No. ID dan Nama Peserta dr.

Yugo Berri Putra Rio
No. ID dan Nama Peserta RSUD Dr. M. Zein Painan
Topik Luka Bakar Grade II B dengan Derajat Berat
Tanggal Kasus 5 Mei 2016
Nama Pasien Tn. D Nomor RM :
Tanggal Presentasi 5 Mei 2016 Pendamping dr.Dona Hamrita
Objektif Presentasi
 Keilmuan  Keterampilan  Penyegaran  Tinjauan Pustaka
 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa
 Neonatus  Bayi  Anak  Remaja  Dewasa  Lansia  Bumil
Seorang perempuan berusia 42 tahun, datang ke Bangsal Bedah RSUD
dr. M. Zein Painan pada tanggal 5 Mei 2016 pukul 10.30 WIB dengan
Deskripsi
keluhan utama nyeri pada seluruh tubuh setelah terkena cipratan minyak
lampu togok sejak 1 jam sebelum masuk Rumah Sakit.
Mengidentifikasi penyebab, mekanisme kejadian, gejala, diagnosis,
Tujuan
tatalaksana, dan komplikasi dari luka bakar.
Bahan Bahasan :  Tinjauan  Riset  Kasus  Audit
Pustaka
Cara Membahas :  Diskusi  Presentasi dan  Email  Pos
Diskusi
Data pasien Nama : Tn. D No. Reg
Data Utama untuk bahan diskusi:
Diagnosis/Gambaran Klinis :
- OS terkena cipratan minyak lampu togok sejak 1 jam sebelum masuk Rumah
Sakit.
- Awalnya pasien sedang memperbaiki lampu togok namun tanpa disengaja minyak
dari lampu togok tersebut melimpah akibat letusan dari lampu dan mengenai wajah
kulit dan hampir seluruh tubuh bagian perut ke atas, yaitu wajah, leher, seluruh
badan dan punggung, dan kedua lengan atas serta kedua tangan.
- Pasien sadar setelah kejadian.

- Kejang setelah kejadian tidak ada.

- Sesak nafas tidak ada, batuk-batuk tidak ada, muntah tidak ada.
1. Riwayat Pengobatan

1

/- 2 . sampah dibuang di tempat pengumpulan sampah . Status gizi : kesan: normal Status lokalis untuk dugaan diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding: Kepala : bibir sianosis (-). Riwayat lingkungan sosial dan lingkungan: Tinggal di rumah permanen sederhana. tanda-tanda trauma termal (+) Kulit : ditemukan kelainan berupa luka erosi pada kulit diikuti dengan bula pada kulit dengan rule of nine sekitar 49.5% Mata : Pupil isokhor Ø 2mm/2mm. buang air besar di WC dalam rumah. Pasien belum pernah berobat sebelumnya 2. Riwayat pekerjaan Pasien seorang pedagang 6. sumber air minum Air Galon isi ulang dan PDAM. sklera tidak ikterik THT : tidak ditemukan kelainan./ . Kesan : higiene dan sanitasi cukup baik. sonor. Riwayat keluarga 4. 5. pekarangan kecil. Kulit melepuh pada seluruh dada depan dan belakang diikuti dengan terbentuknya bula. Lain-lain: Status Generalisata Keadaan umum : sakit berat Kesadaran : somnolen. Riwayat Kesehatan/Penyakit Pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya. 3. wheezing . GCS E4 M6V5: 15 Tekanan Darah : 140 / 90 mmhg Frekuensi denyut nadi : 121 x /menit Frekuensi nafas : 27 x/ menit Suhu : 37. RC +/+ normal.8oC Berat badan : tidak diketahui. Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien. bising jantung (-) Pulmo : simetris. : cor : bunyi jantung murni.. vesikuler normal. konjungtiva tidak anemis. kulit melepuh pada seluruh leher Thoraks Simetris pernapasan kiri=kanan. Leher : tidak ditemukan pembesaran KGB. rongkhi .

