STANDAR PELAYANAN KLINIS

PUSKESMAS SEKARDANGAN

RUANG TINDAKAN

1.GASTROENTERITIS
KODE ICD X : A09
1. Definisi Gastroenteritis (GE) adalah peradangan mukosa lambung dan
usus halus yang ditandai dengan diare, yaitu buang air besar
lembek atau cair, dapat bercampur darah atau lender, dengan
frekuensi 3 kali atau lebih dalam waktu 24 jam, dan disertai
dengan muntah, demam, rasa tidak enak di perut dan
menurunnya nafsu makan.Apabila diare > 30 hari disebut
kronis.
2. Anamnesa Pasien datang ke dokter karena buang air besar (BAB) lembek
atau cair, dapat bercampur darah atau lendir, dengan frekuensi
3 kali atau lebih dalam waktu 24 jam. Dapat disertai rasa tidak
nyaman di perut (nyeri atau kembung),mual dan muntah serta
tenesmus.
3. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, tekanan
darah , suhu tubuh, frekuensi denyut jantung dan pernapasan
Tanda – tanda dehidrasi :
Derajat Dehidrasi
Pemeriksaan Tidak Ringan - Sedang Berat
Dehidrasi
Keadaan umum Baik Gelisah Lesu,tidak sadar
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Air mata Ada Tidak ada Tidak ada
Mulut & Lidah Basah Kering Sangat kering
Rasa haus Tidak haus Haus Malas minum
Turgor Cepat kembali Kembali lambat Sangat lambat

4. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan
5. Diagnosa Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik
6. Diagnosa Banding 1. Demam Tifoid
2. Kolitis pseudomembran
7. Penatalaksanaan Diare dehidrasi ringan / sedang ( Rencana Terapi B ) :
Bila terdapat 2 tanda atau lebih :
a. Gelisah, rewel
b. Mata cekung
c. Ada rasa haus,ingin minum terus
d. Turgor kembali lambat

Rehidrasi dengan Oralit :
Dalam 3 jam pertama = 75 ml x berat badan anak
Observasi setelah 3 jam

B atau C untuk melanjutkan terapi 8. Kriteria Rujukan 10. lunglai / tidak sadar b. KIE Cara pemberian Oralit dan obat dirumah 9.9% 100 ml/kgbb dibagi Umur Pemberian I Kemudian 30 ml/kg BB 70 ml/kg BB < 1 tahun 1 jam 5 jam >1 tahun 30 menit 2 ½ jam Beri juga oralit ( 5ml/kg BB/jam ) bila pasien bisa minum Beri Zink 10 hari berturut – turut Observasi 6 jam ( bayi ) atau 3 jam ( anak ) kemudian pilih Rencana Terapi A. Turgor kembali sangat lambat > 2 detik Beri cairan intravena : RL atau NaCl 0. Lesu. Mata cekung c. Daftar Pustaka Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama . Malas minum d.Tetap dehidrasi ringan / sedang : ulangi Rencana Terapi B 3.Menjadi dehidrasi berat : ganti dengan Rencana Terapi C Diare Dehidrasi Berat ( Rencana Terapi C ) : Jika terdapat 2 tanda / lebih : a.Jika dehirasi hilang : lanjutkan dengan Rencana Terapi A Beri oralit dengan dosis : Umur < 1 th : 50 – 100 ml tiap diare Umur > 1 th : 100 – 200 ml tiap diare 2. 1.

distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli. sakit kepala. 2. serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. Diagnosa Banding - 7. penurunan nafsu makan. radiasi dll). Penatalaksanaan Pada pneumonia ringan rawat jalan dapat diberikan antibiotik lini pertama secara oral. Menghindarkan bayi/anak kecil dari kontak dengan penderita ISPA 9. gelisah. menggigil. dan epigastrium).PNEUMONIA KODE ICD X : J18. Membiasakan cuci tangan 2. 3. Anamnesa Demam. batuk. Daftar Pustaka Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama . Kriteria Rujukan Pneumonia Berat 10. sesak nafas. Sebagian besar disebabkan oleh mikroorganisme (virus/bakteri) dan sebagian kecil disebabkan oleh hal lain (aspirasi. sianosis Auskultasi : ronchi + 4.malaise.8 1.digunakan otot bantu napas (retraksi supraklavikula. STANDAR PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS SEKARDANGAN RUANG TINDAKAN 2. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah lengkap 5. Pemberian analgetik antipiretik Parasetamol 10 mg/kgbb/hari Tindakan : dilakukan Nebulizer` 8. KIE 1. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan tanda-tanda vital Nafas cuping hidung. interkostal. Definisi Pneumonia adalah peradangan/inflamasi parenkim paru. misalnya amoksisilin atau kotrimoksazol. Diagnosa Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik 6.

