You are on page 1of 7

Latar Belakang

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
semakin meningkat, urusan manusia semakin dipermudah. Mulai dari yang berkaitan dengan
kehidupan (klonning), mempermudah kegiatan/aktivitas, bahkan kegitan mematikan dan
dimatikan pun sekarang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Euthanasia atau yang biasa dikenal dengan suntik mati merupakan dampak dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin meningkat. Dalam
pelaksanaannya di berbagai negara, euthanasia menimbulkan pro dan kontra. Alasan yang
mendasari pro dan kontra tersebut dapat berupa aspek medis, aspek hukum, dan aspek agama.
Dalam makalah ini, penulis akan menjelaskan tentang euthanasia dan pandangannya
menurut agama islam. Sehingga dalam melakukan suatu tindakan harus didasari oleh syari’at
dan hukum islam.

Pengertian Euthanasia
“euthanasia secara bahasa berasal dari bahasa Yunani eu yang berarti “baik”, dan
thanatos, yang berarti kematian”, (Utomo, 2003:177). Dalam bahasa Arab dikenal dengan
istilah qatlu ar-rahma atau taysir al-maut. Menurut istilah kedokteran, euthanasia berarti
tindakan agar kesakitan atau penderitaan yang dialami seseorang yang akan meninggal
diperingan. Menurut Hasan (1995:145) berarti mempercepat kematian seseorang yang ada
dalam kesakitan dan penderitaan hebat menjelang kematiannya.

Klasifikasi Euthanasia
Dalam praktik kedokteran, Menurut Utomo (2003:178) dikenal dua macam
euthanasia, yaitu:
1. Euthanasia aktif
Euthanasia aktif adalah tindakan dokter mempercepat kematian pasien dengan
memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien tersebut. Suntikan diberikan pada saat keadaan
penyakit pasien sudah sangat parah atau sudah sampai pada stadium akhir, yang menurut
perhitungan medis sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh atau bertahan lama. Alasan yang
biasanya dikemukakan dokter adalah bahwa pengobatan yang diberikan hanya akan
memperpanjang penderitaan pasien serta tidak akan mengurangi sakit yang memang sudah
parah.
Contoh euthanasia aktif, misalnya ada seseorang menderita kanker ganas dengan rasa
sakit yang luar biasa sehingga pasien sering kali pingsan. Dalam hal ini, dokter yakin yang

sementara dana yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat tinggi. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya. jika pengobatan terhadapnya dihentikan. 2. yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan. yaitu tindakan dokter menghentikan pengobatan terhadap pasien yang menurut penelitian medis masih mungkin sembuh. orang sakit yang sudah dalam keadaan koma. disebabkan benturan pada otak yang tidak ada harapan untuk sembuh. tindakan menghilangkan nyawa orang lain merupakan tindak pidana di negara mana pun. akan dapat mempercepat kematiannya. Dalam kondisi demikian. Namun dalam praktiknya dokter tidak mudah melakukan euthanasia. Terdapat tindakan lain yang bisa digolongkan euthanasia pasif. yang tidak mampu lagi membiayai dana pengobatan yang sangat tinggi. Pertama. Penghentian pengobatan ini berarti mempercepat kematian pasien. Menurut Deklarasi Lisabon (dalam Utomo. sedangkan fungsi pengobatan menurut perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi. Atau. misalkan penderita kanker yang sudah kritis. Alasan yang lazim dikemukakan dokter adalah karena keadaan ekonomi pasien yang terbatas. dokter terikat dengan kode etik kedokteran bahwa ia dituntut membantu meringankan penderitaan pasien Tapi di sisi lain. karena ada dua kendala. Euthanasia Pasif Adapun euthanasia pasif. tetapi menghentikan pernapasannya sekaligus. orang yang terkena serangan penyakit paru-paru yang jika tidak diobati maka dapat mematikan penderita. euthanasia dari sudut kemanusiaan dibenarkan dan merupakan hak bagi pasien yang menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan. Tindakan medis dalam pelaksanaan euthanasia Secara Umum . Contoh euthanasia pasif. Alasan yang dikemukakan dokter umumnya adalah ketidakmampuan pasien dari segi ekonomi. 2003:178).bersangkutan akan meninggal dunia. adalah tindakan dokter menghentikan pengobatan pasien yang menderita sakit keras. dokter menghilangkan nyawa orang lain yang berarti melanggar kode etik kedokteran itu sendiri. Kedua.

