9

BAB I1

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Diabetes Melitus

2.1.1. Pengertian

Diabetes melitus adalah penyakit yang ditandai dengan kadar

glukosa darah yang melebihi normal (hiperglikemia) akibat tubuh

kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Diabetes melitus

merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah

melebihi normal dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein

yang disebabkan oleh kekurangan hormon insulin secara relatif maupun

absolut. Bila ini dibiarkan tidak terkendali yang terjadi komplikasi

metabolik akut maupun komplikasi vaskuler jangka panjang, baik

mikroangiopati maupun makroangiopati (Hasdianah, 2012).

Diabetes melitus dapat diartikan sekelompok kelainan sistem organ

tubuh yang mengganggu kemampuan tubuh untuk menggunakan sari-sari

makanan secara efisien. Dalam keadaan normal, hormon insulin yang

diproduksi oleh pankreas akan membantu tubuh untuk mengubah makanan

menjadi energi, sedangkan pada penderita diabetes melitus terjadi salah satu

dari dua kondisi berikut, pankreas gagal memproduksi insulin, atau tubuh

tidak dapat menggunakan insulin yang telah di produksi pankreas (Ghoffar,

2012).

Diabetes melitus atau penyakit gula atau kencing manis adalah

penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi normal

(hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif

9
10

(Hasdianah, 2012). Diabetes Melitus dikategori menjadi diabetes melitus

tipe 1 dan diabetes melitus tipe 2.

2.1.1.1 Diabetes Melitus tipe 1

terjadi karena rusaknya sel di dalam pankreas, di sebut beta sel, yang

dapat di sebabkan karena autoinum atau sebab lain yang tidak diketahui

yang mengakibatkan insulin absolut. Meskipun diabetes tipe 1 ini terjadi

pada masa kanak-kanak, namun sebenarnya penyakit ini biasa terjadi pada

usia berapa pun juga (Peter, 2013).

Gejala diabetes melitus tipe 1 biasanya terjadi secara mendadak dan

sering kali ditandai dengan gejala klasik diabetes, seperti buang urine

berlebihan (poliuria), haus yang berlebihan (polidipsial), turunnya berat

badan, gangguan penglihatan, infeksi saluran napas atau salura kemih

berulang, letih dan lesu. Pada orang dewasa, gajala diabetes melitus tipe 1

ini lebih sering timbul secara perlahan dan dapat menyerupai diabetes

melitus tipe 2. Lebih dari 90% diabetes melitus tipe 1 disebabkan karena

autoinum dan dapat disertai dengan penyakit autoinum lainnya pada sekitar

20% dari penderita (Peter, 2013).

Setelah didiagnosis, penderita diabetes melitus tipe 1 dapat melelui

fase pertama, dimna mereka hanya membutuhkan sedikit insulin selama

minggu-minggu bahkan, atau bulan-bulan atau bahkan tahun-tahun pertama.

Pada masa ini, penderita dapat mengontrol kadar glukosa darah hanya

dengan diet dan olahraga, atau obat oral anti diabetes saja (tidak perlu

suntika insulin). Fase pertama ini terjadi karena pankreas masih memiliki

cadangan sel yang dapat memproduksi insulin. Kekuranga insulin hanya
11

terjadi dimana terjadi stres tambahan seperti trauma atau infeksi. Namun

sayangnya diabetes melitus tipe 1 ini disebabkan karena penyakit autoinum,

kerusakan pankreas akan terus berlangsung dan fase pertama berakhir dan

pasien akan memerlukan suntikan insulin setiap hari. Oleh sebab itu

dukungan keluarga sangat lah penting (Peter, 2013).

2.1.1.2 Diabetes Melitus tipe 2

Diabetes Melitus tipe 2 merupakan kombinasi dari resistensi insulin

dan kelainan pada resistensi insulin dan kelainan pada reproduksi insulin

pada beta pankreas. Seiring berjalannya waktu, disfungsi beta sel pankreas

akan semakin parah dan berakibat kekurangan insulin absolute.

Kebanyakan pasien dengan diabetes melitus tipe 2 juga menderita obesitas,

atau minimal memiliki kegemukan, terutama di daerah perut. Obesitas ini

berkontribusi terhadap resistensi insulin, dimana otot tidak dapat

menggunakan insulin secara efektif. Gejala dapat timbul secara bervariasi,

mulai dari tidak ada gejala sampai gejala klasik antara lain haus berlebihan

sering berkemih dan lapar terus-menerus (Peter, 2013).

Pada tahap awal kelainan yang muncul adalah berkurangnya sensifitas

terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin didalam

darah. Hiperglikemia dapat di atasi dengan obat anti diabetes yang dapat

meningkatkatkan sensifitas terhadap insulin atau mengurangi produksi

glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulin pun

semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang di butuhkan. Obesitas

sentral diketahui sebagai faktor predisposisi terjadinya resistensi terhadap
12

insulin, dalam kaitan dengan pengeluaran suatu kelompok hormon itu

merusak toleransi glukosa (Peter, 2013).

