Konsensus Penatalaksanaan

Gangguan Skizofrenia

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia
2011

Konsensus Penatalaksanaan
Gangguan Skizofrenia

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia
2011

.

maka Seksi Skizofrenia PDSKJI sebagai bagian dari organisasi profesi kesehatan Jiwa. Salam.A. merasa perlu untuk menyusun konsensus yang merupakan kesepakatan para pakar dalam manajemen gangguan skizofrenia yang akan menjadi pedoman umum penatalaksanaan gangguan skizofrenia secara komprehensif. Kusumawardhani Ketua Seksi Skizofrenia PDSKJI Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia i . Perkembangan layanan kesehatan jiwa semakin hari semakin menantang.A. masih dimungkinkan ada revisi dalam berjalannya waktu. Konsensus ini dibuat melalui tahapan penelusuran kepustakaan. A. Kami sadari dengan perkembangan ilmu yang demikian cepat. kiranya perlu diperhatikan standar layanan yang lebih merata dan memiliki kualitas yang sama. jajak pendapat para praktisi di lapangan dan diskusi yang panjang dari para pakar di bidang Skizofrenia. Harapan kami mudah-mudahan hasil konsensus ini dapat menjadi panduan yang dirujuk saat membuat standar layanan di tempat tugas sejawat masing-masing.A. Harapan penderita dan keluarga menjadi hal yang patut kita perhatikan.Sambutan Ketua Seksi Skizofrenia Sambutan Ketua Seksi Skizofrenia Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Sejawat yang saya hormati. Untuk mengatasi tantangan tersebut. Dengan melihat perkembangan dan penyebaran tenaga kesehatan jiwa di wilayah Indonesia yang begitu luas.

ii Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia .

propinsi. konsensus ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup orang dengan skizofrenia dalam proses pemulihannya. Wassalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Konsensus ini diharapkan akan terus mengalami pembaharuan dan semakin mampu menjawab kebutuhan secara luas. Selamat berkembang dan terus bermanfaat bagi semua. pengambil kebijakan di tingkat pusat. konsensus ini akan secara inklusif menjadi panduan bagi berbagai tingkat layanan. Semoga konsensus ini juga dapat menjadi dasar dan motivasi pengembangan konsensus- konsensus lainnya di bidang psikiatri. Sebuah organisasi profesi diharapkan mampu memberikan media yang terbaik untuk para anggotanya untuk meningkatkan kapasitas dan memberikan layanan terbaik. Tun K. Puji Syukur kehadirat Allah SWT. Oleh karenanya organisasi perlu untuk menyediakan sarana pengembangan diri dengan sistem penunjang yang baik dan berkembang secara terus menerus. karena konsensus dapat berperan sebagai panduan dalam melakukan tatalaksana baik dimulai dari penegakkan diagnosis sampai perencanaan tatalaksana dengan terapi biologi maupun intervensi psikososial. dan pemangku kepentingan lainnya seperti para akademisi. Salah satu media untuk pengembangan tersebut adalah melalui konsensus penatalaksanaan semacam ini. karena atas perkenanan-Nya-lah maka Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia ini dapat mencapai purnanya. maupun kabupaten/kota serta konsumen. Sambutan Ketua Umum Sambutan Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Pada akhirnya. Selamat saya ucapkan kepada Tim Penyusun dan seluruh anggota Seksi Skizofrenia PDSKJI yang telah berupaya sungguh untuk menghasilkan sebuah kesepakatan bersama tentang tatalaksana ini. bermacam-macam profesi tenaga kesehatan baik psikiater maupun non psikiater. Bastaman Ketua Umum PP PDSKJI Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia iii . Artinya.

iv Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia .

Oleh sebab itu kami merasa perlu untuk menyusun kesepakatan ilmiah dalam penatalaksanaan gangguan skizofrenia yang merujuk pada sumber keilmuan mutakhir dan sesuai untuk diterapkan di Indonesia . 1 Juli 2011. Kami ucapkan terima kasih kepada PT AstraZeneca Indonesia yang telah mendukung seluruh rangkaian kegiatan sehingga terwujudnya buku Konsensus ini. Jakarta.Pengantar Pengantar Gangguan skizofrenia merupakan masalah kesehatan yang kompleks dan membutuhan perhatian khusus. Melalui proses diskusi ilmiah dan kerjasama yang efektif maka dalam waktu relatif singkat kami telah berhasil menyelesaikan buku konsensus penatalaksanaan skizofrenia yang kami harapkan dapat menjadi bahan acuan bagi profesional kesehatan jiwa dalam memberikan tatalaksana pada orang dengan skizofrenia. Suryo Dharmono Ketua Tim Penyusunan Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia v . Selamat menggunakan buku panduan ini. Oleh sebab itu komentar dan masukan terhadap isi buku sangat kami harapkan. Selanjutnya kami merencanakan untuk melakukan penyempurnaan secara berkala sesuai dengan perkembangan ilmu dan terapan praktis di lapangan. semoga bermanfaat.

vi Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia .

..................................................................................... iii Pengantar ....... 79 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia vii ......... Pendahuluan .......................................................................... 61 Daftar Rujukan ............................................................................. iv Daftar Isi .......... v Bab I................................................................................. 1 Bab II.......................................... i Sambutan Ketua PP PDSKJI ..................................................................................... Daftar Isi DAFTAR ISI Sambutan Ketua Seksi Skizofrenia PDSKJI ................................................................ Instrumen-instrumen Pengukuran ............................... Terapi Biologik ......... 73 Lampiran B.................... Intervensi Psikososial .................................. 13 Bab IV........................... Glosari .............. 69 Lampiran A.............................................................................................................................................................................. Diagnosis dan Penilaian ................................................................. 7 Bab III..........................

viii Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia .

Pedoman ini menyediakan tuntunan akan praktik terbaik.03% di antaranya menunjukkan gejala positif untuk gangguan psikotik. gangguan Skizofrenia merupakan kelompok gangguan terbanyak yang ditemukan di masyarakat. Untuk itu klinisi perlu untuk tetap mengikuti perkembangan terkini riset ilmiah dan menggabungkan pengetahuan ilmiah ini dengan pengalaman klinis dan situasi tiap individu pasien dan preferensinya.. Deteksi dini dan penegakan diagnosis skizofrenia terutama dengan gejala positif sebenarnya mudah untuk dilakukan. suatu kerangka kerja yang di dalamnya keputusan klinik dibuat. Gangguan skizofrenia merupakan penyakit kronis.. 2. Pilihan ini tentunya harus diupayakan untuk semakin rasional dengan tetap menempatkan kepentingan pasien di posisi yang utama. 2000) Suatu konsensus manajemen penyakit atau pedoman praktik klinis (clinical practice guideline) membahas rencana perawatan. untuk populasi penduduk usia >15 tahun. (Sackett D et al.Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kelompok gangguan psikotik menempati angka 1% dari populasi penduduk di Indonesia dan di dunia. Dari kelompok gangguan tersebut. bahkan untuk beberapa provinsi di Indonesia data Riskesdas tahun 2007 menunjukkan angka yang jauh lebih besar. gangguan skizofrenia jelas mengakibatkan disabilitas yang sering kali ireversibel dan menimbulkan beban yang berat baik bagi individu tersebut maupun untuk keluarganya. kambuhan. sehingga kita akan lebih memahami bahwa angka yang sesungguhnya untuk gangguan psikotik sebenarnya lebih tinggi. 2008) Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 1 . Perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat membawa dampak positif bagi perkembangan strategi terapi yang ada dengan dimungkinkannya pilihan yang semakin bervariasi dan semakin baik dari waktu ke waktu. menyediakan pedoman untuk praktik yang direkomendasikan dan menggambarkan luaran yang mungkin terjadi. (Turner T et al. Dengan kata lain. dan menyebabkan penurunan fungsi yang semakin lama semakin berat terutama bila tidak mendapatkan manajemen yang adekuat. Namun sayang cakupan kasus masih rendah belum mencapai 30% dari total kasus yang seharusnya ada. Kasus yang ditemukan pun bila ditinjau dari kualitas manajemennya sangat bervariasi dan belum tentu benar-benar menjawab kebutuhan orang dengan gangguan skizofrenia. (Badan Litbangkes Depkes RI. dan digunakan sebagai tolok ukur untuk evaluasi praktik klinik. Hal ini yang disebut dengan praktik berbasis bukti (ilmiah). 2008) Di Jakarta misalnya.

membantu pengguna jasa pelayanaan kesehatan dan pelaku rawat dalam membuat keputusan berdasarkan informasi tentang pengobatan dan perawatan. Fase penilaian kebutuhan (need assessment): Pada fase ini. merasa penting untuk menyusun konsensus penatalaksanaan gangguan skizofrenia sebagai acuan untuk manajemen yang lebih berkualitas. Penggunaan pedoman dibatasi oleh berbagai faktor: ketersediaan bukti riset yang berkualitas. pemerintahan). sebagai dasar pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. serta membantu dalam menentukan prioritas penelitian ke depan. hal-hal yang membantu maupun menghambat proses manajemen. memperbaiki komunikasi antara profesional kesehatan. Pedoman klinis dapat membantu dalam hal: menyediakan rekomendasi yang berbasis bukti serta terkini dalam hal menejemen kondisi dan gangguan oleh tenaga kesehatan. 1998). Pedoman Manajemen Pedoman manajemen klinis adalah “kumpulan pernyataan yang secara sistematis dikembangkan untuk membantu klinisi dan pasien dalam membuat keputusan tentang pengobatan apa yang tepat untuk kondisi tertentu” (Departemen Kesehatan UK. Pedoman klinis tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengetahuan profesional dan pertimbangan klinis. kebutuhan untuk mengatasi 2 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . penggunaan metode dalam penyusunan pedoman tersebut. institusi pendidikan. Penilaian kebutuhan meliputi jenis gangguan yang paling sering dihadapi. Tujuan 1. dan keunikan tiap individu pasien. pengguna jasa layanan dan pelaku rawat. pola manajemen yang selama ini dijalankan. kemampuan hasil penelitian untuk digeneralisir. digunakan sebagai dasar untuk menetapkan standar untuk penilaian praktik profesional kesehatan. jumlah kasus. Menerbitkan konsensus sebagai panduan terapi bagi anggota profesi khususnya dan para pemangku kepentingan lainnya Aktivitas Kegiatan-kegiatan yang telah diselenggarakan untuk mempersiapkan konsensus tersebut terbagi dalam 5 fase kegiatan: a. maka Seksi Skizofrenia PDSKJI sebagai bagian dari organisasi profesi psikiater. Menyusun konsensus manajemen terapi yang komprehensif dan mampu laksana pada gangguan skizofrenia di Indonesia 2. Pendahuluan Berangkat dari situasi inilah. Tim Inti Penyusunan menyebarkan kuesioner penilaian kebutuhan kepada para psikiater yang bekerja di berbagai institusi (layanan.

rekomendasi untuk perbaikan pola manajemen. e. Fase penulisan draft konsensus Tim Penilaian Kebutuhan bertemu dengan tim literatur untuk melakukan konsolidasi dan memulai penulisan draft konsensus. Tim Inti akan mempresentasikan hasil konsensus yang telah disusun pada PIDT 2011 di Bandung sekaligus pembagian buku konsensus bagi peserta yang mengikuti simposium. Fase monitoring dan evaluasi Fase ini akan berlangsung selama 1 tahun pasca launching untuk mendapatkan input dari berbagai pemangku kepentingan yang dapat dipergunakan untuk penyempurnaan selanjutnya. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 3 . d. b. Hasil penulisan draft tersebut didistribusikan ke Tim Pengkaji (reviewer) untuk mendapatkan masukan yang lebih baik dan komprehensif sebagai draft final. Fase penelusuran literatur Pada fase ini Tim Inti melakukan studi terhadap berbagai literatur dari dalam maupun luar negeri termasuk kebijakan seperti INA-DRG. Data diolah dan dianalisis sebagai masukan bagi konsensus. Fase pre-launching dan launching Draft final disosialisasikan pada perwakilan PDSKJI cabang untuk dapat dipergunakan secara luas melalui pertemuan pre-launching sebelum pada akhirnya di fase launching.Pendahuluan hambatan dan tantangan. c.

Dr.KJ Tim Pengkaji Koordinator : DR.KJ(K). Siti Khalimah. Dr. Margarita Maramis. Sp. Handoko Daeng. Prof.KJ 8. Sp. Sp. 4 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Robert Reverger.KJ 10.KJ 9. Dr. Dr.A. G. Sp.KJ(K) Sekretaris : Dr. AJ Tanra. Dr.KJ(K) 7. Suparno. Sp. I. Albert Maramis.A. Dr. Rihadini. Dr. Sp. Ketua Seksi Skizofrenia PDSKJI Ketua : Dr. D. Dr.KJ(K) Anggota : 1. Sp. Sp. Prof. Sp. Sp.KJ 2. Lely Setiawati. Tuti Wahmurti. Hervita Diatri. Sp. DR.KJ 5. dr. Dr.KJ 3. A. Sp.KJ(K) 12. Nurmiati Amir. Sp. Pendahuluan Organisasi Tim Penyusunan Ketua Pengarah : dr.KJ(K) Sasaran Petugas kesehatan. Amin.KJ(K) 4. Dr. baik psikiater maupun non-psikiater.KJ Bendahara : Ervina Tim Penilaian Kebutuhan Koordinator : Dr. Dr.D. DR. Ph. Sp. Sp. Sp.KJ 11. Sp. Alifiati Fitrikasari Sutomo.KJ 6. Sp. Suryo Dharmono. Dr. Basudewa. Agung Kusumawardhani. Mustafa M. Kristiana Siste.KJ(K) Tim Literatur Koordinator : Dr.

Pendahuluan URAIAN UMUM PENATALAKSANAAN SKIZOFRENIA Diagnosis dan Penilian Menyusun Perencanaan Tatalaksana Tatalaksana di Fase Akut Manajemen Farmakologi dan Intervensi Psikiatrik Psikososial dan Penilaian Modifikasi dan Penyesuaian yang terhadap timbulnya respon yang Berkelanjutan inadekuat Tatalaksana di Fase Stabilisasi Farmakologi. American Psychiatric Association. Intervensi Psikososial. dan Psikoterapi Tatalaksana di Fase Stabil Farmakologi. Intervensi Psikososial. Gambar 1. dan Komunikasi Sumber: Treating Schizophrenia: A Quick Reference Guide for Psychiatrist. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 5 . Skema umum penatalaksanaan kasus skizofrenia. 2004.

Pendahuluan CATATAN : 6 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia .

dan medikasi fungsi jantung Konsultasi dengan dokter. Bagan prosedur umum diagnosis kasus skizofrenia. 2004 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 7 . Sumber: Treating Schizophrenia: A Quick Reference Guide for Psychiatrist.Diagnosis dan Penilaian BAB II DIAGNOSIS DAN PENILAIAN Diagnosis Skizofrenia Kriteria Diagnosis PPDGJ III Status Klinis Risiko keberbahayaan terhadap diri dan atau orang lain Akses terhadap kemungkinan bunuh diri atau pembunuhan adanya halusinasi yang bersifat menyuruh Gangguan jiwa lainnya Gangguan Penyalahgunaan Alkohol dan Zat Psikoaktif Lainnya Komorbiditas dengan Gangguan Medik Saat ini dan Riwayat Penyakit Dahulu Kondisi. jika dibutuhkan Riwayat Psikiatrik Sebelumnya Episode terakhir Keberbahayaan terhadap diri atau orang lain Respons tatalaksana sebelumnya Riwayat penyalahgunaan zat psikoaktif Riwayat Psikososial Riwayat Keluarga Gambar 2. tatalaksana. American Psychiatric Association.

disertai perilaku disorganisasi (seperti menyeringai dan mannesrisme) Predominan gejala stupor katatonik atau mutisme. kegembiraan katatonik Mempunyai halusinasi. proses pikir asosiasi Gangguan Skizofrenia Hebefrenik longgar hingga inkoherensi. atau pikiran tak logis) Menderita skizofrenia selama 12 bulan terakhir. Skema langkah-langkah diagnosis skizofrenia berdasarkan PPDGJ III/ICD-10 8 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . atau tak serasi. waham. postur katatonik (Flexibilitas cerea). asosiasi melonggar. Gangguan Skizofrenia Katatonik rigiditas katatonik. perilaku eksksentrik. autisme Gangguan Skizofrenia Paranoid Predominan gejala waham dan halusinasi Predominan gejala afek tumpul. beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada. Diagnosis dan Penilaian ALUR DIAGNOSIS GANGGUAN SKIZOFRENIA Gangguan dalam penilaian realita mengakibatkan gangguan fungsi dan penderitaan Adanya kondisi medis umum yang secara fisiologis dapat mempengaruhi susunan saraf pusat: • Penyakit herediter/kongenital Gangguan Mental Organik: • Penyakit infeksi Delirium • Penyakit akibat trauma Demensia • Penyakit akibat gangguan vaskuler Gangguan Psikotik Organik • Penyakit degenerative dan autoimun • Penyakit akibat gangguan metabolik-endokrin • Penyakit akibat keganasan Adanya riwayat penyalahgunaan alkohol dan zat psikoaktif: • Alkohol Gangguan Mental Akibat • Amfetamin Penyalahgunaan Alkohol dan Zat • Kanabis/mariyuana Psikoaktif • Halusinogen • Inhalan • Berlangsung paling sedikit 1 (satu) bulan • Disertai dengan tilikan yang buruk Gangguan Skizofrenia • Tidak ditemukan gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif. dan gejala-gejala psikotik aktif yang Gangguan Skizofrenia Tak Terinci menonjol sehingga tidak dapat digolongkan secara spesifik Dalam keadaan remisi dari keadaan akut tetapi masih memperlihatkan Gangguan Skizofrenia Residual gejala-gejala residual (penarikan diri secara sosial. afek datar. gangguan mood mayor. tidak serasi. waham tak sistematis. negativistic katatonik. memenuhi sedikitnya kriteria untuk suatu episodee depresif dan telah ada paling sedikit 2 minggu Gangguan Skizofrenia Simpleks Lain-lain dari yang telah disebutkan di atas Gangguan Skizofreniform YTT Gambar 3. gejala-gejala depresif menonjol dan Gangguan Depresi Pasca Skizofrenia mengganggu.

waham penyisipan pikiran. Semakin akut skizofrenia. waham nihilistik. erotomania. Ekolalia 10. anhedonia. Gangguan Pikiran: a. Rincian Gejala Gejala psikotik ditandai oleh abnormalitas dalam bentuk dan isi pikiran. Inkoherensi 3. motivasi. semakin sering ditemui waham disorganisasi atau waham tidak sistematis seperti waham kejar. Konkretisasi 11. Gejala positif meliputi waham. Pada kelompok dengan predominan gejala negatif akan tampak gejala-gejala seperti alogia. Gangguan isi pikir Gejala-gejala yang termasuk dalam gangguan isi pikir pada skizofrenia adalah adanya waham. Tampil dalam bentuk kemiskinan pembicaraan. dan kemiskinan psikomotor.Diagnosis dan Penilaian Terminologi Gangguan skizofrenia adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya distorsi realita. miskin ide. waham cemburu. Gejala negatif merefleksikan tidak adanya fungsi yang pada kebanyakan orang ada. disorganisasi. Alogia a. Mutisme 8. waham rujukan. dan gangguan pikiran formal. halusinasi. persepsi. Asosiasi longgar 2. waham kebesaran. Tangensial 4.2.1. waham dikendalikan. Gejala pada skizofrenia sering kali dikenal sebagai gejala positif dan gejala negatif. dan berkurangnya atensi. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 9 . Neologisme 6. kurangnya inisiatif atau motivasi. waham penyiaran pikiran. Gangguan proses pikir Gejala-gejala yang menunjukkan adanya gangguan proses pikir di antaranya: 1. serta aktivitas motorik. penarikan diri secara sosial. penumpulan dan pendataran afek. neurokognitif. Stereotipik verbal 5. Berikut adalah gejala-gejala yang dapat diamati pada skizofrenia: a. Terhambat (Blocking) 7. waham somatic. Asosiasi bunyi (clang association) 9. emosi.

Negativisme 13. Afek tak serasi 3. Sangat ketolol-tololan 6. Gangguan Emosi Ada tiga afek dasar yang sering: 1. Ekhopraxia e. Gangguan penampilan dan perilaku umum Tidak ada penampilan atau perilaku yang khas untuk skizofrenia. Gangguan persepsi Gangguan persepsi ditandai dengan gejala: 1. Perilaku ritual 5. Katalepsi 11. kehilangan kehendak 2. Diagnosis dan Penilaian b. Afek labil 4. Beberapa bahkan dapat tampil dan berperilaku sama dengan kebanyakan orang. Menarik diri secara sosial 3. Ilusi dan depersonalisasi c. Automatisme komando 14. Penelantaran penampilan 2. Gejala katatonik (stupor atau gaduh gelisah) 9. Agresif 7. Gerakan tubuh yang aneh dan wajah yang menyeringai 4. Stereotipi dan mannerism 12. tidak berkegiatan 10 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Gangguan motivasi Aktivitas yang disadari sering kali menurun atau hilang pada orang dengan skizofrenia. Afek tumpul atau datar 2. Gejala-gejala yang mungkin ditemui dalam kelompok gangguan perilaku di antaranya: 1. disorganisasi 3. Kedangkalan respons emosi sampai anhedonia d. Fleksibilitas serea 10. Echolalia 15. Halusinasi 2. Gejala-gejala gangguan motivasi di antaranya: 1. Perilaku seksual yang tidak pantas 8.

menurunnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah 3. dan thought broadcasting b. Thought echo. Gangguan perkembangan pervasif g. perbuatan atau perasaan (sensasi) khusus. Penyalahgunaan alkohol dan zat psikoaktif c. Gangguan kondisi medis umum misalnya epilepsi lobus temporalis. waham dipengaruhi (delusion of influence) atau waham pasivitas (delusion of passivity) yang jelas merujuk pada gerakan tubuh atau gerakan extremitas. Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien atau mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri. fungsi eksekutif Diagnosis Banding Diagnosis-diagnosis yang juga memiliki gejala psikosis aktif di antaranya: (dapat dilihat pada alur diagnosis) a. atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 11 . defisit dalam atensi dan performa 2. Gejala-gejala yang menyertai: 1. Gangguan kepribadian skizoid i. Gangguan kepribadian paranoid Kriteria Diagnosis Skizofrenia menurut PPDGJ III (ICD-10 Chapter V) Persyaratan normal untuk diagnosis skizofrenia adalah: dari gejala-gejala di bawah ini harus ada paling sedikit satu gejala yang sangat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih apabila gejala-gejala itu kurang jelas) dari salah satu kelompok (a) sampai 9d) atau paling sedikit dua dari kelompok (e) sampai (h). Gangguan afektif berat e. thought insertion.Diagnosis dan Penilaian f. yang harus selalu ada secara jelas pada sebagian besar waktu selama satu bulan atau lebih a. gangguan dalam memori 9termasuk spasial dan verbal). Gangguan neurokognitif Defisit neurokognitif atau intelektual merupakan gambaran inti dari gangguan Skizofrenia. Gangguan kepribadian skizotipal h. serta 4. Gangguan waham f. atau pikiran. Waham dikendalikan (delusion of control). stadium awal sklerosis multipel dan sindrom lupus eritematosus b. Gangguan skizoafektif d. delusional perception c. atau thought withdrawal. tumor lobus temporalis atau frontalis.

atau pun oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap. Apabila gejala-gejala berlanjut lebih dari satu bulan dapat dilakukan klasifikasi ulang. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement). bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptik. Brief Psychiatry Rating Scale (BPRS) f. atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain) e. negativisms. atau kekuatan dan kemampuan “makhluk super” (misalnya mampu mengendalikan cuaca. Menggunakan alat diagnosis – PPDGJ III/ICD-10 b. tidak bertujuan. Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS) g. bermanifestasi sebagai hilangnya minat. Suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku perorangan. Clinical Global impression (CGI) 12 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Waham-waham menetap jenis lain yang menurut budayanya dianggap tidak wajar serta sama sekali mustahil. Halusinasi yang menetap dalam setiap modalitas. seperti misalnya mengenai identitas keagamaan atau politik. pembicaraan yang terhenti. Gejala-gejala negative seperti bersikap masa bodoh (apatis). tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptik. dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar. atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus f. MINI-ICD-10 c. biasanya mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunkan kinerja sosial. apabila disertai baik oleh waham yang mengambang/melayang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas. Apabila didapati kondisi yang memenuhi kriteria gejala di atas tetapi baru dialami kurang dari satu bulan. sikap malas. i.2). sikap tubuh tertentu (posturing). Personal and Social Performance Scale (PSP) e. maka harus dibuat diagnosis Gangguan Psikotik Lir Skizofrenia Akut (F23. sikap berdiam diri (self absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial. atau fleksibilitas serea (waxy flexibility). mutisme. Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan (interpolasi) yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme g. Calgary Depression Scale for Schizophrenia (CDSS) d. dan stupor h. Instrumen-instrumen yang dapat dipergunakan untuk melakukan penilaian pada gangguan skizofrenia a. Diagnosis dan Penilaian d.

