LAPORAN KETERANGAN PERTANGGUNGJAWABAN

KEPALA DESA AKHIR TAHUN ANGGARAN 2015

PEMERINTAH DESA TANJUNGWANGI
KECAMATAN MUNCANG KABUPATEN LEBAK
TAHUN 2016
PEMERINTAH KABUPATEN LEBAK
KECAMATAN MUNCANG
KANTOR DESA TANJUNGWANGI
Jl. Raya Muncang-Leuwidamar Km 0,2 Kp. Warunglame Kode Pos 42364

KEPUTUSAN KEPALA DESA TANJUNGWANGI
KECAMATAN MUNCANG
Nomor : 140/001-Ds.TJW.2015/Kep/I/2016

TENTANG

LAPORAN KETERANGAN PERTANGGUNGJAWABAN KEPALA DESA
( LKPJ )
AKHIR TAHUN ANGGARAN 2015

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA DESA TANJUNGWANGI,
Menimbang : a. bahwa agar perencanaan, pelaksanaan, penatanusahaan,
pelaporan dan pertangungjawaban pelaksanaan
penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan
pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa,
dan pemberdayaan masyarakat Desa dikelola berdasarkan
azas-azas transfaran, akuntabel, partisipatif serta
dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran perlu diatur
dengan Peraturan Desa;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
pada huruf a, perlu menetapkan Keputusan Kepala Desa
Tanjungwangi tentang Laporan Penyelenggaraan
Pemerintah Desa Tahun Anggaran 2015;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang
Pembentukan Propinsi Banten (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 182, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4010);
3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5495);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4773);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 83, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4738);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang
Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun
2014 Tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5539);
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);
9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 37);
10. Peraturan Kepala Lembaga KebijakanPengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Nomor 13 Tahun 2013 tentang
Pedoman Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa di Desa
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor
367);
11. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 3 Tahun 2006
tentang Pembentukan, Penataan, dan Perubahan Nama
Desa-Desa di Wilayah Kabupaten Lebak (Lembaran Daerah
Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor 3 Seri D);
12. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 15 Tahun 2006
tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah
(Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor
15);
13. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 14 Tahun 2006
tentang Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun
2006 Nomor 14) sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 7 Tahun 2012
tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten
Lebak Nomor 14 Tahun 2006 tentang Desa (Lembaran
Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2012 Nomor 7);
14. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 19 Tahun 2006
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Kabupaten dan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak
Tahun 2006 Nomor 19);
15. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 1 Tahun 2008
tentang Pembentukan, Penataan, dan Perubahan Nama-
nama Desa di Wilayah Kabupaten Lebak (Lembaran
Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2008 Nomor 1);
16. Peraturan Bupati Lebak Nomor 39 Tahun 2014 tentang
Pengelolaan Keuangan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten
Lebak Tahun 2014 Nomor 39);
17. Peraturan Bupati Lebak Nomor 40 Tahun 2014 tentang
Belanja Barang Jasa Pemerintahan Desa (Lembaran
Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014 Nomor 40);
18. Peraturan Bupati Lebak Nomor 41 Tahun 2014 tentang
Pedoman Penyusunan Anggran Pendapatan dan Belanja
Desa Tahun Anggaran 2015 (Lembaran Daerah Kabupaten
Lebak Tahun 2014 Nomor 41);

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
KESATU : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Desa
Tanjungwangi, Kecamatan Muncang Kabupaten Lebak
Tahun Anggaran 2015, sebagaimana tersebut dalam
Lampiran Keputusan ini.

KEDUA : Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Desa
sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU dibuat dan
dipertanggungjawabkan kepada Bupati Lebak, sebagai
bagian dari pelaksanaan tugas dan kewajiban Kepala Desa.

KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Tanjungwangi
Pada tanggal : 03 Januari 2016
KEPALA DESA TANJUNGWANGI

H. JANIM

Tembusan :
1. Yth. Ibu Bupati Lebak
2. Yth. Bapak Camat Muncang
3. Yth. Ketua BPD Tanjungwangi
BAB I
PENDAHULUAN

Berdasarkan Undang- undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah dan
PP Nomor 72/2005 tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, yang dimaksud Desa
adalah Kesatuan masyarakat Hukum yang memiliki batas- batas wilayah yang berwenang
untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul
dan adat istiadat setempat yang diakui Pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Desa Tanjungwangi yang merupakan pemekaran dari desa Karangcombangadalah
desa yang menghasilkan produk pertanian baik padi maupun dari hasil perkebunan,
tataguna tanah yang mayoritas lahan pesawahan sangat bagus untuk memacu
produktivitas padi karena di tunjang lahan dan pengairan yang mencukupi.
Dengan jumlah penduduk yang tercatat secara administratif yaitu 2.796 jiwa
dengan rincian penduduk berjenis kelamin laki-laki berjulah 1.415 jiwa, dan perempuan
berjumlah 1.381 jiwa. Dari total jumlah penduduk Desa Tanjungwangi tersebut, jumlah
laki-laki usia produktif lebih banyak dari jumlah perempuan sehingga dengan demikian
tenaga produktif cukup signifikan untuk mengembangkan usaha-usaha produktif yang
dapat dilakukan oleh perempuan.
Kegiatan Pemerintahan Desa berjalan dengan baik dan sesuai dengan Anggaran
yang telah tertuang dalam APBD. Kontrol pelaksanaan Penyelenggaraan Pemerintah Desa
dilakukan oleh Badan Permusyawaratan Desa dan masyarakat desa. Pertanggung jawaban
pelaksanaan penyelenggaraan Pemerintah desa dilakukan setiap akhir tahun.

A.Dasar Hukum
Dasar hukum pembuatan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Desa
akhir tahun Anggaran adalah,
1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang pembentukan Daerah Kabupaten
dalam Lingkungan Propinsi Banten;
2. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Derah (Lembaran
Negara Republik Indonesia tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
No. 4437), sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005
tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang – Undang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4548);
3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 182, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4010)
4. Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4438),
5. Peraturan Pemerintah Nomor 108 tahun 2000 tentang Tatacara Pertanggung
Jawaban Kepala Daerah ( Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor : 209, Tambahan
Lembaran Negara Nomor : 4027);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pembinaan dan Pengawasan
Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah ( Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor
41, Tambahan Lembaran Negara 4090)
7. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4587)
8. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Penyelenggara Pemerintah
Desa.
9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah
10. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 7 Tahun 2006 tentang Perubahan atas
Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 2 Tahun 2004 tentang Rencana
Setrategis Kabupaten Lebak Tahun 2004-2009 (Lembaran Daerah Kabupaten
Lebak Tahun 2006 Nomor 5 Seri E ) ;
11. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 12 Tahun 2007 tentang Pembentukan
Organisasi dan Tata Kerja badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten
Lebak (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2007 Nomor 12 Seri E ) ;
12. Peraturan Bupati Nomor 2 Tahun 2008 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan
Musyawarah Perencanaan Pembangunan di Kabupaten Lebak.

B. Gambaran Umum Desa
1. Kondisi Geografis
Desa Tanjungwangi adalah desa pemekaran dari Desa Leuwicoo pada tahun
2010, dan merupakan desa yang menghasilkan paroduk pertanian baik padi maupun
dari hasil perkebunan dengan kondisi tersebut dapat dilihat dari tataguna tanah
yang mayoritas lahan pesawahan dan perkebunan Desa Tanjungwangi sangat bagus
untuk memacu produktifitas padi karena di tunjang lahan dan pengairan yang
mencukupi.
Di wilayah dusun I Warunglame dan Tanjungwangi, terutama diwilayah desa
paling ciri geologisnya berupa tanah bebatuan dengan lapisan atasnya tanah
berwarna merah (gembur) secara topoghrafi tanah ini berbentuk perbukitan dan
banyak mata air.
Sementara di dusun II Cipeuyah, Babakan Cipeuyah, Cibangkong dan
Cikuning, topografi tanahnya Berbukit dengan jenis tanah bebatuan dan bercadas
dan sangat cocok untuk tanaman padi dan perkebunan dan cukup mata air.
Sementara di dusun III Lebak Sawah dan Cimuncaang topografi tanahnya
berbukit dengan jenis tanah bebatuan / bercadas dan sangat cocok untuk tanaman
padi dan cocok untuk perkebunan.

2. Gambaran Umum Demografis
Berdasarkan data administrasi Pemerintahan Desa, jumlah penduduk yang
tercatat secara administrasi, jumlah total 2.796 jiwa. dengan rincian penduduk
berjenis kelamin laki-laki, berjumlah 1.415 jiwa, sedangkan berjenis kelamin
perempuan berjumlah 1.381 jiwa.
Survei data sekunder dilakukan oleh fasilitator pembangunan Desa,
dimaksudkan sebagai data pembanding dari data yang ada di PemDes. survei data
sekunder yang dilakukan pada bulan Desember 2015, berkaitan dengan data
penduduk pada saat itu, terlihat dari blanko yang di di isi oleh Ketua RT
dilingkungan masing-masing. Didapatkan data seperti yang ada di tabel 4 berikut
ini:
Tabel 4.
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Desa Tanjungwangi Tahun 2015
Prosentase
No. Jenis Kelamin Jumlah
(%)
1 L : 1.415 P : 1.381 2.796 50,29 %
Jumlah 49,71 %

Seperti terlihat dalam tabel diatas, tercatat jumlah total penduduk Desa
Tanjungwangi 2.796 jiwa, terdiri dari laki-laki 1.415 jiwa atau 50,29 % dari total
jumlah penduduk yang tercatat sementara perempuan 1.381 jiwa atau 49,71 % dari
total jumlah penduduk yang tercatat.
Dari hasil data sekunder dapat diketahui proporsi jumlah penduduk yang
berdiam di wilayah tingkat kampung maupun dusun.
Dikampung 1 Warunglame dan Tanjungwangi, proporsi jumlah penduduk yang
berdiam di wilayah tersebut sebanyak 980 jiwa atau 36% dari total
populasi penduduk yang tersurvei
Di Kampung 2 Cipeuyah, Babakan Cipeuyah, Cibangkong dan Cikuning proporsi jumlah
penduduk yang berdiam di wilayah tersebut sebanyak 1.235 jiwa atau
37% dari total populasi penduduk yang tersurvei
Di Kampung 3 Lebak Sawah, Cimuncaang, Wanasari, Kadu Ronyok dan Gunung Tugu
proporsi jumlah penduduk yang berdiam di wilayah tersebut sebanyak
581 jiwa atau 26% dari total populasi penduduk yang tersurvei.
Dimasing-masing kampung dapat diketahui prosentase terbesar populasi
penduduk berdiam. Agar dapat mendeskripsikan lebih lengkap tentang informasi
keadaan kependudukan di Desa Tanjungwangi di lakukan identifikasi jumlah
penduduk dengan menitik beratkan kepada klasifikasi usia dan jenis kelamin.
Sehingga akan di peroleh gambaran tentang kependudukan Desa Tanjungwangi yang
lebih konprehensif. Untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan deskripsi
tentang jumlah penduduk di Desa Tanjungwangi berdasarkan pada usia dan jenis
kelamin secara detail dapat dilihat dalam lampiran tabel 5 berikut:

Tabel 5
Jumlah penduduk berdasarkan struktur usia
No Kelompok usia Jumlah Prosentase
1 0-4 32 1,2
2 5-9 54 2
3 10-14 134 5
4 15-19 114 8
5 20-24 195 11
6 25-29 227 10
7 30-34 375 14
8 35-39 428 16
9 40-44 321 12
10 45-49 214 8
11 50-54 161 6
12 55-59 107 4
13 >60 TAHUN 75 2,8
JUMLAH 2.796 100%

Dari total jumlah penduduk Desa Tanjungwangi, yang dapat dikategorikan kelompok
rentan dari sisi kesehatan mengingat usia, yaitu penduduk usia 60 tahun keatas
sebanyak 75 atau 2,8%.
Penduduk usia produktif pada usia antara 20-49 tahun di Desa Tanjungwangi
jumlahnya cukup signifikan, yaitu 1.684 jiwa atau 70,98% dari total jumlah
penduduk.
Dari data tersebut diketahui bahwa jumlah laki-laki usia produktif lebih banyak
dari jumlah Perempuan. Dengan demikian sebenarnya laki-laki usia produktif di
Desa Tanjungwangi dapat menjadi tenaga produktif yang cukup signifikan untuk
mengembangkan usaha-usaha produktif dilakukan oleh perempuan. Pemberdayaaan
usaha perempuan usia produktif diharapkan semakin memperkuat ekonomi
masyarakat, sementara ini masih bertumpu kepada tenaga produktif dari pihak
laki-laki.