3 . N = 121 kali/menit.8 mg/dl Leukosit : 16. Kepala : tanda-tanda trauma termal (+) Mata : Pupil isokhor Ø 2mm/2mm.000 /mm3 Hasil Pembelajaran 1.200 /mm3 Hematokrit : 35 % Trombosit : 433. Intervensi Farmakologis. BU (+) normal. seluruh badan dan punggung. Refleks fisiologi +/+. Sesak nafas tidak ada. Intervensi Penunjang. Distensi (-). leher. Objektif: Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh. NT (+). NL (-). Kejang setelah kejadian tidak ada. Pasien sadar setelah kejadian. H/L tidak teraba. Awalnya pasien sedang memperbaiki lampu togok namun tanpa disengaja minyak dari lampu togok tersebut melimpah akibat letusan dari lampu dan mengenai wajah kulit dan hampir seluruh tubuh bagian perut ke atas. perfusi baik. Tympani pada seluruh regio abdomen. muntah tidak ada. yaitu wajah. a. refleks patologis -/- Ekstrimitas 555 555 555 555 Pemeriksaan Penunjang: Laboratorium Darah Hemoglobin : 11. Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio Subjektif: Seorang pria berusia 42 tahun dating ke bangsal RSUD. Abdomen Tampak pelepuhan kulit abdomen depan dan belakang diikuti dengan terbentuknya bula. : Akral hangat. Penatalaksanaan Luka Grade II B dengan Derajat Berat dan kegawatdaruratannya. batuk-batuk tidak ada. RC +/+ normal. Diagnosis Luka Grade II B dengan Derajat Berat 2. dan kedua lengan atas serta kedua tangan. b.8 °C. TD = 140 / 90 mmHg. M. P = 27 kali/menit. Thoraks : Simetris pernapasan kiri=kanan. S = 37. Zein Painan setelah terkena cipratan minyak lampu togok sejak 1 jam sebelum masuk Rumah Sakit.

Awalnya pasien sedang memperbaiki lampu togok namun tanpa disengaja minyak dari lampu togok tersebut melimpah akibat letusan dari lampu dan mengenai wajah kulit dan hampir seluruh tubuh bagian perut ke atas. dada bagian depan dan belakang. Secara definisi. : cor : bunyi jantung murni. NT (+). wheezing . sonor. NL (-). kompresi lumen atau 4 .. yaitu ileus paralitik (adinamik) dan ileus obstruktif (mekanik). Pasien sadar setelah kejadian. Distensi (-). Ekstremitas : Akral hangat. Keadaan-keadaanyang dialami ini mengarahkan kita pada diagnosis bahwa terjadinya permasalahan pada sistem sirkulasi dan system pencernaan di abdomen. tidak nyeri tekan. leher. Pemeriksaan penunjang. tidak terfiksirm dan tidak bisa dikembalikan ke dalam abdomen. Sedangkan pada ileus obstruktif terdapat rintangan fisik yang menghalangi proses pengeluaran isi usus. yaitu blokade intralumen. Pada pemeriksaan fisik. leher. kondisi distensi pada abdomen. hal yang penting ditemukan antara lain terdapat massa pada abdomen dengan ukuran ± 10 cm x 8 cm x 7 cm dengan konsistensi kenyal. Zein Painan setelah terkena cipratan minyak lampu togok sejak 1 jam sebelum masuk Rumah Sakit. bising jantung (-) Pulmo : simetris. rongkhi .intramural atau lesi instrinsik dari dinding usus. Assessment: Seorang pria berusia 42 tahun dating ke bangsal RSUD.Pada ileus paralitik terjadi hambatan peristaltik usus karena toksin atau trauma yang mempengaruhi kontrol otonom pergerakan usus. muntah tidak ada. perfusi baik. 555 555 555 555 Kulit : Luka bakar pada seluruh kulit wajah. Sesak nafas tidak ada. yaitu wajah. Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus akut yang segera memerlukan pertolongan dokter./ . M. H/L tidak teraba. Kejang setelah kejadian tidak ada.Terdapat 2 jenis ileus./- Abdomen : Tympani pada seluruh regio abdomen. nyeri saat ditekan. BU (+) normal. berupa pemeriksaan darah rutin didapatkan hasil leukositosis dengan jumlah leukosit 16.800 /mm3. serta kedua lengan atas dan kedua tangan. abdomen bagian depan dan belakang. dan kedua lengan atas serta kedua tangan. seluruh badan dan punggung. batuk-batuk tidak ada. penurunan bunyi bising usus pada pasien. Penyebab ileus obstruksi secara umum dapat dibagi menjadi tiga mekanisme. vesikuler normal.

batu empedu. sehingga 5 . Ileus obstruksi pada usus halus dapat disebabkan oleh : 1. lesi intramural misalnya malignansi atau inflamasi.konstriksi akibat lesi ekstrinsik dari usus. Pada operasi. Sering juga ditemukan adhesi yang bentuknya pita. dan dapat setempat maupun luas. Adhesi Adhesi umumnya berasal dari rangsangan peritoneum akibat peritonitis lokal atau umum. Hernia inkarserata Hernia disebut hernia inkarserata bila isinya terjepit cincin hernia sehingga isi kantong terperangkap dan tidak dapat kembali ke dalam rongga perut. volulus atau intususepsi. Adhesi dapat berupa perlengketan dalam bentuk tunggal maupun multipel. perlengketan dilepaskan. atau pascaoperasi. lesi ektralumisal misalnya adhesi. dan pita dipotong agar pasase usus pulih kembali. hernia. 2. Lesi intraluminal seperti fekalit. Ileus akibat adhesi umumnya tiak disertai strangulasi.

