I.

JUDUL PERCOBAAN : Pengaruh pH dan konsentrasi enzim terhadap
aktivitas enzim
II. HARI/TANGGAL PERCOBAAN : Senin, 26 September 2016
III. SELESAI PERCOBAAN : Senin, 26 September 2016
IV. TUJUAN PERCOBAAN : Membuktikan bahwa pH dan konsentrasi
enzim mempengaruhi aktivitas enzim

V. DASAR TEORI :
Enzim adalah biokatalisator organik yang dihasilkan organisme hidup di dalam
protoplasma, yang terdiri atas protein atau suatu senyawa yang berikatan dengan protein.
Enzim mempunyai dua fungsi pokok untuk mempercepat reaksi kimia tanpa habis
bereaksi dan juga mengatur sejumlah reaksi yang berbeda-beda dalam waktu yang
sama. Semua proses biologis sel memerlukan enzim agar dapat berlangsung dengan
cukup cepat dalam suatu arah lintasan metabolisme yang ditentukan oleh hormon
sebagai promoter.
Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang artinya setiap jenis enzim hanya
dapat bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan
struktur kimia tiap enzim yang bersifat tetap
Enzim tersusun atas dua bagian yaitu apoenzim dan koenzim. Apoenzim adalah
bagian protein dari enzim, bersifat tidak tahan panas, dan berfungsi menentukan
kekhususan dari enzim. Contoh, dari substrat yang sama dapat menjadi senyawa yang
berlainan, tergantung dari enzimnya.
Sedangkan koenzim disebut gugus prostetik apabila terikat sangat erat pada
apoenzim. Akan tetapi, koenzim tidak begitu erat dan mudah dipisahkan dari apoenzim.
Koenzim bersifat termostabil (tahan panas), mengandung ribose dan fosfat.
Enzim mempunyai beberapa sifat yang khas diantaranya:
a. Enzim hanya mengubah kecepatan reaksi, artinya enzim tidak mengubah produk akhir
yang dibentuk atau mempengaruhi keseimbangan reaksi, hanya meningkatkan laju
suatu reaksi. Selain Enzim bekerja secara spesifik, artinya enzim hanya
mempengaruhi substrat tertentu saja.
b. Enzim merupakan protein. Oleh karena itu, enzim memiliki sifat seperti protein.
Antara lain bekerja pada suhu optimum, umumnya pada suhu kamar. Enzim akan
kehilangan aktivitasnya karena pH yang terlalu asam atau basa kuat, dan pelarut

organik. Selain itu, panas yang terlalu tinggi akan membuat enzim terdenaturasi
sehingga tidak dapat berfungsi sebagai mana mestinya.
c. Enzim diperlukan dalam jumlah sedikit. Sesuai dengan fungsinya sebagai
katalisator, enzim diperlukan dalam jumlah yang sedikit.
d. Enzim bekerja secara bolak-balik. Reaksi-reaksi yang dikendalikan enzim dapat
berbalik, artinya enzim tidak menentukan arah reaksi tetapi hanya mempercepat
laju reaksi sehingga tercapai keseimbangan. Enzim dapat menguraikan suatu
senyawa menjadi senyawa-senyawa lain. Atau sebaliknya, menyusun senyawa-
senyawa menjadi senyawa tertentu. Reaksinya dapat digambarkan sebagai berikut.
Kerja enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama adalah substrat, suhu,
keasaman, kofaktor dan inhibitor. Tiap enzim memerlukan suhu dan pH (tingkat
keasaman) optimum yang berbeda-beda karena enzim adalah protein, yang dapat
mengalami perubahan bentuk jika suhu dan keasaman berubah. Di luar suhu atau pH
yang sesuai, enzim tidak dapat bekerja secara optimal atau strukturnya akan mengalami
denaturasi . Hal ini akan menyebabkan enzim kehilangan fungsinya sama sekali.
pH sangat berpengaruh terhadap aktivitas enzim, karena sifat ionik gugus
karboksil dan gugus amino mudah dipengaruhi oleh pH. Hal ini menyebabkan daerah
katalitik dan konfirmasi enzim menjadi berubah. Selain itu perubahan pH juga
menyebabkan denaturasi enzim dan mengakibatkan hilangnya aktivitas enzim (Gambar
1). Kurva pengaruh pH ini berupa lonceng dengan sebuah plateau kecil. Plateau ini
sering disebut pH optimum enzim. Dalam mempelajari suatu enzim, pH optimum ini
perlu dicari terlebih dahulu dengan memakai buffer yang cocok.

