BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 KONSEP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
2.1.1 Pengertian Pertumbuhan
1. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang terjadi pada tiap
makhluk. Pada manusia terutama anak-anak, proses tumbuh kembang ini
terjadi dengan sangat cepat, terutama pada periode tertentu. (Depkes RI :
2004)
2. Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran – ukuran tubuh yang meliputi BB,
TB, LK, LD, dan lain-lain atau bertambahnya jumlah dan ukuran sel – sel
pada semua sistem organ tubuh. (Vivian, 2010)
3. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan yang bersifat kuantitas, yang
mengacu pada jumlah, besar, dan luas, serta bersifat konkret yang
menyangkut ukuran dan struktur biologis. (Mansur, 2009)
4. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan
pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan
saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan
sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua
fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh.
5. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar,
jumlah, atau ukuran atau dimensi tingkat sel, yang diukur dengan ukuran
berat (gram, pound, kg), ukuran panjang (cm, meter). (Soetjiningsih, 2005)
6. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan
interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian
atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat
(Dep.Kes RI, 2005).

2.1.2 Pengertian Perkembangan
1. Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan / skill dalam
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan
dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. (Soetjiningsih :
2005)
2. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan atau fungsi semua system
organ tubuh sebagai akibat bertambahnya kematangan fungsi-fungsi system
organ tubuh. (Vivian, 2010)
3. Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih
kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa
serta sosialisasi dan kemandirian (Dep.Kes RI, 2005).

2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang
Masa lima tahun pertama merupakan masa terbentuknya dasar – dasar
kepribadian manusia. Kemampuan pengindraan, berfikir, ketrampilan, berbahasa
dan berbicara, bertingkah laku sosial dll. Ada 2 faktor yang mempengaruhi
proses tumbuh kembang optimal seorang anak yaitu :
a. Faktor dalam (Herediter)
Merupakan faktor pertumbuhan yang dapat diturunkan yaitu suku, ras, dan
jenis kelamin. Jenis kelamin ditentukan sejak dalam kandungan. Anak laki-
laki setelah lahir cenderung lebih besar dan tinggi dari pada anak perempuan,
hal ini akan nampak saat anak sudah mengalami masa pra-pubertas. Ras dan
suku bangsa juga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Misalnya
suku bangsa Asia memiliki tubuh yang lebih pendek dari pada orang Eropa
atau suku Asmat dari Irian berkulit hitam.
1) Ras / etnik dan bangsa
Anak yang dilahirkan dari ras / bangsa Amerika maka ia tidak memiliki
faktor hereditas ras / bangsa Indonesia atau sebaliknya.
2) Keluarga
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek,
gemuk atau kurus.
3) Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun
pertama kehidupannya.
4) Jenis kelamin
Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat
daripada laki – laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan
anak laki-laki akan lebih cepat.
5) Genetik
Genetic (heredokonstitusional) adalah bawaan anak yaitu potensi anak
akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang
bepengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil.
6) Kelainan kromosom
Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan
seperti ada sindrom downs dan sindrom turner.
(Pemkot Dinkes Malang, 2007)
b. Faktor luar (eksternal)
1) Faktor prenatal
Kondisi lingkungan yang memengaruhi fetus dalam uterus yang dapat
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin antara lain gangguan
nutrisi karena ibu kurang mendapat asupan gizi yang baik, gangguan
endokrin pada ibu (diabetes mellitus), ibu yang mendapatkan terapi
sitostatika atau mengalami infeksi rubela, toxoplasmosis, sifilis dan
herpes. Faktor lingkungan yang lain adalah radiasi yang dapat
menyebabkan kerusakan pada organ otak janin.

a) Gizi
Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan akan
mempengaruhi pertumbuhan janin.
b) Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan congenital
seperti club foot.
c) Toksin / zat kimia
Beberapa obat – obatan seperti aminopterin, thalidomide dapat
menyebabkan kelainan congenital seperti palatoskisis.
d) Endokrin
Diabetes mellitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali,
hyperplasia adrenal.
e) Radiasi
Paparan radium dan sinar rontgen dapat mengakibatkan kelainan pada
janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental, dan
deformitas anggota gerak, kelainan congenital mata, kelainan jantung.
f) Infeksi
Infeksi pada trimester I dan II oleh TORCH (Toxoplasam, Rubella,
Citomegalo virus, dan Herpes simpleks) dapat menyebabkan kelainan
pada janin : katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental, dan
kelainan jantung congenital.
g) Kelainan imunologi
Eritroblastosis fetals timbul atas dasar perbedaan golongan darah
antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibody terhadap sel
darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk ke dalam
peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang
selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan kern ikterus yang
menyebabkan kerusakan jaringan otak.
h) Anoksia embrio
Anoksia embrio disebabkan oleh jaringan fungsi plasenta
menyebabkan pertumbuhan terganggu
i) Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah / kekerasan mental
pada ibu hamil dan lain-lain.
2) Faktor persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat
menyebabkan kerusakan otak.
3) Faktor pasca salin (PostNatal)
a) Gizi dan Nutrisi
Nutrisi adalah salah satu komponen yang penting dalam menunjang
keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan. Terdapat
kebutuhan zat gizi yang diperlukan seperti protein, karbohidrat,
lemak, mineral, vitamin dan air. Apabila kebutuhan tersebut tidak atau
kurang terpenuhi maka dapat menghambat pertumbuhan dan
perkembangan anak. Asupan nutrisi yang berlebihan juga berdampak
buruk bagi kesehatan anak, yaitu terjadi penumpukan kadar lemak
yang berlebihan dalam sel atau jaringan bahkan pada pembuluh darah.
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.
b) Penyakit kronis / kelainan congenital
Tuberculosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan
retardasi pertumbuhan jasmani.
c) Status kesehatan
Status kesehatan anak dapat berpengaruh pada pencapaian
pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini dapat terlihat apabila anak
dalam kondisi sehta dan sejahtera maka percepatan pertumbuhan dan
perkembangan akan lebih mudah dibandingkan dengan anak dalam
kondisi sakit.
d) Olahraga atau Latihan Fisik
Manfaat olahraga atau latihan fisik yang teratur akan meningkatkan
sirkulasi darah sehingga meningkatkan suplai oksigen ke seluruh
tubuh, meningkatkan aktivitas fisik dan menstimulasi perkembangan
otot dan jaringan sel.
e) Budaya Lingkungan
Budaya keluarga atau masyarakat akan mempengaruhi bagaimana
mereka dalam mempersepsikan dan memahami kesehatan dan
perilaku hidup sehat. Pola perilaku ibu hamil dipengaruhi oleh budaya
yang dianutnya, misalnya larangan untuk makan makanan tertentu
padahal zat gizi tersebut dibutuhkan untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin. Kayakinan untuk melahirkan di dukun beranak
dari pada di tenaga kesehatan. Setelah anak lahir dan dibesarkan di
lingkungan atau berdasarkan lingkungan budaya masyarakat
setempat.
f) Lingkungan fisis dan kimia
Lingkungan adalah tempat anak tersebut hidup yang berfungsi
sebagai penyedia kebutuhan dasar anak (provider) sanitasi lingkungan
yang kurang baik, kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif,
zat kimia tertentu (Pb, merkuri, rokok, dll).
g) Psikologis
Hubungan anak dengan orang di sekitarnya, seorang anak yang tidak
dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertekan
akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan
perkembangannya.
h) Endokrin
Faktor hormonal yang berperan dan pertumbuhan dan perkembangan
anak adalah somatrotopin yang berperan dalam memengaruhi
pertumbuhan tinggi badan, hormon tiroid dengan menstimulasi
metabolisme tubuh, glukokortiroid yang berfungsi menstimulasi
pertumbuhan sel interstisial dari testis untuk memproduksi testosteron
dan oarium untuk memproduksi estrogen selanjutnya hormon tersebut
akan menstimulasi perkembangan seks baik pada anak laki-laki
maupun perempuan sesuai dengan peran hormonnya.
Gangguan hormone, misalnya pada penyakit hipotiroid akan
menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.
i) Sosio-ekonomi
Anak yang dibesarkan di keluarga yang berekonomi tinggi untuk
pemenuhan kebutuhan gizi akan tercukupi dengan mbaik
dibandingkan dengan anak yang dibesarkan di keluarga yang
berekonomi sedang atau kurang. Demikian juga dengan status
pendidikan orang tua, keluarga dengan pendidikan tinggi akan lebih
mudah menerima arahan terutama tentang peningkatan kesehatan dan
lain-lain dibandingkan dengan keluarga dengan latar belakang
pendidikan rendah.
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan
lingkungan yang jelek, dan ketidaktahuan, akan menghambat
pertumbuhan anak.
j) Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu anak sangat
mempengaruhi tumbuh kembang anak.
k) Posisi anak dalam keluarga
Posisi anak sebagai anak tunggal, anak sulung, anak tengah atau anak
bungsu akan memengaruhi pola perkembangan anak tersebut diasuh
dan dididik dalam keluarga.
l) Iklim dan Cuaca
Iklim tertentu akan memengaruhi status kesehatan anak misalnya
musim penghujan akan dapat menimbulkan banjir sehingga
menyebabkan sulitnya transportasi untuk mendapatkan bahan
makanan, timbul penyakit menular, dan penyakit kulit yang dapat
menyerang bayi dan anak-anak. Anak yang tinggal di daerah endemik
misalnya endemik demam berdarah, jika terjadi perubahan cuaca
wabah demam berdarah akan meningkat.
m) Perkembangan memerlukan rangsang / stimulasi khususnya dalam
keluarga, misalnya penyediaan alat main, sosialisasi anak,
keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap anak.
n) Obat - obatan
Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat
pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang
terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi
hormone pertumbuhan.
(Pemkot Dinkes Malang, 2007)