3. Kondisi Ekonomi
Mata Pencaharian
Secara umum mata pencaharian warga masyarakat Desa Tanjungwangi dapat
teridentifikasi kedalam beberapa bidang mata pencaharian, Petani, buruh tani,
PNS/TNI/Polri, Karyawan Swasta, Pedagang, Wirausaha, Pensiunan, buruh
bangunan, Peternak. Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat
pada tabel 7.

Tabel 7.
Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Desa Tanjungwangi Tahun 2015

Prosentase dari
No. Macam pekerjaan Jumlah total jml.Penduduk
( % )
1 Petani 232 8,66
2 Buruh tani 135 5,04
3 Buruh industri 162 6,04
4 Buruh bangunan 39 1,45
5 Dagang 69 2,57
6 PNS/ABRI/POLRI 6 0,22
7 Home industri 1 0,03
8 Peternak 12 0,44
9 Montir 5 0,00
10 Jasa 1 0,03
Jumlah 662 24,53
Data survey potensi ekonomi Desa Tanjungwangi tahun 2015
Berdasarkan tabulasi data tersebut teridentifikasi, di Desa Tanjungwangi
jumlah penduduk yang mempunyai mata pencaharian ada 24,53% dari jumlah
tersebut kehidupannya bergantung di sektor pertanian ada 8,66% dari total
jumlah penduduk.
Dengan demikian dari data tersebut menunjukan bahwa warga masyarakat
di desa Tanjungwangi memiliki alternatif pekerjaan selain sektor tani dan buruh
tani. Setidaknya karena kondisi lahan pertanian mereka sangat bergantung dengan
air irigasi. Disisi lain, air irigasi yan tidak dapat mencukupi untuk kebutuhan lahan
pertanian di Desa Tanjungwangi secara keseluruhan terutama ketika musim
kemarau. Sehingga merekapun dituntut untuk mencari alternatif pekerjaan lain.

BAB II
RENCANA PEMBENGUNAN JANGKA MENENGAH DESA
A. Visi dan Misi
Penyusunan RPJMDes Tanjungwangi sebagai pedoman program kerja
PemDes bersama lembaga-lembaga tingkat desa dan seluruh warga masyarakat
Desa Tanjungwangi maupun pihak yang berkepentingan. RPJMDes adalah pedoman
program kerja untuk masa 6 tahun. RPJMDes sebagai pedoman program kerja
untuk masa 6 tahun merupakan turunan dari sebuah cita-cita yang ingin dicapai di
masa depan oleh segenap warga masyarakat Desa Tanjungwangi. Cita-cita masa
depan sebagai tujuan jangka panjang yang ingin diraih Desa Tanjungwangi,
merupakan arah kebijakan dari RPJMDes yang dirumuskan setiap 6 tahun sekali.
Cita-cita masa depan Desa Tanjungwangi disebut juga sebagai Visi Desa
Tanjungwangi.
Visi Desa Tanjungwangi disusun dari rangkaian panjang diskusi-diskusi
formal maupun informal dengan segenap warga Tanjungwangi atau tokoh-tokoh
masyarakat sebagai representasi dari warga masyarakat Tanjungwangi. Visi Desa
Tanjungwangi semakin mendapatkan bentuknya bersamaan dengan terbentuknya
rangkaian kegiatan dan musyawarah yang dilakukan untuk kesempurnaan Review
RPJMDes tahun 2010-2016 dengan Metode Community Action Plan (CAP). Dalam
kegiatan ini, semakin mendekatkan visi Desa Tanjungwangi dengan kenyataan yang
ada di desa dan masyarakat. Kenyataan yang dimaksud baik merupakan potensi,
permasalahan maupun hambatan yang ada di desa dan masyarakatnya,yang ada
pada saat ini maupun kedepan.

1. Visi
Bersamaan dengan penetapan RPJMDes Tanjungwangi, dirumuskan dan
ditetapkan juga visi Desa Tanjungwangi :
“TERWUJUDNYA KERJASAMA YANG BAIK ANTAR APARATUR DESA DAN
TERWUJUDNYA PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT DAN
MEMEBERIKAN PELAYANAN PRIMA KEPADA MASYARAKAT YANG
DIDUKUNG TERTIB ADMINISTRASI DENGAN SUASANA AMAN DAN
RELEGIUS”.
Visi tersebut mengandung pengertian bahwa cita-cita yang akan dituju dimasa
mendatang oleh segenap warga Desa Tanjungwangi untuk terus bekerja dan
menjadi Pusat Pemerintahan yang selalu kompak dan perekonomian yang
berbasis pada pertanian dan perkebunan guna meningkatkan pendidikan,
inprastruktur, sosial dan budaya dengan memberdayakan ekonomi kerakyatan
yang dijamin dengan kondusifitas sehingga terbuka untuk berinvestasi.

2. Misi
Misi Desa Tanjungwangi merupakan turunan dari visi Desa
Tanjungwangi. Misi merupakan tujuan jangka lebih pendek dari visi yang
menunjang keberhasilan tercapainya sebuah visi. Dengan kata lain misi Desa
Tanjungwangi merupakan penjabaran lebih operasional dari visi. Penjabaran
dari visi ini diharapkan dapat mengikuti dan mengantisifasi setiap terjadinya
perubahan lingkungan di masa yang akan datang dari usaha-usaha mencapai visi
Desa Tanjungwangi.
Dalam meraih misi Desa Tanjungwangi seperti yang sudah dijabarkan
diatas, dengan mempertimbangkan potensi dan hambatan baik internal maupun
eksternal. Maka disusunlah misi Desa Tanjungwangi :
a. Meningkatkan Kerjasama dan Disiplin Terhadap Afaratur Pemerintahan
Desa.
b. Menyelenggarakan Kegiatan Tertib Administrasi Pemerintahan Desa.
c. Membangun dan mendorong majunya bidang pembangunan fisik material
serta mental spiritual dengan membuka akses terhadap inpestor baik dari
dalam maupun luar.
d. Membangun dan mendorong terciptanya pendidikan yang menghasilkan insan
intelektual serta mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
e. Membangun kemandirian dalam usaha serta pemanfataan sumberdaya alam
yang ada dan tidak ketergantungan kepada pencarian lapangan kerja.
f. Membangun dan mendorong terciptanya sarana pendidikan umum dan agama
sehingga menghasilkan generasi penerus yang siap pakai.
g. Membangun dan mendorong majunya bidang pendidikan baik formal maupun
non formal serta pendidikan agama yang mudah dan murah.

B. Strategi dan Arah Kebijakan Desa
1. Strategi
a. Transfaran, Tarnsfaransi dibangun atas dasar kebebasan arus informasi.
Adanya sifat keterbukaan bagi semua pihak yang berkepentingan terhadap
semua informasi terkait, seperti berbagai aturan, kebijakan Pemerintah Desa
diberbagai kegiatan. Proses – proses, lembaga – lembaga, dan informasi
secara langsung dapat diterima oleh mereka yang membutuhkan. Informasi
harus dapat dipahami dan dimonitor. Pemerintah Desa dalam memberikan
pelayanan umum tidak membedakan perlakuan atas dasar suku, agama dan ras.

b. Dapat Dipertanggungjawabkan ( Accountable ), Akuntabilitas adalah
kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau untuk menjawab dan
menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum /pimpinan kolektif
suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk
meminta keterangan atau pertanggung jawaban.Pada pembuat keputusan
dalam pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat bertanggung jawab
kepada publik dan lembaga – lembaga yang berkepentingan accountabilitas ini
tergantung pada organisasi dan sifat keputusan yang di buat, apakah
keputusan tersebut untuk kepentingan internal atau eksternal organisasi.

c. Demokratis, Dalam arti masyarakat di berikan kebebasan dalam
mengemukakan pendapat, berbeda pendapat dan menerima pendapat orang
lain. Akan tetapi apabila sudah menjadi keputusan harus di laksanakan
bersama – sama dengan penuh tanggung jawab.

d. Partisifatip, Setiap warga masyarakat Tanjungwangi mempunyai suara dalam
pembuatan keputusan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui
perantara lembaga yang mewakili kepentingannya partisipasi tersebut di
bangun atas dasar kebebasan asosiasi dan berbicara serta berpartisipasi
secara konstruktif.prinsip pembangunan adalah dari, oleh, dan untuk rakyat.
Oleh karena itu rakyat harus di libatkan dalam setiap proses pembangunan
yaitu dari perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada pemeliharaan/pasca
kontruksi.

e. Profesional, Bagi Pemerintah Desa dalam melayani kepentingan dan
kebutuhan masyarakat dan Desa harus mengerjakan secara konsisten,
terbuka terhadap kritik dan saran dalam rangka perbaikan kinerja pelayanaan
pada warga masyarakat Tanjungwangi dan para pihak yang berkepentingan.

f. Keadilan, Bagi semua pemerintahaan Desa Tanjungwangi, proporsional dalam
pembagian beban kerja dan perolehan pendapatan dengan mengingat aturan
yang berlaku.Bagi seluruh warga masyarakat, proposional dalam menerima
pembagian beban tanggung jawab dan keuntungan baik langsung maupun tidak
langsung dari kegiatan pembangunan desa yang ada.

g. Kesetaraan dan Keadilan gender, Seluruh warga masyarakat Tanjungwangi
tidak memperbolehkan membeda – bedakan perlakuan dan kesempatan atas
dasar jenis kelamin dan oriental seksual.

h. Egaliter, Seluruh warga masyarakat Tanjungwangi mengakui bahwa pada
dasarnya setiap orang mempunyai posisi dan kedudukan yang sama.

i. Kelestarian Lingkungan, Seluruh warga masyarakat Desa Tanjungwangi
berkewajiban menciptakan situasi dan kehidupan sosial yang ramah
lingkungan.

j. Merdeka, Semua warga masyarakat Tanjungwangi, terutama pemerintah
desa harus bebas dari campur tangan manapun, terutama pihak yang tidak
berhak, dan selektif dalam melakukan kerja sama dengan pihak lain.

2. Arah Kebijakan Desa
a. meningkakan sarana dan prasarana infrastruktur
b. meningkatkan kwalitas sarana dan prasarana pendidikan
c. mengembangkan usaha ekonomi mikro kecil dan menengah
d. mengembangkan jangkauan pelayanan kesehatan
e. meningkatkan kapasitas aparatur desa
f. kebijakan pembangunan inprastruktur dengan memperhatikan situasi dan
kondisi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.
g. g.pengelolaan sumberdaya alam yang berwawasan lingkungan, dengan kata lain
pembuatan sumberdaya buatan untuk menciptakan langan kerja agar
memperhatikan dampak lingkungan alam dan sekitarnya.
C. Prioritas Desa
1. Potensi dan masalah
a. Potensi adalah merupakan segala sesuatu yang dimiliki masyarakat secara
bersama, beberapa potensi yang dimiliki oleh Desa Tanjungwangi adalah
sebagai berikut :
b. Sarana Pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut :
No
Jenis Pendidikan Banyknya Keterangan
.
1. Paud 2 Al-Mubarok & Al-Huda
2. Madrasah Diniyah 2 Al-Mubarok & Al-Huda
3 Sekolah Dasar/SDN 2 Tanjungwangi 1 & Tanjungwangi 2
4. SMPN - -
5. MTs 1 Maulana Yusuf_Warunglame
6. SMA/MA 1 Maulana Yusuf_Warunglame
Kp. Warunglame dan Kp.
7. Pondok Pesantren Salafi 2
Tanjungwangi

c. Infrastruktur Jalan :
Panjang
No Jenis Jalan Keterangan
(Km)
I JALAN DESA 10 Hotmic dan Batu
1. Jalan Tanah/ 7 Jl. Usaha Tani dan Jl, Produksi
2. Jalan berbatu 3.5 Jln.desa rusak ringan
3. Jalan Aspal/Hotmic 3 Jln.Desa
II. JALAN LINGKUNGAN 10 Tanah ( Cimuncaang & Cipeuyah )
1. Jalan Batu 5 Kp. Cimuncaang_Lebak Sawah
2. Jalan Aspal 5 Rusak Ringan
3. Jln. Paving Blook 1,5 Baru
III. JALAN KABUPATEN
1. Aspal 0 -
2. Batu 0 -
3. Tanah 0 -

d. Penerangan/ Listrik
Instalasi listrik di Desa Tanjungwangi telah masuk sejak tahun 2006,
semenjak masih dalam Desa Leuwicoo. seiring dengan program listrik masuk
Desa (Prolisdes) sampai dengan saat ini kurang dari 35% masyarakat yang
belum dipasang penerangan listrik (KWH Elektrik) dari total jumlah KK 727.

e. Air Bersih
Sumber air bersih untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat Desa
Tanjungwangi memanfaatkan sumber mata air yang ada sampai mencakup 1
dari 2 dusun dengan bantuan pemerintah (SAB) sampai mencakup 90% dan
sisanya menggunakan sumber mata air yang ada dan sumur gali dan kali.
Secara umum kondisi air bersih di Desa Tanjungwangi Kecamatan Muncang
sampai saat ini masih kurang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga
secara keseluruhan.

