You are on page 1of 18

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP PENUAAN SECARA UMUM

DI SUSUN OLEH :

NURHASNI, S.Kep
16.04.059

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

YAYASAN PERAWAT SULAWESI SELATAN


STIKES PANAKKUKANG MAKASSAR
PROGRAM PROFESI NERS
2016/2017
I. KONSEP DASAR LANSIA
A. Definisi
Menurut UU Kesehatan Nomor 23 tahun 1992 pasal 19 ayat 1 Manusia usia
lanjut (Growing old) adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan
biologis, fisik, sikap, perubahan akan memberikan pengaruh pada keseluruhan
aspek kehidupan termasuk kesehatan.
Lanjut usia adalah seseorang laki-laki atau perempuan yang berusia 60 tahun
atau lebih, baik yang secara fisik masih berkemampuan (potensial) maupun karena
sesuatu hal tidak lagi mampu berperan seacara aktif dalam pembangunan (tidak
patensial) (Depkes RI, 2001)
Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan dengan
waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia tua adalah
fase akhir dari rentang kehidupan (Fatimah, 2010).
B. Batasan-batasan Lanjut Usia
Menurut World Health Organization (WHO) ada beberapa batasan umur
Lansia, yaitu:
1. Usia pertengahan (middle age) : 45 59 tahun
2. Usia lanjut (fiderly) : 60 74 tahun
3. Lansia tua (old) : 75 90 tahun
4. Lansia sangat tua (very old) : > 90 tahun
Menurut Depkes RI (2003), lansia dibagi atas :
1. Pralansia : Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
2. Lansia : Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
3. Lansia resiko tinggi : Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih
C. Teori-teori Proses Penuaan
1. Teori Biologi
a. Teori genetik dan Mutasi (Somatic Mutatie Theory)
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies-
spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokomia
yang deprogram oleh molekul-kolekul/DNA dan setiap sel pada saatnya
akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari
sel-sel kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional sel).
b. Pemakaian dan Rusak
Kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai).
c. Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh
Pengumpulan dari pigmen atau lemak tubuh, yang disebut Teori
Akumulasi Dari Produk Sisa. Sebagai contoh adanya pigmen
Lypofuchine di sel otot jantung dab sel susunan syaraf pusat pada orang
lanjut usia yang mengakibatkan menganggu fungsi sel itu sendi .
d. Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan
e. Tidak ada perlindungan terhadap ; radiasi, penyakit, dan kekurangan
gizi.
f. Reaksi dari kekebalan sendiri (Auto Immune Theory)
Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat
khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat
tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. Sebagai
contoh ialah tambahan kelenjar timus yang pada usia dewasa
berinvolusi dan semenjak itu terjadilah kelainan autoimun (Menurut
GOLDTERIS & BROCKLEHURST, 1989).
Teori Immunologi Slow Virus (Imuunology Slow Virus Theory)
Sistem immune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan
masuknya virus ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ
tubuh .
g. Teori Stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubu.
Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan
lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel
tubuh lelah terpakai .
h. Teori Radikal Bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal
bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan
organik seperti karbohidrat dan protein.Radikal ini menyebabkan sel-
sel tidak dapat regenerasi.
i. Teori Rantai Silang
Sel-sel yang tua atau usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang
kuat, khusunya jaringan kolagen.Ikatan ini menyebabkan kurangnya
elastis, kekacauan, dan hilangnya fungsi.
j. Teori Program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah
setelah sel-sel tersebut mati.
2. Teori Kejiwaan Sosial
a. Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara
langsung. Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses
adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
b. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup pada lanjut
usia .
c. Mempertahankan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari
usia
pertengahan ke lanjut usia.
Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjur usi.Teori
ini merupakan gabungan dari teori di atas. Pada teori ini menyatakan
bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat
dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya.
3. Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran
individu dengan individu lainnya. Pada lanjut usia pertama diajukan oleh
Cumming and Henry 1961. Teori ini menyatakan bahwa dengan
bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan
diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya.
Keadaan ini mengakibatkan interaksi social lanjut usia menurun, baik
secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda
(Triple Loos), yakni :
a. Kehilangan peran (Loos of Role)
b. Hambatan kontak sosial (Restraction of Contacts and Relation Ships)
c. Berkurangnya komitmen (Reduced commitment to social Mores and
Values
D. Perubahan-perubahan yang Terjadi Pada Lanjut Usia (Nugroho, 2000)
1. Perubahan fisik
a. Sel
1) Lebih sedikit jumlahnya
2) Lebih besar ukurannya
3) Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan
intraseluler.
4) Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah dan hati.
5) Jumlah sel otak menurun
6) Terganggunya mekanisme perbaikan sel
7) Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5 10%
b. Sistem persarafan
1) Berat otak menurun 10 20%
2) Cepatnya menurun hubungan persarafan
3) Lambat dalam respond an waktu untuk bereaksi,khususnya
dengan stress.
4) Mengecilnya saraf panca indera.
5) Kurang sensitive terhadap sentuhan
c. Sistem pendengaran
1) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran). Hilangnya
kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama
terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak
jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur
65 tahun.
2) Membrane tympani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis
3) Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena
meningkatnya keratin.
4) Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang
mengalami ketegangan jiwa/stress.
d. Sistem penglihatan
1) Sfingter pupil timbul sclerosis dan hilangnya respons terhadap
sinar.
2) Kornea lebih berbentuk sferis (bola)
3) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, jelas
menyebabkan gangguan penglihatan.
4) Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap
kegelapan lebih lambat, dan susah melihat dalam cahaya gelap.
5) Hilangnya daya akomodasi
6) Menurunnya lapangan pandang ; berkurang luas pandangannya.
e. Sistem kardiovaskuler
1) Elastisitas, dinding aorta menurun
2) Katup jantung menebal dan menjadi kaku
3) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkanmenurunnya
kontraksi dan volume.
4) Kehilangan elastisitas pembuluh darah,kurangnya efektivitas
pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari
tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan tekanan
darah menurun menjadi 65 mmHg (mengakibatkan pusing
mendadak).
5) Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya
resistensi dari pembuluh dari perifer, sistolis normal kurang lebih
170 mmHg, diastolis 90 mmHg
f. Sistem pengaturan temperature tubuh
1) Temperature tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik 35C
ini akibat metabolisme yang menurun.
2) Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi
panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot.
g. Sistem repirasi
1) Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku
2) Menurunnya aktivitas dari silia.
3) Paru-paru kehilangan elastisitas ; kapasitas residu meningkat,
menarik napas lebih berat, kapasitas pernapasan maksimum
menurun, dan kedalaman bernapas menurun
4) Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang
5) O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg
6) CO2 pada arteri tidak berganti
7) Kemampuan untuk batuk berkurang
8) Kemampuan pegas, dinding dada dan kekuatan otot pernapasan
akan menurun seiring dengan pertambahan usia.
h. Sistem gastrointestinal
1) Kehilangan gigi : penyebab utamanya adalah periodontal disease
yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi
kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
2) Indera pengecap menurun : adanya iritasi yang kronis dari selaput
lender, aeropi indera pengecap (80%), hilangnya snsitifitas dari
saraf pengecap dilidah terutama rasa manis dan asin, asam, dan
pahit.
3) Esophagus melebar
4) Lambung ; rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun), asam
lambung menurun, waktu mengosongkan menurun.
5) Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
6) Fungsi absorbsi melemah (daya absorbsi terganggu).
7) Liver (hati) ; makin mengecil dan menurunnya tempat
penyimpana, berkurangnya aliran darah.
8) System reproduksi
9) Menciutnya ovari dan uterus
10) Atropi payudara
11) Pada laki-laki masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun
adanya penurunan berangsur-angsur.
12) Dorongan seksual menetap sampai diatas umur 70 tahun (asal
kondisi kesehatan baik)
13) Selaput lender vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi
menjadi berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali, dan terjadi
perubahan-perubahan warna.
i. Sistem genitourinaria
1) Ginjal
Merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh,
melalui urine darah yang masuk keginjal, disarimg oleh satuan
(unit) terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya d9i
glomerulus). Kemudian mengecil dan nefron menjadi atrofi, alira
darah keginjal menurun smpai 50 %, fungsi tubulus menurun
akibatnya; kurangnya kemanpuan mengkonsentrasi urine, berat
