You are on page 1of 23

USTEK

RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN
KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU

3
Pemahaman RTBL dan Kepariwisataan
Bab

3.1 Pemahaman RTBL

3.1.1 Pengertian Rtbl

Guna menghindari kecenderungan hasil pembangunan yang tidak imbang,
beberapa upaya ”penyembuhan” dan ”perbaikan” lingkungan telah dilakukan dalam
skala besar, sedang, maupun kecil. RTBL adalah perangkat untuk meminimalisasi
kondisi tak terduga dari pengembangan atau pembangunan kawasan tertentu yang
memiliki regulasi/peraturan tentang tata bangunan dan lingkungan berbasis pada
DESAIN TERPADU antara tata guna lahan, berbagai elemen rancang dan lingkungan
serta sarana dan prasarana lingkungan.
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah panduan rancang
bangun suatu lingkungan/kawasan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang yang
memuat rencana program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan
rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana dan pedoman
pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.

3.1.2 Sejarah Rtbl

Akhir tahun 80-an (tahun 1989), Departemen Pekerjaan Umum melalui
Direktorat Tata Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya merintis kegiatan-kegiatan
penataan bangunan dan lingkungan yang pada awalnya sebagai bagian dari program
perumahan pada bidang keciptakaryaan. Kegiatannya dilakukan melalui Proyek
Penataan Bangunan berupa penyiapan Rencana Penataan Bangunan untuk beberapa
kota Indoesia.

3-1

USTEK
RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN
KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU

Kegiatan tersebut setidaknya telah memberikan banyak masukan bagi
pemeritah daerah tentang perluna panduan/pedoman rancang kawasan, rancang kota
(urban design) sebagai bagian penting dalam upaya pengendalian pertumbuhan kota.
Kegiatan penataan bangunan ini dilaksanakan bertahap melalui beberapa paket
kegiatan yaitu :
a. Kegiatan identifikasi (untuk daerah yang belum menyiapkan daftar prioritas
kawasan yang akan ditangani)
b. Kegiatan penyusunan Rencana Penataan Bangunan
c. Kegiatan penyusunan Pedoman Penataan Bangunan, dan
d. Kegiatan pembangunan Fisik Percontohan.
Pada awal 1994 mulai dikembangkan paradigma baru adanya “ konsep
penataan bangunan dan lingkungan” berupa RTBL yang kemudian
didiseminasikan kepada seluruh Pemda Provinsi maupun Kabupaten. Kepentingan ini
lahir ketika disadari bahwa untuk dapat mengendalikan pemanfaatan ruang, suatu
rencana tata ruang seyogyanya ditindaklanjuti pula dengan pengaturan di bidang tata
bangunan secara memadahi, diantaranya melalui perangkat pengaturan bangunan
setempat.
Setelah suatu kebijakan pengembangan/pembangunan fisik ditetapkan,
diperlukan beberapa ketentuan teknik pelaksanaan fisik secara lebih rinci. Untuk itu
proses yang harus dilakukan adalah tahap kegiatan “perencangan”. Hal ini sangat perlu
dipahami agar tiap elemen yang telah direncanakan dapat dinyatakan dalam wujud
fisik sesuai dengan yang diinginkan.
Pada pembangunan lingkungan, terutama terhadap sarannya, proses
perancangan tiap elemen fisiknya dilakukan oleh berbagai pihak khususnya opelh pihak
pemilik (perorangan maupun lembaga) sesuai keinginan dan kebutuhan masing-
masing. Keragaman pihak yang terlibat sebagai pelaku pembangunan menghasilkan
keragaman wujud fisik yang terjadi. Untuk memperoleh kualitas lingkungan sesuai
dengan yang dikehendaki, umumnya dilakukan sesuai dengan cara yang dikehendaki,
umumnya dilakukan melalui pendekatan rancang kawasan yang dalam konteks
perkotaan dikenal sebagai rancang kota (urban design).