Diagnosis obstruksi cacing didukung oleh riwayat pemberian obat cacing atau pencahar. Kebanyakan volvulus didapat di bagian ileum. 3. Invaginasi umumnya berupa intususepsi ileosekal yang masuk dan naik ke kolon asenden serta mungkin keluar dari rektum. muntah. Obstruksi umunya disebabkan oleh gumpalan padat yang terdiri atas sisa makanan dan puluhan ekor cacing yang mati atau hampir mati akibat pemberian obat cacing. serangan kolik. terjadi gangguan pasase atau gangguan vaskularisasi. demam. Radang kronik 6 . Kelainan congenital Dapat berupa stenosis atau atresia. Hernia merupakan penyebab kedua terbanyak setelah adhesi dan merupakan penyebab tersering pada pasien yang tidak mempunyai riwayat operasi abdomen. Kelaianan bawaan ni akan menyebabkan obstruksi setelah bayi mulai menyusui. Invaginasi adalah masukya bagian usus proksimal (intussuseptum) kedalam bagian yang lebih distal dari usus (intussupien). Volvulus Volvulus merupakan proses memutarnya usus sehingga menyebabkan obstruksi usus dan gangguan vaskularisasi. Invaginasi dapat mengakibatkan obstruksi ataupun nekrosis iskemik pada bagian usus yang masuk dengan kompikasi perforasi dan peritonitis. 5. 7. 6. Volvulus jarang terjadi di usus halus. 4. Invaginasi Invaginasi atau intususepsi sering ditemukan pada anak dan agak jarang pada dewasa muda. Askariasis Obstruksi usus oleh cacing askaris paling sering ditemukan pada anak karena higiene kurang sehingga infestasi cacing terjadi berulang. dan cacing keluar dari mulut atau anus.

biasanya terdapat tanda-tanda yang mendahului antara lain penyimpangan buang kotoran. hipertrofi. seperti penurunan berat badan dan sakit perut. keluarnya darah perektal dan colon akan mengalami distensi hebat dalam waktu yang cepat. Karsinoma colon merupakan penyebab angka kematian yang tertinggi dari pada bentuk kanker yang lain. Separuh kasus tumor ganas terdapat di ileum. Keluhannya samar. Batu empedu yang masuk ke ileus Inflamasi yang berat dari kantung empedu menyebabkan fistul dari saluran empedu ke duodenum yang menyebabkan batu empedu masuk ke traktus gastrointestinal. sisanya di duodenum dan yeyenum. Volvulus sekum terjadi karena kelainan bawaan kolon kanan yang tidak 7 . Volvulus Volvulus terajadi akibar memutarnya usus (biasanya pada sekum ata sigmoid) pada mesokolonnya sehingga menyebabkan obstruksi lumen dan gangguan sirkulasi vena maupun arteri. Tumor jinak usus halus agak jarang menyebabkan obstruksi usus. Tumor Lebih dari separuh tumor jinak ditemukan di ileum. Faktor predisposisi yang dikenal adalah poliposis multiple. Morbus Chron dapat menyebabkan obstruksi karena udem. Sama halnya dengan tumor jinak usus halus. 8. 20% oleh divertikulosis dan 5% oleh volvulus sigmoid. yaitu sekitar 90%. Ileus obstruksi pada ususbesar disebabkan: 60% oleh malignansi. kecuali jika menimbulkan invaginasi (penyebab tidak langsung) atau karena tumornya sendiri (penyebab langsung). Kelainan ini terutama ditemukan pada orang yang lebih tua. umumnya pada ileum terminal atau katup ileosekal yang menyebabkan obstruksi. Volvulus sigmoid ditemukan jauh lebih banyak daripada volvulus sekum. Batu empedu yang besar dapat terjepit di usus halus. 2. orang dengan riwayat kronik konstipasi. Karsinoma kolon Obstruksi kolon yang akut dan mendadak kadang-kadang disebabkan oleh karsinoma. Sekitar 70-75% kasinoma kolon dan rektum terletak pada rektum dan sigmoid. dan fibrosis yang biasanya terjadi pada penyakit kronik ini. 9. tumor ganas juga jarang menyebabkan obstruksi. Volvulus sigmoid sering mengalami strangulasi bila tidak dilakukan dekompresi. 1.