jenis urine menurun proteinuria ( biasanya +1) ; BUN meningkat
sampai21 mg%; nilai ambang gimjal terhadap glukosa meningkat.
2) Vesika urinaria (kandung kemih) ; otot-otot menjadi lemah,
kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan
frekuensi buang air seni meningkat, vesika urianaria susah
dikosongkan pada pria lanjut usia sehiongga mengakibatkan
meningkatnya retensi urine.
3) Pembesaran prostat 75 % dialami oleh pria usia diatas 65 tahun
4) Atrofi vulava
5) Vagina
Orang-orang yang makin menua seksual intercourse masih juga
membutuhkannya; tidak ada batasan umur tertentu fungsi seksual
seseorang berhenti; frekuensi sexual intercourse cenderung
menurun secara bertahap tiap tahun tetapi kpasitas untuk
melakukan dan menikmati berjalan terus sampai tua.
j. Sistem endokrin
1) Produksi dari hampir semua hormone menurun
2) Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah.
3) Pituitary :
Pertumbuhan hormone ada tapi lebih rendah dan hanya didalam
pembuluh darah; berkurangnya produksi dari ACRH, TSH, FSH,
dan LH.
4) Menurunnya aktivitas tiroid, menurunnya BMR=basal metabolic
rate, dan menurunnya daya pertukaran zat.
5) Menurunnya produksi aldosteron
6) Menurunnya sekresi hormone kelamin, misalnya: progesterone,
estrogen dan testosterone.
k. Sistem kulit
1) Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
2) Permukaan kulit kasar dan bersisik (karena kehilangan proses
karatinasi serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel
epidermis).
3) Menurunnya respon terhadap trauma.
4) Mekanisme proteksi kulit menurun :
a) Produksi serum menurun
b) Penurunan produksi VTD
c) Gangguan pegmentasi kulit.
5) Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.
6) Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
7) Berkurangnnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan
vaskularisasi.
8) Pertumbuhan kuku lebih lebar
9) Kuku jari menjadi keras dan rapuh
10) Kiku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk
11) Kelenjar keringat berkurang jumlahnya dan fungsinya
12) Kuku menjadi pudar, kurang bercahaya.
l. Sistem musculoskeletal
1) Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh.
2) Kiposis
3) Pinggang, lutut, dan jari-jari pergelangan terbatas.
4) Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek (tingginya
berkurang).
5) Persendian membesar dan menjadi kaku.
6) Tendon mengerut dan mengalami sclerosis.
7) Atrofi serabut otot (otot-otot serabut mengecil):
Serabut-serabut otot mengecil sehingga seseorang bergerak
menjadi lamban, otot-otot kram dan menjadi tremor.
8) Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh.
2. Perubahan mental.
Factor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental
a. Pertama perubahan fisik, khususnya organ perasa.
b. Kesehatan umum
c. Tingkat pendidikan
d. Keturunan
e. Lingkungan.
Perubahan kepribadian yang drastic, keadaan ini jarang terjadi. Lebih
sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang., kekauan
mungkin karena factor lain seperti penyakit-penyakit.
3. Kenangan (Memori)
a. Kenangan jangka panjang: berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu
mencakup beberapa perubahan
b. kenangan jangka pendek atau seketika 0-10 menit, kenangan buruk.
4. I.Q (Intelegentia Quotion)
a. Tidak berubah dengan informasi yang lalu mencakup verbal.
b. Berkurangnya penampilan, persepsai dan ketrampilan. psikomotor :
terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan-tekanan
dari factor waktu.
5. Perubahan-perubahan Psikososial
a. Pensiun
Nilai seseorang diukur oleh produktivitasnya dan identitas dengan
peranan dalam pekerjaan. Bila seseorang pensiun, ia akan mengalami
kehilangan-kehilangan, antara lain :
1) Kehilangan financial (income berkurang)
2) Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup
tinggi, lengkap dengan segala fasilitasnya.
3) Kehilangan teman/kenalan atau relasi
4) Kehilangan pekerjaan/kegiatan
b. Merasakan atau sadar akan kematian
c. Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan
begerak lebih sempit.
d. Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan (economic deprivation)
e. Penyakit kronis dan ketidakmampuan
6. Perkembangan Spiritual
a. Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya
(Maslow, dikutip Nugroho, 2000).
b. Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat
dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner,
1970, dikutip Nugroho, 2000).
c. Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut Fowler,
Universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah
berpikir dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai
dan keadilan.
E. Penyakit Yang Sering Dijumpai Pada Lanjut Usia
a. Menurut Stieglitz
Dikemukanan adanya 4 penyakit yang sangat erat hubungannya dengan
proses menua, yaitu :
a. Gangguan sirkulasi darah, seperti : hipertensi, kelainan pembuluh
darah, gangguan pembuluh darah di otak (koroner), dan ginjal