BAB III
KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DESA

Penyusunan APBDesa Tahun Anggaran 2015 didasarkan pada Peraturan Bupati
Lebak Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran dan Belanja Desa
Tahun Anggaran 2015 (Berita Daerah Kabupaten Lebak Nomor 41 Seri A ). Penetapan
APBDesa Tahun Anggaran 2015 dengan Peraturan Desa Tanjungwangi Nomor 3 Tahun
2015. Dalam mengoptimalkan pengelolaan keuangan desa, kebijakan anggaran APBDesa
Tahun 2015 dilaksanakan dengan prinsip Partisifasi Masyarakat, Transfaransi dan
Akuntabilitas Anggaran, Disiplin Anggaran, Keadilan Anggaran, Efisiensi dan Efektivitas
Anggaran, serta Taat Azas APBDesa.

A. PENGELOLAAN PENDAPATAN DESA
1. Intensifikasi dan Ekstensifikasi
Untuk meningkatkan pendapatan desa dalam tahun 2015 ini telah dilakukan
langkah- langkah sebagaimana berikut :
a. Intensifikasi pendapatan desa dengan meningkatkan hasil pendapatan dari
sumber pendapatan Desa lainnya pada tahun 2015.
b. Ekstensifikasi pendapatan desa dilaksanakan dengan cara menggali dan
memberdayakan sumber- sumber pendapatan desa lainnya sebagaimana berikut
1. Mempercepat pelunasan PBB tepat waktu agar mendapatkan dana stimulus
perlunasan PBB.
2. Pengajuan Proposal permohonan dana bantuan ke Pemerintah Provinsi.

2. Target dan Realisasi Pendapatan
Realisasi pendapatan Desa Tanjungwangi Pada Tahun Anggaran 2015 mencapai
sebesar RP. 513.189.056 atau 95% dari target pendapatan APBDes sebesar Rp.
513.189.056. Bantuan Keuangan terbesar pendapatan Desa Tanjungwangi pada Tahun
2015 ini berasal dari APBN/Dana Desa (DD) sebesar Rp. 276.074.354,- atau 53%
dari total APBDes Tahun 2015. Target dan realisasi pendapatan desa tahun anggaran
2015 sebagaimana dalam tabel berikut :

Anggaran Keterangan
No Uraian
(Rp) *) Sumber Dana
1 Pendapatan Transfer
- Dana Desa 276.074.354 APBN
- Alokasi Dana Desa 196.540.651 APBD
- Dana Bagi Hasil 40.574.051 DBH
J U M L A H 513.189.056 APBDes
S I L P A 19.200.000 APBDes

3. Permasalahan dan penyelesaian.
Dalam pengelolaan pendapatan desa pada tahun 2015 tidak terdapat permasalah
yang mengakibatkan pengurangan atau penambahan anggaran, semua berjalan sesuai yang
direncanakan pada draf APBDes. Namun demikian pemerintahan Desa Tanjungwangi
tetap mengadakan kegiatan antisipasi permasalahan yang akan timbul dan tidak
diinginkan.

B. PENGELOLAAN BELANJA DESA
1. Kebijakan Umum Keuangan Desa
Sebagaimana kami sampaikan di atas bahwa pengelolaan keuangan desa talah
melalui beberapa proses, hingga penetapan dalam APBDesa, demikian pula untuk belanja
desa juga melalui beberapa proses, sehingga dapat oftimal penggunaanya dan dapat
pula dipertanggungjawabkan secara benar.
2. Target dan Realisasi Belanja
Serapan atau realisasi belanja mencapai Rp. 513.189.056,- atau 95% dari total
anggaran sebesar Rp. 513.189.056,- yang berarti terdapat sisa lebih sebesar Rp.
19.200.000.- Serapan belanja langsung mencapai Rp. 372.889.056 atau 72% dari total
anggaran Rp.513.189.056. Sedangkan serapan untuk belanja tidak langsung mencapai Rp.
135.300.000 atau 28% dari total anggaran sebesar Rp. 513.189.056. Target dan realisasi
belanja APBDesa Tanjungwangi Tahun Anggaran 2015, sebagaimana tabel berikut :

Target dan Realisasi Belanja Desa Pasireurih TA 2015, Sebagaiman terlampir :
No Pendapatan Desa Target Realisasi Prosentase
1 2 3 4 5
A Belanja Langsung 372.889.056 356.689.056 95
1 Pos Belanja Pegawai/ honorarium 67.868.151 67.868.151 100
2 Pos Belanja Barang/jasa 51.323.000 51.323.000 100
3 Pos Belanja Modal 256.097.905 239.897.905 95
B Belanja Tidak Langsung 140.300.000 137.300.000 97
Belanja Pegawai/ Penghasilan
1 126.000.000 123.000.000 97
Tetap
2 Belanja Subsidi 0 0 0
3 Belanja Hibah 0 0 0
4 Belanja Bantuan Sosial 5.000.000 5.000.000 100
5 Belanja Bantuan Keuangan 9.300.000 9.300.000 100
6 Belanja Tak terduga 0 0 0
J U M L A H A+B 513.189.056 493.989.056 95

3. Permasalahan dan penyelesaian.
Dalam penyerapan belanja langsung yang hanya mencapai 95% disebabkan karena :
a. Pembangunan jalan Faving Blcok tidak terserap jumlah keseluruhan dananya, hal ini
disebabkan karena Transfer/Pencairan tidak sesuai tahapan yang telah ditetapkan,
melainkan waktunya mepet dengan tahun anggaran berikutnya. Sedangkan untuk
penyerapan belanja tidak langsung hanya mencapai 97% karena ada beberapa belanja
yang tidak terealisasi yaitu :
a. Penghasilan Tetap Kepala Desa dan Perangkat Desa, untuk Penghasilan tetap Plt. Kaur
Umum dan Keuangan tidak terserap sebesar Rp. 3.000.000.-

BAB IV
PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DESA

A. URUSAN HAK ASAL USUL DESA
Berdasarkan Undang- undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah yang dimaksud Desa adalah Kesatuan masyarakat Hukum yang memiliki batas-
batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui
Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam kontek penyelenggaraan Pemerintahan Desa, dalam melaksanakan tugas
pelayanan, pembangunan desa, serta pembinaan masyarakat maka desa selain memiliki
sumber Pendapatan Asli Desa sesuai dengan Undang- undang Nomor 32 tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah,Desa juga berhak untuk mendapatkan Alokasi Dana
Desa Umum yang diterima oleh Daerah.
Di era Otonomi, Pemerintahan Desa Tanjungwangi juga melaksanakan kegiatan
Otonomi tersebut. Indikatornya adalah penggalian potensi Desa yang ada. Namun
usaha tersebut masih jauh dari harapan Pemerintah Desa Tanjungwangi karena masih
kurangnya faktor pendanaan, SDM, pendapatan masyarakat desa serta Pendapatan
Asli Desa Tanjungwangi yang hingga sampai saat ini mengandalkan tanah Kas desa.

1. Pelaksanaan Kegiatan
Program – program pembangunan Desa dilakukan dengan Usulan-usulan dari
tingkat RT yang di musyawarahkan. Dan ditampung pada kegiatan Dusun. kemudian
antar usulan-usulan dari Dusun tersebut dibawa dalam Musrenbangdes. Semua
program kegiatan ini dijadikan Bank Data Kegiatan Pembangunan berkala.
(terlampir pada lampiran jenis kegiatan Pembangunan Desa Tanjungwangi).
Kegiatan pembangunan fisik untuk Desa Tanjungwangi masih sekitar sarana dan
prasarana yang mengacu pada Dokumen Musrenbangdes. Mengingat bahwa Desa
Tanjungwangi merupakan daerah Pemekaran dan penyangga Pangan maka kegiatan
sarana dan prasarana Perhubungan, Pertanian serta Pemerintahan masih menjadi
Prioritas ataupun Agenda Kegiatan Pembangunan Fisik Desa, Yang pelaksanaan
sepenuhnya oleh masyarakat itu sendiri. Dari Pemerintah Desa hanya
menampung/menjembatani kemudian usulan tersebut di masukan dalam Agenda
Pembangunan. Dan yang lebih penting lagi adalah melihat Keuangan yang ada.
Karena Faktor ini mendukung sepenuhnya dari berbagai kegiatan yang ada.Setelah
semua kegiatan sarana dan prasarana desa sukses dilaksanakan, barulah kegiatan
Non fisik dikerjakan. (tertuang dalam Dokumen Musrenbangdes). Semua Program
ini sukses sepenuhnya harus didukung dengan Profesional dan tidak melanggar
ketentuan. Karena semua kegiatan ini harus mendapatkan dukungan dari berbagai
pihak khususnya Masyarakat, instansi- instansi terkait yang ada serta Pemerintah
Kabupaten Lebak pada umumnya.

2. Tingkat Pencapaian
Keberhasilan suatu pembangunan didesa tidak lepas dari peran serta
masyarakat, Dengan dukungan swadaya pun belum mampu atau belum bisa diukur
berhasil apabila pelaksanaan pembangunan tersebut hanya mengandalkan swadaya.
Intinya harus ada kebersamaan, saling pengertian , saling percaya dan saling
mempunyai dan rasa memiliki. Di desa Tanjungwangi tingkat pencapain
pembangunannya yang paling menonjol adalah Pelaksanaan kegiatan dana-dana
APBDes tahun 2015.

3. Satuan Pelaksanaan Kegatan Desa
Dalam Susunan Organisasi dan Tata kerja Pemerintahan Desa Tanjungwangi,
pelaksanaanya mengacu pada Peraturan Bupati Kabupaten Lebak Nomor 8 Tahun
2006 dan Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2008. Mengingat Luas wilayah Desa
yang sedang, maka Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa
Tanjungwangi menggunakan pola Minimal. Semua pelaksanaan kegiatan
pemerintahan sesuai aturan yang berlaku. Dari Kepala Desa hingga ke RT/RW
berjalan dengan baik. Begitu juga dengan Lembaga-lembaga Desa yang ada.
Pelaksanaan kegiatanya sesuai pekerjaanya masing-masing yang telah diatur
menggunakan Susunan Organisasi dan Tata kerja Tahun 2014.

4. Data Perangkat Desa
Sesuai ketentuan dengan Pola Sedang, Desa Tanjungwangi dibagi menjadi 3
wilayah Dusun, 11 RT dan 3 RW. Berikut diterangkan data perangkat Desa
Tanjungwangi :
a) Kepala Desa : H. JANIM
b) Sekretaris Desa : SUWARDI
c) Kepala Urusan Umum & Keuangan : IIN KURNIAWATI
d) Bendahara Rutin : SULASTRI
e) Kepala Urusan Pemerintahan & Trantib : ADI KOSASIH
f) Kepala Urusan Ekbang & Kesra : GENTUR
g) Staf Desa : SAEPUDIN
h) Linmas Desa/Keamanan : 1. H. SUTION
2. UKANI
i) Kadus I/RW. 001 : JAKA
j) Kadus II/RW. 002 : MISNAN
k) Kadus III/RW. 003 : H. ONI

5. Alokasi dan Realisasi Anggaran
Semua anggaran yang telah dituangkan dalam APBDesa sering kali belum
bisa sesuai rencana. Kejadian ini tidak hanya terjadi di Desa Tanjungwangi, di Desa
/ wilayah yang lain juga keadaanya tidak jauh berbeda.Semua pelaksanaan kegiatan
di desa, dana di lokasikan pada pekerjaan- pekerjaan yang dianggap perlu dan
darurat. Pekerjaan yang pelaksanaan nya menggunakan dana yang besar diajukan
ke Pemerintah Kabupaten Lebak. Dan Pemerintah Propinsi.Realisasi pekerjaan
pembangunan didesa menunggu Anggaran yang telah di sahkan. Dan apabila masih
kurang/ lebih diadakan perubahan anggaran sesuai ketentuan.