2.1.3 Pola Pertumbuhan dan Perkembangan
Pola pertumbuhan dan perkembangan merupakan peristiwa yang terjadi
selama proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang mengalami
percepatan maupun perlambatan yang saling berhubungan antara satu organ
dengan organ yang lain. Peristiwa tersebut meliputi:
a. Pola pertumbuhan fisik yang terarah
Pola ini memiliki dua prinsip atau hukum perkembangan, yaitu:
1) Cephalocaudal atau head to tail direction
Pola pertumbuhan dan perkembangan ini dimulai dari kepala yang
ditandai dengan perubahan ukuran kepala yang lebih besar, kemudian
berkembang kemampuan untuk menggerakkan lebih cepat dengan
menggelengkan kepala dan dilanjutkan ke bagian ekstremitas bawah
lengan, tangan dan kaki. Hal tersebut merupakan pola searah dalam
pertumbuhan dan perkembangan.
2) Proximodistal atau near for direction
Pola ini dimulai dengan menggerakkan anggota gerak yang paling
dekat dengan pusat/sumbu tengah kemudian menggerakkan anggota
gerak yang lebih jauh atau ke arah bagian tepi, seperti menggerakkan
bahu terlebih dahulu lalu jari-jari.
b. Pola perkembangan dari umum ke khusus
Pola ini dikenal dengan nama pola mass to specific atau to complex. Pola
petumbuhan dan perkembangan ini dapat dimulai dengan menggerakkan
daerah yang lebih umum (sederhana) dahulu baru kemudian daerah yang
lebih kompleks (khusus), seperti melambaikan tangan kemudian baru
memainkan jarinya atau menggerakkan lengan atas, bawah telapak tangan
sebelum menggerakkan jari tangan atau menggerakkan badan atau
tubuhnya sebelum mempergunakan kedua tungkainya untuk menyangga,
melangkah, dan/atau menumpu berjalan.
c. Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan
Pola ini mencerminkan ciri khusus dalam setiap tahapan perkembangan
yang dapat digunakan untuk mendeteksi perkembangan selanjutnya,
seperti seorang anak pada usia empat tahun mengalami kesulitan dalam
berbicara atau mengemukakan sesuatu, atau terbatas dalam
perbendaharaan kata, maka dapat diramalkan akan mengalami
keterlambatan pada seluruh aspek perkembangan.
d. Pola perkembanngan dipengaruhi oleh kematangan dan latihan (belajar)
Proses kematangan dan belajar selalu mempengaruhi perubahan dalam
perkembangan anak. Terdapat saat yang siap untuk menerima sesuatu dari
luar untuk mencapai proses kematangan. Kematangan yang dicapainya
dapat disempurnakan melalui rangsangan yang tepat, masa itulah yang
dikatakan sebagai masa kritis yang harus dirangsang agar mengalami
pencapaian perkembangan selanjutnya melalui proses belajar.
(Hidayat, 2008)

2.1.4 Tahap-Tahap Tumbuh Kembang
Tahap-tahap tumbuh kembang anak dibagi menjadi :
a. Masa Prenatal
1) Masa mudigah / embrio : konsepsi - 8 minggu
2) Masa janin : 9 minggu - lahir
b. Masa Bayi
1) Masa neonatal (usia 0-28 hari) :
a) Neonatal Dini (0-7 hari)
b) Neonatal Lanjut (8-28 hari)
c. Masa Prasekolah (1-6 tahun)
d. Masa Sekolah (6-10 tahun)
(Soetjiningsih, 2005)

