You are on page 1of 78

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA BAYI DAN ANAK DENGAN
GANGGUAN PERNAPASAN

Oleh : Ns. Yanti Riyantini, Sp.Kep.An
PENYEBAB DISTRESS NAPAS
( GAWAT NAPAS )

1. Transient Tachypnea of the Newborn (TTN)
2. Penyakit Membran Hialin (HMD)
3. Sindrom Aspirasi Mekonium (MAS)
4. Air Leak Syndrome
5. Pneumonia
6. Penyakit Jantung Bawaan (PJB)
TANDA BAHAYA GAWAT NAPAS

1. Sianosis
2. Apnea berat
3. Stridor
4. Kesulitan bernapas (gasping)
5. Retraksi dada yang berat
6. Perfusi buruk (syok)
Evaluasi gawat napas dengan
menggunakan Skor Downe
Nilai 0 1 2
Frekuensi napas < 60 x/menit 60 – 80 x.menit > 80 x/menit

Retraksi Tdk ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat

Sianosis Tidak sianosis Sianosis hilang Sianosis mene-
dengan O2 tap walaupun
diberi O2
Air entry Udara masuk Penurunan Tidak ada udara
bilateral baik ringan udara masuk
masuk
Merintih Tidak merintih Dapat didengar Dapat didengar
dengan tanpa alat bantu
stetoskop
Evaluasi gawat napas dengan
menggunakan Skor Downe
………..lanjutan
 Skor < 4 Tidak ada gawat napas
 Skor 4 –7 Gawat napas
 Skor > 7 Ancaman gagal napas
(pemeriksaan gas darah hrs
dilakukan)
Transient Tachypnea of the
Newborn (TTN)

Definisi

Penyakit ringan pada neonatus yang
mendekati cukup bulan atau neonatus
cukup bulan yang mengalami gawat
napas segera setelah lahir dan hilang
dengan sendirinya dalam waktu 3-5 hari.
Faktor Risiko :

1. Bedah sesar sebelum ada kontraksi

2. Makrosomia

3. Jenis kelamin laki-laki

4. Partus lama

5. Sedasi ibu berlebihan

6. Skor Apgar rendah (1 menit < 7)
Tanda klinis :
1. Neonatus hampir cukup bulan atau NCB
2. Takipnea (napas > 80 x/mnt) segera setelah
lahir
3. Merintih
4. Napas dengan cuping hidung
5. Retraksi dada
6. Sianosis
Kondisi ini biasanya tidak berlangsung lebih dari
72 jam
 Rontgen dada :

Garis pada perihilar, kardiomegali ringan,
peningkatan volume paru, cairan pada
fisura dan umumnya ditemukan cairan
pada rongga pleural.
Penatalaksanaan :
1. Pemberian oksigen
2. Pembatasan cairan
3. Pemberian asupan setelah takipnea membaik

Prognosis
 Sembuh sendiri
 Tidak ada risiko kambuh
 Tidak ada disfungsi paru lebih lanjut
 Gejala respirasi membaik sejalan dgn mobilisasi
cairan & ini biasanya dikaitkan dengan diuresis
2. Penyakit Membran Hialin (HMD)

Definisi
R.D.S./ H.M.D atau penyakit membran
hialin adalah suatu sindroma gawat
napas yang terjadi secara akut, segera
setelah lahir, pada bayi prematur dimana
surfaktan masih belum / sedikit
diproduksi ( defisiensi surfaktan ).
Insiden :

 25 % terjadi pada neonatus dgn usia
kehamilan 32 minggu

 Insiden ↑ dengan semakin prematurnya
neonatus
Faktor Risiko :
1. Prematuritas

 Produksi surfaktan masih sedikit ( defisiensi
surfaktan ). Komponen utama surfaktan
adalah lesitin, yang terdiri dari cytidine
diphosphate cholin ( C. D. P cholin ) dan
phosphatidyldimethyl etanolamine (P.M.D.E).