Target terapi pada fase ini adalah untuk mencegah kekambuhan dan memperbaiki derajat fungsi. dan akatisia. misalnya distonia. Di samping kelebihannya. Dosis obat pada fase stabilisasi sama dengan pada fase akut. Pada agitasi terlihat adanya ansietas yang disertai dengan kegelisahan motorik. peningkatan aktivitas verbal atau motorik yang tidak bertujuan. peningkatan respon terhadap stimulus internal atau eksternal. fokus terapi adalah konsolidasi pencapaian terapetik. diabetes dan gangguan kardiovaskuler. Gejalanya dapat terlihat pada episode pertama atau ketika terjadinya kekambuhan skizofrenia. APG-II mempunyai keterbatasan yaitu risiko efek samping penambahan berat badan. Selama fase stabilisasi. Orang dengan skizofrenia (ODS) lebih nyaman dengan APG-II karena kurangnya efek samping ekstrapiramidal. Risiko kekambuhan sangat tinggi pada fase ini terutama bila obat dihentikan atau ODS terpapar dengan stresor. secara tiba-tiba ODS melempar makanan ke lantai. ledakan kemarahan. ODS memasuki fase stabilisasi. Agitasi juga bermanifestasi sebagai iritabilitas. Fase akut ditandai dengan gejala psikotik yang membutuhkan penatalaksanaan segera. sikap atau ancaman secara verbal. Selain itu. (Marder SR and Kane JM. stabilisasi dan stabil atau rumatan. Misalnya.Terapi Biologik BAB III TERAPI BIOLOGIK Terapi biologik skizofrenia mengalami kemajuan pesat terutama setelah ditemukan obat antipsikotika generasi kedua (APG-II). sensitivitas sosialnya menurun dan impulsivitasnya meningkat. Terapi somatik pada skizofrenia meliputi tiga fase yaitu fase akut. parkinsonisme. 2005) FASE AKUT SKIZOFRENIA Agitasi merupakan gejala yang paling sering ditemui pada fase akut skizofrenia. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 13 . Fase ini berlangsung paling sedikit enam bulan setelah pulihnyai gejala akut. dan penyerangan fisik. Manfaatnya lebih terasa pada penggunaan jangka panjang karena jarangnya terjadi tardive diskinesia. Fase akut biasanya berlangsung selama 4-8 minggu. destruktif. Fokus terapi pada fase akut yaitu untuk menghilangkan gejala psikotik. Setelah fase akut terkontrol. tidak kooperatif. Luaran (outcome) jangka panjangnya lebih baik sehingga ia dapat memfasilitasi keberhasilan terapi psikososial dan rehabilitasi. Fase selanjutnya adalah fase stabil atau rumatan. Penyakit pada fase ini dalam keadaan remisi. Obat APG-II mempunyai kelebihan dan keterbasan.

sering ODS tidak mampu memberikan riwayat penyakit yang akurat pada pemeriksaan pertama sehingga diperlukan data dari keluarga. petugas medik atau ODS lainnya. Selain itu. keluarga atau orang lain. kepribadian antisosial. (Moran P et al.. Terapi yang tepat dengan awitan kerja yang cepat sangat diperlukan untuk mencegah atau mengurangi penderitan ODS. Secara subjektif. dan gangguan neurologi serta riwayat kekerasan sebelumnya. (Morh P et al. intervensi cepat sangat diperlukan untuk mencegah ODS melukai dirinya. agitasi merupakan gejala yang sangat menakutkan karena sering meningkat menjadi perilaku atau tindakan kekerasan (violence) dan destruktif. 2003) Pemeriksaan Pada Fase Akut Pemeriksaan awal. Terapi Biologik Tindakan impulsivitas yang serius dapat berupa melukai orang lain atau bunuh diri... sebaiknya dihindari menggunakan terapi yang menyebabkan sedasi berlebihan karena dapat mengganggu penegakan diagnosis dan dapat pula mengganggu hubungan dokter-ODS. Mengidentifikasi faktor risiko terkait perilaku agresif dan menilai perilaku yang membahayakan adalah hal yang penting pada fase akut. pemeriksaan fisik dan status mental. Ide-ide kejaran dan/atau halusinasi perintah dikaitkan dengan agresivitas. Misalnya. Kadang- kadang pemeriksaan yang adekuat tidak mungkin dilakukan pada saat pertemuan pertama dengan ODS karena ODS dalam keadaan gaduh gelisah. agitasi dapat disebabkan oleh kondisi medik umum atau gangguan sistem saraf pusat (SSP). Dalam keadaan darurat atau adanya risiko keselamatan ODS. Risiko terjadinya perilaku agresif meningkat bila ia berkomorbiditas dengan penyalahgunaan alkohol atau zat. 2003) Agitasi akut dapat dipresipitasi oleh berbagai faktor. Selama periode agitasi. hendaklah dilakukan pada setiap ODS. Hal ini hendaklah menjadi salah satu pertimbangan dalam pemilihan terapi. Oleh karena itu. 2005) Pada fase akut skizofrenia. perilaku agresif juga sering terlihat. tidak mempunyai pekerjaan. Yang sering menjadi korban kekerasan adalah keluarga. Selain itu. baik psikiatrik maupun nonpsikiatrik. Untuk menentukan adanya gangguan organik. Tindakan ini dapat disebabkan oleh adanya waham atau halusinasi yang berbentuk perintah yang menyuruh ODS melakukan tindakan tersebut. Adanya riwayat tindakan kekerasan sebelumnya atau perilaku yang berbahaya selama di rumah sakit. ODS terlihat susah tidur. misalnya riwayat lengkap tentang kondisi medik umum dan psikiatrik. (Yildiz A et al. Agresif merupakan sikap melawan secara verbal atau kekerasan fisik yang ditujukan kepada benda atau orang lain. 14 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . gejala-gejala berfluktuasi dengan cepat. ODS sangat menderita akibat gejala-gejala yang ada. Tindakan kekerasan yaitu agresi fisik oleh seseorang yang ditujukan kepada orang lain. Oleh karena itu. halusinasi dan waham dapat memprediksi tindakan kekerasan. derajat kesadaran ODS merupakan tanda utama. berbicara dengan keluarga sangat diperlukan meskipun ODS tidak mengizinkan.

Bila ada dugaan ke arah tersebut. dan adanya stresor kehidupan. misalnya CT-scan dan MRI dapat pula memberikan informasi. Meskipun demikian. Putus alkohol atau beberapa zat lainnya dapat memperburuk gejala psikotik. harus pula dinilai. penentuan status HIV dan hepatitis C. misalnya denyut nadi. Apabila kekambuhan diduga akibat ketidakpatuhan. CT-scan atau MRI tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis skizofrenia.Terapi Biologik Beberapa faktor yang sering berkontribusi dalam terjadinya kekambuhan adalah ketidakpatuhan terhadap obat antipsikotika. tekanan darah. Kadang-kadang. Adanya potensi bunuh diri dan halusinasi berbentuk perintah. penilaian kadar obat dalam darah mungkin diperlukan. dapat pula dilakukan. dan pengulangan pengambilan resep. glukosa. Pertanyaan mengenai adanya ide-ide bunuh diri. radiologi dan laboratorium. Perlu disadari bahwa beberapa obat yang disalahgunakan. Perhatian terhadap interaksi obat yang dapat memengaruhi kadar obat dalam darah atau meningkatkan toksisitas sehingga menimbulkan ketidakpatuhan. Pemeriksaan urin. Kemungkinan adanya putus zat dapat dievaluasi dengan mengetahui riwayat medik dan memantau tanda-tanda vital pada semua ODS yang mengalami eksaserbasi akut. fungsi hati. Ketidakpatuhan terhadap obat antipsikotika dapat dinilai berdasarkan laporan ODS. alasan ketidakpatuhan terhadap pengobatan tersebut harus dievaluasi dan dibuat perencanaan untuk mengatasinya. Untuk beberapa obat. bila ada indikasi. menghitung pil. trigliserida. kolesterol. pemeriksaan darah dapat dilakukan. Pemeriksaan laboratorium lainnya. ginjal dan tiroid. tindakan bunuh diri sebelumnya dapat memprediksi tindakan bunuh diri selanjutnya pada penderita dengan Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 15 . frekuensi nafas. penggunaan MRI lebih bisa diandalkan daripada CT-scan. pengukuran elektrolit darah. Hasil CT-scan atau MRI yang menunjukkan pelebaran ventrikel dan berkurangnya volume korteks dapat meningkatkan kepercayaan terhadap diagnosis dan memberikan informasi yang relevan tentang rencana pengobatan dan prognosis. terutama dalam menilai ODS dengan awitan baru atau dengan bentuk klinik yang atipik. Penyalahgunaan zat harus dievaluasi secara rutin. meskipun ODS makan obat secara teratur. penyalahgunaan zat. Penilaian adanya komorbiditas dengan kondisi medik umum sangat perlu karena akan memengaruhi pemilihan obat untuk ODS. pemeriksaan neurologi. Pemeriksaan pencitraan otak. pada skizofrenia. untuk melihat adanya penyalahgunaan zat. kadang-kadang bentuknya sangat ringan. Bila diduga ada indikasi. kekambuhan dapat pula terjadi karena perjalanan penyakit skizofrenia itu sendiri. misalnya halusinogen tidak terditeksi di dalam urin. Karena neuropatologi. Pemeriksaan berat badan dan tanda-tanda vital. anggota keluarga atau pengasuh lainnya. misalnya pemeriksaan darah tepi. mood depresi. perlu dilakukan. harus pula dilaksanakan. fisik. perlu diperhatikan. dan temperatur harus pula dilakukan. Kondisi medik yang juga berkontribusi dalam terjadinya kekambuhan dievaluasi dengan menanyakan riwayat medik.

. Sebanyak 83% mencapai remisi stabil setelah satu tahun. Oleh karena itu. Setelah mendapat obat. (Lehman AF et al. Mempertahankan kepatuhan terhadap pengobatan merupakan salah satu usaha mencegah kekambuhan. dosis obat yang dibutuhkan sering lebih rendah. Karena perilaku sebelumnya dapat memprediksi perilaku selanjutnya. Meskipun responnya baik. Adanya penyalahgunaan zat dapat meningkatkan risiko kekerasan. Langkah selanjutnya yaitu keputusan untuk memulai pemberian obat oral. mengurangi beratnya gejala psikotik dan gejala terkait lainnya. gangguan penyalahgunaan zat. Pengikatan tersebut hanya boleh untuk sementara yaitu sekitar dua-empat jam dan ini digunakan untuk memulai pengobatan. Gangguan kepribadian ini dapat pula berkomorbiditas dengan skizofrenia. efek samping ekstrapiramidal (akatisia). Sebagian besar ODS dengan episode pertama memberikan respon yang baik terhadap pengobatan. Oleh karena itu. 2004) Tatalaksana Psikiatrik Pada Fase Akut Tujuan terapi pada fase akut adalah mencegah ODS melukai dirinya atau orang lain. misalnya gangguan skizofreniform. misalnya agitasi. Gejala-gejala tersebut dapat menyerupai berbagai gangguan. anggota keluarga sering dapat membantu memberikan keterangan adanya risiko ODS melukai dirinya atau orang lain. kemungkinan ODS melukai orang lain. Episode Pertama Tanda-tanda atau gejala-gejala harus diobservasi dengan cermat dan didokumentasikan karena episode pertama sering memiliki gejala yang polimorfik. atau bentuk kekerasan lainnya. agresi. cacatan kriminal sebelumnya. biasanya ODS akan lebih tenang. atau gangguan skizoafektif. ODS lebih rentan terhadap efek samping. gangguan bipolar. Adanya gangguan kepribadian ini dapat meningkatkan tindakan kekerasan. mengendalikan perilaku yang merusak. edukasi dan dukungan perlu diberikan kepada ODS dan anggota keluarganya. Terapi Biologik skizofrenia. perlu pula diketahui. Sekitar 70% ODS dengan episode pertama mencapai remisi gejala atau tanda-tanda psikotik dalam tiga hingga empat bulan pengobatan. Mengurangi risiko kekambuhan pada ODS yang telah mengalami remisi sangat perlu. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah berbicara kepada ODS dan memberinya ketenangan. Pengikatan atau penempatan ODS di ruang isolasi (seklusi) mungkin diperlukan dan hanya dilakukan bila ODS berbahaya terhadap dirinya dan orang lain serta bila usaha restriksi lainnya tidak berhasil. Faktor risiko bunuh diri lainnya. 16 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Gangguan kepribadian antisosial atau ciri-ciri kepribadian antisosial perlu pula dievaluasi. Selain itu. perlu dilakukan. riwayat tindakan kekerasan. dan gaduh gelisah. ketidakberdayaan. dan isi wahamnya perlu segera diketahui pada penderita skizofrenia yang bekomorbiditas dengan gangguan kepribadian antisosial. misalnya ansietas. Evaluasi mengenai perilaku berbahaya atau agresif.

Kedua penelitian ini tidak memperlihatkan adanya perbedaan efektivitas antara penggunaan dosis tinggi dengan dosis terapetik. ODS dibiarkan bertanya atau diajukan pertanyaan yang bersifat mendukungnya atau yang dapat memventilasikan masalahnya.. Ada dua penelitian yang membuktikannya yaitu penelitian yang membandingkan rerata dosis haloperidol 48 mg/hari dengan 12. Dengan kata lain. dan 100 mg pada hari kesepuluh yang dibandingkan dengan dosis stabil haloperidol 10 mg. dahulu. perlu pula diketahui. Isolasi tidak boleh dilakukan terhadap ODS dengan penyakit fisik berat. jangan dilakukan. menghubungkan ODS dengan institusi perawatan yang sesuai di komunitas. mengembangkan aliansi dengan ODS dan keluarga. (Neoborsky R et al. pendekatan pada fase akut hendaklah komprehensif. Sebaliknya. Kondisi fisik dan psikologiknya harus selalu dipantau atau ODS tidak boleh dibiarkan begitu saja. misalnya radio atau televisi sebaiknya dimatikan. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 17 . (Morh P et al. serta lingkungan harus pula dilakukan. aliansi terapetik. selalu direkomendasikan. 2004) Meskipun terapi oral lebih baik. Mengembalikan ODS sesegera mungkin ke derajat fungsi paling tinggi sebelumnya. Sekarang. berbicara dengan tenang tetapi tegas. dan intervensi sosial.. dengan keluarga atau caregiver lainnya sering lebih berhasil ketika fase akut. pemberian dosis tinggi ini tidak dianjurkan lagi karena tidak ada perbedaan efektivitas antara dosis tinggi dengan dosis terapetik. baik pada episode pertama maupun episode eksaserbasi. efek samping lebih sering terlihat pada dosis besar. Situasi yang dapat merangsang ODS. Jumlah petugas di ruang akut. hendaklah cukup. biasanya dalam satu atau satu setengah jam. pilihan obat injeksi untuk mendapatkan awitan kerja yang lebih cepat serta hilangnya gejala dengan segera perlu dipertimbangkan. Usaha membangun kerja sama. 1981) Di samping intervensi farmakologik. Kontak mata sangat diperlukan tetapi kalau ODS merasa tidak nyaman. kadang-kadang diperlukan. perlu pula dilakukan.5 mg/ hari dan penelitian lainnya yang membandingkan haloperidol dengan dosis eskalasi mulai dari 20 mg/hari atau 100mg/hari pada hari kelima. Trankuilisasi cepat yaitu pengulangan pemberian obat dengan interval waktu yang pendek. ODS harus didekati dengan penuh percaya diri. perilaku.. Keadaan akut merupakan stresor yang bermakna sehingga keluarga sangat memerlukan dukungan dan biasanya pendekatan kepada keluarga lebih mudah dilakukan ketika ODS dalam keadaan akut.Terapi Biologik Pengisolasian dan pengikatan harus didokumentasikan dengan baik. intervensi nonfarmakologik. Pemberian haloperidol dengan dosis yang sangat tinggi untuk mengatasi agitasi akut. Semua perubahan dan kemajuannya harus dicatat. memformulasikan rencana terapi jangka pendek dan jangka panjang. 2005) Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya episode akut. Semua objek berbahaya yang dapat digunakan ODS sebagai senjata. segera disingkirkan. (Lehman AF et al. Petugas tidak boleh membelakangi ODS.

berisiko melukai diri sendiri. Oleh karena itu. Jadi. terapi yang diberikan jangan sampai memengaruhi penilaian terhadap diagnosis. halusinasi dan waham yang secara subjektif merupakan penderitaan bagi ODS. Meskipun ODS dalam keadaan agitasi atau dengan gangguan isi pikir. baik pada episode pertama maupun eksaserbasi akut. negatif. dapat diperkirakan. hubungan dokter-ODS harus dibangun sejak hari pertama. Gejala-gejala ini dapat dijadikan alasan untuk mendorong ODS bersedia menerima pengobatan. Mengevaluasi kembali diagnosis dan terapi secara periodik perlu pula dilakukan agar tercapai praktik klinik yang baik. target terapi harus ditentukan supaya ukuran luaran. Selain itu. Faktor-faktor psiksosial harus pula dievaluasi dan kemudian intervensinya diformulasikan dan diimplementasikan. penatalaksanaan fase akut mungkin dapat dilakukan di luar rumah sakit. ide atau perilaku bunuh diri. jika memungkinkan. keterlibatan dalam kriminal. Terapi Biologik Tantangan terapetik utama bagi klinikus adalah memilih dan menentukan dosis baik farmakaologi maupun intervensi psikososial sesuai dengan gejala. ODS dapat pula mengalami defisit atensi dan kognitif lainnya yang sering menjadi lebih berat ketika eksaserbasi akut. pada keadaan akut. tidak mempunyai pekerjaan. perubahan diagnosis dapat saja terjadi dan rencana terapi dapat pula berubah. diagnosis adalah suatu proses bukan suatu peristiwa sesaat. depresi. Fase akut tidak selalu memerlukan hospitalisasi. isolasi sosial. Aliansi terapetik dapat meningkat bila dokter dan ODS. klinikus dapat mencari gejala yang mengganggu ODS (dengan 18 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . fungsi. tipe terapi yang spesifik. pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan. manfaat dan risiko obat yang akan diberikan didiskusikan terlebih dahulu dengan ODS dan keluarga. secara bersama-sama. Dengan berkembangnya pengobatan dan program berbasis komunitas. komorbiditas dengan penyakit medik. gangguan tidur. gangguan penyalahgunaan zat. Selain itu. misalnya ansietas. dapat meningkatkan aliansi terapetik. berkaitan dengan penderitaan. Terapi farmakologi harus segera diberikan kepada ODS dengan agitasi akut karena agitasi. harus pula dievaluasi. misalnya gejala positif. dan tempat pemberian terapi. Target terapi dan juga penilaiannya. Formulasikan pula pemilihan modalitas terapi. Penggunaan Antipsikotika Pada Fase Akut Bila sudah ditegakkan diagnosis. Diagnosis yang akurat mempunyai implikasi yang amat penting dalam perencanaan terapi jangka pendek dan jangka panjang. orang lain. Informasi baru tentang ODS mungkin saja didapat setelah diagnosis ditegakkan. dan perilaku sosial yang terlihat pada ODS. Meskipun demikian. Pemberian edukasi kepada ODS bahwa antipsikotika berfungsi mengatasi gejala-gejala yang dideritanya. bisa mengidentifikasi target gejala. dan merusak benda-benda. yang mengukur efek terapi. Walaupun demikian. Sebelum pemberian antipsikotika. mengganggu kehidupan ODS.

unit perawatan. Inisiasi cepat pada terapi emergensi diperlukan bila ODS memperlihatkan perilaku agresif terhadap dirinya. atau fasilitas terapi akut lainnya. Brook S et al. Obat APG-I Injeksi APG-I sering digunakan untuk mengatasi agitasi akut pada skizofrenia. Sebagian besar ODS dalam fase akut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat injeksi jangka pendek APG-II. misalnya distonia akut. Pengikatan ODS hanya dilakukan oleh Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 19 . (Breier A et al. abnormalitas elektrokardiogram (EKG). protokol standar operasional baku untuk mengatasi keadaan akut yang tersedia harus diikuti agar terapi yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan. Kerja obat ini sangat cepat. 2005) Obat APG-II Obat APG-II. Petugas rumah sakit harus berbicara kepada ODS dan berusaha menenangkannya. misalnya olanzapin.Terapi Biologik menanyakan kepada ODS) dan kemudian meyakinkan ODS bahwa obat dapat mengatasi gejala tersebut. tersedia beberapa injeksi APG-II dengan efek samping akut minimal. APG-I. Walaupun demikian. Oleh karena itu. biasanya memperlihatkan ketakutan dan kebingungan. sedasi berlebihan. Penggunaannya juga terbatas karena seringnya terjadi efek samping. Meminimalkan efek samping akut. Selain itu. bermanfaat dalam mengendalikan agitasi pada fase akut skizofrenia. dapat meningkatkan penerimaan ODS terhadap pengobatan dan keinginan ODS melanjutkan terapi antipsikotika. ada beberapa efek samping yang sering dikaitkan dengan injeksi APG-I. Ketika ODS di dalam ruangan gawat darurat. dan ziprasidon efektif mengontrol agitasi pada fase akut skizofrenia. 1988) Penggabungan antara APG-I dengan benzodiazepin juga sering digunakan. Efek samping ini dapat menimbulkan penderitaan bagi ODS dan memberikan dampak buruk terhadap kepatuhan dan penerimaan terhadap terapi jangka panjang.(7) (Addonizio G and Alexopoulos GS. Misalnya. benzodiazepin dapat menyebabkan depresi pernafasan. misalnya haloperidol. atau dapat menginduksi perilaku disinhibisi yang dapat memperburuk keadaan. Apabila gagal menenangkan ODS. orang lain atau objek. Usaha menenangkan ODS harus dilakukan terlebih dahulu. Andrezina R et al. tolerabilitas dan keamanannya lebih baik bila dibandingkan dengan APG-I.. Selanjutnya. 2006) Saat ini. 2002. misalnya distonia akut dan pemanjangan QTc. mengisolasi atau mengikat ODS dapat dilakukan. keterlibatan beberapa petugas pada intervensi pertama sangat diperlukan. Kiat ini dapat membantu untuk membangun aliansi terapetik.. 2005. dapat pula menyebabkan gejala ekstrapiramidal (EPS). sedasi berlebihan atau sindrom neuroleptik malignansi (SNM). aripiprazol. (Marder SR and Kane JM. baik oral maupun injeksi.. Efek samping ini dapat menyebabkan ketidakpatuhan terhadap pengobatan.

pemantauan status klinik ODS selama 2-4 mingggu perlu dilakukan untuk mengevaluasi respon ODS terhadap pengobatan. misalnya risperidon dalam bentuk cair juga bermanfaat untuk mengatasi agitasi akut. Bila tidak ada perbaikan. Formula injeksi jangka pendek APG-II. Oleh karena itu. Apabila ada efek samping yang tidak nyaman. hingga mencapai target dosis terapetik. Jika ODS bersedia menggunakan obat oral. klinikus harus lebih bersabar dalam meningkatkan dosis. Tindakan pengikatan ODS bertujuan untuk mengurangi risiko ODS melukai dirinya atau petugas lainnya. formula dalam bentuk cair. kewaspadaan terjadinya eksaserbasi psikotik akibat pemberian antidepresan perlu pula ditingkatkan. Apabila ODS tidak bersedia menggunakan obat oral. kemampuan toleransi ODS terhadap obat yang diberikan. Terjadinya interaksi obat perlu diperhatikan terutama yang terkait dengan ensim sitokrom P450. misalnya lorazepam. peningkatan dosis yang cepat harus dihindari. Pengalaman yang tidak menyenangkan dapat memengaruhi kepatuhan terhadap terapi jangka panjang. bentuk sediaan yang cepat larut (olanzapin dan risperdon). Stabilisator mood dan beta-bloker dapat pula dipertimbangkan untuk mengurangi beratnya rekuren hostilitas dan agresi. Dengan kata lain. Obat tambahan sering pula diberikan untuk mengatasi komorbiditas pada fase akut. Injeksi antipsikotika sangat membantu untuk mengurangi agitasi. Dosis yang direkomendasikan harus efektif dan tidak menyebabkan efek samping yang secara subjektif sulit ditoleransi oleh ODS. Dalam pemilihan obat. pemberian obat injeksi dapat dilakukan meskipun ODS menolak. pengalaman efek samping. 20 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . ziprasidon. misalnya olanzapin. ansietas. dapat digunakan untuk mendapatkan efek yang lebih cepat dan mengurangi ketidakpatuhan. dan aripiprazol dengan atau tanpa benzodiazepin. Antidepresan dapat pula dipertimbangkan untuk mengobati komorbiditas dengan depresi mayor atau dengan gangguan obsesif- kompulsif. Pemilihan obat sering ditentukan oleh pengalaman ODS dengan antipsikotika sebelumnya. Selain itu. pengikatan jangan sampai melukai ODS. benzodiazepin sering digunakan untuk mengatasi katatonia. Jadi. Sebagian besar ODS memilih penggunaan obat secara oral. cepatnya metabolisme. Misalnya. dan cara (route) pemberian obat. dan potensi interaksi dengan obat lain harus pula diperhatikan.dan efek samping obat. dan agitasi hingga efek terapetik antipsikotika tercapai. Titrasi dosis harus dilakukan dengan cepat. misalnya disforik. Walaupun demikian. Pada ODS yang responnya lambat. Adanya komorbiditas dengan kondisi medik umum. Terapi Biologik tim yang sudah terlatih. misalnya respon terhadap gejala. harus pula dipertimbangkan. Walaupun demikian. klinikus dapat mempertimbangkan respon ODS terahadap obat sebelumnya -termasuk respon ODS yang sifatnya subjektif. tawaran penggunaan obat oral merupakan usaha pertama yang dilakukan untuk mengatasi keadaan agitasi. dapat digunakan untuk mengatasi agitasi. perlu dilakukan evaluasi kemungkinan adanya ketidakpatuhan terhadap pengobatan. atau buruknya absorbsi obat.