3-2

Kebutuhan untuk MEREALISASIKAN. dapat dikatakan bahwa perlunya dokumen RTBL antara lain : 1. rencana aksi/kegiatan komunitas (community-action plan/CAP). Kedudukan Dokumen RTBL Dalam pelaksanaan. dan tidak terkendali yang mendorong ke arah “KESERAGAMAN WAJAH/RUPA KOTA. Kebutuhan TINDAK LANJUT atas rencana tata ruang yang ada sekaligus MANIFESTASI atas pemanfaatan ruang. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum RTBL. c. sesuai kompleksitas permasalahan kawasannya. 6. Kebutuhan ALTERNATIF PERANGKAT PENGENDALI yang mampu dilaksanakan langsung di lapangan. Kebutuhan INTEGRASI atas bebagai konflik kepentingan dalam PENATAAN :  Antar bangunan  Bangunan dengan lingkungannya  Bangunan dan prasarana kota  Lingkungan dengan konteks regional/kota  Bangunan dan lingkungan dengan aktivitas publik  Lingkungan dengan pemangku kepentingan (stakeholer) 4. 3. 5. Namun agar dapat membumi. RTBL juga dapat berupa: a. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU 3. b. Fenomena pertumbuhan kawasan yang cepat. MELENGKAPI. rencana penataan lingkungan (neighbourhood-development plan/NDP). 3. 2.1.1.4 Kedudukan RTBL Dan Kawasan Perencanaan 1. tidak terarah. panduan rancang kota (urban-design guidelines/UDGL).3 Tujuan Penyusunan Rtbl Dokumen RTBL bagi suatu kawasan memiliki nilai penting yang antara lain juga telah ditegaskan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Timbul tuntutan untuk mempertahankan keunggulan spesifik suatu kawasan sebagai kawasan yang berjati diri. dan MENGINTEGRASIKAN berbagai peraturan yang ada pada suatu kawasan. 3-3 . ataupun persyaratan teknis yang lain yang berlaku.

rancangan. aturan. Kawasan yang memiliki sifat campuran.kawasan terbangun yang memerlukan penataan. 3-4 . kelurahan. fungsi sosial-budayadan/atau keagamaan serta fungsi khusus. dan mekanisme dalam penyusunan Dokumen RTBL harus merujuk pada pranata pembangunan yang lebihtinggi. dan bagian wilayah kota/desa. seperti desa adat. kawasandilestarikan. Administratif. dan kawasan bersejarah. d. kota. Kawasan Perencanaan Kawasan perencanaan mencakup suatu lingkungan/kawasan dengan luas 5-60 hektar (Ha). c. • kota kecil/desa dengan luasan 30-60 Ha. seperti wilayah RT. sepertikawasan kota lama. industri. e. Kawasan yang memiliki kesatuan karakter tematis. gampong. 2. kawasan rawan bencana. kawasan sentra niaga(central business district). kecamatan.kawasan sentra pendidikan. lingkungan sentra perindustrian rakyat. yang ditentukan secara kultural tradisional (traditional cultural- spatial units). maupun wilayah. dan kawasan permukiman tradisional. fungsi usaha. dengan ketentuan sebagai berikut: • kota metropolitan dengan luasan minimal 5 Ha. seperti kawasancampuran antara fungsi hunian. Non-administratif. Jenis kawasan. • kota besar/sedang dengan luasan 15-60 Ha. b. dan kawasan gabungan ataucampuran. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Seluruh rencana. dan nagari. Penentuan batas dan luasan kawasan perencanaan (delineasi) berdasarkan satu atau kombinasi butir-butir di bawah ini: a. baik pada lingkup kawasan. RW. seperti kawasan baru yang berkembang cepat.

Berdasarkan pendapat tersebut maka penataan kota tidak akan berjalan dengan baik kalau tidak disertai dengan penataan arsitekturnya.5 Kedudukan RTBL Dalam Pranata Perencanaan Arsitektur dan kota merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Kegiatan penataan bangunan adalah suatu kegiatan yang berkaitan dengan upaya Pengaturan (kepranataan.1 Kedudukan RTBL dalam Pengendalian Bangunan Gedung dan Lingkungan 3. Oleh karena itu. pembinaan dan pengawasan/pengendalian) yang diberlakukan kepada bangunan atau kelompok 3-5 . diperlukan adanya suatu perangkat pengendali wajah kota/arsitektur kota melalui upaya penataan bangunan. Keduanya merupakan fenomena yang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya (Danisworo. kelembagaan. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Gambar 3. 1992).1.

