You are on page 1of 3

Bahaya Otonomi Daerah

Latar Belakang OTONOMI DAERAH

Otonomi berasal dari kata autonomos atau autonomia (yunani) yang berarti “keputusan sendiri” (self
ruling). Otonomi mengandung pengertian kondisi atau ciri untuk tidak dikontrol oleh pihak lain atau
kekuatan luar atau bentuk pemerintahan sendiri, yaitu hak untuk memerintah dan menentukan
nasibnya sendiri.

Di Indonesia, otonomi daerah sebenarnya mulai bergulir sejak keluarnya UU No.1 Tahun 1945,
kemudian UU No.2 Tahun 1984 dan UU No.5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah.
Semuanya berupaya menciptakan pemerintahan yang cenderung ke arah disentralisasi. Namun
pelaksanaannya mengalami pasang surut, sampai masa reformasi bergulir. Pada masa ini keluarlah UU
No.2 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan pemerintahan pusat. Sejak itu, penerapan otonomi
daerah berjalan cepat.

Prinsip otonomi daerah adalah pemerintahan daerah diberi wewenang untuk mengelola daerahnya
sendiri. Hanya saja ada beberapa bidang yang tetap ditangani pemerintah pusat, yaitu agama, peradilan,
pertahanan, dan keamanan, moneter/fiscal, politik luar negeri dan dalam negeri serta sejumlah
kewenangan bidang lain (meliputi perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan secara makro,
dana perimbangan keuangan, sistem administrasi Negara dan lembaga perekonomian Negara,
pembinaan sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang
strategis, dan konversi serta standarisasi nasional).

Secara substansial, otonomi daerah mirip dengan Negara federasi. Bedanya, federalisme berangkat dari
pola bottom-up, artinya daerah-daerah dengan kekuasaannya masing-masing, setuju untuk bergabung
dalam satu pemerintahan Negara. Dalam hal ini kedudukan antara pemerintahan pusat dan daerah
cenderung sejajar. Sementara otonomi daerah, berangkat dari pola top-down, dimana satu
pemerintahan pusat masih lebih tinggi dibanding pemerintah daerah.

Ada beberapa alasan mengapa otonomi daerah menjadi pilihan, setelah orde lama dan orde baru pola
pemerintahan sentralistik demikian kuatnya. Diantaranya :

1. Pemerintah sentralistik cenderung menempatkan daerah sebagai “ sapi perahan” pemerintah pusat.
Mereka lebih banyak dibebani kewajiban-kewajiban untuk menyetorkan segala potensi kekayaan
alamnya ke pusat tanpa reserve, disisi lain hak-hak daerah untuk mendapatkan kue bagi pembangunan
sering terabaikan.

2. Tradisi sentralistik kekuasaan melahirkan ketimpangan antara pembangunan di pusat dan daerah,
sehingga pemicu ketidakadilan dan ketidaksejahteraan di berbagai daerah, terutama yang jauh dari

4.jangkauan pusat. Di berbagai negeri. melainkan justru menimbulkan masalah baru. menyebabkan kelemahan dalam penerapan otonomi daerah. rakyatnya hanya gigit jari ditengah riuhnya eksplorasi gas oleh Exxon Mobile. Regulasi yang belum mapan karena masih terjadi tarik-menarik kepentingan antara pusat dan daerah. dimana daerah belum seluruhnya mendapat aturan pelaksana dari UU yang ada dan pemerintah yang setengah hati memberi kewenangan kepada daerah. Rakyat Papua juga merana ditengah gelimpangan emas yang digali Freeport yang hanya meninggalkan jejak berupa kerusakan lingkungan. Jika hal ini dibiarkan. Wacana otonomi daerah (diusung Ryas Rasyid) muncul bersamaan dengan ide federalisme (diusung Amin Rais). Wacana itu mencuat berkat profokasi pihak barat. Atas daerah buruknya penerapan sistem pemerintahan sentralistik diatas itulah maka otonomi daerah diharapkan menjadi solusi untuk mengatasi ketimpangan pembangunan antara daerah dan pusat. Daerah yang kaya sumber daya alam tak menjamin rakyatnya sejahtera karena sumber kekayaannya disedot oleh pusat. seperti Indonesia haruslah meletakkan federalisme sebagai pilihan untuk mencegah terjadinya konflik kesukuan atau daerah. Misalnya menerapkan regulasi yang ketat sehingga mematikan kreatifitas daerah dalam membangun. Seperti Aceh yang memiliki potensi gas alam terbesar di dunia. Budaya minta petunjuk ke pusat tertanam kuat sehingga proses pembangunan di daerah berjalan lamban dan kepengurusan kepentingan rakyat terabaikan. Namun benarkah otonomi daerah adalah solusi terbaik yang menjamin keadilan dan kesejahteraan rakyat? Bahaya di balik otonomi daerah Otonomi daerah bukanlah solusi. Strategi demokratisasi Diterapkannya otonomi daerah di Indonesia sejak era reformasi. Pola sentralistik menyebabkan pemerintah pusat sewenang-wenang kepada daerah. Kapitalisasi ekonomi Otonomi daerah juga tak lepas dari kepentingan ekonomi kapitalis global. Meskipun sudah dijelaskan bahwa federasi dengan otonomi daerah tipis perbedannya. akan semakin membahayakan bagi kelangsungan hidup rakyat Indonesia. tak lepas dari kepentingan asing. Namun karena istilah federalisme dikhawatirkan justru memicu berdirinya negara-negara baru di daerah-daerah. Para pakar asing menilai bahwa Negara dengan wilayah yang begitu luas dan penduduk yang sangat majemuk. Berikut ini diantara bahaya di balik diterapkannya otonomi daerah: 1. Otonomi diharapkan menjadi freedom atas tuntutan beberapa daerah untuk memisahkan diri dari NKRI. 3. . 2. yakni sekularisme global. sebagai ekspresi ketidakpercayaan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat. maka gagasan otonomi daerahlah yang kemudian lebih popular.

