NAMA : DONNY ARDIKA NOVANANDA

NPM : 10700040
KELOMPOK : 4
PUSKESMAS : KRIAN

A. DEFINISI

Rinitis vasomotor adalah terdapatnya gangguan fisiologi lapisan mukosa hidung yang disebabkan
peningkatan aktivitas saraf parasimpatis. Penyakit ini termasuk dalam penyakit rinitis kronis selain
rinitis alergika.

Rinitis vasomotor adalah infeksi kronis lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh terganggunya
keseimbangan sistem saraf parasimpatis dan simpatis. Parasimpatis menjadi lebih dominan
sehingga terjadi pelebaran dan pembangkakan pembuluh darah di hidung. Gejala yang timbul
berupa hidung tersumbat, bersin dan ingus yang encer.

Rinitis vasomotor adalah kondisi dimana pembuluh darah yang terdapat di hidung menjadi
membengkak sehingga menyebabkan hidung tersumbat dan kelenjar mukus menjadi hipersekresi.

B. PATOFISIOLOGI

Ada beberapa mekanisme yang berinteraksi dengan hidung yang menyebabkan terjadinya rinitis
vasomotor pada berbagai kondisi lingkungan. Sistem saraf otonom mengontrol suplai darah ke
dalam mukosa nasal dan sekresi mukus. Diameter dari arteri hidung diatur oleh saraf simpatis
sedangkan saraf parasimpatis mengontrol sekresi glandula dan mengurangi tingkat kekentalannya,
serta menekan efek dari pembuluh darah kapasitan (kapiler).3. Efek dari hipoaktivitas saraf simpatis
atau hiperaktivitas saraf parasimpatis bisa berpengaruh pada pembuluh darah tersebut yaitu
menyebabkan terjadinya peningkatan edema interstisial dan akhirnya terjadi kongesti yang
bermanifestasi klinis sebagai hidung tersumbat. Aktivasi dari saraf parasimpatis juga meningkatkan
sekresi mukus yang menyebabkan terjadinya rinorea yang eksesif.

Teori lain meyebutkan adanya peningkatan peptida vasoaktif yang dikeluarkan sel – sel seperti sel
mast. Peptida ini termasuk histamin, leukotrien, prostaglandin dan kinin. Peningkatan peptida
vasoaktif ini tidak hanya mengontrol diameter pembuluh darah yang meyebabkan kongesti, hidung
tersumbat, juga meningkatkan efek dari asetilkolin pada sistem saraf parasimpatis pada sekresi
nasal, yang meningkatkan terjadinya rinorea. Pelepasan dari peptida ini bukan diperantarai oleh IgE
seperti pada rinitis alergika. Pada beberapa kasus rinitis vasomotor, eosinofil atau sel mast

