
dapat dipahami oleh orang lain. Sedangkan St. Y. Slamet dan Amir (1996:64)
mengemukakan pengertian berbicara sebagai keterampilan menyampaikan pesan
melalui bahasa lisan sebagai aktivitas untuk menyampaikan gagasan yang disusun
serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan penyimak. Pengertian ini
menjelaskan bahwa berbicara tidak hanya sekedar mengucapkan kata-kata, tetapi
menekankan pada penyampaian gagasan yang disusun dan di kembangkan sesuai
dengan kebutuhan penyimak.
Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah diuraikan diatas dapat
disimpulkan bahwa pengertian berbicara ialah kemampuan mengucapkan kata-
kata dalam rangka menyampaikan atau menyatakan maksud, ide, gagsan, pikiran,
serta perasaan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
penyimak agar apa yang disampaikan dapat dipahami oleh penyimak.

2.2 Tujuan Berbicara
Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Komunikasi
merupakan pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau
lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Oleh karena itu, agar dapat
menyampaikan pesan secara efektif, pembicara harus memahami apa yang akan
disampaikan atau dikomunikasikan. Berbicara memiliki tiga maksud umum yaitu
untuk memberitahukan dan melaporkan (to inform), menjamu dan menghibur (to

86
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

entertain), serta untuk membujuk, mengajak, mendesak dan meyakinkan (to
persuade).
Gorys Keraf dalam St. Y. Slamet dan Amir (1996:46-47) mengemukakan
tujuan berbicara diantaranya adalah untuk meyakinkan pendengar, menghendaki
tindakan atau reaksi fisik pendengar, memberitahukan dan menyenangkan para
pendengar. Pendapat ini tidak hanya menekankan bahwa tujuan berbicara hanya
untuk memberitahukan, meyakinkan, menghibur, namun juga menghendaki reaksi
fisik atau tindakan dari si pendengar atau penyimak.
Tim LBB SSC Intersolusi (2006:84) berpendapat bahwa tujuan berbicara
ialah untuk (1) memberitahukan sesuatu kepada pendengar, (2) meyakinkan atau
mempengaruhi pendengar, dan (3) menghibur pendengar. Pendapat ini
mempunyai maksud yang sama dengan pendapat-pendapat yang telah diuraikan
diatas. Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan diatas dapat
disimpulkan bahwa tujuan berbicara yang utama adalah untuk berkomunikasi.
Sedangkan tujuan berbicara secara umum ialah untuk memberitahukan atau
melaporkan informasi kepada penerima informasi, meyakinkan atau
mempengaruhi penerima informasi, untuk menghibur serta menghendaki reaksi
dari pendengar atau penerima informasi. Dalam proses penyampaian gagasan ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :pembicara, lawan bicara
(penyimak), lambang (bahasa lisan), pesan, maksud, gagasan, atau ide.

2.3 Bentuk Keterampilan Berbicara
1. Monologika
Monologika adalah ilmu tentang seni berbicara secara monolog, dimana hanya
ada seorang yang berbicara.Bentuk monologika yang paling penting adalah
proses penyampaian gagasan atau ide kepada orang lain di depan umum,
contonya berpidato.
2. Dialogika
Dialogika adalah ilmu tentang seni berbicara secara dialog,dimana dua orang
atau lebih, berbicara atau mengambil bagian dalam satu proses
pembicaraan.Bentuk dialogika yang paling penting adalah diskusi, tanya
jawab, perundingan, percakapan dan debat.

87
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

2.4 Prinsip umum dalam berbicara
Dalam kegiatan berbicara tentu terdapat hal yang mendasari di dalamnya,
terdapat beberapa prinsip pokok, antara membutuhkan paling sedikit dua orang,
menggunakan bahasa yang dipahami bersama, mengakui atau menerima daerah
referensi umum, merupakan proses tukar pikiran antarpartisipan, peyampaian
gagasan dengan tujuan melaporkan, menghibur, dan meyakinkan seseorang.

2.5 Landasan dalam keterampilan berbicara
1. Situasi
Kegiatan berbicara dapat terjadi dalam siituasi, kondisi,suasana,dan lingkungan
tertentu.Situasi yang dimaksud adalah berbicara secara formal (resmi) atau
informal (tidak resmi).
2. Tujuan
Tujuan dari penyampaian gagasan atau ide dalam keterampilan berbicara
adalah untuk memperoleh respon atau tanggapan dari lawan bicara. Tujuan dari
peyampaian gagasan adalah melaporkan, menghibur, dan meyakinkan
seseorang.
3. Metode Penyampaian
Terdapat empat cara atau metode penyampaian yang dapat dilakukan seseorang
pada waktu berbicara, yaitu penyampaian berdasarkan naskah atau manuskrip
penyampaian berdasarkan catatan kecil atau ekstemporer, penyampaian
gagasan berdasarkan hafalan memoriter, penyampaian gagasan secara
mendadak dan serta merta atau impromtu.
4. Penyimak
Pembicara yang baik tentu akan bersifat komunikatif terhadap lawan bicara.
Dalam penyampaian gagasan atau ide pembicara harus memperhatikan siapa
penyimak dari pembicaraan tersebut, supaya materi yang disampaikan dapat
diterima secara berimbang.

2.6 Sarana dalam berbicara

88
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Dua sarana yang dapat dipergunakan dalam keterampilan berbicara untuk
efektivitas komunikasi retoris, yaitu :
1. Mendengarkan
Mendengar adalah sikap yang penting dalam proses dialog dan diskusi. Setiap
peserta dalam diskusi selalu berganti peranan antara berbicara dan mendengar.
2. Taktik-taktik Retoris
Dalam uraian berikut ini akan dijelaskan sejumlah taktik yang dapat membantu
untuk mencapai sasaran dan tujuan secara efektif dalam proses komunikasi
retoris.
a. Taktik Afirmasi
1.Taktik "Ya"
Menurut taktik ini, pertanyaan dirumuskan sedemikian rupa sehingga
lawan bicara hanya dapat menjawab: ”Ya”, dan perlahan-lahan
menuntunnya kepada kesimpulan akhir yang jelas atau mengejutkan,
yang harus diterima tanpa syarat.
2. Taktik Mengulang
Pembicara berusaha untuk menyampaikan pikiran dan idenya secara
terus-menerus, gaya ini dapat menyebabkan lawan bicara menaruh
perhatian kepada ide yang dianjurkan, dan berusaha mengolah ide itu.
3. Taktik Sugesti
Taktik ini bermaksud mempermudah lawan bicara untuk menyetujui
pikiran, anjuran dan hasil pertimbangan kita.
b. Taktik Ofensif
1. Taktik Antisipasi
Sementara lawan bicara menyampaikan pendapat, kita sudah
mengantisipasi kelemahannya, sesudah itu kita langsung menjatuhkan
pendapatnya dengan mengemukakan argumentasi kontra.
Lawan bicara menantang dengan satu pernyataan negatif, kita mengejutkan
dia dengan satu jawaban balik dari sudut pandangan yang tak diduganya.
2. Taktik Bertanya Balik
Taktik ini melemparkan kepada lawan bicara satu pertanyaan balik yang
menyebabkan dia menerima kekeliruannya sendiri.

89
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

3. Taktik Provokasi
Taktik ini memaksa lawan bicara untuk berbicara terus terang. Ini adalah
satu model pertanyaan agresif, yang sering dipergunakan oleh para
wartawan.
4. Taktik Mencakup
Taktik ini melihat argumentasi lawan dengan satu pengamatan yang
mencakup dan lebih tinggi, sehingga dengan argumentasi itu sendiri
dilemahkan dan tidak berlaku untuk dirinya sendiri
5. Taktik Memotong
Taktik ini dipergunakan untuk mengontrol pembicara yang berbicara terlalu
banyak, pembicaraannya dipotong dengan tiba-tiba dengan alasan untuk
menyampaikan sesuatu yang penting.
c. Taktik Negasi
1. Taktik "tidak"
Taktik ini menyangkal pendapat lawan bicara secara langsung, karena
menuntut penjelasan yang tuntas.
2. Taktik Kontradiksi
Taktik ini mengemukakan pernyataan kontradiktoris (pertentangan secara
esensial) atas apa yang dikatakan lawan bicara.

3 Metode Penelitian
3.1 Metode Oberservasi
Menurut Subagyo (2004:63) observasi adalah pengamatan yang dilakukan
secara sengaja, sistematika mengenai fenomena sosial dengan gejala-gejala psikis
untuk kemudian dilakukan pencatatan. Metode observasi dilakukan untuk
mengamati kegiatan mahasiswa dan mengumpulkan data-data tentang
keterampilan berargumentasi lisan dalam presentasi tugas kelompok pada
pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia.
Pada penelitian ini, bentuk metode observasi digunakan adalah obeservasi
nonpartisipatif. Observasi dilakukan peneliti dengan tidak terlibat atau berperan
langsung ketika observasi berlangsung. Peneliti hanya mengamati dan mencatat
kegiatan pada saat presentasi yang berlangsung di kelas IB Program Studi

90
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik. Dalam observasi, peneliti hanya
menggunakan catatan lapanganyang berupa hasil pengamatan di kelas saat proses
belajar berlangsung.

3.2 Metode Tes
Menurut Sudijono(2005:65) tes adalah alat pendiagnosis atau pengukur
keadaan individu. Metode tes digunakan untuk mengumpulkan data mengenai
tingkat keberhasilan mahasiswa dalam pembelajaran mata kuliah bahasa
Indonesia, khususnya keterampilan berargumentasi lisan dalam presentasi tugas
kelompok. Tes yang digunakan adalah tes lisan yang dicatat pada
lembarpenskoran keterampilan berargumentasi lisan.

3.3 MetodeAngket
Djojosuroto (2004:79) mengatakan bahwa angket merupakancara
pengumpulan data melaluiformulir-formulir yang berisi tentang pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada seseorang atau sekumpulan
orang untuk mendapatkan jawaban, tanggapan, atau informasi yang
diperlukan. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket
berstruktur atau tertutup, yaitu responden menjawab pertanyaan berdasarkan
jumlah pilihan jawaban yang telah disediakan. Pemberian angket ini dimaksudkan
data tentang respon mahasiswa terhadap penugasan berargumentasi lisan dalam
tugas presentasimelalui tugas kelompok pada pembelajaran mata kuliah bahasa
Indonesia.Dalam pengisian angket, mahasiswa hanya mengisi tanda check-list
pada tabel yang terdapat dalam lembar angket yang telah disiapkan oleh peneliti.
Dalam lembar angket tersebut terdapat tabel yang berisikan pernyataan berupa
hal-hal atau unsur-unsur tentang model pembelajaran yang telah diterapkan.
Sebelum mengisi angket, peneliti akan memberikan arahan/petunjuk pengisian
kepada mahasiswa serta penjelasan tiap butir ranah yang ada dalam angket
tersebut.

91
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

3.4 Metode Wawancara
Nasution (2008:113) menyatakan bahwa wawancara adalah bentuk
komunikasi verbal semacam percakapan yang bertujuan memeroleh informasi.
Dalam wawancara, pertanyaan dan jawaban diberikan secara lisan. Wawancara
dilakukan untuk menggali hal-hal yang belum sempat diamati saat mengadakan
observasi dan juga untuk mencocokkan dengan hasil observasi. Metode
wawancara menjadi pilihan dalam penelitian ini untuk menunjang, memperkuat,
dan melengkapi data yang berkenaan dengan jawaban rumusan masalah yang
ada.Peneliti menggunakan metode wawancara untuk memeroleh data dengan
melakukan tanya jawab secara langsung dengan sumber data (informan yaitu
mahasiswa). Wawancara ini dilakukan dengan mahasiswa untuk memeroleh data
mengenai kendala-kendala berargumentasi lisan dalam presentasi tugas
kelompok pada pembelajaran mata kuliah bahasaIndonesia di kelas IB Program
Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik.Wawancara dilaksanakan secara
tidak berstruktur, artinya peneliti hanyamempersiapkan pertanyaan-pertanyaan
pokok saja. Ketika wawancara berlangsung informan akan memberikan jawaban
pertama. Dengan jawaban pertama tersebut, peneliti akan memperjelas
jawabantersebut dengan mengajukan pertanyaan yang bersifat lebih mendalam,
begitu seterusnya secara beruntun.

4 Pembahasan
Hasil keterampilan berargumentasi lisan oleh mahasiswa dalam
pembelajaranmata kuliah bahasa Indonesia melalui peresentasi tugas kelompok
adalah sebagai berikut : dari 26 orang mahasiswa di kelas IB Program Studi
Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, 10 orang mahasiswa atau 27,5% yang
memperoleh nilai 85 sampai 88, yang tergolong sangat baik, dan 16 orang
mahasiswa atau 72,5% yang memperoleh nilai 75 sampai 84, yang tergolong
baik. Rata-rata nilai hasil argumentasi mahasiswa melalui prensentasi tugas
kelompok dalam pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia adalah 82,15,
yang tergolong baik.
Pada pertemuan kedua, dilakukan tes kepada mahasiswa. Dengan
membagikan lembar soal kepada mahasiswa.Lembar soal ini telah dipersiapkan

92
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

sebelumnya oleh guru. Selanjutnya, diberikan waktu selama 45 menit kepada
mahasiswa untuk menjawab 5 soal uraian. Soal-soal ini berisi materi tentang
pengertian paragraf, jenis-jenis paragraf,langkah-langkah membuat sebuah
paragraf, dan contoh masing-masing jenis paragraf. Setelah mahasiswa selesai
menjawab soal ditanyakan mengenai kesulitan yang dialami mahasiswa ketika
menjawab soal-soal pada tes.Hasilpembelajaran mahasiswa akan dievaluasiuntuk
memberikan gambaran sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam memahami
materi tentang paragraf dengan model presentasi tugas kelompok dalam
pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia.
Model pembelajaran presentasi tugas kelompok memang tepat diterapkan
di kelas IB Program Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, karena
kemampuan berargumentasi mahasiswa saat presentasi sangat baik. Hasil
tersebut tampak pada hasil penelitian melalui pentikan-petikan yang telah
disajikan sebagai kemampuan siswa dalam berargumentasi. Dalam
pembelajaran model ini, dosen menggunakan metode kooperatif, yakni dosen
menginstruksikan kepada mahasiswa untuk membentuk beberapa kelompok
diskusi. Kemudian mendiskusikan materi yang disampaikan dan
dipresentasikan di depan kelas. Dengan penerapan model pembelajaran seperti
ini, dapat diketahui kemampuan mahasiswa dalam berargumentas lisan.
Dalam pembelajaranmata kuliah bahasa Indonesia di kelas IB Program
Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik dengan presentasi tugas kelompok,
mahasiswa tidakluput dari berbagai kendala. Kendala-kendala yang dialami
olehmahasiswa adalah sebagai berikut : 1) Materi yang dipelajari saat presentasi
tugas kelompok terkadang dirasa sulit, 2) mahasiswa mengalami kesulitan
dalam bekerja secara berkelompok. Hal ini disebabkan karena tidak semua
mahasiswa yang mampumenyumbangkan ide-ide mereka saat diskusi untuk
memecahkan permasalahan. Kesulitan dalam bekerja secara berkelompok
sebenarnya dapat dihindari dengan latihan-latihan dan sikap mau menerima
pendapat teman. 3) mahasiswa masih merasa malu saat presentasi maupun
menyampaikan argumen mereka. Rasa malu ini disebabkan karena adanya
kecemasan berbicara dalam diri mahasiswa. Seperti yangdiungkapkan oleh
Wendra (2005:31) bahwa kecemasan berbicara merupakan keterampilan

93
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

menyampaikan pesan melalui bahasa lisan seseorang yang telah dipengaruhi
rasa cemas karena khawatir, takut, dan gelisah. Rasa malu atau kecemasan
berbicara bagi siswa juga dapat dihindari dan dihilangkan dengancara
latihan menyampaikan argumentasi dan mengikuti forum-forum tertentu. 4)
Saat presentasi tugas kelompok, suasana terkadang sangat riuh. Hal ini disebabkan
oleh mahasiswa masih malu-malu untuk presentasi dan membawakan hasil
diskusi mereka sesuai dengan tugas yang didapat masing-masing mahasiswa.
Pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia dengan model presentasi tugas
kelompok direspon positif oleh mahasiswa. Hal ini terbukti dari pengisian angket
yang menunjukkan skor maksimal dari mahasiswa. Respon tersebut menunjukkan
bahwa mahasiswa menerima dan merasa senang dalam belajar dengan model
pembelajaran presentasi tugas kelompok. Model pembelajaran presentasi tugas
kelompok memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar berbicara dengan
cara menyampaikan argumentasi. Mahasiswa merasa adanya peluang untuk
menyampaikan ide-ide yang dimiliki melalui argumen.
Data mengenai respon mahasiswa terhadap penugasan berargumentasi
lisan dalam tugas kelompok presentasi melalui tugas kelompok pada pembelajaran
mata kuliah bahasa Indonesia, diperoleh dengan memberikan angket tanggapan
kepada masing-masing mahasiswa. Respon mahasiswa sebenarnya sudah dapat
dilihat ketika peneliti mengadakan observasi pada saat proses pembelajaran
berlangsung. Namun, karena belum merasa yakin dengan hasil yang didapat,
peneliti ingin melengkapi data responmahasiswa melalui pemberian angket
kepada mahasiswa.
Angket terdiri dari enam pernyataan yang terkait dengan bagaimana
tanggapan mahasiswa terhadap penugasan berargumentasi lisan dalam tugas
kelompok presentasi. Setiap pernyataan memiliki rentangan skor 1-5.Dari
26mahasiswa yang mengisi angket, terdapat 18 orang yang
memberikanresponsangat positif dan8 orang yang memberikan respons positif.
Data responmasing-masing mahasiswa terhadap penugasan berargumentasi lisan
dalam tugas kelompok presentasi melalui tugas kelompok pada pembelajaran
mata kuliah bahasa Indonesia berdasarkan angket yang telah diisi oleh semua
mahasiswa kelas IB Program Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik.