Komplikasi jangka panjang yang mungkin terjadi akibat glukosa

darah tinggi antara lain penyakit jantung, stroke, retinopati diabetes yang

mempengaruhi penglihatan mata dan gagal ginjal dan kurangnya sirkulasi

darah di bagian tungkai yang mengharuskan amputasi (Hasdianah, 2012 ).

2.1.2. Penyebab Diabetes Melitus

Umumnya diabetes melitus disebabkan oleh rusak nya sebagian kecil

atau sebagian dari sel-sel betha dari pulau-pulau langerhans pada pankreas

yang berpungsi menghasilkan insulin, akibatnya terjadi kekurangan insulin.

Di samping itu diabetes melitus juga dapat terjadi karena gangguan terhadap

fungsi insulin dalam memasukan glukosa ke dalam sel. Gangguan itu dapat

terjadi karena kegemukan atau sebab lain yang belum diketahui (Hasdianah,

2012).

Diabetes melitus atau lebih dikenal dengan istilah penyakit kencing

manis mempunyai beberapa faktor pemicu penyakit tersebut, antara lain:

2.1.2.1 Pola Makan

Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang

dibutuhkan oleh tubuh dapat memacu timbulnya diabetes melitus.

Konsumsi makan yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan

sekresi insulin dalm jumlah yang memadai dapat menyebabkan

kadar gula dalam darah meningkat dan pastikan akan menyebabkan

diabetes melitus.
13

2.1.2.2 Obesitas (kegemukan)

Orang gemuk dengan berat badan lebih dari 90 kg cenderung

memiliki peluang lebih besar untuk terkena penyakit diabetes

melitus. Sembilan dari sepuluh orang gemuk berpotensi untuk

terserang diabetes mellitus.

2.1.2.3 Faktor Genetik

Diabetes melitus dapat diwariskan dari orang tua kepada anak. Gen

penyebab diabetas melitus akan dibawa oleh anak jika orang tuanya

menderita diabetes melitus. Pewarisan gen ini dapat sampai ke

cucunya bahkan cicit walaupun resikonya sangat kecil.

2.1.2.4 Bahan-bahan kimia dan obat-obatan

Bahan-bahan kimia dapat mengiritasi pankreas menyebabkan radang

pankreas, radang pada pankreas akan mengakibatkan fungsi

pankreas menurun sehingga tidak ada sekresi hormon-horman untuk

proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Segala jenis resedu obat

yang terakumulasi dalam waktu yang lama dapat mengiritasi

pankreas.

2.1.2.5 Penyakit dan infeksi pada pankreas

Infeksi mikroorganisme dan virus pada pankreas yang dapat

menyebabkan radang pankreas yang otomatis akan menyebabkan

fungsi pankreas turus sehingga tidak ada sekresi hormon –horman

untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Penyakit seperti

kolesterol tinggi dan dislipidemia dapat meningkat resiko tekena

diabetes melitus.
14

2.1.2.6 Pola Hidup

Pola hidup juga banyak mempengaruhi faktor penyebab diabetes

melitus.Jika orang malas berolah raga memiliki resiko tinggi untuk

terkena penyakit diabetes melitus karena olah raga berfungsi untuk

membakar kalori yang berlebihan di dalam tubuh. Kalori yang

tertimbun di dalam tubuh merupakan faktor utama penyebab

diabetes melitus selain disfungsi pankreas.

2.1.2.7 Obat-obatan yang dapat merusak pankreas

2.1.2.7 Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin

2.1.3 Klasifikasi Diabetes Melitus

Menurut (Hasdianah, 2012 ) klasifikasi diabetes melitus

2.1.3.1.Diabetes Melitus

1). Diabetes Melitus tipe 1 (insulin dependent) Diabetes Melitus tipe 1 atau

di sebut juga dengan insulin dependen (tergantung insulin) adalah mereka

menggunakan insulin oleh karena tubuh tidak dapat menghasilkan

insulin. Pada diabetes melitus tipe 1, badan kurang atau tidak

menghasilkan insulin, terjadi karena masalah genetik, virus atau penyakit

autoimun. Injeksi insulin diperlukan setiap hari untuk pasien diabetes

melitus tipe 1. Diabetes tipe 1 disebabkan oleh faktor genetika

(keturunan), faktor imunologik dan faktor lingkungan.

2). Diabetes Melitus tipe 2 (insulin requirement) Diabetes Melitus tipe 2

atau disebut juga dengan insulin requirement (membutuhkan insulin)

adalah mereka yang membutuhkan insulin sementara atau seterusnya.

Pankreas tidak menghasilkan cukup insulin agar kadar gula darah
15

normal, oleh karena badan tidak dapat respon terhadap insulin.

Penyebabnya tidak hanya satu yaitu akibat resistensi insulin yaitu

banyaknya jumlah insulin tapi tidak befungsi. Bisa sekresi atau

produksi insulin. Diabetes melitus tipe 2 menjadi semakin umum oleh

karena faktor resikonya yaitu obesitas dan kekurangan olahraga. Faktor

yang mempengaruhi timbulnya diabetes melitus yaitu usia lebih 65

tahun, obesitas riwayat keluarga (Hasdianah, 2012).