2.1.5 Periode Tumbuh Kembang Anak
Tumbuh-Kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan
berkesinambungan yang dimulai sejak konsepsi samai dewasa. Tumbuh
kembang anak terbagi dalam beberapa periode. Berdasarkan beberapa
kepustakaan, maka periode tumbuh kembang anak adalah sebagai berikut :
1. Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan).
Masa ini dibagi menjadi 3 periode, yaitu :
a. Masa zigot/mudigah, sejak saat konsepsi sampai umur kehamilan 2
minggu.
b. Masa embrio, sejak umur kehamilan 2 minggu sampai 8/12 minggu.
Ovum yang telah dibuahi dengan cepat akan menjadi suatu organisme,
terjadi diferensiasi yang berlangsung dengan cepat, terbentuk sistem
organ dalam tubuh.
c. Masa janin/fetus, sejak umur kehamilan 9/12 minggu sampai akhir
kehamilan.
Masa ini terdiri dari 2 periode, yaitu :
1) Masa fetus dini yaitu sejak umur kehamilan 9 minggu sampai trimester
kedua kehidupan intra uterin. Pada masa ini terjadi percepaan
pertumbuhan, pembentukan jasad manusia sempurna. Alat tubuh telah
terbentuk serta mulai berfungsi.
2) Masa fetus lanjut yaitu trimester akhir kehamilan. Pada masa ini
pertumbuhan berlangsung pesat disertai perkembangan fungsi-fungsi.
Terjadi transfer imuno-globulin G (Ig G) dari darah ibu melalui plasenta.
Akumulasi asam lemak esensial seri Omega 3 (Docosa Hexanic Acid) dan
Omega 6 (Arachidonic Acid) pada otak dan retina.
Periode yang paling penting dalam masa prenatal adalah trimester
pertama kehamilan. Pada periode ini pertumbuhan otk janin sangat peka
terhadap pengaruh lingkungan janin. Gizi kurang pada ibu hamil, infeksi,
merokok dan asap rokok, minuman berakohol, obat-obatan, bahan toksik,
pola asuh, depresi berat, faktor psikologis seperti kekerasan terhadap ibu
hamil, dapat menimbulkan pengaruh buruk bagi pertumbuhan janin dan
kehamilan. Pada setiap ibu hamil, dianjurkan untuk selalu memperhatikan
gerakan janin setelah kehamilan 5 bulan.
Agar janin dalam kandungan tumbuh dan berkembang menjadi anak
sehat, maka selama intra uterin, seorangibu diharapkan :
a. Menjaga kesehatannya dengan baik.
b. Selalu berada dalam lingkungan yang menyenangkan.
c. Mendapat nutrisi yang sehat untuk janin yang dikandungnya.
d. Memeriksa kesehatannya secra teratur ke sarana kesehatan.
e. Memberi stimulasi dini terhadap janin.
f. Tidak mengalami kekurangan kasih sayang dari suami dan keluarganya.
g. Menghindari stres baik fisik maupun psikis.
h. Tidak bekerja berat yang dapat membahayakan kondisi akehamilannya.
2. Masa bayi (infancy) umur 0 – 11 bulan.
Masa ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu :
1) Masa neonatal, umur 0 – 28 hari.
Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi perubahan
sirkulasi darah, serta mulainya berfungsi organ-organ. Masa neonatal
dibagi menjadi 2 periode :
a. Masa neonatal dini, umur 0 – 7 hari.
b. Masa neonatal lanjut, umur 8 – 28 hari.
Hal yang paling penting agar bayi lahir tumbuh dan berkembang
menjadi anak yang sehat adalah :
a. Bayi lahir ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih, di sarana
kesehatan yang memadai.
b. Untuk mengantisipasi resiko buruk pada bayi saat dilahirkan, jangan
terlambat pergi ke sarana kesehatan memadai.
c. Saat melahirkan sebaiknya didampingi oleh keluarga yang dapat
menenangkan perasaan ibu.
d. Sambutlah kelahiran anak dengan perasaan penuh suka cita dan
penuh rasa syukur. Lingkungan yang seperti ini sangat membantu
jiwa ibu dan bayi yang dilahirkan.
e. Berikan ASI segera mungkin. Perhatikan refleks menghisap oleh
karena berhubungan dengan masalah pemberian ASI.
2) Masa post (pasca) neonatal, umur 29 hari sampai 11 bulan.
Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat dan proses
pematangan berlangsung secara terus menerus terutama meningkatnya
fungsi sistem saraf.
Seorang bayi sangat tergantung pada orang tua dan keluarga
sebagai unit pertama yang dikenalnya. Berungtunglah bayi yang
mempunyai orang tua yang hidup rukun, bahagia dan memberikan yang
terbaik untuk anak.
Pada masa ini, kebutuhan akan pemeliharaan kesehatan bayi,
mendapat ASI esklusif selama 6 bulan penuh, diperkenalkan pada
makanan pendamping ASI sesuai umurnya, diberikan imunisasi sesuai
jadwal, mendapat pola asuh yang sesuai.
Masa bayi adalah masa dimana kontak erat antara ibu dan anak
terjalin, sehinga dalam masa ini, pengaruh ibu dalam mendidik anak
sangat besar.
3) Masa anak dibawah lima tahun (12 – 59 bulan).
Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan
terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik serta fungsi ekskresi.
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa
balita. Pertumbuhan dasar yang berlangsung pada masa balita akan
mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya.
Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan,
pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung; dan
terjadi pertumbuhan serabut-serabut saraf dan cabang-cabangnya,
sehingga terbentuk jaringan saraf dan otak yang kompleks. Jumlah da
pengaturan hubungan-hubungan antar sel saraf ini akan sangat
mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar
berjalan, mengenal huruf, hingga bersosialisasi.
Pada masa balaita, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa,
kreatifitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegentia berjalan sangat
cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya.
Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian anak juga
dibentuk pada masa ini, sehingga setiap kelainan/penyim-pangan sekecil
apapun apabila tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas
sumber daya manusia dikemudian hari.
4) Masa anak prasekolah (60 – 72 bulan).
Pada masa ini, pertumbuhan berlangsung dengan stabil. Terjadi
perkembangan dengan aktifitas jasmani yang bertambah dan
meningkatnya keterampilan dalam proses berpikir.
Memasuki masa prasekolah, anak mulai menunjukkan
keinginannya, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya.
Pada masa ini, selain lingkungan di dalam rumah maka
lingkungan di luar rumah mulai diperkenalkan. Anak mulai senang
bermain di luar rumah. Anak mulai berteman, bahkan banyak keluarga
yang menghabiskan sebagian besar waktu anak bermain di luar rumah
dengan cara membawa anak ke taman-taman bermain, taman-tama kota,
atau ke tempat-tempat yang menyediakan fasilitas permainan anak.
Sepatutnya lingkungan-lingkungan tersebut menciptakan suasana
bermain yang bersahabat untuk anak (child friendly environment).
Semakin banyak taman kota atau taman bermain dibangun untuk anak,
semakin baik untuk menunjang kebutuhan anak. Pada masa ini anak
dipersiapkan untuk sekolah, untuk itu panca indra dan sistim reseptor
penerima rangsangan serta proses memori harus sudah siap sehingga anak
mampu belajar dengan baik. Perlu diperhatikan bahwa proses belajar pada
masa ini adalah dengan ara bermain.
Orang tua dan keluarga diharapkan dapat memantau pertumbuhan
dan perkembangan anaknya, agar dapat dilakukan intervensi dini bila
anak mengalami kelainan atau gangguan.

