Pemeriksaan Fisik (01/03/2016

)

Jantung

 Inspeksi : Iktus kordik tidak terlihat
 Palpasi : Iktus kordis teraba di sela iga 5, 1 jari medial linea midclavicularis kiri. Thrill (-), heaving
(-), lifting (-)
 Perkusi : Batas kanan jantung di sela iga 5 linea sternal kanan, batas pinggang jantung di sela iga
3 linea parasternal kanan, batas kiri jantung di sela iga 5 linea midklavikularis kiri
 Auskultasi : S1 S2 normal, murmur (-), gallop (-)

Paru
 Inspeksi : Penggunaan otot bantu napas (-), bentuk dada normal, benjolan (-), bendungan vena
(-), kelainan kulit (-), retraksi dinding dada (-), pelebaran sela iga (-), dada simetris statis dan
dinamis, pola napas abdominotorakal.
 Palpasi : Ekspansi dada simetris, fremitus raba kiri = kanan
 Perkusi : Sonor/sonor
 Aulkultasi : vesicular +/+, ronki basah -/-, wheezing -/-

Abdomen
 Inspeksi : Datar, simetris, benjolan (-), spider nevi (-), bendungan vena (-)
 Palpasi : Benjolan (-), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba, ballotemen (-), nyeri ketok CVA
(-)
 Perkusi : Timpani, shifting dullness (-)
 Aulkultasi : Bising usus (+) 3x/menit

Pengkajian

Dipikirkan Dislipidemia, atas dasar :

Dari hasil Pemeriksaan Lab didapatkan Hiperkolesterolemi, hipertrigliseridemi, isolated low HDL-
cholesterol

Kolesterol LDL : 132 mg/dL (N : < 100 mg/dL)

Kolesterol total : 200 mg/dL ( N : < 200 mg/dL)

Kolesterol HDL : 30 mg/dL (N : ≥ 60 mg/dL)

Trigliserida : 192 mg/dL (N : < 150 mg/dL)

Rencana diagnosis : -

Rencana tata laksana : Simvastatin 1 x 10 mg
Rencana edukasi :

 Terapi Nutrisi Medis
 Aktivitas Fisik

Pembahasan

Pasien (66 tahun ) didapatkan hasil profil lipid yakni:

Kolesterol LDL : 132 mg/dL (N : < 100 mg/dL)

Kolesterol total : 200 mg/dL ( N : < 200 mg/dL)

Kolesterol HDL : 30 mg/dL (N : ≥ 60 mg/dL)

Trigliserida : 192 mg/dL (N : < 150 mg/dL)

Tabel 1. Faktor Risiko (Selain Kolesterol LDL ) yang Menentukan Sasaran Kolesterol LDL yang Ingin
Dicapai
 Umur pria ≥ 45 tahun dan wanita ≥ 55 tahun
 Riwayat keluarga dengan PJK dini (Infark miokard atau sudden death < 55 tahun pada ayah
atau <65 tahun pada ibu
 Perokok aktif
 Hipertensi (TD ≥ 140/90 mmHg atau sedang mendapat obat antihipertensi)
 Kolesterol HDL rendah ( < 40 mg/dL)*
*Kolesterol HDL ≥ 60 mg/dL, mengurangi satu faktor risiko

Sumber : Adam JMF. Dalam : Setiati S, Alwi, Sudoyono AW, Simadibrata M, Setiyohadi B, Syam AF : Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed ke-6. Jakarta : Interna Publishing 2014 ; 332 :2549-58.

Pengkajian Dislipidemia pada pasien ini didapatkan abnormalitas pada profil lipid. Selain itu, juga
didapatkan faktor risiko yang mengarah pada penyakit kardiovaskular sebagai berikut :

 umur pasien 66 tahun
 Terdapat riwayat keluarga dengan PJK?
 Perokok aktif
 Terdapat riwayat hipertensi
 Dari hasil lab menunjukkan HDL rendah
National Cholesterol Education Program Adult Panel III (NCEP ATP III).

Sumber : Adam JMF. Dalam : Setiati S, Alwi, Sudoyono AW, Simadibrata M, Setiyohadi B, Syam AF :
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed ke-6. Jakarta : Interna Publishing 2014 ; 332 :2549-58.

Pengelolaan dislipidemia dilakukan dengan mengendalikan lipid dan factor metabolik lainnya yang
berperan seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas. Akhirnya pengelolaan ini bertujuan sebagai
pencegahan primer terhadap komplikasi kardiovaskular. Terapi dyslipidemia sendiri terdiri atas terapi
farmakologis dan non-farmakologis.

a. Terapi Non-farmakologis
1. Aktivitas fisik

Program aktivitas fisik yang disarankan adalah exercise intensitas sedang selama 30 menit sebanyak 4-6
kali seminggu yang tiap harinya adapt dilaukan dalam satu sesi atau dibagi menjadi beberapa sesi
diselingi istirahat untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Aktivitas yang disarankan seperti jalan cepat,
sepeda statis, atau berenang.2

2. Nutrisi Medis
Nutrisi medis yang disarankan adalah diet rendah kalori berupa sayuran, biji-bijian, ikan, dan daging
tanpa lemak, serta diet makronutrien yang dapat menurunkan kadar LDL seperti tanaman stanol dan
serat larut air. 2

3. Berhenti Merokok

Merokok merupakan faktor resiko kuat untuk komplikasi kardiovaskular, apalagi diperparah dengan
keadaan dislipidemia yang dapat mempercepat pembentukan plak aterosklerotik pada pembuluh
coroner. Diketahui bahwa penghentian merokok selama sebulan dapat menurunkan K-HDL secara
signifikan. 2

b. Terapi Farmakologis

Terapi farmakologis untuk dislipidemia menurut kriteria ACC/AHA 2013 dilakukan dengan pemberian
statin dan dipantau dengan melihat presentase penurunan K-LDL dari nilai awal.