2.1.4 Tanda-Tanda dan Gejala Diabetes Melitus

Menurut (Hasdianah, 2012) tanda dan gejala Diabetes Melitus dapat

digolangkan menjadi gejala akut dan kronik.

2.1.4.1 Gejala Akut Penyakit Diabetes Melitus

1) Pada permulaan gejala yang di tunjukan meliputi serba banyak (poly),

yaitu:
a. Banyak makan (polyphagia)
b. Banyak minum (polydipsia)
c. Banyak kencing (polyuria)
2) Bila keadaan tersebut tidak segera diobati, akan timbul gejala:

a. Banyak minum

b. Banyak kencing

c. Nafsu makan mulai berkurang/ berat badan turun dengan cepat

(turun 5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu)

d. Mudah lelahBila tidak lekas diobati, akan timbul rasa

mual,bahkan penderita akan jatuh koma yang disebut koma

diabetik

2.4.1.2 Gejala kronik Diabetes Melitus

a. Kesemutan
b. Kulit tersa panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum
16

c. Rasa tebal dikulit
d. Kram
e. Mudah mengantuk
f. Mata kabur, biasa sering ganti kacamata
g. Gatal disekitar kemaluan terutama wanita
h. Gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual menurun,

bahkan impotensi
i. Para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin

dalam kandungan, atau dengan bayi berat lebih dari 4 kg.

2 .1.5 Faktor Resiko Diabetes Melitus

Menurut (Hasdianah, 2012) Faktor-faktor resiko terjadinya Diabetes

Melitus tipe 2 menurut ADA dengan modifikasi terdiri atas :

.2.1.5.1 Faktor resiko mayor :

1).Riwayat keluarga dengan diabetes melitus

2) Obesitas

3). Kurang aktifitas fisik

4). Ras/Etnik

5). Sebelumnya terdentifikasi sebagai glukosa puasa terganggu

6). Hipertensi

7). Kolestrol tidak terkontrol

8). Riwayat diabetes melitus pada kehamilan

9). Berat badan yang lebih (indeks massa tubuh >23 kg/m)

2.1.5.2 Faktor resiko lainnya

1). Faktor nutrisi

2). Konsumsi alkohol

3). Kebiasaan mendekur

4). Fakror stress
17

5). Kebiasaan merokok

6). Jenis kelamin

7). Lama tidur

8). Intake zat besi

9). Konsumsi kopi dan kafein

10). Paritas

2.1.6 Patofisiologi Diabetes Melitus

Pangkreas yang disebut kelenjar ludah perut, adalah kelenjar

penghasilan insulin yang terletak dibelakang lambung. Di dalamnya terdapat

kumpulan sel yang terbentuk seperti pulau pada peta, karena itu disebut

pulau-pulau langerhans yang berisi sel beta yang mengeluarkan hormon

insulin yang sangat berperan dalam mengatur kadar glukosa darah. Insulin

yang dikeluarkan oleh sel beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci

yang dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, untuk

kemudian di dalam sel glukosa tersebut dimetabolisme menjadi tenaga. Bila

insulin tidak ada, maka glukosa dalam darah tidak dapat masuk kedalam sel

dengan akibat kadar glukosa dalam darah meningkat. Keadaan inilah yang

terjadi pada Diabetes melitus tipe 1 (Rossy Agus M, 2009).

Pada keadaan diabetes tipe 2 jumlah insulin bisa normal, bahkan lebih

banyak, tetapi jumlah reseptor (penangkap) insulin dipermukaan sel kurang.

Reseptor insulin ini dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke

dalam sel. Pada keadaan DM tipe 2, jumlah lubang kuncinya kurang,

sehingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang

kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit,
18

sehingga sel kekurangan bahan bakar (glukosa) dan kadar glukosa dalam

darah meningkat. Dengan demikian keadaan ini sama dengan keadaan DM

tipe 1, bedanya adalah pada DM tipe 2 disamping kadar glukosa tinggi,

kadar insulin juga tinggi atau normal. Pada tipe 2 juga bisa ditemukan

jumlah insulin cukup atau lebih tetapi kualitasnya kurang baik, sehingga

gagal membawa glukosa masuk kedalam sel. Disamping penyebab di atas,

DM juga bisa terjadi akibat gangguan transport glukosa didalam sel

sehingga gagal digunakan sebagai bahan bakar untuk metabolisme energi.

(Rossy Agus M, 2009).

2.1.7 Komplikasi Diabetes Melitus

Menurut (Hasdianah, 2012) komplikasi- komplikasi pada diabetes

melitus yaitu meliputi:

2.1.7.1 Komplikasi Metabolik Akut

Hiperglikemia dapat berupa, keto asidosis diabetik (KAD),

Hiperosmolar non ketolik (HNK) dan asidosis laktat (AL).Hiperglikemi

yaitu apabila kadar gula darah lebih dari 250 mg% dan gejala yang muncul

yaitu poliuri, polidipsi pernapasan kussmaul, mual muntah, penurunan

kesadaran sampai koma. KAD menempati peringkat pertama komplikasi

akut ini masih merupakan masalah utama, kareana angka kematiannya

cukup tinggi. Kematian akibat KAD pada penderita diabetes melitus 2003 di

negara maju berkisar 9-10%. Data komunitas di Amerika Serikat, Roshester

dikutip oleh Soewondo menunjukan bahwa insidens KAD sebesar 8 per

1000 pasien diabetes melitus pertahun untuk semua kelompok umur.