 Surfaktan diproduksi oleh sel pnemosit tipe II
yang mulai tumbuh pada gestasi 22 - 24
minggu, mulai aktif pada gestasi 24 – 26
minggu .
 Surfaktan mulaiberfungsi pada masa
gestasi 32 – 36 minggu.
 Rasio lesitin / spingomielin dalam cairan
amnion, L : S  1,5 : 1

2. Neonatus dari ibu dengan DM
3. Perinatal asfiksia
4. Kelahiran seksio sesaria
Tanda dan gejala
 Adanya tanda – tanda gawat napas : takipnea (
frekuensi napas lebih dari 60 x / menit ), retraksi
dinding dada, napas dengan cuping hidung,
sianosis dan merintih saat ekspirasi.
 Perburukan pernapasan yang cepat, diikuti
perburukan analisa gas darah. Gawat napas ini
timbul dalam 6 – 8 jam setelah lahir dan makin
memburuk dalam 24 – 48 jam berikutnya.
 Didapatkan juga adanya hipotensi, oliguria,
hipotonia, suhu tidak stabil, ileus dan edema
perifer.
Pemeriksaan penunjang :

 Laboratorium
- AGD
- Darah lengkap
- Biakan darah
- Kadar gula darah
 Foto rontgen toraks : Adanya gambaran
retikulogranular seragam & bronchogram
udara
Penatalaksanaan :

Umum
 Pengaturan suhu

 Cairan parenteral

 Antibiotik

 Pemantauan berkesinambungan

 Pemasangan CPAP (Continous Positive Airway

Pressure)
 Intubasi endotracheal

 Ventilasi mekanik ( 20 % bayi risiko serebral

palsi
Terapi khusus :

 Pemberian surfaktan

Prognosis :
 RDS bertanggung jawab utk 20 % dari
semua kematian neonatus.
 Penyakit paru kronis terjadi pada 29 %
BBLSR
3. Sindrom Aspirasi Mekonium (MAS)

Gawat napas yang bersifat sekunder
akibat aspirasi mekonium oleh fetus dalam
uterus atau oleh neonatus selama proses
persalinan dan kelahiran
FAKTOR RISIKO :
 Kehamilan post matur.
 Pre eklampsia , eklampsia.
 Ibu dengan hipertensi.
 Ibu dengan diabetes melitus.
 Frekuensi jantung janin yang abnormal.
 I.U.G.R.
 Oligohidramnion.
 Ibu perokok berat, penyakit pernapasan kronik dan penyakit jantung.

Relaksasi spinkter ani

Mekonium keluar dalam cairan amnion

ASPIRASI MEKONIUM

Obstruksi jalan napas oleh mekonium

Napas dalam / gasping intra uterin, selama kelahiran

Infeksi paru karena kimiawi ( Mekonium )
Patogenesis :
Aspirasi mekonium dapat menyebabkan :

1. Sumbatan jalan napas
2. Inflamasi berat
3. Hipertensi paru
4. Aktivasi trombosis
Faktor risiko MAS
1. Kehamilan lebih bulan
2. Hipertensi maternal
3. Denyut jantung janin abnormal
4. Pre eklampsia
5. Ibu penderita diabetes
6. KMK
7. Korioamnionitis
GAMBARAN KLINIS

 Air ketuban bercampur mekonium
sebelum kelahiran
 Pewarnaan kuning oleh mekonium pada
neonatus setelah lahir
 Gagal pernapasan yang mengarah pada
peningkatan diameter anteroposterior
dada
 Persisten Pulmonary Hypertension of the
Newborn (PPHN)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Laboratorium :
- Analisa Gas Darah
- Kultur darah dan Lekosit
 Pemeriksaan radiologi
Rontgen dada : bercak infiltrat, garis kasar
pada kedua bidang paru, hiperinflasi
anteroposterior & diafragma lebih datar
PENATALAKSANAAN
 Penatalaksanaan Prenatal
- Identifikasi kehamilan berisiko tinggi
- Memantau DJJ selama persalinan