94
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

5 Penutup
Pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia dengan model presentasi tugas
kelompok padamahasiswa kelas IB Program Studi Pendidikan Seni Drama Tari
dan Musik, masih tampak adanya kendala-kendala yang dialami mahasiswa saat
presentasi maupun menyampaikan argumentasi. Kendala yang dialami mahasiswa
saat presentasi maupun berargumentasi, fokus pada materi yang sulit dipahami
karena tidak ada persiapan dari rumah, kurangnya kekompakan dalam kelompok,
rasa malu saat presentasi danberargumentasi karena mahasiswa takut ditertawai,
takut dipojokkan, dan takut salah karena mahasiswa merasa cemas saat
menyampaikan argumen mereka, suasana yang kurang kondusif, kurangnya
kerjasama antar kelompok saat sesi tanya jawab, minimnya waktu yang tersedia,
dan keadaan fasilitas yang masih terbatas.
Untuk menentukan respon mahasiswa secara keseluruhan terhadap model
penugasan berargumentasi lisan dalam tugas presentasi melalui tugas kelompok
pada pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia, dapat diketahui berdasarkan
kriteria. Respons positif mahasiswa menunjukkan keberhasilan model presentasi
tugas kelompok dalam pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia. Hal ini
disebabkan oleh penerapan model seperti ini, memudahkan mahasiswa
menyampaikan argumen mereka. Pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia
dengan model presentasi tugas kelompok direspon positif oleh mahasiswa. Hal ini
terbukti dari pengisian angket yang menunjukkan skor maksimal dari siswa. Dari
26mahasiswa yang mengisi angket, terdapat 18mahasiswa yang memberikan
respon sangat positif dan 8 mahasiswa yangmemberikan respon positif. Jadi,
secara keseluruhan mahasiswa meresponpositif terhadap model penugasan
berargumentasi lisan dalam tugas presentasi melalui tugas kelompok pada
pembelajaran mata kuliah bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Djojosuroto, Kinayanti. 2004. Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Bahasa dan
Sastra. Bandung:Yayasan Nuansa Cendikia.

95
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

St. Y. Slamet dan Amir.1996. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia
(Bahasa Lisan dan Bahasa Tertulis). Surakarta : Universitas Sebelas
Maret.

Tarigan, Henry Guntur dkk. 1998. Pengembangan berbicara. Jakarta:Depdikbud.

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Berbicara : Sebagai Suatu Keterampilan
Berbahasa. Bandung: Angkasa

Wendra, I Wayan. 2005. Keterampilan Berbicara (Buku Ajar).
Singaraja:Undiksha.

Zamzani dan Haryadi. 2000. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia.
Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

96
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

ESTETIKA SENI DALAM PEMENTASAN GAMELAN BALAGANJUR
PADA RITUAL BHUTA YAJÑA DI KOTA DENPASAR

Oleh:
I Ketut Lanus S.Sn., M.Si.
IKIP PGRI Bali

Abstract
Gamelan Balaganjur is a traditional musical art that is often used in a
performance that is both sacred and profane. Apart from Gamelan Balaganjur
terminolgi these functions can not be separated from the aesthetic value (beauty)
contained in the play or in any game of musical instruments integrated into a
single entity that carries on dimenasi beauty. Seen from the player (drummer) of
Gamelan Balaganjur often performed by young people who are members of
Hindu Balinese community called Sekaa Gong Balaganjur.
Key words: Balaganjur, estetika art

1 Pendahuluan
Salah satu ragam gamelan yang paling popular di Bali adalah Balaganjur.
Balaganjur merupakan seni musik tradisional Bali yang populer dikalangan
masyarakat Bali. Seni Balaganjur tersebut pada umumnya sering dipentaskan
dalam dimensi sakral dan profan tergantung pada situasi dan fungsi pementasan.
Dibia (2012:1) menjelaskan bahwa pertunjukan seni musik Balaganjur
dipentaskan biasa dalam setiap event seni, seperti PKB (Pesta Kesenian Bali),
mengiringi pawai Ogoh-Ogoh dan sejenisnya, dan event tersebut dapat dikatakan
sebagai Balaganjur dalam fungsi profan. Adapun dalam event sakral (wali)
tersebut biasanya difungsikan sebagai pengiring upacara pecaruan atau tawur atau
dalam upacara Bhuta Yajña.
Merujuk pada uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa Gamelan Balaganjur
merupakan seni musik tradisonal yang sering digunakan dalam setiap pementasan
yang bersifat sakral dan profan. Terlepas dari terminolgi fungsi tersebut Gamelan
Balaganjur tidak dapat dipisahkan dari nilai estetika (keindahan) yang terkandung
di dalam pementasannya atau dalam setiap permainan alat musiknya yang terpadu
menjadi satu kesatuan yang membawa pada dimenasi keindahan. Dicermati dari
pemain (penabuh) dari Gamelan Balaganjur sering dipentaskan oleh anak muda

97
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Hindu yang tergabung dalam komunitas tradisional Bali yang disebut dengan
Sekaa Gong Balaganjur. Komunitas tersebut membuat wadah berupa Sekaa Gong
Balaganjur yang di dalamnya ada sebuah hal yang mengedukasi Sekaa Truna. Hal
tersebut semakin mebuat Gamelan Balaganjur semakin berkembang secara
dinamis dan inovatif serta kreatif tetapi tidak mengkesampingkan nilai estetika
yang selalu dimunculkan dalam setiap aktivitas berkesenian di Bali.
Khusus di Kota Denpasar, Gamelan Balaganjur sering dipentaskan dalam
setiap perayaan dan pawai ogoh-ogoh dan sejenisnya. Namun, dalam ruang sakral
Gamelan Balaganjur juga sering dipentaskan pada saat perayaan Bhuta Yajña.
Dalam penelitian ini, pementasan Gamelan Balaganjur pada saat upacara Bhuta
Yajña dikaji dengan menggali unsur keindahan di dalamnya. Sebab Gamelan
Balaganjur banyak mengandung daya keindahan (estetik) dalam hubungannya
dengan upacara yajña.

2 Pembahasan
2.1 Bentuk Gamelan Balaganjur
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa pementasan Gamelan
Balaganjur sering dipentaskan dalam ruang sakral dan profan. Dalam ruang
sakral, gamelan atau kerawitan jenis ini sering dipentaskan dalam setia upacara
yajna, khususnya Bhuta Yajna, yakni dalam tawur dan pecaruan. Demikian pula
dalam ruang profan, Gamelan Balaganjur sering dipentaskan dalam seni
pertunjukan, seperti mengiringi pawai ogoh-ogoh maupun dalam Pesta Kesenian
Bali. Dibia (2010) menjelaskan bahwasanya Gamelan Balaganjur merupakan seni
kerawitan yang dapat dihubungkan dengan upacara keagamaan dapat pula
dihubungkan atau dipentaskan sebagai balih-balihan.
Khusus dalam konteks penelitian ini, akan dideskripsikan pementasan
Gamelan Balaganjur dalam ruang sakral yang berhubungan dengan ritual upacara
Bhuta Yajna dan dalam kaitanya dengan nilai estetika seni pementasannya. Tidak
menutup kemungkinan juga akan bersingungan dengan estetika seni Hindu yang
koheren dengan ajaran agama Hindu. Sebagaimana dijelaskan Dibia (2012:107)
menjelaskan bahwa Balaganjur adalah salah satu dari sedikitnya sepuluh jenis
gamelan golongan kuno yang hingga sekarang masih tetap eksis di Bali. Hingga

98
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

kini ada dua pengertian berbeda yang melekat dengan gamelan prosesi ini.
Pertama, music pengusir bhuta-kala sehingga gamelan ini disebut dengan
kalaganjur. Kedua, musik pembangkit semangat sehingga disebut dengan
balaganjur. Berkenaan dengan hal tersebut, berikut dijelaskan struktur
gamelannya sebagai berikut.
a. Instrumen Musik
Seperangkat alat musik tradisional Bali disebut dengan barungan
(Dibia,2012). Barungan Balaganjur dibentuk oleh sejumlah instrumen musik dan
yang paling dominan adalah alat-alat berpencon, seperti: gong, kempul, bende,
reyong, kajar, tawa-tawa, dan kempli. Selanjutnya barungan juga didominasi oleh
alat-alat yang berbentuk piringan, seperti ceng-ceng kopyak dan sepasang kendang
lanang dan wadon. Salah satu cirri khas dari musik Balaganjur terlihat pada
permainan ceng-ceng kopyak yang menggunakan pola “kekilitan (interlocking)”
tiga jenis yang terdiri atas pukulan polos yang sejalan dengan pukulan kajar,
pukulan sangsih yang mendahului pukulan kajar, dan sanglot yang bermain di
tengah-tengah untuk mengikat atau merangkul kedua pukulan di atas (polos dan
sangsih).
Didbia (2012); Bandem (2011) menjelaskan bahwasanya perubahan yang
cukup mendasar dari gamelan Balaganjur belakangan ini adalah yang
menyangkut fungsi dan statusnya. Dari gamelan yang dahulunya digunakan dalam
ruang sakral telah menjadi pengiring gamelan secara mandiri. Dengan adanya
perubahan struktur gamelan pun bergeser terlebih tabuh yang digunakan sekarang
lebih variatif. Khusus tabuh, banyak sudah berinovasi sehingga muncul beragam
variasi, terlebih gamelan ini dilombakan dalam setiap event-event tertentu.
Sebagaimana menurut Dibia (2012:107), lebih banyak gamelan Balaganjur sudah
menggunakan struktur komposisi formal dengan rasa musical yang semakin
mendekati kebyar (ngebyar). Oleh karena itu, penambahan instrumen musik tidak
dapat dihindarkan lagi.
Terlepas dari pergeseran tersebut, setiap pementasan Gamelan Balaganjur
pada ritual Bhuta Yajna di Kota Denpasar masih tetap mempertahankan struktur
pakem dengan menggunakan instrumen musik berpencon. Dalam komposisi
tabuh pun tidak banyak berubah. Dibia (2012:110), dalam uraianya menjelaskan

99
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

bahwa Gamelan Balaganjur yang sering dipentaskan terkait perayaan suci
komposisi tabuh yang digunakan adalah gilak yang agung dan berwibawa. Setiap
ditabuhkan orang akan mengetahui bahwa ada perayaan upacara suci, seperti
mepeed, melasti, petauran dan yang lainnya. Perubahan rasa musical Gamelan
Balaganjur seperti ini dapat dimaknai lebih daro pembauran ekspresi seni musik,
melainkan juga mulai kaburnya batas-batas antara nilai-nilai ke luan (suci) dengan
yang ke teben (tidak suci).

b. Penabuh Gamelan Balaganjur
Orang yang memainkan alat musik tradisional Bali disebut dengan
penabuh. Umumnya penabuh adalah orang yang ahli memainkan alat musik Bali
sesuai dengan fungsi atau suara yang dihasilkan oleh alat musik yang dimainkan.
Adapun penabuh Gamelan Balaganjur di Bali dan di Kota Denpasar khususnya
dimainkan dengan cara sederhana. Namun belakangan menrut Dibia (2012),
penampilan penabuh Gamelan Balaganjur semakin demosntratif karena mereka
mulai memainkan gamelan dengan gerak-gerak tubuh yang dipolakan atau
dikoreografikan.
Secara historikal keberadaan gamelan ini sampai pada pertengahan tahun
1980-an masih dimainkan untuk mengiringi prosesi keagamaan, seperti prosesi ke
pura, ke laut (melasti), pecaruan dan yang lainnya. Ketika mengiringi proses
kegiatan agama atau berupacara, biasanya penabuh Gamelan Balaganjur
memainkan tabuh Balaganjur di urutan belakang sebagai penutup prosesi.
Selanjutnya tabuh yang digunakan adalah gilak pejalan dalm tempo yang
bervariasi dari pelan, sedang, dan cepat hingga keras. Tabuh tersebut mampu
membawa kewibawaan dan keagungan dari prosesi tersebut.
Adapun pada saat prosesi upacara Bhuta Yajna yang lazim dilakukan oleh
masyarakat Hindu di Kota Denpasar dan Bali umumnya, penabuh mengambil
posisi paling belakang atau di pojok sedikit berjauhan dengan pusat prosesi.
Sebagaimana Dibia (2012); Bandem (2011) menjelaskan bahwasanya sekaa
penabuh Balaganjur umumnya 25 sampai dengan 30 orang dengan pakaian yang
biasa-biasa saja (baca: pakaian adat sembahyang). Selain itu, penabuh juga tidak
melakukan demonstrasi selayaknya penabuh Balaganjur kontemporer, karena

100
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

secara mendasar gamelan tersebut difungsikan untuk pengiring upacara yajña.
Demikian pula Gamelan Balaganjur yang dimainkan oleh penabuh pada saat
upacara Bhuta Yajna memiliki fungsi elementer sebagai pelengkap upacara
yajna,tetapi tentunya ada nilai estetika seni yang terkandung di dalamnya.
Berdasarkan hal tersebut, maka kajian ini menitik beratkan pada nilai estetika seni
pada Gamelan Balaganjur ketika difungsikan sebagai pengiring upacara yajna,
khususnya Bhuta Yajna.

2.2 Estetika Seni Pada Gamelan Balaganjur
Mendeskripsikan daya estetika seni pada Gamelan Balaganjur tidak terlepas
dari pengertian estetika seni dalam bingkai pemikiran estetika Hindu.
Sebagaimana Dibia (2003: 97-99) menjelaskan bahwa estetika adalah keindahan,
dan estetika Hindu dalam berkesenian tidak dapat dipisahkan dari tiga hal, yakni
satyam (kebenaran), siwam (kesucian) dan sundaram (keindahan). Merujuk
deskripsi teoretis tersebut maka esetetika seni Hindu tidak dapat terlepas dari
ketiga hal tersebut. Bandem (2003: 98) menjelaskan bahwa berkesenian sebagai
sesuatu yang indah, dan satyam, siwam serta sundaram akan dapat memperhalus
budhi manusia. Berdasarkan hal tersebut maka lokus telaah nilai estetika seni pada
Gamelan Balaganjur pada upacara Bhuata Yajna di Kota Denpasar berangkat dari
tiga aspek, yakni satyam, siwam dan sundaram.

1) Satyam
Satyam adalah kebenaran, kejujuran, kebajikan dan sejenis dengan itu
(Dibia,2003: 97). Semua kesenian Bali mengandung unsur kebenaran, dan
kebenaran yang absolut merupakan sumber keindahan (estetik) itu sendiri.
Diantara banyak kesenian tersebut, Gamelan Balaganjur yang dimainkan oleh
sekaa gong Balaganjur yang terdiri dari warga sekaa truna secara emperikal
mengandung nilai satyam di dalamnya. Hal tersebut dapat dilihat dari Gamelan
Gong Balaganjur digunakan sebagai gamelan pengiring yajna. Dalam konteks ini,
Gong Balaganjur adalah media sakral, dan dijadikan pelengkap upacara wali.
Nilai satyam yang terkandung dalam Gamelan Balaganjur sudah pasti
berhubungan dengan pelaksaan upacara yajna, khususnya Bhuta Yajna.

101
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

2) Siwam
Siwam adalah kesucian, dan identik dengan hal yang bersifat sakralistik.
Sivam sebagaimana mitologi dewa-dewi Hindu merupakan dewa tertinggi, dan
beliau sebagai yang yang melahirkan (utpeti), memelihara (sthiti) dan mapralina
(pralaya) sumber segalanya simbolisasi dari tarian Siwa Nataraja. Demikian juga
Gamelan Balaganjur identik dengan hal yang bersifat suci, seperti sebelum
pementasan Gamelan Balaganjur diberikan persembahan, penglukatan dan
upakara lainnya agar gamelan menjadikan hal yang tersucikan. Belum lagi
Balaganjar selalu dipentaskan untuk upacara Bhuta Yadnya, Tawur Kesanga,
Pecaruan dan sejenisnya sehingga semua menjadikan tersucikan.

3) Sundaram
Sundaram artinya keindahan, dan melalui keindahan seseorang akan
masuk dalam sebuah wilayah pengelaman tentang estetika. Pengalaman estetika
inilah memunculkan “rasa keindahan” yang secara tidak langsung dapat
memperhalus budhi seseorang. Rasa keindahan sebagaimana menurut teori rasa
merupakan buah dari pengalaman estetik yang akan dapat memunculkan bhava
getaran spiritual (Sukayasa,2008: 23). Dengan demikian melalui pengalaman
estetik seseorang akan dapat bertransformasi menjadi lebih baik, dan dalam
konteks ini pengalaman estetik dapat dialami oleh penabuh maupun masyarakat
Hindu di Kota Denpasar ketika melaksanakan upacara Bhuta Yajna. Sebagaimana
dijelaskan dalam lontar Prakempa dan Aji Gurnita, bahwa setiap nada gamelan
yang dimainkan sesungguhnya adalah semion suara yang dapat memanggil Ista
Dewata (Donder,2008).
Jadi, selain memang suara atau nada tabuh Gamelan Balaganjur yang
mengeluarkan suara yang indah, nada yang dikeluarkan juga dapat mengeluarkan
suara (gelombang) yang sesuai dengan gelombang alam semesta. Gelombang
inilah secara saintifik dapat selaras dengan nada ritmik alam yang seimbang.
Selain memang secara emik, nada komposisi tabuh dapat menghadirkan kekuatan
dewata. Selain itu, istilah estetika dalam kesenia Bali sangat dekat maknanya
dengan lengut, pangus, hidup, metaksu, adung, dan sebagainya. Dalam

102
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

lingkungan kesenian Bali ada berapa bentuk estetika, menurut Bandem (1996 :
18) ada di sebutkan, yaitu : (1) keseimbangan (simetris, sejajar): dua, tiga, empat,
lima, delapan, sembilan dan seterusnya. (2) campuran: terdiri dari berbagai unsur
yang disatukan ke dalam satu wadah: mozaik, prembon, campur sari dan
sebagainya. (3) totalitas (saling keterkaitan) sehingga memberikan kepuasan
yang lengkap, meliputi : kenikmatan bayu (energy), sabda (voice or sound), idep
(thought). (4) rame (riuh rendah, hiruk pikuk). (5) suwung atau sunia atau kosong.
Kelima bentuk estetika tersebut merupakan prinsip yang terefleksikan pada saat
penabuh memainkan Gamelan Balaganjur pada ritual Bhuta Yajna di Kota
Denpasar. Untuk lebih jelaskan akan diuraikan bentuk estetika Hindu yang
diterapkan, seperti berikut.