2.1.6 Ciri-Ciri dan Prinsip Tumbuh Kembang
a. Ciri – ciri tumbuh kembang anak.
1) Perkembangan menimbulkan perubahan.
Perkembangan terjadi bersama dengan pertumbuhan.Setiap pertumbuhan
disertai perubahan fungsi.
2) Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan
perkembangan selanjutnya. Setiap anak tidak akan bisa melewati satu
tahap perkembangan sebelum ia belum melewati tahapan sebelumnya.
3) Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang
berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan
fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak.
4) Perkembangan berkolerasi dengan pertumbuhan
Anak sehat, bertambah umur, bertambah besar dan tinggi badannya serta
bertambah kepandaiannya.
5) Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.
Tahap-tahap perkembangan tidak bisa menjadi terbalik.
6) Perkembanagn mempunyai pola yang tetap.
Perkembanagn fungsi organ tubuh mempunyai dua pola, yaitu pola
sefalokaudal dan pola proksimodistal.
b. Prinsip – prinsip tumbuh kembang.
1) Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar
kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya
sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan
perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha melalui belajar.Anak
memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan pola
potensi yang dimiliki anak.
2) Pola perkembanagn dapat diramalkan.
Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua anak.Dengan
demikian perkembangan seorang anak dapat diramalkan.Perkembangan
berlangsung dari tahapan spesifik dan terjadi berkesinambungan.
(Pemkot Dinkes Malang, 2007)

2.1.7 Deteksi Pertumbuhan dan Standar Normalnya
Pertumbuhan dan perkembangan pada dasarnya saling terkait dan saling
mempengaruhi. Namun untuk mengetahui sejauh mana keadaan pertumbuhan
dan perkembangan anak dan apakah hal tersebut dapat berlangsung secara
normal, maka diperlukan parameter atau patokan-patokan yang berbeda antara
pertumbuhan dan perkembangan. Parameter pertumbuhan yang sering digunakan
adalah ukuran antropometri. Ukuran-ukuran tersebut meliputi:
a. Berat Badan
Pada masa pertumbuhan berat badan bayi dibagi menjadi dua, yaitu
usia 0-6 bulan dan usia 6-12 bulan. Untuk usia 0-6 bulan pertumbuhan berta
badan akan mengalami penambahan setiap minggu sekitar 140-200 gram dan
berat badannya akan menjadi dua kali berat badan lahir pada akhir bulan ke-6.
Sedangkan pada usia 6-12 bulan terjadi penambahan setiap minggu sekitar 25-
40 gram dan pada akhir bulan ke-12 akan terjadi penambahan tiga kali lipat
berat badan lahir.
Pada masa bermain, terjadi penambahan berat badan sekitar empat kali
lipat dari berta badan lahir pada usia kurang lebih 2,5 tahun serta penambahan
berat badan setiap tahunnya adalah 2-3 kg
Pada masa prasekolah dan sekolah akan terjadi penambahan berat
badan setiap tahunnya kurang lebih 2-3 kg.
b. Tinggi Badan
Pada usia 0-6 bulan bayi akan mengalami penambahan tinggi badan
sekitar 2,5 cm setiap bulannya. Pada usia 6-12 bulan mengalami penambahan
tinggi badan hanya sekitar 1,25 cm setiap bulannya. Pada akhir tahun pertama
akan meningkat kira-kira 50% dan tinggi badan waktu lahir.
Pada masa bermain penambahan selama tahun ke-2 kurang lebih 12
cm, sedangkan penambahan untuk ke-3 rata-rata 4-6 cm.
Pada masa prasekolah, khususnya di akhir usia 4 tahun, terjadi
penambahan rata-rata dua kali lipat dari tinggi badan waktu lahir dan
mengalami perubahan setiap tahunnya kurang lebih 6-8 cm.
Pada masa sekolah akan mengalami penambahan setiap tahunnya.
Setelah usia 6 tahun tinggi badan bertambah rata-rata 5 cm, kemudian pada
usia 13 tahun bertambah lagi menjadi rata-rata tiga kali lipat dari tinggi badan
waktu lahir.
c. Lingkar Kepala
Pertumbuhan pada lingkar kepala ini terjadi dengan sangat cepat
sekitar enam bulan pertama, yaitu dari 35-43 cm. pada usia-usia selanjutnya
pertumbuhan lingkar kepala mengalami perlambatan. Pada usia 1 tahun hanya
mengalami pertumbuhan kurang lebih 46,5 cm. Pada usia 2 tahun mengalami
pertumbuhan kurang lebih 49 cm, kemudian akan bertambah 1 cm sampai
dengan usia tahun ke-3 dan bertambah lagi kurang lebih 5 cm sampai dengan
usia remaja.
d. Lingkar Lengan Atas
Pertambahan lingkar lengan atas ini relatif lambat. Saat lahir, lingkar
lengan atas sekitar 11 cm, pada tahun pertama lingkar lengan atas menjadi 16
cm, selanjutnya ukuran tersebut tidak banyak berubah sampai usia 3 tahun.
Ukuran lingkar lengan atas mencerminkan pertumbuhan jaringan lemak dan
otot yang tidak terpengaruh oleh keadaan cairan tubuh dan berguna untuk
menilai keadaan gizi dan pertumbuhan anak prasekolah.
( Nursalam, 2005 )

2.1.8 Aspek-Aspek Perkembangan
a. Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan
otot-otot besar seperti duduk, berdiri dan sebagainya.
b. Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan begian – bagian tubuh
tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi
yang cermat seperti mengambil sesuatu, menjimpit, menulis, dan sebagainya.
c. Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yag berhubungan dengan
kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, berbicara,
berkomunikasi, mengikuti perintah, dsb.
d. Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membersekan mainan selesai
bermain), berpisah dengan ibu/pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya, dsb.