6. Sarana dan Prasarana
Dalam rangka pemerataan pembangunan desa menuju kemandirian desa dan
meningkatnya kesejahteraan masyarakat desa, diperlukan partisifasi dari seluruh
masyarakat melalui pembangunan skala desa. Untuk mendukung pelaksanaan
program tersebut diperlukan sumber dana yang dibutuhkan untuk menjaga ataupun
membangun sarana dan prasarana desa.
Bangunan-bangunan yang ada khususnya bangunan Sarana umum, sarana
ibadah umumnya sudah lama dan perlu di Renovasi/Rehabilitasi bahkan dibangun
total karena sudah tidak layak di gunakan. Khusus untuk Perkantoran dan Balai
Desa Tanjungwangi menjadi Program super prioritas karena balai dan Kantor Desa
Tanjungwangi Belum Mempunyai Kantor Desa.
Sumber utama dalam pelaksanaan pembangunan di Desa Tanjungwangi masih
mengandalkan Alokasi Dana Desa ( ADD ). Banyak manfaat yang dihasilkan dari
kegiatan tersebut antara lain:
a. Penyelenggaraan Pemerintahan Desa dalam melayani masyarakat desa
diharapkan lebih oftimal sesuai kewenanganya.
b. Lembaga-lembaga kemasyarakatan didesa dapat meningkatkan kemampuanya
dalam hal perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan sarana dan
prasarana desa bersama dengan Pemerintah Desa.
c. Diharapkan dari pelaksanaan pekerjaan di setiap pembangunan sarana dan
prasarana pendapatan, kesempatan bekerja masyarakat ada.
d. Partisipasi swadaya dana dan Gotong Royong tenaga/ matrial menjadi lebih
optimal.
Berikut disampaikan sarana dan prasarana desa yang ada :
a. Kantor Desa ( Masih Menggunakan Gedung Pertemuan Desa ) jumlah 1 unit ( 2
Ruangan )
b. Pendopo Belum dibangun
c. Ruang serbaguna jumlah 1 unit ( 2 ruangan )
d. Masjid Jami’ jumlah 5 Masjid
e. Musholla jumlah 5 Musholla
f. Pos Ronda jumlah 11 buah dari 11 RT
g. Sekolah Dasar Jumlah 2 SD dan 2 PAUD
h. Sekolah Menengah Pertama Atau Sederajat Jumlah 1 ( MTs )
i. Sekolah Menengah Atas atau Sederajat Jumlah 1 ( MA )
j. Poliklinik Kesehatan/POSYANDU/PUSKESDES Desa Jumlah 1 Unit ( 1 bidan )
Uraian lebih lanjut ada dalam Profil Desa Tanjungwangi.

7. Permasalahan dan Penyelesaian
Setiap pelaksanaan kegiatan pembangunan dipastikan ada kendala. Ini
dikarenakan kurangnya pemahaman masyarakat tentang pelaksanaan Pembangunan
tersebut. Sedangkan swadaya dan gotong royong ada beberapa masalah. Untuk
menyelesaikan pelaksanaan kegiatan tersebut diadakan musyawarah agar
masyarakat mendukung sepenuhnya dan partisifasi lebih ditekankan kepada
masyarakat. Agar semua masyarakat merasa ikut memiliki pada pekerjaan
tersebut dan diharapkan sesuai rencana kerja yang ada. Semua keputusan
diserahkan kepada masyarakat dalam penggalian dana ataupun swadaya. Partisifasi
dan gotong royong ditekankan pada masyarakat dan dilakukan sosialisasi pada
masyarakat agar semua pelaksanaan pekerjaan tersebut sesuai dengan rencana.
Masalah inprastruktur di Desa Tanjungwangi terutama jalan dan air bersih,
sarana kesehatan,pendidikan dan Perekonomian yang belum optimal dalam
pengeloaan sumberdaya alam yang disebabkan oleh minimnya kemampuan
sumberdaya manusia. Permasalahan desa Tanjungwangi diuraikan sebagai berikut :
No. MASALAH POTENSI

Kurangnya lulusan SMA dan Perguruan Sumber Daya manusia
1
Tinggi dan Pondok Pesantren
Adanya KK Miskin
2 Banyaknya rumah kumuh
Matrial
3 Banyaknya penyakit diare/gatal Adanya tenaga medis
Kurang lancarnya transfortasi jalan Adanya Matrial
4
poros desa Sumber Daya manusia
Adanya matrial
5 Kurangnya sarana pengairan (irigasi) Sumberdaya manusia
Sumber air
Kurang lancarnya transfortasi jalan Adanya matrial
6
lingkungan (Paping Blok) Sumber Daya manusia
Adanya matrial
7 Kurangnya jalan usaha tani
Sumber Daya manusia
Adanya SDM
8 Kurangnya sarana pendidikan Diniyah Adanya matrial
Adanya lahan
Adanya sumber air
9 Kurangnya sarana air bersih Adanya matrial
Sumber Daya manusia
Adanya matrial
10 Kurangnya sarana mandi cuci kakus Adanya SDM
Adanya sumber air
11 Kurangnya sarana SPAL Adanya SDM
Adanya matrial
Adanya SDM
Kurangnya sarana kesehatan
12 Adanya matrial
Poskesdes
Adanya lahan
Adanya SDM
13 Kurangnya bak penampungan sampah Adanya matrial
Adanya lahan
Adanya matrial
14 Kurangnya turap kali
Adanya SDM
Adanya lahan sawah
15 Kurangnya sarana alat pertanian
Adanya Kelompok Tani
Kurang oftimalnya hasil penen padi Adanya lahan sawah
16
(Bibit padi) Adanya SDM
Adanya SDM
17 Kurangnya pupuk
Adanya lahan sawah
Kurang oftimalnya hasil perkebunan Adanya lahan kebun
18
albasia Adanya kelompok tani
Adanya SDM
19 Turap pengaman kampung
Adanya bahan matrial
Adanya lahan kebun
20 Pengadaan bibit karet
Adanya kel tani
Adanya lahan kebun
21 Pengadaan bibit durian
Adanya kel tani
Adanya lahan basah
22 Pengadaan bibit ikan Lele, Mas, Nila
Adanya kelompok tani ikan
Adanya kelompok tani
23 Pengadaan PUAP
SDM
Adanya pedagang kecil
24 Kurangnya modal usaha
Adanya pangsa pasar
Adanya pesawahan
25 Pengadaan alat pengolah lahan
Adanya kel.Tani

Pengkajian masalah dan fotensi dari kalender musim
a. Kelender musim
PANCAROBA KEMARAU MUSIM HUJAN
Masalah kegiatan
Ju De Ja
keadaan Mrt Apr Mei Jul Agu Sep Ok Nop
Pe

n s
n b

Kekurangan air besih *** *** *** ***
Kesehatan (sering
*** *** ***
terjangkit penyakit
Banjir *** *** ** *** **
Jalan longsor *** *** ** *** **
Panen ** **
Musim Tanah *** ***
Serangan hama tikus *** ***
Serangan hama
***
walangsangit

b. Daftar masalah dan Potensi dari kalender Musim
No Masalah Fotensi
1 Longsor Adanya Bahan Matrial
2 Penyakit Diare Adanya Tenaga Medis
3 Serangan Hama/Penyakit Tanaman Adanya Penyuluh Pertanian
4 Kekurangan Air Bersih Mata Air
5 Kekeringan Adanya Tanah Sawah
6 Bahaya Longsor Adanya Matrial
7 Angin Puting Beliung Dataran Tinggi

Strategis yang digunakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan
sebagaimana mengembangkan pemikiran masyarakat desa agar mampu berfikir
lebih maju sesuai dengan tuntutan kebutuhan saat ini, dan yang tidak kalah
pentingnya adalah motivasi minat masyarakat untuk berfikir maju demi kemajuan
Desa Tanjungwangi.
a. Kegiatan yang diharapkan dilaksanakan di Desa Tanjungwangi mempunyai arah
sebagaimana mencetak tenaga ahli yang profesional di bidangnya .
b. Arah Kebijakan
1) Meningkatkan saerana dan prasarana infrastruktur
2) Meningkatkan kwalitas sarana dan prasarana pendidikan
3) Mengembangkan usaha ekonomi mikro kecil dan menengah
4) Mengembangkan jangkauan pelayanan kesehatan
5) Meningkatkan kapasitas aparatur Desa
6) Kebijakan pembangunan infrastruktur dengan memperhatikan situasi dan
kondisi yang berkembeng di masyarakat
Pengelolaan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan dengan kata lain
pembuatan sumber daya buatan untuk menciptakan lapangan kerja agar
memperhatikan dampak lingkungan alam dan sekitarnya.

B. URUSAN PEMERINTAHAN YANG DISERAHKAN KABUPATEN/KOTA
1. Pelaksanaan Kegiatan
Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintahan daerah
Kabupaten/kota terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan pemerintahan
wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan
daerah kabupaten/kota yang terkait dalam pelayanan dasar. Dalam hal pelaksanaan
kegiatannya Pemerintahan Desa berhasil.
Keadaan Geografis Desa Tanjungwangi Jangkauan ke Ibu Kota Kecamatan
yang sangat dekat (4,5 Km ) hal ini dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan
Pemerintah Desa. Pelaporan-pelaporan data tidak menemui kendala, Dan tepat
waktu. Terkait perencanaan pembangunan yang berskala besar di desa diserahkan
kepada Pemerintah Kabupaten lewat R P J M Des. Sedangkan kegiatan Pemerintah
Desa yang berskala kecil pelaksanaanya dilakukan oleh Desa. Ini disebabkan karena
kecilnya Pendapatan Asli Desa. Harapan kami semua perencanaan pembangunan
yang tertuang dalam RPJMDes terlaksana dan didukung dari Pihak Pemerintah
Daerah Kabupaten Lebak.

2. Tingkat Pencapaian
Keberhasilan pelaksanaan program desa tidak lepas dari peran serta
masyarakat yang nyata. Di pekerjaan ini semua elemen masyarakat desa harus
besatu padu melaksanakan semua pelaksanaan program desa. Dalam hal
pelaksanaan pembangunan fisik maupun non fisik sebetulnya sudah dirasakan
berhasil. Adapun terdapat kekurangan merupakan hal yang biasa di dalam
pelaksanaan suatu program desa.
Pelaksanaan ADD di tahun 2014-2015 dana yang dianggarkan untuk program
pembangunan sepenuhnya diserahkan ke wilayah yang membutuhkan. Dari
Pemerintah Desa Tanjungwangi swadaya lebih ditekankan sekali mengingat
partisifasi mereka sangat dibutuhkan. Namun dalam pelaksanaanya hal tersebut
juga sering terhambat. Hal ini dikarenakan masih ada masyarakat yang kurang
pemahaman ataupun karena yang lainya. Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi
masalah bagi pelaksanaan pemrogram pembangunan maupun program yang lainya.