1) Keseimbangan
Keseimbangan ini sangat penting depertahankan dalam dunia berkesenian.
Keseimbangan merupakan prinsip estetik yang mendasar, terlebih dalam Gamelan
Balaganjur. Penabuh ketika memainkan instrumen Balaganjur selalu
menunjukkan keseimbangan irama masing-masing instrumen yang berbeda
iramanya tetapi dengan keteraturan irama yang seimbang. Bunyi instrumen
pongang, reyong, kendang, cengceng, bende, kempur dan gong besar semua harus
dapat memepertahankan keseimbangan ketukan nada agar menghasilkan
perpaduan instrumen yang indah. Perpaduan dari berbagai instrumen Balaganjur
akan dapat memberikan efek keseimbangan diri bagi pelaku seni dan penikmat.
Instrumen tersebut dianalogikan sebagai instrumen (indria) yang ada dalam dir
manusia yang harus diseimbangkan dengan baik agar manusia dapat mencapai
keindahan, harmoni dan selaras dalam kehidupan.

2) Campuran
Bentuk keindahan yang selanjutnya adalah campuran yang terdiri dari
gabungan dari berbagai unsur yang berbeda tetapi menjadi satu kesatuan yang
indah. Gamelan Balaganjur merupakan wadah (mozaik) berkesenian yang di
dalamnya ada beragam bentuk dan bunyi dari berbagai instrumen. Berbagai
instrumen yang dimainkan oleh penabuh terdiri dari bebagai instrumen dan nada

103
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

atau bunyi yang berbeda tetapi dipadukan dengan baik hingga memunculkan
sebuah nada yang indah dan penuh dengan semangat. Makna dari perbedaan
selanjutnya dipadukan akan dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi
penabuh Gamelan Balaganjur. Perbedaaan (kebhinekaan) adalah sebuah
kewajaran dan perbedaan adalah keindahan. Dengan demikian semangat
multikulturalisme akan terbangun dalam diri pelaku kesenian Balaganjur
demikian juga yang menikmati kesenian tersebut.

3) Totalitas
Totalitas dalam konteks bentuk esetik adalah semangat yang membawa
pada kepuasan sabda, bayu dan idep. Secara mendasar gamelan Balaganjur
merupakan bentuk kesenian yang dapat memberikan kepuasan dan menjadikan
manusia semangat dan termotivasi dalam berkehidupan. Sebagaimana diketahui
bahwa gamelan ini tergolong jenis gamelan dengan irama yang varitaif, terkadang
melonjak keras dan cepat terkadang lembut dengan irama cengceng dan kendang
serta reyong yang serasi dan indah. Prinsip totalitas yang dimunculkan dalam
gamelan ini dapat memberikan kepuasan baik kepuasan sabda (suara) yang dapat
memberikan bayu (tenaga/semangat) dan idep (ketenangan pikiran).

4) Rame
Bentuk rame (ramya) merupakan prinsip yang mendasar dalam gamelan
Balaganjur. Meskipun isntrumennya sedikit tetapi nada atau irama gamelan yang
dimunculkan selalu terdengar rame, riuh dan membawa magnet tersendiri
sehingga menjadi hiruk pikuk. Balaganjur sejatinya sebuah musik tradisional Bali
yang selalu dapat memunculkan rame dalam situasi dan kondisi eksternal dan
internal diri. Bentuk rame yang dimunculkan melalui instrumen Balaganjur akan
dapat memberikan dampak bagi warga sekaa bahwa kehidupan adalah dipenuhi
dengan ramya yang sebenarnya adalah keindahan.

5) Suwung
Bentuk suwung atau sunya adalah kekosongan atau sepi, sunyi dan
sejenisnya. Suwung merupakan bentuk estetik dalam kesenian Bali yang sangat

104
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

prinsip. Hal tersebut dikarenakan suwung merupakan titik jeda setelah rame atau
ramya. Suwung merupakan puncak pengalaman estetik bagi Penabuh Gamelan
Balaganjur atau pelaku seni setelah menikmati bentuk keriuhan, dan pada saat
suwung ini akan dirasakan keindahan yang luar biasa berupa keheningan.
Keheningan ini adalah puncak dari berbagai bentuk keindahan sebelumnya.
Keheningan ini akan dapat dirasakan penabuh Balaganjur sebagai pelaku seni
demikian juga masyarakat Hindu di Kota Denpasar sebagai penikmat seni.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa suwung merupakan pucak dari pada
pengalaman estetika yang berwujud pada keheningan bathin. Keheningan ada
dalam fase jeda atau berakhirnya tabuh Balaganjur, yang sebelumnya ada fase
riuh yang membangkitkan ekstase emosional. Dengan kembali kepada keheningan
sebagai pertanda bahwa telah berakhirnya upacara yajña dengan harapan
harmonis sakala dan niskala.
Beberapa prinsif estetika tersebut di atas selalu dimunculkan dalam setiap
pementasan Gamelan Balaganjur. Prnsif keseimbangan (simetris, sejajar): dua,
tiga, empat, lima, delapan, sembilan dan seterusnya selalu dimunculkan dalam
nada dan ritme Balaganjur yang muncul dalam lebut dan kerasnya nada. Artinya,
tempo nada keras dan cepat akan dilanjutkan dengan nada pelan dan lebut. Keras-
lembut tentunya sebagai sebuah prinsif keseimbangan. Selanjutnya prinsif
campuran adalah terdiri dari berbagai unsur yang disatukan ke dalam satu wadah:
mozaik, prembon, campur sari dan sebagainya. Pun demikian Gamelan
Balaganjur merupakan satu kesatuan nada instrumen yang dipadukan sehingga
melahirkan ritme gamelan yang indah.
Adapun prinsif totalitas (saling keterkaitan) sehingga memberikan
kepuasan yang lengkap, meliputi : kenikmatan bayu (energy), sabda (voice or
sound), idep (thought). Nampaknya gamelan Balaganjur menyiratkan ekspresi
totalitas karena gamelan tersebut dapat membangkitkan sabda, bayu dan idep.
Selanjutnya prinsif ramya atau rame (riuh rendah, hiruk pikuk) pun nampak pada
Gamelan Balaganjur dan terakhir adalah prinsif suwung atau sunia atau kosong.

105
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

3. PENUTUP
Berdasarkan rumusan masalah dan penyajian hasil penelitian di atas, dapat
disimpulkan bahwa bentuk Gamelan Balaganjur yang dipentaskan pada saat ritual
Bhuta Yajna terdiri dari beberapa instrumen, seperti gong, bende, reyong, kajar,
tawa-tawa, kempli, ceng-ceng kopyak dan kendang. Selanjutnya penabuh
umumnya biasa-biasa saja sebagai pengiring upacara yajna, dan tidak
sedemonstratif seperti Balaganjur inovatif. Selanjutnya, estetika seni dalam
pementasan Gamelan Balaganjur pada ritual Bhuta Yajna di Kota Denpasar tidak
terlepas dari estetika dalam kesenian Hindu, seperti satyam, siwam dan sundaram.
Selain itu, nilai estetika seni dalam Gamelan Balaganjur berhubungan dengan
lima prinsif, yakni prinsif keseimbangan, campuran, prinsif totalitas, prinsif
ramya atau rame dan terakhir adalah prinsif suwung atau sunia atau kosong.

Daftar Pustaka
Bandem I Made.2013. Gamelan Bali Diatas Panggung Sejarah. Denpasar:
STIKOM Bali.
,1996. Teori Estetika Hindu Dalam Berkesenian. Denpasar: ISI.
Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Sosial Format-format Kuantitatif
dan Kualitatif. Surabaya : Airlangga Universitas Press.

Covarrubias, Meguel.2013. Pulau Bali Temuan Yang Menakjubkan. Denpasar:
Udayana Press.
Dibia, I Wayan. 2012. Geliat Seni Pertunjukan Bali. Denpasar : Buku Arti.
.2008. Mongkah Tanah Mungkah Lawang Biografi Seniman I Wayang
Geria. Yogyakarta: Kanisius.
Djelantik, A.A Made.1999. Pengantar Dasar Ilmu Estetika dan Falsafah
Keindahan. Denpasar: STSI.
Friedman,Waramstrong.1998. The Estetik of Dance and Culture Studies. USA.
New York University.
Granoka. Oka.1998. Sastra Dalam Seni. Denpasar: Pustaka Larasan.
Hasbullah. 2012. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Hamalik, Hassan.2001. Metode Penelitian Pendidikan Teori dan Aplikasi.
Yogyakarta: LKIS.

106
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Hill, Olson.2011. Teory of Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Iqbal, Hasan. 2002. Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta : Ghalia
Indonesia.

Kaelan.2005. Teori Semiotika Teori dan Aplikasi. Yogyalarta: Pustaka Pelajar.
Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta :
Gramedia.
Liang Gie, The. 2004. Filsafat Keindahan. Yogyakarta : Pubib.
Mestika, Zed. 2004. Metodelogi Penelitian Kepustakaan. Jakarta : Yayasan Obor
Indonesia.

Moleong, Lexy S. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Poerwadarminta.2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Redana I Made.2006. Metodelogi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Denpasar:
IHDN.
Sri Agustini, Ni Komang Ayu. 2013. Uparengga Pada Upacara Pakala-kalaan
(Pawiwahan) di Banjar Batuaji Kawan. Denpasar: UNHI.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta.
Sukayasa. I Wayan.2008. Rasa Pengalaman Estetik. Surabaya: Paramita.
Sonvir.Dr.2011. Niti Sathaka Sloka Kebajikan. Surabaya: Paramita.
Scahari. Agus.2012. Estetika Makna, Simbol Daya.Bandung: ITB.
Titib, I Made.2006. Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Dalam Kehidupan.
Surabaya: Paramita.
Triguna, Ida Bagus Gd.2010. Estetika Hindu. Denpasar: Widya Dharma.
Triguna, Ida Bagus Gd.dkk.2003. Estetika Hindu dan Pembangunan Bali.
Denpasar: Widya Dharma.
Yudabakti, I Made, dan Watra, I Wayan. 2007. Filsafat Seni Sakral dalam
Kebudayaan Bali. Surabaya : Paramita.

107
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

PENDIDIKAN ESTETIKA SENI
DALAM PEMENTASAN WAYANG SAPUH LEGER
PADA UPACARA BAYUH OTON

oleh:
I Ketut Muada, S.Sn.,M.Sn.

Abstract

Wayang Sapuh Leger as a sacred art is used as a medium ruwatan. In
Bali, the ceremony ruwatan called Bayuh oton done to nunas tirta (holy water) so
that the story of the puppet performances become less important dimension. As a
result, according to the mastermind that this performance be quiet spectators,
even without an audience because the main priority is tirta penglukatan puppets,
open the values contained in the wayang stories. This is why people rarely enjoy
Wayang Sapuh Leger Bali as a medium of education art.
Keywords: Wayang Sapuh Leger, education art

1 PENDAHULUAN
Dalam fungsinya sebagai seni sakral (wali) wayang kulit seringkali
dipentaskan dalam sebuah upacara keagamaan Hindu di Bali. Watra (2006:45-46)
menyatakan bahwa wayang dapat dipentaskan dalam setiap upacara panca
yadnya. Salah satunya adalah Wayang Sapuh Leger yang dipentaskan pada saat
upacara Bayuh Oton. Upacara bayuh oton adalah jenis upacara manusa yadnya
yang dimaknai untuk meruwat anak yang lahir di Tumpek Wayang.
Demikian juga dengan tempek wayang merupakan tumpek yang terakhir
dari enam jenis upacara tumpek yang ada. Wuku Wayang adalah wuku yang kedua
puluh tujuh merupakan kombinasi antara sanisncara/sabtu (hari terakhir dari
sapta wara), kajeng (terakhir dari tri wara), dan kliwon (terakhir dari panca
wara). Tumpek ini diyakini merupakan tumpek yang paling keramat di antara
tumpek-tumpek yang lainnya terutama dari sudut pandang magis. Tumpek ini, juga
disebut tumpek ringit. Oleh karena itu orang yang lahir pada tumpek ini demi
keselamatannya harus diruwat atau diupacarai bayuh oton dengan pertunjukan
wayang Sapuh Leger. Ini merupakan kepercayaan orang Bali sehingga tidak perlu
dilakukan diskusi dalam kekacauan akal karena akal memang tidak menjangkau

108
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

sebuah kepercayaan. Sebagaimana akal orang-orang beragama yang harus
mempercayai agamanya adalah wahyu Tuhan karena apapun wahyu Tuhan itu
haruslah diterima sebagai sebuah kepercayaan seperti yang dilakukan oleh agama
ketika agama harus mempercayau adanya Tuhan.
Lakon yang diambil dalam pementasan wayang Sapuh Leger tersebut
adalah purwakala, yang bercerita tentang Sang Hyang Kumara dan Bhatara Kala,
keduanya adalah putra Bhatara Siwa. Oleh karena wayang Sapuh Leger tersebut
merupakan wali maka sesaji atau bebantennya harus lengkap (jangkep).
Pergelaran wayang ini diadakan di rumah orang yang diupacarai dan gamelan
yang dipakai hanya berupa empat gender dengan lama pementasan tiga jam.
Bahasa yang digunakan umumnya, bahasa kawi, kecuali para punakawan
memakai bahasa daerah. Wayang Sapuh Leger hanya boleh dipergelarkan oleh
seorang dalang yang telah disucikan dan telah memahami puja mantra sakralisasi
diri, sesajen-sesajen dan juga menguasai beberapa Dewastawa yang ada
hubungannya dengan pembuatan tirta pangruwatan atau pabayuhan. Dalang yang
mampu mempergelarkan wayang Sapuh Leger tersebut biasanya mendapat gelar
Ki Mangku Dalang atau Sang Empu Leger dari masyarakat (Haryanto:1988:151-
152). Artinya, tidak semua dalang boleh mementaskan wayang sapuh leger,
walaupun berdasarkan permintaan masyarakat karena adanya persyaratan tersebut.
Wayang Sapuh Leger sebagai seni sakral digunakan sebagai media
ruwatan. Di Bali, upacara ruwatan atau disebut bayuh oton dilakukan untuk
nunas tirta (air suci) sehingga cerita dari pementasan pewayangan tersebut
menjadi dimensi yang kurang penting. Akibatnya, menurut para dalang bahwa
pementasan ini menjadi sepi penonton, bahkan tanpa penonton karena yang
diutamakan adalah tirta penglukatan wayang, buka nilai-nilai yang terkandung
dalam cerita wayang. Hal inilah yang menyebabkan jarang sekali orang Bali
menikmati Wayang Sapuh Leger sebagai media pendidikan. Berbeda dengan
wayang kulit pada umumnya yang menggunakan cerita dari Mahabharata atau
Ramayana.

109
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

2 PEMBAHASAN
2.1 Bentuk Pementasan Wayang Sapuh Leger
Wayang Sapuh Leger adalah pertunjukan wayang kulit parwa yang bersifat
sakral untuk upacara manusa yadnya. Pertunjukan ini dipentaskan dalam upacara
khusus (bayuh oton), yaitu upacara untuk anak yang lahir pada tumpek wayang.
Pementasan ini bertujuan untuk melenyapkan malapetaka yang mungkin akan
menimpa anak bersangkutan dari pengaruh buruk (kecemaran) tumpek wayang.
Dalam kaitannya dengan seni sakral (wali) sesungguhnya ada tiga jenis
pertunjukan wayang yaitu, Wayang Sapuh Leger, Wayang Lemah, dan Wayang
Sudamala. Ketiganya dianggap sakral karena memiliki persamaan fungsi yaitu
ngruwat. Namun diantara ketiga wayang itu, Wayang Sapuh Leger yang paling
istimewa. Kenyataan tersebut didukung oleh ciri-ciri spesifik yang dimilikinya
sebagai berikut.
1) Wayang Sapuh Leger menggunakan tokoh antagonis, yaitu Bhatara
Kala sebagai tokoh kuncinya. Bhatara Kala dalam mitosnya diyakini
ada dan sangat menakutkan serta berbahaya. Mitos ini mengisahkan
tentang kelahiran dan perjalanan Dewa Kala (anak Dewa Siwa) yang
memangsa anak/orang yang lahir pada wuku/tumpek wayang;
2) Alat-alat perlengkapan dan sesajen (banten) meliputi, pohon pisang
(gedebong) berikut buah dan jantungnya (biu lalung) serta
perlengkapan sarana wayang seperti layar (kelir), lampu (blencong),
kotak wayang (kropak) semuanya dililit dengan benang tenun (tukelan)
berisi uang bolong (uang kepeng Cina) 250 biji. Seluruh perangkat
wayang dan dalang termasuk iringannya (gamelan Gender)
disediakan sesajen yang besar dan rumit;
3) Wayang Sapuh Leger hanya boleh dipergelarkan oleh seorang dalang
yang telah disucikan (Ki Mangku Dalang/ Sang Empu Leger) dan
memahami isi lontar Dharma Pewayangan dan lontar Sapuh Leger.
Selain itu seorang dalang harus paham akan puja mantram sakralisasi
diri dan sesajen-sesajen serta menguasai beberapa dewastawa yang ada
hubungannya dengan pembuatan air suci (tirta panglukatan).