90. reaksi distonia akut dan akatisia). Menjelaskan kemungkinan efek samping akut dapat meningkatkan kemampuan ODS untuk mengidentifikasi dan melaporkan keberadaan efek samping tersebut dan hal ini dapat mempertahankan aliansi terapetik. pada subjek dan awitan kerjanya. setelah injeksi pertama hingga dua jam. 4 = perilaku normal. Selain itu. Jadi. dan 120 menit setelah injeksi pertama. Penilaian dengan PANSS-EC dilakukan pada 15. Subjek yang mendapat obat tambahan antikolinergik lebih banyak pada kelompok yang mendapat haloperidol bila dibandingkan dengan olanzapin atau plasebo. ketidakkooperatifan. 6 = berat. Sebaliknya. Dalam 24 jam setelah injeksi pertama. ODS yang memerlukan pengurangan agitasi dengan cepat dan yang menolak penggunaan terapi oral. 1 = agitasi jelas. 3 = ringan. 30. Untuk menilai agitasi digunakan instrumen the Excited Component of the Positive and Negative Syndrome Scale atau PANSS-EC yang terdiri dari lima butir yaitu ketegangan. subjek yang mendapat tambahan injeksi benzodiazepin lebih banyak pada kelompok yang mendapat plasebo bila dibandingkan dengan kelompok yang mendapat olanzapin atau haloperidol. 30. 4 = sedang. juga digunakan. injeksi olanzapin dapat diberikan karena risiko terjadinya distonia akut dan pemanjangan QTc sangat rendah. Luaran dinilai setelah dua jam. Kisaran nilai pada masing-masing butir PANSS-EC adalah antara 1-7. Skor 1 = absen. instrumen the Agitated Behavior Scale (ABS) dan the Agitation Calmness Evaluation Scale (ACES) yang terdiri dari sembilan butir skala (misalnya. juga mengalami perbaikan yang bermakna. sedasi. secara bermakna. 7 = berat sekali. buruknya pengendalian impuls. hostilitas. Bila dibandingkan dengan plasebo. Perbedaan ini juga terlihat hingga 24 jam setelah injeksi pertama. 60. 1 = ringan. dan gaduh gelisah. Olanzapin Injeksi Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui manfaat injeksi jangka pendek olanzapin 10 mg dalam mengatasi agitasi pada skizofrenia dalam keadaan akut. 5 = berat sedang. 4 = berat sekali). Perbedaannya dengan plasebo terlihat pada 15. efek samping jangka panjang belum perlu dibahas hingga episode akut teratasi.Terapi Biologik Efek samping akut. pusing. insomnia. gejala ekstrpiramidal (misalnya. 45. Rerata skor ABS dan ACES. lebih cepat bila dibandingkan dengan plasebo. dan 45 menit setelah injeksi pertama. harus pula didiskusikan dengan ODS. 3 = berat. misalnya hipotensi ortostatik. Efek samping dinilai dengan instrumen Barnes Akathisia Scale (BAS) dan Simpson Angus Scale (SAS) yang terdiri dari 10 butir yang nilainya berkisar antara 0-4 (0 = absen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa olanzapin efektif untuk mengurangi agitasi akut.5 mg dan plasebo. Dengan demikian. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 21 . tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada QTc interval. Tidak ditemukan adanya distonia akut pada kelompok subjek yang mendapatkan olanzapin. Sebagai pembandingnya yaitu haloperidol 7. 9 = tidak dapat dibangunkan). 2 = minimal. 2 = sedang. uji klinis ini menyimpulkan bahwa olanzapin tidak inferior bila dibandingkan dengan haloperidol.

Dosis aripiprazol adalah 9. dan memiliki skor Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS) Excited Component (PEC) > 15 dan < 32.25 mg/hari. paling sedikit. kadar prolaktin. bila diperlukan. dan pemanjangan QTc pada EKG.75 mg/injeksi dan dosis maksimumnya yaitu 29. ketidakkooperatifan. Profil tolerabilitas dan keamanannya baik dan hal ini terlihat dari rendahnya efek samping ekstrapiramidal. sedasi serta tidak adanya peningkatan berat badan. dengan injekasi olanzapin 10 mg atau haloperidol 7.5 mg yang terlihat dalam 24 jam setelah injeksi pertama tersebut. Dosis haloperidol adalah 6. serta paling sedikit dua dari lima butir PEC mempunyai skor > 4 menunjukkan bahwa aripiprazol injeksi efektif dan sebanding dengan haloperidol dan ditoleransi baik oleh subjek dengan agitasi akut. berusia paling sedikit 18 tahun. bersedia menghentikan semua psikotropik yang digunakan. Distonia akut dan akatisia terjadi lebih sering pada kelompok haloperidol bila dibandingkan dengankelompok olanzapin sehingga kelompok yang mendapat haloperidol memerlukan lebih banyak antikolinergik. Begitu pula halnya dengan dua jam setelah injeksi.75 mg/injeksi. bila dibandingkan dengan plasebo. sesuai definisi DSM-IV dan kemudian dikonfirmasi dengan Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI). Evaluasi baseline dilakukan satu jam sebelum injeksi pertama. lelaki dan perempuan. dapat mengikuti protokol penelitian.5 mg/hari. Dosis olanzapin yang digunakan adalah 5. Injeksi terakhir diberikan tidak boleh lebih dari dua puluh jam setelah injeksi pertama. dalam keadaan agitasi akut tetapi masih dapat dinilai dengan skala psikiatrik yang digunakan. Injeksi ketiga.5 mg/injeksi dan dosis maksimumnya adalah 19. diberikan. dua jam setelah injekasi pertama. olanzapin tidak inferior. Bila dibandingkan dengan haloperidol (7. Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap ODS atau skizoafektif yang dalam keadaan agitasi akut. (Breier A et al.. paling sedikit dua jam setelah injekasi kedua atau empat jam setelah injeksi pertama. olanzapin injeksi (10 mg/injeksi) lebih superior. Butir PEC terdiri dari hostilitas. Subjek yang dimasukkan ke dalam penelitian ini adalah subjek dengan diagnosis skizofrenia atau skizoafektif. bila diperlukan injeksi ketiga. Injeksi kedua. Pada kelompok plasebo. dan mampu meberikan pernyataan kesediaan berpartisipasi dalam penelitian. 2002) Aripiprazol Injeksi Terapi aripiprazol oral memperlihatkan efikasi dalam mengatasi fase akut atau eksaserbasi akut skizofrenia. 22 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Ia juga efektif untuk terapi rumatan jangka panjang. Subjek dibolehkan menerima tiga kali injeksi dalam 24 jam.5 dan 10 mg. 7. Ukuran luaran efikasi adalah perbedaan antara rerata skor PEC pada baseline dengan skor PEC dua jam setelah injeksi pertama.5 mg/injeksi). obat yang diberikan adalah aripiprazol 9. Terapi Biologik Pengurangan derajat agitasi. tetap bertahan selama empat hari dengan pemberian oral olanzapin 5-20 mg atau haloperidol 5-15 mg/hari.

7%) bila dibandingkan dengan kelompok plasebo injeksi (2. Insiden EPS lebih rendah pada kelompok aripiprazol injeksi (1. 4. dan 24 jam setelah injeksi pertama. satu. Superiornya aripiprazol injeksi. Ukuran luaran sekunder dipakai Clinical Global Impression-Improvement (CGI-I) scale dan Clinical Global Impression-Severity of Illness (CGI-S) scale.Terapi Biologik gaduh gelisah. terlihat dari perbaikan yang bermakna pada gejala agitasi yang dinilai dengan PEC. ACES dan Corrigan Agitated Behavior Scale (CABS) juga digunakan. Keamanan. empat. penilaian efikasi dilakukan pada baseline dan pada waktu-waktu berikut yaitu 30 menit. 6. Penilaian efikasi dilakukan segera sebelum injeksi ulang atau sebelum pemberian terapi lorazepam. Untuk menilai beratnya gejala yang berkaitan dengan skizofrenia digunakan PANSS. Selama pengobatan. dibandingkan dengan baseline.. Hasil akhir PEC menunjukkan bahwa aripiprazol injkesi noninferior bila dibandingkan dengan haloperidol injeksi. (Andrezina R et al. dan ketegangan. Selain itu. Akatisia dan distonia sering terlihat pada pemberian haloperidol injeksi. bila dibandingkan dengan plasebo. Penilaian PANSS dilakukan pada baseline. Pencapaian perbaikan dengan haloperidol lebih cepat bila dibandingkan dengan aripirazol tetapi secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna.6%). 2006) Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 23 . satu setengah. Gejala ini menyebabkan penderitaan pada ODS dan keluarganya dan dapat memengaruhi sikap dan kepatuhan terhadap pengobatan antipsikotika selanjutnya. skor SAS membaik pada kelompok aripiprazol injeksi dan sebaliknya pada kelompok haloperidol injeksi yaitu terjadi perburukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aripiprazol injeksi efektif mengontrol agitasi akut pada ODS dengan skizofrenia atau skizoafektif. Hasil keseluruhan ukuran efikasi sekunder menunjukkan bahwa aripiprazol injeksi lebih superior bila dibandingkan dengan plasebo dan noninferior bila dibandingkan dengan haloperidol injeksi. dua belas dan dua puluh empat jam setelah injeksi pertama. Evaluasi injeksi ulang dilakukan pada satu dan dua jam setelah injeksi. Salama penelitian. misalnya EPS dinilai dengan SAS dan BARS dinilai pada 2. dua jam setelah injeksi. 12. 45 menit. dua jam setelah injeksi pertama. Obat lain yang boleh diberikan hanya lorazepam dengan dosis maksimum 4 mg/hari. Obat dinyatakan berespons bila skor PEC. perbaikan gejala agitasi dengan aripiprazol dicapai dalam waktu satu jam setelah injeksi pertama. Tingginya kecenderungan EPS dengan haloperidol injeksi membatasi efektivitasnya secara keseluruhan dalam mengatasi agitasi akut. sedangkan dengan haloperidol injeksi dicapai dalam waktu 45 menit.3%) atau dengan kelompok haloperidol injeksi (12. dua dan 24 jam. Bila dibandingkan dengan plasebo. enam. dua. turun sebanyak > 40%. Aripiprazol ditoleransi dengan baik. buruknya pengendalian impuls.

2010 dan Practice Guideline For The Treatment of Patients With Schizophrenia. Obat Antipsikotik yang Sering Digunakan Rentang Dosis Ekivalen Klorpromazin Waktu paruh Obat antipsikotik Anjuran (mg/hari) (mg/hari) (jam) Antipsikotik Generasi I Fenotiazin Klorpromazin 300–1000 100 6 Flufenazin 5–20 2 33 Perfenazin 16–64 10 10 Thioridazin 300–800 100 24 Trifluoperazin 15–50 5 24 Butirofenon Haloperidol 5–20 2 21 Lainnya Loksapin 30–100 10 4 Antipsikotik Generasi II Aripiprazol 10–30 75 Klozapin 150–600 12 Olanzapin 10–30 33 Quetiapin 300–800 6 Risperidon 2–8 24 Sumber: Preston JD et al. American Psychiatric Association 2004.. 1. Hal ini menunjukkan bahwa aripiprazol injeksi mempunyai efek menenangkan (calming effect) atau kecenderungan sedasi berlebihannya rendah. Beberapa subjek pada kelompok aripiprazol injeksi mempunyai skor ACES bernilai 8 (tidur dalam) dan 9 (tidak dapat dibangunkan). 24 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia .3. Dengan kata lain.75. serta 15 mg/injeksi (penambahan cairan 07. Sedasi yang berlebihan dapat pula memengaruhi efektivitas terapi agitasi karena ia dapat memengaruhi kelancaran wawancara.5 mg dibandingkan dengan plasebo.25. Subjek dengan skor bernilai 4 terlihat lebih banyak.75 mg dan 15 mg) dan terlihat pula penurunan yang bermakna pada skor ACES dengan pencapaian skor 4 (fungsi normal) dua jam setelah injeksi. evaluasi. 1990) Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan antipsikotika yang sering digunakan. aripiprazol injeksi memiliki insiden efek samping terkait sedasi cukup rendah. awitan kerja aripiprazol lebih cepat dan perbaikan skor PEC yang bermakna terlihat pada 45 menit dan satu jam setelah aripirazol injeksi (9. Bila dibandingkan dengan plasebo. dan pencapaian aliansi terapetik yang efektif dengan ODS. Terapi Biologik Sebuah penelitian lainnya melaporkan bahwa terlihat perbaikan skor PEC dengan aripiprazol.5 ml) dan haloperidol 7. 2nd Edition. Tabel 1. dosis 5. dan 2 dari 7. (Frank AF. dan 9. setelah dua jam injeksi. Gunderson JG.

Ternyata terdapat perbedaan respons individual. obat-obat Kelompok 2 mungkin tdk sama dlm sifat Diskinesia tardiva lebih rendah / tidak adanya Ya risiko diskinesia tardiva Riwayat sensitivitas terhadap Ya. Tabel 2. Meskipun demikian. Kecuali klozapin yang efektif untuk ODS yang sudah resisten dengan terapi. Untuk mengobati psikopatologi global. Riwayat efek samping dapat menjadi pertimbangan dalam pemilihan antipsikotika. kecuali Risperidon peningkatan prolaktin Riwayat sensitivitas terhadap Ziprazidon atau Aripirazol peningkatan berat badan. kenyamanan ODS terhadap obat tertentu terkait cara pemberiannya. Olanzapin Injeksi obat pertama Quetiapin. 2nd Edition. hiperglikemia. disforia). Tidak ada bukti suatu APG-II lebih baik daripada APG-II lainnya. gejala kognitif. secara umum efikasinya sama. untuk mengobati gejala positif skizofrenia. profil efek samping (misalnya. kecuali Risperidon efek samping ekstrapiramidal dosis lebih tinggi Riwayat sensitivitas terhadap Ya. APG-II lebih baik daripada APG-I. Pilihan Obatan untuk Fase Akut Skizofrenia Pertimbangan bentuk pemberian pengobatan Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Profil pasien Agen generasi Risperidon. American Psychiatric Association 2004. Obat antipsikotika generasi kedua harus dipertimbangkan sebagai obat lini pertama untuk fase akut skizofrenia terutama karena rendahnya efek samping ekstrapiramidal dan tardive diskinesia (82-85). negatif dan mood. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 25 . Ziprazidon Klozapin antipsikotik jangka Aripiprazol panjang Episode pertama Ya Perilaku atau ide bunuh diri Ya yang menetap Perilaku agresif dan Ya permusuhan yang menetap Ya. di bawah ini adalah efek samping terkait dengan antipsikotika. Tabel 2.Terapi Biologik Pemilihan antipsikotika sering ditentukan oleh pengalaman ODS sebelumnya dengan antipsikotika misalnya. hiperlipidemia Ketidakpatuhan yang berulang Ya terhadap pengobatan farmakologi Sumber: Practice Guideline For The Treatment of Patients With Schizophrenia. Untuk ODS yang sebelumnya sudah berhasil diobati dengan APG-I atau ODS lebih memilih APG-I dan secara klinis obat tersebut memang bermanfaat. semua antipsikotika. tidak semua setuju dengan pendapat ini. respons gejala terhadap antipsikotika. maka untuk ODS tersebut obat APG-I dapat dijadikan pilihan pertama.

26 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . misalnya. Selanjutnya. Bila hambatan pada sistem nigrostriatal berlebihan. dan barbiturat. fenitoin. ia digunakan sebagai sedatif untuk pasien-pasien psikiatri. 1. beberapa fenotiazin lainnya dikembangkan. ia disebut Dopamin reseptor Antagonist (DA). Pemakaiannya bersama obat-obat yang menginduksi enzim (enzyme inducer). Farmakodinamik Obat-obat APG-I terutama bekerja sebagai antagonis reseptor dopamin di otak. hipoalbumin karena malnutrisi atau gagal ginjal dan gagal hati dapat mempengaruhi ikatan protein obat-obat antipsikotika tersebut. Hambatan yang berlebihan pada sistem tuberoinfundibuler dapat menyebabkan gangguan endokrin. akan menghambat ekskresi obat-obat APG-I sehingga perlu dipertimbangkan dosis pemberiannya bila diberikan bersama- sama. Kemudian ia terbukti mempunyai khasiat antipsikotika. etambutol. Clearance Inhibitors. karbamazepin. 3. Kombinasi dengan obat-obat tersebut akan mempercepat pemecahan antipsikotika sehingga diperlukan dosis yang lebih tinggi. klorpromazin) dan golongan nonfenotiazin (contohnya. Setelah itu. Golongan fenotiazin disebut juga obat-obat berpotensi rendah (low potency). gangguan terutama pada aktivitas motorik dapat terjadi. mesolimbokortikal. Menurut cara kerjanya terhadap reseptor dopamin. Tricyclic Antidepressant (TCA). Sistem dopamin yang terlibat adalah sistem nigrostriatal. Kondisi stres. APG-I dibagi menjadi golongan fenotiazin (misalnya. misalnya Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor (SSRI). 2. Manifestasi efek samping yang terjadi berkaitan dengan hambatan yang berlebihan pada sistem-sistem tersebut. Klasifikasi Berdasarkan rumus kimianya. sedangkan hambatan pada sistem mesolimbokortikal dapat memengaruhi fungsi kognitif. Beta Blocker. dan tuberoinfundibuler. Farmakokinetik Metabolisme obat APG-I secara farmakokinetik dipengaruhi oleh beberapa hal. Klorpromazin digunakan tahun 1952 sebagai sedatif pasca operasi. sedangkan golongan nonfenotiazin disebut obat-obat potensi tinggi (high potency) karena hanya memerlukan dosis kecil untuk memperoleh efek yang setara dengan klorpromazin 100mg. haloperidol). Terapi Biologik Obat APG-I Ditemukannya antipsikotika memberikan perubahan besar dalam pengobatan skizofrenia.

dan drooling (tremor kasar tangan seperti sedang membuat pil) Sindroma Neuroleptik Maligna: Merupakan reaksi idiosinkrasi yang sangat serius dengan gejala utama berupa rigiditas. terutama kaki. Febris tinggi dapat mencapai 410C atau lebih. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 27 . diaporesis dan pallor. kejang-kejang dan koma juga bisa ditemukan. Pasien sering menunjukkan kegelisahan dengan gejala-gejala kecemasan. Aritmia jantung dapat pula terjadi. Sering sulit dibedakan dari rasa cemas yang berhubungan dengan gejala psikotiknya. Biasanya terjadi pada minggu pertama pengobatan dengan APG-I Parkinsonisme: Dapat dilihat adanya kumpulan gejala yang terdiri atas bradikinesia. mioglobinuria bisa sangat parah sehingga terjadi gagal ginjal. rigiditas dengan ciri kaku seperti pipa disertai peningkatan tonus otot kadang-kadang sampai terjadi mionecrosis. kita harus selalu memperhitungkan kemungkinan akatisia. Akatisia: Yaitu suatu kondisi yang secara subjektif dirasakan oleh penderita berupa perasaan tidak nyaman. lidah. gelisah. Kondisi ini dapat sangat menakutkan dan tidak nyaman bagi pasien. fenomena roda gerigi. rigiditas. Ketidakstabilan sistem autonom dapat bermanifestasi sebagai hipertensi atau hipotensi. Bila pasien dehidrasi. gangguan sistem saraf otonom dan delirium. distonia akut dan parkinsonism (acute extrapyramidal syndrome). Gejala biasanya berkembang dalam periode waktu beberapa jam sampai beberapa hari setelah pemberian antipsikotika. muka dan punggung. dan merasa harus selalu menggerak-gerakkan tungkai. Walaupun sangat jarang. sudden unexplained death dapat pula terjadi. Efek samping neurologis akut berupa akatisia. postur tubuh kaku. Dapat juga terjadi efek samping akut berupa Sindroma Neuroleptik Maligna (SNM) yang merupakan kondisi emergensi karena dapat mengancam kelangsungan hidup pasien. Kadang-kadang. Distonia akut: Terjadi kekakuan dan kontraksi otot secara tiba-tiba. hiperpiretik. Terhadap sistem gastrointestinal sering dijumpai efek antikholinergik perifer. Mungkin pula terjadi krisis okulogirik atau opistotonus. sehingga pasien sering merasa haus. Kesadaran berfluktuasi (delirium). pasien melaporkan awitan subakut rasa tebal di lidah atau kesulitan menelan. biasanya mengenai otot leher. Efek terhadap sistem kardiovaskuler yang sering adalah hipotensi ortostatik (postural hypotension) yaitu turunnya tekanan darah pada saat perubahan posisi tubuh terutama dari posisi tidur ke posisi berdiri secara tiba-tiba.Terapi Biologik Efek samping Efek samping dapat dikelompokkan menjadi efek samping neurologis dan nonneurologis. Bila terjadi peningkatan kegelisahan setelah pemberian APG-I. muka topeng. rasa kering di mulut. Pada kondisi kronis atau efek samping pengobatan jangka panjang dapat dilihat kemungkinan terjadinya diskinesia tardiva (tardive dyskinesia).. takikardi. dan atau agitasi. tremor. gaya jalan seperti robot.

Terapi inisial Diberikan segera setelah diagnosis ditegakkan. dosis tersebut dipertahankan selama lebih kurang 8 – 10 minggu sebelum masuk ke tahap pemeliharaan. sampai dicapai dosis optimal yang dapat mengendalikan gejala. Biasanya berlangsung jangka panjang tergantung perjalanan penyakit. Terapi Biologik Tetap pula perlu waspada terhadap kemungkinan efek samping fungsi hepar. baik terhadap diri sendiri maupun orang lain misalnya bunuh diri atau mencelakakan orang lain. 28 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Disfungsi seksual kadang-kadang juga dialami oleh pasien dan menimbulkan keluhan yang cukup mengganggu. Terapi pengawasan Setelah diperoleh dosis optimal. dapat sampai beberapa bulan bahkan beberapa tahun. Diperoleh konsensus bahwa bila kondisi akut pertama kali maka terapi diberikan sampai 2 tahun. dan bila sudah berjalan kronis dengan beberapa kali kekambuhan maka terapi diberikan sampai 5 tahun bahkan seumur hidup bila dijumpai riwayat agresifitas berlebih. ginjal. Terapi pemeliharaan Dalam tahap pemeliharaan ini dosis dapat dipertimbangkan untuk mulai diturunkan secara bertahap sampai diperoleh dosis minimal yang masih dapat dipertahankan tanpa menimbulkan kekambuhan. kulit dan mata. Fungsi endokrin juga dapat terganggu terutama terjadinya peningkatan kadar prolaktin dalam darah. dan dosis dimulai dari dosis anjuran dinaikkan perlahan-lahan secara bertahap dalam waktu 1 – 3 minggu.

2nd Edition. kejang. American Psychiatric Association 2004. +++ = Sering menyebabkan efek samping pada dosis terapeutik. dan miokarditis. 29 . + = Ringan atau sesekali menyebabkan efek samping pada dosis terapeutik. ++ = Kadang-kadang menyebabkan efek samping pada dosis terapeutik. b Juga menyebabkan agranulositosis. d Juga mempunyai peringatan tentang potensi timbulnya katarak. c Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia Kemungkinan perkecualian untuk akatisia. e Juga menyebabkan mual dan nyeri kepala. Tabel 3. Beberapa efek samping obat antipsikotik yang sering digunakana Efek Samping Extrapiramidal/ Peningkatan Pertambahan Abnormalitas Abnormalitas Pemanjangan Efek Samping Obat Sedasi Hipotensi Diskinesia Prolaktin Berat Badan Glukosa Lipid QTc Antikolinergik Terapi Biologik Tardiva Thioridazin + ++ + +? +? +++ ++ ++ ++ Perfenazin ++ ++ + +? +? 0 + + 0 Haloperidol +++ +++ + 0 0 0 ++ 0 0 Klozapinb 0c 0 +++ +++ +++ 0 +++ +++ +++ Risperidon + +++ ++ ++ ++ + + + 0 c Olanzapin 0 0 +++ +++ +++ 0 + + ++ Quetiapind 0c 0 ++ ++ ++ 0 ++ ++ 0 Aripiprazole 0c 0 0 0 0 0 + 0 0 a 0 = Tidak ada risiko atau jarang menimbulkan efek samping pada dosis terapeutik. Sumber: Practice Guideline For The Treatment of Patients With Schizophrenia. ? = Data terlalu terbatas untuk memberikan penilaian dengan yakin.

nadi. akathisia atau parkinsonisme. dystonia. parkinsonism hidrokhlorid Amantadin 100–300 10–14 Akathisia. dystonia. Obat-obat antikholinergik tersebut tidak perlu diberikan secara rutin atau untuk tujuan pencegahan efek samping ekstrapiramidal. misalnya distonia akut. 2nd Edition. Obat antikholinergik perlu diberikan hanya bila terjadi efek samping ekstrapiramidal. karena munculnya efek samping bersifat individual.8 – 2. Obat-obat yang perlu diberikan dalam kondisi kritis adalah. Kondisi SNM memerlukan penatalaksanaan segera atau emergensi karena SNM merupakan kondisi akut yang mengancam kehidupan. sulfas atropin. Dalam kondisi ini maka semua penggunaan antipsikotika harus dihentikan. 30 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . benztropin. Bila tetap tidak berhasil mengatasi efek samping tersebut disarankan untuk mengganti jenis antipsikotika yang digunakan ke golongan APG-II yang lebih sedikit kemungkinannya mengakibatkan efek samping ekstrapiramidal. Obat yang paling sering digunakan adalah triheksifenidil dengan dosis 3 kali 2 mg per hari. Terapi Biologik Penatalaksanaan Efek Samping Bila terjadi efek samping sindroma ekstrapiramidal. intravena. misalnya triheksifenidil. Tabel 3 di bawah ini adalah obat yang sering digunakan untuk mengatasi efek samping ekstrapiramidal. Tabel 4. parkinsonism Propranolol 30–90 3–4 Akathisia Lorazepam a 1–6 12 Akathisia Difenhidramina 25–50 4–8 Akathisia. dengan dosis maksimal 10 mg/hari. atau difenhidramin injeksi IM atau IV. diberikan obat-obat antikolinergik. terlebih dahulu dilakukan penurunan dosis. Sumber: Practice Guideline For The Treatment of Patients With Schizophrenia. Bila telah bisa per oral. American Psychiatric Association 2004. pernafasan dan kesadaran). Bila tidak dapat ditanggulangi. dapat diberikan tablet dantrolen 100-200mg/hari. perhatikan keseimbangan cairan dan observasi tanda-tanda vital (tensi. parkinsonism a Tersedia dalam bentuk oral atau parenteral. Beberapa obat untuk efek samping ekstrapiramidal Dosis Waktu paruh eliminasi Target efek samping Nama generik (mg/hari) (jam) ekstrapiramidal Trihexifenidil 1–15 4 Akathisia.5mg/kgBB/hr. temperatur. Lakukan terapi simtomatik. • Untuk relaksasi otot dapat diberikan dantrolen dengan dosis 0.