Gambar 1 : Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim

pH. Enzim merupakan biokatalisator yang bekerja spesifik. namun suatu saat akan mencapai keadaan optimum yaitu pada pH optimum. Kecepatan awal suatu reaksi merupakan kecepatan yang diukur sebelum terbentuk produk yang cukup untuk memungkinkan suatu reaksi. terutama adalah substrat. untuk saliva (enzim amilase) pH-nya 5-6 . konsentrasi substrat yang menunjukkan kecepatan maksimal aktivitas enzim akan mencerminkan jumlah enzim aktif yang ada. suhu. yang dapat mengalami perubahan bentuk jika suhu dan keasaman berubah. dan indikator. suhu. Aktivitas enzim dapat diamati dari sisa substrat. kofaktor dan inhibitor.Kecepatan reaksi bergantung pada konsentrasi enzim yang berperan sebagai katalisator dalam reaksi itu. pH. Aktivitas katalis yang dimiliki enzim merupakan alat ukur yang selektif dan sensitif terhadap aktivitas enzim. Hal ini akan menyebabkan enzim kehilangan fungsinya sama sekali. suhu. Enzim dapat pula mengalami perubahan bentuk bila pH bervariasi. Tiap enzim memerlukan suhu dan pH (tingkat keasaman) optimum yang berbeda-beda karena enzim adalah protein. . sebenarnya pengaruh konsentrasi substratlah yang sangat berarti. Bentuk kurva aktivitas pH ditentukan oleh denaturasi enzim (pada pH tinggi atau rendah) dan penambahan status bermuatan pada enzim dan atau substrat. Pada gambar 2 terlihat hubungan antara konsentrasi enzim dengan kecepatan reaksi apabila konsentrasi substrat berlebihan. Aktivitas enzim maksimal diperoleh pada pH optimal. laju berbagai proses metabolisme akan naik sampai batasan suhu maksimal. kecepatan awal suatu reaksi yang dikatalisis enzim harus sebanding dengan konsentrasi enzim. enzim tidak dapat bekerja secara optimal atau strukturnya akan mengalami denaturasi . Aktivitas enzim dapat diamati dari sisa substrat atau produk yang terbentuk. Namun. dan indikator. Kerja enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor. keasaman. yang bilamana jika pH lingkungan atau pH substrat sudah melebihi ph optimum maka aktivitas enzimnya akan menurun. Untuk menentukan kecepatan reaksi.Berdasarkan kurva tersebut dapat diketahui bahwa semakin besar pH maka aktivitas enzim semakin meningkat. Faktor yang mempengaruhi pengukuran aktivitas enzim antara lain konsentrasi enzim dan substrat. Aktivitas enzim meningkat bersamaan dengan peningkatan suhu. Di luar suhu atau pH yang sesuai. Di sini dapat dilihat bahwa banyaknya substrat ditransformasikan sesuai dengan tingginya konsentrasi enzim yang digunakan.

. larutan diukur absorbansinya pada panjang gelombang 660 nm. Sinar ultraviolet (UV) mempunyai panjang gelombang antara 20 – 40 nm. Pada percobaan. 202). Karena semakin besar konsentrasi enzim maka semakin banyak enzim yang bekerja untuk memecah substrat. Enzim bebas untuk membentuk kompleks baru dengan substrat yang lain. Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah salah satu cara yang dapat digunakan dalam penentuan kadar glukosa dalam darah. Gambar 2. Spektrum UV-Vis sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang tertentu. Enzim meningkatkan laju reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi. sehingga spektrofotometer UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif daripada kualitatif. kemudian enzim dilepaskan. Pengukuran spektrofotometri menggunakan alat spektrofotometer yang melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis. begitu pula sebaliknya semakin encer konsentrasi enzim maka semakin kecil aktivitas enzimnya. Cara kerja dari enzim adalah enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi. dan sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang 40 – 750 nm. Setelah produk dihasilkan. Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu (Day.1 Pengaruh konsentrasi enzim terhadap kecepatan reaksi Dari kurva di atas dapat diketahui bahwa Semakin besar konsentrasi enzim maka semakin besar aktivitas enzimnya.