kelembaban udara. yang menyebabkan transudasi cairan dan edema. Pelepasan mediator juga meningkatan aktivitas kelenjar dan meningkatkan sekresi. asap rokok. hasilnya terjadi obstruksi saluran hidung. Bila dibandingkan mekanisme kerja pada rinitis alergika dengan rinitis vasomotor.kemungkinan didapati meningkat pada mukosa hidung . Hal ini menimbulkan gejala obstruksi saluran pernafasan hidung serta gejala bersin dan . karena pengaruh dan kontrolnya atas mekanisme hidung. sehingga mengakibatkan gejala rinorea. Contoh beberapa agen atau kondisi yag mempengaruhi kondisi tersebut adalah . Stimulasi kolinergik menimbulkan vasodilatasi sehingga koana membengkak atau terbendung. dapat menimbulkan gejala yang mirip rinitis alergika. termasuk di hidung yang dapat menimbulkan manifestasi klinis berupa rhinitis vasomotor. aroma masakan yang terlalu kuat. Daerah olfaktoris medial terletak pada bagian anterior hipotalamus. Jika bagian anterior hipotalamus teraktivasi misalnya oleh aroma yang kuat serta emosi. Reaksi reaksi vasomotor ini terutama akibat stimulasi parasimpatis (atau inhibisi simpatis) yang menyebabkan vasodilatasi. memungkinan kita memahami mekanisme bendungan koana. yaitu daerah olfaktoris medial dan olfaktoris lateral. parfum. Terlalu hiperaktifnya reseptor iritans yang berperan pada terjadinya rinitis vasomotor. Mekanisme terjadinya rinitis vasomotor oleh karena aroma dan emosi secara langsung melibatkan kerja dari hipotalamus. peningkatan permeabilitas vaskular disertai udema dan peningkatan sekresi kelenjar. Kemudian berjalan melalui traktus olfaktorius dan berakhir secara primer maupun sesudah merelay neuron pada dua daerah utama otak. Pada reaksi vasomotor yang khas. terdapat disfungsi sistem saraf autonom yang menimbulkan peningkatan kerja parasimpatis (penurunan kerja simpatis) yang akhirnya menimbulkan peningkatan dilatasi arteriola dan kapiler disertai peningkatan permeabilitas. Aroma yang kuat akan merangsang sel – sel olfaktorius terdapat pada mukosa olfaktorii. Stimulasi simpatis servikalis menim bulkan vasokonstriksi hidung. maka reaksi alergi merupakan akibat interaksi antigen antibodi dengan pelepasan mediator yang menyebabkan dilatasi arteriola dan kapiler disertai peningkatan permeabilitas yang menimbulkan gejala obstruksi saluran pernafasan hidung serta gejala bersin dan rasa gatal. maka akan menimbulkan reaksi parasimpatetik di perifer sehingga terjadi dominasi fungsi syaraf parasimpatis di perifer. perubahan temperatur. debu. Banyak kasus rinitis vasomotor berkaitan dengan agen spesifik atau kondisi tertentu. Dari penelitian binatang telah diketahui bahwa vaskularisasi hidung dipersarafi sistem adrenergik maupun oleh kolinergik. polusi udara dan stress (fisik dan psikis). Rinopati vasomotor disebabkan oleh gangguan sistem saraf autonom dan dikenal sebagai disfungsi vasomotor. Sistem saraf otonom ini yang mengontrol vaskularisasi pada umumnya dan sinusoid vena pada khususnya. Dianggap bahwa sistem saraf otonom.

tergantung pada posisi pasien. Pada reaksi alergi. bergantian kiri dan kanan. Penderita dengan anamnesis rinitis vasomotor bisa menggambarkan sensitivitas yang tidak biasa terhadap kelembaban udara. Terdapat rinorea yang mukus atau serosa. C. fisik. Biasanya ia tidak ditemukan atau tidak jelas pada rinitis vasomotor. maka ia dapat pula menyerupai rinitis alergika musiman. reaksi alergi dan disfungsi vasomotor menghasilkan gejala yang sama melalui mekanisme yang berbeda. Mereka menjelaskan fenomena iritatifnya dimulai di usia dewasa. endokrin dan faktor lain.Hidung mungkin sensitive terhadap pengaruh hormone. obstruksi hidung. tapi rhinitis vasomotor pada kehamilan segera menyembuh setelah melahirkan dan mungkin berhubungan dengan keseimbangan hormone. Walaupun belim diketahui mengapa eosinofil juga ditemukan pada rinitis vasomotor. Peningkatan aktivitas parasimpatis meningkatkan aktivitas kelenjar dan menimbulkan peningkatan sekresi hidung yang menyebabkan gejala rinorea. rinorea dan bersin dapat disebabkan oleh faktor iritasi . Hidung tersumbat. Biasanya tidak terdapat variasi musim. seperti yang dapat dijumpai pada rinitis alergika. Biasanya penderita rinitis vasomotor tidak mempunyai riwayat alergi pada keluarganya. Jarang disertai bersin dan tidak disertai gatal di mata. . rinorea dan bersin. GEJALA & TANDA Gejala penderita rinitis alergi atau rinitis vasomotor kadang – kadang sulit dibedakan karena gejala – gejalanya mirip.Reaksi bisa disebabkan oleh disfungsi sistem saraf autonom. tetapi gejalanya dapat menyerupai rinitis alergika sepanjang tahun. Hal ini terjadi bila pasien sensitif pada perubahan suhu yag menyertai perubahan musim. Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena perubahan suhu yang ekstrim. kadang agak banyak. PEMERIKSAAN FISIK Pada pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior didapatkan konka nasalis inferior mungkin pucat. Biasanya rinitis non alergika ini disertai dengan gejala – gejala obstruksi saluran pernafasan hidung dan rinorea yang hebat. oleh karena itu reaksi rhinitis vasomotor mungkin berhubungan dengan kehamilan atau kontrasepsi per oral. D. Biasanya penderita rinitis alergika lebih merasakan gatal dan bersin berulang seperti “ staccato“. Jarang terjadi bersin dan rasa gatal. Pada pokoknya. udara lembab.gatal. Dapat ditemukan eosinofil di dalam sekresi hidung. tetapi disamping itu. juga karena asap rokok dan sebagainya. yaitu obstruksi hidung. ia disebabkan interaksi antigen – antibodi. membengkak dan polipoid. sedangkan pada reaksi vasomotor ia disebabkan oleh disfungsi sistem saraf autonom. Tetapi karena mungkin terdapat remisi dan eksaserbasi.

