BAB I

LAPORAN KASUS

I.1 Identitas Pasien
Nama : Nn. H
Umur : 21 tahun
Alamat : Magelang
Pekerjaan : Mahasiswi
Status Menikah : Belum Menikah
Tanggal periksa : 05-07-2017

I.2 Anamnesis
Keluhan Utama
Terdapat benjolan kelopak mata kanan bawah dan disertai nyeri.

Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada benjolan kelopak mata kanan
bawah sejak  3 minggu yang lalu. 3 Minggu yang lalu pasien mengatakan
keluhan di awali dengan timbul benjolan kecil kemerahan sekitar sebesar jarum
pentul, kemudian semakin lama semakin membesar hingga sekarang kurang
lebih sebesar biji jagung. Pasien mengeluhkan rasa mengganjal sewaktu mata
pasien berkedip, bila benjolan ditekan terasa nyeri,benjolan terasa tidak panas,
benjolan tersebut tidak pernah pecah. Pasien mengatakan tidak ada keluhan gatal
pada kelopak mata kanan bawah, mata kanan tidak sering berair. Selama  2
minggu pasien pernah mengobati keluhannya tersebut dengan obat salep mata
dan tetes mata yang ia beli di apotik, kemudian keluhan tidak membaik. Menurut
pasien semenjak 3 minggu yang lalu sampai sekarang, ia sering mengendarai
motor dan tidak memakai helm full face. Pasien mengatakan sering mengucek
matanya dengan keadaan tangan yang kotor. Pasien tidak mengeluhkan adanya
keluhan yang sama pada mata kiri. Pasien baru pertama kali merasakan keluhan
seperti ini.

1

Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat sakit serupa : disangkal
 Riwayat DM : disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga
 Tidak ada keluarga pasien yang mengalami hal serupa
 Riwayat DM tidak ada

Riwayat Pengobatan
 Mengobati keluhan dengan menggunakan obat salep dan tetes mata
namun pasien lupa nama obat yang dikonsumsi, namun tidak ada
perbaikan.

Riwayat Alergi:
Riwayat alergi makanan tidak ada, alergi obat tidak ada.

Riwayat Pribadi

 Pasien jarang menggunakan helm full face saat berkendara motor
 Hygiene pasien kurang karena sering megucek mata dengan keadaan
tangan yang kotor.

Riwayat Sosial dan Ekonomi
 Pasien seorang mahasiswi
 Biaya kesehatan BPJS
 Kesan ekonomi cukup

2

5 oC Status Ophthalmicus : OD OS 3 .3 Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Tampak sakit ringan Kesadaran : Compos Mentis Tanda Vital : Tekanan Darah : 120/80 mmHg Nadi : 70 x/menit Pernapasan : 20 x/menit Suhu : 36.I.

- • Silia Trikiasis (-) Trikiasis (-) • Pseudoptosis Tidak ditemukan - 4 . - • Eksoftalmus . - • Ektropion . - • Hiperemia . - 4 • Entropion .Gambar Ilustrasi: I.4 Status Lokalis No Pemeriksaan Oculus Dexter Oculus Sinister Visus 6/6 6/6 1 Bulbus okuli • Gerak bola mata Baik ke segala arah Baik ke segala arah 2 • Enoftalmus . - • Strabismus . - 3 Suprasilia Normal Normal Palpebra Superior : • Edema Tidak ditemukan - • Massa Tidak ditemukan - • Brill Hematom .

- 6 konjungtiva . - patologis COA : • Kedalaman Cukup Cukup 8 • Hifema . - • Edema . - • Ulkus . - • Jaringan . - • Hipopion . - • Semblefaron . berbatas tegas. - • Perdarahan . - • Keratik presipitat . - • Bangunan Patologis . - • Efek tyndall . - • Silia Trikiasis (-) Trikiasis (-) Konjungtiva : • Injeksi Konjungtiva . Palpebra Inferior : • Edema (+) - • Massa Tampak benjolan di 1/3 lateral . konsistensi kenyal. dengan ukuran 2 mm x 3mm x 2mm. - • Bangunan . - fibrovaskuler Kornea : • Kejernihan Jernih Jernih • Infiltrat . - • Lakrimasi . - 7 • Sikatrik . - • Hiperemia (+) - • Entropion . - • Sekret . - • Injeksi siliar .tidak mobile. • Brill Hematom . - Iris : 9 • Kripta (+) (+) 5 . - • Ektropion . warna 5 merah.