 Penatalaksanaan di ruang bersalin (jika ketuban
tercampur mekonium).
- Obstetrik ; pengisapan oropharyng oleh Obgyn
sebelum melahirkan bahu
- Pediatrik ; visualisasi pita suara & pengisapan
trakea apabila bayi tidak bernapas
Penatalaksanaan umum neonatus
dengan MAS
 Mengosongkan isi lambung untuk
menghindari aspirasi lebih lanjut
 Koreksi abnormalitas metabolik, misalnya
hipoksia, asidosis, hipoglikemia,
hipokalsemia dan hipotermia.
 Pemantauan untuk melihat kerusakan pada
organ lain (otak, ginjal, jantung dan hati)
Penatalaksanaan pernapasan pada
neonatus dengan MAS.
 Pengisapan & vibrasi dada dg frekuensi
yang sering
 Pulmonary toilet utk menghilangkan
mekonium residual jika di intubasi
 Pemberian antibiotik (Ampicillin &
Gentamicyn)
 Gunakan CPAP
Prognosis

 Angka kematian bisa mencapai 50 %
 Bayi yang bertahan hidup mungkin akan
menderita displasia bronkhopulmonari dan
sekuele neurologis.
4. Sindrom Kebocoran Udara
Air Leak Syndrome
Definisi
Sindrom kebocoran udara (pneumomediastinum,
pneumothorax, pulmonary interstitial emphysema
& pneumopericardium) adalah spektrum penyakit
dgn penyebab patofisiologi dasar yang sama.
Distensi saccus alveolaris atau saluran napas
terminal yang berlebihan akan menyebabkan pada
kerusakan integritas saluran napas yang
mengakibatkan penyebaran udara ke rongga
disekitarnya
Insiden :

1. Spontan
2. Pada neonatus dengan pemasangan
ventilator.
3. Semakin parah penyakit paru yang
diderita semakin sering kebocoran udara
terjadi.
Faktor Risiko :

 Spontan 0,5 %
 Bantuan ventilator 15-20 %
 CPAP 5%
 Pewarnaan kuning oleh mekonium /apirasi
mekonium
 Terapi surfaktan
 Upaya keras resusitasi (ventilasi dengan
kantung)
Gambaran klinis :
 Gawat napas atau kondisi klinis tiba-tiba
memburuk .
 Perubahan tanda-tanda vital
 Perburukan analisa gas darah
 Pada kasus unilateral → toraks asimetris

Pemeriksaan penunjang :
 Foto toraks posisi A-P dan lateral
Penatalaksanaan :
1. Umum
- Hindari penggunaan ventilator
- Gunakan ventilasi kantung manual
dengan hati-hati
2. Spesifik
- Dekompresi kebocoran udara sesuai
dengan jenisnya
- Jangan melakukan dekompresi dengan
jarum
APNEA

Definisi :
Berhentinya pernapasan disertai oleh
bradikardia dan/atau sianosis selama lebih
dari 20 detik.

Insiden :
 50-60 % dari bayi prematur ( 35 % apnea

sentral, 5-10 % apnea obstruktif dan 15-
20 % dengan apnea campuran)
Faktor Risiko :

1. Apnea patologis 2. Penyakit jantung
- Hipotermi 3. Penyakit paru
- Hipoglikemia 4. Gastro Intestinal Reflux
- Anemia 5. Obstruksi jalan napas
- Hipovolemia 6. Infeksi Meningitis.
- Aspirasi 7. Gangguan neurologis.
- NEC / Distensi
Pemeriksaan :

 Pemantauan neonatus berisiko dengan
usia kehamilan kurang dari 32 minggu.
 Evaluasi kemungkinan penyakit dasar
 Pemeriksaan laboratorium : darah rutin,
AGD, glukosa serum, elektrolit dan kadar
kalsium.
 Lakukan pemeriksaan radiologi, jika ada
kecurigaan penyakit organ di dalam
rongga dada.
Penatalaksanaan :

1. Terapi Umum
- Lakukan stimulasi taktil
- Pasang CPAP pada apnea berulang &
memanjang.
- Pemberian terapi farmakologis (kafein
atau theophylline).
2. Terapi Spesifik

- Pengobatan penyebab , jika teridentifikasi,

misalnya : pengobatan sepsis, hipoglikemia,

anemia dan kelainan elektrolit.