udem mukosa. Secara garis besar penatalaksanaan dibagi menjadi tiga macam. Obat ini menekan respon inflamasi lokal yang disebabkan oleh vasoaktif mediator yang dapat menghambat Phospolipase A2. pembersihan mukosa nasal secar periodik mungkin bisa membantu. TERAPI Penatalaksanaan yang digunakan pada rhinitis vasomotor bervariasi. Bisa dilakukan dengan menggunakan semprotan larutan saline atau alat irigator seperti Grossan irigator. Perubahan foto rontgen. 2. Untuk . Selain antihistamin. Setelah menyingkirkan setiap penyebab obstruksi hidung dan sekresi hidung lainnya. Obat ini adalah antagonis muskarinik. mengurangi aktivitas reseptor asetilkolin. menurunkan basofil. Flunisolide dan Fluticasone. yang mempunyai efek sistemik lebih sedikit. Membantu pada pasien dengan gejala utama rinorea. DIAGNOSIS Diagnosis rinitis vasomotor dibuat dengan menyingkirkan kemungkinan lain dengan mengetahui riwayat penyakit. minimal sampai 2 gr sebelum hasil yang diinginkan tercapai. pemeriksaan fisik pada hidung dan tenggorok serta tidak didapatkannya allergen spesifik yang menyebabkan terjadinya gejala tersebut atau dengan pemeriksaan skin tes yang negativ. Farmakologik Antihistamin mempunyai respon yang beragam. Efek samping dengan steroid . Penggunaan obat ini harus dihindari pada pasien dengan takikardi dan glaukom sudut sempit.E. F. pemakaian antikolinergik juga efektif pada pasien dengan gejala utama rinorea. Jika tidak diketahui. Rinitis vasomotor bisa terjadi bersama – sama dengan rinitis alergika. Steroid topikal membantu pada pasien dengan gejala utama kongesti. Menghindari penyebab Jika agen iritan diketahui. Dekongestan atau simpatomimetik agen digunakan pada gejala utama hidung tersumbat.eritema ringan. sel mast dan eosinofil. yaitu : 1. rinorea dan bersin. juga terdapat formula topikal dan atrovent. Efek dari kortikostreroid tidak bisa segera. terapi terbaik adalah dengan pencegahan dan menghindari. Steroid topikal yang dianjurkan seperti Beclomethason. tergantung pada factor penyebab dan gejala yang menonjol. tapi dengan penggunaan jangka panjang. maka dapat dibuat diagnosis rinitis vasomotor. penebalan membrana mukosa sinus tidaklah spesifik dan tidak bernilai untuk diagnosis. Obat yang disarankan seperti Ipratropium Bromida.