Divertikel kolon adalah divertikel palsu karena terdiri atas mukosa yang menonjol melalui lapisan otot seperti hernia kecil. Komplikasi dapat berupa perforaasi. Penyakit Hirschsprung Penyakit Hirschprung atau yang disebut juga megacolon dapat digambarkan sebagai suatu usus besar yang dilatasi. 5. Sedangkan megakolon yang didapat merupakan hasil dari adanya infeksi ataupun konstipasi kronis. 4. jadi terdapat mesenterium yang panjang dan sekum yang yang mobile karena tidak terfiksasi. mual. baik di dalam lumen usus bagian oral dari obstruksi maupun oleh muntah. 3. membesar dan hipertrofi yang berjalan kronik. Obstruksi usus halus Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna tinggi. muntah pada obstruksi letak tinggi. Volvulus sigmoid terjadi karena mesenterium yang panjang dengan basis yang sempit. abses terbuka. Invaginasi diduga oleh karena perubahan dinding usus khususnya ileum yang disebabkan oleh hiperplasia jaringan lymphoid submukosa ileum terminal akibat peradangan. Penyebab kongenital dari penyakit ini diakibatkan dari kegagalan migrasi dari neural crest ke kolon bagian distal. artinya disertai dengan pengeluaran banyak cairan dan elektrolit. Namun. Intususepsi/invaginasi Merupakan suatu keadaan masuknya suatu segmen proksimal usus ke segmen bagian distal yang akhirnya terjadi obstruksi usus strangulasi. Intususepsi sering terjadi pada anak anak. sekitar 5-15% dari kasus intususepsi di belahan bumi bagian Barat terjadi di orang dewasa. Kelainan ini biasanya menyerang pada usia 60 tahunan. dan konstipasi (pada pasien 8 . Penyakit ini dapat kongenital ataupun didapat dan biasanya berhubungan dengan ileus obstruksi. dan perdarahan. yang mana dua per tiga kasusnya disebabkan oleh tumor atau polip di usus halus. Keadaan umum akan memburuk dalam waktu yang relatif singkat. dengan abdominal kolik. Gejala yang timbul biasanya : kolik pada daerah umbilikus atau di epigastrium. fistel. obstruksi parsial. Infeksi Trypanosoma cruzi menyerang sel ganglion dan menyebabkan megakolon. terletak retroperitoneal. Divertikel Divertikel kolon paling sering ditemui di sigmoid.

. Muntah refleks ditemukan segera setelah mulainya ileus obstruksi yang memuntahkan apapun makanan dan cairan yang terkandung. dinding perut yang lemas. terutama berupa obstipasi dan kembung. yang kadang disertai kolik pada perut bagian bawah (suprapubik). Pada obstruksi strangulasi. b. hijau atau kuning. dengan obstruksi total). demam. maka muntah terlihat dini dalam perjalanan dan terdiri dari cairan jernih. Muntah fekulen dapat terjadi pada obstruksi usus halus yang lama yang terjadi karena bakteri yang tumbuh banyak dan merupakan tanda patognomonik dari ileus obstruksi usus halus bagian distal komplit. yang juga diikuti oleh cairan duodenum. setiap 15 sampai 20 menit pada ileus obstruksi usus besar. leukosistosi. Nyeri abdomen biasanya agak tetap pada mulanya dan kemudian menjadi bersifat kolik. Obstruksi kolon Gejalanya biasanya lebih ringan dan terjadi lebih perlahan dibandingkan obstruksi pada usus halus. dinding perut akan lemas dan pada auskultasi didapatkan peristaltik yang minimal. yang muncul setiap 4 sampai 5 menit dalam ileus obstruksi usus halus. Apabila telah terjadi infark. Nyeri dari ileus obstruksi usus halus demikian biasanya terlokalisasi supraumbilikus di dalam abdomen. Muntahannya kental dan berbau busuk sebagai hasil pertumbuuhan bakteri berlebihan karena adanya renggang waktu yang lama.muntah timbul lambat dan setelah muncul distensi.Gerakan peristaltik yang high pitched dan meningkat yang bersamaan dengan adanya kolik merupakan tanda yang khas. asidosis.Frekuensi episode tergantung atas tingkat obstruksi. a.penderita mengeluh konstipasi menyebabkan adanya distensi abdomen. gejalanya biasanya takikardi. Small-intestinal Large Intestinal obstruction obstruction Penyebab paing Adhesi dan hernia Kanker sering Gejala Kolik abdomen dan Kolik abdomen dan 9 . Gejala awalnya adalah peubahan kebiasaan buang air besar. Konstipasi dengan tidak dapat flatus dirasakan oleh pasien pada fase lanjut. Pada ileus obstruksi usus halus. Akhirnya. Muntah mungkin terjadi namun tidak sering. Pasien dengan obstruksi simpel/parsial biasanya menderita diare pada awal obstruksi. yang kebanyakan cairan empedu.