110
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Dari keistimewaan itulah menyebabkan Wayang Sapuh Leger dibedakan
dengan dua jenis pertunjukan wayang yang lainnya sehingga dikatakan paling
angker dan paling berat, baik bagi seorang dalang yang akan mementaskannya
maupun bagi yang berkepentingan. Selain itu upacara ini tergolong upacara yang
cukup rumit. Adapun alat-alat yang dipergunakan menurut I Made Sidja (dalam
Wicaksana, 1997:157) sebagai berikut.
1) Gedebong (pohon pisang) tempat memancangkan wayang, harus
pisang kayu berikut jantungnya (biu lalung) berbelitkan benang
tukelan (benang tenun) dan berisi uang bolong Cina sebanyak 250
keping.
2) Di hadapan kelir sebelah kiri, dipancangkan satu Sanggar Tutuan
(tempat pemujaan Dewa Siwa Raditya) disertai peji uduh dan biu
lalung, diberi berbelit benang tukelan/tenun beserta uang bolong 250
keping. Disitu dipanjatkan seonggok sesajen (suci asoroh, ajuman
putih kuning).
3) Di hadapan kelir disajikan seonggok sesajen antara lain sorohan,
pebangkit asoroh, nasi merah (penek bang) dengan daging ayam
wiring dipotong-potong winangun urip, sampian andong-bang dan
beberapa tebasan, terutama tebasan sapuh leger, sebuah tumpeng yaitu
nasi berbentuk kerucut berpancangkan ranting beringin, berisi ayam
panggang, beberapa keping jajan dan sesisir pisang.
4) Sesajen untuk Dewa Kala, tetebasan tadah kala yaitu sebentuk nasi
segitiga beralasan daun candung dilampir bawahi sepotong kain poleng
dan kepala nasi segitiga dilumuri darah babi, lauk urab merah urab
putih.
5) Sesajen untuk anak yang diruwat, tetebasan lara melaradan yaitu nasi
kuning dalam takir, daging balung dan telur dadar. Daksina penebus
baya (dosa), daksina gede serba delapan (kelapa 8 butir, telur 8 butir,
beras 8 takar, gula aren 8 biji, sarma atau uang 8100 kepeng, setandan
pisang, segabung sirih berpancangkan sehelai janur, tuak, arak, dan
berem).

111
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

6) Sesajen untuk wayang dan dalang, suci selengkapnya, daging itik
putih, peras, ajuman, canang gantal, lenga wangi burat wangi, uang
bolong Cina (sarma) 1700 kepeng, daksina gede serba empat dan
sarma 1132 kepeng.

Lontar Kala Purana juga mencantumkan jenis-jenis upacara yang
mendekati sama dengan jenis sarana upacara tersebut di atas, seperti termuat
dalam bait 74-81 sebagai berikut.
”...Iki widhi-widhanan pabanten panglukatan Mpu Leger, lwirnya;
Angadeg- aken Sanggar Tutuan 1, munggah suci duang soroh, genep
salanlan ing pabanten suci; Ring sornya pabangkit asoroh, genep
maulam itik mabe tutu genep salanlan-ing suci, sasalah artha 1700;
Bantenne sornya, penek putih 5, iwaknya sata putih winangun urip;
Sanggah Cucuk 2, genahang ring tanggun-tanggun kelire, malamak
magantung-gantungan, munggah banten tumpeng pada madanan,
kembang pahyas, lenga wangi, burat wangi, samanya sakabwatan;
Mwang banten sang mawayang, suci asoroh, saruntutanipun genep,
iwaknya itik mabe tutu, saha pula-gembal, masekar sataman, pajegan 1,
canang pangkonan, daksina sarwa 4, maartha 500, pras panyeneng,
segehan agung”

Terjemahan:

Ini adalah petunjuk Widdhi mengenai banten Panglukatan Mpu Leger,
yaitu: mendirikan Sanggar Tutuan, haturkan suci 2 soroh, lengkap
dengan seluruh isi banten suci tersebut; di bawahnya babangkit 1 soroh,
lengkap dengan rangkaian banten babangkitnya, uangnya 4500/8500; caru
di bawah Sanggar Tutuan, Sata Manca Warna, diolah sesuai dengan urip
kulit dan dagingnya, nasinya mengikuti urip lima tempat; banten tebasan
bagi yang melaksanakan oton mendirikan lahapan berujung tiga,
menghaturkan suci satu soroh lengkap dengan daging bebek betutu,
lengkap dengan runtutan banten suci, menggunakan uang 1700; banten di
bawahnya, penek putih 5 ikannya ayam putih yang diolah berdasarkan
urip; Sanggah cucuk 2, ditempatkan di samping kanan dan kiri kelir,
digunakan lamak dan gantung-gantungan, di sana dihaturkan banten
tumpeng masing-masing satu soroh, bunga payas, minyak wangi, burat
wangi, semuanya satu rangkaian; juga banten bagi yang mewayang,
suci 1 soroh lengkap dengan seluruh runtutannya, ikannya bebek betutu,
juga pula gembal, bungan setaman, pajegan 1, canang pangkonan,
daksina serba 4, diisi uang 500, pras panyeneng dan segehan agung.

Sementara itu, menurut Wikarman (1998:32) bahwa upacara bayuh oton
dengan pementasan wayang kulit Sapuh Leger memerlukan jenis upakara yang

112
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

jauh lebih besar dan harus nanggap wayang serta diselesaikan oleh Dalang yang
ahli untuk itu. Dalang itu disebut Sang Mpu Leger. Adapun jenis upakara
bebanten yang diperlukan terdiri atas beberapa jenis sebagai berikut.
1. Mendirikan sanggah tutuan, dengan persembahan suci 2 soroh.
2. Di bawahnya dipersembahkan 1 soroh babangkit lengkap dengan guling
dan gelar sanga.
3. Caru Panca Sata 1 (satu) unit.
4. Banten tebasan bagi yang dibayuh.
5. Mendirikan Laapan sudut 3 dengan mempersembahkan suci 1 soroh,
sasantun 1, uang kepeng, sebuah nasi penek putih lima buah, dengan
daging ayam putih.
6. Sebuah sanggah cucuk 3 (tiga) buah ditempatkan pada batas kelir wayang
2, dengan lamak gantung-gantungan, banten dananan, kembang payas,
lenga wangi, burat wangi.
7. Banten untuk wayang; suci 1 soroh dengan dagingnya itik.
8. Satu pulagembal, sekar taman, canan pajengan, canang pengraos.
9. Sesantun serba empat, uang kepeng 1.700
10. Peras, Penyeneng, Segehan agung ditempatkan pada sebuah dulang,
dagingnya betutu.
11. Tirta panglukatan Sang Mpu Leger ditempatkan pada sebuah dulang,
dagingnya betutu.
12. Bunga 11 warna, duri-duri, sam-sam, dan wija kuning.

2.2 Pendidikan Estetika Hindu Dalam Pementasan Wayang Sapuh Leger
Menemukan nilai-nilai pendidikan estetika Hindu dalam pementasan
wayang kulit sapuh leger haruslah dikatakan sebagai pekerjaan yang tidak mudah.
Dikatakan demikian karena konsep estetika Hindu terdiri atas dua proposisi atau
sub-konsep, yaitu pendidikan dan estetika Hindu; yang keduanya bukanlah bisa
dirumuskan berdasarkan pengalaman empiris belaka. Di samping itu kedua sub-
konsep tersebut juga merupakan bukan bidang yang sempit, melainkan sub-
konsep tersebut merupakan dua bidang garapan ilmu yang sangat luas untuk bisa
dibahasakan secara rinci. Kedua sub-konsep tersebut merupakan bahasan yang

113
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

bersifat illata, bukan hanya abstrakta, apalagi konkreta karena pengertian
pendidikan estetika seni dalam kebudayaan Hindu memiliki rumusan yang
beragam pada setiap bangsa dan pada setiap zaman. Demikianjuga dengan
keluasan dan kedalaman pengertian dan pemahaman kedua sub-konsep tersebut
ditunjukkan oleh variabel dengan indikator yang berbeda-beda, bahkan apabila
tidak berlebihan dapat dikatakan tidak pernah sama. Setidak-tidaknya hal ini dapat
ditelusuri melalui dinamika dan dialektika konsep estetika yang merujuk pada
beberapa terma teoretis estetik.
Mengacu pada Dibia (2003: 99) menjelaskan bahwa satyam mencakup
nilai kejujuran, ketulusan dan kesungguhan. Adapaun sivam mencakup nilai
kesucian dan sundaram merupakan keindahan. Ketiga konseptual tersebut
memiliki keterhubungan yang kuat sehingga estetika dalam pementasan kesenian
di Bali memiliki nilai yang berbeda dan identik dengan nuansa religius.
Berdasarkan pada deskripsi tersebut, estetika yang dilihat sebagai filsafat seni,
karya seni boleh dipandang sebagai tanda, karena dibuat dengan maksud
menyampaikan sesuatu, dan tanda secara wajar dengan sendirinya menyampaikan
sesuatu adalah lambang atau simbol. Berkenaan dengan hal tersebut, berikut
diuraikan pendidikan estetika Hindu dalam pementasan Wayang Sapuh Leger
pada upacara Bayuh Oton.

1) Pendidikan Estetik Berpusat Kebenara (satyam)
Sebagaimana uraian Dibia (2003), nilai estetika seni Hindu berdasarkan
pada beberapa prinsif. Pertama, yakni prinsif satyam atau kebenaran. Pementasan
wayang kulit Sapuh Leger dalam bauh oton mengandung prinsif satyam. Hal
tersebut berangkat dari konsep bahwa pementasan tersebut adalah media
pengruatan. Pengruatan berasal dari kata ”ruat” yang memiliki padanan
terminologi sebagai penyucian atau pembersihan diri dari segala kekotoran (mala).
Selain itu, pementasan wayang kulit Sapuh Leger sebagai ritual keagamaan
termasuk salah satu dari manusa yadnya yang berhubungan langsung dengan
kelahiran anak khususnya yang jatuh pada hari atau wuku wayang dalam sistem
pawukon kalender Bali. Sebagai sebuah sistem upacara, wayang kulit sapuh leger
dianggap lahir sebagai salah satu manifestasi dan usaha legitimasi ritual

114
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

keagamaan dalam kerangka pengajaran kerohanian (Hindu). Asumsi ini
didasarkan pada pertama, terlaksananya upcara lukatan/ruwatan (penyucian),
justru setelah didahului dengan pergelaran wayang kulit; kedua, lakon yang
digunakan sebagai dasar centera adalah lakon khusus yaitu murwakala (Dewa
Kala), di mana lakon tersebut dikeramatkan oleh orang Bali karena ia termasuk
sastra agama (Itihasa) yang bersumber pada beberapa lontar di antaranya,
Siwagama. Sapuh Leger dan Tantu Pagelaran; dan ketiga, penggunaan sarana
upakara (sasajen) dalam j umlah yang besar dan jenisnya cukup banyak, rinci,
dan rumit, halmana bentuk-bentuk sasajen tersebut mengukuhkan wayang kulit
Sapuh Leger sebagai bagian dan upacara keagamaan karena dalam
pelaksanaannya masyarakat Bali lebih mengedepankan unsur upakara (ritual) dan
tiga kerangka dasar penghayatan agama Hindu, yaitu tatwa (filsafat), susila
(etika), dan acara (ritual).
Dengan demikian pementasan wayang kulit Sapuh Leger yang
merefleksikan satyam, yakni kaitannya dengan upacara bayuh oton didasarkan
atas tiga hal, yaitu (1) keyakinan akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa; (2)
keyakinan akan adanya kekuatan jahat (bhuta) yang berpengaruh pada setiap
kelahiran; dan (3) merupakan salah satu implementasi dari ajaran bhakii marga.
Hal ini sejalan dengan pandangan Legiawan (2004) yang mengatakan bahwa nilai
pendidikan tattwa dalam pementasan Tan Rejang di Batuan, antara lain (1)
keyakinan akan kebesaran Tuhan; (2) keyakinan akan adanya kekuatan yang jahat
(Bhuta), yang dalam hal ini diwakili oleh Ratu Gede Nusa, juga keyakinan akan
adanya kekuatan baik (Dewa) yaitu Bhatara Wisnu yang bersthana di Pura Puseh;
dan (3) merupakan implementasi pelaksanaan ajaran Bhakti Marga.
Etika dalam agama Hindu meliputi tiga aspek, yaitu aspek pikiran,
perkataan., dan perbuatan (Panitya Tujuh Belas, 1986). Hindu mengajarkan bahwa
apa yang dihasilkan oleh pikiran (manacika) harus selalu suci (parisudha), apa
yang keluar dan perkataan harus suci (wacilca parisudha), demikian juga
perbuatan juga harus disucikan (kayika parisudha). Pementasan Wayang Sapuh
Leger mempunyai fungsi untuk mendidik umat selalu berada dalam kesucian
karena pada dasamya wayang kulit sapuh lerger termasuk sastra dan seni sakral.
Wayang Sapuh Leger dipentasakan dalam kaitannya dengan upacara bayuh oton

115
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

merupakan upaya mendidik agar masyarakat memahami bahwa setiap orang lahir
dengan membawa pengaruh dan buruk. Pengaruh baik dan buruk ini berpengaruh
terhadap kelangsungan hidup yang bersangkutan sampai akhir hayatnya.
Umat yang menonton pertunjukan tersebut juga diarahkan agar tetap
menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Bentuk pementasan dari
pertunjukan im cukup sederhana sehingga menggiring pikiran manusia dalam
pikiran yang suci. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa orang yang
menyaksikan pementasan wayang kulit sapuh leger dijauhkan dari pikiran-pikiran
yang negatif atau porno, bandingkan dengan tari hiburan lainnya seperti joged
bwnbung, tentu akan sangat berbeda. Artinya, aspek berpikir suci (manacika
parisudha) diajarkan dalam pementasan wayang kulit sapuh leger. Pementasan
wayang kulit sapuh Ieger dalam upacara bayuh oton, bukan sematamata
ditujukan kepada yang menyelenggarakan, tetapi juga bagi masyarakat penonton.
Mengingat di dalamnya sarat dengan pesan moral agar mereka bisa mengambil
tauladan dalam bertingkah laku dalain kehidupan sehani-hari.
Wayang kulit sapuh leger adalah seni pertunjukan dengan lakon yang
mengetengahkan dialog di dalamnya. Dialog tersebut terjadi antara tokoh-tokoh
wayang misalnya, Bhatara Kala, Bhatara Guru, Twalen, dan lain-lain. Dialog itu
tentunya berdasarkan norma-norma misalnya, ada sor-singgih basa, tata krama
bertutur kata yang merupakan bagian utama dipelajari dalam etika Hindu dan
kebudayaan Bali sebagaimana dijelaskan dalarn Sarasarnuccava, sioka 75 tentang
etika bertutur kata, yakni tidak mencaci maki, tidak berkata-kata kasar, tidak
menfitnah, dan tidak ingkar terhadap janji. Etika selalu dikaitkan dengan
hubungan manusia dengan manusia lainnya, hidup serasi, selaras, dan seimbang di
dalam masyarakat Bertutur kata merupakan hal yang harus diperhatikan dalam
berintraksi dengan masyarakat lainnya karena kata-kata menduduki peranan
penting yang darinya lahir kebahagiaan juga derita bagi manusia Hal ini
dijelaskan dalam kakawin Nitisastra sebagai berikut.
wasista nimitanta manernu laksmi/
wasista nimitanta manumu duhka/
wasista nimitanta manemu mitra/
wasista nimitanta pati kapangguh/

116
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Terjemahan:

Dan perkataan akan mendapatkan kerahayuan,
Dan perkataan akan mendapatkan kedukaan,
Dan perkataan akan mendapatkan sahabat,
Dan perkataan akan mendapatkan kematian.

Sloka di atas menunjukkan betapa pentingnya kedudukan tutur kata dalam
kehidupan bermasyarakat. Inilah nilai pendidikan yang diajarkan kepada umat
Hindu dalam pementasan wayang kulit sapuh leger, yaitu bertutur kata yang indah
dan menyejukkan, dan lebih penting lagi mampu berwacana serasi dan selaras
dengan situasi dan kondisi lingkungan. Etika hindu yang ketiga adalah kaya atau
tingkah laku, perbuatan. Tingkah laku yang baik adalah alat yang baik untuk
menjaga dharrna. Manusia yang bertata susila ditunjukkan oleh tingkah lakunya
dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan alam sekitarnya.
Pengendalian diri merupakan hal utama dalam etika Hindu, baik dalam beretika
maupun dalam kehidupan rohani, Yoga. Perbuatan yang terkendali adalah
perbuatan yang selalu dikontrol oleh pikiran yang suci.