Dapat dilakukan dengan tahapan :  Tahap pertama adalah memberikan suntikan untuk anesthesi. Baik pembunuhan jiwa orang lain. Diberi penjelasan kepada pasien mengenai tindakan keperawatan yang akan dilakukan. 2.. Jika pasien menolak karena dirawat oleh perawat yang bukan mahrom. Jika pasien tetap menolak. Dalil-dalil dalam masalah ini sangatlah jelas. terpaksa harus tetap dilakukan tindakan meskipun berbeda dengan keyakinan pasien.. b) Keputusan untuk menghentikan perawatan yang dapat memperpanjang hidup pasien dengan tujuan mempercepat kematian. .‫ اآلية‬. walaupun niatnya baik yaitu untuk meringankan penderitaan pasien. 4. Jika tidak ada.  Tahap kedua adalah memberikan suntikan untuk melumpuhkan tubuh dan menghentikan pernafasan.Euthanasia dilakukan dengan cara: a) Kematian dengan cara pemberian obat bius dalam jumlah yang banyak (overdosis) atau penyuntikan cairan yang mematikan dengan tujuan mengakhiri hidup pasien. maupun membunuh diri sendiri. dapat meminta kepada anggota keluarga pasien untuk membujuknya bahwa tindakan yang akan dilakukan adalah semata-mata demi kesembuhan pasien.... Dilakukan oleh Tenaga Medis Lawan Jenis (Bukan Mahrom) 1. Pandangan euthanasia menurut islam 1. karena termasuk dalam kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu al-‘amad).. Misalnya firman Allah SWT : )151:‫(األنعام‬..  Tahap ketiga atau terakhir adalah memberikan suntikan untuk menghentikan detak jantung. perawat berusaha mencarikan dan memanggilkan perawat yang sesama jenis. Euthanasia Aktif Syariah Islam mengharamkan euthanasia aktif. 3. Hukumnya tetap haram. walaupun atas permintaan pasien sendiri atau keluarganya..‫ و ال تقتلوا النفس التي حرم هللا إال بالحق‬. yaitu dalil-dalil yang mengharamkan pembunuhan..

... “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS Al-Baqarah : 178) Diyat untuk pembunuhan sengaja adalah 100 ekor unta di mana 40 ekor di antaranya dalam keadaan bunting (khalifah).. “Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Tidak dapat diterima.. kecuali karena tersalah (tidak sengaja)…” (QS An-Nisaa` : 92) )29 :‫ (النساء‬. hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. Firman Allah SWT : )178 :‫(البقرة‬. “Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya.975 gram perak). qishash tidak dilaksanakan..‫ اآلية‬.‫ اآلية‬. misalnya dengan memberikan suntikan mematikan... Dokter yang melakukan euthanasia aktif.‫ اآلية‬...‫و ما كان لمؤمن أن يقتل مؤمنا إال خطأ‬ “Dan tidak layak bagi seorang mu`min membunuh seorang mu`min (yang lain). jelaslah bahwa haram hukumnya bagi dokter melakukan euthanasia aktif. alasan euthanasia aktif yang sering dikemukakan yaitu kasihan melihat penderitaan pasien sehingga kemudian dokter memudahkan kematiannya.25 gram emas)....700 gram perak (1 dirham = 2..” (QS Al-Baqarah : 178) Namun jika keluarga terbunuh (waliyyul maqtuul) menggugurkan qishash (dengan memaafkan). Sebab tindakan itu termasuk ke dalam kategori pembunuhan sengaja (al- qatlu al-‘amad) yang merupakan tindak pidana (jarimah) dan dosa besar.‫ اآلية‬. ‫ فمن عفي له من أخيه شيء فاتباع بالمعروف و أداء إليه بإحسان‬.‫و ال تقتلوا أنفسكم إن هللا كان بكم رحيما‬. sesuai firman Allah : )178 :‫(البقرة‬....‫يا ايها الذين آمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى‬ “Telah diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (QS Al-An’aam : 151) )92 :‫ (النساء‬. atau memaafkan/menyedekahkan. Alasan ini . 30 ekor umur 3 tahun (hiqqah) dan 30 ekor berumur 4 tahun (jadzaah) berdasarkan hadits Nabi riwayat An-Nasa`i.000 dirham.. Dari dalil-dalil di atas. atau 12. menurut hukum pidana Islam akan dijatuhi qishash (hukuman mati karena membunuh)... atau senilai 4250 gram emas (1 dinar = 4. dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). atau senilai 35..” (QS An-Nisaa` : 29). oleh pemerintahan Islam (Khilafah).. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.. Selanjutnya mereka mempunyai dua pilihan lagi. meminta diyat (tebusan). Jika dibayar dalam bentuk dinar (uang emas) atau dirham (uang perak).. maka diyatnya adalah 1000 dinar.