Pada ileus obstruktif usus halus. Mual dan muntah. Diare. Diagnosa ileus obstruktif diperoleh dari: 1. berhubungan dengan adanya obstruksi di bagian proksimal b. terjadi terlambat dan mungkin terkait dengan adanya strangulasi g. Pemeriksaan Fisik a. udara distensi usus halus dan kotoran yang dan air fluid level sedikit pada distal Diagnosis ileus obstruktif tidak sulit. sedangkan pada ileus obstruktif usus besar. salah satu yang hampir selalu harus ditegakkan atas dasar klinik dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. temuan akhir berupa afflatus dan adefekasi f. Nyeri perut yang intermitan meningkat saat hiperperistaltik c. Konstipasi. Gejala lain yang mengikuti antara lain: a. muntah dengan muntah yang jarang interval yang reguler Pemeriksaan fisik Distensi abdomen Distensi abdomen mild-moderate moderate Foto polos abdomen Dilatasi lumen usus Dilatasi kolon halus dengan air dengan atau tanpa fluid level . Demam dan takikardi. terapi radiasi sebelumnya atau keduanya h. kolik dirasakan di sekitar suprapubik. kolik dirasakan di sekitar umbilkus. pada temuan awal e. Perut kembung d. Riwayat operasi panggul. terutama carcinoma colon dan carcinoma ovarium 2. misalnya berupa adhesi dalam perut karena pernah dioperasi sebelumnya atau terdapat hernia. Inspeksi 10 . Anamnesis Pada anamnesis ileus obstruktif usus halus biasanya sering dapat ditemukan penyebabnya. Muntah pada ileus obstruktif usus halus berwarna kehijaun dan pada ileus obstruktif usus besar onset muntah lama. Riwayat keganasan. serta pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan laboratorium harus dilihat sebagai konfirmasi dan bukan menunda mulainya terapi yang seharusnya dilakukan segera.

yang mencakup ‘defance muscular’ involunter atau rebound dan pembengkakan atau massa yang abnormal. hernia dan massa abdomen. 1). Gambar Darm countur Tanda meteorismus. Ileus letak tengah: kembung di umbilicus. Palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau nyeri tekan. Pada abdomen harus dilihat adanya distensi. jejunum dan ileum proksimal 3). parut abdomen. Ileus letak tinggi: di duodenum dengan kembung di ventrikulus 2).Tetapi setelah beberapa hari 11 . yang mencakup kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. Perkusi Timpani pada seluruh region abdomen terutama di subdiafragma d. dibedakan berdasarkan letak . Auskultasi Pada ileus obstruktif pada auskultasi terdengar kehadiran episodik gemerincing logam bernada tinggi dan gelora (rush’)/borborygmi (suara seperti air dalam botol yang di kocok/ seperti suara ombak. c. Inspeksi pada penderita yang kurus/sedang juga dapat ditemukan “darm contour” (gambaran kontur usus) maupun “darm steifung” (gambaran gerakan usus).Penderita tampak gelisah dan menggeliat sewaktu serangan kolik. Ileus letak rendah: di colon dengan kembung terasa di seluruh region perut b. biasanya nampak jelas pada saat penderita mendapat serangan kolik yang disertai mual dan muntah dan juga pada ileus obstruksi yang berat. Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi. Palpasi Distensi perut dan tidak nyeri tekan (kecuali pada saat hiperperistaltik) tak ada defance muscular kecuali pada peritonitis.