3. Realisasi Program dan Kegiatan
Dalam rangka mendukung Program Pemerintah baik Pemerintah Provinsi maupun
Pemerintah Kabupaten, kami dari Jajaran Pemerintahan Desa beserta lembaganya
senantiasa mendukung dan melaksanakan program tersebut. Namun pelaksanaanya
juga banyak kendala. Tetapi dari pihak pemerintahan Desa beserta lembaganya
sering diadakan sosialisasi-sosialisasi pelaksanaan program. Bagaimanapun juga
kontribusi masyarakat sangat diperlukan dalam setiap program-program
Pemerintah.
Berikut disampaikan data-data pembangunan desa ditahun 2015 :
1. Pembangunan MCK 7 Unit ( APBD )
2. Pembangunan SANIMAS ( APBN )

4. Satuan Pelaksana Kegiatan Desa
Dalam pelaksanaan setiap program desa dari jajaran Pemerintah Desa
Tanjungwangi melaksanakan ketentuan yang ada. Dari masing-masing perangkat
hingga ke tingkat RT melaksanakanya. Namun dalam kegiatan masih terdapat
hambatan-hambatan. Keadaan tersebut memang tidak hanya terjadi di wilayah
desa Tanjungwangi. Bagi Pemerintah Desa Tanjungwangi apabila ada seorang
ataupun sekelompok orang yang masih belum menerima program desa merupakan
pekerjaan yang harus dicari penyelesainya.
Untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di desa, maka dari Pemerintah
Desa mengadakan musyawarah diantara kelompok masyarakat tersebut.
Pekerjaanya dibagi menurut tugas , wewenang serta jabatanya dalam setiap
penyelesaian masalah di desa. Dan apabila di tingkat desa tidak ada kesepakatan
maka dilanjutkan ke tingkat atas.

5. Data Perangkat Desa
Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 8 Tahun 2006 dan PERDA nomor
5 tahun 2008 disebutkan bahwa Pemerintah Desa berkedudukan sebagai unsur
pelaksana dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Dalam pelaksanaanya sehari-
hari semua kegiatan perencanaan dikoordinasikan dengan pihak Kecamatan, dan
apabila perlu dengan pihak Pemerintah Kabupaten. Dalam hal ini sesuai
kewenanganya jajaran pemerintah Desa menyelenggarakan pelaksanaan program
dari semua instansi yang terkait dalam menyelenggarakan tugas umum
Pemerintahan dan pelaksanaannya.
Berikut diterangkan data Perangkat sesuai tugas dan jabatanya :
a. H. JANIM, Jabatan kepala Desa Tanjungwangi. Tugas dan kewewenangnya
adalah menyelenggarakan urusan Pemerintahan, Pembangunan dan
kemasyarakatan yang menjadi kewenanganya, menyelenggarakan tugas umum
Pemerintahan dan melaksanakan tugas pembantuan dari Pemerintah,
Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten .Dan sebagainya.
b. SUWARDI, Jabatan Sekretaris Desa Tanjungwangi. Sebagian tugas dan
wewenangnya adalah menjalankan administrasi Pemerintahan, Pembangunan dan
kemasyarakatan didesa serta memberikan pelayanan teknis administrasi
kepada seluruh satuan Organisasi Pemerintah Desa. Dan lain sebagainya.
c. JAKA, MISNAN dan H. ONI jabatan Kepala Dusun/Rukun Warga. Sebagian
tugas dan wewenangnya adalah sebagai unsur wilayah yang membantu
pelaksanaan tugas Kepala Desa. Dan Lain sebagainya.
d. ADI KOASIH, Jabatan KAUR Pemerintahan dan Trantib. Sebagian tugas dan
wewenangnya adalah penyusunan rencana kegiatan, menjabarkan, koordinator,
pengumpulan perintah Kepala Desa serta mendistribusikan tugas tersebut pada
masyarakat. Dan lain sebagainya.
e. GENTUR, KAUR Ekbang dan Kesra. Sebagian tugas dan wewenangnya adalah
mengumpulkan, mengolah, meng Evaluasi dan pelaporan data dibidang
perekonomian dan pembangunan serta mengadakan pembinaan keagamaan,
kesehatan, keluarga berencana dan pendidikan masyarakat. Koordinator
pelaksanaan tugas dalam unit kerja, antar unit kerja dengan lembaga
kemasyarakatan yang terkait baik secara Formal ataupun informal guna
memperoleh kesatuan pendapat. Dan lain sebagainya.
f. IIN KURNIAWATI. KAUR Umum dan Keuangan, Tugas dan sebagian
wewenangnya adalah melakukan pengelolaan administrasi keuangan desa yang
meliputi penyusunan anggaran, pembukuan, pertanggungjawaban keuangan desa
dan laporan realisasi keuangan serta membantu pemungutan dan penyetoran
PBB kepada Pemerintah. Dan lain sebagainya.Semua pelaksana kegiatan
tersebut bertanggung jawab kepada Kepala Desa. pengumpulan administrasi
kepegawaian, penyelenggaraan rapat- rapat, tata usaha desa, surat menyurat,
kearsipan, penyajian data dan kepustakaan serta dokumentasi. Dan lain
sebagainya.

6. Alokasi dan Realisasi Anggaran
Semua pelaksanaan proyek-proyek fisik maupun nonfisik dana yang dianggarkan
bantuan kepada Kabupaten didata. Proyek-proyek tersebut yang pendanaanya skala
besar diserahkan kepada Kabupaten. Untuk tunjangan dan Upah Minimum
Kabupaten dananya dikoordinasikan dengan pihak terkait dan saat ini berjalan
lancar dan sukses. Adapun keterlambatanya hanyalah karena permasalahan teknis.
Untuk kegiatan pembangunan desa tidak hanya terbatas pada pembangunan fisik.
Namun pelaksanaan kegiatan nonfisik pun dianggarkan dalam APBDes dan tertuang
dalam RPJMDes. Segala permasalahan yang menyangkut Pemerintahan Desa apabila
tidak mampu desa berkoordinasi dengan instansi terkait. Realisasi pelaksanaan
program Pemerintah Desa tidak lepas dari tanggung jawab Pemerintah Kabupaten
selaku Pembina dan pembimbing dalam pelayanan pada masyarakat.

7. Permasalahan dan penyelesaian
Mengingat letak Desa Tanjungwangi berbatasan dengan desa-desa sekitar
(GIRIJAGABAYA, MUNCANG, LEUWICOO, PASIRNANGKA, DAN CISIMEUT)
sampai saat ini belum pernah ada permasalahan. Masing-masing Desa sudah saling
mengerti sesuai dengan kewenanganya. Dan dari pihak Pemerintah Desa
Tanjungwangi sering mengadakan kerjasama untuk program-program masyarakat
Desa Tanjungwangi. Dalam pelaksanaan kegiatan desa sesuai dengan perencanaan
Program desa disini masih sering ditemui kendala pada permasalahan teknis.
Namun tidak menjadi masalah bagi Pemerintah Desa Tanjungwangi karena semua
itu hal yang biasa dan dapat diselesaikan sesuai dengan aturan yang ada.
BAB V
PENYELENGGARAAN TUGAS PEMBANTUAN

A. Tugas Pembantuan yang Diterima
1. Dasar Hukum
Dasar hukum pembuatan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala
Desa akhir tahun Anggaran adalah:
a. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara
yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi
Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 182,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4010);
c. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5495);
d. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
e. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4773);
f. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Keuangan Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4738);
g. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5539);
h. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali
terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);
i. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 37);
j. Peraturan Kepala Lembaga KebijakanPengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Nomor 13 Tahun 2013 tentang Pedoman Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa
di Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 367);
k. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 3 Tahun 2006 tentang
Pembentukan, Penataan, dan Perubahan Nama Desa-Desa di Wilayah
Kabupaten Lebak (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor
3 Seri D);
l. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pokok-
Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak
Tahun 2006 Nomor 15);
m. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 14 Tahun 2006 tentang Desa
(Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor 14) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 7 Tahun
2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor
14 Tahun 2006 tentang Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun
2012 Nomor 7);
n. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 19 Tahun 2006 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Kabupaten dan Desa (Lembaran
Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor 19);
o. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 1 Tahun 2008 tentang
Pembentukan, Penataan, dan Perubahan Nama-nama Desa di Wilayah
Kabupaten Lebak (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2008 Nomor
1);
p. Peraturan Bupati Lebak Nomor 39 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Keuangan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014 Nomor
39);
q. Peraturan Bupati Lebak Nomor 40 Tahun 2014 tentang Belanja Barang
Jasa Pemerintahan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014
Nomor 40);
r. Peraturan Bupati Lebak Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman
Penyusunan Anggran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun Anggaran 2015
(Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014 Nomor 41);

2. Instansi Pemberi Tugas Pembantuan
Penyelenggaraan pemerintahan Desa tidak lepas dari Pembinaan dari Pihak
Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten. Sesuai dengan kedudukanya Pemerintah
Desa merupakan pelaksana penyelenggaraan Pemerintahan. Dalam pelaksanaan
kegiatanya tugas-tugas pembantuan dilaksanakan sesuai dengan tugas dan
fungsinya. Penyelenggaraan Pemerintahan Desa dilaksanakan sesuai
kewenanganya, karena desa sesuai peraturan yang ada merupakan bagian dari
Pemerintah Kabupaten yang melaksanakan penyelenggaraan tugas umum
diantaranya pelaksanaan pembangunan, pemberdayaan masyarakat,
penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum, pemeliharaan prasarana dan
fasilitas pelayanan umum dan pelaksanaan tugas pembantuan yang diberikan oleh
instansi terkait.

3. Pelaksanaan Kegiatan
Dengan memperhatikan dampak yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan
penyelenggaraan pemerintahan, apabila dampak yang ditimbulkan bersifat lokal
maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan pemerintahan daerah
kabupaten. Pelaksanaan kegiatan tersebut, di desa Tanjungwangi berpedoman
pada kebijakan Pemerintah Kabupaten. Karena pemerintahan desa melaksanakan
kegiatannya mengacu pada Peraturan perundangan Kabupaten Lebak. Sedangkan
dalam desa pelaksanaanya mengacu pada Peraturan Desa. Dalam melaksanakan
kegiatan Peraturan Desa kegiatanya tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Desa.
4. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan
Dalam melaksanakan suatu Peraturan, permasalahan pasti timbul karena
dalam pelaksanaannya terkadang ada sebagian masyarakat yang belum mengerti
dan memahami peraturan tersebut. Pelaksanaan Kegiatan desa saat ini masih
difokuskan ke Infrastruktur/sarana dan prasarana masyarakat karena kegiatan
ini merupakan Skala prioritas desa. Setelah kegiatan sarana dan prasarana fisik
Desa dilaksanakan semua, barulah direncanakan kegiatan sektor Pertanian
terpadu, ekonomi masyarakat dan Lingkungan penduduk, kegiatan pemugaran
Rumah Tidak Layak Huni dan yang lainnya.
Dampak yang timbul dalam pelaksanaan Peraturan desa biasanya terjadi
dalam kelompok masyarakat diwilayah tersebut. Namun hal ini bisa diatasi dengan
pendekatan pada warga masyarakat dan diberi pengertian dan sebagainya. Dalam
pelaksanaan Program dan kegiatan desa, kontribusi masyarakat sangat
dibutuhkan dalam melaksanakan semua kegiatanya.

5. Sumber dan Jumlah Anggaran yang digunakan
Dalam rangka pemerataan pembangunan desa menuju kemandirian desa
serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, perlu adanya partisipasi
dari seluruh warga masyarakat. Untuk mendukung pelaksanaan pembangunan desa
dan kegiatan lainya perlu didukung dengan dana yang diharapkan menjadi
penyangga utama pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.
Sehingga dalam hasilnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berikut
data-data kegiatan desa di tahun 2015;
No. Nama Kegiatan Dana Sumber Dana
1 Pembangunan Jalan Paving 40.574.051 DBH
2 Pembangunan Perkerasan Jalan 100.000.000 APBN
3 Reahbilitasi Kantor Desa 81.323.854 APBN
4 Pembangunan MCK (7 Unit) 980.000.000 APBN-P
5 SANIMAS 400.000.000 APBN-P

6. Satuan Pelaksanaan Kegiatan Desa
Pelaksanaan semua kegiatan pada dasarnya menggunakan data yang ada
serta pembagian tugas yang diberikan oleh instansi yang berkepentingan. Dalam
kegiatannya pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh semua aparat desa sesuai
dengan tugas dan tanggung jawabnya.Desa membentuk tim yang disebut Tim
Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat untuk melaksanakan semua kegiatan fisik
desa serta tugas lain yang diberikan dalam peraturan di desa. Semua lembaga-
lembaga difungsikan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.