Kegiatan penataan bangunan merupakan kelanjutan dari kegiatan tata ruang (urban planning). Kelemahan dari sisi urban planning itulah yang dijawab dalam tata bangunan. aturan ataupun arahan pengendalian pembangunan fisik kota yang detail dan berkaitan dengan aspek tata bangunan disebut Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). maka semenjak tahun pertama Repelita V. Ruang dan bentuk jaringan Jalan dan transportasi bangunan secara arsitektoris 2.1 Perbandingan Produk Tata Ruang dan Tata Bangunan TOPIK TATA BANGUNAN DAN NO TATA RUANG KOTA BAHASAN LINGKUNGAN 1. Hal ini disebabkan karena selama ini perencana kota lebih sering melihat kota sebagai benda fisik ( physical artefak) ketimbang sebagai benda budaya (cultural artefak). khususnya penyusunan rencana. Presentasi Produk Peta 2 dimensi. Perbandingan produk antara Tata Ruang dan Bangunan dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 3. melalui Departemen Pekerjaan Umum telah dilaksanakan kegiatan pengelolaan pembangunan kota (Urban Manajemen). serta sesuai dengan program pembangunan yang tertuang dalam GBHN. Sifat dan Tingkat Spatial 2 dimensi Spasial 3 dimensi Kedalaman Analisis 3. Sehubungan dengan hal tersebut. Metoda Selalu condong dan tergantung Menggapai aspek kualitatif kepada perhitungan yang bersifat untuk meningkatkan kuantitatif dan cenderung hanya kualitas lingkungan binaan melihat bagaimana optimasi dari pemanfaatan Lahan kota dapat tercapai 5. Domain Tata Ruang Kota beserta fungsi. Gambar 3 dimensi Peta 2 dimensi dan Gambar hanya sebagai penunjang 3 dimensi 4. dilakukan dengan berwawasan pada kondisi lingkungan ekonomi-sosial- budaya setempat. Ruang Lingkup Lebih luas Tidak seluas urban planning Areal 6. Fungsi Pengendali Perkembangan Kawasan Pengendali perkembangan lingkungan dan bangunan/wujud fisik kota Panduan pelaksanaan kegiatan fisik penataan Implementasi lebih detail & teknis dari tata ruang 3-6 . USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU bangunan.

Pedestrian yang merupakan bagian Demikian pula dengan penataan signase penting dari sebuah perencanaan yang berdiri tanpa adanya pedoman dan kawasan. pedoman bangunan yang mana akan tertuang penataan nya merupakan bagian dari dalam program RTBL. Banyak aspek dan detail yang tidak terjangkau oleh RTRW.2 Aspek RTBL 3-7 . Gambar 3. RDTRK maupun RTRK. RUTRK. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Kawasan pemukiman yang terbilang Kawasan pertokoan yang penuh dengan padat memerlukan pedoman penataan billboard berdiri tak tertata. pedoman dan penataannya ketentuan. program RTBL. RTBL secara implisif dapat dapat menjadi bagian dari program RTBL mengaturnya.

6 Ruang Lingkup Produk Rancang RTBL 1.1. rencana umum dan panduan 3-8 .3 Ilustrasi Penataan RTBL 3. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Gambar 3. RTBL Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang yang memuat rencana program bangunan dan lingkungan.

Transportasi 3-9 .Pengawasan terhadap  Konsep tat bangunan utilitas kesesuaian rencana  Konsep sistem sirkulasi  Pedoman pengendalian . . Panduan Rancang Kota/RRK Panduan bagi perencanaan kawasan yang memuat uraian teknis secara rinci tentang kriteria. bangunan dan lingkungan pengawasan dan penertiban)  Panduan pengembangan  Rencana sistem prasarana rancangan (design guidelines) wilayah dan detail rencana rancangan . fasilitas sosial. ketentuan pengendalian rencana dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.Penertiban terhadap  Konsep RTH pelaksanaan pembangunan pelanggaran pemanfaatan  Konsep kualitas lingkungan lingkungan (administrasi. dan fungsi  Rencana umum desain (design KLB. Detail lebih jelas dilihat pada tabel berikut : Tabel 3. rencana investasi. KDH. RTBL memberi arahan kualitas wujud kawasan perencanana ke dalam matra tiga dimensi menurut kaidah- kaidah perancangan arsitektural bangunan dan lingkungan. manajemen pelaksanan perdesaan. tata letak.Pengaturan kelembagaan  Konsep intensitas selubung. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU rancangan. perkotaan dan  Konsep prasarana dan utilitas bangunan. standar dimensi. mekanisme pelaporan tertentu (kelembagaab.2 Ruang Lingkup Produk Rancang Kawasan RTBL Kawasan RTRK Kawasan RTRW Kawasan  Apresiasi konteks dan nilai  Tujuan pembangunan massa  Rencana struktur dan pola lingkungan bangunan dan lingkungan ruang  Program peran serta  Rencana tapak pemanfaatan . utilitas maupun sarana lingkungan. pengaturan operasional  Rencana pengelolaan kawasan lingkungan insentif.  Konsep preservasi-konservasi program pemanfaatan. arsitektur. persyaratan-persyaratan. KDB. ketentuan-ketentuan. alokasi guna kawasan lindung dan kawasan plan) bangunan.Letak.fisik bangunan prasarana dan fasilitas umum. sempadan. Rencana Teknik Ruang Kawasan menggunakan peta-peta dengan skala besar. ukuran. signage) . standar kualitas yang memberikan arahan bagi pembangunan suatu kawasan yang ditetapkan megenai fungsi.Hirarki pusat pelayanan masyarakat (community ruang lingkungan perpetakan wilayah participation) bangunan. RTRK Adalah rencana rinci tata ruang yang menggambarkan antara lain : rencana tapak atau tata letak (site plan) dan tata bangunan (building layout) berseta prasarana dan sarana lingkungan serta utilitas umum. jaringan sirkulasi dan budidaya  Konsep perancangan utilitas)  Rencana pengelolaan kawasan komprehensif  Arahan letak dan penampang lindung dan budidaya  Konsep peruntukan lahan bangunan (penampang 3D.Program pemanfaatan pemanfaatan jalan  Arahan letak dan penampang . ruang  Konsep identitas dan orientasi perizinan. 3. . 2.