Prognosis

 Apnea sembuh tanpa adanya akibat jangka
panjang
ASUHAN KEPERAWATAN
I. PENGKAJIAN
A. Pada Bayi.
1. Perilaku
• Letargi
2. Riwayat maternal
• Penyakit ibu diabetes melitus
• Perdarahan
• Jenis & lama persalinan
• Stress pada janin
3. Status kelahiran bayi
• Prematuritas, umur kehamilan
• Nilai Apgar, Asfiksia
• Persalinan cesarean pada bayi
prematur
4. Sistem pernapasan

Parameter Komentar
Warna kulit Merah muda, sianotik, pucat, berkabut, kutis marmorata
atau jaundice
Pernapasan Tidak terlihat usaha keras, mengorok, hidung kembang
kempis atau retraksi
Suara napas Jauh, dangkal, stridor, wheezing, atau menghilang, sama
atau tidak sama.
Dinding dada Pergerakan simetris atau tidak simetris

Apnea / bradikardi Denyut jantung terendah yang diamati, warna,
pembacaan oksimeter dan durasi episode
Sekresi Jumlah : sedikit, sedang atau banyak
Warna : putih, kuning, bening, hijau atau ada noda darah
Konsistensi : kental, encer atau mukoid
ETT Check kedalaman ETT (cm)
5. Kaji tanda bahaya gawat napas
 Sianosis
 Apnea berat
 Stridor
 Kesulitan bernapas (gasping)
 Retraksi dada yang berat
 Perfusi buruk (syok)
Evaluasi gawat napas dengan
menggunakan Skor Downe
Nilai 0 1 2
Frekuensi napas < 60 x/menit 60 – 80 x.menit > 80 x/menit

Retraksi Tdk ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat

Sianosis Tidak sianosis Sianosis hilang Sianosis mene-
dengan O2 tap walaupun
diberi O2
Air entry Udara masuk Penurunan Tidak ada udara
bilateral baik ringan udara masuk
masuk
Merintih Tidak merintih Dapat didengar Dapat didengar
dengan tanpa alat bantu
stetoskop
Evaluasi gawat napas dengan
menggunakan Skor Downe
………..lanjutan
 Skor < 4 Tidak ada gawat napas
 Skor 4 –7 Gawat napas
 Skor > 7 Ancaman gagal napas
(pemeriksaan gas darah hrs
dilakukan)
7. Penyebab umum ggn pernapasan pada
bayi.

 Transient Tachypnea of the Newborn (TTN)
 Penyakit Membran Hialin (HMD)
 Sindroma Aspirasi Mekonium (MAS)
 Air Leak Syndrome
 Pneumonia
 Penyakit Jantung Bawaan
B. Pada Anak

1. Riwayat kes keluarga
 Riwayat penyakit keturunan : Cystic fibrosis,
bronhitis,bronhiectasis.
 Riwayat kel dgn atopik : Asthma, Rhinitis.
 Ada anggota keluarga yg merokok

2. Riwayat neonatal
 Neonatus dgn HMD BPD, bronkhitis
atau asthma lebih lanjut.
3. Riwayat penyakit sekarang

 Batuk • Nyeri
 Produksi lendir • Terpapar zat irritan
 Sesak atau infeksi
 Fatigue • Pertumbuhan &
 Orthopnea perkembangan
 Whezzing • Sistem gastrointestinal
 Nyeri • B.A.B
 Berat badan • Toleransi thd aktifitas
4. Ggn pernapasan pada anak

Kongenital Penyakit saluran napas
 Atresia coanal
bagian atas
 Laryngeal webbing
• Acuta spasmodic croup
 Tracheobronchomalacia
• Laryngotracheobronchitis
• Epiglotitis
Infeksi Pernapasan akut • Bacterial tracheitis
 Tonsilitis & Pharyngitis