Nyeri tekan dapat ditemukan pada lokal maupun general misalnya pada keadaan peritonitis. serta jaraknya dari anus dan perkiraan diameter lumen yang dapat dilewati oleh jari. Untuk dapat mendiagnosis ileus dapat dilakukan dengan melakukan penilaian berdasarkan foto polos untuk pasien dengan ileus obstruksi setidaknya 2 tampilan yaitu posisi terlentang atau datar dan tegak.Juga menilai ada tidaknya feses di dalam kubah rektum. membedakan antara obstruksi parsial atau komplit dan membedakan obstruksi sederhana dengan strangulasi.Pada ileus obstruktif usus feses tidak teraba pada colok dubur dan tidak dapat ditemukan pada sarung tangan. Pada foto abdomen dapat membedakan temuan obstruksi sedehana atau strangulasi. maka aktivitas peristaltik (sehingga juga bising usus) bisa tidak ada atau menurun parah.Feses juga harus diperiksa untuk melihat adanya darah atau tidak. dan beberapa telah menggunakanya utnuk membedakan antara obstruksi lengkap atau parsial atau bukan suatu ileus obstruksi. permukaan. konsistensi.dalam perjalanan penyakit dan usus di atas telah berdilatasi. namun tingkat kegagalan diagnostik sebanyak 30% telah dilaporkan. Pada pemeriksaan colok dubur akan didapatkan tonus sfingter ani biasanya cukup namun ampula recti sering ditemukan kolaps terutama apabila telah terjadi perforasi akibat obstruksi dan pada pasien yang sudah tua. jumlah. Hal penting yang harus diketahui saat anamnesis adalah riwayat operasi abdomen (curiga akan adanya adhesi) dan adanya kelainan abdomen lainnya (karsinoma intraabdomen atau sindroma iritasi usus) yang dapat membantu kita menentukan etiologi terjadinya obstruksi. Mukosa rectum dapat ditemukan licin dan apabila penyebab obstruksi merupakan massa atau tumor pada bagian anorectum maka akan teraba benjolan yang harus kita nilai ukuran. Pada sarung tangan dapat ditemukan darah apabila penyebab ileus obstruktif adalah lesi intrinsik di dalam usus . Diagnosis harus terfokus pada membedakan antara obtruksi mekanik dengan ileus. Pemeriksaan yang teliti untuk hernia harus dilakukan. Foto polos merupakan diagnosis yang lebih akurat pada kasus ileus obstruksi sederhana. Studi Lappas et al menemukan 2 temuan lebih prediktif dari ileus obstruktif letak tinggi dan 12 .Tidak adanya nyeri usus bisa juga ditemukan dalam ileus paralitikus atau ileus obstruktif strangulata. kehadiran darah menuntun kita ke arah strangulasi. menentukan etiologi dari obstruksi. Bagian akhir yang diharuskan dari pemeriksaan adalah pemeriksaan rectum dan pelvis.

Kondisi yang berkelanjutan ini menyebabkan pasien mengalami dehidrasi sehingga mengalami syok hipovolemik sehingga dapat ditegakkan diagnosis kerja pada pasien ini dengan Syok Hipovolemik dengan Ileus Obstruktif Total ec. Pada abdomen ditemukan massa pada bagian umbilikalis pasien dengan ukuran ± 10 cm x 8 cm x 7 cm. Pada pemeriksaan radiologi tidak dilakukan oleh pihak IGD karena harus mengatasi keadaan akut dan membahayakan nyawa yang dialami oleh pasien. Berdasarkan anamnesis. obstruksi kemungkinan besar letak tinggi atau ileus obstruksi totalis. (2) dilatasi usus lebih dari 25 mm. Temuan spesifik untuk obstruksi usus halus ialah dilatasi usus halus (diameter >3cm).Sensitifitas foto abdomen untuk mendeteksi adanya obstruksi usus halus mencapai 70-80% namun spesifisitasnya rendah. Pada pemeriksaan fisik ditemukan penurunan tekanan darah serta peningkatan nadi pasien di mana hal ini menunjukkan pasien mengalami syok sehingga menyebabkan paseen mengalami penurunan kesadaran. Studi ini menemukan bahwa ketika 2 temuan yang hadir. Ketika temuan kedua ini tidak ada maka ileus obstruksi letak rendah (parisial) atau tidak ada obstruksi. perabaan kenyal. pemeriksaan fisik. dan tidak dapat dikembalikan ke dalam abdomen. Hal ini menjadi dasar bahwa permasalahan yang dialami oleh pasien adalah permasalahan pada saluran cerna. serta nyeri tekan pada abdomen. peningkatan bunyi bising usus disertai dengan metallic sound. distensi abdomen. Hal ini menandakan bahwa terjadi penurunan kesadaran serta hambatan pada saluran pencernaan bersifat total karena pasien sudah mengalami muntah dan tidak mau buang air besar. Plan Diagnosis: 13 . Hernia Umbilikalis Irreponible Inkarserata. dan kurangnya gambaran udara di kolon. adanya air-fluid level pada posisi foto abdomen tegak. tidak nyeri. ileus obstruktif komplit antara lain: (1) adanya deferensial air-fluid level di usus halus. dan radiologi yang dilakukan pada pasien ditemukan keluhan mengalami penurunan kesadaran dengan GCS 9 disertai dengan muntah dan tidak mau buang air besar serta perut yang semakin mengembung diikuti dengan kondisi tampak massa pada bagian umbilikalis pasien dengan ukuran ± 10 cm x 8 cm x 7 cm. Berdasarkan uraian dia atas menunjukkan bahwa kondisi yang dialami oleh pasien adalah hambatan pada saluran pencernaan letak tinggi yang bersifat total sehingga terjadi gangguan penyerapan cairan serta makanan pada pasien. tidak terfiksir. tympani pada seluruh lapangan abdomen.