utilitas kawasan lindung dan budaya.Pengairan  Program investasi . guidelines) air. antar aspek preserasi-konservasi lingkungan elemen tidak terintegrasi elemen lingkungan  Mempertahankan penggalian  Panduan hanya terkonsentrasi potensi penumbuh karakter pada bagian persil/blok. perbatasan.Indikasi pogram pembangunan 5 tahun 10 Tahun 10 Tahun  Pengendalian elemen rancang  Pengendalian tentang rencana  Pengendalian struktur dan pola serta komprehensif perpetakan. pengelolaan (peruntukan lahan. tata bangunan. terutama lingkungan arsitektural bangunan dan konsep struktur dan pola ruang  Mempertimbangkan aspek non lingkungan  Tidak mempertimbangkan fisik dalam program penataan  Tidak mempertimbangkan pengendalian ekspresi langgam ruang penggalian potensi penumbuh arsitektural bangunan dan  Mempertimbangkan karakter dan identitas ruang lingkungan pengendali ekspresi langgam kawasan  Tidak mempertimbangkan arsitektural bangunan dan  Tidak mempertimbangkan aspek penggalian potensi penumbuh lingkungan preserasi-konservasi elemen karakter dan identitas ruang  Mempertimbangkan lingkungan kawasan pembentukan kualitas ruang  Panduan hanya terkonsentrasi  Tidak mempertimbangkan dan karakter dan citra (image) pada bagian persil/blok. kualitas lingkungan. lindung) . intensitas sirkulasi. antar dan identitas ruang kawasan elemen tidak terintegrasi  Mempertiimbangkan aspek preservasi-konservasi elemen lingkungan  Panduan kawasan terintegrasi antar seluruh elemen. udara. hutan dan  Panduan arahan pengendalian sumberdaya alam lain pada masa pelaksanaan  Rencana sistem kegiatan (development guidelines) pembangunan  Program pengelolaan . design arsitektural pada berbagai penerapan konsep prasarana dan utilitas. tata  Tidak mempertimbangkan serta perkotaan dan perdesaan bangunan. membentuk karakter khas 3-10 . berbagai penerapan konsep  Tidak mempertimbangkan RTH.Pengelolaan lingkungan pelaksanaan (administration  Rencana penatagunaan tanah. terbelakang. sistem linkage. rawan management program) bencana.Indikasi kawasan prioritas pemanfaatan asset property pembangunan (kawasan pasca pelaksanaan (estate strategis. bangunan dan lingkungan desain arsitektural pada preservasi-konservasi)  Tidak mempertimbangkan bangunan dan lingkungan  Mempertimbangkan berbagai penggalian konteks dan nilai lokal  Tidak mempertimbangkan penerapan konsep desain pemberntuk karakter lingkungan penggalian konteks dan nilai arsitektural pada bangunan  Hanya mempertimbangkan lokal pemberntuk karakter dan lingkungan aspek fisik dalam program lingkungan  Mempertimbangkan penataan ruang  Hanya mempertimbangkan penggalian konteks dan nilai  Tidak mempertimbangkan aspek fisik dalam program lokal pembentuk karakter pengendalian ekspresi langgam penataan ruang.Energi pengendalian masa .Telekomunikasi  Panduan administrasi untuk . pemanfaatan lahan. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU RTBL Kawasan RTRK Kawasan RTRW Kawasan (detailed design plan) . pemanfaatan.