2004) Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 31 . Lakukan evaluasi rutin terhadap adanya gejala-gejala diskinesia tardiva dan catat hasilnya pada rekam medis pasien 5. hentikan obat dan ganti dengan golongan APG-II terutama klozapin. (Marder SR. Bila kondisi SNM sudah teratasi.. 2005a) Di bawah ini adalah Bagan Penatalaksanaan Skizofrenia menurut fase pengobatan. Perbaiki kondisi hipotensi maupun hipertensi. orang tua. (Lehman AF et al. 6. dan pasien-pasien dengan gangguan mood 4. Untuk diskinesia tardiva.Terapi Biologik • Gejala-gejala ekstrapiramidal dapat dikendalikan dengan bromokriptin 20-30mg/hari dibagi dalam 4 dosis. misalnya klozapin. 1. Bila gejala psikotik tidak bisa diatasi dengan penurunan dosis obat antipsikotika atau bahkan memburuk. Untuk pemakaian jangka panjang gunakan dosis minimal yang efektif 3. langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut. dan masih memerlukan antipsikotika. vanKammen DP. antipsikotika perlu diganti dengan golongan APG-II. Bila ditemukan adanya gejala-gejala diskinesia tardiva turunkan dosis antipsikotika dan minta informed consent. Hati-hati pemakaian untuk pasien anak-anak. Perlu dipastikan efektifitas antipsikotika yang diberikan 2.

Pertimbangkan TEK pemeliharaan untuk pasien yang Fase stabilisasi berespon terhadap TEK akut dan mereka yang gejalanya tidak dapat dikendalikan dengan atau pemberian obat pemeliharaan saja. American Psychiatric Association 2004. Untuk gejala psikotik Untuk efek samping yang tidak persisten. 2nd Edition. Lanjutkan pengobatan fase akut. Quetiapin pada Tabel 2 dan 3): Ziprazidon. katatonia. negatif. klozapin perlu sangat dapat ditoleransi: pilih obat yang dipertimbangkan. pemeliharaan Untuk efek samping yang tidak Untuk gejala positif. (merujuk pada tabel 1 dan 2). Sumber: Practice Guideline For The Treatment of Patients With Schizophrenia. dan/atau ide atauperilaku bunuh diri Berespons baik tanpa yang berat dan persisten yang Ya Tidak gagal dengan terapi sebelumnya efek samping yang tidak ditoleransi? termasuk dengan klozapin. atau 3. Terapi Biologik Fase Akut Pemilihan pengobatan berdasarkan Kelompok 1: Antipsikotika generasi pertama keadaan klinis berikut ini (merujuk Kelompok 2: Risperidon. Olanzapin. Aripiprazol Kelompok 3: Klozapin Kelompok 4: Antipsikotika injeksi jangka panjang Tidak Ya Berespons baik tanpa efek samping yang tidak Untuk efek samping yang Untuk respons terapi yang tidak ditoleransi? tidak dapat ditoleransi: pilih adekuat: pilih obat yang berbeda pengobatan yang berbeda dari dari kelompok 1. Pertimbangkan berbeda dari kelompok 1 atau 2 TEK untuk pasien dengan (merujuk pada tabel 1 dan 2) psikosis. obat yang berbeda dari Kelompok 2 atau 3 atau terapi tambahan yang sesuai. Terapi biologik untuk skizofrenia 32 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Untuk ketidakpatuhan dapat ditoleransi: pilih obat yang kognitif atau mood yang residual pengobatan: pertimbangkan obat berbeda dari kelompok 1 atau 2 atau persisten: pertimbangkan yang berbeda dari kelompok 4. 2. Gambar 4. 2 atau 3 kelompok 1 atau 2 (merujuk (merujuk pada tabel 3) pada tabel 1 dan 2) Berespons baik tanpa Untuk respon terapeutik yang Ya Tidak tidak adekuat: pilih obat yang efek samping yang tidak ditoleransi? berbeda dari Kelompok 1.

Karena dosis yang efektif untuk mengatasi gejala skizofrenia tidak menimbulkan efek samping ekstrapiramidal. Ia merupakan APG-II pertama yang mendapat persetujuan FDA setelah klozapin. Pada in vivo. risperidon memperlihatkan farmakokinetik linier pada dosis antara 0. “metabolizer buruk” memetabolisme risperidon terutama melalui jalur oksidatif dan waktu paruhnya dapat lebih dari 20 jam. ikatan terhadap reseptor D2 terjadi pada dosis 10 kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 33 . Pada “metabolizer ekstensif”. Pada penelitian fase I. Farmakodinamik Mekanisme Kerja Risperidon bekerja sebagai antagonis poten pada serotonin (terutama 5-HT2A) dan dopamin D2. Di bawah ini dibahas obat-obat APG-II.Terapi Biologik Obat APG-II. Sebaliknya. Profil hasil metabolitnya sama dengan komponen induknya. Absorbsi obat tidak dipengaruhi oleh makanan. 9-hidroksi risperidon. jenis obat ini disebut dengan APG-II. dimetabolisme lebih lambat oleh oksidatif N-dealkilasi. Efek terapeutiknya didapat melalui kerjanya sebagai antagonis reseptor serotonin dan dopamin. Afinitasnya terhadap reseptor a1 dan a2 juga tinggi tetapi terhadap a-adrenergik atau muskarinik afinitasnya lebih rendah. Metabolitnya. Kadar plasma puncak komponen induknya terlihat dalam satu jam setelah digunakan sedangkan hasil metabolitnya (9-hidroksi risperidon) dalam tiga jam. Farmakokinetik Absorbsi Risperidon diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral. Bioavailabilitasnya hampir 100%. Risperidon terikat dengan protein sebanyak 90% sedangkan metabolitnya sebanyak 70%. Risperidon dimetabolisme di hati menjadi 9-hidroksi risperidon. Risperidon Risperidon adalah derivat benzisoksazol. Metabolisme dan Eliminasi Risperidon dimetabolisme oleh enzim hepar yaitu CYP 2D6. yaitu pada sekitar 90% orang kulit putih dan 99% orang Asia. baik pada risperidon maupun pada 9-hidroksi risperidon. waktu paruh risperidon adalah sekitar tiga jam. Ekskresinya terutama melalui urin yaitu sebanyak 31% dari dosis yang digunakan. Afinitas risperidon terhadap 5-HT2A adalah 10- 20 kali lebih kuat bila dibandingkan dengan terhadap reseptor D2.5-25 mg/hari. Waktu paruhnya bervariasi sesuai aktivitas enzim tersebut.

pada jaringan otak tikus. Konsentrasi Dalam Darah dan Aktivitas Klinik Tidak begitu jelas hubungan antara efikasi klinik dengan konsentrasi plasma risperidon. besarnya okupansi ini dapat melebihi ambang terjadinya EPS. 38% reseptor a1-adrenergik. dosis 0. Afinitas risperidon terhadap reseptor a2-adrenergik relatif lebih tinggi tetapi terhadap reseptor a1-adrenergik adalah sebanding dengan klorpromazin dan 5-10 kali lebih kuat bila dibandingkan dengan klozapin. Baik risperidon maupun metabolitnya. (Lehman AF et al. 9-hidroksirisperidon. Terapi Biologik ikatan terhadap reseptor 5-HT2A. 2004. vanKammen DP. Penelitian yang menggunakan PET menunjukkan bahwa dosis 1-4 mg memblok D2 sesuai dengan yang dibutuhkan untuk memberikan efek terapetik. Pada beberapa subjek. Afinitas terhadap reseptor 5-HT2A adalah 100 kali lebih kuat bila dibandingkan dengan terhadap subtipe reseptor serotonin lainnya. efek samping ekstrapiramidal lebih ringan pada risperidon bila dibandingkan dengan haloperidol.8 mg. Afinitas risperidon dan 9-hidroksirisperidon terhadap dopamin D4 dan D1 sama kuatnya bila dibandingkan dengan klozapin dan haloperidol. 50% reseptor H1. Dosis ED50 risperidon yang dibutuhkan untuk menghambat stereotipi yang diinduksi apomorfin. 34 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia .. 80% reseptor 5-HT2A. Penelitian preklinik menunjukkan bahwa kemampuannya mengantagonis dopamin sama kuatnya dengan haloperidol tetapi dalam menginduksi terjadinya katalepsi. Okupansi D2 dengan risperidon. terlihat pula pada sel COS-7. Sebagian besar subjek membutuhkan dosis 4 mg/hari tetapi ada pula yang membutuhkan dosis lebih tinggi yaitu 6-8 mg/hari. Ikatan risperidon terhadap reseptor 5-HT2A adalah 20 kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan klozapin dan 170 kali bila dibandingkan dengan haloperidol. Marder SR. 2005b) Penelitian yang menggunakan positron emission tomography (PET).Subjek yang menggunakan risperidon 6 mg/hari memperlihatkan rerata okupansi D2 sekitar 79%. Aktivitas pada reseptor 5-HT2 bermanfaat dalam mengatasi gejala negatif pada skizofrenia. Oleh karena itu. dilakukan 12-14 jam setelah dosis terakhir risperidon. pada tikus. Dengan dosis ini sekitar 40% reseptor D2. Okupansi 5-HT2A lebih besar dari 95% terjadi pada risperidon dengan dosis 2-4 mg/hari. mempunyai afinitas yang sama dengan komponen induknya. dan 10% reseptor a2-adrenergik diokupansi. adalah 0. kemampuannya kurang bila dibandingkan dengan haloperidol. Derajat okupansi yang sama terjadi pada olanzapin dengan dosis 30 mg/hari. Pada manusia. derajat afinitasnya adalah sedang. adalah 50%. menunjukkan bahwa okupansi reseptor D2 berkisar antara 63%-89%. Metabolitnya. Tidak ada afinitas risperidon terhadap reseptor asetilkolin muskarinik sedangkan terhadap histaminergik H1. memperlihatkan afinitas yang tinggi pada reseptor 5-HT2A.5 mg/kg.

Kedua obat ini memblok konversi risperidon menjadi metabolitnya sehingga kadar risperidon dapat meningkat. Hanya prolaktin yang dinyatakan terpengaruh oleh risperidon sedangkan hormon lainnya. mata kabur. pertumbuhan.Terapi Biologik Dosis Untuk preparat oral. palpitasi.5 kg. dianjurkan untuk menaikkan dosis hingga 8 mg/hari.mg/hari sampai agitasinya terkendali. misalnya hormon tiroid. selama 10 minggu penggunaannya. peningkatan berat badan. Perbaikan dengan risperidon terlihat dalam delapan minggu pertama. serta kortisol tidak terpengaruh. mulut kering. Efek samping Secara umum. apabila risperidon diberikan bersamaan dengan karbamazepin. Risperidon merupakan ihhibitor lemah enzim CYP 2D6 sehingga pengaruhnya terhadap klirens obat lain tidak begitu bermakna. Interaksi Obat Fluoksetin dan paroksetin menginhibisi enzim CYP 2D6. Bila dibandingkan dengan plasebo. Responnya lebih cepat daripada haloperidol. merasa lelah. dosis risperidon harus ditingkatkan. risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu tablet dan cairan. Sebaliknya. Dosis besar (overdoses) dengan Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 35 . Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan menjadi 4 mg/ hari. Risperidon bisa diberikan sekali sehari dan efektivitasnya sama dengan pemberian dua kali per hari. Oleh karena itu. orang dengan metobolisme buruk. karbamazepin menginduksi enzim CYP 2D6 sehingga meningkatkan konversi risperidon menjadi metabolit 9-hidroksi risperidon. pusing. Terjadinya efek samping ekstrapiramidal sangat bergantung dari besarnya dosis. Meskipun risperidon tidak terikat secara bermakna dengan reseptor kolinergik muskarinik. Distonia dapat terjadi pada dosis berkisar antara 4-16 mg/hari. dianjurkan untuk memberikan terapi tambahan lorazepam 2. berkurangnya gairah seksual. Sedasi. Apabila respon risperidon tidak adekuat. disfungsi ereksi lebih sering terjadi pada risperidon daripada plasebo. membutuhkan dosis yang lebih rendah (50%-60%). sakit kepala dan pusing lebih sering terjadi pada risperidon dengan dosis 6 mg/hari. follicle stimulating hormone (FSH). dan luteinizing hormone (LH). dapat terlihat pada beberapa ODS dan sifatnya hanya sementara. Dosis untuk orang tua atau penderita Parkinson adalah 1 mg/hari atau lebih kecil untuk mencegah terjadinya efek samping. dan retensi urin. adalah 2 kg sedangkan pada haloperidol hanya 0. Peningkatan berat badan dengan risperidon. Orang tua. Bila ODS memperlihatkan agitasi. Peningkatan konsentrasi plasma risperidon dapat meningkatkan risiko efek samping. Sebagian besar ODS membutuhkan 4-6 mg/hari. risperidon ditoleransi dengan baik. Pemanjangan interval QTc yang bermakna tidak terdeteksi pada dosis hingga 25 mg/hari. hipotensi ortostatik. misalnya terjadi simtom ekstrapiramidal.

36 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Pelepasan yang bermakna dimulai tiga minggu kemudian dan dipertahankan sampai 4-6 minggu. ketidakpatuhan terhadap pengobatan merupakan indikasi penggunaan RIPJ. ia bersifat antagonis sedang. Risperidon merupakan inhibitor lemah enzim CYP 2D6. Terapi Biologik risperidon. Obat RIJP tidak mepunyai afinitas dengan muskarinik kolinergik atau reseptor adrenergik a1 dan a2. adrenergik a1 dan reseptor a2. pemberiannya bersamaan dengan obat yang menghambat enzim CYP 2D6 dapat mengurangi metabolisme dan meningkatkan konsentrasi obat dalam plasma. Waktu paruh metabolit aktifnya.. (Kane JM et al. ia tidak menghambat kliren obat yang dimetabolisme oleh enzim tersebut. Penggunaan RIJP dapat mengurangi variabilitas farmakokinetik. Oleh karena itu. risperidon oral tetap dibutuhkan selama tiga minggu pertama pengobatan. Pada histaminergik H1. Sebaliknya. (Goff DC. Hal ini dapat meningkatkan gejala ekstrapiramidal atau efek samping lainnya. Risperidon tablet oral dan RIJP adalah bioekuivalen. Oleh karena itu. Selain itu. Oleh karena itu. Hasil metabolisme utama melalui hidroksilasi risperidon menjadi 9-hidroksi risperidon dilakukan oleh isoenzim sitokrom CYP 2D6 dan sebagian kecil melalui N-dealkilasi. (Kane JM et al. 2004) Metabolisme risperidon terutama terjadi di hati. 9-hidroksirisperidon. Efektivitasnya sama dengan risperidon oral. Pada awal pemberian. 2003) Farmakodinamik dan Farmakokinetik RIJP Obat RIJP bekerja sebagai antagonis kuat pada serotonin 5-HT2A dan reseptor dopamin D2. konsentrasi puncak RIJP lebih rendah dan fluktuasinya dalam plasma sangat kecil. jumlah obat yang dilepaskan sangat kecil (1% dari dosis total). 2003) Tabel 4 di bawah ini memperlihatkan khasiat RIJP. secara umum tidak membahayakan. 2004) Risperidon Injeksi Jangka Panjang (RIJP) Risperidon merupakan APG-II pertama yang tersedia dalam bentuk injeksi jangka panjang.. Tidak adanya first-pass hepatic metabolism dan adanya hidrolisis partikel kecil (micro-sphreses). Berbeda dengan tablet oral. menyebabkan dosis RIJP lebih kecil tetapi efikasinya sama dengan dosis besar risperidon oral. Pemberiannya bersamaan dengan karbamazepin atau obat lain yang menginduksi enzim tersebut dapat mengurangi konsentrasi plasma risperidon atau metabolit aktifnya.. adalah 3-6 hari. Formula RIJP mempunyai farmakokinetik linier dengan dosis 2-75 mg. terdapat kepastian bahwa obat digunakan oleh ODS. (Eerdekens M et al. yaitu pemanjangan QTc derajatnya sedang dan tidak ada komplikasi jantung yang serius. Kepatuhan terhadap pengobatan meningkat ketika risperidon oral diganti dengan RIJP.

Meningkatnya derajat okupansi reseptor D2 dengan meningkatnya dosis RIJP.50 mg. dopamin D2. Interval injeksi adalah dua minggu. Afinitasnya sangat rendah terhadap kolinergik muskarinik dan tidak terikat dengan reseptor benzodiazepin. Metabolisme dan eliminasi Dimetabolisme oleh sitokrom P450 (CYP) isoenzim 2D6 menjadi 9-hidroksirisperidon. Dosis RIJP Untuk ODS yang tidak sedang menggunakan risperidon. Sedikit atau hampir tidak ada afinitasnya terhadap kolinergik muskarinik atau reseptor adrenergik a1 dan a2. Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap dua minggu. Farmakokinetik Kadar plasma steady state dicapai setelah injeksi ke-4. D2.5 mg . Bila tidak berespon dengan 25 mg. Tabel 5 di bawah ini memperlihatkan afinitas quetiapin pada reseptor-reseptor neurotransmiter. histamin H1 serta reseptor adrenergik a1 dan a2. Formula oral dan injeksi bioekuivalen tetapi RIJP dikaitkan dengan rendahnya konsentrasi puncak steady state dan kurangnya fluktuasi dalam plasma bila dibandingkan dengan formula oral. Waktu paruh RIJP adalah 3-6 hari. dosis dapat dinaikkan menjadi 37. dianjurkan untuk memastikan terlebih dahulu bahwa tolerabilitasnya dengan risperidon oral cukup baik. adrenergik a1 dan a2. dosis awal sebaiknya adalah 12. RIJP dapat diberikan setiap dua minggu di bokong atau di lengan.5 mg. Farmakokinetik linier. histaminergik H1. 2001) Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 37 . 2005b) Quetiapin Farmakodinamik Quetiapin merupakan suatu derivat dibenzotiazepin yang bekerja sebagai antagonis 5-HT1A dan 5-HT2A. Marder SR.Terapi Biologik Tabel 5. Afinitasnya rendah terhadap reseptor D2 dan relatif lebih tinggi terhadap serotonin 5-HT2A. dopamin D1. (Cheer SM and Wagstaff AJ. Afinitasnya yang rendah terhadap kolinergik menyebabkan kurangnya risiko efek samping antikolinergik. (vanKammen DP. Meskipun demikian. RIJP dikeluarkan tubuh secara sempurna setelah 6-7 minggu. Setelah itu. Peningkatan dosis boleh dilakukan setiap empat minggu. manfaat dosis ini belum pernah diteliti secara klinis. Khasiat Risperidon Injeksi Jangka-Panjang Farmakodinamik Antagonsis serotonin 5-HT2A. Untuk pasien dengan gagal ginjal atau hati.

Pada konsentrasi terapetik sebanyak 83% terikat dengan plasma protein. 1990) Rerata steady-state area under the plasma consentration-time curve (AUC) dari 0-8 jam (AUC8) pada laki-laki dan pada perempuan adalah 1070 dan 1200 ng • h/mL dengan quetiapin 75mg tiga kali per hari.. 2001) 38 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . 3 x /hari). Preston JD et al. Nilai Cmax pada laki-laki dan perempuan ketika steady-state adalah 277 dan 295 ng/mL dengan quetiapin 75mg tiga kali per hari. Dosis 250mg tiga kali per hari dikaitkan dengan rerata waktu paruh eliminasi sebesar 5.6 jam pada perempuan. formulasi tablet adalah 100% bioavailable. 1990. (DeVance CL and Nemerroff CB. Volume distribusinya sangat besar yaitu 710L pada laki-laki dan 672L pada perempuan yang menerima quetiapin 250mg tiga kali per hari. dan 778 dan 879 ng/mL dengan quetiapin 250mg tiga kali per hari. Afinitas Quetiapin pada Reseptor Neurotransmiter di Otak Konsentrasi obat yang dibutuhkan untuk Reseptor menghambat 50% ikatan ligand (nmol/L) Adrenergik a1 94 Adrenergik a2 271 Dopamin D1 1268 Dopamin D2 329 Histamin H1 30 Serotonin HT1A 717 Serotonin 5-HT 148 Farmakokinetik Quetiapin oral (75-250 mg. konsentrasi plasma puncak (Cmax). Gunderson JG. Bila dibandingkan dengan formulasi cair. 625 dan 572 ng/mL dengan quetiapin 150 mg tiga kali per hari. Terapi Biologik Tabel 6. Aktivitas quetiapin terutama melalui komponen induknya. 2010) Rerata klirens oral quetiapin 75-250mg yang diberikan tiga kali per hari adalah 72-89 L/ jam. dicapai rerata dalam 1-5 jam.12 (Frank AF.8 jam pada laki-laki dan 6. Quetiapin sedikit sekali terpengaruh oleh makanan. Gunderson JG. (Frank AF. Konsentrasi steady-state akan dicapai dalam dua hari dosis. Sebagian besar metabolitnya tidak aktif. 2300 dan 2410 ng • h/mL dengan quetiapin 150mg tiga kali per hari serta 3380 dan 4080 ng • h/mL dengan quetiapin 250mg tiga kali per hari. diabsorbsi dengan cepat. Quetiapin terutama dimetabolisme oleh hepar melalui sulfoksidasi dengan sitokrom P450 (CYP) 3A4.

Perbaikan yang bermakna pada kognisi global. Meskipun demikian. gejala positif. Untuk gejala depresif. N= 553) adalah sama dengan risperidon (rerata dosis = 4. N=175). quetiapin lebih baik daripada risperidon. dan daya ingat segera lebih baik pada kelompok subjek yang mendapat quetiapin 300-600mg/ hari (N=13) bila dibandingkan dengan haloperidol 10-20mg/hari (N=12). quetiapin lebih bermanfaat untuk neurokognitif. Perbaikan yang bermakna pada kognisi global. Perbaikan psikpatologi global. atensi dan memori verbal lebih besar pada subjek yang diobati dengan quetiapin 300-600 mg/hari bila dibandingkan dengan kelompok subjek yang diobati dengan haloperidol 12 mg/hari. Bila dibandingkan dengan haloperidol dan klorpromazin. > 20% perbaikan pada skala psikopatologi global) dan perbaikan gejala positif skizofrenia. rerata perubahan pada psikopatologi global. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 39 . Bukti perbaikan gejala negatif dengan quetiapin tidak begitu jelas karena perbaikan yang signifikan dengan quetiapin bila dibandingkan dengan plasebo tidak konsisten. Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap ODS yang resisten terhadap pengobatan menunjukkan bahwa proporsi ODS yang memenuhi kriteria respon. pemikiran dan kelancaran verbal. Penelitian yang mengevaluasi manfaat quetiapin terhadap ODS dengan kekambuhan akut menunjukkan bahwa quetiapin lebih efektif mengatasi psikopatologi global. quetiapin menunjukkan perbaikan yang hampir sama atau kadang-kadang lebih besar pada psikopatologi global. dikaitkan dengan parkinsonisme atau psikosis) bukan karena efek langsung terhadap gejala negatif primer.Terapi Biologik Efikasi Quetiapin Ada beberapa uji klinis yang membandingkan manfaat quetiapin dengan plasebo dan dengan APG-I (haloperidol atau klorpromazin) serta APG-II lainnya pada ODS. gejala negatif adalah sama pada kedua kelompok. gejala positif dan negatif dengan quetiapin (rerata dosis = 254mg/hari.4mg/hari. N=143) bila dibandingkan dengan yang mendapat haloperidol 20mg/hari (52%:38%). lebih besar pada subjek yang mendapat quetiapin (600 mg/hari. Bila dibandingkan dengan obat APG-I. gejala positif dan negatif. memperbaiki respons klinik (misalnya. Sebuah penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa derajat perbaikan antara quetiapin dengan APG-I adalah sama. Perbaikan gejala negatif lebih disebabkan oleh perbaikan gejala negatif sekunder (misalnya. fungsi eksekutif.