selanjutnya perhitungan dilakukan dengan komputer yang sudah terprogram. . Detektor menerima cahaya dari sampel secara bergantian secara berulang-ulang. tetapi hanya pada sistem-sistem terkonjugasi. diubah ke digital dan dilihat hasilnya. Prinsip kerja spektrometer UV-Vis berdasarkan hukum Lambert Beer. Hukum Lambert Beer dinyatakan dalam rumus: A=kxIxC Dimana: A = absorbansi k = koefisien ekstinksi molar larutan I = tebal kuvet C = konsentrasi sampel Cara kerja alat spektrometer UV-Vis yaitu sinar dari sumber radiasi diteruskan menuju monokromator. Hukum Lambert Beer menyatakan hubungan linieritas antara absorbansi dengan konsentrasi larutan analit dan berbanding terbalik dengan transmitan. Besar energi yang diserap tertentu dan menyebabkan elektron tereksitasi dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi yang memiliki energi lebih tinggi. Serapan tidak terjadi seketika pada daerah ultraviolet-visible untuk semua struktur elektronik. Sinyal listrik dari detektor diproses. Gambar Alat Spektrofotometer UV-Vis Prinsip kerja spektrofotometer UV-Vis adalah interaksi yang terjadi antara energi yang berupa sinar monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa molekul. struktur elektronik dengan adanya ikatan  dan non bonding elekton. Cahaya dari monokromator diarahkan terpisah melalui sampel dengan sebuah cermin berotasi.

memperoleh energi Kimia yang digunakan untuk biosintesis.Reaksi-reaksi enzimatik dibutuhkan agar bakteri dapat memperoleh makanan/ nutrient dalam keadaan terlarut yang dapat diserap ke dalam sel. Enzim sangat penting dalam kehidupan. Kadar normal glukosa dalam darah adalah 70-90 mg/10 mL. Keadaan dimana kadar glukosa berada di bawah 70-90 mg/10 mL disebut hipeglisemia sedangkan di atas 90mg/10 mL disebut hiperglisemia. serapan cahaya (absorbansi) berbanding lurus dengan konsentrasinya. Yang terdapat dalam saliva (ludah) dan pankreas adalah α amilase. karena semua reaksi metabolisme dikatalis oleh enzim. Enzim ini memecah ikatan 1-4 yang terdapat dalam amilum dan disebut endo amilase sebab enzim ini bagian dalam atau bagian tengah molekul amilum (Poedjiadi. Konsentrasi glukosa dalam darah merupakan faktor yang sangat penting untuk kelancaran kerja tubuh. pergerakan. maka nilai absorbansi akan bertambah pula. Jadi. Jika tidak ada enzim. dapat disimpulkan bahwa jika konsentrasi suatu zat bertambah. Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk menghasilkan senyawa intermediat melalui suatu reaksi kimia organik yang membutuhkan energi aktivasi lebih rendah. Gambar Cara Kerja Alat Spektrofotometer UV-Vis Berdasarkan hukum Lambert Beer. β amilase dan γ amilase. perkembangbiakan. atau aktivitas enzim terganggu maka reaksi metabolisme sel akan terhambat hingga pertumbuhan sel juga terganggu.Ada tiga macam enzim amilase. Pada Enzim amilase dapat memecah ikatan pada amilum hingga terbentuk maltosa. yaitu α amilase. 206). Sebagai contoh: . Enzim atau biokatalisator adalah katalisator organik yang dihasilkan oleh sel. sehingga percepatan reaksi kimia terjadi karena reaksi kimia dengan energi aktivasi lebih tinggi membutuhkan waktu lebih lama. dan lain-lain.