2.1.9 Anamnesis Tubuh Kembang Anak
a. Anamnesis factor prenatal dan perinatal.
Merupakan factor yang terpenting untuk mengetahui perkembangan
anak.Anamnesis harus menyangkut factor resiko untuk terjadinya gangguan
perkembangan fisik dan mental anak termasuk factor resiko untuk buta, tuli,
palsi serebralis, dll.Anamnesis juga menyangkut penyakit keturunan dan
apakah ada perkawinan antar keluarga.
b. Kelahiran premature.
Menurut Soetjiningsih(2005), harus dibedakan antara bayi premature
(SMK : Sesuai Masa Kehamilan) dan bayi dismatur (KMK : Kecil Masa
Kehamilan) dimana telah terjadi retardasi pertumbuhan intrauterine.
Pada bayi premature, karena dia lahir lebih cepat dari kelahiran
normal, maka harus diperhitungkan periode pertumbuhan intrauterine yang
tidak sempat dilalui tersebut.
c. Anamnesis harus menyangkut factor lingkungan yang mempengaruhi
perkembangan anak. Misalnya untuk meneliti perkembangan motorik pada
anak, harus ditanyakan berat badannya. Karena erat hubungannya dengan
perkembangan motorik tersebut. Penyakit – penyakit yang dapat
mempengaruhi tumbuh kembang dan malnutrisi.
d. Anamnesis kecepatan pertumbuhan anak.
Merupakan informasi yang sangat penting yang harus ditanyakan pada
ibunya pada saat pertama kali datang.
e. Pola perkembangan anak dalam keluarga.
Anamnesis tentang perkembangan anggota keluarga lainnya, karena ada
kalanya perkembangan motorik dalam keluarga tersebut dapat lebih cepat.

2.1.10 Kebutuhan Dasar Anak Untuk tumbuh Kembang
a. Asuh (Kebutuhan Fisik-Biomedis)
Yang termasuk kebutuhan asuh adalah nutrisi yang mencukupi dan
seimbang, perawatan kesehatan dasar, pakaian, perumahan, higiene diri dan
lingkungan, serta kesegaran jasmani (olahraga dan rekreasi). Pemberian
nutrisi secara mencukupi pada anak harus sudah dimulai sejak dalam
kandungan, yaitu dengan pemberian nutrisi yang cukup memadai pada ibu
hamil. Setelah lahir, harus diupayakan pemberian ASI secara eksklusif, yaitu
pemberian ASI saja sampai anak berumur 6 bulan.
b. Asih (Kebutuhan Emosi dan Kasih Sayang)
Kebutuhan emosi dan kasih sayang dapat dimulai sedini mungkin. Saat
anak berada dalam kandungan, kontak psikologis antara ibu dan anak dapat
diupayakan misalnya dengan mengajak bicara/mengelusnya. Setelah lahir,
upaya tersebut dapat dilakukan dengan mendekapkan bayi ke dada ibu segera
setelah lahir. Ikatan emosi dan kasih sayang yang erat antara ibu/orang tua
dengan anak sangatlah penting karena berguna untuk menentukan perilaku
anak di kemudian hari, merangsang perkembangan otak anak, serta
merangsang perhatian anak terhadap dunia luar. Kebutuhan asih ini meliputi:
kasih sayang orang tua, rasa aman, harga diri, dukungan/dorongan, mandiri,
rasa memiliki, dan kebutuhan akan sukses, mendapatkan kesempatan serta
pengalaman.
c. Asah (Kebutuhan Stimulasi)
Stimulasi adalah adanya perangsangan dari lingkungan luar anak, yang
berupa latihan atau bermain. Stimulasi merupakan kebutuhan yang sangat
penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak yang banyak
mendapat stimulasi yang terarah akan cepat berkembang dibandingkan
dengan yang kurang mendapatkan stimulasi. Pemberian stimulasi ini sudah
dapat dilakukan sejak masa pranatal dan setelah lahir dengan cara
menetekkan bayi kepada ibunya sedini mungkin. Asah merupakan kebutuhan
untuk perkembangan mental psikososial anak yang dapat dilakukan dengan
pendidikan dan pelatihan.
(Nursalam, 2005)

2.2 TES SKRINING PERKEMBANGAN MENURUT DENVER
(Denver Devfelopmental Screening Test / DDST)
2.1.1. Pengertian
Penilaian pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan sedini
mungkin sejak anak dilahirkan. Deteksi dini merupakan upaya penjaringan
yang dilaksanakan secara komprehensif untuk menemukan penyimpangan
tumbuh kembang dan mengetahui serta mengenal faktor risiko pada balita,
yang disebut juga anak usia dini. Melalui deteksi dini dapat diketahui
penyimpangan tumbuh kembang anak secara dini, sehingga upaya
pencegahan, stimulasi, penyembuhan serta pemulihan dapat diberikan
dengan indikasi yang jelas pada masa-masa kritis proses tumbuh kembang.
Upaya-upaya tersebut diberikan sesuai dengan umur perkembangan anak,
dengan demikian dapat tercapai kondisi tumbuh kembang yang optimal (Tim
Dirjen Pembinaan Kesmas, 1997).
Penilaian pertumbuhan dan perkembangan meliputi dua hal pokok,
yaitu penilaian pertumbuhan fisik dan penilaian perkembangan. Penilaian
perkembangan ini dapat dilakukan melalui Denver II, dimana Denver II
adalah revisi utama dari standardisasi dari Denver Development Screening
Test (DDST) dan Revisied Denver Development Screening Test (DDST-R).
DDST adalah salah satu metode skrining untuk mengetahui sedini mungkin
adanya kelainan perkembangan anak sejak lahir sampai berumur 6 tahun,
waktu yang dibutuhkan antara 15-20 menit.
2.1.2. Indikasi
Indikasi dilakukannya DDST II adalah kepada:
1. Bayi/anak sehat
2. Bayi/anak dengan risiko tinggi

2.1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari DDST II antara lain sebagai berikut:
1. Menilai tingkat perkembangan anak sesuai dengan usianya.
2. Menilai tingkat perkembangan anak yang tampak sehat.
3. Menilai tingkat perkembangan anak yang tidak menunjukkan gejala,
kemungkinan adanya kelainan perkembangan.
4. Memastikan anak yang diduga mengalami kelainan perkembangan.
5. Memantau anak yang berisiko mengalami kelainan perkembangan.

2.1.4. Aspek Perkembangan yang Dinilai
Terdiri dari 125 tugas perkembangan. Tugas yang diperiksa setiap kali
skrining hanya berkisar 25-30 tugas.
Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai antara lain sebagai berikut:
1. Personal social (perilaku sosial)
Aspek yankg berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya.
2. Fine motor adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati
sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu
dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
3. Lenguage (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah
dan berbicara spontan.
4. Gross motor (gerakan motorik kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

2.1.5. Persiapan Tempat dan Alat
1. Ruang periksa yang tenang/tidak bisisng.
2. Meja kursi/matras
3. Formulir DDST
4. Alat peraga: benang wol merah, kismis atau manik-manik, boneka kecil
dengan botol susu, cangkir kecil dengan pegangan, peralatan makan,
pakaian, buku gambar atau kertas, pensil, kubus (dengan rusuk 2,5 cm)
warna merah-kuning-hijau-biru masing-masing 2 buah, bola tenis, dll
(disesuaikan umur anak).
5. Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes
dan cara penilaian.
2.1.6. Persiapan Pasien
Persiapan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Sapa orang tua/pengasuh dan anak dengan ramah.
2. Jelaskan tujuan dilakukannya test perkembangan, jelaskan bahwa test ini
bukan untuk mengetahui IQ anak.
3. Buat komunikasi yang baik dengan anak/keluarga.