7. Sarana dan Prasarana
Pembangunan-pembangunan yang telah dilaksanakan ditahun yang lalu masih
banyak meninggalkan sisa pekerjaan yang belum selesai. Hal ini terjadi karena
Sumber dana yang didapat desa untuk saat ini yang rutin hanyalah dana ADD
sementara dana ADD pada tahun tersebut menurun.
Ditahun 2014 sisa pembangunan fisik yang belum diselesaikan akan
diselesaikan pada tahun berikutnya. Padahal semua Perencanaan pembangunan
yang sudah ada di RPJMDes di alokasikan satu tahun menggarap 1 ( satu ) proyek.
Akibat yang terjadi semua perencanaan menjadi mundur. Untuk Sarana dan
prasarana fisik yang ada di desa semuanya di inventarisir dan didata tingkat
kekurangan dan kebutuhan dananya.
8. Permasalahan dan Penyelesaian
Sebagian pekerjaan didalam desa dalam pelaksanaanya masih banyak
kekurangan. Namun hal tersebut tidak berarti suatu pekerjaan tersebut tidak
selesai, kadang permasalahan yang timbul adalah teknis pelaksanaannya. Dalam
pelaksanaan semua anggaran yang telah tertuang dalam APBDes sering kali
mengalami hambatan. Banyak rencana yang dilaksanakan masih mengalami
kekurangan pembiayaan. Namun hal tersebut di selesaikan dengan baik walaupun
dana yang dipergunakan kurang. Untuk mencukupi kebutuhan pembiayaan
Pemerintah dan Pembangunan, Pemerintah Desa Tanjungwangi Mengadakan
kegiatan swadaya.

B. Tugas Pembantuan yang Diberikan
1. Dasar Hukum
Dalam kontek penyelenggaraan pemerintahan desa semua pekerjaan yang telah
tertuang dalam APBDesa maupun RPJMDes dalam pelaksanaanya banyak
membutuhkan bantuan informasi dari Instansi terkait. Karena dalam teknis
pelaksanaanya sering sekali informasi tersebut dibutuhkan karena menyangkut
bidang pelayanan pada masyarakat, bahkan juga dana dana yang diperlukan untuk
mendukung pelaksanaan Anggaran dan yang lainya.
a. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara
yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi
Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 182,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4010);
c. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5495);
d. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
e. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4773);
f. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan
Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4738);
g. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5539);
h. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali
terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);
i. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 37);
j. Peraturan Kepala Lembaga KebijakanPengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Nomor 13 Tahun 2013 tentang Pedoman Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa
di Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 367);
k. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 3 Tahun 2006 tentang
Pembentukan, Penataan, dan Perubahan Nama Desa-Desa di Wilayah
Kabupaten Lebak (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor 3
Seri D);
l. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pokok-
Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak
Tahun 2006 Nomor 15);
m. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 14 Tahun 2006 tentang Desa
(Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor 14) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 7 Tahun
2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 14
Tahun 2006 tentang Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2012
Nomor 7);
n. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 19 Tahun 2006 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Kabupaten dan Desa (Lembaran
Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor 19);
o. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 1 Tahun 2008 tentang
Pembentukan, Penataan, dan Perubahan Nama-nama Desa di Wilayah
Kabupaten Lebak (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2008 Nomor
1);
p. Peraturan Bupati Lebak Nomor 39 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Keuangan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014 Nomor 39);
q. Peraturan Bupati Lebak Nomor 40 Tahun 2014 tentang Belanja Barang Jasa
Pemerintahan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014 Nomor
40);
r. Peraturan Bupati Lebak Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan
Anggran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun Anggaran 2015 (Lembaran
Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014 Nomor 41);

2. Urusan Pemerintahan yang ditugaskan pembantuannya
Pelaksanaan Anggaran desa menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan
dan belanja pada tahun yang bersangkutan, dalam perencanaan mengandung arti
bahwa anggaran desa menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan
kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
Dalam pelaksanaanya pengawasan diartikan bahwa anggaran desa menjadi
pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan desa
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Fungsi alokasi mengandung arti bahwa anggaran desa harus diarahkan untuk
menciptakan lapangan kerja / mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber
daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan. Anggaran desa
harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
Fungsi stabilisasi mengandung arti bahwa anggaran pemerintah desa menjadi
alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental
perekonomian desa. Di Desa Tanjungwangi pelaksanaan semua perencanaan
dilaksanakan oleh perangkat dan Lembaga desa yang berkepentingan dalam
pelaksanaan perencanaan tersebut. Untuk mengantisipasi semua pelaksanaan
perencanaan yang tidak berhasil, maka pihak Pemerintah Desa mengadakan
Koordinasi dengan Instansi Pemerintah Daerah yang berkepentingan untuk
mendukung kegiatan desa tersebut.

3. Sumber dan Jumlah Anggaran
Keuangan desa dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan,
efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Serta
dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi yang diwujudkan dalam
APBDes yang setiap tahun ditetapkan dengan peraturan desa.Kepala Desa selaku
kepala pemerintah di Desa Tanjungwangi adalah pemegang kekuasaan pengelolaan
keuangan desa dan mewakili pemerintah desa dalam kepemilikan kekayaan desa.
Kewenangan kekuasaan pengelolaan keuangan desa adalah:
a. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBDes;
b. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang desa;
c. menetapkan kuasa pengguna anggaran/barang milik desa;
d. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran;
e. menetapkan petugas yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan desa;
f. menetapkan petugas yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang di desa;
g. menetapkan petugas yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik desa; serta
h. Koordinator pengelolaan keuangan desa bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas
kepada Kepala Desa.

Pada akhir tahun Anggaran 2015, sumber dan pendapatan desa dalam
Anggaran Perhitungan tercatat sebesar Rp 513.189.056,-

Dari Realisasi Pendapatan diatas, masih banyak pekerjaan Fisik yang belum
dilaksanakan sehingga Realisasi kekurangan dalam Anggaran untuk belanja desa
mencapai Rp 19.200.000,-

Anggaran Desa hanya mampu membiayai anggaran sebesar Rp 493.989.056
Hal ini disebabkan tidak tercapainya Anggaran dalam desa dari sektor
Transfer/Pencaiaran Bantuan Pemerintah.

4. Sarana dan Prasarana
Dalam Pelaksanaan Anggaran diatas kegiatan sarana dan prasarana
(Pembangunan Perkeerasan Jalan, Faving Block dan Reahb Gedung Kantor Desa)
yang dalam pelaksanaaanya kurang adalah pelaksanaan partisipasi gotong-royong.
Hal ini tidak terlaksana karena pada saat pelaksanaan kegiatan harga matrial
tidak stabil sementara alat yang digunakan tidak bisa dengan tenaga Manusia.
Sedangkan Pelaksanaan sarana Prasarana Pemerintahan Desa berupa
Pembangunan Jalan Lingkungan Desa dan Pembangunan Lainnya membengkak
dikarenakan Harga material dan Ongkos Pekerja mengalami kenaikan. Untuk
melanjutkan kegiatan tersebut, rencana pelaksanaannya bersambung pada tahun
berikutnya. Berikut disajikan jenis sarana dan prasarana kegiatan desa yang
tertunda pelaksanaanya adalah : Peningkatan Jalan Lingkungan Desa
Tanjungwangi ( Faving Block ), tahun 2015 Belum terselesaikan.

BAB VI
PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN LAINNYA

A. KERJASAMA ANTAR DESA
1. Desa yang diajak kerjasama
Dalam pelaksanaan penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang tertuang dalam
APBDes disebutkan bahwa semua pelaksanaan pembangunan baik fisik maupun non
fisik dituangkan tersendiri ke dalam RPJMDesa. Pelaksanaan RPJMDesa mengacu
pada APBDesa yang ditetapkan setiap tahunnya. Dalam melaksanakan kerjasama
antar desa, di Kecamatan dibentuk Badan Kerjasama Antar Desa yang tujuanya
akan melaksanakan kegiatan pembangunan baik fisik maupun non fisik. Namun
ditahun 2014 pelaksanaan Kerjasama Antar Desa belum dilaksanakan karena
belum ada suatu kegiatan yang pelaksanaanya dengan desa lain. Namun didalam
RPJMDesa sudah ada data pembangunan yang akan dikerjasamakan
pembangunanya yaitu pembuatan jalan tembus ke Desa LEUWICOO dan Desa
CISIMEUT. Serta adanya Program Pemerintah Propinsi Banten dalam Program
Wilayah Terpadu Antar Desa ( PWTAD ) tahun 2015.

2. Dasar Hukum
a. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara
yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi
Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 182,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4010);
c. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5495);
d. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
e. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4773);
f. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan
Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4738);
g. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5539);
h. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali
terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);
i. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 37);
j. Peraturan Kepala Lembaga KebijakanPengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Nomor 13 Tahun 2013 tentang Pedoman Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa
di Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 367);
k. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 3 Tahun 2006 tentang
Pembentukan, Penataan, dan Perubahan Nama Desa-Desa di Wilayah
Kabupaten Lebak (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor 3
Seri D);
l. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pokok-
Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak
Tahun 2006 Nomor 15);
m. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 14 Tahun 2006 tentang Desa
(Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor 14) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 7 Tahun
2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 14
Tahun 2006 tentang Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2012
Nomor 7);
n. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 19 Tahun 2006 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Kabupaten dan Desa (Lembaran
Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor 19);
o. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 1 Tahun 2008 tentang
Pembentukan, Penataan, dan Perubahan Nama-nama Desa di Wilayah
Kabupaten Lebak (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2008 Nomor
1);
p. Peraturan Bupati Lebak Nomor 39 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Keuangan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014 Nomor 39);
q. Peraturan Bupati Lebak Nomor 40 Tahun 2014 tentang Belanja Barang Jasa
Pemerintahan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014 Nomor
40);
r. Peraturan Bupati Lebak Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan
Anggran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun Anggaran 2015 (Lembaran
Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014 Nomor 41);

3. Bidang Kerjasama
Dalam kegiatan kerjasama antar desa sebetulnya banyak sekali kegiatan
yang telah direncanakan. Namun hal tersebut saat ini belum terlaksana. Karena
pelaksanaan APBDesa belum semuanya terlaksana.

4. Nama kegiatan
Untuk jenis pekerjaan tertentu akan diberi nama kegiatan sesuai dengan
jenis dan macam kerjasamanya diantara desa yang bersangkutan.

5. Satuan Pelaksanaan Kegiatan Desa
Pelaksanaan Kerjasama antar desa rencananya dilaksanakan sesuai
kebutuhan dan jenis kerjasamanya. Dari Desa Tanjungwangi sendiri telah dibuat
Tim khusus dalam pelaksanaan kerjasama antar desa kalau ada kegiatannya. Tim
Pelaksana Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat yang telah dibentuk dengan
Keputusan Desa akan di fungsikan apabila ada kegiatan kerjasama antar desa. Tim
ini terdiri dari Perangkat desa, BPD, LPMD, Tokoh perempuan dan tokoh
Masyarakat terkemuka.

6. Data Perangkat Desa
a. H. JANIM, Jabatan kepala Desa Tanjungwangi. Tugas dan kewewenangnya
adalah menyelenggarakan urusan Pemerintahan, Pembangunan dan
kemasyarakatan yang menjadi kewenanganya, menyelenggarakan tugas
umum Pemerintahan dan melaksanakan tugas pembantuan dari Pemerintah,
Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten .Dan sebagainya.
b. SUWARDI, Jabatan Sekretaris Desa Tanjungwangi. Sebagian tugas dan
wewenangnya adalah menjalankan administrasi Pemerintahan, Pembangunan
dan kemasyarakatan didesa serta memberikan pelayanan teknis
administrasi kepada seluruh satuan Organisasi Pemerintah Desa. Dan lain
sebagainya.
c. JAKA, MISNAN dan H. ONI jabatan Kepala Dusun/RW. Sebagian tugas
dan wewenangnya adalah sebagai unsur wilayah yang membantu pelaksanaan
tugas Kepala Desa. Dan Lain sebagainya.
d. ADI KOASIH, Jabatan KAUR Pemerintahan dan Trantib. Sebagian tugas
dan wewenangnya adalah penyusunan rencana kegiatan, menjabarkan,
koordinator, pengumpulan perintah Kepala Desa serta mendistribusikan
tugas tersebut pada masyarakat. Dan lain sebagainya.
e. GENTUR, KAUR Ekbang dan Kesra. Sebagian tugas dan wewenangnya
adalah mengumpulkan, mengolah, meng Evaluasi dan pelaporan data dibidang
perekonomian dan pembangunan serta mengadakan pembinaan keagamaan,
kesehatan, keluarga berencana dan pendidikan masyarakat. Koordinator
pelaksanaan tugas dalam unit kerja, antar unit kerja dengan lembaga
kemasyarakatan yang terkait baik secara Formal ataupun informal guna
memperoleh kesatuan pendapat. Dan lain sebagainya.
f. IIN KURNIAWATI. KAUR Umum dan Keuangan, Tugas dan sebagian
wewenangnya adalah melakukan pengelolaan administrasi keuangan desa
yang meliputi penyusunan anggaran, pembukuan, pertanggungjawaban
keuangan desa dan laporan realisasi keuangan serta membantu pemungutan
dan penyetoran PBB kepada Pemerintah. Dan lain sebagainya.Semua
pelaksana kegiatan tersebut bertanggung jawab kepada Kepala Desa.
pengumpulan administrasi kepegawaian, penyelenggaraan rapat-rapat, tata
usaha desa, surat menyurat, kearsipan, penyajian data dan kepustakaan
serta dokumentasi. Dan lain sebagainya.