Enzim Amilase Enzim amilase adalah sekelompok enzim katalis yang berfungsi untuk menghidrolisis gula dan pati. Beberapa faktor yang mempengaruhi kerja enzim adalah sebagai berikut: 1. enzim mulai bekerja sebagian dan mencapai suhu maksimum pada suhu tertentu. Bila suhu ditingkatkan terus. keadaan yang menyebabkan rendahnya suhu di luar suhu optimum berbeda antara suhu yang lebih rendah dengan suhu yang lebih tinggi. namun enzim tidak dapat bekerja. Suhu campuran reaksi juga berpengaruh terhadap laju reaksi enzimatik. jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai puncaknya pada suhu optimum. karena terjadi denaturasi ( Hafiz Soewoto. yang menghasilkan laju reaksi yang maksimum. Hal ini disebabkan perbedaan struktur kimia tiap enzim yang bersifat tetap. Makin besar perbedaan suhu reaksi dengan suhu optimum. pada reaksi akhir molekul katalis akan kembali ke bentuk semula. Sebagai contoh.200) . yang artinya setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi kimia. Pada suhu yang lebih rendah penyebab kurangnya laju reaksi enzimatik yaitu kurangnya gerak termodinamik. amilase mencerna karbohidrat (polisakarida) menjadi unit-unit disakarida yang lebih kecil dan akhirnya mengubahnya menjadi monosakarida seperti glukosa. Enzim tertentu dapat bekerja secara optimum pada kondisi tertentu pula. enzim α-amilase hanya dapat digunakan pada proses perombakan pati menjadi glukosa. dalam hal ini juga ada kondisi optimum yang disebut sebagai suhu optimum. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif pada pemanasan sampai ± 60° C. Jika reaksi tersebut dilangsungkan dalam berbagai suhu. makin rendah pula laju reaksinya. Dengan demikian. X + C → XC (1) Y + XC → XYC (2) XYC → CZ (3) CZ → C + Z (4) Meskipun senyawa katalis dapat berubah pada reaksi awal. Enzim dalam tubuh manusia mempunyai suhu optimum sekitar 37° C. Suhu (temperatur) Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim. yang menyebabkan kurangnya tumbukan antara . kurva hubungan tersebut akan menunjukkan suhu tertentu. Sebagian besar enzim bekerja secara khas. Akan tetapi. Dengan kenaikan suhu lingkungan.

molekul enzim dengan substrat. melainkan malah menurun dengan cara yang lebih kurang sebanding dengan selisih nilai dan suhu optimum. optimum ∆𝐴 𝑝𝐻 Pada grafik diatas menunjukkan antara selisih absorbansi (blanko dengan uji) dengan pH. gerak termodinamik tersebut akan makin berkurang. kompleks E-S akan sukar terbentuk. Sebagai contoh enzim amilase akan bekerja optimum pada pH 7. Jika kontak antara kedua jenis molekul itu tidak terjadi. warna ungu yang semakin memudar menunjukkan semakin optimumnya kerja senzim amilase. Oleh karena itu. masing-masing enzim memiliki pH optimum yang berbeda. makin rendah suhu. sehingga bangun tiga dimensinya berubah secara bertahap. Setiap enzim dapat bekerja baik pada pH optimum. Perubahan pH dapat mempengaruhi perubahan asam amino kunci pada sisi aktif enzim. selain gerak termodinamik meningkat. Sehingga ketika diukur absorbansinya maka akan semakin kecil. Dalam peningkatan suhu ini. Enzim amilase memiliki kemampuan mengubah pati menjadi disakarida dan monosakarida. molekul protein enzim juga mengalami denaturasi. 2. Hal . maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif molekul enzim. Padahal kompleks ini sangat penting untuk mengolah S menjadi P. Akan tetapi laju reaksi tidak terus meningkat. Jadi. Akibatnya. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu optimum. sehingga menghalangi sisi aktif bergabung dengan substratnya. sehingga tumbukan antara molekul akan lebih sering. Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim dapat digambarkan dalam grafik dibawah ini. sehingga produk juga makin sedikit. yang ditunjukkan dengan memudarnya warna ungu (dari KI dan pati). kompleks ES tidak terbentuk. Pada daerah suhu yang lebih tinggi gerak termodinamik akan lebih meningkat.

penambahan substrat tidak dapat meningkatkan kecepatan reaksi enzim selanjutnya. Konsentrasi enzim Kecepatan reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi enzim. ini menunjukkan bahwa pada grafik. Dengan menggunakan tombol transmitansi. makin besar konsentrasi enzim makin tinggi pula kecepatan reaksi. Konsentrasi enzim dan substrat a. Konsentrasi substrat Peningkatan konsentransi substrat dapat meningkatkan kecepatan reaksi bila jumlah enzim tetap. kerja enzim pada pH optimum ditunjukkan pada nilai ∆𝐴 yang terbesar. misalnya blanko dalam sel pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua. kemudian atur besarnya pada 10%. dengan kata lain konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi. buka fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blangko dan “nol” galvanometer didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Skala absorbansi menunjukkan absorbansi larutan sampel. Tempatkan larutan pembanding. Dengan ruang foto sel dalam keadaan tertutup “nol” galvanometer didapat dengan menggunakan tombol dark-current. Cara kerja spektrofotometer Uv-Vis Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah sebagai berikut. ∆𝐴 ∆𝐴 atau Pengenceran Konsentrasi b. Namun pada saat sisi aktif semua enzim berikatan dengan substrat. Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang akan dianalisis. Pilih h yang diinginkan. Kemudian pilih foto sel yang cocok 20nm-650nm (650nm-110nm) agar daerah λ yang diperlukan dapat terliputi. . 3.

