Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan dasar yang menyelenggarakan upaya

kesehatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif),
penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang
dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Konsep kesatuan upaya
kesehatan ini menjadi pedoman dan pegangan bagi semua fasilitas pelayanan kesehatan di
Indonesia termasuk Puskesmas.

Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada
pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti
untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan upaya kesehatan, yang
berperan penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas harus mendukung tiga fungsi pokok Puskesmas, yaitu sebagai
pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, dan
pusat pelayanan kesehatan strata pertama yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan
pelayanan kesehatan masyarakat.

Pelayanan Kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu dengan tujuan untuk
mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah Obat dan masalah yang
berhubungan dengan kesehatan. Tuntutan pasien dan masyarakat akan peningkatan mutu
Pelayanan Kefarmasian, mengharuskan adanya perluasan dari paradigma lama yang
berorientasi kepada produk (drug oriented) menjadi paradigma baru yang berorientasi pada
pasien (patient oriented) dengan filosofi Pelayanan Kefarmasian (pharmaceutical care).

Demi terwujudnya pelayanan kefarmasian yang bermutu di Puskesmas harus memiliki
standar yang wajib diikuti oleh Apoteker dan atau tenaga kefarmasian yang bekerja di
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama tersebut. Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 30 Tahun 2014. Pengaturan
Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas bertujuan untuk:

1. Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian;

2. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian; dan

Pelayanan Informasi Obat (PIO). 4. Pengendalian. dan 8. dan pemberian informasi Obat. 2. 2. Pemantauan dan pelaporan efek samping Obat. Konseling. Penyimpanan. Pendistribusian. Evaluasi penggunaan Obat. 3. Kegiatan yang dilakukan adalah : 1. Penerimaan. Pemantauan terapi Obat. 3. Perencanaan kebutuhan. Pemantauan dan evaluasi pengelolaan. Melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan Obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety). pelaporan. 7. dan 7. 6. . 6. Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai. 5. penyerahan Obat. Pencatatan. 4. dan pengarsipan. 5. Ruang lingkup standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi: 1. 3. Pelayanan farmasi klinik. Pengkajian resep. Ronde/visite pasien (khusus Puskesmas rawat inap). Rangkaian kegiatannya adalah : 1. Permintaan. 2.

o Sarana dan Prasarana. Pengorganisasian harus menggambarkan uraian tugas. Puskesmas sebagaimana dimaksud tersebut harus menyesuaikan dengan ketentuan PMK ini dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak PMK ini mulai berlaku. dan 2. Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai. Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas dilaksanakan pada unit pelayanan berupa ruang farmasi yang dipimpin oleh seorang Apoteker sebagai penanggung jawab. Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian secara terbatas tersebut di atas berada di bawah pembinaan dan pengawasan Apoteker yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. 2. Pelayanan resep berupa peracikan Obat. Bagi Puskesmas yang belum memiliki Apoteker sebagai penanggung jawab. . Artinya pemerintah memberi kesempatan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk melakukan pembenahan dan menyesuaikan dengan PMK ini sampai tanggal 3 Juli 2017. penyerahan Obat. Standar prosedur operasional sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Setelah itu PMK ini berlaku penuh dan Pemerintah Kabupaten/Kota wajib menjalankan amanat ini demi pelayanan kefarmasian di puskesmas yang lebih baik. 3. dan. Pelayanan Kefarmasian secara terbatas tersebut meliputi: 1. PMK Nomor 30 tahun 2014 mulai berlaku sejak tanggal 3 Juli 2014. Ketersediaan sumber daya kefarmasian.Penyelenggaraan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas harus didukung oleh : 1. termasuk : o Sumber daya manusia. fungsi. Pengorganisasian yang berorientasi kepada keselamatan pasien. penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian secara terbatas dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian atau tenaga kesehatan lain. dan tanggung jawab serta hubungan koordinasi di dalam maupun di luar pelayanan kefarmasian yang ditetapkan oleh pimpinan Puskesmas. Untuk menjamin mutu Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. harus dilakukan pengendalian mutu Pelayananan Kefarmasian meliputi monitoring dan evaluasi. dan pemberian informasi Obat.