- eksudat .warna orange. - neovaskularisasi . CDR =0.3 =0. - • Iris tremulans .warna orange. Papil N II Papil bulat. - - 6 . - 13 Fundus Refleks (+) Cemerlang (+) Cemerlang Funduskopi . - • Iris shadow .3  vasa 2:3 2:3 AV Rasio Mikroaneurisma . CDR tegas. - 12  Hemoftalmia . - • Sinekia . batas Papil bulat. - • Atrofi . -  Macula Reflek fovea + + edema . • Edema . batas tegas. - • Irish Shadow . - Corpus Vitreum  Floaters . - Pupil : • Bentuk Bulat Bulat • Diameter 3mm 3mm 10 • Reflek Langsung (+) (+) • Reflek Tidak (+) (+) langsung Lensa: • Kejernihan Jernih Jernih 11 • Dislokasi . -  Retina Cotton wool spot .Fokus Fokus 0 Fokus 0 .

. OD Hordeolum Eksternum : Disingkirkan karena pada hordeolum eksternum letak sumbatannya atau benjolan pada kelenjar zeiss dan kelenjar Moll.6 DIAGNOSIS BANDING Oculus Dexter . 7 . sehingga sering terpapar debu/kotoran.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan. Dari pemeriksaan fisik ditemukan massa pada palpebral inferior dextra dengan lokasi 1/3 lateral dengan ukuran 2mm x 3 mm. Sedangkan pasien tersebut tidak ada keluhan tersebut. . tidak mobile. - Bleeding - 14 TIO Normal Normal 15 Lapang pandang Normal Normal I. terasa mengganjal. warna merah. OD Blefaritis : Disingkirkan karena pada blefaritis terdapat keluhan kelopak mata merah. konsistensi kenyal. kemudian pasien juga sering mengucek-ngucek matanya dengan keadaan tangan yang kotor. terdapat eksudat lengket. Edema . I. berbatas tegas. Dan dari anamnesis pasien didapatkan pasien jika mengendarai motor sering tidak memakai helm full face. Dikarenakan tidak ada pemeriksaan penunjang yang spesifik dalam menentukan diagnosis hordeolum. Sedangkan pada pasien hordeolum ditemukan tanda-tanda peradangan. Sedangkan . epifora. OD Hordeolum internum : Dipertahankan karena pasien mengeluhkan ada benjolan pada mata bagian dalam. OD Kalazion : Disingkirkan karena pada kalazion tidak disertai tanda-tanda peradangan seperti benjolan berwarna merah dan disertai nyeri. dimana letak kelenjar tersebut menurut anatominya terletak lebih ke lateral dari palpebra. nyeri. merah.

Memberitahu pasien tentang keluhan yang dialami merupakan suatu penyebab infeksi.10 EDUKASI . Parenteral Tidak diberikan d. Memberitahu pasien tentang penyakit pasien merupakan jenis penyakit yang dapat disembuhkan. Oral Eritromisin 4x250 mg Asam Mefenamat 3x500 mg b. .7 DIAGNOSIS KERJA OD Hordeolum Internum Palpebra Inferior I.9 KOMPLIKASI .000 IU (cendoxitrol) 3x sehari tetes mata kanan Tobramycin (salep mata) diberikan tiap 4 jam selama 7-10hari c. sehingga harus menjaga hygiene mata dengan cara jangan sering mengucek mata karena dapat menimbulkan infeksi lebih lanjut.I. Non. Medikamentosa a. Neomycin sulphate 3.8 PENATALAKSANAAN i. Topikal Dexamethasone sodium phosphate 1 mg. Operatif Insisi Hordeolum (Teknik insisi tegak lurus margo palpebra) ii.Selulitis palpebra . namun dapat berulang atau kambuh.5 mg.Abses palpebra I. sehingga jika ada keluhan yang sama pada mata yang sama atau mata lainnya dapat segera konsultasi ke dokter.Medikamentosa Tidak ada I. 8 . Polimyxin B sulphate 6.