”Tidaklah menimpa kepada seseorang muslim suatu musibah. Dengan mempercepat kematian pasien dengan euthanasia aktif. pasien tidak mendapatkan manfaat (hikmah) dari ujian sakit yang diberikan Allah kepada-Nya. Euthanasia Pasif Adapun hukum euthanasia pasif. 2. Maka berobatlah kalian!” (HR Ahmad. seperti kalangan ulama Syafiiyah dan Hanabilah. seperti dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Menurut ilmu Ushul Fiqih. Aku mengharamkan surga untuknya. Tindakan tersebut dilakukan berdasarkan keyakinan dokter bahwa pengobatan yag dilakukan tidak ada gunanya lagi dan tidak memberikan harapan sembuh kepada pasien.mubah. Dia ciptakan pula obatnya. lalu keluh kesahlah ia. Namun sebagian ulama ada yang mewajibkan berobat. padahal di balik itu ada aspek-aspek lainnya yang tidak diketahui dan tidak dijangkau manusia. mengobati atau berobat itu hukumnya mandub (sunnah).” (HR Bukhari dan Muslim). Ini sesuai kaidah ushul : ‫األصل في األمر للطلب‬ “Perintah itu pada asalnya adalah sekedar menunjukkan adanya tuntutan. Dasar dari pada kewajiban berobat oleh sebagian ulama adalah hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit. Kemudian tidak berhenti-henti darahnya keluar sehingga ia mati.” (HR Bukhari dan Muslim). perintah (al-amr) itu hanya memberi makna adanya tuntutan (li ath-thalab). dari Anas RA) Hadits di atas menunjukkan Rasulullah SAW memerintahkan untuk berobat. Rasulullah SAW bersabda. tidak wajib. Maka ia mengambil pisau lalu memotong tangannya dengan pisau itu. bukan menunjukkan kewajiban (li al-wujub). baik kesulitan. kecuali Allah menghapuskan kesalahan atau dosanya dengan musibah yang menimpanya itu. misalnya dengan cara menghentikan alat pernapasan buatan dari tubuh pasien. maupun penyakit.hanya melihat aspek lahiriah (empiris). apakah berobat itu wajib. mandub. bahkan duri yang menusuknya. Maka Allah berfirman : hambaku telah menyegerakan kematiannya sebelum aku mematikan. kesedihan. atau makruh? Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. sakit. “Telah ada diantara orang-orang sebelum kamu seorang laki-laki yang mendapat luka. Yakni. bergantung kepada pengetahuan kita tentang hukum berobat (at-tadaawi) itu sendiri. Menurut jumhur ulama.” . yaitu pengampunan dosa. dokter menghentikan pengobatan kepada pasien. Bagaimanakah hukumnya menurut Syariah Islam? Jawaban untuk pertanyaan itu. Karena itu. kesusahan. sebenarnya faktanya termasuk dalam praktik menghentikan pengobatan.