1. 4. 2. Berdasar pertimbangan efektivitas pemanfaatan ruang yang ada. memetakan dan mengapresiasi konteks lingkungan dan nilai lokal dari kawasan perencanaan dan wilayah sekitarnya. prediksi kontuinitas pelaksanaan program. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU 3. 3. Proses ini akan didukung oleh adanya analisis pengembangan pembangunan berbasis peran masyarakat.1.8 Struktur Dan Sistematika RTBL Dokumen RTBL disusun dengan materi pokok sebagai berikut: 1. 2. Bagian 2: Rencana Umum Dan Panduan Rancangan 3-11 . menganalisis. dan peluang manfaat yang akan dicapai. Melibatkan peran masyarakat pengguna dan/atau pelaku pembangunan (stakeholder) dalam proses penyusunannya untuk menghasilkan kesepakatan dan bersifat mengikat. Mempunyai kejelasan kelembagaan pengelola dan pemantau pelaksanaan program 3. Berorientasi pada aspek kemampuan daya dukung sosial budaya dan lingkungan dari lokasi setempat.7 Prinsip Utama RTBL Prinsip-prinsip utama penyusunan Dokumen RTBL adalah: 1. Termasuk dalam hal ini juga adalah penguatan peran dan kapasitas pelayanan UP-UP BKM sebagai pusat pelayanan masyarakat (community center) dalam bidang penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bagian 1: Program Bangunan Dan Lingkungan Merupakan proses untuk mengidentifikasi. bukan pada aspek tuntutan kebutuhan ekonomissemata. Fokus utama adalah membangun komitmen dan kesepakatan warga mengenai peran aktif masyarakat untuk mengatur dan mengelola sendiri pembangunan lingkungan dan permukiman di wilayahnya dengan berpedoman pada peraturan perundangan yang berlaku. Kedua proses diharapkan dapat mendukung visi pembangunan sebagai konsep dasar perencanaan tata bangunan dan lingkungan.

Bagian 5: Pedoman Pengendalian Pelaksanaan Ulasan penetapan program kelengkapan administrasi pengendali pelaksanaan penataan agar memenuhi persyaratan pembangunan di wilayahnya. tata bangunan. relawan dan kelompok peduli setempat membuat perencanaan investasi sebagai bagian dari pemasaran sosial RTBL. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Merupakan ketentuan-ketentuan tata bangunan dan lingkungan pada suatu lingkungan/kawasan yang bersifat melengkapi dan menjelaskan secara lebih rinci rencana umum yang telah ditetapkan sebelumnya. Tercakup didalamnya seluruh ketetapan administrasi kota. serta pelestarian bangunan dan lingkungan. Bagian 4: Ketentuan Pengendalian Rencana Ketentuan akan mengendalikan berbagai rencana kerja. sistem sirkulasi dan jalur penghubung. intensitas pemanfaatan lahan. Ulasan akan mencakup struktur peruntukan lahan. BKM bersama perangkat kelurahan. ataupun administrasi yang menyangkut peraturan/adat. BKM bersama perangkat kelurahan. Dalam hal ini masyarakat akan didampingi oleh tenaga ahli perencanaan yang direkrut BKM melalui BLM RTBL dan juga mendapat bantuan teknis secara intensif dari Dinas PU atau yang terkait di pemda setempat. administrasi atas insentif pengembangan. program kerja maupun kelembagaan kerja. serta mengatur pertanggung jawaban semua pihak yang terlibat. 3-12 . Aspek ketentuan administratif dan arahan yang bersifat antisipatif terhadap perubahan ditentukan untuk mendukung strategi pengendalian yang diatur dengan rencana kelembagaan untuk mengelola pelaksanaan RTBL. Bagian 3: Rencana Investasi Rencana akan disusun berdasarkan dokumen RTBL yang diharapkan menjadi rujukan serta alat mobilisasi dana investasi bagi masing-masing pemangku kepentingan sehingga dapat mengatur upaya percepatan penyediaan dan peningkatan kualitas pelayanan prasarana/sarana dari suatu lingkungan/kawasan. sistem ruang terbuka dan tata hijau. 3. tata kualitas lingkungan. 4. sistem prasarana dan utilitas lingkungan. Pengendalian rencana sebagai bagian dari penyusunan RTBL akan melibatkan masyarakat secara individu maupun pihak yang dapat mewakili seperti BKM dan Dewan kelurahan 5. relawan dan kelompok peduli setempat menggerakan dan mengkoordinir serangkaian musyawarah warga untuk membangun kesepakatan bersama konsep umum perancangan.