12 PROGNOSIS Prognosis Oculus Dexter Oculus Sinister Quo ad visam ad Bonam ad Bonam Quo ad sanam ad Bonam ad Bonam Quo ad functionam ad Bonam ad Bonam Quo ad kosmetikan Dubia ad Bonam ad Bonam Quo ad vitam ad Bonam ad Bonam 9 . dengan cara selalu mencuci tangan. Memberitahu pasien agar menjaga hygienitas diri. atau segera konsultasi lebih lanjut dengan dokter . I. . . Menjaga mata yang tidak terkena keluhan. . Memberitahu pasien hindari faktor pencetus seperti pada pasien jika berkendara motor harus menggunakan helm full face untuk mengindari mikrobakteri masuk. agar mata lainnya tidak juga terkena infeksi. Jika terdapat keluhan yang sama pada mata lainnya segera kompres dahulu dengan air hangat. Memberitahu pasien dengan menghindari pemakaian make up pada mata. hal itu kemungkinan pemicu terdapat infeksi. I.11 RUJUKAN Dalam kasus ini tidak dilakukan rujukan ke Disiplin Ilmu Kedokteran lainnya karena dari pemeriksaan klinis tidak ditemukan kelainan yang berkaitan dengan Disiplin Ilmu Kedokteran lainnya. .

Muskulus Orbikularis okuli Fungsi otot ini adalah untuk menutup palpebra. jaringan areolar. berhubungan degan lapis subaponeurotik dari kulit kepala. Berkedip melindungi kornea dan konjungtiva dari dehidrasi. Dari superfisial ke dalam terdapat lapis kulit. Konjungtiva Palpebrae Bagian posterior palpebrae dilapisi selapis membran mukosa. 4. Tarsus Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa padat yang disebut tarsus superior dan inferior. Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan utama. palpebra inferior menyatu dengan pipi. dan lapis membran mukosa (konjungtiva pelpebrae). Palpebra superior berakhir pada alis mata. Serat ototnya mengelilingi fissura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian orbita.1 Anatomi Palpebra Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. konjungtiva palpebra. 2. yang melekat erat pada tarsus. Bagian otot yang terdapat di dalam palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal. 5. Segmen luar palpebra disebut bagian orbita. bagian diatas septum orbitae adalah bagian praseptal.1 1. BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. dan elastis. 10 . Tarsus terdiri atas jaringan penyokong kelopak mata dengan kelenjar Meibom (40 buah di kelopak atas dan 20 buah di kelopak bawah). longgar. 3. lapis otot rangka (orbikularis okuli). tanpa lemak subkutan. Jaringan Areolar Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli. jaringan fibrosa (tarsus). Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. dengan sedikit folikel rambut. Kulit Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis. Orbikularis okuli dipersarafi oleh nervus facialis.

glandula Zeiss dan Moll. Glandula Zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara dalam folikel rambut pada dasar bulu mata. Punktum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui kanalikulus terkait ke sakus lakrimalis. Glandula Moll adalah modifikasi kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata.5 cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam. Otot polos dari retraktor palpebrae disarafi oleh nervus simpatis. yang berasal dari apeks orbita dan berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis dan bagian yang lebih dalam yang mengandung serat-serat otot polos dari muskulus Muller (tarsalis superior). sedang kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V. 1. Fisura ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis. dan sepanjang tepian ini terdapat muara-muara kecil dari kelenjar sebasesa yang telah dimodifikasi (glandula Meibom atau tarsal). bagian otot rangka adalah levator palpebra superioris. Septum orbitale superius menyatu dengan tendo dari levator palpebra superior dan tarsus superior.3 Retraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior. Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae adalah a. Palpebra. Fisura palpebrae adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang dibuka. Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V. yang menjulurkan jaringan fibrosa untuk membungkus meuskulus obliqus inferior dan berinsersio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan orbikularis okuli. Tepian palpebra dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi tepian anterior dan posterior. Tepian posterior berkontak dengan bola mata. septum orbitale inferius menyatu dengan tarsus inferior. Punktum lakrimalis terletak pada ujung medial dari tepian posterior palpebra. retraktor utama adalah muskulus rektus inferior. Kanthus lateralis kira-kira 0.2 11 . Di palpebra inferior. Septum orbitale adalah fascia di belakang bagian muskularis orbikularis yang terletak di antara tepian orbita dan tarsus dan berfungsi sebagai sawar antara palpebra orbita. Levator dan muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotoris. Tepian anterior terdiri dari bulu mata.

Gambar 2.1 Anatomy of upper and lower eyelids 12 .