Anamnesa a. Bronkitis kronik. 4. yang menyebabkan peradangan dan penyempitan yang bersifat sementara. interkostal. perubahan penyakit (apakah membaik atau memburuk). pajanan allergen. ronchi Pada serangan berat digunakan otot bantu napas (retraksi supraklavikula. Bronkiektasis 7. jenis dan mekanisme kerja obat-obatan dan mengetahui kapan harus meminta pertolongan dokter . Terdapat riwayat gejala respirasi seperti mengi. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan tanda-tanda vital Auskultasi : wheezing. Penatalaksanaan Bronkodilator : Salbutamol 2 – 4 mg 3 x 1. Diagnosa Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik. dan epigastrium). Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan 5. rasa berat di dada dan batuk yang intensitasnya berbeda-beda berdasarkan variasi keterbatasan aliran udara ekspirasi 2. b. sifat penyakit. tertawa atau iritan seperti asap kendaraan. Obstruksi jalan napas. Gejala sering memburuk di malam hari atau pagi dini hari c. . dada terasa berat) b.Memberikan informasi kepada individu dan keluarga mengenai seluk beluk penyakit. Diagnosa Banding a. rokok atau bau yang sangat tajam 3. sesak. STANDAR PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS SEKARDANGAN RUANG TINDAKAN 3. c.ASMA BRONKHIALE KODE ICD X : J45. Gejala khas untuk Asma. KIE a.9 1. yaitu terdapat lebih dari satu gejala ( mengi. Definisi Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktifitas terhadap rangsangan tertentu . Aminofilin 3 x 1 Efedrin 10 – 15 mg 3 x 1 Prednison Pada Status Asmatikus : Dilakukan stabilisasi sebelum dirujuk : Infus Glukosa 5% Aminofilin 5-6 mg/kg BB disuntikkan intravena perlahan 8. perubahan cuaca. 6. Gejala bervariasi waktu dan intensitasnya d. sesak. latihan. Gejala dipicu oleh infeksi virus.

Kontrol secara teratur antara lain untuk menilai dan monitor berat asma secara berkala . Pada serangan asma akut sedang dan berat. 9. c. 10. c. Asma dengan komplikasi. b. Bila sering terjadi eksaserbasi.kontrol pola hidup sehat. Kriteria Rujukan a.Melakukan pencegahan : menghindari faktor pencetus. b. Daftar Pustaka Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama .

9. memar. Inspeksi: adanya kerusakan jaringan didaerah trauma. Daftar Pustaka Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama .1 1. Vulnus excoriasi / lecet 2. Kriteria Rujukan Terdapat open fractur 10. Terapi : Antibiotika Analgetik 8.VULNUS KODE ICD X : T14. luka tembus (penetrasi). bengkak. misalnya pembuangan jaringan mati dengan gunting atau pisau dan dibersihkan dengan bilasan. Pertama dilakukan anestesi setempat . gigitan. maka dapat menyebabkan luka/vulnus. dan luka ditutup 4. edema sekitar area trauma. Penatalaksanaan 1. luka akibat gesekan (abrasi). Palpasi: nyeri tekan. luka dan sekitar luka dibersihkan dengan antiseptik. melepuh. rasa panas didaerah trauma 3. luka akibat tarikan (avulsi). atau anestesi 4. Definisi Apabila kulit terkena trauma. ada jejas. Diagnosa Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik 6. kulit warna kemerahan sampai kehitaman. KIE Pasien dan keluarga menjaga higiene dari luka dan untuk mempercepat penyembuhan. luka bakar. Vulnus laceratum / robek 2. STANDAR PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS SEKARDANGAN RUANG TINDAKAN 4. dan pembedahan. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan 5. ada perdarahan. Anamnesa Terjadi trauma. Kemudian daerah disekitar lapangan kerja ditutup dengan kain steril dan secara steril dilakukan kembali pembersihan luka dari kontaminasi secara mekanis. Dilakukan penjahitan bila memungkinkan. b. jangan terkena air. meliputi luka robek (laserasi). Pemeriksaan Fisik a. Keadaan terjadinya diskontinuitas jaringan. atau guyuran NaCl 3. 2. nyeri. Penyebab luka terbuka / Vulnus appertum : 1. dapat ditimbulkan oleh berbagai macam akibat yaitu trauma. Diagnosa Banding Tidak ada 7.