2.1.7. Pelaksanaan DDST II
Tahap Pengkajian
1. Kaji pengetahuan keluarga atau anak mengenai DDST II.
2. Kaji pengetahuan tentang tumbang normal dan riwayat social.
3. Tentukan atau kaji ulang usia kronologis anak.
Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu:
1. Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia:
 3-6 bulan
 9-12 bulan
 18-24 bulan
 3 tahun
 4 tahun
 5 tahun
2. Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan
perkembangan pada tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan
evaluasi diagnostik yang lengkap.
Cara Pemeriksaan DDST II
1. Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan yanggal lahir anak yang akan
diperiksa. Gunakan patokan 30 hari untuk 1 bulan dan 12 bulan untuk 1
tahun.
2. Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah,
jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.
3. Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis
horizontal tugas perkembangan pada formulir DDST.
4. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan
berapa yang F.
5. Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: normal,
abnormal, meragukan, dan tidak dapat di tes.
a. Abnormal
1) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih
2) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan
plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang
sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan
dengan garis vertikal usia.
b. Meragukan
1) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih.
2) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada
sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan
dengan garis vertikal usia.
c. Tidak dapat di tes
Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi
abnormal atau meragukan.
d. Normal
Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas.
Pada anak-anak yang lahir prematur, usia disesuaikan hanya sampai
anak usia 2 tahun:
Contoh perhitungan anak dengan prematur:
An. Dian lahir prematur pada kehamilan 32 minggu, lahir pada
tanggal 5 Agustus 2006. Diperiksa perkembangannya dengan DDST
II pada tanggal 1 April 2008. Maka cara menghitung usia kronolgis
An. Dian:
Diketahui:
Tanggal lahir An. Dian : 5-8-2006
Tanggal Periksa : 1-4-2008
Prematur : 32 minggu
Jawab :
2008 – 4 – 1 An. Dian prematur 32 minggu
2006 – 8 – 5 Aterm = 37 minggu
Maka 37 – 32 = 5 minggu
1 – 7 – 26
Jadi usia An. Dian jika aterm (tidak prematur) adalah 1 tahun 7 bulan
26 hari atau 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan.
Usia tersebut dikurangi usia keprematurannya yaitu 5 minggu X 7
hari = 35 hari, sehingga usia kronologis An. Dian untuk pemeriksaan
DDST II adalah: 1 tahun 7 bulan 26 hari – 35 hari = 1 tahun 6 bulan
21 hari atau 1 tahun 7 bulan atau 19 bulan.
Tanda Item Penilaian
1. O = F (Fail/gagal)
Bila anak tidak mampu melakukan uji coba dengan baik, ibu atau
pengasuh memberi laporan anak tidak dapat melakukan tugas dengan
baik.
2. M = R (Refusal/menolak)
Anak menolak untuk uji coba.
3. V = P
Apabila anak dapat melakukan uji coba dengan baik, ibu atau pengasuh
memberi laporan tepat atau dapat dipercaya bahwa anak dapat
melakukan dengan baik.
4. No = No Opprtunity
Anak tidak punya kesempatan untuk melakukan uji coba karena ada
hambatan, uji coba yang dilakukan orang tua.
Interpretasi dari Nilai DDST II
1. Advanced
Bila anak mampu melaksanakan tugas pada item di sebelah kanan garis
umur, lulus kurang dari 25% anak yang lebih tua dari usia tersebut.
2. Normal
Bila anak gagal atau menolak tugas pada item di sebelah kanan garis
umur, lulus atau gagal atau menolak pada item antara 25-75% (warna
putih).
3. Caution
Tulis C pada sebelah kanan blok, gagal atau menolak pada item antara
75-100% (warna hijau).
4. Delay
Gagal atau menolak item yang ada di sebelah kiri dari garis umur.
Interpretasi Test
1. Normal
Tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan.
2. Suspect
Satu atau lebih kelambatan dan atau dua atau lebih banyak kewaspadaan.
3. Untestable
Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia
atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada
area 75% sampai 90%.
Rekomendasi untuk rujukan tes suspect dan untestable: skrining ulang
pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan faktor temporer.

2.3 KONSEP MANAJEMEN KEBIDANAN TES PERKEMBANGAN DDST
2.3.1 Pengkajian Data
Tanggal....jam....tempat....
a. Data Subyektif
1) Biodata
a) Nama
Nama anak digunakan untuk mengenali dan memanggil anak agar
tidak keliru dengan anak lain
b) Umur
Untuk mengetahui usia anak saat ini. (Ngastiyah, 2005).
Umur yang paling rawan adalah masa balita oleh karena pada
masa itu anak mudah sakit dan mudah terjadi kurang gizi.
Disamping itu, masa balita merupakan dasar pembentukan
kepribadian anak. Sehingga diperlukan perhatian khusus.
(Soetjiningsih, 2005)
c) Jenis kelamin
Dikarenakan anak laki-laki lebih sering sakit dibandingkan anak
perempuan, tetapi belum diketahui segera pasti mengapa
demikian. (Soetjiningsih, 2005)
d) Nama orang tua
Nama ayah, ibu, atau wali pasien harus dituliskan dengan jelas
agar tidak keliru dengan orang lain, mengingat banyak sekali
nama yang sama. Bila ada title yang bersangkutan harus
disertakan.
e) Umur orang tua
Sebagai tambahan identitas dan memudahkan petugas kesehatan
dalam melakukan pendekatan.
f) Agama orang tua
Sebagai data tentang agama juga memantapkan identitas,
disamping itu perilaku seseorang tentang kesehatan dan penyakit
sering berhubungan dengan agama. Kepercayaan dapat
menunjang namun tidak jarang dapat menghambat perilaku hidup
sehat.

