PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan kewajiban yang harus didapatkan oleh setiap warga Negara

Indonesia. Pada era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat

saat ini tanpa harus berekreasi dan mengeluarkan biaya dengan membaca pengetahuan

dan wawasan menjadi luas. Di dalam pendidikan sangat diperlukan bahasa, karena

bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi setiap orang. Melalui

berbahasa seorang atau anak akan dapat mengembangkan sosialnya dengan orang lain.

Di samping itu bahasa juga berperan sebagai alat untuk menyatakan pikiran dan perasaan

terhadap orang lain. Anak dapat mengekspresikan pikirannya dengan menggunakan

bahasa sehingga orang lain dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh anak.

Membaca merupakan kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif. Disebut

reseptif karena dengan membaca seorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu

dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui

bacaan akan mampu membuat seseorang mempertinggi daya pikirnya. Mempertajam

pandangannya dan memperluas wawasannya (Budiasih, 2001:50).

Jadi, membaca merupakan modal dasar yang sangat penting untuk menunjang

keberhasilan siswa. Kurang terampilnya siswa dalam membaca menyebabkan

terhambatnya siswa untuk mempelajari bidang studi lain.

Membaca dikelas II disebut dengan istilah membaca permulaan. Didalam

membaca permulaan belajar memperoleh kemampuan untuk menguasai teknik dan

menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh sebab itu, guru sebagai pendidik

mempersiapkan diri dalam menyiapkan bahan ajar, kegiatan yang dilakukan bersama

siswa dan model pembelajaran yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan

siswa.

Kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah mereka mempelajari materi pokoknya. Kgiatan ini diulang terus-menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk . Akibatnya. Guru hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan saja sehingga siswa kurang terlibat dalam proses kegiatan pembelajaran. Berdasarkan fakta yang ada penyebab rendahnya kemampuan membaca permulaan disebabkan karena (1) metode yang digunakan guru dalam pembelajaran Bahasa Indonesia masih konvensial sehingga siswa kurang memperhatikan guru. (2) penggunaan model pembelajaran yang kurang bervariasi dan tidak menarik. kemampuan kemampuan membaca permulaan siswa kelas II rendah. membaca teks secara bergantian didepan kelas dan buku teks bacaan saja dalam menyampaikan pesan kepada siswa sehingga pesan tersebut kurang diterima siswa dengan baik. Namun anak-anak yang tidak memahami pentingnya belajar membaca tidak akan termotivasi untuk belajar. Burrns dkk. Setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca. Sebagai pengajar dan pendidik lebih memotivasi anak memahami pentingnya membaca. Membaca mempunyai peranan sosial yang sangat penting dalam kehidupan manusia sepanjang masa. Berdasarkan kondisi diatas tindakan yang harus dilakukan oleh guru kelas II adalah menyiapkan dan memberikan suatu model pembelajaran yang menarik kepada siswanya agar tercipta suasana belajar yang menyenangkan. dan berimbas pada hasil belajar siswa yang juga rendah yaitu perolehan nilai masih dibawah KKM 65 yang sudah ditetapkan sekolah. Guru yang hanya menyuruh anak membaca teks di tempat duduk saja. (2007) mengemukakan bahwa kemampuan membaca merupakan sesuatu yang vital dalam suatu masyarakat terpelajar. Model pembelajaran Kooperatif Talking Stick merupakan metode pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat.

persahabatan. (5) tersedia waktu untuk menggunakan. Jenis model pembelajaran sangat bervarias. (2) dukungan terhadap isi materi pembelajaran. Menurut Winkel dalam Darsono (2000: 4) belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan pemahaman. kecerdasan. karenanya guru perlu mengetahui kriteria apabila akan menggunakan menggunakan model pembelajaran. Metode ini bermanfaat karena ia mampu menguji kesiapan siswa. . atau minat yang berbeda. guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen. Metode ini cocok digunakan untuk semua kelas dan semua tingkatan umur. (1) ketepatan dengan tujuan. Hasil belajar merupakan hal yang berhubungan dengan kegiatan belajar karena kegiatan belajar merupakan proses sedangkan hasil belajar adalah sebagian hasil yang dicapai seseorang setelah mengalami proses belajar dengan terlebih dahulu mengandakan evaluasi dari proses belajar yang dilakukan. melatih ketrampilan mereka dalam membaca dan memahami materi pelajaran dengan cepat. (4) ketrampilan guru dalam menggunakannya. Untuk memahami pengertian hasil belajar maka harus bertitik tolak dari pengertian belajar itu sendiri. keterampilan dan nilai sikap.menjawab pertanyaan dari guru. Djamarah (2002: 13) mengemukakan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya menyangkut kognitif. afektif. Dalam penerapan metode Talking Stick ini. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban. dan psikomotorik. dan mengajak mereka untuk terus siap dalam situasi apapun. (6) sesuai dengan taraf berfikir siswa. antara lain yaitu. (3) kemudahan dalam menerapkan model pembelajaran.