Data Tim Pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat:
> Kepala Desa : H. JANIM
> Perangkat Desa : SUWARDI
GENTUR
> BPD : NURJAYA
> LPMD : SARKA
> Tokoh Masyarakat : K.H. KUNJEN
> Tokoh Perempuan : Hj. YATI
7. Sumber dan Jumlah Anggaran
Kebutuhan dana dalam pelaksanaan kerjasama antar desa disesuaikan
dengan jenis kegiatanya. Sumber pendanaanya diambil dari dana- dana yang
tertuang dalam RPJMDesa maupun APBDesa desa Tanjungwangi dan Desa sekitar
yang akan diajak kerjasama.Untuk pelaksanaanya pada tahun ini masih sebatas
Rencana dan belum ada Realisasi kegiatanya. Karena pekerjaan yang dilaksanakan
dengan melibatkan desa sekitar belum ada, namun telah tertuang dalam
RPJMDesa maupun APBDesa.

8. Jangka Waktu Kerjasama
Kerjasama Antar desa memerlukan pemikiran waktu yang panjang, karena
semua perencanaanya melalui beberapa tahapan dan persetujuan khususnya dari
masyarakat. Karena dalam penentuan pendapat serta persetujuan sering ada
permasalahan maupun kendala. Untung ruginya juga diperhitungkan dalam
melaksanakan kerjasama tersebut. Untuk kerjasama di tingkat kecamatan
difasilitasi oleh pihak Kecamatan dan Badan Kerja sama Antar Desa ( BKAD ).
Jangka waktu pelaksanaan kerjasama antar desa saat ini belum ditentukan karena
belum ada pelaksanaan kerjasama antar desa.

9. Hasil Kerjasama
Biasanya dari hasil kerjasama sebelumnya diadakan penanda tanganan
kerjasama (MoU). Didesa Tanjungwangi tahun ini belum melaksanakan satupun
kerjasama antar desa. Karena belum ada pekerjaan ataupun pelaksanaan kegiatan.
Kerjasama antar desa yang dilaksanakan saat ini sekitar permasalahan warga
masyarakat, perselisihan warga antar desa dan lain sebagainya.

10. Permasalahan dan Penyelesaian
Setiap permasalah yang timbul dalam penyelesainya dilaksanakan dengan
azas kekeluargaan. Saat ini yang sering dilaksanakan kerja sama antar desa masih
sekitar penyelesaian sengketa warga yang melibatkan beberapa instansi terkait
dalam menyelesaikan permasalahan. Dan apabila dalam musyawarah tersebut
belum berhasil maka diselesaikan ketingkat atasnya. Namun permasalahan dalam
pelaksanaan kegiatan fisik saat ini belum dilaksanakan. Hal ini dilakukan karena
pelaksanaan pekerjaan dalam desa seluruhnya belum selesai

B. KERJASAMA DENGAN PIHAK KETIGA
1. Mitra yang diajak kerjasama
Dalam pelaksanaan kerjasama antar desa bagi desa yang telah melaksanakan,
kendala teknis maupun pembiayaan sering terjadi dalam pelaksanaan kegiatan baik
yang fisik maupun non fisik.Namun pekerjaan tersebut dapat di laksanakan sesuai
rencana. Biasanya dalam pelaksanaan kegiatan dari desa dalam proses pendanaan
masih bekerjasama dengan toko Matrial untuk jenis pekerjaan Pembangunan.
Kemudian dalam rangka pelaksanaan pekerjaan non fisik sebagai contoh
penyuluhan hukum, penyuluhan pertanian, penyuluhan kesehatan dan lainya pihak
desa mengadakan hubungan kerjasama dengan instansi tertentu sesuai dengan
bidang informasi yang akan dilaksanakan kegiatanya. Dari pihak desa mengadakan
koordinasi dengan instansi terkait.

2. Dasar Hukum
a. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara
yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi
Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 182,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4010);
c. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5495);
d. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
e. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4773);
f. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan
Negara/Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4738);
g. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5539);
h. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali
terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);
i. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 37);
j. Peraturan Kepala Lembaga KebijakanPengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Nomor 13 Tahun 2013 tentang Pedoman Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa
di Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 367);
k. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 3 Tahun 2006 tentang
Pembentukan, Penataan, dan Perubahan Nama Desa-Desa di Wilayah
Kabupaten Lebak (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor
3 Seri D);
l. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pokok-
Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak
Tahun 2006 Nomor 15);
m. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 14 Tahun 2006 tentang Desa
(Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor 14) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 7 Tahun
2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor
14 Tahun 2006 tentang Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun
2012 Nomor 7);
n. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 19 Tahun 2006 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Kabupaten dan Desa (Lembaran
Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2006 Nomor 19);
o. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 1 Tahun 2008 tentang
Pembentukan, Penataan, dan Perubahan Nama-nama Desa di Wilayah
Kabupaten Lebak (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2008 Nomor
1);
p. Peraturan Bupati Lebak Nomor 39 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Keuangan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014 Nomor
39);
q. Peraturan Bupati Lebak Nomor 40 Tahun 2014 tentang Belanja Barang
Jasa Pemerintahan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014
Nomor 40);
r. Peraturan Bupati Lebak Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman
Penyusunan Anggran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun Anggaran 2015
(Lembaran Daerah Kabupaten Lebak Tahun 2014 Nomor 41);

3. Bidang Kerjasama
Bidang kerjasama yang dilaksanakan dengan pihak lain tergantung dengan
macam dan jenisnya. Diantaranya untuk pelaksanaan pekerjaan pembangunan
mengadakan Koordinasi dengan Toko Matrial dan terkadang kepada CV ataupun
orang- orang yang berkepentingan dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. Baik
dalam bidang teknis maupun kekurangan alat ataupun bahan.Untuk kegiatan
Penyuluhan, pembinaan, pememberdayaan masyarakat maupun pelatihan dan
sebagainya, dari pihak desa mengadakan koordinasi dengan instansi yang
berkepentingan dalam bidangnya masing- masing. Bahkan kepada pihak Pemerintah
Kabupaten juga mengadakan koordinasi dalam rangka pelayanan pada masyarakat.

4. Nama kegiatan
Dalam pelaksanaan kerjasama diberbagai bidang, setiap kegiatan ada nama
dan jenis kegiatanya. Namun saat ini Pemerintah Desa Tanjungwangi belum
melaksanakan kegiatan tersebut. Yang biasa dilaksanakan adalah apabila disuatu
pekerjaan pembangunan kekurangan alat ataupun bahan, maka pihak Desa
mengadakan koordinasi dengan badan usaha tersebut maupun pemborong
bangunan. Desa Tanjungwangi melaksanakan kerjasama ini pelaksanaanya masih
disekitar penanganan permasalahan masyarakat atau warga yang bermasalah.

5. Satuan Pelaksanaan Kegiatan Desa
Untuk tugas yang diberikan kepada perangkat desa ataupun masyarakat
desa, dari desa membentuk tim untuk melaksanakan suatu kegiatan baik yang
dikerja samakan maupun yang bekerja didalam desa. Tim-tim tersebut
bekerjasama dengan instansi yang terkait dalam bidangnya masing-masing. Tim
desa terdiri dari Perangkat desa, Tokoh Masyarakat, Tokoh Perempuan, BPD,
LPMD dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan.

6. Data Perangkat Desa
a. H. JANIM, Jabatan kepala Desa Tanjungwangi. Tugas dan kewewenangnya
adalah menyelenggarakan urusan Pemerintahan, Pembangunan dan
kemasyarakatan yang menjadi kewenanganya, menyelenggarakan tugas
umum Pemerintahan dan melaksanakan tugas pembantuan dari Pemerintah,
Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten .Dan sebagainya.
b. SUWARDI, Jabatan Sekretaris Desa Tanjungwangi. Sebagian tugas dan
wewenangnya adalah menjalankan administrasi Pemerintahan, Pembangunan
dan kemasyarakatan didesa serta memberikan pelayanan teknis
administrasi kepada seluruh satuan Organisasi Pemerintah Desa. Dan lain
sebagainya.
c. JAKA, MISNAN dan H. ONI jabatan Kepala Dusun/RW. Sebagian tugas
dan wewenangnya adalah sebagai unsur wilayah yang membantu pelaksanaan
tugas Kepala Desa. Dan Lain sebagainya.
d. ADI KOASIH, Jabatan KAUR Pemerintahan dan Trantib. Sebagian tugas
dan wewenangnya adalah penyusunan rencana kegiatan, menjabarkan,
koordinator, pengumpulan perintah Kepala Desa serta mendistribusikan
tugas tersebut pada masyarakat. Dan lain sebagainya.
e. GENTUR, KAUR Ekbang dan Kesra. Sebagian tugas dan wewenangnya
adalah mengumpulkan, mengolah, meng Evaluasi dan pelaporan data dibidang
perekonomian dan pembangunan serta mengadakan pembinaan keagamaan,
kesehatan, keluarga berencana dan pendidikan masyarakat. Koordinator
pelaksanaan tugas dalam unit kerja, antar unit kerja dengan lembaga
kemasyarakatan yang terkait baik secara Formal ataupun informal guna
memperoleh kesatuan pendapat. Dan lain sebagainya.
f. IIN KURNIAWATI. KAUR Umum dan Keuangan, Tugas dan sebagian
wewenangnya adalah melakukan pengelolaan administrasi keuangan desa
yang meliputi penyusunan anggaran, pembukuan, pertanggungjawaban
keuangan desa dan laporan realisasi keuangan serta membantu pemungutan
dan penyetoran PBB kepada Pemerintah. Dan lain sebagainya.Semua
pelaksana kegiatan tersebut bertanggung jawab kepada Kepala Desa.
pengumpulan administrasi kepegawaian, penyelenggaraan rapat- rapat, tata
usaha desa, surat menyurat, kearsipan, penyajian data dan kepustakaan
serta dokumentasi. Dan lain sebagainya.

7. Sumber dan Jumlah Anggaran
Dalam melaksanakan kegiatan suatu kerjasama dana maupun anggaran
diambil dari dana desa maupun dana lainya yang sah. Besaran dana tersebut
disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.

8. Jangka Waktu Kerjasama
Kerjasama Antar desa memerlukan pemikiran waktu yang panjang, karena
semua perencanaanya melalui beberapa tahapan dan persetujuan khususnya dari
masyarakat. Karena dalam penentuan pendapat serta persetujuan sering ada
permasalahan maupun kendala. Untung ruginya juga diperhitungkan dalam
melaksanakan kerjasama tersebut. Untuk kerjasama di tingkat kecamatan
difasilitasi oleh pihak Kecamatan. Jangka waktu pelaksanaan kerjasama antar
desa saat ini belum ditentukan karena belum ada pelaksanaan kerjasama antar
desa. Waktu ataupun jangka waktu pelaksanaan disesuaikan dengan tingkat dan
jenis kebutuhan pekerjaan yang akan dilaksanakan bersama.

9. Hasil Kerjasama
Kerjasama yang dilaksanakan dengan pihak lain akan menumbuhkan rasa
saling membutuhkan. Bahwa suatu desa membutuhkan kepentingan tertentu
dengan desa lain. Hal ini sesuai dengan program PNPM-MD yang sedang
dilaksanakan saat ini. Terkadang dalam desa sendiri permasalahan juga ada.
Namun dengan adanya kerjasama bersama pihak lain maka permasalahan tersebut
berkurang.