IVFD RL guyur 2 liter/menit/makro . IVFD RL guyur 2 kolf /makro . Zein Painan dengan alas an Spesialis Anestesi tidak ada di tempat. GCS pasien menjadi naik dengan E4 M5 V3 dengan GCS 12.Zein Painan. dan ditegakkan diagnosis kerja dengan Syok Hipovolemik dengan Ileus Obstruktif. Pengobatan : Di IGD pasien diberikan: . Observasi keadaan umum dan vital sign . Cek labor darah lengkap (Hb. Ranitidin inj. Pasang NGT terbuka untuk dekompresi . M. Ketika di ruangan dan dilakukan penangganan berdasarkan Advice di atas. Syok Hipovolemik dengan Ileus Obstruktif Total ec. Ranitidin inj. nafas 25x/menit. Urin harus di monitor dengan pemasangan Foley Kateter.Ceftriaxon 2 x 1 gr (iv). GDR) Pasien kemudian dikirim oleh IGD ke bangsal interne RSUD M. test alergi . Drip Ketorolac 1 amp. dan suhu tubuh 36. Pasang Kateter untuk balance cairan dan dekompresi . Khlorida dan Kalium yang membutuhkan penggantian cairan intravena dengan cairan salin isotonic seperti Ringer Laktat. Observasi keadaan umum dan vital sign . 2 x 1 amp (iv) . . Leukosit. kemudian dengan advice: . O2 3-5 liter . Hernia Umbilikalis Irreponible Inkarserata. Mengenai penatalaksnaan pasien dengan obstruksi intestinal biasanya mengalami dehidrasi dan kekurangan Natrium. Rujuk ke RSUP Dr. Ht.Ceftriaxon 2 x 1 gr (iv). Kemudian pasien segera dikonsulkan kepada dokter spesialis bedah di ruangan. Ketika di bangsal dilakukan pemeriksaan kembal kepada pasien dan didapatkan hasil berdasarkan pemeriksaan di atas. Trombosit. Inj. KCl harus ditambahkan pada 14 . O2 5 liter . test alergi . Inj. Setelah urin adekuat.8 ºC. Djamil Padang untuk segera dilakukan laparatomi cyto diiringi dengan perbaikan kondisi syok pasien dalam perjalanan. Peningkatan tekanan darah pasien menjadi 100/70 mmhg. Operasi tidak dapat dilakukan di RSUD M. nadi 92x/menit. 2 x 1 amp (iv) - .

cairan intravena bila diperlukan. pasien dengan obstruksi intestinal komplit membutuhkan terapi operatif. Pemeriksaan elektrolit serial. mengurangi resiko terjadinya aspirasi pulmonal karena muntah dan meminimalkan terjadinya distensi abdomen. Pada keadaan terminal dimana metastase telah menyebar. dengan alasan bahwa pemasangan tube intubasi yang lama tak akan menimbulkan masalah yang didukung oleh tidak adanya tanda- tanda demam. Pasien dengan obstruksi parsial dapat diterapi secara konservatif dengan resusitasi dan dekompresi saja. Dekompresi Pada pemberian resusitasi cairan intravena. Pasien dengan obstruksi intestinal sekunder karena adanya adhesi dapat diterapi dengan melepaskan adhesi tersebut. Penatalaksanaan pasien dengan obstruksi intestinal dan adanya riwayat keganasan akan lebih rumit. Penatalaksanaan secara hati-hati dalam pelepasan adhesi tersebut untuk mencegah terjadinya trauma pada serosa dan untuk menghindari enterotomi yang tidak perlu. nyeri tekan atau leukositosis. hal lain yang juga penting untuk dilakukan ialah pemasangan nasogastric tube. Sedangkan pasien dengan obstruksi total wajib dilakukan laparatomi untuk dilakukan mengatasi masalah sumbatan pada saluran pencernaan. Penyembuhan gejala tanpa terapi operatif dilaporkan sebesar 60 – 85% pada obstruksi parsial. Terapi Operatif Secara umum. by pass sederhana dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada by pass yang panjang dengan operasi yang rumit yang 15 . Hernia inkarserata dapat dilakukan secara manual dari segmen hernia dan dilakukan penutupan defek. Penelitian retrospektif melaporkan bahwa penundaan operasi 12 – 24 jam masih dalam batas aman namun meningkatkan resiko terjadinya strangulasi. Pada kasus ini. terapi non-operatif. Antibiotik spektrum luas diberikan untuk profilaksis atas dasar temuan adanya translokasi bakteri pada ostruksi intestinal. merupakan jalan yang terbaik. seperti halnya hematokrit dan leukosit. takikardia. Namun harus disadari bahwa terapi non operatif ini dilakukan dengan berbagai resikonya seperti resiko terjadinya strangulasi pada daerah obstruksi dan penundaan terapi pada strangulasi hingga setelah terjadinya injury akan menyebabkan intestinal menjadi ireversibel. bila berhasil. Pendekatan non – operatif pada beberapa pasien dengan obstruksi intestinal komplit telah diusulkan. walaupun hanya sebagian kecil kasus obstruksi komplit dapat berhasil diterapi dengan non-operatif. Pemasangan tube ini bertujuan untuk mengosongkan lambung. dilakukan untuk menilai kekurangan cairan.