b. Gangguan metabolisme hormonal, seperti : diabetes mellitus,
klimakterium, dan ketidakseimbangan tiroid.
c. Gangguan pada persendian, seperti : osteoarthritis, gout arttritis,
ataupun penyakit kolagen lainnya.
d. Berbagai macam neoplasma
b. Menurut The National Old People;s Welfare Council
Di Inggris mengemukakan bahwa penyakit atau gangguan umum pada
lanjut usia ada 12 macam, yakni :
a. Depresi mental
b. Gangguan pendengaran
c. Bronchitis kronis
d. Gangguan pada tungkai/sikap berjalan
e. Gangguan pada koksa/sendi panggul
f. Anemia
g. Demensia
h. Gangguan penglihatan
i. Ansietas/kecemasan
j. Dekompensasi kordis
k. Diabetes mellitus, osteomalasia, dan hipertiroidisme
l. Gangguan pada defekasi
c. Penyakit Lanjut Usia di Indonesia
Meliputi :
a. Penyakit-penyakit system pernapasan
b. Penyakit-penyakit kardiovaskuler dan pembuluh darah
c. Penyakit pencernaan makanan
d. Penyakit system urogenital
e. Penyakit gangguan metabolik/endokrin
f. Penyakit pada persendian dan tulang
g. Penyakit-penyakit yang disebabkan proses keganasan
F. Pendekatan Perawatan Lanjut Usia
1. Pendekatan fisik
Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua
bagian, yakni :
a. Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih
mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk
kebutuhannya sehari-hair masih mampu melakukan sendiri.
b. Klien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun, yang keadaan
fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit. Perawat harus mengetahui
dasar perawatan klien lanjut usia ini terutama tentang hal-hal yang
berhubungan dengan keberhasilan perorangan untuk mempertahankan
kesehatannya. Kebersihan perorangan (personal hygiene) sangat
penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingat
sumber infeksi dapat timbul bila kebersihan kurang mendapat
perhatian.
2. Pendekatan psikis
Di sini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan
pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai
supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai
penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat
hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan
kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai
bentuk keluhan agar pada lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu
memegang prinsip tripple S, yaitu sabar, simpatik, dan service.
Pada dasarnya klein lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta
kasih dari lingkungan, termasuk perawat yang memberikan perawatan.
Untuk itu perawat harus selalu menciptakan suasana yang aman, tidak
gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiataan dalam batas kemampuan
dan hobi yang dimilikinya.
Perawat harus dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lanjut
usia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rasa rendah diri,
rasa keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan fisik, dan kelainan
yang dideritanya.
3. Pendekatan sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah
satu upaya perawat dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatanuntuk
berkumpul bersama dengan sesama klien lanjut usia berarti menciptakan
sosialisasi mereka. Jadi, pendekatan sosial ini merupakan suatu pegangan
bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang
membutuhkan orang lain. Dalam pelaksanaanya perawat dapat
menciptakan hubungan sosial antara lanjut usia dan lanjut usia mapun
lanjut usia dengan perawat sendiri.
Perawat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada pada
lanjut usia untuk mengadakan komunikasi dan melakukan rekreasi, missal
jalan pagi, menonton film, atau hiburan-hiburan lain.
4. Pendekatan spiritual
Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam
hubungannya dengan tuhan atau agama yang dianutnya, terutama bila
klien lanjut usia dalam keadaan sakit atau mendekati kematian.
Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang
menghadapi kematian, DR.Tony Setyabudi mengemukakanbahwa maut
seringkali menggugah rasa takut. Rasa takut semacam ini didasari oleh
berbagai macam factor, seperti ketidakpastian akan pengalaman
selanjutnya, adanya rasa sakit/penderitaan yang sering menyertainya,
dankegelisahan untuk tidak kumpul lagi dengan keluarga/lingkungan
sekitarnya.
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA
Fokus asuhan keperawatan yang dilakukan adalah peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit serta mengoptimalkan fungsi fisik dan mental lansia. Selain
itu asuhan keperawatan dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan yang
umum terjadi pada lansia sebagai akibat mekanisme adaptasi yang tidak efektif.
Masalah atau gangguan umum yang terjadi pada lansia anatara lain :
a. Gangguan Muskuloskeletal yaitu rhematik, osteoporosis.
b. Gangguan Kardiovaskuler yaitu hipertensi, stroke, gagal jantung.
c. Gangguan respirasi yaitu penyempitan saluran nafas kronis, asma dan lain-lain.