3-13 . USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Pengelolaan kawasan menjadi bagian dari pengendalian pelaksanaan yang akan meliputi aset properti yang dikelola. dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin di wilayahnya. dengan berpedoman pada peraturan yang berlaku. maka potensi keberlanjutan akan semakin tinggi karena masyarakat yang akan bertanggungjawab sepenuhnya pada pengelolaan properti pasca pelaksanaan). Bila ini terwukud. Prinsip dasar keberhasilan pelaksanaan dokumen RTBL adalah apabila menjadi kebutuhan dan milik masyarakat sendiri beserta perangkat kelruahan dan kelompok peduli setempat. Termasuk kesepakatan bersama mengenai aturan-aturan yang terkait dengan pengembangan lingkungan permukiman diwilayahnya. Masyarakat. pelaku pengelolaan serta aspek-aspek pengelolaan. perangkat kelurahan dan kelompok peduli setempat menyepakati ketentuan pengendalian pelaksaaan. BKM.

4 Struktur dan Sistematika RTBL 3-14 . USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Gambar 3.

Hal ini menggambarkan bahwa kepariwisataan adalah sebuah sistem. ketika Wolfe mengembangkan outdoor recreation system dan mengemukakan bahwa pariwisata lebih dari sekedar industri tetapi sebuah sistem yang terdiri dari komponen-komponen utama yang saling terkait dalam hubungan yang erat dan saling mempengaruhi (Gunn. wilayah. sebuah negara. Beberapa faktor dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap bagaimana kepariwisataan harus dikembangkan (ibid). Penelitian-penelitian tentang sistem kepariwisataan berkembang dengan pesat pada tahun 1970 – 1980-an. Kesesuaian antara sisi sediaan dengan sisi permintaan adalah kunci keberhasilan dalam pengembangan kepariwisataan yang benar (Gunn 2002). serta sebagian besar membahas tentang dasar teori dan konteks sistem kepariwisataan dalam proses perencanaan. atau masyarakat harus menyediakan beragam pembangunan dan pelayanan (sisi sediaan). Gunn kemudian menjelaskan bahwa keberhasilan sistem kepariwisataan dipengaruhi juga oleh faktor-faktor eksternal. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU 3. Sistem Kepariwisataan Kepariwisataan merupakan fenomena yang kompleks.2 Pemahaman Dasar Mengenai KSPN dalam Sistem Kepariwisataan Pengertian Pariwisata dan Kepariwisataan A. Model sistem kepariwisataan Gunn lebih sarat dengan aspek-aspek ekonomi. Pemikiran tentang kepariwisataan sebagai sebuah sistem mulai berkembang pada tahun 1964. Gunn mengidentifikasi sembilan faktor eksternal yang 3-15 . dan pengelolaan (Scarpino 2009). pembangunan. 1994). yang mengemukakan keterkaitan antara sisi sediaan (supply) dengan permintaan (demand) serta faktor-faktor eksternal yang mempengaruhinya. melibatkan banyak sektor dan banyak aktor dalam pembangunannya.  Sistem Kepariwisataan Sebagai Dasar Teori Model sistem kepariwisataan sebagai dasar teori antara lain dibahas oleh Gunn (1972) dan Leiper (1981). Komponen-komponen dalam kepariwisataan saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Gunn berpendapat bahwa untuk memuaskan permintaan pasar.

Gunn mengungkapkan bahwa sistem kepariwisataan merupakan hubungan yang saling ketergantungan antara daerah pembangkit wisatawan dengan destinasi pariwisata (ibid). Sistem kepariwisataan Leiper dapat dilihat pada gambar berikut ini. organisasi/kepemimpinan. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU dapat mempengaruhi sistem kepariwisataan. 3-16 . masyarakat. Sumber: dimodifikasi dari Gunn 2002 Gambar 3. keuangan.5 Sistem kepariwisataan Gunn (1972)-dimensi ekonomi Berbeda dengan Gunn. Model sistem kepariwisataan Gunn dapat dilihat pada gambar di bawah ini. jalur transit. Model Leiper mengidentifikasi lima komponen dalam sistem kepariwisataan. dan kebijakan pemerintah (Gunn 2002). kompetisi. daerah tempat tinggal wisatawan. kewirausahaan. sumber daya budaya. Leiper juga mengemukakan bahwa pariwisata terjadi jika satu saja dari komponen-komponen tersebut ada dalam suatu proses yang saling terkait (Leiper dalam Pratiwi 2010). tenaga kerja. yaitu sumber daya alam. destinasi pariwisata. dan industri pariwisata. yaitu wisatawan. Leiper (1981 dalam Getz 1986) memandang sistem kepariwisataan dari dimensi spasial.