Anamnesa Keluhan a. misal: batere. Benda asing ini tidak bereaksi dengan epitel dan tetap ada di dalam MAE tanpa menimbulkan gejala hingga terjadi infeksi. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan MAE dengan senter menunjukkan adanya benda asing. edema dan hiperemia liang telinga luar. Telinga terasa tersumbat atau penuh c. Benda asing reaktif berbahaya karena dapat bereaksi dengan epitel MAE dan menyebabkan edema serta obstruksi hingga menimbulkan infeksi sekunder. Nyeri pada telinga e. STANDAR PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS SEKARDANGAN RUANG TINDAKAN 5. Riwayat jelas benda asing masuk ke telinga secara sengaja maupun tidak b. 2. yang dapat menyebabkan iritasi dan nyeri akibat pergerakannya. Pada kasus benda asing yang baru. Retardasi mental 3. Telinga berdengung d. yang dapat berupa: a. 4. Benda asing serangga. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan 5. Pada kasus benda asing reaktif. Ekstraksi harus segera dilakukan.CORPUS ALLIENUM TELINGA KODE ICD X : T16 1. pemberian cairan dihindari karena dapat mengakibatkan korosi . Definisi Meatus akustikus eksternus (MAE) merupakan salah satu bagian tubuh yang sering dimasuki benda asing. Non-medikamentosa: Ekstraksi benda asing a. potongan besi. ekstraksi dilakukan dalam anestesi lokal. Penatalaksanaan 1. c. Diagnosa Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik 6. b. serta dapat disertai sekret. Diagnosa Banding Tidak ada 7. Keluar cairan telinga yang dapat berbau f. Benda asing reaktif. Gangguan pendengaran Faktor Resiko : Anak-anak . b. Benda asing non-reaktif (inert).

Medikamentosa Tetes telinga antibiotik hanya diberikan bila telah dipastikan tidak ada ruptur membran timpani. Pada kasus benda asing berupa serangga:  Dilakukan penetesan alkohol. Analgetik untuk mengurangi rasa nyeri 8. 9. KIE Orang tua disarankan untuk menjaga lingkungan anak dari bendabenda yang berpotensi dimasukkan ke telinga atau hidung. Daftar Pustaka Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama . atau minyak mineral selama ± 10 menit untuk membuat serangga tidak bergerak dan melubrikasi dinding MAE. serangga dipegang dan dikeluarkan dengan forceps aligator atau irigasi menggunakan air sesuai suhu tubuh. 2. obat anestesi lokal (Lidokain spray atau tetes). Kriteria Rujukan Bila benda asing tidak berhasil dikeluarkan 10.  Setelah serangga mati.