2.1.7.2 Komplikasi Kronik
19

Pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah di seluruh bagian

tubuh (Angiopati diabetik). Angiopati diabetik untuk memudahkan dibagi

dua yaitum akroangiopati (makropaskuler) dan mikroangiopati

(mikropaskuler), yang tidak bearti bahkan satu sama lain saling terpisah dan

tidak terjadi sekaligus bersamaan. Kompliksai kronik diabetes melitus yang

sering terjadi adalah sebagai berikut:

1) Mikropaskuler :
a. Ginjal
b. Mata
2) Makropaskuler :
a. Penyakit jantung karoner
b. Pembuluh darah kaki
c. Pembuluh darah otak
d. Neuropati: mikrovaskuler dan makrovaskuler

2.1.8 Penatalaksanaan Diabetes Melitus

Penatalaksaan diabetes melitus bertujuan untuk menormalkan aktivitas

insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi komplikasi lebih

lanjut. Literatur lain menyebutkan ada 5 komponen penatalaksaan diabetes

melitus, yaitu diet, aktivitas fisik, pamantauan, pengobatan ,penyuluhan

tentang diabetes melitus. Penanganan diabetes melitus akan bervariasi

karena terjadinya gaya hidup , keadaan fisik dan mental, di samping karena

berbagai kemajuan dalam metode pengobatan yang di hasilkan riset

(Ghoffar, 2012).

2.1.9 Pengobatan Diabetes Mellitus

Jika telah menerapkan pengaturan makanan dan kegiatan jasmani

yang teratur namun mengendalikan kadar gula darah belum tercapai maka

dipertimbangkan pemberian obat. Obat meliputi: obat hipoglikemi oral

(OHO) dan insulin. Pemberian obat hipoglikemi oral diberikan kurang lebih
20

30 menit sebelum makan. Pemberian insulin biasanya diberikan lewat

penyuntikan dibawah kulit (subkutan) dan pada keadaan khusus diberikan

secara intravena atau intramuskuler. Mekanisme kerja insulin short acting,

medium acting dan long acting (Hasdianah, 2012).

Starategi pengobatan diabetes melitus sudah secara jelas ada dan

efektif. perubaha gaya hidup dengan tujuan penurunan berat badan dan

meningkatkan aktivitas fisik, serta pengobatan dengan menformin

mengurangi resiko timbulnya diabetes pada orang dengan kadar glukosa

teganggu. Pengobatan diabetes melitus yang secara langsung terhadap

kerusakan pulau-pulau lengerhans di pankreas belum ada. Oleh karena itu

pengobatan untuk penderita diabetes melitus berupa kegiatan pengelolaan

dengan tujuan : menghilangkan keluhan dan gejala akibat defisiensi insulin

(gejala diabetes melitus) mencegah komplikasi kronis yang dapat

menyerang pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, syaraf, kulit, kaki dan

lain- lain.

Menurut (Hasdianah, 2012) Sarana pengendalian secara

farmakologis pada diabetes melitus dapat berupa:

1. Pemberian insulin
2. Pemberian obat hipoglikemik oral (OHO)
3. Golongan sulfonylurea
4. Golongan biquanid
5. Golongan inhibitor alva glukosidase
6. Golongan insulin sensitizing
7. Klorpropamid
8. Tolbutamid
9. Glibenklamid
10. Glifizid
11. Glikazid
12. Glikuidon

2.1.10 Pengobatan Diabetes Melitus tanpa obat
21

Pengaturan diet (makanan): Diet yang baik meruapkan kunci

keberhasilan penatalaksanaan diabetes melitus. Tetapi diet yang dianjurkan

untuk penderita diabetes melitus dalah makana dengan komposisi yang

seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak, sesuai dengan

kecukupan gizi baik sebagai berikut: Karbohidrat 60-70%, Protein 10-

15%. Lemak 20-25% (Hadianah, 2012).

Olahraga: Penelitian telah menunjukkan bahwa aktifitas fisik dapat

menurunkan glukosa darah, tekanan darah, menurunkan kolestrol jahat dan

meningkatkan kolestrol baik dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk

menggunakan insulin. Aktivitas fisik akan menurunkan resiko penyakit

jantung dan stroke, menjaga hati dan tulang kuat, menjaga sendi tetap

fleksibel dan menurunkan resiko jatuh, mengurangi lemak tubuh dan

memberikan lebih banyak energi sekaligus dapat mengurangi stres

(Hasdianah, 2012).