Reseksi total atau parsial pada konka inferior berhasil baik Komunikasi dan diskusi dengan pasien merupakan bagian penatalaksanaan medis yang sangat penting. Kontraindikasi pemakaian dekongestan adalah penderita dengan hipertensi yang berat serta tekanan darah yang labil.Pada rhinitis vasomotor terjadi peningkatan acetilkholin sebagai akibat dari dominasi parasimpatis . Bedah Jika rhinitis vasomotor tidak berkurang dengan terapi diatas. Penjelasan lain menyebutkan dengan olahraga dapat menyebabkan terjadinya vasokonstriksi membrane. karena dengan olah raga . Operasi ini merupakan tindakan yang cukup sukses untuk mengatasi kongesti. Neurectomi n. 3. Peningkatan aktivitas fisik berpengaruh pada pengurangan produksi dari protein yang memacu timbulnya mucus. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan melakukan olahraga dapat meningkatkan daya tahan dan kondisi penderita rhinitis vasomotor. Pada penggunaan topikal yang terlalu lama (> 5 hari) dapat terjadi rinitis medikamentosa yaitu rebound kongesti yang terjadi setelah penggunaan obat topikal > 5 hari.untuk menurunkan kadar asetil cholin maka diperlukan adanya enzyme asetilcholin esterase.gejala yang multiple. Konsep reaksi hidung normal berlebihan harus didiskusikan ke pasien bahwa beberapa orang mempunyai hidung yang sensitif. Obat ini merupakan agonis reseptor α dan baik untuk meringankan serangan akut. Pemberian preparat Kalsium seperti Dumocalsin atau preparat Kalk dapat juga digunakan. Pengertian akan sangat membantu pasien untuk menerima dan hidup dengan kelainan ini.Dengan pemberian prerat Kalk dapat meningkatkan kerja enzyme asetil cholin esterase sehingga dapat memecah asetilkolin yang menumpuk tersebut. terutama bila tidak ditemukan abnormalitas yang mendasari. prosedur pembedahan dapat dilakukan antara lain dengan Cryosurgery / Bedah Cryo yang berpengaruh pada mukosa dan submukosa. tetapi ada kemungkinan untuk terjadinya hidung tersumbat post operasi yang berlangsung lama dan kerusakan dari septum nasi. Bila telah diterangkan konsep variabilitas biologis dan sensitivitas hidung.vidianus merusak baik hantaran simpatis and parasimpatis ke mukosa sehingga dapat menghilangkan gejala rinorea. Penderita dengan sensitivitas hidung dapat diiritasi oleh pengatur udara (AC) atau polusi udara (ruangan yang penuh dengan asap rokok atau smog). pasien akan lebih memahami gangguannya. Phenilprophanolamin dan Phenilephrin serta Oxymetazoline (semprot hidung). penggunan dekongestan yang diformulasikan dengan antihistamin dapat digunakan. Obat yang disarankan seperti Pseudoefedrin. Cryosurgery lebih dipertimbangkan daripada cauterisasi karena dapat mencapai lapisan submukosa. Kauterisasi dengan AgNO 3 atau elektrik cauter dapat dilakukan tetapi hanya pada lapisan mukosa.

KOMPLIKASI Biasanya komplikasi yang sering terjadi dari rinitis vasomotor ini adalah polip hidung dan terjadinya sinusitis.Penjelasan Puskesmas Dokter Kontrol Alat dan hidung warga di an angka mengenai Krian umum jika ada bahan : gratis wilayah kejadian penyakit atau keluhan -Lampu kerja dokter kepala sekresi Puskesmas 2. H. sehingga dapat mengurangi sumbatan hidung. G.Pemeriksa spesialis -Spekulum Krian hidung an lengkap THT hidung THT -Aplikator kapas -Suction - Oxymetazoli ne (semprot hidung) .Juga dengan olahraga akan membentuk reflek naso pulmonal yaitu dengan meningkatkan Volume Tidal ( VT) paru dan diharapkan bila paru terbuka maksimal maka hidung juga akan lebih terbuka. tetapi dapat dipertimbangkan sebagai salah satu bentuk pencegahan terjadinya eksaserbasi gejala.dapat meningkatkan kadar adrenalin sehinggga dapat mengurangi sekresi mucus. X S. 3 dd 1 RENCANA PROGRAM Kegiatan Sasaran Target Rincian Lokasi Tenaga Jadwal Kebutuhan Kegiatan Pelaksanaa Pelaksana Pelaksanaan n Pemeriksaan Seluruh Menurunk 1. PROGNOSIS Ad vitam : Bonam Ad functionam : Bonam Ad sanationam : Bonam R/ Loratadin No. Ini bukanlah suatu solusi permanent dalam menangani rhinitis vasomotor.