 Sinusitis

 Rhinitis alergika

 Pertusis
Penyakit saluran napas Penyakit pernapasan
bagian bawah
yang diakibatkan
 Bronhiolotis
karena accident
 Bronchitis

 Pnemonia  Aspirasi benda asing

 Tuberculosis  Aspirasi pnemonia

 Hydrocarbon
Penyakit pernapasan inhalation
kronik
 Tenggelam
 Asthma

Cystic fibrosis
C. Pemeriksaan

 Rontgen dada
 Analisa gas darah arteri
 Pemeriksaan darah tepi lengkap (anemia,
polisitemia, sepsis)
 Pemeriksaan kadar gula (hipoglikemia)
 Kultur darah (sepsis, Pneumonia)
 Test Mantoux
 Spirometri Pada anak
 Laryngoskop
II. DIAGNOSA, TUJUAN & PERENCANAAN
KEPERAWATAN PADA ANAK
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan
dengan akumulasi mucus atau adanya benda
asing.
Tujuan : Jalan napas efektif
Kriteria evaluasi :
 Mucus berkurang
 Anak dapat bernapas tanpa kesulitan
 Mukosa lembab, turgor kulit elastik
 Urin output 1-2 mL/kg/hari
Intrevensi :
1. Bantu dan ajarkan anak untuk batuk produktif
2. Anjurkan anak tidak menahan batuk
3. Monitor intake-output secara akurat
4. Berikan minuman kesukaan anak dalam jumlah
kecil.
5. Hindari minum es / air dingin
6. Ubah posisi anak minimal setiap 2 jam.
7. Anjurkan anak beraktifitas sesuai kemampuan /
toleransi
8. Catat adanya keluaran dari hidung, catat
jumlah, dan warna keluaran dari hidung dan
adanya lendir pada saat muntah
9. Lakukan fisioterapi dada sesuai indikasi
10. Dengarkan suara napas sebelum dan sesudah
fisioterapi dada
11. Isap lendir sampai nasopharyng
12. Ajarkan dan demonstrasikan latihan napas dalam
pada anak, dengan menggunakan spirometer /
paper bag breathing / mainan dari sedotan atau
meniup untuk latihan inspirasi dan ekspirasi
13. Bantu posisi klien semi fowler / fowler dan monitor
adanya tanda-tanda obstruksi saluran napas
bagian atas.
14. Siapkan anak dan keluarga jika perlu intubasi,
trakeostomi dan siapkan alat-alat tersebut
disamping tempat tidur klien
15. Anjurkan anak dan keluarga agar tenang
2. Ggn pertukaran gas berhubungan dengan
ketidakseimbangan ventilasi & perfusi

Tujuan : Ventilasi dan perfusi adekuat
Kriteria evaluasi :
- Klien sadar, tdk gelisah, tdk cemas
- AGD dbn
- Warna kulit pink
- Tanda-tanda vital dbn.
Intervensi

1. Obs tanda-tanda hipoksia, takipnea, takikardia,
kenaikan tek. darah, gelisah dan adanya
cemas.
2. Obs adanya sianosis pada selaput lendir,
kuku, daerah periorbital & monitor AGD
3. Monitor tanda-tanda vital & dengarkan suara
napas setiap 30 – 60 menit.
4. Berikan terapi oksigen sesuai program
5. Berikan istirahat untuk mengurangi
kebutuhan oksigen, buat jadual
prosedur agar tidak mengganggu
waktu istirahat klien.
6. Observasi tanda-tanda kelemahan
7. Berikan terapi sesuai program
3. Pola napas tidak efektif berhubungan
dengan restriksi disfungsi pernapasan
sekunder thd ggn neuromuskuler / kecemasan
Tujuan : Pola napas efektif
Kriteria evaluasi :
- Irama napas reguler
- Frekuensi napas dbn sesuai umur