2.1.11 Diagnosis Diabetes Melitus

Kriteria diagnosis diabetes melitus pada lansia tidak berbeda dengan

kriteria pada umumnya di masyarakat. Kriteria diagnosis diabetes melitus

menurut Perkin, 2006 atau yang di anjurkan ADA (American Diabetes

Association) yaitu bila terdapat salah satu atau lebih hasil gula darah

dibawah ini:

1. Kadar gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dl
2. Kadar gula darah puasa ≥ 126 mg/dl
3. Kadar glukosa plasma ≥ 200 mg/dl pada 2 jam setelah beban glukosa

75 gram pada tes toleransi glukusa oral.
22

Dengan mengadakan pemeriksaan kadar glukosa darah. Secara

enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darh utuh

(Whole blood), vena ataupun kapiler tetap dapat diperguanakan dengan

memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai

pembekuan WHO.

Tabel 2.1
Kriteria pengendalian diabetes melitus
(Konsensus PERKENI, 2006)

Baik Sedang Buruk
1. Glukosa darah puasa (plasma 80-109 110-125 >126
vena mg/dl)
2. Glukosa darah 2 jam pp 80-144 145-179 >180
(plasma vena,mg/dL)
3. HbAIc <6,5 6,5-8 >8
4. Kolesterol total (mg/dL) <200 200-239 >240
5. Kolesterol LDL (mg/Dl) <100 100-129 >130
6. Kolesterol HDL (mg/dL) >45
7. Trigliserida (mg/dL) >150 150-199 >200
8. IMT (kg/dL) 18,5-22,9 23-25 >25
9. Tekanan darah mmHg <130/80 130/80-140/90 >140/90
(Rossy Agus M, 2009).

2.2 Penatalaksanaan Diabetes Melitus

Menurut (Hasdianah, 2012)

2.2.1 Tujuan pengelolaan Diabetes Melitus adalah:

a. Tujuan jangka pendek yaitu menghilangkan gejala/keluhan dan

mempertahankan rasa nyaman dan tercapainya target pengendalian

darah.
b. Tujuan jangka panjang yaitu mencegah komplikasi, mikroangiopati dan

makroangiopati dengan tujuan menurunkan mortalitas dan morbiditas.

2.2.2 Prinsip pengelolaan Diabetes Melitus, melliputi:
23

a. Penyuluhan

Tujuan penyuluhan yaitu meningkatkan pengetahuan diabetes

tentang penyakit dan pengelolaannya, dengan tujuan dapat merawat

sendiri sehingga mampu mempertahankan hidup dan mencegah

komplikasi lebih lanjut. Penyuluhan meliputi: penyuluhan untuk

pencegahan primer, yaitu ditujukan untuk kelompok resiko tinggi.

Penyuluhan untuk pencegahan sekunder, yaitu ditujukan pada

diabetisi terutama pasien yang baru. Materi yang diberikan meliputi:

pengertian diabetes, gejala, penatalaksanaan diabetes melitus, mengenal

dan mencegah komplikasi akut dan kronik perawatan dan pemeliharaan.

Sedangkan penyuluhan untuk pencegahan tersier, yaitu ditujukan

pada diabetes lanjut, dan materi yang diberikan meliputi: cara

perawatan dan pencegahan komplikasi, upaya untuk rehabilitasi.

b. Diet Diabetes Melitus

Tujuan diet pada pda pasien diabetes melitus adalah

mepertahankan atau mencapai berat badan ideal, mempertahankan

kadar glukosa darah mendekati normal, mencegah komplikasi akut dan

kronik serta meningkatkan kualitas hidup.

Penderita diabetes melitus didalam melaksanakan diet harus

memperhatikan (3 J),yaitu: Jumlah kalori yang dibutuhkan, dan jadwal

makan yang harus diikuti, dan jenis makanan yang harus diperhatikan.

Komposisi makanan yang dianjurkan adalah makanan dengan

komposisi seimbang yaitu yang mengandung karbohidrat (45-60%),
24

protein (10-15%), lemak (20-25%), garam (<3000 mg atau 6-7 gr

perhari), dan serat (+25 g/hr).

Jenis buah-buahan yang dianjurkan adalah buah golongan B (salak,

tomat, dll) dan yang tidak dianjurkan golongan A (Nangka, durian dll).

Sedangkan sayuran yang dianjurkan golongan A (Wortel, nangka muda

dll) dan tidak dianjurkan golongan B toge, terong).

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain:

a. Jenis kelamin

Kebutuhan kalori pria sebesar 30 kal/kg BB dan wanita sebesar 25

kal/ BB.

b. Umur

Diabetisi di atas 40 tahun kebutuhan kalori dikurangi yaitu usia 40-

59 tahun dikurangi 5%, usia 60-69 tahun dikurangi 10%, dan lebih

70 tahun dikurangi 20%.

c. Aktifitas fisik

Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuia dengan intensitas aktivitas

fisik. Aktiviats ringan ditambah 30% dan aktivitas berat dapat

ditambah 50%.

d. Berat badan

Bila kegemukan dikurangi 20-30% tergantung tingkat kegemukan.

Bila kurus ditambah 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk

meningkatkan BB.

e. Kondisi khusus
25

Penderita kondisi khusus, minsal dengan ulkus diabetika atau

infeksi, dapat ditambahkan 10-20%.