g) Pendidikan orang tua
Selain sebagai tambahan identitas, informasi tentang pendidikan
orang tua baik ayah maupun ibu, dapat menggambarkan
keakuratan data yang akan diperoleh serta dapat ditentukan pula
pendekatan selanjutnya, misalnya dalam anamnesis. Tingkat
pendidikan orang tua juga berperan dalam pendekatan
selanjutnya, misalnya dalam pemeriksaan penunjang dan
tatalaksana pasien.
h) Pekerjaan orang tua
Pekerjaan atau pendapatan keluarga yang memadai akan
menunjang tumbuh kembang anak, karena orang tua dapat
menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun
sekunder.
i) Alamat
Tempat tinggal pasien harus dituliskan dengan jelas dan lengkap,
kejelasan alamat keluarga ini amat diperlukan agar sewaktu-
waktu dapat dihubungi, misalnya bila pasien sangat gawat atau
setelah pasien pulang diperlukan kunjungan rumah. Daerah
tempat tinggal pasien juga mempunyai epidemiologi.
2) Alasan datang
Alasan yang mendasari ibu untuk datang ke puskesmas.
3) Riwayat kesehatan sekarang
Keadaan anak saat akan diperiksa, anak sehat atau menderita suatu
penyakit tertentu. Karena bila anak dalam keadaan sakit atau
menderita suatu penyakit tertentu akan menghambat proses
pemeriksaan tumbuh kembang.
4) Riwayat kesehatan dahulu
Penyakit-penyakit yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang dan
malnutrisi. Anak yang menderita penyakit menahun akan terganggu
tumbuh kembangnya dan pendidikannya seperti pada anak-anak yang
menderita asma, sakit jantung, sakit ginjal, penyakit ISPA, selain itu
perlu dikaji apakah anak pernah kejang. Hal ini perlu dikaji karena
pada umumnya anak yang berpenyakit kronis sering disertai
gangguan kejiwaan, akibat dari stress yang disebabkan penyakitnya.
5) Riwayat kesehatan keluarga
Untuk mengetahui gambaran kondisi keluarga, ada atau tidak adanya
anggota keluarga yang menderita penyakit tertentu. Apakah ada yang
menderita penyakit-penyakit menular seperti TBC, hepatitis, serta
penyakit menurun atau menahun seperti asma, jantung.
6) Riwayat imunisasi
Pemberian imunisasi pada anak adalah penting untuk mengurangi
morbiditas dan mortalitas terhadap penyakit-penykit yang bisa
dicegah dengan imunisasi. Dengan memberikan imunisasi, maka
diharapkan anak terhindar dari penyakit-penyakit yang sering
menyebabkan cacat atau kematian. Dianjurkan sebelum anak berumur
satu tahun sudah mendapat imunisasi BCG, Polio 4x, DPT 3x,
hepatitis B 4x, dan Campak. Yang perlu dikaji adalah imunisasi apa
saja yang telah diterima oleh anak dan bagaiman reaksinya, apa saat
lahir langsung diimunisasi.
7) Riwayat pemberian MP-ASI
Tahapan pemberian MP-ASI
Tahap I : 0-6 bulan
Bayi hanya membutuhkan asupan berupa ASI (ASI eksklusif)
Tahap II : 6-7 bulan
Tekstur MP-ASI untuk bayi 6-7 bulan bisa berupa makanan lembut
agak cair atau lembut agak padat juga camilan berupa biskuit mudah
lumer yang tidak membuatnya tersedak yang disebut finger food
karena bisa digenggam si anak.
Tahap III : 7-9 bulan
Selain ASI, bayi sudah bisa diberi makanan lembek, saribuah, juga
finger food. Tekstur makanan bisa dibuat lebih kasar. Tapi bila bayi
belum mau atau mudah tersedak jangan dipaksa.
Tahap IV : 9-12 bulan
ASI masih diberikan juga finger food dan saribuah. Untuk makanan
utama, perkenalkan anak makanan cincang dan nasi tim karena
normalnya pada umur ini bayi sudah pandai mengunyah dan menelan
makanan yang agak kasar bahkan sudah bisa makan bersama menu
orangtua.
8) Riwayat perkembangan
Merupakan faktor yang penting untuk mengetahui perkembangan
anak. Tidak selalu perkembangan anak mulus seperti pada teori,
adakalanya perkembangan anak normal sampai usia tertentu,
kemudian mengalami keterlambatan. Ada juga yang mulanya
terhambat atau karena sakit. Perkembangan terhenti yang kemudian
normal kembali. Dapat juga perkembangan yang berlangsung pesat
misalnya pada perkembangan bahasa.
9) Pola nutrisi
Nutrisi memegang peran yang penting dalam tumbuh kembang anak,
karena anak sedang tumbuh sehingga kebutuhannya berbeda dengan
orang dewasa. Kekurangan makanan yang bergizi akan menyebabkan
retardasi pertumbuhan anak. Makanan yang berlebihan juga tidak
baik, karena dapat menyebabkan obesitas. Yang perlu dikaji :
frekuensi anak makan dalam sehari, bagaimana komposisinya, minum
susu atau air putih berapa kali sehari atau diberikan ASI tiap berapa
jam.
10) Pola istirahat
Kebutuhan istirahat dan tidur
 Umur 0-6 bulan : 20-18 jam
 Umur 6-12 bulan : 18-16 jam
 Umur 1-5 tahun : 16-12 jam
 Umur 6-12 tahun : 11-9 jam
11) Pola kebersihan
Kebersihan, baik kebersihan perorangan maupun kebersihan
lingkungan memegang peranan penting pada tumbuh kembang anak.
Kebersihan perorangan yang kurang akan memudahkan terjadinya
penyakit kulit dan saluran pencernaan. Yang dikaji frekuensi berapa
kali mandi, gosok gigi, ganti baju, dan pakaian dalam sehari, dan lain-
lain.
12) Pola eliminasi
Pada anak adakah gangguan saat BAB karena rawan terjangkit kuman
di luar rumah. Untuk BAK juga sangat penting untuk mengetahui
akan kebutuhan cairan sudah cukup atau belum
13) Riwayat psikososial
Riwayat perkawinan orang tua, jumlah anggota keluarga, urutan anak,
dan yang mengasuh mempengaruhi dalan tumbuh kembang anak.
Kemudian hal lain yang terkait dengan psikososial adalah :
a) Stimulasi yang terarah dan teratur akan membuat anak akan lebih
cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang atau
tidak mendapat stimualasi
b) Motivasi belajar yang ditimbulkan sejak dini dengan memberikan
lingkungan yang kondusif untuk belajar
c) Ganjaran atau hukuman yang wajar akan menimbulkan motivasi
yang kuat bagi anak untuk tidak mengulangi tingkah lakunya
d) Kelompok sebaya untuk proses sosialisasi dengan lingkungannya
e) Cinta dan kasih sayang serta perlakuan yang adil dari orang
tuanya
b. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan umum : baik / cukup / lemah
2) Kesadaran : composmentis / letargis / somnolen / apatis /
koma
3) TTV
a. Nadi