marketing (pemasaran).  Travel (perjalanan): fokus pada pergerakan wisatawan. faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perjalanan wisata. dan segmen pasar.  Marketing (pemasaran): menfokuskan pada strategi bagaimana pengelola pariwisata merencanakan. mempromosikan. 3-17 . dan mendistribusikan barang dan jasa kepada wisatawan. Mill & Morrison mengungkapkan empat komponen pembentuk sistem kepariwisataan. moda transportasi.6 Sistem kepariwisataan Leiper (1981)-dimensi spasial  Sistem Kepariwisataan Dalam Proses Perencanaan/ Pengelolaan Pariwisata Model sistem kepariwisataan yang mengaitkannya dengan konteks proses perencanaan/pengelolaan pariwisata dikemukakan antara lain oleh Mill & Morrison (1985).  Market (pasar): mencakup faktor-faktor yang mempengaruhi pasar dengan penekanan pada perilaku pasar. yaitu market (pasar). dan travel (perjalanan). serta Cornellisen (2005). dan proses pengambilan keputusan berwisata. yang kemudian dikembangkan pada tahun 1992. destination(destinasi/daerah tujuan wisata). USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Sumber: Leiper dalam Pratiwi 2010 Gambar 3.

Seluruh komponen tersebut harus dipahami. walaupun tetap dengan empat komponen utama yang sama dengan model awal. yang menjelaskan hubungan linier antara komponen-komponen di dalamnya. Pada tahun 1992. Model Mill & Morrison dapat dilihat pada gambar di bawah ini. berdasarkan pada Mill&Morrison (1992) Gambar 3. Model Mill & Morrison menjelaskan bahwa pemasaran menjual destinasi kepada pasar/wisatawan. dan dikelola dengan baik sehingga dapat membangun sistem 3-18 . USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU  Destination (destinasi/daerah tujuan wisata): mencakup proses dan prosedur yang dilakukan oleh destinasi pariwisata dalam pembangunan dan mempertahankan keberlanjutan kepariwisataan.7 Sistem kepariwisataan Mill&Morrison (1985)-konteks perencanaan/pengelolaan kepariwisataan Pada awalnya. Sumber: Scarpino 2009. dan mendapat banyak kritik karena dianggap bukan sebuah sistem. model sistem kepariwisataan yang dikembangkan oleh Mill & Morrison merupakan model linier. sementara travel mengantarkan pasar ke destinasi pariwisata. modelnya disempurnakan dan menunjukkan karakter sistem kepariwisataan yang lebih kuat. direncanakan.

kebutuhan.8 The Global Tourism System . hal tersebut terdiri dari kelompok-kelompok sosial dengan karakteristik sosial ekonomi dan sosial budaya. inovasi. Sumber: Cornelissen 2005 Gambar 3. Model sistem kepariwisataan lain yang terkait dengan proses perencanaan/ pengelolaan dikembangkan juga oleh Cornelissen pada tahun 2005 yang merupakan pengembangan dari pemikiran Britton (1991) tentang sistem produk pariwisata. dan keinginan tertentu. Pada sisi sediaan (supply) terdiri dari produsen-produsen yang berinteraksi. Cornelissen mengemukakan bahwa pariwisata global memerlukan pasar yang berbeda/spesifik didasarkan pada pertukaran antara produsen dan konsumen pariwisata. Keterkaitan antara produsen dimonitor dan diatur oleh lembaga- lembaga yang mengatur perkembangan/ berjalannya pariwisata (Cornelissen 2005). Cornelissen menamakan modelnya sebagai The Global Tourism System (Cornelissen 2005). The Global Tourism System dapat dilihat pada gambar berikut. minat. Pada sisi permintaan ( demand). USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU kepariwisataan yang positif dan memberikan manfaat yang optimal bagi destinasi dan masyarakatnya.konteks perencanaan/pengelolaan kepariwisataan Model sistem kepariwisataan yang dikemukakan oleh Cornelissen ini pada dasarnya melihat kepariwisataan dari dua sisi yang sama dengan yang 3-19 . dan bersaing.