2) Pendidikan Estetik Berpusat Kesucian (Siwam)
Aspek pendidikan estetika Hindu selanjutnya berkenaan dengan aspek
siwam yakni kesucian. Dalam aspek estetika Hindu, keindahan selalu
berhubungan dengan kesucian. Sebab keindahan tidak semata-mata suatu objek
yang mengandung aspek estetik, tetapi adalah sebuah ritus terhadap sumber
keindahan. Atas dasar tersebut, bagi masyarakat Bali berkesenian adalah yajna
kepada Ida Sang Hyang Widhi sebagai sumber keindahan. Pementasan wayang
kulit sapuh leger termasuk jenis upacara manusa yadnya yang dilaksanakan bagi
mereka yang lahir pada saniscara (sabtu) wuku wayang (tumpek wayang). Dalam
pementasan Wayang Sapuh Leger dalam upacara bayuh oton setidaknya ada
beberapa rangkaian upacara yang mesti dilakukan yang merefleksikan nilai
”kesucian”, antara lain: prayascitta, pabhyakalan. pementasan wayang sapuh
leger. panglukatan Mpu Leger, persembahyangan (muspa), dan rangkaian lain
yang melengkapinya. Dalam hal ini tentunya dibutuhkan persiapan yang matang
dari sang ngawangun karya (orang yang melaksanakan upacara) demi suksesnya
upacara tersebut. Sementara itu pelaksanaanya telah disesuaikan menurut dresta

117
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

atau kebiasaan yang berlaku, yakni purwadrsta (kunadresta), lokadrsta,
desadrsta, dan sastradrsta.
Purwadresta adalah suatu pandangan atau tradisi yang telah berlangsung
dari dahulu yang masih hidup di masyarakat; lokadresta adalah suatu pandangan
atau tradisi yang hidup pada suatu daerah dan dipelihara secara lokal; desadresta
adalah suatu pandangan atau tradisi setempat yang masih hidup dan dipelihara
oleh masyarakatnya; dan sasira-dresta adalah suatu pandangan atau tradisi dan
segi ajaran-ajaran atau petunjuk-petunjuk sastra agama Hindu (Majelis Pembina
Lembaga Adat Propinsi Bali,1992:13). Artinya, pementasan wayang kulit Sapuh
Leger dilaksanakan sebagai usaha sadar dan terencana dari umat Hindu untuk
mengusahakan kebahagiaan bagi anak dan keluarganya melalui ”jalan kesucian”.
Telah dikemukakan di atas bahwa suatu pertanda kemajuan apabila sebuah
upacara ritual tidak saja dimaknai sebagai tradisi yang begitu saja harus
dilaksanakan, tetapi juga sebagai media pendidikan bagi umat untuk
meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya terhadap ajaran agama Hindu
yang selama ini mereka anut. Dalam upacara bayuh oton dengan pementasan
wayang kulit sapuh leger sesungguhnya telah tercipta suasana belajar yang
mendorong terjadinya proses pembelajaran. Hal ini dapat diamati dari persiapan
pelaksanaan upacara, proses upacara hingga akhir dari upacara tersebut.
Setidaknya, dalam upacara tersebut telah terjadi proses pembelajaran manajemen,
yaitu cara mengatur proses upacara sehingga dapat berlangsung dengan tertib dan
sukses.
Dalam upacara ini umat juga dididik untuk berinteraksi dengan Iingkungan
sosialnya di mana kebersamaan dan kegotongroyongan terus-menerus dipupuk
dan dibina sehingga upacara dapat berlangsung dengan baik dari awal hingga
berakhimya upacara misalnya, bersama-sama membuat sarana-sarana upakara dan
menjalankan proses upacara tersebut. Secara tidak langsung dalam upacara ini,
juga terjadi proses transfer ilmu dan pengetahuan dari orang-orang yang memiliki
pengetahuan dan pengalaman mengenai upacara bayuh oton dengan pementasan
wayang kulit sapuh leger kepada umat lain yang belum mengetahuinya. Proses
transfer ilmu misalnya, dari seorang tapini kepada ibu-ibu tentang sarana upakara
bayuh oton dengan pelaksanaan wayang kulit sapuh leger.

118
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Sementara itu, pementasan wayang Sapuh Leger sendiri sebagai rangkaian
tak terpisahkan dalam upacara bayuh oton (khusus pada anak yang lahir di
saniscara wuku wayang) merupakan tradisi sakral yang tidak saja berfungsi
sebagai tontonan, melainkan juga sebagai tuntunan. Sejalan dengan ini Wicaksana
(1997:28) yang menyatakan bahwa masyarakat Bali cenderung setuju dengan
pendapat bahwa wayang kulit memiliki tiga makna dalam kehidupan sosial
budayanya, yaitu wayang kulit bersifat mendidik, hiburan, dan agamia. Dalam
pementasan wayang kulit sapuh leger selalu dilakonkan cerita murwakala atau
Bhatara Kala. Dalam lontar Siwagama diceritakan bahwa Sanghyang Kala lahir
dari kama (benih) Bhatara Siwa sendiri akibat birahinya kepada Bhatari
Durga/Uma. Kama itulah yang akhirya menjelma sebagai Bhatara Kala dengan
segala penggambarannya yang mengerikan dan selalu mewakili sifat-sifat
keangkaramurkaan. Sebagaimana juga diceriterakan oleh Senda (50 tahun) dalam
wawancara, 23 Mei 2009 bahwa Bhatara Kala disuguhkan sebagai raksasa
berwatak keras, menyeramkan, dan menakutkan. Dari sudut pandang etika dapat
dipahami bahwa perilaku seksual yang menyimpang atau tidak pada tempatnya
akan menghasilkan keturunan yang tidak baik. Oleh karena itu perilaku seksual
harus disakralkan melalui perkawinan, seperti dijelaskan oleh Dandra (65 tahun)
dalam wawancara, 23 Mei 2009 bahwa kegiatan seksual haruslah disahkan dalam
sebuah perkawinan sebagaimana diatur dalam tradisi Hindu, apabila tidak maka
dari kegiatan seksual itu akan lahir anak yang mirip seperti bhatara kala. Apabila
dikaitkan dengan teologi Hindu bahwa Kala adalah penjelmaan Batara Guru
dalam penampilan sebagai Kalarudra yang memiliki sifat angkara, bengis dan
kejam. Sifat ini dibedakan dengan putera Bhatara Siwa yang lain, yaitu Kumara
dan Ghanesa yang memiliki sifat kebajikan. Sesungguhnya kedua sifat itu ada
dalam diri manusia sehingga manusia disebut makhluk dewa sekaligus raksasa,
dewa ya bhuta ya. Dengan kata lain Batara Kala sebenarnya adalah aspek angkara
yang ada path diri manusia sendini, Ia diizinkan memangsa manusia yang sedang
dalam kondisi kacau, kotor, tidak suci, yaitu kondisi mental yang kalut. Dalam
kondisi mental (seseorang) yang sedang kacau, atau kotor itulah sebenarnya
Bhatara Kala berkuasa, yang pada gilirannya apabila seseorang sedang dalam
kondisi seperti itu berarti ia potensi untuk melakukan tindakan atau perbuatan

119
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

yang jahat atau tidak baik. Konsepsi ini sesuai dengan pandangan orang Bali,
bahwa sifat baik, buruk, bijak atau jahat itu hanya dapat berlaku dengan
perantaraan mental dan perbuatan manusia.
Aspek angkara digambarkan amat kuasa dan kuat. Dalam mitos
diwujudkan sebagai raksasa besar dan kuat berwujud Bhatara Kala yang tak
tertandingi oleh para dewa. Ini memberi petunjuk bahwa kuasa keteraturan,
kebaikan, kebijakan, atau aspek positif dari dewa sebenarya selalu terancam oleh
kuasa ketidakteraturan, kekacauan atau aspek negatif dalam diri manusia. Bhatara
Guru dalam mitos digambarkan hanya dapat melemahkan Kala, tetapi tidak dapat
melenyapkannya sama sekali karena Kala adalah aspek angkara atau negatif yang
bersumber dari pada dirinya juga. Secara simbolis cara melemahkan potensi
angkara atau aspek negatif dalam diri manusia diperagakan melalui pentas dengan
membatasi waktu-waktu makannya (siang dan malam hari serta kelahiran pada
tumpek wayang), ritual, dan mantram dilakukan oleh Batara Guru yang menjelma
menjadi dalang. Dengan peragaan itu berarti bahwa kuasa keangkara-murkaan
dilemahkan atau hanya dibuat lemah oleh aspek kesucian.
Keteraturan dan kesucian itu secara tepat dan rapi diperagakan dalam
pentas Wayang Sapuh Leger dengan lakon Dewa Kala yang dilengkapi dengan
aneka ragam sesajen yang secara simbolik mewakili anak yang diruwat dan secara
total menyerahkan diri kepada Tuhan. Upacara lukatan/ruwatan dengan
pementasan wayang sarat dengan nilai-nilai luhur yang didalamnya terkandung
nilai pendidikan, moral, dan etika yang disampaikan secara simbolik metaforik.
Penyampaian pesan-pesan secara simbolik dimaksudkan agar nilai-nilai yang
diungkapkan dapat terpelihara kelestariannya, ini tentu akan sangat berbeda
apabila suatu pesan itu disampaikan sebagai informasi biasa.
Sebagai contoh, lahirnya Batara Kala sebagai akibat tak terkendalinya
nafsu birahi Batara Guru terbadap Dewi Uma ketika berada di atas punggung
lembu Andini. Cerita mi menurut Gunarta (45 tahun) jelas mengandung nilai etika
dan moral agar orang dalam segala tindakan dan perilaku tidak melanggar tata
susila atau norma-norma yang berlaku. Pesan seperti ini tentu akan berbeda
apabila hanya disampaikan dalam bentuk perintah atau larangan dengan misalnya
mengatakan “jangan berbuat cabul”, yang setelah terdengar beberapa saat orang

120
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

dengan mudah akan melupakannya. Upacara adat menjelaskan kepada kita
melalui pesan-pesan simbolik bahwa dalam kehidupan itu berlaku hukum adi
kodrati yang bersifat mutlak dan langgeng. Barang siapa yang mematuhi hukum
Ilahi akan selamat hidupnya, atau sebaliknya orang akan tertimpa bencana dan
malapetaka bila ia melanggarnya.

3) Pendidikan Estetik Berpusat Keindahan (sundaram)
Upacara ruwatan telah mengarungi perjalan waktu yang cukup panjang itu
merupakan ungkapan hasil pengalaman dan penghayatan hidup masyarakat Bali.
Penghayatan itu merupakan hasil interaksi masyarakat terhadap Iingkungan dunia
sekitar yang kemudian dijadikan sarana pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai
kehidupan yang hakiki sebagai bekal hidup untuk mencapai ketentraman,
keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagian lahir maupun bhatin. Di samping itu
tradisi ruwatan ini juga berisi pesan-pesan agar sebagai manusia berbudaya kita
harus bersikap bertanggungjawab untuk meningkatkan harkat dan martabat
manusia dengan jalan memelihara hubungan dengan lingkungan dunia sekitar,
membina kerukunan dalam hidup bermasyarakat dan menjalani kehidupan sesuai
dengan hukum adi kodrati yang berlaku bagi setiap makhluk Tuhan.
Usaha memelihara nilai-nilai yang disakralkan dalam kehidupan, baik
yang menyangkut masalah hubungan suami-isteri melalui institusi perkawinan,
masalah hubungan dan penghormatan terhadap orang tua atau leluhur, hubungan
antara sesama warga masyarakat dan dunia alam sekitar bertujuan agar manusia
selalu bersikap dan berbuat hati-hati disertai rasa penuh tanggung jawab serta
selalu dapat mengendalikan diri demi martabatnya, kebahagiaan, dan
kesejahteraan. Dengan demikian upacara lukaran/ruwatan dengan pementasan
Wayang Sapuh Leger merupakan legitimasi mitos dan aktualisasi konsep nilai-
nilai yang bertujuan untuk pendidikan budi pekerti.
Nilai-nilai yang terdapat dalam pertunjukan Wayang Sapuh Leger sebagai
ungkapan nilai budi pekerti, dapat kiranya dirangkum sesuai dengan latar
belakang kepercayaan yang dianut masyarakat Bali, terdapat dalam kitab Manu
Smrti, sebagai berikut: (a) badan yang kotor harus dibersihkan dengan jalan
mandi; (b) benda-benda yang kotor harus dibersihkan dengan air, api atau benda

121
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

pencuci lainnya; (c) perkataan yang kotor harus diajarkan berkata-kata yang baik,
kata-kata halus dan budi bahasa yang baik; dan (d) pikiran yang kotor dan tidak
baik harus diperbaiki dan disucikan dengan membaca mantra dan kitab-kitab suci
Weda. ini juga bisa menjadi dasar pertimbangan bagi dilaksanakannya upacara
bayuh oton dengan pementasan wayang kulit sapuh leger dalam masyarakat
Hindu di bali termasuk masyarakat Hindu di Kota Denpasar. Seperti juga
ditegaskan oleh Purwa (51 tahun) bahwa pikiran kotor tidak dapat dibersihkan
dengan air seperti mencuci pakaian, tetapi haruslah dilakukan dengan membaca
kitab suci. Mengingat seorang anak yang lahir tidak bisa membaca maka
di1akukanlah bayuh oton dengan pemamentasan wayang kulit sapuh leger
khusnya bagi yang lahir pada saniscara (sabtu) wuku wayang (tumpek wayang).
Upacara bayuh oton dilaksanakan bagi anak yang lahir pada saniscara
(sabtu) wuku wayang (tumpek wayang) juga dengan alasan bahwa anak yang lahir
pada wuku tersebut dikatakan salah wadi, atau dianggap kelahiran salah. Murna
(65 tahun) dalam wawancara, 23 Mei 2009 menegaskan bahwa kelahiran salah
merupakan mengakuan akan adanya pengaruh buruk path setiap kelahiran. Makna
yang terkandung dan ungkapan mi adalah sebuah penyadaran bahwa kelahiran
manusia sesungguhnya papa karena setiap manusia lahir akibat ikatan karma yang
membelenggunya. Dalam keyakinan Hindu bahwa ikatan karmalah yang
membelenggu jiwa manusia sehingga dia harus lahir kembali berulang-ulang
sampai sang atman sadar akan hakikatnya, mencapai moksa. Dalam kelahirannya
manusia membawa karma wasana masing-masing dan inilah yang menyebabkan
kualitas manusia yang satu berbeda dengan yang lainnya. Kualitas diri yang
dibawa sejak lahir ini sesungguhnya yang akan menjadi potensi-potensi alamiah
manusia dan selanjutnya dikembangkan melalui proses pendidikan dan
pembelajaran sampai manusia itu menemukan jati dirinya yang akan berguna bagi
kehidupan jasmani dan rohaninya.
Pelaksanaan upacara bayuh oton atau upacara ruwatan pada umumnya
bermakna penyucian rohani sang anak dengan menghilangkan semua potensi
negatif yang dilambangkan sebagai Sanghyang Kala. Hal ini dapat dilihat dan
makna mantra-mantra yang digunakan dalam pelaksanaan upacara bayuh oton
yang pada dasarnya permohonan tulus ikhlas kepada Sang Hyang Widhi Wasa

122
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

agar berkenan menghilangkan segala mala dan papa dari anak yang diupacara.
Ruwatan dilakukan dengan menggunakan empat jenis wayang, yaitu Tualen,
Kakayonan, Bhatara Guru, dan Sang Hyang Acintya. Tualen adalah simbol orang
tua, kakayonan adalah simbol dari alam semesta atau juga sebagai simbol pikiran
(kayun), Bhatara Guru adalah simbol sumber dan pengetahuan, dan Sanghyang
Acintya adalah simbol kekosongan, keadaan suci nirmala. Dalam melukat dengan
wayang digunakan empat jenis wayang, yaitu Tualen, Kekayonan, Bhatara Guru,
dan Sang Hyang Acintya yang memunculkan daya estetik yang tinggi. Semua
sosok wayang tersebut adalah sebuah simbologi agar yang diruat menjadi
dinetralkan melalui pengalaman estetik.
Boleh jadi simbol-simbol ini bermakna estetik bahwa penyucian dimulai
dari menyucikan benih kelahiran sang anak dan saudara empat (nyama pat) yang
lahir bersamanya dari rahim sang ibu, yaitu ari-ari, darah, air ketuban, dan pusar
sebagai sebuah siklus keindahan. Penyucian selanjutnya adalah mensucikan
pikiran sang anak dari pengaruh-pengaruh negatif sehingga nantinya mampu
menerima semua pengetahuan yang benar. Ketika semua pengetahuan yang benar
telah dimiliki oleh sang anak maka anak dalam kondisi suci, laksana kertas putih
bersih yang di atasnya dapat dituliskan pengetahuan apapun. Oleh karena upacara
ini adalah suci tentunya pengetahuan yang akan didapatkan adalah pengetahuan
yang benar. Artinya, pengetahuan yang benar hanya mungkin didapatkan jika
pikiran telah terbebas dari pengaruh-pengaruh negatif yang disebut sampah-
sampah pikiran.
Untuk menghilangkan semua sampah-sampah pikiran yang dapat
menghalangi munculnya potensi-potensi positif anak maka Hindu mengajarkan
pelaksanaan upacara keagamaan, yaitu upacara bayuh oton. Oleh karena diyakini
bahwa saniscara (sabtu) wuku wayang (tumpek wayang) membawa pengaruh
negatif pada kelahiran maka upacara bayuh oton bagi anak yang lahir pada
saniscara (sabtu) wuku wayang (tumpek wayang) dirangkaikan dengan
penientasan wayang kulit sapuh leger. Jadi, nilai pendidikan Hindu dalam upacara
bayuh oton dengan pementasan wayang kulit sapuh leger adalah pengembangan
potensi anak, yaitu usaha sadar dan terencana dari umat Hindu untuk

123
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

menghilangkan semua pengaruh negatif dalam diri anak sehingga potensi alamiah
yang dimiliki anak mampu dikembangkan melalui proses pendidikan Iebih lanjut.
Tujuan pendidikan seperti telah dirumuskan dalam Undang-Undang
Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 adalah agar peserta didik memimiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negana.
Pada prinsipnya tujuan tersebut tidak berbeda dengan tujuan pendidikan Hindu,
yaitu membentuk anak yang suputra. Tujuan ini berusaha diwujudkan oleh
masyarakat Hindu di Bali melalui pelaksanaan upacara manusa yadnya. Suputra
merupakan tujuan akhir dari pelaksanaan semua jenis upacara manusa yajna.
Seperti dijelaskan oleh Putra (2002) bahwa manusa yajna itu adalah ritual Agama
Hindu yang juga disebut Sarira Samskara, yaitu upacara untuk menyucikan
manusia sejak dalam kandungan ibu hingga perkawinannya dengan tujuan untuk
memanusiakan manusia, yaitu dengan menginisiasi manusia dari satu tahap hidup
sampai menuju tingkatan yang lebih tinggi status kemanusiaannya sampai menjadi
seorang anak yang suputra.
Usaha untuk menjadikan anak yang suputra menurut Hindu tidak hanya
melalui upacara-upacara keagamaan saja, melainkan juga melalui pendidikan
umum, baik formal, nonformal maupun informal. Sejalan dengan ini Sukarma
(2005) mengatakan bahwa pendidikan Hindu mencakup dua ranah ilmu, yaitu
ilmu-ilmu yang berguna bagi kehidupan (gelar urip) dan ilmu-ilmu spiritual
(gelar pati). Kedua hal ini mesti dipelajari oleh peserta didik untuk mencapai
kecerdasan intelektual (intellectual quotion), kecerdasan emosional (emotional
quotion), dan kecerdasan spiritual (spiritual quotion). Oleh karena itu Hindu
mengembangkan sebuah model pendidikan yang mengedepankan keseimbangan
antara niskala dan sekala. Pendidikan secara niskala (supra natural) dilakukan
melalui upacara keagamaan, khususnya manusa yadnya, sedangkan pengelahuan
aplikatif atau sekala dilakukan melalui pengembangan kognitif, afektif, dan
psikomotor yang didapatkan dari lembaga-lembaga pendidikan. Melalui dua
model pendidikan inilah maka suputra yang diharapkan dapat terwujud, yaitu
anak yang bijaksana, beriman, cerdas, sehat jasmani dan rohani, serta sikap hidup
mandiri. Tujuan inilah yang sesungguhnya ingin dicapai melalui upacara bayuh

124
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

oton dengan pementasan wayang kulit sapuh leger. Hal ini dapat dilihat dari
mantra yang digunakan dalam upacara bayuh oton sebagai berikut.
“Om Sembah kepada Sang Amituru Kaki Bhagawan, Kaki Panyarikan,
Nini Panyarikan, demikian juga Hyang Dorakala hamba mohon
kepadaMu agar orang yang diupacarai (dibayuh oton) mendapat
suatu kebahagiaan, panjang urnur, sempurna, bebas dari penderitaan dan
dosa, tidak mengalami nasib buruk, serta lepas darin segala mala petaka
yang dibayuh oton, panjang umur dan sukses selalu”.