Intervensi :
1. Obs & catat adanya retraksi / penggunaan otot-
otot bantu pernapasan
2. Obs bentuk dada apakah simetri & gerakan
dada selama bernapas
3. Catat lamanya, karakter inspirasi & ekspirasi
4. Tinggikan bagian kepala tempat tidur
5. Ajarkan anak relaksasi dan napas dalam
pada saat ada perubahan pola napas

4. Nyeri berhubungan dengan injuri, infeksi,
luka operasi
Tujuan : Nyeri berkurang
Kriteria evaluasi :
Anak dapat beraktifitas tanpa rasa nyeri
Intervensi :
1. Obs tanda-tanda dyspnea
2. Dengarkan suara napas untuk mendeteksi adanya
penurunan suara napas.
3. Obs ekspresi anak pada posisi duduk, berdiri, tidur
dari tanda-tanda nyeri pada saat bernapas.
4. Tanyakan pada anak kapan mulai terjadinya sakit,
karakteristik nyeri (tajam, tumpul, periodik, terus
menerus).
5. Demonstrasikan pada anak cara mengurangi rasa
nyeri, contoh dengan menyokong / memegang
daerah yang sakit dengan bantal atau tangan
6. Berikan analgetik sesuai order
DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA BAYI
DENGAN PEMASANGAN VENTILASI
MEKANIK

1. Pola napas tidak adekuat berhubungan
dengan depresi pusat pernapasan ,
kelemahan otot – otot pernapasan,
penurunan ekspansi paru dan perubahan
ratio O2 / CO2.
Tujuan : Pola napas adekuat via
ventilator.
Kriteria evaluasi :
 Tidak ada retraksi / penggunaan

otot bantu pernapasan.
 Tidak ada sianosis.

 Analisa gas darah normal.

 Saturasi oksigen dalam batas
normal.
Intervensi :
1. Kaji penyebab kegagalan napas.
2. Observasi pola napas , catat frekuensi napas,
bedakan antara napas spontan dan napas
ventilator.
3. Dengarkan bunyi paru kanan dan kiri serta
observasi gerakan dada yang simetris setiap satu
jam.
4. Hitung pernapasan klien selama satu menit penuh
dibandingkan dengan rate pada ventilator .
5. Observasi fase pernapasan klien dengan
ventilator.
6. Periksa tubing dari tanda - tanda obstruksi
seperti kinking dan adanya air. Kosongkan air
dalam tubing sehingga air tidak mengalir
kearah klien atau alirkan air dalam tubing
kedalam reservoir ( penampung ).
7. Periksa alarm ventilator untuk fungsi - fungsi
yang tepat, alarm tidak boleh dimatikan bahkan
waktu melakukan pengisapan lendir melalui
E.T.T.
8. Siapkan alat resusitasi disamping inkubator
dan lakukan ventilasi manual jika perlu.
9. Kolaborasi untuk setting ventilator, monitor dan
tulis di flow sheet setiap jam :
 F 1 O2
 PIP
 PEEP
 MAP
 Ratio inspirasi : ekspirasi / I : E Ratio.
 Humidifikasi dan suhu.
2. Bersihan jalan napas tidak efektif
berhubungan dengan akumulasi lendir
sebagai respon adanya benda asing
(ETT) di trakhea dan ketidakmampuan
batuk / batuk tidak efektif.
Tujuan : Jalan napas efektif
Kriteria evaluasi :
 Lendir berkurang.

 Tidak sianosis.

 Suara paru bersih.
Intervensi :
1. Kaji kepatenan jalan napas.
2. Isap lendir , batasi lamanya isap lendir < 15
detik , pilih suction catheter yang sesuai. Bilas
dengan NaCl 0,9 % sebanyak 0,3 ml jika
diindikasikan, sebelum isap lendir lakukan
hiperventilasi dengan ambu bag , gunakan Fi O
100 % dan turunkan Fi O2 kesemua bila selesai
isap lendir.
3. lakukan fisioterapi dada.
4. Evaluasi gerakan dada , dengarkan suara paru
kanan dan kiri.
5. Monitor posisi / tempat ETT ; catat nomor
dan tanda batas ETT di bibir / hidung dan
bandingkan dengan yang ditentukan.
6. Catat bila ada dispnea , ronkhi dan suara
alarm ventilator.
7. Ubah posisi tiap 3 jam.
8. Kolaborasi pemberian bronkodilator.
3. Risiko tinggi terjadi perubahan mukosa
mulut berhubungan dengan adanya tube
didalam mulut ketidakmampuan menelan
cairan, puasa, berkurangnya saliva dan
kebersihan mulut tidak efektif.
Tujuan : Tidak terjadi perubahan
membran mukosa oral.
Kriteria evaluasi :
 Mukosa bibir dan mulut lembab.