Rerata penambahan berat badan berkisar antara 2-9 kg. 2004. Klirens oral quetiapin meningkat lima kali lipat bila ia diberikan bersamaan dengan fenitoin (sangat kuat menginduksi CYP3A4) dan 68% bila diberikan bersama tioridazin. diet dan latihan fisik. FDA menyarankan untuk pemeriksaan optamolologi sebelum dan setiap enam bulan penggunaan quetiapin. abnormalitas konduksi kardiak. Quetiapin tersedia dalam bentuk tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg. 2005b) 40 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . karena dapat memperbaiki toleransi terhadap sedasi. lingkaran pinggang. Keadaan ini dapat diatasi dengan melakukan psikoedukasi. Terapi Biologik Dosis Quetiapin merupakan antipsikotika yang efektif untuk fase akut skizofrenia dengan kisaran dosis antara 300-800 mg/hari. setelah obat ini dipasarkan. sebaiknya diberikan pada malam hari. dan 300 mg. misalnya mengubah gaya hidup. Oleh karena itu. Belum pernah ada laporan mengenai hubungan antara risiko peningkatan katrarak dengan quetiapin. terutama pada awal pengobatan. adanya sedasi. peningkatan berat badan dan abnormalitas metabolik derajatnya sedang. Risiko hipotensi ortostatik. Oleh karena itu. peningkatan prolaktin dan efek samping seksual sangat rendah sedangkan risiko sedasi cukup tinggi. 100 mg.. Marder SR. harus dipantau berat badannya. (vanKammen DP. klirens menurun sebanyak 84% (sangat kuat menginhibisi CYP3A4). Risiko ini tidak ditemukan pada manusia. Quetiapin terutama dimetabolisme oleh CYP3A4. Selain itu. Risiko terjadinya akatisia sangat rendah. (Lehman AF et al. Ada bukti yang menunjukkan bahwa efektivitasnya lebih tinggi pada dosis yang lebih besar (> 800 mg/hari). Marder SR. dengan pemberian dua kali per hari. Risiko efek samping ekstrapiramidal. 200 mg. 2002) Penelitian preklinik (pada binatang percobaan) menunjukkan adanya hubungan antara peningkatan risiko katarak dengan quetiapin. Efek Samping Secara umum. termasuk quetiapin. takikardi.. dan takikardi harus dipantau. 2005b) Peningkatan berat badan dengan quetiapin lebih kecil bila dibandingkan dengan APG-I. vanKammen DP. Semua ODS yang menggunakan antipsikotika. satu kali per hari. Selama fase titrasi atau pada awal pengobatan. quetiapin ditoleransi dengan baik. Tidak ada efek samping ekstrapiramidal meskipun dosisnya > 800 mg/hari. ia dapat berinteraksi dengan zat lain yang menghambat atau menginduksi enzim tersebut. hipotensi ortostatik. juga tersedia quetiapin-XR dengan dosis 300 mg dan 400 mg. dan glukosa sebelum menerima obat dan secara teratur selama penggunaan. efek antikolinergik. (Baptista T et al. Bila diberikan bersamaan dengan ketokonazol. Pemberian dosis besar. Quetiapin dapat diberikan dua kali sehari karena waktu paruh eliminasinya enam jam.

Begitu pula halnya penggunaan secara bersamaan antara quetiapin dengan fluoksetin. a1. litium atau dengan risperidon. afinitas sedang pada D4. butirofenon. Selain itu.Terapi Biologik Tidak terjadi interaksi obat yang bermakna secara klinis. dan tidak terikat dengan reseptor muskarinik kolinergik. imipramin. dan tuberoinfundibulum. Tidak seperti APG-II lainnya. memperlihatkan afinitas yang sama dengan komponen induknya di reseptor D2 dan tidak terlihat adanya perbedaan profil farmakologi yang bermakna secara klinik. 2002b) Metabolisme quetiapin terganggu (minimal) pada ODS dengan gangguan ginjal dan cukup bermakna pada ODS dengan penyakit hepar. (Potkin SG et al. haloperidol. 2022) Agonis parsial merujuk kepada kemampuan untuk menghambat reseptor bila reseptor tersebut terstimulasi berlebihan dan mampu merangsang reseptor bila diperlukan peningkatan aktivitas reseptor tersebut. Secara farmakologik. tinobenzodiazepin. Marder SR. bila obat tersebut diberikan secara bersamaan. nigrostriatum. (vanKammen DP. farmakokinetik quetiapin tidak terpengaruh secara bermakna.. Karena skizofrenia dengan gejala positif dikaitkan dengan peningkatan aktivitas dopamin. Aripiprazol Sebagai Stabilisator Sistem Dopamin-Serotonin Agonis parsial D2 berkompetisi pada reseptor D2 untuk dopamin endogen sehingga terjadi pengurangan aktivitas fungsi dopamin.adrenergik.. 5-HT7.. Keunikannya ini menyebabkan aripiprazol disebut juga dengan antipsikotika generasi ketiga atau stabilisator sistem serotonin-dopamin. Potkin SG et al. dan 5-HT1A serta antagonis 5-HT2A. Ia merupakan antipsikotika dihidroquinolinon. Ia juga mempunyai afinitas yang tinggi pada reseptor D3. Secara kimia. histaminergik (H1). (Grunder G et al. aripiprazol bekerja dengan menyetabilkan reseptor atau memodulasi tempat pengikatan. D3. Aripiprazol merupakan agonis parsial dopamin pertama yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) sebagai antipsikotika yang efektif untuk mengobati skizofrenia. Metabolit aktifnya. Apabila terjadi suplai dopamin yang Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 41 . 2005b) Aripiprazol Aripiprazol merupakan antipsikotika baru yang memiliki profil farmakologi unik. 2002a. 5-HT2c. Rokok tidak memengaruhi metabolisme quetiapin. antara quetiapin dengan sodium divalproat. ia tidak berhubungan dengan fenotiazin. ia juga dikaitkan dengan kurangnya dampak yang berhubungan dengan antagonis D2 di mesokortek. mengurangi gejala positif dengan menghambat reseptor D2. dan serotonin reuptake site (SERT). mekanisme kerjanya baru. pengurangan aktivitas tersebut dapat meredakan gejala. dan antipsikotika lainnya. Profil Farmakologi Aripiprazol merupakan agonis parsial kuat pada D2. dehidro-aripiprazol.

Aripiprazol juga bekerja sebagai agonis parsial pada reseptor serotonin 5-HT1A dan antagonis pada reseptor 5-HT2A. 2005b) Farmakokinetik dan Disposisi Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet. Antagonis pada reseptor 5-HT2A dapat memperbaiki gejala negatif. Aripiprazol terdistribusi di luar sistem vaskuler.15 mg dan diberikan sekali sehari. gejala ekstrapiramidal tidak ditemukan. cairan dan injeksi. aripiprazol diserap dengan baik dengan konsentrasi puncak plasma terjadi dalam waktu 3-5 jam. 2002) Sebuah penelitian yang menggunakan positron emission tomography (PET) melaporkan bahwa setelah 14 hari pemberian aripiprazol. aripiprazol dan metabolit utamanya.. 42 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Bioavailabilitasnya adalah 87%. 2002) Bila transmisi dopamin berkurang. Dosis awal yang direkomendasikan yaitu antara 10 . Waktu paruh eliminasi aripiprazol dan metabolitnya adalah 47 jam dan 94 jam (untuk metabolit aktifnya yaitu dehidro- aripiprazol). Setelah pemberian oral. terbentuk sinyal yang stabil yang hampir mendekati fungsi fisiologi normal sehingga terjadi pengurangan gejala psikotik. Marder SR. (Byars A et al. Hambatannya pada reseptor a1-adrenergik dikaitkan dengan hipotensi ortostatik. terlihat okupansi reseptor D2 sekitar 40%-95%. aripiprazol mampu meningkatkan aktivitas transmisi tersebut melalui peningkatan aktivitas intrinsiknya. Mekanisme kerja yang unik ini dikaitkan dengan kemampuannya mengobati gejala negatif yang diduga disebabkan oleh hipodopaminergik. Kisaran dosis yaitu antara 10-30 mg/hari. Akibatnya. terutama dengan albumin. Karena kemungkinan ada rasa mual. (Millan MJ. Di dalam plasma. Terapi Biologik berlebihan (muncul gejala positif). Hal ini menunjukkan bahwa teori tersebut hanya berlaku untuk obat dengan antagonis sempurna. dan akatisia.5-30 mg per hari. terikat dengan protein lebih dari 99%. dianjurkan untuk memberikan dosis awal lebih rendah. akibat penggunaan aripiprazol dosis tinggi. Aripiprazol tidak terpengaruh oleh makanan. apabila okupansi D2 reseptor lebih dari 70%-80%. Teori sebelumnya menyatakan bahwa EPS akan muncul. 2000) Aripiprazol memiliki afinitas sangat rendah terhadap histamin (H1) dan muskarinik (M1). (vanKammen DP. Waktu pencapaian stabilnya obat dalam plasma (steady state) adalah setelah hari ke-14. (Yokoi F et al. Agonis parsial pada reseptor 5-HT1A diketahui memberikan efek anksiolitik. bukan untuk aripiprazol yang bersifat agonis parsial. Meskipun okupansi reseptor D2 di striatal lebih dari 90%. dosis 0. aripiprazol akan mengikat reseptor dopamin tersebut dan kemudian meredakan stimulasinya.. dehidro-aripiprazol. Beberapa klinikus mengatakan bahwa dosis awal 5 mg dapat meningkatkan tolerabilitas. insomnia.

2C9. antagonis H2. aripiprazol juga tidak berpotensi untuk memengaruhi obat-obat yang dimetabolisme oleh CYP1A2. dan CYP2C19 (omeprazol). ketokonazol) atau menghambat CYP2D6 (misalnya. Aripiprazol tidak melakukan glukoronidasi langsung dan bukan substrat untuk enzim sitokrom P450: 1A1. (McGavin JK and Goa KL. Walaupun demikian. quinidin. aripiprazol 10-30 mg juga tidak mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap obat yang dimetabolisme oleh CYP2D6 (dekstrometorfan). Ada dua enzim sitokrom hepar yaitu P450. Pada penggunaan aripiprazol. Sebaliknya. CYP2C9 (warfarin). penghambat asam lambung poten. status fungsi hepar dan ginjal ODS. steady state Cmax dan AUC aripiprazol berkurang 25%. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 43 . dan kemudian memperpanjang waktu dan menurunkan jumlah absorbsi. ras. merokok. 2A6. Aripiprazol yang tidak diubah diekskresikan melalui urin sebanyak 1% dan 18% melalui feses. tidak diperlukan. dan paroksetin) dapat menghambat eliminasi aripiprazol sehingga meningkatkan kadar plasma aripiprazol. ada penelitian lain yang memperlihatkan bahwa tidak ada pengaruh yang bermakna terhadap steady state aripiprazol. penyesuaian dosis terkait dengan umur. 2002) Obat-obat di bawah ini memerlukan penyesuaian dosis bila diberikan bersamaan dengan aripiprazol. misalnya karbamazepin. Valproat Apabila valproat dan aripiprazol diberikan bersamaan. dapat menurunkan solubilitas aripiprazol. Famotidin Pemberian aripiprazol bersamaan dengan famotidin. Aripiprazol tidak menyebabkan interaksi farmakokinetik yang bermakna secara klinik dengan obat-obat yang dimetabolisme oleh enzim P450 lainnya. Sekitar 25%-55% dapat ditemukan dalam urin dan feses. 2B6. dan 2E1. fluoksetin. Aripiprazol sedikit berpengaruh terhadap enzim hepar lainnya tetapi tidak memengaruhi metabolisme obat lainnya. 2D6 dan 3A4 yang mengkatalisasi dehidrogenasi aripiprazol menjadi dehidro-aripiprazol. bila ia diberikan bersamaan dengan valproat. 2C8. jender. 2C19.Terapi Biologik Aripiprazol dimetabolisme terutama di hepar. obat-obat yang menghambat CYP3A4 (misalnya. Pada penelitian in vivo. 1A2. Interaksi Obat Obat-obat yang menginduksi CYP3A4. Selain itu. dapat meningkatkan klirens aripiprazol sehingga menurunkan kadar plasmanya.

2005b) Sebuah penelitian yang dilakukan selama 52 minggu. rata- rata 0. peningkatan kadar prolaktin juga tidak dijumpai. pemberiannya bersamaan dengan aripiprazol tidak memengaruhi farmakokinetik aripiprazol atau metabolit aktifnya. (vanKammen DP. ansietas. 2005b) Efek Samping Sebuah penelitian jangka pendek.. Aripiprazol tidak menyebabkan perubahan interval QTc. Tidak ada laporan mengenai kejadian sindroma neuroleptik malignansi akibat aripiprazol. Terjadinya kejang pernah dilaporkan. (McQuade R et al.9 kg selama penelitian tersebut sedangkan olanzapin meningkatkan berat badan sebanyak 3. Insomnia yang terjadi biasanya bersifat sementara dan hilang dengan penambahan sedatif-hipnotik. Tidak ada peningkatan berat badan dan diabetes melitus pada penggunaan aripiprazol. plasebo-kontrol.6 kg. dan mual merupakan kejadian yang tidak diinginkan yang dilaporkan secara spontan oleh kelompok yang mendapat aripiprazol. aripiprazol tidak menyebabkan peningkatan kadar prolaktin. Selain itu.. (McQuade R et al. dan omeprazol. Insomnia dapat pula ditemui. Berbeda dengan haloperidol dan risperidon. dan haloperidol menimbulkan peningkatan kadar kolesterol. Obat yang tidak memerlukan penyesuaian dosis aripiprazol adalah litium. menunjukkan bahwa terdapat penambahan berat badan minimal pada kelompok yang mendapat aripiprazol yang ketika awal terapi mempunyai body mass index (BMI) < 23. (vanKammen DP. 2002a) Akatisia dapat terjadi dan kadang-kadang dapat sangat mengganggu ODS sehingga sering mengakibatkan penghentian pengobatan. (Saha A. melaporkan bahwa tidak ada perbedaan insidensi berhentinya dari pengobatan akibat kejadian yang tidak diinginkan (adverse event) antara kelompok yang mendapat aripiprazol (7%) dengan yang mendapat plasebo (9%). agitasi. serta diekskresikan dalam bentuk utuh di urin. Marder SR. Sakit kepala. 2001) 44 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . risperidon. Aripiprazol dapat menurunkan kadar rata-rata kolesterol secara signifikan sedangkan olanzapin. 2002b) Penelitian lainnya. pada awal terapi > 27. warfarin. ODS yang sudah stabil dan kemudian obatnya diganti dengan aripiprazol melaporkan terjadinya insomnia. menunjukkan bahwa aripiprazol dikaitkan dengan penurunan berat badan. mengantuk. Marder SR. Pemberian litium bersamaan dengan aripiprazol tidak memengaruhi konsentrasi aripiprazol. Terapi Biologik Antihipertensi Kombinasi aripiprazol dengan obat-obat antihipertensi dapat menimbulkan hipotensi. Litium tidak dimetabolisme dan tidak terikat dengan protein. Efek samping ekstrapiramidalnya tidak berbeda secara bermakna dengan plasebo. Oleh karena itu. dispepsia. membandingkan aripiprazol dengan haloperidol. dekstrometorfan. dilakukan selama 26 minggu. mengalami pengurangan berat badan. membandingkan aripiprazol dengan olanzapin. sedangkan ODS yang BMI-nya.

Oleh karena itu. Marder SR. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 45 . dalam respon klinis (> 20% perbaikan psikopatologi global). Tidak ada perbedaan perbaikan psikopatologi global. atau kondisi yang berpotensi terjadinya hipotensi (hipovolum. Sebuah penelitian lainnya menunjukkan bahwa aripirazol lebih efektif bila dibandingakn dengan haloperidol. dan memakai antihipertensi) sebaiknya dihindari. Seperti antipsikotika lainnya. terkait dengan perbaikan gejala parkinsonisme) tetapi bukan akibat efek langsung pada gejala negatif primer. dan abnormalitas konduksi jantung. 2005b) Pada Lanjut Usia Keamanan dan efikasi aripiprazol pada ODS psikotik usia lanjut dan demensia dengan gangguan perilaku belum pernah diteliti. Kehati-hatian perlu sekali dilakukan karena dapat menyebabkan terjadinya hipotensi ortostatik. Ada dugaan bahwa perbaikan gejala negatif dengan aripiprazol lebih disebabkan oleh perbaikan gejala negatif sekunder (misalnya. (vanKammen DP. respons klinis. kesulitan menelan. gagal jantung. serta penyakit serebrovaskuler. Efikasi Aripiprazol pada Skizofrenia Beberapa uji klinis. mengantuk berlebihan. yang semuanya ini dapat mempredisposisi terjadinya kecelakaan atau aspirasi. memperlihatkan efektivitas aripiprazol pada fase akut skizofrenia. Oleh karena itu. Karena aripiprazol bekerja sebagai antagonis reseptor a1-adrenergik. aripiprazol sebaiknya tidak digunakan pada ODS dengan riwayat kejang atau kondisi-kondisi yang menurunkan ambang kejang (misalnya. membandingkan aripiprazol dengan plasebo dan dengan APG-I. ODS-ODS dengan kelainan jantung tidak diikutsertakan dalam penelitian-penelitian aripiprazol. penggunaan aripiprazol pada ODS dengan riwayat infark jantung. mengendarai mobil dan mengoperasikan mesin- mesin yang berbahaya. hipotensi ortostatik dapat terjadi. Perbaikan pada gejala negatif tidak konsisten. dehidrasi. tidak ada penelitian pada wanita hamil dan menyusui sehingga penggunaan aripiprazol pada ODS yang hamil dan menyusui tidak dianjurkan. aripiprazol mempunyai potensi untuk memengaruhi ketrampilan motorik. Perbaikan pada psikopatologi global. sebaiknya berhati-hati.1% (1/926) ODS yang diobati dengan aripiprazol jangka pendek. gejala positif dan negatif antara penggunaan haloperidol atau klorpromazin dengan penggunaan aripiprazol. Oleh karena itu. Selain itu.Terapi Biologik Kontraindikasi Aripiprazol dikontraindikasikan terhadap ODS-ODS yang diketahui hipersensitif terhadap obat aripiprazol. dan pada gejala positif lebih besar pada kelompok aripiprazol bila dibandingkan dengan plasebo. Kejang terjadi pada 0. demensia Alzheimer). jantung iskemik.

olanzapin. histamin 1(H1). hanya selektif terhadap D2-like. randomisasi. Dosisnya berkisar antara 5-30 mg/hari. dengan rasio D2 terhadap D1 yaitu 3:1. (Saha A. (vanKammen DP. dan D4. Proporsi ODS yang menyelesaikan penelitian hingga 52 minggu lebih besar pada kelompok yang mendapat aripiprazol (43%) bila dibandingkan dengan yang mendapatkan haloperidol (30%). haloperidol memblok D2-like lebih besar bila dibandingkan dengan D1-like (25:1). D4. muskarinik. yang disebutnya dengan olanzapin. Profil Farmakologik Penelitian in vitro dan penelitian preklinik menunjukkan bahwa olanzapin mempunyai khasiat antipsikotika yang signifikan dan efek samping EPS-nya rendah. pertama kali.5] benzodiazepine. 2005b) Struktur Olanzapin Olanzapin merupakan derivat tienobenzodiazepin dan secara kimia. D2. randomisasi. Kemiripannya dengan klozapin. Misalnya. D3. dilakukan selama 52 minggu. Sebuah uji klinis. dan a1. FDA memberikan persetujuan penggunaan olanzapin secara luas di dunia. serotonin 2 (5-HT2). Pada tahun 1997. buta-ganda terhadap ODS dengan eksaserbasi akut skizofrenia menuipinjukkan bahwa angka respon dan waktu berhentinya dari penelitian adalah lebih tingggi pada kelompok yang mendapat aripiprazol 30 mg/hari bila dibandingkan dengan yang mendapat haloperidol 10 mg/hari. dilakukan selama 26 minggu. Pada tahun 1995. secara parsial. Gejala-gejala skizofrenia dapat membaik dan efek samping ekstrapiramidalnya juga rendah. suatu komponen. dan D5. Reseptor yang termasuk ke dalam D2-like yaitu D2. Obat APG-I memblok D2-like lebih besar bila dibandingkan dengan D1-like. Terapi Biologik Aripiprazol juga efektif dalam mengurangi risiko kekambuhan.3-b][1. Rendahnya efek samping EPS disebabkan oleh ikatannya yang tidak selektif pada DA. sedangkan reseptor yang termasuk D1-like yaitu D1 dan D5.adrenergik. berdasarkan hasil beberapa penelitian. buta-ganda pada ODS dengan skizofrenia dalam fase sakut.7:1. Olanzapin. Olanzapin dapat mengobati skizofrenia. Klozapin terikat pada semua subtipe dopamin secara parsial dengan rasio D2 : D1 sama dengan 0. misalnya dopamin (DA). Rumus kimianya adalah 2-methyl -4. 2001) Olanzapin Pada tahun 1990. suatu dibenzodiazepin. 46 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . dipatenkan. Marder SR. Ikatan APG-I sangat selektif terhadap reseptor yang termasuk kelompok D2 (D2-like). D3. ia terkait dengan klozapin. Sebuah uji klinis lainnya. Ia terletak antara haloperidol dengan klozapin. digunakan untuk mengobati penderita skizofrenia. terlihat dari tingginya afinitas olanzapin terhadap beberapa reseptor neurotransmiter.(4-methyl -1 piperazinyl) -1 OH-thieno [2. memperlihatkan bahwa waktu terjadinya kekambuhan lebih panjang pada kelompok ODS yang diobati dengan aripiprazol (dosis 15 mg/hari) bila dibandingkan dengan yang mendapat plasebo (57%:34%). mirip dengan klozapin.

H2. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 47 . olanzapin hampir tidak mempunyai efek terhadap a2. (vanKammen DP. Nilainya lebih tinggi bila dibandingkan dengan obat-obat konvensional dan ini juga menjadi petunjuk suatu “atipik”. Konsentrasi puncak. 1996) Olanzapin berefek pula terhadap sistem lainnya. Efeknya pada A9 (nigrostriatal). Sekitar 40% dosis yang diberikan mengalami metabolisme cepat pertama dan tidak mencapai sirkulasi sistemik sehingga makanan sedikit sekali memengaruhi ketersediaan biologiknya. Kecenderungan olanzapin untuk menimbulkan katalepsi juga rendah. yang memediasi EPS. misalnya mempunyai afinitas kuat pada reseptor muskarinik M1-5 (berkontribusi pula sebagai anti-EPS). olanzapin dapat mengurangi perilaku yang aktif (memanjat- manjat) yang diinduksi oleh apomorfin dan mengantagonis hiperaktivitas yang diinduksi oleh stimulansia. yang bekerja mengantagonis N-methyl-D-aspartate (NMDA). merupakan bentuk lain untuk menilai efikasi atipik. atau reseptor benzodiazepin. Profil afinitasnya ini berbeda dengan APG-I dan komponen atipik lainnya.aderenergik. a1. dengan menghambat 5-HT2A. sangat kecil. Fensiklidin suatu anastesi disosiatif psikotogenik. Olanzapin melawan efek fensiklidin. Selain dengan dopamin. 2005b) Farmakokinetik dan Disposisi Olanzapin diabsorbsi dengan baik melalui pemberian oral. Marder SR. sama halnya dengan klozapin.adrenergik (berkontribusi dalam terjadinya hipotensi) dan histaminergik (berkontribusi dalam terjadinya sedasi dan penambahan berat badan). Sistem serotonin merupakan umpan balik negatif terhadap dopaminergik. Dengan kata lain. Oleh karena itu. Rasio dosis olanzapin yang dibutuhkan untuk menimbulkan katalepsi terhadap dosis yang dibutuhkan untuk menghambat penghindaran terkondisi. beberapa ODS. menghambat aktivitas neuron A10 secara signifikan tanpa menghambat traktus A9 secara bermakna. Efek farmakologik lainnya hampir sama dengan klozapin yaitu bekerja mengantagonis reseptor 5-HT2. (Bymaster F et al.Terapi Biologik Olanzapin memberikan efek antipsikotika dengan gejala EPS minimal adalah karena olanzapin bekerja lebih selektif pada traktus dopaminergik A10 (yang berjalan dari tegmentum ventral ke area mesolimbik). nikotinik. pemberian olanzapin secara kronik. afinitasnya terhadap reseptor 5-HT2A.. opioid. 2004) Dalam percobaan binatang. g-aminobutyric acid (GABA). Olanzapin. dalam praktik klinik.dan b adrenergik. Selain itu. dapat memperlihatkan efek samping antikolinergik yang signifikan. pada sebagian besar individu. dari penelitian klinis terlihat bahwa olanzapin juga berikatan dengan reseptor kolinergik muskarinik M1-M2. risiko EPS dapat dikurangi. sigma. serta terhadap 5-HT1 afinitasnya rendah. 5HT2C cukup tinggi dan terhadap reseptor 5-HT3 afinitasnya sedang. Katalepsi merupakan indikator untuk menilai kecenderungan terjadinya EPS. terjadi 4-6 jam setelah penggunaan. (Schulz SC et al. Olanzapin juga bersifat antagonis terhadap a1. Walaupun demikian. dan H1..