Menurut kriteria ATP III, terdapat beberapa kelompok obat hipolipidemik lainnya yang dapat digunakan
selain statin, daiantaranya adalah bile acid sequestrant, asam nikotinat, dan asam fibrat. Berikut adalah
profil dari beberapa obat hipolipidemik. 2

Obat Efek Terhadap Lipid Efek Samping Kontraindikasi Absolut
Statin LDL ↓18-55%, Miopati Penyakit hati akut atau
TG ↓ 7-30% Peningkatan enzim hati kronik
Bile Acid LDL ↓ 15-30% Gangguan GI, konstipsai Disbetalipoproteinemia
TG tidak berubah Absorpsi obat lain turun
Asam Nikotinat LDL ↓ 5-25% Hiperglikemia, hiperurisemia, Penyakit liver kronik
TG ↓ 20-50% hepatotoksik atau penyakit liver
berat
Asam Fibrat LDL ↓2-20% Dispepsia, batu empedu Penyakit ginjal dan hati
TG ↓ 20-50% Miopati berat

Menurut ACC/AHA 2013, statin merupakan satu-satunya obat hipoolipidemik yang menunjukkan bukti
konsisten dalam pencegahan penyakit kardiovaskular arteriosklerotik (ASCVD). Obat-obat lain belum
terbukti kuat tetapi dapat digunakan bila terdapat kontraindikasi statin atau keterbatasan pemakaian.
Berikut adalah penjelasan untuk tiap obat hipolipidemik. 2

1. Statin

Statin bekerja dengan hambat kompetitif terhadap kerja HMG-CoA reduktase sehingga menurunkan
produksi kolesterol di liver. Akibatnya kolesterol intrasel juga menurun sehingga ekspresi reseptor LDL
pada hepatosit meningkat menyebabkan penurunan konsentrasi dan pengeluaran LDL-C dari darah.
Menurut ACC/AHA 2013 sendiri, statin dapat dibedakan menjadi 3 macam berdasarkan kemampuannya
menurunkan K-LDL, yaitu statin intensitas tinggi (≥ 50%), intensitas sedang (30-50%), dan intensitas
rendah (≤ 30%).2
Statin juga dapat digunakan dalam pencegahan dislipidemia, baik primer maupun sekunder. Untuk
pencegahan primer, pemakaian statin harus diinformasikan manfaat, maksud dan tujuan pemakaian
serta pertimbangan factor tambahan seperti komorbiditas, harapan hidup, serta ekonomi pasien. Untuk
pencegahan tidak perlu ditetapkan target LDL dan tidak perlu pemeriksaan lipid kecuali diapndu clinical
judgment dan keinginan pasien. 2

Untuk pencegahn sekunder, terapi statin disarankan bagi pasien dewasa dengan kelainan kardiovaskular
setelah sebelumnya diinfokan pada pasien. Pasien dengan sindrom coroner akut harus ditangani dengan
statin intensitas tinggi namun harus atas persetujuan pasien. 2

2. Asam Fibrat

Asam fibrat bekerja dengan menurunkan kadar trigliserida plasma dengan mengaktifkan lipoprotein
lipase dan menurunkan sintesis trigliserida di hati. Obat ini juga dapat meningkatkan HDL dengan
peningkatan apoportein A-I dan A-II. Di Indonesia tersedia sebagai gemfibrozil dan fenofibrat. 2

3. Asam Nikotinat

Obat ini kemungkinan menghambat enzim hormone sensitive lipase pada jaringan adipose sehingga
mengurangi jumlah FFA. Akibatnya Produksi VLDL di hati juga akan menurun yang berlanjut pada
penurunan kadar trigliserida dan LDL-plasma. 2

4. Ezetimib

Obat ini memiliki kemampuan sedang untuk menurunkan LDL. Kerjanya dalah dengan menghambat
absorpsi kolesterol di susu halus. Ezetimib dapat digunakan bila pasien tidak tahan terhadap statin atau
dikombinasi dengan statin untuk mencapai target LDL yang lebih rendah. 2

REFERENSI

1. Adam JMF. Dalam : Setiati S, Alwi, Sudoyono AW, Simadibrata M, Setiyohadi B, Syam AF : Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed ke-6. Jakarta : Interna Publishing 2014 ; 332 :2549-58.
2. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Panduan pengelolaan Dislipidemia. Jakarta: Perkumpulan
Endokrinologi Indonesia; 2015