 Mulut bersih , tidak ada jamur.

Intervensi :
 Periksa rongga mulut dan gusi dari adanya luka ,

lesi atau perdarahan.
 Lakukan perawatan mulut secara rutin dan jika

diperlukan terutama pada pasien dengan intubasi
oral.
 Ganti ETT jika perlu.

 Gunakan Lip Balm , berikan larutan lubrican oral.
4. Risiko tinggi gangguan kebutuhan nutrisi :
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan peningkatan metabolisme dan
gangguan pencernaan.
Tujuan : tidak terjadi gangguan kebutuhan
nutrisi
Kriteria evaluasi :
 Berat badan naik 10 gram / kg bb / hari.

 Tidak muntah.

 Perut tidak kembung.

 Tidak ada residu.

 Protein dan albumin dalam batas normal.
Intervensi :
1. Evaluasi kemampuan minum bayi .
2. Observasi tonus otot secara keseluruhan
dan kehilangan lemak sub kutan.
3. Timbang berat badan setiap hari atau
kalau perlu.
4. Catat intake, output.
5. Berikan minum sedikit tetapi sering.
6. Kaji fungsi pencernaan : kualitas bising
usus ; catat perubahan lingkar perut dan
adanya muntah.
7. Observasi dan catat perubahan gerakan
usus ; adanya diare dan konstipasi.
8. Kolaborasi dalam pemberian tunjangan
nutrisi parenteral.
9. Kolaborasi dalam pemeriksaan ; occult
blood , protein , albumin dan dekstrostik.
5. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak
adekuatnya sistem immun , penyakit kronik dan
prosedur invasif.
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria evaluasi :
 Darah rutin normal.

 C.R.P kurang dari 8 mg / dl.

 Suhu 36,5  C – 37,2 C.

 Lendir dari E.T.T putih dan tidak berbau.

 Kultur darah steril.
Intervensi :

1. Catat faktor risiko terjadinya infeksi.
2. Observasi : warna, bau dan karakreristik
sputum.
3. Kurangi faktor risiko terjadinya infeksi
nosokomial.
4. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
dengan pasien.
5. Pertahankan teknik steril dalam melakukan isap
lendir.
6. Ubah posisi tidur setiap 3 jam.
7. Auskultasi suara paru kanan dan kiri.
8. Batasi pengunjung pasien.
9. Jelaskan kepada orang tua tempat meletakkan
barang - barang kotor.
10.Rawat bayi di ruang isolasi jika ada indikasi.
11.Pertahankan hidrasi dan nutrisi yang adekuat.
12.Kolaborasi dalam pemeriksaan ; darah rutin,
C.R.P , kultur darah dan kultur lendir dari E.T.T.
13.Kolaborasi dalam pemberian antibiotika.
6. Risiko tinggi tidak berespons terhadap weaning
ventilator
Tujuan : Klien berespon terhadap weaning
ventilator.
Kriteria evaluasi :
 Pola napas adekuat.

 Tidak sesak.

 Tidak sianosis

 Saturasi oksigen normal.

 Analisa gas darah normal.
Intervensi :

 Jelaskan pada orang tua tentang
weaning ventilator pada bayi.
 Kaji faktor fisik selama weaning meliputi
pola napas, adanya sesak , retraksi ,
sianosis, denyut jantung , tekanan darah ,
saturasi oksigen , catat bila ada
perubahan dan laporkan pada dokter.
 Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa
gas darah dan foto toraks.