faktor-faktor eksternal dapat mempengaruhi kinerja sistem kepariwisataan. akomodasi. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU dikemukakan juga oleh Gunn (1972). dan sosial. Model sistem kepariwisataan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini. yaitu sediaan ( supply) dan permintaan (demand). dan persepsi wisatawan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor geografis.9 Sistem kepariwisataan menurut penulis 3-20 . kebutuhan. Seperti sistem kepariwisataan yang dikemukakan oleh Gunn. penulis mengembangkan model sistem kepariwisataan yang menggabungkan komponen-komponen utama dari keempat sistem. Mengacu pada keempat model sistem kepariwisataan tersebut. yaitu permintaan (pasar) dan sediaan (supply). Gambar 3. psikografis. tetapi dengan dengan tambahan komponen lembaga-lembaga pengatur sebagai komponen kontrol. ekonomi. Komponen sediaan terdiri dari daya tarik wisata. Komponen permintaan terdiri dari keinginan. transportasi (produsen dan produknya) yang diwadahi di destinasi pariwisata. Keempat sistem kepariwisataan tersebut pada prinsipnya mencakup dua komponen utama.

B. kewirausahaan. yaitu permintaan. pelaku industri pariwisata. Seperti juga yang dijelaskan oleh Gunn (2002). Tipologi Destinasi Pariwisata (UN-WTO) 1. Kawasan Taman Nasional (natural & sensitive) 6. antara lain kebijakan pemerintah. kinerja sistem kepariwisataan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. kondisi keuangan/ekonomi. Komponen permintaan dan sediaan sudah dijelaskan dengan rinci sebelumnya. USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Model di atas menjelaskan bahwa sistem kepariwisataan terdiri dari tiga komponen utama. serta unsur pendukung lainnya (masyarakat. Kawasan pantai (beach destination and site) 3. yang berisi : a. Kawasan perairan/bahari (coastal zone) 2. Destinasi Pariwisata Pengertian detinasi pariwisata Destinasi pariwisata adalah suatu entitas yang mencakup wilayah geografis tertentu yang didalamnya terdapat komponen produk pariwisata (attraction. Pembangunan Aksesibilitas dan/ atau Transportasi Pariwisata 3-21 . accebilities) dan layanan. masyarakat. dan institusi pengembang) yang membentuk sistem yang sinergis dalam menciptakan motivasi kunjungan serta totalitas pengalaman kunjungan bagi wisatawan. Perwilayahan Destinasi Pariwisata Daerah b. Pembangunan Daya Tarik Wisata c. Destinasi Pariwisata. Komponen perantara terdiri dari elemen-elemen yang menghubungkan antara permintaan dengan sediaan. Kawasan gurun (destination in desert &Ariad areas) 4. Kawasan ekowisata (ecotourism destinations) C. dan kompetisi. dan perantara. Kawasan pegunungan (mountain destinations) 5. Pilar Pariwisata Ada empat pilar dalam pengembangan kawasan pariwisata yaitu sebagai berikut: 1. yang mengantarkan pasar pariwisata untuk memenuhi keinginan/preferensi dan kebutuhannya terhadap sediaan pariwisata di destinasi pariwisata yang ditujunya. sediaan. amenities. kondisi alam dan budaya.

Industri Pariwisata. Peningkatan Daya Saing Produk Pariwisata c. Pengembangan Citra Pariwisata c. Pengembangan Pasar Wisata b. Kelembagaan Pariwisata a. Pengembangan Kemitraan Usaha Pariwisata d. yang berisi: a. Pengembangan investasi di bidang Pariwisata 2. Pengembangan Kredibilitas Bisnis 4. Pengembangan Sumber Daya Manusia Pariwisata 3-22 . USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAUAN SERIBU d. Pembangunan Prasarana Umum. yang berisi: a. Pemasaran Pariwisata. Pemberdayaan Masyarakat melalui Pariwisata f. Pengembangan Organisasi Kepariwisataan b. Penguatan Struktur Industri Pariwisata b. Fasilitas Umum dan Fasilitas Pariwisata e. Pengembangan Kemitraan Pemasaran Pariwisata 3.

KSPN Pulau Seribu dalam Kontek KSPN Nasional USTEK RENCANA TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN STRATEGIS PARIWISATA NASIONAL KEPULAYAN SERIBU 3-23 .