Pada beberapa obstruksi ileus. Komplikasi dari ileus obstruksi dapat berupa nekrosis usus. misalnya pada tumor intralurninal. Meskipun tidak mengalami perforasi. salin moistened spongeselama 15-20 menit dan kemudian dilakukan penilaian kembali. Usus yang strangulasi mungkin mengalami perforasi yang mengakibatkan materi dalam usus keluar ke peritoneum dan mengakibatkan peritonitis. Kedepannya dapat digunakan Doppler atau kontras intraoperatif untuk menilai viabilitas usus. Koreksi sederhana (simple correction). jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan. berarti segmen usus tersebut aman untuk dikembalikan. dan kematian. Crohn disease. Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi. misalnya pada Ca sigmoid obstruktif. misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi. Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian usus yang tersumbat. Bila warna normalnya telah kembali dan didapatkan adanya peristaltik. Prognosis tergantung dari etiologinya. Bila viabilitas usus masih meragukan. misalnya pada Ca stadium lanjut. misalnya pada carcinomacolon. Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan. mungkin membutuhkan reseksi usus. segmen tersebut harus dilepaskan dan ditempatkan pada kondisi hangat. Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus. baik oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya. bakteri dapat melintasi usus yang permeabel dan masuk ke sirkulasi darah yang mengakibatkan syok septik. kemudian hari dilakukan reseksi usus dan anastomosis. 3. kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap. perforasi usus yang dapat menyebabkan peritonitis. Tindakan operatif by-pass. invaginasi strangulata dan sebagainya. Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus. terkadang susah untuk menilai viabilitas dari segmen usus setelah strangulasi dilepaskan. 4. 16 . dan sebagainya. syok septik. mula-mula dilakukan kolostomi saja. Angka mortalitas perioperatif pada pasien dengan ileus obstruksi non strangulata kurang dari 5% dan pada yang telah mengalami strangulata mencapai 25%. 2. Pada saat dilakukan eksplorasi. 1.

Pemahaman mengenai komplikasi yang akan terjadi kepada pasien juga akan membantu dokter dalam memahami bahaya dini dan lanjut yang muncul pada saat sedang melakukan penanganan kepada pasien di ruangan IGD. apabila penanganan yang diberikan kepada pasien dilakukan dengan tidak benar.Pemahaman ini akan membantu dokter untuk memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga dalam pelaksanaan pada rawat jalan dalam penyembuhan kondisi pasien. di ruangan operasi.Penanganan dapat dilakukan dengan memberikan tindakan pertolongan pertama dan pertolongan lanjut kepada pasien berdasarkan uraian di atas. komplikasi.Mengetahui kondisi penanganan dan komplikasi tersebut dapat membantu dokter untuk memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga dalam memberikan penjelasan mengenai bahaya yang terjadi secara dini dan lanjut kepada pasien. Konsultasi Konsultasi dilakukan dengan spesialis bedah untuk penatalaksanaan selanjutnya. . . edukasi terhadap penyakit ini. . Rujukan Pasien dirujuk untuk dilakukan penanganan segera serta pemeriksaan radiologis yang lebih bagus seperti Barium enema. dan MRI serta penanganan lebih lanjut.Pendidikan Pendidikan ditujukan untuk penanganan. . serta tempat rawatan nantinya. CT-Scan. 17 .