9 1. Pada umumnya kelainan ini bersifat ringan. Pemeriksaan Fisik a. 2. Anamnesa Keluhan adanya benda yang masuk ke dalam konjungtiva atau matanya. Medikamentosa Antibiotik topikal (salep mata). 4.CORPUS ALLIENUM MATA KODE ICD X : T15. pemotong keramik. STANDAR PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS SEKARDANGAN RUANG TINDAKAN 6. 2. Non-medikamentosa: Pengangkatan benda asing a. seperti: pekerja gerinda. 2. Arah pengambilan benda asing dilakukan dari tengah ke tepi. misalnya Kloramfenikol salep mata 8. pekerja las. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan 5. dan fotofobia. c. Definisi Benda asing di konjungtiva adalah benda yang dalam keadaan normal tidak dijumpai di konjungtiva dandapat menyebabkan iritasi jaringan. b. Angkat benda asing dengan menggunakan lidi kapas atau jarum suntik ukuran 23G. Memberitahu pasien agar tidak menggosok matanya agar tidak memperberat lesi. d. pekerja yang terkait dengan bahan-bahan kimia (asam-basa ). KIE 1. mata merah dan berair. 3. Faktor Risiko : Pekerja di bidang industri yang tidak memakai kacamata pelindung. Berikan tetes mata Pantokain sebanyak 1-2 tetes pada mata yang terkena benda asing. Ditemukan benda asing pada konjungtiva tarsal superior dan/atau inferiordan/atau konjungtiva bulbi. namun pada beberapa keadaan dapat berakibat serius terutama pada benda asing yang bersifat asam atau basa dan bila timbul infeksi sekunder. sensasi benda asing. Oleskan lidi kapas yang dibubuhkan Povidon Iodin pada tempat bekas benda asing. Visus biasanya normal. Ditemukan injeksi konjungtiva tarsal dan/atau bulbi. c. Menggunakan alat/kacamata pelindung pada saat bekerja atau berkendara . Diagnosa Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik 6. Diagnosa Banding Konjungtivitis akut 7. b. Gejala yang ditimbulkan berupa nyeri. Penatalaksanaan 1.

bengkak. atau disertai dengan penurunan visus 9. misal: karena keterbatasan fasilitas 10. Bila terjadi penurunan visus b. 3. Kriteria Rujukan a. Daftar Pustaka Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama . Bila benda asing tidak dapat dikeluarkan. Menganjurkan pasien untuk kontrol bila keluhan bertambah berat setelah dilakukan tindakan. seperti mata bertambah merah.

Pasang infus RL 3.PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK KODE ICD X : J44. Infeksi Paru 3. dan epigastrium). 2. 4. KIE 1. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan 5. Eksaserbasi dan komorbid berkontribusi terhadap keseluruhan keparahan tiap individu 2. Stress d.9 1.8 mg/kgBB/jam. interkostal. Diagnosa Banding - 7. Ekspektoran 8. Diagnosa Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik. Faktor resiko : a. 4. Antibiotika 5. Kortikosteroid 6. Genetik b. progresif dan berhubungan dengan peningkatan respons inflamasi kronis di paru terhadap partikel dan gas berbahaya. STANDAR PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS SEKARDANGAN RUANG TINDAKAN 7. Berhenti merokok 9. adang-kadang disertai mengi. Definisi PPOK adalah penyakit paru kronik yang dapat dicegah dan diobati. Pemberian bronkodilator : Aminofilin bolus 5 mg/kgBB (dengan pengenceran) harus perlahan (10 menit) utk menghindari efek samping. Batuk kering atau dengan dahak yang produktif.dilanjutkan dengan perdrip 0.asap rokok. bahan kimia c. Penatalaksanaan 1.asap dapur. dikarakteristikkan dengan hambatan aliran udara yang persisten. Pengurangan pajanan faktor risiko 3. Kriteria Rujukan PPOK eksaserbasi sedang – berat . 6. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan tanda-tanda vital Auskultasi : ronchi basah kasar Pada serangan berat digunakan otot bantu napas (retraksi supraklavikula. Edukasi ditujukan untuk mencegah penyakit bertambah berat dengan cara menggunakan obat-obatan yang tersedia dengan tepat. Rasa berat di dada. Pajanan partikel : debu. menyesuaikan keterbatasan aktivitas serta mencegah eksaserbasi.5- 0. Pasang oksigen 2. Anamnesa Keluhan : Sesak napas .