Mantram tersebut pada dasarnya hendak memberikan dasar bagi
pembentukan integritas kepribadian yang mantap, yaitu pembentukan anak yang
suputra. Mengenai suputra, juga dijelaskan dalam salah satu baris sloka dalam
Kakawin Nitisastra, yaitu “yan sang suputra, sadhu, gunawan mamadangi kula
wandu wandana” (bahwa anak yang baik (suputra), bajik/suci (sadhu), dan
cerdas/pandai (gunawan) mencerahi seluruh keluarga). Dalam Kakawin
Ramayana juga dijelaskan beberapa indikator anak yang suputra, yang
menyebutkan bahwa suputra dipahami sebagai seorang anak yang gunawan, yaitu
seorang yang pandai dalam Weda, bhakti kepada Dewa, tidak lupa memuja
leluhur, dan sayang kepada keluarganya. Ia juga seorang yang gagah berani,
perwira dalam ilmu kepemimpinan, memberikan pertolongan kepada orang hina,
orang buta, dan kepada orang-orang suci, dan guru. Ia juga adalah seorang yang
jujur, baik dalam perkataan, kepada orang lain, dan juga tidak berbohong kepada
perempuan. Jadi, Suputra adalah anak yang berguna bagi dirinya sendiri, bagi
orangtua dan keluarganya, dan bagi masyarakat dan lingkungannya.

3 PENUTUP
Berdasarkan deskripsi tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
bentuk pementasan wayang Sapuh Leger meliputi tahapan-tahapan seperti berikut.
Pertama, terlebih dahulu dilaksanakan upacara prayascitta atau penyucian
kepada seluruh palinggih. Kedua, upacara inti dalam rangkaian upacara bayuh
oton. Selanjutnya dipentaskan oleh dalang samirana, dengan lakon Sudamala dan
terkahir pengelukatan. Pendidikan estetika seni Hindu yang terkandung dalam

125
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

pementasan wayang Sapuh Leger pada upacara bayuh oton, yakni pendidikan
yang berpusat pada aspek satyam, di mana wayang Sapuh Leger adalah sebagai
bagian dari prosesi yajna yang berhubungan dengan peningkatan status manusia
atau dewatanisasi. Selanjutnya, pendidikan berpusat pada aspek siwam atau
kesucian secara eksplisit disebutkan bahwa pementasan wayang Sapuh Leger
adalah sebagai media penyucian (pengeruatan). Adapun berikutnya adalah
pendidikan estetik berpusat pada keindahan, dan jelas bahwa dalam lakon wayang
selalu memunculkan nilai estetik.

Daftara Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Arnawa, I Putu. 2001, Skripsi: “Peranan Wayang Gedog Dalam Pelaksanaan
Macaru Balik Sumpah di Desa Batu Bulan, Kecamatan Sukawati,
Kabupaten Gianyar”, Denpasar: STAH

Arwati, Ni Made Sri. 2005. Manusa Yadnya (Upacara Bayi Lahir Sampai
Ngotonin). Denpasar. Proyek Peningkatan Sarana dan Prasarana
Kehidupan Beragama Propinsi Bali.

Bagus, Lorenz. 2002. Kamus Filsafat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Bali Post. Minggu 2 April 2006 hal. 11. UNESCO Beri Penghargaan Kepada
Wayang.

Bandem, I Made & I Wayan Dibya. 1984. Kesenian Bali. Denpasar: STSI
Denpasar

Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Dharmodihardjo, dardji, 1980/1981, Sanitasi Pancasila, Malang: Laboratorium
Pancasila IKIP Malang.

Denpost (10 Denpasar 2005) menulis judul, “Thanatos” Negatif, Faktor Orang
Bunuh Diri”. Denpasar.

Denpost, Minggu 20 Agustus 2006. Upacara Bayuh Oton: Ketika Sang Kumara
diburu Sang Kala.

Dinas Pendidikan Dasar Propinsi Daerah Tingkat I Bali, 1996, Kamus bahasa
Indonesia-Bali, Denpasar: tanpa penerbit.

126
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Faisal, Sanapiah. 1990. Format-format Penelitian Sosial. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

Geriya, I Wayan, 2000, Transformasi Kebudayaan Bali Memasuki Abad XXI,
Denpasar: Dinas Kebudayaan Bali.

Gunadha, Ida Bagus. 2006. Agama Hindu dan Kebudayaan Bali. Makalah.
Denpasar: HIS Tours & Travels.

127
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

ANALISIS KETERAMPILAN BERCERITA BAHASA BALI GURU
TAMAN KANAK-KANAK SE KOTA DENPASAR TAHUN
PELAJARAN 2015/2016

oleh

I Gede Suwartama, NIM. 2012.II.2.0064
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah
Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Bali

Abstrak
Upaya menekan dampak negatif era globalisasi melalui peningkatan dan
pengembangan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal seperti masatua,
merupakan salah satu pengajaran bahasa dan sastra sekaligus pembentukan
karakter anak telah dilakukan di sekolah taman kanak-kanak khususnya di
Denpasar. Hal ini menimbulkan ketertarikan penulis untuk melakukan penelitian
terhadap keterampilan masatua guru taman kanak-kanak tersebut.
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu, 1) bagaimanakah
keterampilan masatua guru TK se-Kota Denpasar tahun pelajaran 2015/2016?, 2)
kesulitan-kesulitan apakah yang dialami guru taman TK saat masatua?, dan 3)
faktor apakah yang mempengaruhi kesulitan guru TK dalam masatua?. Tujuan
penelitian adalah untuk mengetahui tingkat keterampilan guru TK di Kota
Denpasar dalam masatua dan kesulitan-kesulitan berikut faktor yang
mempengaruhi kesulitan guru TK khususnya di Kota Denpasar dalam masatua.
Guna mendukung hal tersebut di atas, diperlukan landasan teori seperti: 1)
berbicara, 2) manfaat berbicara, 3) langkah-langkah berbicara, 4) berbicara sesuai
anggah-ungguhing basa Bali, 5) apresiasi sastra, 5) kegiatan dalam apresiasi
sastra, 6) tahap-tahap apresiasi sastra, 7) cerita rakyat (satua), 8) pengertian cerita
rakyat, 9) ciri-ciri satua, 10) fungsi satua, 11) pengertian masatua, 12) hal-hal
yang harus diperhatikan agar menjadi pendongeng yang baik, 13) hal-hal yang
harus diperhatikan saat mendongeng, dan 14) kriteria penilaian mendongeng.
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode tes, metode
observasi, teknik rekam, metode kuesioner, dan metode wawancara. Data yang
diperoleh diolah dengan metode analisis deskriptif kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan masatua guru TK
tergolong baik. Kesulitan-kesulitan yang dialami guru yaitu pemilihan diksi,
penggunaan anggah-ungguhing basa, penegasan istilah sulit, minimnya
media/alat pengajaran, penokohan, minimnya referensi cerita, dan kesulitan
meringkas cerita. Faktor penyebab kesulitan guru masatua yaitu faktor
pendidikan, faktor bahasa, faktor penokohan, dan faktor sarana dan prasarana
pembelajaran.

Kata kunci: keterampilan bercerita (masatua) bahasa Bali

128
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Abstract
Efforts to suppress the negative effects of globalization through the
improvement and development of character building based on local wisdom
called as masatua, is one of the teaching of language and literature at the same
time the formation of character has been done at the school kindergartens,
especially in Denpasar. This raises the interest the author to conduct research on
masatua skills of kindergarten teachers are.
The problems discused in this study, namely 1) how is masatua skills of
Denpasar kindergarten teachers of lessons 2015/2016? 2) what kind of difficulties
they are have when masatua? 3) whether the factors that affect the difficulty
kindergarten teacher when masatua. The research objective was to determine the
skill level of kindergarten teacher in Denpasar in masatua and difficulties
following factors influencing the difficulty kindergarten teacher, especially in
Denpasar in masatua.
To support the above, the necessay theoretical basis, such as 1) speech, 2)
the benefits of speaking, 3) measures speaking, 4) speaks according anggah-
ungguhing basa Bali, 4) appreciation of literature, 5) activities in the
appreciation of literature, 6) stages appreciation of literature, 7) folklore (satua),
8) understanding folklore, 9) characteristics of balinese folklore (satua), 10) the
function of satua, 11) understanding masatua,12) things that must be considered
to be a good storyteller, 12) things that must be considered when storytelling, and
14) the assesment criteria storytelling. The methods used in data collection is test
method, the method of observation, recording techniques, questionnaires and
interview method. The data obtained were processed by the method of quantitative
descriptive analysis.
The results showed that the kindergarten teacher masatuai skills quite
well. The difficulties experienced by teachers are the choice of diction, usage of
anggah-ungguhing basa,confirmation of difficult term, the lack of media/teaching
tools, the characterizations, the lack of reference stories, and the difficulty of
summarizing the story. Factors causing difficulties kindergarten teachers when
masatua are the education factor, the language factor, characterization factor,
and factors of learning facilities and infrastructure.

Keywords: balinese language storytelling skill (masatua

1 Pendahuluan
Dampak negatif era globalisasi seiring pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dapat memudarkan nilai-nilai karakter adiluhung
generasi muda Bali yang berkembang melalui adat dan tradisi termasuk
menggeser keberadaan bahasa daerah Bali sebagai akar budaya Bali. Berbagai
upaya harus dilakukan untuk membentuk dan membangun kembali karakter
generasi muda Bali yang telah ternoda tersebut, salah satunya dengan
mengedepankan bahasa Ibu dalam berkomunikasi sehari-hari di samping bahasa

129
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Indonesia sebagai bahasa nasional.
Upaya mendidik anak tidak terlepas dari peran orang tua, tenaga pendidik
profesional, masyarakat dan juga pemerintah. Di tengah kesibukan para orang tua
untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, menyerahkan sebagian besar
pendidikan anak-anaknya ke sekolah. Hal ini menambah beban para pendidik.
Maka dari itu tuntutan untuk menyediakan para pendidik yang profesional
menjadi tugas dan kewajiban lembaga pendidik tenaga kependidikan untuk
memenuhi kebutuhan tersebut. Pendidik yang profesional tentu dapat dengan baik
membimbing dan mengarahkan anak didiknya melalui berbagai media pengajaran
yang diberikan di lingkungan belajarnya, seperti memanfaatkan adat dan tradisi
warisan leluhur menjadi sarana pendidikan yang dapat diandalkan seperti halnya
tradisi masatua atau bercerita bahasa Bali.
Dengan masatua guru dapat memperkenalkan dan menanamkan berbagai
macam ide, rasa, dan nilai -nilai seperti kejujuran, religius, sopan santun, ramah
lingkungan, tolong-menolong, kasih-mengasihi, dan sebagainya kepada anak
didik melalui karakter tokoh dan kehidupan sosial yang terdapat dalam cerita yang
dituturkan. Di samping itu, pendidik juga dapat mengkombinasikan materi belajar
lainnya seperti berhitung, bernyanyi, olahraga dan bermain pada saat bercerita.
Jadi secara garis besarnya ada beberapa hal yang dapat diajarkan kepada
anak didik lewat bercerita, yaitu pengajaran bahasa dan sastra Bali, pengetahuan
umum, serta penanaman nilai-nilai budi pekerti luhur yang sekaligus dapat
membentuk karakter anak.
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah keterampilan bercerita (masatua) bahasa Bali guru taman
kanak-kanak di Kota Denpasar tahun pelajaran 2015/2016?
2. Kesulitan-kesulitan apa sajakah yang dialami para guru taman kanak-
kanak di Kota Denpasar tahun pelajaran 2015/2016 dalam bercerita
(masatua) bahasa Bali?
3. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kesulitan-kesulitan yang
dialami guru taman kanak-kanak di Kota Denpasar tahun pelajaran
2015/2016 dalam bercerita (masatua) bahasa Bali?

130
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

2 Metode Penelitian
Menurut Sugiyono (2014: 2), metode penelitian pada dasarnya merupakan
cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara
ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu 1)
rasional ( masuk akal), 2) empiris, (diamati oleh indera manusia), dan 3)
sistematis ( langkah-langkah yang dipergunakan bersifat logis). Sehubungan
dengan hal tersebut, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1)
metode penentuan subjek penelitian, (2) metode pendekatan subjek penelitian, (3)
metode pengumpulan data, dan (4) metode pengolahan data.
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah guru-guru taman kanak-
kanak se-Kota Denpasar tahun pelajaran 2015/2016, sedangkan objek
penelitiannya adalah keterampilan bercerita (masatua) bahasa Bali. Dalam
penentuan subjek penelitian dibicarakan dua hal yaitu populasi dan sampel
penelitian. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sampel adalah bagian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2014).
Jadi, populasi tidak hanya menyangkut individu, akan tetapi termasuk objek dan
benda-benda alam lainnya, meliputi seluruh karakteristik yang dimiliki oleh
subjek dan objek penelitian.
Berdasarkan pernyataan di atas, yang dijadikan populasi dalam penelitian
ini adalah seluruh sekolah taman kanak-kanak se-Kota Denpasar tahun pelajaran
2015/2016, sebagaimana tabel 2.1 berikut.

Tabel 2.1 Populasi Penelitian Guru Sekolah Taman Kanak-kanak di Kota
Denpasar Tahun Pelajaran 2015/2016

Jumlah Sekolah
No Kecamatan Jumlah Gugus (TK)
(1) (2) (3) (4)
1 Denpasar Timur 10 73
2 Denpasar Utara 9 73
3 Denpasar Selatan 9 69
4 Denpasar Barat 9 75
Jumlah 37 290

131
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Berdasarkan tabel 2.1 di atas, dapat diketahui jumlah sekolah taman
kanak-kanak di Kota Denpasar tahun pelajaran 2015/2016 adalah 290 sekolah.
Yang dijadikan sebagai subjek penelitian adalah satu orang guru yang merupakan
subjek/sampel yang representatif, yaitu memiliki keterampilan bercerita (masatua)
bahasa Bali lebih baik dari guru-guru yang lain di sekolahnya, laki-laki maupun
perempuan sebagaimana diterangkan Prof. Sutrisno Hadi, M. A. (dalam Narbuko
dan Achmadi, 2009).
Mengingat jumlah populasi yang tergolong besar (>100) maka peneliti
memutuskan untuk mengambil 10% dari keseluruhan populasi, yaitu 290 x 10 %
= 29 yang digenapkan menjadi 30. Hal ini bertujuan untuk memudahkan
pengolahan data dan memperkirakan waktu yang diperlukan dalam penelitian.