Gambaran horedolum biasanya berupa benjolan yang terasa nyeri. Penyakit ini merupakan infeksi fokal (biasanya disebabkan staphylococcal) yang bersifat akut. 2 13 . Higiene dan lingkungan yang tidak bersih 6.2 Hordeolum Definisi Hordeolum adalah suatu peradangan supuratif pada satu atau beberapa kelenjar di tepi atau di bawah kelopak mata. namun organism lain juga dapat menyebabkan infeksi pada kelopak mata. Insidensi kejadian hordeolum masih tinggi.kelenjar Zeis. Bisa terbentuk lebih dari 1 hordeolum pada saat yang bersamaan. Hordeulum juga bisa menimbukan pembengkakan pada kelopak mata. kelenjar Moll (hordeolum eksternum) atau kelenjar Meibom (Hordeolum internum). Pada hordeolum yang externa. 3.2 Etiologi  Organisme staphylococcus adalah kuman penyebab infeksi pada kelopak mata yang paling sering. 4. Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk. sedangkan yang interna eksudat supuratif akan mengenai permukaan konjungtiva yang dekat kelopak mata. kemerahan dan terlokalisir. 2. Hordeolum biasanya timbul dalam beberapa hari dan bisa sembuh secara spontan. Kondisi kulit seperti dermatitis seboroik. isi dari eksudat purulen akan tampak di garis tumbuhnya bulu mata. Riwayat hordeolum sebelumnya 5. .II. Penyakit kronik.2 Faktor Resiko 1.1.. seperti Blefaritis. Peradangan kelopak mata kronik.

berada didekat pangkal bulu mata. Namun. yaitu : 1. 14 . karena itu biasanya dokter akan menyayatnya supaya nanah keluar. infeksi yang terjadi bias meluas ke palpebra bagian dalam dan jaringan periorbital. tempat keluarnya bulu mata (pada batas palpebra dan bulu mata). Bisa terbentuk abses (kantong nanah) yang cenderung pecah dan melepaskan sejumlah nanah. Mata mungkin berair. Gejalanya lebih berat dan jarang pecah sendiri. pseudoptosis. Hordeolum internum Adalah infeksi pada kelenjar meibom sebasea. Hordeolum yang terbentuk pada kelenjar yang lebih dalam. Pada kasus tersebut. pasien paling sering datang dengan keluhan benjolan terlokalisir yang terasa nyeri di salah satu kelopak mata. Hordeolum terbagi atas 2 jenis. Biasanya hanya sebagian kecil daerah kelopak mata yang membengkak. 1. dan nyeri bila ditekan. ptosis.Manifestasi Klinis Gejala subyektif : dirasakan mengganjal pada kelopak mata rasa sakit yang bertambah kalau menunduk. penanganannya seperti pada kasus selulitis periorbital. dan kadang disertai pembesaran kelenjar preaurikular. Secara umum gambaran ini sesuai dengan suatu abses kecil. Di tengah daerah yang membengkak seringkali terlihat bintik kecil yang berwarna kekuningan. peka terhadap cahaya terang dan penderita merasa ada sesuatu di matanya. meskipun kadang seluruh kelopak mata membengkak. pada beberapa kasus keluhannya hanya berupa pembengkakkan pada seluruh kelopak mata dan berwarna merah yang semakin lama pembengkakkannya menjadi terlokalisir. 2. penanganannya tidak bisa seperti penanganan hordeolum biasa. Pada kasus hordeolum yang parah. Hordeolum eksternum Adalah infeksi yang terjadi dekat kelenjar zeis dan moll. Gejala obyektif : tampak suatu benjolan pada kelopak mata atas/bawah yang berwarna merah dan sakit bila ditekan.2 Keluhan utama Secara umum.

kemerahan pada kelopak mata. mata berair. sensasi terbakar di mata. Kebanyakan pasien hordeoulum datang dengan keluhan adanya benjolan atau pembengkakan di kelopak mata. keluar sekret purulen di mata.1 Keluhan tambahan Pada hordeolum. tidak hiperemi. nyeri lokal kelopak mata. penglihatan kadang menjadi kabur. 15 . ketidaknyamanan selama berkedip. gatal. Hal yang membedakan antara kalazion dan hordeolum adalah pada hordeolum terdapat hiperemi palpebra dan nyeri tekan. nyeri bila tersentuh. dan tidak ada nyeri tekan. Raftery) :  Kalazion Kalazion memberikan gejala benjolan pada kelopak mata. serta adanya pseudoptosis. sensitivitas cahaya. sensasi ada benda asing di mata Diagnosa Banding Beberapa diagnosis banding untuk keluhan diatas (menurut Andrew T. keluhan lainnya yang biasanya dirasakan pasien adalah : Pembengkakan lokal kelopak mata. iritasi pada mata. terasa berat pada kelopak mata. pengerasan kulit dari margo kelopak mata. Biasanya disertai rasa nyeri disekitar kelopak mata atau benjolan yang disertai keluarnya nanah.