10. Daftar Pustaka Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama .

f. Diagnosa Banding a. Epilepsi c. d. tonus otot. refleks fisiologis dan patologis.5mg/kgBB) atau BB < 10 kg diazepam rektal 5 mg . Mencari kemungkinan adanya faktor pencetus / penyebab kejang. Definisi Kejang Demam (KD) adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal > 38o C) akibat dari suatu proses ekstra kranial. 2. Riwayat kejang demam dalam keluarga . Anamnesa Keluhan utama adalah kejang. Kondisi medis yang berhubungan. e. Pemeriksaan Fisik a. obat-obatan. b. Riwayat kejang sebelumnya. Meningitis b. tetapi tidak disebabkan infeksi intrakranial atau penyebab lain seperti trauma kepala. hipoksia atau hipoglikemia. lama. Diagnosa Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik 6. Deskripsi kejang seperti tipe kejang. BB > 10 kg diazepam rektal 10 mg. saraf kranial. b. ubun-ubun besar. gejala infeksi. 4. seperti: gangguan elektrolit 7. 3. keluhan neurologis. STANDAR PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS SEKARDANGAN RUANG TINDAKAN 8.KEJANG DEMAM KODE ICD X : R56. Pemeriksaan umum ditujukan untuk mencari tanda-tanda infeksi penyebab demam. Gangguan metabolik.0 1. c. Pemeriksaan tanda – tanda vital dan kesadaran. tanda rangsang meningeal. Pemeriksaan neurologi meliputi kepala. Penatalaksanaan Mengatasi kejang akut : Diazepam per rektal (0. Riwayat perjalanan penyakit sampai terjadinya kejang. motrik. Jika kejang belum berhenti diazepam rektal/IV dapat diberikan 2 kali dengan interval 5 menit . gangguan kesimbangan elektrolit. a. c. frekuensi dan kesadaran pasca kejang. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah lengkap dan urine lengkap 5. trauma. pupil. nyeri atau cedera akibat kejang. Kejang berhubungan dengan demam.

terutama dalam waktu 24 jam setelah timbulnya demam 8. Daftar Pustaka Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama . b. Kejang demam kurang dari 30 menit tidak mengakibatkan kerusakan otak. Profilaksis untuk mencegah berulangnya kejang : Profilaksis intermiten dengan diazepam oral/rektal. c. Kriteria Rujukan a. Apabila kejang tidak membaik setelah diberikan obat antikonvulsan b. d. Tidak ada peningkatan risiko keterlambatan sekolah atau kesulitan intelektual akibat kejang demam. dosis 0. Rendahnya risiko terkena epilepsi dan tidak adanya manfaat menggunakan terapi obat antiepilepsi dalam mengubah risiko itu. hanya diberikan selama episode demam. Jika diperlukan pemeriksaan penunjang seperti EEG 10. Risiko kekambuhan penyakit yang sama di masa depan. a.3 mg/kgBB/kali tiap 8 jam. KIE Konseling dan edukasi dilakukan untuk membantu pihak keluarga mengatasi pengalaman menegangkan akibat kejang demam dengan memberikan informasi mengenai: Prognosis dari kejang demam. 9.

Definisi Gastritis adalah proses inflamasi/peradangan pada lapisan mukosa dan submukosa lambung sebagai mekanisme proteksi mukosa apabila terdapat akumulasi bakteri atau bahan iritan lain. Ulkus Peptikum 7. Kolesistitits b. Bila 5 hari pengobatan belum ada perbaikan b. Kriteria Rujukan a. jenis makanan pedas. 3. Pemeriksaan Fisik a. Biasanya pada gastritis kronik.GASTRITIS KODE ICD X : K29. muntah. KIE Menginformasikan pasien dan keluarga mengenai faktor risiko terjadinya gastritis. Pola makan yang tidak baik: waktu makan terlambat. difus. berat badan menurun 10% dalam 6 bulan. Terjadi komplikasi c. Diagnosa Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik 6. Sering minum kopi dan teh 3. b. 2. Terjadi alarm symptom seperti perdarahan. atau lokal. Keluhan mereda atau memburuk bila diikuti dengan makan. kronis. Proses inflamasi dapat bersifat akut. 2. konjungtiva tampak anemis 4. terasa mual. . mual muntah berlebihan 10. Diagnosa Banding a.7 1. Daftar Pustaka Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama . Bila terjadi proses inflamasi berat. porsi makan yang besar. Nyeri tekan epigastrium dan bising usus meningkat. Penatalaksanaan 8. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan 5.Kolelitiasis c. Usia lanjut 5. Stres 9. Penggunaan obat analgetik dan steroid 4. Faktor Risiko : 1. Anamnesa Pasien datang ke dokter karena rasa nyeri dan panas seperti terbakar pada perut bagian atas. dapat ditemukan pendarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena c. STANDAR PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS SEKARDANGAN RUANG TINDAKAN 9. dan kembung.