sehingga untuk melakukan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer larutan pati harus dijadikan larutan kompleks agar menjadi berwarna dan dapat diukur absorbansinya. karena larutan pati tersebut tidak menyerap warna komplementer dari sinar putih sehingga tidak ada warna yang diteruskan. Jika larutan pati tidak dikomplekskan maka tidak dapat diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer. . Warna Radiasi Elektromagnetik Yang Diserap Dan Diteruskan Pada Daerah Visible λ yang diserap diteruskan diserap (nm) 380-450 Ungu Kuning- hijau 450-495 Biru Kuning 495-570 Hijau Ungu 570-590 Kuning Biru 590-620 Oranye Hijau-biru 620-750 Merah Biru-hijau Pada percobaan ini untuk pengukuran absorbansi semuanya dilakukan pada panjang gelombang 680 nm. Larutan pati merupakan larutan yang tidak berwarna. Sesuai dengan tabel di atas pada panjang gelombang tersebut λ yang diserap larutan pati terkomplekskan untuk mengahasilkan warna Biru-Hijau (yang dilihat oleh mata kita) terletak pada rentang λ = 620-750 nm.

VI. ALAT DAN BAHAN : Alat: 1. 3. Air liur (sebagai sumber enzim) 2. 7. Pipet tetes 5 buah Bahan: 1.4 mg/ mL (in aquades) 3. Larutan pati 0. Gelas Kimia 250 mL 1 buah 8. Kasa 1 buah 4. Gelas ukur 10 mL 1 buah 7. Kaki tiga 1 buah 2. Pipet volume 10 mL 1 buah 6. Pembakar Spirtus 1 buah 5. 5. Penjepit kayu 1 buah 9. Tabung reaksi 12 buah 3. 9 4. Larutan pati pH 1. Aquades .

ALUR KERJA .VII.

HASIL PENGAMATAN .VIII.

Hal ini menyebabkan daerah katalitik dan konformasi enzim menjadi berubah. Kemudian 10 tetes larutan iodium 0. Lalu ditambahkan 10 tetes aquades dan didiamkan selama 1 menit. Selanjutnya larutan pati didiamkan 2 menit.5 tabung reaksi untuk larutan uji yang di beri label U dan 1 tabung untuk larutan blanko yang diberi label B yang digunakan sebagai pembanding untuk larutan uji.Dalam percobaan ini pati (amilum) berperan sebagai substratnya. Kemudian menyiapkan 6 tabung reaksi .  Larutan Blanko Pembuatan blanko disini yaitu dengan cara mengambil 1 mL pati 1 % yang tidak berwarna dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Di dalam sel dan lingkungan sel sekelilingnya. Plateau ini sering disebut pH optimum enzim.Kurva pengaruh pH ini berupa lonceng dengan sebuah plateau kecil.Selain itu perubahan pH juga menyebabkan denaturasi enzim dan mengakibatkan hilangnya aktivitas enzim. 1. Dihasilkan larutan encer tak berwarna.Hal ini akan mempengaruhi dan mengacaukan sistem katabolik dan anabolik dalam sel dan jaringan Awalnya air liur (kental tak berwarna) yang mengandung enzim amilase diencerkan 10 kali dengan aquades pada labu ukur 50 mL. Dalam mempelajari suatu enzim. konsentrasi ion hydrogen (pH).pH sangat berpengaruh terhadap aktivitas enzim karena sifat ionik gugus karboksil dan gugus amino mudah dipengaruhi oleh pH. pH dalam keadaan normal harus tetap sebab adanya perubahan akan menyebabkan pergeseran aktivitas enzim. Pengaruh pH terhadap aktifitas enzim Pada percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terhadap aktifitas enzim.kemudian ditambahkan aquades (jernih tak berwarna )sampai tanda batas. suhu dan konsentrasi substrat. Faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim diantaranya adalah konsentrasi enzim. PEMBAHASAN Pada praktikum ini kami melakukan percobaan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim amilase yang terdapat pada air liur dalam memecah larutan pati menjadi monosakarida yaitu glukosa.01 N dan warna larutan berubah menjadi . Pada percobaan ini kami mengkaji tentang pengaruh pH dan konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim.caranya adalah mengambil air liur sebanyak 5 mL mneggunakan pipet volum dan di masukkan ke dalam labu ukur 50 mL. Tetapi. hal ini bertujuan agar larutan pati terdegradasi secara sempurna.IX.pH optimum ini perlu dicari terlebih dahulu dengan memakai buffer yang cocok.