Satu provinsi pecah menjadi dua-tiga provinsi. Rakyat jadi sapi perah OTDA mendorong pemerintah daerah meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) masing-masing untuk membiayai pembangunannya sendiri. bahkan langsung disedot oleh asing atas nama investasi dengan sangat mudah. kabupaten atau kota. Mereka bergelimang harta dari hasil pengelolaan sumber daya alam dan korupsi harta yang semakin tidak terdeteksi oleh pusat atau memang hasil konspirasi dengan pemerintah pusat. Sumber daya alam di daerah tidak hanya disedot oleh pusat. Adanya potensi sumber daya alam di suatu wilayah. Melalui OTDA. Pemekaran ini telah menjadikan NKRI terkerat-kerat menjadi wilayah yang berkeping-keping. Pemda akhirnya menerapkan retribusi atau pajak dimana-mana sebagai sumber PAD. Dari sinilah bahaya disintegrasi bangsa sangat mungkin terjadi. dan seterusnya. Konflik horizontal sangat mudah tersulut. khususnya daerah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. dan seterusnya. Tentu rakyatlah yang menjadi korban. Semakin berkeping-keping NKRI semakin mudah separatisme dan perpecahan terjadi. Mengokohkan KKN ke daerah Pelimpahan wewenang beberapa masalah dari pusat ke daerah hanya memindahkan KKN dari pusat ke daerah. bantuan-bantuan keuangan bisa langsung menerobos ke kampung-kampung. Dengan demikian akan semakin mengokohkan kapitalisasi ekonomi daerah. Misalnya DKI dengan Sydney. 3. Bahkan pinjaman ke Bank dunia atau lembaga-lembaga donor Internasional lainnya memungkinkan dilakukan. Otonomi daerah memungkinkan sebuah provinsi. satu kabupaten pecah menjadi dua-tiga kabupaten. daerah tampak seperti over kreatif. karena dana dari pusat dibatasi. Pengkavlingan ini semakin mencuatkan ketimpangan pembangunan antara daerah kaya dan daerah miskin. Semua ini dilakukan untuk mendorong masuknya kepentingan swasta yang nantinya diharapkan bisa memberikan devisa yang banyak bagi kas daerah dan pusat. menjalin kerjasama internasional secara langsung dengan pihak asing. Dengan batas territorial yang semakin menguat. Ancaman disintegrasi Paham pelimpahan wewenang yang luas kepada daerah merupakan politik belah bambu yang telah lama dipupuk sejak zaman penjajahan. juga rawan menimbulkan perebutan dalam menentukan batas wilayah masing-masing. . rakyat di daerah bersangkutan yang harus menanggung resiko.kepentingan swasta senantiasa mendorong terjadinya pelimpahan wewenang ke daerah. dikejar oleh tuntutan kebutuhan untuk menarik dana bagi kas daerah. Di era OTDA tuntutan pemekaran wilayah juga semakin kencang dimana-mana. OTDA memunculkan raja-raja baru di daerah. bahkan peluangnya semakin besar karena melalui otonomi daerah campur tangan asing semakin mudah menelusup hingga ke desa-desa. Bogor dengan kota Nanning Cina. KKN kini terjadi di tingkat elit daerah. 5.kepentingan. Otonomi daerah telah mengkotak-kotakan wilayah menjadi daerah basah dan daerah kering. Terlebih lagi daerah yang cenderung minim sumber daya alamnya. 4.