Waktu paruh pada usia lanjut yaitu 48 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Waktu paruh kedua metabolit utama (4’-N-desmethyl- olanzapine dan 10-N-glucoronide) adalah 92. Tablet terdesintegrasi secara oral dapat larut sempurna dalam dua menit setelah diletakkan di lidah. terkait ensim 2D6. terutama dengan albumin dan a1-acid glycoprotein. Pada wanita. sekitar 93% olanzapin terikat dengan protein. Setelah satu dosis oral. 2005b) Klirens olanzapin menurun pada wanita dan orang tua. klirens olanzapin tidak berkaitan secara bermakna dengan rasio paraksantin-kafein (merupakan ukuran aktivitas enzim 1A2). berkaitan dengan klirens olanzapin. rerata klirens adalah 29. rata- rata konsentrasi plasma metabolit ini adalah 44% dan 30% dari konsentrasi olanzapin.4L/jam. Penelitian in vitro menunjukkan bahwa olanzapin merupakan substrat intermediet P-glycoprotein. Rerata konsentrasi puncak olanzapin. 1999) Klirens pada usia lanjut adalah 30% lebih rendah bila dibandingkan dengan usia muda. Enzim sitokrom P450 1A2 merupakan enzim yang berperan dalam pembentukan 4’-N- desmethyl-olanzapine. dosis 12. selama satu minggu. (Kelly DL et al. 2002) Olanzapin dimetabolisme menjadi beberapa metabolit.6 jam dengan AUC0-24 adalah 57hg*jam/mL dan 112 hg*jam/mL. Marder SR.5 mg/hari. sekitar 57% ditemukan dalam urin dan 30% dalam feses.5 mg/ hari. Konsentrasinya tetap lebih tinggi setelah dosis dinaikkan menjadi 25 mg/ hari. Enzim flavin-containing monooxigenase-3 (FM0-3) berperan dalam pembentukan 4’-N-oxide olanzapine serta enzim sitokrom P450 2D6 berperan dalam pembentukan 2-hydroxymethyl olanzapine. Metabolit utamanya yaitu 10-N-glucoronide dan 4’-N-desmethyl-olanzapine. Parameter farmakokinetik olanzapin. (Chue P and Jones B. Peneliti lainnya juga melaporkan bahwa rerata waktu paruh olanzapin sekitar 30 jam dan rerata klirensnya adalah 25L/jam.5 mg. setelah pemberian satu minggu. olanzapin 12. Farmakokinetik olanzapin terlihat linier dalam kisaran dosis yang direkomendasikan. secara bermakna.6 jam dan 39. Terapi Biologik Ada dua formulasi oral yang tersedia saat ini yaitu tablet oral biasa dan tablet oral yang terdesintegrasi. Setelah pemberian jangka lama. dengan rerata konsentrasi plasma pada minggu ke-8 adalah 65 hg/mL pada wanita dan 35 hg/mL pada laki-laki. Metabolit lainnya yaitu 4’-N-oxide olanzapine dan 2-hydroxymethyl olanzapine. adalah dua kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan konsentrasi setelah dosis tunggal. dosis 7. adalah 18. Analisis lainnya menyatakan bahwa rasio metabolik plasma 4’-N-desmethyl- olanzapine terhadap olanzapin.. setelah delapan hari pemberian.3 hg/mL. lebih tinggi pada wanita bila dibandingkan dengan laki-laki (29 hg/mL : 19 hg/mL). klirens olanzapin adalah 25%-30% lebih rendah bila dibandingkan dengan laki-laki. Pada penelitian in vitro. pada 12 orang laki-laki (11 perokok). Sebuah penelitian juga memperlihatkan bahwa konsentrasi olanzapin. Rerata waktu paruh adalah 36 jam. tidak berbeda secara signifikan antara metaboliser yang baik (extensive metabolizer ) dengan yang buruk (poor metabolizer). Meskipun enzim 1A2 merupakan ensim metabolisme utama. (vanKammen DP. Konsentrasi steady-state olanzapin pada pemberian sekali sehari.

dan D4) dengan lokasi yang berbeda. (vanKammen DP. Kerjanya yang spesifik ini juga didukung oleh penelitian biologi molekuler yang menyatakan bahwa terdapat peningkatan ekspresi c-fos di regio spesifik di otak. memblok 5-HT2A lebih besar (95% atau lebih besar) bila dibandingkan dengan kemampuan memblok dopamin. misalnya area kaudatus.2 jam. 2004) Gangguan fungsi ginjal dan hati tidak memengaruhi disposisi olanzapin. Blokade dopamin. Olanzapin memiliki banyak persamaan dengan klozapin dalam hal struktur kimia dan kemampuan memblok reseptornya. Penelitian pada anak dan remaja (usia 10-18 tahun) memperlihatkan bahwa farmakokinetiknya sama dengan orang dewasa yang tidak merokok. Oleh karena itu. ada lima reseptor yang berbeda yang dikelompokkan ke dalam dua subtipe (D1 dan D5. 1996) Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 49 . Meskipun demikian. Masing-masing neurotransmiter memiliki berbagai reseptor. Sebuah penelitian yang membandingkan farmakokinetik olanzapin pada subjek dengan gangguan ginjal yang mendapat olanzapin satu jam sebelum hemodialisis dengan subjek gangguan ginjal yang mendapat olanzapin selama 48 jam di antara dialisis melaporkan bahwa tidak terdapat perbedaan farmakokinetik yang bermakna di antara kedua kelompok. Obat-obat antipsikotika bekerja pada regio-regio yang spesifik. serotonin dan histamin. Rerata klirens oral adalah 9. (Schulz SC et al. obat-obat APG-II.7 jam. pada semua kisaran dosis. konsentrasi olanzapin 10-N-glukoronida meningkat dalam urin penderita serosis. D2. Sebuah penelitian yang menggunakan positron emission tomography (PET) menunjukkan bahwa olanzapin. Kemampuannya dalam menghambat berbagai reseptor ini dikaitkan dengan peranannya yang signifikan sebagai antipsikotika. 2005b) Mekanisme Kerja Obat-obat yang lebih kuat menghambat reseptor dopamin dikategorikan sebagai APG-I sedangkan yang lebih kuat menghambat serotonin dikategorikan sebagai APG-II. tidak diperlukan. Marder SR.6L/jam dan rerata waktu paruh adalah 37. Olanzapin. merupakan kemampuan olanzapin sebagai antipsikotika. Data ini menunjukkan bahwa penyesuaian dosis olanzapin pada penderita dengan gagal ginjal. misalnya olanzapin dapat menurunkan gejala psikotik tanpa menyebabkan gangguan gerak. Olanzapin tidak terdeteksi di dalam cairan dialisis pada kelompok yang mendapat olanzapin satu jam sebelum hemodialisis. baik penelitian in vitro maupun in vivo. Sebuah penelitian melaporkan bahwa tidak terdapat perbedaan farmakokinetik yang bermakna antara individu dengan gangguan hepar dengan individu tanpa gangguan hepar. memiliki kemampuan memblok 5-HT2A lebih besar bila dibandingkan dengan reseptor DA.. (Robertson GS and Fibiger HC. D3.Terapi Biologik 50% lebih panjang. mungkin juga neurotansmiter lainnya. Untuk dopamin. Rerata Tmax (waktu yang dibutuhkan untuk mencapai konsentrasi plasma maksimum) adalah 4.

. Ada peneliti yang juga memperlihatkan peranan olanzapin pada glutamat yaitu penelitian pada tikus yang mempelajari tentang inhibisi prepulse. Teori ini didukung oleh efek psikotomimetik antagonis glutamat seperti fensiklidin dan ketamin. 2001) 50 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . menunjukkan bahwa obat itu memiliki potensi pada reseptor tersebut sehingga ia dapat mengurangi gejala psikosis tetapi aktivitas reseptor tersebut tetap dalam keadaan “fisiologis” karena cepat dilepaskannya. penemuan ini membuktikan bahwa terdapat manfaat olanzapin terhadap sistem glutaminergik. melaporkan bahwa kadar glutamat meningkat setelah penggantian dari APG-I ke olanzapin. suatu neurotransmiter eksitatori. Oleh karena itu. berperan pula dalam patofisiologi skizofrenia. Walaupun demikian. menimbulkan dugaan bahwa neurpeptida neurotensin berperanan pula pada skizofrenia. Sebuah penelitian lainnya yang melihat efek olanzapin terhadap kadar glutamat. kemampuannya memblok dopamin meningkat sehingga dapat menyebabkan terjadinya efek samping EPS. perbaikan gejala negatif dan fungsi kognitif dapat terlihat tetapi tidak terlihat terjadinya perbaikan gejala positif. Terapi Biologik Selain itu. Glutamat. Karena ada hubungan antara antagonis NMDA dengan inhibisi prepulse. pada dosis yang lebih tinggi (30 mg/hari).. Mekanisme kerja ini yang menyebabkan keberhasilan olanzapin mengatasi gejala psikotik tanpa adanya EPS pada dosis yang direkomendasikan. perubahahan kadar neurotensin otak ketika diberikan obat antipsikotika dan miripnya antara efek pemberian secara langsung neurotensin dengan efek antipsikotika. (Goff DC et al. (Goff DC et al. Pada kelompok yang menunjukkan peningkatan kadar plasma glutamat juga memperlihatkan peningkatan konsentrasi glutamat otak.. efek olanzapin pada neurotensin diduga juga penting pada skizofrenia. menggunakan magnetic resonance spectroscopy. 1995) Apabila glutamat diberikan kepada ODS skizofrenia. Efek ini sama dengan yang terlihat pada klozapin. Terdapat peningkatan mRNA neurotensin setelah pemberian olanzapin. (Binder EB et al. juga ada pendapat yang menyatakan bahwa keberhasilan dalam mengurangi gejala psikotik tanpa disertai efek samping ektrapiramidal dapat pula disebabkan oleh kecepatan lepasnya beberapa obat antipsikotika dari reseptor. Pola perubahan neurotensin yang terlihat dengan olanzapin berbeda dengan yang terlihat dengan haloperidol. Olanzapin dinyatakan dapat memperbaiki defisit inhibisi prepulse yang diinduksi oleh isolasi. 2002) Dekatnya hubungan anatomi antara neurotensin dengan sistem neurotransmiter lain yang terlibat pada skizofrenia. Inhibisi prepulse merupakan suatu ukuran gerbang sensormotorik yang dinyatakan terganggu pada penderita skizofrenia. Peningkatan tersebut disertai dengan perbaikan gejala psikotik. Obat-obat yang menghambat reseptor tetapi ia dengan cepat meninggalkan reseptor tersebut. Sebuah penelitian klinik memperlihatkan manfaat agonis glutaminergik (D-sikloserin) dalam pengobatan skizofrenia.

Terapi Biologik

Indikasi
Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA sebagai antipsikotika untuk skizofrenia,
skizoafektif, dan bipolar episodee manik dan campuran. Dasar pemberian persetujuan ini
adalah dari hasil-hasil penelitian olanzapin yang dilakukan. Penelitian awal menunjukkan
bahwa kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari. Mula-mula dosis yang
dianjurkan adalah 10 mg/hari, di malam hari. Kemudian, klinikus menggunakan dosis
lebih tinggi yaitu rata-rata 13 mg/hari. Di ruang perawatan, klinikus sering memberikan
olanzapin dengan dosis 5 mg di pagi hari dan 10 mg di malam hari. (vanKammen DP,
Marder SR, 2005b)

Efek Samping
Efek samping pada penggunan klinis tidak begitu berbeda dengan penelitian preklinis yang
dilakukan yaitu kurangnya efek samping neurologik, misalnya efek samping ekstrapiramidal
(EPS), distonia dan akatisia. Bahkan, pada kelompok-kelompok yang sensitif terhadap
antipsikotika, misalnya penyakit Parkinson, efek sampingnya juga rendah.

Pada penelitian obat, fase II dan III, kelompok yang mendapat olanzapin memperlihatkan
perbaikan EPS pada akhir penelitian bila dibandingkan dengan ketika mereka memasuki
penelitian (baseline). Sebagian besar penelitian tersebut menggunakan APG-I sebagai
kontrolnya. Efek samping neurologik lebih jarang pada kelompok yang mendapat olanzapin
bila dibandingkan dengan kelompok yang mendapat haloperidol. Misalnya, parkinsonisme
(14% : 38%) dan akatisia (12% : 40%). Rendahnya EPS dapat pula memprediksi
rendahnya tardive diskinesia. Pemberian antiparkinsonisme pada penelitian obat olanzapin
lebih rendah bila dibandingkan dengan penelitian obat risperidon (13%:32%). (Schulz SC
et al., 2004)

Efek samping yang sering ditemukan pada penggunaan olanzapin yaitu penambahan berat
badan. Penambahan berat badan dapat berkontribusi dalam ketidakpatuhan terhadap
antipsikotika sehingga dapat meningkatkan angka kekambuhan. Dengan penurunan efek
samping neurologik dengan obat-obat APG-II, sindrom metabolik muncul menjadi risiko
utama pada ODS yang menggunakan obat tersebut. Sindrom metabolik harus menjadi
perhatian khusus klinikus.

Sebuah penelitian meta-analisis yang menilai perubahan berat badan akibat pemberian
antipsikotika memperlihatkan bahwa klozapin dapat meningkatkan berat badan 4,45 kg,
olanzapin, 4,15 kg, risperidon 2,1 kg, haloperidol 1,08 kg, dan plasebo menurunkan berat
badan 0,74 kg. Rata-rata penelitian berlangsung lebih dari 10 minggu. Pada penelitian
jangka panjang, subjek yang berat badannya meningkat lebih dari 7% adalah 30%-50%.
Rendahnya berat badan sebelum mendapat terapi dan baiknya respons klinis terhadap
pemberian olanzapin dikaitkan dengan tingginya efek samping penambahan berat badan.

Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 51

Terapi Biologik

Perhatian yang lebih besar tentang penambahan berat badan yaitu pada anak-anak dan
remaja. Mereka akan terpapar dengan obat lebih lama dan mereka juga sangat memperhatikan
penampilan. Sebuah penelitian yang dilakukan selama 12 minggu melaporkan bahwa berat
badan remaja yang dirawat meningkat sebanyak 7,2 + 6,3 kg, dua kali peningkatan berat
badan yang terjadi pada kelompok yang mendapat risperidon. Peningkatan berat badan
yang ≥ 7% tersebut terdapat pada sekitar 90% remaja yang menggunakan olanzapin.
Penelitian lainnya juga melaporkan bahwa rerata penambahan berat badan pada remaja,
berusia kurang dari 18 tahun, menderita skizofrenia, menggunakan olanzapin lebih dari
18 minggu, adalah 6,5 kg. (Fidling RL et al., 2003)

Intoleransi glukosa, hiperglikemia, hiperlipidemia, ketoasidosis diabetik, sebagian besar
dikaitkan dengan klozapin dan olanzapin. Kasus-kasus yang dilaporkan ke FDA Drug
Surveillance System memperlihatkan bahwa awitan baru diabetes dan hiperglikemia yang
dikaitkan dengan olanzapin yaitu 78%. Sebanyak 35% dari yang menderita diabetes
tersebut mengalami ketosis atau asidosis. Sebanyak 8% kelompok mengalami ketoasidosis
tersebut meninggal. Sebagian besar kasus terjadi pada enam bulan awal pengobatan
dengan olanzapin. Beberapa kasus terjadi pada bulan pertama pengobatan.

Sebuah penelitian yang menggunakan data dasar yang cukup besar melaporkan bahwa
risiko terjadinya diabetes tipe-2, setelah penggunaan olanzapin dan klozapin, relatif tinggi
bila dibandingkan dengan penggunaan risperidon atau APG-I. Oleh karena itu, pemantauan
terjadinya diabetes tipe-2 harus dilakukan. (vanKammen DP, Marder SR, 2005b; Schulz
SC et al., 2004)

Sedasi sering terjadi pada awal pengobatan dengan olanzapin tetapi berkurang setelah
beberapa lama pengobatan. Insidensnya sekitar 15% dan kejadian ini sama dengan
haloperidol. Efek antikolinergik dapat terjadi selama pengobatan dan angkanya sedikit
lebih tinggi bila dibandingkan dengan plasebo dan tidak menyebabkan penghentian
pengobatan.

Peningkatan ringan enzim hati dapat pula terjadi tetapi biasanya stabil atau menurun
tanpa menjadi progresif atau menyebabkan disfungsi hepar. Peningkatan prolaktin dapat
pula terlihat selama pengobatan tetapi kadarnya sangat rendah bila dibandingkan dengan
risperidon atau APG-I. Konsentrasi prolaktin dapat melebihi kadar normal bila dosis obat
lebih dari 30 mg/hari.

Leukopenia sangat jarang. Angka kejadiannya sama dengan APG-I atau atipik lainnya.
Olanzapin tidak menimbulkan agranulositosis, bahkan pada ODS-ODS yang menderita
agranulositosis, ketika mereka menggunakan klozapin, membaik setelah diganti dengan
olanzapin. Tidak ada efek pemanjangan QTc, dan efek samping kardiovaskuler lainnya.
(vanKammen DP, Marder SR, 2005b)

52 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia

Terapi Biologik

Interaksi Obat
Olanzapin dimetabolisme terutama melalui glukoronidasi dan oksidasi oleh enzim sitokrom
P450 1A2. Obat-obat lain yang memengaruhi jalur metabolisme ini akan memengaruhi
farmakokinetik olanzapin. Obat-obat yang menghambat aktivitas ensim 1A2 menurunkan
klirens olanzapin sehingga meningkatkan konsentrasi plasma olanzapin.

Fluvoksamin, suatu inhibitor sitokrom P450 1A2, diketahui menghambat metabolisme
olanzapin. Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 10 orang laki-laki sehat, perokok,
menerima 11 hari fluvoksamin dengan dosis 50-100 mg, menunjukkan peningkatan
konsentrasi maksimum (Cmax) olanzapin sebanyak 84% dan peningkatan AUC0-2 sebanyak
119% bila dibandingkan dengan olanzapin ditambah plasebo. Klirens olanzapin menurun
sebanyak 50% dan volume distribusinya menurun sebanyak 45% dengan penambahan
fluvoksamin. Begitu pula dengan Cmax metabolit olanzapin (4’-N-desmethyl-olanzapine)
menurun 64% dan AUC0-24 turun sebanyak 77%. Tidak ada perubahan dalam waktu
paruh baik pada olanzapin maupun pada metabolitnya (4’-N-desmethyl-olanzapin). Hal
ini menunjukkan bahwa fluvoksamin menghambat metabolisme cepat pertama (first-pass
metabolism).

Fluoksetin dan imipramin tidak menghambat sitikrom P450 1A2. Ketika dikombinasikan
dengan olanzapin terlihat hanya sedikit perubahan farmakokinetik olanzapin. Kombinasi
olanzapin dengan fluoksetin menurunkan klirens olanzapin hanya sebanyak 15% dan
meningkatkan Cmax 18% dan tidak ada perubahan yang signifikan dalam waktu paruhnya
(18)
. Pemberian bersamaan dengan imipramin meningkatkan Cmax olanzapin sebanyak 14%.
(Callaghan JT et al., 1997)

Obat-obat yang menginduksi enzim P450 1A2 dapat meningkatkan klirens olanzapin
sehingga mengurangi kadar olanzapin dalam darah. Sebuah penelitian yang dilakukan
terhadap orang sehat, diberikan karbamazepin dengan dosis 2 x 200 mg/hari, selama 18
hari dan kemudian diberikan olanzapin 10 mg dosis tunggal memperlihatkan peningkatan
klirens yang signifikan (32.6 : 47,6 L/jam) dan juga volume distribusi (1,190 : 1,400L).
Di samping itu, juga terjadi penurunan Cmax yang sangat bermakna (11,7 : 8,8 mg/L).
Penghentian karbamazepin dikaitkan dengan peningkatan kembali konsentrasi olanzapin
sebanyak 114%. (vanKammen DP, Marder SR, 2005b)

Merokok juga dapat menginduksi enzim P450 1A2 sehingga dapat pula memengaruhi
disposisi olanzapin. Klirens olanzapin lebih tinggi pada perokok bila dibandingkan
dengan yang tidak perokok. Dalam penelitian in vitro, olanzapin tidak menghambat secara
signifikan aktivitas enzim sitokrom P450 1A2, 2D6, 2C9 atau 2C19. Pada penelitian in
vivo, olanzapin tidak memengaruhi disposisi aminofilin, diazepam, alkohol, imipramin,
warfarin, biperiden, dan litium. (Callaghan JT et al., 1999)

Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 53

2004) FASE STABILISASI Selama fase stabilisasi. Obat ini dapat mengurangi gejala psikosis tanpa menyebabkan efek samping gangguan anggota gerak. sebagai efek samping klozapin. klozapin kembali digunakan. Penurunan dosis atau penghentian pengobatan pada fase ini dapat menyebabkan kekambuhan. membuat perjanjian dengan klinikus di luar perawatan dapat dilakukan sebelum keluar dari rumah sakit. Penyesuaian untuk hidup di komunitas dapat difasilitasi melalui tujuan yang realistik tanpa tekanan untuk melakukan pekerjaan dan sosial pada tingkat yang lebih tinggi. Untuk ODS yang dirawat. Bila ODS memiliki perbaikan dengan obat tertentu. misalnya kepatuhan terhadap pengobatan dapat dimulai pada fase ini. Orang dengan skizofrenia memerlukan dukungan dalam menjalani kehidupan normalnya dan aktivitasnya dalam masyarakat. (Schulz SC et al. Edukasi tentang perjalanan dan luaran (outcome) penyakit. pemantauan yang ketat terhadap sistem hemopoetik. harus dilakukan. meningkatkan adaptasi ODS terhadap kehidupan dalam masyarakat. penelitian mengenai obat ini dihentikan. Akhirnya. Setelah mendapat persetujuan Food and Drug Administration (FDA). Selain itu. Penilaian efek samping yang sudah terlihat pada fase akut secara terus- menerus perlu dilakukan. semangat untuk mengembangkan APG-II mucul kembali. penelitian- penelitian dilakukan kembali dan disimpulkan bahwa klozapin dapat digunakan dengan syarat. baik di Eropa maupun di Amerika Serikat. efek samping dan perlunya kepatuhan terhadap obat.. Ketika terjadi kematian akibat agranulositosis. Harapan yang berlebihan dapat menjadi stresor dan meningkatkan risiko kekambuhan. dan meningkatkan proses penyembuhan. juga harus diberikan kepada keluarga. selama penggunaannya. penyesuaian farmakoterapi untuk mengurangi efek samping yang dapat menyebabkan ketidakpatuhan terhadap pengobatan dan kekambuhan perlu pula dipertimbangkan. Terapi Biologik Klozapin Penelitian APG-II pertama kali. Tujuan terapi selama fase stabilisasi adalah menyakinkan ODS bahwa gejala yang sudah terkontrol harus dipertahankan sehingga ODS bisa mempertahankan dan memperbaiki derajat fungsi dan kualitas hidupnya. 54 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . obat tersebut dapat dilanjutkan dan dipantau selama enam bulan. klozapin. Edukasi tentang manfaat obat. Tidak adanya jurang dalam pemberian pelayanan sangat penting karena ODS rentan terhadap kekambuhan setelah fase akut. dimulai pada akhir tahun 1960-an.15 Kemudian. memfasilitasi pengurangan gejala secara terus-menerus dan konsolidasi remisi. tujuan terapi adalah mengurangi stres pada ODS dan memberikan dukungan untuk mengurangi kekambuhan.

Klinikus dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala tertentu dan efek samping. Penggunaan Antipsikotika Pada Fase Stabil Setelah ODS mencapai fase stabil atau fase terapi rumatan. memantau dan mengurangi beratnya efek samping obat. kekambuhan dapat mencapai 90%. atau kurangnya efek samping. Perlu menjalin aliansi terapetik dengan ODS agar kepatuhan terhadap pengobatan meningkat. Penggunaan atipsikotika pada fase stabil dapat mengurangi risiko kekambuhan hingga 30% per tahun. Obat APG-II dapat digunakan pada dosis terapetik karena ia tidak akan menginduksi efek samping ekstrapiramidal. Kepatuhan terhadap obat yang digunakan sangat diperlukan. klinikus hendaklah berusaha menggunakan obat dengan dosis yang efek sampingnya minimal tetapi masih dalam kisaran dosis efektif obat yang bersangkutan. Dalam dua tahun. Meskipun demikian. perencanaan terapi jangka panjang untuk mengurangi risiko kekambuhan. Tanpa terapi rumatan. dosis yang lebih tinggi sering menyebabkan besarnya efek samping sehingga sering tidak dapat ditoleransi. Hal ini dapat disebabkan oleh tingginya kepatuhan. Penilaian Pada Fase Stabil Pemantauan yang terus-menerus dan penilaian selama fase stabil penting untuk menentukan manfaat obat yang didapat oleh ODS. serta baiknya fungsi. Dosis APG-I yang lebih rendah dikaitkan dengan perbaikan kepatuhan dan baiknya perasaan subjektif. Menentukan dosis efektif minimum yang dapat mencegah kekambuhan pada fase stabil memang agak sulit. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 55 . meminimalisasi risiko atau konsekuensi kekakambuhan dan mengoptimalkan fungsi dan proses kesembuhan (recovery). perlu dilakukan. Untuk sebagian besar ODS yang diobati dengan APG-I. Keuntungan menurunkan dosis menjadi “dosis efektif minimal” harus menjadi pertimbangan risiko kekambuhan dan sering terjadi eksasebasi skizofrenia. Saat ini terbukti bahwa obat-obat APG-II berpotensi mencegah kekambuhan. Tidak ada ketentuannya sampai saat ini. Dosis tinggi sering lebih efektif mengurangi kekambuhan bila dibandingkan dengan dosis rendah.Terapi Biologik FASE STABIL Terapi selama fase stabil bertujuan untuk mempertahankan remisi gejala atau untuk mengontrol. klinikus hendaklah menggunakan dosis dalam kisaran “ambang EPS” karena dosis yang lebih besr tidak lagi bermanfaat tetapi hanya akan meningkatkan risiko terjadinya efek samping yang tidak dapat ditoleransi. Oleh karena itu. Penilaian yang terus-menerus membuat ODS atau semua yang berinteraksi dengan ODS dapat memantau setiap perubahan gejala dan fungsi. sekitar 60%-70% ODS akan mengalami kekambuhan dalam satu tahun. baiknya efikasi.