Jumlah Distribusi makanan perhari

1. Karbohidrat 60% = 60% x 1700 kalori = 1020 kalori dari

karbohidrat yang setara dengan 255 gram karbohidrat (1020

kalori : 4 kalori/gram karbohidrat)
2. Protein 20% = 20% x 17000 kalori = 340 kalori dari protein

yang serta dengan 85 gram protein (340 kalori : 4 kalori/gram

protein
3. Lemak 20% x 1700 kalori = 340 kalori dari lemak yang setara

dengan 37,7 gram lemak (340 kalori : 9 kalori/gram lemak
4. Jumlah serat 25-50 gram per hari.
c. Latihan fisik (olah raga)

Tujuan olah raga adalah untuk meningkatkan kepekaan

insulin, mencegah kegemukan, memperbaiki aliran darah,

merangsang pembentukan glikogen baru dan mencegah komplikasi

lebih lanjut. Olah raga meliputi 4 prinsip:

a) Jenis olah raga dinamis yaitu latihan kontinyu,ritmis, interval,

progresif dan latihan daya tahan.
b) Intensitas olah raga yaitu takaran latihan sampai 72-87 %

denyut nadi maksimal disebut zona latihan. Rumus denyut

Nadi maksimal adalah 220 dikurangi usia (dalam tahun).
c) Lamanya latihan, lamanya latihan kurang lebih 30 menit.
d) Frekuensi latihan yaitu, frekuensi paling baik 5 X per minggu.

Sebagai contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa

selama 30 menit, olahraga sedang adalah berjalan cepat selama 20

menit dan olahraga berat minsalnya jogging (Rossy Agus M,

2009).
26

d. Pengobatan

Jika diabetesi telah menerapkan pengaturan makanan dan

kegiatan jasmani yang teratur namun pengendalian kadar glukosa

darah belum tercapai maka dipertimbangkan pemberian obat. Obat

meliputi: obat hipoglikemi oral (OHO) dan insulin. Pemberian obat

oral diberikan kurang lebih 30 menit sebelum makan. Pemberian

insulin biasanya diberikan lewat penyuntikan di bawah kulit

(subkutan) dan pada keadaan khusus diberikan secara intravena

atau intramuskuler (Hasdianah, 2012).

e. Pemantauan Kadar Glukosa Darah

Pemantauan status metabolik penyandang diabetes melitus

(DM) merupakan hal yang penting dan sebagai bagian dari

pengelolaan DM. Hasil pemantauan tersebut digunakan untuk

menilai manfaat pengobatan dan sebagai pegangan penyesuaian

diet, latihan jasmani dan obat-obatan untuk mencapai kadar gula

darah senormal mungkin, terhindar dari keadaan hiperglikemia

ataupun hipoglikemia (Rossy Agus M, 2009)

Pemantauan kadar glukosa darah merupakan prosedur yang

berguna bagi semua penderita diabetes. Pemantauan ini merupakan

dasar untuk melaksanakan terapi insulin yang intensif (termasuk

dua hingga empat kali penyuntikan insulin per hari atau

menggunakan pompa insulin) dan untuk menangani kehamilan

yang di persulit oleh penyakit diabetes melitus. Pemeriksaan ini

juga sangat dianjurkan bagi pasien-pasien dengan:
27

1.Penyakit diabetes melitus yang tidak stabil

2.Kecenderungan untuk mengalami ketoris berat atau hipoglikemia

3.Hipoglikemia tanpa gejala peringatan

4.Ambang glukosa renal yang abnormal (Brunner & Suddarth,

2002).

Bagi sebagian besar pasien yang memerlukan insulin

pemeriksaan kadar glukosa darah sebanyak dua hingga empat kali

sehari dapat dianjurkan (biasanya pemeriksaan dilakukan sebelum

makan dan pada saat akan tidur malam). Sedangkan pasien yang

tidak memakai insulin diperbolehkan untuk mengukur kadar

glukosa darahnya minimal dua hingga tiga kali perminggu

(Brunner & Suddarth, 2002).

2.2.3 Kadar glukosa darah

Kadar gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat

glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah , atau glukosa serum, di atur

dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang di alirkan melalui darah adalah

sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Glukosa merupakan sumber energi

utama bagi sel manusia. Glukosa terbentuk dari karbohidrat yang di

konsumsi melalui makanan dan di simpan sebagai glikogen hati dan

otot.kadar glukosa darah di pengaruhi oleh factor endogen dan

eksogen.faktor endogen yaitu seperti insulin,glukogen dan kortisol sebagai

sistim resoptor di otot dan sel hati.sedangkan faktor eksogen antara lain jenis

dan jumlah makanan yang di konsumsi serta aktivitas yang di lakukan

(Murray R. K et, 2011).
28

Pada penderita diabetes melitus penatalaksanaan difokuskan pada

gaya hidup dan aktivitas fisik. Pengontrolan nilai kadar gula dalam darah

adalah menjadi kunci program pengobatan yaitu dengan penyuluhan, diet,

aktifitas fisik, pengobatan, pemantauan. Jika hal ini tidak mencapai hasil

yang diharapkan, maka pemberian obat tablet akan diperlukan. Bahkan

pemberian suntikan insulin turut diperlukan bila tablet tidak mengatasi

pengontrolan kadar gula darah (Badawi, 2009).