Yang membedakan selulitis preseptal dengan hodeolum adalah perjalanan penyakitnya. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik harus menyeluruh mulai dari sekitar mata.  Selulitis preseptal Selulitis preseptal merupakan infeksi umum pada kelopak mata dan jaringan lunak periorbital yang dikarakteristikkan dengan adanya eritema pada kelopak mata yang akut dan edema. Sedangkan hordeolum tersebut tidak ada keluhan seperti itu. Inspeksi secara teliti bagian dalam palpebra untuk melihat ada tidaknya hordeolum interna. terdapat eksudat lengket.  Blepharitis Blefaritis disebabkan infeksi dan alergi yang berjalan kronis atau menahun. yang ditandai dengan adanya demam yang diikuti oleh pembengkakan. Pemeriksaan fisik bertujuan untuk menunjukan tingkat kepadatan pembengkakkan atau benjolan baik sisi dalam atau sisi luar palpebra. 16 . Pada blefaritis terdapat keluhan kelopak mata merah. epifora. bola mata higga permukaan konjungtiva.

2 Hordeolum eksterna Gambar 2. Gambar 2. 17 .3 Hordeolum interna  Hordeolum bisa mengenai dua sisi  Konjungtivitis sekunder kadang ditemukan pada pemeriksaan fisik  Pada umumnya tidak ada proses pathogenesis ke intraokular  Adanya gejala demam dan pembesaran KGB menunjukan infeksin yang sistemik Pemeriksaan Penunjang  Tidak ada pemeriksaan penunjang yang spesifik menunjukan diagnosis hordeolum  Pada umumnya kultur bakteri tidak menunjukan korelasi yang sesuai dengan gejala klinis hordeolum.

Tobramycin (salep mata) diberikan tiap 4 jam selama 7-10hari. Oleh karena itu.aureus. pemeriksaaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang sesuai dengan klasifikasi hordeolum. Terapi sistemik diberikan bila terdapat gejala infeksi berat. namun hasil kultur dari infeksi kelopak mata kebanyakan ditemukan s. Antibiotika topical berguna untuk pengendalian infeksi staphylococcus di kelopak mata dan nasal. serta abses palpebra . Antibiotika sistemik diindikasikan jika terdapat tanda-tanda bakteriemia atau jika pasien memiliki pembesaran kelenjar getah bening preaurikular. Eritromisin 250 mg / 125-250 mg dikloksasilin 4 x sehari dapat juga diberikan tetrasiklin. polimyxin B. dapat digunakan bacitracin salep mata (AK-Tracin). Antibiotika topikal (neomycin. 18 .epidermidis. Terapi 1.  Pada hasil uji kultur bakteri pesien hordeolum disertai konjungtivitis bacterial kuman yang paling banyak ditemukan adalah s.  Pemeriksaan darah tidak diperlukan untuk diagnosa hordeolum. kultur mata tidak memiliki nilai yang signifikan untuk diagnosa hordeolum. Komplikasi Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari hordeolum adalah selulitis palpebral yang merupakan radang jaringan ikat longgar palpebral di depan septum orbita. gentamycin) selama 7 -10 hari. bila dipandang perlu dapat ditambahkan antibiotika sistemik. Antibiotik diindikasikan hanya bila terjadi peradangan yang telah menyebar ke daerah di luar hordeolum secara langsung.2 Medikamentosa : 1. Terapi medikamentosa hordeolum dimulai dengan pemberian terapi topical. Diagnosa Kerja Diagnosa kerja dapar ditegakkan berdasarkan hasil anamnesa.

19 . Insisi dan drainase hordeolum : Lakukan drainase dengan sayatan menusuk di lokasi menunjuk menggunakan jarum 18-gauge atau pisau # 11. insisi dilakukan secara vertikal pada permukaan konjungtiva untuk menghindari terpotongnya kelenjar meibom yang lain. Bila tidak terjadi resorbsi dengan pengobatan konservatif dianjurkan insisi. pada hordeolum internum. Jika pasien gelisah berikan penyuluhan kesehatan dan perawat tetap berada di samping pasien. . sedangkan pada hordeolum eksternum dibuat sayatan horizontal pada kulit sesuai dengan lipatan kulit untuk mengurangi luka parut sehingga tetap baik secara kosmetik. Dilakukan anestesi filtrasi dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum. Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal dengan pantokain tetes mata. Tindakan prainsisi : .2. kecuali hordeolum sudah menunjuk eksternal. sehingga membuat sayatan kelopak mata eksternal atau tusukan tidak disarankan. Buat pasien merasa nyaman. Sayatan eksternal menyebabkan jaringan parut. Insisi hordeolum dilakukan jika tidak membaik dalam 48 jam.