Perbedaan pH dimaksudkan untuk mengetahui pada pH berapa enzim akan bekerja secara maksimal. Larutan pati merupakan polisakarida yang dapat dihidrolisis oleh enzim amilase pada air liur sehingga menjadi glukosa.01 N yang berfungsi sebagai indikator ada atau tidaknya polisakarida dalam larutan.Vis jika larutan terlalu pekat maka tidak dapat terbaca absorbansi pada larutan.kuning (---). Setelah itu ditambahkan 10 tetes larutan enzim dengan pengenceran 10 kali menghasilkan larutan yang tidak berwarna pula. dimana aquades ini berfungsi agar larutan tidak terlalu pekat dan dapat diukur absorbansinya pada Spektrofotometer UV . dimana fungsi penambahan aquades agar warna dari larutan yang akan diuji tidak terlalu pekat sehingga bisa diukur absorbansinya pada spektofotometr UV – Vis . 3. Kemudian ditambah 6 mL aquades.Jika larutan terlalu pekat maka tidak dapat terbaca absorbansi pada laruutan.Vis. karena pada Spektrofotometer UV . Dalam percobaan ini pati (amilum) berperan sebagai substratnya. Kemudian ditambah 10 tetes larutan iodium 0. Pengukuran dengan spektrometer UV pada λ= 680 nm didapatkan nilai absorbansi blanko sebesar  Larutan Uji Cara pembuatan larutan uji disiapkan 6 tabung uji yang dilakukan dengan memasukkan 1 mL larutan pati tak berwarna (dalam pelarut pH 1. Penambahan iodium berfungsi sebagai indikator untuk menentukan adanya amilum dan ditambahkan 6 mL aquades. sehingga dapat dikatakan pada pH ini enzim amilase tidak bekerja optimum dalam menghidrolisis larutan pati karena struktur dari enzim amilase telah berubah sehigga tidak dapat mengolah substrat dengan baik. Selanjutnya pati didiamkan 2 menit. 7 dan 9).karena pada spektrofotometer UV-Vis . 5.Hasilnya adalah:  Tabung reaksi pH 1 : Kuning (+++)  Tabung reaksi pH 3 : Kuning (++)  Tabung reaksi pH 5 : Kuning (+)  Tabung reaksi pH 7 : Kuning (---)  Tabung reaksi pH 9 : Kuning (--) . hal ini bertujuan agar pati terdegradasi secara sempurna.

digunakan cara demikian karena kemampuan enzim dalam mendegradasi pati Tabel pH VS Absorbansi.042 0. Pada pH .014 7 0.0. Pada percobaan ini akan menghasilkan nila absorbansi sampel yaitu absorbansi yang masih memiliki pengotor –pengotor di dalamnya sehingga untuk mencari absorbansi yang sebenarnya denngan cara nilai absorbansi blanko.016 Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim 0.005 -0.004 5 0.01 pH Dari kurva diatas dapat kita lihat bahwa enzim amilase bekerja secara optimum pada pH=7.01 0.AU 1 0.053 0.0064 R² = 0.015 0.053 0.005 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 -0.053 0. Disini enzim amilase bekerja secara sempurna.053 0. Amilum terhirolisis sempurna oleh enzim amilase yang dapat dilihat dari nilai ∆A yang tinggi sesuai dengan grafik di atas dan ditandai dengan larutan berwarna kuning (---) dan tidak ada amilum yang tersisa pada pH 7 ini.0028x .02 y = 0.011 9 0.037 0.049 0. Hal ini sudah sesuai dengan teori bahwa enzim amilase mempunyai pH optimum 7.7977 0.hasil percobaan pH Nilai A Larutan Blanko (AB) Nilai A Larutan Uji (AU) ∆𝑨 = AB .008 3 0.053 0.061 -0.dikurangi nilai absorbansi sampel.039 0.