Pemeriksaan kadar gula darah yang dilakukan di laboratorium dengan

metode oksidasi glukosa atau o-toluidin ini memberikan hasil yang lebih

akurat. Oleh karena itu untuk menentukan diagnosis Diabetes Melitus

disarankan pemeriksaan kadar glukosa darah di laboratorium. Kadar gula

darah yang optimal ADA merekomendasikan goal antara 90-130 mg/dl

untuk gula darah sebelum makan dan kurang 180 mg/dl untuk gula darah 2

jam sesudah makan bagi orang dewasa penderita Diabetes Melitus. Ikatan

para dokter spesialis endokrin di Amerika bahkan menetapkan standar yang

sedikit lebih ketat, yaitu <110 sebelum makan dan <140 sesudah makan

(Hasdianah, 2012).

Menurut (Peter, 2013) yaitu :

1. kadar gula darah puasa

Kadar gula darah ini di periksa pada pagi hari saat bangun tidur dan

sebelum makan apa- apa idealnya kadar gula darah ini di bawah 100

mg/dl. Kadar gula darah ini di pengaruhi oleh obat insulin jangka panjang

dan biasa di suntikan di malam hari sebelim tidur. Selain itu kadar gula
29

darah ini juga di pengaruhi oleh porsi makan malam dan snack, serta

aktivitas fisik selama 24 jam terakhir.

Bila kadar gula puasa tinggi:

a. Tingkatkan jumlah dosis insulin jangka panjang (long acting insulin)

sekitar 10%. Misalnya jika menggunakan 20 unit lantus setiap hari,

tambahkan 22 unit per hari.

b. kurangi porsi snack malam dan kurangi porsi makan malam.

c. tingkatkan aktivitas fisik sehari-hari.

Bila kadar gula darah puasa rendah:

Kurangi dosis insulin jangka panjang (long acting insulin ) sekitar 10%

Misalnya jika menggunakn 20 unit lantus setiap hari, tambahkan 18

unit per hari.

2. kadar gula darah saat makan siang

Kadar gula darah ini diperiksa saat sebelum kita makan siang.

Idealnya, kadar gula darah ini barada di bawah 140 mg/dl. Kadar gula ini

dipengaruhi oleh porsi sarapan kita. Bila kadar ini tinggi, bararti obat-

obtan yang kita konsumsi saat sarapan tadi tidaklah cukup untuk

mengontrol kadar darah. Misalnya, sesaat sebalum makan siang, kadar

gula darahnya mencapai 220 mg/dl. Ini baraarti pada saat sarapan pagi

tubuh kita butuh support untuk produksi insulin.

Bila kadar gula sebalum makan siang tinggi :

a. Tingkatan jumlah dosis insulin jangka pendek (short acting insulin)

sekitar 2 unit saja.misalnya jika menggunakan 6 unit insulin humalog
30

atau lispro setiap sebalum makan, tambahkan ke 8 unit sebelum

sarapan.

b. Bila anda belum menggunakan insulin dan menggunakan obat insulin

secretagogue saja, ini saat nya untuk meningkatkan dosis obat

tersebut.

Bila kadar gula sebelum makan siang rendah:

a. Kurangi jumlah insulin jangka pendek (short acting insulin) sekitar 2

unit saja. Misalnya jika menggunakan 6 unit insulin humalog atau

lispro setiap sebelum makan, kurangi ke 4 unit sebalum sarapan.

b. Bila anda belum mengguanakan insulin dan menggunakan obat insulin

secretagogue saja, ini saat nya untuk mengurangi dosis obat tersebut.

Apabila kadar gula darah ketika makan ini (disebut juga saat prandial)

selalu normal secara konsisten, mungkin anada tiadk perlu support

obat atau insulin ketika anda makan (Peter, 2013).

3. Kadar gula darah sebelum makan malam

Kadar gula darah ini dipengaruhi oleh keadaan makan siang anda .

Bila kadar gula sebelum makan tinggi :

a.Tingkatkan jumlah dosis insulin jangka pendek (short acting insulin)

sekitar 2 unit saja. Misalnya jika menggunakan 6 unit insulin humalog

atau lispro setiap sebelum makan, tambahkan 8 unit sebelum makan

siang.

b. Bila anda belum makan menggunakan insulin dan menggunakan

obat insulin secretagogue saja, ini saat nya untuk meningkatkan dosis

obat tersebut.
31

Bila kadar gula darah sebelum makan malam rendah:

a. Kurangi jumlah dosis insulin jangka pendek (short acting insulin)

sekitar 2 unit saja. Misalnya jika menggunakan 6 unit insulin humalog

atau lispro setiap sebelum makan siang.

b. Bila anda belum makan menggunakan insulin dan menggunakan obat

insulin secretagogue saja, ini saat nya untuk mengurangi dosis obat

tersebut. Apabila kadar gula darah ketika makan ini (disebut juga saat

prandial) selalu normal secara konsisten, mungkin saja anda tidak perlu

support obat atau insulin ketika anda makan (Peter, 2013).