Karena itu. Jika memasang alat-alat ini hukumnya sunnah.”Baiklah aku akan bersabar. karena organ-organ ini pun akan segera tidak berfungsi. Hadits-hadits lain itu membolehkan tidak berobat. Dengan demikian. kamu bersabar dan akan mendapat surga. termasuk dalam hal ini memasang alat-alat bantu bagi pasien. bahwa seorang perempuan hitam pernah datang kepada Nabi SAW lalu berkata. hukum euthanasia pasif dalam arti menghentikan pengobatan dengan mencabut alat-alat bantu pada pasien –setelah matinya/rusaknya organ otak—hukumnya boleh (jaiz) dan tidak haram bagi dokter. aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu. Sebab pada dasarnya penggunaan alat-alat bantu tersebut adalah termasuk aktivitas pengobatan yang hukumnya sunnah.”Sesungguhnya auratku sering tersingkap [saat ayanku kambuh]. karena termasuk aktivitas berobat yang hukumnya sunnah. Kesimpulannya. hukum berobat adalah sunnah (mandub). dokter tidak dapat dapat dikatakan berdosa dan tidak dapat dimintai tanggung jawab mengenai tindakannya itu. jelaslah pengobatan atau berobat hukumnya sunnah. Jadi setelah mencabut alat-alat tersebut dari tubuh pasien. maka jika para dokter telah menetapkan bahwa si pasien telah mati organ otaknya. maka hukum pemasangan alat-alat bantu kepada pasien adalah sunnah. walinya. maka berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap. Meskipun sebagian organ vital lainnya masih bisa berfungsi.” lalu dia berkata lagi. Namun untuk bebasnya tanggung jawab dokter. Kematian otak tersebut berarti secara pasti tidak memungkinkan lagi kembalinya kehidupan bagi pasien. bukan wajib. disyaratkan adanya izin dari pasien. Dalam hadits itu tidak terdapat suatu indikasi pun bahwa tuntutan itu bersifat wajib.” Perempuan itu berkata. bukan wajib. seperti menghentikan alat bantu pernapasan dan sebagainya. Bahkan.” Maka Nabi SAW lalu berdoa untuknya.”Jika kamu mau. Berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku!” Nabi SAW berkata. hadits riwayat Imam Ahmad di atas hanya menuntut kita berobat.”Sesungguhnya aku terkena penyakit ayan (epilepsi) dan sering tersingkap auratku [saat kambuh]. (HR Bukhari) Hadits di atas menunjukkan bolehnya tidak berobat. maka hadits terakhir ini menjadi indikasi (qarinah). bukan perintah wajib. bahwa perintah berobat adalah perintah sunnah. atau washi-nya (washi adalah orang yang ditunjuk untuk mengawasi dan mengurus . qarinah yang ada dalam hadits-hadits lain justru menunjukkan bahwa perintah di atas tidak bersifat wajib. Jadi. Jika tidak mau. Berdasarkan penjelasan di atas. Jika hadits ini digabungkan dengan hadits pertama di atas yang memerintahkan berobat. Di antaranya ialah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA. tetap tidak akan dapat mengembalikan kehidupan kepada pasien. maka para dokter berhak menghentikan pengobatan.

Masail Fiqhiyah Al-Haditsah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam. A. 2013.pasien). Jika pasien tidak mempunyai wali. Salatiga: STAIN Salatiga . atau washi. Shoderi. Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer. 1995. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Utomo. Daftar Pustaka Hasan. Makalah Euthanasia.Ali. maka wajib diperlukan izin dari pihak penguasa (Al-Hakim/Ulil Amri). Setiawan Budi. Jakarta : Gema Insani Press. 2003. M.