Penambahan iodium berfungsi sebagai indikator untuk menentukan adanya amilum dan ditambahkan 6 mL aquades. warnanya menjadi kuning. Disini pH 1 dapat merusak enzim dengan cepat. Pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktifitas enzim Pada percobaan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktifitas enzim ini digunakan larutan pati sebagai substratnya. Disini waktu rusaknya enzim lebih lama dibandingkan dengan rusaknya enzim pada pH 1. Pada pH 9 enzim bekerja 80 % hal ini dapat dilihat dari nilai ∆A pada grafik dan ditandai dengan warna larutan kuning (+). seharusnya pada pH 5 enzim bekerja 60% tetapi dapat terlihat dari grafik enzim hanya bekerja 10% yang ditandai dengan warna larutan kuning (+). Pada larutan blanko tidak diberi penambahan enzim. Dalam percobaan ini pati (amilum) berperan sebagai substratnya.3. Pada larutan uji yang mengandung enzim amilase.Vis.Vis jika larutan terlalu pekat maka tidak dapat terbaca absorbansi pada larutan.  Larutan Blanko Pembuatan blanko disini yaitu dengan cara mengambil 1 mL pati 1% kedalam tabung reaksi. Lalu ditambahkan 10 tetes aquades dan didiamkan selama 2 menit.dan 5 sehingga enzim dapat menghidrolisis pati mendekati sempurna..sehingga enzim hanya bekerja 20%. 1 enzim hanya bekerja 20% yang ditandai dengan warna larutan kuning (+++). Disini waktu rusaknya enzim lebih lama dari pada pH 1. 2. proses hidrolisis amilum menjadi glukosa lenih cepat terjadi karena enzim amilase merupakan biokatalitik yang khusus untuk hidrolis amilum. kemudian ditambahkan larutan iodium dan warna larutan berubah menjadi kuning . Pada pH 3 enzim bekerja 40% yang ditandai dnegan warna larutan kuning (++) dan dapat dilihat juga dari nilai ∆A. dan hal ini juga dapat dilihat pada grafik bahwa pH 1 mempunyai nilai ∆A yang rendah. dimana aquades ini berfungsi agar larutan tidak terlalu pekat dan dapat diukur aborbansinya pada Spektrofotometer UV . karena pada Spektrofotometer UV . Selanjutnya larutan pati didiamkan 2 menit. karena larutan blanko disini sebagai pembanding larutan uji. hal ini bertujuan agar larutan pati terdegradasi secara sempurna. Pada pH 5 tidak sesuai dengan teori. .

o Pengenceran 50 kali dilakukan dengan cara mengambil 5 mL larutan enzim dari pengenceran 40 kali lalu diencerkan dengan aquades di dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas. .tabung reaksi dikeluarkan dari penangas. dimana pada keadaan ini akan terjadi hidrolisis parsial. Tahapannya adalah sebagai berikut: o Pengenceran 10 kali dilakukan dengan cara mengambil 5 mL air liur yang dimasukkan pada labu ukur 50 mL kemudian ditambahkan dengan aquades hingga tanda batas..Kemudian ditambah 6 mL aquades.Setelah suhu 60 ̊C. 30 kali. 40 kali. fungsi penambahan aquades agar warna dari larutan yang akan diuji tidak terlalu . Kemudian ditambah 10 tetes larutan iodium yang berfungsi sebagai indikator ada atau tidaknya amilum dalam larutan. Larutan uji Langkah awal yang dilakukan pada percobaan ini yaitu membuat larutan dari larutan enzim yang mengalami pengenceran sebanyak 10 kali. Larutan pati merupakan polisakarida yang dapat dihidrolisis oleh enzim amilase pada saliva (air liur) sehingga menjadi glukosa. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan 5 tabung reaksi dan masing- masing tabung diisi 1 mL larutan pati 1% kemudian didiamkan 2 menit yang bertujuan agar pati terdegradasi secara sempurna.selama 2 menit. o Pengenceran 30 kali dilakukan dengan cara mengambil 5 mL larutan enzim dari pengenceran 20 kali lalu diencerkan dengan aquades di dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas. Selanjutnya ditambahkan 10 tetes larutan enzim dengan pengenceran 10-50 kali pada tiap-tiap tabung. dan didiamkan selama 1 menit. o Pengenceran 20 kali dilakukan dengan cara mengambil 5 mL larutan enzim yang telah mengalami pengenceran 10 kali lalu diencerkan dengan aquades di dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas. o Pengenceran 40 kali dilakukan dengan cara mengambil 5 mL larutan enzim hasil pengenceran 30 kali lalu diencerkan dengan aquades di dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas. 20 kali. Kemudian 5 tabung tersebut di panaskan selama 5 menit pada suhu 60 ̊C. dan 50 kali.