(Chanpattana W. sekitar 80% mengalami kekambuhan setelah lima tahun dalam keadaan remisi. Obat APG-II yang ada saat ini dapat mengatasi gejala negatif. 2004) Terapi elektrokonvulsif (TEK) (Electroconvulsive Therapy / ECT) Walaupun obat-obat antipsikotika pilihan utama dalam mengobati pasien dengan skizofrenia. sebagian besar ODS tetap mengalami hendaya fungsi pekerjaan atau sosial karena adanya gejala negatif. endokrin dan kardiovaskuler. Antipsikotika bisa menyebabkan perbaikan yang substansial bahkan menyebabkan terjadinya remisi gejala positif. sekitar 50% ODS memperoleh sedikit keuntungan dari terapi obat APG-I. khususnya dalam keadaan katatonia. Namun. klozapin adalah obat terbaik untuk ODS yang resisten dengan pengobatan. dan gejala afektif. pada ODS yang pada awalnya berespon terhadap obat. Angka responsnya adalah sekitar 50%. penghentian harus berangsur-angsur (misalnya. Klinikus hendaklah mediskusikan dengan ODS risiko jangka panjang terapi rumatan obat yang sedang digunakan. Satuan Tugas (task force) American Psychiatric Association (APA) pada tahun 1990. perilaku yang berbahaya akibat kekambuhan. indikasi dan efikasinya pada ODS kurang jelas karena kurangnya penelitian berkualitas dalam hal ini. Namun. misalnya neurologik. Selain itu. Risiko kekambuhan sangat tinggi bila ODS tidak menggunakan antipsikotika. Penyebab gejala negatif residual hendaklah dievaluasi karena ia dapat disebabkan akibat sekunder sindrom parkinsonisme atau sindrom depresi mayor yang tidak diobati. 56 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Respon yang lebih baik diperoleh dari APG-II. (Lehman AF et al. Bahkan. Saran agar ODS kontrol secara teratur perlu pula disampaikan. 78% mengalami kekambuhan atau rekuren selama 2 hingga 12 tahun periode pemantauan walaupun mereka tetap menerima obat yang sama. dampak kekambuhan. Di antara obat-obat APG-II. Pemantauan efek samping ini harus dilakukan secara terus-menerus. atau yang ada riwayat berespon baik terhadap TEK. pekerjaan. Lebih jauh. metabolik. penurunan dosis sekitar 10% per bulan). Mempertahankan pengobatan yang terus-menerus dikaitkan dengan rendahnya kekambuhan. defisit kognitif. seksual. Terapi Biologik Ada berbagai efek samping APG-II. pada fase akut. 2007) Terapi elektrokonvulsif telah digunakan dalam penatalaksanaan skizofrenia sejak tahun 1938. ODS dengan episode pertama yang tidak menggunakan antipsikotika. misalnya efek kekambuhan terhadap fungsi sosial. gejala-gejala afektif yang menonjol. Bila ada keputusan untuk menghentikan pengobatan.. Klinikus hendaklah mengedukasi ODS dan keluarga mengenai tanda-tanda awal kekambuhan dan memberikan edukasi tindakan yang harus dilakukan bila gejala awal in terlihat. menyatakan bahwa ECT merupakan terapi yang efektif untuk eksaserbasi skizofrenia. risiko terjadinya resisten terhadap pengobatan perlu pula diinformasikan).

TEK tidak direkomendasikan untuk pasien skizofrenia tipe II. TEK bisa mengurangi perilaku antisosial yang muncul sebagai respons terhadap gejala psikotik tipe I yang mendasarinya ketika medikasi antipsikotik sendiri gagal mengatasi gejala-gejala psikotik Catatan: Skizofrenia tipe I = skizofrenia dengan gejala-gejala positif. dengan pengecualian adalah ketika gejala-gejala depresif yang nyata muncul dalam konteks suatu sindrom tipe II. a. Biasanya digunakan untuk ODS yang tidak berespon terhadap antipsikotika. Subkelompok spesifik. TEK efektif untuk ODS dalam situasi berikut: • Episode sekarang dengan awitan yang tiba-tiba atau tertunda. sangat sedikit konsensus tentang peran TEK dalam tatalaksana skizofrenia. khususnya ketika gejala-gejala psikotik dijumpai dalam hubungannya dengan gejala-gejala afektif dan/atau perubahan perilaku motorik c. United Kingdom’s National Institute for Clinical Excellence (NICE) memublikasikan pendapat yang berlawanan yaitu tidak mengizinkan penggunaan TEK untuk penatalaksanaan skizofrenia. Jadi. TEK efektif untuk skizofreniform dan gangguan skizoafektif c. • Skizofrenia tipe katatonik • Riwayat respons yang baik terhadap TEK b. Yang memiliki respons jelek terhadap dosis neuroleptik yang ekivalen dengan klorpromazin 500 mg/hari 3. Rekomendasi Satuan Tugas APA Tentang Penggunaan TEK a. Yang tidak mampu menoleransi dosis neuroleptik yang ekivalen dengan klorpromazin 500 mg/hari 2. Penggunaan TEK pada ODS tipe I adalah terbatas pada pasien: 1. Rekomendasi Komite Khusus Royal College of Psychiatrist Tentang Penggunaan TEK Pada Skizofrenia. b. TEK efektif untuk gangguan psikotik yang tidak ditentukan di tempat lain (not otherwise specified) Tabel 8. Tabel 7 di bawah ini memperlihatkan rekomendasi Satuan Tugas APA Tentang Penggunaan TEK sedangkan Tabel 8 adalah Rekomendasi Komite Khusus Royal College of Psychiatrist tentang TEK. Tabel 7. Skizofrenia tipe II = skizofrenia dengan gejala-gejala negatif Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 57 .Terapi Biologik Bukti ilmiah yang mendukung penggunaan TEK sangat terbatas. Belakangan ini. Penggunaannya sering dikombinasi dengan antipsikotika.

dan lamanya sakit. Enam puluh dua pasien dengan skizofrenia yang resisten terhadap pengobatan diacak untuk mengetahui manfaat TEK bilateral. Ada kelompok yang mendapat rangsangan hanya sedikit di atas batas serangan kejang. frekuensi rendah (1Hz) rTMS diaplikasikan di atas korteks temporoparietal kiri tidak cocok untuk penatalaksanaan waham.. dua kali batas serangan kejang atau empat kali batas serangan kejang. kedua kelompok sebanding umur. Teknik ini bersifat non-invasive yang mempengaruhi transmisi trans- sinaptik. 2005) Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS) Zaman dkk. Tidak ada perbedaan respons antara kelompok dengan dua kali batas serangan kejang dengan empat kali batas serangan kejang. masih belum jelas.. Terapi Biologik Terdapat empat penelitian yang membandingkan TEK unilateral dengan bilateral pada skizofrenia. Tidak ada penelitian yang melaporkan adanya perbedaan efikasinya pada kedua lokasi tersebut. Yang lainnya. khususnya di regio korteks otak sebagaimana sirkuit neuronal yang relevan. berhubungan dengan disfungsi korteks orbitofrontal bukan korteks temporoparieta. Hal ini penting secara klinik karena TEK sering digunakan ketika perbaikan yang cepat diperlukan pada pasien dengan eksaserbasi psikotik. jenis kelamin. secara umum memerlukan 6 hingga 12 sesi sedangkan ODS dan mania memerlukan sesi yang lebih banyak. Tidak ada konsensus yang dicapai terhadap jumlah maksimum TEK yang bisa diberikan kepada pasien dan tidak ada konsensus tentang indikasi untuk terapi rumatan. menunjukkan bahwa respon kelompok yang mendapat tiga kali per minggu lebih cepat. tidak diperlukan lagi sesi tambahan. Pasien dengan depresi. Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation telah digunakan untuk ODS sejak akhir tahun 1990-an. Apabila remisi sempurna telah dicapai. tidak seperti halusinasi pendengaran. (Prikryl R et al. pada tahun 2008 melaporkan bahwa Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS) merupakan teknik baru yaitu neurostimulasi otak yang bisa memperbaiki gejala skizofrenia. Waham. Hanya ada satu penelitian yang mengevaluasi frekuensi TEK yang diberikan dalam satu minggu. 2010) Tidak banyak penelitian yang melihat manfaat rTMS terhadap waham. Kelompok yang berada di batas serangan kejang memerlukan TEK lebih sering dan memerlukan hari yang lebih banyak untuk memenuhi kriteria respons. Menurut meta- analyses. (Prudic J.1 Jumlah sesi yang diperlukan bervariasi sesuai dengan individu. 58 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Dosis rangsangan yang lebih tinggi dapat mempercepat respon yang sebanding dengan yang dijumpai pada depresi mayor. Sebuah penelitian mengevaluasi dua puluh dua pasien yang menerima TEK dua kali per minggu dan dibandingkan dengan dua puluh satu pasien yang menerima TEK tiga kali per minggu. modulasi tidak langsung dari aktivitas neuronal. Teknik rTMS memberikan efek terapeutik yang poten untuk ODS dengan halusinasi pendengaran. Manfaat rTMS pada gejala negatif skizofrenia.

Walaupun dinyatakan bahwa rTMS bermanfaat seperti TEK atau beberapa penelitian rTMS menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam menurunkan halusinasi pendengaran. Terapi Biologik Hendaya gyrification dari korteks orbitofrontal. Penelitian tambahan diperlukan sebelum merekomendasikannya pada praktik klinik. (Lehman AF et al. Penemuan lain diawali dari Diffusion Tensor Imaging (DTI) menunjukkan penurunan massa putih (white matter) di korteks frontal yang berhubungan dengan hendaya memori kerja. khususnya yaitu berkurangnya volume girus orbito medial. rTMS belum mendapat persetujuan FDA sebagai terapi pada psikosis. 2004) Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 59 . sering dijumpai.. Hal tersebut berhubungan dengan gangguan kognitif formal. Perubahan serebelum dan massa putih parietal dikaitkan dengan waham.

CATATAN : 60 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia .

yaitu sebuah pendekatan yang melihat proses pemulihan sebagai sebuah perjalanan penyembuhan dan transformasi yang memampukan orang dengan masalah kesehatan jiwa untuk hidup secara bermakna di masyarakat berdasarkan pilihannya dan mencapai potensi yang dimilikinya. Berbagai studi membuktikan bahwa intervensi psikososial bermanfaat dalam menurunkan frekuensi kekambuhan. 2004) Dari sejak awal orang dengan Skizofrenia dan keluarga diajak bekerjasama menyusun rencana tatalaksana dan target pemulihan yang realistis dan mungkin dicapai.Intervensi Psikososial BAB IV INTERVENSI PSIKOSOSIAL Tatalaksana skizofrenia yang optimal seyogyanya merupakan keterpaduan antara intervensi medis dengan intervensi psikososial. memperbaiki kualitas hidup dan kehidupan berkeluarga. Berdasarkan tujuannya. Intervensi psikososial bisa dimulai sedini mungkin namun hendaknya disesuaikan dengan fase perjalanan penyakitnya. dengan melibatkan orang dengan Skizofrenia dan keluarganya sejak awal. Melalui intervensi psikososial. mengurangi kebutuhan rawat kembali di rumah sakit. mengurangi penderitaan akibat gejala-gejala penyakitnya. intervensi psikososial Menurunkan efek negatif dari perawatan Mengurangi dan menghilangkan konsekuensi serta dampak fisik dan perilaku akibat intervensi medik. meningkatkan kapasitas fungsional. Saat ini intervensi psikososial dikembangkan dengan mengadaptasi konsep dan pendekatan Recovery. orang dengan Skizofrenia dan keluarga diajak untuk memahami perjalanan penyakit. (SAMHSA. intervensi psikososial memiliki ruang lingkup sebagai berikut: Tabel 9. 1996) Tujuan Langkah-langkah Menurunkan gejala Memberikan terapi yang sesuai (farmako dan psikoterap). 1996). 1990 menyatakan bahwa intervensi psikososial adalah dukungan pada orang dengan penurunan fungsi akibat gangguan jiwa yang dialami sehingga mereka dapat menjalani kehidupan dan merasa puas dengan pilihannya untuk hidup di masyarakat dengan sedikit mungkin bantuan dari professional kesehatan. Anthony. Cohen. Intervensi psikososial adalah proses yang memfasilitasi kesempatan untuk individu meraih tingkat kemandiriannya secara optimal di komunitas (WHO. dan menyusun harapan yang lebih realistik untuk kehidupan dan masa depannya. perkembangan gejala. Intervensi Psikososial Berdasarkan Tujuan yang Akan Dicapai (WHO. Mencegah efek perawatan jangka panjang Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 61 . dan Farkas.

dan waktu luang) Pemberdayaan konsumer Meningkatkan autonomi konsumer dan keluarga Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. latihan keterampilan sosial dan keterampilan hidup dasar. Di tingkat individu. Sumber-sumber di masyarakat dan aspek legal 7. jaringan sosial. Di tingkat komunitas. jaringan dukungan sosial. Pelatihan Keterampilan Sosial 62 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . pekerjaan. Pendekatan psikososial diterapkan secara individual sesuai dengan kebutuhan spesifik dari masing masing orang. Intervensi Psikososial Tujuan Langkah-langkah Meningkatkan kompetensi sosial Meningkatkan kapasitas individu dalam keterampilan sosial. Keterampilan hidup dasar (kebersihan. koping psikologis. terdapat 8 area psikososial yang perlu dinilai yaitu: 1. perawatan diri) 5. Terapi kognitif perilaku (CBT) 4. Psikoedukasi 2. Kesehatan atau medical (konsistensi dalam pengobatan) 8. dan fungsi okupasi Menurunkan stigma dan diskriminasi Dukungan keluarga Untuk keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa Dukungan sosial Membangun dan memelihara dukungan terutama untuk kebutuhan dasar (rumah. Perumahan (lingkungan yang aman) Strategi untuk menyelenggarakan intervensi psikososial dapat diterapkan di tingkat individu maupun komunitas. Financial (budget) 6. dan pemanfaatan waktu luang. Psikiatrik (manajemen gejala) 2. rehabilitasi vokasional. perumahan. motivasi) 4. Intervensi psikososial juga harus berbasis bukti dan dilaksanakan oleh petugas yang terlatih. Intervensi psikososial berbasis bukti yang dianggap efektif untuk skizofrenia adalah: 1. Vokasional dan edukasional (keterampilan menyelesaikan masalah. dukungan psikologis bagi orang dengan skizofrenia dan keluarga. Sosial (hubungan dalam keluarga dan masyarakat) 3. Intervensi keluarga 3. intervensi yang dapat diberikan ditujukan untuk menggalang opini dan sikap yang lebih positif. strategi yang dapat dijalankan berupa penatalaksanaan farmakologis.

Terapi kognitif perilaku pada orang dengan skizofrenia skizofrenia lebih ditujukan untuk mengembangkan pemahaman orang dengan skizofrenia tentang gejala gejala penyakit dan mengajak orang dengan skizofrenia terlibat secara aktif untuk mengelolanya. memperbaiki komunikasi antar anggota keluarga. Intervensi keluarga meliputi edukasi keluarga. Intervensi keluarga hendaknya dimulai dengan penilaian terhadap relasi dan fungsi keluarga. peran orang dengan skizofrenia dan keluarga dalam pengobatan. Modalitas ini dikembangkan untuk meningkatkan keterampilan orang dengan skizofrenia dalam keterampilan bersosialisasi. Intervensi Keluarga Melibatkan keluarga dan pelaku rawat dari sejak awal perencanaan terapi sangat dianjurkan. menjalin relasi interpersonal. integrasi ke komunitas dan memperoleh keterampilan kerja. Telah dibuktikan oleh banyak penelitian bahwa keluarga dengan eskpresi emosi yang tinggi berisiko meningkatkan angka kekambuhan orang dengan skizofrenia skizofrenia. Dukungan kelompok sebaya Psikoedukasi Psikoedukasi bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang dengan skizofrenia dan keluarga tentang perjalanan penyakit. Psikoedukasi merupakan suatu rangkaian pembelajaran berkesinambungan seyogyanya mampu memberikan pengetahuan yang memadai bagi orang dengan skizofrenia dan keluarganya dalam menghadapi setiap tahap dari perjalanan penyakitnya. Mengembangkan strategi penyelesaian masalah (problem solving strategy) Rehabilitasi Meliputi terapi vokasional. reduksi stress dan membangun dukungan. pelatihan keterampilan sosial. Psikoedukasi juga bertujuan untuk memperkenalkan orang dengan skizofrenia dan keluarga terhadap perencanaan hidup yang lebih realistic dan mampu laksana. meningkatkan keterampilan koping dan penyelesaian masalah. Terapi vokasional 6. Intervensi Kognitif Perilaku Intervensi kognitif perilaku terbukti efektif untuk mengurangi penderitaan orang dengan skizofrenia akibat gejala gejala skizofrenia. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 63 . pengenalan gejala.Intervensi Psikososial 5. pengobatan (tujuan pengobatan. Pendekatan ini mengajarkan pada orang dengan skizofrenia untuk mengenali factor factor yang dapat mencetuskan gejala. manfaat dan efek samping). dan remediasi kognitif. melatihkan keterampilan meredakan ketegangan. Remediasi kognitif 7. melatih dan memperkuat keterampilan orang dengan skizofrenia dalam mengelola gejala. pengelolaan gejala.

tapi strategi manajemen praktis penyakit ada temuan yang menyebutkan bahwa untuk tujuan kepatuhan berobat dan psikoedukasi tidak meningkatkan mencegah relaps. Pelatihan Keterampilan Pelatihan Keterampilan Sosial harus Pelatihan Keterampilan Sosial B tersedia untuk orang dengan berhubungan dengan keluaran skizofrenia yang mengalami kesulitan simptom. memiliki aktivitas vokasional skizofrenia yang mampu bekerja. termasuk pekerjaan yang termasuk kerja sukarela. mengalami kesulitan dengan tugas dibanding layanan standar. Penting merumuskan Tujuan untuk Pendekatan Dukungan Kerja A pekerjaan yang kompetitif. harian. dan menghasilkan sukses yang lebih Program Dukungan Kerja nampaknya besar dalam meraih pekerjaan yang menawarkan pendekatan terbaik kompetitif untuk mencapai tujuan tadi. bisa menjadi hal yang positif atau transisi. Intervensi Psikososial Tabel 10. Kekuatan Bukti Ilmiah untuk Beberapa Intervensi Psikososial Rekomendasi Evidence Evidence Level Psikoedukasi Psikoedukasi sebuah intervensi Psikoedukasi dapat meningkatkan B penting yang mesti disertai pelatihan pengetahuan tentang penyakit. untuk kesehatan dan kualitas hidup. dukungan digaji. bermakna. fungsi sosial dan kualitas dan (atau) mengalami stres dan hidup yang lebih baik. 64 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . kepatuhan berobat kecuali disertai peningkatan motivasi dan strategi perilaku minum obat yang diresepkan Intervensi Vokasional Beragam kemungkinan mesti Individu skizofenia jarang yang B dipertimbangkan untuk orang dengan bekerja. dibanding kecemasan dalam melakukan layanan standar lainnya dan (atau) interaksi sosial intervensi lain seperti intervensi psikososial suportif dan terapi okupasi Pelatihan Keterampilan dalam format Pelatihan Keterampilan Hidup untuk B berbasis evidens harus tersedia untuk mencapai keluaran fungsi sosial dan orang dengan skizofrenia yang kualitas hidup yang lebih baik.

dukungan dan membangun keterampilan bukan hanya pemberian informasi atau berbagi pengetahuan. dan program edukasi masyarakat. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 65 . studi yang terkontrol. Intervensi Keluarga Intervensi Keluarga harus menjadi Orang dengan skizofrenia skizofrenia A bagian perawatan rutin orang dengan yang keluarganya mendapatkan skizofrenia skizofrenia. Program Psikoedukasi Keluarga harus B berlangsung lebih dari 9 bulan dan memasukkan materi mengeratkan hubungan (engagement). psikoedukasi memperlihatkan reduksi angka rawat inap dan reduksi atau perlambatan relaps gejala. Bantu-Diri dan B Penyembuhan Kampanye antistigma lokal harus Strategi untuk melawan stigma sosial C menyertakan kontak dengan orang dan diskrimasi terhadap gangguan dengan skizofrenia mental paling efektif ketika edukasi publik mengikutsertakan kontak dengan orang dengan skizofrenia yang bercerita tentang kisah mereka. Layanan penyedia rekan sebaya harus Layanan penyedia rekan sebaya B diikutkan dalam kontinuum perawatan.Intervensi Psikososial Rekomendasi Evidence Evidence Level Intervensi Kognitif Perilaku Baiknya ditawarkan pada orang Studi RCT telah memperlihatkan B dengan skizofrenia yang resisten manfaat CBT untuk orang dengan terhadap terapi skizofrenia skizofrenia resisten terapi. dukungan sebaya. berperan sebagai model-peran dan termasuk peran pelanggan (consumer) berbagi pengalaman namun belum dalam pelatihan keterampilan diteliti secara adekuat dalam desain berbasis-kelompok. Dukungan Sebaya.

(Coldham EL et al. perlu dilakukan beberapa adaptasi teknik ini Intervensi psikososial. toleran. hubungan yang bersifat suportif dengan klinikus dan tim yang memberi layanan perawatan. Fase akut juga merupakan waktu yang baik bagi klinikus untuk membina hubungan dengan keluarga atau pengasuh ODS. Pada fase ini sebaiknya pendekatan psikososial melalui komunikasi yang sederhana. ansietas dan depresi pada orang dengan skizofrenia skizofrenia dengan skizofrenia skizofrenia. menyediakan lingkungan yang nyaman. Model komunikasi lebih bersifat langsung (directive). memberikan dukungan atau harapan. Edukasi mengenai kiat mengatasi stresor akibat perilaku ODS yang berbahaya perlu dilakukan. ansietas dan B dipertimbangkan dalam tatalaksana depresi terjadi pada beberapa orang stres. Selain itu.. perlu dilakukan. 1998 Intervensi Psikososial sesuai fase perjalanan penyakit Fase Akut Intervensi psikososial pada fase akut bertujuan untuk mengurangi stimulus yang berlebihan. pemberian informasi kepada ODS dan keluarga mengenai penyakit dan tatalaksana yang akan diberikan harus disesuaikan dengan kemampuan ODS dan keluarga dalam menyerap informasi. jelas dan efektif. 2002) 66 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . tidak menuntut. memberi penjelasan singkat kepada keluarga dan orang dengan skizofrenia tentang penyakit dan gejala serta tujuan pengobatan. Intervensi Psikososial Rekomendasi Evidence Evidence Level Terapi Gejala Komorbid Intervensi Kognitif Perilaku harus Gejala penderitaan. dengan skizofrenia skizofrenia Sumber: Scottish Intercollegiate Guidelines Network. ansietas dan depresi pada orang dengan skizofrenia skizofrenia Penyalahgunaan Zat B Program terintegrasi untuk Gangguan Intervensi optimal terapi integrative penyalahgunaan Zat pada saat yang untuk psikosis dan penyalahgunaan sama harus tersedia untuk orang zat dalam sebuah program tunggal. Memberikan ketenangan kepada ODS atau mengurangi keterjagaan (arousal) melalui komunikasi yang baik. khususnya B intervensi kognitif-perilaku yang dipakai di populasi lain dapat mereduksi gejala stres. Mengajak orang dengan skizofrenia dan keluarga untuk bisa berkolaborasi dalam proses terapi. stresor lingkungan dan peristiwa-peristiwa kehidupan.