Tabel 2.2 Sampel Penelitian Guru Taman Kanak-kanak Se-Kota Denpasar Tahun
Pelajaran 2015/2016

No Nama Sekolah Jenis Kecamatan
Kelamin
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Ni Wayan Ringin TK Kemala Bayangkari P Denut
(1) (2) (3) (4) (5)
2 Ni Luh Putu Sri M. TK Widya Santhi 2 P Denut
3 Ni Kmg. Ayu Sri TK Kumara Asih P Denut
Agustini
4 A. A. A. Candradewi TK Pertiwi Dewata P Denut
5 Ni Putu Suryaningsih TK Dwi Tunggal P Denut
6 Si Luh Wayan TK Swadarma P Denut
Putriyani
7 Ni Wayan Sarmi TK Margajati P Denut
8 Putu Alit Adnyana TK Paramawangsa L Denut
9 Ni Md. Sridariani TK Panca Kumara P Dentim
10 I Made Adnyana TK Dyatmika L Dentim
11 Ni Ketut Ardani TK Harapan Bangsa P Dentim
12 Ni Kayan Nurani TK PGRI P Dentim
13 Ni Luh Putu Sukasih TK Indraprasta P Dentim
14 I. A. Kade Komalawati TK Mahardika P Dentim
15 Putu Utari Ariani TK Bali Public Sch. P Dentim
16 Ni Wayan Eni TK Al Azhar Syifa P Densel
Wulandari Budi Bali
17 Ni Wayan Janten TK Dharma Sejahtera P Densel
18 I Made Sandi TK Kristen Harapan L Densel
19 Ni Wayan Satuh TK Kumara Sari V P Densel
20 Ni Wayan Sariani TK Dharma Wiweka P Densel

132
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

21 Ni Luh Sudarti TK Kumara Jaya P Densel
22 Ni Kadek Marettini TK Doremi P Densel
23 Gst. Ag. Putri TK Bintang Besar P Denbar
Darmayanti
24 Ni Luh Widya Astari TK Kumara Jaya P Denbar
25 Ni Nyoman Putriyani. TK Kartika VII-14 P Denbar
26 Ni Pt. Ayu Nanik K. TK Mekar Harapan P Denbar
27 Ni Luh Adi Setyawati TK Widya Manut K. P Denbar
28 Ni Wayan Rusmiati TK Dharmawangsa P Denbar
29 Maria Ni Luh Sitiasih TK Santo Yoseph P Denbar
30 Ni Luh Putu Sudiani TK Sila Dharma P Denbar

Metode pendekatan subjek penelitian mempergunakan metode pendekatan
empiris mengingat data yang diteliti sudah ada secara wajar tanpa melalui
eksperimen, yang mana guru taman kanak-kanak di Kota Denpasar tahun
pelajaran 2015/2016 sebagian besar telah memiliki bercerita (masatua) bahasa
Bali sehingga peneliti hanya mengevaluasi tentang keterampilan yang
dimilikinya.
Terdapat dua hal yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu
kualitas instrument penelitian dan kualitas pengumpulan data. Berbicara tentang
jenis-jenis metode dan instrumen pengumpulan data sebenarnya tidak ubahnya
dengan berbicara masalah evaluasi. Mengevaluasi tidak lain adalah memperoleh
data tentang status sesuatu dibandingkan dengan standar atau ukuran yang telah
ditentukan, karena mengevaluasi adalah juga mengadakan pengukuran (Arikunto,
2014: 192). Maka, metode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian
ini antara lain, 1) metode tes, 2) tehnik rekam, 3) metode obserasi, 4) metode
kuesioner, dan 5) metode wawancara.
Metode pengolahan data atau analisis data merupakan kegiatan setelah
data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul (Sugiyono,
2014:147). Setelah data yang diinginkan terkumpul, maka langkah selanjutnya
adalah melakukan pengolahan data atau analisis data secara sistematis untuk
memperoleh simpulan yang akurat.
Terkait dengan penelitian ini, data yang dikumpulkan berupa angka akan
disistemasi sehingga memperoleh simpulan. Analisis data dilakukan sesuai
dengan tujuan yang hendak dicapai. Metode analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode statistik deskriptif, dengan langkah-langkah sebagai

133
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

berikut, 1) mengubah skor mentah menjadi skor standar, 2) menentukan kriteria
predikat keterampilan bercerita bahasa Bali, 3) mengelompokkan keterampilan
guru, 4) mencari skor rata-rata keterampilan guru, 5) menganalisis data kesulitan-
kesulitan, 6) menganalisis data faktor-faktor yang menjadi penyebab kesulitan
guru dalam bercerita (masatua) bahasa Bali, dan 7) menarik kesimpulan.

Tabel 2.3 Skor Maksimal Ideal (SMI) Keterampilan Bercerita Bahasa Bali Guru
Taman Kanak-kanak Se-Kota Denpasar Tahun Pelajaran 2015/2016

No. Aspek-aspek yang Dinilai Rentang Skor
1 Bahasa 1–4
2 Kontak dengan audien 1–4
3 Penampilan 1–4
4 Penegasan istilah 1–4
5 Alat peraga 1–4
Jumlah skor maksimal ideal (SMI) 20

Dalam mengubah skor mentah menjadi skor standar, pedoman konversi
yang dipergunakan adalah norma absolut. Norma absolut merupakan suatu norma
yang ditetapkan secara absolut (mutlak) oleh guru atau pembuat tes berdasarkan
atas jumlah soal serta prosentase penguasaan yang dipersyaratkan (Gunarta, 2009:
67). Dengan demikian skor standar yang diperoleh oleh seseorang yang
didasarkan atas konversi norma absolut akan mencerminkan penguasaan guru
taman kanak-kanak terhadap tes dalam bercerita (masatua) bahasa Bali.
Untuk mengkonversikan skor mentah menjadi skor standar dengan norma
absolut skala seratus (persentil) digunakan rumus sebagai berikut.
X
P= x 100
SMI
Keterangan:
P = Persentil
X = Skor yang dicapai
SMI = Skor Maksimal Ideal, (Gunartha, 2009: 74)
Skor standar yang diperoleh guru akan disesuaikan dengan kriteria
predikat keterampilan bercerita (masatua) bahasa Bali seperti pada tabel 2.5 di
bawah, hal ini didasarkan atas tingkat penguasaan terhadap bahan yang diberikan.

134
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Tingkat penguasaan tersebut akan tercermin pada tinggi rendahnya skor mentah
yang dicapai.

Tabel 2.4 Kriteria Predikat Keterampilan Guru Bercerita (Masatua) bahasa Bali
Se-Kota.Denpasar Tahun Pelajaran 2015/2016

No Skor Standar Predikat Keterangan
1 86-100 A Sangat Baik
2 71-85 B Baik
3 56-70 C Cukup
4 41-55 D Kurang
5 ≤ 40 E Sangat Kurang

Setelah skor standar masing-masing guru diketahui, maka langkah
selanjutnya adalah mencari skor rata-rata (Mean) keterampilan guru dalam
bercerita (masatua) bahasa Bali. Adapun rumus yang dipergunakan adalah
sebagai berikut.
ƩX
M=
N
Keterangan:
M = Mean (rata-rata)
Ʃ = Epsilon (baca jumlah)
X = Skor standar
N = Jumlah individu (subjek penelitian)
(Arikunto, 2012: 299)

3 Pembahasan
Berdasarkan analisis data di atas, Adapun hasil penilaian (tes) terhadap 30
orang guru taman kanak-kanak yang dijadikan sampel penelitian dapat dilihat
pada tabel 3.1 berikut.

135
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Tabel. 3.1 Skor Standar dan Predikat yang Dicapai oleh Guru Taman Kanak-
.kanak Se-Kota Denpasar Tahun Pelajaran 2015/2016

No Nama Skor Skor Predikat
Mentah Standar
(1) (2) (3) (4) (5)

1 I Made Sandi 19 95 Sangat Baik
2 Ni Luh Sudarti 19 95 Sangat Baik
3 I Made Adnyana 18 90 Sangat Baik
4 Ni Kadek Marettini 18 90 Sangat Baik
5 Ni Wayan Satuh 17 85 Baik
6 Putu Utari Ariani 17 85 Baik
7 Ni Wayan Eni Wulandari 16 80 Baik
8 Maria Ni Luh Sitiasih 16 80 Baik
9 Putu Alit Adnyana 16 80 Baik
10 Ni Wayan Rusmiati 15 75 Baik
11 Ni Ketut Ardani 15 75 Baik
12 Ni Luh Adi Setyawati 15 75 Baik
13 Ni Wayan Janten 15 75 Baik
14 Ni Md. Sridariani 15 75 Baik
15 Ni Wayan Sarmi 15 75 Baik
16 Ni Kayan Nurani 15 75 Cukup
17 I. A. Kade Komalawati 13 65 Cukup
18 A. A. A. Candradewi 13 65 Cukup
19 Ni Nyoman Putriyani. 13 65 Cukup
20 Ni Luh Putu Sukasih 13 65 Cukup
21 Ni Luh Putu Sri Maryati 13 65 Cukup
22 Ni Wayan Sariani 13 65 Cukup
23 Gst. Ag. Putri Darmayanti 12 60 Cukup
24 Ni Luh Widya Astari 12 60 Cukup
25 Si Luh Wayan Putriyani 12 60 Cukup
26 Ni Pt. Ayu Nanik Kariani 12 60 Cukup
27 Ni Luh Putu Sudiani 12 60 Cukup
28 Ni Wayan Ringin 11 55 Kurang
29 Ni Kmg. Ayu Sri Agustini 11 55 Kurang
30 Ni Putu Suryaningsih 11 55 Kurang

Dapat diketahui jumlah skor standar (ƩX) adalah 2160 dan jumlah sampel
penelitian adalah 30 orang. Sehingga berdasarkan rumus di atas, skor rata-rata
yang diperoleh adalah 72. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
keterampilan bercerita (masatua) bahasa Bali guru taman kanak-kanak se-Kota
Denpasar tahun pelajaran 2015/2016 adalah berpredikat baik karena angka 72
berada pada rentang nilai 71 - 85 dalam kriteria predikat.

136
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

Perincian tingkat keterampilan bercerita (masatua) bahasa Bali guru taman
kanak-kanak se-Kota Denpasar tahun pelajaran 2015/2016 dapat dilihat pada tabel
3.2 sebagai berikut.

Tabel. 3.2 Persentase Tingkat Keterampilan Bercerita (Masatua) Bahasa Bali
Guru Taman Kanak-kanak Se-Kota Denpasar Tahun Pelajaran
2015/2016

No Rentang Nilai Predikat Jumlah Persentase
1 86-100 Sangat Baik 4 13%
2 71-85 Baik 11 37%
3 56-70 Cukup 12 40%
4 41-55 Kurang 3 10%
5 ≤ 40 Sangat Kurang 0 0%
Jumlah 29 100%

Dari hasil kuesioner yang dilakukan terhadap guru taman kanak-kanak se-
Kota Denpasar tahun pelajaran 2015/2016 dalam bercerita (masatua) bahasa Bali
dapat diketahui bahwa semua guru taman kanak-kanak (100%) pernah dan senang
menyimak cerita (satua) bahasa Bali. Walaupun demikian, sebagian dari mereka
(20%) kurang memahami maksud dari cerita yang disimak. Menurut sebagian
besar dari mereka (93%), bercerita (masatua) bahasa Bali itu sulit karena mereka
sebagian besar (93%) tidak pernah mendapatkan pendidikan khusus tentang
keterampilan bercerita. Mereka beranggapan bahwa, keterampilan bercerita
termasuk bercerita (masatua) bahasa Bali perlu diajarkan kepada guru termasuk
calon guru taman kanak-kanak.
Semua guru taman kanak-kanak gemar bercerita. Kegiatan bercerita
bahkan sering dilakukan kepada anak didiknya di sekolah. Namun, hanya
sebagian dari mereka (37%) yang sering bercerita (masatua) bahasa Bali karena
menurut sebagian besar dari mereka (93%) bercerita (masatua) bahasa Bali lebih
sulit dari bercerita dalam bahasa Indonesia (mendongeng). Menurut mereka,
adanya alat bantu pengajaran atau semacam alat peraga akan dapat memudahkan
mereka dalam bercerita. Kesulitan dalam memahami maksud cerita yang
dibawakan menjadi kendala yang berarti bagi guru taman kanak-kanak dalam
bercerita, mengingat kegemaran anak-anak mendengarkan cerita (satua) bahasa
Bali menjadi salah satu syarat mutlak pentingnya pengajaran bercerita (masatua)

137
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

bahasa Bali dilakukan kepada anak usia dini di sekolah, disamping hal-hal lain
yang seharusnya dapat diajarkan dan ditanamkan lewat pengajaran bercerita
(masatua) bahasa Bali.
Data hasil wawancara dikumpulkan bertujuan untuk lebih memperdalam
data kuesioner tentang kesulitan-kesulitan dan faktor-faktor penyebab kesulitan
guru taman kanak-kanak se-Kota Denpasar tahun pelajaran 2015/2016 dalam
bercerita (masatua) bahasa Bali.
Berdasarkan hasil analisis data wawancara , dapat diketahui kesulitan-
kesulitan yang dihadapi guru taman kanak-kanak se-Kota Denpasar tahun
pelajaran 2015/2016 dalam bercerita (masatua) bahasa Bali dapat dilihat pada
tabel 3.3 berikut.

Tabel 3.3 Kesulitan-kesulitan yang Dihadapi Guru Taman Kanak-kanak Se-Kota
Denpasar Tahun 2015/2016 dalam Bercerita (Masatua) Bahasa Bali

Jumlah Persentase
No. Bentuk Kesulitan yang Dihadapi Guru TK Guru
(1) (2) (3) (4)
1 Pemilihan diksi 30 100%
2 Penggunaan anggah-ungguhing basa Bali 28 93%
3 Penegasan pada istilah-istilah sulit 25 83%
4 Minimnya alat peraga 22 70%
5 Penggambaran tokoh/penokohan 20 67%
6 Minimnya referensi/buku cerita 18 60%
7 Kesulitan meringkas cerita 5 17%

Hasil wawancara menunjukkan ada beberapa faktor penyebab kesulitan
guru taman kanak-kanak se-Kota Denpasar tahun pelajaran 2015/2016 dalam
bercerita (masatua) bahasa Bali. Secara garis besarnya faktor-faktor penyebab
kesulitan guru taman kanak-kanak bercerita (masatua) bahasa Bali adalah sebagai
berikut.
1) Faktor pendidikan
2) Faktor bahasa
3) Faktor penokohan
4) Faktor sarana dan prasarana

138
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

4 Penutup
4.1 Simpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap guru taman kanak-kanak se-
Kota Denpasar tahun pelajaran 2015/2016 dapat disimpulkan sebagai berikut.
1) Keterampilan guru taman kanak-kanak dalam bercerita (masatua) bahasa
Bali se-Kota Denpasar tahun pelajaran 2015/2016 tergolong baik. Hal ini
ditunjukkan oleh nilai rata-rata yang diperoleh guru dari hasil tes yaitu 72.
Angka 72 berada pada rentang nilai 71 - 85 dalam kriteria predikat
keterampilan guru bercerita (masatua) bahasa Bali.
2) Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru taman kanak-kanak se-Kota
Denpasar tahun pelajaran 2015/2016 dalam bercerita (masatua) bahasa
Bali antara lain, (1) pemilihan diksi (100%), (2) penggunaan anggah-
ungguhing basa Bali (93%), (3) penegasan pada istilah-istilah sulit (83%),
(4) minimnya media/alat peraga yang sesuai dengan tema cerita (70%), (5)
penggambaran tokoh/penokohan (67%), (6) Minimnya referensi/buku
cerita (60%), dan (7) kesulitan meringkas cerita (17%).
3) Faktor penyebab kesulitan guru taman kanak-kanak se-Kota Denpasar
tahun pelajaran 2015/2016 dalam bercerita (masatua) bahasa Bali antara
lain (1) faktor bahasa (100%), (2) faktor pendidikan (93%), (3) faktor
sarana dan prasarana pembelajaran (70%), dan (4) faktor penokohan
(67%).

1.2 Saran-saran
Dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan sekaligus pembentukan
karakter anak melalui pengajaran bahasa dan sastra Bali khususnya satua Bali,
maka sebagai tindak lanjut dari penelitian yang dilaksanakan ada beberapa saran
yang disampaikan seperti berikut.
1) Lembaga pendidik tenaga kependidikan (LPTK) ataupun instansi terkait
lainnya agar senantiasa berupaya membentuk serta menciptakan tenaga
pendidik yang profesional dengan menanamkan dan mengembangkan
setiap potensi yang dimiliki oleh setiap guru ataupun calon guru,
khususnya guru taman kanak-kanak, salah satunya keterampilan bercerita

139
Stilistetika Tahun V Volume 9, November 2016
ISSN 2089-8460

termasuk bercerita (masatua) bahasa Bali mengingat cerita (satua) bahasa
Bali banyak mengandung tuntunan karakter.
2) Pemerintah Kota Denpasar setiap tahunnya telah secara rutin
melaksanakan lomba bercerita (masatua) bahasa Bali bagi guru taman
kanak-kanak dan siswa SD. Kegiatan ini agar lebih digemakan dan
ditingkatkan lagi untuk meningkatkan keterampilan bercerita (masatua)
bahasa Bali, sekaligus sebagai upaya pelestarian budaya Bali.
3) Pihak sekolah taman kanak-kanak dengan berbagai upaya agar secara rutin
menambah koleksi perpustakaannya dengan memperbanyak buku
penunjang pelajaran termasuk buku cerita anak dan menambah media
pengajaran seperti gambar-gambar serta alat peraga lainnya.
4) Guru taman kanak-kanak agar secara rutin bercerita termasuk bercerita
(masatua) bahasa Bali di hadapan anak didiknya. Hal ini dapat
meningkatkan keterampilan guru dalam bercerita termasuk meningkatkan
minat anak terhadap cerita rakyat dan bahasa Bali seiring dengan
perkembangan dan pembentukan karakter anak usia dini.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2012. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 2. Jakarta:
Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.

Gunartha, I Wayan. 2009. Diktat Kuliah Evaluasi hasil Belajar.Denpasar: IKIP
PGRI Bali.

Narbuko, Cholid., & Abu Achmadi. 2009. Metode Penelitian. Jakarta: Bumi
Aksara.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitif, Kualitatif, dan R & D. Bandung:
ALFABETA.

140
REPRESENTASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN ANTIKORUPSI PADA
CERPEN KARYA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 3 DENPASAR
TAHUN PEMBELAJARAN 2015/2016

oleh

Natalino Muni Nepa Rassi, NIM 2012.II.1.0050
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah
Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Abstrak
Penelitian ini mengungkap representasi nilai-nilai pendidikan antikorupsi pada
cerpen karya siswa kelas XI SMA Negeri 3 Denpasar tahun pembelajaran 2015/2016.
Penelitian ini secara khusus mempunyai dua tujuan, yaitu pertama, mengetahui tema
minor cerpen karya siswa kelas XI SMA Negeri 3 Denpasar tahun pembelajaran
2015/2016. Kedua, untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan antikorupsi yang terkandung
dalam cerpen karya siswa kelas XI SMA Negeri 3 Denpasar tahun pembelajaran
2015/2016.
Penelitian ini berpijak pada teori wacana, pendidikan antikorupsi, dan cerpen.
Ketiga teori tersebut menjadi dasar penelitian ini. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah penugasan. Teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kartu dan pencatatan, metode yang
digunakan untuk menganalisis data adalah deskriptif analisis.
Hasil penelitian ini, cerpen-cerpen karya siswa kelas XI SMA Negeri 3 Denpasar
merepresentasikan empat bentuk korupsi, meliputi pertama, korupsi di pemerintahanan
dengan persentase 36%, kedua, korupsi di sekolah dengan persentase 30%, ketiga,
korupsi di perusahaan-perusahaan swasta dengan persentase 28%, dan keempat, korupsi
di rumah dengan persentase 6%. Dalam penelitian ini juga ditemukan sembilan nilai
pendidikan antikorupsi, yaitu kejujuran kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, tanggung
jawab, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan. Nilai yang paling banyak
ditemukan dalam cerpen siswa adalah nilai kejujuran.