10. Permasalahan dan Penyelesaian
Dalam suatu kerjasama permasalahan yang timbul biasanya karena kurang
sepemahaman dalam pelaksanaan pekerjaan. Lokasi dan tempat juga bisa menjadi
permasalahan. Untuk mengantisipasi kejadian tersebut maka pihak yang akan
diajak kerjasama supaya diadakan sosialisasi kepada masing- masing wilayah
sebelum melaksanakan kegiatan tersebut.Permasalahan yang timbul di tulis dalam
Berita Acara dan dimasukan ke dalam agenda kegiatan dimasing- masing kelompok
yang akan mengadakan kerjasama. Kemudian dari instansi terkait diikutkan untuk
memfasilitasi kejadian- kejadian tersebut.

C. BATAS DESA
1. Sengketa batas Desa
Dari awal berdirinya Desa Tanjungwangi sampai sekarang belum pernah
terjadi sengketa Batas Desa, walaupun masih banyak daerah yang kedudukannya
di dalam desa Tanjungwangi tetapi untuk Pembayaran PBB-nya masih ikut kedalam
desa Induk yaitu Desa Leuwicoo. Namun hal demikian tidak menjadikan sengketa
antar dua desa tersebut. Selain tidak ada permasalahan yang serius namun kami
selaku perangkat/pemerintahan Desa Tanjungwangi berupaya sekuat kemampuan
kami untuk menyelesaikannya.

2. Penyelesaian yang dilakukan
Didalam kehidupan bermasyarakat permasalahan sangat komplek dan
bervariasi. Jenis permasalahan akibat batas desa di desa Tanjungwangi belum ada
permasalahan yang menonjol. Karena di masing-masing desa sudah ada sosialisasi
diantara beberapa desa kepada masyarakat. Untuk menjaga hal-hal yang tidak
diinginkan maka Pemerintah Desa Tanjungwangi mengadakan Sosialisasi pada
masyarakat tentang batas desa dan yang sejenisnya.

3. Satuan pelaksanaan kegiatan Desa
Untuk tugas yang pembantuan dalam mengantisipasi permasalahan batas
desa, pihak Pemerintah Desa Tanjungwangi memberikan tugas kepada perangkat
desa dan dibantu masyarakat desa setempat yang berkepentingan dengan hal
tersebut, di desa di bentuk tim untuk melaksanakan suatu kegiatan baik yang
dikerjasamakan maupun yang bekerja didalam desa. Tim-tim tersebut
bekerjasama dengan instansi yang terkait dalam bidangnya masing-masing. Tim
desa terdiri dari Perangkat desa, Tokoh Masyarakat, Tokoh Perempuan, BPD,
LPMD dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan. Untuk menguatkan
Tim tersebut Kepala Desa membuat Keputusan Desa tentang pengangkatan Tim
tersebut.

4. Data Perangkat Desa
a. H. JANIM, Jabatan kepala Desa Tanjungwangi. Tugas dan kewewenangnya
adalah menyelenggarakan urusan Pemerintahan, Pembangunan dan
kemasyarakatan yang menjadi kewenanganya, menyelenggarakan tugas
umum Pemerintahan dan melaksanakan tugas pembantuan dari Pemerintah,
Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten .Dan sebagainya.
b. SUWARDI, Jabatan Sekretaris Desa Tanjungwangi. Sebagian tugas dan
wewenangnya adalah menjalankan administrasi Pemerintahan, Pembangunan
dan kemasyarakatan didesa serta memberikan pelayanan teknis
administrasi kepada seluruh satuan Organisasi Pemerintah Desa. Dan lain
sebagainya.
c. JAKA, MISNAN dan H. ONI jabatan Kepala Dusun/RW. Sebagian tugas
dan wewenangnya adalah sebagai unsur wilayah yang membantu pelaksanaan
tugas Kepala Desa. Dan Lain sebagainya.
d. ADI KOASIH, Jabatan KAUR Pemerintahan dan Trantib. Sebagian tugas
dan wewenangnya adalah penyusunan rencana kegiatan, menjabarkan,
koordinator, pengumpulan perintah Kepala Desa serta mendistribusikan
tugas tersebut pada masyarakat. Dan lain sebagainya.
e. GENTUR, KAUR Ekbang dan Kesra. Sebagian tugas dan wewenangnya
adalah mengumpulkan, mengolah, meng Evaluasi dan pelaporan data dibidang
perekonomian dan pembangunan serta mengadakan pembinaan keagamaan,
kesehatan, keluarga berencana dan pendidikan masyarakat. Koordinator
pelaksanaan tugas dalam unit kerja, antar unit kerja dengan lembaga
kemasyarakatan yang terkait baik secara Formal ataupun informal guna
memperoleh kesatuan pendapat. Dan lain sebagainya.
f. IIN KURNIAWATI. KAUR Umum dan Keuangan, Tugas dan sebagian
wewenangnya adalah melakukan pengelolaan administrasi keuangan desa
yang meliputi penyusunan anggaran, pembukuan, pertanggungjawaban
keuangan desa dan laporan realisasi keuangan serta membantu pemungutan
dan penyetoran PBB kepada Pemerintah. Dan lain sebagainya.Semua
pelaksana kegiatan tersebut bertanggung jawab kepada Kepala Desa.
pengumpulan administrasi kepegawaian, penyelenggaraan rapat- rapat, tata
usaha desa, surat menyurat, kearsipan, penyajian data dan kepustakaan
serta dokumentasi. Dan lain sebagainya.

D. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BENCANA
1. Bencana yang terjadi dan penanggulanganya
Untuk penanggulangan bencana alam yang terjadi, (selama ini berupa Tanah
Longsor) Dalam keadaan darurat koordinasi dengan Instansi terkait dioftimalkan
dalam rangka penanganan bencana tersebut.

2. Status Bencana
Pelaksanaan penanggulangan bencana di desa Tanjungwangi telah dibentuk
Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat ( FKDM ). Tim tersebut bertugas
mengkoordinir penanganan bencana alam dan sejenisnya dengan instansi yang
terkait. Anggota tim terdiri dari Perangkat Desa, Lembaga Desa, Bidan Desa dan
Tokoh Masyarakat. Koordinasi dilakukan dengan melihat jenis bencana yang
terjadi. Apabila bencana alam tersebut terjadi dan tidak bisa bisa diatasi oleh
pihak Tim Desa maka pihak desa berkoordinasi dengan pihak Kecamatan untuk
diteruskan ke Satuan Koordinasi Pelaksana Penanganan bencana di Kabupaten
Lebak. Penanganan bencana tersebut melihat Status Bencana dan serta bahaya dan
penanggulangannya. Dalam keadaan demikian Koordinasi dengan instansi terkait
sangat diperlukan.
3. Sumber dan Jumlah Anggaran
Dalam penanganan semua Bencana Alam memerlukan biaya, Di Desa
Tanjungwangi Anggaran untuk penanganan bencana dituangkan kedalam APBDesa
tetapi belum dianggarkan . Namun apabila terjadi bencana Pemerintah Desa akan
Mencairkan karena keadaan darurat, dana yang diambil sumbernya dari Pendapatan
Asli Desa. Dan apabila terjadi dan tingkat kerusakan bencana tersebut besar maka
biaya penanganan tersebut diserahkan pada Pihak Kabupaten.

4. Antisipasi Desa
Dalam mengantisipasi kejadian bencana alam FKDM desa Tanjungwangi
menyediakan alat tanda bahaya Kentongan dan peralatan sederhana lainya. Ketua
RT diwajibkan melapor apabila terjadi bencana alam maupun bencana yang lainya
kepada FKDM atau Aparat Desa setempat. Dan dilaporkan kepada Instansi terkait
dan yang berkepentingan.

5. Satuan Pelaksanaan Kegiatan Desa
Pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana alam, petugas yang
melaksanakan kegiatan tersebut dibentuk dengan Keputusan Kepala Desa.

6. Kelembagaan yang dibentuk
Kelembagaan di Desa Tanjungwangi dalam kaitanya dengan tugas penanganan
bencana alam dibentuk dengan Keputusan Desa. Berikut dilaporkan data petugas
Tim pelaksana Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat ( FKDM ):
Dewan Penasehat
KETUA : H. JANIM
Sekretaris : SUWARDI
Anggota : Adi Kosasih
Gentur
Saepudin
Ukani
H. Sution
PENGURUS
KETUA : H. ONI
Sekretaris : Misnan
Anggota : Jaka
Adul
Supandi
Umri
Rasli
Johari
Ujen Suherman
Asidan
Marnaya
Apiludin
Juhdi
Dede Subhi Rohman Jaya

KONSUMSI : Kaur Kesra dibantu Perangkat Desa yang Lainnya.
Lembaga tersebut bertanggung jawab kepada Kepala Desa, dan pihak desa
selanjutnya berkoordinasi dengan Pihak Kecamatan Muncang.
7. Potensi bencana yang terjadi
Geografis desa Tanjungwangi keadaan pertanahanya datar, potensi bencana
yang terjadi adalah Tanah Longsor, angin Ribut, kekeringan dimusim kemarau.

E. PENYELENGGARAAN KETENTRAMAN DAN KETERTIBAN UMUM
1. Gangguan yang Terjadi
Dalam melaksanakan ketertiban umum, di Desa Tanjungwangi dibentuk
Forum Komunikasi Polisi Masyarakat ( FKPM ). Untuk tahun 2014 gangguan
keamanan yang disebabkan oleh pencurian tidak ada. Kerukunan masyarakat
terjaga walaupun imbas program bantuan kepada masyarakat terjadi kecemburuan
sosial, namun hal tersebut dapat diatasi dan diadakan pembinaan dan pemahaman
tentang program bantuan dari pemerintah yang ditujukan kepada warga miskin
desa.
2. Satuan Pelaksanaan Kegiatan Desa
Dalam melaksanakan ketertiban umum, Pemerintah Desa Tanjungwangi
membentuk tim yang bertugas menyelesaikan permasalahan. Baik perselisihan
warga maupun kejadian lainya. Tim tersebut terdiri dari Linmas, FKPM dan unsur
perangkat Desa Tanjungwangi. Dalam penanganan permasalahan disetiap
palaksanaanya dibuat Berita Acara dan dilaporkan ke Muspika Kecamatan
Muncang.

3. Penanggulangan dan Kendalanya
Penanggulangan ketertiban umum sering kali mendapat hambatan, disini
dijelaskan bahwa dalam pelaksanaan proses mendamaikan perselisihan warga
sering kali pihak Pelaksana mendapat kecaman maupun yang lainya. Namun dalam
hal ini tidak menjadi permasalahan yang berarti bagi tim tersebut. Kendala yang
ada biasanya dalam teknis menyelesaikan sengketa warga. Karena keterbatasan
Tim pelaksana dan apabila terjadi permasalahan yang serius koordinasi dengan
pihak Muspika Kecamatan jarak tempuhnya ( 5,5 km ).

4. Keikutsertaan Aparat Keamanan dalam Penanggulangan
Dalam menyelenggarakan Ketertiban umum, pihak Pemerintah Desa
Tanjungwangi selalu berkoordinasi dengan Muspika Kecamatan Muncang.
Terutama dengan BABINSA Dan BABINKAMTIBMAS.

5. Sumber dan Jumlah Anggaran
Pelaksanaan penyelenggaraan ketertiban umum dalam APBDesa tidak
dicantumkan. Tetapi untuk kegiatan sosialisai Ketertiban Umum dicantumkan,
Mengingat permasalahan tersebut sifatnya lokal maka Pemerintah desa hanya
membantu seadanya dalam penyediaan Anggaran Dana untuk program tersebut.
Anggaran tersebut mengikuti dengan melihat kejadian yang ada.
BAB VI
PENUTUP

Demikian Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Kepala Desa
(LKPJ) Tanjungwangi ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan sangat Sederhana sehingga
masih sangat jauh dari kesempurnaan untuk itu kami mohon kritik dan saran demi menuju
kearah perbaikan.

Tanjungwangi, 03 Januari 2016
Kepala Desa Tanjungwangi

H. JANIM