Hasilnya.02 -0.01 R² = 0.025 20 -0.008 Pengaruh Konsentrasi terhadap Aktivitas Enzim 0.006 30 0. pekat sehingga bisa diukur pada λ=680 nm.0245 0.01 -0.691 0.0008x .015 -0.yaitu sebagai berikut : Pengenceran ∆𝑨 10 -0.003 50 0.03 Konsentrasi .005 0 0 10 20 30 40 50 60 -0.010 40 0.015 y = 0.larutan pada masing- masing tabung reaksi uji berubah warna menjadi :  Tabung reaksi uji 1 : Kuning  Tabung reaksi uji 2 : Kuning  Tabung reaksi uji 3 : Kuning  Tabung reaksi uji 4 : Kuning  Tabung reaksi uji 5 : Kuning Setelah itu dihitung absorbansinya menggunakan alat spektofotometri sehingga diperoleh absorbansinya dari tiap larutan .025 -0.005 -0.0.

JAWAB: . Botol pati yang terbuka secara lama dan tidak ditutup mengakibatkan pengotor masuk ke dalam botol dan terjadi kontaminasi  Pada percobaan pengaruh pH secara kasat mata sudah nampak jika pH 7 adalah pH optimum enzim untuk bekerja hal ini dibuktikan dengan warna yang sama dengan larutan blanko. tidak dapat membuktikan bahwa konsentrasi mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. JAWABAN PERTANYAAN 1. tetapi saat di test menggunakan spektrofotometer hasilnya tidak sesuai dengan teori. hal ini disebabkan karena pati mengalami kontaminasi.X. DISKUSI  Seharusnya ketika enzim ditambahkan dengan pati lalu ditetesi dengan iodin maka warna akan berubah menjadi biru bukan kuning. Hal ini bisa di sebabkan oleh kesalahan praktikan pada saat membawa larutan ke dalam ruang spektrofotometer bisa saja ada pengotor yang masuk ke dalam larutan hingga menyebabkan pada saat pembacaan spektrofotometer tidak sesuai dengan teori yang ada. XI. Kurva yang sangat berbeda dengan teoritis disebabkan kesalahan prosedur kami saat melakukan pengenceran sebelum diuji dengan alat UV-Vis sehingga dapat mempengaruhi nilai absorbansinya. Buatlah kurva antara konsentrasi atau pengenceran enzim dengan kecepatan reaksi enzimatik (A/menit).  Dari hasil percobaan yang kami lakukan.

Pada pH berapa diperoleh aktivitas enzim amylase optimal. JAWAB: 4. . Suhu optimum enzim pada hewan poikilotermik di daerah dingin biasanya lebih rendah daripada hewan homeotermik. Mengapa? JAWAB: Sebagian besar enzim mempunyai suhu optimum yang sama dengan suhu normal sel organisme tersebut. Jika rendah atau tunggi. Enzim menunjukkan kerja maksimum pada pH optimum. sedangkan pada katak adlaha 25 derajat celsius.2. maka dapat menyebabkan enzim mengalami denaturasi sehingga menurunkan aktivitasnya. 3. Mengapa? JAWAB: Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu dan umumnya tergantung pada Ph lingkungannya. antara pH 6- 8. Contohnya. suhu optimum enzim pada manusia adalah 37 derajat celcius. Pada suhu berapa diperoleh aktivitas enzim amilase optimal. Buatlah kurva antara yang menggambarkan hubungan antara kecepatan reaksi enzimatik (V = A/menit) dengan pH.

 Pada percobaan pengaruh pH terhadap aktivitas enzim didapatkan enzim amylase bekerja optimum pada pH 7. Petunjuk Praktikum Biokimia. LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA II PERCOBAAN II ENZIM. Biokimia Eksperimen Laboratorium.XII. Surabaya: UNESA University Press .Jakarta: Widya Medika. Choi. Terjemahan dari: Principles of Biochemistry. Soewoto Hafiz. 2016. DAFTAR PUSTAKA Ruddin. Tim Dosen Biokimia. Semakin besar kandungan enzim maka kecepatan menghidrolisis pati juga makin tinggi. XIII. Jayapura : Universitas Cendrawasih Lehninger AL. 2000. KESIMPULAN  Konsentrasi enzim mempengaruhi kecepatan reaksi enzimatik. makin kecil kandungan enzim maka kecepatan menghidrolisis pati juga makin rendah. pH dapat mempengaruhi aktivitas enzim. dkk. Jakarta: Erlangga. 1982. Dasar – Dasar Biokimia Jilid I. 2010. Maggy Thenawijaya penerjemah.