Pada fase ini orang dengan skizofrenia dan keluarga juga diajarkan mengenali dan mengelola gejala prodromal. mengajak orang dengan skizofrenia untuk mengenali gejala-gejala. Teknik intervensi perilaku bermanfaat untuk diterapkan pada fase ini. sehingga mereka mampu mencegah kekambuhan berikutnya Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 67 . Sifat pendekatan lebih luwes. pelatihan keterampilan sosial. melatihkan cara mengelola gejala. melatihkan kemampuan merawat diri. Modalitas rehabilitasi spesifik seperti terapi remediasi kognitif. cocok untuk diterapkan pada fase ini. mengembangkan kepatuhan menjalani pengobatan. Fase Stabil/Pemeliharaan Pada fase ini intervensi psikososial bervariasi tergantung pada status fungsional dari masing-masing orang dengan skizofrenia. dan terapi vokasional.Intervensi Psikososial Fase Stabilisasi Pada fase ini pendekatan psikososial ditujukan untuk meningkatkan keterampilan orang dengan skizofrenia dan keluarga dalam mengelola gejala. Tujuan dari intervensi psikososial pada fase adalah untuk mempersiapkan orang dengan skizofrenia kembali pada kehidupan bermasyarakat.

pengobatan. A Program tersebut harus mencakup: • Program pendidikan • Analisis relasi dan keberfungsian keluarga • Sesi keluarga untuk membahas masalah FASE STABIL yang teridentifikasi • Kelompok pendukung bagi keluarga A Program intervensi harus dilakukan oleh profesional kesehatan terlatih. penyebab. INTERVENSI KELUARGA A Program Intervensi Keluarga harus diimplementasikan pada kasus yang tepat setelah mengadakan penilaian. B Keluarga dan pelaku rawat hendaknya dilibatkan sejak awal (dengan persetujuan pasien). dan layanan. TERAPI KOGNITIF PERILAKU A Terapi Kognitif Perilaku hendaknya idpertimbangkan untuk gejala psikosis yang menimbulkan distres dan resisten terhadap pengobatan konvensional. Intervensi psikososial untuk ketiga fase skizofrenia. 68 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Intervensi Psikososial INFORMASI DAN PENDIDIKAN B Informasi untuk keluarga dan pelaku rawat FASE AKUT tentang skizofrenia. B Program pendidikan bagi pasien yang FASE STABILISASI memberikan informasi tentang penyakit dan keuntungan dan efek samping pemberian obat. C Rencana perawatan hendaknya mencantumkan semua aspek perawatan yang akan diberikan. termasuk kelompok pendukung. 1998 Gambar 5. REKOMENDASI UMUM C Pengobatan untuk ODS memerlukan pendekatan multidisiplin yang terkoordinasi. perjalanan. Sumber: Scottish Intercollegiate Guidelines Network. A Informasi harus diberikan oleh profesional kesehatan yang berpengalaman. C Harus berhati-hati dan menghindari intervensi yang menimbulkan stres berlebihan yang dapat menyebabkan perburukan gejala psikotik.

Falcone JF (1996). randomized. Republik Indonesia (2008) Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007: Laporan Nasional 2007. Cerimele BJ. Electroconvulsive therapy for schizophrenia. Tottori K. Current Psychiatry Reviews 3:15-24. Quetiapine: a review of its use in schizophrenia. Farkas M (1990) Psychiatric Rehabilitation. Kikuchi T. J Clin Pharmacol 37:978-997. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 69 . Wright P (2002). A double-blind. Chanpattana W (2007). Sutton V. Calligaro DO. Breier A. Ziprasidone and haloperidol in the treatment of acute exacerbation of schizophrenia and schizoaffective disorder: comparison of intramuscular and oral formulations in a 6-week. Palmer R. Biol Psychiatry 50:856-872. Anthony W. CNS Drugs 18(3):173-199. Drug-induced dystonia in young and elderly patients. Burris K. de Baptista EA (2002). Alexopoulos GS (1988). Callaghan JT. Callaghan JT. Binder EB. Kassahun KJ (1997). management and research perspectives. Psychopharmacology 188:281-292. Meehan K. Iwamoto T (2006). Center for Psychiatric Rehabilitation. Owens MJ (2001). Bergstorm RF. Byars A. Jakarta. Arch Gen Psychiatry 59:441-448. Beaulieu S. Olanzapine: pharmacokinetic and pharmacodinamic profile. Cheer SM. Brook S. Benattia I. 1st Ed. Romano SJ (2005). Carson HW. Marcus R. Birkett M. Wagstaff AJ (2001). Clin Pharmacokinet 37:177-193. Bymaster F. Stock E. Andrezina R. Intramuscular aripiprazole for the treatment of acute agitation in patients with schizophrenia or schizoaffective disorder: a double blind. Cohen M. Jossiasen R. Obesity and related metabolic abnormalities during antipsychotic drug administration: mechanisms. David S. Baptista T. Ferchland I. Psychopharmacology 178:514-523. Radioreceptor binding profile of the atypical antipsychotic olanzapine. Jordan S. Manos G. Siu CO. Kinkead B. The role of neurotensin in the pathophysiology of schizophrenia and the mechanism of action of antipsychotics drugs. Ptak LR (1999). Walden J. McQuade R (2002). Desember 2008. Neuropsychopharmacology 14:87-96. Oren DA.Daftar Rujukan Daftar Rujukan Addonizio G. Brook S. Pharmacopsychiatry 35:205-219. blinded- assessment study. Taylor CC. Aripiprazole: A dopamine-serotonin system stabilizer. placebo-controlled dose-response comparison of intramuscular olanzapine and haloperidol in the treatment of acute agitation in schizophrenia. European Neuropsychopharmacology 12:S290- S291. Am J Psychiatry 145:869-871. Olanzapine: interaction study with imipramine. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan. Kin NM. placebo-controlled comparison with intramuscular haloperidol.

Mannaert E (2004). DC. Sydney. Long- acting injectable risperidone: efficacy and safety of the first long-acting atypical antipsychotic. Addington J. APA Practice Guideline for Treatment of Patients with Schizophrenia. London. Kelly DL. A prospective. London. Dose-finding trial of D. Hennen J. Nemeroff CB (Eds. Eur Arch Psychiatry Clin Neurosci 252:51. Grunder G. Jones B (2002). 8th Edition. Goff DC.Cycloserine added to neuroleptics for negative symptoms in schizophrenia. Frank AF. 2nd Ed. Youngstrom EA (2003). Risperidone. Coldham EL. Conley RR. New York. Baltimore. Lindenmayer JP. Fidling RL. Lippncott Williams & Wilkins. pp 22-29. The new NHS. Van Hove I. Acta Psychiatr Scand 106:286-290. Pharmacokinetics and tolerability of long-acting risperidone in schizophrenia. Eerdekens M. Nemerroff CB (2001). Washington. Schizophr Res 70:91-100. open label trial of olanzapine in adolescents with schizophrenia. Am J Psychiatry 152:1213- 1215. pp 1467- 1476. NHS Executive (1998). Kikuchi T (2002). Biol Psychiatry 51:493-497. DeVance CL. Medication adherence of individuals with a first episode psychosis. A national framework for assessing performance. Philadelphia. tolerability. Lyoo IK (2002) Modulation of brain and serum glutaminergic consentrations following a switch from conventional neuroleptics to olanzapine. Remmerie B. Tamminga CA (1999) Differential olanzapine plasma consentrations by sex in a fixed-dose study. Schizophrenia (2005). Dalam: Schatzberg AF. Sadock VA (Eds. Goff DC (2004). Lesem M. Erdekens M. Kane JM. Am J Psychiatry 160:1125-1132.) Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry. Clin Pharmacokinet 40(7):509-522. pp 495-505. Medori M. McNamara NK. Dalam: Sadock BJ. Somatic Treatment. Arch Gen Psychiatry 47:228- 236. Schizophr Res 40:101-104. The role of the therapeutic alliance in the treatment of schizophrenia: relationship to course and outcome. Manoach DS (1995). Tsai G. Can J Psychiatry 47:771-774. Aripiprazole: Pharmacology of a new antipsychotic. Tokyo. Addington D (2002). McGlashan TH. and acceptability of the orally disintegrating olanzapine tablet in patients with schizophrenia. American Psychiatric Association. Hongkong. Dissolution profile. Wetherby: Department of Health.) Textbook of Psychopharmacology. Marder SR. modern and dependable. Keth SJ. Clinical pharmacokinetics of quetiapine: an atypical antipsychotic. Department of Health. Perkins DO (2004). Lehman AF. Karcher K (2003). A Wollters Kluwer Company. Kane JM. Lieberman JA. Gunderson JG (1990). England. Treatment recommendations for patients with schizophrenia. 3rd Ed. Miller AL. Dixon LB. Boines Aires. Daftar Rujukan Chue P. Goff DC. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry 42:270-175. 70 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia . Kungel M.

McQuade R. Swingler D. Neuroendocrinol Lett 26 (4): 327-335. Munson E. New Harbinger Publications.Daftar Rujukan Marder SR. Act Nerv Super Rediviva 52(1):-41. McGavin JK. Sydney. Goa KL (2002). Kalali AH.) Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry. Iwamoto T. Dalam: Sadock BJ. Impact of comorbid personality disorder on violence in psychosis. Lippncott Williams & Wilkins. Rosenberg W. New York. Thyrum PT. Metaanalysis of the safety and tolerability profile of aripiprazole in schizophrenia. Ceskova E (2010). Sadock VA (Eds. Archibald D (2002b). Dopamine Receptor Antagonists (Typical Antipsychotics). 6th ed. A Wollters Kluwer Company. J Pharmacol Exp Ther 295:853-861. CNS Drugs 16:779-786. Saha A. Pecenak J. Stock E (2002a). Neoborsky R. Fibiger HC (1996). Bera R. Depry D (1981). Prikrylova-Kucerova H. Millan MJ (2000) Improving the treatment of schizophrenia: focus on serotonin 5-HT1A receptors. Dalam: Sadock BJ. Philadelphia. Rapid treatment of acute psychotic symptoms with high-and low-dose haloperidol. Robertson GS. Straus S. Boines Aires. Baltimore. Moran P. McQuade R. Tokyo. Haynes R: Evidence based medicine: how to practice and teach EBM Second edition. A Wollters Kluwer Company. Tokyo. Archibald D. Aripiprazole. Richardson W. Thyrum PT. Ali M. Effects of olanzapine on regional c-fos expression in rate forebrain. Prikryl R. Yeh C (2002b). Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 71 . Eur Neuropsychopharmacology 1:S288-S289. Carson W. 8th Edition. Effect of fluoxetine and imipramine on the pharmacokinetics and tolerability of the antipsychotic quetiapine. Clin Ther 24:1809-1823. Alva G. London. Morh P. Edinburgh Churchill Livingstone. pp 2968-2984. Saha A. Antipsychotic Medications. Br J Psychiatry 182:129-134. Burns T. Fahy T (2003). Walsh E. Tyrer P. J Clin Psychhopharmacol 22(2):174-182. Ingenito G. Hongkong. Prudic J (2005). Sadock VA (Eds. Aripiprazole for long-term maintenance treatment of schizophrenia. Ustohal L. Arch Gen Psychiatry 38:195-199. Open- label study of the effect of combination quetiapine/lithium therapy on lithium pharmacokinetics and tolerability. Svestka J. Electroconvulsive therapy. Treuer T (2005). Hongkong. 8th Edition. Preston JD. Lippncott Williams & Wilkins. Treatment of acute agitation in psychotic disorders. Potkin SG. New York. Inc. Baltimore. Alva G (2002a). Creed F. Dalam: Handbook of Clinical Psychopharmacology for Therapists. pp 219-241. vanKammen DP (2005).) Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry. Potkin SG. Effects of sequential frontotemporal repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS) on schizophrenia. Eur Neuropsychopharmacology 295:853-861. pp 2817-2838. Neuropsychopharmacology 14:105-110. Sackett D. Boines Aires. Kaplita S. Talaga MC (2010). Janowsky D. O’Neal JH. London. Cermakkova I. 2000. Philadelphia. Carreon D. Sydney.

) Textbook of Psychopharamcology. World Health Organization (1996) Psychosocial Rehabilitation: A Consensus Statement. New York. Serotonin-Dopamine Antagonists (Atypical or Second- Generation Antipsychotics). WHO. Geneva. pp 457-472. Scottish Intercollegiate Guidelines Network (SIGN) (1998) Psychosocial Interventions in the Management of Schizophrenia: A National Clinical Guideline.implementationscience. Hongkong. Grunder G. U. Department of Health And Human Services (2004) Mental Health Recovery. Sadock VA. 8th. Marder SR (2005). Yokoi F. Green S (2008) Development of evidence-based clinical practice guidelines (CPGs): comparing approaches. http://www. Philadelphia. Placebo in patients with Schizophrenia and schizoaffective disorder. Olson S. 3rd Ed. pp 2914-2938. Dalam: Schatzberg A. Turner T. Turgay A (2003). Olanzapine. Sachs GS. Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA). vanKammen DP. A Wollters Kluwer Company. Misso M. Center for Mental Health Services http://www. Boines Aires. Diakses: 26 Juni 2011. Dopamine D2 and D3 receptor occupancy in normal humans treated with the antipsychotic drug aripiprazole: a study using positron emission tomography and [11C]raclopride. Emerg Med J 20:339-346.gov/cs/Satellite/CDHS-BehavioralHealth/ CBON/1251581615128. Biziere K (2002). Implementation Science 3:45. London. Inc. Harris C. Daftar Rujukan Saha A (2001) Efficacy and safety of Aripiprazole and Risperidone vs. Lippincott Williams & Wilkins. SIGN Publication Number 30. London.S. Edit. Sadock BJ. Yildiz A.colorado. Schulz SC. Sydney. Tokyo. 72 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia .com/content/3/1/45. Neuropsychopharmacology 27:248-259. Dalam: Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry. World J Biol Psychiatry 2(Suppl 1):305. Nemeroff CB (Eds. Pharmacological management of agitation in emergency setting. Baltimore. American Psychiatric Publishing. Kotlyar M (2004). Washington DC. England.

Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 73 . Seseorang dengan aleksitimia sangat sulit untuk mengungkapkan perasaannya. gerakan-gerakan sangat minimal. Afek mendatar Suatu hendaya afektif berat lebih berat dari afek menumpul. Anhedonia Suatu suasana perasaan yang diwarnai dengan kehilangan minat dan kesenangan terhadap berbagai aktivitas kehidupan. bermanifestasi sebagai gerakan yang lambat hingga keadaan tak bergerak dan kaku seperti patung. Afek menumpul Merupakan penurunan serius dari kemampuan ekspresi emosi yang tampak dari tatapan mata kosong. Misalnya seseorang yang menceritakan suasana duka cita tapi dengan wajah riang dan tertawa-tawa. sikap tubuh yang kaku. dan irama suara datar seperti “robot”. Afek labil Menggambarkan perubahan irama perasaan yang cepat dan tiba- tiba. tidak atau sangat sedikit memiliki penghayatan suasana perasaan. Ekspresi wajah datar. PERILAKU MOTORIK Stupor katatonia Penurunan aktivitas motorik secara ekstrem. GLOSARI EMOSI (MOOD DAN AFEK) Aleksitimia Suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk menghayati suasana perasaannya.Glosari LAMPIRAN A. Pada keadaan ini dapat dikatakan individu kehilangan kemampuan ekspresi emosi. Keadaan ini dapat dijumpai pada skizofrenia katatonik. Afek Tidak serasi Kondisi sebaliknya yakni ekspresi emosi yang tidak cocok dengan suasana yang dihayati. irama suara monoton dan bahasa tubuh yang sangat kurang. Individu dengan mood kosong nyaris kehilangan keterlibatan emosinya dengan kehidupan sekitarnya. yang tidak berhubungan dengan stimulus eksternal. Mood kosong Kehidupan emosi yang dangkal. Keadaan ini dapat dijumpai pada pasien skizofrenia kronis. pandangan mata kosong. Sering kali diungkapkan sebagai kedangkalan kehidupan emosi.

Glosari

Furor katatonia Suatu keadaan agitasi motorik yang ekstrem, kegaduhan motorik
tak bertujuan, tanpa motif yang jelas dan tidak dipengaruhi oleh
stimulus eksternal. Dapat ditemukan pada skizofrenia katatonik,
sering kali silih berganti dengan gejala stupor katatonik.
Fleksibilitas serea Keadaan sikap tubuh yang sedemikian rupa dapat diatur tanpa
perlawanan sehingga diistilahkan seluwes lilin.
Bradikinesia Perlambatan gerakan motorik yang biasa terjadi pada
parkinsonisme atau penyakit Parkinson. Individu memperlihatkan
gerakan yang kaku dan kehilangan respons spontan.
Katalepsi Keadaan mempertahankan sikap tubuh dalam posisi tertentu
dalam waktu lama.
Stereotipi dan Gerakan yang tidak bertujuan dan berkali-kali salah satu anggota
mannerism badan.
Negativism Menentang nasihat atau permintaan orang lain atau melakukan
hal yang berlawanan dengan itu.
Automatisme Menuruti sebuah perintah secara otomatis tanpa pikir terlebih
komando dahulu.
Echolalia Langsung mengulangi atau meniru apa yang dikatakan orang lain.
Ekhopraxia Langsung menirukan gerakan orang lain pada saat melihatnya.

PROSES PIKIR
Asosiasi longgar Gangguan arus pikir dengan ide-ide yang berpindah dari satu
subjek ke subjek lain yang tidak berhubungan sama sekali; dalam
bentuk yang lebih parah disebut inkoherensia.
Inkoherensia Pikiran yang secara umum tidak dapat kita mengerti, pikiran, atau
kata keluar bersama-sama tanpa hubungan yang logis atau tata
bahasa tertentu hasil disorganisasi pikir.
Sirkumstansial Pembicaraan yang tidak langsung sehingga lambat mencapai
point yang diharapkan, tetapi sering kali akhirnya mencapai point
atau tujuan yang diharapkan, sering diakibatkan keterpakuan
yang berlebihan pada detail dan petunjuk-petunjuk.
Tangensial Ketidakmampuan untuk mencapai tujuan secara langsung dan
sering kali pada akhirnya tidak mencapai point atau tujuan yang
diharapkan.
Asosiasi bunyi Mengucapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi.
(clang association)
Neologisme Membentuk kata-kata baru atau makna baru dari sebuah kata
yang tidak bisa dipahami secara umum.
Stereotipik verbal Pengulangan yang di luar konteks dari kata-kata, frasa, atau ide,
(perseverasi) berulang-ulang menceritakan sesuatu ide, pikiran, atau tema
secara berlebihan.

74 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia

Glosari

Terhambat (blocking) Jalan pikiran yang tiba-tiba berhenti atau terhenti di tengah
sebuah kalimat.
Mutisme Ketidakmampuan untuk bicara.
Alogia Kemiskinan pembicaraan.

ISI PIKIR
Kemiskinan isi pikir Pikiran yang hanya menghasilkan sedikit informasi karena
ketidakjelasan, pengulangan yang kosong, atau frase yang
tidak dikenal.
Waham/delusi Suatu perasaan keyakinan atau kepercayaan yang keliru tentang
kenyataan eksternal, tidak konsisten dengan inteligensia dan
latar belakang budaya pasien, dan tidak bisa diubah lewat
penalaran atau dengan jalan penyajian fakta.
Waham bizarre Keyakinan yang keliru, mustahil, dan aneh.
Waham sistematik Keyakinan yang keliru atau keyakinan yang tergabung dengan
satu tema/kejadian.
Waham nihilistik Perasaan yang keliru bahwa diri dan lingkungannya atau dunia
tidak ada atau menuju kiamat.
Waham somatik Keyakinan yang keliru yang melibatkan fungsi tubuh.
Waham paranoid Termasuk di dalamnya waham kebesaran, waham kejaran/
persekutorik, waham rujukan (reference), dan waham
dikendalikan.
Waham kebesaran Keyakinan atau kepercayaan, biasanya psikotik sifatnya, bahwa
dirinya adalah orang yang sangat kuat, sangat berkuasa, atau
sangat besar.
Waham kejaran/ Suatu delusi yang menandai seorang yang paranoid, yang
persekutorik mengira bahwa dirinya adalah korban dari usaha untuk
melukainya, atau yang mendorong agar dia gagal dalam
tindakannya. Kepercayaan ini sering dirupakan dalam bentuk
komplotan yang khayali, dokter dan keluarga pasien dicurigai
bersama-sama berkomplot untuk merugikan, merusak,
mencederai, atau menghancurkan dirinya.
Waham rujukan Suatu kepercayaan keliru yang meyakini bahwa tingkah laku
orang lain itu pasti akan memfitnah, membahayakan, atau akan
menjahati dirinya.
Waham dikendalikan Keyakinan yang keliru bahwa keinginan, pikiran, atau perasaannya
dikendalikan oleh kekuatan dari luar. Termasuk di dalamnya
thought withdrawal, thought insertion, thought broadcasting,
thought control.

Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 75

Glosari

Thought withdrawal Waham bahwa pikirannya ditarik oleh orang lain atau
kekuatan lain.
Thought insertion Waham bahwa pikirannya disisipi oleh orang lain atau
kekuatan lain.
Thought broadcasting Waham bahwa pikirannya dapat diketahui oleh orang lain, tersiar
di udara.
Thought control Waham bahwa pikirannya dikendalikan oleh orang lain atau
kekuatan lain.
Waham cemburu Keyakinan yang keliru yang berasal dari cemburu patologis
tentang pasangan yang tidak setia.
Erotomania Keyakinan yang keliru, biasanya pada wanita, merasa yakin
bahwa seseorang sangat mencintainya.

PERSEPSI
Depersonalisasi Satu kondisi patologis yang muncul sebagai akibat dari perasaan
subyektif dengan gambaran seseorang mengalami atau merasa
diri sendiri (atau tubuhnya) sebagai tidak nyata atau khayali
(asing, tidak dikenali).
Derealisasi Perasaan subyektif bahwa lingkungannya menjadi asing,
tidak nyata.
Ilusi Satu persepsi yang keliru atau menyimpang dari stimulus
eksternal yang nyata.
Halusinasi Persepsi atau tanggapan palsu, tidak berhubungan dengan
stimulus eksternal yang nyata; menghayati gejala-gejala yang
dikhayalkan sebagai hal yang nyata.
Halusinasi hipnagogik Persepsi sensorik keliru yang terjadi ketika mulai jatuh tertidur,
secara umum bukan tergolong fenomena patologis.
Halusinasi Persepsi sensorik keliru yang terjadi ketika seseorang mulai
hipnopompik terbangun, secara umum bukan tergolong fenomena patologis.
Halusinasi auditorik Persepsi suara yang keliru, biasanya berupa suara orang meski
dapat saja berupa suara lain seperti musik, merupakan jenis
halusinasi yang paling sering ditemukan pada gangguan psikiatri.
Halusinasi visual Persepsi penglihatan keliru yang dapat berupa bentuk jelas
(orang) atau pun bentuk tidak jelas (kilatan cahaya), sering kali
terjadi pada gangguan medis umum.
Halusinasi penciuman Persepsi penghidu keliru yang sering kali terjadi pada gangguan
medis umum.
Halusinasi Persepsi pengecapan keliru seperti rasa tidak enak sebagai gejala
pengecapan awal kejang, sering kali terjadi pada gangguan medis umum.

76 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia

Halusinasi liliput Persepsi keliru yang mengakibatkan obyek terlihat lebih kecil. Halusinasi somatik Sensasi keliru yang terjadi pada atau di dalam tubuhnya. Tilikan terganggu artinya kehilangan kemampuan untuk memahami kenyataan objektif akan kondisi dan situasi dirinya. Tilikan derajat 3 Menyalahkan faktor lain sebagai penyebab penyakitnya. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 77 . ABILITY (RTA) TILIKAN Kemampuan seseorang untuk memahami sebab sesungguhnya dan arti dari suatu situasi (termasuk di dalamnya dari gejala itu sendiri). Tilikan derajat 6 Menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya disertai motivasi (sehat) untuk mencapai perbaikan. REALITY TESTING Kemampuan seseorang untuk menilai realitas. Tilikan derajat 5 Menyadari penyakitnya dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakitnya namun tidak menerapkan dalam perilaku praktisnya.Glosari Halusinasi taktil Persepsi perabaan keliru seperti phantom limbs (sensasi anggota tubuh teramputasi). atau formikasi (sensasi merayap di bawah kulit). lebih sering menyangkut organ dalam. Tilikan derajat 4 Menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan namun tidak memahami penyebab sakitnya. Tilikan derajat 2 Ambivalensi terhadap penyakitnya. Tilikan derajat 1 Penyangkalan total terhadap penyakitnya.

CATATAN : 78 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia .

5’-10’ menegaskan informasi. observasi respons di bawah stres. orientasi. tilikan • Fase keempat: direktif. Instrumen-Instrumen Pengukuran LAMPIRAN B INSTRUMEN-INSTRUMEN PENGUKURAN 1.7) dengan nilai skor total (30-210) . pemikiran abstrak. aktivitas yang berguna secara sosial. Personal & Social Performance Scale (WT PSP) Instrumen yang digunakan untuk menilai fungsi pasien dalam perawatan diri. membina rapport. Wawancara menggunakan MINI-ICD 10 dapat berlangsung 15 menit. halusinasi. PANSS terdiri dari 30 butir dan 3 skala • Skala positif : 7 butir • Skala negatif : 7 butir • Skala psikopatologi umum : 16 butir Masing-masing butir dinilai 7 poin (1. 5’-10’. tanpa penyelidikan spesifik. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia 79 . riwayat penyakit. pertanyaan spesifik tentang suasana hati. kebesaran. 10’-15’. PANSS Alat ukur yang valid untuk menilai beratnya simtom yang dialami penderita skizofrenia. sudah dapat terungkap tentang ansietas. 2. Instrumen ini sensitif terhadap perubahan sehingga dapat digunakan untuk menilai respon terapi. 3. awitan • Fase kedua: semi struktur. Wawancara dalam menggunakan PANSS: • Fase awal : tidak terstruktur. nondirektif. dan rasa besalah • Fase ketiga: terstruktur. kecurigaan. hubungan personal dan sosial dan agresivitas serta perilaku yang menganggu. MINI-ICD 10 Instrumen yang digunakan untuk membantu diagnosis gangguan jiwa. terarah tanpa provokatif. 10’-15’.

CATATAN : 80 Konsensus Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia .

Konsensus ini terselenggara berkat dukungan dari PT AstraZeneca Indonesia .