4. Kadar gula darah sebelum tidur (sekitar jam 10 malam ) Kadar gula darah

ini dipengaruhi oleh keadaan makan malam anda.

Bila kadar gula sebelum tidur tinggi:

a. Tingkatkan jumlah dosis insulin jangka pendek (short acting insulin)

sekitar 2 unit saja. Misalnya jika menggunakan 6 unit insulin humalog

atau lispro setiap sebelum makan, tambahkan 8 unit sebelum makan

malam.

b. Kurangi jumlah insulin jangka pendek (short acting insulin) sekitar 2

unit saja. Misalnya jika menggunakan 6 unit insulin humalog atau

lispro setiap sebelum makan, kurangi ke 4 unit sebalum sarapan.

Bila kadar gula darah sebelum tidur rendah:

a. Kurangi jumlah insulin jangka pendek (short acting insulin) sekitar 2

unit saja. Misalnya jika menggunakan 6 unit insulin humalog atau lispro

setiap sebelum maka, kurangi ke 4 unit sebelum makan malam.
32

b. Bila anda belum makan menggunakan insulin dan menggunakan obat

insulin Secretagogue saja, ini saat nya untuk mengurangi dosis obat

tersebut. Apabila kadar gula darah ketika makan ini (disebut juga saat

prandial) selalu mormal secara konsisten, mungkin saja anda tidak perlu

support obat atau insulin ketika anda makan. Perlu diketahui bahwa

kadar gula selalu dipengaruhi oleh diet oleh sebab itu, ketika kadar gula

darah meninggi, selalau salahkan makanan yang dikonsumsi. Jadikan

ini sebagai target mengurangi jumlah kalori yang dikonsumsi (peter,

2013).

2.3 Pengetahuan

2.3.1 Pengertian pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan terjadi

melalui panca indra manusia, yakni: penglihatan, penciuman, rasa dan raba.

Sebagian besar pengetahuan manusia di peroleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya

tindakan seseorang.

Menurut penelitian Roger (1974) yang dikutip kembali oleh

(Notoatmodjo 2003 ) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi

perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses

yang berurutan, yakni:

1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui stimulasi (objek) terlebih dahulu.
33

2. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus

terhadap bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden lebih baik

lagi.

3. Trial, orang telah mencoba prilaku baru.

4. Adoption, subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan,

kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

Namun demikian penelitian selanjutnya Roger yang dikutip oleh

(Notoatmodjo 2003) menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak

selalu melewati tahap-tahap di atas. Apabila penerimaan perilaku baru

melalui proses yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang

positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting).

Sebaliknya apabila prilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan

kesadaran maka tidak akan berlangsung lama. Pengetahuan yang tercakup

dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu:

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah diajari

sebelumya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan

yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu

tahu ini merupakan tingkat yang paling rendah. Kata kerja untuk

mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain

menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan

sebagainya.
34

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi

tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau

materi harus dapat menjelaskan, meneyebutkan contoh,

menyimpulkan, maramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang

dipelajari.

c. Aplikasi (aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya. Aplikasi

disini dapat diartiakan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-

hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau

situasi yang lain.

d. Analisis (analysis)

analisa adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen yang masih ada kaitannya satu

sama lain. Kemampuan anlisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata

kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan,

memisahkan, mengelompokan, dan sebagainya.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukan kepada suatu kemempuan untuk melakukan

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan

yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk

menyusun formulasi yang baru dari formulasi-formulasi yang ada.
35

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-

penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri,

atau menggunakan kriteria yang sudah ada. Pengukuran pengetahuan

dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan

tentang isi materi yang di ukur dari subjek penelitian atau responden.

Kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita

sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas.

2.3.2 Cara Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang menyatakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subjek

penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ukur

dapat kita sesuaikan dengan tingkat pengetahuan.

Tingkat pengetahuan dapat di bagi menjadi tiga bagian, antara lain:

1. Tinggi

Tingkat pengetahuan tinggi diartikan apabila seseorang mampu

mengetahui, memahami, mengaplikasikan, menganalisa, dan

menghubungkan satu materi dengan yang lain serta kemampuan untuk

melakukan penelitian terhadap suatu objek. Pengetahuan tinggi apabila

nilainya 76-100%.

2. Sedang

Pengetahuan sedang apabila individu kurang mampu mengetahui,

memahami, mengaplikasikan, menganalisa dan menghubungkan suatu
36

materi dengan yang lain serta kurangnya kemampuan untuk melakukan

penilaian terhadap suatu objek. Pengetahuan sedang apabila nilainya

55-76%.

3. Rendah

Pengetahuan rendah apabila individu kurang mampu mengetahui,

memahami, mengaplikasikan, menganalisa dan menghubungkan suatu

materi dengan yang lain serta kurangnya kemampuan untuk melakukan

penilaian terhadap suatu objek. Pengetahuan rendah apabila nilainya

<55%.
37