sedngkan hordeolum interna dengan insisi vertikal guna menghindari terpotongnya kelenjar meibom. . Dikombinasikan atasnya drainase internal dan eksternal meningkatkan risiko fistula kemudian melalui tutupnya. . Jangan mencoba untuk mengangkat semua bahan tampaknya purulen pada peradangan akut ini. . . kehilangan berlebihan jaringan tarsal dapat mengakibatkan deformitas pada saat penutupan mata. . . Pegang lesi dengan penjepit kalazion. 20 . membuat sayatan internal dan sejauh mungkin dari lokasi eksternal menunjuk.. abses besar mungkin memiliki beberapa kantong dan memerlukan beberapa menusuk. jangan membuat sayatan sepanjang margin bulu mata. . menyuntikkan sepanjang tepi tutupnya di baris atas tarsus atas atau di bawah tarsus lebih rendah. Ketika mengeringkan lesi yang menunjuk baik secara eksternal dan internal. hordeolum eksterna di insisi dengan teknik horizontal untuk meminimalisir jaringan parut. Jangan menyuntikkan anestesi lokal langsung ke bagian hordeolum. Tinggalkan sayatan terbuka dengan margin bersih. Untuk menghindari mengganggu pertumbuhan normal dari bulu mata.

Medikamentosa : . perlu dilakukan insisi. 21 . Sebagai bagian dari perawatan diri di rumah. . lotion dan memakai lensa kontak. Terapi konservatif berupa kompres air hangat. eyeliner). karena dapat memburuk menjadi infeksi yang berat. Mata penderita harus menghindari riasan mata (misalnya. Metode lain adalah untuk Pembersihan harus dilakukan dengan lembut dan sementara mata tertutup untuk mencegah cedera mata. . kemudian dibuka secara hati-hati dan mata dikompres dengan salin hangat secara hati-hati . Observasi kurang lebih 1-2 jam sebelum pulang . Non. Pasien dianjurkan untuk tidak memecahkan hordeolum. Bila dalam 48 jam tidak terjadi penyembuhan. dan pemberian antibiotik. pasien harus segera konsul untuk menghindari tejadiya komplikasi. Bila dilakukan gagal dilakukan drainase. Mata mungkin tampak memar. . pasien dapat membersihkan kelopak mata yang terkena dengan air keran atau dengan sabun. Kompres hangat 3-4 kali sehari selama 14-15 menit. karena ini dapat memperburuk dan menyebarkan infeksi (ke kornea) Follow Up Semua pasien hordeolum sebaiknya konsul ke spesialis mata. Tindakan pascainsisi : . bila dengan terapi konservatif tidak ada perubahan dalam waktu 1-2 minggu. tidak menyebabkan iritasi ringan atau shampoo (seperti sampo bayi) untuk membantu membersihkan sekret. sarankan pasien untuk memakai kacamata pelindung. Tutup mata dengan kassa steril . Beritahu keluarga cara membuka kassa. Tutup mata dan kassa dibiarkan di tempatnya kira-kira 4 jam.

Quo ad visam : ad bonam .Quo ad sanam : ad bonam .Prognosis .Quo ad kosmetikan : Dubia ad Bonam .Quo ad functionam : ad bonam .Quo ad vitam : ad bonam 22 .

Ilmu Penyakit Mata. first ed.org.57(11):2695-2702. Oxford American Handbook of Opthalmology.D. Oftalmologi Umum. University of California. Eyelid Disorders: Diagnosis and Management. 103-13 p. 2000: 2. Cetakan I. Edisi III. Edisi 14. San Francisco.afp/980600ap/articles. 23 . Vaughan. Sidarta. NHS oxfordshire. California Am Fam Physician. New York2011. Opthalmology Referral Guidelines. http://www. Jakarta.aafp. San Francisco. Balai Penerbit FK UI. 2004: 3. tsai ea. Jakarta. James C. SUSAN R. Cetakan I.G. D. Widya Medika.. I. Joanne car Ff. School of Medicine. DAFTAR PUSTAKA 1. M.html 4. 2012:19-20 5. 1998 Jun 1. CARTER.