A. Pengkajian
Meliputi aspek :
1. Fisik
Wawancara :
a. Pandangan lanjut usia tentang kesehatannya
b. Kegiatan yang mampu dilakukan lanjut usia
c. Kebiasaan lanjut usia merawat diri sendiri
d. Kekuatan fisik lanjut usia : otot, sendi, penglihatan, dan pendengaran.
e. Kebiasaan makan,minum, istirahat/tidur,buang air besar/kecil
f. Kebiasaan gerak badan/olahraga/senam lanjut usia.
g. Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan
h. Kebiasaan lanjut usia dalam pemeliharaan kesehatan dan kebiasaan dalam
minum obat.
i. Masalah-masalah seksual yang dirasakan.
Pemeriksaan fisik :
a. Pemeriksaan dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi,perkusi dan
auskultasi untuk mengetahui perubahan system tubuh.
b. Pendekatan yang digunakan dalam pemeriksaan fisik yaitu : head to toe
dan system tubuh
2. Psikologis
a. Apakah mengenal masalah-masalah utamanya
b. Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan
c. Apakah dirinya merasa dibutuhkan atau tidak
d. Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan
e. Bagaimana mengatasi stress yang dialami
f. Apakah mudah dalam menyesuaikan diri
g. Apakah lanjut usia sering mengalami kegagalan
h. Apakah harapan pada saat ini dan akan dating
i. Perlu dikaji juga mengenai fungsi kognitif : daya ingat, proses piker, alam
perasaan, orientasi dan kemampuan dalam penyelesaian masalah
3. Sosial ekonomi
a. Darimana sumber keuangan lanjut usia
b. Apa saja kesibukan lanjut usia dalam mengisi waktu luang
c. Dengan siapa dia tinggal
d. Kegiatan organisasi apa yang diikuti lanjut usia
e. Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap lingkungannya
f. Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain di luar rumah
g. Siapa saja yang biasa mengunjungi
h. Seberapa besar ketergantungannya
i. Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginannya dengan fasilitas yang
ada
4. Spiritual
a. Apakah secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan
agamanya
b. Apakah secara teratur mengikuti atau terlihat aktif dalam kegiatan
keagamaan, misalnya pengajian dan penyantunan anak yatim atau fakir
miskin.
c. Bagaimana cara lanjut usia menyelesaikan masalah dengan berdoa
d. Apakah lanjut usia terlihat sabar dan tawakal
B. Diagnosa Keperawatan
1. Fisik/Biologis
a. Gangguan nutrisi ; kurang/berlebihan dari kebutuhan tubuh dengan
pemasukan yang tidak adekuat.
b. Gangguan persepsi sensorik ; pendengaran, penglihatan sehubungan
dengan hambatan penerimaan,dan pengiriman rangsangan.
c. Kurangnya perawatan diri sehubungan dengan penurunan minat dalam
merawat diri sendiri.
d. Potensial cedera fisiki sehubungan dengan penurunan fungsi tubuh
e. Gangguan pola tidur sehubungan dengan kecemasan atau nyeri
f. Perubahan pola eliminasi sehubungan dengan penyempitan jalan napas
atau adanya secret pada jalan napas.
g. Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan kekakuan sendi
2. Psikososial
a. Isolasi sosial sehubungan dengan perasaan curiga
b. Menarik diri dari lingkungan sehubungan dengan perasaan tidak mampu
c. Depresi sehubungan dengan isolasi sosial
d. Harga diri rendah sehubungan dengan perasan ditolak
e. Koping tidak adekuat sehubungan dengan ketidakmampuan
mengemukakan perasaan secara tepat.
f. Cemas sehubungan dengan sumber keuangan yang terbatas
3. Spiritual
a. Reaksi berkabung atau berduka sehubungan dengan ditinggal pasangan
b. Penolakan terhadap proses penuaan sehubungan dengan ketidaksiapan
menghadapi kematian
c. Marah terhadap tuhan sehubungan dengan kegagalan yang dialami
d. Perasaan tidak senang sehubungan dengan ketidakmampuan melakukan
ibadah secara tepat.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes, RI, 2001. Petunjuk Menyusun Menu Bagi Lanjut Usia. Depkes, Jakarta.

Capernito Lynda juall ( 1998), Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 6 , Alih
Bahasa Yasmin Asih EGC jakarta.

Wahyudi Nugroho ( 2000), Keperawatan Gerontik Edisi 2 , EGC Jakarta

Gunawan S, Nardho, Dr, MPH, 1995, Upaya Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta: Dep Kes
R.I

Lueckennotte, Annette G, 1996, Gerontologic Nursing, St. Louis : Mosby Year


Incorporation

Anonym, Panduan Gerontologi, Jakarta: EGC