Ekstremitas atas : 2 x 9% (kiri dan kanan) 3. Definisi Luka bakar (burn injury) adalah kerusakan kulit yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api. Pasien hanya mengeluh kulit teras nyeri dan kemerahan. punggung. listrik dan radiasi 2. Pemeriksaan Fisik Menentukan luas luka bakar berdasarkan rumus “rule of nine” 1. Luka bakar derajat II Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis. bahan kimia. terasa nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. kulit hanya tampak hiperemi berupa eritema dengan perabaan hangat.Kepala dan leher : 9% 2. bokong : 4 x 9% I. tidak dijumpai adanya bula. perut. Luka bakar derajat I. air panas.LUKA BAKAR KODE ICD X : 1. Pada luka bakar derajat II timbul nyeri dan bula. Terdapat bula yang berisi cairan eksudat dan nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik yang teriritasi . 3. STANDAR PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS SEKARDANGAN RUANG TINDAKAN 10.Paha dan betis-kaki : 4 x 9% (kiri dan kanan) 4. kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (superfisial).Dada. Anamnesa Pada luka bakar derajat I paling sering disebabkan sinar matahari. II. berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi.

Derajat II dalam/deep (IIB). Luka bakar derajat II < 15% b. Kebutuhan faali : < 1 Tahun : berat badan x 100 cc 1-3 Tahun : berat badan x 75 cc 3-5 Tahun : berat badan x 50 cc ½ jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama.Luka Bakar Berat a. Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa-sisa jaringan epitel masih sedikit.Luka Bakar Sedang a. Luka bakar derajat II 20% atau lebih pada anak-anak c. kelenjar keringat dan kelenjar sebasea tinggal sedikit sehingga penyembuhan terjadi lebih dari satu bulan dan disertai parut hipertrofi. KIE Pasien dan keluarga menjaga higiene dari luka dan untuk mempercepat penyembuhan. Luka bakar mengenai tangan. Anak : Ringer Laktat : Dextran = 17 : 3 2 cc x berat badan x % luas luka ditambah kebutuhan faali. Luka bakar dengan cedera inhalasi. Luka bakar II 10-25% pada anak-anak c. kaki dan genitalia/perinerium e. Luka bakar derajat III < 10% 3. Luka bakar derajat II < 10% pada anak-anak c. Organ-oran kulit seperti folikel rambut. ½ diberikan 16 jam berikutnya. Diagnosa Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik 6. Derajat II dangkal/superficial (IIA).Luka Bakar Ringan a. Diagnosa Banding Tidak ada 7. Luka bakar derajat II 10% atau lebih d. b. Kerusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas dari corium/dermis. Jenis Luka Bakar : 1. Dibedakan 2 bagian : a. Penatalaksanaan Pada penanganan perbaikan sirkulasi pada luka bakar dikenal beberapa formula. disertai trauma lain 4. Luka bakar derajat II 25% atau lebih pada orang dewasa b. wajah. salah satunya yaitu Formula Baxter sebagai berikut: Hari Pertama: a. Pemberian antibiotik dan analgetik 8. Dewasa : Ringer Laktat 4 cc x berat badan x % luas bakar per 24 jam b. Luka bakar derajat III < 2% 2. mata. telinga. Luka bakar derajat II 15-25% pada orang dewasa b. Pemeriksaan Penunjang Tidak diperlukan 5. jangan sering terkena air. .

Daftar Pustaka Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama .9. Kriteria Rujukan Luka Bakar Sedang dan Berat 10.