Kata Kunci: Representasi, Nilai-Nilai Pendidikan Antikorupsi, Cerpen.

Abstract
The research uncovers the representation of the values of anti-corruption
education in the short stories written by the eleventh graders of SMA Negeri 3
Denpasar Academic Year 2015/2016. The research has two specific aims, first to
find out the minor theme of the short stories written by the eleventh graders of
SMA Negeri 3 Denpasar Academic Year 2015/2016; second to find out the values
of anti-corruption education contained in the short stories written by the students.

141
The research was conducted on the basis of the theories of discourse, anti-
corruption education and short stories. The main method used in the research was
descriptive-qualitative with a pragmatic approach. The method of collecting data
was assignment with card and recording techniques. The method of analyzing
data was descriptive analysis.
The results of the research showed that the short stories written by the
eleventh graders of SMA Negeri 3 Denpasar represented four types of corruption,
namely first, corruption within the government with the percentage of 36%,
second, corruption in schools with the percentage of 30%, third corruption in
private companies with the percentage of 28% and fourth corruption in family
setting with the percentage of 6%. The research also found nine values of anti-
corruption education, namely honesty, care, independence, discipline,
responsibility, hard work, modesty, bravery, and justice. The most prominent
values found in the students’ short stories was honesty.

Keywords: Representation, The Values of Anti-Corruption Education, Short
Stories

1 Pendahuluan
Dewasa ini kasus korupsi di Indonesia kian merebak. Korupsi tidak hanya
terjadi pada pemerintahan pusat, tetapi juga menyebar sampai ke daerah-daerah.
Kasus korupsi menjerat para menteri, gubernur, bupati, anggota DPR (Dewan
Perwakilan Rakyat), DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah), hakim, jaksa,
rektor, kepala sekolah, tokoh masyarakat di berbagai daerah, bahkan sampai ke
tingkat RT (rukun tetangga) dan RW (rukun warga).
Korupsi di Indonesia telah membudaya bahkan telah lahir sejak zaman
dahulu. Nyaris tak ada ruang di negeri ini yang bebas dari korupsi. Menurut
Nurdin (2014: 19), korupsi memang telah menjadi persoalan yang amat kronis.
Ibarat penyakit, korupsi telah menyebar luas ke seantero negeri dengan jumlah
kasus yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun dengan modus yang
beragam. Kasus-kasus itu ada yang terekspos media, ada yang terselubung, dan
ada yang tidak muncul di permukaan. Tidaklah mengherankan jika Indonesia
berada di antara negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia.
Pada tahun 2002, Transparency International (TI) yang berbasis di
Berlin menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup keempat di dunia dari 113
negara yang diteliti. Menurut laporan harian Kompas pada tahun 2010, Indonesia
merupakan negara terkorup di Asia (Nurdin, 2014: 20).

142
Kenyataan di atas menjadi sebuah ironi, mengingat Indonesia merupakan
negara yang berasaskan Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha
Esa. Pentingnya memotong budaya korupsi sudah seharusnya ditanamkan dalam
kehidupan kita sejak dini. Tindakan korupsi ini terjadi karena krisis moral yang
tertanam pada setiap individu anak bangsa. Untuk itu, perlu diajarkan pendidikan
antikorupsi pada semua jenjang pendidikan.
Pendidikan menjadi target pemerintah untuk bisa memotong budaya
korupsi karena sejatinya pendidikan itu merupakan salah satu jalan yang bisa
ditempuh untuk pembentukan karakter. Oleh karena itu, sejak tahun 2012 Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi
membuat program pendidikan antikorupsi di jenjang pendidikan dasar hingga
pendidikan tinggi (Wibowo, 2013: 37). Dengan diberlakukannya pendidikan
antikorupsi diharapkan anak-anak bisa menjadi pelopor pemberantas korupsi.
Agar bisa berjalan optimal, pendidikan antikorupsi sudah seharusnya didukung
oleh semua elemen bangsa. Oleh karena itu, pendidikan antikorupsi akan lebih
baik jika diselipkan di semua mata pelajaran. Salah satunya adalah mata pelajaran
bahasa Indonesia.
Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia siswa dituntut untuk menguasai
empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Di antara keempat keterampilan tersebut, keterampilan menulis merupakan
keterampilan terakhir yang penting dikuasai siswa. Dalam keterampilan menulis
guru bisa menyelipkan pelajaran antikorupsi.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA terdapat materi menulis.
Salah satunya adalah menulis cerpen. Menulis cerpen merupakan suatu wadah
bagi siswa untuk berkreativitas menuangkan semua ide atau gagasanya secara
imajinatif dengan mengombinasikan pengalaman kehidupan sehari-hari. Salah
satu langkah menumbuhkan kesadaran pentingnya menanamkan nilai-nilai
antikorupsi pada siswa adalah melalui sastra, yaitu mengajak siswa memproduksi
cerpen bertema antikorupsi. Melalui kegiatan menulis cerpen kita bisa mengetahui
pandangan siswa terhadap fenomena korupsi yang kian merebak.
Penelitian ini mengkaji nilai-nilai pendidikan antikorupsi pada cerpen
karya siswa kelas XI SMA Negeri 3 Denpasar. Pemilihan SMA Negeri 3

143
Denpasar didasari beberapa faktor, yakni pertama, SMA 3 Denpasar merupakan
salah satu sekolah yang memiliki reputasi sangat baik; kedua, kegiatan bersastra
cukup terjaga; ketiga, kampanye nilai-nilai anti korupsi sering dilakukan.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut penulis menyimpulkan
beberapa permasalahan sebagai berikut: (1) Bagaimanakah kecenderungan
tematik cerpen karya siswa kelas XI SMA Negeri 3 Denpasar tahun pelajaran
2015/2016?; (2) Bagaimanakah nilai-nilai antikorupsi yang terkandung dalam
cerpen karya siswa kelas XI SMA Negeri 3 Denpasar tahun pelajaran 2015/2016?.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi sastra siswa,
menggali potensi sastra siswa, melahirkan penulis-penulis muda yang berjiwa
jujur, dan mampu untuk mengkampanyekan nilai-nilai pendidikan antikorupsi.
Penelitian ini juga diharapkan dapat menggambarkan internalisasi nilai-nilai
pendidikan antikorupsi pada siswa, menambah pengetahuan dan meningkatkan
kualitas berkreativitas siswa dalam dunia sastra dengan memasukkan unsur-unsur
sosial yang kian mencuat pada masyarakat sebagai suatu protes. Selain itu, Hasil
penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi masyarakat luas dengan mengetahui
persepsi siswa terhadap korupsi. Masyarakat juga turut menyikapi kasus korupsi
dan ikut memberantas budaya korupsi dimulai dari pribadi masing-masing.

2 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis pandangan deskriptif kualitatif. Menurut
Sukmadinata ( 2013: 60), penelitian deskriptif kualitatif sebagai suatu penelitian
yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa,
aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual
maupun kelompok. Objek penelitian ini adalah kecenderungan tematik cerpen
siswa dan nilai-nilai pendidikan antikorupsi pada cerpen siswa. Instrumen utama
dalam penelitian ini adalah penulis sendiri dengan mengunakan kartu data untuk
mencatat tematik dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen siswa.
Populasi pada penelitian ini sebanyak 293 buah cerpen. Peneliti
mengunakan Purposive sampel dalam pengambilan sampel dengan kriteria
sebagai berikut; (1) Cerpen harus mengandung keutuhan sebuah teks cerpen.
Keutuhan yang dimaksud yaitu dalam sebuah cerpen harus memiliki unsur

144
pembangun secara lengkap; (2) cerpen itu harus mengandung nilai-nilai
pendidikan antikorupsi; (3). originalitas cerpen atau cerpen tidak terindikasi
plagiat. Berdasarkan kriteria pengambilan sampel di atas maka dalam penelitian
ini peneliti mengambil 50 cerpen yang memenuhi kriteria tersebut.
Metode pengumpulan data yaitu dokumentasi. Teknik pengumpulan data
mengunakan teknik baca, teknik catat dan kartu data. Untuk memperoleh data
dalam cerpen karya siswa peneliti harus membaca terlebih dahulu data yang akan
diperlukan dalam penelitian. Setelah cerpen karya siswa dibaca, dan memperoleh
data terkait nilai-nilai antikorupsi kemudian dicatat. Dalam kartu data berisikan
kutipan pernyataan tentang nilai-nilai antikorupsi. Kartu data dibuat dengan cara
membaca terlebih dahulu teks yang akan diteliti. Kutipan-kutipan terkait nilai-
nilai pendidikan antikorupsi kemudian dicatat dan di masukan ke dalam kartu
data. Teknik ini digunakan agar data yang berhasil dikumpulkan terjamin
kebenarannya dan berfungsi menghindari terjadinya kesalahan akibat faktor
kelupaan, mengingat terbatasnya kemampuan daya ingat penulis. Cerpen-cerpen
dibedah dengan mengunakan pendekatan pragmatik. Penyajian hasil analisis data
dalam penelitian ini dilakukan dengan metode formal dan metode informal.
Metode formal yaitu penyajian hasil analisis data dengan mengunakan bagan.
Metode Informal yaitu penyajian hasil pengelolaan data dengan mengunakan kata-
kata, rangkaian kalimat.

3 Hasil Penelitian Dan Pembahasan Data
Hasil penelitian ini, peneliti menemukan empat bentuk korupsi yang
terkandung dalam cerpen karya siswa, yaitu korupsi di pemerintahan, korupsi di
sekolah, korupsi di lembaga perusahaan swasta, dan korupsi di rumah. Statistik
korupsi terbanyak pada cerpen siswa adalah korupsi yang dilakukan di
pemerintahan dengan persentase 36%. Dengan tema minor korupsi di
pemerintahan memperlihatkan bahwa siswa selalu mengikuti perkembangan kasus
korupsi di Indonesia terutama korupsi di pemerintahan yang hampir setiap saat
menghiasi layar televisi dan media cetak lainnya, artinya dalam bayangan siswa
tentang korupsi paling banyak berpusat pada pemerintahan.

145
Persepsi siswa mengenai korupsi di sekolah berada pada peringkat kedua
dengan persentase 30%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa cenderung menulis
sesuai dengan apa yang mereka alami dan rasakan dalam kegiatan sekolah, artinya
tindakan korupsi masih banyak terjadi di sekolah dengan pelaku yang berbeda-
beda mulai dari siswa, pengurus OSIS, bendahara, kepala sekolah, dan penjaga
sekolah.
Persepsi siswa mengenai korupsi di perusahaan-perusahaan swasta.
Cerpen tentang korupsi di perusahaan-perusahaan swasta berada pada peringkat
ketiga dengan persentase 28%. Dengan persentase yang cukup tinggi ini
menunjukkan bahwa siswa juga beranggapan bahwa banyak terjadi korupsi di
dunia pekerjaan terutama di perusahaan-perusahaan swasta, artinya tindakan
korupsi juga merajalela di perusahaan-perusahaan swasta menjadi suatu sorotan
yang perlu di telusuri dan dibenahi.
Persepsi siswa mengenai korupsi di rumah berada pada peringkat terakhir
dengan persentase yang sangat kecil yakni 6%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa
kurang menyadari hal-hal kecil di dalam lingkungan keluarga yang berkaitan
dengan kasus korupsi, artinya siswa tidak menyadari akan sebagian aktivitas di
rumah yang terkadang sudah masuk dalam kategori korupsi.
Keempat bentuk korupsi tersebut dikemas secara menarik oleh siswa
dalam sebuah cerpen dengan mengunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.
Tokoh-tokoh cerita juga disajikan secara beragam mulai dari tokoh protagonis dan
tokoh tambahanan yang menggambarkan keteladanan menanamkan nilai-nilai
pendidikan antikorupsi, sedangkan tokoh-tokoh antagonis yang tidak pantas
diidolakan juga dikemas secara menarik karakter tokohnya sehinga membuat
pembaca ingin terus membaca jalan cerita cerpen. Alur dan teknik penceritaan
dalam cerpen siswa, yaitu alur maju, alur mundur dan alur campuran. Pilihan diksi
dalam cerpen siswa mudah dipahami oleh pembaca. Di bawah ini akan
digambarkan karakteristik cerpen karya siswa.
Nilai-nilai pendidikan antikorupsi pada cerpen-cerpen karya siswa kelas
XI SMA Negeri 3 Denpasar mencerminkan realitas sosial yang terjadi pada
kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan semua nilai pendidikan antikorupsi
yang di kampanyekan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tergambar

146
pada cerpen-cerpen siswa. Namun demikian, nilai kejujuran paling banyak
ditemukan dalam semua cerpen siswa. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan
siswa tentang korupsi sudah cukup baik karena kejujuran berkaitan erat dengan
korupsi. Selanjutnya nilai-nilai pendidikan antikorupsi yang banyak ditemukan
dalam cerpen siswa, yaitu nilai kerja keras, kepedulian tanggung jawab,
kesederhanaan dan keadilan dan kedisiplinan. Keenam nilai pendidikan
antikorupsi tersebut lumayan banyak ditemukan pada cerpen siswa. Dua nilai
antikorupsi yang paling minim ditemukan dalam cerpen siswa, yaitu nilai
keberanian dan kemandirian. Kedua nilai tersebut hanya ditemukan pada tiga
cerpen.

4 Penutup
4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, cerpen-cerpen karya siswa kelas XI SMA
Negeri 3 Denpasar Tahun Pelajaran 2015/2016 sangat kuat berisi tentang korupsi.
Pada umumnya tema mayor dalam cerpen karya siswa semuanya membahas
tentang korupsi, karena peneliti mengarahkan siswa membuat cerpen bertema
korupsi sesuai dengan kebutuhan penelitian. Setelah dianalis semua cerpen
ditemukan tema minor dari masing-masing cerpen siswa, yakni korupsi di
pemerintahan dengan persentase 36%, korupsi di sekolah dengan persentase 30%,
korupsi di perusahaan swasta dengan persentase 28%, dan korupsi di rumah
dengan persentase 6%. Nilai-nilai pendidikan antikorupsi pada cerpen-cerpen
karya siswa kelas XI SMA Negeri 3 Denpasar mencerminkan realitas sosial yang
terjadi pada kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan semua nilai pendidikan
antikorupsi yang di kampanyekan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
tergambar pada cerpen-cerpen siswa. Namun demikian, nilai kejujuran paling
banyak ditemukan dalam semua cerpen siswa. Hal ini menunjukkan bahwa
pengetahuan siswa tentang korupsi sudah cukup baik karena kejujuran berkaitan
erat dengan korupsi. Selanjutnya nilai-nilai pendidikan antikorupsi yang banyak
ditemukan dalam cerpen siswa, yaitu nilai kerja keras, kepedulian tanggung
jawab, kesederhanaan dan keadilan dan kedisiplinan. Keenam nilai pendidikan
antikorupsi tersebut lumayan banyak ditemukan pada cerpen siswa. Dua nilai

147
antikorupsi yang paling minim ditemukan dalam cerpen siswa, yaitu nilai
keberanian dan kemandirian. Kedua nilai tersebut hanya ditemukan pada tiga
cerpen.

4.2 Saran-saran
Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dikemukakan, melalui tulisan
ini disampaikan beberapa saran yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas
menulis cerpen terutama bertajuk korupsi. Adapun saran-saran yang dapat
disampaikan adalah sebagai berikut.
Pertama, bagi siswa agar bisa mengasah kemampuan menulis cerpen
secara terus-menerus agar bisa mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. Selain itu,
siswa dapat mengeksplorasi kemampuan tentang gejala-gelaja sosial yang ada di
masyarakat.
Kedua, bagi pembaca bisa mengetahui peresepsi siswa tentang korupsi.
Hampir sebagian dari mereka menganggap korupsi hanya semata-mata
mengambil uang yang bukan hak milik mereka. Pada cerpen-cerpen yang
dianalisis ditemukan bahwa korupsi adalah hal yang menjijikkan dan akan
berdampak buruk pada karir dan masa depan.
Ketiga, guru bahasa Indonesia yang mengajar di tempat penelitian ini
disarankan untuk memberikan pelatihan yang lebih banyak kepada siswa dalam
kegiatan menulis cerpen. Guru juga harus menjelaskan bentuk-bentuk korupsi
lainnya agar siswa mengetahui secara terperinci bentuk-bentuk serta dampak dari
perbuatan korupsi. Lebih lanjut guru dapat memilih cerpen bertema korupsi agar
bisa memberikan manfaat positif bagi siswa sehingga siswa tidak hanya
memperoleh hiburan saja, tetapi juga mendapatkan ilmu pengetahuan.
Keempat, bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian yang
sama agar dapat mengembangkan penelitian ini dari aspek atau sudut pandang
lain.

148
Daftar Pustaka

Arikunto, S. 2014. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.

Badara, Aris. 2012. Analisis Wacana, Teori, Metode, dan Penerapannya pada
Wacana Media. Jakarta: Perpustakaan Nasional.

Bungin, Burhan. 2014. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group.

Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: CAPS
(Center For Academic Publishing Service).

Eriyanto. 2006. Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta:
LKiS Yogyakarta.

Karmini, Ni Nyoman. 2012. Teori Pengkajian Prosa Fiksi dan Drama. Denpasar:
Pustaka Larasan.

Moleong, Lexy J. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.

Nurdin, H Muhamad. 2014. Pendidikan Antikorupsi Strategi Internalisasi Nilai-
Nilai Islami Dalam Menumbuhkan Kesadaran Antikorupsi di Sekolah.
Yogyakarta: AR-Ruzz Media.

Nurgiyantoro, Burhan. 2012. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari
Strukturalisme hingga Poststukturalisme Persfektif Wacana Naratif.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.

Wibowo, A. 2013. Pendidikan Antikorupsi di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

149