Denyut Nadi / menit
Umur Istirahat/
Istirahat/ tidur Aktif/demam
bangun
100–180 80-160
Bayi lahir Sampai 220
x/menit x/menit
1 minggu – 100-220 80-200
Sampai 220
3 bulan x/menit x/menit
3 bulan – 2 80-150 70-120
Sampai 220
tahun x/menit x/menit
2 tahun – 10 75-110 60-90
Sampai 220
tahun x/menit x/menit
55-90 55-90
>10 tahun Sampai 220
x/menit x/menit

(Potter A, dkk.2005:787)
b. Penapasan

Umur Rentang Rata-rata waktu tidur
Neonatus 30 – 60 x/menit 35 x/menit
1bulan - 1tahun 30 – 60 x/menit 30 x/menit
1tahun – 2tahun 25 – 50 x/menit 25 x/menit
3tahun – 4tahun 20 –30 x/menit 22 x/menit
5tahun – 9tahun 15 – 30 x/menit 18 x/menit
10 tahun/ > 15 – 30 x/menit 15 x/menit

(Potter A, dkk.2005:709)
c. Suhu Tubuh

Umur Suhu
3 bulan 37,50C
1 tahun 37,70C
3 tahun 37,20C
5 tahun 370C

(Potter A, dkk.2005:797)

2. Pemeriksaan antropometri
1. Berat badan normal
a) Usia 3-12 bulan  n+9
b) Usia 1-6 tahun  2n+8
2. Tinggi badan : normal usia 1 tahun yakni 45 cm
Tinggi badan rata – rata pada waktu lahir adalah 48-52 cm
3. Lingkar kepala
Lingkar kepala saat lahir normal 34-35 cm, bertambah 0,5
cm/bulan. Pada 6 bulan pertama menjadi ± 44 cm. umur 1 tahun
47 cm. 2 tahun 49 cm dan dewasa 54 cm.
4. Lila
Bila saat lahir 11 cm, tahun pertama 16 cm selanjutnya ukuran
tersebut tidak banyak berubah sampai usia 3 tahun.

3. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Melihat secara keseluruhan pada fisik anak dari kepala sampai
kaki (head to toe)
Kepala : Amati kebersihan, warna rambut, kebersihan
Muka : Amati apakah wajah pucat, odema
Mata : Amati kesimetrisan, sklera (puith / ikterus),
reflek pupil, dan conjungtiva (merah muda /
pucat)
Hidung : Amati kebersihan hidung adakah sekret,
polip, serta adakah perdarahan pada hidung
Mulut : Amati kebersihan, keadaan bibir, stomatitis
Telinga :Amati kesimetrisan, kebersihan telinga
(apakah ada serumen dan perdarahan)
Leher : Amati pembesaran kelenjar limfe
Ketiak : Amati pembesaran kelenjar limfe
Dada : Amati kebersihan dan kesimetrisan,
pernafasan dan retraksi dada
Abdomen : Amati apakah perut buncit, hernia umbikalis
Genetalia : Amati kebersihan daerah genetalia
Anus : Amati kebersihan
Ekstremitas : Amati kesimetrisan, jumlah jari ekstremitas
bagian atas ataupun bawah
b. Palpasi
Leher : Tidak teraba pembesaran kelenjar limfe
Ketiak : Tidak teraba pembesaran kelenjar limfe
Perut : Adakah benjolan yang abnormal
c. Perkusi
Perut : Tidak kembung
d. Auskultasi
Dada : Terdengar wheezing, ronchi, atau tidak
Abdomen : Terdengar bising usus atau tidak.

2.3.2 Identifikasi Masalah
Dx : An. “...” Usia .. Tahun .. Bulan dengan Tumbuh Kembang
Normal
DS : Ibu mengatakan anaknya saat ini dalam keadaan sehat
Saat ini anak sudah bisa berlari dan melompat-lompat dan
mulai bicara dengan teratur dan jelas.
DO : - Keadaan Umum : Cukup
- Kesadaran : Composmentis
- Nadi : 100 – 120 x / menit
- Pernafasan : 30 - 60 x / menit
- BB : 10 - 15 kg
- TB : 70 - 100 cm
a. Pertumbuhan
Apakah petumbuhan mengalami masalah atau tidak. Dapat dilihat dari berat
badan serta tinggi badan anak berdasarkan usianya apakah normal, kelebihan
atau kekurangan. Karena hal ini berkaitan dengan status gizi anak.
b. Perkembangan
Pada hasil pemeriksaan apakah ada perkembangan yang terhambat atau
tidak. Hal ini dapat dilihat dari kesimpulan hasil KPSP.
c. Masalah lainnya
Dari hasil pemeriksaan dan penilaian apakah ada masalah yang ditemukan
sehingga memungkinan tindakan tes ulang sampai dengan rujukan

2.3.3 Identifikasi Masalah Potensial
Dilakukan untuk mengantisipasi permasalahan yang akan timbul dari
kondisi yang ada/ sudah terjadi dan dapat merumuskan tindakan yang perlu
diberikan untuk mencegah atau menghindari masalah/diagnosa potensial
yang akan terjadi.

2.3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
Dilaksanakan berdasarkan identifikasi perlunya tindakan segera, baik
tindakan intervensi, tindakan konsultasi, kolaborasi dengan dokter, atau
rujukan berdasarkan kondisi klien.

2.3.5 Intervensi
Tanggal…….. Pukul……….
Dx :
KH :
Intervensi ;
a. Jelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan perkembangan anak
menggunakan DDST
R. Agar ibu mengetahui tentang perkembangan anaknya
b. Jelaskan pada ibu tentang kegunaan dari penilaian perkembangan.
R. Agar ibu lebih mengerti dan memahami manfaat dari penilaian
perkembangan DDST
c. Sarankan ibu untuk selalu melihat dan mengamati pertumbuhan dan
perkembangan anaknya
R. Dapat segera diketahui dan diatasi jika ada keterlambatan pada anak
d. Jelaskan pada ibu tentang peranan orang tua dan teman sebaya terhadap
perkembangan anak.
R. Ibu mengerti dan memahami tentang perannya sebagai orang tua
terhadap perkembangan anaknya
e. Beritahu ibu tentang tahapan perkembangan anak selanjutnya.
R. Ibu dapat memberikan stimulus pada aak dan mengetahui dengan
segera jika terjadi keterlambatan pada perkembangan anaknya
f. Sarankan ibu untuk memeriksakan kembali anaknya dengan DDST ke
petugas kesehatan 6 bulan lagi
R. Ibu dapat mengetahui dan mengecek perkembangan anaknya apakah
ada keterlambatan atau tidak

2.3.6 Implementasi
Tanggal………… Pukul……….
Dx :……..

Implementasi :
Sesuai dengan intervensi yang ada
Dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan kondisi anak secara efektif,
efisien dan aman.

2.3.7 Evaluasi
Tanggal…………. Pukul…………
S :
O :
A :
P :